Anda di halaman 1dari 5

DEFINISI

ALERGI

Alergi merupakan respon abnormal dari sistem kekebalan tubuh, yaitu tubuh hiperproduksi IgE spesifik yang akan melekat pada sel mast dan sel mast akan merespon dengan melepaskan histamin. Histamin akan melebarkan pembuluh darah sehingga terjadi maldistribusi volume sirkulasi yang berakhir pada hipoksia jaringan. Alergi dapat dihasilkan dari persentuhan kulit dengan substansi kimia yang bersifat antigen.

GEJALA KLINIS

Gejala dari alergi dimulai dari gejala ringan, sedang hingga berat. Gejala ringan terjadi antara hitungan menit hingga 1 jam setelah pemberian alergen. Gejalan ringan dapat berupa kesemutan perifer, sesak di tenggorokan, bersin dadn mata berair. Gejala sedang terjadi antara 1- 24 jam, gejala sedang meliputi dari gejala ringan dan disertai gejala tambahan seperti bronkospasma, edema jalan nafas, disphnea, mengi dan wajah kemerahan. Selanjutnya apabila gejala sedang tidak segera dilakukan tindakan, gejala akan menjadi berat. Akan terjadi disfagia, keram pada abdomen, mual dan muntah. Apabila alergi tidak dilakukan tindakan dengan segera, akan terjadi komplikasi seperti henti jantung, koma hingga kematian karena gagal nafas dan aritmia ventrikel. Gejala klinis pada rongga mulut pasien alergi obat dapat berupa Stomatitis Alergika atau dapat disebut Mukositis Alergika yang merupakan hasil dari reaksi hipersensitivitas tipe I oral terhadap obat yang digunakan secara sistemik. Manifestasi oral dari lepuh bervariasi dan mungkin secara klinis mirip dengan eritema multiformis, lichen planus, atau lupus eritematosus. Secara intraoral biasanya tampak jelas daerah merah kering yang mengkilat. Daerah-daerah putih dapat ada disekitarnya. Akan terjadi pembentukan vesikel yang pecah dan membentuk ulkus

yang tertutup fibrin. Dapat terjadi pada mukosa pipi, gingival, bibir, lidah, ataupun melibatkan seluruh rongga mulut.

yang tertutup fibrin. Dapat terjadi pada mukosa pipi, gingival, bibir, lidah, ataupun melibatkan seluruh rongga mulut.

Gambar 1. Stomatitis Alergika

Gejala klinis lainnya juga data berupa Stomatitis Kontak (stomatitis venenata) yang dapat terjadi pada daerah mukosa intraoral manapun. Reaksi alergi dapat melibatkan eritema dan rasa terbakar (burning sensation) pada daerah yang berkontak dengan antigen. Dapat disebabkan dari alergi antiseptik, tablet isap antibiotik, anestetik topikal, preparat eugenol, maupun obat kumur. Reaksi alergi ini dapat terjadi secara lambat dan mencapai tingkat maksimumnya 24 sampai 48 jam setelah pemajanan antigen.

yang tertutup fibrin. Dapat terjadi pada mukosa pipi, gingival, bibir, lidah, ataupun melibatkan seluruh rongga mulut.

PEMERIKSAAN

ANAMNESA

Gambar 2. Stomatitis Kontak

Anamnesa sangat dibutuhkan untuk mengetahui pasien apakah memiliki alergi terhadap obat-obatan yang akan digunakan dalam perawatan kedokteran gigi.

Untuk pasien anak, dapat ditanyakan keterangan tentang riwayat kesehatan pada orang tuanya. Untuk mengetahui pasien apakah memiliki alergi terhadap obat, dapat ditanyakan :

Riwayat pemakaian obat masa lalu dan apakah ada reaksi alergi.

Apabila ada reaksi alergi, tanyakan lama waktu yang diperlukan mulai dari

pemakaian obat sampai timbulnya gejala. *) Karena terkadang gejala alergi obat baru timbul 7 – 10 hari setelah

pemakaian pertama, namun memang apabila terjadi reaksi anafilaksis gejala akan timbul dengan segera. Tanyakan lama pemakaian serta riwayat obat-obatan yang digunakan

sebelumnya. *) Karena alergi obat sering timbul apabila obat diberikan secara berselang-

seling, berulang-ulang, serta dosis yang tinggi secara parenteral. Tanyakan juga apakah ada obat yang menimbulkan alergi pada saat

dikonsumsi dan hilang gejala alergi apabila obat tersebut dihentikan pemakaiannya.

PEMERIKSAAN PENUNJANG PEMERIKSAAN IN VIVO 1. Uji Kulit

Uji kulit dilakukan dengan kontak sejumlah kecil alergen pada kulit pasien yang alergi. Jika hasil uji kulit positif, akan timbul reaksi wheal, gatal, dan kemerahan pada kulit. Reaksi kemerahan kulit ini akan mencapai puncak pada 20 menit dan akan mereda setelah 20-30 menit. Terdapat 3 cara untuk melakukan uji kulit, yaitu cara intradermal, uji tusuk (skin prick test / SPT), dan uji gores (stratch test). Uji kulit intradermal : dengan menyuntikkan 0.01 – 0.02 ml ekstrak alergen ke dalam lapisan derms sehingga timbul gelembung berdiameter 3 mm. Dimulai dari konsentrasi terendah yg menimbulkan reaksi sampai konsentrasi 10 kali lipat sampai menimbulkan reaksi.

Uji tusuk (skin prick test / SPT) : dengan meletakkan setetes ekstrak alergen dalam gliserin dan diletakkan pada permukaan kulit. Lokasi terbaik adalah daerah volar lengan bawah dengan jarak minimal 2 cm dari lipat siku dan pergelangan tangan. Lalu lapisan superficial kulit ditusuk dan dicungkit keatas dengan jarum khusus uji tusuk. Hasil positif apabila wheal yang terbentuk >2 mm. Uji gores (stratch test) : sudah banyak ditinggalkan karena kurang akurat.

2. Uji Provokasi

Uji provokasi digunakan untuk memastikan diagnosis alergi obat, tetapi merupakan prosedur diagnostic yang terbatas karena mengandung resiko yang berbahaya berupa reaksi anafilaksis. Maka dari itu, uji ini kontraindikasi untuk reaksi alergi yang berat (seperti : anafilaksis, sindroma steven Johnson, dermatitis eksfoliatif, kelainan hematologi, dan eritema vesikobulosa). Uji ini harus dilakukan pada tempat yang memiliki fasilitas dan tenaga yang memadai.

PENATALAKSANAAN DALAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK

Apabila pada saat anamnesa pasien dicurigai adanya alergi terhadap antibiotik (seperti : Penicillin), dapat dibuktikan dengan uji kulit secara hati-hati. Lalu apabila terbukti, dokter gigi dapat memilih antibiotik secara selektif dengan memberikan antibiotik dengan potensi alergi yang rendah (seperti : lebih memilih Eritromycin daripada Penicillin).

ANAFILAKSIS UMUM

Reaksi anafilaksis merupakan reaksi alergi berat dengan resiko kematian apabila parah, sehingga keadaan ini membutuhkan terapi yang segera. Pertama dapat dilakukan perbaikan jalan nafas pasien dengan memberikan terapi oksigen. Selanjutnya dapat diberikan Aquoeus Ephinephrin 1 : 1000 0.2 – 0.5 ml secara subkutan dan diulangi per 15 menit apabila dibutuhkan.

Apabila reaksi anafilaksis terjadi dengan cepat setelah injeksi suatu obat, maka tourniquet harus dipasang proksimal dari tempat injeksi dan injeksikan Aquoeus Ephinephrin 1 : 1000 0.2 ml pada tempat injeksi sebelumnya untuk memperlambat absorbs obat yg diinjeksikan sebelumnya. Serta selalu memantau tekanan darah dan denyut jantung pasien.

SUMBER :

Langlais, Robert P., Miller, Craig S. 1998. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim. Jakarta : Hipokrates.

Rose, Louis F. , Kaye, Donald. 1997. Buku Ajar Penyakit Dalam Untuk Kedokteran Gigi Jilid I, Edisi 2. Jakarta : Binarupa Aksara.

Sudewi, Ni Putu. dkk. 2009. Berbagai Teknik Pemeriksaan Untuk Menegakkan Diagnosis Penyakit Alergi. Sari Pediatri, 11 (3) : 174-178.

Sudoyo, Aru W. dkk. 2009. Ilmu Penyakit Dalam Volume 2 : Edisi 5. Jakarta : EGC.