Anda di halaman 1dari 5

Patofisiologi Osteomyelitis Kronis

Infeksi terjadi ketika mikroorganisme masuk melalui darah, secara langsung dari
benda
benda yang terinfeksi atau luka tembus. Trauma, iskemia dan benda asing
dapat
meningkatkan risiko invasi mikroorganisme ke tulang melalui bagian yang
terpapar
sehingga organisme tersebut lebih mudah menempel. Pada daerah infeksi
fagosit datang
mengatasi infeksi dari bakteri tersebut, namun dalam waktu yang bersamaan
fagosit
juga mengeluarkan enzim yang dapat mengakibatkan tulang menjadi lisis.
Bakteri dapat
lolos dari proses tersebut dan akhirnya menempel pada bagian tulang yang lisis
dengan
cara masuk dan menetap pada osteoblas dan membungkus diri dengan
protective
polysaccharide-rich biofilm. 5 Jika tidak dirawat tekanan intramedular akan
meningkat
4
dan eksudat menyebar sepanjang korteks metafisis yang tipis mengakibatkan
timbulnya
abses subperiosteal. Abses subperiosteal dapat meningkat dan menyebar pada
bagian
tulang yang lain 6
Pus dapat menyebar melalui pembuluh darah, mengakibatkan peningkatan
tekanan intraosseus dan gangguan pada aliran darah.5 Hal ini dapat
mengakibatkan
timbulnya trombosis. 4 Nekrosis tulang mengakibatkan hilangnya peredaran
darah
periosteal. 6 Nekrosis pada segmen besar tulang mengakibatkan timbulnya
sequestrum.
Sequestra ini memuat bagian infeksius yang mengelilingi bagian tulang yang
sklerotik

yang biasanya tidak mengandung pembuluh darah. Kanal haversian diblok oleh
jaringan
parut dan tulang dikelilingi oleh bagian periosteum yang menebal dan jaringan
parut
otot.4 Sequestra merupakan muara dari mikroorganisme dan mengakibatkan
timbulnya
gejala infeksi. Abses juga dapat keluar dari kulit membentuk sinus.6 Sinus
kemungkinan
tertutup selama beberapa minggu atau bulan memberikan gambaran
penyembuhan,
dapat terbuka (atau muncul di tempat lain) ketika tekanan jaringan meningkat.7
Antibiotik tidak dapat menembus bagian yang avaskular dan tidak efektif dalam
mengatasi infeksi.4
Terbentuknya formasi tulang baru (involucrum) secara bersamaan karena
periosteum berusaha untuk membentuk dinding atau menyerap fragmen
sequestra dan
membentuk stabilitas tulang baru.4 Involucrum memiliki morfologi yang
bervariasi dan
memiliki reaksi periosteal yang agresif yang dapat mengakibatkan timbulnya
keganasan.6 Jika respon periosteal minimal, hilangnya segmen tulang secara
fokal
maupun segmental tidak dapat dihindarkan. Sequestra secara dapat diserap
sebagian
maupun penuh sebagai akibat dari respon inang atau tergabung dalam
involucrum.6,7
5
Gambaran morfologis dari osteomyelitis kronis adalah adanya bagian tulang
yang nekrosis ditandai dengan tidak adanya osteosit yang hidup. Kebanyakan
mengandung sel mononuklear, granula dan jaringan fibrosa menggantikan
tulang yang
diserap oleh osteoklas. Jika diwarnai beberapa macam organisme dapat
ditemukan.6,7
Terdapat risiko munculnya artritis septik pada daerah dimana metafisis terdapat

pada bagian intrartikular (proksimal femur, proksimal radius, proksimal


humerus, distal
fibula). Risiko meningkat pada anak anak berusia kurang dari 2 tahun sebagai
akibat
dari uniknya aspek pembuluh darah pada anak anak. Pembuluh darah metafisis
dan
epifisis berhubungan sampai sekitar umur 12 -18 tahun dimana fisis berperan
sebagai
perisai mekanik terhadap penyebaran infeksi.6,7
Cierny dan Mader (1990) membagi osteomyelitis kronis menjadi empat tipe
penyakit anatomik (1-4) dan tiga kategori fisiologis (A,B, dan C). Pembagian ini
dibuat
berdasarkan keadaan inang, keadaan anatomi tulang, faktor terapi dan faktor
prognosis
(tabel 1 dan 2).
Inang dibagi menjadi A, B dan C. Inang kelas A adalah pasien dengan
karakteristik fisiologis, metabolik dan imunologis normal. Inang B adalah
terganggu
secara lokal, sistematis ataupun keduanya. Tujuan utama terapi pada inang B
adalah
untuk menghilangkan faktor pengganggu yang membedakannya dari inang A.
Akhirnya
inang C adalah pasien dengan terapi infeksi tulang lebih parah dari infeksi itu
sendiri
atau seseorang yang sangat sakit sehingga dengan tindakan operatif pun tidak
memungkinkan.8

PATHOPHYSIOLOGY.
Infeksi pada osteomyelitis dapat terjadi lokal atau dapat menyebar melalui
periosteum, korteks, sumsum tulang, dan jaringan retikular. Jenis bakteri bevariasi
berdasarkan pada umur pasien dan mekanisme dari infeksi itu sendiri.
Terdapat dua kategori dari osteomyelitis akut:

Hematogenous osteomyelitis, infeksi disebabkan bakteri melalui darah. Acute


hematogenous osteomyelitis, infeksi akut pada tulang disebabkan bekteri yang berasal
dari sumber infeksi lain. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak. Bagian yang
sering terkena infeksi adalah bagian yang sedang bertumbuh pesat dan bagian yang
kaya akan vaskularisasi dari metaphysis. Pembuluh darah yang membelok dengan
sudut yang tajam pada distal metaphysis membuat aliran darah melambat dan
menimbulkan endapan dan trombus, tulang itu sendiri akan mengalami nekrosis lokal
dan akan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri. Mula-mula terdapat fokus
infeksi didaerah metafisis, lalu terjadi hiperemia dan udem. Karena tulang bukan
jaringan yang bisa berekspansi maka tekanan dalam tulang ini menyebabkan nyeri
lokal yang sangat hebat.
Infeksi dapat pecah ke subperiost, kemudian menembus subkutis dan menyebar

menjadi selulitis atau menjalar melalui rongga subperiost ke diafisis. Infeksi juga dapat pecah
kebagian tulang diafisis melalui kanalis medularis.
Penjalaran subperiostal kearah diafisis akan merusak pembuluh darah yang kearah diafisis,
sehingga menyebabkan nekrosis tulang yang disebut sekuester. Periost akan membentuk
tulang baru yang menyelubungi tulang baru yang disebut involukrum (pembungkus). Tulang
yang sering terkena adalah tulang panjang yaitu tulang femur, diikuti oleh tibia, humerus
,radius , ulna, dan fibula.
2

Direct or contigous inoculation osteomyelitis disebabkan kontak langsung antara


jaringan tulang dengan bakteri, biasa terjadi karena trauma terbuka dan tindakan
pembedahan. Manisfestasinya terlokalisasi dari pada hematogenous osteomyelitis.

Kategori tambahan lainnya adalah chronic osteomyelitis dan osteomyelitis sekunder yang
disebabkan oleh penyakit vaskular perifer.
Osteomyelitis sering menyertai penyakit lain seperti diabetes melitus, sickel cell disease,
AIDS, IV drug abuse, alkoholism, penggunaan steroid yang berkepanjangan,
immunosuppresan dan penyakit sendi yang kronik. Pemakaian prosthetic adalah salah satu
faktor resiko, begitu juga dengan pembedahan ortopedi dan fraktur terbuka.
Rasio antara pria dan wanita 2 :1.
Patofisiologi
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme
patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan
Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram
negatif dan anaerobik.

Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama
(akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau
infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan
setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran
hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial

terhadap infeksi

adalah

salah

satu

dari

inflamasi,

peningkatan

Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi
pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan
dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya,
kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus
dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya
terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya,
jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga
tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak.
Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi
meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang
tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan
osteomielitis tipe kronik.