Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA KULIAH PLANOLOGI

KECAMATAN PEDURUNGAN, KOTA SEMARANG

Disusun Oleh:
Zul Hayyudin H

(2110112120008)

Joko Suprayetno

(2110112130016)

Ammar Baskara

(2110112130048)

Wilda Dzuriati U

(2110112130058)

Monalisa IR

(2110112140074)

Nency Preptisa

(2110112140084)

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

Desember 2013Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang


1. Pendahuluan
Perencanaan Tata Ruang Wilayah dan Kota merupakan salah satu program
pengembangan potensi lahan yang sesuai dengan kondisi geologi setempat yang
berguna untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia dan menyediakan ruang
akses publik sebagai realisasi dari hasil pembangunan daerah. Pada negara
Indonesia, setiap provinsi, kabupaten, kota, kecamatan bahkan sampai desa
mempunyai tata ruang wilayah atau tata guna lahan yang berbeda-beda sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi geologinya. Salah satu tata ruang wilayah atau tata
guna lahan dapat kita amati pada salah satu kecamatan yang ada di kota Semarang
yaitu kecamatan Pedurungan.
2. Administrasi Kecamatan Pedurungan

Gambar 1. Peta Kecamatan Pedurungan

Kecamatan Pedurungan memiliki luas wilayah sekitar

526,33 Ha.

Kecamatan ini terletak di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.


Secara geografis, batas utara berbatasan dengan kecamatan Genuk, batas timur
berbatasan dengan kecamatan Mranggen (kota Demak), batas barat berbatasan
dengan kecamatan Gayamsari, dan batas selatan berbatasan dengan kecamatan

Tembalang. Kecamatan Pedurungan memiliki 12 kelurahan yang terdiri dari


kelurahan Tlogosari Kulon, Tlogosari Wetan, Gemah, Kalicari, Muktiharjo Kidul,
Palebon, Plamongan Sari, Tlogomulyo, Pedurungan Kidul, Pedurungan Lor,
Pedurungan Tengah, serta Penggaron Kidul. Total RT/RW dari 12 kelurahan yaitu
1060/150. Jumlah penduduk pada kecamatan ini yaitu sekitar 62.429 jiwa.

3. Tata Guna Lahan

Gambar. 2 Peta Tata Guna Lahan.

Dilihat dari kenampakan peta diatas kecamatan Pedurungan lebih


didominasi oleh daerah pemukiman (berwarna kuning) dengan persentase sekitar
65% dan hutan/kebun (berwarna hijau) dengan persentase kurang lebih 30%,

sedangkan daerah pabrik atau industri (berwarna hitam) hanya sekitar lima persen
saja.
Dalam interpretasi tata guna lahan, dapat dilakukan dengan metode survai
lapangan secara langsung maupun melalui metode interpretasi citra satelit. Berikut
beberapa contoh kenampakan permukaan bumi jika dilihat melalui citra satelit.
Jenis Penggunaan Lahan

Ciri-ciri Interpretasi

Pemukiman

Bentuk persegi ataupun limas, rona cerah, pola teratur, tekstur


kasar, dan asosiasi dengan jalan

Kebun

Tekstur kasar, rona gelap, pola terputus-putus dan situs dengan


sungai

Sawah

Rona cerah, tekstur halus, dan situs dengan sungai

Industri

Bentuk persegi panjang, warna coklat kekuningan, rona terang,


ukuran besar, tekstur kasar

Jalan

Bentuk memanjang, ukuran cukup lebar, warna hitam, rona


gelap, pola teratur, dan berasosiasi dengan pemukiman

Pepohonan/ Hutan

Bentuk agak membulat, tekstur kasar, pola tidak teratur, warna


hijau tua, dan rona cerah

Sungai

Bentuk memanjang, ukuran lebar, warna biru tua, rona terang,


situs dengan sungai, dan asosiasi dengan pemukiman

Berdasarkan data yang diperoleh, penggunaan lahan paling besar adalah


untuk pemukiman. Penyebaran wilayah pemukiman terjadi pada Kecamatan
Pedurungan sebelah barat, dan wilayah sebelah timur banyak di gunakan sebagai
daerah industri, sawah, dan perkebunan, serta sebelah utara banyak ditumbuhi
pepohonan. Luasnya areal pemukiman dikarenakan di Kecamatan Pedurungan
terdapat areal pemukiman sehingga memiliki tingkat hunian yang tinggi. Selain
itu, karena merupakan salah satu bagian dari wilayah perkotaan, Kecamatan
Pedurungan tentu saja memiliki tingkat aksesibilitas dan konektivitas yang baik ke
jantung kota Semarang, sehingga menarik minat untuk dijadikan wilayah
pemukiman. Penggunaan lahan untuk pemukiman ini diproyeksikan semakin
meningkat karena sektor industri yang semakin berkembang.

Adanya pepohonan/ hutan merupakan salah satu bentuk pengelolan Ruang


Terbuka Hijau (RTH). Hal ini dikarenakan kecamatan Pedurungan masih
termasuk Kota Semarang yang kadar populasinya terus meningkat dan global
warming yang semakin nyata dampaknya. Adanya pepohonan merupakan salah
satu untuk mengurangi gejala-gejala buruk seperti perubahan iklim mikro. Pohonpohon yang ditata sedemikian rupa juga dapat beralih fungsi sebagai sarana
kebutuhan untuk kegiatan rekreasi masyarakat setempat karena kesejukan udara
segar, keindahan dan keasrian yang diberikan oleh pesona pepohonan.
Sektor industri dapat berkembang karena kecamatan Pedurungan memiliki
aksesibilitas dan konektivitas yang baik sehingga memudahkan mobilitas barang
dan jasa. Meskipun penggunaan lahan untuk industri tidak terlalu luas, namun
dapat memberikan dampak yang besar, terutama dalam pembangunan di wilayah
kecamatan Pedurungan.
Dari beberapa lahan yang digunakan daerah kecamatan ini, dapat
diinterpretasi proses geologi yang terjadi. Yang pertama daerah pemukiman,
litologi yang terdapat memiliki karakteristik tidak keras seperti batuan beku,
bersifat elastis, penyebarannya luas dalam hal ini litologinya batuan sedimen.
Kemudian bentuk lahan (geomorfologi) nya merupakan daerah hasil dari erosi dan
pelapukan atau disebut sebagai daerah denudasional. Karena sebagian besar
digunakan untuk pemukiman dan bangunan, maka pelapukan pada daerah ini
sudah tinggi yang menyebabkan litologi daerah ini sudah menjadi soil.
Morfologi daerah kecamatan pedurungan yang rendah inimembuat
sebagian dari daerah ini sering terjadi banjir yang diperkirakan saat terjadi banjir
air yang datang didominasi berasal dari daerah yang morfologinya tinggi. Daerah
ini morfologinya rendah akibat dari proses denudasional yang termasuk
didalamnya pembangunan pemukiman dan bangunan-bangunan lainnya seperti
pabrik/industri, sekolah, kantor, pusat perbelanjaan, rumah sakit, universitas,
tempat ibadah dan sebagainya yang merupakan daerah yang cukup padat
pendudukyang menyebabkan tanah turun (subsidence)akibat pembebanan dari
bangunan-bangunan tersebut.

Yang kedua daerah perkebunan atau perhutanan, litologi yang tersebar


disana sama dengan daerah pemukiman dan industri sehingga hutan dan
perkebunan dapat berkembang dengan baik. Kemudian bentuk lahannya
dinterpretasikan sebagai daerah dengan morfologi daerah tinggian, yang
merupakan tempat air bergerak pada saat hujan yang bermuara pada daerah
pemukiman dan industri.
Berdasarkan tata guna lahan yang ada di kecamatan Pedurungan,
disarankan daerah ini diberikan taman kota supaya selain membuat segar udara
perkotaan, juga membantu menyerap air yang ada agar mencegah terjadinya
kebanjiran. Diharapkan juga kepada para penduduk supaya selalu menjaga
kebersihan daerah tersebut supaya tidak menyebabkan tersumbatnya aliran air
akibat sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan.