Anda di halaman 1dari 16

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan adalah keadaaan sejahtera dari fisik, mental dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No
23 tahun 1992 tentang kesehatan). Sedangkan menurut WHO (2005) kesehatan
adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang lengkap dan bukan
hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Dari dua defenisi di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa untuk dikatakan sehat, seseorang harus berada pada suatu
kondisi fisik, mental dan sosial yang bebas dari gangguan,seperti penyakit atau
perasaan tertekan yang memungkinkan seseorang tersebut untuk hidup produktif
dan mengendalikan stres yang terjadi sehari-hari serta berhubungan sosial secara
nyaman dan berkualitas.
Kesehatan jiwa adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan
atau bagian integral dan merupakan unsur utama dalam menunjang terwujudnya
kualitas hidup manusia yang utuh. Kesehatan jiwa menurut UU No 23 tahun 1996
tentang kesehatan jiwa sebagai suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan
fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan
itu berjalan secara selaras dengan keadaan orang lain. Selain dengan itu pakar lain
mengemukakan bahwa kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi mental yang
sejahtera (mental wellbeing) yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif,
sebagai bagian yang utuh dan kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan
semua segi kehidupan manusia. Dengan kata lain, kesehatan jiwa bukan sekedar
terbebas dari gangguan jiwa, tetapi merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh
semua orang, mempunyai perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi
tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai
sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (Sumiati dkk, 2009).
Kasus AIDS dari bulan Juli sampai dengan September 2014 jumlah AIDS
yang dilaporkan baru sebanyak 176 orang. Persentase AIDS tertinggi pada

kelompok umur 30-39 tahun (42%), diikuti kelompok umur 20-29 tahun (36,9%)
dan kelompok umur 40-49 tahun (13,1%). Rasio AIDS antara laki-laki dan
perempuan adalah 2:1. Persentase faktor risiko AIDS tertinggi adalah hubungan
seks berisiko pada heteroseksual (67%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (6%),
penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (6%), dan dari ibu positif HIV
ke anak (4%). Tingginya kasus AIDS di Indonesia juga berpengaruh pada
peningkatan risiko gangguan kesehatan jiwa.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Memahami asuhan Keperawatan pada klien dengan AIDS.
1.2.2 Tujuan Khusus
a.
b.

Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar AIDS;


Mahasiswa mampu menjelaskan psikopatologi/psikodinamika pada

c.

klien dengan AIDS;


Mahasiswa mampu menjelaskan diagnosa keperawatan dan diagnosa

d.

medis pada klien dengan AIDS;


Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan medis dan

e.

keperawatan pada klien dengan AIDS;


Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada klien dengan
AIDS.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Dasar AIDS
AIDS menurut Departemen Kesehatan dan Direktorat Jenderal Pelayanan
Medik adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yakni HIV (Human
ImmunideficiencyVirus) ditandai dengan sindrom menurunnya sistem kekebalan
tubuh (Departemen Kesehatan dan Direktorat Jendral pelayanan Medik, 1994)
lebih lanjut Departemen Kesehatan dan Direktorat Jendral tenaga Medik penyebab
AIDS adalah sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan manusia, virus ini
merusak salah satu sel darah putih yang dikenal sel T.
Faktor penyebab AIDS adalah sejenis virus yang disebut Human
Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia
sehingga kekebalan tubuh penderita sangat lemah. Melalui pembuluh darah, virus
menuju kelenjar getah bening yang merupakan markas Limfosit-T. Disinilah virus
terus merusak sel-sel limfosit-T. Maka kekebalan tubuh lambat laun akan sirna.
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin pencegahan atau obat untuk
menyembuhkan penderita HIV/AIDS.
2.2 Psikopatologi/Psikodinamika
2.2.1 Pengkajian berdasarkan teori Stuart
1. Faktor predisposisi
Faktor yang mempengaruhi harga diri rendah pada klien AIDS adalah
pengalaman dikucilkan akibat penyakitnya. Sedangkan faktor biologis,
klien dengan AIDS yang memiliki penyakit kompleks akan merasa takut
untuk menularkan maupun tertular penyakitnya.. (Stuart & Sundeen, 1991)
2. Faktor presipitasi
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh situasi yang dihadapi
individu dan individu yang tidak mampu menyelesaikan masalah. Situasi
atau stresor dapat mempengaruhi konsep diri dan komponennya. Stresor
yang mempengaruhi harga diri dan ideal diri adalah penolakan dan kurang
penghargaan diri dari orang sekitarnya (Stuart Sundeen, 1991). Sepanjang

kehidupan individu sering menghadapi transisi peran yang dapat


menimbulkan stres tersendiri bagi individu.
3. Penilaian terhadap stessor
Menurut Yosep (2009), tanda dan gejala perilaku kekerasan yang
disesuaikan dengan komponen penilaian terhadap stressor oleh Stuart
adalah sebagai berikut:
a. Kognitif: Pasif, menarik diri, berperilaku kasar.
b. Afektif: merasa tidak aman dan tidak nyaman, merasa terganggu,
dendam, dan jengkel, merasa tidak berdaya, dan merasa menyalahkan
dan menuntut.
c. Fisiologis: Muka pucat, mata sayu, badan lemah, cenderung pasif dan
diam.
d. Perilaku: melukai diri sendiri, menangis, tidak responsif
e. Sosial: menarik diri, merasakan pengasingan, penolakan, ejekan, dan
sindiran.
4. Sumber koping
a.Personal ability: ketidakmampuan memecahkan masalah, gangguan
kesehatan, penetahuan dan intelegensi rendah, identitas ego tidak kuat.
b. Social support: hubungan antara individu, keluarga dan masyarakat
tidak adekuat, komitmen jaringan social tidak kuat.
c.Material asset: perekonomian yang kurang menyebabkan klien susah
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terkait masalahnya.
d. Positif believe: klien yang dalam kondisi penyakit kronis biasanya
lebih banyak pasrah dan berdoa kepada Tuhan.
5. Mekanisme koping
Menurut Stuart & Laraia (2005), mekanisme koping antara
lain :
a. Sublimasi:
mulia

menerima suatu sasaran pengganti yang

artinya

di

mata

masyarakat

untuk

suatu

dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya


secara normal.
b. Proyeksi:
menyalahkan

orang

lain

mengenai

keinginannya yang tidak baik.


c. Represi: mencegah pikiran yang menyakitkan atau
membahayakan masuk ke alam sadar.

d. Reaksi formasi: mencegah keinginan yang berbahaya


bila diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan
perilaku

yang

berlawanan

dan

menggunakannya

sebagai rintangan.
e. Displacement: melepaskan perasaan yang tertekan
biasanya bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu
berbahaya

seperti

yang

pada

mulanya

yang

membangkitkan emosi itu.


6. Rentang Respon

Keterangan:
1) Respon adaptif yaitu respon positif klien dalam menghadapi suatu
masalah hingga dapat menyelesaikan masalah tersebut berdasarkan
rentang respon diatas respon positif meliputi :
a. Aktualisasi diri, yaitu pernyataan diri yang positif secara nyata.
b. Konsep diri positif yaitu kepercayaan tentang diri apabila individu
memiliki pengalaman yang positif dalam beraktualisasi dan
meyadari hal-hal positif maupun negatif dalam dirinya.
2) Respon maladaptif, yaitu respon negatif klien dalam meghadapi suatu
masalah tersebut. Berdasarkan rentang respon diatas, respon
maladaptif meliputi :
a. Harga diri rendah, yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri
sehingga individu tersebut merasa rendah diri dan tidak berarti.
Dalam rentang respon, harga diri rendah berada transisi antara
respon konsep diri adaptif dan maladaptif. Prilaku yang
berhubungan dengan harga diri rendah diantaranya mengkritik diri
sendiri, merasa tidak mampu, merasa bersalah, pandangan hidup
psimis dan sebagainya.

b. Kerancuan identitas, yaitu identitas diri yang tidak pasti dalam


memandang diri, penuh keraguan, sukar menetapkan keinginan dan
tidak mampu mengambil keputusan. Prilaku yang berhubungan
dengan kerancuan identitas diantaranya merasa hampa, cemas yang
berlebihan, ketidakmampuan, empati terhadap orang lain dan
sebagainya.
c. Depersonalisasi, yaitu perasaan tidak realistis terhadap diri sendiri
yang berhubungan dengan kecemasan, panik dan tidak dapat
membedakan diri sendiri, merasa terisolasi, merasa tidak aman,
takut, malu, kesulitan membedakan diri sendiri dan orang lain,
merasa berada dalam mimpi, dan sebagainya.
2.2.2 Pohon Masalah
Harga diri
rendah

Support
sosial
inefektif

Ditinggal
anggota keluarga

Material
asset
inefektif

Hinaan dari
tetangga

Hilangnya peran
dan pekerjaan

HIV/AIDS

2.3 Diagnosa Keperawatan dan Diagnosa Medis


2.3.1 Diagnosa medis: depresi, skizofrenia
2.3.2 Diagnosa Keperawatan:
1. Harga diri rendah kronis

Personal
ability
inefektif

Kondisi fisik
bermasalah

2. Isolasi Sosial
3. perubahan persepsi sensori
4. ansietas
5. koping keluarga tidak efektif
Sedangkan diagnose yang mungkin muncul menurut NANDA (2012-2014) adalah
sebagai berikut:
1. Harga diri rendah kronik
2.4 Penatalaksanaan
2.4.1 Penatalaksanaan Medik
1. Pengobatan Suportif
Penilaian gizi penderita sangat perlu dilakukan dari awal sehingga tidak
terjadi hal hal yang berlebihan dalam pemberian nutrisi atau terjadi
kekurangan nutrisi yang dapat menyebabkan perburukan keadaan
penderita dengan cepat. Penyajian makanan hendaknya bervariatif
sehingga penderita dapat tetap berselera makan. Bila nafsu makan
penderita sangat menurun dapat dipertimbangkan pemakaian obat
Anabolik Steroid. Proses Penyedian makanan sangat perlu diperhatikan
agar pada saat proses tidak terjadi penularan yang fatal tanpa kita sadari.
Seperti misalnya pemakaian alat-alat memasak, pisau untuk memotong
daging tidak boleh digunakan untuk mengupas buah, hal ini di
maksudkan untuk mencegah terjadinya penularan Toksoplasma, begitu
juga sebaliknya untuk mencegah penularan jamur.
2. Pengobatan Antiretroviral (ARV)
1) Jangan gunakan obat tunggal atau 2 obat
2) Selalu gunakan minimal kombinasi 3 ARV disebut HAART
(Highly Active Anti Retroviral therapy)
3) Kombinasi ARV lini pertama pasien nave (belum pernah pakai ARV
sebelumnya) yang dianjurkan : 2NRTI + 1 NNRTI.
4) Di Indonesia :
a) Lini pertama : AZT + 3TC + EFV atau NVP

b) Alternatif : d4T + 3TC + EFV atau NVP AZT atau d4T + 3TC
+ 1PI (LPV/r)
5) Terapi seumur hidup, mutlak perlu kepatuhan karena resiko cepat
terjadi resisten bila sering lupa minum obat.
2.4.2 Penatalaksanaan Keperawatan
a. Terapi keluarga: Keluarga dibantu untuk menyelesaikan konflik, cara
membatasi konflik, saling mendukung dan menghilangkan stress.
b. Terapi kelompok : Terapi kelompok berfokus pada dukungan dan
perkembangan keterampilan sosial dan aktifitas lain dengan berdiskusi dan
bermain untuk meningkatkan koping klien.
c. Terapi agama : melakukan pendekatan pada klien dengan fokus agama
untuk meningkatkan koping klien dengan memunculkan pikiran positif
dan harapan.
2.5 Contoh dan analisa kasus
2.5.1 contoh kasus
Tn. H merupakan seorang sopir bus yang sering bepergian. Tn. H memiliki
istri dan 2 anak. Semenjak masih muda Tn. H suka jajan dan kebiasaan tersebut
masih dilakukan walaupun sudah berkeluarga. Sejak 1 tahun yang lalu Tn. H telah
didiagnosis mengidap AIDS, dengan kondisinya tersebut Tn. H sakit-sakitan dan
tidak dapat bekerja lagi. Anak Tn. H sudah menikah semua sedangkan istrinya
telah pergi meninggalkannya. Saat ini Tn. H tinggal seorang diri, kebutuhan
sehari-harinya didapatkan dari kiriman anaknya dan sedekah warga. Tetanggatetangganya sering mencibir dan menghina Tn. H dan mengatakan bahwa
penyakit Tn. H adalah balasan dari Allah atas dosa-dosanya. Akibat cibiran dari
tetangganya Tn. H lebih memilih untuk menghindar dari pergaulan, Tn. H sering
murung dan tidak responsif saat diajak berkomunikasi. Tn. H sering menangis dan
memeluk tiang di depan rumahnya saat dicibir oleh tetangganya dan saat merasa
kesepian.
2.5.2 Analisa Kasus

1. Pengkajian berdasarkan teori Stuart


a. Faktor predisposisi
1) Faktor Biologis: berdasarkan kasus, terdapat faktor patologis
penyakit AIDS pada Tn. H.
2) Faktor Psikologik: terdapat faktor psikologis yang mempengaruhi resiko
harga diri rendah pada Tn. H. Hal tersebut merupakan kondisi kesehatannya
dan cibiran dari tetangganya.
3) Kepribadian: Tn. H memiliki kepribadian yang introvert sejak terkena AIDS
dan lebih cenderung untuk mengisolasi diri.
4) Faktor Sosiokultural
Genogram:

Keterangan:
: keluarga yang sudah meninggal
: laki-laki
: perempuan
: garis perkawinan
: garis keturunan
b. Faktor Presipitasi
1) Nature
Biologi: Tn. H mengidap AIDS
Psikologis: Tn. H memiliki riwayat sering hina tetangganya sehingga
menarik diri
2) Origin
Internal: Individu merasa dirinya tak berarti akibat penyakit yang diderita
dan hinaan tetangganya.
Eksternal: masyarakat dan keluarganya meninggalkannya.

3) Timing
Stressor terjadi saat Tn. H mendapatkan penghinaan yang terus menerus
dan ketika ingat terhadap penyakitnya.
4) Number: jumlah stressor pada Sdr. Y ada dua, yakni kondisi fisiknya yang
terkenan AIDS dan adanya cibiran dari tetangganya.
c. Penilaian terhadap stessor
1) Kognitif: Pasif, menarik diri, berperilaku kasar.
2) Afektif: merasa tidak aman dan tidak nyaman, merasa terganggu, dendam,
dan jengkel, merasa tidak berdaya, dan merasa menyalahkan dan
menuntut.
3) Fisiologis: Muka pucat, mata sayu, badan lemah, cenderung pasif dan
diam.
4) Perilaku: melukai diri sendiri, menangis, tidak responsif
5) Sosial: menarik diri, merasakan pengasingan, penolakan, ejekan, dan
sindiran.
d. Sumber koping
1) Personal ability: Tn. H lebih memilih diam dan mengasingkan dirinya
daripada berdebat dan berkelahi dengan tetangganya.
2) Social support: istri dan anaknya telah meninggalkannya.
3) Material asset: Tn. H berasal dari kondisi menengah kebawah dan menjadi
pengangguran, sehingga akses kesehatan sulit didapatkan.
4) Positif believe: Tn. H merasa tak berguna dan menganggap sakitnya
adalah balasan Tuhan seperti cibiran tetangganya.
e. Mekanisme koping
Mekanisme koping yang diguanakan Tn. H adalah Sublimasi,
yakni menerima suatu sasaran pengganti yang lebih mulia
yakni

memeluk

tiang.

Tujuannya

mengekspresikan kesedihan dan kesepiannya.


f. Rentang respon koping

adalah

untuk

Berdasarkan kasus Tn. H berada pada rentang respon konsep diri yang
maladaptif dengan harga diri rendah. Maksudnya yaitu Tn. H bertindak pasif
dan menarik diri dari lingkungannya terutama ketika tetangganya mencibir
bahwa penyakit Tn. H adalah balasan dari Allah karena dosanya.
g. Diagnosa Keperawatan
Harga diri rendah kronis.
h. Intervensi Keperawatan
Diagnosa

Tujuan dan

Intervensi

Keperawatan
Harga diri rendah

Kriteria hasil
Setelah dilakukan

NIC : Peningkatan harga

kronik.

asuhan keperawatan

diri

Definisi: keadaan

pada klien selama 5x

dimana individu

24 jam maka harga

mengevaluasi

diri klien meningkat

diri/perasaan

dengan kriteria hasil:

negatif tentang diri


sendiri atau
kecakapan diri
yang berlangsung
lama.

1. Mengatakan

1.

Monitor
pernyataan pasien tentang
harga diri

2.

Anjurkan
pasien utuk

penerimaan diri

mengidentifikasi kekuatan
2. Menerima
keterbatasan diri

3.

Kuatkan
kekuatan pribadi yang

3. Mampu

pasien identifikasi

mendeskripsikan
keadaan dirinya

4.

Bantu
pasien mengidentifikasi

4. Komunikasi

respon positif dari orang

terbuka

lain.
5.

Berikan
pengalaman yang
meningkatkan otonomi

pasien.
6.

Fasilitasi
lingkungan dan aktivitas
meningkatkan harga diri.

7.

Monitor
frekuensi pasien
mengucapkan negatif pada
diri sendiri.

8.

Anjurkan
pasien untuk tidak
mengkritik negatif terhadap
dirinya

9.

Anjurkan
pasien mengevaluasi
perilakunya.

10.

Berikan
reward kepada pasien
terhadap perkembangan
dalam pencapaian tujuan.

i. Implementasi
Diagnosa Keperawatan
Harga diri rendah kronis

Implementasi
1.

Memonitor
pernyataan pasien tentang harga diri

2.

Menganjurkan
pasien utuk mengidentifikasi

kekuatan
3.

Menguatkan
kekuatan pribadi yang pasien
identifikasi

4.

Membantu pasien
mengidentifikasi respon positif dari
orang lain.

5.

Memberikan
pengalaman yang meningkatkan
otonomi pasien.

6.

Memfasilitasi
lingkungan dan aktivitas
meningkatkan harga diri.

7.

Memonitor
frekuensi pasien mengucapkan
negatif pada diri sendiri.

8.

Menganjurkan
pasien untuk tidak mengkritik negatif
terhadap dirinya

9.

Menganjurkan
pasien mengevaluasi perilakunya.

10.

Memberikan reward
kepada pasien terhadap
perkembangan dalam pencapaian
tujuan.

j. Evaluasi
Diagnosa Keperawatan
Harga diri rendah kronis

Evaluasi
S: Dapat mengatakan hal-hal positif
terhadap diri sendiri.
O: Terbuka dan menceritakan
permasalahannya serta mencari
solusi.
A : Klien berkata positif tentang
kondisinya.
P : Lanjutkan intervensi untuk
melatih klien menghadapai
stressor.

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesehatan adalah keadaaan sejahtera dari fisik, mental dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No
23 tahun 1992 tentang kesehatan). AIDS menurut Departemen Kesehatan dan
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
virus yakni HIV (Human ImmunideficiencyVirus) ditandai dengan sindrom
menurunnya sistem kekebalan tubuh (Departemen Kesehatan dan Direktorat
Jendral pelayanan Medik, 1994) lebih lanjut Departemen Kesehatan dan
Direktorat Jendral tenaga Medik penyebab AIDS adalah sejenis virus yang
menyerang sistem kekebalan manusia, virus ini merusak salah satu sel darah putih
yang dikenal sel T. Klien dengan AIDS merupakan klien yang sangat rentang
terhadap masalah kesehatan jiwa. Respon klien adaptif atau maladaptif salah
satunya ditentukan dari dukungan-dukungan seperti keluarga.
3.2 Saran
Sebagai tenaga kesehatan khususnya perawat kesehatan jiwa seharusnya
tidak hanya memberikan penatalaksanaan yang bersifat medis saja namun juga
harus memperhatikan penanganan mental. Di Indonesia penanganan klien AIDS
lebih berfokus pada penanganan medis dan jarang sekali rumah sakit atau layanan
kesehatan memberikan intervensi untuk permasalahan kesehatan mental. Padahal
klien dengan AIDS sangat rentan terhadap masalah mental. Oleh karena itu
sebagai perawat kita harus menerapkan perlunya kesehatan mental bagi klienklien AIDS.

DAFTAR PUSTAKA
Barid, Barrarah. et all. 2011. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan
Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.
Bulecheck,

M.

Gloria.

Et

all.

2013.

Nursing

Intervention

Classification (NIC) 6th edition. United State: Elsevier Mosby


Keliat, Ana Budi. 2011. Manajemen Keperawatan Psikososial Dan
Kader Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Moorhead, Su. Et all. Nursing Outcome Classification (NOC) 5th
edition. United State: Elsevier Mosby.
Purba, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Masalah Psikososial. Medan: USU Press
Stuart G. W. 2013. Principle and Practice of Psychiatric Nursing.
10th edition. St Louis: Elsevier Mosby.
Yosep Iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama
Maramis.