Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam melakukan kegiatan dibantu dengan berbagai organ yang
berkumpul menjadi suatu sistem organ yang bertugas menopang fungsi
aktivitas manusia seperti, sistem pernafasan manusia untuk proses bernafas,
sistem kardiovaskuler untuk membantu proses pemomompaan darah dan
proses aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh dan sebaliknya maupun dari
jantung ke paru-paru dan sebaliknya dan masih banyak sistem organ lain yang
membantu aktivitas tubuh manusia.
Salah satunya adalah sistem pengindraan yang sangat penting fungsinya
sebagai penerima rangsangan tertentu atau juga sering disebut dengan sistem
sensori. Sistem sensori adalah bagian dari sistem saraf yang terdiri dari
reseptor sensori yang menerima rangsangan dari lingkungan eksternal maupun
internal, jalur neural yang yang menyalurkan informasi dari reseptor ke otak
dan bagian otak yang terutama bertugas mengolah informasi tersebut.
Informasi yang diolah oleh sistem sensori mungkin dapat menyadarkan kita
tentang adanya stimulus atau tidak menyadari adanya stimulus tertentu.
Jalannya proses sensori hingga dipersepsikan dimulai dari adanya rangsangan
menuju ke reseptor masuk ke saraf sensori hingga sumsum tulang belakang
dan otak kemudian disalurkan ke saraf motoris dan efektor, maka otak
mengirimkan hasil berupa persepsi. Indra mempunyai sel-sel reseptor khusus
untuk mengenali perubahan lingkungan. Indra yang akan dibahas adalah
pengelihatan,pendengaran, penciuman, dan pengecapan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang didapat :
1. Bagaimanakah pengkajian pada sistem sensori persepsi mata ?
2. Bagaimanakah pengkajian pada sistem sensori persepsi telinga ?
3. Bagaimanakah pengkajian pada sistem sensori persepsi hidung ?
4. Bagaimanakah pengkajian pada sistem sensori persepsi lidah ?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai adalah :
1. Untuk mengetahui pengkajian pada sistem sensori persepsi mata
2. Untuk mengetahui pengkajian pada sistem sensori persepsi telinga
3. Untuk mengetahui pengkajian pada sistem sensori persepsi hidung
1

4. Untuk mengetahui pengkajian pada sistem sensori persepsi lidah


1.4 Sistematika penulisan dari makalah ini adalah :
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengkajian Pada Sistem Sensori Persepsi Mata
Ada tiga bidang pengkajian oftalmik yang ditujukan pada system sensori
persepsi mata, meliputi : pengkajian riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik
oftalmologi, serta diagnostic khusus oftalmologi dan prosedur refraktif.
1. Riwayat kesehatan
Sebelum melakukan pengkajian fisik mata, perawat harus mendapatkan
riwayat oftalmik, medis, dan terapi klien, dimana semuanya berperan
dalam kondisi oftalmik sekarang. Informasi yang harus diperoleh meliputi
informasi mengenai penurunan tajam penglihatan, upaya keamanan, dan
semua hal yang terkait pada alasan melakukan pemeriksaan oftalmik.
a. Riwayat penyakit saat ini
1) Klien ditanya tentang keluhan yang menyebabkan klien meminta
pertolongan pada tim kesehatan.
2) Apakah ada riwayat kecelakaan atau kerja
3) Apakah ada riwayat oftalmik seperti fotofobia, nyeri kepala,
pusing, nyeri okuler atau dahi, mata gatal.
4) Bila ada keluhan nyeri, dikaji sehubungan dengan lokasi, awitan,
durasi, penurunan ketajaman penglihatan, keadaan saat nyeri
timbul, upaya menguranginya dan beratnya.
5) Identifikasi penurunan gangguan tajam

penglihatan

atau

kehilangan medan penglihatan, apakah kondisi tersebut unilateral


atau bilateral.
6) Tanyakan klien apakah pernah menjalani koreksi refraksi dan
pengukuran ketajaman penglihatan.
7) Apakah menggunakan lensa koreksi untuk penglihatan dekat atau
jauh.
8) Asuhan

yang

pernah

diberikan

oleh

spesialis

mata

dan

frekuensinya.
b. Riwayat penyakit dahulu
1) Tanyakan adanya riwayat pembedahan atau adanya pukulan/
benturan pada masa lalu yang menyebabkan keluhan saat ini.

2) Tanyakan tentang adanya kondisi seperti diabetes mellitus,


hipertensi, PMS, anemia sel sabit, AIDS, sklerosis multiple yang
dapat mengenai mata.
3) Tanyakan pada klien tentang penggunaan obat mata yang dijual
bebas ataupun dengan resep yang dipakai.
c. Riwayat psikososial
Pengkajian psikososial terutama penting
menanyakan

pertanyaan

mengenai

bagi

riwayat

perawat

klien,

kita

untuk
harus

memperhitungkan efek keadaan oftalmik terhadap aktivitas klien pada


kehidupan sehari hari dan terhadap pekerjaan. Hal hal yang perlu
dikaji oleh perawat antara lain :
1) Evaluasi gaya hidup klien, jenis pekerjaan, aktivitas hiburan, dan
olahraga.
2) Tanyakan apakah masalah oftalmik yang dilaporkan mengganggu
fungsi yang biasa dilakukan.
3) Kaji bagaimana klien menghadapi masalah tersebut.
4) Tanyakan perasaan klien yang berhubungan dengan gangguan
visual untuk mengkaji keefektifan teknik koping klien.
5) Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya untuk mengetahui
sejauh mana pengetahuan klien tentang masalahnya untuk
pemenuhan edukasi.
2. Pemeriksaan fisik mata
Perawat menggunakan pendekatan sistematis, dari luar ke dalam.
Struktur eksternal mata dan bola mata diperiksa terlebih dahulu, kemudian
diperiksa struktur internal. Teknik yang dipergunakan adalah inspeksi dan
palpasi. Inspeksi dilakuakn dengan instrument oftalmik khusus dan
sumber cahaya. Palpasi dilakukan untuk mengkaji nyeri tekan mata,
deformitas dan untuk mengeluarkan cairan dari puncta, serta mendeteksi
secara kasar tingkat tekanan intra okuler.
a. Postur dan gambaran klien, catat kombinasi pakaian yang tidak lazim,
yang mungkin mengindikasikan colou vision defect. Demikian juga
karakteristik postur yang menarik perhatian seperti mendongakan
kepala yang dapat merupakan tanda sikap kompensasi untuk
memperoleh pandangan yang jelas. Sebagai contoh, klien dengan

double vision dapat mengangkat kepalanya ke satu sisi sebagai usaha


untuk memfokuskan pandanagn menjadi satu (Vaughan, 1999).
b. Kesimetrisan mata, observasi kesimetrisan mata kanan dan kiri. Kaji
kesimetrisan wajah klien untuk melihat apakah kedua mata terletak
pada jarak yang sama. Kaji letak mata pada orbit. Periksa apakh salah
satu mata lebih besar atau menonjol ke depan.
c. Alis dan kelopak mata, aobservasi kuantitas dan penyebaran bulu alis.
Inspeksi kelopak mata, anjurkan pasien melihat ke depan, bansingkan
mata kiri dan kanan, anjurka pasien menutup kedua mata, amati bentuk
dan keadaan kulit dari kedua kelopak mata, serta pinggiran kelopak
mata, catat jika ada kelainan (kemerahan. Perhatikan keluasan mata
dalam membuka, catat adanya droping kelopak mata atas atau sewaktu
membuka (ptosis).
d. Bulu mata, periksa bulu mata untuk posisi dan distribusinya. Selain
berfungsi sebagai pelindung, juga dapat menjadi iritan bagi mata bila
menjadi panjang dan salah arah. Dan hal ini dapat mengakibatkan
iritan pada kornea. Orang yang emnderita depigmentasi abnormal,
albinisme, infeksi kronik, dan penyakit autoimun, bulu mata akan
memutih atau poliosis (Vaughan, 1999).
e. Kelenjar lakrimalis, observasi bagian kelenjar lakrimal dengan cara
meretraksi kelopak mata atas dan menyuruh klien untuk melihat ke
bawah. Kaji adanya edema pada kelenjar lakrimal, perawat dapat
emnekan sakus lakrimalis dekat pangkal hidung untuk memeriksa
adanya obstruksi duktus nasolakrimalis, jika di dalamnya terdapat
peradangan akan keluar cairan pungtum lakrimalis. Punktum
lakrimalis dapat diobservasi dengan cara menarik kelopak mata bawah
secara halus melalui pipi. ( Potter, 2006 ).
f. Konjungtiva dan sclera, sclera dan konjungtiva bulbaris diinspeksi
secara bersama. Jika pada konjungtiva palpebra klien dicurigai
kelainan, palpebra atas and bawah harus dibalik. Palpebra bawah
dibalik denagn cara menarik batas atas kea rah pipi sambil klien
dianjurkan untuk melihat ke atas. ( Brunner, 2002 ). Amati keadaan
konjungtiva, kantong konjungtiva bagian bawah, catat bila ada pus
atau warna tidak normal seperti anemis. Kaji warna sclera, pada
5

keadaan normal berwarna putih. Warna kekuning kuningan dapat


mengindikasikan jaundis/ikterik atau masalah sistemik.
g. Kornea, observasi dengan cara memberikan sinar secara serong dari
beberapa sudut. Korne seharusnya transparan, halus, jernih dan
bersinar. Observasi adanya kekeruhan yang mungkin adalah infiltrate
atau sikatrik akibat trauma atau cedera. Cikatrik kornea dapat berupa
nebula (bercak seperti awan yang hanya dapat dilihat di kamar gelap
dengan cahaya buatan). Macula (bercak putih yang dapat dilihat di
kamar terang) dan leukoma (bercak putih seperti porselen yang dapat
dilihat dari jarak jauh). Jika klien sadar juga dapat dilakukan reflek
berkedip.
h. Pupil, amati warna iris ukuran dan bentuk pupil yang bulat dan teratur.
Pupil yang tidak bulat dan teratur akibat perlengketan iris dengan
lensa/kornea (sinekkia). Lanjutkan pengkajian terhadap reflek cahaya.
Pupil yang normal akan berkontriksi secara reguler dan konsentris,efek
tidak langsung,pupil mengecil pada penyinaran mata disebelahnya.
Reaksi yang lambat atau tidak adanya reaksi dapat terjadi pada kasus
peningkatan tekanan intrakranial (bentuk normal: isokor, pupil yang
mengecil <2mm disebut miosis, amat kecil disebut : pinpoint,
sedangkan yang melebar >5mm disebut midriasis). Nyatakan besarnya
pupil dalam mm (normalnya 2-5mm). Pemeriksaan pupil normal
biasanya didokumentasikan dan disingkat PERRLA : Pupil Equal
Round and Reaktif to Light and Accomodation (pupil seimbang, bulat,
dan bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi).
3. Pengkajian mata diagnostik
a. Pemeriksaan fundus
Pemeriksaan fundus dengan alat yang disebut oftalmoskop yang
mempunyai tujuan untuk memeriksa bagian mata sebelah dalam yang
dinamakan fundus, yang meliputi retina, evaluasi diskus optikus,
pembuluh darah retina, karakteristik retina, area macula, dan humor
vitreus diskus. Tujuannya adalah untuk melihat susunan retina, melihat
warna retina apkah kemungkinan adanya perdarahan, mengamati
pembuluh darah besar, mengamati warna macula (yang normalnya lebih
6

terang dari retina), warna, batas dan pigmentasi diskus optikus


(normalnya berbebtuk melingkar, warna merah muda agak pink, batas
terang dan tetap dengan jumlah pigmen yg bervariasi).
b. Pemeriksaan ketajaman penglihatan (visus)
1) Snellen chart, adalah salah satu dari beberaap alat sederhana yang
digunakan perawat untuk mencatat penglihatan jauh. Tulisan E
atau C adalah yang sering digunakan pada kartu denagn huruf
tunggal. Ketajaman penglihatan diekspresikan dalam rasio yang
membandingkan dengan bagaimana seseorang dengan penglihatan
normal melihat dari jarak 20 kaki dengan yang dilihat klien dari
jarak 20 kaki. Ketajaman penglihatan 20/50 berarti klien dapat
melihat 20 kaki jauhnya, sedangkan orang normal mampu melihat
50 kaki jauhnya. Nilai 20/200 adalah batas kebutaan legal. Klien
seperti ini hanya dapat membaca dengan akurat huruf benar di
2)

baris paling atas kartu Snellen (Vaughan, 1999).


Uji penglihatan dekat, dilakukan pada klien yang mengemukakan
kesulitan membaca dan dan berusia kurang dari 40 tahun. Perawat
dapt memakai Koran dengan berbagai ukuran huruf atau kartu
Jaerger untuk menguji penglihatan. Kartu ini dipegang klien
dengan jarak 35 cm dari mata. Klien diinstruksikan untuk
membaca huruf huruf dalam kartu. Perawat mencatat nilai jaeger
yaitu baris terbawah tempat klien dapat mengindentifikasi lebih
dari setiap karakter. Tajam penglihatan diuji pada tiap mata
(monocular) 0, dan kemudian pada kedua mata secara bersama-

3)

sama (binocular).
Uji hitung jari, dilakukan apabila pasien tidak dapat membaca
huruf terbesar. Perawat dapat menentukan ketajaman dari
penglihatan pasien dengan cara meletakan jari di depan pasien dan
meminta pasien menghitung jari. Jika pasien dapat menghitung
atau melihat jari pemeriksa dari jarak 6 meter, maka visus adalah

4)

6/60 atau jarak 5 meter dengan visus 5/60.


Uji gerak tangan, dilakukan pada pasien yang tidak dapat
menghitung jari. Dapat dilakukan dengan cara menutup salah satu
mata klien dan sinar lampu diarahkan pada tangan perawat.
7

Perawat menunjukan tiga kemungkinan perintah, perintah tersebut


adalah tegak berhenti, kiri ke kanan, dan atas ke bawah. Perawat
menggerakan tangan dengan perlahan dan tanyakan pada klien ke
arah mana tanagn saya sekarang. Jika pasien dapat menjawab 3
dari 5 perintah ketajaman visus adalah 1/300 atau jark terjauh
5)

dimana pasien dapat mengidentifikasi mayoritas perintah gerakan.


Uji persepsi cahaya (light perception), dilakukan pada psien yang
tidak dapat menditeksi gerak tangan. Dilakuakn pada lingkungan
yang gelap, salah satu mata pasien ditutup, arahkan sinar senter
pada mata yang tidak ditutup selama 1 2 detik. Pasien
diintruksikan mengatakan hidup pada saat sinar diterima dan mati
pada saat padam. Jika pasien menjawab benar 3 dari 5 perintah
maka visus adalah LP, dan yang tidak dapt menditeksi disebut Non

Light Perception/ NLP.


c. Pengukuran tekanan okuler
Tonometri adalah cara pengukuran tekanan intra okuler dengan
memakai alat-alat terkalibrasi yang melekukan atau meratakan apeks
kornea. Tonometer adalah alat yang digunakan untuk memeriksa
tekanan intraokuler (TIO). TIO normal adalah 10-21/24 mm Hg.
Tonometri harus dilakukan pada klien berusia 40 tahun. Ada dua jenis
tonometri yang digunakan untuk mengukur TIO yakni tonometer
Schiotz dan tonometer Applanasi (Vaughan,1999).
d. Tonometri Schiozt, mengukur besarnya indentansi kornea yang
dihasilkan oleh beban atau gaya yang telah disiapkan. Makin lunak
mata, makin besar lekukan yang diakibatkan pada kornea.
e. Tonometri Applanasi, adalah satu dari metode yang paling popular dan
akurat untuk pengukuran TIO. Kuantitas kekuatan yang diperlukan
dapat ditentukan. Dapat mengubah dan mengukur besarnya beban yang
diperlukan untuk meratakan apeks kornea dengan beban standar. Makin
tinggi TIO, makin besar beban yang dibutuhkan.
1) Pemeriksaan lapang pandang, menurut beberapa ahli merupakan
suatu pemeriksaan penglihatan perifer. Pemeriksaan medan
penglihatan dapat menghasilkan informasi yang mengungkapkan
lesi di seluruh susunan optikus, mulai dari nervus optikus, khiasma,
8

traktus optikus, traktus genikulo kalkarina pada tingkat lobus


temporal, parietal dan oksipital. Tes konfrontasi, memakai jari
sebagai objek yang harus dilihat di dalam batas medan penglihatan.
Perimeter, alat diagnostic yang berbentuk lengkungan, tes
dilakukan secara monocular. Objek yang dilihat oleh pasien dapat
berwarna dan berukuran kecil atau besar tergantung dari sifat
2)

informasi yang hendak diungkapkan oleh tes perimeter ini.


Uji penglihatan warna, color vision yang normal sangat penting
untuk pekerjaan tertentu. Kurang lebih 8% pria dan 0,5% wanita
mengalami kelainan color vision congenital. Terdapat beberapa
metode yang dapat digunakan untuk menguji color vision
( Vaughan, 1999 ). Alat yang paling sering digunakan adalah
ISHIHARA Chart, yang berisi angka yang tersusun dari titik titik
berwarna, berada dalam lingkaran yang juga tersusun dari titik
titik warna. Uji ini sensitive untuk mendiagnosis buta warna merah
atau hijau, tetapi tidak efektif untuk menditeksi kelainan warna

3)

biru.
Uji otot ekstraokuler, meliputi tiga komponen yaitu corneal light
reflex, the six cardinal position of gaze and cover uncover test.
Ketiganya untuk observasi perawat terhadap paralisme mata dan

kehalusan pergerakan mata. ( Smeltzer, 2002 ).


f. Corneal light reflex, menentukan paralelisme atau kelurusan kedua
mata. Kelemahan otot ekstraokuler dapat menyebabkan deviasi okuler.
g. The six cardinal position of gaze, menggerakan bola mata ke enam arah
utama, yaitu lateral, kanan atas ( temporal ), kanan bawah, kiri klien,
kiri atas, kiri bawah.
1) Diplopia, adalah pandangan ganda, selama transisi dari salah satu
posisi cardinal lirikan, pemeriksa dapat mengetahui adanya salah
2)

satu atu lebih otot ekstraokuler yang gagal berfungsi dengan benar.
Nistagmus, suatu gerakan involunter pada mata secara mendadak
ireguler seperti gerakan lirikanke posisi lateral.

4. Pengkajian sistem sensori persepsi mata bertujuan untuk mengetahui


bentuk dan fungsi mata apakah dalam keadaan normal atau tidak.
Pemeriksaan lainnya bisa dilakukan dengan cara :
a. Inspeksi kelopak mata, bentuk bola mata, konjungtiva, sklera, pupil
bandingkan mata kanan dan kiri
1) bengkak menandakan penyakit jantung, anemia, hipertiroid.
2) benjol (bengkak dengan batas tegas) menandakan tumor.
3) ekstropion (kelopak mata melipat kearah luar), entropion (kelopak
mata melipat kearah dalam) menandakan tumor kelopak mata.
4) pseudoptosis (kelopak sulit terangkat) menandakan edema.
5) ptosis (kelopak mata jatuh) menandakan sinilis.
6) benjolan merah di kelopak mata menandakan hordeolum.
b. Inspeksi iris
1) warna agak putih menandakan atrofi (biasanya pada penderita DM,
lansia).

c.

d.

e.
f.
g.

2) warna kemerahan menandakan iridis.


Inspeksi kornea
1) cincin abu-abu dipinggir luar menandakan arkus sinilis.
2) edema kornea atau keruh atau menebal menandakan infeksi.
3) kornea tampak lembek dan menonjol menandakan keratomalasia.
Inspeksi pupil dan lensa
1) amati pupil : ukuran normal 3-5 mm.
2) amati lensa :
1. jernih menandakan lensa normal.
2. keruh atau warna putih menandakan katarak.
Inspeksi konjungtiva
1) warna pucat menandakan anemia.
2) warna kemerahan atau pus menandakan konjungtivitis atau alergi.
Pemeriksaan buta warna
Pemeriksaan ini di lakukan dengan menggunakan buku ishiharaf.
Pemeriksaan ketajaman penglihatan
Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan kartu snellen atau kartu E
untuk menguji ketajaman mata pasien.
Memakai Kartu Snellen Standar :
1) Pasien harus berdiri sejauh 6 meter dari kartu
2) Jika memakai kacamata, biarkan dipakai terus selama pemeriksaan
3) Pasien diminta untuk menutup satu matanya dengan telapak tangan
dan membaca baris terkecil yang mungki
4) Jika yang dapat ia baca ialah baris 6/60 maka visus mata itu ialah
6/60
5) Berarti bahwa pada jarak 6 meter pasien dapat mebaca apa yang
dapat dibaca orang normal pada jarak 60 m
10

6) Jika pasien pada jarak 6 meter tidak dapat membaca baris 6/60,
maka ia didekatkan pada kartu sampai baris itu terbaca
7) Jika pasien baru dapat membaca pada jarak 1 m, maka tajam
penglihatan pasien ialah 1/60.
2.2 Pengkajian Pada Sistem Sensori Persepsi Telinga
Organ pendengaran terdiri dari telinga eksternal, telinga tengah dan telinga
dalam. Gelombang suara ditransmisikan melalui liang telinga luar yang
menyebabkan membrane timpani bergetar dan mengonduksi gelombang suara
melalui tulang-tulang osikel telinga tengah ke organ sensori telinga dalam.
Kanalis semisirkularis, vestibula, dan koklea, dalam telinga tengah adalah
struktur sensori pendengaran dan keseimbangan.
1. Pengkajian riwayat kesehatan
Adapun pengkajian riwayat kesehatan yang perlu dikaji pada telinga
adalah:
a. Apakah klien mengalami nyeri telinga, gatal, keluar cairan, tinnitus
(telinga berdenging), vertigo, atau perubahan pendengaran dan
perhatikan timbulnya lama serangan.
b. Perhatikan timbulnya factor pemberat dan efek pada aktivitas seharihari.
c. Kaji resiko masalah pendengaran yang bervariasi untuk setiap tingkatan
usia, meliputi hipoksia saat kelahiran, meningitis, berat lahir kurang dari
1500g, riwayat keluarga kehilangan pendengaran, kelainan congenital
dari tengkorak atau wajah, infeksi non bacterial (rubella & herpes) dan
terpajan terus-menerus pada tingkat kebisisngan tingkat tinggi.
d. Kaji apakah klien memakai alat bantu pendengaran.
e. Tanyakan apakah klien pernah mengalami pembedahan atau trauma
telinga.
f. Tentukan keterpajaan klien terhadap bunyi-bunyi keras saat bekerja dan
ketersediaan alat pelindung.
g. Perhatikan perilaku yang menunjukan kehilangan pendengaran.
h. Tanyakan apakah klien minum obat-obatan ototoksik lainnya seperti
aminoglikosida, furosemid, streptomicin atau aspirin dosis tinggi.
i. Tanyakan bagaimana cara klien membersihkan telinga.

2. Pengkajian psikososial

11

Gangguan pendengaran dapat menyebabkan perubahan kepribadian


dan sikap, kemampuan berkomunikasai, kepekaan terhadap lingkungan
bahkan kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Tidak jarang individu
dengan gangguan pendengaran menolak mencari pertolongan medis. Oleh
karena rasa takut bahwa kehilangan pendengaran merupakan tanda usia
lanjut, banyak orang yang menolak menggunakan alat bantu dengar karena
merasa kurang percaya diri. Kelakuan dan sifat asal ini harus
diperhitungkan ketika melakukan penyuluhan pasien yang memerlukan
bantuan pendengaran. Perawat harus ingat bahwa keputusan memakai alat
batu dengar adalah sangat pribadi dan sangat dipengaruhi oleh sikap dan
prilaku orang tersebut.
3. Pendekatan gerontologik
Bersamaan proses penuaan dapat terjadi perubahan dalam telinga
yang kemudian dapat mengarah ke deficit pendengaran. Tanda awal
kehilangan

pendengaran

bias

meliputi

tinnitus,

peningkatan

ketidakmampuan mendengarkan pada pertemuan kelompok, dan perlu


meneraskan volume televise. Smeltzer (2002) menyatakan bahwa 25 %
orang berusia antara 65-74 tahun dan 50% orang berusia di atas 75 tahun
mengalami kesulitan pendengaran. Penyebab tidak diketahui dan ada
hubungan dengan diet, metabolisme, arteriosklerosis, stress dan keturunan
tidak konsisten. Factor lainnya adalah pemajanan sepanjang hidup terhadap
bunyi keras, pemakaian obat-obatan, dan factor psikogenik dan proses
penyakit lainnya seperti diabetes mellitus.
4. Pemeriksaan fisik telinga
Perawat menginspeksi dan memalpasi struktur telinga luar, inspeksi
telinga tengah dengan otoskop dan menguji telinga dalam dengan
mengukur ketajaman pendengaran.
a. Pemeriksaan harus dimulai dengan inspeksi dan palpasi aurikula dan
jaringan sekitarnya. Liang telinga juga harus diperiksa, mula-mula tanda
speculum sebelum memeriksa membrane timpani. Liang telinga tidak
berjalan lurus untuk meluruskannya pada pemeriksaan, pegang aurikula
dan tarik sedikit ke belakang dan keatas pada orang dewasa, dan ke arah
bawah pada bayi.
12

b. Speculum telinga yang dipegang dengan tangan digunakan bersama


dengan suatu kaca kepala dan sumber cahaya. Berdinding tipis dan
berbentuk corong, permukaannya besifat tidak memantulkan serta
tersedia dalam berbagai ukuran. Karena lubang telinga kecil maka
speculum perlu digerakan ke dalam liang telinga untuk dapat melihat
seluruh

membrane

memperbesar

timpani.

Otoskop

bertenaga

pandangan terhadap membrane

baterai

dapat

timpani. Otoskopi

pneumatic dengan mudah menditeksi adanya perforasi membrane


timpani atau cairan dalam telinga tengah.
c. Uji Weber, memanfaatkan konduksi tulang untuk menguji adanya
lateralisasi suara. Sebuah garpu tala dipegang erat pada gagangnya dan
pukulkan pada lutut atau pergelangan tangan pemeriksa, letakan pada
dahi atau gigi pasien. Tanyakan apakah terdengar suara di tengah kepala,
di telinga kanan, atau telinga kiri. Individu dengan pendengaran normal
akan mendengar suara seimbang pada kedua telinga atau terpusat pada
tengah kepala. Bila ada kehilangan pendengarn konduktif (otosklerosis,
otitis media), suara akan jelas terdengar pada sisi yang sakit. Bila terjadi
kehilangan sensorineural, suara akan mengalami lateralisasi ke telinga
yang pendengarannya lebih baik. Uji Webber berfungsi untuk kasus
kehilangan pendengaran unilateral (Smeltzer, 2002).
d. Uji Rinne, gagang garputala yang bergetar diletakan di belakang aurikula
pada tulang mastoid samapi pasien tidak mampu lagi mendengar suara.
Kemudian pindahkan ke dekat telinga sisi yang sama. Telinga normal
masih akan mendengar suara melalui hantaran udara yang menunjukan
konduksi udara belangsung lebih lama dari konduksi tulang. Pada
kehilangan pendengaran konduktif, konduksi tulang akan melebihi
konduksi udara. Kehilangan pendengaran sensorineural memungkinkan
suara dihantarkan melalui udara lebih baik dari tulang, meskipun
keduanya merupakan konduktor yang buruk dan segala suara diterima
seperti sanagt jauh dan lemah.
e. Uji Schwabach, membandingkan hantaran tulang pasien dengan
pemeriksa. pasien diminta melaporkan saat penala bergetar yang
ditempelkan pada mastoidnya tidak lagi dapat didengar. Pada saat itu
13

pemeriksa memindahkan penala ke mastoidnya sendiri dan menghitung


berapa lama ia masih dapat menangkap gelombang bunyi. Uji ini
dikatakan normal bila hanatran tulang pasien dan pemeriksa hampir
sama. Uji ini dikatakan memanjang atau meningkat bila hantaran tulang
pasien lebih lama dibandingkan pemeriksa, misalnya pada kasus
kehilangan pendengarn konduktif. Dan dikatakan memendek jika
pemeriksa masih bias mendengar penala setelah pasien tidak lagi
mendengar.
5. Pengkajian diagnostik
Pengkajian diagnostik yang sering dilakukan adalah audiometric dan
timfanometri. Terutama dilakukan pada pasien yang mempunyai riwayat
penurunan fungsi pendengaran.
a. Audiometric , ada dua macam yaitu :
1) Audiometric nada murni, dimana stimulus suara terdiri dari nada
murni atau music (semakin keras nada sebelum pasien bisa
mendengar berarti semakin besar kehilangan pendengaran).
2) Audiometric wicara, dimana kata yang diucapakan digunakan untuk
menentukan kemampuan mendengar dan membedakan suara
Audiogram dapat membedakan kehilangan pendengarn konduktif
maupun sensorineural. Pemeriksa memakai earphone dan sinyal
mengenai nada yang didengarkan. Agar hasilnya lebih akurat evaluasi
audiometric dilakukan pada ruang kedap suara. Respon yang dihasilkan
dicatat dalam bentuk grafik yang dinamakan audiogram.
b. Timpanografi atau audiometric impedans, mengukur reflek otot telinga
tengah terhadap stimulus suara, selain kelenturan membrane timpani,
dengan mengubah tekanan udara dalam kanalis telinga yang tertutup.
Kelenturan akan berkurang pada penyakit telinga tengah.
6. Pengkajian sistem sensori persepsi telinga bertujuan untuk mengetahui
bentuk dan fungsi telinga apakah dalam keadaan normal atau tidak.
Pemeriksaan lainnya bisa dilakukan dengan :
a. Inspeksi
14

Diperhatikan posisi, warna, ukuran, bentuk, kesimetrisan, seluruh


permukaan dan lateral.
b. Palpasi
Palpasi daun telinga : tekstur, nyeri, pembengkakan.
c. Pemeriksaan dengan otoskopik
Dengan menggunakan bantuan alat lihat kanalis dan membran timpani
1) Warna kemerahan, bau busuk, bengkak menandakan infeksi.
2) Warna kebiruan dan kerucut menandakan adanya tumpukan darah
dibelakang gendang.
3) Apakah kemungkinaan gendang mengalami robekan.
d. Pemeriksaan ketajaman pendengaran
1) Tutup satu kanalis eksternus dengan menekan tragus
2) Berbisik ke telinga lainnya
3) Sembunyikan mulut : menghindari pembacaan gerak bibir oleh
pasien
4) Bisikkan kata seperti park, dark, day dream pada telinga yang
tidak ditutup dan apakah pasien dapat mendengarnya.
5) Diulang pada telinga yang lain
6) Menanyakan pasien apakah dapat mendengar jam berdetik di dekat
telinga.
7) Ada 2 uji : Uji Rinne dan Uji Weber
a) Uji Rinne
- Membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang
- Pemeriksa memukulkan garputala 512 Hz pada telapak
-

tangannya dan meletakkan tangkainya pada ujung mastoid


Pasien ditanya apakah ia mendengar bunyinya dan diminta

untuk memberitahukan kapan ia tidak mendengarnya lagi


Kalau pasien sudah tidak mendengarnya, gigi garputala yang
sedang bergetar diletakkan di depan meatus auditorius
eksternus telinga yang sama, dan pasien ditanya apakah ia

masih mendengarnya.
Normal : Hantaran udara lebih baik dari hantaran tulang.
Positif : Pasien akan dapat mendengar garputala pada meatus
auditorius eksternus setelah tidak dapat mendengarnya lagi

pada ujung mastoid


b) Uji weber
Menguji kemampuan pendengaran telinga kanan dan kiri
dengan menggunakan garputala dengan hasil:
- normal : suara terdengar seimbang
- tuli kondusif : suara akan lebih jelas terdengar pada bagian
telinga yang sakit
15

tuli sensorineural : suara akan lebih jelas pada bagian telinga


yang lebih baik

2.3 Pengkajian pada Sistem Sensori Persepsi Hidung


1. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering terjadi pada hidung adalah sumbatan hidung,
secret di hidung, bersin, rasa nyeri di daerah muka dan kepala, perdarahan
dari hidung, gangguan penghidu ( berkurangnya / hilangnya penciuman)
2. Pemeriksaan Umum
Inspeksi :
a. Bentuk hidung dari luar (apakah terdapat cacat bawaan, trauma atau
tumor)
b. Warna hidung (kemerahan pada infeksi atau hematom)
c. Pembengkakan (furunkel, trauma atau emfisema)
Palpasi :
Apakah terdapat nyeri tekan sinus paranasal
3. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi dan palpasi
Cara inspeksi dan palpasi hidung bagian luar serta palpasi sinus sinus.
1) Duduk menghadapi pasien.
2) Atur penerangan dan amati hidung bagian luar dari sisi depan,
samping, dan atas. Perhatikan bentuk atau tulang hidung dari keriga
sisi ini
3) Amati warna dan pembekakan pada kulit hidung.
4) Amati kesimetrisan lubang hidung
5) Lanjutkan dengan melakukan palpasi hidung luar dan catat bila
ditemukan ketidaknormalan kulit atau tulang hidung
6) Kaji mobilitas septum nasal.
7) Palpasi sinus maksilaris, frontalis, dan etmoidalis. Perhatikan adanya
nyeri tekan.
Untuk dapat melakukan inspeksi hidung bagian dalam, ada berapa yang
diperlukan antara lain otoskop, speculum hidung, cermin kecil, dan lampu.
Cara inspeksi hidung bagian dalam:
1) Duduk menghadap pasien
2) Pasang lampu kepala
3) Atur lampu sehingga tepat menerangi lubang hidung.
4) Elevasikan ujung hidung pasien dengan cara menekan menekan
hidung secara lembut dengan ibu jari anda, kemudian amati bagian
anterior lubang hidung.
5) Amati posisi septum nasi dan kemungkinan adanya perfusi
16

6) Amati bagian konka nasalis inferior


7) Pasang ujung speculum hidung pada lubang hidung sehingga rongga
hidung dapat diamati
8) Untuk memudahkan pengamatan pada dasar hidung atau posisi
kepala sedikit menegada
9) Dorong kepala menengadah sehingga bagian atas rongga hidung
mudah di amati
10) Amati benruk dan posisi septum, kartilago, dan dinding dinding
rongga hidung (warna, sekresi, bengkak)
11) Bila sudah selesai lepas speculum secara perlahan lahan.
2.4 Pengkajian pada Sistem Sensori Persepsi Lidah
a. Pemeriksaan otot lidah dalam keadaan :
1) Diam : bilamana terdapat parese/paralyse sisi kiri, maka lidah akan
deviasi ke kanan yaitu ke sisi sehat karena pada lidah yang
parese/paralyse tonusnya menurun atau tidak mempunyai tonus
2) Bergerak : yaitu dengan menjulurkan lidah, pada parese/paralyse kiri,
maka lidah akan deviasi ke kiri karena pada sisi lesi tidak ada kontraksi
(disini bukan tonus yang berpengaruh, tapi kekuatan kontraksi)
Cara memeriksa ; penderita disuruh menekankan lidah pada sisi bagian
dalam pipi, sedangkan pemeriksa menahannya dengan jari tangan pada
sisi luarnya, kekuatan lidah menekan pada pipi tersebut dibandingkan
kiri dan kanan
b. Pemeriksaan fisik
Lidah memberikan gambaran kelainan yang objektif dan mudah
terlihat.kelainan yang terjadi dan komplikasinya, kadang-kadang sangat
membingungkan.Tetapi pada hampir semua kasus,pemeriksaan lidah dapat
menunjukkan gangguan pokok yang menjdi dasar penyebab itu.
1) Warna lidah
Warna lidah yang normal adalah merah muda, namun sering kali warna
lidah seseorang tidak merah muda,warna patologis yang sering
diobsevasi adalah pucat,merah,merah tua,merah keunguan,dan biru.
a) Pucat : Jika warna lidah anda pucat itu menunjukkan adanya
sirkulasi atau produksi darah yang tidak baik.karena terkait dengan
sirkulasi

udara,kemungkinan

terjadi

masalah

dengan

hati

anda,pasalnya salah satu fungsi hati adalah sebagai filter darah.

17

b) Kekuningan : Jika warna lidah anda kekuningan,berarti ada infeksi


bekteri,baik dari dalam tubuh maupun luar tubuh,jika warna
kekuningan menuju kehijauan berarti infeksi bakterinya semakin
parah
c) Merah : Jika lidah anda berwarna merah, itu menandakan adanya
panas dalam,jika warna merah hanya ada pada ujung lidah,itu
menandakan adanya panas pada jantung anda.jika warna merah
hanya ada pada sisi lidah,baik sisi kanan maupun kiri,itu
menunjukkan adanya panas dalam hati atau kandung empedu.Jika
warna merahnya lebih tua maka penyakitnya sudah parah.
d) Ungu : Jika warna lidah anda ungu,itu menunjukkan adanya statis
darah atau darah tidak lancar.warna ungu disini ada 2 yaitu merah
ungu dan biru ungu.Merah ungu adalah kelanjutan lidah merah dan
berati adanya panas dan statis darah,Biru ungu adalah kelanjutan
lidah pucat,berati adanya dingin dan statis darah pada penderita.
e) Biru : Jika lidah berwarna biru,berati terjadi keadaan yang sama
dengan jika lidah anda berwarna biru keunguan,yakni adanya dingi
dan statis darah namun kondisinya lebih parah.
2) Bentuk Lidah
Bentuk lidah memberi indikasi keadaan darah dalam tubuh.bentuk lidah
yang ideal adalah yang sesuai dengan bentuk rahang,artinya berada
dalam lengkung rahang yang sempurna,dan memiliki bentuk yang tidak
terlalu tebal namun juga tidak terlalu tipis.idealnya sekitar 1
cm.Dibawah ini beberapa bentuk lidah yang tidak normal:
a) Tipis : Jika lidah berbentuk tipis,apalagi disertai warna pucat,itu
menunjukkan

adanya

defiensi

(kekurangan)

darah.hal

itu

berhubungan dengan hati,semakin tipis bentuk lidah,berarti semakin


menahun penyakit yang anda derita.
b) Tebal : Jika bentuk lidah tebal,itu menunjukkan sirkulasi dalam
tubuh tidak normal,sirkulasi ini meliputi,sirkulasi air,nutrisi dan
darah.Jadi jika ketika lidah berbentuk tebal,kemungkinan ada
masalah pada ginjal,limpa dan hati anda.

18

c) Kaku : Jika lidah anda kaku,itu menunjukkan adanya angin dalam


tubuh.karena bagian dalam tubuh kemasukan angin,maka itu
menyebabkan lidah menjdi kaku.
d) Panjang : Jika lidah anda panjang,berarti ada kecenderungan panas
dalam tubuh,terutama didalam jantung,sebaliknya jika lidah
berbentuk pendek dan disertai warna pucat itu menendakan adanya
dingin dalam.
e) Retak : Jika retak-retak transversal menunjukkan defiensi
lambung,bila

retak-retak

pertengahan,berarti

adanya

terdapat

pada

defiensi

sisi

menahun

lidah
pada

didekat
limpa

anda.Retak memanjang pada garius tengah yang mendekati ujung


lidah,berati adanya gangguan pada jantung.
3) Pemeriksaan pada Lidah
Sebagian besar, lidah tersusun atas otot rangka yang terlekat pada
tulang hyoideus, tulang rahang bawah dan processus styloideus di
tulang pelipis. Terdapat dua jenis otot pada lidah yaitu otot ekstrinsik
dan intrinsik.
Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan yang
disebut papila. Terdapat tiga jenis papila yaitu:
1. papila filiformis (fili=benang); berbentuk seperti benang halus;
2. papila cirkumvalata (sirkum=bulat); berbentuk bulat, tersusun
3.

seperti huruf V di belakang lidah;


papila fungiformis (fungi=jamur); berbentuk seperti jamur.
Terdapat satu jenis papila yang tidak terdapat pada manusia, yakni

papila folliata pada hewan pengerat.


Tunas pengecap adalah bagian pengecap yang ada di pinggir papila,
terdiri dari dua sel yaitu sel penyokong dan sel pengecap. Sel pengecap
berfungsi sebagai reseptor, sedangkan sel penyokong berfungsi untuk
menopang.
Permukaan dorsal lidah paling mudah diinspeksi dengan cara
menginstruksikan pada pasien untuk menjulurkan lidah ke arah kaudal
(dagu). Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara
memegang dengan tangan dilapisi kasa spon 2x2. Permukaan dorsal
lidah dilapisi dengan papila filiform yang seperti rambut. Tersebar

19

diantara papilla filiform adalah papilla fungiform yang berbentuk jamur,


dan tiap-tiapnya mengandung satu atau lebih kuncup rasa.
Papilla circumvallata terletak pada perbatasan dua-pertiga anterior
lidah dengan sepertiga posterior lidah. Papilla ini biasanya berjumlah 812 dan teratur pada pola bentuk V. Seperti papilla fungiform, papilla
circumvallata mempunyai sejumlah kuncup rasa. Papilla filiform
kadang-kadang memanjang (hairy tongue) dan sisa makanan dapat
menyangkut padanya hal ini dapat mengarah pada halitosis. Papila
memanjang dapat juga menyebabkan sensasi pada palatum menjadi
tidak nyaman dan dapat mengacu pada perasaan ingin muntah.
Pembentukan fisur pada permukaan dorsal lidah ditemukan pada
anomali trisomi 21; adanya fisur pada lidah tidak mempunyai
signifikansi klinis pada sebagian besar kasus.
Atropi permukaan dorsal lidah dapat disebabkan oleh beberapa hal.
Defisiensi nutrisi menurut sejarah telah dikaitkan dengan atrofi
permukaan dorsal lidah; manifestasi oral penyakit mukokutan juga
sering menjadi penyebab yang mendasari. Selain ketidaknyamanan,
pasien kadang melaporkan adanya perubahan sensasi rasa atau
kehilangan persepsi rasa sama sekali.
Sisi lateral lidah dapat diperiksa dengan cara menjepit lidah dengan
kasa, menarik lidah dan kemudian memutarnya ke lateral. Sisi lateral
lidah tidak dilapisi dengan sejumlah papila. Mukosa lateral lidah lebih
eritematus dan makin ke posterior, fisur-fisur vertikal makin jelas
terlihat. Sekumpulan jaringan berwarna dengan protuberansia dapat
ditemukan pada dasar lidah. Jaringan limfe accesori (tonsila lingualis)
adalah komponen dari cincin Waldeyer dan dapat membesar jika terjadi
infeksi ataupun inflamasi.
Permukaan ventral lidah paling mudah diperiksan dengan
menginstruksikan pasien menyentuh langit-langit mulut dengan
lidahnya. Pembuluh darah sublingual biasanya nampak jelas, terutama
pada individu yang lebih tua. Plica sublingualis yang berbentuk daun
pakis dapat diinspeksi dengan cara memanjangkan permukaan ventral
lidah. Dasar mulut, mirip dengan mukosa bukal, berwarna pink-salmon.

20

Muara glandula submandibular (ductus Wharton) tampak sebagai


sepasang papila pada midline pada sisi lateral frenulum lingualis
4) Kelainan pada Lidah
Kelainan yang terjadi pada lidah manusia adalah sebagai berikut.
Diantaranya adalah :
a) Glositis, atau peradangan lidah. Bisa akut ataupun kronis dengan
gejala berupa adanya ulkus dan lender yang menutupi lidah.
Peradangan ini biasa timbul pada pasien yang mengalami gangguan
pencernaan ataupun infeksi pada gigi. Lidah lembek dan pucat,
dengan bekas bekas gigitan pada pinggirnya. Biasanya, glositis
kronis menghilang, apabila kesehatan badan membaik dan
memelihara higien mulut yang baik.
b) Lekoplakia, ditandai oleh adanya bercak bercak putih yang tebal
pada permukaan lidah (juga pada selaput lender pipi dan gusi). Hal
ini biasanya terlihat pada perokok.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Ada tiga bidang pengkajian oftalmik yang ditujukan pada system sensori
persepsi mata, meliputi : pengkajian riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik
oftalmologi, serta diagnostic khusus oftalmologi dan prosedur refraktif. Pada
pengkajian organ telinga perawat melakukan inspeksi dan palpasi struktur
telinga luar, inspeksi telinga tengah dengan otoskop dan menguji telinga
dalam dengan mengukur ketajaman pendengaran.
21

Pada pengkajian hidung dilakuakan denga cara inspeksi dan palpasi


hidung bagian luar dan dalam serta palpasi sinus sinus. Kemudian pada
lidah pemeriksaan lidah yang sering dilakukan yaitu pemeriksaan warna lidah,
bentuk lidah, dan sebagainya.
3.2 Saran
Diharapakan
tenaga
kesehatan
khususnya
perawat
mampu
melakukan/melaksanakan pengkajian pada sistem penginderaan dengan teliti
serta baik dan benar .

DAFTAR PUSTAKA
Boies, 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta : EGC.
Budhiastra, Putu, dkk. 2001. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Mata.
Denpasar : FK UNUD
Desy, Utik. 2013. Pengkajian Sensori Persepsi Mata dan Telinga. Available on :
https://www.scribd.com/doc/169307889/Pengkajian-Sensori-PersepsiMata-Telinga. Diakses pada tanggal 19 Maret 2015.
Dwi Restuti, Ratna,dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, Kepala & Leher
Edisi Keenam. Jakarta : FKUI
Guna. 2013. Pengkajian pada Sistem Penginderaan. Available on:
https://www.scribd.com/doc/118438082/Pengkajian-Fisik-Pada-SistemPenginderaan-Tht. Diakses pada tanggal 19 Maret 2015..
22

Hamzah. 2013. Pengkajian pada Sistem Penginderaan. Available on:


https://www.academia.edu/3687580/PENGKAJIAN_PADA_SISTEM_PE
NGINDRAAN_PADA_MATA_DAN_TELINGA. Diakses pada tanggal 19
Maret 2015.
Ilham. 2012. Pengkajian Fisik pada Sistem Penginderaan. Available on:
https://www.scribd.com/doc/118438082/Pengkajian-Fisik-Pada-SistemPenginderaan-Tht. Diakses pada tanggal 19 Maret 2015
Ilyas, S. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Kara. 2012. Pengkajian Sensori Persepsi Mata dan Telinga. Available on:
https://www.scribd.com/doc/169307889/Pengkajian-Sensori-PersepsiMata-Telinga. Diakses pada tanggal 19 Maret 2015

23