Anda di halaman 1dari 8

TEORI SINGKAT

Alat Ukur Dasar


Pengukuran adalah membandingkan suatu besaran dengan satuan yang dijadikan
sebagai patokan. Dalam fisika pengukuran merupakan sesuatu yang sangat vital.
Suatu pengamatan terhadap besaran fisis harus melalui pengukuran. Pengukuranpengukuran yang sangat teliti diperlukan dalam fisika, agar gejala-gejala peristiwa
yang akan terjadi dapat diprediksi dengan kuat. Namun bagaimanapun juga ketika
kita mengukur suatu besaran fisis dengan menggunakan instrumen, tidaklah
mungkin akan mendapatkan nilai benar X0, melainkan selalu terdapat
ketidakpastian.
Alat ukur adalah perangkat untuk menentukan nilai atau besaran dari suatu
kuantitas atau variabel fisis. Pada umumnya alat ukur dasar terbagi menjadi dua,
yaitu alat ukur analog dan digital. Ada dua sistem pengukuran yaitu sistem analog
dan sistem digital. Alat ukur analog memberikan hasil ukuran yang bernilai
kontinyu, misalnya penunjukkan temperatur yang ditunjukkan oleh skala,
petunjuk jarum pada skala meter, atau penunjukan skala elektronik. Alat ukur
digital memberikan hasil pengukuran yang bernilai diskrit. Hasil pengukuran
tegangan atau arus dari meter digital merupakan sebuah nilai dengan jumlah digit
terterntu yang ditunjukkan pada panel display-nya.
Suatu pengukuran selalu disertai oleh ketidakpastian. Beberapa penyebab
ketidakpastian tersebut antara lain adanya Nilai Skala Terkecil (NST), kesalahan
kalibrasi, kesalahan titik nol, kesalahan paralaks, fluktuasi parameter pengukuran,
dan lingkungan yang saling mempengaruhi serta tingkat keterampilan pengamat
yang berbeda-beda. Dengan demikian amat sulit untuk mendapatkan nilai
sebenarnya suatu besaran melalui pengukuran. Beberapa panduan bagaimana cara
memperoleh hasil pengukuran seteliti mungkin diperlukan dan bagaimana cara
melaporkan ketidakpastian yang menyertainya.
Beberapa alat ukur dasar yang sering digunakan dalam praktikum adalah jangka
sorong, mikrometer skrup, barometer, neraca teknis, penggaris, busur derajat,
stopwatch, dan beberapa alat ukur besaran listrik. Masing masing alat ukur
memiliki cara untuk mengoperasikannya dan juga cara untuk membaca hasil yang
terukur.
Nilai Skala Terkecil
Pada setiap alat ukur terdapat suatu nilai skala yang tidak dapat dibagi-bagi lagi,
inilah yang disebut dengan Nilai Skala Terkecil (NST). Ketelitian alat ukur
bergantung pada NST ini. Pada Gambar 3 dibawah ini tampak bahwa NST = 0.25
satuan.

Gambar 3 - Skala utama suatu alat ukur dengan NST = 0.25 satuan
Nonius
Pada gambar dibawah ii, hasil pembacaan tanpa nonius adalah 17 satuan dan
dengan nonius adalah 16.5 + 4 x 0.1 = 17.4 satuan, karena skala nonius yang
berimpit dengan skala utama adalah skala ke-4 atau N1=4

PARAMETER ALAT UKUT


Ada beberapa istilah dan definisi dalam pengukuran yang harus dipahami,
diantaranya:
1. Akurasi, kedekatan alat ukur membaca pada nilai yang sebenarnya dari
variable yang diukur.
2. Presisi, hasil pengukuran yang dihasilkan dari proses pengukuran, atau
derajat untuk membedakan satu pengukuran dengan lainnya.
3. Kepekaan, ratio dari sinyal output atau tanggapan alat ukur perubahan
input atau variable yang diukur.
4. Resolusi, perubahan terkecil dari nilai pengukuran yang mampu
ditanggapi oleh alat ukur.
5. Kesalahan, angka penyimpangan dari nilai sebenarnya variabel yang
diukur.

KETIDAKPASTIAN
Suatu pengukuran selalu disertai oleh ketidakpastian. Beberapa penyebab
ketidakpastian tersebut antara lain adanya Nilai Skala Terkecil (NST), kesalahan
kalibrasi, kesalahan titik nol, kesalahan pegas, kesalahan paralaks, fluktuasi
parameter pengukuran, dan lingkungan yang mempengaruhi hasil pengukuran,
dan karena hal-hal seperti ini pengukuran mengalami gangguan. Dengan demikian
sangat sulit untuk mendapatkan nilai sebenarnya suatu besaran melalui
pengukuran. Oleh sebab itu, setiap pengukuran harus dilaporkan dengan
ketidakpastiannya.
Ketidakpastian dibedakan menjadi dua,yaitu ketidakpastian mutlak dan relatif.
Masing masing ketidakpastian dapat digunakan dalam pengukuran tunggal dan
berualang.
Ketidakpastian Mutlak
Suatu nilai ketidakpastia yang disebabkan karena keterbatasan alat ukur itu
sendiri. Pada pengukuran tunggal, ketidakpastian yang umumnya digunakan
bernilai setengah dari NST. Untuk suatu besaran X maka ketidakpastian
mutlaknya dalam pengukuran tunggal adalah:
x = NST
dengan hasil pengukuran dituliskan sebagai
X = x x
Melaporkan hasil pengukuran berulang dapat dilakukan dengan berbagai cara,
dantaranya adalah menggunakan kesalahan rentang atau bisa juga
menggunakan standar deviasi.
Kesalahan Rentang
Pada pengukuran berulang, ketidakpastian dituliskan idak lagi seperti pada
pengukuran tunggal. Kesalahan Rentang merupakan salah satu cara untuk
menyatakan ketidakpastian pada pengukuran berulang. Cara untuk melakukannya
adalah sebagai berikut:

Kumpulkan sejumlah hasil pengukuran variable x. Misalnya n buah, yaitu


x1, x2, x3, xn

Cari nilai rata-ratanya yaitu x-bar

x-bar = (x1 + x 2 + + xn)/n

Tentukan x-mak dan x-min dari kumpulan data x tersebut dan


ketidakpastiannya dapat dituliskan

x = (xmax xmin)/2

Penulisan hasilnya sebagai:

x = x-bar x
Standar Deviasi
Bila dalam pengamatan dilakukan n kali pengukuran dari besaran x dan terkumpul
data x1, x2, x3, xn, maka rata-rata dari besaran ini adalah:

Kesalahn dari nilai rata-rata ini terhadap nilai sebenarnya besaran x (yang tidak
mungkin kita ketahui nilai benarnya x0) dinyatakan oleh standar deviasi.

Standar deviasi diberikan oleh persamaan diatas, sehingga kita hanya dapat
menyatakan bahwa nilai benar dari besaran x terletak dalam selang (x ) sampai
(x + ). Dan untuk penulisan hasil pengukurannya adalah x = x
Ketidakpastian Relatif
Ketidakpastian Relatif adalah ketidakpastian yang dibandingkan dengan hasil
pengukuran. Hubungan hasil pengukurun terhadap KTP (ketidakpastian) yaitu:
KTP relatif = x/x
Apabila menggunakan KTP relatif maka hasil pengukuran dilaporkan sebagai
X = x (KTP relatif x 100%)
Ketidakpastian pada Fungsi Variabel (Perambatan Ketidakpastian)
Jika suatu variable merupakan fungsi dari variable lain yng disertai oleh
ketidakpastin, maka variable ini akan diserti pula oleh ketidakpastian. Hal ini
disebut sebagai permbatan ketidakpastian. Untuk jelasnya, ketidakpastian variable
yang merupakan hasil operasi variabel-variabel lain yang disertai oleh
ketidakpastian akan disajikan dalam tabel berikut ini.

Misalkan dari suatu pengukuran diperoleh (a a) dan (b b). Kepada kedua


hasil pengukuran tersebut akan dilakukan operasi matematik dasar untuk
memperoleh besaran baru.
Alat ukur dasar yang digunakan
1. Penggaris atau Mistar
Ketelitian mistar dan pita ukur adalah 1 mm atau 0,1 cm

Cara membaca skala:


Dalam membaca skala mistar diperlukan ketelitian. Dalam membaca skala
pada mistar , posisi mata pengamat harus tegak lurus skala yang dibaca.
2. Jangka Sorong
Jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang benda, diameter bola,
dimensi luar dan dimensi dalam tabung, dan kedalaman lubang suatu benda.
Bagian-bagian dari jangka sorong adalah rahang tetap dan rahang geser, serta
memiliki 2 skala, yaitu skala utama dan nonius.

Ketelitian jangka sorong adalah 0,1 mm.

Cara menggunakan jangka sorong adalah sebagai berikut:


a. Letakkan benda yang diukur di antara rahang tetap dan rahang sorong,
atau pada tangkai gurat ukur kedalaman
b. Gerakkan rahang sorong maju atau mundur
c. Baca skala di dalam lingkaran sorong.
Cara membaca hasil pengukuran jangka sorong:

a. Pada skala utama terbaca 2,4 cm


b. Skala nonius yang benar-benar berimpit dengan skala utama adalah 7.
Karena nilai ketelitian untuk jangka sorong adalah 0,1 mm maka nilai
yang ditunjukkan skala nonius adalah 7 x 0,1 mm = 0,7 mm = 0,07 cm
c. Jadi garis tengah bola adalah 2,4 cm + 0,07 cm = 2,47 cm
3. Mikrometer Skrup
Mikrometer skrup digunakan untuk mengukur benda-benda yang sangat tipis,
seperti diameter kawat, tebal kertas, dan helai rambut.
Ketelitian mikrometer sekrup adalah 0,01 mm.

Cara menggunakan micrometer sekrup adalah sebagai berikut:


1.
2.
3.
4.

Letakkan benda diantara landasan dan sekrup


Letakkan skala putar hingga benda terjepit
Putar roda bergerigi sehingga berbunyi klik
Baca skala pada skala utama dan skala putar

Cara membaca skala pada mikrometer skrup

Dari gambar diketahui sebagai berikut:


1. Pada lengan mikrometer terbaca 13,5 mm
2. Pada skala putar terbaca 0,17 mm
3. Jadi hasil pengukuran tersebut adalah 13,5 mm + 0,17 mm = 13,67 mm
atau 1,367 cm
BESARAN MASSA
Setiap benda tersusun dari materi. Jumlah materi yang terkandung dalam suatu
benda disebut massa benda.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang menggunakan istilah berat untuk massa.
Namun, sesungguhnya massa tidak sama dengan berat. Massa suatu benda
ditentukan oleh kandungan materinya dan tidak mengalami perubahan meskipun
kedudukannya berubah. Sebaliknya, berat sangat bergantung pada kedudukan di
mana benda tersebut berada. Sebagai contoh, saat astronot berada di bulan,
beratnya tinggal 1/6 dari berat dia saat di bumi.
Alat Ukur Massa : Neraca Ohaus (Neraca Teknis)
Umumnya digunakan untuk mengukur massa sampai dengan 200 gram, tingkat
ketelitian 0,01 gram

Cara membaca hasil pengukuran massa dengan neraca:

Jumlahkan ketiga anggka yang ditunjukkan pada lengan neraca, maka hasilnya
adalah 100 g + 90 g + 7,5 g = 197,5 g