Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

MANAJEMEN KESUBURAN TANAH


Penambahan Pupuk Kandang Sisa Kotoran Sapi dan Kapur Dolomit pada
Lahan Tomat di Daerah Pujon Kidul Untuk Peningkatan Kandungan Bahan
Organik Tanah dan pH Tanah

DiSusun Oleh:
Kelompok G2.1

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIANMALANG
2014

KELOMPOK G2.1
Ketua

: Indra Julianus Sihombing

125040201111195

Anggota

: Irine Aryani H.K

125040201111168

Lukman Febriansyah

125040201111185

Dista Dian Purnama

125040201111194

Ismatul Baroro

125040201111217

Ahmad Faisal A.

125040201111221

Khoirun Nisa

125040201111248

NH. Dias Prayudha B.

125040201111257

AH. Nailul Bahroini

125040201111262

Akbar Nugraha

125040201111284

Laporan ini telah dikonsultasikan dan tidak ada unsur plagiatisme

Malang,
Penanggung Jawab
Mengetahui
Ketua Kelompok

Indra Julianus Sihombing

Asisten

Agung Septiyanto

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Desa Pujon Kidul terletak di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang,
Jawa Timur. Tanah yang ada di Pujon Kidul merupakan tanah Andisol. Tanah
merupakan media tumbuh alami bagi tanaman sehingga dapat tumbuh secara
optimal. Pada suatu status kesuburan tanah tertentu membutuhkan berbagai
unsur hara untuk dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Daerah Pujon
Kidul merupakan daerah dengan yang sebagian besar masyarakatnya
berprofesi sebagai petani sekaligus peternak sapi perah.
Pada lahan diamati didapatkan hasil uji laboratorium bahwa
kandungan bahan organik tanah yang rendah. Selain itu, pHnya juga
tergolong masam sehingga perlu dilakukan peningkatan pH.
Kandungan bahan organik sangat penting dalam status kesuburan
tanah. Bahan organik merupakan salah satu indikator kesuburan tanah. Bahan
organik di dalam tanah berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan
biologi tanah. Bahan organik juga mampu meningkatkan aktifitas
mikroorganisme yang menguntungkan di dalam tanah. Bahan organik juga
mampu menahan air di dalam tanah sehingga dapat mempertahankan
kandungan air di dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman. Penambahan
bahan organik di dalam tanah dapat diberikan dengan memanfaatkan sisa
kotoran sapi dalam bentuk pupuk kandang. Menurut Syukur (2005),
pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan hasil caisim dengan dosis
20 Mg ha-1. Sanchez (1982) menyatakan bahwa bahan organik tanah secara
langsung dapat berfungsi sebagai sumber unsur hara, terutama N, S, dan
sebagian P, serta unsur mikro.
Selain kandungan bahan organik, pH juga merupakan indikator
penting dalam status kesuburan tanah. Jika pH pada suatu lahan terlalu
masam maka dapat mengganggu serapan unsur hara dari dalam tanah oleh
tanaman. Jika serapan unsur hara terganggu, maka pertumbuhan tanaman
tidak akan optimal sehingga perlu dilakukan perbaikan. Untuk meningkat pH
tanah, dapat dilakukan perbaikan dengan pengapuran, sehingga pH sesuai
untuk syarat tumbuh tanaman.
Perbaikan status kesuburan tanah dilakukan agar tanaman mampu
tumbuh optimal, serta kesuburan tanah tetap baik sehingga dapat

menguntungkan secara ekonomi. Pada laporan ini akan membahas tentang


kesuburan tanah Andisol di Pujon Kidul sebagai lahan pengamatan tanaman
beserta rekomnedasinya.
I.2 Tujuan
- Mengetahui status kesuburan tanah pada lahan di daerah Pujon Kidul
- Memberikan rekomendasi untuk perbaikan kesuburan tanah
berdasarkan analisis laboratorium

II.

KONDISI UMUM WILAYAH

2.1 Sejarah Lahan


Lahan yang kami amati berada di dekat Gunung Kawi, yaitu berada di
dusun Sukomulyo IV, desa Gumul, kecamatan Pujon, kabupaten Malang.
Bapak petani yang kami wawancarai bernama pak Ihwan. Beliau penggarap
lahan tomat di lokasi yang kami amati. Menurut beliau tanah di desa Gumul
sangat subur, terlebih setelah terjadi letusan Gunung Kelud.
Lahan seluas 0.5 ha yang dikelola oleh pak Ihwan ini tidak hanya
ditanami tanaman tomat saja. Akan tetapi pada lahan tersebut dilakukan

pergiliran tanaman, seperti sebelum penanaman tomat lahan tersebut sudah


ditanami padi, kentang, dan andewi. Dalam komoditas yang akan ditanam
tergantung dari pada permintaan pasar. Pada lahan Bapak Ihwan ini setiap
masa panen berlangsung lahan yang ada tidak dilakukan masa istirahat atau
sistim bero, yang mana setelah panen lahan tersebut langsung diolah kembali
dan ditanami kembali dengan komoditas lain.

2.2 Pola Tanam


Pada lahan yang amati secara keseluruhan, setiap petak lahan yang
ada ditanami komoditas yang berbeda-beda. Dan ketika survey lapang yang
dilakukan pada lahan Bapak Ihwan ditanami komoditas tomat sayur yang
sudah berumur sekitar 60-70 hari. Umur panen dari tomat sayur ini berkisar
antara 2-3 bulan. Sistem pola tanam yang diterapkan oleh beliau yaitu secara
tumpang sari antara tanaman tomat dan selada . Tetapi berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan selada tersebut hanya sebagai tanaman
pagar. Namun, menurut bapak Ihwan mengaku bahwa lahan yang beliau
kelola

tersebut

mengalami

kesalahan

tanam.

2.3 Sistem Budidaya


tanaman tomat yang ditanam adalah tomat sayur dengan varietas
Sirvo. Menurut beliau, hasil dari varietas tersebut lebih menguntungkan
dibandingkan varietas Betavila. Varietas Betavila memiliki hasil yang jauh
lebih rendah. Untuk pengolahan tanah masih sederhana, yaitu dengan
menggunakan cangkul. Ketika proses pengolahan tanah, pak Ihwan
menambahkan pupuk kandang kurang lebih tujuh karung per lahannya.
Sistem tanam tanaman tomat ini dibuat bedengan yang kemudian
diberi ajir. Selain menggunakan pupuk kandang, juga ditambahkan pupuk
NPK dengan merk Mutiara produksi Tiara. Pemupukan NPK ini diaplikasikan
sebanyak 10 kg per minggunya. Untuk irigasi lahan, penduduk sekitar

mengandalkan aliran sungai yang bersumber dari Gunung Kawi. Karena tidak
ada HIPA atau lembaga terkait untuk mengatur sistem irigasi.
Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan pestisida endur,
obat kutu kebul, dan tornado. Pengaplikasian pestisida, dilakukan seminggu
sekali, sama dengan pengaplikasian pupuk NPK. Dosis yang digunakan yaitu
10 ml pestisida dilarutkan dalam satu tanki air. Namun hal itu juga
menyesuaikan musim, karena populasi hama berbeda ketika musim hujan dan
musim kemarau.
Beliau mengatakan buah tomat yang sudah siap dipanen atau ketika
sudah masak secara fisiologis, dapat dipanen dengan sistem manual, yaitu
dipetik dengan tangan. Dari hasil panen kemudian dijual ke pengepul atau
tengkulak yang langsung membeli di lahan beliau.
2.4 Sosial Ekonomi
Dalam satu lahan tomat yang dikerjakan oleh pak Ihwan, dalam setiap
masa panen dapat menghasilkan 3-5 ton tomat sayur. Tomat tersebut dihargai
3000-5000 rupiah per kgnya. Dari hasil penjualan tomat yang ada tidak hanya
untuk Pak Ihwan, akan tetapi dibagi hasil dengan pemilik lahan. Dan
berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan kepada Pak Ihkwan, untuk
kehidupan sosial yang ada di desa tersebut berkecukupan, karena hampir
seluruh masyarakat yang ada di sekitar bekerja sebagai petani.

III. ANALISIS PERMASALAHAN


Penurunan produksi dari
tanaman

Hasil Survey
Dilapang

Hasil Uji Lab

Kesalahan
Penanaman

pH masam 5,3

Pemupukan
berlebih 10
kg/minggu

C-organik rendah

Permasalahan yang ditemukan adalah penurunan produksi tanaman


budidaya yang berada pada kawasan Pujon, Kabupaten Malang. Dari hasil
wawancara diketahui bahwa penurunan produksi di akibatkan karena
kesalahan penanaman tanaman, dan dari hasil survey yang sudah dilakukan
penggunaan pupuk NPK untuk tanaman budidaya (tomat) sebesar
10 kg minggu-1 dengan luas petak lahan 500 m 2, menurut Litbang Pertanian
Yogyakarta (2013) untuk pupuk NPK yang direkomendasikan sebesar

1000

kg ha-1 atau setara untuk lahan 500 m2 sebesar 50 kg persatu musim tanam,
atau sama dengan 4,17 kg minggu-1 dengan estimasi waktu panen

12

minggu. Penggunaan pupuk berlebih menyebabkan terjadinya penurunan pH

tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Isnaini (2006) bahwa penggunaan
pupuk anorganik yang berlebihan dan terus menerus tanpa diimbangi dengan
penggunaan pupuk organik yang sesuai dapat menurunkan pH tanah dan
menurunkan kadar bahan organik dalam tanah, sehingga produktivitas lahan
menurun. Selain itu, dari hasil survey penggunaan pupuk kandang hanya
sebagai pelengkap pada awal pengolahan tanah. Akan tetapi dari
rekomendasiLitbang Pertanian Yogyakarta (2013) yaitu penggunaan pupuk
kandang adalah sebesar 30 ton ha-1 atau sekitar 7 kg per lubang tanam.
Hasil uji laboratorium didapatkan hasil bahwa pH tanah pada lahan
tersebut sebesar 5,3. Sedangkan untuk tanah andisol pH netral mencapai
5,5 dan apabila kurang dari 5,5 pH tersebut termasuk dalam keadaan pH yang
masam. Untuk pH yang sesuai untuk syarat tumbuh tanaman tomat, berkisar
antara 5,5 7 (Alamtani, 2014). Hal ini menjadi salah satu faktor terjadinya
penurunan produksi tomat yang terjadi akibat kemasaman tanah. Secara
umum tanah andisol memiliki kandungan bahan organik yang tinggi, namun
dari hasil uji laboratorium diketahui bahwa kandungan bahan organik
(c-organik) sangat rendah, keadaan ini yang menjadi indikator bahwa tanah
tersebut mengalami penurunan produksi.

III.

REKOMENDASI MANAJEMEN KESUBURAN TANAH

Berdasarkan hasil pengamatan di lapang dan uji laboratorium


didapatkan hasil :
Tabel 1. Hasil analisa kimia tanah pada kedalaman 0-15 cm
Variable pengamatan
Kelompok

C-organik
(%)

G2.1

0,27

pH

N total

KTK

5.3

1,49

29,64

Komoditas

Tomat

Jika dilihat dari pH tanah yang masam dan kurangnya bahan organic
tanah maka, hal ini yang menjadi permasalahan dari lahan tersebut, karena
jika tanah masam dan kuarangnya bahan organic maka dapat menurunkan
produksi lahan. Reaksi

tanah atau pH tanah yang terlalu rendah

menyebabkan tidak tersedianya unsur hara tanaman di dalam tanah. Hal ini
mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak optimum sehingga produksi
tanaman turun.Selain itu pengaplikasian pupuk yang tidak sesuai dosis
terutama pupuk anorganik yang digunakan petani, dinyalir menjadi salah satu
faktor permasalahan dari turunnya pH tanah.
Turunya pH pada lahan budidaya tomat hingga bernilai 5.3 perlu
mendapat penanganan, sebab pH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan dan
perkembangan tanaman tomat ialah tanah dengan pH 5.5 hingga 6. Oleh
karena itu rekomendasi untuk permasalahan tersebut ialah peningkatan pH
tanah dengan cara melakukan pengapuran. Pemberian kapur dapat
meningkatkan pH masam menjadi netral. Menurut Anwar 2005, pemberian
kapur pada tanah masam dapat meningkatkan pH tanah, anwar telah
melakukan penelitian didaerah Metro, Lampung, dan dapat meningkatkan pH
tanah didaerah tersebut. Menurut anwar pemberian kapur ini juga dapat

menambah pengaruh dan ketersedian dari pupuk P dan K. selain itu untuk
mengurangi kemasaman tanah dapat dilakukan dengan penambahan seresah.
Karena peelapasan kation pada mineralisasi seresah dapat meningkatkan pH
tanah.
Namun karena hanya unsur K dan P saja yang dapat dipengaruhi oleh
kapur, oleh karena itu dalam hal ini tanah pada daerah Pujon tetap harus
diberi penambahan hara N yang didapat dari pemberian pupuk yang
mangandung N baik dari penambahan pupuk kandang yang juga difungsikan
sebagai penambah bahan organik tanah dan juga pupuk N yang berasal dari
pupuk anorganik. Namun pemberian pupuk anorganik ini harus berhati-hati
agar sesuai dosis. Sebab penggunaan pupuk anorganik yang tidak sesuai dosis
dapat menyebabkan kerusakan tanah. Untuk pengunaan pupuk kandang
sendiri dosis yang dianjurkan menurut Litbang Pertanian Yogyakarta tahun
2013, tanaman tomat membutuhkan sekitar 30 ton/ha atau sekitar 7kg per
lubang tanam.
Sedangkan pengunaan pupuk anorganik harus disesuaikan dengan
kebutuhan dan pemilihan pupuk harus didasarkan pada kandungan N pada
pupuk dan juga dilihat dari segi ekonominya. Pupuk N yang terdapat
dipasaran antara lain Pupuk Urea CO(NH 2)2 merupakan hasil reaksi antara
karbon dioksida dan amoniak dan mengandung 46%N, pupuk ammonium
klorida (NH4Cl) mengandung 28% N dan 60% Cl, Amonium nitrat (NH4NO3)
mengandung 33-35% N, Amonium fosfat (NH4H2PO4) mengandung 10-11%
N dan 48-55% P2O5, Amonium Sulfat atau ZA (NH4)2SO4 mengandung 21%
N dan 24% S, Kalsium nitrat Ca(NO3)2 mengandung 16% N dan 28% CaO,
Kalium nitrat KNO3 mengandung 13%N dan 44% K2O, Diamonium fosfat
atau DAP (NH4)2HPO4 mengandung 18% N dan 46% P2O5, Pupuk TSP
(Ca(H2PO4)22H2O mengandung 46-48% P2O5, 2% S dan 20% CaO, Fosfat
alam mengandung hara P2O5 dan CaO. Kadar P2O5 dalam pupuk fosfat alam
sangat bervariasi dari 14 35%. Karena banyaknya jenis pupuk N dengan
kandungan yang bervariasi ini maka pemilihan jenis pupuk dapat dilakukan
dengan menggunakan rekomendasi aplikasi Fertilizer Chooser yaitu suatu
aplikasi untuk menentukan pemberian pupuk anorganik dilihat dari sisi

kebutuhan tanah terhadap unsure tersebut, kualitas pupuk yang akan


digunakan serta tingkatan harga pupuk yang sesuai dengan ekonomi petani.
Jika dilihat dari C-Organik pada lahan yang kami amati yaitu
tergolong rendah sebesar 0,27 %. Kandungan C-Organik berpengaruh
terhadap kandungan Bahan Organik didalam Tanah. Bahan orgnik di samping
berpengaruh terhadap pasokan hara tanah juga tidak kalah pentingnya
terhadap sifat fisik, biologi dan kimia tanah lainnya. Syarat tanah sebagai
media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia yang baik. Keadaan fisik
tanah yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan akar tanaman dan
mampu sebagai tempat aerasi dan lengas tanah, yang semuanya berkaitan
dengan peran bahan organik. Peran bahan organik yang paling besar terhadap
sifat fisik tanah meliputi : struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat air,
dan yang tidak kalah penting adalah peningkatan ketahanan terhadap erosi.
Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain
terhadap kapasitas pertukaran kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah,
daya sangga tanah dan terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik
akan meningkatkan muatan negatif sehingga akan meningkatkan kapasitas
pertukaran kation (KPK). Bahan organik memberikan konstribusi yang nyata
terhadap KPK tanah. Sekitar 20 70 % kapasitas pertukaran tanah pada
umumnya bersumber pada koloid humus (contoh: Molisol), sehingga terdapat
korelasi antara bahan organik dengan KPK tanah (Stevenson, 1982).
Pengaruh penambahan bahan organik terhadap pH tanah dapat
meningkatkan atau menurunkan tergantung oleh tingkat kematangan bahan
organik yang kita tambahkan dan jenis tanahnya. Penambahan bahan organik
yang belum masak (misal pupuk hijau) atau bahan organik yang masih
mengalami proses dekomposisi, biasanya akan menyebabkan penurunan pH
tanah, karena selama proses dekomposisi akan melepaskan asam-asam
organik yang menyebabkan menurunnya pH tanah. Namun apabila diberikan
pada tanah yang masam dengan kandungan Al tertukar tinggi, akan
menyebabkan peningkatan pH tanah, karena asam-asam organik hasil
dekomposisi akan mengikat Al membentuk senyawa komplek (khelat),
sehingga Al-tidak terhidrolisis lagi. Dilaporkan bahwa penamhan bahan

organik pada tanah masam, antara lain inseptisol, ultisol dan andisol mampu
meningkatkan pH tanah dan mampu menurunkan Al tertukar tanah (Syukur, A
dan N.M. Indah.2006).
Bahan Organik Tanah merupakan salah satu indikator penting
didalam kesuburan tanah sehingga perlu dilakukan perbaikan untuk
menambah kandungan Bahan Organik Tanah. Dari kelompok kami
memberikan rekomendasi dengan pemberian pupuk kandang dari Sisa
Kotoran Sapi. Rekomendasi ini didasarkan juga dengan sosial budaya
masyarakat sekitar yang sebagian besar juga sebagai peternak sapi sehingga
bahan baku untuk pupuk kandang mudah untuk didapat. Hal tersebut akan
menguntungkan bagi petani karena efektif dan efisien dalam penggunaannya.

Rekomendasi Software

Gambar 1. Input data tanah pada aplikasi


Input data pada aplikasi Fertilizer Chooser ini berfungsi agar
pemilihan pupuk dapat disesuaikan dengan kondisi aktual lahan yang diamati.
Selain itu mencegah kesalahan pemilihan pupuk yang akan diaplikasikan oleh
petani.

Gambar 2. Data jenis, kualitas dan harga pupuk

Gambar 3. Data hasil jenis dan harga pupuk yang akan diguanakan
Dari Software Fertilizer Chooser didapatkan rekomendasi pupuk N yang tepat
yaitu dengan menggunakan Anhydrous ammonia. Total biaya yang dikeluarkan
menggunakan pupuk ini sebesar Rp 1.028.280 per ha. Berarti dengan luasan 0.5
ha, biaya yang dikeluarkan petani sebesar Rp 514.140. Dari 4 pilihan pupuk N
lainnya, Amonia anhydrous adalah biaya yang paling efektif sebagai sumber N
tersedia dan pasokan sebagian besar dosis N yang dianjurkan.

V. PEMBAHASAN UMUM
Manajemen kesuburan merupakan suatu kegiatan pengelolaan tanah
dalam arti yang lebih luas dimana mencakup faktor fisik, biologi, sosial, dan
ekonomi untuk meningkatkan produksi tanaman. Berdasarkan pengamatan
yang dilakukan, lahan di Desa Pujon Kidul memiliki pH 5.5 dengan jenis
tanah Andisol. Tabel 2. Hasil Analisa Laboratorium Sampel Tanah
Kedalaman 0-15 cm di Desa Pujon Kidul Kecamatan

Pujon Kabupaten

Malang
No

Kelompok

1.

G1.1

Variabel Pengamatan
C-Organik pH
N-Total KTK
0,27
5,3
1,49
0,27

2.

G1.2

0,3535

5,5

1,49

0,35

Kapri

3.
4.

G2.1
G2.2

0,27

5,5
5,3

1,49

0,29

Tomat
Kapri

Komoditas
Sawi

Berdasarkan hasil uji analisis laboratorium tanah pada dua lokasi yang
memiliki jenis tanah yang sama namun berbeda pengolahan tanah dan
komoditas tanaman yang dibudidayakan menunjukan hasil yang berbeda.
Perbedaan pada setiap lahan yang diamati tidak terlalu berbeda jauh. Pada
pengamatan di lahan Sawi (Kelompok G1.1) didapatkan pH 5.3, lahan Kapri
(Kelompok G1.2) pH 5.5, lahan tomat pH 5.5 (Kelompok G2.1) dan lahan
Kapri (Kelompok G2.2 ) pH 5.3.
Berdasarkan dari hasil pengamatan, didapatkan pH dari keempat
kelompok termasuk masam. Hal tersebut dapat dikarenakan lahan
pengamatan diambil pada daerah yang sama yaitu pada lahan di Desa Pujon
Kidul sehingga memungkinkan pH dari keempat kelompok masam. Dari
keempat komoditas yang dibudidayakan terdapat perbedaan pada dosis
maupun waktu pemupukan sehingga mempengaruhi pH pada masing-masing
lahan, Faktor vegetasi juga berpengaruh karena tiap jenis atau tipe tanaman
memiliki syarat tumbuh tertentu termasuk di antaranya kesesuaian pH tanah.
Kondisi drainase pada tanah juga dapat mempengaruhi pH, hal ini dapat
terjadi akibat aktivitas dari manusianya sendiri seperti halnya pengolahan

tanah yang terlalu intensif menggunakan traktor sehingga akan menyebabkan


pemadatan tanah
Tanah masam terbagi menjadi 2 sifat yaitu,

kemasaman aktif

kemasaman ini ditunjukan oleh kepekatan ion H+ dalam larutan tanah dan
kemasaman Potensial dimana kemasaman ini ditunjukan oleh kepekatan ion
H+ yang terjerap pada komplek koloid yang selalu menyumbangkan ion
tersebut ke dalam larutan tanah. Dengan pH 5,5 tersebut maka masalah yang
dihadapi ketika tanah berada dalam kondisi masam yaitu kelarutan Al yang
tinggi sehingga meracuni tanaman, defisiensi N, serta kapasitas tukar kation
(KTK) rendah. Menurut Nursyamsi dan Suprihati (2005), pada tanah andisol
mengandung kaolonit dan kristobalit (oksida) dan mempunyai ph masam, Ca,
Mg, dan Kdd, Kadar P, serta kejenuhan basa (KB) rendah, dan mempunyai
kapasitas tukar kation (KTK) tanah tinggi.
, Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan
hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas
Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK
merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable)
pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran
KTK adalah milli equivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per
100 g tanah.
Kapasitas tukar kation (KTK) menunjukkan ukuran kemampuan tanah
dalam menjerap dan dan mempertukarkan sejumlah kation. Makin tinggi
KTK, makin banyak kation yang dapat ditariknya. Tinggi rendahnya KTK
tanah ditentukan oleh kandungan liat dan bahan organik dalam tanah itu.
Tanah yang memiliki KTK yang tinggi akan menyebabkan lambatnya
perubahan pH tanah. KTK tanah juga mempengaruhi kapan dan berapa
banyak pupuk nitrogen dan kalium harus ditambahkan ke dalam tanah Pada
KTK tanah yang rendah, misalnya kurang dari 5 cmol(+)/kg, pencucian
beberapa kation dapat terjadi. Penambahan ammonium dan kalium pada tanah
ini akan menyebabkan sebagian ammonium dan kalium itu mengalami
pencucian di bawah zona akar, khususnya pada tanah pasiran dengan KTK

tanah bawah (subsoil) yang rendah. Pada KTK tanah yang lebih tinggi,
misalnya lebih besar dari 10 cmol(+)/kg, hanya sedikit pencucian kation akan
terjadi. Jad<nilai KTK ini masih memiliki keterkaitan dengan pH yaitu
dengan semakin besar KTK dapat menyeimbangkan pencucian untuk
menstabilkan pH untuk cenderung netral.

VI.

KESIMPULAN

Lahan tomat yang berada di dusun Sukomulyo IV desa Gumal


kecamatan Pujon kabupaten Malang mengalami kemasaman dengan nilai pH
5,3. Tanah yang memiliki nilai pH ini kurang cocok untuk ditanami tanaman

tomat yang berakibat pada penurunan produksi tomat. Untuk mengatasi


kemasaman tersebut, kami merekomendasikan beberapa Aplikasi untuk
perbaikan kesuburan tanah yaitu dengan pengapuran untuk meningkatkan pH
tanah. Untuk meningkatkan Kandungan Bahan Organik Tanah diberikan
melalui pemberian pupuk kandang dari sisa kotoran sapi.Untuk penambahan
pupuk N, pupuk yang digunakan yaitu Amonia anhydrous karena memiliki
biaya yang paling efektif sebagai sumber N tersedia dan pasokan sebagian
besar dosis N yang dianjurkan.

DAFTAR PUSTAKA
Alamtani.2014. pH Tanah untuk Tomat.Panduan Teknis Budidaya Tomat. Di
akses melalui www.alamtani.com/budidaya-tomat.html (Kamis, 4
Desember 2014)
Anwar,Ispandi.2005. Efektivitas Pengapuran Terhadap Serapan Hara Dan
Produksi Beberapa Klon Umbikayu Di Lahan Kering Masam. Balai
Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan Dan Umbi-Umbian. Malang
Isnaini,2006. Pertanian Organik. Cetakan Pertama. Yogyakarta:Kreasi
Litbang Pertanian Yogyakarta.2013. Pupuk Dasar Tanaman Tomat. Budidaya
Tomat..Diakses melalui www. yogya. litbang. pertanian. go. Id /ind
/inde . php/budidaya-tomat (kamis, 4 desember 2014)

Nursyamsi, D., dan Suprihati. 2005. Sifat-sifat Kimia dan Mineralogi Tanah
serta Kaitannya dengan Kebutuhan Pupuk untuk Padi (Oryza sativa),
Jagung (Zea mays), dan Kedelai (Glycine max). Bul. Agron. (33) (3)
40 47.
Sanchez, A.P. 1976. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. Jilid I.
Diterjemahkan oleh J.T. Jayadinata. Penerbit ITB, Bandung, 397 p.
Stevenson, F.T. 1982. Humus Chemistry. John Wiley and Sons, Newyork.
Syukur, A. 2005. Pengaruh Pemberian Bahan Organic Terhadap Sifat-Sifat
Tanah Dan Pertumbuhan Caisim Di Tanah Pasir Pantai. J. I. Tanah
Lingk. 5 (1): 30-38.

LAMPIRAN
DOKUMENTASI

Lokasi Pengamatan

Lahan Pengamatan
HASIL PERHITUNGAN
Hasil analisis Lab:
ml sampel C-org = 6,5
ml blanko C-org = 6,8
pH Aktual = 5,3
ml sampel KTK = 11,0
ml sampel N = 6,48
Perhitungan
% C organic
% C-org =
=

x
x

= 0,265 x 1,01
= 0,27
N total
ml blanko = 0,92

N H2SO4 = 0,09586
N Total =
=

x 0,014 x N H2SO4 x 100 x fKA


x 0,014 x 0,09586 x 100 x 1

= 11,12 x 0,014 x 0,09586


= 1,49
KTK
ml blanko = 14
N H2SO4 = 0,0988
KTK = (ml blanko ml sampel) x N H2SO4 x 100 x fKA
= ( 14 11,0) x 0,0988 x 100 x 1
= 29,64