Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara
lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia
(Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan,
kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan
manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati
urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan
tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan Nasional tetapi lebih banyak
disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia.
Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.
Setelah kita amati, ternyata ada beberapa faktor yang mempengaruhi adanya kendalakendala dalam upaya pelaksanaan tujuan pendidikan, yang pertama rendahnya mutu
pendidikan yang dipengaruhi oleh efesiensi dalam pengangkatan dan penempatan tenaga
kependidikan serta adanya perubahan kurikulum yang menjadi landasan
pembelajaran.Yang kedua ketidak merataan pendidikan pada setiapa warga Negara
Indonesia yang dipengaruhi oleh keterbatasan sarana dan prasarana oyang tersedia.
Masalah- masalah tersebut akan menjadi bahasan dalam makalah yang berjudul
permasalahan pendidikan di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja masalah- masalah pokok pendidikan?
2. Bagaimana keterkaitan antar masalah- masalah pokok tersbut?
3. Factor- factor apa saja yang mempengaruhi masalah pendidikan?
4. Permasalahan Aktual Pendidikan Di Indonesia Dan Cara Penanggulangannya
C. Tujuan Penulisan
1. Mendiskripsikan masalah- masalah pokok pendidikan.
2. Menunjukkan keterkaitan antar masalah- masalah pokok tersebut dengan bagan.
3. Menyebutkan faktor- faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan
4. Mengidentifikasi permasalahan- permasalahan aktual pendidikan di Indonesia dan
merumuskan cara penanggulangannya
a. Manfaat Penulisan
1. Bagi Pemerintah
Bisa dijadikan sebagai sumbangsih dalam meningkatkan kualitas pendidikan di
Indonesia.
2. Bagi Guru
Bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengajar agar para peserta didiknya dapat
berprestasi lebih baik dimasa yang akan datang.
3. Bagi Mahasiswa
Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri
pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya.

Permasalahan pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
A. PERMASALAHAN POKOK PENDIDIKAN
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk membantu
proses pembangunan, namun seiring berkembangnya zaman pendidikan selalu
menemui masalah dan tantangan- tantangan baru, hal ini terjadi karena sifat
sasarannya (manusia) adalah makhluk misteri, yang kedua karena usaha pendidikan
harus mengantisipasi ke hari depan yang tidak segenap seginya terjangkau oleh
kemampuan daya ramal manusia, oleh karena itu perlu ada rumusan yang dijadikan
sebagai masalah- masalah pokok yang dapat dijadikan pegangan untuk mencari solusi
oleh pendidik untuk mengemban tugasnya.
Adapun masalah- masalah pokok tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pemerataan pendidikan
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan
dapat menyediakan kesempatan yang seluas- luasnya kepada seluruh warga
Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana
bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan
Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara
khususnya anak usia sekolahyang tidak dapat ditampung ke dalam sistem atau
lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia.
2. Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf
seperti yang diharapkan.penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh
lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhadap calon luaran, dengan sistem
sertifikasi, selanjunya jika luaran tersebut terjun ke lapangan kerja penilaian
dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes
unjuk kerja (performance test), lazimnya sesudah itu masih dilakukan pelatihan/
pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja di
lapangan, jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluarannya
3. Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah efisiansi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan
mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika
peggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi
yang sebaliknya, efisiensinya berarti rendah.
Beberapa masalah efesiensi pendidikan yang penting ialah :
a. Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
b. Bagaimana sarana dan prasarana pendidikan digunakan

Permasalahan pendidikan

c. Bagaiman pendidikan diselenggarakan


d. Masalah efesiensi dalam memfungsikan tenaga
Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembangan tenaga.
a. Masalah pengangkatan guru
Masalah pengangkatan terletak terletak pada kesenjangan antara stok tenaga
yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas.
b. Masalah penempatan guru
Masalah penempatan guru, khususnya guru bidang studi , sering mengalami
kepincangan, tidak disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan
c. Masalah pengembangan tenaga pendidikan
Masalah pengembangan pendidikan di lapangan biasanya terlambat,
khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru.
4. Masalah relevansi pendidikan
Telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan
sumber daya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan
mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang
sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang
digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang
beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa , dan lain-lain. Baik dari segi
jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan sistem
luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan baik yang aktual (yang
tersedia) maupun yang potensial dengan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan
oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.
B. KETERKAITAN ANTAR MASALAH- MASALAH POKOK PENDIDIKAN
Meskipun keempat masalah pendidikan seperti yang telah dikemukakan dalam butirbutir diatas dapat dibedakan satu sama lain, namun dalam kenyataan pelaksanaan
pendidikan dilapangan masalah -masalah tersebut saling berkaitan.Bahkan mungkin
secara serentak muncul dalam permukaan meskipun dengan bobot yang tidak sama.
Berikut bagan yang menunjukkan adanya keterkaitan antar masalah- masalah pokok
tersebut:
Kebutuhan Masyarakat
relevansi

Hasil
Pendidikan

Permasalahan pendidikan

Tujuan

Mutu

Pendidikan

Proses
Pendidikan

efisiensi

Rancangan
Pendidikan

Pemerataan

Warga Negara
(masukan mentah pendidikan)

C. FAKTOR-

FAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI

PERKEMBANGAN

MASALAH PENDIDIKAN.
Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan pada bahasan di atas
merupakan masalah penggunaan mikro yaitu masalah- masalah yang berlangsung di
dalam sistem pendidikan sendiri, masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah
makro pembangunan (masalah di luar sistem pendidikan) adapun masalah makro
pendidikan yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:
1. Perkembangan iptek dan seni.
Iptek Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek. Ilmu
pengetahuan merupakan hasi leksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai
alam semesta, dan teknologi aalah penerapan yang direncanakan dari ilmu
pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia, secara individual ataupun
kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah.
Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya,
aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi
pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruksif
serta ketrampilan disamping domain kognitif yang sudah di garap melalui progam
atau bidand study yang lain.

Permasalahan pendidikan

2. Laju pertumbuhan penduduk.


Pertumbuhan penduduk sangat

berpengrauh

terhadap

penggunaan

dan

penempatan sarana dan prasarana pendidikan.


3. Aspirasi masyarakat.
Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal
meningkat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan Hidup yang sehat, aspirasi
terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi penigkatan aspirasi terhadap
pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang layak yang sehat
harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan
untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan dianggap
memberikan jaminan bagi peningkatan tarif hidup dan pendidikan maka orang
tua mendorong anaknya utuk bersekolah,agar nantinya anak anaknya memperole
pekerjaan yang lebih baik dari pada orang tuanya sendiri.
4. Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan
Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok
masyarakat yang menganggap dirinya sudah maju ) kepada masyarakat lain
pendukung budaya. Bagi masyarakat pendukung suatu budaya, kebudayaan pasti
dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dari kenyataan apakah
kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan zaman. Karena itu
penilaian dari masyarakat luar itu dianggap subjektif.
Perubahan kebudayaan terjadi karena adanya penemuan baru dari luar maupun
dari dalam lingkungan masyarakat itu tersendiri. Kebudayaan baru itu baik yang
bersifat material maupun non material.
D. PERMASALAHAN AKTUAL PENDIDIKAN DI INDONESIA DAN CARA
PENANGGULANGANNYA
Pendidikan selalu menghadapi masalah, karena terdapat kesenjangan antara apa yang
di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan
aktual berupa kesenjangan kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa
mendesak untuk ditanggulangi.
Beberapa masalah aktual pendidikan yang sering terjadi di Indonesia meliputi
masalah masalah sebagai berikut :
1. Masalah keutuhan pencapaian sasaran
Di dalam Undang Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan
Nasional Bab II Pasal 4 telah dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah

Permasalahan pendidikan

mengembangkan manusia Indonesia Seutuhnya. Kemudian dipertegas lagi secara


rinci di dalam GBHN butir 2 a dan b, tentang arah dan tujuan pendidikan bahwa
yang di maksutdengan manusia utuh itu adalah manusia yang sehat secara jasmani
dan rohani, manusia yang memiliki hubungan secara vertical ( dengan Tuhan
Yang Maha Esa ) , horizontal ( dengan Lingkungan Dan Masyarakat ), dan
konsentris ( dengan diri sendiri) yang berimbang antara duniawi dan ukhrawi. Jadi
konsepnya sudah cukup baik. Tetapi didalam pelaksanaanya pendidikan efektif
belum ditangani semestinya. Kecenderungan mengarah kepada pengutamaan
pengembangan aspek kognitif.
Masalahnya, apakah sistem pendidikan kita memberi peluang demi terjadinya
pengalaman pengalaman tersebut. Kelihatannya banyak hambatan yang harus
dihadapi antara lain:
a. Beban kurikulum sudah terlalu sarat.
b. Pendidikan afektif sulit di progamkan secara eksplisit, karena dianggap
menjadi bagian kurikulum tersembunyi ( hiden curriculum ) yang
keterlaksanaannya sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman
guru. Jika terjadi perubahan tingkah laku afaktif maka semata mata adalah
hasil atau dampak dari proses pengiring dan bukan dampak langsung dari
proses pembelajaran yang didesain.
c. Pencapaian hasil pendidikan afektif memakan waktu, sehingga memerlukan
ketekunan dan kesabaran pendidik.
d. Menilai hasil pendidikan afektif tidak mudah. Bahkan kalau mau berhasil
juga membutuhkan biaya. Misal , jika PR ingin berdaya pendidik ( ketentuan,
kepercayaan diri, kejujuran, kedisiplinan ) maka harus di periksa dengan
seksama oleh guru dan hasilnya dikembalikan kepada siswa untuk
dibicarakan . Untuk itu perlu ada insentif bagi guru.
e. Disinilah letak masalahnya jika sasaran pendidikan yang utuh ingin di capai.
2. Masalah kurikulum
Pada bagian ini akan dibahas masalah aktual mengenai kurikulum.Masalah
kurikulum meliputi masalah konsep dan masalah pelaksanaanya. Yang menjadi
sumber masalah ini ialah bagaimana system pendidikan dapat membekali peserta
didik untuk terjun kelapangan kerja (bagi yang tidak melanjutkan sekolah) dan
memberikan bekal dasar yang kuat untuk keperguruan tinggi (bagi mereka yang
ingin lanjut). Kedua macam bekal tersebut seyogyanya sudah mulai diberikan
sejak dini. Benih-benihnya sudah ditanam sejak masa prasekolah dan
SD,kemudian dasar-dasarnya sudah diperkuat pada SD. Pada saat itu pendidikan
3RS (reading, writing, dan arithmetic) memegang peranan penting karena

Permasalahan pendidikan

penguasaan 3RS yang baik menjadi dasar yang kukuh untuk perkembangan
selanjutnya. Sampai dengan akhir pendidikan dasar kedua macam beka ldasar
tersebut (bekal dasar keilmuan dan bekal kerja ) sudah harus dikantongi baik bagi
mereka yang akan belajar lanjut maupun bagi mereka yang akan terjun ke
masyarakat. Saat ini system pendidikan dilaksanakan dengan menggunakan
kurikulum 1984 (SK No. 0209/U/1984) yang didesain sebagai penyempurnaan
kurikulum 1975/76. Jika kurikulum 1975/76 berorientasi kepada produk
pendidikan dan kurang membenahi proses pembelajaran maka kurikulum 1984
lebih peduli membenahi proses pembelajaran maka kurikulum 1984 lebih peduli
terhadap kualitas proses pembelajaran. Untuk itu kurikulum 1984 memberi
perhatian yang besar pada CBSA dan ketrampilan proses, juga pelaksanaan ko dan
ekstrakulikuler dengan memperhitungkan hasilnya sebagai bahan untuk nilai
akhir.
Konsep ini memang bagus secara teoretis. Tetapi pelaksanaanya mengundang
banyak masalah. Titik rawan yang bias timbul antara lain bagaimana
mempersiapkan para pelaksana dan membina pendidikan di lapangan khususnya
guru agar dapat ber-CBSA dan melaksanakan ketrampilan proses dalam
pembelajaran. Ini bukan persoalan yang mudah, karena merupakan soal perubahan
sikap dan ketrampilan dalam pembelajaran. Pembenahanya memerlukan
penataran, penyuluhan, bimbingan secara kontinu dari para Pembina pendidikan
serta tenaga ahli, kesemuanya itu berarti beban biaya.
3. Masalah peranan guru
Dahulu sebuah sekolah sudah dapat beroperasi jika ada murid, guru, dan ruangan
tempat belajar dengan beberapa sarana seperlunya. Guru merupakan satu-satunya
sumber belajar, ia menjadi pusat tempat bertanya. Tugas guru memberikan ilmu
pengetahuan kepadamurid. Cara demikian di pandang sudah memadai karena ilmu
pengetahuan guru belum berkembang, cakupanya masih terbatas. Kebutuhan
hidup juga masih sederhana, namun dewasa ini berkat perkembangan iptek yang
demikian pesat bahwa merevolusi, sejak abad ke-19, bagi seorang guru tidak
mungkin lagi menguasai seluruh khasanah ilmu pengetahuan walau dalam
bidangnya sendiri yang ia tekuni. Dia tidak mungkin menjadikan dirinya gudang
ilmu dan oleh karena itu juga tidak satu-satunya sumber belajar bagi muridnya.
Tugasnya bukan memberikan ilmu pengetahuan melainkan terutama menunjukkan
jalan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan, dan mengembangkan
dorongan untuk berilmu. Dengan kata lain menumbuh kembangkan budaya

Permasalahan pendidikan

membaca dan dan budaya meneliti untuk menemukan sesuatu ( scientific curiosity
) pada diri muridnya. Dengan singkat dikatakan tugas guru adalah membelajarkan
pelajar.
4. Masalah pendidikan 9 tahun
Keberadaan pendidikan dasar 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI
Nomor 2 Tahun 1989 pasal 6 menyatakan tentang hak warga Negara untuk
mengikuti pendidikan sekurang-kurangnya tamat pendidikan dasar, pada pasal 13
menyatakan tujuan pendidikan dasar. Kemudian Nomor 28 Tahun 1990 tentang
pendidikan Dasar pasal 2 menyatakan bahwa pendidikan dasar merupakan
pendidikan Dasar, pasal 2 menyatakan bahwa pendidikan dasar merupakan
pendidikan 9 tahun, terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program
pendidikan 3 tahun di SLTP, Pasal 3 memuat tujuan pendidikan dasar yaitu
memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan
kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara, dan anggota
umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan
menengah.
Ketetapan-ketetapan tersebut merupakan realisasi GBHN 1993

tentang

arah pendidikan nasional butir 26 yang antara lain mengatakan perlunya


peningkatan kualitas serta pemerataan pendidikan, terutama peningkatan kualitas
pendidikan dasar.
Dilihat dari segi lamanya waktu belajar pada pendidikan dasar yaitu 9 tahun (yang
di dalam GBHN 1993 butir 2c dinyatakan sebagai pelaksanaan wajib belajar 9
tahun), kita sudah mengalami langkah maju di banding dengan masa-masa
sebelumnya yang menetapkan wajib belajarhanya 6 tahun yaitu sampai tingkat
SD. Secara konseptual dan acuan yang di berikan oleh ketetapan-ketetapan resmi.
Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih-lebih pada tahap awal sudah
pasti banyak hambatanya, hambatan tersebut ialah:
a. Realisasi pendidikan dasar diatur dengan PP No. 28 Tahun 1989 masih harus di
carikan titik temunya dengan PP No. 65 Tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar
sebagai bagian dari pendidikan dasar, karena PP tersebut belum di cabut, (H.A.R.
Tilaar,1992:21)

Permasalahan pendidikan

b. Kurikulum yang belum siap. Jika dalam tahun 1994 ini kurikulum tersebut sudah
dapat di distribusikan ke sekolah-sekolah, tentunya sarana penunjang lainya seperti
juklak, buku-buku, dan fasilitas lainya masih harus di tunggu lagi.
c. Pada masa transisi para pelaksana pendidikan di lapangan perlu disiapkan melalui
bimbingan-bimbingan, penyuluhan, penataran, dan lain-lain.
d. Hambatan lain berasal dari sambutan masyarakat, utamanya dari orang tua/kalangan
yang kurang mampu. Mereka mungkin cenderung untuk tidak menyekolahkan
anaknya karena harus membiayai anaknya lebih lama. Padahal tidak dapat berharap
banyak dari anaknya untuk segera memperoleh pekerjaan setelah tamat dari sekolah.
Upaya Penanggulangan
Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk menanggulangi masalah-masalah
aktual seperti telah di kemukakan diatas, antara lain sebagai berikut:
a. Pendidikan afektif perlu di tingkatkan secara terprogram tidak cukup
berlangsung hanya secara incidental.Pendekatan ketrampilan proses yang
sudah disebar luaskan konsepnya perlu di tindak lanjuti dengan menyebarkan
buku panduanya kepada sekolah-sekolah.Dalam hubungan ini pelaksanaan
pendidikan kesenian perlu diberi perhatian khusus sehingga tidak menjadi
pelajaran yang di kesampingkan.
b. Pelaksanaan ko dan ekstrakulikuler di kerjakan dengan penuh kesungguhan
dan hasilnya di perhitungkan dalam menetapkan nilai akhir ataupun
pelulusan.Untuk itu perlu di kaitkan dengan pembelian insentif bagi guru.
c. Pemilihan siswa atas kelompok yang akan melanjutkan belajar ke pergururan
tinggi dengan yang akan terjun ke masyarakat merupakan hal yang prinsip
karena pada dasarnya tidak semua siswa secara potensial mampu belajar di
perguruan tinggi.Oleh karena itu perlu di susun rancangan yang mantap untuk
itu.Misalnya antara lain sekolah menengah kejuruan tingkat atas diperbanyak
dengan berbagai jenisnya.Disegi lain pendirian perguruan tinggi swasta di
batasi dan akreditasi terhadap PTS di perketat.
d. Pendidikan tenaga kependidikan (perajabatan dan dalam jabatan) perlu di beri
perhatian khusus, oleh karena tenaga kependidikan tenaga guru menjadi
penyebab utama lahirnya sumberdaya manusia yang berkualitas untuk
pembangunan.PKG (pusat kegiatan guru), MGBS ( musyawarah guru bidang
studi) dan MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) perlu di tumbuh
kembangkan terus sebagai modal pengembangan kemampuan guru(self
sustaining competencies).Pendaya gunaan sumber belajar yang beraneka
ragam perlu di tingkatkan.Upaya ini menjadi tanggung jawab kepala
sekolah,guru, teknisi sumber belajar.

Permasalahan pendidikan

e. Untuk pelaksanaan pendidikan dasar 9 Tahun apalagi jika dikaitkan dengan


gerakan wajib belajar, perlu diadakan penelitian secara meluas pada
masyarakat untuk menemukan factor penunjang dan utamanya factor
penghambatnya.
f. Kepada masyarakat luas perlu di berikan informasi yang sifatnya
memperjelas dan persuasive tentang makna dari pendidikan dasar.Realisasi
dari pelaksanaan pendidikan dasar ini dilakukan secara bertahap
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk membantu proses
pembangunan, namun seiring berkembangnya zaman pendidikan selalu menemui
masalah dan tantangan- tantangan baru,adapun masalah- masalah pokok yang
menghambat berjalannya tujuan pendidikan adalah :
1. Pemerataan pendidikan
2. Mutu pendidikan
3. Efesiensi pendidikan
4. Relevansi pendidikan
Ke- empat masalah tersebut mempunyai keterkaitan yang mendalam dan tidak bias
dipisah- pisahkan.
Adapun factor- factor yang mempengaruhi permasalahan tersebut antara lain :
1.
2.
3.
4.

Perkembanagn IPTEK dan seni


Laju pertumbuhan penduduk
Aspirasi masyarakat
Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan.

Berikut aktualisasi masalah pendidikan yang ada di Indonesia:


1.
2.
3.
4.

Masalah keutuhan pencapaian sasaran


Masalah kurikulum
Masalah peranan guru
Masalah pendidikan dasar 9 tahun

Masalah- masalah diatas dapata teratasi dengan :


1. Peningkatan proses pembelajaran, dan evaluasi
2. Pelaksanaan ekstrskurikuler dengan efektif dan tepat sasaran
3. Pemilahan kelompok siswa (antara yang ingin belajar ke perguruan tinggi, dengan
yang akan terjun langsung ke masyarakat.
4. Pendidikan tenaga pendidik (pra jabatan, dan dalam jabat
5. Evaluasi lebih lanjut terhadap program wajib belajar 9 tahun
B. SARAN

Permasalahan pendidikan

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem
pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala
bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin
ketinggalan

dengan

negara-negara

lain

adalah

dengan

meningkatkan

kualitas

pendidikannya terlebih dahulu.


Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir
akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat
dalam segala bidang di dunia internasional.
DAFTAR PUSTAKA
Tirtaharja, Umar. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
La Sulo, S.L. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
http://meilanikasim.wordpress.com/2009/03/08/masalah-pendidikan-diindonesia/ Pukul : 20.30

Permasalahan pendidikan

KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyusun Makalah Pengantar
Pendidikan dengan judul LandasanMasalah-Masalah Pendidikan Di Indonesia dengan
baik dan lancar.
Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan makalah Pengantar Pendidikan yang
berjudul Landasan Masalah-Masalah Pendidikan Di Indonesia ini masih banyak
terdapat kesalahan, untuk itu kami mengharap dan menerima setiap kritik dan saran
yang membangun agar dapat menyempurnakan penyusunsn makalah ini.
Akhirnya penyusun berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak, untuk bahan kajian serta evaluasi diri terlebih untuk bangsa Indonesia.
Amiin.
Tuban,30

2011
Penyusun

Permasalahan pendidikan

Oktober