Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA KLINIK
PENENTUAN PROTEIN DALAM URIN

NAMA

FITRIA EKA NURAINI

NIM

08121006010

KEL.PRAKTIKUM/KELAS

B / GENAP

DOSEN PEMBIMBING

Dr. BUDI UNTARI, M. Si, Apt


Dr. rer. nat MARDIYANTO, M. Si, Apt

NAMA ASISTEN

IRMA YULI YANI, Am.F

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014-2015

PRAKTIKUM IV
PENENTUAN PROTEIN DALAM URIN
I.

TUJUAN
Mahasiswa mampu memahami prinsip penentuan protein dalam urin
sebagai salah satu muatan kompetensi dalam bidang keahlian biokimia
klinik.

II.

PRINSIP KERJA
Protein akan membentuk endapan atau menggumpal jika dipanaskan
dalam suasanan asam.

III.

DASAR TEORI
Urin dibentuk oleh ginjal dalam menjalankan system homeostatic. Sifat

dan sususnan urin dipengaruhi oleh factor fisiologis (misalkan masukan diet,
berbagai proses dalam tubuh, suhu, lingkungan, stress, mental, dan fisik) dan
factor patologis (seperti pada gangguan metabolisme misalnya diabetes mellitus
dan penyakit ginjal). Oleh karena itu pemeriksaan urin berguna untuk menunjang
diagnosis suatu penyakit. Pada penyakit tertentu, dalam urin dapat ditemukan zatzat patologik antara lain glukosa, protein dan zat keton (Probosunu, 1994).
Urin dibentuk oleh penggabungan 3 proses yaitunya 1). fikrasi plasma
darah oleh glomerulus. 2) Absorpsi kembali selektif zat-zat seperti garam, air, gula
sederhana dan asam amino oleh tubulus yang diperlukan untuk mempertahankan
lingkungan internal atau untuk membantu proses-proses metabolik; dan 3) Sekresi
zat-zat oleh tubulus dari darah ke dalam lumen tubulus untuk dieksresikan ke
dalam urin. Proses ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, anion
organik, dan ion hidrogen. Tugasnya untuk memperbaiki komponen buffer darah
dan untuk mengeluarkan zat-zat yang mungkin merugikan (Sinosuke,2009).
Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah atau keadaan urine yaitu
diantaranya : jumlah air yang diminum, keadaan sistem syaraf, hormon ADH,

banyaknya garam yang harus dikeluarkan dari darah agar tekanan menjadi
osmotic, pada penderita diabetes melitus pengeluaran glukosa diikuti kenaikan
volume urine (Thenawijaya, 1995).
Komposisi dari urine yaitu terdiri dari kira-kira 95 % air, zat-zat sisa
nitrogen dari hasil metabolisme protein asam urea, amoniak, dan kreatinin,
elektrolit natreium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat, juga terdiri dari
pigmen (bilirubin, urobilin) toksin dean hormon (Yatim, 1982).
Sifat fisis urine terdiri dari jumlah ekskresi dalam 24 jam adalh lebih
kuramg 1500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya,
warna bening, kuning muda, dan bila diniarkan akan menjadi keruh, warna kuning
tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya. Berbau, bau khas air
kemihbila dibiarkan lamaakan berbau amoniak, berat jenis 1,015 1,020,
reaksinya asam, bila lama-lama menjadi alkalis juga tergantung dari pada diet
(sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam) (Kartolo,
1990).
Manurut kimball (1998) bahwa urine orang sakit yang telah diuji dengan
benedict akan berwarna biru, kuning, hijau, atau merah dan sedikit keruh. Hal ini
disebabkan karena suatuy hormon yang meningkatkan penyerapan kembali air dan
demikian mengurangi volume urine yang terbentuk.
Dari urin kita bisa memantau penyakit melalui perubahan warnanya.
Meskipun tidak selalu bisa dijadikan pedoman namun Ada baiknya Anda
mengetahui hal ini untuk berjaga-jaga. Urin merupakan cairan yang dihasilkan
oleh ginjal melalui proses penyaringan darah. Oleh kaena itu kelainan darah dapat
menunjukkan kelainan di dalam urin.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme
(seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk
urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang
proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap
kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa
mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih

atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di
dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin
dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan
untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang
dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung
gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau
obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat
yang "kotor". Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari
ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan
mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing
yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang
dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan
zat yang steril
Proteinuria yaitu urin manusia yang terdapat protein yang melebihi nilai
normalnya yaitu lebih dari 150 mg/24 jam atau pada anak-anak lebih dari 140
mg/m2. Dalam keadaan normal, protein didalam urin sampai sejumlah tertentu
masih dianggap fungsional. Sejumlah protein ditemukan pada pemeriksaan urin
rutin, baik tanpa gejala, ataupun dapat menjadi gejala awal dan mungkin suatu
bukti adanya penyakit ginjal yang serius. Walaupun penyakit ginjal yang penting
jarang tanpa adanya proteinuria, kebanyakan kasus proteinuria biasanya bersifat
sementara, tidak penting atau merupakan penyakit ginjal yang tidak progresif.
Lagipula protein dikeluarkan urin dalam jumlah yang bervariasi sedikit dan secara
langsung bertanggung jawab untuk metabolisme yang serius. Adanya protein di
dalam urin sangatlah penting, dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk
menentukan adanya penyebab/penyakit dasarnya.

IV.

ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan:


1.
2.
3.
4.
5.

Beaker glass
Erlenmeyer
Mikroskop
Sentrifugasi
Waterbath

7. Pipet tetes
8. Spektrofotometer
9. Disposable cuvvet
10. Tabung reaksi 10 ml
11. Kaca objek dan penutupnya

6. Stopwatch
Bahan yang digunakan:
1. Asam asetat 10%
2. Natrium asetat

4. Aquadest
5. Urine

3. Asam asetat glacial

V.

CARA KERJA
1. Tes Pemanasan Dengan Asam Asetat

Tabung reaksi
diisi
Dengan urin sebanyak nya
didihkan
Selama 1-2 menit
ditambahkan
Asam asetat 10% 3 tetes
diamati
Apa yang terjadi pada tabung reaksi
2. Pemeriksaan Secara Bang
Urin 5 ml + 0,5 ml reagen Bang
dipanaskan
Dalam air mendidih selama 5 menit
diamati
Apa yang terjadi pada tabung reaksi

VI.

DATA HASIL PENGAMATAN


1. Tes Pemanasan Dengan Asam Asetat

Table 6.1

Volum

Perlakua

e Urin

(+) Pereaksi

Hasil

tabung

Di

3 tetes Asam

(-) Tidak timbul

reaksi

didihkan

Asetat 10%

kekeruhan,

1-2 menit

karena tidak
terdapat protein

Gambar

2. Pemeriksaan Secara Bang


Table 6.2

Volum

(+)

e Urin

Pereaksi

Perlakuan

0,5 ml
5 ml

Hasil

Gambar

(-) Tidak timbul

reagen

Dipanaska

kekeruhan,

Bang

n 5 menit

karena tidak
terdapat protein

Pengamatan hasil berdasarkan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

VII.

Tak ada kekeruhan


Kekeruhan sedikit sekali
Kekeruhan sedikit ( tanpa butir butir )
Kekeruhan jelas (Berbutir- butir )
Kekeruhan hebat ( berkeping keping )
Menggumpal

(-)
(+)
(+)
(++)
(+++)
(++++)

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini masih menggunakan urine, yaitu dengan

menentukan terdapat atau tidaknya protein di dalam urine tersebut. Pertama-tama


sampel urin dimasukan kedalam dua tabung reaksi, masing-masing tabung reaksi

sebanyak dari volume total tabung reaksi. Kemudian sampel urin tersebut
ditambahkan 3 tetes asam asetat. Konsentrasi asam asetat yang dipakai bisa
digunakan konsentrasi 10%, yang terpenting adalah pH yang akan dicapai dengan
pemberian asam asetat, praktikum kali ini menggunakan konsentrasi asam asetat
yaitu 10%. Pemberian asam asetat berfungsi untuk mencapai titik isoelektrik
protein, pemanasan selanjutnya mengadakan denaturasi dan akhirnya terjadilah
presipitasi.
Tabung reaksi berisi urine dan asam asetat tadi dipanaskan diatas bunsen
untuk mempercepat proses pemanasan , proses pemanasan ini jangan sampai
larutan mendidih dan hanya berlangsung 2 menit saja, agar protein yang ada di
dalam urine tersebut tidak pecah.

Pemanasan akan membuat sample protein

terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi


karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang
ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan non-kovalennya
yang berupa ikatan peptida. Setelah urin dipanaskan, kemudian ditambahkan asam
asetat 10% dan dilihat apakah ada kekeruhan atau tidak . Indikator pengamatan
yang kami gunakan yaitu : ( - )
tanpa butiran; ( ++ )

: Ada kekeruhan ; ( + )

: Keruh sedikit

: Kekeruhan lebih jelas dan tampak butiran; ( +++ )

Urin keruh dan tampak kepingan dan ( ++++ )

: Sangat keruh + gumpalan +

kepingan lebih besar.


Cara yang kedua dengan metode reagen bang. Caranya sama dengan tes
pemanasan dengan asam asetat yaitu dengan memanaskan urine sebanyak 5 ml
selama 5 menit, lalu ditambahkan reagen bang sebanyak 0,5 ml. Amati kekeruhan
yang terjadi yang menandakan adanya protein. Penentuan protein urin secara
kualitatif yang kami lakukan terhadap sampel urin dari kelompok yaitu : (-) tidak
timbul kekeruhan, karena tidak terdapat protein didalam sampel urine pada
masing-masing pengujian. Artinya sampel urine yang digunakan menandakan
bahwa urine yang dihasilkan dari relawan tidak mengandung protein. Hal ini
menandakan bahwa ginjal orang yang sampel urinnya diambil masih dalam
keadaan baik. Serta tidak terjadi gangguan pada proses filtrasi, augmentasi dan
reabsorpsinya di dalam tubuh orang tersebut.

VIII. KESIMPULAN
1. Penentuan protein dalam urine yang dilakukan, yaitu dengan 2 metode tes
pemanasan dengan penambahan asam asetat dan pemeriksaan secara bang.

2. Percobaan dari sampel urine yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang
negatif mengandung protein.
3. Pemberian perlakuan pemanasan

akan

membuat

sampel

protein

terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun.


4. Hasil ini menandakan bahwa ginjal orang yang sampel urinnya diambil
masih dalam keadaan baik, serta tidak terjadi gangguan pada proses
filtrasi, augmentasi dan reabsorpsinya di dalam tubuh orang tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anshori. 1988. Biologi Jilid I. Geneca Exat : Bandung.


Ethel, S. 2003. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. EGC Penerbit
Buku Kedokteran : Jakarta.
Juncquiera,L, Carlos dkk. 1997. Histologi Dasar. Penerbit Buku
Kedokteran : Jakarta.
Kimball. 1998. Biologi. Erlangga : Jakarta
Montgomery, Rex dkk. 1993.Biokimia jilid I. Gajah Mada University
Press : Yogjakarta.
Probosunu, N. 1994 . Fisiologi Umum. Gajah Mada University Press :
Yogjakarta.
Thenawijaya, M. 1995. Uji Biologi. Erlangga: Jakarta.

LAMPIRAN

Sampel urine yang siap untuk diujikan dalam penentuan protein.

Sampel urine yang diberikan perlakuan pemanasan.

Hasil dari masing-masing pengujian menunjukkan (-) negative / sampel


urine tidak mengandung protein.