Anda di halaman 1dari 25

KAJIAN KETERLAMBATAN PENGADAAN JASA KONSULTANSI

PROYEK PRASARANA JALAN DENGAN DANA


PINJAMAN LUAR NEGERI

TESIS
Karya tulis sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Magister dari
Institut Teknologi Bandung

Oleh

BENI FARIATI HMR


NIM: 250 02 104

PROGRAM PASCASARJANA
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
BIDANG MANAJEMEN DAN REKAYASA KONSTRUKSI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2005

KAJIAN KETERLAMBATAN PENGADAAN JASA KONSULTANSI


PROYEK PRASARANA JALAN DENGAN DANA
PINJAMAN LUAR NEGERI

Nama : Beni Fariati HMR


NIM : 250 02 104

Menyetujui,
Pembimbing

Ir. Reini D. Wirahadikusumah, MSCE, Ph.D.

Dunia dibangun oleh penguasa yang adil, profesional yang


jujur, ilmuwan yang berintegritas, hartawan yang pemurah,
dan kaum lemah yang rajin berdoa.
(Alhadis)

Untuk kedua orangtuaku yang tercinta

ABSTRAK

KAJIAN KETERLAMBATAN PENGADAAN JASA KONSULTANSI


PROYEK PRASARANA JALAN DENGAN DANA
PINJAMAN LUAR NEGERI
Oleh
Beni Fariati HMR
Departemen Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung

Pelaksanaan pengadaan jasa konsultansi dengan dana pinjaman telah mempunyai


aturan yang jelas yaitu pedoman Bank sebagai pegangan pelaksanaan pengadaan
jasa konsultansi dan petunjuk pelaksanaannya (juklak) yang dikeluarkan oleh
pemerintah pusat. Namun kenyataannya keterlambatan proses pengadaan jasa
konsultansi dengan sistem pelelangan masih tetap terjadi di daerah hingga
mencapai 100%. Sebagai contoh adalah keterlambatan pengadaan jasa konsultansi
proyek EIRTP-1 untuk pekerjaan desain dan supervisi tahun anggaran 2001/03.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengantisipasi keterlambatan pelaksanaan
proses pengadaan jasa konsultansi agar tidak terulang di masa yang akan datang
dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan pengadaan
jasa konsultansi proyek prasarana jalan dan merekomendasi perbaikan terhadap
proses pengadaan jasa konsultansi dengan dana pinjaman luar negeri.
Identifikasi faktor-faktor keterlambatan pengadaan jasa konsultansi meliputi
proses persiapan pengadaan sampai dengan penandatangan kontrak. Hal ini
berdasarkan 26 tahapan Bank Dunia yang menghasilkan lima faktor utama
penyebab keterlambatan yaitu umum, peraturan, mekanisme pelelangan, sumber
daya manusia, dan pemaketan proyek.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan survei berupa penyebaran kuesioner
kepada 45 responden yang melaksanakan pengadaan EIRTP-1. Hasil survei
menunjukkan bahwa dari 29 faktor keterlambatan yang teridentifikasi terdapat
enam faktor keterlambatan kritis yang dapat digunakan sebagai salah satu strategi
proyek untuk perbaikan pengadaan dan dimanfaatkan untuk konsep peningkatan
pengelolaan manajemen pengadaan di lingkungan proyek.
Kata kunci: Faktor keterlambatan kritis, implementasi pengadaan, pelaku
pelaksana di daerah, pusat, bank.

ABSTRACT
STUDY ON CONSULTANT PROCUREMENT DELAY IN
INFRASTRUCTURE FINANCED BY LOAN
By
Beni Fariati HMR
Department of Civil Engineering
Bandung Institute of Technology

The implementation of procurement for consultant services financed by loan has a


clear regulation, that is the Bank Guidelines which serve as a basis for the
implementation of procurement for consultant services and its terms of reference
[juklak] established by the Government of the Republic of Indonesia. Even
though, in practice, there were still some delays in the process of consultant
service procurement that applies tender system in the local level, amounting to
100%. For an example is the delay in consultant service procurement for the
EIRTP-1 Project in design and supervision for the fiscal year 2001/03.
This research is aimed at anticipating any delay in the process of consultant
service procurement in order to prevent the recurrence of such practice in the
future by identifying factors which bring about in the delay in consultant service
procurement for road development projects and providing recommendations to
improve the process of consultant service procurement financed by foreign loans.
The identification of factors of the delay in consultant service procurement covers
a process starting from procurement preparation to contract signing. It is based on
the World Bank's 26 Stages which indicates five main factors causing the delay,
namely general, regulation, tender mechanism, human resources and project
packaging.
This research is carried out by using a survey method in which questionnaire
distributed to 45 respondents who were involved in the procurement of the
EIRTP-1 Project. The result of the survey shows that there are six critical delay
factors out of 29 delay factors identified which could be used as one of the project
strategies to improve the procurement process and as a concept for improvement
in handling projects' procurement management.
Keywords: critical delay factor, procurement implementation, executing agency
at local and central government levels as well as the Bank.

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayah-Nya
yang selalu dilimpahkan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Penulisan tesis ini merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan Bidang
Studi Manajemen Rekayasa Konstruksi, Departemen Teknik Sipil Program
Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung.
1. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Ir. Reini D.
Wirahadikusumah, yang telah membimbing dalam pembuatan tesis ini, hormat
dan rasa kagum menjadi inspirasi dan semangat untuk selalu melanjutkan
belajar.
2. Dengan rasa hormat dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak
dan Ibu dosen yang banyak memberikan ilmu dan memberikan warna dalam
karakter peningkatan diri penulis, untuk lebih arif dan bijaksana dalam
menghadapi kehidupan, yang sangat penulis kagumi dan banyak memberikan
suri tauladan, Bapak Dr. Ir. Biemo W. Soemardi, Dr. Ir. Purnomo Soekirno,
Dr. Ir. Rizal Z. Tamin, Dr. Ir. Krisna S. Pribadi, Dr. Ir. Muhamad Abduh, dan
Ibu Dr. Ir. Puti Farida. Mudah-mudahan penulis bisa menjadi harapan Bapak
dan Ibu dosen, untuk menjadi manusia yang berguna untuk bangsa dan negara.
Ilmu yang telah penulis dapatkan dapat berguna menjadi bekal dalam
peningkatan kinerja dan pengabdian di lingkungan Departemen PU.
3. Semua bantuan dan kebaikan seluruh staf tata usaha, staf perpustakaan, staf
laboratorium, dan staf penunjang di lingkungan Teknik Sipil. Tak lupa penulis
ucapkan terima kasih dan mohon maaf kalau ada yang tak berkenan selama
ini.
4. Dengan ini penulis sampaikan terima kasih kepada Departemen Pekerjaan
Umum dan ADB yang telah memberikan kesempatan untuk belajar di Institut
Teknologi Bandung.
5. Terima kasih untuk semua teman-teman yang selalu bersama dalam suka dan
duka selama tinggal di Bandung, kita akan selalu mengenang dan melanjutkan
persahabatan ini sampai kapanpun.

iii

6. Tak lupa sahabat-sahabat di kantor, atas perhatian dan yang selalu


mengingatkan waktu yang berjalan, untuk segera kembali ke Jakarta terima
kasih banyak.
7. Serta sahabat sejati penulis, yang selalu mendengarkan keluh kesah, teman
berdiskusi, teman yang terkadang sangat menyebalkan. Namun demikian,
penulis teramat sangat berterima kasih atas pengertian, kesabaran, dan
pemberian nasihat selama ini, mudah-mudahan persahabatan kita abadi.
8. Terakhir, penuh rasa syukur dan terima kasih selalu untuk keluarga,
khususnya Ibu dan almarhum ayah tercinta, serta kakak dan adik yang telah
melimpahkan kasih sayang dan dukungan moril yang melebihi ukuran.
Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan menjadi
tambahan pengetahuan yang dapat digunakan demi perkembangan pengadaan jasa
konsultansi di Indonesia.

Bandung, Februari 2005

Beni Fariati Handayani Mrih Rahayu

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK .............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... iiiv
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... x
DAFTAR ISTILAH ............................................................................................. xi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah ......................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 3
1.4 Lingkup Penelitian........................................................................................... 3
1.5 Metodologi Penelitian...................................................................................... 4
1.6 Sistematika Penulisan ...................................................................................... 6
BAB II STUDI LITERATUR
2.1 Pendanaan Prasarana Jalan .............................................................................. 7
2.2 Pengadaan Jasa Konsultansi ............................................................................ 8
2.3 Sistem Seleksi Pengadaan Jasa Konsultansi.................................................... 9
2.4 Metode Evaluasi Kualitas dan Biaya ............................................................. 11
2.5 Pengadaan Jasa Konsultansi menurut Keppres No. 80/2003......................... 14
2.6 Pedoman Bank Dunia .................................................................................... 16
2.7 Eastern Indonesia Region Transport Project (EIRTP)................................... 20
2.8 Petunjuk Pelaksanaan Manajemen Proyek EIRTP-1..................................... 22
2.9 Pengadaan Jasa Konsultansi Beberapa PLN.................................................. 22
BAB III IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR KETERLAMBATAN
3.1 Metodologi Identifikasi ................................................................................. 24

3.2 Faktor-Faktor Umum ..................................................................................... 26


3.2.1

Pengalaman Panitia ........................................................................... 26

3.2.2

Pemahaman Paket Pekerjaan ............................................................ 27

3.2.3

Pengaruh Beban Kerja ...................................................................... 27

3.2.4

Intervensi dari Luar Panitia............................................................... 27

3.2.5

Perubahan Struktur Organisasi ......................................................... 27

3.3 Faktor-Faktor Peraturan................................................................................. 28


3.3.1

Peraturan-Peraturan Pelaksanaan...................................................... 28

3.3.2

Kekurangpahaman Prosedur Bank Dunia......................................... 28

3.3.3

Peraturan Pemerintah Daerah ........................................................... 29

3.3.4

Perbedaan Prosedur Pengadaan ........................................................ 29

3.3.5

Penyelesaian Masa Sanggah ............................................................. 29

3.4 Faktor-faktor Mekanisme Pelelangan............................................................ 30


3.4.1

Rekomendasi PMU dan Bank Dunia ................................................ 30

3.4.2

Penyiapan Dokumen ......................................................................... 30

3.4.3

Transparansi Informasi ..................................................................... 30

3.4.4

Pemahaman Tata Cara Evaluasi Bank Dunia ................................... 31

3.4.5

Format Pelaporan Bank Dunia.......................................................... 31

3.4.6

Kemampuan Penggunaan Komputer ................................................ 31

3.4.7

Persetujuan Pemimpin Proyek .......................................................... 31

3.4.8

Permohonan Persetujuan PMU ......................................................... 32

3.4.9

Permohonan Persetujuan Bank Dunia .............................................. 32

3.4.10 Negosiasi........................................................................................... 32
3.4.11 Fasilitas Sistem Informasi................................................................. 32
3.5 Faktor-Faktor Sumber Daya Manusia............................................................ 33
3.5.1

Kemampuan Bahasa Inggris ............................................................. 33

3.5.2

Pengalaman Pelatihan ....................................................................... 33

3.5.3

Pembinaan dari Pemerintah Pusat..................................................... 33

3.5.4

Perbedaan Asumsi Peraturan ............................................................ 33

3.5.5

Narasumber ....................................................................................... 34

3.5.6

Kurangnya Sosialisasi Peraturan....................................................... 34

vi

3.6 Faktor-Faktor Pemaketan............................................................................... 34


3.6.1

Perubahan Lingkup Pekerjaan .......................................................... 34

3.6.2

Distribusi Addendum Dokumen Pelelangan..................................... 34

BAB IV PENGOLAHAN DATA


4.1 Umum ............................................................................................................ 35
4.2 Desain Kuesioner........................................................................................... 36
4.3 Hasil Pengumpulan Data ............................................................................... 38
4.4 Pengolahan Statistik....................................................................................... 40
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Statistik ............................................................................................ 44
5.1.1

Nilai Rata-Rata Penilaian Responden ............................................... 45

5.1.2

Nilai Sebaran Penilaian Responden .................................................. 46

5.1.3

Frekuensi Penilaian Responden ........................................................ 47

5.1.4

Klasifikasi Faktor-Faktor Keterlambatan ......................................... 48

5.2 Analisis Faktor-Faktor Keterlambatan Tidak Kritis ...................................... 53


5.3 Analisis Faktor-Faktor Keterlambatan Cukup Kritis..................................... 57
5.4 Analisis Faktor-Faktor Keterlambatan Sangat Kritis .................................... 61
5.5 Rekomendasi Tahapan Pengadaan Jasa Konsultansi..................................... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan .................................................................................................... 72
6.2 Saran .............................................................................................................. 76

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar I.1

Metodologi penelitian ..................................................................... 5

Gambar II.1

Proses seleksi pengadaan jasa konsultansi Bank Dunia................ 18

Gambar II.2

Proses seleksi pengadaan jasa konsultansi Bank Asia .................. 19

Gambar IV.1 Persentase kuesioner kembali........................................................ 38


Gambar IV.2 Pendidikan responden ................................................................... 38
Gambar IV.3 Pengalaman kerja responden ......................................................... 39
Gambar IV.4 Pengalaman kerja responden sebagai panitia lelang ..................... 39
Gambar IV.5 Pengalaman kerja responden sebagai panitia lelang PLN............. 40
Gambar V.1

Persentase frekuensi faktor-faktor tidak kritis .............................. 50

Gambar V.2

Persentase frekuensi faktor-faktor cukup kritis............................. 51

Gambar V.3

Persentase frekuensi faktor-faktor sangat kritis ............................ 52

viii

DAFTAR TABEL

Tabel I.1

Keterlambatan pengadaan proyek EIRTP-1 ....................................... 2

Tabel II.1

Besar dana pinjaman luar negeri Dirjen Prasarana Wilayah .............. 8

Tabel II.2

Perbedaan beberapa tahapan pengadaan jasa konsultansi ................ 23

Tabel III.1 Tahapan seleksi jasa konsultansi pedoman Bank Dunia................... 25


Tabel IV.1 Daftar pertanyaan-pertanyaan kuesioner .......................................... 37
Tabel IV.2 Pengkodean daftar pertanyaan-pertanyaan kuesioner....................... 41
Tabel IV.3 Hasil pengolahan data kuesioner ...................................................... 43
Tabel V.1

Penyusunan kelompok nilai rata-rata penilaian responden............... 45

Tabel V.2

Penyusunan kelompok sebaran penilaian responden ........................ 46

Tabel V.3

Penyusunan kelompok frekuensi penilaian responden ..................... 47

Tabel V.4

Klasifikasi faktor-faktor keterlambatan pengadaan .......................... 48

Tabel V.5

Hasil klasifikasi faktor-faktor keterlambatan pengadaan ................. 49

Tabel V.6

Faktor-faktor keterlambatan jasa konsultansi tidak kritis ................. 50

Tabel V.7

Faktor-faktor keterlambatan jasa konsultansi cukup kritis ............... 51

Tabel V.8

Faktor-faktor keterlambatan jasa konsultansi sangat kritis............... 52

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A: Kajian Awal


Lampiran B: Kuesioner
Lampiran C: Profil Responden
Lampiran D: Master Data
Lampiran E: Analisis Statistik

DAFTAR ISTILAH

ADB

Asian Development Bank

APBN

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

BATA

Bridging Advisory Technical Assistance

Bintek

Bina Teknik

Dirjen

Direktorat Jenderal

EIRTP

Eastern Indonesia Region Transport Project

EITPA

Eastern Indonesia Transport Priority Analysis

FIDIC

Fdration Internationale des Ingnieurs-Conseils

GoI

Government of Indonesia

IBRD

International Bank for Reconstruction and Development

IDA

International Development Association

ITC

Information to Consultants

JBIC

Japan Bank for International Cooperation

KAK

Kerangka Acuan Kerja

Keppres Keputusan Presiden


LOI

Letter of Invitation

Juklak

Petunjuk Pelaksanaan

PLN

Pinjaman Luar Negeri

PMU

Project Management Unit

Praswil

Prasarana Wilayah

TOR

Term of Reference

QBS

Quality-Based Selection

QCBS

Quality-and Cost-Based Selection

RFP

Request for Proposal

UNDB

United Nations Development Business

xi

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Jasa konsultansi merupakan bagian dari suatu kegiatan jasa konstruksi, dengan
pelaksanaan proses pengadaan jasa konsultansi yang transparansi, diharapkan
dapat mendorong pengembangan industri konstruksi secara umum, khususnya
konsultan. Layanan jasa konsultansi di bidang perencanaan dan pengawasan
pekerjaan akan sangat mempengaruhi mutu pekerjaan konstruksi. Hasil penelitian
ini dapat dipergunakan sebagai bahan perbaikan kinerja pelaku pelaksana
pengadaan dengan dana PLN, khususnya yang menggunakan dana Bank Dunia.
Secara prinsip pengadaan jasa konsultasi dengan pendanaan PLN-PLN lainnya
mempunyai prosedur yang sama.
Setelah dilaksanakan survei melalui penyebaran kuesioner pada sejumlah pelaku
pelaksana pengadaan di beberapa provinsi, tampak bahwa latar belakang pelaku
pelaksana pengadaan, ditinjau dari segi pendidikan, sudah memadai. Profil
responden menunjukkan bahwa 62,5% berpendidikan S1 sebesar, 22,5%
berpendidikan S2, dan hanya 15% D3. Namun pengalaman sebagai panitia lelang
khususnya

PLN

masih

kurang

memadai.

Tidak

ada

responden

yang

berpengalaman lebih dari 10 kali, 9 responden berpengalaman 5 sampai dengan


10 kali sebagai panitia lelang PLN, dan hanya 31 responden memiliki pengalaman
kurang dari 5 kali.
Dari kajian terhadap proses pengadaan jasa konsultansi berdasarkan pedoman
Bank

Dunia

keterlambatan

menunjukkan
pengadaan.

bahwa

terdapat

Berdasarkan

hasil

beberapa
analisis

faktor

penyebab

penelitian

dapat

digambarkan faktor-faktor keterlambatan dan karakteristik apa saja yang


mempengaruhi pelaksanaan pengadaan jasa konsultansi. Kesimpulan penyebab
utama keterlambatan pengadaan jasa konsultansi selanjutnya akan diuraikan pada
bagian di bawah ini.

72

1. Umum (organisasi dan pengalaman)


Faktor-faktor umum yang mempengaruhi keterlambatan pengadaan jasa
konsultansi terdiri dari pengalaman panitia, pemahaman paket pekerjaan,
pengaruh beban kerja, intervensi dari luar panitia, dan perubahan struktur
organisasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dua faktor tidak kritis, dan tiga
faktor cukup kritis. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah standar pengadaan
kurang diperhatikan khususnya masalah kualifikasi panitia pengadaan dengan
dana PLN, dengan demikian masih banyak panitia yang tidak memiliki
pengalaman yang cukup sebagai panitia pelelangan dengan PLN.
Kestabilan internal organisasi proyek dalam proses pengadaan cukup baik.
Disebabkan pimpro di daerah lebih dominan kewenangan dalam suatu
tanggung jawab, jarang panitia memiliki karakter independen dalam
mengambil keputusan hasil pengadaan. Dalam proses pengadaan jarang terjadi
pergantian pimpro atau struktur organisasi, baik proyek atau panitia.
Hal ini berkaitan dengan masalah organisasi proyek yang baru melakukan
pengadaan jasa konsultansi, dengan demikian secara pengalaman lembaga
atau organisasi masih jauh dari pengalaman yang memadai di bidang PLN.
Dengan demikian pada kaitannya dengan pada proses tahapan penyiapan
dokumen dan evaluasi, untuk itu masih sangat diperlukan suatu pembelajaran
yang dilaksanakan secara rutin di lingkungan proyek
2. Pengaturan/Aspek Hukum dan Penerapannya
Faktor-faktor peraturan/aspek hukum dan penerapannya yang mempengaruhi
keterlambatan

jasa

konsultansi

terdiri

dari

peraturan

pelaksana,

kekurangpahaman prosedur Bank Dunia, peraturan pemerintah daerah,


perbedaan prosedur pengadaan, dan penyelesaian masa sanggah. Hasil
analisis menunjukkan bahwa dua faktor tidak kritis, dua faktor cukup kritis,
dan satu faktor sangat kritis. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah masih
kurangnya peraturan penunjang pelaksanaan prosedur yang memadai dan
belum adanya perhatian yang lebih besar pada pengaturan proses pengadaan
jasa konsultansi dengan penegakan hukum.

73

Hal tersebut dengan kaitannya dengan proses pengadaan, belum adanya suatu
petunjuk pelaksanaan yang detail, dengan memberikan contoh contoh tata
evaluasi dan standar baku dalam proses administrasi. Demikian pula
diperlukan petunjuk cara evaluasi yang lebih detail. Untuk tata cara usulan
harusnya ada aturan yang baku, baik itu format persuratan maupun proses
adminstrasi yang lainnya.Perlunya pemahaman isi kontrak dan dokumen
lelang ditinjau dari aspek hukum dan implementasinya.
3. Faktor Mekanisme Pelelangan
Faktor-faktor mekanisme pelelangan yang mempengaruhi keterlambatan jasa
konsultansi adalah rekomendasi PMU dan Bank Dunia, penyiapan dokumen,
transparansi informasi, pemahaman tata cara evaluasi, format pelaporan,
kemampuan penggunaan komputer, persetujuan pimpro, persetujuan PMU,
persetujuan Bank Dunia, negosiasi, dan fasilitas sistem informasi. Hasil
analisis menunjukkan bahwa lima faktor tidak kritis, dua faktor cukup kritis,
dan empat faktor sangat kritis. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah
mekanisme pelelangan merupakan faktor yang sangat dominan menjadi
penyebab keterlambatan. Hal ini disebabkan birokrasi dalam proses
persetujuan dalam berbagai tahapan masih kurang transparan, baik di internal
maupun eksternal proyek, karena belum tertuang dalam suatu peraturan.
Lemahnya koordinasi dan kebijakan antarpihak terkait dalam proses
pengadaan, baik di pihak panitia, pusat, dan bank, menyebabkan birokrasi
yang memerlukan waktu yang panjang dan kurang transparan.
Hal tersebut di atas sangat terkait dengan setiap tahapan pada proses
persetujuan dokumen lelang, hasil evaluasi teknik, hasil evaluasi teknik dan
biaya, draft kontrak, dan persetujuan kontrak. Tahapan tersebut seharusnya
merupakan tahapan yang dilaksanakan oleh panitia. Namun, khusus penyiapan
dokumen telah dilakukan oleh PMU tanpa melibatkan panitia daerah. Hal ini
menyebabkan panitia tidak mengikuti permasalahan dalam penyiapan
dokumen pengadaan dan sangat menghambat proses pengadaan dalam
implementasinya, karena diperlukan waktu yang ekstra untuk memahami
dokumen-dokumen yang telah disediakan oleh PMU.

74

Dalam tahapan persetujuan bank, untuk itu secara tidak tertulis dalam
aturan/prosedurnya, harus dilalui melalui Direktorat Praswil, Direktorat
Bintek, dan PMU, dengan demikian setiap tahapan secara tidak langsung
diperiksa yang bukan menjadi tanggung jawab dari instansi terkait. Terjadi
birokrasi yang belum diatur secara transparan, maka masalah keterlambatan
dalam suatu proses pengadaan akan tetap terjadi dengan sangat signifikan,
karena membuka indikasi di masing-masing sub-bagian yang tidak memiliki
kejelasan fungsi dari pihak-pihak yang memeriksa. Apabila masing-masing
pihak terkait memahami dan berkomitmen pada hak dan tanggung jawab
dalam tahapan proses pengadaan untuk persetujuan bank maka tidak
membuka peluang pihak-pihak terkait untuk menghambat proses pelelangan.
4. Sumber Daya Manusia
Faktor-faktor sumber daya manusia yang mempengaruhi keterlambatan adalah
kemampuan bahasa Inggris, pelatihan pengadaan, pembinaan pemerintah
pusat, perbedaan asumsi peraturan, narasumber, dan kurangnya sosialisasi
peraturan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dua faktor tidak kritis, tiga
faktor cukup kritis, dan satu faktor sangat kritis. Kesimpulan yang dapat
ditarik adalah kurangnya tersedia kapasitas pelaku pelaksana PLN yang
memadai. Rendahnya profesionalisme panitia pengadaan dan pelaku
pelaksanaan pengadaan terkait. Kemampuan panitia di daerah kurang
memahami peraturan dan prosedur Bank Dunia. Tidak memadainya pelatihan
dan pengenalan perkembangan peraturan yang digunakan dalam pelaksanaan
proses pengadaan. Menurut perkiraan awal adalah faktor bahasa sangat kritis,
namun hasil analisis menunjukan faktor tersebut cukup kritis. Hal ini mungkin
disebabkan oleh kecenderungan panitia memiliki rasa malu mengakui
kemampuan dalam bahasa Inggris.
Sumber daya manusia delam proses pengadaan antara lain terkait dengan
kemampuan, keahlian yang dimiliki ,peraturan yang menunjang, dan pihak
lain yang terkait. Dalam hal ini pada proses pengadaan menyangkut
pembuatan dokumen, penjelasan, evaluasi, negosiasi, dan penyiapan kontrak.

75

5. Faktor Pemaketan Proyek/Perubahan Dokumen


Faktor-faktor pemaketan proyek/perubahan dokumen yang mempengaruhi
keterlambatan adalah perubahan lingkup pekerjaan, dan distribusi addendum
dokumen pelelangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa satu faktor tidak
kritis dan satu faktor cukup kritis. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah masih
kurang efisien, efektif dan detail dalam perencanaan dan pemrograman,
sebagai dasar pemaketan proyek di dalam dokumen pelelangan. Kelemahan
koordinasi unit-unit kerja yang terkait dalam penyusunan perencanaan dan
program dengan implementasi proyek unit. Perubahan dokumen menjadi hal
yang biasa, dan menggambarkan ketidak valid dalam pembuatan dokumen
pengadaan jasa konsultansi, dengan sering terjadinya perubahan paket-paket
proyek/ruas-ruas jalan di dalamnya. Hal ini kaitanya pada isi dokumen lelang,
seberapa jauh dokumen lelang bisa sesuai dengan kebutuhan lapangan.
6.2. Saran
Faktor-faktor keterlambatan kritis pengadaan jasa konsultansi pada penelitian ini
dapat digunakan sebagai bahan perbaikan pelaksanaan pengadaan jasa konsultansi
yang menggunakan dana PLN. Pelaku pelaksana pengadaan diharapkan tidak
hanya memahami pelaksanaan proses pelelangan, tetapi sebaiknya mengerti
penyebab keterlambatan dan mengantisipasinya agar pengadaan jasa konsultansi
dapat berjalan efektif dan efisien. Dengan demikian diharapkan ketepatan waktu
pelaksanaan pengadaan dapat dijadikan acuan salah satu penilaian kinerja proyek.
Konsep perbaikan proses pelelangan dengan strategi peningkatan pengaturan
pelaksanaannya dilakukan dengan tindakan sebagai-berikut
1. Umum (organisasi dan pengalaman)
a. Tanggung jawab/komitmen pelaku
Departemen Kimpraswil bekerjasama dengan provinsi (proyek) dan
berkonsultansi dengan Bank Dunia perlu meninjau ulang ketentuan
perjanjian pinjaman yang dicantumkan dalam juklak, antara lain upaya
mewujudkan (i) tata pemerintahan yang baik, (ii) pencapaian tujuan
proyek, (iii) kesamaan persepsi prosedur oleh semua pihak yang terlibat,
dan (iv) implementasi proyek yang bebas dari penipuan dan korupsi.

76

b. Konsistensi standar pengadaan


Departemen Kimpraswil bekerjasama dengan provinsi (proyek) dan
berkonsultasi dengan Bank Dunia perlu mengkaji ulang prosedur
pelaksanaan di daerah dan merekomendasikan penyempurnaan prosedur
guna menjamin konsistensi standar.
2. Peraturan/Aspek Hukum dan Penerapannya
a. Pengaturan pengadaan dan implementasi.
Perlu memberi perhatian yang lebih besar pada pengaturan proses
pengadaan dan implementasi, dan mekanisme untuk mencegah penipuan
dan korupsi selama proses pengadaan dan persetujuan, dan dicantumkan
dalam dokumen pinjaman.
b. Kode etik proses pengadaan.
Departemen Kimpraswil berkonsultasi dengan Bank Dunia, provinsi
(proyek), dan pihak terkait lainnya perlu menyusun kode etik dan sanksi
yang harus diterapkan pada institusi pelaksana pengadaan, maupun pihakpihak terkait lainnya.
3. Mekanisme Pelelangan
a. Evaluasi kinerja pelaksana pengadaan
Departemen Kimpraswil berkonsultasi dengan proyek dan pihak terkait
lainnya perlu mengembangkan dan menerapkan suatu sistem evaluasi
kinerja pelaksana pengadaan secara independen.
b. Pemeriksaan eksternal terhadap kinerja panitia.
Departemen Kimpraswil secara independen sebaiknya mengkaji kemajuan
pelaksanaan proses pengadaan, ketaatan terhadap peraturan, dan isu lain
berkaitan dengan proses pengadaan.
c. Peningkatan frekuensi pemantauan proses pengadaan
Perlu disediakan anggaran yang cukup bagi staf PMU untuk meningkatkan
frekuensi

pemantauan

terhadap

implementasi

proses

pelaksanaan

pengadaan. Dengan melakukan kunjungan ke provinsi apabila ada


masalah-masalah yang dihadapi.

77

d. Sistem informasi proyek dan peralatan


Penerapan sistem informasi proyek dan pelaporan, mencakup informasi
mutakhir yang berkaitan dengan pengadaan.
e. Evaluasi mekanisme proses pengadaan
Departemen Kimpraswil berkonsultansi dengan Bank Dunia perlu
mengembangkan prosedur pelaksanaan pengadaan di provinsi, dan
mekanismenya guna mencegah tumpang tindih kewenangan pusat dan
panitia pengadaan.
f. Transparansi dan partisipasi publik
Perlunya pemantauan proses pengadaan dengan membangun situs internet
yang memberikan informasi yang relevan.
4. Sumber Daya Manusia
a. Panitia pengadaan provinsi (proyek)
Departemen Kimpraswil perlu mengadakan kesepakatan dengan provinsi
(proyek) agar panitia yang terlibat dalam proses pengadaan memiliki
reputasi baik dalam bidangnya.
b. Kapasitas PMU
Staf PMU dan staf Direktorat Prasarana Wilayah di pusat dan provinsi
perlu mengikuti pelatihan yang relevan dan memahami sepenuhnya
prosedur Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia, antara lain (i)
implementasi, (ii) proses pengadaan, (iii) pemakaian konsultan, (iv)
pelaporan, (v) pemantauan, dan (vi) pencegahan penipuan dan korupsi,
dan perlunya staf PMU yang tetap/stabil.
5. Pemaketan Proyek/Perubahan Dokumen
Banyaknya paket proyek diperlukan kesiapan yang akurat dalam perencanaan
dan pemrograman. Dengan tindakan pelaksanaan implementasi proyek unit
dan unit-unit terkait lebih ditingkatkan akuntabel, efisien, dan efektif dengan
sistem yang dipakai untuk penyaringan sesuai dengan kebutuhan teknis di
lapangan. Perlunya penyiapan persyaratan lahan untuk pekerjaan fisik yang
pasti, yaitu pembebasan tanah dan pemindahan tempat tinggal rencana, yang

78

dijadikan lahan untuk jalan dan jembatan. Sebaiknya paket-paket yang


tercantum dalam dokumen sudah mendekati draft final. Terutama untuk
pekerjaan tahun pertama implementasi, detail desain harus tersedia. Dengan
demikian perubahan dokumen untuk paket proyek bisa ditekan sekecil
mungkin.

79

DAFTAR PUSTAKA

1. Ang, Alfredo, dan Wilson, Tang. 1992. Konsep-Konsep Probabilitas dalam


Perencanaan dan Perancangan Rekayasa. Jakarta: Erlangga.
2. Asian Development Bank. 2004. Seminar on Project Implementation and
Administration. Jakarta.
3. Asian Development Bank. Mei 2003. Handbook for Users of Consulting
Services, Volume II Recruitment of Consultants Under ADB Financing.
4. Asian Development Bank. November 2002. Handbook for Users of
Consulting Services, Volume III User Guide for Preparing Terms of
Reference.
5. Asian Development Bank. September 2002. Handbook for Users of
Consulting Services, Volume I Procedures and Practices.
6. Asian Development Bank. April 2002. Guidelines on the Use of Consultants
by ADB and its Borrowers.
7. Asian Development Bank. 1996. Loan Disbursement Handbook.
8. Asian Development Bank. 1988. Handbook on Management of Project
Implementation.
9. Bapekin Departemen Kimpraswil. 2003. Kajian Materi Teknik untuk
Menyusun Standar Dokumen Pelelangan Internasional Jasa Perencanaan dan
Pengawasan Konstruksi di Lingkungan Departemen Kimpraswil.
10. Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat
Bina Teknik. Juni 1999. Proses Administrasi Penetapan Pemenang
Pelelangan Pengadaan Jasa Konsultansi, untuk Pekerjaan Detailed Design
and Construction Supervision of SUMEC Under OECF Loan IP-487, pada
Proyek Perencanaan Teknik Jalan. Jakarta.
11. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Direktorat Jenderal
Prasarana Wilayah, Direktorat Bina Teknik. Februari 2004. Lokakarya
Manajemen Proyek, ADB Loan 1798-INO. Jakarta.
12. Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat
Bina Teknik. Januari 1998. Proses Administrasi Penetapan Pemenang
Pelelangan Pengadaan Jasa Konsultansi, untuk Pekerjaan Design Review and
Construction Supervision of HLRIP Under OECF Loan IP-466, pada Bagian
Proyek Perencanaan Teknik Jalan Wilayah. Jakarta.

13. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Direktorat Jenderal


Prasarana Wilayah, Direktorat Bina Teknik. January 2004. Brief Information
of the Progress of on-going Loan under JBIC, ADB, and IBRD. Jakarta.
14. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Pembinaan
Konstruksi dan Investasi. September 2003. Kajian Pembinaan Industri
Konstruksi. Bandung.
15. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2004. Seri Pengadaan Jasa
Konstruksi Keppres No.80 Th. 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah
dan
Kepmen
Kimpraswil
No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa
Konstruksi oleh Instansi Pemerintah.
16. Diklat Pengadaan Barang dan Jasa. 2004. Departemen Kimpraswil. Ketentuan
Umum Pengadaan Barang dan Jasa dengan Bantuan Luar Negeri. Jakarta.
17. Direktorat Bina Teknik, Sub Direktorat Penganggaran dan Bantuan Luar
Negeri, Dirjen Praswil, Departemen Kimpraswil. 2004. Project Management
Report.
18. Direktorat Bina Teknik, Sub Direktorat Penganggaran dan Bantuan Luar
Negeri, Dirjen Praswil, Departemen Kimpraswil. 2004. Proposed
Performance Sub-Indicators for EIRTP-1.
19. Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah. 2004. Pengadaan Barang dan Jasa
Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. Jakarta.
20. Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah Departemen Kimpraswil. 2002.
Petunjuk Pelaksanaan Manajemen Proyek Pinjaman IBRD 4643-IND EIRTP1.
21. Direktorat Bina Teknik, Sub Direktorat Penganggaran dan Bantuan Luar
Negeri. 2001. Appraisal Report Loan IBRD, EIRTP-1.
22. Direktorat Bina Teknik, Sub Direktorat Penganggaran dan Bantuan Luar
Negeri, Dirjen Praswil, Departemen Kimpraswil. 2001. Laporan Negosiasi
Loan IBRD EIRTP-1.
23. Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah. Juli 2001. Prosedur Seleksi Konsultan
EIRTP-IBRD. Jakarta.
24. Federation Internationale des Ingenieurs-Conseils (FIDIC). 2003. Guidelines
for the Selection of Consultants International Federation of Consulting
Engineers.
25. Gama Putranto. Juli 2003. Identifikasi Pengelolaan Limbah Konstruksi dalam
Proyek Konstruksi di Indonesia sebagai Dasar bagi Pengembangan Model
Prosedur Pengelolaan Limbah Konstruksi. Tesis Magister MRK ITB.
Bandung.

26. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Settlement and


Regional Infrastructure. Technical Assistance for EIRTP Priorities Analysis
Study.
27. Hikmawati. Juni 2004. Identifikasi Faktor-Faktor Keberhasilan Kritis
Pengelolaan Teknologi Informasi pada Kontraktor di Indonesia. Tesis
Magister MRK ITB. Bandung.
28. Japan Bank for International Cooperation.January 2000. Handbook for
Procurement under JBIC ODA Loans, The Employment of Consultants
Procurement of Good and Services.
29. Kenneth S. Bordens & Bruce B. Abbott. Fifth Edition 2002. Research Design
and Methods, A Process Approach. International Edition.
30. Maartje van Dalen. March 2003. Role and Performance of the Indonesian
Construction Sector. M.Sc Thesis International Technology and
Development Studies Department of Technology Management, Eindhoven
University of Technology. Technische Univerteit Eindhoven and Institut
Teknologi Bandung.
31. The Word Bank. 2001. Proposed Eastern Indonesia Region Road Project,
Director General of Regional Infrastructure, Ministry of Human Settlement
and Regional Development. Jakarta.
32. The World Bank. January 1997 revised September 1997 and January 1999.
Guidelines Selection and Employment of Consultants by World Bank
Borrowers.
33. The World Bank. January 1997 revised September 1997 and January 1999
revised September 1998 and January 1999. Guidelines Procurement under
IBRD Loan and IDA Credits.
34. The World Bank. July 1997. Standard Request for Proposals, Selection of
Consultants. Washington.
35. Y. Bayu Krisnamurthi. 1993. Metode Penelitian Sosial Ekonomi, Direktorat
Perguruan Tinggi Swasta, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Bogor.