Anda di halaman 1dari 17

TRAUMA LARING

DEFINISI
Trauma laring merupakan suatu keadaan dimana laring mengalami suatu
kerusakan yang dapat disebabkan oleh trauma tumpul, trauma tajam, dan
penyebab lainnya. Hal ini menyebabkan fungsi laring sebagai proteksi jalan nafas,
pengaturan pernafasan dan penghasil suara terganggu, sehingga dapat
menimbulkan resiko kecacatan bahkan kematian.1
EPIDEMIOLOGI
Trauma laring jarang ditemukan, hanya terdapat 1 dari 137.000 kunjungan
pasien, 1 dari 14.000-42.000 kasus gawat darurat dan kurang dari 1% dari
keseluruhan kejadian trauma tumpul. Jarangnya trauma ini ditemukan
kemungkinan berkaitan dengan struktur laring yang terlindungi oleh organ di
sekitarnya, misalnya oleh spina servikalis di posterior dan mandibula yang
tergantung di superior dan anteriornya serta oleh mekanisme refleks fleksi dari
leher. Proteksi laring ini lebih besar lagi pada anak-anak dimana laring pada anakanak lebih superior dan sifatnya yang masih elastis. Insiden trauma laring pada
pengendara kendaraan bermotor juga semakin berkurang disebabkan oleh karena
penggunaan sabuk pengaman dan pengaman berkemudi lainnya. Kurang dari 50%
dari keseluruhan trauma laring diperkirakan adalah hasil dari trauma krikoid.2
Wanita cenderung memiliki leher yang lebih panjang dan jenjang,
membuat mereka lebih rawan untuk terkena trauma laring, khususnya trauma
supraglottik. Namun secara keseluruhan pria lebih sering ditemukan mendapatkan
trauma ini (77%:23 %), hal ini dikarenakan aktivitas yang digeluti kaum pria jauh
lebih berbahaya seperti olahraga ekstrim dan perkelahian. Pada kelompok umur
yang lebih tua, trauma laring sering berkaitan dengan proses penuaan seperti telah
terjadinya kalsifikasi pada tulang-tulang mereka.3,4
Cedera yang paling sering terkait dengan trauma laring adalah cedera
intrakranial (13%), cedera leher terbuka (9%), fraktur tulang servikal (8%), dan
cedera esofagus (3%).5

ETIOLOGI
Ballanger membagi penyebab trauma laring atas : 4
1. Trauma mekanik eksternal (trauma tumpul, trauma tajam, komplikasi
trakeostomi atau krikotirotomi) dan mekanik internal (akibat tindakan
endoskopi, intubasi endotrakea atau pemasangan pipa nasogaster).
2. Trauma akibat luka bakar oleh panas (gas atau cairan yang panas) dan kimia
(cairan alcohol, amoniak, natrium hipoklorit dan lisol) yang terhirup.
3. Trauma akibat radiasi pada pemberian radioterapi tumor ganas leher.
4. Trauma otogen akibat pemakaian suara yang berlebihan (vocal abuse),
misalnya akibat berteriak, menjerit keras dan bernyanyi dengan suara keras.
PATOFISIOLOGI
Trauma laring dapat menyebabkan edema dan hematoma di plia
ariepiglotika dan plika ventrikularis, oleh karena jaringan submukosa di daerah ini
mudah membengkak. Selain itu mukosa faring dan laring mudah robek, yang akan
diikuti dengan terbentuknya emfisema subkutis. Infeksi sekunder melalui robekan
ini dapat menyebabkan selulitis, abses, atau fistel.4
Tulang rawan laring dan persendiannya dapat mengalami fraktur dan
dislokasi. Kerusakan pada perikondrium dapat menyebabkan hematoma, nekrosis
tulang rawan, dan perikondritis. 4
Robekan mukosa yang tidak dijahit dengan baik, yang diikuti oleh infeksi
sekunder, dapat menimbulkan terbentuknya jaringan granulasi, fibrosis, dan
akhirnya stenosis.
Boyes membagi trauma laring dan trakea berdasarkan beratnya kerusakan
yang timbul, dalam 3 golongan4 :
1. Trauma dengan kelainan mukosa saja, berupa edema, hematoma,
emfisema submukosa, luka tusuk atau sayat tanpa kerusakan tulang rawan.
2. Trauma yang dapat mengakibatkan tulang rawan hancur (crushing
injuries).
3. Trauma yang mengakibatkan sebagian jaringan hilang.
Pembagian golongan trauma ini erat hubungannya dengan prognosis
fungsi primer laring dan trakea, yaitu sebagai saluran nafas yang adekuat.
Trauma Inhalasi

Inhalasi uap yang sangat panas, gas atau asap yang berbahaya akan
cenderung mencederai laring dan trakea servikal dan jarang merusak saluran
napas bawah. Daerah yang terkena akan menjadi nekrosis, membentuk jaringan
parut yang menyebabkan defek stenosis pada daerah yang terkena.7

Trauma Intubasi
Trauma akibat intubasi bisa disebabkan karena trauma langsung saat
pemasangan atau pun karena balon yang menekan mukosa terlalu lama sehingga
menjadi nekrosis. Trauma sekunder akibat intubasi umumnya karena inflasi balon
yang berlebihan walaupun menggunakan cuff volume besar bertekanan rendah.
Trauma yang disebabkan oleh cuff ini terjadi pada kira-kira setengah dari pasien
yang mengalami trauma saat trakeostomi. Trauma intubasi paling sering
menyebabkan sikatrik kronik dengan stenosis, juga dapat menimbulkan fistula
trakeoesofageal, erosi trakea oleh pipa trakeostomi, fistula trakea-arteri inominata,
dan ruptur bronchial. Jumlah pasien yang mengalami trauma laringeal akibat
intubasi sebenarnya masih belum jelas, namun sebuah studi prospektif oleh
Kambic dan Radsel melaporkan kira-kira 0.1 % pasien.7
Penggunaan pipa endotrakea dengan cuff yang bertekanan tinggi
merupakan etiologi yang paling sering terjadi pada intubasi endotrakea.
Penggunaan cuff dengan volume tinggi tekanan rendah telah menurunkan insiden
stenosis trakea pada tipe trauma ini, namun trauma intubasi ini masih tetap terjadi
dan menjadi indikasi untuk reseksi trakea dan rekonstruksi. Selain faktor diatas
ada beberapa faktor resiko yang mempermudah terjadinya laserasi atau trauma
intubasi (Tabel 1).7,8
Tabel 2.1. Faktor risiko terjadinya trauma intubasi8

Faktor risiko yang pasti

Faktor risiko yang

Dugaan, belum terbukti

masih mungkin

sebagai faktor risiko

Wanita

Penggunaan

Trakeostomi perkutan

kortikosteroid
Usia >50 tahun
Tube

dengan

ganda

Trakeomalacia

Perawakan pendek

lumen Posisi yang salah dari Obesitas


tube

Pengembangan
cuff berlebihan

balon/ Kondisi

medis

yang

buruk
Kesalahan

penggunaan

mandrin
Batuk yang terlalu keras
dan berlebihan

Trauma Tumpul
Trauma tumpul pada saluran nafas bagian atas dan dada paling sering
disebabkan oleh hantaman langsung, trauma akibat fleksi/ekstensi hebat, atau
trauma benturan pada dada. Hiperekstensi mengakibatkan traksi laringotrakea
yang kemudian membentur kemudi, handle bars atau dash board. Trauma tumpul
lebih sering disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor dimana korban
terhimpit di antara jok mobil dan setir atau dikeluarkan darikendaraan dan
terhimpit di antara kepingan kendaraan yang mengalami kecelakaan.7
Hantaman langsung paling sering menyebabkan trauma pada tulang rawan
laring, sedangkan trauma fleksi/ekstensi lebih sering berhubungan dengan
robekan trakea atau laringotrakea. Kerusakan trakea akibat trauma benturan
terjadi karena trakea tertekan di antara manubrium dan kolumna vertebralis.
Trauma tumpul pada dada dapat menyebabkan robekan vertikal pada trakea pars
membranosa atau bronkus, biasanya 2,5 cm dari karina.7

Gambar 2.1 Mekanisme trauma tumpul1


Kirsk dan Orringer serta beberapa penulis lain menyatakan bahwa trauma
langsung pada leher bagian depan dapat mengakibatkan rusaknya cincin trakea
maupun laring. Berkowitz melaporkan trauma tumpul langsung pada daerah leher
dapat menyebabkan ruptur trakea pars membranosa. Hal ini terjadi akibat tekanan
intraluminer yang mendadak tinggi pada posisi glotis yang tertutup akan
menyobek bagian trakea yang terlemah (trakea pars membranosa). Mekanisme
lain yang cukup berperan adalah trauma tumpul akan menekan kartilago trakea
yang berbentuk U ke tulang vertebrae, hal ini menjelaskan kenapa laserasi yang
terjadi cenderung sesuai level dari traumanya.7
Trauma tumpul laringotrakea pada anak jarang dijumpai dan bila dijumpai
biasanya jarang menimbulkan kerusakan/fraktur kartilago, kecuali trauma yang
didapat cukup keras. Hal tersebut disebabkan karena rawan pada laringotrakea
anak-anak masih sangat elastis dibandingkan dengan orang dewasa. Namun
kerusakan jaringan lunak (edema dan hematom) yang terjadi pada anak-anak
dengan trauma tumpul laringotrakea jauh lebih hebat dibanding pada dewasa, hal
ini disebabkan karena struktur fibroa yang jarang dan lemahnya perlekatan
jaringan submukosa dengan perikondrium.7
Penyebab yang lain adalah trauma tak langsung akibat akselerasideselerasi. Pada trauma akselerasi-deselerasi dengan posisi glotis menutup juga
akan mengakibatkan tekanan intraluminer yang meninggi sehingga dapat
menyebabkan robekan pada bagian membran trakea. Robekan ini terjadi akibat
diameter transversal yang bertambah secara mendadak. Dapat juga terjadi akibat

robekan diantara cincin trakea dari os krikoid sampai karina akibat tarikan paru
yang mendadak.7
Pada trauma tumpul dan tembak semua kerusakan berbentuk stelata,
seperti dikatakan oleh Boyd dkk., bahwa trauma tembak akan mengakibatkan
kerusakan yang besar karena energi kinetik yang disebabkan oleh peluru.
Demikian juga halnya dengan trauma tumpul. Energi yang diterima permukaan
tubuh akan dihantarkan ke sekitarnya sehingga dapat merusak jaringan sekitarnya.
Berbeda dengan trauma tajam, permukaan tubuh yang menerima energi lebih
kecil. Selain itu energi yang diterima hanya diteruskan ke satu arah saja.
Mekanisme cedera laringotrakea akibat trauma tumpul dapat disimpulkan menjadi
empat yaitu: penurunan diameter anteroposterior rongga thoraks, deselerasi yang
cepat, peningkatan mendadak tekanan intraluminal laringotrakea pada glotis yang
tertutup dan trauma benturan langsung.7

Trauma Tajam
Trauma laringotrakea sering juga disebabkan karena trauma tajam (5-15%)
yang paling banyak akibat perkelahian di tempat rawan kejahatan. Senjata yang
dipakai adalah belati, pisau clurit, pisau lipat, golok maupun senjata berpeluru.
Angka kejadian trauma tajam semakin meningkat dan penyebab utamanya relatif
lebih banyak oleh trauma tembus peluru dibanding trauma tusuk. Crowded urban
menurut beberapa penulis memang merupakan penyumbang terbanyak pada
trauma laringotrakea selain jalan bebas hambatan. Para penulis menyimpulkan
bahwa trauma tembus tajam dan trauma tembus tembak cenderung semakin
meningkat terutama karena kejahatan.7
Meskipun trauma tembus dapat mengenai bagian manapun dari saluran
nafas, trakea merupakan struktur yang paling sering mengalami trauma akibat
luka tusukan. Laring yang mengalami trauma kira-kira pada sepertiga saluran
nafas bagian atas, dan sisa dua pertiga bagian lagi adalah trakea pars servikalis.

Kematian pasien dengan trauma tembus saluran nafas ini biasanya disebabkan
oleh trauma vaskular dan jarang akibat trauma saluran nafas itu sendiri.7

Penyebab Lain
Penyebab lain trauma laringotrakea adalah tentament suicide pada pasien
dengan gangguan kejiwaan atau pada pasien dengan stress berat. Selain penyebab
di atas, pernah dilaporkan adanya trauma laringotrakea akibat : iatrogenik injuries
(mediastinoskopi, transtracheal oxygen therapy, mechanical ventilation), pisau
cukur, strangulasi, electrical injury, luka bakar, dan caustic injury.4
Cidera yang disebabkan oleh bahan-bahan kaustik seringkali didapatkan
pada kelompok usia anak-anak dan biasanya akibat kecerobohan mereka dalam
menggunakan benda-benda berbahaya di rumah sebagai alat permainan. Bila
didapatkan pada usia dewasa, biasanya ditemukan pada kasus-kasus percobaan
bunuh diri dengan menelan larutan alkali ataupun hidrokarbon.1,4
2.5.4. Diagnosis
Trauma jalan nafas menimbulkan tanda dan gejala yang bervariasi
tergantung mekanisme traumanya. Jadi satu hal yang harus diperhatikan dalam
mendiagnosis trauma laring adalah mekanisme cidera dan harus waspada terhadap
tanda seperti kontusio lokal, emfisema subkutis, perubahan suara (seperti stridor
inspirasi / hoarseness), distress pernafasan dan hemoptisis.7
1) Gejala Klinis
Pada trauma laring, gejala dan tanda klinis yang biasanya didapatkan adalah
sesak nafas. Batuk, batuk darah, emfisema subkutis (pada leher, kepala, dada),
sianosis, gangguan suara juga merupakan tanda dan gejala klinis yang mengarah
ke perlukaan jalan nafas. Tanda lain yang dapat ditemukan pada pasien dengan
trauma laring adalah adanya kebocoran udara atau suara mendesis pada tempat
trauma. Pada trauma tembus, kebocoran tersebut dapat dilihat langsung di tempat
luka, sedangkan pada trauma tumpul kadang dapat terlihat kulit leher yang
mengembang pada saat batuk.1,7

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan jejas (hematom/abrasi) akibat


hantaman benda tumpul, jejas berupa garis yang menunjukkan bekas jeratan, luka
dan

penonjolan

tulang,

hilangnya

tonjolan

kartilago

tiroid,

krepitasi,

diskontinuitas, nyeri tekan pada daerah laring, emfisema subkutis maupun


emfisema mediastinum jika cidera lebih ke distal.7
Pada trauma trakea tidak ada pembagian beratnya cidera yang menentukan
indikasi operasi. Setiap trauma trakea dengan salah satu gejala atau tanda klinis
walaupun ringan memerlukan eksplorasi. Berbeda dengan trauma laring yang
dapat dibagi menjadi 5 grup, sebagai berikut 1:
Grup I

: Trauma endolaringeal ringan tanpa fraktur

Grup II

Edema sedang, hematoma dengan laserasi

mukosa,

tidak

ada

expose

tulang rawan, fraktur nondisplaced.


Grup III

Edema berat robekan mukosa dengan expose

tulang

rawan.

Fraktur displaced pada CT Scan.


Grup IV

Perlukaan berat endolaringeal, bentuk laring

yang tidak beraturan.


Grup V

: Terputusnya laring komplit

2) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi dapat membantu menegakkan diagnosis pada trauma
leher yang mencurigakan adanya kerusakan jalan nafas terutama pada trauma
tumpul ataupun yang sudah terpasang endotrakeal tube (ETT). Pada foto dapat
terlihat adanya bayangan udara terperangkap di prevertebra dan leher bagian
dalam atau peninggian/elevasi tulang hyoid pada kasus separasi krikotrakea.1,8
Bronkoskopi merupakan alat diagnostik pilihan karena dapat menentukan
letak luka, luas luka, dan juga sekaligus sebagai penuntun untuk pemasangan ETT
guna menjamin jalan nafas. Esofagoskopi disarankan terutama pada trauma
tembus. Tindakan panendoscopy dan arteriografi disarankan dilakukan pada
trauma tembus leher dengan kondisi pasien yang stabil. Tindakan tersebut di atas
selain efektif juga sensitifitasnya tinggi untuk menghindari eksplorasi yang
berlebihan.1,7,8

Pemeriksaan penunjang lain seperti pencitraan esofagus dengan kontras,


computed tomography (CT) dan MRI dapat dilakukan sesuai indikasi. CT scan
telah berperan banyak dalam penanganan trauma laring saat ini dan mampu
menurunkan angka eksplorasi bedah karena mampu mendeteksi lebih rinci dan
non invasif. CT diindikasikan pada pasien dengan kecurigaan trauma laring hanya
dari anamnesis dan pemeriksaan fisik seperti pada pasien yang hanya
menunjukkan satu gejala/tanda. CT mampu mendeteksi fraktur tiroid dengan
midline displaced yang minimal namun berpengaruh dalam pembentukan fonasi.
Hal ini sangat menguntungkan pasien karena jika tidak terdeteksi akan
menyebabkan gangguan fonasi jangka panjang. CT kurang berguna pada kasus
dengan indikasi pembedahan seperti pada kartilago yang terekspose atau
displaced fracture dengan laserasi mukosa diatasnya.1,7
2.5.5 Penatalaksanaan
Kewaspadaan terhadap trauma laring pada trauma leher oleh tenaga medis
atau paramedis harus dipertajam agar tidak ada kasus yang terlewatkan. Bila ada
trauma laring, luka atau jejas pada leher harus diperiksa dan diobservasi dengan
seksama. Pada prinsipnya, penatalaksanaan trauma harus sistematis dimulai dari
penilaian dan pengamanan jalan nafas agar tetap adekuat.7
1) Manajemen Jalan Nafas
a. Trakeostomi
Trakeostomi adalah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke
trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan pertukaran udara pernapasan.
Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas,
melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya
discharge bronkus, serta penanganan terhadap penyakit (keadaan) yang
mengakibatkan insufisiensi respirasi.7,8
Penatalaksanaan luka terbuka pada laring terutama ditujukan pada perbaikan
saluran nafas dan mencegah aspirasi darah ke paru. Tindakan segera yang harus
dilakukan adalah trakeostomi dengan menggunakan kanul trakea yang memakai
balon, sehingga tidak terjadi aspirasi darah. Pada trauma tumpul, tindakan
pengamanan jalan nafas dengan trakeostomi lebih cenderung dipilih dibanding

dengan orotracheal tube maupun krikotiroidotomi. Tindakan trakeostomi akan


menurunkan jumlah udara residu anatomis paru hingga 50 persennya. Sehingga,
pasien hanya memerlukan sedikit tenaga yang dibutuhkan untuk bernafas dan
meningkatkan ventilasi alveolar. Menurut lamanya pemasangan, trakeostomi
dibagi menjadi7,8:
1. Tracheal stoma post laryngectomy: merupakan trakeostomi permanen.
Kartilage trakea diarahkan ke permukaan kulit dan dilekatkan pada
leher. Rigiditas cartilage mempertahankan stoma tetap terbuka sehingga
tidak diperlukan trakeostomy tube (canule).
2. Tracheal stoma without laryngectomy: merupakan trakeostomi temporer.
Trakea dan jalan nafas bagian atas masih intak tetapi terdapat obstruksi.
Digunakan trakeostomi tube (canule) terbuat dari metal atau Non metal
(terutama pada penderita yang sedang mendapat radiasi dan selama
pelaksanaan MRI scanning).
Setelah trakeostomi barulah dilakukan eksplorasi untuk mencari dan
mengikat pembuluh darah yang cidera serta menjahit mukosa dan tulang rawan
yang robek. Indikasi untuk melakukan eksplorasi ialah 4:
a. Sumbatan jalan nafas yang memerlukan trakeostomi.
b. Emfisema subkutis yang progresif.
c. Laserasi mukosa yang luas.
d. Tulang rawan krikoid yang terbuka.
e. Paralisis bilateral pita suara.
b. Montgomery T-Tube
Montgomery T-tube merupakan suatu alat yang dipergunakan khususnya
dalam pembedahan di bagian kepala dan leher. T-tube awalnya diperkenalkan
pada pertengahan tahun 1960 dan digunakan untuk menyokong trakea setelah
tindakan laryngotracheoplasty. Alat ini memiliki 2 cabang, cabang utama yang
lebih panjang dimasukkan dalam trakea, sedangkan cabang yang lebih pendek
diproyeksi melalui stoma trakeostomi. Saat ini, T-tube dipergunakan pada pasien
dengan cidera trakeal akut, penyokong trakea pasca rekonstruksi, maupun sebagai
pengganti trakea servikal yang tidak dapat direkonstruksi. Diameter eksternal Ttube berukuran mulai dari 4,5 16 mm, sedangkan diameter internal dan

ketebalannya bervariasi. Alat ini terbuat dari bahan silicon sehingga dapat
mengurangi pembentukan mucus yang berlebihan.7,8

Gambar 2.4 (A) Potongan gambar sagital lokasi pemasagan T-tube.


(B) Montgomery T-tube.8
Setelah pemasangan dilaksanakan, edukasi terhadap pasien dan keluarga
harus diperhatikan terutama mengenai perawatan T-tube untuk mencegah
terjadinya komplikasi. Salah satu langkah sederhana dalam perawatan T-tube
adalah dengan melakukan irigasi mempergunakan 2-3 ml larutan normal saline 23 kali sehari serta menjaga bagian eksternal dari T-tube tetap bersih. Nebulizer
dengan acetylcysteine 10% atau albuterol dapat diberikan 3 kali sehari untuk
membantu menekan produksi sekret serta membantu mengencerkan sekret yang
sudah terbentuk sehingga lebih mudah dikeluarkan. Beberapa keuntungan yang
diperoleh dengan pemasangan T-tube dibandingkan dengan trakeostomi dapat
dilihat pada table berikut: 8,9

Tabel 2.1 Perbedaan T-tube dan trakeostomi.8,9

Penggunaan Montgomery T-tube masih terbilang jarang. Bahkan tidak


sedikit anestesiologis kesulitan dalam hal manajemen general anestesi pada pasien
dengan operasi laring yang mempergunakan T-tube. Metode standar dalam
pemasangan T-tube adalah dengan mempergunakan curved haemostatic forceps
dan diletakkan intratrakeal melalui trakeostomi. Kesalahan dalam meletakkan atau
memasang T-tube dapat mengakibatkan hilangnya kontrol terhadap jalan nafas
pasien. Pada kasus tersebut, T-tube harus dilepaskan dan dipasang ulang dengan
seksama di posisi yang tepat.8
c. Laryngeal Mask Airway (LMA)
Laryngeal mask airway (LMA) atau dikenal pula dengan sebutan sungkup
laring, merupakan suatu alat untuk membantu jalan napas yang terdiri atas pipa
besar berlubang dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya dapat
dikembangkempiskan seperti balon pada pipa trakhea. Tangkai pipa LMA dapat
berupa pipa keras dari polivinil atau lembek dengan spiral untuk menjaga supaya
lubang tetap paten. Terdapat 2 jenis LMA yang dapat dipergunakan, yaitu8:
1.

LMA standar dengan satu pipa napas.

2.

LMA dengan dua pipa yaitu satu pipa napas standar dan lainnya pipa
tambahan yang ujung distalnya berhubungan dengan esofagus.

Gambar 2.5 Laryngeal mask airway (LMA)8


LMA dipergunakan selama operasi trauma laring yang sedang berlangsung
untuk menjaga jalan napas pasien tetap adekuat. LMA dikenal karena kemudahan
dalam pemasangannya serta kemungkinan terjadinya trauma trakea sangat rendah.
Dibandingkan dengan endotrakeal tube (ETT), LMA memiliki beberapa

keuntungan, yaitu dapat mengurangi insiden spasme laring, batuk-batuk, serta


suara serak pasca operasi.8
Pemilihan ukuran LMA sangat penting untuk diperhatikan mengingat
perbedaan dari sisi anatomis pada pasien anak-anak dan dewasa. Berikut adalah
tabel pemilihan ukuran LMA berdasarkan usia dan estimasi berat badan8:
Ukuran
Usia
Berat badan (kg)
1.0
Neonatus
<3
1.3
Bayi
3 10
2.0
Anak kecil
10-20
2.3
Anak
20 30
3.0
Dewasa kecil
30 40
4.0
Dewasa normal
40 60
5.0
Dewasa besar
> 60
Penggunaan LMA sebelum pemasangan Montgomery T-tube dapat menjadi
solusi bagi anestesiologis untuk tetap menjaga jalan nafas pasien tetap adekuat
selama proses pemasangan berlangsung. Selain itu, manajemen jalan nafas dengan
LMA tidak mengganggu proses rekonstruksi. Sehingga, meskipun dalam proses
pemasangan T-tube terjadi kesulitan ataupun keterlambatan (delay), keselamatan
pasien tidak terancam.8
2).

Terapi Bedah
Informasi yang diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik, prosedur

endoskopik dan radiologi memberikan bantuan yang sangat penting dalam


merencanakan sebuah eksplorasi daerah leher. Bila jalan nafas mengalami
sumbatan, trakeostomi harus dilakukan dalam keadaan pasien sadar dan
menggunakan anastesi lokal dengan efek sedasi ringan. Biasanya, insisi trakeal
dibuat pada posisi di bawah trakeostomi standar. Insisi di bawah cincin ketiga dan
keempat lebih disukai untuk menolong pasien dengan trauma laring. Karena pada
posisi ini, membantu mencegah trauma lebih lanjut yang mungkin mengenai
laring.7
Eksplorasi dimulai dengan insisi horizontal pada lipatan kulit setinggi
membran krikotiroid. Sebuah flap subplatisma kemudian diangkat ke arah tulang
hyoid di superior dan ke krikoid di inferior. Perluasan dari insisi akan membantu
memperlihatkan cidera pada saraf, vaskular dan organ isceral. Otot-otot

dipisahkan di miline dan retraksi ke lateral agar tulang dapat di lihat dengan baik.
Pada titik ini, dapat di identifikasi dan dibuang jaringan sisa fraktur pada kartilago
laring yang terlihat.7
Laring dapat dimasuki tergantung dari lokasi cideranya. Bisa dengan
midline tirotomi, ataukah melalui kartilago tiroid yakni 2-3 mm dari takik tiroid.
Bila kartilago tiroid telah terbuka, mukosa endolaring kemudian dipotong tajam.
Pemeriksaan endolaring kemudian dapat dilakukan secara menyeluruh. Aritenoid
dipalpasi untuk mengevaluasi posisi dan mobilitasnya. Kord vokalis di perbaiki
menggunakan benang absorbable 5-0 atau 6-0. Menyambung kembali
kommissura anterior sangat penting untuk mengembalikan kualitas suara.7
Perhatian yang seksama harus dicurahkan untuk mengidentifikasi dan
memperbaiki laserasi mukosa. Kartilago yang terbuka harus ditutup untuk
meminimalisir fibrosis dan mencegah jaringan granulasi. Bila tidak dapat ditutup,
maka dapat dipergunakan kulit atau membran mukosa sebagai graft.7
3).

Terapi Medikamentosa Lainnya


Pemberian kortikosteroid masih kontroversial namun masih cukup efektif

dan harus diberikan secepatnya dalam beberapa jam setelah trauma. Pemberian
kortikosteroid mempunyai tujuan mencegah atau mengurangi kemungkinan
timbulnya edema laring pada fase akut. Jika edema jalan nafas cukup berat, dapat
diberikan dosis 1-20mg/kg BB bolus intravena. Pemberian kortikosteroid juga
bertujuan untuk mengurangi atau mencegah penambahan edema yang terjadi
akibat manipulasi saat operasi.7
Penggunaan antibiotik tidak begitu penting pada trauma ringan dimana
fraktur kartilago dan robekan mukosa tidak dapat diidentifikasi. Namun, begitu
robekan mukosa dapat divisualisasi, antibiotik sistemik harus digunakan untuk
mengurangi resiko infeksi lokal dan perikondritis yang bisa memperlambat
penyembuhan dan menyebabkan stenosis jalan nafas. Penggunaan obat-obatan
anti refluks sepeti antagonis reseptor H-2 dan PPI, dapat membantu mengurangi
jaringan granulasi dan stenosis trakea.7
KOMPLIKASI
Komplikasi trauma laring dapat terjadi apabila penatalaksanaannya kurang
tepat dan cepat. Komplikasi yang dapat timbul antara lain : terbentuknya jaringan

parut dan terjadinya stenosis laring, paralisis nervus rekuren, infeksi luka dengan
akibat terjadinya perikondritis, jaringan parut dan stenosis laring dan trakea.
Secara garis besarnya, komplikasi yang mungkin terjadi1:
a. Akut
- Obstruksi jalan nafas
- Afonia
- Disfonia
- Odinofagia
- Disfagia
- Komplikasi post operasi ( hematoma, infeksi)
b. Kronik
- Perubahan suara (21-25%)
- Obstruksi kronik (15-17%)
- Cedera kord vokalis (paralisis, terfiksasi)
- Fistula (trakeoesofageal, esofageal, atau faringokutaneous)
- Perubahan kosmetik
- Aspirasi kronik
PROGNOSIS
Sebagian besar trauma laring dapat sembuh secara spontan dan tidak
memerlukan perhatian lebih lanjut. Oleh karena berbagai faktor yang dapat
memicu cedera ini telah dikurangi maka , derajat dan insidens komplikasinya
dapat pula diminimalisir.1
Trauma tajam laring diasosiasikan dengan 3-6 % angka kematian.
Berbagai teknik penatalaksanaan yang strategis terus dikembangkan untuk trauma
laring jenis ini.1
Pasien dengan derajat trauma laring yang berada di grup I dan II sebagian
besar sembuh sempurna meski demikian beberapa yang lebih parah (misalnya
yang disertai dislokasi kartilago ataupun cedera saraf), memiliki prognosis yang
buruk.1

DAFTAR PUSTAKA
1. Quinn, F., & Ryan, M. (2003, September). Laryngeal Trauma. Retrieved
Maret 4, 2014, from http://www.utmb.edu/otoref/Grnds/Laryng-Trauma2003-0903/Laryng-trauma-2003-0902.htm.
2. Bailey, B., & Calhoun, K. (1996). Head and Neck Surgeru-Otolaringology.
USA: Lippincott-Raven Publisher.
3. Schafer, S. (2005). Laryngeal and Esophageal Trauma. In C. Cummings, P.
Flint, L. Harker, B. Haughey, M. Richardson, & K. Robbins, Cummings
Otolaryngology, Head, and Neck Surgery (4th ed.). Philadelphia: Mosby.
4. Munir, M., Hadiwikarta, A., & Hutahuruk, S. (2009). Trauma Laring. In E.
Soepardi, N. Iskandar, J. Bashiruddin, & R. Restuti, Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher (6 ed.). Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
5. Adams, G., Boeis, L., & Higler, P. (1997). Boeis Buku Ajar Penyakit THT (6
ed.). Jakarta: EGC.
6. Chen EH, L. Z. (2001). A Case of Tracheal Injury Afetr Emergent
Endotracheal Intubation: A Review of The Literature and Causalities. Anesth
Analg Case Report (93).
7. Akhmadu, W. (2007). Trauma Laringotrakea. Retrieved Maret 4, 2014, from
http://www.bedahtkv.com/index.php?/Paper/Referat-dan-TinjauanPustaka/Trauma-Laringotrakea.html.

8. Woodson, G. (2001). Upper Airway Anatomy and Function. In B. Byron J.,


Head and Neck Surgery-Otolaryngology (3rd ed.). Philadelphia: Lippincot
Williams and Wilkins.
9. Lee, K. (2003). Cancer of The Larynx. In Essential Otolaryngology Head
and Neck Surgery (8th ed.). Connecticut: McGraw-Hill.