Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

PEMERIKSAAN FISIK NEUROLOGIS


Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Kepaniteraan Klinik
di Bagian Syaraf RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun Oleh :
Yunita Candra Kirana
20090310086

Diajukan Kepada :
dr. R. Yoseph Budiman, Sp. S

SMF ILMU SYARAF


RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
2014

PEMERIKSAAN FISIK NEUROLOGIS

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat


Mengikuti Kepaniteraan Klinik di Bagian Syaraf
RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun Oleh :
Yunita Candra Kirana
20090310086

Dokter Penguji :

dr. R. Yoseph Budiman, Sp. S

BAB I
PENDAHULUAN
Pada pemeriksaan fisik klien dengan gangguan system persyarafan secara
umum biasanya menggunakan teknik pengkajian persistem, sama seperti pemeriksaan
medical bedah lainnya meliputi B1 (breathing), B2 (bleeding), B3 (brain), B4
(bladder), B5 (bowe), dan B6 (bone).
Pemeriksaan fisik ini dilakukan untuk mengevaluasi keadaan fisik klien
secara umum dan juga menilai apakah ada indikasi penyakit lainnya selain
neurologis.Pengalaman dan keterampilan perawat diperlukan dalam pengkajian dasar
kemampuan fungsional sampai maneuver pemeriksaan diagnostic canggih yang dapat
menegakkan diagnosis kelainan pada system persyarafan.
Pemeriksaan fisik neurologis terdiri dari:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pemeriksaan tingkat kesadaran


Pemeriksaan fungsi serebri
Pemeriksaan tanda rangsangan otak
Pemeriksaan syaraf cranial
Pemeriksaan sistem motorik
Pemeriksaan respon reflex
Pemeriksaan sistem sensorik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pemeriksaan Tingkat Kesadaran
Kesadaran dapat didefinisikan sebagai keadaan yang mencerminkan
pengintegrasian impuls eferen dan aferen. Keseluruhan dari impuls aferen dapat
disebut input susunan syafar pusat dan keseluruhan dari impuls eferen dapat
disebut output susunan syaraf pusat. (Priguna sidharta, 1985).
1. Secara kualitatif
Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya,

dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.


Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan

sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.


Delirium, yaitu gelisah, disorientasi

memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.


Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon

(orang,

tempat,

waktu),

psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih


bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu

memberi jawaban verbal.


Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada

respon terhadap nyeri.


Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon
terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek
muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

2. Secara kuantitatif dengan GCS ( Glasgow Coma Scale )


Menilai respon membuka mata (E)
(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata)
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya
menekan kuku jari)
(1) : tidak ada respon

Menilai respon Verbal/respon Bicara (V)


(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang )
disorientasi tempat dan waktu

(3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas,

namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)


(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon.
Menilai respon motorik (M)
(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi
rangsang nyeri)
(4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi
stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada
& kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh,
dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
(1) : tidak ada respon.
Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam

simbol EVM Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang


tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1.
Setelah dilakukan scoring maka dapat diambil kesimpulan:
Compos Mentis (GCS: 15-14)
Apatis (GCS: 13-12)
Somnolen (11-10)
Delirium (GCS: 9-7)
Sporo coma (GCS: 6-4)
Coma (GCS: 3)

B. Pemeriksaan Fungsi Serebri


Pemeriksaan fungsi serebri secara ringkas meliputi pemeriksaan status
mental, fungsi intelektual, daya pikir, status emosional, dan kemampuan bahasa
(Priguna sidharta, 1985).
1. Pemeriksaan status mental
Secara ringkas prosedur pengkajian status mental klien dapat dilakukan
meliputi:
Observasi penampilan klien dan tingkah lakunya dengan melihat cara

berpakaian klien, kerapihan, dan kebersihan diri.


Observasi postur, sikap, gerakan-gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan

aktivitas motorik.
Penilaian gaya bicara klien dan tingkat kesadaran.

Apakah gaya bicara klien jelas atau masuk akal?


Apakah klien sadar dan berespons atau mengantuk dan stupor?
Tabel : tata pemeriksaan status mental
Penilaian
Perhatian
Daya ingat

Perasaan
(afektif)

Bahasa

Pikiran

Persepsi

Respon
Rentang perhatian ke depan dan ke belakang.
Jangka pendek : mengingat kembali tiga item
setelah lima menit.
Jangka panjang : mengingat nama depan ibunya,
mengingat kembali menu makanan pagi,
kejadian pada hari sebelumnya.
Amati suasana hati yang tercermin pada tubuh,
ekspresi tubuh.
Deskripsi verbal afektif.
Verbal kongruen, indicator tubuh tentang suasana
hati.
Isi dan kualitas ucapan spontan.
Menyebutkan benda-benda yang umum, bagianbagian dari suatu benda.
Pengulangan kalimat.
Kemampuan untuk membaca dan menjelaskan
pesan-pesan singkat pada surat kabar,
majalah.
Kemampuan menulis secara spontan, didikte.
Informasi dasar (misalnya presiden terbaru, tiga
presiden terdahulu).
Pengetahuan tentang kejadian-kejadian baru.
Orientasi terhadap orang, tempat, waktu.
Menghitung h: menambahkan dua angka,
mengurangi 100 dengan 7.
Menyalin gambar : persegi, tanda silang, kubus
tiga dimensi.
Menggambar bentuk jam, membuat peta
ruangan.
Menunjuk ke sisi kanan dan kiri tubuh.
Memperagakan ; mengenakan jaket, meniup
peluit, menggunakan sikat gigi.

2. Fungsi intelektual
Fungsi intelektual mencakup kemampuan untuk berpikir secara abstrak dan
memanfaatkan pengalaman.

Ingatan atau memori


-

Jangka pendek : mengulangi kata-kata atau angka-angka yang


diucapkan olep perawat.

Jangka panjang :menanyakan kapan tahun lulus SD, SMP, SMA, atau
universitas, hari ulang tahun sendiri, istri/suami, dan orang tua.

Pengetahuan umum
Contoh : pertanyaan siapa kepala Negara, presiden RI pertama, ibukota

provinsi.
Pengenalan persamaan dan perbedaan
Contoh : persamaan dan perbedaan raja dan presiden, khilaf dan dusta,

kangkung dan rumput.


Pertimbangan
Pertimbangan intelektual

klien

meliputi

pertimbangan

yang

dicerminkan oleh motivasi dan argumentasi dalam hal mengapa setiap


warga Negara harus membayar pajak pendapatan dan mengapa harga
emas lebih mahal daripada harga besi.
3. Daya pikir
Priguna Sidharta (1985) menjelaskan alam pikiran atau jalan pikiran hanya
dapat dinilai dengan ucapan-ucapannya. Adakalanya alam pikiran
tersembunyi dalam satu sikap yang kurang wajar.
Apakah pikiran klien bersifat spontan, alamiah, jernih, relevan, dan

masuk akal/tidak.
Apakah klien mempunyai kesulitan berpikir, khayalan, dan keasyikan

sendiri?
Apa yang menjadi pikiran klien?
Pikiran klien asyik sendiri dengan dengan hal kematian, kejadiankejadian tidak masuk akal, hal-hal yang bersifat halusinasi, dan pikiran

paranoid.
4. Status emosional
Status emosional dapat dinilai dari reaksinya terhadap pertanyaan yang
diberikan perawat, terhadap tindak-tanduk orang-orang di sekelilingnya
atau terhadap keadaan dan perasaan fisik diri sendiri.
Secara ringkas pengkajian status emosional klien dapat dilakukan perawat
meliputi:
Apakah tingkah laku klien alamiah dan datar, sensitive dan pemarah,
cemas, apatis, atau euphoria?

Apakah alam perasaannya berubah-ubah secara normal atau iramanya

tidak dapat diduga dari gembira menjadi sedih selama wawancara?


Apakah tingkah lakunya sesuai dengan kata-kata atau isi dari

pikirannya?
Apakah komunikasi verbal sesuai dengan tampilan komunikasi

nonverbal?
5. Kemampuan bahasa
Pada pengkajian ini perawat mungkin menemukan suatu disartria (kesulitan
artikulasi), disfonia (kualitas suara yang berubah akibat penyakit pada pita
suara), atau disfasia / afasia.
Disfasia/afasia
Defisiensi fungsi bahasa akibat lesi / kelainan korteks serebri
-

Disfasia reseptif (posterior)


Klien tidak dapat memahami bahasa lisan atau bahasa tertulis.

Disfasia ekspresif
Klien dapat mengerti, tetapi tidak dapat menjawab dengan tepat dan
bicaranya tidak lancer.

Disfasia nominal
Semua tipe disfasia menyebabkan kesulitan menyebut nma-nama
benda.

Disfasia kondusif
Klien tidak dapat mengulangi kalimat-kalimat dan sulit menyebut
nama-nama benda, tetapi dapat mengikuti perintah.
Tabel : pemeriksaan klien afasia

Bicara lancar (Afasia reseptif,


Konduktif, atau nominal)
Menyebut nama-nama benda.
Klien dapat afasia nominal,
konduktif atau reseptif, sukar
menyebut nama-nama benda.
Repetisi.
Klien dengan afasia konduktif dan
reseptif tidak dapat mengulangi
pesan bahasa.

Bicara tidak lancar (afasia


ekspresif)
Menyebut nama-nama benda.
Sukar dilakukan tetapi lebih baik
daripada bicara spontan.
Repetisi.
Mungkin dapat dilakukan dengan
usaha yang keras. Repetisi frase
kurang baik.

Komprehensi.
Hanya klien dengan afasia reseptif
yang tiddak dapat mengikuti
perintah (verbal atau tertulis)
Membaca.
Klien dengan lesi posterior dari
area Wernicke menderita disleksia.
Menulis.
Klien afasia kondusif sulit menulis
(disgrafia) sedangkan klien dengan
afasia reseptif isi tulisannya
abnormal. Klien dengan lesi lobus
frontal dominan dapat juga
menderita disgrafia.

Komprehensi.
Normal (perintah tertulis
verbal dapat diikuti)

dan

Tulisan.
Disgrafia dapat ditemukan.
Hemiparesis.
Lengan lebih sering
daripada tumgkai.

terkena

Disartria
Terdapat kesulitan artikulasi yang disebabkan salah satunya oleh
intoksikasi alkohol dan penyakit serebellum, sehingga menyebabkan

orang tersebut bicara pelo.


Disfonia
Suara serak dengan volume yang berkurang, misalnya karena penyakit
laring.
Pemeriksaan fungsi serebri juga bisa dilakukan pada fungsi dari setiap

lobus serebri.
Tabel : Fungsi dan gangguan serebri
Lobus Selebri
Frontal

Temporal

Fungsi
Penilaian

Kepribadian bawaan

Keahlian
mental

kompleks (abstrak,
membuat
konsep,

memperkirakan masa
depan)

Memori pendengaran
Memori
kejadian
yang baru terjadi
Daerah
auditorius
primer
yang
mempengaruhi

Gangguan
Gangguan penilaian
Gangguan penampilan
dan kebersihan diri
Gangguan afek dan
proses berpikir
Gangguan
fungsi
motorik
Gangguan
memori
kejadian yang baru
terjadi
Kejang psikomotor
Tuli

Parietal
Dominan

Non-dominan

Oksipital

kesadaran
Bicara
Berhitung
(matematika)
Topografi kedua sisi
Kesadaran sensorik
Sintesis ingatan yang
kompleks

Konfabulasi

Afasia,
agrafia,
akalkulia, agnosia

Gangguan
sensorik
(bilateral)

Disorientasi

Apraksia

Distorsi konsep ruang

Hilang kesadaran sisi


tubuh yang berlawanan
Memori visual penglihatan Deficit penglihatan dan buta

C. Pemeriksaan Tanda Rangsangan Otak


1. Pemeriksaan kaku kuduk
Tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang
berbaring, kemudian kepala ditekukan (fleksi) dan diusahakan agar dagu
mencapai dada. Perhatikan adanya tahanan. Kaku kuduk positif jika ada
tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada.
2. Pemeriksaan kernig
Posisikan pasien untuk tidur terlentang. Fleksikan sendi panggul tegak lurus
(90) dengan tubuh, tungkai atas dan bawah pada posisi tegak lurus pula.
Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai
membentuk sudut lebih dari 135 terhadap paha. Kernig sign positif bila
terdapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut 135.

3. Pemeriksaan brudzinski I
Pasien berbaring dalam sikap terlentang, tangan kanan ditempatkan
dibawah kepala pasien yang sedang berbaring, tangan pemeriksa yang satu
lagi ditempatkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan
kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada.

Brudzinski I positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi
di sendi lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik.

4. Pemeriksaan brudzinski II
Pasien berbaring terlentang kemudian tungkai yg akan dirangsang
difleksikan pd sendi lutut, tungkai atas difleksikan pada sendi panggul.
Brudzinski II positif bila terdapat gerakan reflektorik berupa fleksi tungkai
kontralateral pd sendi lutut & panggul.

5. Pemeriksaan lasegue
Pasien berbaring, ekstensikan kedua kaki kemudian fleksikan sendi panggul
salah satu kaki dan kaki lain tetap ekstensi.
Normal : Lasegue >60.
Lasegue positif bila sudah timbul rasa sakit dan adanya tahanan sebelum
mencapai 60.

D. Pemeriksaan Syaraf Kranial


1. Syaraf Kranial I (Olfaktorius)

Mata klien ditutup dan pada saat yang sama satu lubang hidung ditutup,
klien diminta membedakan zat aromatis lemah (misalnya vanili dan
cengkeh).
2. Syaraf Kranial II (Optikus)
Tes ketajaman penglihatan
Klien didudukkan di kursi atau di atas tempat tidur.Gantungkan kartu
Snellen setinggi kedudukan mata dengan jarak 6 m. Minta klien untuk
menutup mata kiri dan kanan secara bergantian dan melihat kea rah

kartu Snellen.
Tes lapang pandang
Menggunakan medan penglihatan.
Tes Konfrontasi :
Pemeriksa berdiri berhadapan dengan klien yang duduk dengan jarak
30-40 cm. jika yang diperiksa mata kanan, maka mata kiri klien dan
mata kanan pemeriksa ditutup. Begitu sebaliknya pada pemeriksaan
mata kiti.Dengan dua jarinya yang digoyang-goyangkan, tangan
pemeriksa memasuki medan penglihatan masing-masing. Jika jari

tangan pemeriksa terlihat, klien mengatakan ya.


Tes fundus
- Pegang oftalmoskop dengan tangan kanan
- Letakkan tangan kiri di atas dahi klien untuk fiksasi kepala klien
- Pemeriksa menyandarkan dahinya pada tangan kiri yang memegang
-

dahi klien, sehingga mata saling berhadapan.


Letakkan tepi atas teropong oftalmoskop dengan lubang pengintai

menghadap ke mata tetapi di atas alisnya.


Nyalakan lampu oftalmoskop, arahkan sinar lampu ke pupil klien.

3. Syaraf Kranial III (okulomotorius), IV (troklearis), dan VI (abdurens)


Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil
-

Observasi bentuk dan ukuran pupil

Perbandingkan pupil kanan dan kiri

Pemeriksaan refleks pupil (gelapkan ruangan kemudian sinari pupil


dengan senter).

Pemeriksaan gerakan bola mata volunteer


Pemeriksaan Nistagmus dimulai dengan kedua mata dalam keadaan
istirahat dipertahankan pada garis tengah oleh keseimbangan tonus
antara otot-otot okuler yang berlawanan.Klien diminta melirik ke kanan
dan kiri.

4. Syaraf Kranial V (Trigeminus)


Pemeriksaan fungsi motorik
-

Klien diminta menggigit gigi dengan sekuat-kuatnya. Perawat


melakukan palpasi terhadap kontraksi otot maseter dan temporalis
sisi kanan dan kiri.

Klien disuruh membuka mulutnya. Awasi rahang atas dan bawah


klien. Jangan mengambil bibir sebagai patokan, melainkan sela
antara gigi seri atas dan bawah.

Amati penyimpangan rahang bawah ke sisi lateral saat dibuka. Jika


terdapat kelmumpuhan, gerakan sisi yang lumpuh lebih kuat.

Pemeriksaan otot maseter dengan meletakkan tong spatel di atas


deretan geraham. Perintahkan klien untuk menggigit, bandingkan
bekas gigitannya. Lubang gigitan pada sisi maseter yang lumpuh
lebih dangkal.

Pemeriksaan fungsi sensorik


Bila gangguan berupa nyeri, suruh klien menunjuk daerah dimana nyeri
itu terasa.

5. Syaraf Kranial VII (Fasialis)


Inspeksi adanya asimetris wajah.
Lakukan tes kekuatan otot.
Klien diminta memandang ke atas dan mengerutkan dahi.Tentukan
apakah kerutan akan menghilang dan raba kekuatan ototnya dengan

cara mendorong kerutan tersebut kearah bawah pada setiap sisi.


Klien diminta menutup kedua mata dengan kuat. Bandingkan seberapa
dalam bulu-bulu matanya terbenam pada kedua sisi dan kemudian coba
memaksa kedua mata klien untuk terbuka. Jika ada kelumpuhan, terjadi
gerakan ke atas dan bola mata serta penutupan kelopak mata tidak
sempurna.

6. Syaraf Kranial VIII (akustikus/vestibulokoklearis)


Inspeksi lubang telinga untuk mencari adanya serumen/obstruksi lain.
Masukkan satu jari tangan ke dalam telinga kontra lateral dari klien dan
lepaskan jari tangan ini secara bergantian sambil membisikkan sebuah
angka pada telinga.

Tes Rinne
Garputala 256 Hz diletakkan di prosesus mastoideus di belakang
telinga.Gunanya untuk mengetes kepekaan pendengaran dari tulang-

tulang telingan ke meatus akustikus.


Tes Webber
Meletakkan garputala 256 Hz pada bagian tengah dahi untuk
mengetahui kepekaan pendengaran telinga kanan dan kiri.

7. Syaraf Kranial IX (glosofaringeus) dan X (syaraf vagus)


Pemeriksaan palatum mole
Minta klien mengucap kata ah, palatum mole harus terangkat secara

simetris.
Reflex menelan
Perhatikan reaksi klien waktu minum segelas air. Amati adanya
kesulitan menelan.

8. Syaraf Kranial XI (asesorius)


Minta klien untuk memutar kepala ke salah satu bahu dan berusaha
melawan usaha pemeriksa kea rah bahu yang berlawanan.
9. Syaraf Kranial XII (Hipoglosus)
Minta klien menjulurkan lidahnya, tentukan adanya atrofi dan fasikulasi
(kontraksi otot yang halus irregular dan tidak ritmik). Jika terdapat
kelainan, lidah akan berdeviasi ke arah sisi yang lemah (terkena).
E. Pemeriksaan Sistem Motorik
1. Inspeksi umum
Postur
- Anggota badan atas

jabat

tangan

dengan

klien

dan

memperkenalkan diri. Jika klien tidak dapat melepaskan genggaman


tangannya,

merupakan

tanda-tanda

menderita

miotonia

(ketidakmampuan melemaskan otot-otot setelah kontraksi volunter).


Kemudian klien diminta melepas pakaiannya. Suruh klien duduk di
tepi tempat tidur dan merentangkan kedua tangannya dengan lengan
dalam keadaan ekstensi dan menutup kedua matanya. Perhatikan
adanya drifting (deviasi gerakan satu atau kedua lengan dari posisi

awal yang netral).


Anggota badan bawah : minta klien untuk berjalan kemuadian amati

gaya berjalan klien.


Ukuran otot

Bandingkan satu sisi dengan sisi lainnya untuk menentukan adanya

atrofi dan tentukan kelompok-kelompok otot mana yang terkena.


Gerakan abnormal
Amati adanya tremor pergelangan tangan atau lengan.
Kulit
Amati adanya kelainan pada kulit, misalnya herpes zoster.

2. Fasikulasi
Kontraksi bagian-bagian kecil dari otot yang irregular yang tidak
mempunyai pola yang ritmis, dapat bersifat kasar atau halus dan terdapat
pada waktu istirahat, tetapi tidak terjadi selama gerakan volunteer. Jika
tidak ditemukan, ketok otot brakioradialis dan biseps dengan palu refleks
dan amati lagi.
3. Tonus otot
Pemeriksaan tonus otot
Secara pasif gerakkan lengan bawah di sendi siku dan tungkai bawah di
sendi lutut, gerakkan secara fleksi dan ekstensi oleh perawat.Periksa
berulang kali secara perlahan kemudian cepat.Tahanan yang terasa oleh
perawat sewaktu menekukkan dan meluruskan bagian-bagian anggota

tersebut kemudian dinilai sebagai normal, meningkat, atau menurun.


Pemeriksaan kekuatan otot
- Anterofleksi dan dorsofleksi kepala (otot rektus kapitis anterior,
-

posterior mayor-minor, dan trapezius).


Elevasi dan abduksi scapula (otot trapezius, deltoid, supraskapular,

dan seratus anterior).


Ekstensi di sendi siku (otot triseps)
Fleksi di sendi siku (otot bisepsm brakial, dan brakioradial)
Depresi dan adduksi dari scapula (otot pectoral dan lasimitus dorsi)
Fleksi di sendi pergelangan (otot fleksor karpi radialis dan ulnaris)
Ekstensor (dorsofleksi) di sendi pergelangan (otot-otot ekstensor
karpi radial longus/brevis, ekstensor karpal ulnar, dan ekstensor

digitorum komunis)
Mengepal dan mengembangkan jari-jari tangan (otot tangan fleksor
digitorium dan ekstensor digitorium, dibantu oleh otot-otot interosei

dorsal dan polar)


Fleksi di sendi panggul (otot iliopsoas)
Ekstensi di sendi panggul (otot gluteus maksimus)
Ekstensi di sendi lutut (otot quadriceps femoris)
Fleksi di sendi lutut (otot biseps femoris)
Dorsofleksi di sendi pergelangan kaki dan dorso fleksi jari-jari kaki
(otot tibialis anterior dan otot ekstensor jari-jari kaki)

Plantar fleksi kaki dan jari-jari kaki (otot gastroknemus, soleus,


peroneus, dan fleksor haluksis longus).

4. Keseimbangan dan koordinasi


Koordinasi tangan dan ekstremitas atas dikaji dengan cara meminta
klien melakukan gerakan cepat, berselang-seling dan uji menunjuk satu
titik ke titik lain. Pertama, klien diminta untuk menepukkan tangan ke
paha secepat mungkin. Masing-masing tangan diuji secara terpisah.
Kemudian klien diinstruksikan untuk membalikkan tangan ke posisi

telungup dengan cepat.


Koordinasi ekstremitas bawah dikaji dengan cara klien diperintahkan
untuk meletakkan tumit pada kaki yang satunya dan turun perlahanlahan ke bawah (daerah tibia bagian anterior).

F. Pemeriksaan Respon Refleks


Refleks adalah jawaban terhadap suatu rangsangan.
1. Teknik pemeriksaan refleks dalam
Refleks Biseps
Didapat melalui peregangan tendon biseps pada saat siku dalam
keadaan fleksi.Orang yang menguji menyokong lengan bawah dengan
satu lengan sambil menempatkan jari telunjuk menggunakan palu
refleks.

Refleks Triseps
Lengan klien difleksikan pada siku dan diposisikan di depan dada.
Pemeriksa menyokong lengan klien dan mengindentifikasi tendon
triseps dengan memalpasi 2,5-5 cm di atas siku. Pemukulan langsung
pada tendon normalnya menyebabkan kontraksi otot triseps dan ekstensi
siku.

Refleks Pektoralis
Posisi klien berbaring telentang dengan kedua lengan lurus di samping
badan.Stimulus diberikan dengan ketukan pada jari pemeriksa yang

ditempatkan pada tepi lateral otot pektoralis.


Refleks Patella
Dengan cara mengetuk tendon patella tepat di bawah patella. Klien
dalam keadaan duduk atau tidur telentang.Jika klien telentang, pengaji
menyokong

kaki

untuk

memudahkan

relaksasi

otot.Kontraksi

quadriceps dan ekstensi lutut adalah respons normal.

Refleks Tendon Achilles


Pemeriksaan dengan posisi tungkai klien ditekukkan di sendi lutut dan
kaki didorsofleksikan.

2. Teknik pemeriksaan refleks superficial

Refleks superfisial adalah gerakan reflektorik yang timbul sebagai respon


atas stimulasi terjadap kulit atau mukosa.
Refleks kontraksi abdominal
Ditimbulkan oleh goresan pada kulit didnding abdomen.Hasil yang
didapat adalah kontraksi yang tidak disadari otot abdomen dan

selanjutnya menyebabkan skrotum tertarik.


Refleks kremaster dan refleks skrotal
Gerakan reflektorik pada refleks scrotal terdiri atas gerakan yang tidak
menentu di dalam skrotum yang dapat terlihat dari luar atas
penggoresan kulit paha di sekitar daerah skrotum.

Refleks gluteal
Terdiri atas gerakan reflektorik otot gluteus ipsilateral bilamana bokong
digores atau ditusuk dengan jarum atau ujung gagang palu refleks

gluteal menghilang jika terdapat lesi di segmen L4-S1.


Refleks plantar
Penggoresan terhadap kulit telapak kaki akan menimbulkan plantar
fleksi kaki dan jari kaki.

3. Pemeriksaan refleks patologis


Refleks patologis adalah refleks-refleks yang tidak dapat dibangkitkan pada
orang-orang yang sehat kecuali pada bayi dan anak kecil.
Ekstensor plantar respons/tanda babinski
Reaksi yang terdiri dari ekstensi jari-jari kakerta elevasi ibu jari kaki
atas penggoresan telapak kaki bagian lateral.

Refleks chaddock
Metode memberikan perangsangan dengan penggoresan terhadap kulit
dorsum pedis bagian lateralnya atau penggoresan terhadap kulit di
sekitar maleolus eksterna.

Refleks Oppenheim
Perangsangannya dengan memberikan pengurutan dari proksimal ke
distal secara keras dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan terhadap
kulit yang menutupi os tibia.

Refleks Gordon
Membangkitkan ekstensor plantar response dengan cara memencet betis
secara keras.

Refleks schaeffer
Dengan memencet tendon Achilles secara keras.

Refleks bing

Dengan memberikan rangsang tusuk pada kulit yang menutupi


metatarsal kelima.

Refleks gonda
Menekan (memfleksikan) jari kaki ke-4, lalu melepaskannya dengan
cepat. Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai
mekarnya (fanning) jari-jari kaki lainnya.

G. Pemeriksaan Sistem Sensorik


Kepekaan saraf perifer, klien diminta memejamkan mata.
1. Menguji sensasi nyeri
Dengan menggunakan Spatel lidah yang di patahkan atau ujung kayu
aplikator kapas digoreskan pada beberapa area kulit, minta klien untuk
bersuara pada saat di rasakan sensasi tumpul atau tajam.
2. Menguji sensasi panas dan dingin
Dengan menggunakan Dua tabung tes, satu berisi air panas dan satu air
dingin,

sentuh

kulit

dengan

tabung

tersebut

minta

klien

untuk

mengidentifikasi sensasi panas atau dingin.


3. Sentuhan ringan
Dengan menggunakan Bola kapas atau lidi kapas, beri sentuhan ringan ujung
kapas pada titik-titik berbeda sepanjang permukaan kulit minta klien untuk
bersuara jika merasakan sensasi.
4. Vibrasi/getaran
Dengan garputala, tempelkan batang garpu tala yang sedang bergetar di
bagian distal sendi interfalang darijari dan sendi interfalang dari ibu jari
kaki, siku, dan pergelangan tangan. Minta klien untuk bersuara pada saat dan
tempat dirasakan vibrasi.

DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Ed 3 Jilid 2.Jakarta : FKUI.
Carolyn M. Hudak dan Barbara M. Gallo. 1996. Keperawatan Kritis : Pendekatan
Holistik. Jakarta : EGC.
Long, Barbara C. 1998. Keperawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan. Bandung : Yayasan IAPK Pajajaran.
Muttaqin, Arif. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika.
Nicholas J. Talley dan simon OConnor. 1994. Pemeriksaan Klinis : Pedoman
Diagnosis Fisik. Jakarta : Binarupa Aksara.
Sidharta, Priguna. 1999. Tata Pemeriksaan Klinis Dalam Neurologi. Jakarta : Dian
Rakyat.
Swartz, Mark H. 2012. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai