Anda di halaman 1dari 25

3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemikiran untuk menggantikan organ manusia yang rusak dengan material
tak hidup telah ada sejak lebih dari dua ribu tahun yang lalu dimulai dari bangsa
romawi, china dan aztec yang memiliki peradaban kuno tercatat menggunakan
emas untuk perawatan gigi. Pada masa itu perkembangan biomaterial diuji coba
secara trial and error terhadap tubuh manusia ataupun binatang namun tingkat
kesuksesannya tidak maksimal.
Biomaterial secara umum adalah suatu material tak-hidup yang digunakan
sebagai perangkat medis. Adanya interaksi ini mengharuskan setiap biomaterial
memiliki sifat biokompatibilitas, yaitu kemampuan suatu material untuk bekerja
selaras dengan tubuh tanpa menimbulkan efek lain yang berbahaya (Cahyanto,
2009).
Bidang biomaterial mengarah pada ilmu material dan bidang ilmu biologi
serta kimia. Material buatan manusia meningkat sesuai dengan penggunaan
aplikasinya seperti pada drug-delivery dan terapi gen (gene therapy), perancah
untuk rekayasa jaringan (tissue engineering), penggantian bagian tubuh (body
replacemen), serta alat biomedis dan bedah (Cahyanto, 2009).
Bidang biomaterial didesain untuk memberikan pemahaman dan
pengajaran di bidang fisika, kimia dan biologi dari material, dan juga dengan
berbagai bidang dari teknik secara umum seperti matematika, kemasyarakatan dan
ilmu sosial, dan peningkatan kebutuhan yang lebih baik.
Sejarahnya, berbagai macam bahan telah digunakan untuk mengganti gigi,
termasuk gigi binatang, gigi manusia, cangkang kerang gading, tulang. Bahan
untuk mengganti struktur yang hilang mengalami evolusi lebih lambat selama
beberapa abad terakhir. Keempat kelompok bahan yang digunakan adalah logam,
keramik, polimer dan komposit (Anusavice, 2004).
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana etika dan hukum yang mengatur penggunaan bahan material dalam
kedokteran gigi
1.3 Tujuan
1. Memberikan pengenalan mendasar tentang biomaterial khususnya
biomaterial kedokteran gigi.
2. Mengenalkan material yang dapat diaplikasikan dalam kedokteran
gigi.
3. Memberikan pemahaman akan perkembangan dental material.
1.4 Hipotesa
Etika dan hukum yang mengatur penggunaan bahan material dalam
kedokteran gigi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Biomaterial

Biomaterial adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur, komposisi,


sifat dan manipulasi material kedokteran gigi yang berkontak dengan jaringan
keras / lunak tubuh manusia. Berinteraksi dengan sistem biologis untuk
mengembalikan fungsi dan estetik di dalam suatu sistem stomagenik di dalamnya
juga diuraikan mengenai perkembangan material, cara memilih dan mengevaluasi
serta pemakaian material di bidang kedokteran gigi (Basker, 2003).
2.2 Fungsi Biomaterial
1.
2.
3.
4.
5.

Sebagai pengganti bagian yang rusak,


Berperan dalam proses penyembuhan,
Memperbaiki fungsi tubuh,
Membantu diagnosa dan perawatan,
Memperbaiki kualitas hidup sehingga menciptakan taraf kesehatan yang

lebih baik,
6. Menyelamatkan jiwa banyak orang (Yuliati, 2005).
2.3 Klasifikasi Umum Biomaterial
Secara umum biomaterial dibagi menjadi dua kelompok besar yang terdiri
dari :
2.3.1 Biomaterial Sintetik
Kebanyakan biomaterial sintetik yang digunakan untuk implantasi adalah
material umum yang sudah lazim digunakan oleh para insinyur dan ahli material.
Pada umumnya, material ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu logam,
keramik, polimer dan komposit (Cahyanto, 2009).
a) Logam
Sebagai bagian dari material, logam merupakan material yang sangat
banyak digunakan untuk implantasi load-bearing. Misalnya, beberapa dari
kebanyakan pembedahan ortopedi pada umumnya melibatkan implantasi dari
material logam. Mulai dari hal sederhana seperti kawat dan sekrup untuk
pelat yang bebas dari patah sampai pada total joint prostheses (tulang sendi
buatan) untuk pangkal paha, lutut, bahu, pergelangan kaki dan banyak lagi.
Dalam ortopedi, implantasi bahan logam digunakan pada pembedahan
maxillofacial, cardiovascular, dan sebagai material dental. Walaupun banyak
logam dan paduannya digunakan untuk aplikasi peralatan medis, tetapi yang

paling sering digunakan adalah baja tahan karat, titanium murni dan titanium
paduan, serta paduan cobalt-base (Cahyanto, 2009).
b) Polimer
Berbagai jenis polimer banyak digunakan untuk obat-obatan sebagai
biomaterial. Aplikasinya mulai dari wajah, muka buatan sampai pada pipa
tenggorokan, dari ginjal dan bagian hati sampai pada komponen-komponen
dari jantung, serta material untuk gigi buatan sampai pada material untuk
pangkal paha dan tulang sendi lutut.
Material polimer untuk biomaterial ini juga digunakan untuk bahan
perekat medis dan penutup, serta pelapis yang digunakan untuk berbagai
tujuan (Cahyanto, 2009).
c) Keramik
Keramik juga telah banyak digunakan sebagai material pengganti dalam
ilmu kedokteran gigi. Hal ini meliputi material untuk mahkota gigi, tambalan
dan gigi tiruan. Tetapi, kegunaannya dalam bidang lain dari pengobatan medis
tidak terlihat begitu banyak bila dibandingkan dengan logam dan polimer. Hal
ini dikarenakan ketangguhan retak yang buruk dari keramik yang akan sangat
membatasi penggunaannya untuk aplikasi pembebanan. Material keramik
sedikit digunakan untuk pengganti tulang sendi (joint replacement), perbaikan
tulang (bone repair) dan penambahan tulang (augmentation) (Cahyanto,
2009).
d) Komposit
Biomaterial komposit yang sangat cocok dan baik digunakan di bidang
kedokteran gigi adalah sebagai material pengganti atau tambalan gigi.
Walaupun masih terdapat material komposit lain seperti komposit karbonkarbon dan komposit polimer berpenguat karbon yang dapat digunakan pada
perbaikan tulang dan penggantian tulang sendi karena memiliki nilai modulus
elastis yang rendah, tetapi material ini tidak menampakkan adanya kombinasi
dari sifat mekanik dan biologis yang sesuai untuk aplikasinya. Tetapi juga,
material komposit sangat banyak digunakan untuk prosthetic limbs (tungkai
buatan), dimana terdapat kombinasi dari densitas/berat yang rendah dan
kekuatan yang tinggi sehingga membuat material ini cocok untuk aplikasinya
(Cahyanto, 2009).

2.3.2 Biomaterial Alam


Beberapa material yang diperoleh dari binatang atau tumbuhan ada pula
yang penggunannya sebagai biomaterial yang layak digunakan secara luas.
Keuntungan pada penggunaan material alam untuk implantasi adalah material ini
hampir sama dengan material yang ada dalam tubuh. Menyikapi hal ini, maka
terdapat bidang lain yang cukup barkembang dan baik untuk dipahami yaitu
bidang biomimetics. Material alam biasanya tidak memberikan adanya bahanya
racun yang sering dijumpai pada material sintetik. Dan juga, material ini dapat
membawa protein spesifik yang terikat didalamnya dan sinyal biokimia lainnya
yang mungkin dapat membantu penyembuhan, pemulihan dan integrasi dari
jaringan (William, 1987).
Selain itu, material alam dapat juga digunakan untuk mengatasi masalah
immunogenicity. Masalah lain yang berkaitan dengan material ini adalah
kecenderungannya untuk berubah sifat atau terdekomposisi pada temperatur
dibawah titik lelehnya (William, 1987).
Contoh material alam adalah :
- Kolagen
- Chitin
- Keratin
- Selulosa (William, 1987).
Salah satu contoh dari material alam adalah kolagen, yang hanya terdapat
dalam bentuk serat, mempunyai struktur triple-helix, dan merupakan protein yang
sangat banyak terdapat pada binatang di seluruh dunia.
Sebagai contoh, hampir 50 % protein pada kulit sapi adalah kolagen. Hal
tersebut membentuk komponen yang signifikan dari jaringan penghubung seperti
tulang, tendon, ligament dan kulit. Terdapat kurang lebih sepuluh jenis berbeda
dari kolagen dalam tubuh, yaitu :
Tipe I ditemukan terutama pada kulit, tulang dan tendon
Tipe II ditemukan pada tulang rawan arteri pada tulang dan sendi
Tipe III merupakan unsur utama dari pembuluh darah (Anusavice,

2003).
Kolagen sudah banyak dipelajari untuk digunakan sebagai biomaterial.
Material implantasi ini biasanya dalam bentuk sponge yang tidak memiliki
kekuatan mekanik atau kekuatan signifikan. Material ini sangat menjanjikan

sebagai perancah untuk pertumbuhan jaringan baru, dan tersedia juga sebagai
produk untuk menyembuhkan luka. Injectable collagen merupakan kolagen yang
disuntikan ke dalam tubuh dan sangat banyak digunakan untuk proses augmentasi
atau pembangun dari jaringan dermal untuk bahan kosmetik. Material alam lain
yang ditinjau masih dalam pertimbangan, termasuk karang, kitin, (dari serangga
dan binatang berkulit keras seperti udang, kepiting dll), keratin dari rambut dan
selulosa dari tumbuhan ( Anusavice, 2004).
2.4 Klasifikasi Biomaterial Kedokteran Gigi
Secara garis besar material kedokteran gigi dapat diklasifikasikan sesuai
dengan penggunaanya, yaitu :
2.4.1 Material untuk Prosedur Klinik
a)
Bahan Cetak (impression material)
Material cetak atau impression material merupakan material yang
digunakan untuk mengambil cetakan dari rahang/jaringan mulut beserta gigigiginya. Alginat adalah polimer linier organik polisakarida yang terdiri dari
monomer -L asam guluronat (G) dan -D asam manuronat (M), atau dapat
berupa kombinasi dari kedua monomer tersebut. Alginat dapat diperoleh dari
ganggang coklat yang berasal dari genus Ascophyllum, Ecklonia, Durvillaea,
Laminaria, Lessonia, Macrocystis, Sargassum, dan Turbinaria (Husain, 2004).
b) Bahan Tumpatan (filling material)
Ada beberapa macam tumpatan gigi yaitu :
1. Amalgam
Bahan tumpat ini sudah lama dikenal dan terdiri dari campuran
amalgam alloy dan merkuri, mempunyai warna seperti logam.
2. Composite dan Glass ionomer
Bahan tumpat ini mempunyai beberapa macam warna yang serupa
dengan warna gigi. Baik sekali untuk kosmetika terutama untuk gigi
bagian depan.
3. Inlay yang terbuat dari logam atau porselen
Bahan tumpat ini terbuat dari logam (emas atau bukan emas),
porselen. Kedua macam tumpatan ini mempunyai daya tahan kunyah
yang baik sekali dan digunakan untuk gigi belakang. Cara

pembuatannya lebih rumit, harus dilakukan di luar mulut, kemudian


dicekatkan dengan semen pada gigi yang bersangkutan (Husain, 2004).
c) Bahan Semen Dental (dental cement)
Salah satu bahan semen dental adalah: semen ionomer kaca yang
merupakan salah satu bahan restorasi yang banyak digunakan oleh dokter gigi
karena mempunyai beberapa keunggulan, yaitu preparasinya dapat minimal,
ikatan dengan jaringan gigi secara khemis, melepas fluor dalam jangka
panjang, estetis, biokompatibel, daya larut rendah, translusen, dan bersifat
anti bakteri (Husain, 2004).
2.4.2 Material untuk Prosedur Laboratorium
a)
Gips Dental (dental gypsum)
Bahan cetak gips sudah lama digunakan di bidang kedokteran gigi.
Tersedia dalam bentuk bubuk yang harus dicampur dengan air.
Sebelum mengeras adonan yang dihasilkan mempunyai daya alir (flow)
yang tinggi. Sifat ini memungkinkan bahan cetak dapat mengalir ke tempattempat yang sempit sehingga hasil cetakan cukup akurat.
-

Plaster of paris gipsum, digunakan untuk mengisi cetakan serta


berperan untuk mengatur waktu pengerasan dan ekspansi
pengerasan, uumumnya berwarna putih alami.

Stone gips, untuk pembuatan die stones atau pola malam cast
restoration, persyaratan utama bagi bahan stone untuk
pembuatan die adalah kekuatan, kekerasan, dan ekspansi
pengerasan minimal.

Invesment material, merupakan gipsum hemihidrat yang secara


umum merupakan pengikat untuk bahan pendam yang
digunakan pada pengecoran logam (Annusavice, 2004).

b)

Bahan Tanam Tuang (investment material)


Adalah bahan tanam yang digunakan untuk mengecor logam cair

dengan gaya sentrifugal atau tekanan ke dalam kavitas mold yang dibuat dari
model malam yang diberi sprue (Husain, 2004).
c)

Malam Dental (dental wax)

10

Wax atau malam adalah suatu campuran dari beberapa macam bahan
organik dengan berat molekul dan kekuatan rendah serta mempunyai sifat
thermoplastik. Pertama kali digunakan di bidang KG sekitar abad 18 untuk
pencatatan cetakan rahang tak bergigi. Konstitusi dasar malam yang
dipergunakan di kedokteran gigi berasal dari tiga sumber utama, yaitu :
1. Mineral seperti malam paraffin,
2. Serangga, seperti malam beeswax,
3. Tumbuhan seperti malam ceresin dan carnauba (Hussain,
d)

2004).
Resin Dental (resin acrilyc)
Resin akrilik adalah jenis resin termoplastik, di mana merupakan senyawa
kompon non metalik yang dibuat secara sintesis dari bahan bahan organik.
Resin akrilik dapat dibentuk selama masih dalam keadaan plastis, dan

mengeras apabila dipananskan. Pengerasan terjadi oleh karena terjadinya


reaksi polimerisasi adisi antara polimer dan monomer.
Acrylic berasal dari asam acrolain atau gliserin aldehid. Secara kimia
dinamakan polymethyl methacrylate yang terbuat dari minyak bumi, gas
bumi atau arang batu. Bahan ini disediakan dalam kedokteran gigi berupa
ciaran (monomer) mono methyl methacrylate dan dalam bentuk bubuk
(polymer) polymethtyl methacrylate (Hussain, 2004).
e)

Porselen Dental (dental porcelain)


Porselen dental adalah feldspar hasil vitrivikasi dengan pigmen oksida

logam untuk meniru enamel gigi.


f) Logam Dental (dental alloy)
Logam alloy adalah campuran dua atau lebih elemen logam. Jenis alloy
yang di gunakan dalam kedokteran gigi adalah :
1)
Dental amalgam
Amalgam biasanya digunakan untuk penambalan gigi. Amalgam
merupakan campuran perak (Ag) dan timah (Sn), sedikit tembaga
(Cu) dan seng (Zn). Sewaktu dicampur dengan merkuri (Hg)
memadat dengan cepat menghasilkan suatu benda yang keras dan
kuat.
2)
Alloy emas.
3)
Stainless steel.
4)
Alloy Cobalt Chromium dan Alloy Silver palladiu.
g)

Bahan Penghalus dan Pemoles (finishing dan polishing material)

11

Polishing merupakan rangkaian prosedur yang berfungsi untuk


mengurangi atau menghilangkan goresan-goresan yang terjadi dari proses
pekerjaan sebelumnya. Pekerjaan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga
dapat menghasilkan permukaan restoratif yang mengkilat (Hussain, 2004).
Finishing merupakan suatu proses yang menghasilkan bentuk akhir dan
kontur dari restorasi. Bahan-bahan abrasi yang di gunakan dalam proses
penghalusan dan pemolesan adalah :
1) Kapur
Merupakan salah satu bentuk mineral dari calcite. Kapur adalah
abrasif putih yang terdiri atas kalsium karbonat, digunakan sebagai
pasta abrasif ringan untuk memoles email gigi, lembaran emas,
amalgam, dan bahan plastis.
2) Pumice
Merupakan bahan silika yang berwarna abu-abu muda. Digunakan
terutama dalam bentuk pasir tetapi juga dapat ditemukan pada abrasif
karet. Kedua bentuk ini digunakan pada bahan plastik. Pumice
digunakan untuk memoles email gigi, lempeng emas, amalgam, resin
akrilik.
3) Pasir
Campuran partikel mineral kecil yang terutama terdiri atas silika.
diaplikasikan dengan tekanan udara untuk menghilangkan bahan
tanam dari logam campur pengecoran. Juga dapat dilapiskan pada disk
kertas untuk mengasah logam campur dan bahan plastik.
4) Cuttle
Merupakan bubuk putih calcareus yang digunakan untuk prosedur
abrasi yang halus seperti memoles tepi logam dan restorasi amalgam
gigi.
5) Aluminium oxide
Adalah abrasif sintetik kedua yang dikembangkan setelah silikon
karbid. Aluminium oxide berupa bubuk berwarna putih, dapat lebih
keras daripada korundum (alumina alami) karena kemurniannya.
Aluminium oxide banyak digunakan untuk merapikan email gigi,
logam campur, maupun bahan keramik (Hussain, 2004).
2.5 Sifat-Sifat Biomaterial

12

2.5.1 Sifat Fisik Biomaterial


a)

Abrasi dan Ketahanan Abrasi


Kekerasan, sering kali digunakan sebagai suatu petunjuk dari

kemampuan suatu bahan menahan abrasi atau pengikisan. Namun abrasi


merupakan mekanisme kompleks pada lingkungan mulut yang mencakup
interaksi antara sejumlah faktor oleh karena itu peran kekerasan sebagai suatu
prediktor ketahahan abrasi adalah terbatas. Kekerasan suatu bahan hanyalah
satu dari banyak faktor yang mempengaruhi pengikisan atau abrasi
permukaan email gigi yang berkontak dengan bahan. Faktor utama lain yang
memepengaruhinya adalah tekanan gigitan, frekuensi pengunyahan, sifat
abrasive makanan, komposisi cairan, dan ketidak teraturan permukaan gigi
(Anusavice, 2003).
b) Kekentalan
Ketahanan untuk bergerak disebut kekentalan atau viskositas dan
dikendalikan oleh gaya friksi internal di dalam cairan. Kekentalan adalah
ukuran konsistensi suatu cairan beserta ketidak mampuannya untuk mengalir.
Cairan dengan keketanlan tinggi mengalir lambat karena viskositasnya yang
tinggi. Bahan kedokteran gigi mempunyai kekentalan yang berbeda bila
digunakan untuk penerapan klinis tertentu. Banyak bahan kedokteran gigi
mempunyai sifat pseudoplastik dimana kekentalannya berkurang dengan
meningkatnya besarnya geseran sampai mencapai nilai yang hampir konstan.
Kekentalan

dari

kebanyakan

cairan

juga meningkat

cepat

dengan

meningkatnya temperature. Kekentalan bergantung pada perubahan wujud


sebelumnya dari cairan. Suatu cairan ini yang menjadi kurang kental dan
lebih cair di bawah tekanan disebut tiksotropik. Plaster, semen resin dan
beberapa bahan cetak adalah tikotropik. Sifat ini menguntungkan karena
membuat bahan tidak mengalir dari sendok cetak sampai diletakkan pada
jaringan mulut (Anusavice, 2003).
c) Relaksasi Tekanan
Proses pelepasan tekanan disebut dengan relaksasi. Kecepatan relaksasi
meningkat dengan meningkatnya

temperature. Ada beberapa bahan

kedokteran gigi bukan kristal seperti malam, resin dan gel yang ketika

13

dimanipulasi didinginkan kemudian dapat

mengalami relaksasi pada

temperatur yang meningkat (Anusavice, 2003).


d) Creep dan Aliran
Creep adalah geseran plastic yang bergantung waktu dari suatu bahan di
bawah muatan statis. Aliran umumnya digunakan dalam kedokteran gigi
untuk menggambarkan reologi dari bahan amorf sperti malam. Aliran dari
malam adalah ukuran dari kemampuannya untuk berubah bentuk dibawah
muatan statis yang kecil dan dihubungkan dengan massanya sendiri
(Anusavice, 2003).
2.5.2 Sifat Termofisika Biomaterial
a) Konduktivitas Termal
Pengkuran termofisika mengenai seberapa baik panas disalurkan
melalui suatu bahan dengan aliran konduksi. Bahan yang memiliki
konduktivitras

termal tinngi disebut konduktor dan bahan dengan

konduktivitas slemah disebut isolator. Dibandingkan dengan komposit


berbasis resin yang memiliki konduktivitas resin yang lemah bila air dingin
berkontak dengan restorasi logam panas disalurkan lebih cepat menjauhi gigi
karena kondktivitas termalnya lebih tinggi. Peningkatan konduktivitas dari
logam dibandingkan dengan resin menyebabkan sensitivitas pulpa lebih besar
(Anusavice, 2003).
b) Difusi Termal

Penegendalian besarnya waktu perubahan temperature begitu panas


melewati suatu bahan. Besarnya dapat diukur pada saat suatu benda dengan
temperature yang tidak sama mencapai keadaan keseimbangan termal, karena
keadaan penyaluran panas tidak stabil selama penyerapan makanan dan cairan
panas atau dingin difusi termal bahan kedokteran gigi lebih penting dari
konduktivitas termal (Anusavice, 2003).
c) Koefisien Ekspansi Termal

Sifat termal yang juga penting bagi dokter gigi ini adalah perubahan
panjang per unit panjang asal dari suatu benda bila temperature dinaikan
(Anusavice, 2003).
2.5.3 Sifat Mekanik Biomaterial

14

Menurut Kenneth (2004), sifat-sifat mekanik dari biomaterial dapat dibagi


menjadi :
a) Kekuatan (Strength), Kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa
menyebabkan bahan menjadi patah. Kekuatan ini tergantung pada jenis
pembebannya, yaitu :
1)
2)
3)
4)
5)

Kekuatan tarik akibat beban tarik


Kekuatan geser akibat beban geser
Kekuatan tekan akibat beban tekan
Kekuatan torsi akibat beban torsi
Kekuatan lengkung akibat beban banding

b) Kekerasan (hardness), Kemampuan bahan untuk tahan terhadap


penggoresan, pengikisan (abrasi), indentasi atau penetrasi. Sifat ini
berkaitan dengan sifat tahan aus (wear resistance). Kekerasan juga
berkorelasi dengan kekuatan.
c) Kekenyalan (elastisitas), Kemampuan bahan untuk menerima tegangan
tanpa menyebabkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen setelah
tegangan dihilangkan.
d) Kekakuan (stiffness), Kemampuan bahan untuk menerima tegangan /
beban

tanpa

mengakibatkan

terjadinya

perubahan

bentuk

(deformasi/defleksi).
e) Plastisitas (plasticity), Kemampuan bahan untuk mengalami sejumlah
deformasi plastis tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan.
f) Ketangguhan (toughness), Kemampuan bahan untuk menyerap sejumlah
energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan.
g) Kelelahan (fatique), Kecenderungan dari logam untuk patah bila
menerima beban yang berulang/dinamik yang besarnya masih jauh
dibawah batas kekuatan elastiknya.
h) Creep (merangkak), Kecenderuangan suatu logam untuk mengalami
deformasi plastik yang besarnya merupakan fungsi waktu.
Perilaku material seperti yang disebutkan diatas dapat terjadi sebagai
akibat dari pembebanan statik dan akibat pembebanan dinamik. Pembebanan
statik merupakan pembebanan yang tetap atau relatif konstan, sedangkan

15

pembebanan dinamik merupakan pembebanan yang sifatnya bervariasi atau


merupakan beban impak/kejut (Anusavice, 2004).
2.6 Persyaratan Biomaterial
1) Biokompabilitas Bahan-Bahan Kedokteran Gigi
Di tahun 1960-an kata biokompabilitas tidak biasa digunakan, kata
toksik lebih sering digunakan dalam membahas keamanan bahan kedokteran
gigi. Istilah biokompatibel didefinisikan dalam Dorlands Illustrated Medical
Dictionary sebagai selaras dengan kehidupan dan tidak memiliki efek toksik
atau efek merugikan pada fungsi biologis. Secara umum, biokompatibilitas
diukur berdasarkan sitotoksisitas setempat (seperti respons pulpa dan
mukosa), respon sistemik, kemampuan menimbulkan alergi, dan karsinogen
(Anusavice, 2004).
Menurut Anusavice (2004), berdasarkan pada kriteria ini,
persyaratan untuk sifat biokompatibilitas bahan-bahan kedokteran gigi
mencakup hal berikut:

Bahan tersebut tidak bleh membahayakan pulpa dan jaringan lunak.

Bahan tersebut tidak boleh mengandung substansi toksik yang larut dalam
air, yang dapat di lepaskan dan diserap ke dalam sistem sirkulasi sehingga
menyebabkan respons toksik sistemik.

Bahan tersebut harus bebas dari bahan berpotensi menimbulkan


sensitivitas yang dapat menyebabkan suatu respons alergi.

Bahan tersebut harus tidak memiliki potensi karsinogen.


Dalam artian luas, suatu biomaterial dapat didefinisikan sebagai

substansi apapun, selain obat yang dapat digunakan untuk suatu periode
sebagai bagian dari suatu sistem yang merawat, menambah atau
menggantikan jaringan, organ atau fungsi apapun dari tubuh.
Sewaktu dokter gigi membeli suatu bahan, ia harus tahu apakah
bahan itu aman, dan bila aman seberapa aman bahan tersebut dibandingkan
dengan bahan lain (Anusavice, 2004).
2) Sifat fisik kimia (Tidak larut dalam saliva)
3) Karakteristik penanganan
4) Estetika

16

5) Ekonomis (Philips, 2004).

2.7 Kelebihan dan Kekurangan Biomaterial


Menurut Cahyanto (2009), kelebihan dan kekurangan biomaterial
kedokteran gigi yaitu :
a) Biomaterial logam.
Kelebihan
Kekurangan
Kuat, keras, dan tangguh
Mudah korosif
Merupakan konduktor panas dan listrik Mudah menyerap listrik
yang baik
Bisa bersifat magnetic
Mudah beradu dengan benda yang lain
Mudah dicairkan /dipanaskan sehingga Fraktur / patah dan mahal
mudah dibentuk dan dicetak.
b) Biomaterial polimer.
Kelebihan
Kenyal dan elastic
Lebih akurat dalam pencetakan
Waktu penyimpanan bisa tahan lama
Tidak mudah robek
Mudah dibentuk dalam pencetakan
Murah

Kekurangan
Tidak kuat karena terlalu lunak
Memerlukan sendok cetak perorangan
Berpotensi distorsi
Harus diisi dengan stone secepatnya.
Kotor (lengket)
Aroma yang terkadang menyengat
mengganggu kenyamanan pasien.

c) Kelebihan komposit
Kelebihan
Kuat untuk tambalan
Tidak berbahaya
Sewarna dengan gigi

Kekurangan
Mudah mengkerut
Mudah rusak
Warna mudah berubah

d) Kelebihan keramik
Kelebihan
Biokompatibilitas baik
Terlihat natural (hasilnya)

Kekurangan
Mudah Rapuh
Mengeluarkan suara klicking saat gigi

berontak
Daya tahan tinggi terhadap pemakaian dan Tidak dapat dihaluskan dengan cepat
distorsi
Tahan terhadap serangan kimia

setelah digrinding
Terlalu lemah untuk

pembuatan

mahkota penuh tanpa inti


Mempunyai daya kompresif strength yang Tidak ada pengikat untuk dasar akrilik

17

lebih tinggi

denture

dan

memerlukan

alat

tambahan
Koefisien termal ekspansion tidak
sebanding dan Kekuatan tarik rendah
2.8 Aplikasi Biomaterial Kedokteran Gigi
a) Dental Implant
Implan dental adalah sebuah alat dengan material biokompatibel yang
diletakkan di dalam tulang mandibula atau maksila, yang fungsinya untuk
menyediakan dukungan tambahan pada sebuah protesa atau gigi.
1. Implant subperiosteal, Implan tipe ini berupa kerangka logam yang
diletakkan di bawah periosteum tetapi di atas permukaan tulang
alveolar. Implan ini dapat digunakan pada maksila maupun
mandibula. Implan subperiosteal mempunyai riwayat percobaan
klinis yang paling panjang, tetapi tingkat keberhasilan jangka
panjangnya diragukan, tingkat kesuksesannya 54% dalam 15 tahun.
Implan subperiosteal jarang diindikasikan kecuali untuk area
resorpsi edentulous yang parah. Implan ini juga tidak dianjurkan
untuk ditempatkan pada tempat yang antagonisnya merupakan gigi
asli (Cahyanto, 2009).
2.

Implant transosseous, Implan ini menembus seluruhnya pada


mandibula. Implan ini diindikasikan hanya untuk mandibula

3.

dengan resorpsi tulang yang parah.


Implant endosseous, Implan endosseous ini diletakkan langsung
pada tulang seperti akar gigi asli dan dapat digunakan untuk
berbagai tujuan.
Laporan-laporan menyebutkan bahwa tingkat keberhasilannya
dapat melebihi 15 tahun apabila teknik bedah dan perawatan pasca
bedahnya dilakukan dengan baik.

b) Porcelain veneers, Veneer artinya to cover (anything) with a layer of


something else to give anappearance of superior quality menutupi apa saja
dengan sebuah pelapis agarmempunyai kualitas penampilan yang lebih
baik. Veneer porselen adalah suatu lapisan tipis setebal kira-kira 0.5 0.7
mm yang menutupi permukaan labial gigi anterior dan permukaan bukal

18

beberapa gigi premolar. Veneer porselen ini pertama kali diperkenalkan


oleh Pincus di Hollywood sekitar tahun l930, restorasi tersebut diciptakan
untuk membantu penampilan aktor dan aktris dalam industri perfilman
(Cahyanto, 2009).
c) Crown and bridge / Gigi Tiruan Cekat. Gigi tiruan cekat adalah gigi tiruan
yang menggantikan satu atau lebih gigi dan tidak dapat dilepas dan
dipasang oleh pasien yang terdiri dari gigi tiruan cekat anterior (mahkota)
dan posterior (jembatan) (Cahyanto, 2009).
d) Bahan cetak alginat, bahan ini digunakan untuk mengambil cetakan
rahang/jaringan rongga mulut beserta gigi-giginya.
e) Bahan tumpatan.
1. Amalgam, terdiri dari campuran amalgam alloy dan merkuri
mempunyai warna seperti logam.
2. Composite dan glass ionomer, memiliki macam warna yang
serupa dengan gigi.
3. Inlay, yang terbuat dari logam atau porselen mempunyai daya
kunyah yang baik. Cara pembuatannya lebih rumit harus
dilakukan di luar mulut, kemudian dicetakan dengan semen pada
gigi yang bersangkutan.
f) Gips dental, tersedia dalam bentuk bubuk dan harus dicampur air.
Mempunyai daya alir yang tinggi sehingga dapat menempati tempat yang
sempit,yang menghasilkan hasil yang akurat.
g) Investment material, Bahan tanam yang digunkan unruk mengecor logam
cair.
h) Malam dental (dental wax), Suatu campuran dari beberapa bahan organik
dengan berat molekul kekuatan rendah mempunyai sifat thermoplastic.
i) Resin akrilik, Merupakan senyawa kompon yang dibuat secara sintesis dari
bahan-bahan organik, dibentuk selama masih keadaan plastis dan mengeras
apa bila dipanaskan, berupa cairan (monomer) mono methyl methacrylate
dan bubuk (polimer) polymethyl methacrylate.

19

j) Porselen dental, Feldspar hasil vitrivikasi dengan pigmen oksida logam


untuk meniru enamel gigi.
k) Bahan penghalus dan pemoles.
- Finishing merupakan suatu proses yang menghasilkan bentuk akhir
-

dan kontur dari restorasi.


Polishing merupakan rangkaian

prosedur

yang

berfungsi

megurangi goresan-goresan yang terjadi dari proses pekerjaan


sebelumnya. Dilakukan sedemikian rupa sampai mengkilap
(Anusavice, 2003).
2.9 Etik dan Hukum Pemakaian Bahan Biomaterial
Menurut UU RI No.36 tahun 2009.
BAB V
SUMBER DAYA DI BIDANG KESEHATAN
Bagian Kesatu
Tenaga Kesehatan
Pasal 27
(1) Tenaga

kesehatan

dalam

melaksanakan

tugasnya

berkewajiban

mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang


dimiliki.
Bagian Keempat
Teknologi dan Produk Teknologi
Pasal 42
(1) Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan, diteliti, diedarkan,
dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kesehatan masyarakat.
(2) Teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup segala
metode dan alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit,
mendeteksi adanya penyakit, meringankan penderitaan akibat penyakit,
menyembuhkan, memperkecil komplikasi, dan memulihkan kesehatan setelah
sakit.

20

(3) Ketentuan mengenai teknologi dan produk teknologi kesehatan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan.
Bagian Kelima
Penyembuhan Penyakit dan Pemulihan Kesehatan
Pasal 64
(1) Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui
transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, implan obat dan/atau alat
kesehatan, bedah plastik dan rekonstruksi, serta penggunaan sel punca.
Pasal 68
(1) Pemasangan implan obat dan/atau alat kesehatan ke dalam tubuh manusia
hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan serta dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
(2)

Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan pemasangan


implan
obat dan/atau alat kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah.

2.9.1 Badan Pengawas dan Penguji


A. Standar Internasional
Selama beberapa tahun sudah banyak minat yang dicurahkan
pada perkembangan spesifikasi bahan kedokteran gigi pada tingkat
internasional. Dua organisasi, federation dentaire international ( FDI ) dan
international for standardization ( ISO ), mencapai tujuan tersebut.
Awalnya, FDI mengawali dan mendukung secara aktif suatu program
untuk merumuskan spesifikasi untuk bahan dan alat kedokteran gigi.
Sebagai hasilnya, beberapa spesifikasi untuk bahan dan alat kedokteran
gigi telah terbentuk (Anusavice, 2003).
ISO adalah organisasi internasional, non pemerintah yang
mempunyai tujuan mengembangkan standar internasional. Badan ini
terdiri

atas

organisasi

standar

nasional

mengembangkan

standar

21

internasional. Permintaan FDI agar ISO mempertimbangkan spesifikasi


bahan kedokteran gigi dari FDI sebagai standar ISO, menyebapkan
dibentuknya komite ISO, yaitu TC106 dentistry.
Tanggung jawab komite ini adalah untuk memperbaharui istilah
dan

metode

pengujian

dan

untuk

menentukan

spesifikasi

dari

bahan,instrument dan peralatan kedokteran gigi (Anusavice, 2003).


Keuntungan spesifikasi tersebut bagi profesi kedokteran gigi
tidaklah ternilai karena penawaran dan permintaan untuk alat,bahan dan
instrument kedokteran gigi datang dari seluruh dunia. Pada dokter gigi
diberikan kriteria pemilihan yang adil dan terpercaya. Dengan kata lain,
bila dokter gigi hanya menggunakan bahan yang memenuhi spesifikasi,
mereka dapat memastikan bahwa bahan tersebut hasilnya akan memuaskan
(Anusavice, 2003).
B. Standar Organisasi lain
Untuk pruduk tertentu, beberapa Negara boleh menggunakan
standar Negara mereka sendiri bila Negara lain atau masyarakat
internasional belum mengembangkan persyaratan persetujuan bersama
(Anusavice, 2003).

BAB III

22

PETA KONSEP

BIOMATER
IAL
BIOMATER
IAL
SINTETIS

BIOMATER
IAL ALAM

BIOKOMP
ABILITAS
Tidak
membahayaka
n pulpa & jar.
lunak

Tidak
memiliki
potensi
karsinogen

Tidak
bersifat
toksik

APLIKASI
KEDOKTER
AN GIGI
LABORATO
RIUM

Tidak
menyebabk
an respons
alergi
ETIK &
HUKUM

KLINIK

23

BAB IV
PEMBAHASAN
Ilmu biomaterial adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur,
komposisi, sifat, dan manipulasi material yang berkontak dengan jaringan
keras/lunak pada tubuh manusia yang berinteraksi dengan sistem biologis untuk
mengembalikan fungsi dan estetik dalam sistem stomatognatik, struktur (susunan
kristal), komposisi (penyusun secara kimiawi), sifat (sebelum, saat dan sesudah
setting). Material adalah sesuatu yang mempunyai massa, menempati ruang, sifat
dan energi. Energi sebagai kemampuan untuk melakukan kerja/usaha (Williams,
1987).
Secara umum bahan biomaterial yang digunakan dalam kedokteran gigi
ada dua jenis yaitu biomaterial sintetik (logam, keramik, polimer dan komposit),
dan biomaterial alam (kolagen, kitin, keratin dan selulosa) (Williams, 1987).
Definisi biomaterial secara umum adalah suatu material tak-hidup yang
digunakan sebagai perangkat medis dan mampu berinteraksi dengan sistem
biologis. Adanya interaksi ini mengharuskan setiap biomaterial memiliki sifat
biokompatibilitas, yaitu kemampuan suatu material untuk bekerja selaras dengan
tubuh tanpa menimbulkan efek lain yang berbahaya (Cahyanto, 2009).
Secara umum biokompabilitas diukur bedasarkan sitotoksisitas setempat
(seperti responns pulpa dan mukosa), respon sistemik, kemampuan menimbulkan
alergi, dan karsinogen (Anusavice, 2004).
Selain memiliki ketentuan,sifat dan syarat,bahan biomaterial juga harus
disesuaikan dengan hukum dan etika. Ada dua organisasi yang mengatur
perkembangan spesifikasi bahan kedokteran gigi pada tingkat internasional yaitu
Federation dentaire international (FDI), dimana FDI mengawali dan mendukung
secara aktif suatu program untuk merumuskan spesifikasi untuk bahan dan alat
kedokteran gigi, dan International for standartdization (ISO) yang merupakan
organisasi

international,

non

pemerintah

yang

mempunyai

tujuan

mengembangkan standart international. Pada dokter gigi diberikan kriteria


pemilihan bahan yang adil dan terpercaya (Philips, 2004).

24

Selain itu bahan biomaterial juga memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai
pengganti bagian yang rusak, berperan dalam proses penyembuhan, memperbaiki
fungsi tubuh, membantu diagnosa dan perawatan, memperbaiki kualitas hidup
sehingga memciptakan taraf kesehatan yang lebih baik, menyelamatkan jiwa
banyak orang (Yuliati, 2005).
Secara garis besar material kedokteran gigi dapat diklasifikasikan sesuai
dengan penggunaanya yaitu material yang digunakan untuk prosedur klinik dan
material yang digunakan untuk prosedur laboratorium. Material yang digunakan
untuk prosedur klinik terdiri dari dental gypsum, investement material, dental
wax, dan resin acrylic. Sedangkan material yang digunakan untuk prosedur
laboratorium terdiri dari bahan cetak, bahan tumpatan, serta dental cement
(Husain, 2004)

25

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Biomaterial merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur,
komposisi, sifat, dan manipulasi material yang berkontak dengan jaringan pada
tubuh manusia yang berinteraksi dengan sistem biologis untuk mengembalikan
fungsi dan estetik dalam sistem stomatognatik.

5.2 Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat memahami
jenis-jenis bahan biomaterial yang digunakan dalam kedokteran gigi, syarat dan
pengaplikasiannya, serta etik dan hukum dalam pemakaiannya.

DAFTAR PUSTAKA

26

Anusavice, Kenneth J. 2003. Phillips Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.
Jakarta : EGC
Anusavice, Kenneth J. 2004. Phillips Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.
Jakarta : EGC. Hal: 3-6
Cahyanto, Arief. 2009. Makalah Biomaterial. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Hal: 1-12
Combe EC. 1992. Sari Dental Material.Alih Bahasa. Tarigan S. Ed-1. Jakarta:
Balai Pustaka. 240-6
Gunadi,dkk. 1993. Buku Ajar Geligi Tiruan sebagian lepasan. Jilid 1. Jakarta :
Hipokrates
Hussain, Sharmila. 2004. Textbook of Dental Materials. New Delhi: JBM
Publishers. Hal 1-2
Philips. 2004. Phillips Buku Ajar ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Ed.3. Jakarta:
EGC
Roberson, M Theodore, dkk. 2006. Inroduction to Composite Undang-Undang
Republik

Indonesia No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Williams, D. F. 1987. Definitions in Biomaterials. Proceedings of a Consensus


Conference of the Society for Biomaterials. Chester. England. 3-5 Maret
1986. Volume 4. New York: Elsevier
Yuliati, 2005. Jurnal kedokteran gigi. Surabaya : Universitas Airlangga.

27