Anda di halaman 1dari 16

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

I.

Desember 28, 2004

PENDAHULUAN
Dalam industri batubara banyak sekali ditemukan istilah-istilah atau nama nama yang

menyangkut batubara. Istilah-istilah tersebut biasa muncul dalam kegiatan eksplorasi, penambangan,
handling, loading, transhipment, tender jual beli batubara dan lain sebagainya. Salah satu istilah atau
nama diantaranya adalah parameter kualitas batubara dan basisnya. Sebenarnya banyak sekali
parameter kualitas yang ditentukan dari batubara tersebut dan juga istilahnya. Diantara istilah
tersebut ada yang group dan ada yang individual. Parameter group contohnya adalah ; Proximate
analysis yang di dalamnya terdiri dari parameter : Moisture, Ash, Volatile Matter, dan Fixed Carbon.
Kemudian Ultimate analysis yang terdiri dari parameter Carbon, Hydrogen, Nitrogen , Sulfur, dan
Oksigen. Contoh lainnya adalah Ash analysis, Petrographic analysis, trace element, dan lain-lain.
Sedangkan yang bersifat individual misalnya Calorific Value, Chlorine in coal, HGI, Total moisture,
dan lain-lain.
Masing-masing parameter tersebut dilaporkan menurut basis yang sudah disepakati oleh
dunia internasional. Fungsinya adalah agar diperoleh suatu bahasa dan persepsi yang sama dalam
menganalisa dan mengevaluasi data-data parameter batubara . Dengan adanya acuan ini maka
tidak akan terjadi persepsi yang keliru dalam menganalisa dan membaca setiap laporan yang
memuat tentang parameter kualitas batubara
Dalam modul ini akan dibahas secara global mengenai Parameter kualitas batubara yang
umum termasuk metode pengambilan sample dan langkah-langkah preparasi untuk menyiapkan
sample batubara agar dapat dianalisa di Laboratorium. Selain itu mengingat pentingnya pengetahuan
mengenai basis pelaporan maka dalam modul ini pula akan diulas secara ringkas mengenai basis
pelaporan parameter kualitas batubara beserta formula konversinya.

II

SAMPLING
Sampling secara umum dapat didefinisikan sebagai; Suatu proses pengambilan sebagian
kecil contoh dari suatu material sehingga karakteristik contoh material tersebut mewakili
keseluruhan material.
Di dalam industri pertambangan batubara, sampling merupakan hal yang sangat penting,
karena merupakan proses yang sangat vital dalam menentukan karakteristik batubara
tersebut. Dalam tahap explorasi, karakteristik batubara merupakan salah satu penentu dalam
study kelayakan apakah batubara tersebut cukup ekonomis untuk ditambang atau tidak.

Page 1 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

Begitu pun dalam tahap produksi dan pengapalan atau penjualan batubara tersebut
karakteristik dijadikan acuan dalam menentukan harga batubara.
Secara garis besar sampling dibagai menjadi 4 golongan dilihat dari tempat pengambilan
dimana batubara berada dan tujuannya yaitu ;

Exploration sampling, Pit sampling,

Production sampling, dan loading sampling (barging dan transhipment)


Exploration sampling dilakukan pada tahap awal pendeteksian kualitas batubara baik dengan
cara channel sampling pada outcrop atau lebih detail lagi dengan cara pemboran atau
drilling. Tujuan dari sampling di tahap ini adalah untuk menentukan karakteristik batubara
secara global yang merupakan pendeteksian awal batubara yang akan di exploitasi.
Pit sampling dilakukan setelah explorasi bahkan bisa hampir bersamaan dengan progress
tambang di dalam satu pit atau block penambangan dengan tujuan lebih mendetailkan data
yang sudah ada pada tahap explorasi. Pit sampling ini dilakukan oleh pit control untuk
mengetahui kualitas batubara yang segera akan ditambang, jadi lebih ditujukan untuk
mengkontrol kualitas batubara yang akan ditambang dalam jangka waktu short term ( di
bawah satu tahun ). Pit sampling dapat dilakukan dengan cara pemboran dan juga dengan
channel pada face penambangan kalau diperlukan untuk mengecek kualitas batubara yang
dalam progress ditambang.
Production sampling; dilakukan setelah batubara diproses di Coal Processing Plant dimana
proses ini dapat merupakan peremukan (crushing), pencucian (washing), pemindahan stock
dan lain-lain. Tujuannya adalah mengetahui secara pasti kualitas batubara yang akan dijual
atau dikirim ke pembeli agar kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan dan telah
disepakati oleh kedua belah pihak. Dengan diketahuinya kualitas batubara di stockpile atau
di penyimpanan sementara kita dapat menentukan batubara yang mana yang cocok untuk
dikirim ke Buyer tertentu dengan spesifikasi batubara tertentu pula. Baik dengan cara
mencampur (blending) batubara-batubara yang ada di stockpile atau pun dengan single
source dengan memilih kualitas yang sesuai.
Loading Sampling; Dilakukan pada saat batubara dimuat dan dikirim ke pembeli baik
menggunakan barge maupun menggunakan kapal. Biasanya dilakukan oleh independent
company karena kualitas yang ditentukan harus diakui dan dipercaya oleh penjual (Shipper)
dan pembeli (Buyer). Tujuannya adalah menentukan secara pasti kualitas batubara yang
dijual yang nantinya akan menentukan harga batubara itu sendiri karena ada beberapa
parameter yang sifatnya fleksibel sehingga harganya pun fleksibel tergantung kualitas actual
pada saat batubara dikapalkan.
Sampling, preparasi dan analisa sample batubara dengan berbagai tujuan seperti telah
dijelaskan di atas, dilakukan dengan menggunakan standard standard yang telah ada,

Page 2 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

yang pemilihannya tergantung keperluannya, biasanya tergantung permintaan pembeli atau


calon pembeli batubara. Standard yang sering digunakan untuk keperluan tersebut
diantaranya ; ASTM (American Society for Testing and Materials), AS (Australian Standard),
Internasional Standard, British Standard, dan banyak lagi yang lainnya yang berlaku baik di
kawasan regional maupun internasional.
II.1

PENGGOLONGAN SAMPLING

II.1.1

Berdasarkan metoda pelaksanaannya sampling dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu;

II.1.1.1 Manual sampling


II.1.1.2 Mechanikal sampling
II.1.2

Sedangkan berdasarkan teknis pengambilannya Sampling dapat dibagi menjadi beberapa


golongan sebagai berikut;
II.1.2.1 Core Sampling
-

Exploration sampling

Deep drilling

Shalow drilling

Pit sample

Pit drilling

II.1.2.2 Channel sampling


-

Exploration sampling

Outcrop sampling

Pit sampling

Seam face sampling

II.1.2.3. Bulk sampling


-

Stasionary sampling

Stockpile sampling

Wagon sampling

Coal truck sampling

Dll.

Page 3 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

II.1.2.4. Moving sampling

III.

Cross belt sampling

Stop belt sampling

Falling stream sampling

Moving bucket sampling

DLL.

PREPARASI SAMPLE
Preparasi sample adalah pengurangan massa dan ukuran dari gross sample sampai pada
massa dan ukuran yang cocok untuk analisa di Laboratorium
Tahap-tahap preparasi sample adalah sebagai berikut :
1. Pengeringan udara/Air Drying
Pengeringan udara pada gross sample dilakukan jika sample tersebut terlalu basah
untuk diproses tanpa menghilangnya moisture atau yang menyebabkan timbulnya
kesulitan pada crusher atau mill. Pengeringan udara dilakukan pada suhu ambient
sampai suhu maksimum yang dapat diterima yaitu 40 0C. Waktu yang diperlukan untuk
pengeringan ini bervariasi tergantung dari typical batubara yang akan dipreparasi, hanya
prinsipnya batubara dijaga agar tidak mengalami oksidasi saat pengeringan.
2. Pengecilan ukuran butir
Pengecilan ukuran butir adalah proses pengurangan ukuran atas sample tanpa
menyebabkan perubahan apapun pada massa sample
Contoh alat mekanis untuk melakukan pengecilan ukuran butir adalah :
-

Jaw Crusher

Rolls Crusher

Swing Hammer Mills

Jaw Crusher atau Roll Crusher biasa digunakan untuk mengurangi ukuran butir dari 50
mm sampai 11,2 mm; 4,75 mm atau 2,36 mm.
Roll Crusher lebih direkomendasikan untuk jumlah/massa sample yang besar.
Swing Hammer Mill digunakan untuk menggerus sample sampai ukuran 0,2 mm yang
akan digunakan untuk sample yang akan dianalisa di Laboratorium.

Page 4 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

3. Mixing atau Pencampuran


Mixing / pencampuran adalah proses pengadukan sample agar diperoleh sample yang
homogen
Pencampuran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
a. Metode manual ; menggunakan riffle atau dengan membentuk dan membentuk
kembali timbunan berbentuk kerucut
b. Metode Mekanis : menggunakan Alat Rotary Sample Divider (RSD)
4. Pembagian atau Dividing
Proses untuk mendapatkan sample yang representatif dari gross sample tanpa
memperkecil ukuran butir. Sebagai aturan umum, pengurangan sample ini harus
dilakukan dengan melakukan pembagian sample.
Pembagian dilakukan dengan metode manual (riffling atau metode increment manual)
dan metode mekanis (Rotary Sample Divider)
III.

COAL ANALYSIS
Jenis analisa atau parameter untuk menentukan kualitas suatu batubara banyak sekali
baik analisa fisik atau disebut physical property, chemical property, pilut scale test, dan lain-lain.
Contoh yang masuk kedalam physical property misalnya ; HGI, Sieve analysis, Drop shatter,
bulk density dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk kedalam chemical property adalah
misalnya Proximate, Ultimate, Ash analysis, dan lain-lain. Dan beberapa contoh pilot scale test
misalnya ; Test Sponcomb, Test burn, Wet tumble test, dan lain-lain. Begitu banyak test atau
analysis yang dilakukan terhadap batubara dengan tujuannya masing-masing. Setiap test atau
analyisis sudah pasti ada tujuan atau ada yang ingin diketahui. Ditinjau dari tujuannya, coal
analysis dapat dibagi ke dalam dua tujuan utama yaitu tujuan Study, dan tujuan komersial.
Di dalam module ini coal analysis yang akan dibahas dibatasi hanya untuk beberapa parameter
khususnya yang termasuk ke dalam basic analysis dan parameter yang biasa ditentukan untuk
kepentingan komersial batubara. Parameter-parameter tersebut adalah :

Moisture

Ash

Volatile matter

Fixed carbon

Page 5 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

III.1

Sulfur

Calorific Value

Ash Analysis

Ash Fusion Temperature

Hardgrove Grindability Index

Desember 28, 2004

Moisture
Moisture di dalam batubara dapat dibagi menjadai dua bagian yaitu inherent moisture dan
extraneous moisture. Dua istilah tersebut di atas merupakan istilah pengertian bukan istilah
parameter. Inherent moisture adalah moisture yang terkandung dalam batubara dan tidak dapat
menguap atau hilang dengan pengeringan udara atau air drying pada ambien temperature
walaupun batubara tersebut telah dimilling ke ukuran 200 mikron. Inherent moisture ini hampir
menyatu dengan struktur molekul batubara karena berada pada kapiler yang sangat kecil
dalam partikel batubara. Nilai Inherent moisture ini tidak fluktuatif dengan berubah-ubahnya
humiditas ruangan. Dan moisture ini baru bisa dhilangkan dari batubara pada pemanasan lebih
dari 100 derajat Celsius. Extaraneous moisture adalah moisture yang berasal dari luar dan
menempel atau teradsorpsi di permukaan batubara atau masuk dan tergabung dalam retakanretakan atau lubang-lubang kecil batubara. Sumber extraneous moisture ini misalnya ; air dari
genangan, air hujan, dan lain-lain. Moisture ini dapat dihilangkan atau diuapkan dengan cara
air drying atau pemanasan di oven pada ambien temperature. Ada yang mengistilahkan untuk
moisture ini adalah Surface moisture atau Free moisture.
Parameter parameter yang termasuk ke dalam penentuan kadar moisture adalah ;

EQM / MHC / Inherent moisture / Bed moisture / In situ Moisture

Total Moisture / as received moisture / as sampled moisture / as


despatched moisture

III.1.1

Air dried moisture / inherent moisture / moisture in the analysis sample

Transportable moisture limit / flow moisture

Equilibrium moisture
Equilibrium moisture adalah parameter penentuan moisture sebagai pendekatan untuk
menentukan inherent moisture atau insitu moisture dalam batubara. EQM ini biasanya

Page 6 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

ditentukan pada saat explorasi batubara yang kegunaanya adalah untuk memperkirakan nilai
TM pada saat batubara tersebut ditambang. Nilai EQM ini relative tidak fluktuasi nilainya
pada satu seam yang sama. Selain untuk memperkirakan TM, juga EQM berguna dalam
menentukan golongan atau Rank dari suatu batubara terutama untuk Low rank coal yang
penentuan Ranknya menggunakan nilai calorific value pada basis mmmf (moist, mineral matter
free basis), dimana basis ini memerlukan data insitu moisture atau EQM. EQM ini adalah
istilah penentuan dalam standard ASTM, sedangkan dalam ISO standard istilah parameternya
adalah MHC ( Moisture Holding Capacity ). Belakangan ini penentuan untuk inherent moisture
ini bisa dilakukan pada sample channel yang not visible surface moisture dengan prosedur
sampling tertentu.
III.1.2

Total Moisture
Total moisture biasanya ditentukan pada batubara mulai dari explorasi sampai transshipment.
Nilainya sangat penting sekali, karena dalam penjualannya nilai TM sangat diperhatikan dan
menentukan harga dari batubara tersebut selain berpengaruh pada nilai parameter-parameter
lain dalam basis as received. Dalam explorasi, TM ditentukan untuk menaksir atau
memperkirakan nilai TM batubara in-situ sekaligus untuk menentukan nilai surface moisturenya
dari selisih antara TM dan EQM. Karena TM adalah jumlah dari EQM dengan Surface moisture.
( TM = EQM + SM ). Selain itu, nilai TM yang didapat dari sample core pada saat explorasi
banyak digunakan oleh geologist-geologist untuk menampilkan data dalam basis as received
pada saat batubara tersebut belum ditambang. Yang paling menentukan dalam penentuan TM
ini adalah samplingnya, yakni sesaat setelah sample batubara disampling sesegera mungkin
sample tersebut dimasukan kedalam kontainer yang ditutup sangat rapat sehingga tidak ada
moisture yang masuk atau keluar dari sample tersebut. Apabila ini terlaksana dengan baik
maka nilai TM yang diperoleh dapat dianggap mewakili nilai moisture batubara yang diambil
samplenya tersebut pada saat dan keadaan batubara tersebut disampling. Prinsip ini biasanya
sulit terlaksana pada sample core dari sample Pit atau bor dalam, karena dari sample core
tersebut masih ada beberapa data yang harus dicatat dan diamati, sehingga sample tersebut
tidak segera dapat dimasukan ke dalam kontainer yang kedap udara sesaat setelah
disampling. Selain itu pada saat pemboran biasanya

menggunakan air selama coring

dilakukan, sehingga kontaminasi batubara tersebut oleh air yang bukan berasal dari batubara
mungkin sekali terjadi. Oleh karena itu nilai TM tersebut menjadi tidak begitu reliable untuk
menunjukan nilai TM batubara in-situ. Nilai TM yang diperoleh juga biasanya sangat fluktuatif
nilainya.

Page 7 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

Pada coal in bulk, nilai TM ini dipengaruhi oleh luas permukaan batubara (size distribusi ), juga
oleh cuaca, sehingga nilai TM pada coal in bulk relatif fluktuatif seiring dengan keadaan cuaca
atau musim dan size distribusi dari batubara tersebut terutama setelah di crushing.
III.1.3

Air dried moisture


Sesuai dengan namanya, air dried moisture adalah nilai moisture batubara pada saat setelah
batubara tersebut diair drying. Nilai moisture ini sangat penting karena pada dasarnya semua
parameter ditentukan pada sample setelah air drying sehingga basisnya adalah air dried basis.
Nilai parameter dalam basis ini merupakan actual hasil analisa dari Lab. Sedangkan basisbasis lainya dalam coal analysis merupakan kalkulasi saja dari nilai-nilai air dried basis ini. Jadi
jelaslah bahwa tanpa nilai air dried moisture, parameter-parameter yang lain tidak dapat diubah
ke dalam basis lainnya. Selain itu nilai ADM ini berpengaruh pada nilai parameter lainnya pada
basis airdried, seperti CV, VM, Sulfur dan lain-lain. Sehingga nilai ADM menjadi lebih penting
lagi apabila spesifikasi dinyatakan dalam basis air dried.

III.1.4

Transportable moisture limit


Batubara in bulk yang diangkut dengan menggunakan palka tertutup seperti kapal-kapal besar,
dalam kondisi tertentu yang diakibatkan oleh angin dan ombak, memungkinkan terjadinya
segregasi moisture dan finer coal dari bulk dan membentuk semacam liquefaction dan pada
kondisi tertentu dapat membahayakan kapal tersebut terutama pada stability kapal selama
dalam pelayarannya. Oleh karena itu IMO ( International Marine Organisation) mensyaratkan
untuk setiap kapal yang mengangkut batubara terutama low rank coal, harus meminta
statement dari Shipper mengenai nilai transportable moisture limit dari batubara yang akan
dimuat. Ada satu metoda yang dikembangkan di National Coal Board (UK) untuk menentukan
nilai TML ini yaitu dengan cara ; Sebanyak 10 kg batubara dimasukan ke dalam suatu silinder
dimana di bawah silinder tersebut diletakan dua bola tenis meja. Kemudian silinder tersebut
diletakan di atas Vibrating table. Penentuan ini dilakukan pada nilai moisture batubara yang
bervariasi. Flow Moisture ditentukan sebagai nilai moisture pada saat bola tenis meja tersebut
masuk naik ke atas batubara dalam silinder tersebut. Sedangkan TML adalah 90 % dari nilai
Flow moisture tersebut.

Page 8 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

III.2.

Desember 28, 2004

ASH CONTENT.
Sebenarnya batubara tidak mengandung ash melainkan mengandung mineral matter. Ash
adalah istilah parameter dimana setelah batubara dibakar dengan sempurna, material yang
tersisa dan tidak terbakar adalah ash atau abu sebagai sisa pembakaran. Jadi ash atau abu
merupakan istilah umum sebagai sisa pembakaran. Pada material yang lain mungkin ash ini
dapat mencerminkan langsung mineral matter yang terkandung dalam material yang dibakar
tersebut. Akan tetapi di dalam batubara hal tersebut tidak selamanya terjadi karena terjadinya
reaksi-reaksi kimia selama pembakaran atau insinerasi batubara tersebut, sehingga nilai ash
yang didapat relative akan lebih kecil dibanding dengan nilai mineral matter yang sebenarnya.
Ada pula yang menggolongkan mineral dalam batubara ke dalam tiga kategori yaitu ;

Mineral matter

Inherent ash

Extraneous ash

Mineral matter adalah unsur-unsur yang terikat secara organik dalam rantai carbon sebagai
kation pengganti hidrogen. Unsur ini biasanya ada dalam batubara pada saat pembentukan
batubara yang berasal dari tumbuhan atau pohon pembentuk batubara tersebut. Unsur yang
biasanya ditemukan sebagai mineral matter ini adalah Kalsium, Sodium, dan juga ditemukan
besi dan alumina pada low rank coal. Inherent ash adalah superfine discrete mineral yang
masih dapat tertinggal dalam partikel batubara setelah dipulverize. Dan yang ketiga adalah
extraneous ash, yang termasuk kedalam kategori ini adalah tanah atau pasir yang terbawa
pada saat penambangan batubara dan mineral yang keluar dari partikel batubara pada saat
dipulverize. Ketiga jenis ash tersebut sangat tergantung pada lingkungan pada saat
pembentukan batubara serta bahan pembentuk batubara sehingga memiliki sifat-sifat thermal
masing-masing, akibatnya juga setiap type ash tersebut memiliki kontribusi yang berbeda
terhadap slagging dan fouling. Penentuan di laboratorium yaitu dengan membakar batubara
pada temperature 750 atau 800 derajat celsius sampai dianggap pembakaran telah sempurna.
Dalam prosedure standard temperature dan waktu pembakaran ditentukan yang nilainya
tergantung kepada standard masing-masing.

Penentuan secara prosedure di atas untuk

batubara tertentu yang mengandung banyak pyrite dan carbonat, menjadi tidak begitu teliti
karena selama pembakaran terjadi beberapa reaksi akan terjadi. Reaksi reaksi yang mungkin
terjadi selama pembakaran adalah ;

Page 9 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Decomposisi Pyrite :
4 FeS2 + 15 O2

2 Fe2 O3 + 8 SO3

Dekomposisi Carbonat
CaCO3 +

Desember 28, 2004

CaO + CO2

Fixation of sulfur
CaO + SO3

CaSO4

Na2O + SO3

Na2SO4

Dalam basis dry mineral matter free basis untuk penentuan rank batubara di ASTM, Ash yang
digunakan adalah hasil kalkulasi dimana ash dinyatakan sebagai ash bebas sulfat.
III.3.

VOLATILE MATTER
Volatile matter adalah zat terbang yang terkandung dalam batubara. Zat yang terkandung
dalam volatile matter ini biasanya gas hidrokarbon terutama gas methane. Volaitile matter ini
berasal dari pemecahan struktur molekule batubara pada rantai alifatik pada temperature
tertentu. Di laboratorium sendiri penentuannya dengan cara memanaskan sejumlah batubara
pada temperature 900 derajat Celsius dengan tanpa udara. Volatile matter keluar seperti jelaga
karena tidak ada oksigen yang membakarnya. Volatile matter merupakan salah satu indikasi
dari rank batubara. Dalam klasifikasi batubara ASTM, Volatile matter digunakan sebagai
parameter penentu rank untuk batubara high rank coal. Volatile matter juga memiliki korelasi
yang jelas dengan salah satu maceral yaitu Vitrinite. Apabila volatile matter dalam basis DMMF
di plot dengan reflectance dari vitrinite, maka akan diperoleh suatu garis yang relative lurus
yang korelatif dengan rank batubara. Selain itu pada saat penentuan di laboratorium, juga
dapat digunakan sebagai prediksi awal apakah batubara tersebut memiliki sifat agglomerasi
atau tidak.
Sifat dalam coal combustion, volatile matter memegang peranan penting karena ikut
menentukan sifat-sifat pembakaran seperti efisiensi pembakaran karbon atau carbon los on
ignition. Volatile matter yang tinggi menyebabkan batubara mudah sekali terbakar pada saat
injection ke dalam suatu boiler. Low rank coal biasanya mengandung Voloatile matter yang
tinggi sehingga memiliki efisiensi yang sangat tinggi pada saat pembakaran di power station.
Volatile matter juga digunakan sebagai parameter dalam memprediksi keamanan batubara
pada Silo Bin, Miller atau pada tambang-tambang bawah tanah. Tingginya nilai volatile matter
semakin besar pula resiko dalam penyimpananya terutama dari bahaya ledakan.

Page 10 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

III.4.

Desember 28, 2004

FIXED CARBON
Fixed carbon adalah adalah parameter yang tidak ditentukan secara analisis melainkan
merupakan selisih 100 % dengan jumlah kadar moisture, ash, dan volatile matter. Fixed carbon
ini tidak sama dengan total carbon pada Ultimate. Perbedaan yang cukup jelas adalah bahwa
Fixed carbon merupakan kadar karbon yang pada temperature penetapan volatile matter tidak
menguap. Sedangkan carbon yang menguap pada temperature tersebut termasuk kedalam
volatile matter. Sedangkan total carbon yang ditentukan pada Ultimate analysis merupakan
semua carbon dalam batubara kecuali carbon yang berasal dari karbonat. Jadi baik
hidrokarbon yang termasuk ke dalam Volatile matter atau fixed carbon termasuk di dalamnya.
Penggunaan nilai parameter ini sama dengan volatile matter yaitu sebagai parameter penentu
dalam klasifikasi batubara dalam ASTM standard. Serta untuk keperluan tertentu fixed carbon
bersama volatile matter dibuat sebagai suatu ratio yang dinamakan fuel ratio (FC/VM).

III.5.

SULFUR
Sulfur didalam batubara sama seperti halnya material yang lain terdiri dari dua jenis yaitu sulfur
organik dan sulfur anorganik. Sulfur organik biasanya ada dalam batubara seiring dengan
pembentukan batubara dan berasal dari tumbuhan pembentuk batubara tersebut. Dan tidak
menutup kemungkinan juga berasal dari luar tumbuhan yang dikarenakan suatu reaksi kimia
yang terjadi pada saat peatifikasi dan coalifikasi pada saat perubahan diagenetik dan
perubahan kimia. Sedangkan anorganik sulfur berasal dari lingkungan dimana batubara
tersebut terbentuk.atau dari mineral yang berada disekeliling batubara atau bahkan yang
berada dalam seam batubara yang membentuk parting, spliting, band dan lain-lain. Sulfur
anorganik ini biasanya dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu Pyritic sulfur dan sulfat sulfur. Dalam
analysis di laboratorium sulfur-sulfur ini ditentukan dengan parameter yang disebut form of
sulfur. Dimana laporannya terdiri dari pyritic sulfur, sulfate sulfur dan organik sulfur. Yang
ditentukan di laboratorium dengan test adalah hanya piritic sulfur dan sulfate sulfur sedangkan
organik sulfur merupakan hasil kalkulasi selisih antara Total sulfur dan jumlah dari piritic dan
sulfate sulfur. Form of sulfur biasa digunakan untuk memprediksi secara awal apakah sulfur
dari batubara tersebut dapat dikurangi dengan cara separasi media atau washibility density.
Organik sulfur secara teeoritis tidak dapat dipisahkan dari batubara dengan metoda separasi
yang menggunakan dens medium plan atau washing karena sulfur tersebut terikat secara
organik dalam molekul batubara. Sedangkan anorganik sulfur secara teoritis dapat dihilangkan

Page 11 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

atau dikurangi dengan cara separasi media karena termasuk ke dalam mineral matter yang
memiliki density lebih tinggi dibanding batubara. Selain itu pyrtic sulfur juga digunakan sebagai
bahan acuan dalam memprediksi kecenderungan batubara tersebut untuk terbakar secara
spontan pada waktu penyimpanannya di stockpile. Karena pyritic sulfur dapat mengkatalisasi
terjadinya self heating pada batubara yaitu dengan reaksi oksidasi yang menghasilkan panas.
Selain itu dari reaksi tersebut dapat menyebabkan disintegrasi partikel batubara sehingga
menambah luas permukaan batubara yang juga dapat menambah kecenderungan batubara
tersebut untuk teroksidasi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya pembakaran spontan.
Hidrogen disulfida atau FeS2 di dalam batubara terdiri dari dua type yaitu cubic yellow pyrite
dan rombik marcasite. Dan marcasite inilah yang disinyalir lebih reaktif terhadap oksigen
dibanding pyrite.
Dalam utilisasi di industri, sulfur yang tinggi sangat tidak diharapkan karena dapat
menimbulkan emisi SO2 yang konsentrasinya tidak boleh tinggi karena dapat menyebabkan
hujan asam. Batasan konsentrasi SO2 yang diijinkan tergantung dari negara dimana industri
tersebut berada, karena peraturan masing-masing negara berbeda. Selain itu SO2 juga
termasuk corrosive constituent bersama chlorine yang dapat merusak metal dalam boiler.
Analisa reguler yang ditentukan baik untuk explorasi, produksi, dan shipment adalah total sulfur
yang biasanya ditentukan dengan metoda high temperature method

III.6.

CALORIFIC VALUE
Nilai Kalori atau Calorific Value adalah jumlah unit panas yang dikeluarkan per unit bahan
bakar yang dibakar dengan oxygen, nitrogen dan oksida nitrogen, carbondioksida,
sulfurdioksida, uap air dan abu padat
Nilai kalori biasanya dilaporkan sebagai :
a. Gross Calorific Value, adalah jumlah unit panas yang dikeluarkan per unit bahan-bahan
yang dibakar dengan oksigen di bawah kondisi standar. Disebut juga kalori gross pada
volume konstan
b. Net Calorific Value, adalah konversi secara matematis dari Gross Calorific Value dengan
menerapkan faktor koreksi yang didasarkan pada kandungan hydrogen, oksigen dan
moisture. Biasa disebut sebagai panas pembakaran pada tekanan konstan dimana air
berujud gas.

Page 12 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

Penentuan nilai kalori batubara yang digunakan di sini adalah dengan alat Calorimeter
dengan

sistem Isoperibol. Alat

ini menggunakan

siklus

Isotermik, dimana secara

komputerize, panas yang dihasilkan dari pembakaran batubara dalam calorimeter tersebut
dikonversikan

ke dalam satuan Megajoule per kilogram (MJ/kg) atau Calori per gram

(Cal/g). Jadi secara otomatis nilai kalori dari batubara yang ditentukan diprint out oleh
alat kalorimeter tersebut.

III.7.

ASH ANALYSIS (ASH COMPOSITION)


Ash pada umumnya terdiri dari ikatan dari logam Silikon, Aluminium, Besi dan Kalsium serta
kondungan lain yang lebih kecil seperti Titanium, mangan, magnesium, sodium dan potassium
dimana semuanya terjadi dalam bentuk silicates, oksida, sulphida, sulfat dan phospat. Element
lain seperti arsen, copper, timbal, nikel, zinc dan uranium dapat dilaporkan dalam jumlah yang
sangat kecil. Pengetahuan mengenai komposisi sebenarnya dari ash sangat penting untuk
memprediksi karakteristik dan behaviour batubara jika digunakan dalam berbagai aplikasi di
dunia industri.

III.8.

ASH FUSION TEMPERATURE


Ash Fusion Temperature menggambarkan karakteristik pelunakan dan pelelehan ash, dan
diukur menurut standar prosedur tertentu dengan cara pemanasan secara gradual terhadap
sample yang sudah disiapkan dalam bentuk cone untuk selanjutnya diamati profil
perubahannya.
Temperatur dicatat pada sifat-sifat yang menunjukkan :
-

initial Deformation

Spherical

Hemispherical

Flow

Ash Fusion Temperature biasa diukur pada dua kondisi yaitu kondisi Reduksi dan Oksidasi.
Pengukuran dalam kondisi Oksidasi

selalu lebih tinggi dibandingkan kondisi Reduksi

disebabkan keberadaan beberapa komponen dalam ash seperti besi oksida yang memiliki
perbedaan fluxing effects pada suasana oksidasi dan reduksi.

Page 13 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

III.9.

Desember 28, 2004

Hardgrove Grindability Index (HGI)


Test ini adalah untuk mengukur kemudahan relatif saat batubara dihancurkan ke dalam ukuran
yang lebih kecil. Semakin tinggi nilai HGI maka semakin lunak batubara yang berarti semakin
mudah batubara tersebut untuk dihancurkan.
Index ini sangat membantu dalam memperkirakan kapasitas mill yang digunakan

untuk

menggiling batubara sampai ukuran yang diperlukan untuk umpan ke furnace.

IV.

BASIS
Basis adalah dasar yang dipakai untuk menyatakan nilai dari suatu parameter dan

menginterpretasikan nilai tersebut pada kondisi tertentu batubara. Interpretasi dari basis tersebut
sesuai dengan istilah basis tersebut, misalkan seperti basis basis di bawah ini ;

As received/as sampled basis (AR) = nilai parameter atau kualitas batubara pada saat
batubara tersebut diterima / disampling.

Air dried basis (ADB) = nilai kualitas pada kondisi batubara setelah di air dried.

Dry basis (DB) = nilai kualitas pada kondisi batubara kering atau tidak memiliki nilai moisture
(moisture free)

Dry ash free basis (DAF) = nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut kering dan
bebas dari ash.

Dry mineral matter free basis (DMMF) = menginterpretasikan nilai kualitas pada kondisi
batubara tidak mengandung air dan mineral matter.

Moist, mineral matter free basis (mmmf) menginterpretasikan nilai kualitas batubara pada
kondisi batubara tersebut masih didalam tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral
matter

Dan lain-lain.

Basis-basis di atas merupakan basis-basis yang umum atau biasanya dipakai dalam menyatakan
nilai dari suatu parameter kualitas dari suatu batubara. Selain basis-basis tersebut di atas masih ada
beberapa basis lainnya yang hanya untuk keperluan tertentu saja digunakan seperti misalnya ; Sulfat
free, SO3 free, Ash free, dan lain-lain.
Dari interpretasiinterpretasi basis di atas, maka dibuatlah suatu persamaan matematis untuk
menyatakannya ke dalam bentuk angka, sebagaimana terlihat pada table 1.

Page 14 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

TABLE 1

Desire
result

As analysed
(air dry)
ad

Given results
As analysed
(air dry)
ad

As received
(as sampled)
AR

100- Mad

Dry basis
(DB)

100 - Mad

Dry, ash, free


(DAF)
Dry mineral
matter free
(Dmmf)

As received
(as sampled)
AR

Dry basis
(DB)

Dry, ash, free


(DAF)

Dry mineral
matter free
(Dmmf)

100- Mar

100

100

100

100- Mad

100- Mad

100- Mad
-Aad
100

100- Mad
Mmad
100

100- Mar
Aar
100

100- MarMmar

100- Adb

100 Mmdb
100-Adb

100
-

100- Mar

100- Mar

100-Mar

100

100
100-Mad-Aad

100
100-Mar-Aar

100-Adb

100
100-MadMmad

100
100-Mar-Mmar

100
100-Mmdb

100-Mmdb

100

100

100-Adb

100-Mmdb
-

100

KETERANGAN :
Mad

= Moisture in the analysis sample / air dried moisture / Inherent moisture (AS standard)

Mar

= Total Moisture

Aad

= Ash air dried basis

Mmad = Mineral matter air dried basis


Aar

= Ash as received basis

Mmar

= Mineral matter as received basis

Adb

= ash dry basis

Mmdb = Mineral matter dry basis


Mineral matter diperoleh dari PARR formula dengan persamaan sebagai berikut :
MMad = 1.08Aad + 0.55 Sad

Page 15 of 16

3/22/2015

Inhouse Training for Kideco Jaya Agung

Desember 28, 2004

MMar = 1.08Aar + 0.55 Sar


MMdb = 1.08Adb + 0.55 Sdb
Dimana ;
MMad = Mineral matter air dried basis
MMar

= Mineral matter as received basis

MMdb = Mineral matter dry basis


Aad

= Ash air dried basis

Aar

= Ash as received basis

Adb

= Ash dry basis

Sad

= Sulfur air dried basis

Sar

= Sulfur as received basis

Sdb

= Sulfur dry basis

Page 16 of 16

3/22/2015