Anda di halaman 1dari 10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

vero'de
verodeswanto @ web

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal


Posted on December 5, 2014 by admin

Penyusutan Fiskal
Salah satu biaya usaha yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto, saat menghitung penghasilan kena pajak,
adalah biaya Penyusutan. Meski secara umum sama dengan prinsip akuntansi umum, sebenarnya peraturan
pajak memiliki ketentuan tersendiri dalam soal penghitungan biaya Penyusutan.
Ketentuan Umum
Melalui ketentuan Pasal 9 ayat (2), UU PPh secara tegas menyatakan bahwa pengeluaran untuk mendapatkan,
menagih dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan
untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11 atau Pasal 11A.
Pasal 11 UU PPh secara umum berisi ketentuan mengenai penyusutan untuk harta berwujud
sedangkan Pasal 11A UU PPh berisi ketentuan mengenai amortisasi atas pengeluaran untuk
memperoleh harta tak berwujud termasuk HGB, HGU, Hak Pakai, Goodwill, dan harta atau asset tak
berwujud lainnya.
Namun perlu diketahui bahwa terkait dengan masalah penghitungan penyusutan dan amortisasi fiskal ini,
ketentuan pajak atau ketentuan fiskal tidak seluruhnya mengadopsi ketentuan-ketentuan yang ada dalam prinsip
akuntansi umum (Standar Akuntansi Keuangan/SAK). Secara khusus, otoritas pajak telah menetapkan beberapa
ketentuan khusus yang diatur dalam peraturan-peraturan berikut (yang masih berlaku sampai saat artikel ini
ditulis):
1. Pasal 11 dan Pasal 11A UU PPh;
2. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 96/PMK.03/2009; dan
3. PMK Nomor 249/PMK.03/2008 stdd PMK Nomor 126/PMK.03/2012;

Prinsip Usia atau Masa Manfaat Harta


Perbedaan pertama antara peraturan fiskal dengan SAK, adalah terkait dengan penentuan apakah harta tersebut
boleh dibebankan atau dibiayakan sekaligus pada tahun terjadinya pengeluaran atau harus melalui
penyusutan/amortisasi.
Dalam SAK, kita telah tahu bahwa penetapan mengenai hal ini diserahkan sepenuhnya kepada manajemen
perusahaan. Artinya manajemen, oleh SAK dibolehkan untuk menentukan bahwa pengeluaran tersebut
dibebankan sekaligus pada tahun terjadinya pengeluaran atau biaya. Biasanya manajemen akan memilih
membebankan sekaligus terutama jika nilai atau materialitasnya tidak terlalu besar.
Tetapi menurut ketentuan fiskal, sebagaimana bisa kita baca pada redaksional kalimat Pasal 9 ayat (2)
UU PPh, pengeluaran atau biaya usaha yang memiliki masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak
boleh dibebankan sekaligus. Pengeluaran atau biaya tersebut harus dibebankan melalui
http://vero.my.id/?p=503

1/10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

penyusutan/amortisasi yang ketentuannya diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 11A UU PPh.

Usia atau Masa Manfaat Harta


Dalam menentukan usia atau masa manfaat harta, fiskal juga memiliki aturan tersendiri yaitu seperti yang
dicantumkan dalam Pasal 11 maupun Pasal 11A UU PPh . Dalam kedua pasal ini, usia atau masa manfaat harta
ditetapkan sebagai berikut:

Pengelompokkan Harta
Untuk mengetahui di kelompok berapa aktiva atau harta yang kita gunakan, kitaWajib Pajakharus melihat
pada Lampiran I s.d. Lampiran IV yang ada di PMK Nomor 96/PMK.03/2009 (bisa dilihat di halaman bawah
tulisan ini) . Di lampiran tersebut sudah ditentukan jenis-jenis aktiva untuk masing-kelompok harta yang
disebutkan di tabel di atas, sesuai dengan jenis usaha dan kegiatan Wajib Pajak. PMK ini berlaku umum untuk
seluruh Wajib Pajak, kecuali bagi Wajib Pajak yang disebutkan dalam PMK Nomor 249/PMK.03/2008.
Kemudian jika misalnya kita punya aktiva tetapi aktiva kita tidak tercantum dalam Lampiran I hingga
Lampiran IV PMK tersebut, maka aktiva kita itu dianggap masuk Kelompok 3. Itu artinya aktiva kita
tadi harus disusutkan selama 16 tahun [Pasal 2 ayat (1) PMK Nomor 96/PMK.03/2009).
Namun jika kita bisa menunjukkan bahwa aktiva kita yang tidak tercantum dalam lampiran-lampiran PMK tersebut
bukan termasuk Kelompok 3, maka kita bisa mengajukan permohonan untuk penetapan kelompok atas
aktiva kita tersebut sesuai dengan masa manfaat yang sebenarnya. Permohonan ini harus diajukan
kepada Kepala Kantor Wilayah DJP setempat, sesuai dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER55/PJ./2009. Tanpa ada surat persetujuan dari Kepala Kantor Wilayah DJP, aktiva kita yang tidak
tercantum dalam Lampiran I hingga Lampiran IV akan tetap dianggap masuk Kelompok 3.
Khusus bagi Wajib Pajak bidang usaha tertentu, ketentuan mengenai penyusutan aktiva atau hartanya
diatur secara khusus melalui PMK Nomor 249/PMK.03/2008 tanggal 31 Desember 2008 tentang
Penyusutan Atas Pengeluaran Untuk Memperoleh Harta Berwujud Yang Dimiliki Dan Digunakan Dalam
Bidang Usaha Tertentu.

Non-Depreciable Assets
Dalam ketentuan fiskal, ada aktiva yang digolongkan sebagai aktiva yang tidak boleh disusutkan (nondepreciable assets) yaitu tanah hak milik, termasuk tanah yang berstatus hak guna bangun, hak guna
usaha, dan hak pakai yang pertama kali.
Terkait dengan tanah, hanya perpanjangan hak guna bangun, hak guna usaha, atau hak pakai saja yang boleh
disusutkan melalui mekanisme amortisasi sesuai Pasal 11A UU PPh.
Misalnya di tahun 2012 ini kita membeli sebidang tanah seharga Rp 1.500,- dengan rincian Rp 1.000,- sebagai
harga pokok tanah, Rp 300,- sebagai penggantian hak guna bangun yang tersisa dan Rp 200,- sebagai biaya
notaris dan biaya perolehan lainnya. Dalam hal ini seluruh biaya pembelian tanah Rp 1.500,- tidak boleh
http://vero.my.id/?p=503

2/10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

disusutkan yang artinya tidak akan pernah ada biaya terkait dengan tanah tersebut.
Jika misalnya terhadap tanah tadi kita perpanjang hak guna bangunnya dengan biaya Rp 500,- untuk masa hak
guna bangun 20 tahun, maka terhadap biaya perpanjangan ini bisa disusutkan melalui mekanisme amortisasi
seperti yang diisyaratkan Pasal 11A UU PPh.
Menurut penjelasan Pasal 11 ayat (1) UU PPh, tanah bisa saja disusutkan dan dibebankan menjadi biaya usaha
apabila tanah tersebut berkurang karena penggunaannya untuk memperoleh penghasilan. Misalnya tanah yang
dipergunakan oleh perusahaan genteng, keramik atau batu bata untuk memproduksi genteng, keramik dan batu
batanya.

Depreciable-Not-Deductible
Aktiva atau harta yang tergolong depreciable-not-deductible-assets adalah aktiva-aktiva yang oleh
ketentuan dan peraturan pajak dianggap tidak memilki hubungan dengan kegiatan usaha untuk
mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan/3M.
Misalnya saja asset berupa perumahan atau mess karyawan bagi Wajib Pajak yang tidak mendapat penetapan
sebagai pengusaha di daerah terpencil. Dalam hal ini, kita boleh saja menghitung penyusutan atas mess atau
perumahan tersebut untuk kepentingan penyusunan laporan laba rugi komersial kita. Tetapi saat akan membuat
SPT Tahunan PPh, biaya penyusutan mess atau perumahan itu harus dikoreksi positif.
Meski asset yang kita miliki kita gunakan dalam kegiatan usaha atau terkait 3M, tetapi apabila penghasilan dari
kegiatan usaha kita itu dikenakan PPh bersifat final, maka penyusutan asset itu pun tidak boleh dibebankan
sebagai biaya. Misalnya jika kita bergerak di bidang usaha jasa konstruksi dan kita memiliki alat-alat berat
konstruksi. Dalam hal ini, karena penghasilan dari usaha jasa konstruksi sudah dikenakan PPh Final Pasal 4 ayat
(2), maka penyusutan atas alat-alat konstruksi itu tidak boleh dibiayakan lagi.

Depreciable Deductible Only 50%


Untuk asset berupa kendaraan dinas dan telepon selular milik perusahaan, yang boleh dibawa pulang oleh
pegawai tertentu berlaku ketentuan bahwa penyusutannya hanya boleh dibebankan sebesar 50% dari total
penyusutan fiskal yang berlaku. Ketentuan ini di atur melalui Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP220/PJ./2002 tanggal 18 April 2002 dan dijelaskan lebih lanjut dalam Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor
SE-09/PJ.42/2002 tanggal 17 Mei 2002.

Metode Penyusutan
Metode penyusutan yang diperbolehkan oleh UU PPh hanya ada dua, yaitu Metode Garis Lurus/GL
(Straight Line Method) dan Metode Saldo Menurun/SM
(Declining Balance Method).
Khusus untuk asset atau aktiva berupa bangunan, metode penyusutan yang diperkenankan oleh UU PPh
hanyalah Metode Garis Lurus/GL.
Dengan M etode Garis Lurus, biaya penyusutan untuk setiap tahun dihitung dengan cara membagi
jumlah biaya perolehan asset dengan masa manfaat asset yang sudah ditentukan oleh Pasal 11 UU
PPh. Misalnya kita membeli komputer dengan total harga perolehan Rp 10.000.000,-. Kemudian jika
misalnya komputer itu menurut PMK 96/PMK.03/2009 tergolong sebagai asset Kelompok 1 dengan
masa manfaat 4 tahun, maka dengan menggunakan Metode Garis Lurus, biaya penyusutan per
tahunnya = Rp 10.000.000,00/4 tahun = Rp 2.500.000,00/tahun.
http://vero.my.id/?p=503

3/10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

Jika penyusutan komputer dihitung dengan M etode Saldo M enurun (SM), maka besarnya penyusutan
untuk masing-masing tahun akan berbeda. Penyusutan pada awal-awal tahun akan lebih besar
dibandingkan dengan akhir tahun.
Penyusutan Tahun ke-1: = Rp 10.000.000,00 x 50% = Rp 5.000.000,00
Penyusutan Tahun ke-2: = (Rp 10.000.000,00 Rp 5.000.000,00) x 50% = Rp 2.500.000,00
Penyusutan Tahun ke-3: = (Rp 10.000.000,00 Rp 5.000.000,00 Rp 2.500.000,00 ) x 50% = Rp
1.250.000,00
Penyusutan Tahun ke-4: = seluruh nilai sisa buku fiskal (Rp 10.000.000,00 Rp 5.000.000,00 Rp
2.500.000,00 Rp 1.250.000,00 = Rp 1.250.000,00) disusutkan sekaligus pada tahun ke-4 (tahun
terakhir).
Untuk satu aktiva, Wajib Pajak hanya boleh memilih satu metode penyusutan dan metode itu harus
diterapkan secara konsisten atau taat azas. Jika Wajib Pajak memiliki dua aktiva berbeda, maka kedua
asset itu bisa dipilih metode yang berbeda-beda. Misalnya untuk asset A dipilih Metode Garis Lurus,
sedangkan untuk asset B dipilih Metode Saldo Menurun. Jika Wajib Pajak hendak mengubah metode
penyusutannya, Wajib Pajak terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari Dirjen Pajak sesuai ketentuan
Pasal 28 ayat (6) UU KUP. Lihat juga SE-40/PJ.42/1998 dan SE-14/PJ.313/1991.

Saat Dimulainya Penyusutan


Penyusutan fiskal dimulai pada bulan terjadinya pengeluaran. Meski pengeluaran itu terjadi diakhir
bulan misalnya, maka secara fiskal atas asset tersebut berhak mendapat penyusutan.
Misalnya jika kita membeli komputer di bulan September 2012 seharga Rp 10.000.000,00, maka untuk tahun
pajak 2012 komputer tersebut boleh disusutkan sebanyak 4 bulan (terhitung mulai September hingga
Desember). Dengan menggunakan Metode Garis Lurus misalnya, penyusutan komputer untuk tahun 2012
dihitung sebesar = (Rp 10.000.000,00/4 tahun) x 4/12 = Rp 833.333,00.
Khusus untuk asset yang masih dalam proses pengerjaan, misalnya bangunan yang masih dalam proses
pembangunan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan asset tersebut [Pasal 11 ayat (3) UU
PPh].
Dalam kondisi tertentu bahkan dimungkinkan untuk Wajib Pajak mengajukan permohonan agar penyusutan atas
asset tersebut dimulai pada saat harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan atau pada saat asset itu menghasilkan. Misalnya bagi Wajib Pajak perkebunan di mana pada tahun
pertama penanaman hingga tahun ketiga atau keempat belum menghasilkan panen. Dalam hal ini, Wajib Pajak
dapat mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak agar biaya-biaya usaha yang telah dikeluarkan sebelum
masa panen ditunda pembebanannya hingga saat panen dan memperoleh penghasilan (income).

LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI
KEUANGAN
NOMOR

96/PMK.03/2009

TENTANG

JENIS-JENIS HARTA YANG


TERMASUK DALAM
KELOMPOK HARTA
BERWUJUD BUKAN

http://vero.my.id/?p=503

4/10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

BANGUNAN UNTUK
KEPERLUAN PENYUSUTAN

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1

Nomor

Jenis Usaha

Jenis Harta

Semua jenis usaha

1. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk meja,


bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan bagian
dari bangunan.
2. Mesin kantor seperti mesin tik, mesin hitung, duplikator,
mesin fotokopi, mesin akunting/pembukuan, komputer,
printer, scanner dan sejenisnya.
3. Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/cassette,
video recorder, televisi dan sejenisnya.
4. Sepeda motor, sepeda dan becak.
5. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa yang
bersangkutan.
6. Dies, jigs, dan mould.
7. Alat-alat komunikasi seperti pesawat telepon, faksimile,
telepon seluler dan sejenisnya.

Pertanian,

Alat yang digerakkan bukan dengan mesin seperti cangkul,

perkebunan,

peternakan, perikanan, garu dan lain-lain.

kehutanan,
3

Industri makanan dan

Mesin ringan yang dapat dipindah-pindahkan seperti, huller,

minuman

pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet, dan sejenisnya.

Transportasi dan

Mobil taksi, bus dan truk yang digunakan sebagai angkutan

Pergudangan

umum.

Industri semi

Falsh memory tester, writer machine, biporar test system,

konduktor

elimination (PE8-1), pose checker.

Jasa Persewaan

Anchor, Anchor Chains, Polyester Rope, Steel Buoys, Steel

Peralatan Tambat Air

Wire Ropes, Mooring Accessoris.

Dalam
7

Jasa telekomunikasi

Base Station Controller

selular

LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI KEUANGAN

http://vero.my.id/?p=503

5/10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

NOMOR

96/PMK.03/2009

TENTANG

JENIS-JENIS HARTA YANG TERMASUK DALAM


KELOMPOK HARTA BERWUJUD BUKAN
BANGUNAN UNTUK KEPERLUAN PENYUSUTAN

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 2

Nomor

Jenis Usaha

Jenis Harta

Semua jenis usaha

1. Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja, bangku,


kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan merupakan bagian
dari bangunan. Alat pengatur udara seperti AC, kipas angin
dan sejenisnya.
2. Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya.
3. Container dan sejenisnya.

Pertanian,

1. Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan mesin

perkebunan,

bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan

kehutanan, perikanan

sejenisnya.
2. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau
memproduksi bahan atau barang pertanian, perkebunan,
peternakan dan perikanan.

Industri makanan dan


minuman

1. Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas dan


perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan .
2. Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin
minyak kelapa, margarin, penggilingan kopi, kembang gula,
mesin pengolah biji-bijian seperti penggilingan beras,
gandum, tapioka.
3. Mesin yang menghasilkan/memproduksi minuman dan
bahan-bahan minuman segala jenis.
4. Mesin yang menghasilkan/memproduksi bahan-bahan
makanan dan makanan segala jenis.

Industri mesin

Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin ringan


(misalnya mesin jahit, pompa air).

Perkayuan,

1. Mesin dan peralatan penebangan kayu.

kehutanan

2. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau


memproduksi bahan atau barang kehutanan.

http://vero.my.id/?p=503

6/10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

Konstruksi

Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck,


crane buldozer dan sejenisnya.

1. Truk kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat, truk

Transportasi dan
Pergudangan

peron, truck ngangkang, dan sejenisnya;


2. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk
pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum, batu
batuan, biji tambang dan sebagainya) termasuk kapal
pendingin, kapal tangki, kapal penangkap ikan dan
sejenisnya, yang mempunyai berat sampai dengan 100
DWT;
3. Kapal yang dibuat khusus untuk menghela atau mendorong
kapal-kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk,
keran terapung dan sejenisnya yang mempunyai berat
sampai dengan 100 DWT;
4. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat
sampai dengan 250 DWT;
5. Kapal balon.

1. Perangkat pesawat telepon;

Telekomunikasi

2. Pesawat telegraf termasuk pesawat pengiriman dan


penerimaan radio telegraf dan radio telepon.

Industri semi

Auto frame loader, automatic logic handler, baking oven, ball

konduktor

shear tester, bipolar test handler (automatic), cleaning


machine, coating machine, curing oven, cutting press, dambar
cut machine, dicer, die bonder, die shear test, dynamic burn-in
system oven, dynamic test handler, eliminator (PGE-01), full
automatic handler, full automatic mark, hand maker, individual
mark, inserter remover machine, laser marker (FUM A-01),
logic test system, marker (mark), memory test system,
molding, mounter, MPS automatic, MPS manual, O/S tester
manual, pass oven, pose checker, re-form machine, SMD
stocker, taping machine, tiebar cut press, trimming/forming
machine, wire bonder, wire pull tester.

10

Jasa Persewaan

Spoolling Machines, Metocean Data Collector

Peralatan Tambat Air


Dalam
11

Jasa Telekomunikasi

Mobile Switching Center, Home Location Register, Visitor

Seluler

Location Register. Authentication Centre, Equipment Identity


Register, Intelligent Network Service Control Point, intelligent
Network Service Managemen Point, Radio Base Station,
Transceiver Unit, Terminal SDH/Mini Link, Antena

LAMPIRAN III
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR
http://vero.my.id/?p=503

96/PMK.03/2009
7/10

2/10/2015

TENTANG

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

JENIS-JENIS HARTA YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK


HARTA BERWUJUD BUKAN BANGUNAN UNTUK KEPERLUAN
PENYUSUTAN

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 3

Nomor

Jenis Usaha

Jenis Harta

Pertambangan selain

Mesin-mesin yang dipakai dalam bidang pertambangan,

minyak dan gas

termasuk mesin-mesin yang mengolah produk pelikan.

Permintalan,

1. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-produk tekstil

pertenunan dan

(misalnya kain katun, sutra, serat-serat buatan, wol dan bulu

pencelupan

hewan lainnya, lena rami, permadani, kain-kain bulu, tule).


2. Mesin untuk yang preparation, bleaching, dyeing, printing,
finishing, texturing, packaging dan sejenisnya.

Perkayuan

1. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-produk kayu,


barang-barang dari jerami, rumput dan bahan anyaman
lainnya.
2. Mesin dan peralatan penggergajian kayu.

Industri kimia

1. Mesin peralatan yang mengolah/menghasilkan produk


industri kimia dan industri yang ada hubungannya dengan
industri kimia (misalnya bahan kimia anorganis,
persenyawaan organis dan anorganis dan logam mulia,
elemen radio aktif, isotop, bahan kimia organis, produk
farmasi, pupuk, obat celup, obat pewarna, cat, pernis,
minyak eteris dan resinoida-resinonida wangi-wangian,
obat kecantikan dan obat rias, sabun, detergent dan bahan
organis pembersih lainnya, zat albumina, perekat, bahan
peledak, produk pirotehnik, korek api, alloy piroforis,
barang fotografi dan sinematografi.
2. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk industri lainnya
(misalnya damar tiruan, bahan plastik, ester dan eter dari
selulosa, karet sintetis, karet tiruan, kulit samak, jangat dan
kulit mentah).

Industri mesin

Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin menengah dan


berat (misalnya mesin mobil, mesin kapal).

http://vero.my.id/?p=503

8/10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

1. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk

Transportasi dan
Pergudangan

pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya gandum,


batu-batuan, biji tambang dan sejenisnya) termasuk kapal
pendingin dan kapal tangki, kapal penangkapan ikan dan
sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 100 DWT
sampai dengan 1.000 DWT.
2. Kapal dibuat khusus untuk mengela atau mendorong kapal,
kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran
terapung dan sejenisnya, yang mempunyai berat di atas
100 DWT sampai dengan 1.000 DWT.
3. Dok terapung.
4. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat
di atas 250 DWT.
5. Pesawat terbang dan helikopter-helikopter segala jenis.

Telekomunikasi

Perangkat radio navigasi, radar dan kendali jarak jauh.

LAMPIRAN IV
PERATURAN
MENTERI
KEUANGAN
NOMOR

96/PMK.03/2009

TENTANG

JENIS-JENIS HARTA
YANG TERMASUK
DALAM KELOMPOK
HARTA BERWUJUD
BUKAN BANGUNAN
UNTUK KEPERLUAN
PENYUSUTAN

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 4

Nomor

Jenis Usaha

Jenis Harta

Konstruksi

Mesin berat untuk konstruksi

Transportasi dan

1. Lokomotif uap dan tender atas rel.

Pergudangan

2. Lokomotif listrik atas rel, dijalankan dengan batere atau


dengan tenaga listrik dari sumber luar.
3. Lokomotif atas rel lainnya.

http://vero.my.id/?p=503

9/10

2/10/2015

[Akt Pajak] Penyusutan Fiskal

4. Kereta, gerbong penumpang dan barang, termasuk kontainer


khusus dibuat dan diperlengkapi untuk ditarik dengan satu alat
atau beberapa alat pengangkutan.
5. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk
pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya gandum,
batu-batuan, biji tambang dan sejenisnya) termasuk kapal
pendingin dan kapal tangki, kapal penangkap ikan dan
sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 1.000 DWT.
6. Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal,
kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, kerankeran terapung dan sebagainya, yang mempunyai berat di
atas 1.000 DWT.
7. Dok-dok terapung.

Share this:

Share
Like this:

Like
Be the first to like this.

Related

RINGKASAN PERKULIAHAN AKUNTANSI


PAJAK
October 29, 2014
In "coretan VED"

[Perpajakan] PPh 24
December 17, 2014
In "coretan VED"

KELOMPOK PRESENTASI & DISKUSI


PERPAJAKAN @ UMB#MINGGU/B203
September 7, 2014
In "coretan VED"

About admin
orang biasa - dosen biasa - praktisi biasa
View all posts by admin

This entry was posted in coretan VED. Bookmark the permalink.

vero'de

http://vero.my.id/?p=503

10/10