Anda di halaman 1dari 20

Tugas Makalah Mandiri

DIAZEPAM
Disusun Guna Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian
Ilmu Farmasi Kedokteran

Oleh :
Erwin Christianto
I1A008080

Universitas Lambung Mangkurat


Fakultas Kedokteran
Bagian Farmakologi/ Farmasi
Banjarbaru
April, 2013
0

BAB I
PENDAHULUAN

Diazepam merupakan obat yang sering digunakan sebagai terapi lini


pertama untuk penatalaksanaan kejang, terutama kejang demam dan status
epileptikus. Diazepam adalah turunan dari benzodiazepine yang merupakan
sedatif yang berhubungan erat dengan depresi sistem saraf pusat. Obat ini
merupakan obat standar terhadap benzodiazepin lainnya. Diazepam dan
benzodiazepin lainnya bekerja dengan meningkatkan efek GABA (gamma
aminobutyric acid) di otak. GABA adalah neurotransmitter (suatu senyawa
yang digunakan oleh sel saraf untuk saling berkomunikasi) yang menghambat
aktifitas di otak.1,11
Diazepam termasuk obat psikotropika yang penggunaannya tidak bisa
sembarangan dan harus dengan resep dokter. Diazepam merupakan obat
dengan kelas terapi antiansietas, antikonvulsan, dan sedatif. Digunakan pada
pengobatan agitasi, tremor, delirium, kejang, dan halusinasi akibat alkohol.
Dalam mengatasi kejang, diazepam dapat dikombinasikan dengan obatobatan lain. Diazepam dimetabolisme di hati dan di eksresikan di ginjal.2
Sifat diazepam tidak larut dalam air dan harus berdisosiasi pada pelarut
organik (propylene, glycol, sodium benzoat), rasa sakit mungkin muncul pada
pemberian intramuskuler ataupun pada pemberian intravena. Penggunannya
harus mendapat perhatian terutama pada pasien yang memiliki masalah pada
1

penyakit

pernapasan,

kelemahan

otot/

mystenia

gravis,

riwayat

ketergantungan obat, kelainan kepribadian yang jelas, hamil dan menyusui.2,3


Diazepam juga memiliki berbagai efek samping dari yang ringan
sampai berat, interaksi obat perlu perhatian bagi kalangan medis dan
penggunanya.
Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai obat antikonvulsan
diazepam meliputi deskripsi, sifat kimia, farmakodinamik, aktivitas dan
mekanisme kerja, dosis dan cara pemberian, bentuk sediaan dan nama
dagang, indikasi klinis, efek samping, kontraindikasi, interaksi obat dan
stabilisas penyimpanannya dengan tujuan memberikan informasi kepada
pembaca.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DESKRIPSI
Diazepam adalah obat turunan dari benzodiazepine dengan rumus molekul
7-kloro-1,3- dihidro- 1- metil- 5- fenil- 2H- 1,4- benzodiazepin- 2- one
(C6H13N2CLO) dengan berat molekul 284,7 g/mol yang bersifat basa. Merupakan
senyawa kristal tidak berwarna atau agak kekuningan yang tidak larut dalam air.
Benzodiazepin adalah sedative yang berhubungan erat dengan depresi sistem saraf
pusat. Benzodiazepin berguna untuk terapi kecemasan, insomnia, kejang, dan
spasme otot.1,5

Gambar 1. Struktur kimiawi diazepam5

Secara umum senyawa aktif benzodiazepine dibagi kedalam empat


kategori berdasarkan waktu paruh eliminasinya, yaitu :4,11
1. Benzodiazepin ultra short-acting
2. Benzodiazepin short-acting, dengan waktu paruh kurang dari 6 jam. Termasuk
di dalamnya triazolam, zolpidem dan zopiclone.
3. Benzodiazepin intermediate-acting, dengan waktu paruh 6 hingga 24 jam.
Termasuk di dalamnya estazolam dan temazepam.
4. Benzodiazepin long-acting, dengan waktu paruh lebih dari 24 jam. Termasuk
di dalamnya flurazepam, diazepam dan quazepam.

B. AKTIVITAS DAN MEKANISME KERJA


Kerja utama diazepam yaitu potensiasi inhibisi neuron dengan asam
gamma-aminobutirat (GABA) sebagai mediator pada sistem syaraf pusat
Diazepam berikatan dengan reseptor-reseptor stereospesifik benzodiazepin di
neuron postsinaptik GABA pada beberapa sisi di dalam sistem syaraf pusat
(SSP).1,4
Diazepam

meningkatkan

penghambatan

efektifitas

GABA

dalam

menghasilkan rangsangan dengan meningkatkan permeabilitas membran terhadap


ion klorida. Perubahan ini mengakibatkan ion klorida berada dalam bentuk
terhiperpolarisasi (bentuk kurang aktif / kurang memberikan rangsangan) dan
stabil. 4
4

Diazepam diabsorpsi dengan cepat secara lengkap setelah pemberian


peroral dan puncak konsentrasi dalam plasmanya dicapai pada menit ke 15-90
pada dewasa dan menit ke-30 pada anak-anak. Bioavailabilitas obat dalam bentuk
sediaan tablet adalah 100%. Range waktu paruh diazepam antara 20-100 jam
dengan rata-rata waktu paruh nya adalah 30 jam.1,5
Diazepam secara cepat terdistribusi dalam tubuh karena bersifat lipidsoluble, volume distribusinya 1,1L/kg, dengan tingkat pengikatan pada albumin
dalam plasma sebesar (98-99%) menyebabkan efeknya sangat singkat. Oleh
karena itu, antikonvulsan dengan lama kerja lebih panjang seperti fenitoin atau
fenobarbital harus segera diberikan setelah diazepam. Onset diazepam jika
diberikan secara iv adalah 1-5 menit dan jika secara im 15-30 menit, sedangkan
durasinya mulai 15 menit sampai 1 hari.7,11,12
Metabolisme utama diazepam berada di hepar, menghasilkan tiga
metabolit aktif. Enzim utama yang digunakan dalam metabolisme diazepam
adalah CYP2C19 dan CYP3A4. N-Desmetildiazepam (nordiazepam) merupakan
salah satu metabolit yang memiliki efek farmakologis yang sama dengan
diazepam, dimana t1/2-nya lebih panjang yaitu antara 30-200 jam. Ketika diazepam
dimetabolisme oleh enzim CYP2C19 menjadi nordiazepam, terjadilah proses Ndealkilasi. 4,7,8
Pada fase eliminasi baik pada terapi dosis tunggal maupun multi dosis,
konsentrasi N-Desmetildiazepam dalam plasma lebih tinggi dari diazepam sendiri.
N-Desmetildiazepam dengan bantuan enzim CYP3A4 diubah menjadi oxazepam,
5

suatu metabolit aktif yang dieliminasi dari tubuh melalui proses glukuronidasi.
Oxazepam memiliki estimasi t1/2 antara 5-15 jam. Metabolit yang ketiga adalah
Temazepam dengan estimasi t1/2 antara 10-20 jam. Temazepam dimetabolisme
dengan bantuan enzim CYP3A4 dan CYP 3A5 serta mengalami konjugasi dengan
asam glukuronat sebelum dieliminasi dari tubuh. 1,2,7
Gambar 3. Jalur metabolisme diazepam2
Diazepam memiliki konsentrasi plasma yang berkorelasi buruk dengan
respon terapi, hal ini berhubungan dengan metabolit aktif yang dimiliki.

Konsentrasi obat dalam plasma dalam kadar tertentu dapat menyebabkan efek
yang buruk pada respon terapinya. Sebab kadar yang terlalu tinggi yang melewati
kadar terapeutik, maka yang didapat bukanlah efek terapi yang diinginkan
melainkan efek toksik yang didapat. Hal tersebut disebabkan oleh : 1,4,7
1) adanya metabolit aktif yang sifatnya lebih toksik dibandingkan obat asalnya;
2) kualitas yang menyangkut dengan struktur kimianya
3) toleransi dan resistensi yang didapat oleh masing-masing individu
6

4) terapi dengan single dose


5) durasi terhadap intensitas exposure
6) waktu tertundanya onset obat tersebut
C. INDIKASI
Diazepam diindikasikan untuk mengatasi status epileptikus, kejang
demam, kejang akibat keracunan, premedikasi, sedasi pada amnesia, serta
digunakan bersama-sama dengan anestesi lokal.3,5
D. KONTRAINDIKASI
Pemberian diazepam harus dihindarkan untuk pasien dengan depresi
napas, kelemahan neuromuskular pada saluran napas termasuk unstable
myastenia gravis, insufiensi paru akut, sindroma sleep apnea,gangguan hepar
berat, tidak boleh digunakan secara tunggal pada depresi atau pada kecemasan
yang disertai depresi.3,6
E. BENTUK SEDIAAN
Formulasi diazepam yang tersedia dipasaran adalah tablet (2 mg, 5 mg, 10
mg), kapsul (15 mg), liquid solusi (1 mg / ml dalam 500 ml kontainer dan unitdosis (5 mg & 10 mg); 5 mg / ml dalam30 ml botol penetes), solusio untuk IV/IM
injeksi (5 mg / ml ), solusi rectal, supositoria (5 mg dan 10 mg), rektal tube.1,3,6
F. NAMA DAGANG

Dindonesia terdapat beragam sediaan nama dagang untuk diazepam,


diantaranya adalah :3,6

Diazepam (generic) tablet 2 mg, 5 mg


Lovium (Phapros) tablet 2 mg, 5 mg
7

o
o
o
o

Menthalium (Soho) tablet 2 mg, 5 mg, 10 mg


Paralium (Prafa) cairan injeksi 5 mg/5ml
Stesolid (Dumex Alpharma Indonesia)
Cairan injeksi 10 mg/2ml,
Enema: 5 mg/ 2,5ml, 10mg/2,5 mL
Sirup: 2mg/ 5ml
Tablet: 2 mg, 5 mg
Trankison (Combiphar), tablet 2 mg, 5 mg
Valium (Roche Indonesia) cairan injeksi 5 mg/5ml, tablet 2 mg, 5 mg
Validex (Dexa Medica), tablet 2 mg, 5 mg
Valisanbe (Sanbe), tablet 2 mg, 5 mg
Valdimex (Mesifarma TM), cairan injeksi 10 mg/2ml, tablet 5 mg

G. DOSIS DAN CARA PEMBERIAN

Dosis dan cara pemberian ditujukan sesuai dengan terapi apa yang
hendak diberikan, seperti:3,7,8

Premedikasi,Per oral 2 jam sebelum pembedahan, dewasa dan anak diatas


12 tahun, 5-10mg

Sedasi, dengan infuse intravena lambat segera sebelum prosedur, dewasa


dan anak > 12 tahun, 200 mikrogram/kg

Status epileptikus atau kejang epilepsi berulang , dengan injeksi intravena


lambat (dengan kecepatan rata-rata 5mg/menit), dewasa 10-20 mg, diulang
jika perlu setelah 30-60 menit; dapat diikuti dengan infuse intravena samapai
maksimal 3mg/kg dalam 24 jam; dengan injeksi intravena lambat, anak 200300 mikrogram/kg (atau 1 mg / tahun usia); melalui larutan per rectal, dewasa
dan anak lebih dari 10 kg, 500 mikrogram/kg, lansia 250 mikrogram/kg;
diulang jika perlu setiap 12 jam; jika kejang tidak terkontrol maka tindakan
lain harus dilakukan
8

Kejang demam (tindakan yang dianjurkan), per rectal, larutan (larutan


injeksi dapat digunakan), anak >10 kg, 500 mikrogram/kg (maksimal 10 mg),
dengan dosis dapat diulang jika perlu

Kejang demam ( alternatif), dengan injeksi intravena lambat, anak 200300 mikrogram/kg (atau 1 mg/ tahun usia)

Reaksi putus obat atau putus alkohol, injeksi inravena lambat (rata-rata
5mg/menit), dewasa 10 mg; dosis lebih tinggi dapat dibutuhkan tergantung
derajat beratnya gejala

Kejang akibat keracunan, injeksi intravena lambat ( rata-rata 5mg/menit),


dewasa 10-20 mg

Ansietas, per oral, dewasa 2 mg 3 x sehari dapat ditingkatkan jika perlu


menjadi 15-30 mg sehari dengan dosis terbagi; lansia (atau kondisi berat)
setengah dosis dewasa

Insomnia, per oral, dewasa 5-15 mg saat tidur

Untuk premedikasi, absorpsi setelah pemberian suntik intramuscular


lambat dan tidak konstan; intramuscular diberikan hanya jika pemberian per oral
dan intravena tidak mungkin dilakukan. Injeksi intravena lambat di dalam vena
besar mengurangi risiko tromboflebitis. Pemberian per rectal dengan dosis 0,5-1
mg/kgBB diazepam untuk bayi dan anak di bawah 11 tahun dapat menghasilkan
kadar 500 g/ml dalam waktu 2-6 menit. Bagi anak yang lebih besar dan orang
9

dewasa pemberian rectal tidak bermanfaat untuk mengatasi kejang akut ataupun
status epileptikus, karena kadar puncak lambat tercapai dan kadar plasmanya
rendah (absorbsinya terlalu lambat).3,4
Berdasarkan penelitian Sreenath et al, penggunan monoterapi lorazepam
lebih baik dan dianjurkan sebagai terapi status epilepticus daripada terapi
kombinasi diazepam-fenitoin, karena dilaporkan keefektivitasannya yang hampir
sama. Penggunaan monoterapi juga menurunkan efek samping yang kurang baik
bagi pasien.8

H. EFEK SAMPING
Efek pada sistem saraf pusat sering terjadi termasuk mengantuk, kepala
terasa ringan pada hari berikutnya, kebingungan dan ataksia (terutama pada lanjut
usia); amnesia; ketergantungan; peningkatan pada agresi; kelemahan otot;
terkadang : sakit kepala, vertigo, gangguan saluran cerna, gangguan penglihatan,
disartria, tremor, perubahan libido, inkotinensia, retensi urin; gangguan darah dan
kuning/jaundice; reaksi kulit; peningkatan enzim hati, terasa nyeri dan
tromboemboli pada injeksi intravena.6,9,11
I. PERINGATAN
Hal-hal yang harus diperhatikan dan menjadi peringatan diantaranya:1,3,9

10

menghindari penggunaan pada pasien dengan gangguan napas, myastnia


gravis, penyalahgunaan obat atau

alkohol, gangguan kepribadian berat,

hamil, menyusui.

menurunkan dosis pada lansia, ganguan hepar (hindari jika berat) dan
gangguan ginjal.

menghindari pemakaian jangka pajang dan putus obat mendadak setelahnya.

Jika diberikan parenteral harus dipantau ketat

Apabila diberikan secara intravena, maka alat pencegah depresi napas dengan
ventilasi mekanis harus disiapkan
Diazepam diekskresikan melalui air susu dan dapat menembus barier

plasenta, karena itu penggunaan untuk ibu hamil dan menyusui sebisa mungkin
dihindari.

Di dalam tubuh embrio bahan metabolit tersebut berpotensi

menginhibisi neuron, meningkatkan pH di dalam sel, dapat bersifat toksik.


Dengan terinhibisinya neuron maka akan terganggu pula transfer neurotransmiter
untuk hormon-hormon pertumbuhan, sehingga mengakibatkan pertumbuhan
embrio yang lambat. Dengan pH yang tinggi mengakibatkan sel tidak dapat
tereksitasi, sehingga kerja hormon pertumbuhan juga terganggu yang akhirnya
pertumbuhan janin juga terganggu. Pada trimester pertama masa kehamilan
merupakan periode kritis maka bahan teratogen yang bersifat toksik akan
mempengaruhi pertumbuhan embrio, bahkan dapat mengakibatkan kematian
janin.1,2

11

Diazepam ini tidak boleh digunakan dalam jangka waktu yang panjang
(tidak boleh lebih dari 3 bulan), karena berakibat buruk bagi tubuh penderita. Hal
ini mungkin dapat disebabkan karena waktu paruh diazepam yang cukup panjang,
ditambah lagi waktu paruh N-Desmetildiazepam yang lebih panjang yaitu, 2 kali
waktu paruh Diazepam. Hal ini berarti setelah konsentrasi diazepam dalam tubuh
habis untuk menghasilkan efek, masih dapat dihasilkan efek bahkan sebesar 2
kalinya yang diperoleh dari N-Desmetildiazepam sebagai metabolit aktif
diazepam. Ditambah lagi persentase metabolit yang terikat protein dalam plasma
(97%), lebih sedikit daripada prosentase diazepam yang terikat protein plasma
(98%-99%). Oleh karena itu penggunaan diazepam dalam terapi pengobatan harus
ekstra berhati-hati, yaitu perlu dipertimbangkan adanya efek yang ditimbulkan
oleh metabolit aktif.4,7

K. INTERAKSI OBAT
Ada banyak sekali adendum yang terjadi antara diazepam dengan obat,
makanan atau zat lainnya yang efeknya harus menjadi perhatian bagi kalangan
medis dan penggunanya. Interaksi yang diuraikan dibawah adalah interaksi yang
terjadi secara farmakokinetik dan farmakodinamik. Adapun interaksi-interaksi
diazepam dengan berbagi obat/zat/makanan antara lain yaitu:1,3,7,10

Kombinasi diazepam dengan alcohol, anestesi, obat antidepresan, obat


antipsikosis, obat tidur dan barbiturate dapat meningkatkan efek samping
seperti mengantuk, kebingungan, atau kesulitan bernapas.
12

Kombinasi diazepam dengan jus anggur

dapat meningkatkan kadar

diazepam dalam darah sehingga meningkatkan efek samping dari diazepam.

Clearence benzodiazepine dikurangi jika digunakan bersama dengan


Cimetidin atau Omeprazol, dan akan meningkat jika digunakan dengan
Rifamfisin.

Metabolisme diazepam dihambat oleh isoniazid, dan dipecepat oleh


rifamfisin.

Kadar plasma diazepam mungkin ditingkatkan oleh ritonavir.

ACE inhibitor dapat meningkatkan efek hipotensif saat ansiolitik dan


hipnotik diberikan degnan ACE inhibitor

Penyekat neuron adrenergic dapat eningkatkan efek hipotensif saat


ansiolitik dan hipnotik diberikan dengan penyekat neuron adrenergic

Alkohol dapat meningkatkan efek sedasi saat ansiolitik dan hipnotik


diberikan dengan alcohol

Penyekat alfa dapat meningkatkan efek hipotensi dan sedasi saat ansiolitik
dan hipnotik diberikan dengan penyekat alfa

Anastesi umum dapat meningkatkan efek hipotensi dan sedasi saat


ansiolitik dan hipnotik diberikan dengan anastesi umum

Analgesik dapat meningkatkan efek sedasi saat ansiolitik dan hipnotik


diberikan dengan analgesik opioid

Angiotensin II reseptor antagonis dapat meningkatkan efek hipotensi saat


ansiolitik dan hipnotik diberikan dengan angiotensin II reseptor antagonis

13

Antibakterial rifampisin dapat meningkatkan metabolisme diazepam,


mengurangi konsentrasi dalam darah, sedangkan metabolisme diazepam
dihambat oleh isoniazid

Antikoagulan Chloral dan triclofos dapat meningkatkan sementara efek


antikoagulan dari koumarin.

Diazepam dapat meningkatkan atau menurunkan kadar fenitoin dalam


darah dengan saling mempengaruhi farmakokinetiknya, dimana fenitoin dalam
mekanisme

kerjanya

mengeliminasi

CYP2C19

sedangkan

diazepam

menghasilkan metabolit aktif CYP2C19.

Diazepam dalam darah mungkin ditingkatkan oleh valproat sehingga


meningkatkan risiko efek samping.

Antihistamin dapat meningkatkan efek sedasi saat ansiolitik dan hipnotik


diberikan dengan antihistamin

Antipsikotik dapat meningkatkan efek sedasi saat ansiolitik dan hipnotik

Antiviral dapat meningkatkan risiko sedasi lebih lama dan depresi napas
(saat alprazolam, clonazepam, diazepam, flurazepam, atau midazolam
diberikan bersama fosamprenavir; ritonavir, nelfinavir dan indinavir)

Barbiturate/ fenobarbital dapat mengurangi kadar diazepam dalam darah

Penyekat beta dapat meningkatkan efek hipotensif saat ansiolitik dan


hipnotik

Penyekat kanal kalsium dapat meningkatkan efek hipotensif saat ansiolitik


dan hipnotik

14

Diazoxide dapat meningkatkan efek hipotensif saat ansiolitik dan hipnotik

Disulfiram menghambat metabolism benzodiazepine, meningkatkan efek


sedasi dan meningkatkan risiko toksisitas tenazepam;

Diuretik dapat meningkatkan efek hipotensif saat ansiolitik dan hipnotik

Benzodiazepine mungkin melawan efek levodopa

Lofexidine, Metildopa, Moxonidine, Pelemas otot (baclofen atau


tizanidine), Nitrat dapat meningkatkan efek sedasi saat ansiolitik dan hipnotik

Estrogen bersama diazepam meningkatka kadar melatonin dalam darah

Esomeprazole dan omeprazole mungkin menghambat metabolisme


diazepam, meningkatkan kadar dalam darah.

Antihipertensi

vasodilator

(hidralazin,

minoxidil,

atau

sodium

nitropruside) dapat meningkatkan efek hipotensif saat ansiolitik dan hipnotik.


J. STABILITAS PENYIMPANAN
Untuk menjaga kestabilisan sediaan diazepam maka penyimpanan
dilakukan dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus cahaya. Untuk sediaan
parenteral lindungi dari cahaya. Khasiat obat bertahan sampai 3 bulan bila
disimpan dalam suhu kamar (20-250), stabil pada pH 4-8, terjadi hidrolisis jika
pH kurang dari 3 dan jangan campur sediaan i.v dengan obat lain. Untuk sediaan
rectal gel penyimpanan yang baik pada suhu 25C (15C - 30C) dan sediaan
tablet pada suhu 15C - 30C.1,5

15

BAB III
PENUTUP

Diazepam adalah turunan dari benzodiazepine yang merupakan sedatif yang


berhubungan erat dengan depresi sistem saraf pusat, bekerja dengan
meningkatkan efek GABA (gamma aminobutyric acid) di otak. . Diazepam
merupakan obat dengan kelas terapi antiansietas, antikonvulsan, dan sedatif.
Diazepam bersifat lipid-soluble, dengan onset cepat, jika diberikan secara
IV adalah 1-5 menit dan IM 15-30 menit, sedangkan durasinya mulai 15 menit
sampai 1 hari. Diazepam dimetabolisme di hati dan di eksresikan di ginjal.
Pemberian diazepam harus dihindarkan untuk pasien dengan depresi napas,
kelemahan neuromuskular pada saluran napas , sindroma sleep apnea,gangguan
hepar berat, tidak boleh digunakan secara tunggal pada depresi.
Formulasi yang tersedia adalah tablet, kapsul, liquid, solusio untuk IV/IM
injeksi, solusi rectal, supositoria dan memiliki nama dagang yang banyak
diantaranya Valium, Lovium, Menthalium, Paralium. Stesolid dan banyak lagi.
Efek samping penggunaan diazepam terdapat pada sistem saraf pusat,
saluran cerna, saluran pernafasan dan sebagainya. Penggunaannya harus hati-hati
dan hanya boleh diresepkan oleh dokter karena efek samping yang banyak, kadar
terapeutik yang harus dengan monitoring serta interaksinya yang juga harus
sangat di perhatikan.

16

17

DAFTAR PUSTAKA

1.

Couper FJ, Logan BK. Diazepam in Drugs and Human


Performance Fact Sheets (electronic version). Washington DC, National
Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), 2004.

2. Katzung, Betram G. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Jakarta: Salemba


Medika, 2002.

3.

Tim Penyusun. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta :


Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) Republik Indonesia, 2008.

4. Gunawan SG. Farmakologi Dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Bagian Farmakologi


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007.

5. Anonymous. Diazepam. Diunduh dari URL http://wikipedia.org.id pada


tanggal 16 Juli 2010.

6.

Tim Editor. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 9. Jakarta :


Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia), 2009.

7.

Alfred Goodman Gilman. Goodman & Gilmans the


Pharmacological Basis of Therapeutics 11th Edition (electronic version). New
York, Mc-Graw Hill Medical Publishing Division, 2006.

18

8.

Sreenath TG, Gupta P, Sharma KK, Krishnamurthy S. Lorazepam


versus diazepam-phenytoin combination in the treatment of convulsive status
epilepticus in children: a randomized controlled trial. Eur J Paediatr Neurol.
2010 Mar;14(2):162-8.

9.

Prasad K, Al-Roomi K, Krishnan PR. Anticonvulsant therapy for


status epilepticus. Br J Clin Pharmacol, 2005;63(6):640.

10.

Murphy A. Phenytoin diazepam interaction. The Annals of


Pharmacotherapy: 2003: 37(5); h. 659-63.

11.

Platt SR, Mc Donnell JJ. Status epilepticus: Patien Management


and Pharmacologic Therapy. Compendium, 2000; 22(8):1-7.

12.

Lawn ND, Wijdicks EFM. Status epilepticus: A critical review of


management options. Neurol J Southeast Asia 2002; 7 : 47 59.

19