Anda di halaman 1dari 9

Destaria Utami Rizky

Keperawatan Semarang

BLADDER TRAINNING
A. PENGERTIAN
Bladder training adalah salah upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kencing
yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik.
Bladder training merupakan salah satu terapi yang efektif

diantara

terapinonfarmakologis.
B. TUJUAN
Tujuan dari bladder training adalah untuk melatih kandung kemih dan
mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran
air kemih.
Terapi ini bertujuan memperpanjang interval berkemih yang normal dengan berbagai
teknik distraksi atau tekhnik relaksasi sehingga frekuensi berkemih dapat berkurang, hanya 67 kali per hari atau 3-4 jam sekali. Melalui latihan, penderita diharapkan dapat menahan
sensasi berkemih.
Tujuan yang dapat di capai dalam sumber yang lain adalah :
a. Klien dapat mengontrol berkemih
b. Klien dapat mengontrol buang air besar
c. Menghindari kelembaban dan iritasi pada kulit lansia
d. Menghindari isolasi social bagi klien
C. INDIKASI
a. Orang yang mengalami masalah dalam hal perkemihan
b. Klien dengan kesulitan memulai atau menghentikan aliran urine
c. Orang dengan pemasangan kateter yang relative lama
d. Klien dengan inkontinentia urine
D. PENGKAJIAN
Pengkajian yang dilakukan antara lain :
1. Pola berkemih
Info ini memungkinkan perawat merencanakan sebuah program yang sering
memakan waktu 2 minggu atau lebih untuk dipelajari.
2. Ada tidaknya ISK atau penyakit penyebab
Bila terdapat ISK atau penyakit yang lainnya maka harus diobati dalam waktu
yang sama.
E. PROGRAM LATIHAN BLADDER TRAINING
1. Penyuluhan

Destaria Utami Rizky


Keperawatan Semarang

Memberikan pengertian kepada klien tentang tata cara latihan bladder training
yang baik, manfaat yang akan di capai dan kerugian jika tidak melaksanakan
bladder training dengan baik.
2. Tahapan latihan mengontrol berkemih
Beberapa tindakan yang dapat membantu klien untuk mengembalikan control
kemih yaitu :
Persiapan alat :
a. Jam
b. Air minum dalam tempatnya
c. Obat diuretic jika diperlukan
Persiapan pasien
a. Jelaskan maksud dan tujuan dari tindakan tersebut
b. Jelaskan prosedur tindakan yang harus dilakukan klien
Langkah-langkah :
a. Beritahu klien untuk memulai jadwal berkemih pada bangun tidur, setiap 2-3 jam
sepanjang siang dan sore hari, sebelum tidur dan 4 jam sekali pada malam hari.
b. Beritahu klien minum yang banyak sekitar 30 menit sebelum waktu jadwal untuk
berkemih.
c. Beritahu klien untuk menahan berkemih dan memberitahu perawat jika rangsangan
berkemihnya tidak dapat di tahan.
d. Klien di suruh menunggu atau menahan berkemih dalam rentang waktu yang telah
ditentukan 2-3 jam sekali
e. 30 menit kemudian, tepat pada jadwal berkemih yang telah ditentukan, mintalah klien
untuk memulai berkemih dengan teknik latihan dasar panggul.
f. Latihan
Latihan 1
1. Instruksikan klien untuk berkonsentrasi pada otot panggul
2. Minta klien berupaya menghentikan aliran urine selama berkemih kemudian
memulainya kembali.
3. Praktikan setiap kali berkemih
Latihan 2
1. Minta kllien untuk mengembil posisi duduk atau berdiri
2. Instruksikan klien untuk mengencangkan otot-otot di sekitar anus
Latihan 3

Destaria Utami Rizky


Keperawatan Semarang

1. Minta klien mengencangkan otot bagian posterior dan kemudian kontraksikan


otot anterior secara perlahan sampai hitungan ke empat
2. Kemudian minta klien untuk merelaksasikan otot secara keseluruhan
3. Ulangi latihan 4 jam sekali, saat bangun tidur sealam 3 bulan
Latihan 4
1. Apabila memungkinkan, anjurkan Sit-Up yang dimodifikasi (lutut di tekuk)
kepada klien
Evaluasi
a. Klien dapat menahan berkemih dalam 6-7 kali perhari atau 3-4 jam sekali
I.
Bila tindakan point 5 seperti tersebut dirasakan belim optimal atau terdapat
gangguan :
Maka metode diatas dapat di tunjang dengan metode rangsangan dari eksternal
misalnya dengan suara aliran air dan menepuk paha bagian dalam
Menggunakan metode untuk relaksasi guna membantu pengosongan kandung
kemih secara total, misalnya dengan membaca dan menarik napas dalam.
Menghindari minuman yang mengandung kafein.
Minum obat diuretic yang telah diprogramkan atau cairan untuk meningkatkan
diuretic.
II.

Sikap
Jaga privasi klien
Lakukan prosedur dengan teliti

F. PENATALAKSANAAN
a. Pengaturan diet dan menghidari makanan / minuman yang mempengaruhi pola
berkemih (seperti kafein, alkohol)
b. Program latihan berkemih yaitu latihan penguatan otot dasar panggul (pelvic floor
exercise) latihan fungsi kandung kemih (bladder training) dan program kateterisasi
intermitten.
c. Latihan otot dasar panggul menggunakan bio feed back
d. Latihan otot dasar panggul menggunakan vaginal weight cone therapy. Selain
behavioral therapies, dikenal pula intervensi lain, yaitu perawatan dan pemanfaatan
berbagai alat bantu tera
Irigasi Kandung Kemih

Destaria Utami Rizky


Keperawatan Semarang

A. Pengertian
Irigasi kateter adalah pencucian kateter urine untuk mempertahankan kepatenan
kateter urine menetap dengan larutan steril yang diprogramkan oleh dokter. Karena
darah, pus, atau sedimen dapat terkumpul di dalam selang dan menyebabkan distensi
kandung kemih serta menyebabkan urine tetap berada di tempatnya. Ada dua metode
tambahan untuk irigasi kateter, yaitu :
1. Irigasi kandung kemih secara tertutup. Sistem ini memungkinkan seringnya
irigasi kontinu tanpa gangguan pada sistem kateter steril. Sistem ini paling
sering digunakan pada kalien yang menjalani bedah genitourinaria dan yang
kateternya berisiko mengalami penyumbatan oleh fragmen lendir dan bekuan
darah.
2. Dengan membuka sistem drainase tertutup untuk menginstilasi irigasi kandung
kemih. Teknik ini menimbulkan resiko lebih besar untuk terjadinya infeksi.
Namun, demikian kateter ini diperlukan saat kateter kateter tersumbat dan
kateter tidak ingin diganti (mis ; setelah pembedahan prostat).
Dokter dapat memprogramkan irigasi kandung kemih untuk klien yang
mengalami infeksi kandung kemih, yang larutannya terdiri dari antiseptik atau
antibiotik untuk membersihkan kandung kemih atau mengobati infeksi lokal.
Kdua irigasi tersebut menerapkan teknik asepsis steril (Potter & Perry, 2005).
Dengan demikian Irigasi kandung kemih adalah proses pencucian kandung
kemih dengan aliran cairan yang telah di programkan oleh dokter.
B. Tujuan
1. Untuk mempertahankan kepatenan kateter urine
2. Mencegah terjadinya distensi kandung kemih karena adanya penyumbatan
kateter urine, misalnya oleh darah dan pus
3. Untuk membersihkan kandung kemih
4. Untuk mengobati infeksi lokal
C. Prinsip
1. Menjaga privacy klien
2. Prosedur steril
D. Alat
1. Larutan iritasi steril,sesuaikan suhu dalam kantung dengan suhu ruangan
2. Kateter Foley (3 saluran)
3. Slang irigasi dengan klem (dengan atau konektor-Y)
4. Sarung tangan sekali pakai
5. Tiang penggantung IV
6. Kapas antiseptik
7. Wadah metrik
8. Konektor-Y
9. Selimut mandi (opsional)
Rasional Alat
4

Destaria Utami Rizky


Keperawatan Semarang

Larutan yang dingin dapat menyebabkan spasme kandung kemih


Klem mengatur aliran irigasi. Penghubung Y memungkinkan selang terhubung
dengan kantung
Dapat menghubungkan selang irigasi ke kateter yang memiliki dua buah lumen
E. Langkah
1. Ikuti protokol standar (lihat lampiran)
2. Kaji abdomen bawah untuk tanda distensi kandung kemih
3. Dengan menggunakan teknik aseptik, masukkan ujung slang irigasi steril
kedalam kantung yang berisi larutan irigasi
4. Tutup klem slang dan gantung kantung larutan pada tiang penggantung IV
5. Buka klem dan alirkan larutan melalui slang, pertahan kan ujung slang steril;
tutup klem
6. Putar of bagian irigasi kateter lumen tripel atau hubungkan konektor-Y steril
kateter lumen ganda, kemudian hubungkan ke slang irigasi
7. Yakinkah kantung drainase dan slang dengan aman dihubungkan ke bagian
drainase konektor-Y tripel ke kateter lumen ganda.
8. Klem slang pada sistem drainase untuk aliran intermetin, buka klem pada
slang irigasi, dan alirkan sejumlah cairan yang diprogrmkan masuk ke
kandung kemih (100 ml adalah normal untuk orang dewasa). Tutup klem slang
irigasi, kemudian buka klem slang drainase.
9. Untuk irigasi kontinu, hitung kecepatan tetesan tetesan dan atur klem pada
slang irigasi secara tepat; yakinkah klem pada slang drainase pada kantung
drainas
10. Buang alat yang terkontaminasi, lepaskan sarung tangan, dan cuci tangan
11. Catat jumlah larutan yang digunakan sebagai iringan, jumlah kembali seperti
yang didrainase, serta konsistensi drainase pada catatan perawat dan lembaran
asupan dan haluaran. Laporkan oklusi kateter, perdarahan tiba-tiba, infeksi,
atau peningkatan nyeri pada dokter.
12. Lengkapi akhir protokol ketrampilan (lihat lampiran).
13. Rasional langkah
Mendeteksi apakah kateter atau sistem drainase urine tidak berfungsi,

memblok drainase.
Mengurangi transmisi mikroorganisme
Mencegah kehilangan larutan irigasi
Menghilangkan udara silang
Kateter tiga saluran atau konektor-Y memberikan cara untuk larutan

irigasi masuk ke kandung kemih. Sistem harus tetap steril.


Meyakinkan bahwa urine dan larutan irigasi akan mengalir dari
kandung kemih
5

Destaria Utami Rizky


Keperawatan Semarang

Cairan mengisi melalui kateter ke dalam kandung kemih, sistem

pembilas.
Cairan mengalir ke luar setelah irigasi selesai.
Meyakinkan kontinuitas, meskipun irigasi sistem kateter. Mencegah
akumulasi larutan di kandung kemih yang dapat menyebabkan distensi

kandung kemih dan kemungkinan cedera


Mengurangi penyebaran mikroorganisme
Mendokumentasikan prosedur toleransi klien.

RESPON KLIEN YANG MEMBUTUHKAN TINDAKAN SEGERA


Respon
Klien mengeluh nyeri atau spasme kandung kemih karena irigan terlalu dingin
Ada darah atau bekuan darah dalam slang irigasi
Tindakan
Lambatkan atau hentikan irigasi kandung kemih
Memerlukan peningkatan kecepatan aliran (tujuan intervensi ini adalah

mempertahankan patensi kateter; sel darah mempunyai potensi menyumbat kateter).


PERTIMBANGAN PENYULUHAN

Beri tahu klien untuk mengobaservasi drainase urine untuk tanda darah dan mukus,
perubahan warna, atau perubahan konsistensi. Kecuali dikontraindikasikan, klien
harus dinstruksikan untuk mempertahan
Prosedur Perawatan Kateter
A. Definisi
Perawatan kateter adalah suatu tindakan keperawatan dalam memelihara kateter dengan
antiseptik untuk membersihkan ujung uretra dan selang kateter bagian luar serta
mempertahankan kepatenan posisi kateter
B. Tujuan:
1)
2)
3)
4)

Menjaga kebersihan saluran kencing


Mempertahankan kepatenan (fiksasi) kateter
Mencegah terjadinya infeksi
Mengendalikan infeksi

C. Persiapan alat dan bahan:


1) Sarung tangan steril
2) Pengalas
6

Destaria Utami Rizky


Keperawatan Semarang

3) Bengkok
4) Lidi waten steril
5) Kapas steril
6) Antiseptic (Bethadin)
7) Aquadest / air hangat
8) Korentang
9) Plester
10) Gunting
11) Bensin/alcohol
12) Pinset
13) Kantung sampah
D. Pelaksanaan:
1) Siapkan alat dan bahan
2) Beritahu pasien maksud dan tujuan tindakan
3) Dekatkan alat dan bahan yang sudah disiapkan
4) Pasang tirai, gorden yang ada
5) Cuci tangan
6) Oles bensin pada plester dan buka dengan pinset
7) Buka balutan pada kateter
8) Pakai sarung tangan steril
9) Perhatikan kebersihan dan tanda-tanda infeksi dari ujung penis serta kateter
10) Oles ujung uretra dan kateter memakai kapas steril yang telah dibasahi dengan
aquadest / air hangat dengan arah menjauhi uretra
11) Oles ujung uretra dan kateter memakai lidi waten + bethadin dengan arah
menjauhi uretra
12) Balut ujung penis dan kateter dengan kasa steril kemudian plester
13) Posisikan kateter ke arah perut dan plester
14) Rapikan klien dan berikan posisi yang nyaman bagi pasien
15) Kembalikan alat ke tempatnya
16) Cuci tangan
17) Dokumentasikan tindakan
Kateter merupakan benda asing pada uretra dan buli-buli, bila tidak dirawat dengan
baik akan menimbulkan komplikasi serius. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk merawat
kateter menetap :
A. Banyak minum, urin cukup sehingga tidak terjadi kotoran yang bisa mengendap
dalam kateter
B. Mengosongkan urine bag secara teratur
C. Tidak mengangkat urine bag lebih tinggi dari tubuh penderita agar urin tidak mengalir
kembali ke buli-buli
D. Membersihkan darah, nanah, sekret periuretra dan mengolesi kateter dengan
antiseptik secara berkala
E. Ganti kateter paling tidak 2 minggu sekali
7

Destaria Utami Rizky


Keperawatan Semarang

Prosedur Irigasi Kateter


A. Definisi
Irigasi kateter adalah pencucian kateter urine untuk mempertahankan kepatenan
kateter urine menetap dengan larutan steril yang diprogramkan oleh dokter. Karena darah,
pus, atau sedimen dapat terkumpul di dalam selang dan menyebabkan distensi kandung
kemih serta menyebabkan urine tetap berada di tempatnya
B. Tujuan
1) Untuk mempertahankan kepatenan kateter urine
2) Mencegah terjadinya distensi kandung kemih karena adanya penyumbatan
kateter urine, misalnya oleh darah dan pus
3) Untuk membersihkan kandung kemih
4) Untuk mengobati infeksi lokal
C. Perencanaan
1) cuci tangan
2) siapkan alat : sarung tangan bersih, larutan irigasi steril, selang irigasi, klem,
tiang infus, swab antiseptic, dan alas
D. Implementasi
1) identifikasi klien
2) jelaskan prosedur dan tujuan kepada klien
3) cuci tangan dan kenakan sarung tangan
4) pasang sampiran dan atur pencahayaan
5) kaji abdomen bagian bawah untuk melihat adanya distensi
6) atur posisi klien , misal dorsal recumbent untuk wanita bila mampu, jika tidak
posisi supine
7) pasang alas dibawah kateter
8) keluarkan urin dari urin bag ke dalam wadah
9) dengan menggunakan teknik a septic masukan ujung selang irigasi ke dalam
larutan irigasi
10) tutup klem pada selang dan gantung larutan irigasi pada tiang infus
11) buka klem dan biarkan larutan mengalir melalui selang, pertahankan ujung
selang tetap steril,tutup klem
12) disinfeksi porta irigasi pada kateter berlumen tiga dan sambungkan ke selang
irigasi
13) pastikan kantung drainase dan selang terhubung kuat ke pintu masuk drainase
pada kateter berlumen tiga
14) kateter tertutup continues intermitten : buka klem irigasi dan biarkan cairan
yang di programkan mengalir memasuki kandung kemih (100ml adalah
jumlah yang normal pada orang dewasa) . tutup selang irigasi selama 20-30
menit dan kemudian buka klem selang drainase

Destaria Utami Rizky


Keperawatan Semarang

15) kateter tertutup continues : hitung kecepatan tetesan larutan irigasi (slow rate
10-20 tetes/menit, fast rate 20-40rate/menit) dan periksa volume drainase di
dalam kantung drainase. pastikan bahwa selang drainase paten dan hindari
lekukan selang
16) buka sarung tangan dan atur posisi nyaman klien
17) bereskan semua perlatan dan cuci tangan id air mengalir
E. Evaluasi
1) kaji respon pasien terhadap prosedur
2) jumlah dan kualitas drainase
3) catat jumlah irigasi yang digunakan intake dan output
F. Dokumentasi
1) catat tanggal dan waktu pemberian irigasi
2) catat jumlah intake dan output drainase
3) catat keluhan pasien jika ada
4) nama perawat dan tanda tangan