Anda di halaman 1dari 5

Daftar spesimen yang harus dibawa saat praktikum :

1.

Erwinia

carotovora

Kentang

merupakan

tanaman inang Erwinia

carotvora yang menyebabkan penyakit busuk lunak. Penyakit busuk lunak


(soft root) pada umbi menghambat pertumbuhan tanaman kentang Erwinia
carotovora adalah bakteri berbentuk batang yang diberi nama setelah bakteri
ini berhasil diisollasi dari wortel. Bakteri ini menginfeksi berbagai macam
sayur dan tanaman seperti wortel, kentang, mentimun, bawang, tomat,
selada, dan tanaman hias seperti bunga Iris. Penyebaran mikroba ini dapat
ditemui dalam tanah, perut serangga, air, serta aerosol tersuspensi pada
udara.

2.

Xanthomonas campestris

Xanthomonas adalah bakteri yang berbentuk batang

dengan kedua ujung membulat, berukuran pendek, Xanthomonas masuk ke jaringan


tanaman melalui hidatoda pada tepi daun, akar yang terputus, ataupun luka pada daun.
Sumber inokulum bakteri ini adalah melalui benih, alat-alat pertanian, anakan yang
terinfeksi, dan gulma yang menjadi inang.
3. Puccinia sorghii Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium
dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang. Jamur karat tidak

dapat mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman jagung. P.sorghi terutama juga
mempertahankan diri pada tanaman jagung yang masih hidup, dandipencarkan
pada urediospora yang dapat terangkut jarak jauholeh angin dengan tetap hidup.
Selain

pada

jagung,

jamur

ini

telah

diketahui

membentuk

uredium

dan

telium. Pengendalian dengan PHT yaitu dengan penanaman varietas tahan, sanitasi
lingkungan, pergiliran tanaman dan menanam benih sehat.
4. Colletotricum capsici
Jamur Colletotrichum dapat menginfeksi cabang,
ranting, daun dan buah. Infeksi pada buah terjadi biasanya pada buah
menjelang tua dan sesudah tua. Gejala diawali berupa bintik-bintik kecil yang
berwarna kehitam-hitaman dan sedikit melekuk. Serangan yang lebih lanjut
mengakibatkan buah mengerut, kering, membusuk dan jatuh (Rusli dkk,
1997)

5.
6.
7.

Gloesporium frugtigenum
CMV
Fusarium oxysporum

Konsep Timbulnya Penyakit (Konsep Segi Tiga Gangguan)


Penyakit tanaman dapat terjadi jika sedikitnya terdapat kontak dan interaksi antara
dua komponen. Komponen tersebut berupa tanaman dan patogen. Jika pada saat
terjadinya kontak tersebut lingkungan mendukung, maka akan terjadi penyakit.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suatu penyakit akan terjadi jika pada
suatu waktu di satu tempat terdapat tanaman yang rentan, sementara patogen
yang virulen dan lingkungan baik fisik kimia maupun biologi yang sesuai dengan
untuk terjadinya penyakit. Apabila satu faktor saja tidak tersedia, maka penyakit
tidak akan terjadi. Interaksi antara tanaman, patogen yang virulen dan lingkungan
ini sering disebut sebagai konsep segitiga penyakit (Utami dan Anggraini,
2008:228).
Pada konsep segi tiga penyakit tersebut, apabila salah satu faktor penyebab tidak
ada, maka tidak akan terjadi suatu penyakit pada tanaman. Namun, apabila dalam
kondisi pertumbuhan tanaman terdapat pathogen disekitar tanaman tersebut serta
lingkungan mendukung pertumbuhan pathogen, maka kecenderungan untuk
terjadinya infeksi penyakit pada tanaman cukup besar (Adinugroho, 2008:14).
2.2Peran Manusia dalam Menimbulkan Penyakit Tanaman (Konsep Segi Empat
Gangguan)
Konsep timbulnya suatu penyakit semakin berkembang seiring dengan
berkembangnya ilmu penyakit tumbuhan, pada awalnya para pakar yang dipelopori
oleh DeBary (dalam Adinugroho, 2008:4) menujuk pathogen sebagai penyebab
penyakit yang utama.Dalam perkembangannya, diketahui bahwa dalam berbagai
buku teks mengenai penyakit tumbuhan umunya dianut konsep segitiga penyakit
(disease triangle) seperti antara lain dikemukan oleh Blanchard dan Tattar (dalam
Adinugroho, 2008:4). Ketiga komponen penyakit tersebut adalah inang, pathogen
dan lingkungan.
Kemudian berkembang sebuah konsep yang didasari pemikiran bahwa manusia ikut
berperan dalam timbulnya suatu penyakit tumbuhan (Triharsono, 2010:51).Hal
tersebut dikarenakan manusia dapat memberikan pengaruh terhadap pathogen dan
tanaman inang itu sendiri serta kondisi lingkungan sebagai faktor-faktor yang dapat
menimbulkan penyakit tanaman.Konsep ini dikenal dengan segi empat penyakit
(dalam Adinugroho, 2008:4).
Manusia sebagaipenanam, berusaha untuk mempengaruhi ketiga faktor yang dapat
menimbulkan penyakit (lingkungan, inang, dan patogen) agar terjadi interaksi yang
menguntungkan bagi manusia. Namun demikian, adanya campur tangan manusia
menyebabkan interaksi dari kempat faktor tersebut yang akan memicu terjadinya
penyimpangan proses fisiologi tanaman, sehingga terjadi penyakit (Utami dan
Anggraini, 2008:228).

Dalam konsep segi empat gangguan, gangguan akan terjadi jika tanaman rentan
berinteraksi dengan patogen virulen dalam lingkungan yang menguntungkan
perkembangan pengganggu, karena adanya tindakan manusia. Dengan demikian
perlindungan tanaman pada konsep segi empat gangguan ini ditujukan untuk
empat sasaran, yaitu tanaman, pengganggu, lingkungan dan manusia (Purnomo,
2006:6). Sehingga dibutuhkan manajemen lahan yang baik oleh manusia agar tidak
melakukan tindakan yang mengakibatkan terjadinya interaksi ketiga faktor dalam
konsep segi tiga gangguan.
2.3 Komponen Dasar Tumbuhnya Penyakit
Untuk timbulnya suatu penyakit paling sedikit diperlukan tiga faktor yang
mendukung, yaitu tanaman inang atau host, penyebab penyakit atau pathogen dan
faktor lingkungan.
2.3.1 Tanaman Inang
Pengaruh tanaman inang terhadapnya timbulnya suatu penyakit tergantung
dari jenis tanaman inang, kerentanan tanaman, bentuk dan tingkat pertumbuhan,
struktur dan kerapatan populasi, kesehatan tanaman dan ketahanan
inang.Timbulnya suatu penyakit juga tergantung pada sifat genetik yang dimiliki
oleh inang itu sendiri, terdapat inang yang rentan (suscept), tahan (resisten),
toleran (tolerant), kebal (immune) yaitu tanaman yang tidak dapat diinfeksi oleh
pathogen(Adinugroho, 2008).
2.3.2 Patogen
Yang dimaksud patogen adalah organisme hidup yang mayoritas bersifat
mikro dan mampu untuk dapat menimbulkan penyakit pada tanaman atau
tumbuhan. Mikroorganisme tersebut antara lain fungi, bakteri, virus, nematoda
mikoplasma, spiroplasma dan riketsia (Adinugroho, 2008).
2.3.3 Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan mempengaruhi timbul dan berkembangnya penyakit. Beratnya
intensitas penyakit pada suatu tanaman seringkali ditentukan oleh lamanya
keadaan lingkungan yang menguntungkan untuk timbul dan berkembangnya
penyakit. Seperti sudah diulas di atas lingkungan dalam hal ini bisa dibedakan
menjadi 2 yaitu lingkungan fisik/kimia dan lingkungan biologi. Yang termasuk dalam
lingkungan fisik/kimia yaitu suhu udara, curah hujan (lama dan intensitas), embun
(lama dan intensitas), suhu tanah, kandungan air tanah, kesuburan tanah, angin,
asal mula api, pencemaran air, kerusakan akibat herbisida, dan lain-lain.
Sedangkanlingkungan biologi terdiri dari antagonis, vektor, agen penyebab luka,
dan agen kompetitif(Utami dan Anggraini, 2008:228).
2.3.4 Faktor Manusia

Manusia dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit tanaman.


Dalah hal tersebut, manusia secara sengaja merekayasake 3 faktor lain yang dapat
menyebabkan penyakit pada tanaman.Hal tersebut dikarenakan manusia dapat
memberikan pengaruh terhadap pathogen dan tanaman inang itu sendiri serta
kondisi lingkungan sebagai faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit
tanaman.

Alat dan bahan :


1. Mikroskop
2. Cutter
3. Gelas ukur
4. Preparat
5. Pipet
6. Pinset
7. Solasi/selotip
8. Tissue

Metodologi:
1. Pengamatan Bakteri

2. Pengamatan Jamur