Anda di halaman 1dari 7

Nama

: Mona Maulina Arief


NIM
: 03121403026
Shift
: Selasa (13.00)
Kelompok : 2
Tugas Khusus

PEMBUATAN BIODIESEL DARI MIKROALGA


Biodiesel adalah bahan bakar untuk mesin diesel (solar) yang dihasilkan
dari minyak nabati (vegetable oil), lemak binatang atau minyak bekas melalui
proses kimiawi menjadi metil ester (methyl ester) atau etil ester (ethyl ester) yang
mempunyai sifat serupa dengan minyak diesel. Biodiesel adalah bahan bakar yang
dapat diperbaharui (renewable), yang dapat digunakan untuk mengganti minyak
diesel secara langsung atau mencampurinya dengan minyak diesel, lalu digunakan
pada mesin diesel yang tidak usah memodifikasi mesin diesel lagi. Biodiesel dapat
dihasilkan dari berbagai jenis tumbuhan. Saat ini yang umum digunakan adalah
penggunaan minyak kelapa sawit, jarak, kedelai, jagung dan juga mikroalga
sebagai campuran solar.
Mikroalga atau fitoplankton adalah alga yang tidak dapat dilihat dengan
mata telanjang, beruniseluler, dan berkoloni. Mikroalga merupakan tumbuhan
yang berklorofil dan mempunyai pigmen tumbuhan yang dapat menyerap cahaya
matahari melalui proses fotosintesis. Dalam proses pertumbuhannya, mikroalga
menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar dan bisa tumbuh di segala
jenis air, bahkan air limbah. Mikroalga tidak beracun dan tidak mengandung
sulfur sehingga ramah lingkungan. Selain itu, mikroalga berpotensi untuk
menghasilkan biomassa dan minyak dalam jumlah signifikan dan dapat dikonversi
menjadi biodiesel.
Mikroalga memiliki kandungan minyak yang komposisinya mirip seperti
tanaman darat lain, bahkan untuk jenis tertentu mempunyai kandungan minyak
cukup tinggi melebihi kandungan minyak tanaman darat seperti kelapa, kelapa
sawit, kedelai, dan jarak. Produksi biodiesel dari mikroalga telah diakui sebagai
pilihan yang paling cocok dan memiliki keunggulan sebagai bahan baku biodiesel,
jika dibandingkan dengan tanaman nabati lainnya. terlihat bahwa mikroalga dapat
memproduksi bahan bakar hingga 100 kali lebih banyak dibandingkan dengan
kedelai ataupun bahan baku lain dalam luas lahan yang sama. Semua jenis
mikroalga memiliki komposisi kimia sel yang terdiri dari protein, karbohidrat,
asam lemak (fatty acids), dan nucleic acids. Ada jenis mikroalga yang memiliki
komponen fatty acids lebih dari 40%. Komponen fatty acids inilah yang akan

diekstraksi dan diubah menjadi biodiesel. Kandungan lipid dalam biomassa


mikroalga kering spesies tertentu dapat mencapai di atas 50% dengan
pertumbuhan yang sangat cepat.
1. Proses Pembuatan Biodiesel dari Mikroalga
Pembuatan biodiesel dari mikroalga dapat dijelaskan secara singkat
sebagai berikut: Setelah biomasa dipanen dengan metode filter, sentrifugasi, dan
flokulasi, kemudian dikeringkan. Sebelum minyak diesktrak, biomasa pulverizasi.
Ekstraksi yang umum dilakukan adalah Pressing, Ekstraksi dengan solven,
supercritical fluid extraction, dan Osmotic Shock. Untuk ekstraksi yang umum
digunakan adalah ekstraksi solven dengan hexane, ethanol maupun campuran
hexana-etanol.
1.1. Persiapan Biomassa
Kultur biomassa mikroalga diperlukan beberapa tahapan kultivasi indoor
dan semi outdoor sebelum dilakukan kultur massal di sistem outdoor. Kultivasi
indoor dapat dilakukan di media padat (agar). Tahapan selanjutnya adalah kultur
di media cair yang diawali dengan mengkultur mikroalga dalam tabung reaksi
steril dan diberi pupuk. Selanjutnya apabila kepadatan mikroalga dalam tabung
meningkat, kultur dapat dipindahkan dalam media dengan volume lebih besar.
Setelah satu minggu kultur dapat dipindahkan ke volume yang lebih besar lagi.
Demikian seterusnya kultur dilakukan secara bertahap dari volume kecil ke
volume yang lebih besar. Kultur semi outdoor menggunakan wadah sebagai
sumber energi atau biodiesel.
1.2. Pemanenan Biomassa
Pemanenan mikroalga seringkali masih menjadi kendala. Pada industri
komersial, panen biomassa yang terbaik dapat dicapai antara 0,30,5 g sel
kering/L atau 5 g sel kering/L; hal ini membuat panen mikroalga sangat sulit dan
mahal. Hulteberg mengemukakan bahwa panen pada mikroalga paling efisien
menggunakan flokulan kimia atau modifikasi penggunaan flokulan kimia. Ludwig
melaporkan bahwa penggunaan flokulan mampu menghasilkan biomassa sebesar
13% dan biaya operasional yang murah. Flokulan kimia dapat digunakan dengan
menambah pH pada media panen, misalnya penambahan potassium hidroksida

yang mampu menambah pH sampai mencapai nilai 11 dan natrium hidroksida


menambah pH menjadi 9.
Pemanenan mikroalga merupakan faktor utama yang harus diatasi dalam
tujuan penggunaan mikroalga sebagai sumber bahan bakar. Teknik - teknik seperti
flokulasi (flocculation), filtrasi (filtration), dan sentrifugasi (centrifugation) biasa
digunakan untuk pemanenan mikroalga. Teknik-teknik ini dapat dikombinasikan,
bergantung pada ukuran mikroalga dan kualitas produk yang diinginkan, untuk
menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi.
1.2.1. Flokulasi (flocculation)
Flokulasi adalah proses dimana partikel zat terlarut dalam larutan
membentuk agregat yang disebut flok. Proses flokulasi terjadi saat partikel zat
terlarut saling bertumbukan dan menempel satu sama lain. Bahan kimia yang
biasa disebut flokulan ditambahkan ke dalam sistem untuk membantu proses
flokulasi. Sel mikroalga umumnya berukuran 5-50 m. Sel mikroalga dapat
membentuk suspensi cukup stabil dengan bahan kimia yang memiliki muatan
negatif pada permukaannya. Terdapat dua tipe flokulan yang digunakan yaitu:
flokulan inorganik dan flokulan polimer organik atau polielektrolit. flokulasi dapat
digunakan sebagai tahap awal untuk mempermudah proses selanjutnya dan proses
ini biasanya memakai bahan kimia.
1.2.2.

Filtrasi (filtering)
Metode pemisahan ini melibatkan media yang permeabel untuk

melewatkan cairan sekaligus menahan padatan sehingga kedua komponen ini


terpisah. Proses filtrasi memerlukan pressure drop untuk mendorong cairan
melewati media filter. Pressure drop yang umum digunakan adalah gravitasi,
vakum, tekanan atau sentrifugal. Menurut penelitian yang dilakukan, proses
filtrasi yang paling efektif diaplikasikan untuk proses pemanenan mikroalga
dengan ukuran sel yang besar adalah filtrasi bertekanan atau filtrasi vakum.
Namun proses filtrasi tidak cocok untuk operasi pemanenan mikroalga yang
memiliki ukuran sel yang kecil seperti spesies Dunaliella. Filtrat dialirkan ke
proses selanjutnya, sedangkan retentat dikembalikan lagi ke tangki umpan
sehingga lama kelamaan mikroalga dalam tangki akan semakin terkonsentrasi.

1.2.3. Sentrifugasi (centrifugation)


Sentrifugasi merupakan proses yang biasa digunakan untuk memperoleh
mikroalga dalam jumlah besar. Efisiensi dari proses ini bergantung pada jenis
mikroalga yang digunakan, proses ini merupakan proses pemisahan yang
menggunakan gaya sentrifugal sebagai driving force untuk memisahkan padatan
dan cairan. Proses pemisahan ini didasarkan pada ukuran partikel dan perbedaan
densitas dari komponen yang akan dipisahkan. proses sentrifugasi dengan
kecepatan tinggi secara efektif dapat memisahkan mikroalga dari cairan
medianya. Walaupun proses sentrifugasi efektif digunakan secara teknis, proses
ini juga memiliki kelemahan terutama pada investasi alat yang tinggi dan biaya
operasional yang tinggi.
1.3.

Ekstraksi Minyak pada Mikroalga


Menurut McMichen terdapat beberapa metode ekstraksi yang dapat

digunakan dalam ekstraksi minyak dari mikroalga antara lain


1.3.1. Metode mekanik
Metode mekanik terdiri dari metode pengepresen (expeller/press) dan
ultrasonicassisted extraction. Pada metode pengepresan (expeller/press) alga yang
sudah siap panen dikeringkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air yang
masih pada biomassa. Selanjutnya dilakukan pengepresan biomassa dengan alat
pengepres untuk mengekstraksi minyak yang terkandung dalam alga. Dengan
menggunakan alat pengepres ini, dapat di ekstrasi sekitar 7075% minyak yang
terkandung dalam alga.
1.3.2. Metode pelarut kimia
Minyak dari alga dapat di ambil dengan menggunakan larutan kimia,
misalnya dengan menggunakan benzena, ether, dan heksana. Penggunaan larutan
kimia heksana lebih banyak digunakan sebab harganya tidak terlalu mahal.
Menurut Chaiklahana proses ekstraksi minyak tergantung pada kepolaran pelarut,
ukuran partikel, rasio pelarut dan partikel, temperatur dan waktu ekstraksi.
Sebagai catatan, penggunaan larutan kimia untuk mengekstraksi minyak dari
tumbuhan sangat beresiko. Misalnya larutan benzena dapat menyebabkan
penyakit kanker, dan beberapa larutan kimia juga mudah meledak. Minyak
mikroalga dapat diekstraksi menggunakan senyawa kimia.

Benzena dan eter dapat digunakan sebagai pelarut, namun senyawa kimia
yang paling sering digunakan adalah heksana dengan titik didih yang berada
antara 65-69 C, yang relatif lebih murah. Ekstraksi menggunakan pelarut
o

dibandingkan dengan ekstraksi secara mekanis memiliki kelebihan yaitu


menghasilkan minyak yang lebih banyak (hampir 99%) dan membutuhkan biaya
operasi yang lebih kecil.
1.3.3. Supercritical Fluid Extraction
Pada metode ini, CO2 dicairkan di bawah tekanan normal kemudian
dipanaskan sampai mencapai titik kesetimbangan antara fase cair dan gas.
Pencairan fluida inilah yang bertindak sebagai larutan yang akan mengekstraksi
minyak dari alga. Metode ini dapat mengekstraksi hampir 100% minyak yang
terkandung dalam biomassa. Namun begitu, metode ini memerlukan peralatan
khusus untuk penahanan tekanan.
Metode ekstraksi ini menggunakan CO2 superkritis sebagai pelarut.
Sebuah senyawa dikatakan berada dalam keadaan superkritis ketika senyawa
tersebut telah melewati suhu dan tekanan kritisnya. Untuk CO 2, titik kritisnya
berada pada suhu 304.1 K dan tekanan 73.8 bar. Diluar batas titik kritisnya,
sebuah senyawa tidak dapat dikatakan sebagai gas atau cair, viskositas, konstanta
dielektrik dan kapasitas panas, bersama dengan sifat-sifat lain berbeda jauh dari
sifat pada fasa uap atau cairnya. Perubahan perubahan ini yang memberikan
CO2 superkritis sifat pelarut dan ekstraksinya.
1.3.4. Osmotic Shock
Dengan menggunakan osmotic shock maka tekanan osmotik dalam sel
akan berkurang sehingga akan membuat sel pecah dan komponen di dalam sel
akan keluar. Metode osmotic shock memang banyak digunakan untuk
mengeluarkan komponen - komponen dalam sel, seperti minyak alga ini.
1.4.

Sintesis Biodiesel
Proses selanjutnya dalam pembuatan biodesel adalah konversi minyak alga

menjadi biodiesel. Proses konversi minyak alga ke biodiesel dapat menggunakan


metode sebagai berikut: Penggunaan langsung minyak alga menjadi bahan bakar,
Microemusli, pirolisis dan transesterifikasi menggunakan katalis asam/basa.
Kebanyakan dalam sintesis biodiesel menggunakan proses transesterifikasi.

Untuk mensintesis minyak mikroalga menjadi biodiesel dilakukan dengan


proses transesterifikasi dengan bantuan katalis untuk mempercepat reaksi. Secara
garis besar ada 3 macam transesterifikasi dengan katalis yang dapat digunakan,
yaitu.
a) Transesterifikasi Katalis Basa
b) Transesterifikasi Katalis Asam
c) Transesterifikasi Menggunakan Enzim.
Proses transesterifikasi menggunakan katalis basa merupakan proses yang
paling umum digunakan di industri sampai saat ini. Selain itu, proses ini juga
menghasilkan biodiesel dengan kualitas cukup baik untuk digunakan sebagai
bahan bakar. Dari sisi teknologi, banyak sekali teknologi yang berkembang untuk
proses transesterifikasi ini, mulai dari proses perlakuan awal bahan baku
(pretreatment), proses transesterifikasi, proses pemisahan biodiesel dan gliserol,
proses pemisahan dan recovery metanol, proses pemisahan gliserol, hingga proses
purifikasi biodiesel dengan air untuk meningkatkan kemurnian biodiesel.

DAFTAR PUSTAKA
Baswantara. 2012. Kultivasi Dan Bioproses Mikroalga (Porphyridium cruentum.
(online). https://www.scribd.com/doc/101488786/Kultivasi-Dan-Bioprose
s-Mikroalga-Porphyridium-cruentum. (Diakses pada tanggal 20 Maret
2015)
Juniarto, B., Wijayanto, S.,A. 2011. Optimisasi Proses Pembuatan Biodiesel dari
Mikroalga Chlorella Sp. [online]. Diponegoro University - Institutional
Repository. Volume 1. http://eprints.undip.ac.id/36734/1/36.MAKALAH_
PENELITIAN1.pdf. (Diakses pada tanggal 21 Maret 2015)
Kartanagara, K., L. 2012. Potensi Mikroalga Sebagai Sumber Biomassa dan
Produk Turunannya. [online]. https://www.academia.edu/2544030/ POTE
NSI_MIKROALGA_SEBAGAI_SUMBER_BIOMASA_DAN_PENGEM
BANGAN_PRODUK_TURUNANNYA. (Diakses pada tanggal 20 Maret
2015)
Soegiharto, A.,T., dkk. 2014. Mikroalga: Biomasa Potensial untuk Produksi
Biodiesel. [online]. Academia. Volume 1. https://www.academia.edu/
7693988/Mikroalga_Biomasa_Potensial_untuk_Produksi_Biodiesel.
(Diakses pada tanggal 21 Maret 2015)
Suwardjono, R. 2013. Biodiesel dari Alga Solusi Bagi Indonesia. [online].
http://rsuwardjono.blogspot.com/2013/04/biodiesel-dari-alga-solusibagi.html. (Diakses pada tanggal 21 Maret 2015)