Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN NYERI DAN POLA

ELIMINASI BOWEL PADA Tn. N DENGAN POST BPH (BENIGNA


PROSTAT HIPERPLASTI DI RUANGMENUR
RSUP. Dr. SOERADJITIRTONEGORO KLATEN

Tugas ini disusun untuk memenuhi


Stase Kebutuhan Dasar Manusia

Disusun oleh :
ARI RELAWATI
J230103052

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011

LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
NYERI DAN GANGGUAN ELIMINASI BOWEL

Tugas ini disusun untuk memenuhi


Stase Kebutuhan Dasar Manusia

Disusun oleh :
ARI RELAWATI
J230103052

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011

LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
A. NYERI
1. Definisi
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial.
(Smeltzer & Bare, 2001)
Nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang sangat subyektif
dan hanya orang yang mengalaminya yang dapat menjelaskan dan
mengevaluasi perasaan tersebut. Secara umum nyeri dapat didefinisikan
sebagai perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun sedang ( Iqbal,
2007 ).
Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi
tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu (Potter&Perry, 2005).
Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa nyeri adalah
perasaaan tidak nyaman yang disebabkan stimulus.
2. Klasifikasi Nyeri
- Menurut bentuknya
a. Nyeri akut, nyeri yang berlangsung tidak melebihi enam bulan,
serangan mendadak dari sebab yang sudah diketahui dan daerah nyeri
biasanya sudah diketahui, nyeri akut ditandai dengan ketegangan otot,
cemas yang keduanya akan meningkatkan persepsi nyeri.
b. Nyeri kronis, nyeri yang berlangsung enam bulan atau lebih, sumber
nyeri tidak diketahui dan tidak bisa ditentukan lokasinya. Sifat nyeri
hilang dan timbul pada periode tertentu nyeri menetap
Nyeri Kronis
Klien menjadi mudah tersinggung

dan mengalami insomnia

Kecemasan

meningkat
-

Menurut jenisnya:
a. Nyeri perifer

Kurang perhatian
dan isolasi sosial
Klien mundur dari
interaksi sosial

Putus asa

Nyeri superficial, yakni rasa nyeri yang muncul akibat


rangsangan pada kulit dan mukosa
Nyeri viseral, rasa nyeri yang muncul akibat stimulasi pada
reseptor nyeri di rongga abdomen, cranium, dan toraks
Nyeri alih, nyeri yang dirasakan pada daerah lain yang jauh
dari jaringan penyebab nyeri
b. Nyeri sentral
Nyeri yang muncul akibat stimulasi pada medulla spinalis,
batang otak, dan thalamus
c. Nyeri psikogenik
Nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya. Dengan kata
lain nyeri ini timbul akibat pikiran si penderita sendiri. Seringkali,
nyeri ini muncul karena factor psikologis, bukan fisiologis.
3. Fisiologi Nyeri
Bagaimana nyeri merambat dan dipersepsikan oleh individu masih belum
sepenuhnya dimengerti. Akan tetapi, bisa tidaknya nyeri dirasakan dan
hingga mana derajat nyeri tersebut mengganggu dipengaruhi oleh interaksi
antara system algesia tubuh dan transmisi system saraf serta transmisi
system saraf serta interprestasi stimulus.
- Nosisepsi
System saraf perifer terdiri atas saraf sensorik primer yang khusus
bertugas mendeteksi kerusakan jaringan dan membangkitkan sensasi
sentuhan, panas, dingin, nyeri, dan tekanan. Reseptor yang bertugas
merambatkan sensasi nyeri disebut nosiseptor. Nosiseptor merupakan
ujung-ujung saraf perifer yang bebas dan tidak bermielin atau sedikit
bermielin. Reseptor nyeri tersebut dapat dirangsang oleh stimulus
mekanis, suhu, atau kimiawi. Sedangkan proses fisiologis terkait nyeri
disebut nosisepsi. Proses tersebut terdiri atas empat fase, yakni :
a. Transduksi
Pada fase transduksi, stimulus atau rangsangan yang membahayakan
(mis: bahan kimia, suhu, listrik, atau mekanis ) memicu pelepasan
mediator biokimia (mis: prostaglandin, bradikinin, histamine,
substansi P ) yang mensensitisasi nosiseptor.
b. Transmisi
Fase transmisi nyeri terbagi atas 3 bagian. Pada bagian pertama nyeri
merambat dari serabut saraf perifer ke medulla spinali. Dua jenis
serabut nosiseptor yang terlibat dalam proses tersebut adalah
serabut C, yang mentransmisikan nyeri tumpul dan menyakitkan,
serta serabut A-Delta yang mentransmisikan nyeri yang tajam dan
terlolokalisasi. Bagian kedua adalah transmisi neri dari medulla
spinalis menuju batang otak dan thalamus melalui jaras

spinotalamikus (spinothalamic tract {STT}). STT merupakan suatu


system diskriminatif yang membawa informasi mengenai sifat dan
lokasi melalui stimulus dan thalamus. Selanjutnya pada bagian
ketiga, sinyal trsebut diteruskan ke korteks sensori somaticc. Persepsi
Pada fase ini individu mulai menyadari adanya nyeri. Tampaknya
persepsi nyeri tersebut terjadi di stuktur korteks sehingga
memungkinkan munculnya berbagai strategi perilaku kognitif untuk
mengurangi
komponen
sensorik
dan
afektif
nyeri
(McCaffery&Pasero,1999).
d. Modulasi
Fase ini disebut juga system desenden. Pada fase ini neuron di
batang otak mengirimkan sinyal-sinyal kembali ke medulla spinalis.
Serabut desenden tersebut melepaskan substansi seperti opioid,
serotonin, dan norepineprin yang akan menghambat impuls asenden
yang membahayakan dibagian dorsal medulla spinalis.
Teori Gate Control
Banyak teori yang menjelaskan fisiologi nyeri, namun yang paling
sederhanan adalah teori Gate Control yang dikemukakan oleh Melzack
dan Well (1965). Dalam teorinya kedua orang ahli ini menjelaskan
bahwa substansi gelatinosa (SG) pada medulla spinalis bekerja
layaknya pintu gerbang yang memungkinkan atau menghalangi
masuknya impuls nyeri menuju otak. Pada mekanisme nyeri, stimulus
nyeri ditransmisikan melalui serabut saraf berdiameter kecil melewati
gerbang. Akan tetapi, serabut saraf berdiameter besar yang juga
melewati gerbang tersebut dapat menghambat transmisi impuls nyeri
dengan cara menutup gerbang itu. Impuls yang berkonduksi pada
serabut berdiameter besar bukan sekedar menutup gerbang, tetapi juga
merambat langsung ke korteks agar dapat diidentifikasi dengan cepar
(Long,1996).
Pengalaman nyeri
Pengalaman nyeri seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal, yakni : arti
nyeri bagi idividu, persepsi nyeri individu, toleransi nyeri, dan reaksi
individu terhadap nyeri.

4. Nilai-nilai Normal
a. Menurut Hayward
Hayward (1975), mengembangkan sebuah alat ukur nyeri
(painometer) dengan skala longitudinal, yang pada salah satu
ujungnyatercantum nilai 0 (untuk keadaan tanpa nyeri) dan ujung
lainnya nilai 10 (untuk kondisi nyeri paling hebat). Untuk

mengukurnya, penderita memilih salah satu bilangan yang yang


menurutnya paling menggambarkan pengalaman nyeri yang terakhir
kali ia rasakan, dan nilai ini dapat dicatat pada sebuah grafik yang
dibuat menurut waktu. Intensitas nyeri ini sifatnya subjektif dan
dipengaruhi banyak hal, seperti tingkat kesadaran, konsentrasi, jumlah
distraksi, tingkat aktivitas, dan harapan keluarga. Intensitas nyeri dapat
dijabarkan dalam sebuah skala nyeri dengan beberapa kategori.
0 = tidak nyeri
1-3 = nyeri ringan
4-6 = nyeri sedang
7-9 = sangat nyeri, tetapi masih dapat dikontrol dengan aktivitas yang
bisa dilakukan
10 = sangat nyeri dan tidak bisa dikontrol
b. Deskriptif
tidak
nyeri

nyeri
ringan

nyeri
sedang

nyeri
berat

nyeri
yang tidak
tertahankan

c. Skala FACES
Menurut Wong-Baker FACES Rating Scale, skala ini ditujukan
untuk klien yang tidak mampu menyatakan intensitas nyerinya melalui
skala angka. Ini termasuk anak-anak yang tidak mampu berkomunikasi
secara verbal dan lansia yang mengalami gangguan kognisi dan
komunikasi.

Skala wajah nyeri

5. Pengkajian
- Kaji karakteristik PQRST
a. Palliative : aktivitas yang membuat nyeri makin parah
b. Qualitas : Bagaimana nyeri yang dirasakan, apakah terasa tajam,
tumpul seperti terbakar, tertindih benda berat, tertusuk,
menjalar.
c. Region
: Di lokasi mana nyeri dirasakan ?
d. Severity : Intensitas nyeri
e. Time
: kapn nyerei mulai dirasakan ?
- Kaji riwayat nyeri
a. Lokasi, untuk menentukan lokasi nyeri yang spesifik, minta klien
menunjukkan area nyerinya
b. Intensitas nyeri
c. Kualitas nyeri, terkadang nyeri bisa terasa seperti dipukul-pukul atau
ditusuk-tusuk.
d. Pola, pola nyeri meliputi waktu awitan, durasi, dan kekambuhan atau
interval nyeri
e. Faktor presipitasi, factor pencetus timbulnya nyeri.
f. Gejala yang menyertai, meliputi mual, muntah, pusing dan diare
g. Pengaruh pada aktivitas sehari-hari.
h. Sumber koping, setiap individu memiliki strategi koping yang berbeda
dalam menghadapi nyeri
i. Respon afektif, respon klien bergantung pada situasi, derajat, dan
durasi nyeri, intepretasi tentang nyeri, dan faktor
- Kaji tanda-tanda vital tekanan darah, nadi, respiratory rate, suhu
tubuh.
- Kaji respon perilaku dan fisiologis
a. Respon non verbal: ekspresi wajah, misal menutup mata rapat-rapat
atau membuka mata lebar-lebar, menggigit bibir bawah, dan
seringai wajah.
b. Respon perilaku: menendang-nendang, membalik-balikkan tubuh
di atas kasur, dll.

c.

Respon fisiologis: nyeri akut misalnya peningkatan tekanan darah,


nadi, dan pernafasan, diaphoresis, dilatasi pupil akibat
terstimulasinya system saraf simpatis.

6. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia


- Mengurangi faktor yang dapat menambah nyeri, misalnya
ketidakpercayaan, kesalahpahaman, ketakutan, kelelahan dan
kebosanan
- Non farmakologi (mandiri)
a. Sentuhan terapeutik
Teori ini mengatakan bahwa individu yang sehat mempunyai
keseimbangan energi antara tubuh dengan lingku;ngan luar. Orang
sakit berarti ada ketidakseimbangan energi, dengan memberikan
sentuhan pada klien, diharapkan ada transfer energi dari perawat ke
klien.
b. Akuplesur
Pemberian penekanan pada pusat-pusat nyeri
c. Guided imagery
Meminta klien berimajinasi membayangkan

hal-hal

yang

menyenangkan, tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang


tenang serta konsentrasi dari klien. Apabila klien mengalami
kegelisahan, tindakan harus dihentikan. Tindakan ini dilakukan pada
saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut.
d. Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan
sampai sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan
bola), distraksi audio (mendengar musik), distraksi sentuhan
(massase, memegang mainan), distraksi intelektual (merangkai
puzzle, main catur)
e. Anticipatory guidance
Memodifikasi secara langsung cemas yang berhubungan dengan
nyeri. Contoh tindakan: sebelum klien menjalani prosedur
pembedahan, perawat memberikan penjelasan/informasi pada klien
tentang pembedahan, dengan begitu klien sudah punya gambaran
dan akan lebih siap menghadapi nyeri.

f. Hipnotis
Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti
positif.
g. Biofeedback
Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu
informasi tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih
kontrol volunter terhadap respon tersebut. Terapi ini efektif untuk
mengatasi ketegangan otot dan migren, dengan cara memasang
elektroda pada pelipis.
h. Stimulasi kutaneus
Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas, salah satu pemikiran
adalah cara ini bisa melepaskan endorfin, sehingga bisa memblok
stimulasi nyeri. Bisa dilakukan dengan massase, mandi air hangat,
kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik transkutan
(TENS/

transcutaneus

electrical

nerve

stimulation).

TENS

merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik


ringan yang dihantarkan melalui elektroda luar.
7. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b.d agen injuri (fisik, biologis, dan psikologi)
b. Cemas b.d perubahan status kesehatan
c. Gangguan mobilitas fisik b.d tidak nyaman, nyeri
d. Defisit self care b.d kelemahan dan kelelahan, nyeri
8. Intervensi Keperawatan
a. Nyeri akut b.d agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)
Tujuan
Kriteria hasil

: nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan


:

Skala nyeri berkurang

Pasian tampak rileks

Tanda-tanda vital normal

Intervensi:
1. Kaji tingkat nyeri dan lokasi nyeri yang dirasakan klien

R/ membsntu tingkat dan lokasi nyeri yang dirasakan klien sehingga


memudahkan intervensi selanjutnya.
2. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab nyeri yang terjadi.
R/ Klien dan keluarga dapat lebih kooperatif terhadap tindakan
keperawatan
yang dilakukan.
3. Observasi TTV dan tanda-tanda nyeri.
R/ tanda-tanda vital dapat berubah akibat rasa nyeri dan merupakan
indicator untuk menilai perkembangan penyakit
4. Ajarkan klien untuk nafas dalam secara teratur dan perlahan- lahan
bila nyeri muncul
R/ Penarikan nafas dalam secara perlahan- lahan dapat terjadi suatu
relaksasi dan melancarkan aktivitas suplai O2 ke jantung sehingga
nyeri berkurang
5. Ajarkan tekhnik distraksi dan relaksasi pada klien.
R/ Tekhnik distraksi dan relaksasi adalah tekhnik untuk mengalihkan
perhatian dan merilekskan klien sehingga mekanisme koping klien
terhadap
nyeri meningkat.
6. Kolaborasi pemberian obat-obatan analgesik.
R/ Analgesik dapat mengontrol pusat rangsang nyeri, sehingga nyeri
dapat berkurang atau terkontrol
b. Cemas b.d perubahan status kesehatan
Tujuan
: cemas pasien hilang atau berkurang
KH
:
- Pasien mampu mengungkapkan cara mengatasi cemas
- Pasien mengerti tentang proses penyakit yang dialami
Intervensi
1. Bina hubungan. saling percaya
R/ Mempermudah melakukan intervensi
2. Libatkan keluarga dalam proses tindakan

R/ dengan melibatksn keluarga dapat mengurangi kecemasan


3. Jelaskan semua prosedur tindakan yang akan dilakukan
R/ dengan mengetahui prosedur tindakan maka dapat mengurangi
kecemasan
4. Anjurkan pasien mengungkapkan kecemasannya
R/ mengetahui sebab dan tingkat kecemasan yang dialami pasien
5. Berikan motivasi pada pasien
R/ motivasi akan mengurangi kecemasan
c. Gangguan mobilitas fisik b.d tidak nyaman, nyeri
Tujuan : pasien mengungkapkan bertambahnya kekuatan dan daya
tahan ekstremitas
KH :
- Aktifitas fisik meningkat
- ROM normal
- Melaporkan perasaan peningkatan kekuatan, kemampuan dalam
bergerak
- Klien bisa melakukan aktifitas walaupun dengan dibantu
Intervensi
1. Kaji faktor penyebab (trauma, prosedur pembedahan, penyakit)
R/ mengetahui sebab pasien mengalami kerusakan mobilitas
sehingga dapat diketahui cara penanganan yang sesuai
2. Tingkatkan mobilitas dan pergerakan yang optimal
R/ Immobilitas yang lama dan gangguan fungsi neurosensorik
dapat menyebebkan kontraktur permanen
3. Lakukan latihan ROM yang sesuai untuk pasien (pasif, aktif, aktif
asistif, aktif resistif)
R/ ROM aktif meningkatkan massa otot, tonus otot, dan kekuatan
otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan. ROM pasif
meningkatkan mobilitas sendi dan sirkulasi
4. Posisikan tubuh sejajar untuk mencegah komplikasi
R/ untuk mencegah terjadinya dikubitus
5. Lakukan mobilitas yang progresif

R/ latihan fisik meningkatkan kemandirian seseorang


d. Defisit self care b.d kelemahan dan kelelahan, nyeri
Tujuan : Agar klien mampu melakukan perawatan diri secara mandiri
KH :
- Agar klien mampu melakukan ADL secara mandiri, seperti toileting,
personal hygiene, dll
Intervensi :
1. Pantau kemampuan klien untuk melakukan perawatan diri secara
mandiri
R/ Untuk melihat kemampuan klien dalam ADL secara mandiri
2. Pantau kebutuhan klien untuk penyesuaikan pengguanaan alat untuk
personal hygiene, toileting, dan makan
R/ Untuk memantau kebutuhan klien dalam menggunakan alat untuk
memenuhi kebutuhannya
3. Sediakan barang barang yang dibutuhkan klien, seperti deodorant,
sabun mandi, sikat gigi, dll
4. R/ Mempermudah klien dalam memenuhi kebutuhannya
5. Sediakan bantuan hingga klien dapat melakukan perawatan pribadi
secara penuh
R/ Membantu dalam perawatan pribadi
6. Bantu klien dalam penerimaan ketergantuangan terhadap orang lain
dalam memenuhi kebutuhannya
R/ Bantu klien dalam ketergantuan ADL dengan orang lain
7. Dorong klien untuk ADL sesuai dengan tingkat kemampuan
R/ Untuk mengetahui perkembangan ADL klien
B. GANGGUAN ELIMINASI BOWEL

1.

Definisi
Merupakan suatu keadaan individu yang mengalami gangguan pada
system gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar,
yaitu gangguan eliminasi BAB.

Dalam memenuhi kebutuhan eliminasi sangat diperlukan


pengawasan terhadap masalah yang berhubungan dengan gangguan
kebutuhan eliminasi, seperti obstipai, inkontenensia, retensi urine, dan
lain-lain. Gangguan tersebut dapat mengganggu pola aktivitas sehari- hari
(Aziz, 2004).
Eliminasi bowel/ buang air besar (BAB) atau disebut juga defekasi
merupakan feses normal tubuh yang penting bagi kesehatan untuk
mengeluarkan sampah dari tubuh. Sampah yang dikeluarkan ini disebut
feses atau stool (harnawati,2008).
2.

Nilai-nilai Normal
Sehari BAB sekitar 2-3x/ hari. Gerakan peristaltic yang kuat dapat
mendorong feses ke depan. Gerakan ini 1-4x dalam 24 jam. Peristaltik
sering terjadi sesudah makan. Biasanya - dari produk buangan hasil
makanan dicernakan dalam waktu 24 jam, dibuang dalam bentuk feses
dan sisanya sesudah waktu 44-48 jam berikutnya. Proses perjalanan
makanan dari mulut hingga sampai rectum membutuhkan waktu 12 jam.
Karaktersistik feses normal:
Warna
: kuning/ coklat
Konsistensi
: lembab, terbentuk
Bau
: arometik (dipengaruhi oleh makanan yang
dimakan)
Frekuensi
: bervariasi dari 1-3x sampai setiap kali 3 hari
Bantuk
: silindris
Jumlah
: 100-400g setiap hari ( bervariasi sesuai dengan
diet)
Kandungan lemak
: <6 gram/ 24jam
Mukus
: negatif
Darah
: negatif
Pus
: negatif
Parasit
: negatif

3.

Pengkajian
- Pengkajian perawatan pada klien dengan gangguan eliminasi bowel
difokuskan pada riwayat keperawatan, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan diagnosis.
- Riwayat Keperawatan
Pada riwayat keperawatan, hal hal yang harus dikaji antara lain:
a. Pola defekasi
- Frekuensi
- Apakah frekuensi tersebut pernah berubah ?
- Apa penyebabnya ?
b. Perilaku defekasi

c.

d.

e.
f.

g.

h.

i.

- Apakah klien menggunakan laksatif ?


- Bagaimana cara klien mempertahankan pola defekasi?
Deskripsi feses
- Warna ( N=kuning/coklat)
- Tekstur ( N= lembab, berbentuk)
- Bau ( N= aromatic)
Diet
- Makanan apa yang mempengaruhi perubahan pola defekasi
klien?
- Makanan apa yang biasa klien makan?
- Makanan apa yang klien hindari?
- Apakah klien makan secara teratur?
Cairan
Jumlah dan jenis minuman yang dikonsumsi setiap hari
Aktivitas
- Kegiatan sehari-hari, missal olahraga
- Kegiatan spesifik yang dilakukan klien, misalnya penggunaan
laksatif, enema atau kebiasaan mengkonsumsi sesuatu sebelum
di defekasi
Penggunaan medikasi
Apakah klien bergantung pada obat-obatan yang dapat
mempengaruhi pada defekasinya?
Stress
- Apakah klien mengalami stress berkepanjangan?
- Koping apa yang klien gunakan dalam menghadapi stress?
- Bagaimana respons klien terhadap stress? Positif/ negative?
Pembedahan atau penyakit menetap

- Pemeriksaan fisik
a. Abdomen
Pemeriksaan dilakukan pada posisi terlentang, hanya bagian
abdomen saja yang tampak, dengan cara :
- Inpeksi : amati abdomen untuk melihat bentuknya,
kesimetrisannya.
- Auskultasi : dengarkan bising usus lalu perhatikan intensitas,
frekuensi, dan kualitasnya.
- Perkusi : untuk mengetahui adanya distensi berupa cairan, massa
atau udara.
- Palpasi : lakukan palpasi untuk mengetahui konsistensi abdomen
serta adanya nyeri tekan atau massa dipermukaan abdomen.
b. Rektum dan anus
Pemeriksaan dilakukan pada posisi litotomi atau sims.

- Inpeksi : amati daerah perianal untuk melihat adanya tandatanda inflamasi,perubahan warna, lesi, lecet, fistula, konsistensi,
hemoroid.
- Palpasi : palpasi dinding rectum dan rasakan adanya nodul,
massa, nyeri tekan, tentukan bentuk dan ukuran
c. Feses
Amati feses klien dan catat konsistensi, bentuk, bau, warna, dan
jumlahnya. Amati pula unsure abnormal pada feses.
- Pemeriksaan diagnostik
a. Anoskopi
b. Progtosigmoidoskopi
c. Protoskopi
d. Rontgen dengan kontras ( Iqbal,2008)
4.

5.

Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia


- Membantu eliminasi bowel : mandiri/ tergantung/ dengan bantuan
- Memberikan penjelasan pada keluarga tentang penyebab kontipasi
- Memberikan makanan yang berserat
- Melatih mobilisasi
- Menolong klien BAB, membantu memberikan pispot pada pasien yang
ingin BAB ke tempat tidur
- Membantu pola BAB yang normal : bantu klien dengna posisi yang
normal, jaga privasi, pergunakan pot untuk BAB,
posisikan semi fowler, tempatkan posisi bantal di
sisi punggung, siram organ dengan air hangat,
support, relaks.
- Catat keluarnya feses, selidiki penurunan
Diagnosa Keperawatan
1. Resiko gangguan eliminasi (kontipasi) b.d immobilisasi, pola BAB
tidak teratur.
2. Gangguan inkontinensia alvi b.d kerusakan spingter rectum, akibat
pembedahan pada rectum.
3. Gangguan eliminasi (diare) b.d proses infeksi pada saluran pencernakan

6. Tindakan Keperawatan
a. Resiko gangguan eliminasi (kontipasi) b.d immobilisasi, intake cairan
yang tidak adekuat
Tujuan : klien tidak mengalami kontipasi
KH :
- Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan
obat
- Bising usus normal ( 7- 12x/ menit )
Intervensi :

1. Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab


kontipasi
R/ Klien dan keluarga akan mengerti penyebab kontipasi
2. Auskultasi bising usus
R/ Bising usus menandakan sifat aktivitas peristaltik
3. Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang mengandung
serat
R/ Untuk merangsang peristaltic dan eliminasi reguler
4. Berikan intake cairan yang cukup ( 2 liter/ hari ) jika tidak ada
kontraindikasi
R/ masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi
feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi reguler
5. Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien
R/ Membantu eliminasi dalam memperbaiki tonus otot abdomen dan
merangsang nafsu makan dan peristaltik.
b. Gangguan inkontinensia alvi b.d kerusakan spingter rectum, akibat
pembedahan pada rectum.
Tujuan : agar pola BAB klien optimal mungkin terkendali
Kriteria hasil :
Individu akan mengeluarkan feses setiap dua atau
tiga hari
Intervensi :
1. Kaji factor yang berperan menyebabkan inkontinensia urin
( aktivitas fisik yang tidak adekuat, kurangnya pengetahuan tentang
tehnik defekasi, dll )
R/ untuk mempertahankan konensia usus
2.
Kaji status neurologis dan kemampuan fungsional
individu
R/ untuk mencapai kontinensia
3.
Rencanakan waktu yang tepat dan konsisten defekasi
R/ meningkatkan motilitas pencernakan dan mempercepat fungsi
usus
4. Buat program defekasi harian selama lima hari atau sampai
terbentuk suatu pola
R/ Agar pola defekasi klien dapat terlatih
5. Berikan privacy dan lingkungan yang tidak menyebabkan stress
R/ Menjaga privacy klien dan member kenyamanan klien
6. Ajarkan tehnik defekasi yang efektif pada klien
R/ dapat memfasilitasi gravitasi dan meningkatkan tekanan intra
abdomen guna mengeluarkan feses
c. Gangguan eliminasi (Diare) b.d proses infeksi pada saluran pencernaan,
intosikasi obat/ makanan, factor radiasi, factor psikologis

Ditandai :
-BAB lebih dari 3x sehari dengan konsistensi cair
-nyeri pada abdomen
-peristaltik usus meningkat
Tujuan :
Agar diare pasien dapat diatasi
Kriteria hasil :
BAB 1-2 x sehari, dengan konsisten lembek
Tidak ada keluhan nyeri pada abdomen
Peristaltic usus kembali normal
Rencana tindakan :
- Catat frekuensi jumlah konsisten feses yang keluar
R/ untuk mengetahui jumlah, kosistensi feses yang keluar
- Monitor tanda-tanda dehidrasi (pusing, lesu, mukosa bibir kering,
dll)
R/ untuk mengetahui keadaan kebutuhan cairan klien
- Support emosi pasien
R/ menberikan semangat pada klien
- Anjurkan pasien untuk menghindari makanan yang merangsang
timbulnya diare
R/ Agar keadaan klien membaik
- Kolaborasi dengan tim kesehatan (pemberian obat-obatan anti diare
dan antibiotik).
R/ untuk membantu proses penyembuhan klien

DAFTAR PUSTAKA
Alimu,Aziz. 2005. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Salemba Medika.
Surabaya
Alimul, Aziz. 2008. Ketrampilan Dasar Praktek Klinik. EGC : Jakarta
C arpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC :
Jakarta
Nanda. 2006-2007. Diagnosa Nanda NIC&NOC. EGC : Jakarta
Potter, R.A. Derry A.G. Fundamental of Nursing; St. Louis. Mosby.2000
Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006. Alih Bahasa Budi
Santosa. Prima Medika.
Iqbal, Wahid. 2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. EGC : Jakarta
Http : harnawati.wordpress.com. Kebuhan Dasar Eliminasi Alvi. Diakses pada
tanggal 24 Januari 2011