Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini, banyak sekali kegiatan manusia di muka bumi ini yang menggunakan
energi dari Bahan Bakar Minyak (BBM). Bahkan hampir di setiap lini ada saja energi
dari minyak yang digunakan. Sebut saja memasak, menggerakan mobil/motor,
menggerakan mesin-mesin pabrik, menghidupkan listrik, mejalankan kapal,
menerbangkan pesawat dan lain sebagainya.
Setelah terbuai selama puluhan tahun dengan melimpahnya sumberdaya minyak
bumi, manusia mulai khawatir akan habis/hilangnya sumberdaya ini apabila
dieksploitasi secara terus-menerus. Kekhawatiran ini dikarenakan manusia masih
kesulitan menemukan sumber energi lain yang serupa manfaatnya maupun
ekonomisnya dengan minyak bumi.
Di Indonesia, seruan pemerintah agar masyarakat menurunkan tingkat konsumsi
energi BBM dengan segala cara, sepertinya kurang berhasil. Terbukti konsumsi BBM
per tahunnya selalu meningkat. Padahal seruan ini sudah membawa-bawa berbagai
macam alasan, diataranya adalah untuk mengurangi emisi/pencemaran udara,
mengurangi efek global warming dan lain sebagainya, termasuk untuk menghemat
subsidi BBM dari APBN yang terus meningkat.
Tapi upaya-upaya itu seperti tidak digubris oleh masyarakat kita. Lihat saja
sekarang, berapa kali lipat jumlah sepeda motor dibandingkan 10 tahun yang lalu?
berapa jumlah mobil dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu? Kendaraan bermotor
seperti sepeda motor dan mobil yang dulu merupakan barang mewah, sekarang
seperti jajanan pasar saja yang siapa saja bisa membeli termasuk masyarakat
golongan ekonomi lemah. Kemudahan dalam pembelian dengan adanya perusahaanperusahaan pembiayaan merupakan salah satu faktor utama. Di samping itu, regulasi
pemerintah dalam membatasi jumlah kendaraan bermotor juga seperti datang
terlambat.
Peningkatan jumlah kendaraan bermotor sudah barang tentu meningkatkan
konsumsi Bahan Bakar Minyak. Padahal sebagian besar produk BBM di Indonesia
yang beredar di pasaran (SPBU) adalah BBM bersubsidi. Apabila tidak dicarikan
solusi, Negara pasti akan koleps karena devisit anggaran gara-gara APBN banyak
dipakai untuk subsidi BBM, yang entah siapa yang minum. Sebenarnya, apabila

anggaran subsidi BBM tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan lain,


pasti akan lebih bermanfaat, asal tidak dikorupsi.
1.2 Perumusan Masalah
1.2.1.

Bagaimanakah terjadinya kenaikan harga BBM?

1.2.2.

Dampak apakah yang terjadi di Indonesia akibat kenaikan harga BBM?

1.2.3.

Langkah langkah apa saja yang dapat ditempuh pemerintah untuk mengatasi

inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM?


1.3 Tujuan Penelitian
Kenaikan harga BBM bermula dari tujuan pemerintah untuk menyeimbangkan
biaya ekonomi dari BBM dengan perekonomian global. Walaupun perkembangan
perekonomian Indonesia masih belum stabil mengikuti perkembangan perekonomian
dunia, pada akhirnya kebijakan kenaikan BBM tetap dilaksanakan mulai tanggal 1
Oktober 2005. Akibatnya, perilaku investasi di Indonesia sangat memungkinkan
mengalami perubahan. Setiap peristiwa berskala nasional apalagi yang terkait langsung
dengan permasalahan ekonomi dan bisnis menimbulkan reaksi para pelaku pasar modal
yang dapat berupa respon positif atau respon negatif tergantung pada apakah peristiwa
tersebut memberikan stimulus positif atau negatif terhadap iklim investasi. Berdasarkan
pada argumentasi di atas, maka dimungkinkan akan terjadi reaksi negatif para pelaku
pasar modal setelah pengumuman tersebut. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya bahwa
kenaikan harga BBM ini direaksi positif oleh pelaku pasar, maka kesimpulan sederhana
dari dampak peristiwa pengumuman tersebut adalah bahwa naiknya harga BBM
memberikan stimulus positif pada perekonomian Indonesia.

BAB II
2

PEMBAHASAN
Kebijakan Fiskal
Di Indonesia, kebijakan fiskal mempunyai dua prioritas. Prioritas yang pertama
adalah mengatasi defisit aanggaran pendapatan negara dan belanja negara (APBN) dan
masalah-masalah APBN lainnya. Defisit APBN terjadi apabila penerimaan pemerintah
lebih kecil daripada pengeluarannya. Prioritas yang kedua adalah mengatasi masalah
stabilitas ekonomi makro yang terkait dengan antara lain pertumbuhan ekonomi, tingkat
inflasi, kesempatan kerja, dan neraca pembayaran.
Kebijakan fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan
kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan
pengeluaran pemerintah. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan
berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli
masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output.
Sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan
output industri secara umum.
Dalam literatur klasik, terdapat beberapa

perbedaan pandangan mengenai

kebijakan fiskal, terutama menurut teori Keynes dan tiori klasik tradisional (Nopirin,
2000). Pada prinsipnya Keynes berpendapat bahwa

kebijakan fiskal lebih besar

pengaruhnya terhadap output daripada kebijakan moneter. Hal ini didasarkan atas
pendapatnya bahwa, pertama elastisitas permintaan uang terhadap tingkat bunga kecil
sekali (extrim-nya nol) sehingga kurva IS tegak.
Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter satu sama lain saling berpengaruh dalam
kegiatan perekonomian. Masingmasing variabel kebijakan tersebut, kebijakan fiskal
dipengaruhi oleh dua variabel utama, yaitu pajak (tax) dan pengeluaran pemerintah
(goverment expenditure). Sedangkan variabel utama dalam kebijakan moneter, yaitu GDP,
inflasi, kurs, dan suku bunga. Berbicara tentang kebijakan fiskal dan kebijakan moneter
berkaitan erat dengan kegiatan perekonomian empat sektor, dimana sektor sektor
tersebut diantaranya sektor rumah tangga, sektor perusahaan, sektor pemerintah dan
sektor dunia internasional/luar negeri. Ke-empat sektor ini memiliki hubungan interaksi
masing masing dalam menciptakan pendapatan dan pengeluaran.

Pertumbuhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama
atau sesuatu keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan
kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya
kebutuhan konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan
penambahan pendapatan setiap tahun.
Selain dari sisi permintaan (konsumsi), sisi penawaran, pertumbuhan penduduk
juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan
ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan
ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut ( ceteris paribus),
yang selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan
peningkatan kemiskinan. Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan kerja itu
sendiri hanya bisa dicapai dengan peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau PDB
yang terus-menerus. Dalam pemahaman ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah
penambahan PDB, yang berarti peningkatan pendapatan nasional.
-

Strategi

pembangunan

dengan

pertumbuhan

terbukti

gagal

menyelesaikan persoalan-persoalan dasar pembangunan. Dalam kiprahnya strategi


itu justru menciptakan persoalan-persoalan seperti kemiskinan, keterbelakangan dan
kesenjangan antar pelaku ekonomi (Budi Santoso, 1997).
-

Konsep pertumbuhan ekonomi menurut Boediono adalah proses


kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Sedangkan teori pertumbuhan
ekonomi bisa kita definisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa yang
menentukan kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dan penjelasan
mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain, sehingga
terjadi proses pertumbuhan (Boediono, 1982).

Joseph Schumpeter membedakan dua latihan yaitu pertumbuhan


ekonomi (growth) dan perkembangan ekonoim (development). Kedua-duanya adalah
sumber dari peningkatan output masyarakat, tetapi masing-masing mempunyai sifat
yang berbeda (Boedino, 1982).

Inflasi

Saat ini, kita seringkali mendengar kata inflasi. Akan tetapi, apa benar kita sudah
mengetahui apa inflasi itu?. Kebanyakan dari kita, mungkin tidak mengetahuinya.
Padahal sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa itu inflasi. Definisi inflasi ada
banyak. Tergantung ditinjau dari sudut pandang mana dan dalam aspek apa. Jika ditelaah
secara umum, maka pada prinsip dasarnya inflasi dapat diartikan sebagai suatu kondisi
ekonomi dimana harga barang dan jasa di sebuah negara cenderung meningkat. Pada saat
itu pendapatan periodik warga masyarakat relatif tetap dibanding dengan tingkat kenaikan
harga. Dengan demikian harga barang dan jasa memaksa masyarakat mengakui bahwa
daya beli mereka cenderung menurun. Jika inflasi selalu terkait dengan dunia nyata,
bukan terkait dengan apa yang seharusnya.
Dengan mengetahui secara benar tentang masalah inflasi, tentu saja kita berharap
dapat mengatasi atau bahkan mencegahnya. Kita tidak bisa memungkiri akan besarnya
kemungkinan inflasi yang dapat terjadi di Indonesia suatu hari nanti. Lalu apakah
fenomena kenaikan bawang merah dan bawang putih saat ini dapat dikatakn sebagai
inflasi?.
Oleh karena itu, saya tertarik untuk mengangkat sebuah tulisan bertemakan
Dampak Inflasi terhadap Perekonomian Indonesia, dengan harapan dapat menjawab
berbagai persoalan di atas.
A.

Definisi dan Pengertian Inflasi


Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terusmenerus. Dari definisi ini, ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat mendorong

terjadinya inflasi :

Kenaikan harga

Bersifat umum

Berlangsung terus-menerus
Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan
tersebut tidak menyebabkan harga-harga secara umum naik. Contohnya adalah bahan
bakar minyak (BBM). Pengalaman Indonesia menunjukkan setiap pemerintah menaikkan
harga BBM, harga-harga komoditas lain turut naik. Karena BBM merupakan komoditas
strategis, maka kenaikan harga BBM, akan merambat kepada kenaikan harga komoditas
yang lain. Mengapa demikian ? BBM adalah komponen input yang paling penting untuk
dapat membuat roda-roda mobil angkutan umum seperti bus,truk, motor, serta mobil
pribadi berputar. Karenanya, kenaikan harga BBM menyebabkan biaya operasional
transportasi akan naik. Kenaikan harga BBM juga membuat harga jual produk-produk
5

industry, khususnya kebutuhan pokok merambat naik. Sebab biaya operasional untuk
menjalankan mesin-mesin pabrik menjadi lebih mahal. Bahkan, kenaikan harga BBM
akan mengundang kaum buruh menuntut kenaikan upah harian, untuk memelihara daya
beli mereka.

Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64
tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Pengangguran
disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan
jumlah lapangan pekerjaan yang ada yang mampu menyerapnya. Indikator yang biasa
digunakan untuk mengukur pengangguran adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).
TPT umumnya didefinisikan sebagai proporsi angkatan kerja yang tidak bekerja dan
mencari pekerjaan. Ukuran ini dapat digunakan untuk mengindikasikan seberapa besar
penawaran kerja yang tidak terserap di dalam sebuah negara. Secara umum TPT
perempuan selalu lebih tinggi daripada TPT laki-laki. Berikut ini ada beberapa macam
pengangguran, yaitu:
1.
a.

Macam-macam pengangguran dilihat dari jam kerja:


Penganggutan Terbuka (Open Unemployment): Pengangguran terbuka adalah tenaga
kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan.

b.

Setengah Menganggur (Under Unemployment): Setengah menganggur adalah tenaga


kerja yang tidak bekerja secara optimal karena ketiadaan lapangan kerja atau pekerjaan,
atau pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu.

c.

Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment): Pengangguran terselubung


adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak memperoleh pekerjaan
yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

2.
a.

Pengangguran menurut Keynes:


Pengangguran yang disengaja (Voluntary Unemployment): Pengangguran yang
disengaja adalah pengangguran terjadi karena ada pekerjaan yang ditawarkan tetapi orang
yang menganggur tidak mau menerima pekerjaan tersebut dengan upah yang berlaku.

b.

Pengangguran yang tidak disengaja (Involuntary Unemployment): Pengangguran yang


tidak disengaja adalah pengangguran yang terjadi apabila seseorang bersedia menerima
pekerjaan dengan upah yang berlaku tetapi pekerjaannya tidak ada.

3.

Macam-macam bentuk pengangguran:

a.

Pengangguran Struktural
Terjadi apabila terdapat ketidaksesuaian antara jenis pekerjaan yang diminta dan jenis
pekerjaan yang ditawarkan. Penyebab terjadinya pengangguran ini adalah tidak cocoknya
keterampilan atau kemampuan yang dimiliki tenaga kerja dengan yang diminta oleh
lapangan kerja.

b.

Pengangguran Siklikal (Pengangguran Konjungtural)


Terjadi apabila permintaan total akan tenaga kerja terganggu sehingga jumlah permintaan
jauh di bawah penawaran tenaga kerja. Penyebab pengangguran ini adalah merosotnya
perekonomian, misalnya dalam masa resesi (kondisi menurunnya kegiatan ekonomi
secara umum).

c.

Pengangguran Friksional
Terjadi karena perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain, atau dari suatu
pekerjaan ke pekerjaan lain. Penyebabnya ialah adanya perubahan siklus kehidupan
manusia.
Dampak kenaikan harga bahan bakar ini terhadap aktivitas ekonomi dikenal
dengan istilah multiplier effect. Misalnya jika BBM naik menjadi Rp 6.000/ liter maka
akan menaikkan harga barang dan jasa, karena kenaikan harga bahan bakar itu menjadi
komponen penting dalam penentuan harga produk barang dan jasa. Ketika harga barang
dan jasa naik, dengan asumsi pendapatan masyarakat tetap maka daya beli masyarakat
pun turun.
Bahkan sangat mungkin terjadi bahwa pendapatan masyarakat tidak selalu naik
sebanding dengan kenaikan harga BBM. Akibat lebih lanjut, jika harga barang dan jasa
naik maka produk domestik tidak dapat bersaing dengan produk asing yang membanjiri
Indonesia. Dampak lebih lanjut adalah penjualan industri turun, omzet turun, pendapatan
masyarakat

turun. Akibat

lebih

lanjutnya

adalah

PHK

dan

naiknya

angka

pengangguran.Dalam waktu yang bersamaan, ketika harga BBM akan naik, muncullah
program bantuan tunai yang digulirkan pemerintah dengan tujuan meredam dampak
sosial ekonomi masyarakat, yang disebut BLSM. Program bantuan tersebut bersifat
konsumtif, sesaat, tampak sebagai kebijakan tambal sulam, tidak dapat memberdayakan
7

ekonomi masyarakat, sering salah sasaran, dan justru akan menghambat tumbuhnya
potensi-potensi ekonomi masyarakat.
Beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah agar kebijakan
pemerintah direspons positif atau good news dan dapat mengurangi protes serta demo
mahasiswa dan masyarakat, maka sebaiknya semua aktivitas pemerintah dikelola dan
dikomunikasikan kepada publik secara transparan, fairness, serta informasi tersebut
mudah diakses masyarakat luas. Jika masyarakat mengetahui dengan jelas, fenomena riil
penyebab kenaikan BBM ataupun kebijakan lain, masyarakat akan mudah menerima serta
menjalankan program-program pemerintah tersebut dengan baik. Keterlibatan dan
pengakuan akan keberadaan masyarakat dalam kebijakan, akan meningkatkan komitmen
dan kesungguhan masyarakat untuk menjalankan semua program pemerintah. Bantuan
langsung sementara masyarakat sebaiknya diarahkan untuk meningkatkan pemberdayaan
masyarakat, misalnya mengoptimalkan pembangunan infrastruktur sehingga aktivitas
ekonomi masyarakat bisa meningkat lebih cepat dan menurunkan ekonomi biaya tinggi.
Persoalan kemacetan jalan harus secepatnya ditangani karena hal itu akan mendorong
meningkatnya biaya tinggi bagi masyarakat. Semua kebijakan pemerintah harus konsisten
dan berkesinambungan antara satu dan yang lain sehingga tidak terkesan tambal sulam
hingga mengecewakan dan menimbulkan persepsi negatif dari masyarakat.
NERACA PEMBAYARAN

Bank Indonesia mendukung kenaikan harga bahan bakar minyak karena jika
tidak dilakukan turut memperbesar defisit neraca pembayaran akibat pembengkakan
konsumsi komoditas itu.Satu sisi, dampak dari kebijakan menaikkan harga bahan bakar
minyak (BBM) bakal mendorong inflasi di atas target apabila kenaikan di atas Rp1.000
per liter. Gubernur Bank Indonesia mengatakan setiap kebijakan pasti ada dampak yang
harus ditanggung. Namun, ada dampak positif juga yang diperoleh dari kenaikan harga
BBM, karena mengurangi subsidi dan konsumsi masyarakat. Sebetulnya terus terang
situasi kalau tidak dilakukan kenaikan harga, bukan hanya APBN kesulitan. Neraca
pembayaran kita pun kesulitan. Mulai tengah tahun lalu neraca migas kita defisit. Padahal
dari 50 tahun lalu surplus, ujarnya di Jakarta, hari ini (23/02). Dia mengutarakan total
ekspor migas nasional dibandingkan dengan impor jauh lebih besar impornya. Hal itu,
lanjutnya, turut memperketat transaksi berjalan dari neraca pembayaran

BAB III
8

PERTUMBUHAN EKONOMI
Masalah pertumbuhan ekonomi dipandang sebagai masalah makroekonomi
jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam
perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi

dalam

masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Dengan perkataan


lain, pertumbuhan ekonomi lebih mengacu pada perubahan yang bersifat
kuantitatif (quantitative change) dan biasanya

diukur

dengan menggunakan

data Produk Domestik Bruto (PDB) atau GDP, atau pendapatan atau output per
kapita. PDB ini yang mengukur pendapatan dari faktor-faktor produksi di dalam
batas teritori negara tanpa mempersoalkan siapa yang menerima pendapatan
tersebut.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh indikatorindikator lainnya (kuantitas & kualitas tenaga kerja, kekayaan alam, barang modal,
dan lain- lain) yang dipengaruhi pula oleh faktor-faktor produksi. Perkembangan
kemampuan memproduksi barang dan jasa sebagai akibat pertambahan faktorfaktor produksi pada umumnya tidak selalu diikuti oleh pertambahan produksi
barang dan jasa yang sama besarnya. Pertambahan potensi berproduksi kerap
kali lebih besar dari pertambahan produksi yang sebenarnya.
Perekonomian akan mengalami pertumbuhan apabila jumlah total output
produksi barang dan penyediaan jasa tahun tertentu lebih besar daripada
tahun sebelumnya, atau jumlah total alokasi output tahun tertentu lebih besar
daripada tahun sebelumnya.
Adapun

hasil

pertumbuhan

ekonomi

suatu

negara

nantinya

diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan segenap lapisan masyarakat. Akan


tetapi, fakta di lapangan, khususnya

di negara-negara berkembang banyak

sekali faktor yang mendistorsi kualitas pertumbuhan ekonomi suatu negara..


Tetapi, beberapa negara mengalamai pencapaian angka pertumbuhan
ekonomi yang mengesankan namun bersifat semu karena tidak meratanya

hasil pembangunan dan telah mengabaikan berbagai faktor penting,


seperti yang pernah dialami oleh Indonesia, dimana pertumbuhan ekonomi tidak
diikuti oleh meratanya hasil pembangunan melainkan masih adanya beberapa
daerah yang belum tersentuh oleh pembangunan.
3.1 Data
Setiap

tahun

dalam

Anggaran

Pendapatan

dan

Belanja

Negara

(APBN), pemerintah menetapkan berbagai target (asumsi) makro ekonomi yang


salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi.
Pada tahun 2006, Pemerintah memiliki target makro perekonomian Indonesia
sebagai berikut:
Asumsi Makro 2006
Pertumbuhan Ekonomi (%)
Inflasi (%)
Kurs ($/Rp)
SBI 3 bln (%)
Minyak Indonesia (US$/brl)
Prd. Minyak (Jt.brl/hr)
APBN 2006 (dalam triliun)
Pendapatan Negara
Belanja Negara
Pembiayaan
Indikator Ekonomi 8/4/2006
IHSG (point)
Minyak Dunia ($/Brl)
Kurs Tgh.BI ($/Rp)
SB Deposito(%)
JIBOR (%)
SIBOR (%)
LIBOR (%)

6,2
8,0
9.900,0
9,5
57,0
1.050,0
625,2
647,7
(22,4)
1.379,71
75,44
9.130,00
12,15
12,45
5,40
5,39

Target ini yang kemudian melandasi kegiatan perekonomian selama satu


periode ke depan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional yang
dilakukan melalui kebijakan-kebijakan dan tindakan ekonomi lainnya Pemerintah
berusaha, minimalnya, memenuhi target tersebut. Namun, seperti telah dijelaskan
diatas, bahwa terdapat distorsi yang menyebabkan adanya kesenjangan antara target
dan kenyataan.
Berdasarkan data perekonomian Badan Pusat Statistik (BPS) selama
beberapa tahun terakhir, kita dapat menganalisis secara kasar mengenai
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena dari angka-angka pertumbuhan ekonomi
selama 5 (lima) tahun terakhir, kita dapat langsung melihat fluktuasi pertumbuhan
10

ekonomi.

11

PERKEMBANGAN APBN 2002 2006 (dalam triliun rupiah)


Pos-Pos APBN

2002

2003

2004

PAN

PAN

Perk
Real

2005
Perk
Real

2006

% Real
% Real
APBN
s.d. April
s.d. Mei

A. Pendapatan Negara dan Hibah


I. Penerimaan Dalam Negeri

298.6 341.4 403.8 516.2


298.5 340.9 403.0 509.0

31.3 625.2
31.5 621.6

32.0
37.2

1. Penerimaan Perpajakan
2. Penerimaan Bukan Pajak

210.1 242.0 279.2 347.6


88.4 98.9 123.8 161.4

32.2 416.3
28.7 205.3

37.0
22.0

II. Hibah
B. Belanja Negara
I. Belanja Pemerintah Pusat
1. Belanja Modal

0.1

0.5

0.7

7.2

322.2 376.5 430.0 542.4


224.0 256.2 300.0 392.8
53.6

15.9

24.9 647.7
22.6 427.6
3.9 62.9

29.9
24.5
16.1

26.4
63.9

76.6
79.5

36.1
8.1

87.7
40.0

II. Belanja Daerah


1. Dana Perimbangan

98.2 120.3 130.0 149.6


94.7 111.1 123.1 142.3

29.4 220.1
31.0 216.6

40.4
40.8

a. Dana Alokasi Umum


2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
a. Dana Otonomi Khusus
b. Dana Penyesuaian

69.2
3.5
-

40.4 145.7
3.5
3.5
0.0
2.9
4.7
0.6

49.6
16.7
15.0
25.6

77.0
9.2
1.5
7.7

63.2 59.2
69.9 121.9

3.6

2. Pembayaran Bunga Utang


3. Subsidi

C. Keseimbangan Primer
D. Surplus/Defisit (A-B)

65.4
43.9

0.6

82.1
6.9
1.6
5.2

88.8
7.2
1.8
5.5

64.1 30.2 37.0 33.1


80.4 54.2 62.6
(23.6) (35.1) (26.3) (26.2) (118.4) (22.4) (28.0)

E. Pembiayaan (E.I + E.II)


I. Pembiayaan Dalam Negeri

23.6
16.9

32.7
32.1

26.3
50.1

26.2
30.9

18.8
39.0

22. (43.6)
50.9
7.8

1. Perbankan DN
2. Non-Perbankan Dalam Negeri

(8.2)
25.2

8.3
23.9

23.9
26.1

4.2
26.7

0.1
51.0

23.0
27.9

(2.2)
16.2

0.5 (23.8)

(4.7)

56.3 (28.5)

48.3

II. Pembiayaan LN (neto)

6.6

1. Penarikan Pinjaman LN

18.9

2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN


a. PDB (triliun Rp)
b. Pertumbuhan Ekonomi (%)
c. Inflasi (%)
d. Nilai Tukar (Rp/US$1)
e. Harga Minyak (US$/barel)
f. Produksi Minyak (MBCD)
g. Tingkat bunga SBI rata-rata (%)

20.4

21.7

31.6

3.6

35.1

10.1

(12.3) (19.8) (45.5) (36.3)

26.3 (63.6)

27.2

1.610,5 2.086,7 1.990,2 2.636,7

3.040,7

3,7
4,1
4,8
6,0
10,03
6,0
7,0
8,0
9,3111 8.577 8.900 9.500

6,2
8,0 2.41
9.900 9.172

23.53 28.75 36.0 50.6


1.270 1.092 1.072 1.075
15,24 10,2
7,5
8,3

57.0 60.18
1.050
9,5 12,68

12

Rasio APBN terhadap PDB tahun 2002-2006 (dalam persen)


2004
2005
2002
2003
2006
(APBN- (APBN-P
(PAN) (PAN)
(APBN)
P)
2)
18,5
16,4
20,3
19,6
20,6
13,0
11,6
14,0
13,2
13,7
5,5
4,7
6,2
6,1
6,8
0,0
0,0
0,0
0,3
0,1
20,0
18,0
21,6
20,6
21,4
13,9
12,3
15,1
14,9
14,1
5,4
3,1
3,2
2,2
2,5
2,5
2,1
3,5
4,6
2,6
6,1
5,8
6,5
5,7
7,3
(1,5)
(1,7)
(1,3)
(1,0)
(0,7)
65,1
58,3
53,9
48,7
n.a.
31,5
28,3
25,3
24,5
n.a.
33,6
30,0
28,6
24,2
n.a.
1.897,8 2.086,8 2.303,5 2.636,5 3.040,8
(1,4)
(1,7)
(1,1)
(1,0)
(0,7)

Uraian
1 Pendapatan Negara dan Hibah
- Penerimaan Perpajakan
- Penerimaan Bukan Pajak
- Hibah
2 Belanja Negara
- Belanja Pemerintah Pusat
* Pembayaran Bunga Utang
* Subsidi
- Belanja Daerah
3 Keseimbangan Umum
4 Utang Pemerintah
- Utang Luar Negeri
- Utang Dalam Negeri
5 PDB Nominal (Rp T)
APBN & NKAPBN/PDB
2005-2006
6Sumber:
Surplus(Defisit)

Berdasarkan data perkembangan APBN periode 2002 s.d. 2006 di atas,


secara kasar dapat disimpulkan bahwa perekonomian nasional untuk periode 2002
s.d. 2006 pada umumnya mengalami peningkatan. Namun perlu dikaji pula bahwa
dibalik angka-angka tersebut terdapat fluktusi kondisi ekonomi yang memerlukan
penjelasan yang lebih kompleks.
Pada tahun 2002, perekonomian mengalami peningkatan 3,66% (data
lengkap perekonomian tahun 1998-2002 dicantumkan pada lampiran). Sedangkan
PDB

Indonesia

selama

dibandingkan tahun

2002.

tahun

2003

Pertumbuhan

meningkat
ini

sebesar

terjadi

pada

4,10

persen

semua sektor

ekonomi, tertinggi pada sektor pengangkutan-komunikasi sebesar 10,69 persen,


diikuti oleh sektor listrik-gas-air bersih sebesar 6,82 persen, dan sektor bangunan
sebesar 6,70 persen.

13

Dengan

mengamati

perekonomian Indonesia

tabel

di

bawah,

Fluktuasi

jangka

pendek

selama tahun 2003 tercermin pada PDB triwulanan.

Pertumbuhan PDB triwulan IV tahun 2003 dibandingkan dengan PDB triwulan III
tahun 2003 (q to q) menurun sebesar minus 2,78 persen. Penurunan ini sebagian
besar disebabkan oleh pola musiman di sektor pertanian yang turun sebesar
minus 22,29 persen.
Kemudian PDB triwulan III dibanding triwulan II meningkat sebesar 3,04
persen, dan PDB triwulan II terhadap triwulan I meningkat sebesar 1,12 persen.

14

Perbanding PDB rill triwulan 2003 dengan triwulan yang sama tahun 2002
menggambarkan laju pertumbuhan tanpa pengaruh musiman. Laju pertumbuhan
triwulan IV sebesar 4,35 persen,triwulan III sebesar 3,97 persen, triwulan II sebesar
3,65 persen, dan triwulan I tumbuh sebesar 4,45 persen.
Sedangkan pada tabel di bawah, nampak bahwa PDB perkapita atas dasar harga
berlaku pada tahun 2003 mencapai Rp. 8,3 juta dan pada tahun 2002 sebesar Rp.
7,6 juta.

Pada tahun 2006, dari kedua tabel di bawah dapat diketahui bahwa PDB
Indonesia pada triwulan I tahun 2006 meningkat sebesar 2,03 persen dibandingkan
triwulan IV tahun
pertanian;

2005

(q-to-q).

Pertumbuhan

ini

terjadi

pada

sector

konstruksi; pengangkutan & komunikasi; keuangan, real estate, jasa

perusahaan; dan sektor jasa- jasa. Pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sector
pertanian sebesar 18,77 persen sebagai akibat faktor musim panen pada triwulan

I.

15

Selain itu, pada kedua tabel di atas dapat juga dilihat bahwa PDB Indonesia pada
triwulan I tahun 2006 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2005 (y on
y) mengalami pertumbuhan sebesar 4,59 persen. Pengeluaran konsumsi rumah
tangga pada triwulan I tahun 2006 dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2005
menurun secara riil sebesar minus 0,92 persen, demikian pula pengeluaran
konsumsi pemerintah

menurun

sebesar

minus

33,63

persen,

sementara

pembentukan modal tetap bruto turun sedikit sebesar minus 0,11 persen demikian
juga ekspor barang-jasa turun sebesar sebesar minus 1,76 persen selanjutnya
komponen impor barang-jasa naik sebesar 1,70 persen.

16

Kemudian, kedua tabel di atas menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia yang


diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan I tahun
2006 mencapai Rp 766,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000
adalah Rp
447,4 triliun.

17

Selain itu, dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2005,
terjadi peningkatan pada semua komponen penggunaan yakni: pengeluaran
konsumsi rumah tangga naik sebesar 3,24

persen, pengeluaran konsumsi

pemerintah sebesar 14,19 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 2,89
persen, ekspor barang-jasa sebesar 10,75 persen, dan impor barang dan jasa sebesar
5,01 persen.
Pulau Jawa masih memegang peranan besar dalam pembentukan PDB Indonesia
Tahun 2005 sebesar 58,55 persen, dibanding pulau-pulau besar lainnya
dengan berbasis kepada sektor ekonomi sekunder dan tersier.

18

3.2. Analisis
Berdasarkan data-data kongkrit yang tersedia,

kita bisa membuat suatu

analisis mengenai pertumbuhan ekonomi nasional selama 5 tahun terakhir.


Sehingga diperoleh kesimpulan naik

turunnya tingkat pertumbuhan ekonomi,

penyebabnya, sekaligus solusi yang mungkin diambil (apabila terjadi penurunan),


khususnya pada periode berjalan yaitu tahun 2006.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2006
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2006 dipastikan di bawah 5 persen, yakni
sebesar 4,59 persen. Kita masih berharap pertumbuhan pada 2006 bisa mendekati
enam persen seperti yang diasumsikan oleh Pemerintah sebesar 6,2 persen.
Nampaknya, akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 lalu,
dampaknya masih berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester
I
2006 yang memang masih dalam situasi belum memenuhi target, angkanya hanya
di bawah 5 persen.
Data resmi pertumbuhan ekonomi adalah 5,9 persen meski DPR meminta direvisi
karena melihat pada semester II mungkin sulit untuk membukukan pertumbuhan
drastis hingga 7 persen untuk mengkompensasi pertumbuhan semester I yang pasti
di bawah 5 persen. Pertumbuhan pada kuartal pertama 2006 itu 4,59 persen
dan pertumbuhan dalam APBNP 2006 adalah 5,9 persen. Tetapi kalau melihat
trennya tidak terlalu buruk dari 4 persen 2004, 5,6 persen 2005 dan 5,9 persen 2006.
Pemerintah harus terus mengamati pertumbuhan ini dari kuartal ke kuartal, untuk
melihat apakah pertumbuhan itu masih stagnan atau mulai konsolidasi atau sudah
mulai menuju ke arah yang positif bagi perekonomian. Meski mengalami tren
positif, tetapi masih harus melihat per kuartalnya. Itu menjadi syarat untuk
menunjukkan tanda-tanda apakah masih stagnan atau apakah mulai konsolidasi
atau sudah terjadi kegiatan yang positif bagi perekonomian
Realisasi APBN hingga 7 juli 2006, penerimaan mencapai Rp247,806 triliun atau
39,6 persen dari APBN yang disumbangkan oleh pajak Rp192,224 triliun, PNBP
Rp54,918 triliun dan hibah Rp663,4 miliar.
Untuk belanja hingga 7 Juli telah dibelanjakan Rp247,523 triliun atau 31,4
19

persen dari APBN yang berasal dari belanja dari pemerintah pusat Rp149,366
triliun dan belanja daerah Rp104,156 triliun, dengan demikian masih terdapat
surplus sebesar Rp283,6 miliar.

20

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II


Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2006 ini nampaknya masih
akan melambat akibat belum tumbuhnya investasi dan sektor riil. Harapan
pertumbuhan ini dapat dijadikan dukungan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi
sekitar 5,7%. Target pertumbuhan ekonomi 5,7 % bisa dicapai bahkan lebih jika
pemerintah berhasil mendorong sisi permintaan maupun melonggarkan sisi supply.
Dengan pertimbangan angka pertumbuhan ekonomi pada tahun ini karena
pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2006 rendah, maka dilakukan koreksi
dalam APBN Perubahan (APBN-P). Pertumbuhan ekonomi pada APBN
Perubahan
2006 dikoreksi menjadi 5,8% dari target pertumbuhan ekonomi pada rencana awal
APBN 2006 yang ditetapkan 6,2%. Di sisi lain, asumsi harga minyak yang
diproyeksikan

US$62/barel,

dinaikkan

menjadi

US$64/barel.

Diperkirakan

pada semester kedua 2006, kenaikan harga minyak dunia lebih tinggi dari prediksi
awal. Pada rencana awal APBN 2006 pertumbuhan ekonomi ditargetkan akan
mencapai
6,2%, namun pada amendemen UU No 13/2005 tentang APBN Tahun Anggaran
2006, pemerintah mengusulkan pertumbuhan ekonomi diturunkan menjadi 5,9%.
Tetapi

usulan

ini

dinilai

terlalu

tinggi,

sehingga

ditetapkan

target

pertumbuhan
ekonomi pada APBN-P 2006 sebesar 5,8%
Indikator ekonomi pada APBN-P 2006 hasil Panja DPR
Keterangan
APBN
Proyeksi
APBN-P
3.040,8
3.122
PDB Nominal (Rp triliun)
6,2
5,9
5,8
Pertumbuhan (%)
Nilai Tukar (Rp/US$)
9.900
9.300
9.300
8,0
8,0
8,0
Inflasi (%)
SBI 3 bulan
9,5
12,0
12,0
57
62
64
Harga minyak (US$/barel)
Lifting (juta bph)
1,050
1,000
1,000
Pada kuartal kedua Bappenas akan fokus pada penyerapan anggaran pemerintah
sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Dengan koreksi ini pula, pihak
Bappenas optimistis pertumbuhan akan mencapai 5,9%. Apalagi telah terjadi
kenaikan ekspor
21

pada Januari-Mei 2006 sebesar 13,4% dan paket-paket kebijakan sudah terjadwal
implementasinya.
Penyebab Angka Pertumbuhan Ekonomi Rendah
Pertumbuhan ekonomi mulai menurun sejak triwulan I 2005. Pada saat itu,
ekonomi tumbuh 6,35 persen, kemudian menurun menjadi 6,19 persen pada
trwulan selanjutnya, dan anjlok menjadi 4,59 persen di triwulan I 2006
Berdasarkan

data

bahwa terdapat

dan

informasi yang

terkumpul, dapat kita

simpulkan

beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan

ekonomi nasional, yaitu:


1. Kenaikan harga BBM
Fenomena ini mengakibatkan daya beli dalam negeri turun sehingga nilai
impor pun turun.

Walaupun indikator pendapatan per kapita penduduk

Indonesia menunjukkan perbaikan; dari 1.200 dolar AS per kapita pada zaman
Orde Baru menjadi 1.500 dolar AS saat ini tetapi dengan pendapatan per kapita
sebesar itu, masih terjadi tingkat pengangguran yang mencapai 10,45 persen
yang justru disebut-sebut tertinggi sejak Orde Baru.
2. Pembiayaan bank macet.
Pembiayaan yang bermasalah, yakni seretnya kredit bank disebabkan oleh
masih tingginya tingkat suku bunga. Tak ada yang menyangkal kalau tekanan
terhadap inflasi juga masih cukup tinggi. Dengan situasi dan kondisi seperti
itu, rasanya kita tak cuma belum keluar dari krisis ekonomi, tapi juga bukan
mustahil malah menghadapi krisis pertumbuhan ekonomi.
Target pertumbuhan ekonomi hanya bisa dicapai kalau pertumbuhan kredit tahu
n
2006 mencapai 18 persen. Namun, pada kenyataannya, pertumbuhan dalam
semester I 2006 hanya 2,4 persen atau Rp 17,4 triliun.
Pertumbuhan kredit yang sangat rendah itu pun masih ditopang kredit
penerusan (channeling) sebesar Rp 7,95 triliun. Penerusan kredit yang
pencatatannya di luar neraca ini berisiko rendah bagi bank karena dananya
umumnya berasal dari pemerintah atau lembaga luar negeri. Itu berarti, bank
tidak berani menyalurkan kredit

dengan

menggunakan dana

masyarakat

yang dihimpunnya. Tingginya risiko sektor riil dan rendahnya kemampuan


bank mencari debitor berpotensi menjadi sejumlah faktor penyebab.
22

Berdasarkan perhitungan BI, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,4


persen diperlukan dana Rp 708 triliun. Dana tersebut antara lain berasal dari
kredit, APBN, dan investasi asing. Kredit bank ditargetkan menyumbang
sekitar Rp 150 triliun atau 21 persen dari total kebutuhan. Tetapi dengan
pertumbuhan kredit selama semester I yang baru mencapai Rp 17,4 triliun target
ini sulit untuk dicapai.
Namun, indikator utama perkembangan perbankan pada kuartal kedua secara
umum

menunjukkan

perkembangan

yang

cukup

menggembirakan.

Berdasarkan data BI pada Mei 2006, dana pihak ketiga naik Rp 37,4 triliun dan
aset perbankan naik Rp 48 triliun. Kemudian, risiko kredit secara umum juga
memperlihatkan perkembangan menggembirakan dengan menurunnya rasio
kredit bermasalah (NPL) net menjadi 5,1 persen dari 5,6 persen pada April
2006. Secara gross, NPL turun menjadi 8,8 persen dari 9,4 persen pada April
2006. Semoga ini menjadi pertanda bahwa perekonomian mulai membaik.
3. Ketidakmampuan pemerintah daerah menstimulus pertumbuhan sektor riil.
Sementara itu, anggaran belanja barang pemerintah yang diharapkan menjadi
satu-satunya penolong bagi sektor riil untuk mendorong pertumbuhan
menunjukkan perkembangan yang tidak memuaskan. Realisasi belanja barang
pemerintah pusat pada semester I 2006 hanya mencapai 24,1 persen, masih di
bawah realiasi belanja barang periode yang sama tahun 2004 sebesar 29,1
persen. Secara politik, pemerintah sudah membuktikan bahwa stabilisasi
mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, sedangkan di sisi masyarakat
madani, orang mulai berani mengkritik pemerintah dengan berbagai cara.
Sementara di sisi ekonomi pasar, perekonomian masih belum memanfaatkan
pasar modal yang sudah berusia 29 tahun. Pasar modal seharusnya mampu
mendorong sektor riil. Selain masalah dari sisi pembiayaan, yakni seretnya
kredit, soal lain yang menghambat pertumbuhan ekonomi adalah
ketidakmampuan pemerintah daerah memanfaatkan dana yang tersedia untuk
menstimulus pertumbuhan ekonomi. Surplus dana yang berasal dari dana
alokasi umum dan pendapatan asli daerah nyatanya tak termanfaatkan secara
optimal. Surplus dana yang dimiliki pemda justru ditaruh di bank dan
selanjutnya oleh bank ditempatkan pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Situasi itu terjadi antara lain karena tak adanya kepastian hukum dalam
23

Pembangunan proyek, perencanaan yang kurang matang, dan kemauan daerah yang
rendah secara politik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hampir
sepertiga dari APBN dikirim ke daerah lewat perimbangan keuangan pusat dan
daerah. Tetapi sampai sekarang tidak ada (sistem insentif dan penalti tersebut).
4. Bencana alam.
Beban pemerintah untuk membiayai pertumbuhan ekonomi makin berat
seiring datangnya

berbagai bencana alam. Dana yang diperlukan untuk

merehabilitasi fisik kawasan yang hancur dan psikologis masyarakat yang


anjlok tentu tidak sedikit.
mengakibatkan

Selain itu,

bencana

bertambahnya

alam

bertambahnya

juga
angka

kemiskinan dan pengnagguran.


Petumbuhan Ekonomi dan Angka Pengangguran
Tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi berdampak logis terhadap
meningkatnya angka pengangguran. Saat ini pengangguran total atau terbuka
mencapai 10,9 juta, sedangkan setengah menganggur sekitar 40,1 juta atau 37
persen dari total angkatan kerja sebesar 106,9 juta. Pertumbuhan ekonomi yang
rendah juga menghilangkan momentum untuk memulihkan diri lebih cepat dari
kemerosotan sehabis krisis.
Selama 2004-2009 pemerintah merencanakan pertumbuhan ekonomi ratarata 6,6 persen per tahun. Tingkat pengangguran diharapkan turun menjadi 5,7
juta orang (2009). Pemerintah berasumsi setiap 1,0 persen pertumbuhan ekonomi
akan menambah lapangan kerja untuk sekitar 459.000 orang. Asumsi ini
dibuat berdasarkan pengalaman selama Orde Baru

yang menunjukkan bahwa

untuk setiap
1,0 persen pertumbuhan ekonomi biasanya menciptakan 500.000 lapangan
kerja.
Apabila pertumbuhan ekonomi tidak mencapai rata-rata 6,6 persen, maka
asumsi tingkat

pengangguran pasti tidak

tercapai.

Selama

lima

kuartal

terakhir tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata hanya 5,4 persen atau jauh di
bawah target
6,6 persen. Seandainya target 6,6 persen tercapai, pengalaman 2000-2005
menunjukkan setiap 1,0 persen pertumbuhan ekonomi hanya menambah lapangan
kerja

untuk

sekitar

213.000

orang

tenaga

kerja.

Berarti,

dengan
24

pertumbuhan ekonomi 6,6 persen hanya akan menambah lapangan kerja sekitar 1,4
juta per tahun.
Lazimnya, 1% pertumbuhan ekonomi akan menciptakan lapangan
kerja untuk 400 ribu orang. Dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2005 yang dipatok
5,4%,

25

berarti hanya akan ada lowongan kerja buat 2,16 juta orang. Padahal,
jumlah
penganggur di Indonesia, menurut Biro Pusat Statistik, sekitar 10 juta orang. Angka
ini belum termasuk pencari kerja baru yang muncul di tahun 2005.

Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan

Naiknya harga bahan bakar minyak akan berdampak bagi masyarakat. Dampak yang
signifikan akan terjadi pada tingkat inflasi dan pada kondisi perekonomian nasional. Dampak
kenaikan harga BBM terhadap inflasi adalah akan terjadi kenaikan pada tingkat presentase
inflasi. Kondisi perekonomian akan mengalami kegoncangan, ketidakstabilan akan terjadi.
Iklim investasi akan menurun, sehingga berpengaruh pada jumlah pendapatan dan
pengeluaran pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk mengatasi inflasi adalah dengan
kebijakan moneter. Seluruh instrumen kebijakan moneter efektif dalam mengurangi dan
mengatasi inflasi

4.2

Saran
sesuai dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran seebagai berikut.

1. Pemerintah hendaknya memilih waktu yang tepat untuk mengeluarkan kebijakan


menaikan harga bahan bakar minyak
2. Jika inflasi terjadi akibat dampak dari kebijakan pemerintah, diperlukan suatu langkah
yang tepat dalam mengatasi inflasi yang terjadi

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Tambunan .T 2011. Perekonomian Indonesia, Bakti Utama, jakarta


2. http://www.slideshare.net/PutriwulandariWS/pengaruh-kenaikan-bbmterhadap-perekonomian-indonesia, 4 April 2013
3. http://wildanfaizzani.wordpress.co mpengaruh-kenaikan-harga-bbm/, 29
Maret 2012
4. http://salispurnajati.blogspot.comketerkaitan-hubungan-antarapertumbuhan.html, 1 Desember 2011
5. http://ikhwanbukhari.blogspot.commakalah-dampak-kenaikan-hargabahan.html, 3 Desember 2012
6. http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/fullchapter/05610094-nur-sholikhatuljannah.ps

7. http://www.depkominfo.go.id http://www.ebursa.com http://www.bps.go.id


8. Sukirno Sadono. 1994. Pengantar Teori Makroekonomi edisi kedua. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada
9. Nanga Muana. 2001. Makroekonomi Teori Masalah dan Kebijakan edisi
perdana. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
10. Setiawan Aris Budi. 2006-04-18. Inflasi.
11. http://library.gunadarma.ac.id(9 Agustus 2006)
12. http://www.csis.or.id http://www. Kapanlagi.com http://www.indonesia.go.id
13. Senduk Safir. Emas Sebagai Penangkal Inflasi.
14. http://www.perencanakeuangan.co m/files/E mas.html (9 agustus 2006)
15. http://perpustakaan.bappenas.go.id/
16. Nasim Arim. (2005). Produk Ekonomi Kapitalis. Tersedia: http://hizbut tahrir.or.id (9 Agustus 2006)
17. Riza Budi.Modul online.Tersedia: htt p://www.e-dukasi. net . (9 Agustus 2006)
27

28