Anda di halaman 1dari 3

#1.

Manusia sebagai makhluk berbudaya


Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas,
sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang
dan diwariskan dari generasi ke generasi
Jadi ,
Manusia sebagai Makhluk Berbudaya berarti manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dari
makhluk makhluk lain yang diciptakan di muka bumi ini yaitu manusia memiliki akal yang dapat
dipergunakan untuk menghasilkan ide dan gagasan yang selalu berkembang seiring dengan berjalannya
waktu. Oleh karena itu manusia harus menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan
kepemimpinannya di muka bumi disamping tanggung jawab dan etika moral harus dimiliki, menciptakan
nilai kebaikan, kebenaran, keadilan dan tanggung jawab agar bermakna bagi kemanusiaan. Selain itu
manusia juga harus mendayagunakan akal budi untuk menciptakan kebahagiaan bagi semua makhluk
Tuhan di muka bumi ini.

#2. Pengertian etika menurut k. Bertens


K. Bertens berpendapat bahwa arti kata etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut dapat lebih
dipertajam dan susunan atau urutannya lebih baik dibalik, karena arti kata ke-3 lebih mendasar daripada
arti kata ke-1. Sehingga arti dan susunannya menjadi seperti berikut :

a. nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur
tingkah lakunya.

Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama Budha, etika Protestan dan
sebagainya, maka yang dimaksudkan etika di sini bukan etika sebagai ilmu melainkan etika sebagai
sistem nilai. Sistem nilai ini bias berfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial.

b. kumpulan asas atau nilai moral.

Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik

c. ilmu tentang yang baik atau buruk.

Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang
dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan sering kali tanpa disadari
menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya dengan
filsafat moral

#3. Dua macam / jenis-jenis etika dan bagannya

#4. Dua sifat etika dan tiga fungsinya


Sifat etika :
a) Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan
yang salah harus mendapat sanksi
b) Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul
dari kesadaran dirinya
Fungsinya ;
a)Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan, santun, dan dengan etika kita bisa di cap sebagai
orang baik di dalam masyarakat
b)Dengan etika seseorang atau kelompok dapat menegemukakan penilaian tentang perilaku manusia
c)Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang

#5. Persamaan dan perbedaan etika dan etiket


Menurut K.Bertens dari etika dan etiket adalah sama-sama mengatur perilaku manusia secara normatif,
artinya memberikan pedoman atau norma-norma tertentu tentang bagaimana seharusnya seseorang itu
melakukan perbuatan dan tidak melakukan suatu perbuatan.

Selain persamaan tersebut, Bertens menyebutkan bahwa ada empat perbedaan antara etika dan etiket,
yaitu:

1)Etika memberi norma tentang suatu perbuatan, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai
pertimbangan baik buruknya. Etiket menyangkut cara untuk melakukan perbuatan benar sesuai dengan
yang diharapkan.

2)Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul dari
kesadaran dirinya. Etiket adalah formalitas (lahiriah), tampak dari sikap luarnya penuh dengan sopan
santun dan kebaikan.

3)Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan
yang salah harus mendapat sanksi.Etiket bersifat relatif, yaitu yang dianggap tidak sopan dalam suatu
kebudayaan daerah tertentu, tetapi belum tentu di tempat daerah lainnya.

4)Berlakunya sebuah Etika tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir. Etiket hanya
berlaku, jika ada orang lain yang hadir, dan jika tidak ada orang lain maka etiket itu tidak berlaku.