Anda di halaman 1dari 21

PANDUAN STANDAR DAN SURVEI TEKNIS

jALAN DESA
I.

STANDAR TEKNIS JALAN DESA


jalan desa adalah jalan yang dapat dikategorikan sebagai jalan dengan fungsi
lokal di daerah pedesaan. Arti fungsi lokal daerah pedesaan yaitu :
I.
o

sebagai penghubung antar desa atau ke lokasi pemasaran

sebagai penghubung hunian/perumahan

penghubung desa ke pusat kegiatan yang lebih tinggi tingkatnya


(kecamatan)

Manfaat ditingkatkan/dibangunnya jalan desa untuk masyarakat pedesaan antara


lain :
I.
o

Memperlancar hubungan dan komunikasi dengan tempat lain,

Mempermudah pengiriman sarana produksi ke desa,

Mempermudah pengiriman hasil produksi ke pasar, baik yang di desa


maupun yang di luar, dan

Menigkatkan jasa pelayanan sosial, termasuk kesehatan, pendidikan,


dan penyuluhan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jalan baru antara lain :
I.
o

trase jalan mudah untuk dibuat

pekerjaan tanahnya relatif cepat dan murah

tidak banyak bangunan tambahan (jembatan, gorong-gorong, dll)

pembebasan tanah tidak sulit

tidak akan merusak lingkungan

dan yang perlu diperhatikan dalam peningkatan jalan lama antara lain :
I.
o

lokasi memungkinkan untuk pelebaran jalan

geometri jalan harus disesuaikan dengan syarat teknis

tanjakan yang melewati batas harus diubah sesuai syarat teknis

sistem drainase dan pekerjaan tanah tidak akan merusak lingkungan

Pada petunjuk pelaksanaan pembangunan prasarana pedesaan, asas pemilihan


teknologi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
I.
o

1.

Menggunakan tenaga kerja setempat dengan jumlah yang


banyak.

2.

Mengutamakan penggunaan bahan setempat.

3.

Membangun prasarana yang sederhana, agar dapat dikerjakan


oleh masyarakat setempat tanpa mendatangkan tenaga ahli
atau peralatan dari luar.

4.

Membangun prasarana yang bermutu, sesuai dengan


spesifikasi dan penjelasan yang ada dibuku Petunjuk Teknis.

5.

Mencari harga yang relative murah,agar dapat membangun


prasarana yang lebih banyak, mengingat kebutuhan prasarana
jauh diatas biaya yang tersedia.

6.

Aparat PPK tidak terpaku pada standar yang ada di buku


petunjuk teknis, namun dapat dan berhak untuk memilih
teknologi lain dengan catatan masih sesuai dengan kriteria PPK.

7.

Larangan yang ada pada petunjuk teknis diperuntukkan untuk


masalah yang dianggap kurang sesuai dengan criteria, terlalu
mewah, yang diluar kemampuan. Contohnya adalah batasanbatasan dalam pengunaan jembatan beton atau permukaan
aspal saja.

8.

Masukan teknis dapat diterima dari banyak sumber termasuk


konsultan pendamping, koordinator wilayah, konsultan inti,
aparat proyek maupun dari luar.

Pembangunan jalan didaerah pedesaan selain perlu memperhatikan aspek


teknis konstruksi jalan, juga perlu memperhatikan aspek konservasi tanah
mengingat kondisi wilayah dengan topografi yang berbukit dan tanah yang peka
erosi.
Dari hasil survey lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit erosi tanah yang
berasal dari jalan, khususnya berupa longsoran dari tampingan dan tebing jalan.
Tujuan dari pengendalian erosi pada jalan adalah untuk mengamankan jalan dan
membangun jalan yang tidak menjadi sumber erosi.
Pemilihan trase jalan untuk mengurangi masalah lingkungan perlu dilakukan
misalnya dengan mengurangi galian dan timbunan bilamana mungkin. Alasanya
karena tidak mungkin di daerah perbukitan menghilangkan masalah erosi dengan
pemilihan trase (misal dengan pemindahan trase atau mengurangi tanjakan).
Contoh solusi untuk kawasan perbukitan dalam hal pengendalian erosi misalnya
dengan pembangunan tembok penahan tanah dan bronjong atau penanaman
bahan-bahan vegetatif untuk menstabilkan lereng atau mengurangi erosi alur
kecil (erosi percik)
1. Pertimbangan Drainase
Drainase diperlukan karena air mempunyai pengaruh yang buruk untuk jalan,
antara lain yaitu :
1.
o Jalan menjadi jelek jika badan jalan tidak cepat kering sehabis hujan
o Jalan akan mudah terputus (pavement erosions) bila air dibiarkan
melintangi permukaan jalan
o Jalan menjadi rusak bila air dibiarkan mengalirdi tengah jalan
o Jalan menjadi bergelombang bila fondasi jalan tidak kering
Pertimbangan yang paling sederhana dari masalah drainase adalah :
1.
o Jalan kawasan perbukitan diusahakan mengikuti punggung bukit
karena jalan yang mengikuti punggung bukit tidak akan mengalami
masalah drainase sebab air tidak perlu melintangi jalan.
o Jalan yang dibuat pada lereng bukit harus ada galian dan timbunan,
selokan pinggir jalan, talud, gorong-gorong dan bangunan pelengkap
lainnya.

o Jalan yang dibangun di lembah (cekungan) sebaiknya dihindari karena


kemungkinan jalan tidak bisa dikeringkan.
2. Geometri Jalan
Jalan direncanakan untuk kecepatan 15 s.d. 20 km/jam, pandangan bebas
harus memperhatikan keselamatan pemakai jalan yaitu :
1.
o Tikungan vertical dengan pandangan bebas 30 m
o Tikungan horizontal dibuat dengan pandangan bebas 30 m
o Jari-jari tikungan minimal 10 m dan untuk tikungan tajam perkerasan
dibuat dengan pelebaran dan kemiringan melintang miring ke dalam.
2. Tempat Persimpangan
Pertimbangan yang harus diperhatikan adalah tempat menunggu kendaraan
yang berjalan dari lain arah, tempat ini harus kelihatan dari tempat
sebelumnya.
1. Tanjakan Jalan
o

Tanjakan diukur dengan rumus jumlah meter naik per setiap


seratus meter horizontal (10 m naik per 100 m horizontal sama
dengan tanjakan 10 %)

Untuk peningkatan keselamatan dan penggunaan jalan, pilih


trase jalan tanjakan yang tidak terlalu curam. Jika jalan
menanjak terus, tanjakan maksimal dibatasi 7 %

Pada bagian pendek, tanjakan di batasi 20 %. Setelah 150 m,


harus disediakan bagian datar atau menurun.

2. Tikungan pada Tanjakan Curam


Pada daerah perbukitan sering dijumpai pada jalan yang menanjak dengan
kemiringan > 10%. Bila terdapat tikungan tajam didaerah tersebut jalan
harus direncanakan sebagai berikut :
1.
o

Perkerasan pada tikungan diperlebar menjadi > 4 m

Tikungan dibuat pada bagian datar untuk mempermudah


perjalanan bagi yang naik atau turun

Perencanaan drainase jalan dibuat sedemikian hingga saluran


dari atas diteruskan lurus ke depan dan airnya dibuang jauh dari
jalan, dan saluran pada jalan bagian bawah dimulai dari luar
bagian datar (sesudah tikungan)

1. Bentuk Badan Jalan


Penentuan bentuk badan jalan disarankan sebagai berikut :
1.
o

Pada kondisi biasa badan jalan dibuat miring ke saluaran tepi


dengan kemiringan badan jalan 4-5%.

Untuk daerah relatife datar, badan jalan dibuat seperti


punggung sapi (lebih tinggi 6-8 cm di bagian tengah) dengan
catatan bila punggung sapi sudah terlihat dengan mata
telanjang berarti sudah cukup miring untuk drainase.

Pada tikungan jalan dibuat miring ke dalam dengan kemiringan


maksimal 10% dan perlebaran perkerasan dibagian dalam
tikungan demi keamanan dan kenyamanan.

Pada jurang jalan dibuat miring ke arah bukit dan saluran, hal ini
demi keselamatan dan drainase.
Potongan Melintang Badan Jalan

1. Bentuk Badan Jalan Di Daerah Curam


Badan jalan di daerah curam harus dibuat miring ke bukit dan saluran tepi
jalan. Ukuran saluran minimum 50 cm dalam 30 cm lebar, dengan bentuk
trapesium. Kemiringan tebing maksimum 2 : 1, dengan galian /keprasan
maksimal disarankan 4,00 meter. Timbunan maksimal 1,50 m.
1. Permukaan Jalan
Penentuan tebal lapisan batu belah disesuaikan dengan kebutuhan (jenis
dan frekuensi lalu lintas) dan ketersediaan batu. Untuk tebal lapisan 15 cm
digunakan batu belah/ pecah dengan ukuran 8/15, dan untuk ukuran batu
15/20 biasanya digunakan untuk lapisan dengan tebal 20 cm. Lapisan batu
belah dapat diganti dengan lapisan sirtu (pasir & batu tebal 20 cm),
terutama untuk daerah kesulitan batu dan mempunyai tanah dasar yang

stabil. Batu belah/pecah harus bersifat keras dan minimal mempunyai tiga
bidang pecah.
Petunjuk pelaksanaan untuk perkerasan jalan antara lain :

Tanah asli di bawah lapis pondasi harus dipadatkan dengan alat pemadat
(mesin gilas, steamper, timbres) dengan kemiringan yang direncanakan untuk
permukaan.

Lapisan podasi paling bawah adalah lapisan pasir yang berfungsi untuk
memudahkan pemasangan batu permukaan dengan rapi dan rata.

Batu belah harus dipasang tegak lurus dengan as jalan (melintang), dengan
ujung yang lebih runcing di atas agar bila terbebani tidak akan tembus lapisan
pasir dasar, dan dikunci dengan batu kecil.

Lapisan paling atas berupa campuran pasir dengan tanah terpilih, atau dapat
terbuat dari sirtu dan atau krosok dengan tebal 2 cm, yang kemudian
dipadatkan dengan mesin gilas roda besi (tandem roller)

1. Bahu Jalan
Fungsi bahu jalan antara lain :

Pelindung permukaan jalan

Perantara antara aliran air hujan yang ada di permukaan jalan menuju saluran
tepi.

Tempat pemberhentian sementara.


Persyaratan teknis bahu jalan sebagai berikut :

1. Dibuat disebelah kiri dan atau kanan sepanjang jalan, dengan lebar
minimum 50 cm
2. Harus dibuat dengan kemiringan yang lebih miring dari permukaan
jalan, biasanya 6-8 cm (sama dengan turun 3-4 cm per 50 m)
3. Material penyusunnya seharusnya terdiri dari tanah yang dapat
ditembusi air, sehingga pondasi jalan dapat dikeringkan melalui proses
perembesan.
4. Tanah pada bahu jalan harus dipadatkan.
5. Lebih baik bila ditanami rumput ditepi luar bahu, mulai 20 cm dari tepi
yang berfungsi sebagai stabilisasi tepi jalan.

6. Penanaman pohon perdu di luar bahu (dan saluran bila ada) untuk
membantu stabilitas timbunan baru.
1. Pemadatan Tanah
Tanah pada bagian galian tidak perlu dipadatkan lagi kecuali pernah
mengalami gangguan yang mengakibatkan tanah menjadi kurang padat.
Sebelum kegiatan pemasangan perkerasan jalan, semua daerah timbunan
harus dipadatkan dengan mesin gilas, steamper, atau trimbisan. Pemadatan
ini membantu menjaga stabilitas dan daya dukung / tahan badan jalan.
Proses pemadatan dilakukan pada kadar air tanah optimum yaitu tanah
pada keadaan sedikit basah, tetapi kalau digenggam tidak ada air mengalir
ke luar. Pelaksanaan pemadatan tanah dilakukan lapis demi lapis dengan
setiap lapis mempunyai tebal maksimum 20 cm. Untuk daerah tempat tanah
dasarnya jelek, maka badan jalan harus diadakan perkuatan, misalnya
cerucuk atau stabilisasi.
1. Perlindungan Tebing
Cara yang digunakan untuk perlindungan tebing antara lain :
1. Saluran Diversi digunakan untuk menangkap air yang mengalir dari lereng di
atas menuju tebing, agar air tidak terbuang melalui tebing. Isi saluran diversi
harus dibuang ke tempat yang lebih aman. Bila aliran airnya cepat, saluran
diversi harus dilindungi dengan pasangan batu, batu kosong, rumput atau
terjunan seperti saluran lain. Saluran diversi digunakan terutama untuk tebing
dengan puncak lereng masih jauh diatas tebing jalan.
2. Teras Bangku dapat dilakukan dengan syarat lahan dapat dikorbankan untuk
membentuk teras dan jenis tanah dapat dibentuk dengan stabil. Teras dibuat
sejajar dengan kontur (kemiringan maksimal 2%). Setiap 10 m panjang air
diterjunkan dari saluran ke bawah, dan penerjunan harus diperkuat seperti
bangunan terjun yang lain. Dimensi teras minimal adalah 50 cm lebar dan
1.00 m tinggi.
3. Talud Batu Kosong dapat disusun pada tebing, tetapi tebing harus dikepras
agar tidak tegak lurus. Aliran air dipermukaan dialihkan dari talud batu kosong
melalui saluran diversi.
4. Talud Pasangan Batu relative kuat, namun relatif mahal. Pasangan batu
harus diberikan suling untuk membuang air tanah dari belakang tembok.
Ujung dalam suling harus diberi saringan kecil dari ijuk. Pasangan batu harus
dibuat dengan pondasi yang tidak akan bergerak, karena pasangan batu tidak
fleksibel sama sekali. Ukuran bawah pasangan batu disesuaikan dengan
standar Bina Marga.
5. Bronjong adalah cara yang kuat dan cukup fleksibel, tetapi relatif lebih
mahal. Agar posisi bronjong stabil dan tidak lari, pancangan diberikan pada
tingkat bronjong yang paling bawah, dengan jarak pancang setiap 1 1 m

dan ukuran pancangan 12-15 cm. Dipancang sampai lapisan tanah keras.
Kegunaan bronjong untuk menahan timbunan baru atau melindungi tebing
dari aliran air.
6. Perlakuan Vegetatif adalah cara yang relatif efektif dan murah , yaitu dengan
menanami tebing dengan berbagai jenis tanaman.
1. Saluran Pinggir Jalan
Saluran yang berdekatan dengan bahu jalan diperlukan disebelah kanan
dan kiri jalan, kecuali :
1.
o Jalan dibuat dipunggung bukit (bentuk Punggung Sapi)
o Jalan dibuat dilereng bukit, tidak perlu saluran di sebelah bawah
o Badan jalan diurug lebih dari 50 cm
Untuk keadaan biasa dimensi saluran harus berukuran minimal 50 cm
(dalam) dan 30 cm (lebar dasar), dengan lebar atas 50 cm (bentuk
trapesium).
Syarat saluran pinggir jalan :
1.
o Saluran dibuat sejajar dengan jalan
o Dasar saluran dibuat kemiringan yang rendah untuk menghindari erosi
tanah dasar saluran/plesteran dasar, namun tidak datar.
o Ketinggian dasar saluran harus lebih rendah dibanding lapisan pasir
dibawah pondasi jalan untuk proses perembesan dan pengeringan
pondasi jalan.
o Untuk saluran yang mudah erosi, perlindungan terdiri dari perkuatan
talud dan dasar saluran serta pemberian bangunan drop struktur. Jenis
perlidungan saluran antara lain dengan menggunakan rumput
(gebalan), turap, batu kosong, atau pasangan. Bronjong dapat
digunakan terutama pada tikungan di tanah yang peka erosi.
Pertimbangan untuk pemilihan tipe perlindungan saluran pinggir adalah :
1.
o Kemiringan saluran dan kecepatan air

o Jenis tanah
o Perubahan arah aliran pada belokan
o Debit air.
1. Gorong-gorong
Adalah jenis bangunan yang berfungsi untuk mengalirkan air yang harus
melewati di bawah permukaan jalan. Gorong-gorong diperlukan pada :
1.
o Jalan dimana sungai kecil atau saluran irigasi melewati jalan.
o Dimana kapasitas saluran pinggir kurang mampu mengalirkan volume
air yang diperkirakan, dan air harus melewati jalan untuk dibuang.
o Dimana saluran pinggir jalan memotong jalan lain pada persimpangan
o Di daerah perbukitan, di setiap tempat terendah pada profil jalan.
Tiap gorong-gorong harus dilengkapi bak penampungan air dan bak
pembuang di ujungnya, untuk kelancaran aliran air dan mencegah erosi.
Untuk mengurangi erosi, aliran alamiah tidak diganggu. Kedua ujung
gorong-gorong mengikuti garis aliran yang alamiah. Jika tidak mengikuti
garis aliran alamiah, saluran dan bak harus dilindungi.
Jenis gorong-gorong yang layak untuk jalan desa adalah :
1. Buis beton (bulat) dengan ukuran 40 100 cm.
2. Plat beton, dibuat dengan pondasi dari pasangan batu dan lantai dari beton
bertulang, berukuran sisi antara 60 100 cm.
3. Boog duiker, dibuat dari batu belah dan berukuran 40 s/d 60 cm.
4. Gorong-gorong kayu, dengan dimensi lebar minimum 60 cm, lebar maksimum
100 cm dan tinggi minimum 60 cm
Gorong-gorong buis beton, boog duiker, atau kayu harus ditanam dengan
kedalaman minimal 30 cm atau ukuran garis tengah. Dasar goronggorong dibuat dengan kemiringan minimal 2%.
1. Pembuangan dari Saluran dan Gorong-gorong
Fungsi dari saluran ini adalah untuk mencegah kerusakan akibat pengaliran
air yang tak terkendali. Syarat teknis untuk saluran ini antara lain :

1.
o Direncanakan untuk mengalirkan air ke sungai atau saluran yang
mampu mengalirkan volume air tanpa merusak lingkungan
o Diawali dari gorong-gorong, saluran pinggir yang overloud dan berhenti
pada sungai atau saluran besar yang ada.
o Ukuran saluran didesain dengan debit air terbesar, dengan ukuran
minimal sama dengan ukuran saluran pinggir yang standar (50
30)cm.
o Saluran ini harus dilindungi seperti saluran-saluran lain, untuk
mencegah erosi dasar dan talud saluran.
2. Drainase Air Tanah
Perlakuan ini bertujuan untuk mencegah air tanah naik ke permukaan jalan
sehingga jalan tetap dalam keadaan stabil dan tidak kehilangan agregat
halusnya.
Contoh 5 rembesan dari air tanah yang memerlukan perencanaan darinase
air tanah yaitu :
1.
o Rembesan dari permukaan jalan
o Rembesan dari tebing
o Rembesan dari pondasi jalan
o Tempat rendah (lembah/cekungan) dimana tanah asli menurun ke jalan
o Terdapat kantong air di atas lapisan kedap air
Contoh Rembesan dari Air Tanah
Cara penaggulangannya dipilih berdasar jenis masalah yang dihadapi,
antara lain dengan cara :
1.
o Masalah : Air dari Tebing
Cara pencegahan : Tebing dilindungi dan air dibuang melalui saluran
pinggir jalan
1.

o Masalah : Air dari pondasi atau air dari permukaan jalan


Cara pencegahan :
1.
o

1. Tanah digali cukup dalam dan diganti dengan tanah yang


tertembus air tetapi tidak mudah terbawa air, seperti sirtu
yang terpilih
2. Dipasang pipa pralon melintang jalan, ukuran 10 cm dan
dilubangi dan dilapisi ijuk. Bak penampung / kontrol
dibuat jika perlu
3. Dibuat drainase melintang jalan seperti yang di bawah
ini :
Dimensi lebar, dalam dan jumlah lokasi tergantung debit air (mata air). Kedalaman
minimal drainase 30 cm
1.
o

1. Dibuat laisan kedap air di bawah jalan dengan plastik


atau tanah pudel
o Masalah : Air di Tempat Rendah
Cara penaggulangan : Di buat drainase seperti drainase melintang (hal
yang ketiga diatas)
1.
o Masalah : Diatas Lapisan Kedap Air
Cara penanggulangan :
1.
o

1. Digali saluran drainase untuk membuang air dari kantong


air
2. Tanah diganti
3. Jalan dipindahkan ke tempat yang bebas dari masalah
drainase
4. Dibuat lapisan kedap air di bawah jalan dengan plastic
atau tanah pudel
Khusus masalah ini dilakukan untuk pogram peningkatan jalan dan
mengalami masalah drainase.
1. Perlakuan Vegetatif
Cara ini sangat baik bila dikaitkan dengan fungsi konservasi seperti untuk
mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi. Nilai tambah lain
dari perlakuan vegetatif yaitu :
1.
o Lebih murah dibanding perlakuan sipil teknis
o Dapat memiliki nilai ekonomi sebagai sumber kayu bakar dan pakan
ternak
o Mudah dilakukan dan terjangkau oleh masyarakat sekitar tanpa
bantuan proyek.
Perlakuan vegetatif pada jalan dari fungsi konservasi mempunyai dua
sasaran utama yaitu mencegah erosi dan longsor. Contoh pengendalian
erosi dan longsor yang terjadi pada jalan dengan cara perlakuan vegetatif
penanaman rumput / leguminosa, karena dapat membentuk gebalan yang
padat, memberi kesempatan air hujan untuk infiltrasi ke dalam tanah,
mengurangi pukulan air hujan secara langsung, mengurangi erosi percikan
karena ada sistem perlindungan oleh tajuk dan mulsa daun, menghambat
pergerakan sedimen.
Langkah-langkah untuk pemilihan jenis tanaman untuk perlakuan vegetatif
yang bersifat konservasi antara lain :
1. Mengumpulkan data yang bersifat informasi tentang keadaan lokasi,
termasuk ketinggian tempat, jumlah curah hujan dan lama musim kemarau,
jenis dan tekstur tanah, dan keasaman tanah (pH).
2. Mengamati jenis tumbuhan yang sudah ada di sekitar lokasi perlindungan.
3. Mengetahui fungsi tanaman yang diperlukan untuk mengatasi masalah
konservasi yang ada.

4. Penentuan jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di lokasi,


berdasarkan syarat tumbuh.
5. Mencari informasi tentang persediaan bahan tanaman untuk ditanam.
6. Memutuskan jenis tanaman yang layak untuk lokasi tersebut, ditinjau dari
aspek teknis, ekonomi, dan sosial.
Aspek yang dipertimbangkan dalam penentuan jenis tanaman :
1. Sesuai dengan jenis tanah, iklim, tinggi tempat dan sifat perakaran
2. Bersifat agresif (dalam waktu pendek mampu menutup tanah seluas mungkin)
3. Berumur panjang
4. Disukai ternak atau tidak
5. Aman bagi jalan dan pemakai jalan
6. Berfungsi juga dalam estetika
7. Bernilai ekonomis dan bermanfaat (sebagai pakan ternak atau kayu bakar, dll)
1. Permukaan Jalan Di Daerah Tanjakan
Perlakuan jalan untuk daerah tanjakan dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1.
o

1. Pengaspalan Tanjakan
Perlakuan yang diisyaratkan yaitu dengan cara lapisan laburan aspal
(Buras). Lapisan Buras berguna untuk menutup permukaan jalan agar
kedap air, tidak berdebu, mencegah lepasnya butiran agregat halus dan
idak licin.
Persyaratan untuk perlakuan dengan pengaspalan adalah :
1.
o Tanjakan minimal adalah 12% pada jalan lurus
o Tanjakan minimal 10% pada tikungan

o Tanjakan tidak dapat dilandaikan dengan biaya yang seimbang


o Panjang maksimal 150 m di satu tempat
o Di daerah transisi sepanjang 10 m sebelum dan sesudah tanjakan.
o Badan jalan dan perkerasan di bawah aspal (pondasi jalan) harus
memenuhi standar kualitas yang baik, terutama masalah drainase,
pemadatan, dan lebar bahu.
Cara Pelaksanaan Pengaspalan dengan Lapisan Buras adalah :
1.
o Pembersihan permukaan dengan sapu dan sikat
o Penyiraman aspal, yang dilakukan dengan cara :
# Aspal dipanaskan dalam drum, tetapi harus jangan terlalu panas
# Jalan dibasahi sedikit tapi hindari terlalu basah
# Aspal dosemprotkan dengan jumlah satu liter /m 2

Pasir dihamparkan segera setelah proses penyemprotan sewaktu aspal


masih panas.

Pemadatan pasir dilakukan pada waktu aspal masih panas. Diperiksa


kerataan hasil pemadatan dan diperbaiki dengan penambahan pasir dan
pengulangan pemadatan.
Peralatan yang digunakan adalah kereta dorong, kotak pembawa pasir,
penyebar pasir, penggaruk, perata, sekop, pemadat (steamper, mesin
gilas, tembiris), pemanas aspal, mistar pelurus, pengatur ketebalan
lapisan, pengukur kemiringan hamparan.

1. Konstruksi Telasah
Konstruksi telasah komposisi materialnya sama dengan Telford, namun
pemasangan batu (ukuran 15/20 atau 20/25) untuk telasah bagian
runcingnya dipasang di bawah satu persatu dan langsung di pukul
dengan martil seberat 5 s/d 10 kg. Pertimbangan pemakaian konstruksi
Telasah antara lain :

Kemiringan jalan > 15%

Pemadatannya dilakukan secara manual, karena penggunaan alat berat


bebannya terlau berat.

Pengaspalan tidak dimungkinkan karena mahalnya konstruksi


Persyaratan jalan konstruksi Telasah antara lain :

Tebal lapisan pasir yang dihamparkan dalam keadaan basah adalah 5 s/d 10
cm.

Batu yang dipasang untuk badan jalan (pondasi jalan) ukurannya 15/20 atau
20/25.

Pemasangan batu dilakukan oleh dua orang terdiri dari satu orang memasang
dan satu lagi memukul lasung satu per satu.

Ukuran batu tepi minimal 20/30 cm dengan pemasangan terbalik dan


dilakukan pemukulan.

Ukuran batu pengunci 2/3 atau 5/7 cm, dalam pemasangannya dilakukan
pemukulan dengan tembiris sampai mencapai kerataan yang disyaratkan.

Lapisan penutup menggunakan sirtu yang banyak mengandung lempung


(clay) agar dimusim hujan tidak mudah terbawa oleh air, dan pemadatan
dilakukan.
Gambar Potongan Melintang Konstrusi Telasah
1.
o

1.
1. Jalan Beton
Merupakan perkerasan kaku (rigid) tersusun dari bahan semen, pasir,
kerikil. Konstruksi ini dipakai didaerah dengan struktur tanahnya labil,
mudah pecah, lembek, dan pada turunan/tanjakan diatas singkapan
batu. Kualitas campuran sama dengan standar beton yaitu 1pc : 2ps :
3kr
Persyaratan material antara lain :
1.

o Pasir maupun krikil harus bebas dari bahan lain seperti tanah lempung,
sampah, dan kotoran lainnya.
o Krikil harus keras dengan bidang pecah minimal 3 bidang
o Tebal konstruksi 15 cm
o Fas (faktor air semen) kecil / proses percampuan penggunaan air
jangan terlalu banyak.
Pelaksanaan :
1. Pada tanah labil
1.
o Tanah dasar dibentuk punggug sapi
o Pasir beton dihampar setebal 5 cm dan dipadatkan
o Dipasang papan cetakan untuk membatasi ketebalan yang disaratkan
o Adukan beton dituang ke permukaan dan dipadatkan dengan
penggetar atau ditusuk-tusuk dengan kayu.
o Permukaan dibuat kasar dengan menggunakan sapu lidi kea rah
menyamping.
o Setiap 1 m memanjang dibuat dengan lebar 1 cm dan dalam 2 cm
o Setiap 2 m panjang diberi delatasi/pemisah selebar 1 cm
o Pemakaian setelah umur beton minimal 21 hari dihitung dari akhir
pengecoran.
1. Pada Singkapan Batu
1.
o Badan jalan dibentuk seperti punggung sapi dengan alat
blencong/gancu/pahat.
o Bila terdapat bagian yang susah dibentuk misalnya cekungan, maka
dibagian ini dibentuk batas persegi dan diisi dengan beton yang
sudahdipersiapkan.
o Untuk jenis badan jalan seperti ini di bawah beton tidak perlu
menggunakan pasir.

1.
o

1.
1.
1. Alternatif Penanganan Tanjakan Dengan
Kondisi Setempat Berupa Singkapan
Batu
Persyaratan :
1.
o Daerah singkapan harus bersih dari kotoran organik maupun anorganik
o Daerah yang akan diaspal harus kering dan dibuat rata
o Penggunaan aspal sand sheet dengan ketentuan sebagai berikut:
Disemprotkan tack eoaf tipe MC (medium current) atau RC (rapid
current) : 0,2 0,35 kg/m2
Komposisi sand sheet adalah 0, 68 0,90 lt/m 2 (aspal institute)
5,5 8,0 kg/m2 pasir (Manual series No 19 (MS 19))
ketebalan sand sheet antara 1 2 m
Cara pelaksanaan :
Bila menggunakan cara sederhana dilakukan dengan system Aspal Goreng, yaitu :
1.
o Pasir digoreng agar kering
o Aspal drum yang sudah dipanaskan dicampur dengan pasir dengan
kapasitas seperti yang tercamtum diatas.
o Diaduk dengan sekop hingga rata
o Diangkut dengan kotak pengangkut

o Dihamparkan dilokasi yang akan diaspal dan diratakan dengan alat


perata aspal
o Ketebalan diukur dengan besi pengukur dengan perkiraan ketebalan
sebagai berikut :
Padat Loose
2 cm 2,5 cm
1 cm 1,5 cm
1.
o Digilas dengan alas penggilas dari tepi
1. Stabilisasi
Proses ini dilakukan dengan menambah sedikit bahan tertentu pada tanah
asli.
Bila tanah dilokasi ini (subgrade) labil dan tidak mempunyai bahan lokal lain
yang layak, maka teknik ini dnilai sebagai alternative yang terbaik.
Perlakuan tanah dengan teknik ini berbeda untuk tiap jenis tanah, dan
mempunyai zona efisiensi yang berbeda pula.
Bahan tambah semen digunakan untuk stabilisasi tanah jenis pasir kasar
dan pasir halus, dan untuk bahan kapur digunakan pada jenis tanah lanau
halus, lempung kasar, dan lempung halus.
1. Pembangunan Jalan Di Daerah Rawa
Pada proses pembangunan jalan desa teknik untuk membuat jalan didaerah
rawa dianjurkan dengan menggunakan teknologi penggantian sebagian
subbase (lapisan pondasi jalan diatas subgrade), kemudian dipasang
matras galar kayu, cerucuk kayu, cerucuk dari papan atas, atau yang lain
dengan memperhatikan ketinggian air minimum agar kayu selalu dalam
keadaan terendam. Timbunan biasa tidak termasuk tanah lempung dengan
plastisitas tinggi, tidak termasuk bahan organik, dan mempunyai CBR diatas
6%. Timbunan terpilih mempunyai CBR diatas 10% dan PI diatas 6%.
Teknogi lain yang dianjurkan yaitu Tiang Turap Kayu atau Stabilisasi dengan
Cerucuk.
I.

SURVEI TEKNIS
Kegiatan ini merupakan kegiatan kunci dalam perencanaan jalan, karena
survey teknis dilakukan untuk menjamin pemilihan dan penentuan proyek
harus memenuhi kriteria yang disyaratkan, dapat memberikan manfaat yang
diharapkan, dapat dibangun dengan harga seimbang/sesuai, tidak
mempunyai masalah teknis yang berat, dan tidak merusak lingkungan.

Survei teknis yang dianjurkan adalah survey antar patok, karena sistem
tersebut dapat dilakukan tanpa menggunakan alat yang canggih dan tanpa
perhitungan yang rumit. Prinsip dasar dari survey antar patok adalah jalan
dibagi menjadi segmen kecil-kecil, dan survey, perhitungan volume, dan
perhitungan tenaga dicari tiap segmen yang kemudian dijumlahkan untuk
ruas keseluruhan.
Cara mengisi formulir survey antar patok :
1.
o Kabupaten, kecamatan, dan desa; diisi sesuai lokasi proyek
o Bahan, lebar, dan tebal perkerasan; diisi sesuai bahan yang akan
digunakan, lebar jalan termasuk saluran tepi, dan tebal yang
disyaratkan.
o Lebar badan jalan; termasuk bahu kiri dan kanan, tidak termasuk
saluran pinggir
o Panjang jalan; diisi panjang keseluruhan termasuk cabang-cabang
yang akan dikerjakan.
o Dimensi saluran; ukuran lebar dan kedalaman saluran.
o Jenis gorong-gorong; diisi jenis yang akan digunakan pada umumnya.
Bila ada jenis lain di tempat tertentu, harus disebutkan pada kotaknya.
o Nomor patok; penomoran patok dimulai dari Patok 0 dan setiap patok
50 m diberi nomor. Patok harus semipermanen agar bertahan sampai
akhir proyek.
o Jarak antar patok; biasanya 50 m, tetapi boleh kurang bila dirasa perlu,
seperti di lokasi yang ada perubahan arah/ tanjakan/situasinya cukup
besar.
o Jarak komulatif; jarak dari awal proyek. Bila ada cabang dapat dimulai
dari nol lagi.
o Arah trase; perkiraan arah dari patok pertama melihat ke patok kedua.
Ditulis dengan satuan derajat dari utara 0o, timur 90o, dst. Diukur
dengan kompas tangan.
o Tanjakan; persentase tanjakan pada bagian tercuram antara dua
patok. Tanda + digunakan bila jalan naik dari patok pertama, dan
tanda - bila jalan menurun.
o Panjang tanjakan; panjangnya tanjakan yang dicatat diatas. Bila
tanjakan lebih panjang dari satu kotak, kotak tersebut diberi tanda .

o Keadaan sekitar jalan; dicatat keadaan seperti hutan, sawah, lewat


sungai, rawa, dll.
o Keadaan jalan lama; lebar jalan yang sudah ada, apakah pernah
diperkeras.
o Jumlah pohon; jumlah pohon besar yang perlu ditebang untuk
pembangunan.
o Penebasan; rata-rata lebar dan panjang penebasan yang diperlukan,
tidak termasuk bagian yang tidak perlu ditebas seperti jalan lama.
o Pembersihan; rata-rata lebar dan panjang pembersihan / pengupasan
yang diperlukan, termasuk saluran dan dasar timbunan.
o Jenis galian; galian biasa, tanah keras, batu, lumpur, dsb. Bila terdapat
dua atau lebih jenis gaian yang bervolume besar, perlu dicatat data
masing-masing.
o Volume galian; estimasi/perhitungan volume galian antar dua patok
dengan cara rata-rata luas penampang dikalikan panjangnya.
o Volume timbunan; perhitungan volume timbunan antar dua patok.
o Jarak dari sumber timbunan; bila tanah timbunan harus diangkut
dengan jarak lebih dari 50 m ke patok-patok. Kurang dari 50 m tidak
perlu diisi.
o Saluran; diisi jumlah saluran pinggir jalan yang diperlukan. Diisi dengan
KR (kiri saja), KN (kanan saja), 2 (ki-ka), atau 0 (tidak perlu)
o Bangunan yang ada; catatan mengenai gorong-gorong, jembatan, dan
tembok yang sudah ada dan tidak perlu diganti. Dicatat jenis dan
dimensi pokoknya.
o Letak dan jenis bangunan baru; perkiraan jumlah jembatan, goronggorong, atau tembok yang diperlukan, dengan jarak dari patok pertama
(misal +25 m)
o Ukuran banguna baru; ukuran pokok bangunan yang diperlukan diatas.
o Jarak dari sumber_________; tempat disediakan untuk tiga bahan
yang diperlukan. Dicatat bila jarak > 50 m dan diangkut oleh manusia.
Bila diangkut dengan kendaraan meke jarak tidak perlu dicatat.
o Kebutuhan gebalan rumput; dicatat jumlah ruas yang perlu dilindungi
gebalan rumput.
o Jarak dari sumber gebalan; dicatat bila > 50 m saja.

o Sket kondisi tanah asli untuk perencanaan jalan; untuk mencatat


keadaan tanah asli dan perkiraan kebutuhan galian dan atau timbunan.
Pada tiap patok disket potongan memanjang dan melintang jalan pada
titik tersebut, kemudian ditandai bagian galian dan atau timbunan
dengan perkiraan dimensi dan luas penampangnya.