Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POST CRANIOTOMY ATAS


INDIKASI MENINGIOMA DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

A. KONSEP DASAR CRANIOTOMY


1. Pengertian

Menurut Brown CV (2004), Craniotomy adalah operasi untuk membuka


tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki
kerusakan otak.
Menurut Hamilton M (2007), Craniotomy adalah operasi pengangkatan
sebagian tengkorak.
Menurut Chesnut RM (2006), Craniotomy adalah prosedur untuk menghapus
luka di otak melalui lubang di tengkorak (kranium).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari
Craniotomy adalah operasi membuka tengkorak (tempurung kepala) untuk
mengetahui dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh adanya luka yang ada
di otak.
2. Indikasi

Operasi Craniotomy dilakukan untuk pengangkatan tumor pada otak, untuk


menghilangkan bekuan darah (hematoma), untuk mengendalikan perdarahan dari
pembuluh, darah lemah bocor (aneurisma serebral), untuk memperbaiki malformasi
arteriovenosa (koneksi abnormal dari pembuluh darah), untuk menguras abses otak,
untuk mengurangi tekanan di dalam tengkorak, untuk melakukan biopsi, atau untuk
memeriksa otak.
3. Manifestasi Klinis

Menurut Brunner dan Suddarth (2000:65) gejala-gejala yang ditimbulkan pada


klien dengan craniotomy dibagi menjadi 2 yaitu
a. Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK, obstruksi dari CSF),
seperti sakit kepala, nausea atau muntah proyektit, pusin, perubahan mental,
kejang.
b. Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang spesifik dari
otak)
1) Perubahan penglihatan, misalnya: hemianopsia, nystagmus, diplopia,
kebutaan, tanda-tanda papil edema.

2) Perubahan bicara, msalnya: aphasia


3) Perubahan sensorik, misalnya: hilangnya sensasi nyeri, halusinasi sensorik.
4) Perubahan motorik, misalnya: ataksia, jatuh, kelemahan, dan paralisis.
5) Perubahan bowel atau bladder, misalnya: inkontinensia, retensia urin, dan

konstipasi.
6) Perubahan dalam pendengaran, misalnya : tinnitus, deafness.
7) Perubahan dalam seksual.
4. Komplikasi Post Operasi Craniotomy
a. Edema cerebral
b. Syok Hipovolemik
c. Hydrocephalus
d. Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral
e. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. Tromboplebitis

post operasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya


besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding
pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati,
dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif
dini.
f. Infeksi
Infeksi luka sering muncul pada 36 46 jam setelah operasi. Organisme yang
paling sering menimbulkan infeksi adalah stapylococus auereus, organism garam
positif stapylococus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka
yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptic dan
antiseptic.
g. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisiensi luka atau
eviserasi. Dehisiensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka
adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab dehisensi
atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan
5. Pemeriksaan Penunjang

Untuk membantu menentukan lokasi tumor yang tepat, sebuah deretan


pengujian dilakukan.
a. CT-Scan memberikan info spesifik menyangkut jumlah, ukuran, dan kepadatan
jejas tumor, serta meluasnya edema serebral sekunder.
b. MRI membantu mendiagnosis tumor. Ini dilakukan untuk mendeteksi jejas
tumor yang kecil, alat ini juga membantu mendeteksi jejas yang kecil dan tumortumor didalam batang otak dan daerah hipofisis.

c. Biopsy stereotaktik bantuan computer (3 dimensi) dapat digunakan untuk

mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar


pengobatan dan informasi prognosis.
d. Angiografi serebral memberikan gambaran tentang pembuluh darah serebral dan
letak tumor serebral.
e. Elektroensefalogram (EEG) untuk mendeteksi gelombang otak abnormal pada
daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus
temporal pada waktu kejang.
6. Penatalaksanaan
a.
b.
c.
d.
e.

Tujuan utama penatalaksanaan pada post craniotomy adalah


Mengurangi komplikasi akibat pembedahan
Mempercepat penyembuhan
Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum
operasi.
Mempertahankan konsep diri pasien
Mempersiapkan klien pulang
Tindakan keperawatan post operasi craniotomy:
1) Monitor kesadaran, tanda tanda vital, CVP, intake dan out put
2) Observasi dan catat sifat drain (warna, jumlah) drainage.
3) Dalam mengatur dan menggerakkan posisi pasien harus hati hati
4)
5)

6)

7)

jangan sampai drain tercabut.


Perawatan luka operasi secara steril
Makanan
Pada klien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan
menelan makanan sesudah pembedahan, makanan yang dianjurkan
pada pasien post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin
C. Protein sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka,
sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu
meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi.
Pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral). Biasanya
makanan baru diberikan jika perut tidak kembung, peristaltik usus normal,
flatus positif, bowel movement positif
Mobilisasi
Klien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar keadaanya stabil.
Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga harus tetap dilakukan
perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus.
Pemenuhan kebutuhan eliminasi

Control volunteer fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam post anesthesia


inhalasi, IV, spinal anesthesia, infus IV, manipulasi operasi untuk mengetahui
ada tidaknya retensio urine.
B. KONSEP DASAR MENINGIOMA
1. Pengertian

Menurut Harvey Cushing (2007), meningioma adalah tumor jinak ekstraaksial atau tumor yang terjadi di luar jaringan parenkim otak yaitu berasal dari
meninges otak. Meningioma tumbuh dari sel-sel arachnoid cap dengan pertumbuhan
yang lambat.
Meningioma adalah jenis tumor yang berkembang pada meninges (atau
membrane yang melapisi system saraf puasat yaitu otak dan tulang belakang). Lokasi
tumor yang sering diantaranya pada area konveksitas kalvaria, basis frontal (olfactory
groove), tuberculum sella, sphenoid wing atau di area fossa posterior.
2. Klasifikasi Meningioma

Meningioma dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi tumor, pola


pertumbuhan, dan histopatologi. WHO mengklasifikasikan meningioma berdasarkan
derajat dan pertumbuhan sel dari hasil biopsy yang dilihat dari pemeriksaan
mikroskopik. Berikut ini adalah klasifikasi meningioma:
a. Berdasarkan derajat
1) Grade I: Meningioma tumbuh dengan lambat. Pada grade I, tumor tidak
menimbulkan gejala, pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan
MRI secara periodic.
2) Grade II: Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Jenis ini
tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan grade I dan mempunyai angka
kekambuhan yang lebih tinggi juga. Pembedahan adalah penatalaksanaan awal
pada tipe ini. Meningioma grade II biasanya membutuhkan terapi radiasi
setelah pembedahan.
3) Grade III: Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut
meningioma malignant atau meningioma anaplastik. Meningioma malignant
terhitung kurang dari 1 % dari seluruh kejadian meningioma.
b. Berdasarkan lokasi
1) Meningioma falx dan parasagital, falx adalah selaput yang terletak antara dua
sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan. Falx cerebri mengandung
pembuluh darah besar. Parasagital meningioma terdapat di sekitar falx.
2) Meningioma Convexitas, tipe meningioma ini terdapat pada permukaan atas
otak.

3) Meningioma Sphenoid, daerah sphenoidalis berlokasi pada daerah belakang

mata.
4) Meningioma Olfaktorius, tipe meningioma ini terjadi di sepanjang nervus
yang menghubungkan antara otak dengan hidung.
5) Meningioma fossa posterior, tipe ini berkembang di permukaan bawah bagian
belakang otak
6) Meningioma sellar merupakan meningioma di daerah sella tursika yang
terletak di dasar otak, tepat di atas daerah ini terdapat saraf penglihatan,
sehingga jika terdapat tumor, maka saraf tersebut akan terjepit, sehingga
mengganggu penglihatan.
7) Meningioma suprasellar, terjadi di bagian atas sella tursica, sebuah kotak pada
dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitary.
8) Spinal meningioma, banyak terjadi pada wanita yang berumur antara 40 dan
70 tahun. Akan selalu terjadi pda medulla spinbalis setingkat thorax dan dapat
menekan spinal cord. Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala seperti
nyeri radikuler di sekeliling dinding dada, gangguan kencing, dan nyeri
tungkai.
9) Meningioma Intraorbital, tipe ini berkembang pada atau di sekitar mata cavum
orbita.
10) Meningioma Intraventrikular, terjadi pada ruangan yang berisi cairan di
seluruh bagian otak
3. Etiologi

Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma, namun beberapa
teori telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang jelek yang
meyebabkan timbulnya meningioma. Selain itu faktor resiko yang meningkatkan
kejadian meningioma adalah
a. Trauma
Menurut penelitian oleh Philips (2002), resiko kejadian meningioma meningkat
pada klien dengan resiko kejadian meningioma. Pada beberapa kasus ada
hubungan langsung antara tempat terjadinya trauma dengan tempat timbulnya
tumor. Sehingga disimpulkan bahwa penyebab timbulnya kanker tersebut adalah
trauma.
b. Kehamilan
Meningioma, dapat timbul pada akhir kehamilan, hal ini dapat dijelaskan atas
dasar adanya hidrasi otak yang meningkat pada saat akhir kehamilan.
c. Radiasi Ionisasi

Proses neoplastik dan perkembangan tumor akibat paparan radiasi disebabkan


oleh perubahan produksi base-pair dan kerusakan DNA yang belum diperbaiki
sebelum replikasi DNA. Penelitian pada orang yang selamat dari bom atom di
Hiroshima dan Nagasaki menemukan bahwa terjadi peningkatan insiden
meningioma yang signifikan (Calvocoressi & Claus, 2010).
d. Genetik
Umumnya meningioma merupakan tumor sporadik yaitu tumor yang timbul pada
klien yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan penderita tumor otak jenis
apapun. Sindroma genetik turunan yang memicu perkembangan meningioma
hanya beberapa dan jarang. Meningioma sering dijumpai pada penderita dengan
Neurofibromatosis type 2 (NF2), yaitu kelainan gen autosomal dominan yang
jarang dan disebabkan oleh mutasi germline pada kromosom 22q12 (Smith, 2011).
e. Hormon
Angka kejadian meningioma meningkat pada wanita karena adanya pengaruh
hormon, atau penggunaan kontrasepsi. Penelitian-penelitian pada paparan hormon
endogen memperlihatkan bahwa resiko meningioma berhubungan dengan status
menopause, paritas, dan usia pertama saat menstruasi meningkat (Wiemels, 2010).
Pada sekitar 2/3 kasus meningioma ditemukan reseptor progesterone.Tidak hanya
progesteron, reseptor hormon lain juga ditemukan pada tumor ini termasuk
estrogen, androgen, dopamine, dan reseptor untuk platelet derived growth factor.
4. Manifestasi Klinik

Meningioma tumbuhnya perlahan-lahan dan tanpa memberikan gejala-gejala


dalam waktu yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Gejala-gejala umum, seperti
juga pada tumor intracranial yang lain misalnya sakit kepala, muntah-muntah,
perubahan mental atau gejala-gejala fokal seperti kejang-kejang, kelumpuhan, atau
hemiplegia.
Gejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada
otak dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh terganggunya
fungsi normal dari bagian khusus dari otak atau tekanan pada nervus atau pembuluh
darah). Secara umum, meningioma tidak bisa didiagnosa pada gejala awal. Gejala
umumnya seperti:
a. Sakit kepala, dapat berat atau bertambah buruk saat beraktifitas atau pada pagi
hari.
b. Perubahan mental
c. Kejang
d. Mual muntah

e. Perubahan visus, misalnya pandangan kabur.


Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor, seperti:
a. Meningioma falx dan parasagittal: nyeri tungkai
b. Meningioma Convexitas: kejang, sakit kepala, deficit neurologis fokal, perubahan
status mental
c. Meningioma Sphenoid: kurangnya sensibilitas wajah, gangguan lapangan
pandang, kebutaan, dan penglihatan ganda.
d. Meningioma Olfactorius: kurangnya kepekaan penciuman, masalah visus.
e. Meningioma fossa posterior: nyeri tajam pada wajah, mati rasa, dan spasme otototot wajah, berkurangnya pendengaran, gangguan menelan, gangguan gaya
berjalan,
f. Meningioma suprasellar: pembengkakan diskus optikus, masalah visus
g. Spinal meningioma: nyeri punggung, nyeri dada dan lengan
h. Meningioma Intraorbital: penurunan visus, penonjolan bola mata
i. Meningioma Intraventrikular: perubahan mental, sakit kepala, pusing

5. Patofisiologi

Meningioma adalah jenis tumor yang berkembang pada meninges (atau


membrane yang melapisi system saraf puasat yaitu otak dan tulang belakang). Faktor
resiko yang seperti radiasi, genetic, trauma, kehamilan dan hormone menyebabkan
pertumbuhan sel-sel tumor meningkat, yang lama kelamaan akan menekan pada otak.
Penekanan pada bagian otak tertentu dapat menyebabkan gangguan pada bagian otak
yang tertekan, misalnya pada bagian sphenoidalis menyebabkan klien mengalami
gangguan lapang pandang dan berkurangnya sensibilitas wajah.
Pertumbuhan sel-sel tumor yang terus membesar, apabila berlangsung secara
terus menerus dapat menyebabkan perubahan suplai darah, sehingga dapat
menyebabkan nekrosis jaringan otak. Akibatnya terjadi kehilangan fungsi secara akut
dan dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer. Selain itu
bertambahnya massa dalam otak dapat menyebabkan peningkatan TIK. Apabila
peningkatan TIK berlangsung cepat menyebabkan mekanisme tubuh untuk
mengkompensasi hal tersebut berkurang karena mekanisme kompensasi memerlukan
waktu berhari-hari ataupunn berbulan-bulan untuk menjadi efektif . Mekanisme
kompensasi ini meliputi menurunkan volume darah intrakranial, menurunkan volume

CSS, menurunkan kandungan cairan intrasel, dan mengurangi sel-sel parenkim otak.
Kenaikan tekanan yang tidak diatasi akan mengakibatkan herniasi unkus serebellum.
6. Pathway
(Terlampir)
7. Pemeriksaan Diagnostik

a. Foto polos
Hiperostosis adalah salah satu gambaran mayor dari meningioma pada foto polos.
Diindikasikan untuk tumor pada meninx. Tampak erosi tulang dan dekstruksi
sinus sphenoidales, kalsifikasi dan lesi litik pada tulang tengkorak. Pembesaran
pembuluh darah meninx menggambarkan dilatasi arteri meninx yang mensuplai
darah ke tumor.
b. CT-Scan
CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak
meningioma. Tampak gambran isodense hingga hiperdense pada foto sebelum
kontras, dan gambaran peningkatan densitas yang homogeny pada foto kontras.
Tumor juga memberikan gambaran komponen cystic dan kalsifikasi pada
beberapa kasus. Udem peritumoral dapat terlihat dengan jelas. Perdarahan dan
cairan intratumoral sampai akumulasi cairan dapat terlihat.
c. MRI
MRI merupakan pencitraan yang sangat baik digunakan untuk mengevaluasi
meningioma. MRI memperlihatkan lesi berupa massa, dengan gejala tergantung
pada lokasi tumor berada.
d. Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk
memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
e. Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
f. Elektroensefalogram (EEG)
Mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan
dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang.

8. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan pada meningioma dapat berupa embolisasi, pembedahan,


radiotherapi, dan radiasi.
a. Pembedahan
Terdapat dua tujuan utama dari pembedahan yaitu paliatif dan reseksi tumor.
Pembedahan merupakan terapi utama pada penatalaksanaan semua jenis
meningioma. Tujuan dari reseksi meningioma adalah menentukan diagnosis
definitif, mengurangi efek massa, dan meringankan gejala-gejala. Reseksi harus
dilakukan sebersih mungkin agar memberikan hasil yang lebih baik. Sebaiknya
reseksi yang dilakukan meliputi jaringan tumor, batas duramater sekitar tumor,
dan tulang kranium apabila terlibat. Reseksi tumor pada skull base sering kali
subtotal karena lokasi dan perlekatan dengan pembuluh darah (Modha & Gutin,
2005).
b. Radiotherapi
c. Chemotherapy
Pada kemoterapi dapat menggunakan powerfull drugs, bisa menggunakan satu
atau dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk membunuh sel
tumor pada klien. Diberikan secara oral, IV, atau bisa juga secara shunt. Tindakan
ini diberikan dalam siklus, satu siklus terdiri dari treatment intensif dalam waktu
yang singkat, diikuti waktu istirahat dan pemulihan. Saat siklus dua sampai empat
telah lengkap dilakukan, pasien dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah
tumor berespon terhadap terapi yang dilakukan ataukah tidak. (Febri : 2012)
d. Angiografi preoperative
Angiografi preoperative dapat menggambarkan suplai pembuluh darah terhadap
tumor dan memperlihatkan pembungkusan pembuluh darah. Selain itu, angiografi
dapat memfasilitasi embolisasi preoperatif. Beberapa jenis meningioma terutama
malignan umumnya memiliki vaskularisasi yang tinggi, sehingga embolisasi
preoperatif mempermudah tindakan reseksi tumor. Hal ini disebabkan oleh
berkurangnya darah yang hilang secara signifikan saat reseksi. Embolisasi
preoperatif dilakukan pada tumor yang berukuran kurang dari 6 cm dan dengan
pertimbangan keuntungan dibandingkan dengan resiko dari embolisasi (Levacic et
al; 2012).

C. PROSES KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Biodata klien

Berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No.
Medical Record, NamaSuami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama,
Alamat, TanggalPengkajian.
b. Keluhan utama : klien dengan meningioma biasanya mengeluh nyeri kepala,
muntah, papiledema, penurunan tingkat kesadaran, penurunan penglihatan atau
penglihatan double, ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia),
hilangnya ketajaman atau diplopia.
c. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, seperti adakah riwayat jatuh, atau
angota keluarga yang menderita meningioma.
d. Pemeriksaan Fisik
1) Aspek neurologis yang dikaji adalah tingkat kesadaran, biasanya GCS < 15,
disorientasi orang, tempat dan waktu. Adanya refleks babinski yang positif,
perubahan nilai tanda-tanda vital kaku kuduk, hemiparese. Nervus cranialis
dapat terganggu bila cedera kepala meluas sampai batang otak karena udema
otak atau perdarahan otak juga mengkaji nervus I, II, III, V, VII, IX, XII.
2) Breathing
Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung,
sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun
iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi,
stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi
peningkatan produksi sputum pada jalan napas.
3) Blood
Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi.
Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan
parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi
lambat, merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan
frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia,
disritmia).
4) Brain
Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya
gangguan otak akibat tumor pada otak. Kehilangan kesadaran sementara,
amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran,

baal pada ekstrimitas. Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak
akan terjadi gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi :
a) Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi,
pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).
b) Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan
sebagian lapang pandang, foto fobia.
c) Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata
d) Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.
e) Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus
menyebabkan kompresi spasmodik diafragma.
f) Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah
satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan.
5) Bladder
pada post craniotomy sering terjadi gangguan berupa retensi, inkontinensia
uri, ketidakmampuan menahan miksi.
6) Bowel
Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah, mual, muntah
(mungkin proyektil), kembung dan mengalami perubahan selera. Gangguan
menelan (disfagia) dan terganggunya proses eliminasi alvi.
7) Bone
Pada klien dengan meningioma sering datang dalam keadaan parese,
paraplegi. Pada kondisi yang lama dapat terjadi kontraktur karena imobilisasi
dan dapat pula terjadi spastisitas atau ketidakseimbangan antara otot-otot
antagonis yang terjadi karena rusak atau putusnya hubungan antara pusat saraf
di otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula terjadi penurunan tonus
otot.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Nurarif (2013) diagnosa keeprawatan yang muncul adalah sebagai
berikut:
a. Pre operasi
1) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK,
edema serebri, hematoma.
2) Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penekanan medulla oblongata.
3) Ansietas berhubungan dengan akan dilakukannya operasi
b. Intra operasi
1) Perdarahan berhubungan dengan insisi pembedahan
c. Post Operasi

1) Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan, efek anestesi, efek hormonal,

distensi kandung kemih/abdomen.


2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah.
3. Intervensi
a. Pre operasi
1) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK,

edema serebri, hematoma.


Tujuan: perfusi jaringan baik
Kriteria hasil: Tanda vital stabil (TD: 120/80-140/90 mmHg, Nadi:60-100
x/mnt, RR: 16-24x/mnt), tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK (pupil edema,
muntah proyektil, nyeri kepala ), orientasi baik.
Intervensi:
a) Tentukan faktor-faktor yg menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan
otak dan potensial peningkatan TIK.
b) Monitor secara berkala tanda dan gejala peningkatan TIK.
c) Pantau /catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai
standar GCS.
d) Evaluasi keadaan pupil, ukuran, kesamaan antara kiri dan kanan, reaksi
terhadap cahaya.
e) Pantau tanda-tanda vital: TD, nadi, frekuensi nafas, suhu.
f) Pantau intake dan out put, turgor kulit dan membran mukosa.
g) Turunkan stimulasi eksternal dan berikan kenyamanan, seperti lingkungan
yang tenang.
h) Bantu pasien untuk menghindari /membatasi batuk, muntah, mengejan.
i) Tinggikan kepala pasien 15-45 derajad sesuai indikasi/yang dapat
ditoleransi.
j) Batasi pemberian cairan sesuai indikasi.
k) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
l) Berikan obat sesuai indikasi, misal: diuretik, steroid, antikonvulsan,
analgetik, sedatif, antipiretik.
2) Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penekanan medulla oblongata.

Tujuan : pola napas normal.


Kriteria hasil: pola nafas efektif dibuktikan dengan status pernapasan, status
ventilasi, dan pernapasan tidak terganggu), GDA dalam batas normal (pH:
7.35-7.45, PCO2: 35-45, HCO3: 21-26), tidak terjadi sianosis.
Intervensi:

a) Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan. Catat ketidakteraturan

pernapasan.
b) Pantau dan catat kompetensi reflek gag/menelan dan kemampuan pasien
untuk melindungi jalan napas sendiri. Pasang jalan napas sesuai indikasi.
c) Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya, posisi miirng sesuai indikasi.
d) Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif bila pasien
sadar.
e) Lakukan penghisapan dengan ekstra hati-hati, jangan lebih dari 10-15
detik. Catat karakter, warna dan kekeruhan dari sekret.
f) Auskultasi suara napas, perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara
tambahan yang tidak normal misal: ronkhi, wheezing, krekel.
g) Pantau analisa gas darah, tekanan oksimetri
h) Lakukan ronsen thoraks ulang.
i) Berikan oksigen.
j) Lakukan fisioterapi dada jika ada indikasi.
3) Ansietas berhubungan dengan akan dilakukannya operasi
Tujuan : Ansietas dapat teratasi
Kriteria Hasil :
a) Pasien tampak siap untuk menjalankan operasi
b) Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif
c) Pasien mengetahui tujuan dilakukannya operasi
Intervensi:
a) Kaji tingkat kecemasan pasien
b) Berikan informasi yang adekuat tentang prosedur operasi
c) Ajarkan teknik relaksasi
d) Berikan semangat dan motivai kepeda pasien
b. Intra operasi
1) Perdarahan berhubungan dengan insisi pembedahan

Tujuan
: perdarahan minimal atau tidak terjadi
Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda syok akibat perdarahan yang berlebihan
Intervensi
:
a) Siapkan kantong darah sesuai golongan darah pasien untuk transfusi klien
b) Siapkan suction pump atau kassa untuk menekan perdarahan agar
perdarahan tidak lebih banyak.
c) Monitor keluaran darah/perdarahan.

c. Post Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan, efek anestesi, efek hormonal,

distensi kandung kemih/abdomen.


Tujuan : Nyeri berkurang
Kriteria hasil :
a) Nyeri hilang atau terkontrol (skala nyeri 1-0).
b) Tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan tepat.
c) Ekspresi wajah menyeringai
Intervensi :
a) Kaji nyeri dengan PQRST, catat lokasi, karakteristik, beratnya skala (0b)
c)
d)
e)

10).
Kontrol lingkungan yang dapat berkontribusi terhadap nyeri seperti suhu,
suara, dll.
Ajarkan pasien teknik non farmakologis seperti nafas dalam.
Berikan aktivitas hiburan.
Kolaborasi dengan berikan analgesik sesuai indikasi.

2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah.

Tujuan : tidak terjadi infeksi dan tidak adanya tanda-tanda infeksi, suhu tubuh
dalam batas normal (36.5 0C-37.5 0C).
Intervensi :
a) Monitor tanda-tanda infeksi sistemik maupun lokal.
b) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
c) Pertahankan lingkungan aseptik dalam melakukan tindakan ganti balut
luka post operasi craniotomy.
d) Batasi pengunjung bila perlu.
e) Dorong intake nutrisi yang cukup pada klien.
f) Kolaborasi dengan dokter pemberian antibiotik.
4. Evaluasi
a. Pre Operasi
1) Perfusi jaringan baik
2) Pola nafas efektif.
3) Ansietas berkurang.
b. Intra Operasi
1) Perdarahan minimal
c. Post Operasi

1) Nyeri berkurang
2) Tidak terjadi infeksi dan tidak adanya tanda-tanda infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Brain Trauma Foundation, AANS, Joint Section of Neurotrauma and Critical Care.
Guidelines for the management of severe head injury. J Neurotrauma.
Brown CV, Weng J, Oh D, et al. Does routine serial computed tomography of the head
influence management of traumatic brain injury? A prospective evaluation. J Trauma.
Nov 2004.
Bullock MR, Chesnut R, Ghajar J, et al. Surgical management of acute subdural hematomas.
Neurosurgery. Mar 2006.
Chesnut RM, Gautille T, Blunt BA, et al. The localizing value of asymmetry in pupillary size
in severe head injury: relation to lesion type and location. Neurosurgery. May 1994.
Guilburd JN, Sviri GE. Role of dural fenestrations in acute subdural hematoma. J Neurosurg.
Aug 2001.
Mardjono M, Sidharta P. Dalam: Neurologi klinis dasar. : Fakultas Kedokteran Universtas
Indonesia; 2003. Hal 393-4.
Focusing

on

tumor

meningioma

http://www.abta.org/meningioma.pdf

[20

November

2010].

Availble

from:

Widjaja

D,

Fauziah

B.

Meningioma

Intrakranial.

2007.

Diunduh

dari

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/09MeningiomaIntrakranial016.pdf/09
MeningiomaIntrakranial016.html

Patogenesis, histopatologi, dan klasifikasi meningioma[cited 2009 November 20]. Availble


from: http://www.neuroonkologi.com/articles