Anda di halaman 1dari 14

PRESENTASI KASUS UJIAN BEDAH PLASTIK

SEORANG ANAK LAKI-LAKI USIA 13 TAHUN DENGAN FRAKTUR


MANDIBULA DEXTRA
Periode : 26-31 Januari 2015

Oleh:
Melissa Donda
G99141125

Pembimbing:
dr. Amru Sungkar.,SpB.,SpBP

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

BAB I
STATUS PASIEN
A.
ANAMNESIS
I. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Masuk
Tanggal Periksa
Status Pembayaran

: An. Y
: 13 Tahun
: Laki-laki
: Islam
: Pelajar
: Sukoharjo
: 26 Januari 2015
: 28 Januari 2015
: BPJS

II. Keluhan Utama


Nyeri pada rahang setelah terjatuh
III. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada rahang setelah terjatu dari sepeda
ontel kurang lebih 7 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien sedang
mengendarai sepeda ontel pada saat jalan menurun lalu terjatuh dengan dagu
membentur aspal. Setelah kejadian, pasien mengalami luka dan perdarahan di
daerah wajah. Pingsan (-), muntah (-) kejang (-). Oleh penolong pasien dibawa
ke puskesmas di Wonogiri, dijahit pada dagu kemudian dirujuk ke RSUD
Wonogiri. Karena keterbatasan fasilitas, pasien dirujuk ke RSDM.
IV. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat alergi obat
Riwayat hipertensi
Riwayat Diabetes Mellitus
Riwayat penyakit jantung
Riwayat trauma sebelumnya
Riwayat mondok sebelumnya
V. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat alergi obat
Riwayat hipertensi
Riwayat Diabetes Mellitus
Riwayat penyakit jantung

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

B.
I.
a.
b.
c.
d.

PEMERIKSAAN FISIK
Primary Survey
Airway
: bebas
Breathing
: spontan, pernafasan 20 x/menit
Circulation : tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88/menit, CRT<2 detik
Disability
: GCS E4V5M6, reflek cahaya (+/+), pupil isokor

(2mm/2mm), lateralisasi (-/-)


e. Exposure
: suhu 36,6C, Jejas (+) lihat status lokalis
II.

Secondary Survey
a. Keadaan umum

: composmentis, pasien tampak kesakitan, gizi kesan

baik.
b. Kepala
c. Mata

: mesocephal, jejas (+) di region mandibular dextra


: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor (2mm/2mm), reflek cahaya (+/+), hematom

periorbita (+/+), diplopia (-/-).


d. Telinga: sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), nyeri tragus (-/-).
e. Hidung
: bloody rhinorrhea (-)
f. Mulut
: gusi berdarah (-), lidah kotor (-), jejas (-), maloklusi
g. Leher
h. Thorak
i. Jantung

(-),gigi goyang (-), gigi tanggal (-)


: pembesaran tiroid (-), pembesaran limfonodi (-),
nyeri tekan (-), JVP tidak meningkat.
: bentuk normochest, ketertinggalan gerak (-).

Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak.

Palpasi

: ictus cordis teraba, tidak kuat angkat.

Perkusi

: batas jantung kesan tidak melebar.

Auskultasi

: bunyi jantung I-II int. normal, regular, bising (-).

j. Pulmo
Inspeksi

: pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: fremitus raba kanan = kiri

Perkusi

: sonor/sonor.

Auskultasi

: suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-).

k. Abdomen
Inspeksi

: distended (-)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Perkusi

: timpani

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), defance muscular (-)

l. Genitourinaria

: BAK normal, BAK darah (-), BAK nanah (-), nyeri

BAK (-).
m. Muskuloskletal
n. Ekstremitas

: jejas (-), nyeri (-)

Akral dingin

Oedema

_
_

_
_

III. Status Lokalis


a. Regio Mandibula Dextra
Inspeksi : oedem R. Mandibula Dextra (+), tampak vulnus terhecting
dengan silk 2/0, 6 simpul, pendataran molar (-)
Palpasi : nyeri tekan (+), krepitasi (-)
C.
ASSESMENT 1
Suspek fraktur Mandibula (D)
D.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

PLANNING 1
Pemeriksaan darah rutin.
Foto panoramic.
O2 3 lpm
Pasang infuse NaCl 0,9% 20tpm
Injeksi metamizole
Injeksi ceftriaxone 1 ampul/ 12 jam

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Hasil pemeriksaan laboratorium (Tanggal 26 Januari 2015)
Hb
:
12,0 g/dl
Hct

36 %

AE

4,55 juta/uL

AL

14,8 ribu/uL

AT

244 ribu/uL

Gol Darah

Tanggal 27 Januari 2015

PT

17,3 detik

APTT

30,3 detik

INR

1.510

Na

132 mmol/L

4,0 mmo/L

Cl

102 mmol/L

HbsAg

(-)

b. Hasil pemeriksaan
Radiologi: Foto Panoramik (26/01/2015)
Tampak fraktur corpus mandibular kanan
Trabekulasi tulang di luar lesi normal
Condylus, ramus, angulus, mandibular kanan kiri dan corpus
mandibular kiri tak tampak kelainan
Tampak benih gigi 1.3, 1.8, 2.3, 2.5, 2.8, 3.8, 4.8
Tak tampak unerupted, amalgam, missing
Tak tampak unerupted, impacted, amalgam, sisa akar, missing,
caries, cyste, granuloma
Kesimpulan: Fraktur corpus mandibular kanan

F.

ASSESMENT II
Fraktur parasimpisis dextra mandibula
Fraktur condyle dextra mandibula
Multiple vulnus excoriasi
Vulnus terhecting region mandibular

G. PLANNING II
1. MRS
2. Repair vulnus dan medikasi luka
H. PROGNOSIS
a. Ad vitam
: bonam
b. Ad sanam

: bonam

c. Ad fungsionam

: bonam

BAB II
JAWABAN UJIAN
1. ANAMNESIS
Anamnesis dapat dilakukan langsung dengan pasien (autoanamnesis) jika pasien
dalam keadaan sadar dan dapat diajak berkomunikasi atau dengan orang yang
melihat langsung kejadian yang dialami pasien. Dari anamnesis dapat ditanyakan
kronologis kejadian trauma/mechanism of injury, arah dan kekuatan dari trauma
terhadap pasien maupun saksi mata. Sifat, daya, dan arah hantaman cedera harus
dicari tahu dari pasien dan saksi-saksi yang ada. Dalam anamnesis pasien-pasien
yang mengalami trauma maksilofasial antara lain, yang harus ditanyakan antara
lain:
a. Apakah penyebab pasien mengalami trauma?
Kecelakaan lalu lintas.
Trauma tumpul.
Trauma benda keras.
Kecelakaan olahraga.
Perkelahian.
Terjatuh
b. Apabila terjatuh, bagaimana mekanisme injuri yang terjadi? Bagaimana posisi
pasien saat terjatuh ?
Dalam kasus ini, MOI pasien terjungkal ke depan dengan posisi dagu yang
pertama mendarat. Pasien mengeluhkan nyeri pada rahang bawah kanan.
c. Bila pasien sadar, apakah mempunyai keluhan mengenai gigitan? Bila baik,
kemungkinan besar tidak terjadi fraktur displaced. Apakah daerah bibir dan
dagu tidak terasa/kaku? Daerah yang tidak terasa/kaku dapat dikarenakan

fraktur displaced di daerah distal foramen mandibularis sesuai jaras nervus


alveolar inferior.
d. Apakah pasien dalam keadaan mabuk saat mengendarai kendaraan ? Apakah
pasien memakai pelindung kepala saat mengalami trauma tersebut ?
Pada kasus ini pasien tidak mengenakan pelindung kepala dan tidak dalam
kondisi mabuk
e. Dimana kejadiannya? Sudah berapa lama pasien mengalami kejadian tersebut?
Pasien terjatuh di jalanan menurun kemudian dibawa ke RSDM 7 jam
setelahnya
f. Apakah setelah mengalami kecelakaan pasien tidak sadar? Jika tidak sadar,
berapa lama pasien mengalami penurunan kesadaran?
Pasien kasus ini dalam keadaan sadar.
g. Apakah pasien muntah dan kejang setelah kejadian?
Mual, muntah, kejang disangkal
h. Pertolongan apa saja yang sudah diberikan kepada pasien?
Pasien datang dengan vulnus laceratum yang sudah terhecting pada region
mandibular dengan 6 simpul menggunakan benang silk 2.0.
2. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan status lokalis termasuk inspeksi dan palpasi. Inspeksi
dilakukan dari arah frontal, lateral, superior, dan inferior. Status lokalis yang
diperiksa dilakukan di regio mandibula
a.

Inspeksi secara urut dari atas ke bawah, untuk mencari (Reginald et al,
2013):
Pemeriksaan extraoral:
a. Deformitas, memar, abrasi, laserasi, dan edema.
b. Luka tembus.
c. Daerah muka simetri atau tidak.
d. Adanya maloklusi atau trismus
e. Ekspresi wajah yang kesakitan atau cemas
Intraoral:
a. Laserasi gingival
b. Oklusi
c. Ekimosis dasar mulut

b.

Palpasi untuk mengetahui kelainan pada tulang dan jaringan pada wajah.
Palpasi hidung untuk meraba adanya septum deviasi, pelebaran jembatan
hidung, meraba permukaan mukosa, dan krepitasi.

Perkusi didaerah tragus untuk mengetahui adakah tragus pain.


Periksa stabilitas wajah dengan menggenggam gigi dan palatum kemudian
mendorongnya maju mundur dan naik turun. Nilai apakah terdapat
floating maksila atau hanya maksila goyang.
Palpasi gigi untuk meraba adakah gigi yang goyang.
Palpasi rahang bawah untuk memeriksa nyeri dan bengkak.
Palpasi untuk memeriksa krepitasi, nyeri tekan
3. DIAGNOSIS DAN DIFFERENSIAL DIAGNOSIS
Diagnosis pada pasien di atas adalah suspect fraktur mandibular (D).
Diagnosis banding terdiri dari semua patah tulang wajah, lecet jaringan lunak,
memar, dan lecet. Pemeriksa harus berhati-hati untuk tidak berhenti pada evaluasi
hanya karena satu patah tulang atau cedera dicatat. Pada fraktur mandibular harus
diketahui asal fraktur, yang dapat berasal dari: condylus/subcondylus, ramus,
corpus, angulus, processus coronoideus, processus alveolus, atau lebih dari satu
tempat.
Menurut Morris C et al (2014), fraktur mandibular sebagian besar terjadi
karena tabrakan dengan kecepatan rendah (61.6%), yang dua kali lipat lebih
banyak dibandingkan tabrakan dengan kecepatan tinggi (30.9%). Ditambahkan
dalam penelitian, mekanisme injuri karena tabrakan dengan kecepatan tinggi
seperti pada kasus ini (dan pada kasus kecelakaan lalu lintas) menyebabkan
fraktur pada mandibular paling sering pada daerah condylar (25.4%), yang diikuti
fraktur symphisis (22.8%). Hal ini dapat terjadi karena arah energy pada
mandibular berasal dari anterior-posterior, berbeda dengan pada tabrakan
kecepatan rendah yang biasa dari posisi lateral/angulus mandibularis.
Pemeriksaan klinis pada fraktur mandibula dilakukan dalam dua
pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral,
pemeriksaan dilakukan dengan visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi terlihat
adanya hematoma, pembengkakan pada bagian yang mengalami fraktur,
perdarahan pada rongga mulut. Sedangkan secara palpasi terdapat step deformity.
Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dan
palpasi. Secara visualisasi terlihat adanya gigi yang satu sama lain, gangguan
oklusi yang ringan hingga berat, terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada

bagian yang mengalami fraktur. Sedangkan secara palpasi terdapat nyeri tekan,
rasa tidak enak pada garis fraktur serta pergeseran. Pada fraktur mandibula
dilakukan pemeriksaan foto roentgen proyeksi oklusal dan periapikal, panoramik
tomografi ( panorex ) dan helical CT.
Menurut Busuito MJ dalam Murray (2013) dinyatakan ketentuan kapan
diperlukan pemeriksaan radiografi pada suspek fraktur mandibular yaitu:
The Manchester Mandibular Fracture Decision Rule
1. Do the patients teeth meet abnormally?
2. Can the patient open the mouth normally?
3. Are there any broken teeth present?
4. Any report of pain with the mouth closed?
5. Is there a step off deformity?
Bila didapatkan hasil ya pada salah satu pertanyaan, pemeriksaan radiologi
diperlukan. Pasien kadang-kadang datang pada pagi hari setelah cedera terjadi,
dan menyadari bahwa adanya rasa sakit dan maloklusi. Pasien dengan fraktur
mandibula sering mengalami sakit sewaktu mengunyah, dan gejala lainnya
termasuk mati rasa dari divisi ketiga dari saraf trigeminal. Mobilitas segmen
mandibula merupakan kunci penemuan diagnostik fisik dalam menentukan
apakah si pasien mengalami fraktur mandibula atau tidak. Namun, mobilitas ini
bisa bervariasi dengan lokasi fraktur. Fraktur dapat terjadi pada bagian anterior
mandibula ( simpisis dan parasimpisis ), angulus mandibula, atau di ramus atau
daerah kondilar mandibula. Kebanyakan fraktur simfisis, badan mandibula dan
angulus mandibula merupakan fraktur terbuka yang akan menggambarkan
mobilitas sewaktu dipalpasi.

Gamba
r 4. Fraktur Mandibula
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN PENILAIAN HASIL PEMERIKSAAN
PENUNJANG
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium

adalah

pemeriksaan

laboratorium

untuk

menganalisa jumlah sel darah (eritrosit, leukosit, trombosit, dan hemoglobin),


hematokrit, protrombin time, partial tromboplastin time, ion (natrium, klorida),
kreatinin, ureum, glukosa sewaktu, albumin, dan golongan darah.
Angka rujukan normal untuk hasil pemeriksaan di atas adalah:
Hb
: 12-15 g/dL
Natrium
: 135-145 mEq/L
3
AE
: 4,2-6,2. 10 /L
Kalium
: 3,1-4,3 mEq/L
AL
: 4-11.103/L
Klorida
: 95-105 mEq/L
AT
: 150-350.103/L
Kreatinin
: 0,5-1,5 mg/dL
Hct
: 38-51%
GDS
: < 200 mg/dL
PT
: 11-14 detik
Albumin
: 3-5,5 g/dL
APTT : 20-40 detik
b. Pemeriksaan Radiologi
1. Radiograf Biasa
Menurut Reginald et al (2013), radiograf paling bermanfaat untuk
mendiagnosa fraktur mandibular adalah panoramic yang dapat
menunjukkan seluruh mandibular. Keuntungannya: mudah, tersedia,
cost effective, paparan radiasi yang rendah dibanding CT atau CBCT,
dapat

menvisualisasi

seluruh

mandibular

dalam

satu

foto,

menyediakan detail. Kekuranganya adalah teknik digunakan dengan


pasien posisi tertentu, cukup salah pada pasien cedera berat,
merupakan foto 2 dimensi, sulit untuk menentukan bila ada displace
dari tulang lingual buccal, dan kurang detail pada region symphisis,
dan ketebalan dari tulangnya.

2. CT scan
Pasien dengan tanda dan gejala fraktur mandibular yang tidak
terlihat dari radiograf biasa dapat menggunakan CBCT atau CTscan, yang
mempunyai kelebihan: hasil lebih jelas, kualitas lebih baik, sensitivitas tinggi
untuk fraktur, interpretasi error rendah, mungkin pada pasien tidak sadar,
terdiri dari tiga dimensi. Untuk menentukan penggunaan dua atau tiga
dimensi yang lebih tepat harus dipertimbangkan: derajat berat cedera,
keterbatasan pasien, harga, ketersediaan, diperlukan/tidaknya foto soft tissue,
kebutuhan untuk tiga dimensi.
5. RENCANA PENATALAKSANAAN
Pada kegawatdaruratan trauma zygomaxillary complex dilakukan
penanganan pada airway, breathing, circulation, disability, dan exposure. Airway
dipertahankan dengan chin lift dan jaw trust, sebelum hal tersebut dilakukan
pasang cervical collar terlebih dahulu. Pastikan jalan nafas terbebas dari
hambatan. Tinjau kembali saluran nafas, jika intubasi dengan rute oral sulit
dilakukan maka lakukan cricotiroidektomi. Bila saluran nafas telah bebas lakukan
penilaian untuk breathing dilanjutkan dengan circulation jika breathing pasien
spontan. Pada circulation lakukan pemeriksaan nadi. Setelah survey primer
selesai dan pasien terbebas dari kegawatdaruratan maka dilakukan survey
sekunder. Evaluasi semua fraktur yang terdapat di maksilofasial, pada epistaksis
dapat dilakukan tampon anterior. Rujuk pasien ke bedah plastik, bedah THT jika
terdapat fraktur di daerah THT, dan bedah saraf jika dicurigai terdapat perdarahan
intracranial, subdural, maupun epidural. Berikan analgetik yang memadai, opioid,
NSAID, dan anestesi local. Jika pasien memiliki luka terbuka segera berikan anti
tetanus serum.
Pada fraktur mandibular ditentukan terlebih dahulu daerah yang terkena
fraktur (1/lebih tempat) kemudian melakukan reduksi. Pencabutan gigi pada
daerah fraktur diindikasikan bila: gigi membuat reduksi semakin sulit, akar patah,
compromised periodontium/mobile tooth, lesi terinfeksi. Bila ditemui multiple
fracture pada mandibular, reduksi dilakukan pertama pada daerah dengan
displaced paling minimal, kemudian penatalaksanaan pada gigi. Rencana
penatalaksanaan berupa pemeriksaan tempat fraktur, penatalaksanaan untuk gigi

di daerah fraktur, dan biomekanik. Penatalaksanaan dapat berupa closed


reduction: fixasi intermaxillary mandibular, IMF self tapping screw, fiksasi
external dan open reduction: operasi, internal fiksasi, lag screw, transosseous
wiring. Fixasi rigid mengurangi resiko infeksi. Pada fraktur mandibularis bagian
corpus atau dan symphisis, hasil operasi terbaik dapat dicapai dengan kombinasi
diagnosis yang baik, plan penanganan dan operasi yang tepat.
6. EDUKASI, PENYULUHAN, DAN PENCEGAHAN SEKUNDER
Edukasi, penyuluhan, dan pencegahan sekunder yang dapat dilakukan
adalah dengan menyarankan agar menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan
fraktur zygomaxillary complex, yaitu :
a. Menggunakan pengaman selama mengendarai kendaraan seperti helm dan
b.

seat belt.
Tidak mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk atau menggunakan
telepon.
Penjelasan mengenai rencana operasi ataupun prosedur yang akan

dilakukan kepada pasien baik yang bersifat invasif maupun konservatif juga perlu
dilakukan. Selain itu selama perawatan pasien juga perlu diedukasi untuk tetap
menjaga kebersihan oral/ oral higiene dan untuk sementara mengonsumsi diet
lunak. Komplikasi penatalaksanaan berupa infeksi, nonunion, dan perubahan
neurosensory juga harus disampaikan kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Philippe L, David R, Thierry D. Spontaneous Mandibular Fracture in a


Partially Edentulous Patient: Case Report. Journal of the Canadian Dental
Association August 2003, Vol. 69, No. 7
2. Reginald H. Management of fractures of the mandibular body and
symphysis. Oral Maxillofacial Surg Clin N Am 25 (2013) 601616

3. John M Murray. Mandible fractures and dental trauma. Emerg Med Clin N
Am 31 (2013) 553573
4. Christopher Morris et al. Mandibular Fractures: An analysis of the
epidemiology and patterns of injury in 4143 fractures. Journal of oral and
maxillofacial surgery(2014).
5. Trauma Surgery. American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons.
J oral maxillofac surg 70: e162-203, 2012
6. Paolo Boffano et al. Fractures of the mandibular coronoid process: A two
centres study. Journal of cranio maxilla facial surgery 42 (2014) 1352-55
7. Ioannis et al. Internal fixation of mandibular angle fractures using one
miniplate in Greek children: A 5-year retrospective study. Journal of cranio
maxilla facial surgery 42 (2015) 53-56
8. Temporomandibular Joint Surgery. American Association of Oral and
Maxillofacial Surgeons. 2012. J Oral Maxillofac Surg 70:e204-e231, 2012,
Suppl 3
9. Imai et al. The osteogenic activity of human mandibular fracture
haematoma-derived progenitor cells is affected by bisphosphonate in vitro.
Int J oral maxillofac surg 2014
10. Erik at al. Management of Pediatric Mandible Fractures. Otolaryngol Clin N
Am 46 (2013) 791806
11. Joseph O. Management of Bilateral Mandibular Angle Fractures With
Combined Rigid and Nonrigid Fixation. J Oral Maxillofac Surg (2014)
72:106-111,
12. Toride et al. Development plates for stable internal fixation: Study of
mechanical resistance in simulated fractures of the mandibular condyle.
Journal of Cranio-Maxillo-Facial Surgery (2015) 43.
13. Boffano et al. Fractures of the mandibular coronoid process: A two centres
study. Journal of Cranio-Maxillo-Facial Surgery 42 (2014)
14. Rasmane et al. Associated injuries in patients with facial fractures: a review
of 604 patients. The pan African medical journal (2013)
15. Mergime et al. Maxillofacial Fractures: Twenty Years of Study in the
Department of Maxillofacial Surgery in Kosovo. Mater Sociomed. 2013 Sep;
25(3): 187-191
16. Hosein. Comprehensive Management of Maxillofacial Projectile Injuries at
the First Operation. Trauma Mon. 2013;17(4):365-6.

17. Bruno et al. 1,454 mandibular fractures: A 3-year study in a hospital in Belo
Horizonte, Brazil. Journal of Cranio-Maxillo-Facial Surgery 40 (2012)
116e123
18. Jan et al. Biomechanical analysis of fractures in the mandibular neck (collum
mandibulae). Journal of Cranio-Maxillo-Facial Surgery 42 (2014)
19. Essam, A. What Method for Management of Unilateral Mandibular Angle
Fractures Has the Lowest Rate of Postoperative Complications? A
Systematic Review and Meta-Analysis. J Oral Maxillofac Surg 72:21972211, 2014
20. CIllo, J. Management of Bilateral Mandibular Angle Fractures With
Combined Rigid and Nonrigid Fixation. J Oral Maxillofac Surg 72:106-111,
2014
21. Daniel, Omar. Management of Mandibular Angle Fracture.

Oral

Maxillofacial Surg Clin N Am 25 (2013) 591600


22. Adel et al. Mandibular fractures that have healed are not weakened
permanently: series of nine patients who sustained mandibular fractures at
different sites on two separate occasions. British Journal of Oral and
Maxillofacial Surgery 49 (2011) 209212
23. Petkas et al. Effects of different mandibular fracture patterns on the stability
of miniplate screw fixation in angle mandibular fractures. Int. J. Oral
Maxillofac. Surg. 2012; 41: 339343
24. Scott et al. Displacement of mandibular fractures: is there a correlation with
sensory loss and recovery? Int. J. Oral Maxillofac. Surg. 2014; 43: 555558.
25. Shen et al. Mandibular coronoid fractures:Treatment options. Int. J. Oral
Maxillofac. Surg. 2013; 42: 721726.
26. Hugues et al. Epidemiology and treatment outcome of surgically treated
mandibular condyle fractures. A five years retrospective study. Journal of
Cranio-Maxillo-Facial Surgery 42 (2014)
27. Danillo et al. Mechanical and photoelastic analysis of four different fixation
methods for mandibular body fractures. Journal of Cranio-Maxillo-Facial
Surgery xxx (2014)