Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus : Pterygium

Pembimbing : dr. Hj. Hasri Darni, Sp.M


Oleh : Agung Kurniawan (2010730120)

KEPANITERAAN KLINIK STASE MATA RSIJ PONDOK KOPI-FK UMJ

Identitas Pasien

Nama

: Ny. S

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 74 tahun

Alamat

: Klender

Pekerjaan

: IRT

Tanggal Masuk RS

: 27 Februari 2015

Anamnesis

Mata kiri buram

Keluhan Utama :

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke RSIJ Pondok kopi dengan keluhan penglihatan mata kiri buram
sejak 3 bulan yang lalu. Buram yang dirasakan terjadi perlahan-lahan, pasien
merasakan buram ketika sedang menonton tv dan membaca. Selain buram
pasien merasakan mata kiri terasa perih dan kadang-kadang terlihat merah.
Pasien juga merasakan mata kiri terasa mengganjal. Pasien menyangkal adanya
gatal, kotoran pada mata, dan berair.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah mengalami penyakit ini sebelumnya. Hipertensi (+).


Diabetes Mellitus dan riwayat trauma pada mata disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga OS yang mengeluhkan hal yang sama

Riwayat Psikososial

OS setiap hari hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga dan pasien jarang
memakai kaca mata

Riwayat Pengobatan

Sebelumnya OS tidak berobat ke dokter, hanya memberikan tetes mata yang di


jual bebas.

Riwayat Alergi

Alergi terhadap makanan dan obat-obatan disangkal pasien

Status Oftamologikus

Kedudukan / Gerak Bola Mata

: Orthophoria ODS

STATUS OFTALMOLOGIKUS
OD

OS

Benjolan (-), udem (-), Hiperemis (-), NT

Palpebra

Benjolan (-), udem (-), Hiperemis (-), NT (-)

(-)
Tarsal : hiperemis (-), folikel (-),

Konjungtiva

Tarsal : hiperemis (-), folikel (-),

membrane(-)

membrane(-)

Bulbi : Injeksi (-), jaringan fibrovaskular

Bulbi : Injeksi siliar (+), jaringan

(-)

fibrovaskular dari nasal dengan puncak


pada limbus kornea dengan panjang 5

Infiltrat (-), sikatriks (-)

Cornea

mm
Infiltrat (-), sikatriks (-)

Kedalaman sedang, hipopion(-), hifema

C.O.A

Kedalaman sedang, hipopion(-), hifema (-)

(-)
Warna coklat, sinekia (-)

Iris

Warna coklat, sinekia (-)

Bulat, regular, diameter 3 mm, RC (+)

Pupil

Bulat, regular, diameter 3 mm, RC (+)

Katarak imatur

Lensa

Pseudopakia

6/40

Visus

6/40

(tidak dapat dilihat)

Vitreous Humor

(tidak dapat dilihat)

Resume

Ny. S, usia 74 tahun, datang dengan keluhan buram pada mata kiri sejak 3 bulan
yang lalu. Pasien juga merasa mata kiri terasa perih dan kadang-kadang terlihat
merah. Pasien juga merasa mengganjal pada mata kiri.

Pada pemeriksaan oftalmologikus ditemukan adanya jaringan fibrovaskular dari


nasal dengan puncak pada limbus kornea mata kiri dengan panjang 5 mm,
berwarna merah muda. Visus Os 6/40.

DIAGNOSIS : Pterigium Stadium II Okulus sinistra

DIAGNOSIS BANDING:

Pseudopterigium

RENCANA PEMERIKSAAN :

Sonde tes

Fluoresein tes

Terapi

Non Medikamentosa : Memakai pelindung mata (mis. Kaca mata)

Medikamentosa

Over-the-counter (OTC) artificial tears/topical lubricating drops

Tetes mata Anti-inflamasi

Operasi

: Prednisolone acetate 1%

10

PROGNOSIS

Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

Tinjauan Pustaka

12

Pterygium

Definisi

14

Menurut American Academy of Ophthalmology, pterygium adalah proliferasi


jaringan subconjunctiva berupa granulasi fibrovaskular dari (sebelah) nasal
konjuntiva bulbar yang berkembang menuju kornea hingga akhirnya menutupi
permukaannya.

Pterigium adalah suatu penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga,


mirip daging yang menjalar ke kornea, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva
yang bersifat degeneratif dan invasif.

Etiologi

15

Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari,
dan udara panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga
merupakan suatu neoplasma, radang, dan degenerasi.

Pterygium diduga merupakan fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet,


pengeringan dan lingkungan dengan angin banyak. Faktor lain yang
menyebabkan pertumbuhan pterygium antara lain uap kimia, asap, debu dan
benda-benda lain yang terbang masuk ke dalam mata. Beberapa studi
menunjukkan adanya predisposisi genetik untuk kondisi ini.

Gejala Klinis

16

Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain:

Asimptomatik

Mata sering berair dan tampak merah

Merasa seperti ada benda asing

Pada pterigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis
visual sehingga tajam penglihatan menurun.

Pemeriksaan Fisik

17

Adanya massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar mata (sclera)
pada limbus,berkembang menuju ke arah kornea dan pada permukaan kornea.
Sclera dan selaput lendir luarmata (konjungtiva) dapat merah akibat dari iritasi
dan peradangan.

18

A.

Cap: Biasanya datar, terdiri atas zona abu-abu


pada kornea yang kebanyakan terdiri atas
fibroblast, menginvasi dan menghancurkan lapisan
bowman pada kornea

B.

Whitish: Setelah cap, lapisan vaskuler tipis yang


menginvasi kornea

C.

Badan: Bagian yang mobile dan lembut, area yang


vesikuler pada konjunctiva bulbi, area paling ujung

19

Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea yang


tertutup olehpertumbuhan pterigium, dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis
menurut Youngson ):

Derajat 1 : Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea

Derajat 2 : Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2
mm melewati kornea

Derajat 3 : Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi
pinggiranpupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4
mm)

Derajat 4 : Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga


mengganggupenglihatan.

Diagnosa

20

Peningkatan rasa sakit pada salah satu atau kedua mata, disertai rasa gatal,
kemerahan dan atau bengkak.

Penglihatan terganggu, ketidaknyamanan dari peradangan dan iritasi.

Sensasi benda asing dapat dirasakan

Adanya paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel debu.

Test: Uji ketajaman visual dapat dilakukan untuk melihat apakah visus
terpengaruh.
Dengan
menggunakan
slitlamp
diperlukan
untuk
memvisualisasikan pterygium tersebut.Dengan menggunakan sonde dibagian
limbus,
pada
pterigium
tidak
dapat
dilalui
oleh
sonde
seperti
padapseudopterigium.

Konservatif

21

Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati.

Pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat
tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari.

Operatif

22

Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium.

Bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok


konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan
angka kekambuhan.

Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baiksecara


kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mungkin, angka kekambuhan
yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus
pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup
berat.

Indikasi Operasi

23

Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus

Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil

Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau karena
astigmatismus

Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.

Tehnik Operasi

24

Teknik Bare Sclera

Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium, sementara memungkinkan sclera


untuk epitelisasi. Tingkat kekambuhan tinggi, antara 24 persen dan 89 persen,
telah didokumentasikan dalam berbagai laporan.1

Teknik Autograft Konjungtiva

Prosedur ini melibatkan pengambilan autograft, biasanya dari konjungtiva bulbar


superotemporal, dan dijahit di atas sclera yang telah di eksisipterygium
tersebut. Komplikasi jarang terjadi.

Mencegah Kekambuhan Operasi

25

Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari,


bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0,1% : 4x1 tetes/hari kemudian
tappering off sampai 6minggu.

Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1 tetes/ 3 jam


selama 6minggu, diberikan bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol,
dan steroid selama 1 minggu.

Prognosis

26

Umumnya prognosis baik.

Kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata
atau beta radiasi.

Eksisi pada pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik.

Prosedur yang baikdapat ditolerir pasien dan disamping itu pada beberapa hari
post operasi pasien akan merasa tidaknyaman, kebanyakan setelah 48 jam
pasca operasi pasien bisa memulai aktivitasnya.

Daftar Pustaka

27

Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2007. hal:2-6, 116 117

Jerome P Fisher, PTERYGIUM. 2009

http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview

Ardalan Aminlari, MD, Ravi Singh, MD, and David Liang, MD. Management ofPterygium
http://www.aao.org/aao/publications/eyenet/201011/pearls.cfm?

Kanski JJ. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach; Edisi 6. Philadelphia:Butterworth Heinemann Elsevier. 2006 :242-244.

Miller SJH. Parsons Disease of The Eye. 18th ed. London : Churchill Livingstone ;1996. p.142

Pedoman Diagnosis dan Terapi. Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata. Edisi III penerbitAirlangga Surabaya. 2006. hal: 102 104

Voughan & Asbury. Oftalmologi umum , Paul Riordan-eva, John P. Whitcher edisi 17Jakarta : EGC, 2009 Hal 119

www.eyewiki.aao.org/Pterygium

www.inascrs.org/pterygium/

www.mdguidelines.com/pterygium18

Anderson, Dauglas M., et all. 2000. Dorlands Illistrated Medical Dictionary. 29th. Philadelphia: W.B. Saunders Company.

American Academy of Ofthalmology. 2012. www.AAO.org

Ardalan Aminlari, MD, Ravi Singh, MD, and David Liang, MD. 2012. Management of Pterygium. http://
www.aao.org/aao/publications/eyenet/201011/pearls.cfm

28

Terima Kasih