Anda di halaman 1dari 28

BLOK CAIRAN

Wrap Up PBL Skenario 1

Kelompok A-15
KETUA
Abyantara I F

:
(1102014001)

SEKRETARIS : Citra Dinanti Amanda

(1102014063)

ANGGOTA

(1102014042)

: Asep Zainuddin Sahir


Arisya Hanifah Nurazkiyah

(1102011045)

Azura Syahadati

(1102014056)

Chrysza Ayu Agustine

(1102014062)

Dara Dika Wati

(1102014065)

Dayu Dwi Wideria

(1102014066)

Eka Syafnita

(1102014083)

Futuh Muhammad Perdana

(1102013116)

Ivan Prayoga W

(1102014135)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2014-2015
1

DAFTAR ISI
Daftar Isi.....................................................................................................................................2
Skenario......................................................................................................................................3
Kata-kata sulit............................................................................................................................4
Pertanyaan dan jawaban.............................................................................................................5
Hipotesis.....................................................................................................................................6
Sasaran belajar............................................................................................................................7
LO 1. Memahami dan menjelaskan cairan dan larutan dalam tubuh
1.1 Memahami dan menjelaskan definisi cairan dan larutan..............................................8
1.2 Memahami dan menjelaskan fungsi cairan dalam tubuh..............................................8
1.3 Memahami dan menjelaskan komposisi cairan.............................................................9
1.4 Memahami dan menjelaskan klasifikasi larutan...........................................................9
1.5 Memahami dan menjelaskan perbedaan cairan dan larutan........................................10
LO 2. Memahami dan menjelaskan dehidrasi pada anak dan orang dewasa
2.1.
Memahami dan menjelaskan definisi dehidrasi...............................................11
2.2.
Memahami dan menjelaskan penyebab dehidrasi............................................11
2.3.
Memahami dan menjelaskan klasifikasi dehidrasi...........................................12
2.4.
Memahami dan menjelaskan gejala dehidrasi..................................................13
2.5.
Memahami dan menjelaskan mekanisme dehidrasi.........................................14
2.6.
Memahami dan menjelaskan akibat dehidrasi..................................................16
2.7.
Memahami dan menjelaskan terapi pada dehidrasi..........................................16
LO 3. Memahami dan menjelaskan elektrolit
3.1.
Memahami dan menjelaskan definisi elektrolit...............................................19
3.2.
Memahami dan menjelaskan komposisi elektrolit...........................................19
3.3.
Memahami dan menjelaskan gangguan keseimbangan elektrolit....................21
LO 4. Memahami dan menjelaskan etika islam
4.1.
Memahami dan menjelaskan cara minum sesuai etika islam dan dalil-dalil
yang mengatur............................................................................................................25
Daftar pustaka......................28

SKENARIO
DEHIDRASI
Seorang remaja 19 tahun dibawa ke IGD RS YARSI karena pingsan setelah berolah
raga. Pada pemeriksaan fisik : tampak lemas, bibir dan lidah kering. Sebelum dibawa ke
rumah sakit, temannya telah memberikan larutan pengganti cairan tubuh. Di RS, penderita
segera diberikan infus cairan kristaloid (elektrolit). Hasil pemeriksaan laboratorium
menunjukkan : Kadar Natrium : 130 mEq/L, Kalium : 2,5 mEq/L dan Klorida : 95 mEq/L.
Setelah kondisi membaik pasien diperbolehkan pulang dan dianjurkan untuk minum sesuai
dengan etika islam.

KATA-KATA SULIT

1. Dehidrasi

: Berkurangnya volume cairan dalam tubuh

2. Cairan Kristaloid

: Cairan yang bersifat isotonik

3. Cairan

: Terdiri dari solute dan slovent

4. Elektrolit

: Suatu zat cair dalam tubuh yang terdiri dari molekul/ion yang
berfungsi membantu proses metabolisme tubuh.

5. Infus

: Larutan padat-cair pengganti cairan tubuh.

6. Larutan

: Campuran yang homogen dari dua/lebih macam zat yang


terdiri dari solute dan solvent.

PERTANYAAN DAN JAWABAN


PERTANYAAN
4

1. Apa penyebab dehidrasi?


2. Apa gejala dari dehidrasi?
3. Apa saja tingkatan dari dehidrasi?
4. Apa akibat dari dehidrasi?
5. Bagaimana aturan minum sesuai etika Islam?
6. Bagaimana mekanisme dehidrasi?
7. Terapi atau tindakan pengobatan apa yang diberikan kepada orang yang terkena
dehidrasi?
8. Berapa kadar normal mineral dalam tubuh?
9. Apa itu cairan?
10. Apa saja macam-macam cairan dalam tubuh?
11. Bagaimana dan darimana cairan keluar dan masuk?
12. Bagaimana mekanisme perpindahan cairan dalam tubuh?
JAWABAN
1. Penyebab dehidrasi adalah berkurangnya asupan cairan dalam tubuh, pengeluaran
cairan dari tubuh berlebihan,.
2. Tampak lemas, bibir dan lidah kering, tidak mengeluarkan keringat dan berkurangnya
jumlah buang air kecil.
3. Dehidrasi ringan, sedang, dan berat.
4. Keseimbangan cairan dan elektrolit terganggu serta keseimbangan asam basa
terganggu
5. Membaca basmalah, mengambil gelas dengan menggunakan tangan kanan, tutup
dengan hamdalah.
6. Mekanisme dehidrasi diatur oleh sistem saraf pusat dan sistem hormon.
7. Pemberian infus cairan elektrolit yaitu ringer lactate pada pasien tidak sadar dan
pemberian oral yaitu oralit pada pasien dalam keadaan sadar.
8. Na

: 135-145 mEq/L

: 3,5-5 mEq/L

Cl

: 95-108 mEq/L

9. Terdiri dari solute dan solvent yang bersifat heterogen dan homogen.
10. 40% Intraseluler.20% ekstraseluler yang terdiri dari ; 15% intravaskuler dan 5%
Interstitial.
5

11. Cairan masuk : makanan,minuman,infus


Cairan keluar : feses,air mata,keringat,mukosa,ginjal,pernapasan.
12. Karena adanya perbedaan tekanan osmotik,difusi,transpor aktif dan pasif.

HIPOTESIS

Pasien yang terkena dehidrasi yang disebabkan oleh berkurangnya volume cairan dalam
tubuh dan mengakibatkan terganggunya keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam dan
basa sehingga dibutuhkan deteksi dan penanganan yang cepat dan tepat sesuai syariat Islam.

SASARAN BELAJAR
LO 1. Memahami dan menjelaskan cairan dan larutan dalam tubuh
6

LI 1.1 Memahami dan menjelaskan definisi cairan dan larutan


LI 1.2 Memahami dan menjelaskan fungsi cairan dalam tubuh
LI 1.3 Memahami dan menjelaskan komposisi cairan
LI 1.4 Memahami dan menjelaskan klasifikasi larutan
LI 1.5 Memahami dan menjelaskan perbedaan cairan dan larutan
LO 2. Memahami dan menjelaskan dehidrasi pada anak dan orang dewasa
LI 2.1 Memahami dan menjelaskan definisi dehidrasi
LI 2.2 Memahami dan menjelaskan penyebab dehidrasi
LI 2.3 Memahami dan menjelaskan klasifikasi dehidrasi
LI 2.4 Memahami dan menjelaskan gejala dehidrasi
LI 2.5 Memahami dan menjelaskan mekanisme dehidrasi
LI 2.6 Memahami dan menjelaskan akibat dehidrasi
LI 2.7 Memahami dan menjelaskan terapi pada dehidrasi
LO 3. Memahami dan menjelaskan elektrolit
LI 3.1 Memahami dan menjelaskan definisi elektrolit
LI 3.2 Memahami dan menjelaskan komposisi elektrolit
LI 3.3 Memahami dan menjelaskan gangguan keseimbangan elektrolit
LO 4. Memahami dan menjelaskan etika islam
LI 4.1 Memahami dan menjelaskan cara minum sesuai etika islam dan dalil-dalil yang
Mengatur

LO 1. Memahami dan menjelaskan cairan dan larutan dalam tubuh


7

LI 1.1 Memahami dan menjelaskan definisi cairan dan larutan


Cairan adalah bahan yang langsung mengalir secara alamiah, bukan padat atau
gas. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air dan zat terlarut. Komponen
tunggal terbesar dari tubuh adalah air. Air adalah pelarut bagi semua zat terlarut
dalam tubuh baik dalam bentuk suspensi maupun larutan.
Larutan adalah adalah campuran yang homogen dari dua atau lebih macam zat
yang terdiri dari solute ( zat terlarut) dan solvent ( zat pelarut).
LI 1.2 Memahami dan menjelaskan fungsi cairan dalam tubuh
Fungsi cairan tubuh antara lain :
1. Mengatur suhu tubuh
Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik.
2. Melancarkan peredaran darah
Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini
disebabkan cairan dalam darah tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses
tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan jantung.
3. Membuang racun dan sisa makanan
Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun
dalam tubuh. Air membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni,
dan pernafasan.
4. Mengatur struktur dan fungsi kulit.
Kecukupan air dalam tubuh berguna untuk menjaga kelembaban,
kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari luar tubuh.
5. Pencernaan
Mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk segera dikirim ke selsel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem pencernaan
di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses
pun keluar dengan lancar.
6. Pernafasan
Paru-paru memerlukan air untuk pernafasan karena paru-paru harus basah
dalam bekerja memasukkan oksigen ke sel tubuh dan memompa
karbondioksida keluar tubuh. Hal ini dapat dilihat apabila kita
menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan berupa embun dari
nafas yang dihembuskan pada kaca.
7. Sendi dan otot
Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot
tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu,
perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas untuk meminimalisir
resiko kejang otot dan kelelahan.
8. Pemulihan penyakit
Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air yang
memadai berfungsi untuk menggantikan cairan tubuh yang terbuang.

LI 1.3 Memahami dan menjelaskan komposisi cairan


8

Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan. Pada bayi prematur jumlahnya
sebesar 80% dari berat badan, bayi normal sebesar 70-75% dari berat badan, sebelum
pubertas sebesar 65-70% dari berat badan, orang dewasa sebesar 50-60% dari berat
badan. Cairan dalam tubuh dibagi dalam dua kompartemen utama yaitu cairan intrasel
dan cairan ekstrasel. Cairan intrasel adalah cairan yang terdapat dalam sel tubuh.
Volume cairan intrasel sebesar 60% dari cairan tubuh total. Kandungan air intrasel
lebih banyak dari ekstrasel. Cairan intrasel berperan pada proses menghasilkan,
menyimpan, dan penggunaan energi serta perbaikan sel. Sedangkan cairan ekstrasel
adalah cairan yang terdapat diluar sel tubuh. Cairan ekstrasel terdiri dari: cairan
interstisium atau cairan antar sel yang berada di antara sel-sel, cairan intravaskular
yang berada dalam pembuluh darah yang merupakan bagian air dalam plasma darah,
dan cairan trans sel yang berada dalam rongga-rongga khusus. Volume cairan
ekstrasel sebesar 40% dari cairan tubuh total. Cairan ekstrasel berperan sebagai
pengantar semua keperluan sel dan sebagai pengangkut CO, sisa metabolisme, bahan
toksik atau bahan yang telah mengalami detoksifikasi dari sekitar lingkungan sel.
Kompartemen
Volume intraselular
Volume ekstraselular
Volume interstisium
Volume plasma
Volume transelular

Jumlah
24,0 L
16.0 L
11.2 L
3.2 L
1.6 L

% Berat Badan
33
22
15.4
4.4
2.2

% Jumlah Cairan
60
40
28
8
4

LI 1.4 Memahami dan menjelaskan klasifikasi larutan


1.4.1. Menjelaskan Larutan Berdasarkan Kepekatan :
1. Larutan Encer : Larutan yang menganduang relatif sedikit solute(zat yang
dilarutkan ) dalam larutan
2. Larutan pekat : Larutan yang mengandung banyak solute(zat yang dilarutkan)
dalam larutan
3. Larutan Jenuh : Larutan dimana ada keseimbangan antara solute padat dan
solute dalam larutan
4. Larutan Tidak Jenuh: Larutan yang mengandung jumlah solute yang kurang
dari larutan jenuh.
1.4.2. Menjelaskan Larutan Berdasarkan Daya Hantar Listrik:
1. Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik,
dibedakan atas:
a. Elektrolit Kuat
Larutan elektrolit kuat adalah yang mempunyai daya hantar listrik yang
kuat, karena zat terlarutnya didalam pelarut (umumnya air), seluruhnya
berubah menjadi ion-ion (alpha = 1)
1) Asam-asam kuat seperti : HCL,HC1O3, H2S04, HNO3dan lain-lain.
2) Basa-basa kuat yaitu basa-basa golongan alkali dan alkali tanah,
seperti : NaOH, KOH, Ca(OH)2, Ba(OH)2 dan lain-lain.
3) Garam-garam yang mudah larut seperti : NaCl, Al2(SO4)3 dam lainlain.
b. Elektrolit Lemah

Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang daya hantar listriknya lemah
dengan harga derajat ionisasinya sebesar : 0 < alpha < 1
1) Asam-asam lemah seperti : CH3COOH,HCN,H2CO3,H2S dam lainlain.
2) Basa-basa lemah seperti : NH4OH. Ni(OH)2 dan lain-lain.
3) Garam-garam yang sukar larut seperti AgCl,CaCrO4,PbI2dan lain-lain
2. Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus
listrik, karena zat terlarutnya didalam pelarut tidak dapat menghasilkan ionoin (tidak berion) Tergolong kedalam jenis ini misalnya :
1) Larutan Urea
2) Larutan Sukrosa
3) Larutan Glukosa
4) Larutan Alkohol
1.4.3. Berdasarkan Kemampuan Menyerapnya :
1. Larutan ideal yaitu larutan yang memenuhi Hukum Roult. Pada larutan ideal
tidak terjadi penyerapan atau pelepasan kalor pada saat pencampuran larutan
2. Larutan tidak ideal yaitu larutan yang tidak memenuhi hukum Roult. Larutan
tak ideal ini dapat dibagi dua yaitu :
a. Larutan yang mengalamami pelepasan kalor pada saat pencampuran
sehingga merupakan larutan yang mengalami penyimpangan positif dari
hukum Roult.
b. Larutan yang mengalami penyerapan kalor pada saat pencampuran yang
menghasilkan penyimpangan negatif dari hukum Roult.
1.4.4. Berdasarkan Wujud / Fasanya :
Cair, padat, dan gas.
LI 1.5 Memahami dan menjelaskan perbedaan cairan dan larutan
Larutan terdiri atas cairan yang melarutkan zat (pelarut) dan zat yang larut di
dalamnya (zat terlarut). Pelarut tidak harus cairan, tetapi dapat berupa padatan atau
gas asal dapat melarutkan zat lain. Sistem semacam ini disebut sistem dispersi.
Untuk sistem dispersi, zat yang berfungsi seperti pelarut disebut medium
pendispersi, sementara zat yang berperan seperti zat terlarut disebut dengan zat
terdispersi (dispersoid).
Baik pada larutan ataupun sistem dispersi, zat terlarut dapat berupa padatan, cairan
atau gas. Bahkan bila zat terlarut adalah cairan, tidak ada kesulitan dalam
membedakan peran pelarut dan zat terlarut bila kuantitas zat terlarut lebih kecul dari
pelarut. Namun, bila kuantitas zat terlarut dan pelarut, sukar untuk memutuskan
manakah pelarut mana zat terlarut. Dalam kasus yang terakhir ini, Anda dapat sebut
komponen 1, komponen 2, dst.

LO 2. Memahami dan menjelaskan dehidrasi pada anak dan orang dewasa


10

LI 2.1 Memahami dan menjelaskan definisi dehidrasi


Dehidrasi adalah keadaan dimana volume air berkurang tanpa disertai berkurangnya
elektrolit (natrium) atau berkurangnya air jauh melebihi berkurangnya natrium di
cairan ekstrasel. Hal ini terjadi natrium dari ektrasel tinggi lalu cairan diintrasel
masuk ke ektrasel.Dehidrasi ini menyebabkan berkurangnya 60 % cairan intrasel 40%
cairan ekstrasel. Keadaan ini terjadi bila cairan yang keluar dari tubuh melebihi cairan
yang masuk. Dibandingkan orang dewasa, bayi dan balita lebih rentan mengalami
dehidrasi atau kekurangan cairan. Hal ini disebabkan karena tingginya kadar air dalam
tubuh ,tingginya metabolisme dan imaturitas ginjal.
LI 2.2 Memahami dan menjelaskan penyebab dehidrasi
2.2.1 Menjelaskan factor-faktor penyebab dehidrasi pada orang dewasa
a. Aktivitas
Orang yang banyak aktivitasnya lebih banyak mengeluarkan cairan tubuh
melalui keringat dari pada orang yang tidak beraktivitas.
b. Diare.
Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan kehilangan cairan
dalam jumlah besar. Di seluruh dunia, 4 juta anak anak mati setiap tahun
karena dehidrasi akibat diare.
c. Usia .
Semakin tua usianya, kerja organ semakin menurun
d. Muntah.Muntah sering menyebabkan dehidrasi karena sangat sulit untuk
menggantikan cairan yang keluar dengan cara minum.
e. Berkeringat.
Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkungan yang
panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan
mengeluarkan keringat. Bila keadaan ini berlangsung lama sementara
pemasukan cairan kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi dehidrasi.
f. Diabetes.
Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes atau kencing manis akan
menyebabkan banyak gula dan air yang dikeluarkan melalui kencing sehingga
penderita diabetes akan mengeluh sering kebelakang untuk kencing.
g. Luka bakar.
Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrasi akibat keluarnya cairan
berlebihan pada pada kulit yang rusak oleh luka bakar.
h. Kesulitan minum.
Orang yang mengalami kesulitan minum oleh karena suatu sebab rentan untuk
jatuh ke kondisi dehidrasi.
i. Gastroenteritis.
Ini adalah penyebab paling umum dehidrasi. Jika disertai muntah dan diare,
dehidrasi akan semakin mudah terjadi.
j. Stomatitis, Nyeri dapat membatasi asupan oral.
k. Diabetic ketoasidosis (DKA)
Dehidrasi ini disebabkan oleh diuresis osmotik. Penurunan berat badan
disebabkan oleh kehilangan cairan yang berlebihan dan katabolisme jaringan.
11

Rehidrasi cepat, dapat menimbulkan hasil neurologis yang buruk. DKA sangat
spesifik dan memerlukan perawatan yang intensif.
l. Demam penyakit.
Demam mengakibatkan peningkatan insensible loss water dan dapat
mempengaruhi nafsu makan.
m. Pharyngitis, ini dapat mengurangi asupan oral.
n. Congenital adrenal hiperplasia. berhubungan dengan hipoglikemia, hipotensi,
hiperkalemia, dan hiponatremia.
o. Heat stroke. Hyperpyrexia, kulit kering, dan perubahan status mental dapat
terjadi.
p. Cystic Fibrosis. mengakibatkan kerugian natrium dan klorida keringat,
menempatkan pasien pada risiko hiponatremia, hipokloremia dan dehidrasi
parah.
q. Diabetes insipidus. output urin yang berlebihan yang sangat encer dapat
mengakibatkan kerugian besar air bebas dan hipernatremia.
r. Tirotoksikosis. Berat badan yang diamati, meskipun nafsu makan meningkat.
Diare terjadi
2.2.2 Menjelaskan factor-faktor penyebab dehidrasi pada anak
a. Diare
Pada saat mengalami diare, anak kerap kehilangan nafsu makan dan
seringkali tidak mau minum. Akibatnya, cairan yang masuk dan keluar
dari tubuh tidak seimbang. Tak hanya itu, sejumlah mineral penting, seperti
sodium, potasium, dan klorida juga ikut terbuang.
b. Pneumonia
Bayi atau balita yang mengalami pneumonia atau radang paru-paru
biasanya mengalami demam tinggi dan napas terengah-engah. Hal ini akan
membuat cairan, berupa uap air, yang keluar dari paru-paru juga meningkat.
Penanganan yang terlambat atau tidak tepat bisa mengakibatkan dehidrasi.
c. Kurang Makan dan Minum
Kondisi ini jarang terjadi, pasalnya kalau lapar atau haus umumnya bayi
akan menangis minta makan atau minum. Namun mungkin saja saat
anak sedang sakit, ia kehilangan nafsu makan dan minum. Jika hal ini
terjadi selama 3 - 5 hari maka dehidrasi bisa terjadi.
LI 2.3 Memahami dan menjelaskan klasifikasi dehidrasi
2.3.1. Dehidrasi berdasarkan tonisitas dan kadar natriumnya:
1. Dehidrasi isotonik
Dehidrasi ini tidak menyebabkan terjadinya perubahan konsentrasi
elektrolit darah. Hal ini terjadi bila kadar natrium dalam darah 130-150
mEq/L
2. Dehidrasi Hipotonik
Dehidrasi ini terjadi bila konsentrasi elektrolit darah menurun. Hal ini
terjadi bila kadar natrium dalam plasma kurang dari 130 mEq/L. Dehidrasi
ini juga disebut sebagai dehidrasi hiponatremia
3. Dehidrasi Hipertonik
Dehidrasi ini terjadi bila konsentrasi elektrolit darah naik, biasanya
disertai dengan rasa haus dan gejala neurologi. Hal ini terjadi bila kadar
natrium dalam plasma melebihi dari 150 mEq/L. Dehidrasi ini disebut
juga sebagai dehidrasi hipernatremia
12

2.3.2. Dehidrasi juga dibagi berdasarkan derajatnya:


1. Dehidrasi ringan
Dehidrasi ini terjadi bila tubuh kehilangan cairan sebesar 5% bb
2. Dehidrasi sedang
Dehidrasi ini terjadi bila tubuh kehilangan cairan sebesar 5%-10% bb
3. Dehidrasi berat
Dehidrasi ini terjadi bila tubuh kehilangan cairan sebesar 10% bb
LI 2.4 Memahami dan menjelaskan gejala dehidrasi
2.4.1 Menjelaskan gejala dehidrasi pada orang dewasa

Tanda dan Gejala

Dehidrasi
Ringan
berat 3-5

Kehilangan
badan (%)
Kondisi umum

Dehidrasi
Sedang
6-9

Dehidrasi Berat
10 atau lebih

Haus, sadar, Haus, sadar, Biasanya sadar; ektremitas


gelisah
hipotensi
dingin, lembab, sianotik,
postural
kulit jari tangan dan kaki
berkerut; kejang otot
Nadi radial
Kecepatan
Cepat
dan Cepat,
sangat
dan tekanan lemah
lemah,kadang tidak teraba
normal
Respirasi
Normal
Dalam,
Dalam dan cepat
mungkin
cepat
Fontanella anterior Normal
Cekung
Sangat cekung
Tekanan
darah Normal
Normal atau Rendah, mungkin tidak
sistolik
rendah:
terukur
hipotensi
ortostatik
Elastisitas kulit
Cubitan
Cubitan
Cubitan
tidak
segera
segera
kembali
kembali
kembali
perlahan
Mata
Normal
Cekung
Sangat cekung
Air mata
Ada
Tidak
ada Tidak ada
atau
berkurang
Keluaran kencing
Normal
Jumlah
Anuria/oliguria berat
berkurang
dan pekat

Gejala dehidrasi pada usia lanjut


1. Gejala klasik dehidrasi seperti rasa haus, lidah kering, penurunan turgor
dan mata cekung sering tidak jelas.
13

2. Gejala klinis paling spesifik yang dapat dievaluasi adalah penurunan berat
badan akut lebih dari 3%.
3. Tanda klinis obyektif lainya yang dapat membantu mengindentifikasi
kondisi dehidrasi adalah hipotensi ortostatik.
4. Berdasarkan studi di Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI-RSCM :
a. Ditemukan aksila lembab/basah,
b. Suhu tubuh meningkat dari suhu basal,
c. Diuresis berkurang,
d. Berat jenis (bj) urin lebih dari atau sama dengan 1,019 (tanpa
adanya glukosuria dan proteinuria),
e. Rasio blood urea nitrogen/kreatinin lebih dari atau sama dengan
16,9 (tanpa adanya perdarahan aktif saluran cerna) maka
kemungkinan terdapat dehidrasi pada usia lanjut adalah 81%.
2.4.2

Menjelaskan gejala dehidrasi pada anak


Mengenali gejala dehidrasi pada anak, baik yang ringan, sedang maupun yang
berat bisa membantu dalam mengevaluasi tingkat dehidrasi pada anak. Serta
merupakan langkah preventif terhadap dehidrasi.Berikut merupakan gejala
dehidrasi:
a. Dehidrasi Ringan
i. jarang terjadi gejala yang signifikan
ii. kehilangan cairan mencapai 5% berat badan
iii. defisit cairan berikar antara 30-50mL/kg
b. Dehidrasi Sedang
Sudah terlihat tanda patologis pada anak, terjadi perubahan kondisi fisik
yang signifikan,
i. Anak menangis tanpa air mata
ii. Mulut dan bibir kering. Jika tubuh kekurangan cairan hampir seluruh
tubuh akan menjadi kering. Kondisi ini biasanya ditandai pada bagian
mulut dan bibir yang kering.
iii.

Penurunan berat badan, pada dehidrasi sedang tubuh kehilangan cairan


diantara 5% - 10% berat badan.

iv.

Lihat ubun-ubunnya, bila cekung, atau lebih cekung dari biasanya


kemungkinan besar merupakan dehidrasi.

v.

Jarang buang air kecil (BAK). Waspadai jika air seni yang keluar
sangat sedikit dan berwarna gelap.

vi.

Mata anak tampak cekung dan seakan terbenam.

vii.

Tidak bergairah, lemas dan selalu mengantuk, seperti; hanya tergolek


di tempat tidur tanpa aktivitas yang berarti.

viii.

Perkiraan defisit cairan 60-90 mL/kg

ix.

Kulit tampak pucat, kering dan tidak elastis. Untuk lebih memastikan
cobalah mencubit kulit anak secara perlahan. Bayi yang mengalami
dehidrasi, setelah dicubit, kulitnya tidak akan cepat kembali normal.

14

x.

Demam, terjadi peningkatan suhu tubuh sampai 38 C bahkan lebih.

c. Dehidrasi Berat
i. Tubuh kehilangan cairan > 10% berat badan.
ii. Kesadaran anak menurun, napas jadi cepat dan denyut jantung
meningkat.
iii. Hilang kesadaran. Hal ini karena cairan yang sangat dibutuhkan untuk
metabolisme tubuh berkurang, maka seluruh sistem kerja organ tubuh
menjadi terganggu dan otak tidak berfungsi secara sempurna.
iv. Pengeluaran cairan makin tidak sebanding dengan kebutuhan tubuh,
yakni bisa mencapai 200-250 cc/kg BB dalam sehari. Kondisi ini
membuat berat badan anak turun secara drastis, yaitu lebih dari 10%
BB asalnya.
v. Tangan dan kaki yang dingin dan lembab
vi. Ketidakmampuan untuk minum
vii. Hilangnya keelastisan tubuh secara keseluruhan
viii. Jika menangis tidak ada air mata
ix. Lapisan lendir yang sangat kering pada mulut
x. Berkuranganya volume air seni
LI 2.5 Memahami dan menjelaskan mekanisme dehidrasi
Beberapa mekanisme bekerja sama untuk mempertahankan keseimbangan
cairan dalam tubuh. Salah satu yang terpenting adalah mekanisme dehidrasi. Jika
tubuh memerlukan lebih banyak air, maka pusat saraf di otak dirangsang sehingga
timbul rasa haus. Rasa haus akan bertambah kuat jika kebutuhan tubuh akan air
meningkat, mendorong seseorang untuk minum dan memenuhi kebutuhannya akan
cairan.
Mekanisme lainnya untuk mengendalikan jumlah cairan dalam tubuh
melibatkan kelenjar hipofisa di dasar otak. Jika tubuh kekurangan air, kelenjar
hipofisa akan mengeluarkan suatu zat ke dalam aliran darah yang disebut hormon
antidiuretik. Hormon antidiuretik merangsang ginjal untuk menahan air sebanyak
mungkin.
Jika tubuh kekurangan air, ginjal akan menahan air yang secara otomatis
dipindahkan dari cadangan dalam sel ke dalam aliran darah untuk mempertahankan
volume darah dan tekanan darah, sampai cairan dapat digantikan melalui
penambahan asupan cairan. Jika tubuh kelebihan air, rasa haus ditekan dan kelenjar
hipofisa hanya menghasilkan sedikit hormon antidiuretik, yang memungkinkan
ginjal untuk membuang kelebihan air melalui air kemih.

15

Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit


diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat
informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melali
baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotiikus, osmoreseptor di hypothalamus,
dan volumereseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem
endokrin, hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan
adalah Angiotensin II, Aldosteron, dan Vasopresin/ ADH dengan meningkatkan
reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh, maka
hormone atripeptin (ANP) akan meningkatkan ekskresi volume natrium dan air .
Sumber: www.medicastore.com

LI 2.6 Memahami dan menjelaskan akibat dehidrasi


Dehidrasi dapat mengakibatkan gangguan dalam fungsi otak seperti konsentrasi dan
kemampuan berpikir di samping secara fisik dapat menurunkan stamina dan
produktivitas kerja melalui gangguan sakit kepala, lesu, lemas, kejang hingga pingsan.
Dalam jangka panjang dehidrasi dapat menyebabkan infeksi saluran kemih (UTI-Urinary
Track Infection) dan terjadinya batu ginjal.

LI 2.7 Memahami dan menjelaskan terapi pada dehidrasi


2.7.1 Terapi dehidrasi pada orang dewasa:

16

Cairan harus diberikan untuk mengkoreksi jumlah kehilangan yang terakumulasi, dan
juga kehilangan cairan yang sedang berlangsung. Jenis cairan yang diberikan tergantung
dari cairan dan garam jenis apa yang telah hilang:
1. Jika yang telah hilang adalah darah, maka berikanlah darah.
2. Jika yang telah hilang adalah garam yang berimbang dengan cairan, berikanlah salin
fisiologis.
3. Jika yang telah hilang terutama air, pada tahap awal berika dekstrosa 5%, jenis gula
yang dimetabolisme dengan cepat sehingga meninggalkan sisa berupa air.
4. Jika dehidrasi berat, berikan ekspander volume (misalnya Haemaccel)
Terapi diarahkan dengan kadar elektrolit serum (periksa setiap hari), terutama kadar Na:
a. Tinggi > mmol/L infus dekstrosa 5%
b. Rendah akut 120-132 mmol/L-infus salin fisiologis
Hati-hati: banyak pasien dengan hiponatremia tidak mengalami kehilangan cairan dan
akan diperburuk dengan pemberian salin, misalnya pada gagal jantung, penyakit hati,
SIADH (syndrome of inappropiate antidiuretic hormone secretion). Perlu hati-hati dalam
memberikan salin pada pasien dengan kadar natrium yang sangat menurun, yaitu < 115
mmol/L, terutama jika di bawah pengaruh alkohol atau menderita malnutrisi, hal tersebut
dapat memicu mielinosis pons sentral (sindro batang otak yang berat dan ireversibel)
a. Natrium fisiologis: 2 liter salin fisiologis diberikan untuk setiap liter dekstrosa
5%.
b. Pada terapi penggantian cairan yang berlangsung lama, nutrisi juga harus
diberikan. Jangan memberikan kalium, karena darah sudah mengandung
kalium, kecuali jika kadarnya memang rendah < 3,5 mmol/L.
Terdiri dari 3 jalur pemberian cairan:
1. Jalur oral: defisit ringan dan pasien dalam keadaan sadar serta bisa menelan.
Kehilangan cairan masih dalam batas normal.
2. Jalur nasogastrik: gangguan menelan pada pasien dengan keadaan stabil dan dalam
terapi jangka panjang, misalnya pada pasien stroke.
3. Jalur intravena: terapi jangka pendek < 48 jam, terapi dalam jumlah besar atau
kehilangan yang berfluktuasi. Fungsi saluran pencernaan terganggu.
Kehilangan cairan dapat digantikan dengan cepat, misalnya 500 mL/jam,
kecuali pada penderita penyakit jantung dengan risiko edema paru, kecepatan
diperlambat menjadi 200 mL/ jam. Euvolemia ditandai dengan tidak adanya
dehidrasi, atau gagal jantung, produksi urin normal.
Rumus sederhana untuk mempertahankan euvolemia pada pasien yang tidak demam
adalah:

17

Asupan cairan/jam = produksi urin/jam + 20 mL/jam


(misalnya fistula, diare) / jam.

+ kehilangan lainnya

2.7.2 Terapi dehidrasi pada anak:


Dehidrasi sering dikategorikan berdasarkan osmolaritasnya (gangguan distribusi air
dalam tubuh dan di tingkatkan kekurangan cairan, yang dapat membantu dalam
menentukan terapi cairan yang akan diberikan)
Berdasarkan kadar iodium serum, anak-anak mengalami:
a. Dehidrasi isotonik (130-150 mg/L)
b. Dehidrasi hipertonik (>150 mg/L)
c. Dehidrasi hipotonik (<130 mg/L)
Tingkat keparahan dehiodrasi ditentukan dari jumlah cairan tubuh yang hilang atau
presentase kehilangan berat badan, sehingga dehidrasi:
a. Ringan ( 30 m/kg atau <5%)
b. Sedang (50-100m/kg atau 5-10%)
c. Berat (100m/kg atau >10%)
Menentukan derajat dehidrasi dibtuhkan untuk menentukan pengobatan mana yang
sesuai, selain itu juga dilakukan pemeriksaan fisik pada anak, urin, dan berat badan
Dehidrasi di atas dengan pemberian cairan yang jumlahnya dihitung sbb:
1. Previous loss atau defisit, yaitu jumlah cairan yang telah hilang biasanya berkisar
antara 5-15% berat badan.
2. Normal water losses yang terdiri dari urin ditambah jumlah cairan yang hilang
melalui pemnguapan pada kulit dan pernafasan.
3. Concomitant losses yaitu jumlah cairan yang hilang melalui muntah dan diare (kira
kira 25 ml bb /24 jam), dengan suction, parasentesis asites, dan sebagainya.
Jenis Cairan untuk Rehidrasi
1. Cairan Rehidrasi Oral (CRO)
Biasanya diberikan pada penderita dehidrasi ringan dan sedang. Formula lengkap
mengandung NaCl, KCl, NaHCO3, dan glukosa: oralit. CRO yang tidak
mengandung keempat komponen di atas: larutan gula garam, larutan tepung berasgaram, air kelapa, berdasarkan penelitian, air tajin mengandung glukosa polimer,
yaitu gula yang mudah diserap dan dicerna tubuh. Protein poliglukosa yang
dikandung dalam tepung tajin pun dapat membuat feses lebih padat.
2. Cairan Rehidrasi Parental
18

Pada pasien dengan dehidrasi berat, cairan yang diberikan secara parental jenis
cairannya adalah RL (Ringer Lactate) jumlah cairan yang diberikan infuse,
tergantung dari tingkat dehidrasi sesuai dengan umur dan berat badan.
Rehidrasi Parental untuk Dehidrasi Berat
Komposisi larutan RL pada bayi (< 12 bulan):
a. 1 jam pertama: 30 ml/kgbb
b. 5 jam berikutnya: 70ml/kgbb
Komposisi larutan RL pada anak (>12 bulan) :
a. 1 jam pertama: 30 ml/kgbb
b. 3 jam berikutnya: 70 ml/kgbb
Jenis cairan kristaloid yang digunakan untuk rehidrasi tergantung dari jenis
rehidrasinya. Pada dehidrasi isotonik dapat diberikan cairan NaCl 0,9% atau
dekstrosa 5% dengan kecepatan 25-30% dari defisit cairan total perhari. Pada
dehidrasi hipertonik digunakan cairan NaCl, 45%. Dehidrasi hipotonik
ditatalaksanakan dengan mengatasi penyebab yang mendasari, penambahan diet
natrium, dan bila perlu pemberian cairan hipertonik.
LO 3. Memahami dan menjelaskan elektrolit
LI 3.1 Memahami dan menjelaskan definisi elektrolit
Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik
yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan danelektrolit masuk ke dalam
tubuh melalui makanan, minuman, dan cairanintravena (IV) dan didistribusi ke
seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya
distribusi yang normal dari air tubuh total danelektrolit ke dalam seluruh bagian
tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolitsaling bergantung satu dengan yang
lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.
LI 3.2 Memahami dan menjelaskan komposisi elektrolit
Elektrolit yang terdapat pada cairan tubuh akan berada dalam bentuk
ion bebas (free ions). Secara umum elektrolit dapat diklasifikasikan
menjadi 2 jenis yaitu kation dan anion. Jika elektrolit mempunyai
muatan positif (+) maka elektrolit tersebut disebut sebagai kation
sedangkan jika elektrolit tersebut mempunyai muatan negatif (-) maka
elektrolit tersebut disebut sebagai anion. Contoh dari kation adalah +
+ - - natrium (Na ) dan nalium (K ) & contoh dari anion adalah klorida
(Cl ) dan bikarbonat (HCO ). Elektrolit- 3 + + elektrolit yang terdapat
dalam jumlah besar di dalam tubuh antara lain adalah natrium (Na ),
kalium (K ),+ + - - 2- 2- kalsium.

Bayi

Usia (tahun)

Natrium (mg)

Kalium (mg)

Klorida (mg)

0 0,5

115 350

350 925

275 200
19

0,5 1

250 750

425 1275

400 1200

13

325 975

550 1650

500 1500

46

450 1350

775 2325

700 2100

7 10

600 1800

1000 3000

925 2775

11 +

900 2700

1525 4575

1400 4200

Dewasa
110 - 3300
Tabel : kebutuhan mineral dalam tubuh

1875 - 5625

Anak-anak dan
remaja

1700 - 5100

Sumber dan Kebutuhan Mineral


1. Natrium (Na)
i. Sumber : garam dapur, roti, keju, ketan, tiram, biskuit, gandum, wortel,
lobak, bayam, kol, telur, kerang.
ii. Kadar normal : 135-145 mEq / L
iii.
Fungsi : kation utama dalam cairan ekstrasel, mempertahankan tekanan
osmotik, cairan tubuh, preservasi iritabilitas normal otot dan
permeabilitas sel.
iv. Kelebihan : Hipernatremia
v. Kekurangan : Hiponatremia, penyakit addison, berat badan menurun.
vi. Eksresi : keringat (20-50 mEq/L), urine (5-35 mg), feses (20-50 mg),
kulit (25 mg).
vii. Absorpsi : mudah diserap oleh ileum, pada tubulus proksimal
(dipengaruhi oleh hormon aldosteron, norepinefrin, angiotensin II),
lengkung henle (kotranspor NaCl), dan lengkung henle (kotranspor
NaError: Reference source not foundCl).
viii.
Distribusi Natrium dalam tubuh
Cairan atau Jaringan
Mg/dl atau 100 gr
mEq / L
Seluruh darah
160
70
Plasma
330
143
Sel
85
37
Jaringan otot
60 160
Jaringan saraf
312
2. Kalium (K)
i. Sumber : jeruk, pisang, hati sapi, daging sapi, brokoli, ayam, daging
anak kerbau.
ii. Kadar normal : 3,5 5 mEq / L
iii.
Fungsi : kation utama dalam cairan intrasel, mempengaruhi
keseimbangan asam basa dan tekanan osmotik, penting untuk
metabolisme, penting dalam biosintesis protein, penting pada fungsi
saraf dan otot.
iv. Kelebihan : hiperkalemia
v. Kekurangan : hipokalemia
20

vi.
vii.
viii.

Eksresi : dipengaruhi oleh perubahan keseimbangan asam basa dan


aktivitas korteks adrenal. Di usus, di eksresi dengan cairan pencernaan
lalu difiltrasi oleh glomerulus ginjal dan desokresi di tubulus.
Absorpsi : pada usus halus.
Dsitribusi Kalium dalam tubuh

Cairan atau Jaringan


Seluruh darah
Plasma
Sel
Jaringan otot
Jaringan saraf

Mg/dl atau 100 gr


200
20
440
250 400
530

mEq / L
50
5
112

3. Klorida (Cl)
i. Sumber : garam dapur
ii. Kadar normal : 96 - 106 mEq / L
iii.
Fungsi : anion utama cairan ekstraseluler, menjaga keseimbangan cairan
dan elektrolit, mengatur tekanan osmotik, peranan khusus dalam darah
karena fungsinya pada pergeseran klorida, membentuk asam
hidroklorida dalam getah lambung.
iv. Kelebihan : hiperkloremik
v. Kekurangan : hipokloremik
vi. Eksresi : tergantung oleh natrium, jika tubuh banyak kehilangan natrium,
tubuh pun akan kehilangan klor. Tetapi, klor juga dapat lebih banyak
hilang pada saat kehilangan cairan lambung oleh muntah-muntah atau
pada obstruksi pilorus atau duodenum
vii. Distribusi klorida dalam tubuh
Cairan atau Jaringan
Seluruh darah
Plasma atau serum
Sel
Cairan spinal
Jaringan otot
Jaringa saraf

Mg/dl atau 100 gr


250
365
190
440
40
171

mEq / L
70
103
53
124

Gambar :
Kandungan
cairan
ekstraseluler
dan
Intraseluler

21

LI 3.3 Memahami dan menjelaskan gangguan keseimbangan elektrolit


3.3.1. Gangguan Keseimbangan Natrium
Natrium merupakan kation utama di dalam cairan ekstraselular. Kadarnya di
dalam tubuh diatur oleh ginjal dan dipengaruhi oleh hormon aldosteron.
A. Fungsi Natrium di dalam tubuh :
a. Aktivitas neuromuskular
Transmisi dan konduksi impuls syaraf
b. Cairan tubuh
i. Mengatur osmolalitas vaskular
ii. Mengatur keseimbangan air, bila kadar natrium meningkat akan
terjadi retensi air
c. Selular
i. Pompa natrium (Na) - kalium (K) : Na masuk ke dalam sel sedangkan
K keluar dari sel secara terus menerus untuk mempertahankan
keseimbangan air dan aktivitas neuro muskular. Bila Na masuk ke
dalam sel maka akan terjadi depolarisasi (aktivitas sel), tapi bila Na
keluar dari sel maka K akan masuk ke dalam sel dan terjadi
repolarisasi
ii. Aktivitas enzim
d. Asam basa
i. Mengatur keseimbangan asam basa
ii. Nilai normalnya di darah
: 135-146 mEq/liter atau mmol/liter
iii. Nilai normalnya di urin
: 40-220 mEq/liter/hari
B. Etiologi Hiponatremia
a. Asupan makanan
i. rendahnya kadar Na di makanan kurang dari 135 mEq/L
ii. asupan air yang berlebihan : mengakibatkan pengenceran cairan
ekstrasel
iii. anoreksia nervosa
iv. pemberian infus Dekstrosa 5 % yang berkepanjangan
b. Keluarnya natrium dari saluran pencernaan
i. muntah, diare, aspirasi dari saluran cerna
ii. operasi saluran cerna
iii. bulimia
iv. kehilangan potassium
c. Keluarnya natrium dari ginjal
i. gangguan tubulus ginjal : tidak respon terhadap ADH pengeluaran
Na, Cl dan air
ii. diuretik
d. Pengaruh hormone
ADH menyebabkan peningkatan reabsorbsi air dari tubulus distal
cairan ekstraselular menjadi lebih banyak mengandung air kadar Na
berkurang

22

e. Penurunan hormon adreno-kortikal : penyakit kelenjar adrenal (Addison)


produksi hormon adreno-kortikal berkurang pengeluaran Na dan
retensi K
C. Manifestasi Klinis Hiponatremia
Manifestasi klinis hiponatremia bervariasi tergantung pada jumlah
natrium yang hilang. Hiponatremia ringan biasanya asimptomatik (tidak
bergejala), dan gejala awal biasanya berupa mual dan muntah, Denyut nadi
cepatnamun lemah, hipotensi, pusing, ketakutan,dan kecemasan, kram
abdomen, mual, danmuntah, diare, koma dan konvulsi, sidik
jarimeninggalkan bekas pada sternum setelahpalpasi, koma, kulit lembab dan
dingin.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium: natriumserum < 135 mEq/ L,
osmolalitas serum <280 mOsm/ kg
D. Manifestasi Klinis Hipernatremia
Pemeriksaan Fisik:Demam tingkat rendah,hipotensi postural, lidah dan
membranmukosa kering, agitasi, konvulsi, gelisah,eksitabilitas, oliguria/
aniria, rasa haus.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium: natriumserum > 145 mEq/L,
osmolalitas serum >295 mOsm/ kg, dan berat jenis urine > 1,030(jika
kehilangan air bukan disebabkandisfungsi ginjal.
3.3.2. Gangguan Keseimbangan Kalium
Kalium (K) merupakan kation terbanyak di dalam sel tubuh, sebanyak 90 %
terdapat di cairan intrasel dan 2-3 % terdapat di cairan ekstrasel. Kadar K di
dalam sel 150 mEq dan di cairan ekstrasel 3,5 5,3 mEq.
A. Fungsi kalium di dalam tubuh :
a. Aktivitas neuromuskular
i. Transmisi dan konduksi impuls syaraf
ii. Kontraksi otot rangka, otot polos dan jantung
b. Cairan tubuh
Mengatur osmolalitas intraselular
c. Selular
i. Pompa natrium (Na) - kalium (K) : Na masuk ke dalam sel
sedangkan K keluar dari sel secara terus menerus untuk
mempertahankan keseimbangan air dan aktivitas neuro muskular.
Bila Na masuk ke dalam sel maka akan terjadi depolarisasi (aktivitas
sel), tapi bila Na keluar dari sel maka K akan masuk ke dalam sel
dan terjadi repolarisasi
ii. Sktivitas enzim untuk metabolisme selular
d. Asam basa
Mengatur keseimbangan asam basa
B. Etiologi Hipokalemia
a. Asupan makanan
i. rendahnya kadar K di makanan kurang dari 3.5 mEq/L
ii. malnutrisi, kelaparan, diet yang tidak seimbang
23

b.

c.

d.

e.

f.

iii. anoreksia nervosa


iv. alkoholisme
Keluarnya kalium dari saluran pencernaan
i. muntah, diare, aspirasi dari saluran cerna
ii. operasi saluran cerna, fistula saluran cerna
iii. bulimia
Keluarnya kalium dari ginjal
i. fase diuresis (poliuria) gagal ginjal akut
ii. diuretik, terutama diuretik yang tidak hemat kalium
iii. hemodialisis, peritoneal dialisis
Pengaruh hormon
i. penggunaan steroid, terutama kortison dan aldosteron
meningkatkan ekskresi kalium dan retensi natrium
ii. stress, menyebabkan peningkatan produksi steroid di
tubuh
iii. penggunaan licorice (mengandung asam gliserat)
berlebihan, memiliki efek seperti aldosteron
Gangguan fungsi selular
i. trauma, kerusakan jaringan, luka bakar, operasi
ii. menyebabkan banyak kalium yang dilepaskan ke dalam
intra vaskular
Redistribusi kalium
i. alkalosis metabolik, menarik kalium masuk ke dalam sel
ii. insulin, menarik glukosa dan kalium ke dalam sel

dapat
dalam
yang

cairan

C. Manifestasi Klinis Hipokalemia


Defisit kalium dapat memperlambat kontraksi otot, baik otot rangka
maupun otot saluran pencernaan.
a. Gangguan saluran cerna : anoreksia, mual, muntah, diare, distensi
abdomen, gangguan peristaltik dan ileus
b. Gangguan neuromuskular : kelemahan otot, penurunan refleks tendon,
paralisis otot pernafasan
c. Gangguan ginjal : poliuria dan polidipsia
Pemeriksaan Fisik: denyut nadi lemah dantidak teratur, pernafasan
dangkal, hipotensi,kelemahan, bising usus menurun, blok jantung (pada
hipokalemia berat), parestesia,keletihan, tonus otot menuru, distensi usus
Hasil Pemeriksaan Laboratorium. kaliumserum < 3 mEq/L menyebabkan
depresigelombang ST, gelombang T datar,gelombang U lebih tinggi, pada
pemeriklsaan EKG, kadar kalium serum 2 mEq/L menyebabkan kompleks
QRS melebar,depresi ST, inversi gelombang T.
D. Manifestasi Klinis Hiperkalemia
Pemeriksaan Fisik:
Denyut nadi tidak menurun dan lambat, hipotensi, kecemasan/ ansietas,
iritabilitas, parestesia, kelemahan.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium:
Kaliumserum > 5,3 mEq/L menyebabkanrepolarisasi lebih cepat
(gelombang Tmencapai puncaknya, frekuensi denyut jantung 60- 110),
kadar kalium serum >7mEq/L menyebabkan konduksi interatialrusek
(gelombang P lebar dan rendah)sedangkan kadar kalium > 8
24

mEq/Lmenyebabkan tidak adanya aktivitas atrial(tidak ada gelombang P)


pada pemeriksaanEKG

3.3.3. Gangguan Keseimbangan Klorida


1. Hipokloremia
Kekurangan klorida sebagai penyebab alkalosis metabolik terjadi bila
kehilangan lorida tubuh melebihi kehilangan natrium. Hipokloremia juga
dapat disebabkan oleh masukan klorida tidak adekuat berkepanjangan. Contoh
adalah kehilangan dari usus akibat muntah atau drainase lambung dan pada
diare klorida.
2. Hiperklaremia
Hiperklaremia dapat terjadi apabila klorida di konservasi di ginjal melebihi
natrium dan kalium atau terbentuknya urin basa selama ginjal mengkoreksi
alkalosis.Hiperkloremia juga dapat terjadi aabila sejumlah besar cairan
parenteral yang mengandung klorida, seperti garam fisiologis (saline) normal
dan Ringer Lactate diberikan pada saat resusitasi cairan akut.
LO 4. Memahami dan menjelaskan etika islam
LI 4.1 Memahami dan menjelaskan cara minum sesuai etika islam dan dalil dalil
yang mengatur
Aktivitas minum merupakan aktivitas yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Berikut merupakan etika minum menurut islam
a. Meniatkan minum untuk dapat beribadah kepada Allah agar bernilai pahala
Segala perkara yang mubah dapat bernilai pahala jika disertai dengan niat untuk
beribadah. Oleh karena itu, maka niatkanlah aktivitas minum kita dengan niat
agar dapat beribadah kepada Allah.
b. Membaca basmalah di awal minum dan membaca hamdalah setelah minum
Diantara sunnah Nabi adalah mengucapkan basmallah sebelum minum. Hal ini
berdasarkan hadits yang memerintahkan membaca bismillah sebelum makan.
Bacaan bismillah yang sesuai dengan sunnah adalah cukup dengan bismillah
tanpa tambahan ar-Rahman dan ar-Rahim.
Dari Amr bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah
dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu. (HR
Thabrani dalam Mujam Kabir)
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air ini segar berkat rahmat-Nya
dan tidak menjadikan asin karena dosa-dosa kami.
c. Minum dengan tangan kanan.
Mengambil gelas atau tempat minum dengan tangan kanan dan minum dengan
tangan kanan pula. Diriwayatkan dari Hafshah RA :
Rasulullah SAW menggunakan tangan kanannya ketika makan dan minum
serta tangan kirinya untuk yang lainnya. (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,Jika salah seorang dari kalian
hendak makan, hendaklah makan dengan tangan kanan. Dan apabila ingin
minum, hendaklah minum dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan makan
dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya. (HR. Muslim)
d. Tidak bernafas dan meniup air minum.
25

Termasuk adab ketika minum adalah tidak bernafas dan meniup air minum. Ada
beberapa hadits mengenai hal ini:Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, Jika kalian minum maka janganlah bernafas dalam wadah air
minumnya. (HR. Bukhari Muslim)
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan, Larangan bernafas
dalam wadah air minum adalah termasuk etika karena dikhawatirkan hal
tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau
dikhawatirkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang jatuh ke dalamnya dan
hal-hal semacam itu.
Bau tidak enak ini bisa menyebabkan orang tidak mau meminumnya lebih-lebih
jika orang yang meniup tadi bau mulutnya sedang berubah. Ringkasnya hal ini
disebabkan nafas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman. Oleh
karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dua hal sekaligus
yaitu mengambil nafas dalam wadah air minum dan meniupinya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas :
Bahwa Rasulullah melarang bernafas di tempat minuman dan meniupnya.
(HR atTarmidzi)
e. Bernafas tiga kali ketika minum.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau mengatakan, Ketika Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam minum beliau mengambil nafas di luar wadah air
minum sebanyak tiga kali. Dan beliau bersabda,Hal itu lebih segar, lebih enak
dan lebih nikmat.
Anas mengatakan, Oleh karena itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali.
(HR. Bukhari no. 45631 dan Muslim no. 2028). Yang dimaksud bernafas tiga
kali dalam hadits di atas adalah bernafas di luar wadah air minum dengan
menjauhkan wadah tersebut dari mulut terlebih dahulu, karena bernafas dalam
wadah air minum adalah satu hal yang terlarang sebagaimana penjelasan di atas.
f. Larangan minum langsung dari mulut teko/ceret.
Menurut sebagian ulama minum langsung dari mulut teko hukumnya adalah
haram, namun mayoritas ulama mengatakan hukumnya makruh. Dari Kabsyah
al-Anshariyyah, beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
masuk ke dalam rumahku lalu beliau minum dari mulut qirbah yang
digantungkan sambil berdiri. Aku lantas menuju qirbah tersebut dan memutus
mulut qirbah itu. (HR. Turmudzi no. 1892, Ibnu Majah no. 3423 dan
dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadits ini menunjukkan bolehnya minum dari mulut wadah air. Untuk
mengkompromikan dengan hadits-hadits yang melarang, al-Hafidz Ibnu Hajar
al-Atsqalani mengatakan, Hadits yang menunjukkan bolehnya minum dari
mulut wadah air itu berlaku dalam kondisi terpaksa.
g. Minum dengan posisi duduk.
Terdapat hadits yang melarang minum sambil berdiri. Dari Abu Hurairah
radhiyallahu
anhu,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Janganlah kalian minum
sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka
hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya. (HR. Ahmad)
Mengenai hadits di atas, ada ulama yang berkesimpulan minum sambil berdiri
diperbolehkan, meski yang lebih utama adalah minum sambil duduk. Diantara
ulama tersebut adalah Imam Nawawi dan Syaikh Utsaimin. Meskipun minum
sambil berdiri diperbolehkan, namun yang lebih utama adalah sambil duduk

26

h.

i.

j.

k.

l.

m.
n.

karena makan dan minum sambil duduk adalah kebiasaan Nabi shallallahu
alaihi wa sallam.
Diriwayatkan dari Anan RA, dia berkata : Rasulullah melarang meminum
dengan berdiri. Mereka bertanya, bagaimana dengan makan? beliau
menjawan, lebih lagi waktu makan.(HR muslim)
Tenang, perlahan dan tidak terburu buru.
Jangan bersikap rakus sehingga tampak mulut penuh dengan suapan, dan jangan
meniup-niup makanan atau minuman yang menunjukkan sikap tidak sabar. Dari
Ibnu Abas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian minum
dengan sekali tegukan seperti minumnya unta, tetapi minumlah dengan dua
atau tiga kali tegukan. Ucapkanlah bismillah jika kalian minum dan
alhamdulillah jika kalian selesai minum. (HR. Turmidzi).
Menutup bejana air pada malam hari.
Biasakan diri kita untuk menutup bejana air pada malam hari. Sebagaimana
hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda,
Tutuplah bejana-bejana dan wadah air. Karena dalam satu tahun ada satu
malam, ketika ituturun wabah, tidaklah ia melewati bejana-bejana yang tidak
tertutup, ataupun wadah air yang tidak diikat melainkan akan turun padanya
bibit penyakit. (HR. Muslim)
Tidak minum berlebihan
Minum berlebihan pada saat makan sangat tidak dianjurkan karena dapat
mengganggu pencernaan, hendaknya minum beberapa saat sebelum dan sesudah
makan.
Tidak minum dengan menggunakan tempat dari emas dan perak
Diriwayatkan dari Ummu Salamah RA,dia berkata,Rasullullah SAW
bersabda:Orang-orang yang makan dan minum dengan bejana emas dan perak,
sungguh telah menuangkan ke dalam perutnya api dari neraka (HR. Muslim)
Minum dengan tiga tegukan dimulai basmalah dan diakhiri dengan hamdalah
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA,dia berkata,Rasulullah SAW bersabda,
Janganlah kalian minum seperti minumnya unta,tetapi minumlah dengan minum
dua-dua (teguk) atau tiga-tiga (teguk),hendaknya kalian membaca basmalah
ketika minum dan membaca hamdalah setelah minum.(HR.Tirmidzi)
Hendaklah ketika membagikan minuman memegang minuman tempat (nampt)
dengan tangan kiri memberikannya dengan tangan kanan, dimulai dari yang
tertua atau yang tertinggi kedudukannya dalam masyarakat.
Hendaknya pemberi minuman adalah orang yang terakhir minum. Diriwayatkan
dari Abi Qatadah RA, Nabi SAW bersabda : Orang yang memberi minum
adalah orang yang paling akhir minum. (HR. at Tarmidzi)

27

DAFTAR PUSTAKA

Behrman R.E. et al (1999), Ilmu Kesehatan Anak Nelson edisi 15, ab.A.Samik Wahab,
Jakarta, EGC.
http://habibiezone.wordpress.com/2009/12/07/tata-cara-makan-menurut-islam/ sumber :
Bahaya Makanan dan Minuman Haram bagi Kesehatan Jasmani dan Kesucian Rohani ,
Karya: Thobieb Al-Asyhar,2003 diambil pada rabu, 15 Februari 2012 pukul 20.01 wib
http://medicastore.com/penyakit/284/Dehidrasi.html diambil pada rabu, 15 Februari 2012
pukul 20.00 2ib
http://www.blogdokter.net/2009/06/20/dehidrasi/ diambil pada rabu, 15 Februari 2012 pukul
19.55 wib
http://www.scribd.com/doc/17059905/Cairan-Dan-Elektrolit-Dalam-Tubuh-Manusia diambil
pada rabu, 15 Februari 2012 pukul 20.02 wib
http://www.scribd.com/doc/59400493/5/Definisi-Elektrolit diambil pada rabu, 15 Februari
2012 pukul 20.15 wib
http://www.scribd.com/doc/7244500/Kebutuhan-Cairan-Dan-Elektrolit diambil pada kamis,
16 Februari 2012 pukul 05.03 wib
Madjid A.S. et al (2008), Gangguan Keseimbangan Air-elektrolit dan asam basa.Jakarta :
FKUI
Sudoyo A.W. et al (2009), Ilmu Penyakit Dalam Ed.5Jilid 1.Jakarta,EGC
Sudoyo, W Aru, Bambang setiyohadi, Idrus Alwi. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I Ed.5 . Jakarta : Interna Publishing

28