Anda di halaman 1dari 52

PEMELIHRAAN KELAPA SAWIT

Managemen pemelihraan kelapa sawit terdiri dari 2 macam, yaitu


pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Pemeliharaan
Tanaman Menghasilkan (TM). Menurut Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian (2009) TBM
kelapa sawit adalah masa sebelum panen (dimulai dari saat tanam sampai
panen pertama) yaitu berlangsung 30-36 bulan atau terhitung mulai bibit
kelapa sawit ditanam di lahan/lapangan (0 tahun) sampai dengan tanaman
mulai pertama berbunga (sekitar 3-4 tahun). Periode waktu TBM pada
tanaman kelapa sawit terdiri dari:
a; TBM 0 : menyatakan keadaan lahan sudah selesai dibuka, ditanami
kacangan penutup tanah dan kelapa sawit sudah ditanam pada tiap titik
panjang.
b; TBM 1 : tanaman pada tahun ke I (0-12 bulan)
c; TBM 2 : tanaman pada tahun ke II (13-24 bulan)
d; TBM 3 : tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan)
Tulisan ini sebagian besar membahas tentang pemeliharaan TBM dan
sebagian kecil TM. Menurut Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian (2009) tahapan penting
dalam manajemen pemeliharaan tanaman kelapa sawit yaitu perencanaan,
pengorganisasian pelaksanaan, pengawasan pelaksanaan pemeliharaan
tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM).

A; Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)


1; Perencanaan
Hal ini sangat menentukan keberhasilan dari penanaman kelapa sawit,
yaitu:
a; Inventarisasi kegiatan pemeliharaan kelapa sawit
Mencatat seluruh kegiatan apa saja yang dilakukan terhadap
kelapa sawit yaitu sejak bibit sawit selesai ditanam di lahan/lapangan
sampai dengan tanaman mulai pertama kali berbunga atau kegiatan yang
dilakukan untuk menginventarisasi tanaman yang mati, tumbang, atau
terserang hama atau penyakit. Selain itu dilakukan pula menegakkan
tanaman yang tampak miring dan memadatkan tanah setelah selesai
kegiatan penanaman. Kegiatan pemeliharaan ini terdiri atas:
Konsolidasi atau sensus tanaman
Konsolidasi atau disebut juga sensus adalah kegiatan yang dilakukan
untuk menginventarisasi tanaman yang mati, tumbang, atau terserang
hama atau penyakit. Selain itu dilakukan pula menegakkan tanaman yang
tampak miring dan memadatkan tanah setelah selesai kegiatan

penanaman.
Anonim (2003) dalam Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Pertanian (2009) menjelaskan bahwa kerapatan
tanaman kelapa sawit sesuai standar pohon yang sehat harus dicapai
pada bulan ke 12 setelah penanaman. Sensus pada TBM 1 dengan
penyisipan menjadi prioritas utama. Sensus pada TBM 1 dilakukan pada
umur 2, 6 dan 10 bulan setelah tanam. Tanaman yang tidak normal diberi
tanda silang cat berwarna putih. Sensus selanjutnya adalah sensus
tanaman tidak produktif yaitu dilakukan pada saat dimulai kastrasi pada
bulan ke 14 dan 18. Karena itu, untuk kegiatan kastrasi bunga betina yang
ada di pohon non produktif (sensus ke 1 s.d sensus ke 4) tidak dibuang.
Berikutnya adalah sensus tanaman produksi rendah yaitu dilakukan 4 kali
pada umur 14, 17, 20, dan 23 bulan setelah tanama dengan cara:
Sensus pertama pada umur 14 bulan (Ss 1) yaitu dilakukan pada pohon
yang berbunga betina 4 diberi tanda dot pada pelepah ketiga dengan cat
warna putih
Sensus kedua pada umur 17 bulan (Ss 2) yaitu pohon hasil Ss 1dilihat
kembali, dan apabila jumlah bunga betina 3 maka diberi tanda dot pada
pelepah yang sama sehingga jumlah dotnya ada dua.
Sensus ketiga pada umur 20 bulan (Ss 3) yaitu pohon hasil Ss 2 dilihat
kembali, dan apabila jumlah bunga betina 3 maka diberi tanda dot lagi
sehingga jumlah dotnya ada tiga.
Sensus keempat pada umur 23 bulan (Ss 4) yaitu pohon hasil Ss 3 dilihat
kembali, dan apabila jumlah bunga betina 3 maka diberi tanda dot lagi
sehingga jumlah dotnya ada empat. Pohon-pohon hasil sensus keempat
dengan tanda dot 4 dianggap tanaman kelapa sawit tidak produktif dan
harus dilakukan pembongkaran serta penyisipan pada 3 bulan berikutnya
(tanaman berumur 26 bulan).
Penyisipan tanaman
Kegiatan penyisipan tanaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang
telah mati, hilang atau kemungkinan besar tanaman tidak akan berproduksi
optimal. Kedua kegiatan sensus dan penyisipan bertujuan untuk
memastikan bahwa tanaman-tanaman yang ada di lapangan adalah
tanaman produktif.
Pelaksanaan penyisipan tanaman yaitu 3 6 bulan setelah tanam,
sehingga dimungkinkan terjadinya keseragaman panen. Frekuensi waktu
penyisipan tanaman dilakukan dengan ketentuan 2-4 rotasi per tahun
selama 18 bulan sejak tanam.
Cara penyisipan tanaman yaitu tanaman yang mati dicabut dan
ditempatkan dalam gawangan. Kemudian penyisipan tanaman dilakukan
dengan diawali pembuatan titik tanam. Penanaman dilakukan dengan
mengikuti prosedur biasa, kecuali bibit yang digunakan bibit yang lebih
besar (umur 12 bulan) sehingga dimungkinkan dilakukan pemotongan
pelepah bibit. Pupuk pada saat penyisipan tanaman, diberikan sebanyak
1,5 kali dosis pupuk per lubang dari pada penanaman awal. Selanjutnya
diperlakukan sama seperti pada tanaman lain di sekitarnya. Peralatan yang
digunakan dalam penyisipan tanaman yaitu:
Truk dengan bak rata dan terbuka atau traktor trailer
Sekop bertangkai panjang
Kaleng yang telah ditera untuk pemupukan lubang tanam
Kereta dorong untuk angkutan dalam kebun
Pisau tajam
Bahan yang digunakan dalam penyisipan tanaman yaitu:
Kayu untuk menopang pohon yang miring
Pupuk dasar
Pengukuran pertumbuhan tanaman
Kegiatan pengukuran pertumbuhan merupakan upaya untuk memperoleh
data tingkat pertumbuhan dan kondisi tanaman. Caranya yaitu mengukur

panjang pelepah pada berbagai umur. Data hasil pengukuran tersebut


akan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. Berikut disajikan
contoh standar panjang pelepah kelapa sawit pada Tabel 1 (Anonim, 2003
dalam Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pertanian (2009)).
Tabel 1. Standar Panjang Pelepah Kelapa Sawit
Umur (Bulan
setelah
tanam)
Pelepah yang
diukur
Panjang pelepah

Bibit Lokal (cm)


Bibit Dami (cm)

6
Pelepah ke 3
130-140
150-160
12
Pelepah ke 3&9
160-180
180-220
18
Pelepah ke 3&9
220-240
240-270
24
Pelepah ke 9&17
270-290
290-320
Kemudian dijelaskan tentang tata cara pengambilan contoh tanaman yang
akan dilakukan pengukuran yaitu sebagai berikut: Jumlah pohon yang
akan diplih untuk diukur pelepahnya sekitar 36 pohon per bloknya (satu
blok = 30 ha). Pohon yang akan diukur panjang pelepahnya ditentukan
pada setiap 10 baris yaitu dimulai baris ke 10 pohon ke 5 dari pinggir jalan.
Kemudian dilanjutkan pohon 15 dan 25. Untuk baris ke 20 dimulai pohon
ke 10 dari pinggir jalan, dilanjutkan pohon ke 20 dan 30. Kemudian
penentuan pohon pada baris ke 30 diambil seperti pohon pada baris ke 10

dan baris ke 40, seperti baris ke 20.


Pemeliharaan piringan, jalan rintis dan gawangan
Piringan berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Selain itu,
piringan juga merupakan daerah jatuhnya buah kelapa sawit. Karena itu,
kondisi piringan senantiasa bersih dari ganggu an gulma.
Pemeliharaan piringan dan gawangan bertujuan antara lain untuk:
Mengurangi kompetisi gulma terhadap tanaman dalam penyerapan unsur
hara, air,dan sinar matahari.
Mempermudah pekerja untuk melakukan pemupukan dan kontrol di
lapangan.
Pemeliharaan piringan dan gawangan bebas dari gulma dapat dilakukan
secara manual atau secara kimia. Pemeliharaan piringan dan gawangan
secara manual yaitu tenaga manusia dengan menggunakan cangkul.
Piringan yang bersih tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Pemeliharaan
piringan dan gawangan secara kimia dapat dilakukan dengan
menggunakan herbisida. Contoh Piringan kelapa sawit yang dibersihkan
gulmanya secara kimia dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Piringan dibersihkan dari gulma secara manual


Budi, (2009) menjelaskan bahwa pelaksanaan pemeliharaan piringan dan
gawangan, harus memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
P 0 = menyingkirkan semua gulma, kacangan bersih dari gulma (kacangan
100%) umur 0-6 bulan, rotasi 2 minggu
P 1 = kacangan 85%, rumput lunak 15%, umur 7-12 bulan, rotasi 3 minggu
P 2 = kacangan 70%, rumput lunak 30%, umur 12- 18 bulan, rotasi 3
minggu
P 3 = kacangan bercampur dengan rumput lunak, bebas dari lalang dan
anakan kayu, umur > 18 bulan rotasi 4 minggu
Standar pembuatan dan pemeliharaan piringan dan jalan rintis dilakukan
dengan cara:
Piringan bebas dari gulma sampai radius 30 cm di luar tajuk daun atau
maksimal 180 cm dari pohon.
Pembuatan jalan rintis dilakukan pada umur tanaman 1-12 bulan dengan
perbandingan 1:8, dan waktu tanaman berumur lebih dari 12 bulan. Jalan
rintis dibuat dengan perbandingan 1:2 dengan lebar 1,2 m.
Perawatan jalan rintis/tengah dilakukan bersamaan dengan perawatan
piringan.
Pekerjaan penyiangan (P) atau weeding (W) pada TBM dilakukan dengan
kriteria sebagai berikut (Anonim, 2004):
TBM 1 : W1 penutup tanah seluruhnya (100%) kacangan. Rumput-rumput
gulma lain dibersihkan semuannya. Dan
TBM 2 : W1 seperti pada TBM 1
TBM 3 : W3 yaitu 70% kacangan + 30% gulma lunak; bebas lalang. Gulma
yang diberantas adalah jenis gulma jahat yakni; lalang, mikania, pahitan,
pakis, teki. Gulma kacangan yang merambat ke pohon diturunkan. Gulma
lunak yang tidak perlu diberantas adalah jenis wedusan, sintrong
Pekerjaan penyiangan/ weeding penutup tanah dilakukan dengan periode

waktu sebagai berikut:

Bulan
ke
:
penyiangan intensif dengan interval 2-2-2-3-4
1 s.d 4

minggu

Bulan
ke
:
Satu kali per 2 bulan
5 s.d 7

Bulan
ke
:
Satu kali per 1 bulan
8 s.d 22

Pekerjaan penyiangan pada gawangan yaitu dilakukan dengan dua cara


yaitu secara manual dan kimia. Penyiangan secara manual dilakukan
dengan cara mencabut atau menggaruk gulma. Jika tinggi gulma/vegetasi
> 70 cm, penyiangan dilakukan dengan cara dibabat (baik menggunakan
sabit atau menggunakan mesin pemotong rumput).
Titi Panen dan TPH
Titi panen merupakan pembuatan jembatan pada setiap jalan rintis yang
melewati parit atau saluran air, sehingga jalan rintis dapat dilalui tanpa
hambatan.Tujuan titi panen adalah mempermudah pekerja panen dalam
mengambil/mengangkut buah sawit. Titi panen harus segera dibuat setelah
jalan rintis tersedia. Pemasangan titi panen dilakukan dengan ketentuan

sebagai berikut (Anonim, 2004):


TBM 1 dipasang titi panen pada rintis = 25%
TBM 2 dipasang titi panen pada rintis = 25%
TBM 3 dipasang titi panen pada rintis = 50%
Titi panen dapat dibuat dari kayu atau beton. Penggantian titi panen
berbahan kayu ke bahan beton sebaiknya sudah dimulai pada TBM 3 dan
telah selesai TM. Jumlah titi panen tergantung dari jumlah parit dan saluran
air. Untuk menentukan jumlah dan panjang titi panen harus didasarkan
data sensus yang akurat. Ukuran lebar titi panen tegantung pada
kebutuhan dan harus dapat dilalui angkong dengan lebar titi panen sekitar
20 cm.
TPH merupakan tempat pengumpulan hasil panen kelapa sawit. TPH
harus dibuat /dipersiapkan sejak 3-6 bulan sebelum panen. Caranya yaitu
memiilih tempat yang datar kemudian membersihkan penutup
tanah/rumput dengan menggunakan cangkul. Ukuran TPH adalah 2 meter
x 2 meter. Jarak antara TPH satu dengan TPH yang lain adalah sekitar 50
meter (tiap 6 gawangan).
Pemupukan tanaman
Perencanaan pemupukan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan
(TBM) dilakukan oleh Mandor besar (Mandor 1), Mandor pemupukan dan
krani afdeling dengan berpedoman pada Rencana Kerja Anggaran
Perusahaan (RKAP) dan RAB. Rencana pemupukan kelapa sawit (TBM)
meliputi:
Blok tanaman yang akan dipupuk
Jumlah kebutuhan pupuk per blok
Permintaan kendaraan
Tempat pengeceran pupuk
Jenis dan jumlah peralatan pemupukan
Perencanaan pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan prinsipprinsip yang telah ditetapkan. Rekomendasi pemupukan tanaman kelapa
sawit didasarkan pada prinsip 4 T yaitu (tepat jenis, tepat dosis, tepat
waktu, dan tepat metode). Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur
tanaman, hasil analisis daun, jenis tanah, produksi tanaman, jenis tanah,
hasil percobaan, dan kondisi visual tanaman. Waktu pemupukan
ditentukan berdasar sebaran curah hujan.
Metoda pemupukan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memupuk tanaman sebagai
berikut:
Bersihkan terlebih dahulu piringan dari rumput, alang-alang dan kotoran
lain.
Pada areal datar semua pupuk ditabur merata mulai 0,5 m dari pohon
sampai pinggir piringan
Pada areal yang berteras, pupuk disebar pada piringan kurang lebih 2/3
dari dosis di bagian dalam teras dekat dinding bukit, sisanya (1/3 bagian)
diberikan pada bagian luar teras.
b. Waktu pemupukan
Pupuk harus tersedia pada waktu yang ditentukan, sehingga
keberadaannya tidak menjadikan suatu hambatan bagi tanaman yang akan
dipupuk. Adapun waktu yang terbaik untuk melakukan pemupukan adalah
pada saat musim penghujan, yaitu pada saat keadaan tanah berada dalam
kondisi sangat lembab, tetapi tidak sampai tergenang air. Dengan
demikian, pupuk yang diberikan di masing-masing tanaman dapat segera
larut dalam air, sehingga lebih cepat diserap oleh akar tanaman. Jumlah air
tanah yang sangat baik untuk melarutkan pupuk adalah sekitar 75% dari
kapasitas lapang. Hal ini dapat dicapai jika sehari sebelumnya telah terjadi
hujan sebanyak sekitar 20 mm serta pada bulan-bulan sebelumnya tidak

terjadi defisit air.


Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun >60 mm/bln.
Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
pupuk dolomit dan Rock Phosphate (RP) diusahakan diaplikasikan lebih
dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran,
diikuti oleh MOP/KCl dan urea/ZA.
jarak waktu penaburan dolomit/RP dengan urea/ ZA minimal 2 minggu.
seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu dua bulan. Adakalanya
berdasarkan rekomendasi pemupukan pada masa TBM, pupuk
diaplikasikan sebanyak 3 kali dalam setahun, dimana untuk pupuk
N,P,K,Mg dan Bo dapat diberikan menjelang dan pada akhir musim hujan.
Untuk pupuk N dapat diberikan bagian pada saat menjelang (awal)
musim hujan dan bagian diberikan pada akhir musim hujan. Untuk
pupuk P dan k dapat diberikan sebanyak bagian pada saat menjelang
(awal) musim hujan dan bagian lagi pada akhir musim hujan. Untuk
pupuk Mg diberikan sebanyak 2/3 bagian pada saat menjelang (awal)
musim hujan dan 1/3 bagian lagi dapat diberikan pada akhir musim hujan.
Untuk pupuk boraks dapat diberikan sebanyak bagian pada saat
menjelang (awal) musim hujan dan bagian lagi dapat diberikan pada
saat akhir musim hujan.
Namun kadangkala diperoleh rekomendasi yng menganjurkan aplikasi
pemupukan pada masa TBM I setiap 2 atau 3 bulan sekali, pada masa
TBM II setiap 6 bulan sekali dan masa TBM III hanya satu kali setahun.
Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun > 60 mm/bln.
Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
pupuk dolomit dan RP diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk
memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh
MOP dan Urea/ZA.
jarak waktu penaburan dolomit/ RP dengan Urea/ ZA minimal 2 minggu.
seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu dua bulan.
c. Frekuensi pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 - 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah
pupuk, dan umur kondisi tanaman. Pemupukan pada tanah pasir dan
gambut perlu dilakukan dengan frekuensi yang lebih banyak. Frekuensi
pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak
ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya.
d. Jenis dan dosis pupuk
Jenis pupuk untuk kelapa sawit dapat berupa pupuk tunggal, pupuk
campuran, pupuk majemuk, dan pupuk organik. Pemilihan jenis pupuk,
disarankan agar hati-hati karena banyak beredar di pasaran berbagai
bentuk dan komposisi hara. Berbagai jenis pupuk diuraikan sebagai
berikut.
Pupuk tunggal
Pupuk tunggal merupakan pupuk yang mengandung satu jenis hara utama.
Pupuk tunggal yang dipergunakan perkebunan kelapa sawit dalam
memenuhi kebutuhan hara makro bagi tanaman kelapa sawit dan
direkomendasikan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) disajikan
pada Tabel 2. (Luqman, dkk, 2003).
Tabel 2. Penggunaan pupuk tunggal pada kelapa sawit
Hara
Pupuk
Spesifikasi

N
Urea
46 %
ZA
21 % N, 23 % S
P
SP-36

P2O5 total: 36 %

P2O5 (larut dalam asam sitrat 2%): 34%

S: 5 %
RP

P2O5 total: min 36 %

P2O5 (larut dalam asam sitrat 2%): 34%

Ca+Mg (setara CaO): min 40%

Al2O3+Fe2O3: maks 3%

Kadar air: maks 3%

Kehalusan (lolos saringan 80 mesh):min 50%

Kehalusan (lolos saringan 25 mesh):min 80%

K
MOP
K2O: 60 %
(KCl)

Mg
Kieserit
MgO: 26%

S
: 21%
Dolomit

MgO : min 18 %

CaO : min 30 %

Al2O3+Fe2O3 : maks 3 %

SiO2: maks 5 %

Kadar air : maks 5 %

Ni : maks 5 ppm

Kehalusan (lolos saringan 100 mesh)


Pupuk campuran
Untuk memenuhi kebutuhan hara secara khusus dan mengurangi biaya
aplikasi, beberapa pupuk tunggal dapat dicampur menjadi pupuk
campuran. Luqman, dkk (2003) menjelaskan bahwa panduan
pencampuran pupuk yang direkomendasikan dapat dilihat pada Tabel 3
.
Pupuk majemuk
Pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung beberapa unsur
hara yang dikombinasikan dalam satu formulasi Keuntungan penggunaan
pupuk majemuk adalah semua unsur hara utama diaplikasikan dalam satu
rotasi pemupukan.
Tabel 3. Sifat kelarutan berbagai jenis pupuk terhadap pupuk lain
Jenis

Jenis Pupuk

Pupuk

Urea
ZA
RP
SP36
ZK
MoP
Kies
Dol

Urea
v
#
#
v
v
#

ZA
#

v
#
x
x
V

RP

SP36
v
#
v
x
v
#

ZK
v
x
x
v
v
V

MoP
v
x

v
v
V

Kies

Dol
#
v
#
v
v
v

Catatan: v : dapat dicampur, # : dapat dicampur tetapi tidak dapat disimpan


lama, x : pupuk tidak dapat dicampur
Pupuk organik
Akibat terjadinya kelangkaan pupuk dan mahalnya pupuk anorganik serta
meningkatnya kesadaran masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan,
maka beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit telah menggunakan
pupuk organik untuk kegiatan pemupukan tanaman sawit. Caranya yaitu
memanfaatkan hasil potongan pelepah daun kelapa sawit, potongan hasil
tanaman penutup tanah, atau tandan kosong kelapa sawit

.
memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Hal ini terjadi karena
meningkatnya kegiatan mikroorganisme di dalam tanah sehingga struktur
tanah menjadi lebih baik (lebih remah), aerasi tanah dan kapasitas
menahan air meningkat, serta adanya bahan organik akan berfungsi
sebagai mulsa yang melindungi permukaan tanah dari erosi dan
pencucian hara.
Setelah dibahas berbagai jenis pupuk di atas, berikut diuraikan
kebutuhan pupuk tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM).
Jenis dan dosis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan umur
tanaman, jenis tanah dan waktu pemberiannya. Secara umum dosis
pupuk yang digunakan berdasarkan umur tanaman yaitu disajikan pada
Tabel 4. Namun, untuk memperoleh ketentuan dosis pupuk secara akurat
dapat dilakukan melalui analisa tanah dan analisa daun di suatu areal
perkebunan.
Tabel 4. Dosis Pemupukan TBM Kelapa Sawit (Anonim, 2004)
Umur
Dosis pupuk (kg/pohon)

Tanaman

ZA atau
RP
MoP
Kieserite
HGF
(bulan)

Urea
(KC)l
Borate

Saat tanam
0.5
-

1
0,10
-

3
0,25
-

5
0,25
0,50
0,15
0,10

8
0,25
0,35
0,15
0.02

12
0,50
0,75
0,35
0,25
-

Jumlah TBM
1,35
1,75
1,00
0,70
0,02
1

16
0,50
0,50
0,50
0,03

20
0,50
1,00
0,50
0,50
-

24
0,50
0,75
0,50
0,05

Jumlah TBM
1,50
1,00
1,75
1,50
0,08
2

28
0,75
1,00
0,75
0,75
-

32
0,75
1,00
0,75
-

Jumlah TBM
1,50
1,00
1,75
1,50
3

Total
4,35
3,75
4,50

3,70
0,10

Pengendalian hama d an penyak it


Hama dan penyakit pada kelapa sawit belum mengh asilkan da n kelapa
sawit telah menghasilkan adalah tidak berbeda. Terka it
dengan tuga s manajem en penge ndalian maka perlu diketahui jenis
hama dan penyakit do minan.
a. Hama ke lapa sawit
Beberapa jenis hama yang sering menye rang tanaman kelap a sawit
yaitu sebagai berikut:
Ulat pem akan dau n kelapa s awit (UPD KS)
UPDKS ant ara lain ulat api, ulat kantong (M ahasena c orbetti), ulat bulu
merupa kan hama utama yang dapat m enurunkan produksi 3 0-40 %
dalam 2 tahun setelah k ehilangan daun sebanyak 50 %. Contoh ulat api
menye rang pohon muda dis ajikan pada Gambar 9.

Gambar 9. Ulat Api m enyerang pohon mud a (Budi, HT,2009)

Gejala serangan
Hama ini biasanya menyerang atau memakan daun dimulai dari daun bagian bawah.
Daun-dauan yang terserang biasanya berlubang atau sobek hingga tinggal tulangtulang daunnya, pada serangan hebat daun akan habis sama sekali.
Pengendaliannya
Pengendalian UPDKS dilaksanakan dengan sistem pengendalian hama terpadu
(PHT) yaitu berdasarkan monitoring populasi kritis, mengutamakan pelestarian, dan
pemanfaatan musuh alami. Bagaimana menentukan populasi kritis yaitu dilakukan
monitoring terhadap UPDKS. Dalam keadaan aman, monitoring dilakukan dengan
mengamati 1 pohon contoh/ha kelapa sawit setiap bulan sekali. Setiap contoh
diamati 2 pelepah yang terletak pada bagian bawah dan tengah tajuk kelapa sawit.
Apabila terjadi serangan UPDKS, maka jumlah pohon contoh ditambah menjadi 5
pohon/ha dan diamati setiap 2 minggu sekali. Pengamatan dilakukan terhadap 1
pelepah/pohon contoh, yakni pada pelepah yang diduga paling banyak dijumpai
UPDKS. Apabila perlu dilakukan tindakan pengendalian, maka pada saat sebelum
pengendalian, populasi UPDKS harus dihitung, begitu pula 1 minggu setelah
pengendalian. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan perlu tidaknya pengendalian
ulangan. Penggunaan insektisida sistemik diupayakan sebagai tindakan terakhir dan
dipilih jenis yang aman terhadap lingkungan, parasitoid, dan predator.
Beberapa tumbuhan yang bermanfaat bagi perkebunan kelapa sawit yakni untuk
pengendalian UPDKS:
Euphorbia heterophylla L (patik emas)
Borreria alata L (Setawar/Jukut minggu/Emprah/Goletrak)
Cassia tora L
Turnera subulata L
Tikus ( Rattus tiomanicus, Rattus sp )
Jenis tikus yang sering ditemukan di areal kebun kelapa sawit adalah tikus belukar
(Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattus rattus argentiventer), tikus rumah (Rattus
rattus diardii) dan tikus huma (Rattus exulans). Dari keempat jenis tikus di atas, tikus
belukar merupakan dominan di perkebunan kelapa sawit. Contoh kelapa sawit yang
terserang tikus dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Kelapa sawit (TBM) terserang tikus (Ian Rankine dan Thomas
Fairhurst,2000)
Gejala serangan
Menyerang tanaman kelapa sawit yang berumur 0 1 tahun pada bagian titik
tumbuh/umbut, merusak bunga jantan dan bunga betina, menggigit dan mengerek
buah tanaman kelapa sawit.
Pada pembibitan tanaman umumnya hama tikus ini menyerang titik tumbuh. Pada
bibit tanaman yang terserang hama ini tumbuh tidak normal karena jaringan-jaringan
titik tumbuh rusak. Pada serangan berat dapat menyebabkan bibit tanaman tidak
dapat berkembang dan akhirnya mati. Hama ini dapat menimbulkan kehilangan
produksi mencapai 5 %. Perlukaan buah akibat keratan tikus dapat meningkatkan

kadar asam lemak bebas minyak kelapa sawit. Oleh karena itu hama ini perlu
dikendalikan.
Pengendaliannya
Hama tikus ini pada umumnya agak sulit untuk diberantas, karena tempat hidupnya
luas dan sering berpindah-pindah. Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan
cara antara lain:
secara mekanis yakni dengan cara merusak sarangnya dan pengasapan/ emposan
serta membunuhnya pada saat hama tikus keluar dari sarangnya.
secara biologis yakni menggunakan masuh alami atau predator seperti burung
hantu, kucing, ular.
b. Penyakit kelapa sawit
Beberapa penyakit dominan pada tanaman kelapa sawit sebelum menghasilkan
buah adalah:

Penyakit busuk pangkal buah (BPB)


Penyakit
ini disebabkan oleh Ganoderma boninense.
Ganoderma boninense merupakan jamur tanah hutan hujan tropis. Jamur G.
boninense bersifat saprofit (dapat hidup pada sisa tanaman) dan akan berubah
menjadi patogenik apabila bertemu dengan akar tanaman kelapa sawit yang tumbuh
di dekatnya.
Serangan BPB dapat terjadi sejak bibit sampai tanaman tua, tetapi gejala penyakit
biasanya baru terlihat setelah bibit ditanam di lapangan. Penyakit ini dijumpai pada
tanaman berumur 5 tahun. Serangan penyakit ini yang paling tinggi dijumpai pada
umur 10-15 tahun, tetapi hal ini bervariasi tergantung pada kebersihan kebun dan
sejarah tanaman di kebun tersebut. Kehilangan tanaman sampai dengan 80% telah
dilaporkan pada tempat-tempat yang berasal dari konversi kelapa.
Gejala Serangan
Penyakit ini umumnya menyerang pangkal batang tanaman
Gejala yang tampak pertama kali adalah adanya bercak kekuningan pada pelepah
muda. Begitu penyakit berkembang warna kuning semakin jelas.
Daun yang tua menjadi layu, patah pada pelepahnya dan menggantung pada
batang. Sedang pangkal batang menghitam, getah keluar dari tempat yang terinfeksi
dan akhirnya batang membusuk dengan warna coklat muda.
Tanda pertama adanya infeksi adalah munculnya bagian busuk pada pangkal
batang. Bagian yang busuk kemudian berkembang ke atas dan sekitar batang
(Gambar 13.)
Serangan penyakit ini pada bagian atas tanaman dapat terjadi dimana saja pada
batang tanaman. Gejala pertama yang dapat dilihat adalah adanya bagian atas tajuk
patah

Gambar 13. Penyakit Busuk Pangkal Batang disebabkan oleh Ganoderma


boninensm (Budi, HT, 2009)
Pencegahan dan pengendaliannya

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit busuk pangkal
batang sebagai berikut:
Melakukan pembersihan lahan terutama terhadap sisa-sisa tanaman kelapa atau
kelapa sawit
Menghindari penanaman kelapa sawit dekat dengan perkebunan kelapa
Melakukan sensus terhadap tanaman setiap 6 bulan sekali, untuk mengidentifikasi
tanaman yang terserang/terinfeksi jamur Tindakan pengendalian dapat dilakukan
antara lain:
Pengendalian secara mekanis yakni membongkar, mengumpul kan dan membakar
tanaman yang terserang penyakit terutama bagi tanaman yang terinfeksi ada jamur
Pangkal batang dan perakarannya dibongkar hingga kedalaman 15 -20 cm serta
dikeluarkan dari lahan perkebunan kelapa sawit
Tanaman yang terinfeksi tanpa ada jamur, tetapi masih tetap berproduksi, harus
dimonitor / kontrol terus
Pengendalian secara kimiawi yakni sekitar pohon yang terserang dibuat parit selebar
30 cm, dalam 1 m (parit isolasi), kemudian pinggir parit disemprot dengan fungisida
Menggunakan biofungisida Marfu-P
Bahan aktif yang digunakan untuk biofungisida Marfu-P adalah sporakonidia dan
klamidospora jamur Trichoderma koningii

Penentuan Target Kegiatan Pemeliharaan Kelapa Sawit Belum Menghasilkan


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penetapan target kegiatan
pemeliharaan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan yaitu:
Jenis kegiatan pemeliharaan
Sifat/kompleksitas kegiatan pemeliharaan
Jumlah tenaga kerja yang terlibat di dalamnya
Situasi dan kondisi lokasi kebun
Kondisi cuaca ketika melakukan kegiatan pemeliharaan
Analisis Kebutuhan Sumberdaya Kegiatan Pemeliharaan Kelapa Sawit Belum
Menghasilkan
Untuk membuat suatu perencanaan kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit
belum menghasilkan maka dilakukan analisis kebutuhan sumberdaya. Pengertian
sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (SDM) dan sumberdaya non manusia
(sarana dan prasarana yaitu termasuk peralatan dan bahan serta infrastruktur
lainnya). Kebutuhan SDM bersifat kualitatif dan kuantitatif. SDM secara kualitatif
termasuk di dalamnya adalah kompetensi. Kompetensi SDM yaitu mencakup latar
belakang pendidikan, pelatihan, keterampilan, dan pengalaman yang pernah
dilakukan.
Analisis kebutuhan sumberdaya dapat dilakukan dengan mem pertimbangkan jenis
kegiatan pemeliharaan dan sifat/kompleksitas dari setiap jenis kegiatan
pemeliharaan. Contoh pekerjaan tunas, Iyung Pahan (2006) menjelaskan bahwa
peralatan yang dipergunakan untuk tunas pokok berbeda menurut pertambahan
umur tanaman kelapa sawit. Alat-alat tersebut disesuaikan dengan tinggi tanaman
dan ukuran pangkal pelepah. Penggolongan alat kerja tunas dapat dilihat pada Tabel
5.
Tabel 5. Penggolongan alat kerja tunas berdasarkan umur tanaman
No.
Nama Alat
Tinggi batang
Pemakaian

1.
Dodos
kecil
(lebar
Di bawah 90 cm
Tunas
pada
umur
mata 8 cm)

tanaman < 4 tahun

2.
Dodos
besar
(lebar
90 cm 2,5 m
Tunas
pada
umur
mata 14 cm)

tanaman 4-8 tahun

3.
Pisau egrek

Di atas 2,5 cm
Tunas
pada
umur

tanaman > 8 tahun

Analisis kebutuhan sumberdaya dapat dilakukan melalui identifikasi yakni jenis


kegiatan & sifat/kompleksitasnya, kemudian setiap kegiatan dianalisis sumberdaya
yang diperlukannya. Untuk mempermudah hal tersebut dapat dibuat matriks seperti
pada Tabel 6

Tabel 6. Contoh form analisis kebutuhan sumberdaya pemeliharaan TBM


No.
Jenis kegiatan
Kebutuhan sumberdaya

Sarana & Prasarana


SDM (kompetensi

& Jumlah)

Kemudian untuk merencanakan jumlah tenaga kerja dapat dilakukan dengan


menggunakan standar yang ada. Contoh standar prestasi kerja pada pekerjaan
pemeliharaan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) pada tahun ke III
(P3) yang diterbitkan PT. Perkebunan XII Bandung tahun 1995 seperti pada Tabel 7.
Tabel 7. Contoh standar prestasi kerja per hektar, pemeliharaan sawit TBM tahun ke
III (P3) tahun 1995.
No.
Uraian
Sa
pe
Ro
Norma fisik
Ket.

tu
ker
ta

an
jaan/
si

Prests
HKO
Brng /

bhn

bhn
1.
Penyiangan
ph
1
6
0,50
12
gawangan

2.
Penyiangan

ph
1
4
0,11
12
piringan

3.
Mengendalikan
ha
1
2
1,67
1
hama ulat api

Iyung Pahan (2006) memberikan gambaran kebutuhan tenaga kerja untuk


melakukan pekerjaan tunas pokok adalah seperti pada Tabel 8.
c.
Pembuatan jadwal kegiatan pemeliharaan kelapa sawit

Tabel 9. Contoh form Jadwal kegiatan pemeliharaan TBM


No.
Jenis Kegiatan
Target

Bulan ke

waktu

1
2
3

4
5
6
7
..
12

Pengorganisasian Pelaksanaan Kegiatan Pemeliharaan Tanaman Kelapa Sawit


Belum Menghasilkan
Organisasi kegiatan pemeliharaan kelapa saw it
Dalam rangka efisiensi dan efektifitas kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit,
perusahaan biasanya telah menetapkan suatu bentuk struktur organisasi. Berikut ini
diberikan contoh struktur organisasi kebun Budidaya Sawit Non PKS di PT.PN VIII
(Persero) pada tahun 2004. Dalam struktur organisasi tersebut tidak semua bagian
digambarkan, melainkan berkaitan dengan kegiatan pemeliharaan tanaman.

Seperti kita ketahui bahwa struktur organisasi memberikan gambaran jalur


perintah/instruksi dari atasan kepada bawahan. Sebaliknya proses penyampaian
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dimulai dari bawahan kepada atasan
langsung. Berdasarkan struktur organisasi pada Gambar 14 di atas maka
Administratur memberikan instruksi/perintah kepada seluruh bawahan melalui
birokrasi yaitu secara berurutan dimulai dari sinder kepala, sinder kebun, mandor
besar, dan para mandor masing-masing pekerjaan.
Pengaturan pelaksanaan pekerjaan
Kegiatan teknis pemeliharaan tanaman kelapa sawit yang dilakukan oleh para
pekerja, pelaksanaannya diatur dan diarahkan oleh seorang mandor. Pengaturan
pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan menjadi tanggung jawab masing-masing
mandor, sesuai dengan tugas, wewenang, dan tanggungjawab masing-masing
Mandor lingkup pemeliharaan tanaman.
Kegiatan pemeliharaan tanaman, biasanya perusahaan telah menetapkan prosedur
pelaksanaan pemeliharaan. Berikut disajikan contoh prosedur pemupukan tanaman
sawit yaitu sebagai berikut:
(1). Persiapan pemupukan
Lapangan
Areal dibersihkan.
Piringan tanaman bebas tumbuhan rumput dengan cara manual dan khemis.
Pada areal rendah, drainase harus sudah disiapkan yang bertujuan untuk
menghindari terjadinya penggenangan air diareal dan pada areal berbukit sudah
harus disiapkan piringan kelapa sawit untuk menghindari pupuk hanyut bila turun
hujan.
Untuk transportasi pengangkutan pupuk, jalan dan jembatan dalam kondisi baik.
Stok pupuk
Pupuk yang akan ditaburkan ke areal, tersedia digudang sesuai dengan jenis (mis:
Urea, MOP, RP) dengan jumlah, dosis dan luas hektar (ha) yang ada.
Penentuan jenis dan dosis pupuk
Penentuan jenis dan dosis pupuk didasarkan atas hasil penelitian analisa daun yang
dilakukan laboratorium.
Rekomendasi pemupukan secara umum memperhitungkan beberapa faktor antara
lain kandungan hara tanah, kandungan hara dalam daun dan target produksi yang
akan dicapai.
Tenaga kerja

Memberikan pelatihan kepada tenaga pemupuk, sistim dan prosedur pupuk yang
baik.
Jumlah tenaga tersedia dengan rasio pemupuk (0,4 0,7 per ha) tergantung pada
dosis pupuk yang akan diaplikasikan (per pohon dan luas ha)
Tenaga mandor tersedia sesuai dengan rasio pemupuk
(1 mandor tenaga pemupuk)
(2). Pelaksanaan Pemupukan
Aplikasi pemupukan dilakukan 2 (dua) kali dalam setahun yaitu semester I pada
bulan Januari sampai dengan Juni dan semester II bulan Juli sampai dengan
Desember berdasarkan kondisi lapangan dan hasil analisa daun. Pelaksanaan
pemupukan dilakukan tepat waktu, pada saat awal dan akhir musim hujan (curah
hujan 150 200 mm per bulan) dengan interval aplikasia 3-4 minggu untuk beberapa
jenis pupuk tunggal (MOP, Urea, Borate, Kiserite dan RP)
Pupuk harus diangkut dan diecer kelapangan pada pagi hari sebelum pemupukan
dilakukan. Pupuk tidak diperbolehkan diangkut dan diecer pada sore hari untuk
pekerjaan pemupukan esok harinya. Pupuk yang sudah diecer dijalan harus sudah
dilangsir ke gawangan sebelum pembagian pupuk kepada pemupuk.
Dosis pemupukan berdasarkan pada hasil analisa daun dalam satuan gram yang
diekomendasikan.
Tanaman yang dipupuk adalah areal yang telah bersih dan telah mendapat program
pemeliharaan seperti weeding circle, sanitasi dan lain-lain.
Penaburan pupuk dengan cara meletakkan pupuk pada piringan secara melingkar.
Pada areal berbukit dimana pohon berada pada teras/tapak kuda, pupuk harus
ditaburkan pada bagian dekat dinding teras/tapak kuda, tidak boleh ditabur pada bibir
teras/tapak kuda.
Administrasi kegiatan pemeliharaan kelapa saw it TBM
Berdasarkan uraian tugas, wewenang, dan tanggungjawab masing-masing Mandor
lingkup pemeliharaan tanaman, maka dalam melakukan proses dan hasil kegiatan
pemeliharaan tanaman dicatat dan diadministrasikan secara khusus sesuai
bidangnya. Untuk memperlancar pelaksanaan tugas Mandor lingkup pemeliharaan
tanaman, perusahaan biasanya memberikan buku pedoman/panduan budidaya/
pemeliharaan kelapa sawit. Contoh bentuk administrasi kegiatan pemeliharaan
kelapa sawit khususnya dalam rangka pengendalian hama dan penyakit dapat dilihat
pada Tabel 10, 11 dan Tabel 12 (Anonim, 2003 dalam Pemeliharaan Tanaman
Menghasilkan (TM). Menurut Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Pertanian (2009)).

Contoh form data sensus serangan hama tikus pada TBM


Kebun
: ..

Divisi
: ...

Blok
: ..

Tahun tanam : ..

Luas
: ..

Baris

Jumlah pohon yang diamati

Ket.
ke

Sehat
Terserang
Total

pohon

Perhitungan
Total
Perhitungan
Total
%

Total

Mengetahui Mandor H & P

Petugas Pengamat

..

Tabel 11. Contoh form data sensus tanaman terserang Ganoderma sp.
Kebun
:
Tanggal
:
Divisi
:
Nama Pengamat :
Blok
:

Tahun tanam :

Luas
:

Posisi pohon
Jumlah

Kode tanaman

No.
No.
Daun
Badan
Daun
Daun
Keropos
Tandan
Bunga
Roboh
baris
pohon
tombak
buah

pucat/
coklat/
buah
Jantan

kering
kering

Y/T
A/T
A/T
Y/T

Catatan:
: ya
T
: tidak
: Ada
Mengetahui Mandor H & P

Petugas Pengamat

..

Pengawasan Pelaksanaan Kegiatan Pemeliharaan Tanaman Kelapa Sawit


Belum Menghasilkan
Pengawasan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan tanaman kelapa sawit dilakukan
oleh para mandor sesuai tugas masing-masing yakni seperti diuraikan pada
organisasi di perusahaan perkebunan kelapa sawit non PKS di PT.PN VIII.
Setiap jenis pekerjaan pemeliharaan tanaman kelapa sawit, memiliki sifat yang
berbeda antara pekerjaan satu dengan pekerjaan lainnya. Karena itu, kegiatan
pengawasan di antara jenis pekerjaan pemeliharaan tanaman berbeda pada
substansinya. Berikut ini disajikan contoh prosedur pengawasan pemupukan
tanaman yaitu meliputi:
Memastikan bahwa pupuk telah diaplikasikan sesuai dengan program aplikasi
Memastikan pemupukan dilakukan tepat waktu berdasarkan data curah hujan
Memastikan bahwa pupuk telah diecer pada pagi hari sebelum dilakukan

pemupukan.
Memastikan pengaplikasian pupuk telah sesuai dengan dosis yang telah
direkomendasikan.
Memastikan bahwa areal yang dipupuk adalah piringan/areal yang telah bersih dan
mendapat program pemeliharaan seperti: weeding circle, sanitasi .
Memastikan cara pemupukan telah tepat dilakukan serta seluruhnya ditaburkan ke
lapangan dan tidak ada penyelewengan (misalnya pencurian yang dilakukan oleh
pekerja baik pada saat pengangkutan pupuk dari gudang maupun pada saat
pengaplikasian di lapangan), maka karung pupuk harus dikembalikan ke gudang
kebun.
Tanaman Menghasilkan (TM)
Untyk managemen tanaman menghasilkan , kami mengambil contoh SOP dari
PT SMART TBK. Berikut contohnya:

LEMBAR PENGESAHAN
Disahkan Oleh

Disiapkan Oleh

Diperiksa Oleh

ESTATE MANAGER

ASISTEN KEPALA

ASISTEN

PERINGATAN !

Dokumen ini adalah dokumen yang dikendalikan . Distribusi hanya dibatasi kepada pihakpihak yang telah disetujui. Barangsiapa yang memiliki dokumen yang tidak dikendalikan,
bersifat tidak sah. Untuk melihat keabsahannya harus melihat master list, status revisi dan
distribusinya.
Kebun Padang Halaban
Kecamatan Aek Kuo Kabupaten Labuhan Batu

No. Penggandaan

Distribusi ke

Status Distribusi

Tanggal Distribusi

SOP PEMELIHARAAN TANAMAN MENGHASILKAN


A;
.

A; B. DAFTAR REVISI DOKUMEN

No

Bagian/
Halaman

Uraian Revisi

Revisi ke-

Tambahkan pengunaan jarring pada EBS 1


dan Dump truk

Tanggal
Revisi

IK/PHLE/
TM/01 hal 3

15.07.03

IK/PHLE/TM/0 Tambahkan cara menyusun pelepah


2
pada areal LA untuk pekerjaan tunas
pokok

15.07.03

Lembar Pengesahan

01.08.03

IK/PHLE/TM/0 Perubahan kedalaman kolam 20 cm


1 hal 1-3
menjadi 15 cm

24.12.04

IK/PHLE/TM/0 Penambahan Jadwal pengambilan air tanah dan air 2


permukaan 6 bulan sekali
1 hal 2-3

24.12.04

IK/PHLE/TM/0 Perubahan muat JJK dengan Wheel


1 hal 3-3
Loader menjadi Crane Graple

24.12.04

IK/PHLE/TM/0 Tunas pelepah dengan songgo dua


2
dirubah menjadi songgo satu untuk
tanaman remaja dan tua dan pelepah
disusun digawangan mati dan antar
pokok

24.06.06

SOP PEMELIHARAAN TANAMAN MENGHASILKAN


A;
.

B;
C; C. DAFTAR ISI
BAGIAN

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN

DAFTAR REVISI DOKUMEN

DAFTAR ISI

1.

TUJUAN

RUANG LINGKUP

3.

TANGGUNG JAWAB

4,

ACUAN

5.

DEFINISI

6.

LANGKAH KERJA

6.1

Jenis Kegiatan Pemeliharaan TM

6.2

Pelaksanaan

6.3

Pemeriksaan dan Pelaporan

7.

DOKUMENTASI

7.1

Dokumen Terkait

7.2

Penyimpanan Dokumen

10

1;

TUJUAN
Tujuan ditetapkannya prosedur ini adalah :
a; Guna menjamin bahwa semua aktivitas Pemeliharaan Tanaman
Menghasikan (TM) sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan
dan memperhatikan Aspek Lingkungan dengan mengacu kepada
petunjuk tehnis agronomi .
b; Guna mempermudah pengendalian kegiatan sesuai dengan tujuan
pengelolaan lingkungan.

2;

RUANG LINGKUP
Ruang lingkup penerapan prosedur ini adalah :
a; Semua aktivitas pemeliharaan Tanaman Menghasilkan yang mencakup
Kimia, Manual dan Mekanis berserta Pengendalian aspek lingkungan
yang terkait dengan kegiatan pemeliharaan Tanaman Menghasilkan di
Kebun Padang Halaban PT SMART Tbk atau disingkat dengan PHLE
mulai dari persiapan, pelaksanaan lapangan sampai kegiatan
pemeriksaan dan Pelaporan.

3; TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB


3.1; Kepala Kerja/ Mandor

Mengkoordinir anggota regunya melakukan kegiatan teknis Pemeliharaan TM


Kelapa sawit dan pengendalian aspek lingkungan di lapangan.
3.2; Kepala Seksi / Supervisor/ Mandor I
Mengkoordinir dan Mengawasi
beberapa mandor dalam pelaksanaan
Pemeliharaan TM Kelapa sawit di lokasi areal TM dan bertanggung jawab atas
hasil pekerjaannya kepada Asisten
3.3;

Asisten Divisi
Menyusun Rencana Operasional (RO) dilapangan, mengorganisasikan dan
melakukan koordinasi dengan Asisten Kepala (Askep ) .

3.4; Asisten Kepala ( Askep )


Membuat rencana bulanan dan tahunan, mengkoordinasikan dan memeriksa
seluruh kegiatan untuk kemudian disampaikan kepada Manager kebun.
3.5

Manager Kebun (Wakil Manajemen)


Mengkoordinasikan seluruh kegiatan di Pemeliharaan TM Kelapa Sawit dan
mengevaluasi hasil kegiatan untuk kemudian dilaporkan kepada RC (Top
Manajemen).

3.6

RC (Top Manajemen)
Memastikan dan menjamin seluruh kegiatan dapat dilaksanakan sesuai prosedur
dengan memberikan keperluan sumberdaya dan motivasi kerja untuk kesadaran.
4; ACUAN
Yang menjadi acuan dalam prosedur ini adalah :
a; Manual Lingkungan
b; Pedoman Teknis Budidaya (Tanaman kelapa sawit) Divisi Agribisnis
SMART Tbk. Tahun 2000

PT

c; Teknis Praktis Agronomi (Sinar Mas Group Agribusiness Division-AA&A


Edisi I - 2001)
d; Edaran Budidaya Pertanian No. 1 Tahun 1996
e; Edaran Budidaya Pertanian No. 9 Tahun 1998
f; Rekomendasi Pemupukan SMART Research Institute (SMARTRI)
g; Petunjuk Pelaksanaan Pemanfaatan Limbah Cair PKS dengan sistem Land
Application Tahun 2000
h; Petunjuk Pelaksanaan Optimalisasi Pemanfaatan Jajajangan Kosong sebagai
Pengganti Pupuk di TM Tahun 2000
i; SOP Pengendalian Limbah (SOP/PHLE/LBH)
5.

DEFINISI

Tidak ada
6.

LANGKAH KERJA

6.1 Jenis Kegiatan Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan mencakup :


a;
Sensus dan Perbatasan
b; Perawat Gawangan.
c;
Perawat jalan Pikul dan Piringan.
d; Pemupukan.
e;
Pemberantasan Lalang.
f;
Pengendalian Hama dan Penyakit.
g; Cuci Parit
h; Tunas Pokok
i;
Perawatan Jalan dan Jembatan
j;
Assisted Polination
6.2
Pelaksanaan
6.2.1 Sensus dan Perbatasan
1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I
dan Assisten Divisi
2; Kegiatan Sensus dan Perbatasan selengkapnya diatur dalam Instruksi Kerja
(IK) No. IK/ PHLE /TBM/01
6.2.2; Perawat Gawangan
1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I
dan Assisten Divisi
2; Kegiatan perawatan gawangan selengkapnya diatur dalam Instruksi Kerja
(IK) No. IK/ PHLE /TBM/03
3; Penggunaan bahan herbisida dalam kegiatan pemeliharaan gawangan harus
digunakan secara hati-hati dan dicegah supaya tidak terjadi tumpahan.
4; Apabila dilakukan perubahan penggunaan
herbisida harus melalui
persetujuan dari Manager Kebun.
5; Apabila terjadi kecelakaan yang berupa Keracunan kerja harus segera
diambil tindakan dengan mengacu pada IK Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K), No. IK/ PHLE /KTD/01.
6; Peralatan yang digunakan dalam kegiatan pemberantasan gulma gawangan,
apabila akan dibersihkan harus memperhatikan aspek lingkungan limbah B3
dengan mengacu pada SOP Pemeliharaan Peralatan No SOP/ PHLE
/PML.
7; Limbah padat yang dihasilkan dari pekerjaan ini seperti kaleng bekas, plastik
bekas dari pestisida, plastik bekas makanan dan minuman harus dikendalikan
dengan mengacu pada SOP Pengendalian Limbah No. SOP/ PHLE /LBH.
8; Asisten, Askep dan Manager harus memastikan bahwa limbah padat
dikendalikan sesuai SOP Pengendalian Limbah padat.
9; Asisten, Askep dan Manager melakukan pengawasan kegiatan
Pemberantasan Gulma Gawangan di setiap divisinya.

6.2.3

Perawatan Jalan Pikul dan Piringan


1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I
dan Assisten Divisi
2; Kegiatan Pemeliharaan jalan pikul dan Piringan selengkapnya diatur
dalam Instruksi Kerja (IK) No. IK/ PHLE /TBM/04
3; Penggunaan bahan herbisida dalam kegiatan pemeliharaan gawangan harus
digunakan secara hati-hati dan dicegah supaya tidak terjadi tumpahan.
4; Apabila dilakukan perubahan penggunaan
herbisida harus melalui
persetujuan dari Manager Kebun.
5; Apabila terjadi kecelakaan yang berupa Keracunan kerja harus segera
diambil tindakan dengan mengacu pada IK Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K), No. IK/ PHLE /KTD/01.
6; Peralatan yang digunakan dalam kegiatan pemberantasan gulma gawangan,
apabila akan dibersihkan harus memperhatikan aspek lingkungan limbah B3
dengan mengacu pada SOP Pemeliharaan Peralatan No SOP/ PHLE
/PML.
7; Limbah padat yang dihasilkan dari pekerjaan ini seperti kaleng bekas, plastik
bekas dari pestisida, plastik bekas makanan dan minuman harus dikendalikan
dengan mengacu pada SOP Pengendalian Limbah No. SOP/ PHLE /LBH.
8; Asisten, Askep dan Manager harus memastikan bahwa limbah padat
dikendalikan sesuai SOP Pengendalian Limbah padat.
9; Asisten, Askep dan Manager melakukan pengawasan kegiatan
Pemberantasan Gulma Gawangan di setiap divisinya.
6.2.4. Pemupukan
1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I
dan Assisten Divisi
2; Kegiatan Pemupukan mencakup Aplikasi Pupuk Organik dan Anorganik
(Manual dan Mekanis).
3; Kegiatan pemupukan Organik selengkapnya diatur dalam Instruksi Kerja
Pemupukan organik Land Application dan Ecer Janjang Kosong (IK) No.
IK/ PHLE /TM/01
4; Kegiatan pemupukan Anorganik selengkapnya diatur dalam Instruksi Kerja
Pemupukan Anorganik (IK) No. IK/ PHLE /TBM/06, Pemupukan
Emdek ( IK ) No. IK/PHLE/TM/03.
5; Asisten, Askep dan Manager harus memastikan aplikasi pemupukan sesuai
dengan Jadwal, Jenis dan Dosis serta pupuk tersebar merata di piringan.
6.2.5. Pemberantasan Lalang
1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I
dan Assisten Divisi
2; Kegiatan Pemberantasan Lalang selengkapnya diatur dalam Instruksi Kerja
(IK) No. IK/ PHLE /TBM/05
3; Penggunaan bahan herbisida dalam kegiatan pemeliharaan gawangan harus
digunakan secara hati-hati dan dicegah supaya tidak terjadi tumpahan.
4; Apabila dilakukan perubahan penggunaan
herbisida harus melalui
persetujuan dari Manager Kebun.

5; Apabila terjadi kecelakaan yang berupa Keracunan kerja harus segera


diambil tindakan dengan mengacu pada IK Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K), No. IK/ PHLE /KTD/01.
6; Peralatan yang digunakan dalam kegiatan pemberantasan gulma gawangan,
apabila akan dibersihkan harus memperhatikan aspek lingkungan limbah B3
dengan mengacu pada SOP Pemeliharaan Peralatan No SOP/ PHLE
/PML.
7; Limbah padat yang dihasilkan dari pekerjaan ini seperti kaleng bekas, plastik
bekas dari pestisida, plastik bekas makanan dan minuman harus dikendalikan
dengan mengacu pada SOP Pengendalian Limbah No. SOP/ PHLE /LBH.
8; Asisten, Askep dan Manager harus memastikan bahwa limbah padat
dikendalikan sesuai SOP Pengendalian Limbah padat.
9; Asisten, Askep dan Manager melakukan pengawasan kegiatan
Pemberantasan Gulma Gawangan di setiap divisinya.
6.2.6. Pengendalian Hama dan Penyakit
1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I
dan Assisten Divisi
2; Kegiatan Pengendalian Hama dan Penyakit (Deteksi, sensus, pengendalian
dan evaluasi)
selengkapnya diatur dalam Instruksi Kerja (IK) No. IK/
PHLE /TBM/07
3; Mandor mengkoordinir pelaksanaan Pengendalian Hama (Deteksi hama,
sensus dan semprot hama) dan membuat laporan Pengendalian Hama
(Deteksi hama, sensus dan semprot hama) dalam Form Deteksi,
No.FL/PHLE/TBM/02, Form Sensus No. FL/ PHLE /TBM/03 dan Form
Evaluasi FL/TBM/04
4; Penggunaan bahan limbah padat plastik dalam kegiatan sensus hama ini
harus mengacu pada SOP Pengendalian Limbah.
5; Penggunaan bahan insektisida dalam kegiatan semprot hama ini harus
digunakan secara hati-hati dan dicegah supaya tidak terjadi tumpahan .
6; Apabila dilakukan perubahan penggunaan insektisida harus melalui
persetujuan dari Manager Kebun.
7; Apabila terjadi kecelakaan yang berupa Keracunan kerja harus segera
diambil tindakan dengan mengacu pada IK Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K), No. IK/ PHLE /KTD/01.
8; Peralatan yang digunakan dalam kegiatan semprot hama, apabila akan
dibersihkan harus memperhatikan aspek lingkungan limbah B3 dengan
mengacu pada SOP Pemeliharaan Peralatan No SOP/ PHLE /PML
9; Limbah padat yang dihasilkan dari pekerjaan ini seperti kaleng bekas, plastik
bekas dari insektisida, plastik bekas makanan dan minuman harus
dikendalikan dengan mengacu pada SOP Pengendalian Limbah No. SOP/
PHLE /LBH.
10; Asisten, Askep dan Manager harus memastikan bahwa limbah padat
dikendalikan sesuai SOP Pengendalian Limbah padat.
11; Asisten, Askep dan Manager melakukan pengawasan kegiatan Semprot hama
di setiap divisinya.
6.2.7 Cuci Parit

1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I


dan Assisten Divisi
2; Kegiatan Pemeliharaan cuci parit selengkapnya diatur dalam Instruksi
Kerja (IK) No. IK/ PHLE /TBM/08
6.2.8 Tunas Pokok
1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I
dan Assisten Divisi
2; Kegiatan Tunas Pokok selengkapnya diatur dalam Instruksi Kerja (IK) No.
IK/ PHLE /TM/02
6.2.9 Perawat Jalan dan Jembatan
1; Kegiatan dilakukan oleh karyawan dibawah pengawasan Mandor, Mandor I
dan Assisten Divisi
2; Kegiatan perawatan Jalan dan Jembatan selengkapnya diatur dalam
Instruksi Kerja (IK) No. IK/ PHLE /TBM/09
6.3. Pemeriksaan dan Pelaporan
6.3.1. Kegiatan pemeliharaan TM kelapa sawit yang sudah selesai dilaporkan melalui
Buku Kegiatan Mandor atau BKM (FL/PHLE/BBT/03) oleh mandor kepada
Assisten Divisi dan telah diperiksa oleh Mandor I dan untuk selanjutnya
dilakukan pemeriksaan dari hasil kegiatan tersebut.
6.3.2. Hasil Pemeriksaan BKM diinput kedalam SPDE SAP dan hasilnya dapat dilihat
dalam Laporan SAP ZED4
6.3.3 Pemeriksaan hasil kegiatan menggunakan Kriteria hasil sbb :
Penggunaan tenaga kerja ( HK )
Prestasi/ hasil kerja
Penggunaan bahan
Mutu kerja
6.3.4 Hasil pemeriksaan disampaikan Assisten kepada Manager kebun setelah
melakukan koordinasi dengan Askep.
6.3.5. Manager kebun setelah melakukan pemeriksaan membuat laporan kepada RC.
6.3.6.RC mengevaluasi hasil laporan dan memastikan bahwa semua kegiatan
pemeliharaan TM kelapa sawit sesuai prosedur.
7.
7.1.

DOKUMENTASI
Dokumen Terkait
1;
2;
3;
4;
5;
6;
7;
8;

FL/PHLE/BBT/03
FL/PHLE/TBM/01
FL/PHLE/TBM/02
FL/PHLE/TBM/03
FL/PHLE/TBM/04
FL/PHLE/TM/01
FL/PHLE/TM/02
FL/PHLE/TM/03

Form Buku Kegiatan Mandor (BKM)


Form Sensus Pokok
Form Deteksi Hama
Form Sensus Hama
Form Evaluasi Hama
Form Monitoring Harian Pengisian LA
Form Monitoring Mingguan Pengisian LA
Form Monitoring Bulanan Pengisian LA

7.2;
1.1;
1.2;

1.3;

1.4;

1.5;

1.6;

9; FL/PHLE/TM/04
Form Monitoring Harian Aplikasi JJK
10; FL/PHLE/TM/05
Form Monitoring Bulanan Aplikasi JJK
11; FL/PHLE/TM/06
Form Perkembangan Burung Hantu
12; FL/PHLE/TM/07
Form Asisted Polination
13; ZED4 (Daily report immature)
Penyimpanan Dokumen.
Setiap pemegang dokumen ini tidak diperbolehkan memperbanyak (copy) tanpa
persetujuan Wakil Manajemen.
Apabila memerlukan dokumen dengan alasan rusak, hilang atau hal lain, maka
untuk mendapatkan dokumen tersebut pemegang dokumen harus melaporkan
kepada Sekretariat ISO pada formulir Berita Acara Kerusakan/ Kehilangan/
Permintaan/ Pemusnahan Dokumen dan Rekaman (FL/PHLE/PDK/06)
yang disetujui oleh Wakil Manajemen.
Apabila diperlukan perubahan (revisi) pada dokumen, maka pemegang dokumen
harus mengusulkan kepada Sekretariat ISO pada formulir Usulan Perubahan
dan Pembuatan Dokumen (FL/PHLE/PDK/04) yang disetujui oleh Wakil
Manajemen.
Rekaman yang merupakan milik bagian tersebut atau berasal dari organisasi lain
harus dikendalikan agar tidak rusak atau hilang. Pengendalian rekaman tersebut
dicatat dalam formulir Daftar Induk Dokumen dan Rekaman
(FL/PHLE/PDK/01) dan disetujui oleh Assisten yang bersangkutan.
Apabila masa simpan rekaman tersebut sudah berakhir, maka Assisten dapat
memusnahkan rekaman tersebut. Selanjutnya membuat laporan dalam Berita
Acara Kerusakan/ Kehilangan/ Permintaan/ Pemusnahan Dokumen dan
Rekaman (FL/PHLE/PDK/06).
Dokumentasi ini disimpan dalam wujud dokumen file komputer dengan
menggunakan kode akses C:\ISO 14001 PHLE \SOP PEMELIHARAAN
TM\SOP Pemeliharaan TM.doc, artinya SOP milik TM disimpan dalam drive C,
directory ISO 14001 PHLE, sub-directory SOP Pemeliharaan TM, dengan
menggunakan program MS Word (selanjutnya kode-kode tersebut akan berubah
sesuai peruntukkan, tempat, bagian dan nomor urut dokumen selanjutnya).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2003. Pedoman Teknis Budidaya Kelapa Sawit. Perkebunan Sinar Mas.
Budi HT. 2009. Manajemen Produksi Kelapa Sawit. Materi Presentasi pada Diklat Guru
SMK se Indonesia Bidang Studi Perkebunan.
Departemen Pendidikan Nasional. 2009. Modul Diklat Pjj 2. Manajemen
Pemeliharaan Tanaman Kelapa Sawit. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik
dan Tenaga Kependidikanpusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Pertanian.
Ian Rankine dan Thomas Fairhurst. 2000. Seri Tanaman Kelapa Sawit Vol. 1. Pusat
Penelitian Kelapa Sawit. Medan.
Iyung Pahan. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Manajemen Agribisnis dari Hulu
hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.