Anda di halaman 1dari 5

KEARIFAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA BANJIR DAN KEBAKARAN

Di beberapa wilayah di Indonesia memiliki kearifan lokal dalam mengatasi


banjir. Kearifan lokal tersebut berupa bentuk arsitektur bangunan dan budaya
penanggalan. Kearifan lokal yang tampak dari arsitektur bangunannya dalam
mitigasi bencana banjir diantaranya berupa rumah panggung. Suku Aceh, Dayak,
Baduy, dan Bugis adalah beberapa diantaranya. Suku-suku tersebut berada di
pulau-pulau yang memiliki sungai-sungai besar, seperti Sumatera, Jawa,
Kalimantan dan Sulawesi.

Rumah adat Suku Baduy


Sumber: Google Picture
Khusus pada masyarakat Baduy, bila mendirikan rumah pada tanah yang
miring, maka tidak boleh meratakan tanah tersebut. Meratakan tanah berarti
akan merusak dan membolak-balik tanah. Membolak-balik tanah berarti
melanggar pikukuh (aturan adat setempat). Untuk memperoleh lantai rumah
yang rata, maka tihang (tiang) rumah diatur ketinggiannya. Tanah yang
merendah dibuatkan tiang yang lebih tinggi dibandingkan tiang pada tanah yang
meninggi. Dengan demikian, jika kita memasuki permukiman Baduy Tangtu akan
terlihat jelas bentuk kontur atau permukaan tanah aslinya. Air hujan akan
mengalir mengikuti jalan alamiahnya. Karena tidak ada rekayasa yang
bertentangan dengan apa adanya, maka tidak pernah terjadi erosi, tanah
longsor, atau banjir di permukiman-permukiman Baduy tersebut. Hal ini pada
umumnya tidak jauh berbeda dengan suku Dayak, Aceh, maupun Bugis.

Rumah adat Suku Bugis


Sumber: Google Picture
Fungsi lainnya agar terhindar dari serangan binatang buas semacam
harimau. Selain suku Baduy, Suku Aceh juga merupakan daerah yang
mempunyai cukup banyak sungai baik besar maupun kecil. Sehingga di zaman
kesultanan dulu, sungai ini dijadikan sebagai alat transportasi, maka rumahrumah yang dibangun pun secara sendirinya berdekatan dengan sungai. Sesuai
prinsip sungai itu sendiri, adakala airnya banyak dan sedikit, atau secara ilmiah
disebut debit yang kadang tinggi, kadang rendag. Adakalanya debit menjadi
sangat besar karena pengaruh hujan yang terjadi intensitasnya tinggi sehingga
menyebabkan terjadinya banjir. Kejadian alam semacam ini sebenarnya sudah
merupakan sebuah pola yang telah dipelajari masyarakat Aceh. Oleh karena itu,
masyarakat Aceh zaman dahulu membangun Rumoh Aceh. Rumoh Aceh ini
tersendiri menjadi aman terhadap banjir karena memiliki bentuk panggung.

Rumah adat Suku Aceh


Sumber: Google Picture

Untuk penerapan kearifan lokal dalam budaya penanggalan untuk mitigasi


bencana banjir salah satunya diterapkan di wilayah pesisir Laut Jawa, Provinsi
Jawa Tengah. Layaknya daerah lain yang mempunyai aturan mengikat yang
bersifat lokal, masyarakat pesisir Jawa mempunyai kearifan lokal dalam
menghadapi banjir dan rob.
Banjir dan rob sudah terjadi sejak lama menjadikan masyarakat yang
tinggal di dalamnya mempunyai kearifan lokal dalam menghadapi dan
menangani bencana tersebut. Kearifan lokal ini merupakan hasil adaptasi
masyarakat yang berasal dari pengalaman hidup yang diwariskan dari generasi
ke generasi. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa kearifan lokal tersebut
merupakan pengetahuan lokal masyarakat dalam mengelola banjir dan rob, yang
diperoleh secara turun temurun untuk dapat tetap bertahan hidup. Identifikasi
karakteristik kearifan lokal masyarakat ini penting untuk mengetahui nilainilai
yang berkembang di masyarakat, agar sistem informasi serta peringatan dini
banjir dan rob yang akan dikembangkan, dapat disesuaikan dengan kearifan
lokal masyarakat yang telah ada. Lebih lanjut karakteristik ini dapat dijadikan
sebagai langkah awal untuk mengetahui tingkat kapasitas masyarakat pesisir
Jawa.

Banjir Rob
Sumber : www.eocommunity.com
Terkait dengan perkiraan terjadinya banjir rob, masyarakat pesisir Laut
Jawa, Provinsi Jawa Tengah pada umumnya mengidentifikasi terjadinya banjir
rob melalui sistem penanggalan Jawa. Banjir rob pada dasarnya terjadi setiap
awal bulan dengan ketinggian bervariasi. Puncak rob terjadi pada setiap bulan ke
9 dalam sistem kalender jawa atau pada Bulan Mei setiap tahunnya. Pada tahun
2012, puncak rob terjadi pada Bulan MeiJuni. Sistem penanggalan ini

memungkinkan masyarakat untuk dapat mengantisipasi timbulnya kerugian yang


lebih besar dengan menyesuaikan musim tanam dan panen sawah dan
tambaknya.
Kearifan lokal dalam kaitannya dengan mitigasi kebakaran hutan terlihat
dalam tradisi ngahuru atau ngaduruk dalam Suku Baduy, yakni membakar
tebangan sehabis membuka ladang. Dahan, ranting, dedaunan dan rerumputan
bekas potongan/tebasan harus dikeringkan dan dionggokkan untuk dibakar.
Kegiatan

pengonggokan

sampah

tersebut

disebut

dangdang

(Baduy

Panamping) atau nyampurai (Baduy Tangtu). Kegiatan yang dilakukan adalah


membuat onggokan besar di tengah-tengah ladang yang diperoleh dari sampah
di sekelilingnya (Gambar 1). Kemudian tidak begitu jauh dari onggokan besar di
tengah tersebut dibuat onggokan-onggokan lebih kecil mengitarinya. Di antara
onggokan-onggokan tersebut tidak boleh ada sampah yang tersisa agar ketika
pembakaran api tidak menjalar ke mana-mana. Demikian pula, antara anggokanonggokan kecil sampah dan batas ladang juga harus dibuat bersih, agar api
tidak menjalar ke luar ladang yang dapat menyebabkan kebakaran hutan atau
ladang milik warga lain.
Awal kegiatan ngahuru atau ngaduruk ini harus berpatokan pada
pertanggalan bintang. Dalam ungkapan yang diutarakan oleh Sangsang (48
tahun), informan dari kampung Cibeo (Baduy Tangtu), gek kidang ngarangsang
kudu ngahuru, yang artinya lebih kurang adalah jika melihat bintang kidang
(waluku) seperti pada posisi matahari pagi, maka waktunya mulai membakar
sisa-sisa tebangan di ladang. Daerah Baduy saat membakar onggokanonggokan sampah ladang tersebut seolah-olah sedang terjadi kebakaran hutan,
karena asap mengepul di mana-mana. Walaupun demikian, pada saat kegiatan
ini tidak pernah terjadi kebakaran hutan. Selama pembakaran selalu dijaga agar
api tidak merambat kemana-mana. Bila akan ditinggalkan harus dipastikan
bahwa api dan bara telah benar-benar padam. Abu sisa pembakaran ini
dibiarkan tertinggal pada lapisan atas tanah sebagai pupuk sambil menunggu
hujan tiba.

Gambar: Posisi onggokan tebangan dalam kegiatan pada tradisi Ngahuru atau
Ngaduruk.
Pelatihan menghadapi kebakaran adalah salah satu contoh kearifan lokal
dalam memitigasi bencana kebakaran. Kebakaran adalah salah satu jenis
bencana yang paling umum. Pada umumnya pengelola suatu gedung atau mall
mempunyai rencana kontijensi jika terjadi kebakaran dan membuat agenda
pelatihan secara teratur. Pelatihan ini harus diikuti oleh semua penghuni /
pemakai gedung termasuk manajemen gedung itu sendiri. Secara garis besar
pelatihan

ini

mengajarkan

kepada

para

penghuni

gedung

bagaimana

menghadapi kebakaran, salah satu yang terpenting adalah ketika alarm


kebakaran berbunyi, para penghuni diharapkan untuk tidak panik dan segera
keluar dari gedung dengan menggunakan jalur yang telah dibuat menuju ke titik
atau tempat evakuasi. Jadi, pada prinsipnya kesiapsiagaan untuk kebakaran
adalah membuat suatu keadaan (dalam gedung atau bangunan atau rumah)
yang aman dari api, membuat rute jalan keluar dari tempat kejadian.

Gambar : Keadaan darurat bencana


Sumber: Google Image