Anda di halaman 1dari 208

Modul Peningkatan

Kapasitas Penggunaan Materi Kerjasama


Pendidikan Kependudukan Jalur Non Formal
bagi Tenaga Pengelola dan Tenaga Pendidik

Badan Kependudukan dan Keluarga


Berencana Nasional
2013

Judul

Modul Peningkatan Kapasistas Penggunaan Materi Kerjasama


Pendidikan Kependudukan Jalur Non Formal bagi Tenaga Pengelola
dan Tenaga Pendidik

Diterbitkan oleh

Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan

Penanggung Jawab

Eddy Hasmi

Penulis Materi

Ir. Atie Tri Juniati, MT dan Dr. Budi Susetyo

Editor

Eddy Hasmi

Design & Grafis

Edy Supriyono

Cetakan pertama tahun 2013


Materi dapat diperbanyak oleh pihak lain dengan seizin penerbit, Direktorat Kerjasama Pendidikan dan
Kependudukan BKKBN No Telp: 021 800 4929, email: palangka@yahoo.com

Kata Pengantar

Buku modul ini merupakan materi pelengkap upaya meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia di
lingkungan BKKBN dan pemangku kepentingan di tingkat propinsi.
Buku modul ini merupakan salah satu upaya Direkrorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan,
BKKBN Pusat untuk merevitalisasi peran serta staff BKKBN dan pemangku kepentingan di level
Propinsi dalam menyikapi pertumbuhan jumah penduduk dan berbagai tantangannya dewasa ini.
Didalam buku modul ini disajikan makalah dan bahan presentasi yang disusun dengan pendekatan
semi ilmiah guna mempermudah pemahaman materi yang akan disampaikan.
Semoga buku modul ini memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.

Daftar isi

1.

Kata Pengantar .......................................................................................................................

2.

Daftar isi ...................................................................................................................................

ii

3.

Gambaran Umum Materi-Materi Kependudukan ..................................................................

iii

4.

Jadwal Kegiatan ......................................................................................................................

iv

5.

Lima Tema Materi Advokasi Pendidikan Kependudukan ......................................................

1-67

6. Blanko Pre Test dan Post test .................................................................................................

54

7.

61

Blanko Evaluasi ........................................................................................................................

Lampiran
Paper dan materi presentasi 5 tema:

Dinamika Penduduk dan Pembangunan Berkelanjutan

Advokasi Isu Kaum Muda di Indonesia

Penduduk Usia Produktif dan Ketenagakerjaan

Penduduk Usia Lanjut di Indonesia Tahun 1950 2050

Urbanisasi dan Perkembangan Perkotaan

ii

Gambaran umum Materi Advokasi


Capacity Building
Jumlah penduduk dunia yang semakin banyak bagaikan tidak terkendali membawa dampak negatif
di berbagai dimensi kehidupan. Hal tersebut juga terjadi di Indonesia. Yang paling utama adalah
meningkatnya kebutuhan mereka dengan pola konsumsi yang tidak selalu biasa didukung oleh dunia
ini. Nampaknya, pendekatan pembangunan yang memasok barang dan jasa yang dibutuhkan
manusia tidak mengkaitkan hal ikhwal kependudukan dengan upaya pembangunan. Oleh karena itu,
pendekatan pembangunan semakin diarahkan untuk berorientasi kepada aspek dinamika
kependukan masa kini sekaligus untuk masa depan.
Ada 4 (empat) dimensi kependudukan yang dijadikan fokus bahasan, yaitu, aspek penduduk
kelompok umur muda, kelompok usia produktif, usia tua dan mobilitas mereka.
Penduduk usia muda adalah harapan pemimpin bangsa di masa mendatang. Aspek pokok yang
diperhatikan dalam hal penduduk usia muda terdiri dari jumlah dan sebaran mereka. Hak dasar
penduduk usia muda merupakan aspek penting yang menjamin mereka dapat melanjutkan belajar
dan hidup yang berkualitas. Untuk itu, sorotan diarahkan kepada pendidikan dan status sosialekonomi mereka. Dimensi negatif berupa pekerja (terlalu) muda dan kenakalan remaja akibat
pengaruh lingkungan sosial menjadi perhatian utama.
Penduduk usia produktif adalah soko-guru bangsa dalam pembangunan. Menghadapi jendela
kesempatan yang akan dialami bangsa Indonesia dalam waktu dekat ini memperlihatkan kesiapan
mereka menghadapinya. Maskipun demikian, aspek negatif dan beberapa kekurangan ternyata
masih menghinggapi penduduk usia produktif Indonesia.
Penduduk usia lanjut adalah konsekwensi logis dari pertumbuhan penduduk yang tinggi selama 50
tahun terakhir ini. Adalah tantangan menarik untuk memfasilitasi dam mengadvokasi mereka untuk
tetap menjadi aset bangsa yang berdayaguna dalam banyak hal dan kesempatan.
Mobilitas penduduk berupa urbanisasi merupakan fenomena umum di pelosok dunia. Hal ini menjadi
petunjuk adanya keberhasilan pembangunan ekonomi sekaligus dampak negatif ikutannya.
Tantangan yang sementara ini nampak adalah meminimalkan berbagai ketimpangan sebagai akibat
buruk urbanisasi.
Isu sentral dari upaya penyadaran persoalan kependudukan adalah mempertinggi manfaat
pembangunan ekonomi, meminimalkan potensi buruk pengangguran dan kemiskinan, dan
mempererat rasa nasionalisme seluruh anak bangsa.

iii

Jadwal kegiatan pelatihan capacity building


Hari Pertama
Jam

Kegiatan

08.00 - 08.30

Pembukaan

08.30 10.00

Overview Kegiatan

10.00 10.30

Coffee break

10.30 12.00

Motivasi

12.00 - 13.00

ISOMA
Management program

13.00 - 14.30

A.

Kebijakan kerjasama pendidikan kependudukan

B.

Implementasi Pendidikan Kependudukan ditingkat daerah

14.30 16.00

Materi-1 (Jumlah dan pertumbuhan penduduk)

16.00 16.15

Coffee break

16.15 17.45

Role play Materi-1

Hari Kedua
Jam

Kegiatan

08.00 09.30

Materi-2 (Remaja dan Orang Muda)

09.30 11.00

Role play Materi-2

11.00 11.30

Coffee break

11.30 13.00

Materi-3 (Penduduk Usia Produktif)

13.00 14.00

ISHOMA

14.00 15.30

Role play Materi-3

iv

Hari Ketiga
Jam

Kegiatan

08.00 09.30

Materi-4 (Lansia)

09.30 11.00

Role play Materi-4

11.00 11.30

Coffee break

11.30 13.00

Materi-5 (Urbanisasi dan Perkotaan)

13.00 14.00

ISHOMA

14.00 15.30

Role play Materi-5


Post Test
Tugas Masing-Masing Provinsi:
Pembuatan RENCANA TINDAK LANJUT

Hari Keempat
Jam

Kegiatan

08.00 09.30

Presentai RTL masing-masing provinsi

09.30 10.30

Commitment

10.30 12.00

Summing up

Metode role play:


1.

Dibuatkan agar seluruh peserta tertantang;

2.

Tidak membosankan peserta;

3.

Meningkatkan kreativitas/minat agent diadaerah;

4.

Melakukan evaluasi terhadap kemampuan setiap agent;

Materi Advokasi Isu Penduduk dan Pembangunan


Berkelanjutan
Pengantar
Sejak dekade tahun 90-an PBB banyak melakukan pertemuan internasional untuk merumuskan
strategi pembangunan global dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umat manusia secara
berkelanjutan. Hal ini karena pembangunan justru makin memperlebar jurang perbedaan
kesejahteraan serta kurang memperhatikan azas keberlangsungan manusia dimasa mendatang.
Dimulai dengan konferensi tentang lingkungan hidup untuk mewujudkan pembangunan
berkelanjutan tahun 1992 di Brazil (Rio Conference), selanjunya diadakan konferensi tentang
Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development) di
Cairo pada tahun 1994, Gender dan Pemberdayaan Perempuan di China pada tahun 1995,
Pembangunan Sosial di Kopenhagen tahun 1995, serta beberapa konferensi lainnya. Hasil dari
berbagai konferensi tersebut kemudian disarikan untuk menjadi acuan arah dan strategi
pembangungan global abad-21 dalam pertemuan yang dinamakan Millennium Development Summit
(MDS) di New York pada bulan September tahun 2000. MDS menghasilkan deklarasi yang dikenal
sebagai Millennium Development Goals (MDGs).
Kesepakatan MDGs akan berakhir di tahun 2015. Karenanya PBB mulai melakukan pembahasan untuk
merancang arah pembangunan paska 2015 yang kemudian dikenal sebagai Development Strategy
Post 2015. Walaupun belum disepakati namun setidaknya arah yang ingin dikembangkan sudah jelas.
yaitu Sustainable Development Goals (SDGs). Pembahasan awal kerangka SDGs sudah dimulai di
pertemuan Rio+20 yang berlangsung di Brazil tahun 2012. Dalam kerangka SDGs tersebut tergambar
dengan jelas bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berpusat pada
manusia, dikenal sebagai people centered development. Pembangunan berkelanjutan adalah
pembangunan yang menyertakan situasi penduduk. Pembangunan yang dapat dinikmati oleh
seluruh segment penduduk. Pembangunan yang melibatkan seluruh penduduk dalam prosesnya.
Kesepakatan Rio-1994 yang masih dianut sampai sekarang mengemukakan bahwa pembangunan
berkelanjutan adalah upaya terencana untuk menjamin kesejahteraan manusia secara adil dan
merata antara generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Konsep pembangunan
berkelanjutan dalam pengertian pengembangan program diajukan pertama kali oleh World
Commision on Environment and Development (WCED). Mengacu kepada WCED maka krisis
lingkungan dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dan harus terkait. Memilah krisis lingkungan
hanya akan memperparah krisis pembangunan yang pada gilirannya akan makin menimbulkan
masalah lingkungan hidup yang lebih besar lagi. Karena itu pembangunan harus memenuhi
kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi
kehidupannya. Ini berarti, bahwa pengembangunan harus disertai upaya untuk melestarikan
kemampuan lingkungan untuk menjalankan fungsinya secara berkelanjutan.
Untuk mencapai hal itu, strategi WCED memuat beberapa sasaran yang harus dicapai dalam
dasawarsa pembangunan sampai dengan tahun 2012, yaitu, pertama, menghidupkan pertumbuhan

I-1

ekonomi secara merata diseluruh dunia. Dinegara berkembang untuk menghapuskan kemiskinan,
yang merupakan salah satu sumber perusakan sumber alam dan lingkungan hidup. Di negara maju
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi diperlukan untuk mendorong pengembangan
perekonomian dunia. Kedua, mengubah kualitas pertumbuhan: tidak lagi intensif bahan dan intensif
energi, dampak yang leih merata dan lebih adil. Pembangunan harus disertai langkah untuk menjaga
cadangan modal lingkungan, menyempurnakan pemerataan pendapatan, dan mengurangi
kerentanan terhadap krisis ekonomi. ketiga, pemenuhan kebutuhan pokok manusia dalam hal
lapangan kerja, pangan, energi, air dan sanitasi. Keempat, tingkat pertumbuhan penduduk yang
terlanjutkan yang jumlahnya sesuai dengan kemampuan produktif ekonosistem. Kelima, konservasi
dan peningkatan kualitas pengkalan sumber daya seperti sumber pertanian (lahan, sungai, hutan),
sumber energi, kapasitas biosfir untuk menyerap produk sampingan penggunaan energy. Keenam,
reorientasi teknologi dan pengelolaan risiko agar mengarah pada teknologi hemat dan bersih
lingkungan serta penanggulangan resiko lingkungan. Terakhir, keterpaduan lingkungan hidup
dengan ekonomi dalam pengambilan keputusan.
Dari 7 (tujuh) aspek diatas terdapat 3 (tiga) aspek penting yang harus benar-benar diperhatikan yaitu
(1) aspek pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (2) aspek pembangunan sosial yang
berkelanjutan untuk mencapai kalitas hidup yang tinggi dan (3) aspek pengelolaan kualitas
lingkungan hidup yang berkelanjutan. Ketiganya harus dilihat dalam konteks perkembangan
kependudukan. Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan menempatkan penduduk sebagai pelaku
utama kegiatan ekonomi. Jadi penduduk sebagai subyek pembangunan. Aspek pembangunan sosial
merupakan penjabaran penempatan peran penduduk sebagai obyek pembangunan. Penduduk
sebagai penikmat pembangunan. Pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan menempatkan
penduduk sebagai pemelihara lingkungan hidup demi kehidupan generasi mendatang.
GAMBAR-1: KERANGKA KONSEPTUAL PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
PEMBANGUNAN EKONOMI YANG
BERKELANJUTAN

PEMBANGUNAN SOSIAL YANG


BERKELANJUTAN

Pendudu
k
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
YANG BERKELANJUTAN

Konsep ini mengacu pada kenyataan bahwa pertumbuhan ada batasnya. Jika batas ini terlampaui
maka yang terjadi adalah pemusnahan hasil pembangunan tersebut. Nampaknya ini yang sedang
berlangsung di Indonesia dengan terjadinya krisis ekonomi sekarang ini. Beberapa tahun belakangan
ini selalu ada peringatan bahwa perekonomian kita terlalu memanas. Dengan kata lain, pertumbuhan
ekonomi sudah sampai batasnya. Pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipacu lebih tinggi lagi.
Ada 7 (tujuh) kritik terhadap konsep pembangunan yang berfokus pertumbuhan, yaitu (1) prakasa
biasanya dimulai dari pusat dalam bentuk rencana formal, (2) proses penyusunan program bersifat
statis dan didominasi oleh pendapat pakar dan teknokrat, (3) teknologi yang digunakan bersumber
dari luar, (4) mekanisme kelembagaan bersifat top-down, (5) pertumbuhannya cepat namun
mekanistik, (6) organisatornya para pakar spesialis, dan (7) oreintasinya menyelesaikan program

I-2

secara cepat sehingga menghasilkan pertumbuhan. Dengan melihat pada kriteria diatas nampak
keteribatan peranan penduduk lokal dalam proses pembangunan sangat sedikit.
Kritik para ahli terhadap orientasi pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan telah
berlangsung sejak tahun 60-an. Para cendekiawan dari Massachuset Institute of Technology dan Club
of Rome secara gencar mengkritik orientasi tersebut. Kemudian melahirkan pemikiran pembangunan
berkelanjutan dan pembangunan yang berpusat pada manusia.
Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan perlu pertimbangan dan pengelolaan agar keterkaitan
antara penduduk, sumberdaya, lingkungan dan sosial dan ekonomi pembangunan tercipta dalam
keseimbangan yang dinamis. Untuk itu perlu digariskan kebijaksanaan pembangunan yang tegas
untuk menghindari pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan. Disamping itu,
dikembangkan kebijakan kependudukan yang menciptakan penduduk yang memenuhi
kebutuhannya sekarang tanpa mengurangi kesempatan generasi mendatang memenuhi
kebutuhannya.
Aspek pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dibahas dalam pertemuan Bumi di Rio,
Brazil, tahun 1992. Kemudian diikuti Rio+5 dan Rio+10 yang dikenal sebagai World Summit on
Sustainable Development (WSSD), di Johannesburg, Afrika Selatan, tahun 2002. Pembangunan sosial
juga banyak dibahas, seperti di Kopenhagen dan di China. Sedangkan kependudukan dibahas di
Cairo, Mesir pada tahun 1994.
Perhatian tentang kependudukan dan pembangunan telah berlangsung lama. Sebagaimana terlihat
dari deklarasi yang dihasilkan sejak konferensi kependudukan sedunia tahun 1974 di Bucharest,
dilanjutkan di Mexico City tahun 1984 sampai di Cairo pada tahun 1994.
Semuanya secara konsisten menekankan pentingnya integrasi kebijaksanaan kependudukan dan
pembangunan. Perbedaannya dalam pergeseran isu sentral dan cara pendekatan pada setiap
konferensi sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang.
Pada konferensi kependudukan di Bucharest tahun 1974 disepakati pengendalian penduduk.
Paradigm pembangunan kependudukan berubah dari bersifat pro-natalis menuju anti-natalis.
Argumentasi dasar pendapat Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk yang tidak
terkendali akan berdampak buruk bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Dalam hal ini,
penanganan masalah pengaturan kelahiran dilakukan dengan alat kontrasepsi.
Pada konferensi kependudukan sedunia di Mexico tahun 1984 isu pengelolaan penduduk beralih dari
penggunaan alat kontrasepsi menuju pembangunan dalam arti luas. Di konferensi Mexico ini
dikeluarkan slogan development is the best contraceptive; pembangunan akan membentuk norma
mengenai anak. Ini sesuai dengan hasil berbagai studi yang menunjukkan bahwa makin tinggi status
sosial ekonomi keluarga akan makin sedikit jumlah anak dimiliki. Oleh karena itu yang dibutuhkan
bukan pelaksanaan program keluarga secara pelayanan kontrasepsi namun pembangunan sosial
ekonomi. Kenyataannya, kerangka pikir tersebut tidak berjalan di banyak negara. Pertama,
pembangunan ekonomi dan sosial membutuhkan waktu lama. Bahkan, banyak negara yang terjebak
dalam kemiskinan yang parah sehingga kesulitan untuk membangun ekonominya. Kedua, apabila

I-3

tujuannya untuk mengendalikan penduduk maka program keluarga berencana justru terbukti
sebagai program yang efektif.
Selain itu, sebelum ICPD-1994 Cairo, perhatian terhadap isu kependudukan berfokus pada upaya
pengendalian kuantitas penduduk. Akibatnya, negara sangat berperan dalam menentukan arah
kebijakan dibandingkan peran individu penduduk. Pendekatan demografi berupa pengaturan
kelahiran, penurunan kematian serta pengarahan mobilitas penduduk nampak sangat dominan.
Pendekatan tersebut mendapat kecaman dari pememperhati hak asasi manusia, kesejahteraan,
maupun pemberdayaan perempuan (Jones, Gavin, 1998). Karena pelaksanaan program
pengendalian kuantitas penduduk lebih menekankan interes negara dibandingkan interes penduduk.
ICPD-1994 Cairo dipandang sebagai momentum perubahan mendasar pendekatan kependudukan
dalam pembangunan yang melalui proses panjang sejak tahun 1985. Perubahan pemikiran tersebut
antara lain dikembangkan oleh Rosenfield dan Maine (1985) dengan fokus kesehatan masyarakat,
Germain (1987) yang menekanan pada pemberdayaan perempuan, Dixon-Muller, 1993 serta Sen,
Germain & Chen (1994) yang fojus kepada pemberdayaan perempuan dan hak individu.
Kebijakan kependudukan perlu mempertimbangkan keseimbangan tiga level kepentingan, yaitu
individu, masyarakat dan negara atau wilayah. Karena tujuan kebijaksanaan kependudukan
mendukung perbaikan kondisi sosial ekonomi individu, negara dan masyarakat. Bahkan,
kesejahteraan individu merupakan tujuan yang harus dikedepankan, sebab dengan tercapainya
kesejahteraan individu otomatis kesejahteraan masyarakat juga akan tercapai. Sebaliknya,
tercapainya kesejahteraan negara atau masyarakat secara agregat belum tentu menjamin
tercapainya kesejahteraan individu anggota agregasi tersebut. Masalah yang seringkali muncul
adalah bahwa ketiga kepentingan tersebut tidak selalu cocok atau parallel. Umumnya yang dominan
adalah kepentingan Negara yang diterjemahkan kedalam level masyarakat dan individu. Pada
gilirannya, fokus program kependudukan lebih ke aspek makro daripada mikro. Sehingga hak
individu dan masyarakat terabaikan, pelanggaran hak individu dan mencuatnya persoalan hak asasi
manusia (HAM).
Arus pemikiran hak asasi manusia makin berkembang pada akhir tahun 80-an. Untuk kependudukan,
pembahasan secara eksplisit berkembang di ICPD-1994 Cairo yang dikenal sebagai right based
approach. Secara umum ICPD-1994 Cairo bertujuan menjadikan penduduk sebagai subyek dan
obyek pembangunan. Sebagai subyek pembangunan maka penduduk harus menjadi SDM yang
berkualitas. Sedangkan sebagai obyek pembangunan, penduduk harus mampu menikmati hasil
pembangunan. ICPD-1994 Cairo ini menekankan kepada 3 (tiga) isu pokok yaitu, dignity of individual,
human rights, dan social values. Ketiga aspek tersebut meletakkan hak individu sebagai perhatian
pokok pembangunan kependudukan. Konferensi ini juga menegaskan bahwa manusia merupakan
pusat perhatian pembangunan berkelanjutan karena manusia aspek terpenting dan paling bernilai.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut ICPD-1994 Cairo menyusun rencana aksi yang dilakukan
oleh setiap negara. Orietasi waktunya 20 tahun disesuaikan dengan banyak sasaran yang ingin
dicapai, yaitu tahun 2015. Renaca aksi ini akan dievaluasi pencapainya setiap 5 tahun. Pada tahun
1999 telah dilakukan pertemuan ICPD+5 dan kemudian pada tahun 2004 dilakukan pertemuan
ICPD+10 di New York. Pertemuan ICPD+10 ini difokuskan pada peningkatan komitmen tentang
pentingnya aspek kependudukan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Kegiatan yang

I-4

penting adalah penyampaian statement dari setiap negara dalam Sidang Umum PBB tentang
pencapaian selama 10 tahun dan pandangan mereka terhadap komitmen pencapaian sasaran ICPD
tahun 2015. Setiap negara tetap mendukung komitmen ICPD dan mendesak PBB agar memasukkan
unsur pertumbuhan penduduk yaitu reproductive health and reproductive rights including family
planning kedalam sasaran MDG yang selama ini memang belum ada.
Millennium Development Summit yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat pada bulan
September 2000 merupakan pertemuan global untuk mengembangkan strategi pembangunan abad
21. MDS merupakan penyatuan konsep PBB tahun 90-an. Deklarasi yang dihasilkan pertemuan
tersebut merupakan intisari dari berbagai kesepakatan sebelumnya. Pada tanggal 13 Oktober 2004
disampaikan Deklarasi Komitmen untuk menudukung ICPD dari berbagai tokoh dunia yang terdiri
dari Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, pemenang nobel, pelaku bisnis, tokoh agama yang turut
menandatangani deklarasi ini. Dua tokoh Indonesia yang dimasukkan PBB sebagai pendukung
deklarasi tersebut adalah KH Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri.
Dengan demikian MDS tidak dapat dipisahkan dari kesepakatan pertemuan sebelumnya. MDGs
memuat sasaran target yang harus dicapai tahun 2015. Sedangkan deklarasi pada konferensi
sebelumnya lebih memuat upaya mencapai target tersebut. Dengan demikian, MDGs dapat dicapai
jika sasaran deklarasi konferensi-konferensi sebelumnya tercapai.
Tujuan dan sasaran MDGs sangat komprehensif meliputi aspek sosial, kesehatan, pendidikan, dan
pemberdayaan perempuan. Pembangunan ekonomi dikaitkan dengan pengentasan kemiskinan,
pengelolaan lingkungan hidup dan kemitraan. Namun demikian beberapa ahli kependudukan yang
banyak terlibat dlam ICPD-94 masih melihat bahwa MDGs belum sekomprehensif yang diinginkan.
Aspek yang terlewatkan adalah pencantuman secara jelas dan tegas persoalan pertumbuhan
penduduk yang terkait dengan reproductive health and reproductive rights. Oleh karena itu revisi
MDGs berhasil dengan dimasukkannya isu kesehatan reproduksi sebagai indikator MDGs.
Kerangka pembangunan MDGs akan segera berakhir. Saat ini tengah dilakukan berbagai
pembahasan kerangka pembangunan paska 2015. Indonesia berperan besar dengan ditunjuknya
Presiden SBY sebagai salah satu dari tiga High Level Panel (HLP). Sejak pertemuan pertama HLP di
New York sampai keempat di Bali, tema pembangunan yang berpusat pada memang semakin
mengemukakan. Tema ini mulai dibangun sejak pertemuan Rio+20 tahun lalu yang membahas
pembangunan berkelanjutan. Di Indonesia, konsep berkembang sejak awal tahun 90an dirintis oleh
para pakar kependudukan dan pembangunan bersama Kantor Menteri Negara Kependudukanan/
BKKBN. Selanjutnya, konsep ini dibawa oleh Indonesia kedalam ICPD, Cairo 1994 yang diterima
sebagai strategi program kependudukan dan pembangunan global. Dalam pelaksanaan memang
tidak berjalan sebagaimana diharapkan karena berbagai persoalan seperti pemerintah dan
pengaturan kelembagaan.
Dinamika lain penduduk juga menjadi fokus perhatian HLP, misalnya tentang migrasi, urbanisasi,
perempuan, orang muda, penduduk rentan, serta pentingnya data untuk perencanaan
pembangunan. Dalam komunike maupun statement anggota HLP dikemukakan pentingnya
pembangunan untuk semua, dinikmati oleh seluruh golongan penduduk dan melibatkan semua
kelompok penduduk. Karenanya pengentasan kemiskinan menjadi isu pokok pembangunan paska
2015. Pembangunan harus berkeadilan dan transparan. Pembangunan harus melibatkan dan

I-5

memberadayakan berbagai kelompok penduduk utamanya kaum muda dan perempuan.


Pembangunan harus dilakukan dalam pemenuhan hak azasi manusia.
Disamping itu agar tidak terjadi kerusakan besar-besaran terhadap lingkungan dan peradaban maka
perlu dikelola pola produksi dan konsumsi penduduk. Kecenderungan perubahan dinamika
penduduk menjadi perhatian anggota HLP. Pentingnya data untuk perencanaan pembangunan juga
diberi bobot perhatian tinggi. Hal ini sangat tepat karena people centered development memerlukan
keakuratan data agar pembangunan tepat sasaran. Berbagai dimensi kehidupan manusia yang begitu
kompleks dibahas dan dirangkum dalam kerangka pembangunan paska 2015.
Namun pengelolaan kuantitas penduduk kurang mendapat perhatian HLP. Besarnya kuantitas
penduduk dunia saat ini dan kedepan lebih dilihat dalam pendekatan adaptif. Berapa penduduk bumi
pada tahun 2050? Apakah 9 miliar atau 10 miliar?. Apa yang harus dilakukan dengan penduduk
sebesar itu? Pendekatan tersebut tergambar dalam komunike Bali dan pertemuan sebelumnya. Jika
pada pertemuan sebelumnya jumlah 9 miliar yang dipakai sebagai acuan maka dalam pertemuan Bali
acuannya adalah 9-10 miliar penduduk.
Padahal apakah bumi akan dihuni 9 miliar atau 10 miliar tergantung pada kebijakan kita mulai saat ini;
biasa disebut sebagai pendekatan mitigasi. Bumi yang pada tahun 2050 dihuni oleh 9 miliar akan
sangat berbeda dengan dihuni 10 miliar. Pada gilirannya, perbedaan 1 miliar manusia penghuni bumi
pada tahun 2050 akan memberikan perbedaan lebih dari 5 miliar manusia pada tahun 2100.
Maka dari itu, pemimpin dunia harus memberi arah strategi pembangunan paska 2015, apakah bumi
akan dihuni oleh 9 miliar atau 10 miliar? Apa yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut?.
Apa yang diputuskan pemimpin dunia saat ini akan sangat berpengaruh pada umat manusia 1 atau 2
generasi mendatang.
Lebih lanjut, pembahasan dinamika kependudukan dalam kerangka pembangunan paska 2015 yang
lebih menekankan pada pendekatan adaptif akan mengaburkan perhatian setiap pemerintah
terhadap persoalan dinamika kependudukan itu sendiri. Walaupun HLP sepakat bahwa penduduk
merupakan pusat dari pembangunan.
Jeffrey Sachs mengemukakan perlunya dilakukan pembahasan mendalam agar ditemukan formulasi
yang utuh dan tegas terkait dinamika kependudukan dalam kerangka pembangunan 2015. Formulasi
dinamika kependudukan tersebut harus terlepas dari persoalan kesehatan reproduksi dan hak
reproduksi, persoalan peningkatan sarana dan prasarana perkotaan, persoalan perlindungan hak
migran dan lain sebagainya, yang dilakukan selama ini. Walaupun bukan berarti hal tersebut tidak
perlu dilakukan.
Dari diskusi tersebut para pakar kependudukan memberikan apresiasi atas visi pemimpin dunia yang
lebih
mengkedepankan
pembangunan
berkelanjutan
daripada
pertumbuhan.
Yang
mengkedepankan pembangunan yang berpusat pada manusia.
Para pakar juga berkesimpulan bahwa pertumbuhan penduduk global masih perlu dikendalikan. Ini
terkait dengan carrying capacity dan carrying capability bumi menyangga kehidupan manusia.
Footprint skenario yang ada memperlihatkan bahwa kemampuan bumi menyangga kebutuhan
manusia saat ini sudah melebihi kapasitasnya. Pengaturan pola konsumsi dan produksi yang ramah

I-6

lingkungan mutlak diperlukan. Namun stabilisasi pertumbuhan penduduk juga faktor yang tidak
kalah penting.
Menurut ahli kependudukan, skenario medium dari 3 skenario proyeksi penduduk versi United
Nations Population Division (UNPD) merupakan kondisi ideal yang perlu dicapai. Penurunan
pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat (skenario cepat) atau terlalu lambat (skenario lambat)
akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup umat manusia dan planet bumi dimasa mendatang.
Untuk mencapai skenario medium maka tingkat kelahiran global harus berada pada kisaran 1.8-2.1.
Angka di saat ini adalah 2.3 2.4. Jika tingkat kelahiran global masih pada angka saat ini atau jika
bahkan meningkat maka yang akan terjadi adalah skenario cepat. Ini harus dihindari. Oleh karena itu,
arahan pemimpin dunia dalam kerangka pembangunan paska 2015 harus menekankan issue ini
secara eksplisit.
Para ahli kependudukan juga sepakat bahwa persoalan dinamika kependudukan berbeda antar
negara dan antar kawasan walaupun tetap ada persoalan yang dikelola secara global. Persoalan
pertumbuhan penduduk yang masih menjadi issue di suatu negara boleh jadi bukan masalah di
negara lain. Demikian pula persoalan penduduk lanjut usia. Karena itu kebijakan kependudukan tidak
bisa one fit for all. Pemimpin setiap negara harus mampu melihat persoalan dinamika
kependudukan secara utuh dan melihatnya dalam kerangka mitigasi bukan adaptasi seperti selama
ini. Karena itu issue dinamika kependudukan dalam kerangka pembangunan paska 2015 perlu
dikedepankan secara utuh dan dalam kerangka pendekatan mitigasi.
Ada tiga persoalan dinamika kependudukan global pada tahun 2050 yang perlu mendapat perhatian
dari pemimpin dunia yaitu (1) jumlah dan laju pertumbuhan penduduk (2) mobilitas penduduk yang
semakin meningkat dan cenderung menuju ke perkotaan sehingga urbanisasi akan terus meningkat,
(3) makin meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut. Persoalan kaum muda adalah persoalan
kependudukan saat ini sampai dengan 2030, namun setelah itu dunia akan lebih besar menghadapi
persoalan penduduk lanjut usia.
Ketiga persoalan tersebut harus dilihat dengan pendekatan mitigasi bukan adaptasi. Bagaimana
mengelola pertumbuhan penduduk sehingga mendukung pembangunan berkelanjutan. Bagaimana
mengarahkan mobilitas penduduk sehingga tidak terjadi penumpukan atau konsentrasi disuatu
wilayah ataupun bagaimana memberdayakan penduduk lanjut usia sehingga mereka tidak menjadi
beban pembangunan.
Pentingnya data untuk perencanaan pembangunan juga dibahas oleh para pakar. Disamping itu
perlu dikembangkan indikator people centered development yang sederhana dan mudah dipahami
oleh perencana pembangunan di tingkat lokal untuk mengevaluasi pembangunan. Indikator ini harus
merubah indikator pembangunan yang ada sekarang ini, yang terlalu menekankan pada
pertumbuhan ekonomi.
Beberapa tujuan dan sasaran konferensi Cairo yang relevan dengan kondisi pembangunan nasional
Indonesia, yaitu, (1) meningkatkan kualitas hidup penduduk dan pembangunan untuk menghapus
kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam konteks pembangunan
berkelanjutan. (2) Upaya menjamin akses penuh pendidikan dasar bagi laki-laki dan perempuan

I-7

secepatnya. (3) Memajukan keadilan dan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, dan
menghapus seluruh bentuk kekerasan terhadap perempuan, dan menjamin kemampuan perempuan
untuk mengkontrol kehidupan fertilitas mereka sendiri, adalah dasar pengkaitan program
kependudukan dan pembangunan. (4) Menurunkan tingkat kematian bayi dibawah 35 per 1,000
kelahiran hidup dan tingkat kematian Balita di bawah 45 per 1,000. (5) Menurunkan tingkat kematian
ibu hamil dan melahirkan sampai dibawah 125 per 100,000 kelahiran hidup. (6) Pada tahun 2005
menjamin paling tidak 90 persen dan pada tahun 2010 paling tidak 95 persen dari penduduk usia 1524 tahun memiliki akses pada KIE dan pelayanan untuk mengembangkan life skills yang dibutuhkan
untuk mengurangi kerentanan mereka terhadap infeksi HIV, dimana pada tahun 2005 diupayakan
terjadi penurunan prevalensi secara global dan pada tahun 2010 terjadi penurunan prevalensi sebesar
25 persen di negara-negara yang prevalensinya tinggi. (7) Isu kependudukan harus diintegrasikan
dalam formulasi, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi dari kebijakan dan program yang terkait
dengan pembangunan berkelanjutan. (8) Memperkuat kerjasama antara pemerintah, organisasi
internasional, dan dunia usaha dalam mengidentifikasi lingkup kerjasama yang baru.
Sementara itu, penempatan penduduk sebagai titik sentral pembangunan menjadi komitmen dunia.
Walaupun komitmen tersebut menurun terutama yang terkait pengendalian kelahiran. Komitmen
pendanaan sebesar 0,7 persen dari PDB masyarakat internasional untuk program kependudukan
seperti tertuang dalam ICPD-94 tidak pernah terwujud. Sehingga banyak pihak meragukan apakah
sasaran ICPD-94 akan dapat dicapai. Pada gilirannya, sasaran MDGs pun akan menjadi sulit dicapai.
Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar ke empat dunia sangat mendukung upaya
melihat pembangunan secara komprehensif yang menempatkan penduduk sebagai sentral
perhatian. Oleh karena itu, Indonesia sangat mendukung ICPD-94 dan berperan aktif dalam
menentukan arah kebijakan kependudukan global. Dukungan Indonesia terhadap kebijakan global
kependudukan tidak saja demi kepentingan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk
dan masyarakat Indonesia namun juga demi kepentingan umat manusia untuk menyelamatkan bumi
sebagai satu-satunya tempat tinggal ini.
Perbedaan yang sangat mendasar dari kebijakan dan program kependudukan Indonesia sebelum dan
sesudah ICPD-94 adalah dalam sudut pandang pendekatan. Pasca ICPD-94 kebijakan kependudukan
lebih mengkedepankan masalah hak asasi. Dalam upaya menurunkan kelahiran, program keluarga
berencana saat ini tidak lagi mekankan pada pendekatan demografis namun dikaitkan dengan
pemenuhan hak reproduksi individu/pasangan. Selanjutnya, peningkatan kualitas pelayanan menjadi
fokus pengembangan program.
Secara umum terdapat tiga area fokus kebijakan kependudukan di Indonesia. Pertama adalah
pengendalian kuantitas penduduk yang menonjolkan pengelolaan kuantitas penduduk melalui
pengaturan kehamilan dan kelahiran (program keluarga berencana) dan penurunan kematian
(program kesehatan). Kedua adalah peningkatan kualitas penduduk melalui program kesehatan dan
pendidikan. Ketiga adalah pengarahan mobilitas penduduk melalui program transmigrasi dan
pembangunan wilayah. Disamping itu penyempurnaan sistem informasi kependudukan.
Kebijakan kependukan Indonesia selama ini lebih menitik beratkan pada mengelola pertumbuhan
penduduk melalui program keluarga berencana walaupun tidak hanya memberikan pelayanan
kontrasepsi kepada pasangan yang membutuhkan. Program keluarga berencana dikaitkan dengan

I-8

upaya memberdayakan keluarga agar mandiri secara ekonomi maupun non ekonomi. Pelaksanaan
program keluarga berencana diarahkan membantu keluarga miskin (pra sejahtera dan sejahteran I)
agar dapat meningkatkan kesejahteraan dan mampu mengatur kehidupan reproduksinya.
Pembangunan kependudukan melalui pengaturan kuantitas, pengembangan kualitas dan
pengarahan persebaran dan mobilitas adalah pembangunan sumberdaya manusia. Artinya,
penduduk merupakan titik sentral pembangunan. Penduduk harus dibangun agar mampu menjadi
pelaku pembangunan. Penduduk berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan
sehingga mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Penduduk memiliki
persamaan hak untuk menikmati hasil pembangunan. Karena itu, strategi pembangunan harus
memperhatikan kondisi kependudukan sehingga hasil pembangunan dapat dirasakan oleh sebagian
besar penduduk.
Dari ketiga aspek kependudukan tersbeut Indonesia telah berhasil mengendalikan pertumbuhan
penduduk melalui program keluarga berencana selama 4 dekade terakhir ini. Tingkat kelahiran
menurun dari 5.6 pada tahun 70-an menjadi 2.6 pada tahun 2012. Dampaknya, pertumbuhan
penduduk (LPP) turun dari 2.32 pada 1971-1980 menjadi 1.49 pada waktu 2010. Walaupun LPP
menurun tapi jumlah penduduk terus meningkat akibat dari demographic momentum.
Hasil proyeksi penduduk yang dilakukan oleh Prof. Widjojo Nitisastro dengan skenario C
menunjukkan bahwa tanpa program KB maka pada tahun 1990 jumlah penduduk Indonesia
diperkirakan mencapai jumlah 330 juta. Kenyataannya, penduduk menurut SP-2010 adalah 237 juta.
Berarti laju pertumbuhan penduduk dapat diperlambat hingga menghasilkan selisih jumlah
penduduk sekitar 100 juta jiwa. Banyak implikasi dari saving jumlah penduduk tersebut terutama jika
dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia dewasa ini.
Aspek sudut pandang kualitas, persebaran dan mobilitas penduduk masih menghadapi
permasalahan serius dibandingkan pengendalian kuantitas dan pertumbuhan penduduk. Walaupun
kebijaksanaan pemerintah telah mengembangkan konsep pembangunan berwawasan
kependudukan namun belum dapat mengimplementasikan dan mengintegrasikan kebijaksanaan
tersebut dalam berbagai program sektoral secara optimal. Ada beberapa alasan mengapa hal itu
terjadi, pertama, dengan alasan agar perhatian kita terfokus pada satu masalah maka implementasi
program membagi masalah dan pemecahannya secara sektoral. Tidak hanya masalah kependudukan
yang dipisahkan dari pembangunan, tetapi juga masalah wanita cenderung disoroti terpisah. Padahal
dengan luasnya masalah penduduk, lingkungan dan pembangunan maka pendekatan sektoral akan
menghabiskan waktu dan energi serta suberdaya yang ada. Kedua, masih banyak negara yang
percaya bahwa jikalau masalah ekonomi dapat dipecahkan maka fertilitas secara otomatis akan
menurun. Mereka tidak menolak keluarga berencana, tetapi mereka tidak melihat pelayanan
keluarga berencana berkaitan secara timbal balik dengan masalah lingkungan dan pembangunan.
Pengendalian penduduk bukan dipandang sebagai kebijaksanaan kependudukan secara makro,
tetapi pemberiaan kontrasepsi sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan individu dan keluarga
saja. Ketiga, masalah kependudukan masih sensitif untuk beberapa negara termasuk Indonesia,
terutama yang menyangkut masalah pemakaian kontrasepsi, khususnya bagi yang belum menikah
dan aborsi. Padahal, masalah lingkungan juga sensitifnya bagi beberapa negara yang ekonominya
sangat tergantung pada sumberdaya alam.

I-9

Banyak sekali hambatan dalam mengimplementasikan pembangunan kualitas dan persebaran


penduduk. Kematian ibu hamil dan melahirkan masih merupakan persoalan kesehatan utama di
Indonesia saat ini. Malah diperkirakan sasaran MDGs sebesar 125 tahun 2015 sulit dicapai. Upaya
menurunkan kematian bayi dipandang berhasil. Pencapaian universal education untuk sekolah dasar
juga dapat dikatakan berhasil. Namun banyak kendala pada pendidikan lanjutan dilihat dari tingginya
angka drop-out setelah sekolah dasar. Amandemen UUD-45 yang memberikan perhatian besar pada
bidang kesehatan dan pendidikan merupakan harapan besar pada percepatan peningkatan kualitas
penduduk.
Demikian pula pembangunan yang masih terpusat pada wilayah tertentu menyebabkan persebaran
penduduk antar daerah di Indonesia sangat tidak merata. Ini sangat tidak mendukung terwujudnya
pembangunan berkelanjutan. Desentralisasi diharapkan lebih memeratakan pembangunan yang
pada gilirannya akan berpengaruh pada persebaran penduduk. Namun sampai sekarang,
desentralisasi masih belum menemukan format yang ideal.
Salah satu penjelasan mengapa Indonesia sebelum reformasi kurang serius dalam menangani
pembangunan kependudukan adalah karena lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan nasional yang utama. Walaupun
Indonesia memiliki trilogi pembangunan namun kenyataannya pertumbuhan senantiasa
mendominasi strategi pembangunan nasional.
Strategi pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan tanpa melihat potensi penduduk yang
ada tidak berlangsung secara berkesinambungan. Jika dikaitkan dengan krisis ekonomi pada akhir
dekade 90-an maka krisis tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan ekonomi yang kurang
mengindahkan dimensi kependudukan. Strategi ekonomi makro yang tidak dilandasi potensi
kependudukan yang ada menyebabkan pembangunan ekonomi menjadi sangat rentan terhadap
perubahan. Selama ini, belum terjadi strategi pembangunan yang serius berorientasi pada aspek
kependudukan.
Walaupun RPJP menyebutkan bahwa pembangunan nasional adalah pembangunan sumberdaya
manusia seiring dengan pembangunan ekonomi, namun kenyataannya pembangunan nasional masih
terlalu terfokus pada pembangunan ekonomi. Disamping itu, nampak jelas bahwa pemilihan sasaran
pembangunan ekonomi khususnya pengembangan industri tidak memperhatikan kondisi
kependudukan yang ada.
Dalam hal mengintegrasikan dimensi kependudukan dalam perencanaan pembangunan daerah maka
manfaat mendasar adalah besarnya harapan bahwa penduduk yang ada di daerah tersebut menjadi
pelaku pembangunan dan penikmat hasil pembangunan. Itu berarti pembangunan berwawasan
kependudukan lebih berdampak besar pada peningkatan kesejahteraan penduduk dibandingkan
dengan orientasi pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Dalam
pembangunan berwawasan kependudukan ada jaminan akan keberlangsungan proses
pembangunan itu sendiri.
Pembangunan berwawasan kependudukan menekankan pada pembangunan lokal, perencanaan
berasal dari bawah, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat lokal, dan yang lebih
penting adalah melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. Sebaliknya orientasi

I-10

pembangunan pada pertumbuhan ekonomi akan meneningkatkan ketimpangan pendapatan.


Industrialisasi dan liberalisasi yang terlalu cepat memang akan meningkatkan efisiensi dan
produktivitas namun sekaligus juga meningkatkan pengangguran dan setengah menganggur.
Dengan demikian sebenarnya desentralisasi yang dilaksanakan sejak tahun 2000 memiliki potensi
meningkatkan pemerataan pembangunan dan penciptaan pembangunan yang berorientasi pada
potensi lokal. Pelayanan akan lebih dekat dengat penduduk sehingga penduduk lebih menikmati
hasil pembangunan. Namun pelaksanaan desentralisasi ini belum menemukan format yang ideal
untuk terwujudnya pembangunan berwawasan kependudukan atau terwujudnya pembangunan
berkelanjutan. Yang nampak justru setiap daerah berlomba memforkuskan pada pembangunan
infrastruktur dan pembangunan ekonomi dan mengkesampingkan pembangunan manusia dan
pengelolaan lingkungan hidup.
Diperkirakan, pertumbuhan penduduk Indonesia akan terus menurun, walau jumlahnya masih akan
meningkat sampai sekitar 2050 ketika penduduk Indonesia akan mengalami penduduk tumbuh
seimbang. Besarnya penduduk akan meningkatkan kebutuhan akan energi, makanan dan air, yang
tanpa upaya teknologi akan berarti terjadi pengurasan besar2an terhadap sumberdaya alam.
Besarnya jumlah penduduk tersebut sebenarnya merupakan modal untuk melakukan pembangunan.
Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas.
Seperti halnya dengan megatren dunia, penduduk Indonesia pun sedang dalam proses menua.
Jumlah dan persentase penduduk lansia di Indonesia telah dan akan terus meningkat. Bedanya, para
lansia di negara maju hidup dengan fasilitas dan pelayanan negara maju yang lebih baik daripada di
negara berkembang dengan segala keterbatasanna.
Di negara maju, proses penuaan penduduk terutama karena angka kelahiran yang rendah. Di
Indonesia, proses penuaan penduduk lebih disebabkan karena migrasi keluar. Khususnya di daerah
miskin yang penduduk mudanya meninggalkan daerahnya. Dengan angka kelahiran rendah, migrasi
keluar penduduk muda menyebabkan ekonomi daerah tersebut makin sulit berkembang, bersamaan
dengan meningkatnya biaya mengurusi penduduk lansia di daerah itu. Usaha mengurangi kemiskinan
pun menjadi sulit.
Tantangannya adalah bagaimana menjadikan para lansia sebagai aset, dan bukan beban
perekonomian. Kemudian menciptakan prasarana yang ramah penduduk lansia, sehingga mereka
tetap sehat, produktif dan dapat tetap bergerak.
Prasarana yang ramah lansia tidak saja berguna untuk lansia tetapi juga penduduk muda. Prasarana
yang ramah lansia biasanya juga adalah prasarana yang menciptakan kenikmatan untuk penduduk
muda. Secara politik, peran penduduk lansia dalam pemilihan umum juga akan meningkat. Peran
politisi dan pengusaha lansia juga akan makin menonjol.
Penduduk Indonesia telah dan akan terus makin dinamis, makin sering berpindah tempat jarak jauh
maupun pendek, untuk waktu yang singkat mau pun yang lebih lama. Bahkan pemeo Jawa lebih suka
berkumpul daripada makan pun akan lenyap. Orang Jawa akan makin sering ditemui di mana pun di
Indonesia dan di negara lain. Buat mereka kumpul atau tidak, yang penting bisa makan. Suku lain,
terutama yang terkenal sebagai perantau, seperti Bugis, akan makin dinamis. Pasar kerja penduduk

I-11

Indonesia makin luas, bukan hanya di kebupaten mereka tinggal tetapi ke seluruh Indonesia, bahkan
seluruh dunia.
Mobilitas yang meningkat di Indonesia juga berarti makin seringnya terjadi pertemuan latar belakang
budaya yang berbeda. Migran di suatu daerah dapat menjadi ancaman bagi penduduk lokal.
Konflik antara pendatang dan penduduk lokal perlu mendapat perhatian lebih. Penanganan yang
baik terhadap potensi konflik ini akan memacu pembangunan di daerah penerima.
Namun walaupun mobilitas meningkat persebaran penduduk masih terkonsentrasi di beberapa
wilayah tertentu. Persebaran penduduk masih tidak merata. Daerah atau pulau yang jauh dari pusat
pembangunan akan tetap tidak diminati untuk didiami. Dalam konteks ini maka konsep negara
kesatuan mesti terus dibina agar mereka yang tinggal di daerah perbatasan dan pulau terpencil tetap
merasa sebagai orang Indonesia.
Selain itu, arus tenaga kerja ke dunia internasional akan terus meningkat. Walau begitu, tenaga kerja
yang masuk ke pasar internasional juga akan berubah. Bukan lagi terdiri dari mereka yang
berpendidikan rendah dan bekerja, misalnya sebagai pekerja bangunan atau pembantu rumah
tangga. Pada 2020 pasar internasional akan mengalami kesulitan mencari orang Indonesia sebagai
pembantu rumah tangga yang murah dan penurut. Pada saat itu, tenaga kerja Indonesia yang
bekerja di luar negeri akan makin terdiri dari mereka yang berpendidikan lebih tinggi. Tenaga kerja
Indonesia akan mengisi posisi yang makin penting di dunia.
Bersamaan dengan meningkatnya arus tenaga kerja ke pasar internasional, arus tenaga kerja asing
ke Indonesia pun akan meningkat. Kalau dulu, tenaga kerja asing terpusat pada mereka yang
berpendidikan tinggi dan di posisi puncak, di masa yang akan datang, tenaga kerja asing di Indonesia
akan banyak terdiri dari mereka dengan pendidikan yang lebih rendah. Bukan tidak mungkin,
Indonesia akan kekurangan tenaga kerja berpendidikan rendah dan kemudian mendatangkan
pekerja bangunan atau pembantu rumah tangga dari negara lain.
Peningkatan keberadaan tenaga kerja asing, dengan berbagai latar belakang budaya, dapat juga
menimbulkan berbagai ketegangan sosial. Apalagi ketika banyak dari mereka mengisi pekerjaan yang
membutuhkan pendidikan relatif rendah.
Seperti di tingkat dunia, perekonomian Indonesia pun akan makin ditandai dengan perekonomian
perkotaan. Jumlah dan persentase penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan akan terus
meningkat. Karena perkotaan sering berarti tiadanya atau sedikitnya lahan pertanian, megatren
urbanisasi ini juga memberikan tantangan pada penyediaan pangan di Indonesia.
Mega trend lain adalah meningkatnya jumlah dan persentase penduduk usia produktif (15-64).
Peningkatan ini berdampak pada menurunnya dependency ratio yang secara potensial berdampak
positif pada pembangunan ekonomi dan sosial. Dalam bahasa demografi disebut sebagai masa
bonus demografi. Bonus demografi terbaik akan terjadi pada sekitar tahun 2020-2030 dimana pada
waktu itu Indonesia mengalami window of opportunity. Tapi potensi tersebut tidak dapat terealisir
jika kualitas yang dimiliki oleh penduduk kelompok usia produktif tersebut tidak memadai. Potensi
tersebut justru dapat menjadi bencana. Setelah tahun 2030 karena Indonesia kemudian akan
menghadapi peningkatan pesat pada kelompok penduduk usia lanjut (65+).

I-12

Indonesia sebelum ICPD-94 sudah menjadikan kependudukan dalam arus utama pembangunan
nasional. Paling tidak ini terjadi pada tataran kebijakan. Menarik untuk melihat analisis Hal Hill(1996)
bahwa pada awal orde baru, pemerintah cukup hati-hati dalam mengembangkan kebijakan ekonomi.
Pengembangan ekonomi makro disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi penduduk. Namun sejak
pertengahan tahun 80-an, Indonesia menjadi sangat agresif dalam mengejar pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan ekonomi kemudian kurang disesuaikan dengan kondisi kependudukan yang ada.
Pengembangan teknologi tinggi menjadi pilihan utama walaupun dinamika kependudukan belum
menunjang. Alokasi dana pembangunan menjadi lebih berat untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi melalui pembangunan infrastruktur dan industri dibandingkan dengan membangun
manusia. Walaupun dalam GBHN selalu dikatakan bahwa kebijakan pembangunan Indonesia adalah
pembangunan ekonomi seiring dengan pembangunan sumberdaya manusia.
Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 kemudian makin membuktikan bahwa pembangunan
SDM, pembangunan yang berwawasan pada kependudukan, tidak dapat ditawar-tawar lagi. Upaya
kearah itu mulai ditata secara sistematis dengan memberikan landasan hukum yang lebih pasti.
Amandemen UUD-45, UU SJSN, kebijakan pro-poor melalui subsidi dan lain sebagainya diharapkan
akan lebih berdampak positif pada pembangunan SDM. Namun perjalanan masih panjang, jumlah
penduduk yang begitu besar dengan kualitas yang relatif rendah ditambah dengan besarnya warisan
hutang mempersulit upaya peningkatan kesejahteraan yang berkesinambungan. Demikian pula,
desentralisasi yang belum menemukan bentuk ideal serta masih kentalnya nuansa KKN
memperparah keadaan.
Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar:
Setelah mengikuti materi jumlah penduduk di Indonesia ini, peserta diharapkan mampu
mempraktikkan penyampaian materi jumlah penduduk dan berbagai dimensinya.
2. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari materi jumlah penduduk di Indonesia ini, diharapkan peserta mampu:
a. Memahami konsep dasar jumlah penduduk
b. Menjelaskan status dan kondisi jumlah penduduk yang semakin meningkat jumlahnya.
c. Menjelaskan konsekuensi dari kondisi meningkatnya umah penduduk
d. Menjelaskan kebijakan dan program yang diperlukan untuk mempertahankan produktivitas
penduduk yang semakin banyak itu.
e. Mempraktikkan penyampaian materi pertambahan jumlah penduduk di Indonesia.

Tujuan Khusus
Materi dasar yang dikembangkan sedikitnya akan meliputi isu-isu sebagai berikut:
Isu Pokok

Pengertian Tentang Dinamika Kependudukan

Cakupan

Isu utama yang perlu disajikan disini adalah mengenai konsep dasar
tentang dinamika kependudukan di lingkup global dan lingkup
nasional. Apa sesungguhnya yang dimaksud sebagai dimensi
pokok topik kependudukan oleh BKKBN.

I-13

Kejelasan tentang konsep ini diperlukan untuk menghidari


kerancuan batasan pengertian yang digunakan di kelompok
masyarakat lain di Indonesia yang juga berkait dan bersinggungan
dengan kependudukan tersebut
Isu Pokok

Dinamika Kependudukan, Pembangunan dan Proyeksinya (2050)

Cakupan

Membahas tentang dinamika kependudukan diawali dengan


ilustrasi singkat kondisi global dengan dan perkembangan
pembangunan yang berguna sebagai informasi dasar memahami
kependudukan dan pembangunan tersebut.
Proyeksi mengenai dinamika kependudukan dan sejauh mungkin
keterlibatan dalam pembangunan akan melihat keberadaannya di
tahun 2050.

Isu Pokok

Hubungan Disosiatif antara Kependudukan dan Pembangunan di


Indonesia

Cakupan

Membahas secara kritis mengenai hubungan saling mempengaruhi


antara dinamika kependudukan dengan pembangunan di Indonesia.

Isu Pokok

Kebijakan dan Program Untuk Memaksimalkan Hubungan antara


Kependudukan dan Pembangunan

Cakupan

Kebijakan yang akan merekayasa status dan kondisi dasar serta


menjadikan dinamika kependudukan dan pembangunan saling
berkontribusi positif.
Kebijakan tersebut perlu diuraikan dalam bentuk program aksi yang
secara langsung akan diselenggarakan oleh pemerintah,
bekerjasama dengan lembaga non-pemerintah maupun lembaga
non pemerintah

Aktifitas Pelatihan
Pelatihan untuk materi ini dipersiapkan seama 90 menit, dengan urutan kegiatan sebagai berikut.
Berisi uraian tentang materi kependudukan dan pembangunan yang
akan disampaikan dalam sesi ini.
05 Menit
Pendahuluan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file diterangkan cara


menggunakan dan kegunaannya.
Informasi lain yang dianggap penting, jika ada

05 Menit
Pengertian

Uraian verbal yang berkaitan tentang dinamika kependudukan,


pembangunan dan keterkaitan diantaranya yang akan digunakan
dalam diseminasi informasi, sejak waktu diseminasi hingga
pelaksanaan di lapangan.
Persamaan dan perbedaan mengenai pengertian ini disebutkan dan

I-14

diuraikan secara jelas dan tegas.

25 Menit
Status

Uraian verbal mengenai dinamika kependudukan dan


perkembangan pembangunan untuk disepakati dan difahami
sebagai informasi dasar memahami topik mengenai kependudukan
dan pembangunan. Aspek penting mengenai jumlah, persentase,
sebaran, kualitas, kesejahteraan penduduk dan kaitannya dengan
pembangunan, diberikan tekanan/garis bawah dan dibahas menjadi
salah satu isu sentral topik kependudukan dan pembangunan.
Uraian verbal mengenai pengalaman masa lalu dari dinamika
kependudukan dan pembangunan dikaitkan dengan uraian verbal
mengenai informasi dasar tersebut diatas. Unsur positif dan negatif
dari pengalaman tersebut diberi penekanan memadai. Perkiraan
dan proyeksi ke depan diuraikan dan diberi penekanan dalam segi
positif dan negatifnya; terutama berkaitan dengan upaya
memaksimalkan keterkaitan peranan antara kependudukan dan
pembangunan nasional di masa mendatang.
Uraian verbal mengenai saling-keterkaitan antara dinamika
kependudukan dan pembangunan selama ini dan potensinya di
masa mendatang.

25 Menit
Kependudukan dan
Pembangunan

Penekanan diberikan kepada dampak negatif dari kurangnya


perhatian pembangunan yang dilaksanakan selama ini terhadap
kependudukan dan segala dinamikanya. Dampak terhadap
kependudukan dan sekaligus terhadap lingkungan hidup.
Berbagai contoh dinamika kependudukan yang buruk (tidak
mendukung secara positif terhadap pembangunan) dan dampak
kerusakan alam yang hebat perlu mendapat garis bawah secara
memadai.
Selanjutnya, diberikan berbagai pemikiran dan aternatif
pembangunan yang saling memberikan dampak positif antara
kependudukan dan dinamikanya, dengan pembangunan.
Uraian verbal berbagai kebijakan yang dimaksudkan untuk
mengurangi, dan menghilangkan bila mungkin, dampak negatif
saling mempengaruhi antara kependudukan dan pembagunan
bangsa.

10 Menit
Kebijakan dan Program

Program-program turunan kebijakan tersebut diarahkan sesuai


skala proritas terhadap masalah urbanisasi dan perkembangan
perkotaan yang sudah diidentifikasikan pada bagian sebelumnya.
Perlu mendapat perhatian disini adalah bahwa program yang
diuraikan tidak semuanya harus menjadi tanggung jawab
pemerintah sebagai pelaksana teknisnya. Beberapa program dapat
dilakukan secara simbiosis dengan lembaga non pemerintah, atau
bahkan sepenuhnya dilakukan oleh lembaga non pemerintah.

I-15

20 Menit
Tanya-Jawab

Merupakan alokasi waktu yang digunakan untuk memperjelas dan


mendiskusikan materi tentang kependudukan dan pembangunan
yang sedang disajikan.
Selain disiapkan di bagian akhir diseminasi, tanya-jawab serta diskusi
dapat dilaksanakan di tengah-tengah acara diseminasi. Namun,
perlu dicatat bahwa waktu yang direncanakan/disediakan berkisar
pada jangka waktu tersebut.

Materi Pelatihan
Berikut adalah beberapa materi yang perlu dipersiapkan menjelang dan ketika pelatihan dan/atau
diseminasi informasi dilakukan:
Menjelang

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas


dalam CD-ROM atau flash-disk.
Materi yang dipergunakan sebagai bahan diseminasi berbentuk
makalah dan bahan penyajian materi diseminasi di depan kelas.
Materi pendukung lain yang diperlukan, jika ada

Saat Pelaksanaan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas


dalam CD-ROM atau flash-disk.
Komputer atau lap top untuk menyajikan materi diseminasi
Alat Sorot
Layar Penampil Sorot
Papan Tulis Putih
Pena Tulis Papan Tulis Putih
Alat Tulis Menulis
Perkakas Pelantang

I-16

Materi Advokasi Isu Orang Muda di Indonesia


Pengantar
Kaum Muda, diyakini sebagai kelompok masyarakat yang paling dinamis. Namun demikian, difinisi
Kaum Muda bervariasi. Dengan pertimbangan ketersediaan data, untuk selanjutnya makalah ini
menggunakan batasan penduduk usia 1024 tahun untuk menyebut Kaum Muda.
Data demografi global menunjukkan bahwa Kaum Muda merupakan populasi yang besar dari
penduduk dunia. Sekitar 1,2 milliar (18 persen) penduduk dunia di saat ini adalah Kaum Muda yang
berusia 15-24 tahun. Diantara mereka itu tadi 87 persen tinggal di Negara Berkembang yang terdiri
dari 62 persen tinggal di Asia dan sisanya di Afrika. Kaum Muda yang tinggal di perkotaan telah
meningkat hampir duakali lipat dari 27 persen menjadi 43 persen selama 1955-2005. Proporsi terbesar
dari Kaum Muda nantinya tinggal di Afrika dan Asia, menggeser peranan Eropa dan Amerika secara
signifikan.
Kaum Muda yang pada tahun 1950 hanya 5 persen proporsinya di Benua Afrika diproyeksikan
menjadi 20 persen di tahun 2050. Di Benua Asia, yang semula 31 persen diproyeksikan menjadi 54
persen. Di pihak lain, proporsi Kaum Muda di Benua Eropa yang di tahun 1950 sebesar 38 persen akan
menjadi 9 persen di tahun 2050. Di Benua Amerika proporsinya menurun dari 25 persen menjadi 16
persen. Pergeseran proporsi tersebut telah menggeser tempat tinggal Kaum Muda di Dunia.
Terbayang tekanan permintaan Kaum Muda yang harus disediakan oleh Benua Afrika dan Asia
tersebut.
Di Indonesia, SP-2010 mencatat total penduduk mencapai 237,6 juta jiwa, 53,4 juta diantaranya
adalah Kaum Muda yang terdiri dari laki-laki 51 persen dan wanita 49 persen. Telah terjadi
peningkatan dari 47 juta jiwa dari tahun 1990. Namun, angka relatifnya justru menurun dari 27 persen
menjadi 23 persen. Proyeksinya di tahun 2025, jumlah Kaum Muda akan menjadi 59 juta jiwa. Tetapi
proporsinya menurun menjadi 21 persen.
Selama periode 2000-2010, Kaum Muda meningkatan pesat dari 60,7 juta jiwa menjadi 63,5 juta jiwa.
Laki-laki meningkat lebih cepat dibandingkan wanita. Kelompok usia 10-14 tahun merupakan
komponen yang terbesar. Kaum Muda laki-laki usia 10-14 tahun meningkat dari 10,4 juta jiwa menjadi
11,7 juta jiwa. Sementara Kaum Muda wanita kelompok usia 15-19 tahun jumlahnya menurun dari 10,5
juta jiwa menjadi 10,3 juta jiwa. Angka proyeksi kelompok usia 10-14 dan 15-19 meningkat dari 10,3 juta
dan 9,9 juta di tahun 2015 menjadi 10,6 juta dan 10,2 juta di tahun 2025. Pada kelompok usia 15-19
tahun meningkat dari 10 juta dan 9,7 juta menjadi 10,5 dan 10,1 juta. Sedangkan kelompok yang lebih
dewasa, usia 20-24, laki-laki dan wanita mengalami penurunan dari 11 juta dan 10,7 juta di tahun 2015
menjadi 10,2 juta dan 9,9 juta di tahun 2025.
Di Indonesia, Kaum Muda yang tinggal di perkotaan juga semakin banyak. Khusus untuk kelompok
umur 10-14 tahun yang tinggal di pedesaan justru meningkat.

II-17

Tempat tinggal menurut pulau besar di Indonesia, nampak proporsi Kaum Muda cenderung menurun
dari 28-34 persen di tahun 2005 menjadi 25-29 persen di tahun 2010; kecuali di Maluku. Penurunan
terbesar terjadi di Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Proyeksi proporsi Kaum Muda di Sumatra,
Kalimantan dan Maluku mengalami penurunan terbesar, yang terendah terjadi di Bali-NTB-NTT dan
Jawa. Dari uraian tersebut nampak bahwa terjadi penurunan proporsi di pulau-pulau dengan
penduduk besar tetapi dalam proyeksi terjadi kebalikan. Angka proyeksi cenderung lebih rendah
daripada yang riil terjadi di lapangan, dan bahkan cenderung menurun.
Besarnya angka Kaum Muda Indonesia dewasa ini merupakan potensi Indonesia kedepan. Besaran
angka2 tersebut berkaitan erat dengan berbagai masalah sosial, dalam arti positif maupun negatif.
Kaum Muda berperan sebagai penerus pembangunan bangsa. Jumlah besar Kaum Muda yang
dibarengi dengan kualitas merupakan harta (asset) bagi Indonesia. Demikian pula bila sebaliknya.
Kaum Muda yang secara sembarangan dibiarkan berkembang dengan sendirinya adalah petaka
(problem) bagi Indonesia.
Kaum Muda merupakan kelompok penduduk yang dipersiapkan menjadi pelaksana pembangunan.
Kepada mereka diperlengkapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mampu melaksanakan fungsi
dan perannya dengan baik. Disamping perlindungan dari kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi serta
jaminan kesehatan mental dan fisiknya, pendidikan dan pelatihan keterampilan menjadi aspek
penting yang harus dimiliki oleh Kaum Muda. Pada akhirnya, bentuk keterlibatan mereka di dunia
kerja itu nanti akan tertampak melalui seberapa banyak mereka terlibat dalam dunia kerja.
Kaum Muda, mempunyai prestasi dan peluang sekaligus tantangan dan hambatan, makalah ini
memfokuskan pada pendidikan, karena melalui pendidikan jaminan memperbaiki masa depan
disandarkan.
Di tengah situasi yang serba mencekam Kaum Muda Indonesia, ternyata mereka memiliki prestasi
luar biasa dalam olimpiade dunia ilmu pengetahuan. Diantaranya, Internasional Mathematics
Olympiad (IMO), Internasional Physic Olimpiad (IPhO), International Olympiad in Informatics (IOI),
International Astronomy Olimpiad (IAO) dan International Exhibition for Young Inventors (IEYI).
Gambaran sekilas kondisi pendidikan di Indonesia dewasa ini. Angka putus sekolah yang tinggi
menyebabkan peringkat indeks pembangunan Indonesia menjadi rendah, yaitu di urutan ke 69 dari
127 negara, bandingkan dengan Malaysia (65) dan Brunei (34). Sementara, Depdikbud sendiri
mengatakan bahwa setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Data pendidikan tahun 2010
menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah yang paling umum adalah
tingginya biaya pendidikan yang membuat siswa tidak dapat melanjutkan pendidikan dasar.
Di sisi lain, lebih dari 54% pengajar tidak memiliki kualifikasi. Sekitar 50 persen pengajar di seluruh
Indonesia mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan disiplin ilmunya. Banyak pengajar yang
belum sarjana tetapi tetap mengajar di SMU/SMK. Di seluruh Indonesia terdapat 4% sekolah yang
mengalami kekurangan tenaga pengajar. Di perkotaan 21 persen sekolah kekurangan pengajar dan di
pedesaan 37 persen sekolah kekurangan pengajar. Sementara di daerah terpencil terdapat 66 persen
sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pengajar. Padahal pengajar merupakan ujung tombak
meningkatkan kualitas pendidikan.

II-18

Kondisi bangunan sekolah memprihatinkan dengan 13,2 persen bangunan sekolah dalam kondisi
parah yang perlu perbaikan secepatnya.
Dewasa ini, hampir tidak ada Kaum Muda di Indonesia yang tidak bisa membaca+menulis huruf latin
(buta aksara latin). Mereka juga memiliki untuk berprestasi asalkan mendapat kesempatan.
Umumnya, Kaum Muda telah meningkat pesat kelulusannya. Program wajib belajar pemerintah
banyak berperan disini. Kaum Muda wanita mendominasi proporsi jenjang sekolah dasar. Namun,
Kaum Muda yang masih bersekolah di tingkat dasar maupun menengah masih besar. Padahal usia 1524 tahun seharusnya sudah berada di jenjang yang lebih tinggi. Ini memprihatinkan.
Kaum Muda wanita yang lulus Perguruan Tinggi (PT) meningkat pesat, melebih peningkatan yang
terjadi laki-laki. Secara demografi, hal ini sangat positif dampaknya bagi kelangsungan hidup anaknya
Angka partisipasi pendidikan dasar Kaum Muda Indonesia melebihi angka rata-rata ASEAN dan angka
Dunia. Prestasi ini erat kaitannya dengan program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah, tahun
1984 untuk wajib belajar 6 tahun dan tahun 1994 untuk wajib belajar 9 tahun. Namun, untuk jenjang
sekolah menengah pertama dan menengah atas angka partisipasi Indonesia tertingal dibandingkan
ASEAN dan dunia. Meskipun demikian, angka partisipasi Indonesia untuk jenjang sekolah menengah
pertama meningkat sangat cepat. Sementara untuk jenjang sekolah menengah atas kecepatan
kenaikan angka Indonesia diatas angka ASEAN dan dunia.
APK dan APM makin menurun sejalan dengan meningkatnya usia Kaum Muda. Karena wajib belajar
mendorong Kaum Muda bersekolah dasar sehingga proporsinya melebihinya 100 persen, namun
hanya sepersepuluhnya saja yang bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Selisih APK dengan APM ini
merupakan in-efisiensi dalam penggunaan sumberdaya untuk pendidikan.
APK dan APM Kaum Muda di pedesaan lebih rendah daripada di perkotaan. APK untuk SMP di
perkotaan mengalami peningkatan yang tajam; tetapi APMnya relatif lebih konstan. APK wanita lebih
tinggi daripada laki-laki, tetapi APMnya justru sebaliknya. Jadi, untuk jenjang pendidikan sekolah
menengah pertama di perkotaan, laki-laki lebih efisien menempuh pendidikannya. Angka di
pedesaan tersebut berbeda arah. APK laki-laki senantiasa lebih rendah daripada wanita; dan
demikian pula dengan APMnya. Dengan melihat selisih APK dan APM di perkotaan yang lebih tinggi
daripada di pedesaan menunjukkan pedesaan lebih efisien dalam menempuh pendidikan.
APK jenjang SMA justru mengalami penurunan; dengan APM laki-laki dan wanita relatif konstan di
perkotaan maupun di pedesaan. Namun demikian, penurunan APK di perkotaan labih drastis
daripada di pedesaan. Hal ini bisa karena di perkotaan semakin efisien dalam belajar, atau karena di
pedesaan terjadi pengurangan jumlah Kaum Muda secara bermakna di sektor pendidikan.
Jika benar terjadi pengurangan siswa sekolah SMA di pedesaan, pertanyaan pentingnya lalu
kemanakah mereka? Apakah langsung bekerja ataukah menganggur karena adanya berbagai
hambatan untuk dapat melanjutkan sekolah mereka?
Perlu diingat bahwa fasilitas pembiayaan sektor pendidikan meningkat tajam sepuluh tahun terakhir
ini, dengan pertimbangan bahwa pendidikan dasar merupakan modal minimal menyiapkan Kaum
Muda untuk melanjutkan pendidikannya atau melanjutkan hidupnya secara bermartabat.

II-19

Kaum Muda yang tidak melanjutian belajar, ada yang bekerja. Ini sejalan dengan klasifikasi umur
pekerja Indonesia adalah 15-64 tahun. Namun demikian, banyak yang masih dibawah usia tersebut
yang sudah terlibat di dunia kerja secara penuh. Ini bukan pekerja, tapi pekerja-anak yang sangat
tidak didukung di mana-mana.
Dalam lingkup global, ILO mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja Kaum Muda selama periode
1998-2008 cenderung menurun dari 54,7 persen menjadi 50,8 persen. Alasan utama karena belajar.
Sementara itu, proses bekerja Kaum Muda diawali sebagai tenaga pembantu di usaha keluarga,
sehingga akhirnya mereka berusaha sendir
Lebih dari 40 persen Kaum Muda di perkotaan dan di pedesaan Indonesia sudah bekerja dan selama
40 tahun terakhir ini cenderung meningkat proporsinya. Ini merupakan kenyataan yang sangat
memprihatinkan.
Di pasar tenaga kerja, Kaum Muda tidak dapat bersaing dengan pekerja dewasa. Meskipun selama
periode 1971-2005 terjadi peningkatan, namun kecepatan pertumbuhan pekerja muda dibawah
pekerja dewasa. Dengan mudah disimpulkan bahwa pengangguran pekerja muda lebih tinggi
daripada pekerja dewasa.
Pola bidang pekerjaan yang ditekuni pekerja muda mirip dengan yang ditekuni pekerja dewasa;
dominan di sektor pertanian. Sejalan dengan perkembangan perekonomian, sektor industri,
perdagangan dan jasa menjadi alternatif bidang kerja pekerja muda.
Jika argumen pengangguran dikaitkan dengan bidang kerja pekerja muda, patut diduga bahwa
sebenarnya pekerja muda kebanyakan terlibat di sektor informal. Meskipun sangat sulit, namun
terjadi peningkatan kesempatan pekerja muda untuk masuk sektor formal. Hambatan utama pekerja
muda adalah prasyarat pendidikan, keterampilan, pelatihan dan pengalaman di sektor formal. Dalam
hal ini, tentu saja pekerja muda kalah jauh dibanding pekerja dewasa.
Karena berbagai persoalan, pengangguran pekerja muda selalu lebih tinggi daripada pekerja dewasa.
Pengangguran Kaum Muda Indonesia hampir dua kali lipat lebih tinggi daripada ASEAN dan dunia.
Angka penganguran Kaum Muda wanita selalu lebih tinggi daripada laki-laki. Pola seperti ini mirip
dengan yang terjadi di ASEAN, tetapi berbeda dengan pola dunia yang menampakkan angka
pengangguran laki-laki dan wanita hampir sama tinggi.
Untuk lokasi tempat tinggal, sebelum tahun 1985, proporsi di pedesaan lebih rendah daripada di
perkotaan. Tapi setelah tahun itu, posisinya selalu lebih tinggi pengangguran di pedesaan.
Dalam hal pendidikan, tingkat pengangguran pekerja muda dengan latar belakang pendidikan tinggi
tetap tinggi dan cenderung meningkat. Pengangguran pekerja muda yang terbanyak adalah yang
tamat SMA dan yang tamat perguruan tinggi. Meskipun tingkat pengangguran Kaum Muda
berpendidikan tinggi terlihat lebih tinggi, tetapi jumlah mereka sesungguhnya lebih sedikit
dibandingkan pengangguran di kalangan yang berpendidikan lebih rendah.
Menurut studi pelacakan yang dilakukan Kemenakertrans, ada 3 (tiga) kesulitan pekerja muda ketika
mencari pekerjaan, pertama, persaingan di antara para pencari kerja. Kedua, ketidak sesuaian antara

II-20

pendidikan dengan pekerjaan yang dikehendaki. Ketiga, keterbatasan keterampilan. Alasan tersebut
diduga ikut mendorong pekerja muda lebih aktif di sektor informal.
Tingginya rasio pengangguran kaum muda dibandingkan jumlah pengangguran secara keseluruhan
mencerminkan betapa sulitnya para pencari kerja muda mendapatkan pekerjaan.
Idealnya Kaum Muda itu sedang belajar atau bekerja yang baik, namun kenyataannya sering tidak
sekolah dan/atau sekaligus tidak bekerja yang baik. Mereka menyebut situasi yang dihadapi itu
sebagai galau yang memrupakan suatu kondisi psikologis yang sangat tidak nyaman. Ditambah
dengan situasi lingkungan sosial seperti saat ini, jadilah Kaum Muda berada pada kondisi tertekan
yang sangat berat. Yang mengkhawatirkan adalah dampak negatif ikutannya. Disini, ada 2 (dua) hal
yang disoroti, yaitu masalah kesehatan reproduksi dan kepungan persoalan penyalahgunaan obat
terlarang.
Dalam hal kesehatan reproduksi, perkawinan usia-muda dan pengetahuan tentang reproduksi dan
kesehatan reproduksi menjadi topik penting Kaum Muda. Meskipun usia perkawinan yang terlalu
muda sudah semakin banyak tidak terjadi, namun pengetahuan tentang reproduksi dan kesehatan
reproduksi tetap perlu senantiasa diberikan kepada Kaum Muda dengan cara yang sesuai dengan
mereka. Sejak tahun 2000, kesehatan reproduksi remaja menjadi program nasional yang bertujuan
untuk mempersiapkan Kaum Muda supaya bertanggungjawab terhada perilakunya dalam kesehatan
reproduksi, termasuk merencanakan usia menikah. Target yang harus dikejar adalah menurunkan
atau meminimalkan unmet need Kaum Muda terutama yang melakukan hubungan seksual pra-nikah
dan terlanjur hamil. Adanya berbagai hambatan sosial tentang hal itu menyebabkan upaya
pembekalan kepada Kaum Muda memerlukan usaha ekstra kreatif.
Dalam hal penyalahgunaan obat, perilaku Kaum Muda diawali dengan semakin maraknya Kaum
Muda yang terpapar dengan perilaku merokok. Ini karena merokok dianggap sebagai pintu masuk
paling mudah untuk menjadi pengguna narkoba. Prevalensi perokok aktif semakin bertambah, dan
usia perokok pemula juga semakin muda. Selama 1995-2007 telah terjadi kenaikan 6 kali lipat perokok
berusia kurang dari 10 tahun. Karena itu, Indonesia satu-satunya negara di dunia yang disebut
sebagai baby smoker karena rata-rata perokok anak di Indonesia menghabiskan 40 batang rokok
perhari. Meskipun berbagai pendekatan dan aturan formal telah dibuat tetapi lingkungan sosial
permisif terhadap kebiasaan Kaum Muda merokok ini.
Narkoba lebih jahat dari terorisme, karena korbannya bagikan fenomena gunung es, kedalaman dan
berkelanjutannya tidak terdeteksi. Orang kaya, miskin, penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi
sampai artis bisa terkena narkoba. Akan lebih cilaka jika perilaku ini menyergap golongan miskin
maka sangat mungkin perilaku kriminal pada akhirnya menjebak mereka. Satu hal yang pasti, sorga
narkoba di Kampung Ambon, Jakarta Barat, yang menyediakan beragam jenis narkoba bak warung
makan yang menjajakan dagangan secara terbuka selama 24 jam tidak pernah bisa dibersihkan.
Padahal, masalah Narkoba telah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Walaupun, pencatatan
kasus narkoba memang tidak mudah, yang pasti dewasa ini korbannya mencapai lebih dari 5 juta jiwa
yang menyeruak di seantero wilayah nusantara. Di kalangan pelajar, jumlah penggunanya mencapai
921.695 orang. Pengguna yang akhirnya meninggal di tahun 2012 mencapai rata-rata 50 orang per

II-21

hari. Bahkan, perdagangan narkoba telah menyusup ke Kaum Muda berusia 7-8 tahun dengan
ditemukannya penggunaan ganja dan ngelem.
Memang terlalu banyak penyebab Kaum Muda sampai terlibat pada penyalahgunaan narkoba. Yang
jelas, anak sekolah dan mahasiswa ternyata merupakan kelompok pengguna terbanyak. Semua ini
karena minimnya pengawasan dan pencegahan yang dilakukan kepolisian pada lingkungan skolah
dan kampus. Kondisi semakin buruk dengan banyaknya pecandu yang meninggal karena over dosis
narkoba suntik dengan penggunaan jarum suntik secara bergantian, sehingga menjadi jalan untuk
virus hepatitis dan HIV bersarang.
Pada tahun 2015, diperkirakan pengguna narkoba di Indonesia akan mencapai 5,1 juta orang. (Pada
saat yang sama, Bank Dunia memperkirakan satu miliar orang yang miskin ekstrim). Padahal, Sampai
sekarang belum ada satupun terapi penanggulangan kecanduan narkoba yang terbukti afektif
mengobati semua pecandu narkoba. Metode pengobatan yang ada memakan waktu lama, proses
yang rumit dan membutuhkan biaya yang mahal.
Kepedulian masyarakat terhadap narkoba juga belum terbentuk dengan baik sehingga upaya
pencegahannya tidak sebanding dengan laju penyebaran narkoba yang melibatkan metoda dan
jaringan yang makin rumit. Tak jarang diketahui penjahat narkoba divonis bebas di pengadilan.
Bahkan, publik mencatat beberapa kali gembong narkoba mendapat grasi. Sungguh ironis.
Apapun alasan dan latar belakang maraknya perdagangan narkoba dan obat terlarang tersebut, yang
jelas Kaum Muda kita terancam olehnya. Sungguh memprihatinkan dan menyedihkan.
Sesungguhnyalah, Kaum Muda merupakan modal bangsa saat ini dan harta kebanggan di masa
depan. Karena itu, kepada mereka harus diberikan hak-hak dasarnya berupa pendidikan,
keselamatan fisik, perlindungan sosial, bermain dan rekreasi supaya dapat melanjutkan bersekolah
dan hidup dengan layak. Semua itu dilakukan dalam rangka menyiapkan mereka bertanggung jawab
untuk hidup mandiri yang berkualitas, tanggap sosial dan mampu bekerja sama sekaligus berperilaku
baik. Fokus kebujakan yang harus dilakukan adalah menciptakan lingkungan sosial yang mampu
memaksimalkan dukungan untuk terciptanya usaha bersama dalam memberikan hak-hak dasar Kaum
Muda tersebut.

Tujuan Pembelajaran
1.

Kompetensi Dasar:
Setelah mengikuti materi kaum muda di Indonesia ini, peserta diharapkan mampu
mempraktikkan penyampaian materi Kaum Muda di Indonesia.

2.

Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari materi kaum muda di Indonesia ini, diharapkan peserta mampu:
a. Memahami konsep dasar kaum muda
b. Menjelaskan status dan kondisi kaum muda yang jumlahnya semakin meningkat.
c. Menjelaskan konsekuensi dari meningkatnya kaum muda

II-22

d.
e.

Menjelaskan kebijakan dan program yang diperlukan untuk memaksimalkan potensi


kaum muda
Mempraktikkan penyampaian materi kaum muda di Indonesia.

Tujuan Khusus
Materi dasar yang dikembangkan sedikitnya akan meliputi isu-isu sebagai berikut:
Isu Pokok

Pengertian Tentang Orang Muda

Cakupan

Isu utama yang perlu disajikan disini adalah mengenai konsep dasar
tentang orang muda. Apa sesungguhnya yang dimaksud orang
muda oleh BKKBN.
Kejelasan tentang konsep ini diperlukan untuk menghidari kerancuan
batasan pengertian yang digunakan di kelompok masyarakat lain di
Indonesia yang juga berkait dan bersinggungan dengan orang
muda tersebut

Isu Pokok

Status Orang Muda Saat Ini dan Proyeksinya

Cakupan

Membahas jumlah, persentase, sebaran, kualitas, kesejahteraan per


pulau, per propinsi, dsb., yang digunakan sebagai informasi dasar
untuk memahami orang muda tersebut.
Orientasi historis mengenai perkembangan dan proyeksinya kedepan
memperjelas pentingnya keberadaan dan peranan orang muda dari
masa ke masa.

Isu Pokok

Tantangan Yang Dihadapi Orang Muda

Cakupan

Membahas mengenai berbagai persoalan yang dihadapi oleh orang


muda untuk memahami kondisi riil orang muda.
Selain membahas tentang persoalan fasilitas dan kesejahteraan,
unsur penting yang perlu secara kritis diungkapkan adalah berkaitan
dengan masalah-masalah yang menghambat orang muda untuk
dapat memaksimalkan potensinya

Isu Pokok

Kebijakan dan Program untuk Memaksimalkan Potensi Orang Muda

Cakupan

Kebijakan yang akan merekayasa status dan kondisi dasar serta


memaksimalkan potensi orang muda yang disusun dengan didasari
oleh respons kritis terhadap situasi logis-dinamis orang muda dan
orientasi yang ingin dicapai di masa mendatang.
Kebijakan tersebut perlu diuraikan dalam bentuk program aksi yang
secara langsung akan diselenggarakan oleh pemerintah, bekerjasama
dengan lembaga non-pemerintah maupun lembaga non pemerintah

II-23

Aktifitas Pelatihan
Pelatihan untuk materi ini dipersiapkan seama 90 menit, dengan urutan kegiatan sebagai berikut.
Berisi uraian tentang materi orang muda yang akan disampaikan
dalam sesi ini.
05 Menit
Pendahu-luan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file diterangkan cara


menggunakan dan kegunaannya.
Informasi lain yang dianggap penting, jika ada

05 Menit
Pengertian

Uraian verbal yang berkaitan tentang orang muda yang akan


digunakan dalam diseminasi informasi, sejak waktu diseminasi hingga
pelaksanaan di lapangan.
Persamaan dan perbedaan mengenai pengertian ini disebutkan dan
diuraikan secara jelas dan tegas.
Uraian verbal mengenai:

25 Menit
Status

jumlah,

persentase (proporsi terhadap total),

sebaran,

kualitas,

kesejahteraan per pulau, per propinsi,


untuk disepakati dan difahami sebagai informasi dasar memahami
orang muda. Aspek penting mengenai jumlah, persentase, sebaran,
kualitas, kesejahteraan diberikan tekanan/garis bawah dan dibahas
menjadi salah satu isu sentral pembahasan topik orang muda.
Uraian verbal mengenai pengalaman masa lalu dari orang muda
dikaitkan dengan uraian verbal mengenai informasi dasar tersebut
diatas. Unsur positif dan negatif dari pengalaman tersebut diberi
penekanan memadai. Perkiraan dan proyeksi ke depan diuraikan dan
diberi penekanan dalam segi positif dan negatifnya; terutama
berkaitan dengan upaya memaksimalkan peran orang muda di masa
mendatang.
Uraian verbal mengenai berbagai tantangan yang dihadapi orang
muda dalam mengaktualisasikan dirinya, saat kini dan potensinya di
masa mendatang.

25 Menit
Tantangan Yang Dihadapi

Disamping aspek positif dari segi kuantitas, aspek negatif juga perlu
diberikan perhatian. Terutama yang berkaitan dengan dimensi
kualitas orang muda.
Kualitas orang muda yang patut mendapat perhatian adalah yang
berkaitan dengan kualitas fisik dan emosi yang akan menentukan
karakter orang muda ketika mengaktualisasikan dirinya dalam

II-24

pembangunan bangsanya.

Uraian verbal berbagai kebijakan yang dimaksudkan untuk


mengurangi, dan menghilangkan bila mungkin, hambatan yang
dihadapi orang muda untuk menjadi orang muda yang terampil
sekaigus berkarakter.
10 Menit
Kebijakan dan Program

Program-program turunan kebijakan tersebut diarahkan sesuai skala


proritas terhadap masalah orang muda yang sudah diidentifikasikan
pada bagian sebelumnya. Perlu mendapat perhatian disini adalah
bahwa program yang diuraikan tidak semuanya harus menjadi
tanggung jawab pemerintah sebagai pelaksana teknisnya. Beberapa
program dapat dilakukan secara simbiosis dengan lembaga non
pemerintah, atau bahkan sepenuhnya dilakukan oleh lembaga non
pemerintah.
Merupakan alokasi waktu yang digunakan untuk memperjelas dan
mendiskusikan materi tentang orang muda yang sedang disajikan.

20 Menit
Tanya-Jawab

Selain disiapkan di bagian akhir diseminasi, tanya-jawab serta diskusi


dapat dilaksanakan di tengah-tengah acara diseminasi. Namun, perlu
dicatat bahwa waktu yang direncanakan/disediakan berkisar pada
jangka waktu tersebut.

Materi Pelatihan
Berikut adalah beberapa materi yang perlu dipersiapkan menjelang dan ketika pelatihan dan/atau
diseminasi informasi dilakukan:
Menjelang

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas dalam
CD-ROM atau flash-disk.
Materi yang dipergunakan sebagai bahan diseminasi berbentuk
makalah dan bahan penyajian materi diseminasi di depan kelas.
Materi pendukung lain yang diperlukan, jika ada

Saat Pelaksanaan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas dalam
CD-ROM atau flash-disk.
Komputer atau lap top untuk menyajikan materi diseminasi
Alat Sorot
Layar Penampil Sorot
Papan Tulis Putih
Pena Tulis Papan Tulis Putih
Alat Tulis Menulis
Perkakas Pelantang

II-25

Penduduk Usia Produktif dan Ketenagakerjaan


Pengantar
Pada rentang daur hidup manusia terdapat penduduk usia produktif, yaitu yang berusia 15-64 tahun.
Mereka menjalani pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, atau mengurus rumah tangga. Menurut
definisi, mereka yang mencari pekerjaan dan sedang bekerja sebagai kegiatan utamanya selama
seminggu yang lalu termasuk kedalam angkatan kerja. Mereka yang bekerja, setidaknya 1 jam selama
seminggu yang lalu, adalah tenaga kerja. Sementara penganggur adalah mereka yang sedang
mencari pekerjaan atau masa transisi pindah pekerjaan atau baru saja selesai sekolah dan sedang
mencari pekerjaan. Ini termasuk yang bekerja yang di bawah jam kerja atau penghasilannya di bawah
kebutuhan hidup. Seingga terdapat kelompok penganggur dan kelompok yang bekerja kurang
penuh. Mereka yang berada pada usia produktif menjadi sasaran disiapkan supaya mereka
mendapatkan manfaat dari proses pembangunan. Ketika tidak ada sentuhan, maka kelompok ini
akan menjadi beban dalam proses pembangunan.
Badan antariksa amerika serikat, NASA, yang membuat kajian dengan melihat India sebagai daerah
kajian di awal tahun 1960an menemukan bahwa pertumbuhan penduduk menghalangi
pembangunan. Rekomendasi hasil kajian itu menyarankan negara berkembang untuk masuk kepada
rezim anti natalis. Rezim pembangunan dimana petumbuhan penduduk mesti dikendalikan melalui
pengurangan kelahiran, program keluarga berencana, memajukan pendidikan wanita dan ekonomi
keluarga.
Indonesia sangat jelas menggunakan cara pandang itu yang dimulai ketika profesor Wojoyo
Nitisastro menjadi ketua Bappenas sejak Pelita II, tahun 1974. Ketika itu persoalan kependudukan
terintegrasi ke dalam perencanaan pembangunan. Pada awalnya Jawa dan Bali dijadikan sebagai
prioritas program KB nasional. Kemudian dilanjutkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan
Nusatenggara. Intensifnya kebijakan keluarga berencana di Indonesia telah menyebabkan transisi
demografi begitu cepat di Indonesia. Angka kelahiran Jawa dan Bali telah turun lebih cepat dari
perkiraan. Sementara Sumatra dan daerah lain mengikutinya. Proses ini berlanjut dan berakhir
menjelang kejatuhan Soeharto.
Semenjak zaman reformasi, sepertinya aspek kependudukan kehilangan petunjuk dan arah.
Nampaknya berbalik kepada rezim pro-natalis atau setidaknya berlawanan dengan anti-natalis.
Hal ini tertampak dari target angka TFR pada tahun 2015 sebesar 2,1 per wanita dipastikan tidak akan
tercapai. Dari hasil SDKI mutakhir menunjukkan bahwa angka kelahiran telah mengalami kenaikan
dari 2,4 per wanita menjadi 2,6 per wanita. Temuan ini sejalan dengan hasil sensus penduduk 2010,
dimana jumlah penduduk Indonesia melebihi dari perkiraan yang ditetapkan sebelumnya.
Bonus demografi adalah masa yang ketika itu terjadi angka beban ketergantungan penduduk usia
produktif dengan penduduk usia tidak produktif paling rendah. Artinya, setiap penduduk usia kerja
menanggung sedikit penduduk usia tidak produktif. Konsekwensi ikutan dari kondisi ini adalah

III-26

meningkatnya poyensi tabungan nasonal yang pada gilirannya meingkatkan investasi dan
pertumbuhan ekonomi.
Bonus demografi ini bisa menjadi bencana demografi ketika penduduk usia produktif tersebut
tidak memiliki pendidikan yang memadai dan tidak memperoleh keterampilan yang cukup. Karena
penduduk usia produktif akan menjadi penganggur, dengan segala konsekwensinya.
Untuk itu diperlukan antisipasi kebutuhan mereka. Pertama, perlu disediakan pendidikan yang
memadai agar mereka dapat meningkatkan ilmu an keterampilannya ketika memasuki pasar tenaga
kerja. Kedua, dalam rangka memberdayakan mereka, perlu disediakan lembaga keterampilan kerja
serta informasi lapangan kerja sehingga memudahkan mereka masuk ke pasar tenaga kerja. Ketiga,
upaya untuk meningkatkan partisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif, dan sosial sehingga
memperbanyak kelompok produktif yang dapat menyumbangkan tenaganya dalam kegiatan
produksi barang dan jasa.
Persoalan tenaga kerja tercermin dalam angka pengangguran. Untuk penganguran terbuka selama
periode 2009-2012 telah terjadi penurunan dari 7,9 persen menjadi 6,3 persen. Diperkiraan akan terus
menurun hingga tahun 2015. Jumlah penganggur dapat dikendalikan sebanyak 7,7 juta orang di
tahun 2011. Namun, jumlah penduduk yang bekerja paruh waktu meningkat dari 16,2 juta orang di
tahun 2009 menjadi 21,1 juta orang pada 2011. Pada saat yang sama, mereka yang masuk ke dalam
kategori setengah pengangguran masih tinggi, yaitu pada kisaran 15,4 juta orang.
Penurunan pengangguran telah menambah jumlah angkatan kerja tidak penuh dari 31,6 juta orang
tahun 2009 menjadi 34,6 tahun 2011. Artinya jumlah angkatan kerja yang terserap pada lapangan
kerja tidak penuh bertambah sebesar 1,5 juta orang setiap tahunnya. Sehingga persoalan pasar kerja
berubah dari pengangguran terbuka menjadi setengah pengangguran. Fenomena ini menyebabkan
semakin banyaknya tenaga kerja yang produktivitas-kerjanya rendah, atau membengkaknya pekerja
dengan waktu kerja di bawah jam kerja normal. Pada gilirannya, produktivitas sebagian dari rumah
tangga menjadi rendah. Pada periode 1970-2000, kajian Bank Dunia menunjukkan laju produktifitas
tenaga kerja Indonesia lebih rendah daripada Malaysia dan Thailand.
Sejalan dengan persoalan pengangguran, juga terjajdi penurunan angka kemiskinan. Penduduk
miskin turun dari 31,02 juta (13,33 persen) di tahun 2010 menjadi 30,02 juta (12,49 persen) di tahun
2011. Laju penurunan kemiskinan di perkotaan lebih rendah daripada di pedesaaan, 0,05 juta
berbanding 0,86 juta. Meskipun angka kemiskinan menurun, tetapi menurut BPS(2012) jumlah yang
di dekat garis kemiskinan masih tinggi.
Hal ini karena mereka yang tidak bekerja di perkotaan sebesar 6,18 persen sementara pedesaan 3,78
persen. Lebih dari 71 persen penduduk miskin adalah rumah tangga pertanian. Artinya, kemiskinan di
daerah pertanian lebih tinggi dari total kemiskinan. Di tahun 2009 pekerja di sektor pertanian
sebanyak 41,4 juta kemudian menjadi 39,2 juta tahun 2012, atau 35,7 persen dari total angkatan kerja.
Susenas menunjukkan bahwa dua per tiga angka kemiskinan disumbangkan oleh rumah tangga
pertanian sisanya oleh kelompok buruh perkotaan dengan upahan rendah. Oleh karenanya sangat
diperlukan untuk mengetahui rumah tangga mana yang mengalami persoalan produktivitas rendah,
apa akar masalah dan bagaimana strategi perluasan lapangan kerjanya.

III-27

Meskipun laju pertumbuhan ekonomi berkisar 6-6,5 persen per tahun tenaga kerja tetap menjadi
masalah pembangunan. Karena pertumbuhan ekonomi setinggi itu hanya menguntungkan kelompok
tertentu, yaitu tenaga kerja upahan. Padahal, tenaga kerja yang di luar sektor upahan jumlahnya 65
persen dari total angkatan kerja.
Dengan demikian persoalan tenaga kerja yang menganggur, yang bekerja di bawah jam kerja normal,
yang informal mesti segera dicarikan jawabannya dalam rangka meningkatkan akses dan
produktivitasnya.
Dari berbagai penelitian yang mengamati fenomena skala mikro ketenaga-kerjaan menunjukkan
adanya empat kelompok rumah tangga yang paling marginal produktivitasnya, pertama, rumah
tangga nelayan, kedua, rumah tangga petani berlahan sempit, ketiga, sektor informal perkotaan,
dan, keempat, buruh kontrak. Mereka memiliki strategi bertahan yang saling berbeda. Dengan
memahami strategi bertahan mereka diharapkan akan ditemukan program strategies yang dapat
meningkatkan produktifitas mereka.
Rumah tangga nelayan adalah yang sangat rentan akan persoalan kemiskinan dan kurangnya
produktivitas kerja. Di pantai barat Sumatra, misalnya, ditemukan 82 persen yang termasuk kedalam
penduduk berpenghasilan 40 persen terendah, dan hanya 6,4 persen yang berada di kelompok 20
persen berpenghasilan tertinggi. Angka ketimpangan penghasilan yang diukur menggunakan indeks
Gini menunjukkan angka 0,54. Padahal angka untuk Indonesia berada pada rentang 0,3-0,4. Dengan
demikian, hanya dibawah 10 persen yang tergolong mampu dan mayoritas yang lain tergolong
miskin. Pertumbuhan jumlah rumah tangga kelompok nelayan diperkirakan 2,3 persen per tahun, dan
angka partisipasi kerja wanita istri nelayan sekitar 14,9 persen, berbanding dengan 35-40 persen
untuk angka nasional.
Kehidupan sosial ekonomi rumah tangga nelayan sangat tergantung pada statusnya. Nelayan miskin
umumnya adalah nelayan tradisional atau sebagai anak buah kapal, penangkap ikan. Sementara
nelayan yang kaya adalah pemilik kapal motor, atau juragan.
Pengembangan produktivitas rumah tangga nelayan diarahkan untuk meningkatkan total alokasi
waktu kerja keluarga nelayan. Akan lebih baik lagi jika dibarengi dengan peningkatan teknologi
tangkapan. Disamping itu, sejalan dengan masih rendahnya partisipasi angkatan kerja wanita nelayan
maka strategi peningkatannya diarahkan kepada suami dan istri keluarga nelayan.
Kelompok rumah tangga pertanian berlahan sempit mendominasi angka kemiskinan. Ada tiga
persoalan utama mereka, pertama, tentang skala usaha pertanian yang tidak ekonomis sehingga
hasil tidak sebanding dengan biaya. Kedua, proses pengembangan nilai tambah. Ketiga adalah
persoalan pemasaran produk pertanian.
Ciri-ciri pertanian skala kecil adalah bahwa alokasi tenaga kerja pria dan wanita relatif rendah untuk
masa-masa tertentu. Sementara itu, modernisasi pertanian justru berdampak berlebihnya waktu
kerja di sektor pertanian. Oleh karenannya orientasi perluasan lapangan kerja perlu lebih diarahkan
untuk mengoptimalkan pekerjaan tambahan yang dapat meningkatkan penghasilan rumah tangga.
Dalam hal ini, kelebihan jam kerja dapat digunakan untuk melengkapi usaha pertanian (on-farm),
seperti berternak, atau pekerjaan lain di luar pertanian, seperti pengolahan hasil pertanian dan

III-28

perdagangan (off-farm employment). Adopsi multiplikasi pekerjaan dapat dikembangkan untuk


usaha sejenis, sehingga melahirkan spesialisasi dari produksi ikutan dan efisensi. Di Taiwan dan
Jepang strategi ini ampuh mengatasi persoalan kemiskinan.
Selain peningkatan keterampilan kerja wirausaha perluasan jenis pekerjaan perlu mengarah kepada 3
hal utama, yaitu, peningkatan akses modal yang murah dan diperlukan, penguatan kelembagaan
keuangan mikro serta pendampingan agar paket pengembangan program untuk mereka berjalan
sebagaimana mestinya.
Kelompok sektor informal perkotaan yang mendominasi status pekerjaan pekerja mandiri. Keluarga
sektor informal ditandai dengan skala usaha yang relatif terbatas, dengan akumulasi modal yang
terbatas pula. Sekitar dua per tiga dari mereka masuk kedalam status diluar sistem upahan. Yang
masuk kedalam kategori ini ialah pekerja keluarga tanpa dibayar, pekerja mandiri, pekerja dengan
dibantu buruh tetap, dan pekerja bukan dibantu buruh tetap. Kelompok ini sangat tahan terhadap
goncangan eksternal, namun tetap perlu memperoleh proteksi dan pengembangan dari pemerintah.
Karena itu, status seperti ini banyak dipilih masyarakat daripada menjadi petani dengan
pertimbangan pendapatan yang dijanjikan sektor ini lebih jelas daripada sektor pertanian.
Kebutuhan keluarga sektor informal ini tergantung pada jenis pekerjaannya. Bagi yang bekerja di
sektor peningkatan nilai tambah maka usaha mengembangkan keterampilan, kualitas produksi dan
permodalan adalah kebutuhan penting. Bagi yang bekerja di sektor penjualan maka yang diperlukan
adalah jaminan tempat berusaha, sekaligus kebutuhan permodalan dan teknologi agar mereka bisa
mengembangkan diri. Untuk sektor informal perkotaan, penataan jenis usaha dan skala usaha
merupakan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Untuk buruh miskin perkotaan,
perlu diperhatikan agar mereka memperoleh akses guna meningkatkan aktivitas kerjanya.
Keterampilan, modal kerja serta institusi menjadi sasaran dari paket kebijakan peningkatan
produktivitas kerja. Untuk buruh kontrak, yang diinginkan adalah kepastian pembayaran upah tidak
tetap. Bahkan terakhir ini semakin besar keinginan untuk menjadi pekerja permanen. Tuntutan buruh
perkotaan untuk tidak dilakukan outsourcing berarti secara implisit buruh meminta kepastian status.
Artinya, tingkat kesejahteraan buruh saat ini memerlukan perbaikan. Pemerintah tentu saja
menghadapi dilema karena outsourcing adalah bagian dari fenomena sistem pemanfaatan pekerja.
Untuk itu, ada tiga sasaran program kompensasi kepada akses pekerjaan para istri buruh kontrak,
yaitu, meningkatkan akses dan keterampilan, akses modal kerja, dan pengembangan institusi.
Upaya untuk meningkatkan mutu tenaga kerja dilakukan kepada yang berpendidikan tinggi sekaligus
bagi yang pendidikan menengah. Berdasarkan data yang ada, di tahun 2010 terdapat 7,5 persen
angkatan kerja yang berpendidikan Diploma keatas. Sampai tahun 2025 angkanya diperkirakan
mencapai 16 persen dari seluruh tenaga kerja. Sementara itu, tenaga kerja berpendidikan menengah
mendominasi pasokan tenaga kerja terdidik. Proporsinya meningkat dari 14,7 persen menjadi 20
persen. Sementara tenaga kerja yang hanya menamatkan sekolah dasar akan turun dari 50,4 persen
di tahun 2010 menjadi 30 persen.
Krisis ekonomi di eropa saat ini telah membuat angka pengangguran tertinggi di abad ke 21, seperti
di Italia, Spanyol dan Yunani, angka pengangguran terdidik usia muda sudah diatas 55 persen. Hingga
kini belum ada tanda menurun. Penganguran di negara yang pasarkerjanya formal serta
pemerintahnya menganut negara kesejahteraan, persoalannya jauh lebih berat dibandingkan dengan

III-29

pengangguran terbuka di negara berkembang. Masyarakat disana terbiasa dimanjakan oleh sistem
kompensasi pengangguran. Dan, ditambah dengan ketatnya regulasi, pekerjaan non formal sulit
ditumbuhkan sehingga masyarakatnya tidak terbiasa masuk ke pasar kerja diluar sistem upahan.
Sebaliknya, seperti di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi 6-6,5 persen, angka pengangguran
terbukanya menurun dari sekitar 9 persen di tahun 2007 menjadi sekitar 6 persen di tahun 2012.
Namun, walaupun angka pengangguran terbukanya rendah tapi angka pengangguran terdidik dari
kalangan muda tetap menghawatirkan. Menurut Susenas, sarjana jurusan sains dasar dan ilmu
pertanian, serta jurusan sosial seperti hukum, keagamaan dan sastra, angka pengaggurannya sudah
diatas 30 persen. Hanya sarjana jurusan seperti IT, akuntansi dan bisnis yang angkanya dibawah 10
persen. Pengangguran lulusan SLTA juga masih tinggi, walaupun tamatan sekolah kejuruan.
Pengangguran terbuka anak muda ini diperparah dengan kenyataan bahwa mereka yang bekerja pun
masih rendah jam kerjanya. Jika digabung antara pengangguran dan yang bekerja di bawah jam kerja
normal (dibawah 15 jam per minggu), maka pengangguran terselubung anak muda terdidik
merupakan fenomena sangat serius di masa mendatang.
Kebijakan Gubernur DKI Jakarta menaikkan UMP menjadi Rp2.2 juta menimbulkan pro kontra. Para
pekerja dan serikat buruh merasa diuntungkan. Di sisi lain, para pengusaha menilai kebijakan ini
sangat memberatkan. Para akademisi pun ikut terbelah dalam menilai kebijakan ini. Yang setuju,
menganggap kebijakan ini akan meningkatkan standar hidup kelompok masyarakat miskin. Pada
gilirannya, kenaikan upah diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kemampuan pekerja.
Yang kontra, mengatakan bahwa kebijakan ini akan merugikan usaha kecil yang tidak mampu
membayar pekerjanya lebih tinggi. Kenaikan upah juga diperkirakan akan menaikkan harga sebagai
imbas dari kenaikan upah.
Isu upah minimum telah menjadi perdebatan global sejak pertama kali diperkenalkan tahun 1894 di
Selandia Baru. Terakhir majalah The Economist (24 November 2012) memuat satu artikel mengenai
kebijakan ini yang menyatakan bahwa kebijakan upah minimum secara moderat bisa memberikan
manfaat. Sebagai contoh, kenaikan upah minimum di restoran cepat-saji di New Jersey dan
Pennsylvania, Amerika Serikat, ternyata justru menaikkan jumlah pekerja. Ini berbeda dengan teori
ekonomi yang menyatakan sebaliknya. Namun, penelitian lain menemukan bahwa kenaikan terhadap
upah minimum memberikan dampak yang sangat buruk bagi tingkat pengangguran.
Dari sisi ekonomi kenaikan upah minimum menjadi insentif bagi para pekerja untuk masuk ke dalam
pasar tenaga kerja sehingga meningkatkan pasokan pekerja. Sementara itu, kenaikan upah
meningkatkan biaya perusahaan sehingga permintaan pekerja harus mengurangi. Karena pasokan
pekerja lebih besar daripada kemampuan perusahaan untuk mempekerjakannya maka timbullah
kelebihan jumlah pekerja. Mereka ini disebut sebagai penganggur. Inilah yang melandasi banyak
akademisi menentang kebijakan kenaikan upah. Dari sisi pekerjanya sendiri, kebijakan kenaikan upah
minimum akan merugikan pekerja yang tidak terampil karena perusahaan hanya akan
mempekerjakan yang terampil sesuai dengan biaya yang dikeluarkan.
Realita inilah yang menjadi ketakutan banyak pihak. Imbas kenaikan upah minimum di perkotaan
tidak hanya meningkatkan kemungkinan bertambahnya pengangguran, tapi sekaligus menjadi pintu

III-30

masuk masyarakat pedesaan untuk mencoba peruntungan di perkotaan sehingga tentu menambah
jumlah penduduk perkotaan.
Kebijakan upah minimum yang dilakukan oleh Inggris bisa menjadi contoh yang baik jika ingin tetap
melakukan kebijakan upah minimum. Kebijakan yang diterapkan melakukan pendekatan yang
berbeda kepada pekerja senior dan pekerja muda. Pekerja muda mendapatkan upah minimum yang
lebih rendah daripada pekerja senior. Perbedaan ini disesuaikan setiap tahun sehingga akhirnya
pekerja muda memiliki upah minimum yang sama dengan pekerja senior. Pada saat ini, dampak dari
kebijakan upah minimum terhadap pengangguran tidak terlalu besar.
Dampak paling mencolok dari kebijakan ini adalah penyebaran upah yang mampu meningkatkan
pendapatan dan mengurangi kesenjangan. Kesenjangan di Inggris telah menurun drastis sejak tahun
1990an. Pihak yang paling diuntungkan adalah perempuan sehingga pendapatannya tidak terlalu
jauh dibandingkan dengan pekerja laki-laki. Pihak lain yang diuntungkan adalah pekerja yang selama
ini memperoleh pendapatan sangat rendah.
Adalah tugas pembuat kebijakan untuk memastikan kebijakannya tidak menimbulkan efek negatif
bagi pasar tenaga kerja. Ini menjadi sangat penting mengingat pasar tenaga kerja kita sangat besar
dengan jumlah pekerja muda yang semakin besar dan harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Kebijakan yang mengutamakan pada kesejahteraan tenaga kerja adalah konsekwensi logis tuntutan
buruh. Dari struktur pasar kerja Indonesia memperlihatkan 40 persen tenaga kerja terikat dengan
upah. Sisanya pekerja di luar sektor upahan, berupa self employed dan unpaid family worker.
Kelompok pekerja tersebut tentunya tidak masuk ke dalam prioritas tersebut. Secara empiris, buruh
yang ikut anggota perserikatan relatif memiliki kesejahteraan lebih baik daripada yang bukan
anggota. Namun yang diantisipasi adalah kualitas dari tuntutan buruh yang mengarah kepada
ketidakstabilan proses kerja pada industri.
Akumulasi masalah lain juga terlihat. Jika angka pengangguran terbuka menurun, angka pekerja
tidak tetap menunjukan kenaikan misalnya 16,7 persen di tahun 2009 menjadi 21,1 persen di tahun
2011. Jadi secara implicit, menurunnya angka pengangguran sebenarnya menaikkan jumlah pekerja
tidak tetap. Kelompok ini tidak sama dengan buruh, kelompok ini masuk ke dalam kelompok pekerja
inklusif.
Kenapa daya serap ekonomi menggeser pola pemanfaatan tenaga kerja? Setidaknya beberapa
argumentasi dapat dijelaskan.
Pertama adalah tenaga kerja yang ada sekarang masuk dalam kategori tenaga kerja tidak terampil
atau separuh terampil. Komposisi tenaga kerja tidak terampil ini 49,3 persennya hanya tamat sekolah
dasar. Pada pasar kerja berpendidikan rendah ditandai dengan upah yang rendah. Akan tetapi saat
serikat pekerja makin meningkat intensitas perjuangannya, muncul persoalan ikutan berupa tuntutan
kenaikan upah. Bahkan terakhir ini semakin intensif tuntutan untuk menjadikan buruh kontrak
menjadi buruh permanen. Tarik menarik situasi pasar kerja akan semakin marak pada masa
mendatang.
Kedua adalah tidak meratanya daya tarik investasi antar daerah. Permintaan tenaga kerja murah
sangat tinggi di daerah kawasan industry yang terkonsentrasi di sekitar Jabodetabek atau

III-31

Gerbangkertasila Jawa Timur. Arah investasi selama ini berdampak semakin tingginya mobilitas
tenaga kerja. Daerah tujuan tenaga kerja kasar ditandai dengan tingkat pengangguran impor
terbuka yang relatif tinggi. Sebenarnya Indonesia membutuhkan pemerataan investasi supaya terjadi
perluasan lapangan kerja sekaligus pemerataan hasil pembangunan.
Ketiga, kemajuan ekonomi umumnya didukung oleh teknologi yang semakin tinggi yang pada
gilirannya membutuhkan pekerja terampil. Pasokan tenaga terampil ini seringkali tidak mampu
dipenuhi dari dalam negeri sehingga diisi oleh tenaga kerja asing.
Keempat dari sisi pasokan tenaga kerja, semakin tahun semakin banyak pencari kerja muda yang
berpendidikan menengah dan tingg. Diperkirakan para tamatan pendidikan tinggi tidak siap
memasuki dunia kerja. Susenas memperlihatkan bahwa menjelang tahun 2010 angka pengangguran
pencari kerja terdidik telah mencapai 20 sampai 40 persen, tergantung bidang dan jenis keilmuan
yang dimiliki.
Investasi berpotensi memperluas lapangan kerja. Pemerintah perlu memperbaiki kualitas penawaran
tenaga kerja. Ada tiga pendekatan yang perlu dilakukan. Pertama, mengintensifkan upaya untuk
membekali tenaga kerja menjadi berketrampilan. Program pengembangan kelembagaan
keterampilan menjadi sangat perlu pada masa yang akan datang. Tugas ini semestinya bisa dilakukan
oleh dinas tenaga kerja daerah.
Kedua, pemerintah semestinya tidak hanya fokus mengelola peningkatan upah minimum. Karena
setiap kenaikan upah minimum akan berdampak pada semakin berkurang penggunaan tenaga kerja
yang tidak terampil akibat pengusaha berusaha menggantikan tenaga kerja dengan teknologi.
Elastisitas kenaikan upah ini besarnya sekitar -0,1 persen. Artinya, setiap kenaikan 10 persen upah
minimum akan menurunkan penggunaan tenaga kerja sebesar 1 persen.
Ketiga, memastikan informasi pasar kerja dapat diketahui secara luas oleh pencari kerja. Semakin
banyak penawaran lapangan kerja akan menurunkan pengangguran; terutama di pasar kerja formal.
Banyak hasil kajian yang konsisten dengan hal ini Dewasa ini pasar kerja formal domestik berada
pada kisaran 40 persen. Sebaiknya hal ini menjadi target pemerintah untuk meningkatkan karena
semakin besar proporsi angkatan kerja upahan akan makin menstabilkan pasar kerja.
Keempat, pemerintah perlu lebih fokus untuk meningkatkan mutu pasokan tenaga kerja yang di luar
sistem pasar kerja formal. Selama ini pekerja informal masih belum banyak mendapatkan perhatian
dan sentuhan. Dalam kasus seperti ini, maka setiap daerah memerlukan peta jalan yang jelas
bagaimana meningkatkan keberadaan dari pasar kerja informal. Tanpa ini dilakukan, maka
pengangguran terbuka sebenarnya menunggu efek negatif ikutannya.

Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar:
Setelah mengikuti materi penduduk usia lanjut di Indonesia ini, peserta diharapkan mampu
mempraktikkan penyampaian materi penduduk usia lanjut di Indonesia.

III-32

2. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari materi penduduk usia lanjut di Indonesia ini, diharapkan peserta mampu:
a. Memahami konsep dasar penduduk usia produktif
b. Menjelaskan status dan kondisi penduduk usia produktif yang jumlahnya semakin
meningkat.
c. Menjelaskan konsekuensi dari kondisi meningkatnya penduduk usia produktif
d. Menjelaskan kebijakan dan program yang diperlukan untuk mempertahankan produktivitas
penduduk
e. Menjelaskan kontribusi apa yang bisa dilakukan untuk mendukung penduduk usia produktif
f.
Mempraktikkan penyampaian materi penduduk usia lanjut di Indonesia.

Tujuan Khusus
Materi dasar yang dikembangkan sedikitnya akan meliputi isu-isu sebagai berikut:
Isu Pokok
Cakupan

Pengertian Tentang Penduduk Usia Produktif dan Ketenagakerjaan


Isu utama yang perlu disajikan disini adalah mengenai konsep dasar
tentang penduduk usia produktif dan ketenagakerjaan. Apa
sesungguhnya yang dimaksud sebagai penduduk usia produktif dan
ketenagakerjaan oleh BKKBN.
Kejelasan tentang konsep ini diperlukan untuk menghidari kerancuan
batasan pengertian yang digunakan di kelompok masyarakat lain di
Indonesia yang juga berkait dan bersinggungan dengan penduduk
usia produktif dan ketenagakerjaan tersebut

Isu Pokok
Cakupan

Status Penduduk Usia Produktif & Ketenagakerjaan dan Proyeksinya


Membahas jumlah, persentase, sebaran, kualitas, kesejahteraan per
pulau, per propinsi, dsb., yang digunakan sebagai informasi dasar
untuk memahami penduduk usia produktif dan ketenagakerjaan
tersebut.
Proyeksi penduduk usia produktif dan ketenagakerjaan kedepan
memperjelas pentingnya keberadaan dan peranan mereka masa
mendatang.

Isu Pokok

Sumbangan Perubahan Struktur Penduduk Terhadap Ekonomi


Nasional dan Tingkat Kesejahteraan
Membahas secara kritis mengenai kontribusi perubahan struktur
penduduk terhadap perekonomian nasional dan tingkat
kesejahteraan masyarakat.
Besarnya proporsi penduduk usia produktif memberikan dampak
positif dalam bentuk bonus demografi dan window of opportunity
sekaligus negatif sebagai beban perekonomian dan sosial lainnya.
Kedua dampak ini penting dibahas demi melihat peran dan
pengaruhnya dalam pembangunan nasional.

Cakupan

III-33

Isu Pokok
Cakupan

Kebijakan dan Program Untuk Menjadikan Penduduk Usia Produktif


Menjadi SDM yang Handal dan Berkualitas
Kebijakan yang akan merekayasa status dan kondisi dasar serta
menjadikan penduduk usia produktif menjadi SDM yang handal dan
berkualitas yang disusun dengan didasari oleh respons kritis terhadap
situasi logis-dinamis orang muda dan orientasi yang ingin dicapai di
masa mendatang.
Kebijakan tersebut perlu diuraikan dalam bentuk program aksi yang
secara langsung akan diselenggarakan oleh pemerintah, bekerjasama
dengan lembaga non-pemerintah maupun lembaga non pemerintah

Aktifitas Pelatihan
Pelatihan untuk materi ini dipersiapkan seama 90 menit, dengan urutan kegiatan sebagai berikut.

05 Menit
Pendahu-luan

Berisi uraian tentang materi penduduk usia produktif dan


ketenagakerjaan yang akan disampaikan dalam sesi ini.
Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file diterangkan cara
menggunakan dan kegunaannya.
Informasi lain yang dianggap penting, jika ada

05 Menit
Pengertian

Uraian verbal yang berkaitan tentang penduduk usia produktif dan


ketenagakerjaan yang akan digunakan dalam diseminasi informasi,
sejak waktu diseminasi hingga pelaksanaan di lapangan.
Persamaan dan perbedaan mengenai pengertian ini disebutkan dan
diuraikan secara jelas dan tegas.
Uraian verbal mengenai:

25 Menit
Status

jumlah,

persentase (proporsi terhadap total),

sebaran,

kualitas,

kesejahteraan per pulau, per propinsi,


untuk disepakati dan difahami sebagai informasi dasar memahami
topik mengenai penduduk usia produktif dan ketenagakerjaan. Aspek
penting mengenai jumlah, persentase, sebaran, kualitas,
kesejahteraan diberikan tekanan/garis bawah dan dibahas menjadi
salah satu isu sentral pembahasan topik penduduk usia produktif dan
ketenagakerjaan.
Uraian verbal mengenai pengalaman masa lalu dari penduduk usia
produktif dan ketenagakerjaan dikaitkan dengan uraian verbal
mengenai informasi dasar tersebut diatas. Unsur positif dan negatif
dari pengalaman tersebut diberi penekanan memadai. Perkiraan dan
proyeksi ke depan diuraikan dan diberi penekanan dalam segi positif
dan negatifnya; terutama berkaitan dengan upaya memaksimalkan
peranan penduduk usia produktif dan ketenagakerjaan bagi

III-34

pembangunan nasional di masa mendatang.


25 Menit
Perubahan Struktur
Penduduk

Uraian verbal mengenai perubahan penduduk usia produktif dan


ketenagakerjaan dan berbagai dampaknya terhadap perekonomian
dan kesejahteraan saat kini dan potensinya di masa mendatang.

10 Menit
Kebijakan dan Program

Uraian verbal berbagai kebijakan yang dimaksudkan untuk


mengurangi, dan menghilangkan bila mungkin, hambatan kepada
penduduk usia produktif dan ketenagakerjaan untuk berkontrbusi
positif kepada pembangunan bangsa.
Program-program turunan kebijakan tersebut diarahkan sesuai skala
proritas terhadap masalah penduduk usia produktif dan
ketenagakerjaan yang sudah diidentifikasikan pada bagian
sebelumnya. Perlu mendapat perhatian disini adalah bahwa program
yang diuraikan tidak semuanya harus menjadi tanggung jawab
pemerintah sebagai pelaksana teknisnya. Beberapa program dapat
dilakukan secara simbiosis dengan lembaga non pemerintah, atau
bahkan sepenuhnya dilakukan oleh lembaga non pemerintah.

20 Menit
Tanya-Jawab

Merupakan alokasi waktu yang digunakan untuk memperjelas dan


mendiskusikan materi tentang penduduk usia produktif dan
ketenagakerjaan yang sedang disajikan.
Selain disiapkan di bagian akhir diseminasi, tanya-jawab serta diskusi
dapat dilaksanakan di tengah-tengah acara diseminasi. Namun, perlu
dicatat bahwa waktu yang direncanakan/disediakan berkisar pada
jangka waktu tersebut.

Materi Pelatihan
Berikut adalah beberapa materi yang perlu dipersiapkan menjelang dan ketika pelatihan dan/atau
diseminasi informasi dilakukan:
Menjelang

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas dalam
CD-ROM atau flash-disk.
Materi yang dipergunakan sebagai bahan diseminasi berbentuk
makalah dan bahan penyajian materi diseminasi di depan kelas.
Materi pendukung lain yang diperlukan, jika ada

Saat Pelaksanaan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas dalam
CD-ROM atau flash-disk.
Komputer atau lap top untuk menyajikan materi diseminasi
Alat Sorot
Layar Penampil Sorot
Papan Tulis Putih
Pena Tulis Papan Tulis Putih
Alat Tulis Menulis
Perkakas Pelantang

III-35

Penduduk Usia Lanjut di Indonesia


Pengantar
Difinisi Lansia dan hak-haknya menurut UU No.13/1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia yang
dimaksud dengan lanjut usia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Lansia
termasuk dalam kategori penduduk rentan dilihat dari kemunduran dari segi fisik, psikologis, sosial,
eknomi dan kesehatan sehingga mereka terlindung oleh jaminan sosial. UU No.11/2009 tentang
Kesejahteraan Sosial yang diberikan dalam bentuk asuransi kesejahteraan sosial dan bantuan
langsung berkelanjutan.
Penduduk lansia dunia meningkat 3 kali selama 1950-2000, maningkat dari 205 juta jiwa menjadi 606
juta jiwa. Proyeksi di tahun 2050 akan naik 3 kali menjadi 2 miliar jiwa. Penduduk lansia usia 60 tahun
keatas Indonesia meningkat lebih cepat dari 4,95 juta jiwa di tahun 1950 menjadi 16,14 juta jiwa pada
tahun 2000 kemudian menjadi 18,04 juta jiwa di tahun 2010. Proyeksi di tahun 2050 akan mencapai
69,53 juta jiwa, naik lebih dari 4 kali lipat. Pada tahun 1950 terdapat 1 dari 16 lansia, turun menjadi 1
dari 18 penduduk di tahun 1975 kemudian naik menjadi 1 dari 13 penduduk di 2000. Pada tahun 2050,
diproyeksikan dari 1 dari 4 orang adalah lansia.
Transisi demografi, penurunan mortalitas-fertilitas, meningkatkan jumlah lansia. Di negara maju, TFR
untuk periode 1950-1955 sebesar 2,8 anak per wanita. Untuk periode 2000-2005 sebesar 1,5 anak per
wanita dan saat ini dibawah 2,1 anak per wanita, di beberapa negara bahkan 1,3 anak per wanita. Di
Indonesia, TFR untuk periode 1950-1955 adalah 5,5 anak per wanita, menjadi 2,3 anak per wanita
untuk periode 2000-2005 dan kini sampai 2050 diproyeksikan 2,1 anak per wanita.
Peningkatan angka harapan hidup (AHH) sejalan dengan penurunan angka kematian penduduk.
Angka harapan hdup usia 60 tahun keatas meningkat di periode 2000-2050. Pada tahun 2050, AHH
penduduk usia 60 tahun diproyeksikan meningkat 3,8 tahun. AHH penduduk usia 65 tahun
meningkat 3,3 tahun. AHH penduduk usia 80 tahun meningkat 1,7 tahun.
Karena alasan biologis dan sosial, terjadi gender gap, yaitu AHH wanita lebih tinggi daripada AHH lakilaki. Pada periode 1950-1955, AHH wanita lebih tinggi 1,2 tahun, pada 1975-1980 meningkat menjadi
2,5 tahun, kemudian pada 2000-2005 menjadi 4 tahun, dan untuk 2045-2050 diproyeksikan gender
gap menjadi 4,7 tahun.
Selama periode 1950-2000 perbandingan proporsi penduduk usia muda dan penduduk lansia
menurun dari 6 kali lipat menjadi 4 kali lipat. Namun pada 2010 proporsi penduduk lansia menjadi
lebih besar dari penduduk muda. Proporsi penduduk usia 0-14 tahun menurun dari 39 persen menjadi
31 persen. Penduduk usia muda juga menurun 8 persen. Sebaliknya, penduduk lansia meningkat dari
6 persen menjadi 8 persen.
Perubahan distribusi umur selama 1950-2000 terjadi secara perlahan namun 50 tahun berikutnya
diproyeksikan akan terjadi lebih cepat. Selama periode tersebut aging index meningkat setengah kali
lipat, dari 16 per 100 penduduk menjadi 25 per 100 penduduk. Pada tahun 2050 diproyeksikan menjadi

IV-36

112 per 100 penduduk. Proyeksi di negara maju pada angka 215 per 100 penduduk. Di eropa angkanya
263 per 100 penduduk. Usia median penduduk Indonesia naik 4,6 tahun, dari 20 tahun menjadi 24,6
tahun. Angka ini diatas angka dunia yang naik 3 tahun, tetapi dibawah angka negara maju yang
meningkat 8 tahun. Pada tahun 2050, angka media Indonesia diproyeksikan naik 13 tahun sehingga
umur media Indonesia menjadi 38 tahun.
Proses penuaan global karena makin cepatnya proses penuaan penduduk usia 80+ dibandingkan
kelompok lansia usia 60-79 tahun. Pada tahun 2000-2005, rata-rata pertumbuhan penduduk usia 80+
adalah 1,5 kali lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk usia 60-79 tahun.
Hasil SP-2010 menunjukkan penduduk usia 80+ telah mencapai 10 persen dari jumlah penduduk usia
60-79. Pada periode 2025-2030, diproyeksikan rata-rata pertumbuhan penduduk usia 80+ menurun
1,2 persen, namun akan naik lagi menjadi 4,8 persen pada tahun 2045-2050. Rata-rata pertumbuhan
penduduk usia 80+ mencapai 2, 8 kali lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk usia 60-79, sehingga
merubah komposisi penduduk menurut umur.
Selama periode 1950-2010, sex ratio penduduk usia 60-79 tahun menurun dari 94 menjadi 85 tahun.
Pada tahun 2050 angkanya diperkirakan akan menurun menjadi 83. Selama periode 1950-2010, sex
ratio penduduk usia 80+ menurun dari 87 menjadi 70 tahun. Pada tahun 2050 angkanya diperkirakan
akan menurun menjadi 56.
Total dependency ratio Indonesia pada periode 1950-1975 menigkat dari 75,8 persen menjadi 80,6
persen. Untuk angka dunia adalah 65 persen menjadi 74 persen. Penyebabnya karena angka fertilitas
masih tinggi tetapi angka mortalitas sudah menurun. Sejalan dengan penurunan angka fertilitas, di
tahun 2000 dependency ratio menjadi 55,2 persen. Pada tahun 2025 dan 2050 diproyeksikan menjadi
45,7 persen dan 57,1 persen. Angka di tahun 2050 hampir sama dengan angka di tahun 2000.
Meskipun demikian, di tahun 2000 mayoritas yang menjadi tanggungan adalah penduduk usia muda,
sedangkan tahun 2050 adalah penduduk lansia. Terjadi perubahan beban tanggungan penduduk usia
muda 47,7 persen dan lansia 7,5 persen menjadi 31,3 persen penduduk muda dan 25,8 persen lansia.
Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) lansia selama periode 1950-2010 telah terjadi penurunan
dari 58 persen menjadi 31 persen. Lansia wanita menurun dari 31 persen menjadi 23 persen dan lansia
laki-laki menurun dari 88 persen menjadi 40 persen. Secara umum, TPAK laki-laki leih tinggi daripada
wanita. Namun karena cepatnya penurunan TPAK laki-laki lansia menyebabkan TPAK wanita jadi
meningkat. TPAK lansia di Indonesia relatif lebih tinggi daripada di negara maju karena di Indonesia
jaminan hari tua belum merata sehingga lansia di Indonesia harus tetap bekerja untuk memenuhi
keperluan mereka.
Angka buta huruf lansia di negara maju relatif stabil di persentase rendah sedangkan di negara
sedang berkembang termasuk Indonesia terus menurun angkanya. Untuk periode 1980-2010, angka
buta huruf lansia Indonesia menurun dari 77 persen menjadi33 persen. Penurunan angka ini lebih
besar terjadi di kelompok wanita daripada di laki-laki. Pada laki-laki menurun dari 62 persen menjadi
22 persen dan pada wanita menurun dar 90 persen menjadi 42 persen. Gender gap menurun dari 28
angka menjadi 20 angka.

IV-37

Angka buta huruf meningkat sejalan dengan peningkatan kelompok umur; kelompok umur lebih tua
lebih banyak yang buta huruf. Pada tahun 2010, angka untuk lansia 70+ adalah 41 persen angka untuk
lansia 65-69 tahun adalah 32 persen dan untuk angka lansia 60-64 tahun adalah 24 persen.
Dikaitkan dengan masalah perubahan sosisal, budaya dan ekonomi, ada 3 gap yang dihadapi oleh
lansia, yaitu, kesenjangan geografis, kesenjangan sosial budaya dan kesenjangan pengelolaan
ekonomi rumahtangga.
Akibat mobilitas sosial, menyebabkan terjadi kesenjangan psikologis hubungan anak-orangtua lansia
sehingga beban pelayanan psikologis anak teralih menjadi beban pelayanan ekonomis yang
dilakukan oleh profesional.
Kesenjangan sosial-budaya mengalienasikan orangtua lansia sehingga menghilangkan hubungan erat
yang emula ada di peer-group extended family.
Kesenjangan ekonomi sejalan dengan bergesernya ukuran keluarga dari keluarga besar menjadi
keluarga inti menyebabkan sulitnya menyantuni orangtua lansia karena sumber dan fungsi suberdaya
ekonomi menyempit sesuai ukuran skala prioritas keluarga.
Kesenjangan lain sejalan dengan kemunduran kondisi fungsional organ lansia yang menyebabkan
ketidakmampuan mengurus dirinya secara mandiri sehingga lansia perlu disantuni. Dalam hal ini ad 3
isu pokok yang saling terkait, siapa yang bertanggungjawab, bagaimana prosedurnya, dan dalam
bentuk apa serta besaran santunan tersebut. Sedangkan bentuk santunannya terbagi menjadi
santunan ekonomi, sosial dan kesehatan.
Persoalan biasanya timbul pada wanita di pedesaan dan tidak bekerja yang ditinggal meninggal
suami pencari nafkahnya di saat anaknya tinggal di tempat yang jauh, sehingga perlu santunan.
Semua tanggung jawab itu tidak mungkin seluruhnya diserahkan kepada pemerintah. Karena itu,
berbagai persiapan perlu dilakukan oleh keluarga dan masyarakat untuk mengantisipasi penduduk
yang makin menua ini.
Lansia yang mengalami migrasi seumur hidup di tahun 2010 sebesar 7,56 persen dengan proporsi lakilaki lebih besar daripada wanita, 53 persen berbanding 47 persen. Keadaan sebaliknya terjadi pada
lansia usia 75+ tahun dimana wanita proporsinya lebih besar daripada laki-laki. Sementara karena
alasan penurunan fungsi tubuh, migrasi risen lansia sebesar 2 persen. Artinya, lansia cenderung tidak
mobil.
Sesuai dengan karakteristik lansia, maka kebutuhannya dibagi menjadi dua, yaitu kebutuhan fisik dan
non fisik. Kebutuhan fisik adalah kebutuhan yang terkait dengan kebutuhan dasar seperti makan,
minum, tempat tinggal serta kesehatan. Sementara kebutuhan non fisik merupakan akumulasi dari
kebutuhan sosial dan psikologis. Dengan idnetifikasi kebutuhan lansia tersebut maka semua
kebijakan mengenai lansia harus ditujukan untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut.
Berdasarkan UU No.11/2009 tentang kesejahteraa sosial lansia mendapatkan santunan kesejahteraan
sosial dari pemerintah daerah dalam bentuk asuransi kesejahteraan sosial dan bantuan langsung
berkelanjutan. Bantuan bagi lansia yang tidak produktif nilainya Rp 300 ribu per bulan. Bagi lansia
yang masih produktif, bantuan berupa kredit lunak dan pelatihan.

IV-38

Pemerintah juga membentuk Komnas Lanjut Usia berdasarkan Kepres No.52/2004 yang bertugas
untuk mengkoordunasikan segala upaya peningkatan kesejahteraan sosial para lansia.
Program kesehatan untuk lansia untuk mendorong lansia tetap sehat dan berperan dalam kehidupan
sehari-harinya adalah tanggungjawab pemerintah daerah dalam wujud program perawatan dan
pendampingan lansia, program posyandu lansia, puskesmas lansia, dan program bina keluarga lansia.
Untuk program pemberdayaan lansia, dilakukan pemerintah antara lain dalam program Program
Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU), Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Program Pendampingan dan
Perawatan Lansia di Rumah (Home Care) dan Posyandu Lansia.

Tujuan pembelajaran
1. Kompetensi Dasar:
Setelah mengikuti materi penduduk usia lanjut di Indonesia ini, peserta diharapkan mampu
mempraktikkan penyampaian materi penduduk usia lanjut di Indonesia.
2. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari materi penduduk usia lanjut di Indonesia ini, diharapkan peserta mampu:
a. Memahami konsep dasar usia lanjut
b. Menjelaskan status dan kondisi usia lanjut di Indonesia yang jumlahnya semakin meningkat.
c. Menjelaskan konsekuensi dari kondisi meningkatnya usia lanjut di Indonesia
d. Menjelaskan kebijakan dan program yang diperlukan untuk mempertahankan produktivitas
penduduk lanjut usia
e.

Menjelaskan kontribusi apa yang bisa dilakukan dalam mempersiapkan status dan kondisi
usia lanjut:
Meningkatkan peran lansia dalam menjaga kesehatan dirinya, sosial dan ekonomi
sehingga menjadikan para lansia sebagai aset dan bukan beban perekonomian.
Menciptakan sarana yang ramah penduduk lansia.

f.

Mempersiapkan diri dalam menghadapi usia lanjut


Mempraktikkan penyampaian materi penduduk usia lanjut di Indonesia.

Tujuan Khusus
Materi dasar yang dikembangkan sedikitnya akan meliputi isu-isu sebagai berikut:
Isu Pokok

Pengertian Tentang Penduduk Lansia

Cakupan

Isu utama yang perlu disajikan disini adalah mengenai konsep dasar
tentang orang muda. Apa sesungguhnya yang dimaksud atau batasan
tentang Penduduk Lanjut Usia oleh BKKBN.
Kejelasan tentang konsep ini diperlukan untuk menghidari kerancuan
batasan pengertian yang digunakan di kelompok masyarakat lain di

IV-39

Indonesia yang juga berkait dan bersinggungan dengan penduduk


lansia tersebut
Isu Pokok

Status Penduduk Lansia Saat Ini dan Proyeksinya

Cakupan

Membahas jumlah, persentase, sebaran, kualitas, kesejahteraan per


pulau, per propinsi, dsb., yang digunakan sebagai informasi dasar
untuk memahami penduduk lansia tersebut.
Proyeksi kedepan penduduk lansia akan memperjelas aspek penting
keberadaan dan peranan penduduk lansia di masa mendatang.

Isu Pokok

Tantangan Yang Penduduk Lansia

Cakupan

Membahas mengenai berbagai kondisi riil yang dihadapi penduduk


lansia.
Selain membahas tentang persoalan fasilitas dan kesejahteraan,
unsur penting yang perlu secara kritis diungkapkan adalah yang
berkaitan dengan masalah-masalah yang menghambat penduduk
lansia untuk dapat memperpanjang dan/atau mempertahankan
potensi produktifitasnya

Isu Pokok

Kebijakan dan Program untuk Memperpanjang/Mempertahankan


Produktifitas Penduduk Lansia

Cakupan

Kebijakan yang akan merekayasa status dan kondisi dasar serta


memaksimalkan potensi penduduk lansia yang disusun berdasarkan
respons kritis terhadap situasi logis-dinamis yang dihadapi penduduk
lansia dan orientasi yang ingin dicapai di masa mendatang.
Kebijakan tersebut perlu diuraikan dalam bentuk program aksi yang
secara langsung akan diselenggarakan oleh pemerintah, bekerjasama
dengan lembaga non-pemerintah maupun lembaga non pemerintah

Aktifitas Pelatihan
Pelatihan untuk materi ini dipersiapkan seama 90 menit, dengan urutan kegiatan sebagai berikut.
Berisi uraian tentang materi penduduk lansia yang akan disampaikan
dalam sesi ini.
05 Menit
Pendahu-luan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file diterangkan cara


menggunakan dan kegunaannya.
Informasi lain yang dianggap penting, jika ada

05 Menit
Pengertian

Uraian verbal yang berkaitan tentang penduduk lansia yang akan


digunakan dalam diseminasi informasi, sejak waktu diseminasi hingga
pelaksanaan di lapangan.

IV-40

Persamaan dan perbedaan mengenai pengertian ini disebutkan dan


diuraikan secara jelas dan tegas.
Uraian verbal mengenai:

25 Menit
Status

jumlah,

persentase (proporsi terhadap total),

sebaran,

kualitas,

kesejahteraan per pulau, per propinsi,


untuk disepakati dan difahami sebagai informasi dasar memahami
penduduk lansia. Aspek penting mengenai jumlah, persentase,
sebaran, kualitas, kesejahteraan diberikan tekanan/garis bawah dan
dibahas menjadi salah satu isu sentral pembahasan topik penduduk
lansia.
Uraian verbal mengenai pengalaman masa lalu dari penduduk lansia
dikaitkan dengan uraian verbal mengenai informasi dasar tersebut
diatas. Unsur positif dan negatif dari pengalaman tersebut diberi
penekanan memadai. Perkiraan dan proyeksi ke depan diuraikan dan
diberi penekanan dalam segi positif dan negatifnya; terutama
berkaitan dengan upaya untuk dapat memperpanjang dan/atau
mempertahankan potensi produktifitasnya.

25 Menit
Tantangan

Uraian verbal mengenai berbagai tantangan yang dihadapi penduduk


lansia untuk dapat memperpanjang dan/atau mempertahankan
potensi produktifitas mereka di masa mendatang.
Uraian verbal berbagai kebijakan yang dimaksudkan untuk
mengurangi, dan menghilangkan bila mungkin, hambatan yang
dihadapi penduduk lansia dalam upayanya memperpanjang dan/atau
mempertahankan potensi produktifitasnya.

10 Menit
Kebijakan dan Program

20 Menit
Tanya-Jawab

Program-program turunan kebijakan tersebut diarahkan sesuai skala


proritas terhadap masalah penduduk lansia yang sudah
diidentifikasikan pada bagian sebelumnya. Perlu mendapat perhatian
disini adalah bahwa program yang diuraikan tidak semuanya harus
menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai pelaksana teknisnya.
Beberapa program dapat dilakukan secara simbiosis dengan lembaga
non pemerintah, atau bahkan sepenuhnya dilakukan oleh lembaga
non pemerintah.
Merupakan alokasi waktu yang digunakan untuk memperjelas dan
mendiskusikan materi tentang penduduk lansia yang sedang
disajikan.
Selain disiapkan di bagian akhir diseminasi, tanya-jawab serta diskusi
dapat dilaksanakan di tengah-tengah acara diseminasi. Namun, perlu
dicatat bahwa waktu yang direncanakan/disediakan berkisar pada
jangka waktu tersebut.

IV-41

Materi Pelatihan
Berikut adalah beberapa materi yang perlu dipersiapkan menjelang dan ketika pelatihan dan/atau
diseminasi informasi dilakukan:
Menjelang

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas dalam
CD-ROM atau flash-disk.
Materi yang dipergunakan sebagai bahan diseminasi berbentuk
makalah dan bahan penyajian materi diseminasi di depan kelas.
Materi pendukung lain yang diperlukan, jika ada

Saat Pelaksanaan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas dalam
CD-ROM atau flash-disk.
Komputer atau lap top untuk menyajikan materi diseminasi
Alat Sorot
Layar Penampil Sorot
Papan Tulis Putih
Pena Tulis Papan Tulis Putih
Alat Tulis Menulis
Perkakas Pelantang

IV-42

Urbanisasi dan Perkembangan Perkotaan di Indonesia


Pengantar
Di negara manapun, persebaran penduduknya tidak merata secara spasial-geografis. Penduduk
terkonsentrasi di daerah tertentu sejalan dengan konsentrasi aktivitas ekonomi masyarakatnya.
Pendududuk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa yang luas wilayah hanya 7 persen dari seluruh
wilayah Indonesia. Upaya memindahkan penduduk ke pulau-pulau lain di luar Jawa hanya sedikit
sekali menurunkan jumlah tersebut.
Urbanisasi adalah sebuah gejala sosial penting berupa proses transformasi sosial yang bersifat
ekonomi, sosial, politik maupun kebudayaan. Urbanisasi adalah sebuah proses sosial yang
melibatkan aspek keruangan dan aspek sosial-demografis. Urbanisasi juga merupakan indikator
pencapaian dinamika yang sedang dilalui oleh peradaban suatu bangsa. Dalam konteks dinamika
kependudukan di Indonesia, urbanisasi adalah sebuah proses sosial yang penting selama 50 tahun
terakhir ini.
Urbanisasi secara demografis adalah semakin besarnya jumlah penduduk di perkotaan. Berdasarkan
hasil SP-2010 separuh penduduk Indonesia telah tinggal di daerah perkotaan.
Sejarah perkembangan banyak kota dan urbanisasi di Nusantara terkait erat dengan interaksi
kekuatan negara dan kapital. Ada pendapat yang mengatakan bahwa dikuasainya Malaka oleh
Portugis di tahun 1512 yelah merubah peran pedagang jawa yang semula pedagang samudra menjadi
pedagang produsen pulau. Logistik perdagangan samudra dikuasai kapal asing.
Pada abad ke 17, bandar-bandar besar seperti Banten, Demak dan Surabaya terjadi peralihan
pekerjaan sejalan dengan dikembangkannya persawahan di daerah ini. Penurunan peran kota pesisir
semakin cepat ketika politik ekonomi monopoli dan autarki dilakukan para raja dan sultan. Di Jawa,
belajar dari kekalahan Majapahit, kekhawatiran Mataram terhadap pengaruh para bupati pesisir
mendorong penguasaan kota-kota pesisir pantai utara Jawa. Artinya, politik mataram menjelang
abad ke 18 telah meruntuhkan peran kota-kota pesisir sebagai bandar perdagangan internasional
bersamaan dengan semakin menguatnya kedudukan VOC.
Jalan Anyer-Panarukan memperpendek waktu tempuh dari Batavia ke Surabaya di musim kemarau
dari sebulan menjadi 3-4 hari saja. Jalan aspal Batavia-Cirebon yang sejajar dengan garis pantai dibuat
di tahun 1811-1816. Kehadiran jalan aspal ini telah berpengaruh terhadap perkembangan pola
pemukiman penduduk yang semula tersebar menjadi mengelompok di sepanjang jalan ini.
Dengan terbentuknya infrastruktur kota di pantai utara jawa ini dianggap sebagai awal pertumbuhan
kota disitu. Sebagian merupakan respons penduduk terhadap terbukanya kegiatan ekonomi dan
kesempatan kerja baru yang tidak lagi hanya bersifat agraris. Berdirinya beberapa pabrik gula di
sepanjang kota di pantai utara Jawa juga mendorong perubahan pemukiman penduduk yang semula
hanya mengelompok di sekitar muara sungai.

V-43

Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa urbanisasi di kota pantai utara Jawa baru
terlihat nyata ketika kebijakan kolonial Belanda mulai dijalankan pada abad 18.
Dari perspektif kependudukan, urbanisasi adalah sebuah proses peningkatan proporsi penduduk
yang hidup di perkotaan. Dengan demikian, tingkat urbanisasi adalah proporsi penduduk, dari
keseluruhan jumlah penduduk di sebuah negara, yang tinggal di perkotaan. Sementara itu urbanisme
adalah gaya-hidup yang biasanya ditemukan dalam di kota besar.
Isu penting dalam mempelajari urbanisasi menyangkut difinisi perkotaan. Pada jaman lampau mudah
untuk membedakan kota dan desa secara fisik. Di kota, penduduknya memiliki pola pemukiman yang
teratur dan terintegrasi, seringkali dikelilingi oleh benteng untuk mempertahankan diri dari serangan.
Situasi seperti itu sulit ditemukan sekarang karena pengaruh sarana transportasi. Penduduk tidak
harus tinggal di pusat kota bahkan mereka bisa tinggal agak jauh dari tempat kerjanya. Di Indonesia,
proses aglomerasi perkotaan, seperti di sekitar Jakarta, Semarang dan Surabaya; memperlihatkan
semakin menyebarnya pemukiman penduduk di luar pusat kota, meskipun setiap harinya mereka
harus melakukan perjalanan ke tempat kerjanya di pusat kota.
Saat ini setiap negara memiliki definisinya sendiri tentang perkotaan atau pedesaan sehingga sulit
melakukan perbandingan perkembangan urbanisasi secara internasional. Indikator yang digunakan
adalah jumlah penduduk minimum per kilometer dan berbagai indikator sosial ekonom. Namun,
kategorisasi seperti ini sering gagal menggambarkan kondisi riil sosiologis masyarakat. Fenomena
peri-urban atau urban fringe yang biasanya merupakan daerah yang berada diantara kota dan desa
adalah contohnya.
Berbagai faktor menjadi latarbelakang proses urbanisasi dan pertumbuhan kota. Konsesnsus
diantara para ahli perkotaan mengatakan perubahan struktur ekonomi sebagai pengaruh
industrialisasi dan pertumbuhan sektor jasa menjadi pendorong utama urbanisasi. Pada gilirannya,
pertumbuhan di sektor ini mempengaruhi sektor pertanian yang umumnya berada di pedesaan.
Strategi pembangunan ekonomi Indonesia yang mengejar pertumbuhan sejak 1970an berdampak
besar bagi perubahan struktur ekonomi yang kemudian mempengaruhi proses urbanisasi dan
pertumbuhan perkotaan.
Urbanisasi kependudukan di pengaruhi oleh tiga hal, pertama, akibat pertumbuhan fertilitas dan
mortalitas dari penduduk kota itu sendiri. Kedua, migrasi neto yang umumnya bernilai positif. Ketiga,
proses redifinisi dari daerah peri-urban menjadi urban (perkotaan).
Proses urbanisasi dan perkembangan kependudukan di daerah perkotaan terlihat peningkatan yang
relative cepat dan stabil. Secara mencolok propinsi di Pulau Jawa mendominasi perkembangan dan
persebaran yang ada. Di luar Jawa, hanya Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan Sulawesi
Selatan yang menunjukkan hal serupa. Propinsi lainnya, terutama di Indonesia bagian timur,
konsentrasi penduduknya rendah. Ketimpangan perkembangan dan persebaran penduduk antara
Jawa-Luar Jawa, atau Indonesia Barat dan Indonesia Timur, adalah sebuah realitas sosial di
Indonesia. Keadaan ini mengindikasikan kecilnya pengaruh upaya menyeimbangkan persebaran
penduduk melalui program transmigrasi maupun pembangunan ekonomi. Pada Sensus Penduduk
terakhir terlihat tingkat urbanisasi tertinggi terjadi di propinsi DKI Jakarta, dan terendah di propinsi
Nusa Tenggara Timur.

V-44

Indonesia meskipun dianggap telah berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduknya namun
laju pertumbuhannya tetap signifikan.
Studi urbanisasi di negara berkembang umumnya difokuskan terhadap perkembangan kota-kota
besar atau mega-cities, seperti Jakarta, Surabaya, Kuala Lumpur, Bangkok dan Ho Chi Min City. Selain
karena perkembangan spasialnya yang fenomenal, juga karena merupakan pusat ekonomi dan
politik yang imbasnya bagi perkembangan ekonomi, sosial maupun politik negara tersebut sangat
besar.
Dalam konteks studi perkotaan di Indonesia, pendekatan yang dianut dibedakan menjadi kota
sebagai unit pengamatan dan kota sebagai tata ruang. Dalam hal kota sebaai unit pengamatan,
terdapat dua aliran, yaitu, pertama, yang memfokuskan kepada karakter khusus kota-kota di
Indonesia. Yang kedua, memfokuskan kepada karakter umum kota-kota di Indonesia sebagai bagian
dari kota-kota di dunia. Dari sudut tata ruan (spatial) studi ini dibedakan menjadi, pertama, yang
memfokuskan pada kota di Jawa, dan, kedua, yang tertarik mempelajari kota di seantero Nusantara.
Perkembangan kota-kota pascakolonial di Asia Tenggara tidak terlepas dari ambisi pemimpin
nasionalis yang menginginkan terciptanya negara-bangsa yang efisien dan stabil. Ambisi semacam ini
telah menguras banyak energi pemerintah dalam merealisasikan pola pembangunan sosial-ekonomi
yang menjadi dasar bagi penataan dan pengembangan daerah perkotaan. Itulah sebabnya
perkembangan kota di Asia Tenggara berbeda dengan perkembangan kota di barat pada umumnya.
Terlalu dominannya ambisi para pemimpin negara-negara pascakolonial di Asia Tenggara dalam
pembangunan ekonomi tampaknya justru yang menjadi kendala bagi terwujudnya penataan kota
yang diharapkan.
Terbentuknya ruang perkotaan adalah proses panjang konstruksi sosial produk interaksi terus
menerus menghuni ruang itu. Kota adalah sebuah totalitas fenomena social seluruh aspek-aspek
yang bersifat material maupun yang bersifat sosial, kultural, linguistik, politik, dan ekonomi. Di setiap
kota terkandung dimensi fisik dan simbolik. Pemiliki kekuasaan terbesar, pemerintah kota atau kelas
sosial ekonomi yang dominan, merupakan kekuatan yang biasanya paling berpengaruh terhadap
perkembangan dan perubahan yang terjadi di kota tersebut.
Pertumbuhan kota di Jawa mengikuti pola koridor wilayah yang perbedaan antara kota-desanya
menjadi kabur dan aktivitas ekonomi pedesaan dan perkotaannya bercampur secara intensif.
Desakotasasi adalah konsep yang dipakai untuk menunjukkan pertumbuhan mega-kota yang
berbeda dengan yang terjadi di Barat. Sebuah fenomena yang diilhami oleh pertautan antara desakota serta campur aduknya pemukiman penduduk dan penggunaan lahan. Pertumbuhan kota di
Jawa berpola urbanisasi berbasis wilayah, bukan berbasis kota. Pada konsep tersebut mitos-mitos
tentang luas wilayah, unsustainability, paratisism, kemiskinan yang parah dan rendahnya kualitas
hidup tidak bisa digunakan dengan tepat untuk menggambarkan perkembangan kota.
Di Indonesia, urbanisasi terutama disebabkan oleh perpindahan penduduk dari desa ke kota. Sejarah
perpindahan ini sejak zaman kolonial sampai akhir tahun 70-an bisa dikelompokkan menjadi lima.
Pertama, perpindahan penduduk ke daerah perkebunan, terutama terjadi pada masa kolonial. Kedua
perpindahan penduduk yang bersifat internasional yang jumlahnya relatif terbatas. Ketiga adalah

V-45

perpindahan dari pedesaan ke pedesaan lainnya dibantu oleh pemerintah; di masa kolonial disebut
kolonisasi dan setelah kemerdekaan dinamakan transmigrasi. Keempat adalah perpindahan
penduduk dari pedesaan ke perkotaan, yang permanen maupun yang nonpermanen (sirkuler atau
ulang-alik). Kelima adalah perpindahan penduduk secara tradisionalm sering disebut merantau
seperti yang banyak dilakukan oleh Orang Minangkabau, Orang Bugis, Orang Banjar, dan Orang
Madura.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota, terutama di Jawa, berhubungan erat dengan perubahan
sosial yang terjadi di pedesaan setelah diperkenalkannya teknologi baru intensifikasi pertanian di
awal tahun 70-an.
teknologi ini selain meningkatkan produksi pertanian ternyata juga berdampak negatif karena telah
meningkatkan pengangguran. Misalnya, penggunaan huller dan traktor telah secara drastis
menurunkan jumlah tenaga kerja yang bisa terlibat di pertanian. Terjadi proses penyingkiran
pekerja pertanian ke non-pertanian.
Sebagian mantan pekerja pertanian pedesaan inilah yang memilih untuk mengadu nasib dan mencari
pekerjaan di perkotaan. Disamping itu, pada akhir tahun 1970an ditemukan adanya perbedaan besar
antara pendapatan pekerja di pedesaan dan perkotaan di Jawa. Perbedaan ini berpengaruh besar
terhadap membanjirnya penduduk dari desa ke kota, karena kehidupan ekonomi mereka
dibayangkan menjadi lebih baik dibandingkan kalau mereka tetap di desa.
Selain melakukan modernisasi pertanian, sejak awal tahun 1980-an, pemerintah pusat di Indonesia
memberikan perhatian besar pada perbaikan sarana-sarana publik, terutama jalan raya, kereta api,
pelabuhan, dan lapangan terbang. Di bidang sosial, perhatian pemerintah pusat pada perbaikan
sarana pendidikan, dengan program wajib belajarnya. Selain itu juga di bidang pelayanan kesehatan
masyarakat dan mengkampanyekan program keluarga berencana. Masyarakat di pedesaan Jawa
mengalami revolusi mental karena banyaknya program pembangunan baru yang merambah
desa bersamaan dengan diperluasnya jaringan listrik ke pelosok Jawa. Perbaikan jalan dan saluran
komunikasi dan meningkatnya aspirasi masyarakat akibat pendidikan telah mengakibatkan pasang
naik aspirasi masyarakat akan pekerjaan dan kesejahteraan ekonomi yang lebih memadai. Pada
gillirannya, meningkatkan pergerakan masyarakat ke perkotaan.
Dalam literatur tentang migrasi desa-kota di Indonesia, perkotaan sebagai tujuan migrasi
mendapatkan perhatian yang lebih besar daripada pedesaan. Jakarta merupakan obyek yang paling
banyak diteliti, dan diperlihatkan disana bahwa migrasi desa-kota merupakan penyumbang terbesar
dari pertumbuhan kota Jakarta secara demografis maupun secara sosial dan ekonomi. Menurut
sejarah, Jakarta dibangun oleh para migran. Fenomena mudik lebaran menjadi bukti nyata besarnya
jumlah migran di kota-kota.
Urbanisasi ternyata tidak hanya dialami oleh kota-kota besar tetapi juga oleh kota-kota menengah
dan kecil di Jawa. Berdasarkan data SP 2000 dan SUPAS 2005, terlihat terjadinya proses urbanisasi
yang cukup cepat di beberapa kabupaten dan kota di Jawa. Contohnya dapat dilihat Sidoarjo (> 80
persen), Kudus (> 60 persen), Jepara (> 50 persen), Tegal (50 persen), Pekalongan (90 persen), dan
Cirebon (> 50 persen).

V-46

Tingginya tingkat urbanisasi hampir bisa dipastikan karena tingginya migrasi masuk dari wilayah
sekitarnya yang masih bersifat pedesaan. Secara sederhana hal ini bisa karena dua sebab: pertama,
karena semakin sempitnya lapangan kerja di desa, dan, kedua, karena kota menjanjikan tersedianya
lapangan pekerjaan. Karena itu, mengalirnya penduduk tersebut tidak secara otomatis berarti
meningkatnya kesejahteraan penduduk. Bahkan bisa terjadi sebaliknya.
Urbanisasi justru
meningkatkan penduduk miskin di kota. Kenyataan inilah yang menimbulkan dugaan bahwa
urbanisasi ternyata tidak berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Yang
terjadi adalah urbanisasi tanpa pertumbuhan.
Sudah sejak tahun 1970-an, persoalan pengangguran di daerah perkotaan, terutama di Jakarta,
sesungguhnya sudah mulai mencuat terutama di kalangan penduduk usia mudanya. Para migran
tetap memutuskan pindah ke kota, meskipun sebagian menyadari semakin sulitnya mendapat
pekerjaan yang layak. Dampak lain adalah membengkaknya sektor informal. Para migran itu bersedia
bekerja apa saja di kota untuk bertahan hidup. Pemukiman kumuh berkembang di daerah perkotaan
dan menjadi pemandangan yang biasa disana.
Cepat atau lambat, ketegangan sosial dan politik akibat membesarnya jumlah orang miskin kota akan
terjadi. Tampaknya, hal ini merupakan fenomena kehidupan urban yang tidak terhindarkan.
Urbanisasi tidak saja berjalan tanpa peningkatan kesejahteraan, namun juga membawa persoalan
baru karena tidak terakomodasinya berbagai kepentingan dan aspirasi warga kota. Wargakota di
tingkat sosial ekonomi bawah hampir selalu menjadi korban yang pertama. Peningkatan penduduk
yang tergolong miskin di daerah perkotaan terlihat melampaui daerah pedesaan yang jika tidak
diantisipasi akan menimbulkan berbagai ketegangan sosial.
Pertumbuhan kota juga dipengaruhi oleh program transmigrasi pemerintah. Kota kecil-menengah
tumbuh mulai dari Aceh sampai ke Manokwari. Meskipun kota-kota kecil-menengah tumbuh relative
merata di luar Jawa namun pusat pertumbuhan ekonomis terbukti masih berpusat di Jawa, dan
sedikit di Sumatera bagian selatan. Keadaan ini memperlihatkan ketimpangan pembangunan masih
terus terjadi antara Jawa dan luar Jawa meskipun beberapa upaya menyeimbangkan telah dicoba
dilakukan.
Sentralitas posisi ekonomi perkotaan Jawa yang berpusat di Jakarta, Semarang, dan Surabaya, telah
meningkat pesat yang imbasnya bagi perubahan ekonomi dan pertumbuhan kota lain secara
keseluruhan sangat besar. Pembangunan jalan tol semakin menyatukan kota-kota di pantai utara
Jawa sebagai sebuah wilayah yang terintegrasi. Selain itu, Jakarta, Semarang, dan Surabaya juga
memiliki pelabuhan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau-pulau lain di Nusantara.
Jembatan Surabaya Madura (Suramadu) yang sejak tahun 2009 menghubungkan Surabaya dengan
Bangkalan semakin meneguhkan keberadaan jaringan kota Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya,
Sidoarjo, dan Lamongan (Gerbangkertosusila) serta kota-kota di Pulau Jawa terkoneksi langsung
dengan Pulau Madura. Kedepan, keberadaan koridor kota-kota di Jawa ini akan semakin signifikan
dengan pembangunan jalan tol Trans-Jawa serta adanya pembangunan jembatan Merak-Bakuheni.
Proses pengintegrasian wilayah Pantura memilili implikasi yang besar terhadap dinamika sosial kota
dan warga yang menghuninya.
Oleh karena itu, pemahaman yang tepat dan sistimatis tentang dinamika sosial sejalan dengan
proses urbanisasi sangat penting untuk dapat mengantisipasi berbagai implikasi sosial maupun

V-47

politik di masa mendatang.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi, pertama, secara ekonomis, semakin
terkonsentrasinya penduduk di daerah perkotaan akan mendorong kebutuhan kesempatan kerja di
sektor industry dan jasa. Kebutuhan ini akan semakin mendesak karena struktur umur penduduk
didominasi oleh penduduk usia muda. Indonesia dikatakan memiliki bonus demografi dan window of
opportunity yang perlu diperhatikan sungguh-sungguh oleh penyelenggara negara. Kegagalan
menyerap tenaga kerja di perkotaan akan memiliki dampak sosial dan politik yang serius.
Kedua, proses urbanisasi dan perkembangan kota yang cepat dipastikan mendorong terjadinya
transformasi struktur dan sistim sosial serta nilai-nilai kebudayaan yang ada. Urbanisme yang sangat
konsumerisme diduga akan menjadi gaya hidup penduduk perkotaan. Yang harus diantisipasi adalah
perbedaan akses yang dimiliki oleh kelompok-kelompok masyarakat bedasarkan kemampuan
ekonominya. Berbagai indikator ekonomi memperlihatkan terjadinya income gap yang semakin tinggi
antara yang kaya dan yang miskin. Jika ketimpangan ini terus terjadi beresiko meningkatkan potensi
timbulnya ketegangan yang serius, dan jika situasi politik memburuk, bisa mengarah pada munculnya
konflik.
Ketiga, daerah perkotaan terutama di Jawa, menjadi tempat pemukiman kelas menengah di
Indonesia. Terkonsentrasinya mereka di daerah perkotaan akan berpengaruh terhadap arah
perkembangan politik di negeri ini. Sistim politik yang semakin terbuka secara teoretis akan
memberikan ruang kebebasan mengekspresikan pendapat yang semakin besar bagi warganegara.
Penduduk yang sebagian tergolong kelas menengah akan menjadi agen-agen perubahan sosial dan
politik menuju tercapainya konsolidasi politik di masa mendatang. Oleh karena itu, para pemimpin
politik dihadapkan pada kenyataan politik untuk semakin memberikan ruang politik yang lebih
demokratis di masa depan. Jika tidak, agenda politik Indonesia akan dibayangi oleh instabilitas politik
yang berakibat pada gagalnya pencapaian konsolidasi demokrasi yang diharapkan.
Keempat, berbagai isu global yang berkaitan dengan lingkungan hidup diduga akan semakin kuat
imbasnya bagi Indonesia. Proses urbanisasi dipastikan berdampak pada berkurangnya persawahan
dan wilayah hijau pada umumnya. Daya dukung lingkungan akan semakin memburuk. Tanpa
perencanaan tata-ruang dan perencanaan sosial-ekonomi yang memadai maka persoalan
pemukiman, persoalan transportasi dan wilayah kumuh akan semakin tidak terkendali. Dampak
perubahan iklim dan pemanasan global yang semakin disadari di negara maju seringkali terlambat
disadari di negara seperti Indonesia. Advokasi untuk peningkatan kesadaran penduduk, khususnya di
daerah perkotaan tentang berbagai dampak negative dari menurunnya kondisi lingkungan haruslah
menjadi agenda politik yang perlu ditangani secara serius oleh pemerintah, swasta maupun kalangan
masyarakat sendiri. Kegagalan melakukan hal ini bisa dipastikan lingkungan hidup di perkotaan
Indonesia akan menjadi unlivable dan unsustainable.
Terakhir, perencanaan pembangunan jangka panjang, seperti MP3EI, sudah seharusnya
meperhatikan perkembangan makro-spasial Indonesia yang terlalu menekankan pertumbuhan
ekonomi di kawasan perkotaan di pantai utara Jawa, dengan spillovernya kekota-kota di Sumatra
dan Bali-Lombok. Rencana pembangunan jembatan Selat Sunda dan pembangunan Tol-Trans Java
menunjukkan kuatnya pembangunan ekonomi yang bersifat Jawa-sentris, dengan Jakarta, Semarang
dan Surabaya sebagai the main economic growth centers. Dampak dari kecenderungan pembangunan

V-48

semacam ini sudah terlihat dengan cepatnya proses aglomerasi di wilayah yang selama ini kita kenal
sebagai Jabodetabek, Kedungsepur dan Gerbangkertosusila, yang menjadikan Jakarta, Semarang
dan Surabaya sebagai mega-cities. Dalam jangka panjang perkembangan ini akan mengancam
eksistensi Indonesia yang secara geografis negara kepulauan (archipelagic state) karena
ketimpangan pembangunan Jawa-Luar Jawa. Secara geo-politik akan memperlemah Indonesia
sebagai kesatuan bangsa, dan jika dibiarkan akan mengancam ke-Indonesia-an yang adil dan
sejahtera seperti dicita-citakan para pendiri bangsa dan negara Indonesia.
Kompleksitas permasalahan diatas akibat dari kebijakan di masa lalu yang bersifat ad hock dan
mengabaikan berbagai master plan yang sesungguhnya telah dibuat. Jika mentalitas ini tidak dirubah
maka proses urbanisasi dan perkembangan perkotaan di Indonesia akan menuju unsustainable
development. Untuk menghindari hal itu, beberapa langkah kongkrit dan praktis harus segera
dilakukan. Pertama, perlu dilakukan integrasi dan sinkronisasi antara berbagai master plan
pembangunan yang berkaitan dengan tata-ruang yang telah ada, seperti MP3EI, dan rencanarencana pembangunan yang berbasis sector serta daerah, khususnya pada tingkat provinsi dan
kabupaten, agar dapat dirancang dan diestimasi scenario-skenario hubungan antara perubahan tataruang, khususnya di daerah perkotaan, dengan proyeksi dinamika kependudukan (population
dynamics) yang dibayangkan. Idealnya pekerjaan ini dilakukan oleh sebuah lembaga nasional di
tingkat pusat, seperti Bappenas.
Kedua, pada level propinsi dan kabupaten, sejalan dengan perkembangan kebijakan desentralisasi
dan otonomi daerah, sudah waktunya disadari oleh para pimpinan pemerintah daerah bahwa
perencanan pengembangan perkotaan tidak mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri karena arus
barang, modal dan tenaga kerja akan bersifat borderless dan tidak bisa diasumsikan bisa dikontrol
secara sepihak oleh masing-masing daerah. Untuk mencapai distribusi modal, barang dan tenaga
kerja yang dapat memberikan dampak positif bagi semua pihak, kerjasama antar daerah yang sejauh
ini telah berkembang, perlu ditingkatkan kinerjanya, khususnya dalam bentuk kerjasama-kerjasama
regional yang bersifat win-win solution. Upaya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk mengajak
pimpinan daerah di wilayah Jabodetabek adalah contoh yang baik dari upaya semacam ini.
Ketiga, berkembangnya ekonomi pasar dan globalisasi informasi, telah menjadikan masyarakat,
terutama kelas menengah di daerah perkotaan semakin kritis terhadap berbagai isu social, politik
dan lingkungan yang jika tidak diatasi akan membahayakan bagi kelangsungan hidup mereka dan
generasi yang akan datang. Berbagai gerakan social masyarakat telah tumbuh menjamur di berbagai
kota di Indonesia. Sekedar sebagai contoh, hampir disetiap kota besar selalu diberlakukan car free
day yang memperlihatkan mulai tumbuhnya tentang kesadaran dan tuntutan wargakota akan
lingkungan hidup perkotaan yang sehat. Komunikasi antara pemerintah kota, pihak swasta dan
berbagai forum wargakota sudah saatnya dibuka dan dicari mekanisme yang paling efektif untuk
mencari solusi-solusi alternatif secara bersama, dari berbagai problem perkotaan sebagai dampak
kebijakan masa lalu dan antisipasi kedepan sebagai dampak dari berbagai perubahan yang akan
terjadi.

V-49

Tujuan
Tujuan pembuatan materi dasar urbanisasi dan perkembangan perkotaan adalah menyediakan
informasi tentang fenomena urbanisasi dan perkembangan perkotaan di Indonesia yang akan
dipergunakan oleh BKKBN untuk melakukan advokasi kepada instansi pemerintah terkait melalui
presentasi maupun diskusi. Materi ini berupa paper padat (15 halaman) dan bahan presentasi power
point (15-20 slides), disusun secara ilmiah terapan berdasarkan bukti empiris dengan orientasi
sasaran para pengambil kebijakan.

Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar:
Setelah mengikuti materi urbanisasi penduduk di Indonesia ini, peserta diharapkan mampu
mempraktikkan penyampaian materi urbanisasi penduduk di Indonesia.
2. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari materi urbanisasi penduduk di Indonesia ini, diharapkan peserta mampu:
a. Memahami konsep dasar urbanisasi penduduk
b. Menjelaskan status dan urbanisasi penduduk yang jumlahnya semakin meningkat.
c. Menjelaskan konsekuensi dari kondisi meningkatnya urbanisasi penduduk
d. Menjelaskan kebijakan dan program yang diperlukan untuk mengelola produktivitas
urbanisasi penduduk
e. Mempraktikkan penyampaian materi urbanisasi penduduk di Indonesia.

Tujuan Khusus
Materi dasar yang dikembangkan sedikitnya akan meliputi isu-isu sebagai berikut:
Isu Pokok

Pengertian Tentang Migrasi, Urbanisasi, Urbanisme, Kota dan Desa

Cakupan

Isu utama yang perlu disajikan disini adalah mengenai konsep dasar
tentang migrasi, urbanisasi, urbanisme, kota dan desa. Apa
sesungguhnya yang dimaksud sebagai migrasi dan urbanisasi oleh
BKKBN.
Kejelasan tentang konsep ini diperlukan untuk menghidari kerancuan
batasan pengertian yang digunakan di kelompok masyarakat lain di
Indonesia yang juga berkait dan bersinggungan dengan migrasi dan
urbanisasi tersebut

Isu Pokok

Urbanisasi di Indonesia: Perkembangan, Persebaran, Proyeksi (2050)

Cakupan

Membahas tentang perkembangan dan persebaran urbanisasi di


indonesia yang berguna sebagai informasi dasar memahami urbanisasi
dan perkembangan perkotaan tersebut.

V-50

Proyeksi mengenai urbanisasi dan perkembangan perkotaan akan


melihat keberadaan dan peranannya terhadap pembangunan Indonesia
di tahun 2050.
Isu Pokok

Perkembangan dan Pengelolaan Perkotaan, serta Kesejahteraan


Masyarakat di Indonesia

Cakupan

Membahas secara kritis mengenai perkembangan dan pengelolaan


perkotaan serta kesejahteraan masyarakat di Indonesia sebagai akibat
dari dan pengaruhnya terhadap urbanisasi dan perkembangan
perkotaan.

Isu Pokok

Kebijakan dan Program Untuk Menata Migrasi dan Urbanisasi

Cakupan

Kebijakan yang akan merekayasa status dan kondisi dasar serta


menjadikan migrasi dan urbanisasi serta perkembangan perkotaan
sebagai pendukung pembangunan nasional.
Kebijakan tersebut perlu diuraikan dalam bentuk program aksi yang
secara langsung akan diselenggarakan oleh pemerintah, bekerjasama
dengan lembaga non-pemerintah maupun lembaga non pemerintah

Aktifitas Pelatihan
Pelatihan untuk materi ini dipersiapkan seama 90 menit, dengan urutan kegiatan sebagai berikut.
Berisi uraian tentang materi migrasi dan perkembangan perkotaan
yang akan disampaikan dalam sesi ini.
05 Menit
Pendahu-luan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file diterangkan cara


menggunakan dan kegunaannya.
Informasi lain yang dianggap penting, jika ada

05 Menit
Pengertian

Uraian verbal yang berkaitan tentang migrasi dan perkembangan dan


pengelolaan perkotaan yang akan digunakan dalam diseminasi
informasi, sejak waktu diseminasi hingga pelaksanaan di lapangan.
Persamaan dan perbedaan mengenai pengertian ini disebutkan dan
diuraikan secara jelas dan tegas.
Uraian verbal mengenai:

25 Menit
Status

jumlah,

persentase (proporsi terhadap total),

sebaran,

kualitas,

kesejahteraan per pulau, per propinsi,


untuk disepakati dan difahami sebagai informasi dasar memahami topik
mengenai urbanisasi dan perkembangan perkotaan terutama yang
berkaitan dengan pembangunan. Aspek penting mengenai jumlah,

V-51

persentase, sebaran, kualitas, kesejahteraan diberikan tekanan/garis


bawah dan dibahas menjadi salah satu isu sentral pembahasan topik
urbanisasi dan perkembangan perkotaan.
Uraian verbal mengenai pengalaman masa lalu dari urbanisasi dan
perkembangan perkotaan dikaitkan dengan uraian verbal mengenai
informasi dasar tersebut diatas. Unsur positif dan negatif dari
pengalaman tersebut diberi penekanan memadai. Perkiraan dan
proyeksi ke depan diuraikan dan diberi penekanan dalam segi positif
dan negatifnya; terutama berkaitan dengan upaya memaksimalkan
peranan urbanisasi dan perkembangan perkotaan bagi pembangunan
nasional di masa mendatang.
25 Menit
Urbanisasi, Perkotaan,
Kesejahteraan
Masyarakat

Uraian verbal mengenai urbanisasi dan perkembangan perkotaan serta


berbagai dampaknya terhadap perekonomian dan kesejahteraan saat
kini dan potensinya di masa mendatang.
Uraian verbal berbagai kebijakan yang dimaksudkan untuk mengurangi,
dan menghilangkan bila mungkin, hambatan dari urbanisasi dan
perkembangan perkotaan terhadap pembagunan bangsa.

10 Menit
Kebijakan dan Program

20 Menit
Tanya-Jawab

Program-program turunan kebijakan tersebut diarahkan sesuai skala


proritas terhadap masalah urbanisasi dan perkembangan perkotaan
yang sudah diidentifikasikan pada bagian sebelumnya. Perlu mendapat
perhatian disini adalah bahwa program yang diuraikan tidak semuanya
harus menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai pelaksana
teknisnya. Beberapa program dapat dilakukan secara simbiosis dengan
lembaga non pemerintah, atau bahkan sepenuhnya dilakukan oleh
lembaga non pemerintah.
Merupakan alokasi waktu yang digunakan untuk memperjelas dan
mendiskusikan materi tentang urbanisasi dan perkembangan
perkotaan yang sedang disajikan.
Selain disiapkan di bagian akhir diseminasi, tanya-jawab serta diskusi
dapat dilaksanakan di tengah-tengah acara diseminasi. Namun, perlu
dicatat bahwa waktu yang direncanakan/disediakan berkisar pada
jangka waktu tersebut.

V-52

Materi Pelatihan
Berikut adalah beberapa materi yang perlu dipersiapkan menjelang dan ketika pelatihan dan/atau
diseminasi informasi dilakukan:
Menjelang

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas dalam
CD-ROM atau flash-disk.
Materi yang dipergunakan sebagai bahan diseminasi berbentuk
makalah dan bahan penyajian materi diseminasi di depan kelas.
Materi pendukung lain yang diperlukan, jika ada

Saat Pelaksanaan

Bahan diseminasi dalam bentuk tercetak dan file yang dikemas dalam
CD-ROM atau flash-disk.
Komputer atau lap top untuk menyajikan materi diseminasi
Alat Sorot
Layar Penampil Sorot
Papan Tulis Putih
Pena Tulis Papan Tulis Putih
Alat Tulis Menulis
Perkakas Pelantang

V-53

Lembar Pre-Test
Nama : ___________________________________

Beri tanda silang (x) pada kotak yang terdapat pada setiap pertanyaan yang menurut anda
jawabannya adalah benar

No

Pertanyaan

Penduduk adalah mereka yang sudah menetap di suatu wilayah paling


sedikit 6 bulan atau kurang dari 6 bulan tetapi bermaksud untuk menetap.

Benar
Salah

Berapa perkiraan penduduk dunia pada tahun 2050


a) 9-10 miliar
b) 8 miliar
c)

11-12 miliar

Berapa persen bumi yang bisa didiami oleh manusia


a) Sekitar 10 persen
b) Sekitar 17 persen
c)

Sekitar 30 persen

d) Lebih dari 30 persen


4

Apakah kemampuan bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini


masih cukup?
a) Sangat mampu
b) cukup mampu
c)

sudah berlebihan

Faktor yang mempengaruhi jumlah penduduk dunia


a) Fertilitas
b) Fertilitas dan mortalitas
c) Fertilitas, mortalitas dan migrasi

Bagaimana upaya yang harus dilakukan agar bumi dapat memenuhi


kebutuhan manusia saat ini dan masa mendatang
a) Meningkatkan teknologi yang ramah lingkungan
b) Mengendalikan jumlah penduduk
c)

Mengatur pola konsumsi

d) Ketiga-tiganya

Lampiran Pre test dan Post Test

Batasan kaum muda (young people) dalam program kependudukan/


KB/KR adalah
a) 10-24 tahun
b) 15-24 tahun
c)

Kurang dari 30 tahun

Persoalan yang banyak dihadapi oleh kaum muda adalah:


a) Perilaku berisiko
b) Putus sekolah
c)

Rendahnya ketrampilan

d) Semuanya benar
9

Pekerja anak adalah:


a) Mereka yang berusia 10 tahun ke bawah dan telah bekerja
b) Mereka yang berusia 15 tahun ke bawah dan bekerja
c) Mereka yang berusia 18 tahun ke bawah dan bekerja

10

Berapa persentase kaum muda di Indonesia di bandingkan dengan jumlah


penduduk seluruhnya:
a) Sekitar 40 persen
b) Sekitar 30 persen
c)

11

Sekitar 20 persen

Pemerintah perlu memperhatikan kaum muda karena:


a) Jumlahnya yang banyak
b) Mereka pemimpin masa depan bangsa
c)

12

Semuanya benar

Berapa batasan usia produktif


a) 15-59 tahun
b) 15-64 tahun
c) Keduanya benar tergantung kesepakatan yang diambil negara

13

Batasan dari usia kerja


a) 15 -59 tahun
b) 15-64 tahun
c) Di atas 15 tahun
d) Semuanya benar

Lampiran Pre test dan Post Test

14

15

16

Yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah:


a) Mereka yang berusia 15 tahun ke atas dan bekerja
b) Mereka yang berusaia 15 tahun ke atas, bekerja, tidak bekerja dan tidak
sekolah
c) Mereka yang berusia 15 tahunkeatas yang bekerja, atau punya pekerjaan
namun sementara tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan
Dependency ratio adalah:
a) Perbandingan antara jumlah penduduk yang berusia 15-59 tahun dengan
penduduk 0-14 tahun di tambah dengan 60 tahun ke atas
b) Perbandingan antara jumlah penduduk yang berusia 0-14 tahun di
tambah dengan 60 tahun ke atas terhadap penduduk usia 15-59 tahun
Untuk beberapa tahun ke depan, dependency ratio penduduk Indonesia
akan mengalami:
a) Peningkatan
b) Penurunan

17

Siapa yang tergolong sebagai penduduk lanjut usia:


a) Penduduk yang berusia 60 tahun ke atas?
b) Penduduk yang berusia 65 tahun ke atas?
c) Keduanya benar tergantung definisi yang diambil negara

18

Meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia disebabkan:


a) Menurunnya kelahiran
b) Menurunnya kematian
c) Karena kedua duanya

19

Kebutuhan utama penduduk lanjut usia adalah


a) Fisik
b) Psikis
c) Sosial
d) Ketiga-tiganya

20

Siapa yang berperan dalam mendukung kehidupan penduduk lanjut usia


a) Pemerintah
b) Masyarakat
c) Keluarga
d) Ketiga-tiganya

21

Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota

Benar
Salah

Lampiran Pre test dan Post Test

22

Faktor yang mempengaruhi tingkat urbanisasi adalah:


a) Pertumbuhan penduduk secara alamiah di daerah perkotaan
b) Migrasi dari desa ke kota
c) Reklasifikasi wilayah
d) Ketiga-tiganya

23

Tingkat urbanisasi di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami:


a) Peningkatan
b) Penurunan

24

Hirarki perkotaan meliputi:


a) Urutan kota dari kota megapolitan, metropolitan, kota besar,
menengah, kecil
b) Urutan kota dari kota metropolitan, kota besar, menengah, kecil,
perdesaan
c) Kedua-duanya benar

25

Cara mengatasi persoalan perkotaan yang efektif adalah


a) Memindahkan penduduk dari kota ke daerah lain
b) Memeratakan pembangunan
c) Kerjasama antar kota
d) Semuanya benar
e) Semuanya salah

Lampiran Pre test dan Post Test

Lembar Post-Test
Nama : ___________________________________
Beri tanda silang (x) pada kotak yang terdapat pada setiap pertanyaan yang menurut anda
jawabannya adalah benar

No

Pertanyaan

Penduduk adalah mereka yang sudah menetap di suatu wilayah paling


sedikit 6 bulan atau kurang dari 6 bulan tetapi bermaksud untuk menetap.

Berapa perkiraan penduduk dunia pada tahun 2050


d) 9-10 miliar

Benar
Salah

e) 8 miliar
f)
3

11-12 miliar

Faktor yang mempengaruhi jumlah penduduk dunia


1) Fertilitas

2) Fertilitas dan mortalitas


4

3) Fertilitas, mortalitas dan migrasi

Batasan kaum muda (young people) dalam program kependudukan/KB/KR


adalah
1)

10-24 tahun

2) 15-24 tahun
3) Kurang dari 30 tahun
5

Persoalan yang banyak dihadapi oleh kaum muda adalah:


1)

Perilaku berisiko

2) Putus sekolah

3) Rendahnya ketrampilan
6

4) Semuanya benar

Pekerja anak adalah:


1)

Mereka yang berusia 10 tahun ke bawah dan telah bekerja

2) Mereka yang berusia 15 tahun ke bawah dan bekerja

3) Mereka yang berusia 18 tahun ke bawah dan bekerja

Lampiran Pre test dan Post Test

Berapa persentase kaum muda di Indonesia di bandingkan dengan jumlah


penduduk seluruhnya:
1)

Sekitar 40 persen

2) Sekitar 30 persen
3) Sekitar 20 persen
8

Pemerintah perlu memperhatikan kaum muda karena:


1)

Jumlahnya yang banyak

2) Mereka pemimpin masa depan bangsa


3) Semuanya benar
9

Berapa batasan usia produktif


1)

15-59 tahun

2) 15-64 tahun
3) Keduanya benar tergantung kesepakatan yang diambil negara
10

Batasan dari usia kerja


1)

15 -59 tahun

2) 15-64 tahun
3) Di atas 15 tahun
4) Semuanya benar
11

Yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah:


1)

Mereka yang berusia 15 tahun ke atas dan bekerja

2) Mereka yang berusaia 15 tahun ke atas, bekerja, tidak bekerja dan tidak
sekolah
3) Mereka yang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja, atau punya
pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan
12

Dependency ratio adalah:


1)

Perbandingan antara jumlah penduduk yang berusia 15-59 tahun


dengan penduduk 0-14 tahun di tambah dengan 60 tahun ke atas

2) Perbandingan antara jumlah penduduk yang berusia 0-14 tahun di


tambah dengan 60 tahun ke atas terhadap penduduk usia 15-59 tahun
13

Untuk beberapa tahun ke depan, dependency ratio penduduk Indonesia


akan mengalami:
1)

Peningkatan

2) Penurunan

Lampiran Pre test dan Post Test

14

Siapa yang tergolong sebagai penduduk lanjut usia:


1)

Penduduk yang berusia 60 tahun ke atas?

2) Penduduk yang berusia 65 tahun ke atas?


3) Keduanya benar tergantung definisi yang diambil Negara
15

Meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia disebabkan:


1)

Menurunnya kelahiran

2) Menurunnya kematian
3) Karena kedua duanya
16

Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota

Benar
Salah

17

Faktor yang mempengaruhi tingkat urbanisasi adalah:


1)

Pertumbuhan penduduk secara alamiah di daerah perkotaan

2) Migrasi dari desa ke kota


3) Reklasifikasi wilayah
4) Ketiga-tiganya
18

Tingkat urbanisasi di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami:


1)

Peningkatan

2) Penurunan
19

Hirarki perkotaan meliputi:


1)

Urutan kota dari kota megapolitan, metropolitan, kota besar,


menengah, kecil

2) Urutan kota dari kota metropolitan, kota besar, menengah, kecil,


perdesaan
3) Kedua-duanya benar
20

Cara mengatasi persoalan perkotaan yang efektif adalah


1)

Memindahkan penduduk dari kota ke daerah lain

2) Memeratakan pembangunan
3) Kerjasama antar kota
4) Semuanya benar
5) Semuanya salah

Lampiran Pre test dan Post Test

EVALUASI PER MATERI


ISU PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Bagaimana penilaian anda terhadap presentasi materi ini ? Lingkari angka yang sesuai
dengan penilaian anda
1= sangat buruk
2= buruk
3= baik
4= sangat baik
5= memuaskan

Materi

Aspek
1

Dinamika Penduduk dan


Pembangunan Berkelanjutan
(jumlah serta Pertumbuhan
Penduduk dan dampaknya
terhadap kehidupan penduduk

Nilai
3
4

Relevansi dengan bidang tugas

Cakupan pembahasan

Variasi presentasi

Kesiapan fasilitator
Saran untuk perbaikan capacity building dimasa mendatang

Lampiran Evaluasi

EVALUASI PER MATERI


MATERI ADVOKASI ISU ORANG MUDA DI INDONESIA
Bagaimana penilaian anda terhadap presentasi materi ini ? Lingkari angka yang sesuai
dengan penilaian anda
1= sangat buruk
2= buruk
3= baik
4= sangat baik
5= memuaskan

Materi

Aspek
1

Kaum Muda

Nilai
3
4

Relevansi dengan bidang tugas

Cakupan pembahasan

Variasi presentasi

Kesiapan fasilitator
Saran untuk perbaikan capacity building dimasa mendatang

Lampiran Evaluasi

EVALUASI PER MATERI


ISU PENDUDUK USIA PRODUKTIF DAN KETENAGAKERJAAN DI
INDONESIA

Bagaimana penilaian anda terhadap presentasi materi ini ? Lingkari angka yang sesuai
dengan penilaian anda
1= sangat buruk
2= buruk
3= baik
4= sangat baik
5= memuaskan

Materi

Aspek
1

Penduduk usia produktif dan


ketenagakerjaan

Nilai
3
4

Relevansi dengan bidang tugas


Cakupan pembahasan
Variasi presentasi
Kesiapan fasilitator

Saran untuk perbaikan capacity building dimasa mendatang

Lampiran Evaluasi

EVALUASI PER MATERI


ISU PENDUDUK USIA LANJUT DI INDONESIA

Bagaimana penilaian anda terhadap presentasi materi ini ? Lingkari angka yang sesuai
dengan penilaian anda
1= sangat buruk
2= buruk
3= baik
4= sangat baik
5= memuaskan

Materi

Aspek
1

Penduduk usia lanjut

Nilai
3
4

Relevansi dengan bidang tugas


Cakupan pembahasan
Variasi presentasi
Kesiapan fasilitator

Saran untuk perbaikan capacity building dimasa mendatang

Lampiran Evaluasi

EVALUASI PER MATERI


ISU URBANISASI DAN PERKEMBANGAN PERKOTAAN DI INDONESIA

Bagaimana penilaian anda terhadap presentasi materi ini ? Lingkari angka yang sesuai
dengan penilaian anda
1= sangat buruk
2= buruk
3= baik
4= sangat baik
5= memuaskan

Materi

Nilai

Aspek
1

Urbanisasi Perkembangan
Perkotaan

Relevansi dengan bidang tugas


Cakupan pembahasan
Variasi presentasi
Kesiapan fasilitator

Saran untuk perbaikan capacity building dimasa mendatang

Lampiran Evaluasi

EVALUASI MENYELURUH
Peserta yang terhormat,
Kami sangat berterima kasih jika anda dengan jujur dapat menjawab pertanyaan berikut ini, yang
merupakan salah satu upaya kami untuk memperbaiki pelaksanaan capacity building dikemudian hari.
Terima kasih.
A. Evaluasi Kepuasan Peserta. Mohon diberikan tanda (x) pada kolom yang sesuai dengan penilaian
anda.
Nilai
No
1.

Pertanyaan atau Aspek Penilaian


Penilaian kegiatan secara keseluruhan

2.

Manfaat dari kegiatan capacity building

3.

Penyajian dan diskusi masing-masing materi

a. Kemampuan fasilitator
b. Materi/handout yang diberikan
c. Kesesuaian materi yang diberikan
d. Alokasi waktu masing-masing materi
4.

Sesi konsolidasi

5.

Logistic
a. ruang kelas
b. akomodasi hotel
c. makanan

6.

Pelayanan panitia

Keterangan: 1= sangat buruk; 2 = buruk; 3 = bagus; 4 = sangat bagus


B.

Rekomendasi peserta untuk perbaikan kegiatan capacity building dimasa mendatang


1.

Aspek dari kegiatan yang perlu di tingkatkan.

.................

Lampiran Evaluasi

2.

Aspek dari kegiatan yang dianggap sangat baik

.................

3.

Aspek dari kegiatan yang tidak disukai

.................

4.

Saran perbaikan yang dapat diberikan

.................

Lampiran Evaluasi

Dinamika Penduduk Dan Pembangunan Berkelanjutan


Eddy Hasmi
Sejak dekade tahun 90-an Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) banyak melakukan
pertemuan internasional untuk merumuskan strategi pembangunan global dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan umat manusia secara berkelanjutan. Berbagai pertemuan
tersebut dirasakan perlu melihat kenyataan dibanyak negara pembangunan justru makin
memperlebar jurang perbedaan kesejahteraan serta kurang memperhatikan azas
keberlangsungan bagi umat manusia dimasa mendatang.
Dimulai dengan konferensi tentang lingkungan hidup dalam rangka mewujudkan
pembangunan berkelanjutan pada tahun 1992 di Brazil (Rio Conference), berturut-turut
kemudian diadakan konferensi tentang Kependudukan dan Pembangunan (International
Conference on Population and Development) di Cairo pada tahun 1994, Gender dan
Pemberdayaan Perempuan di China pada tahun 1995, Pembangunan Sosial di
Kopenhagen tahun 1995, serta beberapa konferensi lainnya.
Hasil dari berbagai konferensi tersebut kemudian disarikan dan dijadikan acuan bagi arah
dan strategi pembangungan global abad-21 dalam pertemuan puncak yang dinamakan
Millennium Development Summit (MDS) di New York pada bulan September tahun 2000.
MDS menghasilkan deklarasi yang kemudian dikenal dengan Millennium Development
Goals (MDGs).
Kesepakatan MDGs akan berakhir tidak lama lagi (2015). Karenanya PBB mulai
melakukan pembahasan untuk merancang arah pembangunan paska 2015. Kerangka
konsep yang dibangun kemudian di kenal dengan development Strategy post 2015.
Kerangka pembangunan tersebut walaupun belum disepakati namun setidaknya arah
yang ingin dikembangkan sudah jelas yaitu Sustainable Development Goals (SDGs).
Pembahasan awal kerangka SDGs sudah dimulai di pertemuan Rio+20 yang telah
berlangsung di Brazil pada tahun 2012 yang lalu. Dalam kerangka pembangunan SDGs
tersebut sangat tergambar bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan
yang berpusat pada manusia (people centered development). Pembangunan
berkelanjutan adalah pembangunan yang inclusive terhadap situasi penduduk.
Pembangunan yang dapat dinikmati oleh seluruh segment penduduk. Pembangunan yang
melibatkan seluruh penduduk dalam prosesnya.

Pembangunan Berkelanjutan
Pengertian
Kesepakatan Rio tahun 1994 yang masih dianut sampai saat ini mengemukakan
bahwa:
Sustainable development is development that meets the needs of the present
without compromising the ability of future generations to meet their own needs.
Dengan demikian secara umum dapat diartikan bahwa pembangunan berkelanjutan
adalah upaya terencana untuk menjamin kesejahteraan umat manusia secara adil
dan merata antara generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Konsep tentang pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dalam pengertian
pengembangan program, datang pertama kali oleh World Commision on Environment and
Development (WCED). Mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh WCED maka
krisis lingkungan dan pembangunan tidak dapat dipecahkan secara terpisah, tetapi harus

L-1

secara terkait. Memecahkan krisis lingkungan secara tersendiri hanya akan memperparah
krisis pembangunan, yang pada gilirannya akan kembali menimbulkan masalah
lingkungan hidup yang lebih besar lagi. Karena itu pembangunan harus dapat dilanjutkan
untuk memenuhi kebutuhan masa kini, tanpa mengorbankan kemampuan generasi
mendatang untuk memenuhi kehidupannya pula. Ini berarti, bahwa pengembangunan
harus disertai upaya untuk melestarikan kemampuan lingkungan untuk menjalankan
fungsinya buat seterusnya.
Untuk mencapai keadaan yang memungkinkan keberlanjutan, strategi WCED memuat
beberapa sasaran yang harus dicapai dalam dasawarsa pembangunan sampai dengan
tahun 2012, antara lain:
1. Menghidupkan pertumbuhan ekonomi secara merata diseluruh dunia. Dinegara
berkembang untuk menghapuskan kemiskinan, yang merupakan salah satu
sumber perusakan sumber alam dan lingkungan hidup yang utama. Di negara
maju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi diperlukan untuk mendorong
pengembangan perekonomian dunia;
2. Mengubah kualitas pertumbuhan: tidak lagi intensif bahan dan intensif energi,
dampak yang leih merata dan lebih adil. Pembangunan harus disertai langkah
untuk menjaga
stock modal lingkungan, menyempurnakan pemerataan
pendapatan, dan mengurangi kerentanan terhadap krisis ekonomi;
3. Pemenuhan kebutuhan esensial manusia: lapangan kerja, pangan, energi, air dan
sanitasi;
4. Tingkat pertumbuhan penduduk yang terlanjutkan (sustainable), yang jumlahnya
sesuai dengan kemampuan produktif ekonosistem;
5. Konservasi dan peningkatan kualitas pengkalan sumber daya (resource base), a.l.
sumber pertanian (lahan, sungai, hutan), sumber energi, kapasitas biosfir untuk
menyerap produk sampingan penggunaan energi, dsb
6. Reorientasi teknologi dan pengelolaan risiko; agar mengarah pada teknologi hemat
dan bersih lingkungan serta penanggulangan resiko lingkungan;
7. Penggabungan/keterpaduan lingkungan hidup dengan ekonomi dalam
pengambilan keputusan.
Jika dilihat pada 7 aspek di atas maka terdapat 3 aspek penting yang harus benar-benar
diperhatikan yaitu (1) aspek pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (2) aspek
pembangunan sosial yang berkelanjutan untuk mencapai kalitas hidup yang tinggi dan (3)
aspek pengelolaan kualitas lingkungan hidup yang berkelanjutan. Ketiga aspek di atas
harus dilihat dalam konteks perkembangan kependudukan. Aspek pertumbuhan ekonomi
yang berkelanjutan merujuk pada penempatan peran penduduk sebagai pelaku utama
kegiatan ekonomi. Jadi penduduk sebagai subyek pembangunan. Aspek pembangunan
sosial yang berkelanjutan merupakan penjabaran dari penempatan peran penduduk
sebagai obyek pembangunan. Penduduk sebagai penikmat pembangunan. Aspek
pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan menempatkan peran penduduk sebagai
pemelihara lingkungan hidup demi kehidupan generasi mendatang (lihat gambar-1).
Gambar-1: Kerangka Konseptual Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan

Penduduk
Pembangunan social
yang berkelanjutan

Pengelolaan Lingkungan Hidup


yang berkelanjutan

L-2

Pemikiran di atas didasari pada kenyataan bahwa pertumbuhan (growth) memiliki limit to
growth. Konsep ini mengacu pada kenyataan bahwa suatu pertumbuhan ada batasnya.
Jika batas dari terlampaui maka yang kemudian terjadi adalah terjadinya pemusnahan
atas hasil-hasil pembangunan tersebut. Nampaknya ini yang sedang berlangsung di
Indonesia dengan terjadinya krisis ekonomi sekarang ini. Jika diingat beberapa tahun yang
lalu selalu ada peringatan bahwa perekonomian kita terlalu memanas dan lain
sebagainya. Itu tidak lain adalah kata lain bahwa pertumbuhan ekonomi kita sedang
memasuki apa yang disebut dengan 'limit to growth. Bahwa pertumbuhan ekonomi
tersebut tidak dapat dipacu lebih tinggi lagi dengan melihat pada kondisi fundamental yang
ada.
Ada beberapa kritik lagi yang ditujukan kepada konsep pembangunan yang berorientasi
pada pertumbuhan yaitu (1) prakasa biasanya dimulai dari pusat dalam bentuk rencana
formal, (2) proses penyusunan program bersifat statis dan didominasi oleh pendapat pakar
dan teknokrat, (3) teknologi yang digunakan biasanya bersifat scientific dan bersumber
dari luar, (4) mekanisme kelembagaan bersifat top-down, (5) pertumbuhannya cepat
namun bersifat mekanistik, (6) organisatornya adalah para pakar spesialis, dan (7)
oreintasinya adalah bagaimana menyelesaikan program/proyek secara cepat sehingga
mampu menghasilkan pertumbuhan. Dengan melihat pada kriteria di atas nampak bahwa
peranan penduduk lokal dalam proses pembangunan sangat sedikit.
Kritik para ahli terhadap orientasi pembangunan yang mengutamakan pada pertumbuhan
tersebut telah berlangsung sejak tahun 60-an. Para cendekiawan dari Massachuset
Institute of Technology dan Club of Rome pada kurun waktu tersebut secara gencar
mengkritik orientasi pembangunan ekonomi tersebut. Itulah yang kemudian melahirkan
pemikiran terhadap pembangunan berkelanjutan atau juga pembangunan yang berpusat
pada manusia.
Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan perlu pertimbangan dan pengelolaan
sedemikian rupa agar keterkaitan antara penduduk, sumberdaya, lingkungan dan
pembangunan (sosial dan ekonomi) tercipta dalam suatu keseimbangan yang dinamis.
Untuk meciptakan hal tersebut, perlu digariskan kebijaksanaan pembangunan yang tegas
untuk menghindari pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan. Disamping itu
penting dikembangkan kebijakan kependudukan untuk menciptakan agar penduduk dapat
terpenuhi kebutuhannya sekarang dengan tanpa melakukan kompromi, sehingga
mengurangi kesempatan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Aspek pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan banyak dibahas dalam
pertemuan Bumi di Rio, Brazil tahun 1992 yang kemudian diikuti dengan Rio+5 dan
Rio+10, yang kemudian dikenal dengan World Summit on Sustainable
Development(WSSD), di Johannesburg, Afrika Selatan pada tahun 2002 yang lalu.
Sedangkan sebagaimana dikemukakan di atas maka pembangunan sosial juga banyak
dibahas antara lain di Kopenhagen, China sedangkan kependudukan dibahas di Cairo,
Mesir pada tahun 1994.

International Conference on Population and Development (ICPD)


Perhatian dunia tentang kependudukan dan pembangunan telah berlangsung cukup lama.
Hal itu dapat diamati dari deklarasi yang dihasilkan sejak dari konferensi kependudukan
sedunia tahun 1974 di Bucharest, dilanjutkan di Mexico City tahun 1984 sampai dengan di
Cairo pada tahun 1994 yang secara konsisten menekankan bahwa integrasi
kebijaksanaan kependudukan dan pembangunan merupakan hal yang penting.
Perbedaannya adalah adanya pergeseran isu sentral dan cara pendekatan pada masingmasing konferensi sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang.

L-3

Pada konferensi kependudukan sedunia di Bucharest tahun 1974, disepakati perlunya


mengendalikan pertumbuhan penduduk. Mulai saat itu mulai terjadi perubahan paradigma
pembangunan kependudukan dari yang semula bersifat pro-natalis ke anti-natalis.
Argumentasinya di dasarkan pada pendapat Malthus bahwa pertumbuhan penduduk yang
tidak terkendali akan berdampak buruk bagi peningkatan kesejahteraan umat manusia.
Pada era tersebut penanganan masalah pengaturan kelahiran dilakukan dengan
pemakaian alat kontrasepsi.
Pada konferensi kependudukan sedunia di Mexico tahun 1984, isu pengelolaan
pertumbuhan penduduk berubah dari penggunaan alat kontrasepsi kepada pembangunan
dalam arti luas (beyond family planning). Oleh karena itu konferensi Mexico mengeluarkan
suatu slogan yang sangat terkenal yaitu development is the best contraceptive. Dasar
pemikirannya adalah bahwa pembangunan baik pembangunan ekonomi dan sosial akan
berdampak pada pembentukan norma tertentu mengenai anak. Hal ini didasarkan pada
berbagai hasil studi yang menunjukkan bahwa makin tinggi status sosial ekonomi keluarga
akan berdampak pada semakin sedikitnya jumlah anak yang mereka miliki. Oleh karena
itu dalam upaya pengaturan kelahiran yang dibutuhkan bukan pelaksanaan program
keluarga berencana dalam arti pelayanan kontrasepsi namun yang lebih diperlukan adalah
pembangunan sosial ekonomi. Namun pada kenyataannya kerangka pikir tersebut banyak
tidak berjalan di berbagai negara. Pertama, di banyak negara pembangunan ekonomi dan
sosial membutuhkan waktu yang lama. Bahkan dalam beberapa kasus banyak negara
yang terjebak dalam kemiskinan sehingga mengalami kesulitan untuk membangun kondisi
ekonominya. Kedua, apabila tujuannya adalah untuk mengendalikan penduduk maka
program keluarga berencana terbukti sebagai suatu program yang efektif.
Selain itu, pada periode sebelum Konferensi di Cairo, 1994 (International Conference on
Population and Development), perhatian terhadap isu kependudukan lebih difokuskan
pada upaya pengendalian kuantitas penduduk. Akibatnya, sebelum konferensi tersebut
peran negara dalam menentukan arah kebijakan terasa lebih dominan dibandingkan
dengan peran penduduk (individu). Upaya tersebut dimanifestasikan lebih kepada
pendekatan demografi yaitu pengaturan kelahiran, penurunan kematian serta pengarahan
mobilitas penduduk. Pendekatan yang lebih berbasiskan pada demografi tersebut
mendapat banyak kecaman terutama dari mereka yang sangat memperhatikan hak asasi
manusia, kesejahteraan, maupun pemberdayaan perempuan (Jones, Gavin, 1998),
karena dalam praktek program pengendalian kuantitas penduduk lebih menekankan
interes negara dibandingkan dengan interes penduduk..
International Conference on Population and Development (ICPD) tahun 1994 di Cairo
dapat dipandang sebagai momentum perubahan mendasar dari pendekatan masalah
kependudukan dalam pembangunan walaupun menurut Jones (1998) perubahan tersebut
bukanlah berlangsung tiba-tiba, namun melalui proses yang cukup panjang yaitu sejak
tahun 1985. Beberapa karya yang cukup mempengaruhi perubahan kerangka konsep
kependudukan dalam pembangunan antara lain dikembangkan oleh Rosenfield dan Maine
(1985) yang memberikan nuansa kesehatan masyarakat, Germain (1987) memberikan
penekanan pada pemberdayaan perempuan, Dixon-Muller, 1993 serta Sen, Germain &
Chen (1994) yang juga memberikan penekanan pada pemberdayaan perempuan & hak
individu (Jones, Gavin, 1998).
Secara ideal setiap kebijakan publik termasuk juga kebijakan kependudukan perlu
mempertimbangkan tiga level kepentingan, yaitu individu, masyarakat dan negara atau
wilayah secara seimbang. Dengan demikian sebagai bagian dari kebijakan publik, tujuan
akhir dari kebijaksanaan kependudukan juga harus mendukung perbaikan kondisi sosial
ekonomi individu, negara dan masyarakat (Keyfitz dalam Sukamdi, 1992). Bahkan,
kesejahteraan individu merupakan tujuan yang harus dikedepankan, sebab dengan
tercapainya kesejahteraan individu secara merata, secara otomatis kesejahteraan

L-4

masyarakat pada umumnya juga akan tercapai. Sebaliknya, kesejahteraan masyarakat


atau negara secara agregat tidak selalu berarti kesejahteraan individu yang ada dalam
agregasi tersebut juga tercapai.
Akan tetapi dalam kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya yaitu bahwa kecenderungan
yang dominan adalah munculnya kepentingan negara (national interest) yang lebih
menonjol. Hal itu kemudian berdasarkan logika negara, kepentingan tersebut
diterjemahkan ke dalam level masyarakat dan individu. Masalah yang seringkali muncul
adalah bahwa tidak selalu ketiga kepentingan tersebut cocok atau paralel, sehingga dalam
beberapa kasus hak individu dan masyarakat terabaikan ketika kepentingan negara
menjadi segala-galanya. Atas nama kepentingan negara, target kuantitatif harus segera
tercapai, sehingga dalam berbagai program kependudukan tekanannya lebih ke aspek
makro dari pada mikro. Pada saat ketika kepentingan negara lebih terkedepankan maka
akan muncul pelanggaran hak individu dan isu mengenai hak asasi manusia (HAM) akan
menjadi isu penting.
Arus pemikiran tentang hak asasi manusia menjadi semakin berkembang secara global
(internasional) pada periode akhir tahun 80-an. Untuk kependudukan, pembahasan
secara eksplisit berkembang dalam International Conference on Population and
Development (ICPD) tahun 1994 di Cairo, yang kemudian dikenal dengan right based
approach1. Di dalam konferensi ini penekanan dilakukan terhadap tiga isu pokok yaitu
dignity of individual, human rights, dan social values. Secara implisit ketiga aspek tersebut
meletakkan hak individu sebagai perhatian pokok dalam pembangunan kependudukan.
Disamping itu konferensi ini juga menegaskan bahwa manusia merupakan pusat perhatian
dalam pembangunan berkelanjutan, karena penduduk merupakan sumber daya yang
paling penting dan paling bernilai.
Konferensi kependudukan yang diadakan di Cairo pada tahun 1994 secara umum
bertujuan untuk menjadikan penduduk sebagai subyek dan obyek pembangunan. Sebagai
subyek pembangunan makap penduduk tersebut harus menjadi SDM yang berkualitas.
Sedangkan sebagai obyek pembangunan maka penduduk tersebut harus mampu
menikmati hasil pembangunan. Beberapa khusus tujuan dan sasaran dari konferensi
Cairo yang relevan dengan kondisi pembangunan nasional Indonesia meliputi:
o Meningkatkan kualitas hidup melalui kebijakan dan program kependudukan dan
pembangunan untuk mencapai penghapusan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi
yang berkesinambungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan.
o

Upaya menjamin akses penuh pendidikan dasar atau sederajat bagi laki-laki dan
perempuan secepatnya, jika mungkin sebelum tahun 2015.

Memajukan keadilan dan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, dan


menghapus seluruh bentuk kekerasan terhadap perempuan, dan menjamin
kemampuan perempuan untuk mengkontrol kehidupan fertilitas mereka sendiri,
adalah dasar dari keterkaitan program kependudukan dan pembangunan.

Menurunkan tingkat kematian bayi dibawah 35 per 1,000 kelahiran hidup dan
tingkat kematian Balita di bawah 45 per 1,000.

Menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan sampai di bawah 125 per
100,000 kelahiran hidup untuk Negara-negara berkembang.

Pada tahun 2005 menjamin paling tidak 90 persen dan pada tahun 2010 paling
tidak 95 persen dari penduduk usia 15-24 tahun memiliki akses pada KIE dan

Rights based development mengacu pada pemikiran bahwa setiap penduduk tanpa membedabedakan asal usul memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dan menikmati hasil pembangunan.

L-5

pelayanan untuk mengembangkan life skills yang dibutuhkan untuk mengurangi


kerentanan mereka terhadap infeksi HIV, dimana pada tahun 2005 diupayakan
terjadi penurunan prevalensi secara global dan pada tahun 2010 terjadi penurunan
prevalensi sebesar 25 persen di negara-negara yang prevalensinya tinggi.
o

Isu kependudukan harus diintegrasikan dalam formulasi, pelaksanaan, monitoring,


dan evaluasi dari kebijakan dan program yang terkait dengan pembangunan
berkelanjutan.

Memperkuat kerjasama antara pemerintah, organisasi internasional, dan dunia


usaha dalam mengidentifikasi lingkup kerjasama yang baru.

Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut maka peserta konferensi merekomendasi
rencana aksi (Programme of Action) yang perlu dilakukan oleh masing-masing negara.
Program aksi tersebut dikembangkan dalam kerangka waktu 20 tahun sesuai dengan
banyak sasaran yang ingin dicapai yaitu tahun 2015. PoA tersebut kemudian dikaji dalam
arti dilihat tingkat pencapainya setiap 5 tahun bukan pada substansi komitmen yang telah
disepakati. Pada tahun 1999 telah dilakukan pertemuan ICPD+5 dan kemudian pada tahun
2004 dilakukan pertemuan ICPD+10.
Pertemuan ICPD+10 yang diselanggarakan di New York pada tanggal 11 14 Oktober
2004 yang lalu difokuskan pada peningkatan kembali komitmen masyarakat dunia tentang
pentingnya aspek kependudukan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan yang penting dalam pertemuan tersebut adalah penyampaian
statement dari setiap negara dalam sidang umum (General Assembly) PBB yang
berlangsung pada tanggal 14 Oktober 2004. Setiap negara menyampaikan laporan
tentang pencapaian PoA ICPD selama 10 tahun dan juga bagaimana pandangan negara
terhadap komitmen kedepan untuk mencapai sasaran ICPD tahun 2015. Dalam konteks
ini maka setiap negara tetap pada komitmen untuk mendukung komitmen ICPD dan
mendesak PBB agar memasukkan unsur pertumbuhan penduduk yaitu reproductive
health and reproductive rights including family planning kedalam sasaran MDG yang
memang selama ini belum ada.
Disamping itu pada tanggal 13 Oktober 2004 disampaikan pula deklarasi komitmen dari
berbagai tokoh dunia tentang dukung terhadap ICPD. Ratusan tokoh dunia yang terdiri
dari Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, pemenang nobel, pelaku bisnis, tokoh agama
dsb yang turut menandatangani deklarasi ini. Dua tokoh Indonesia yang dimasukkan PBB
sebagai pendukung deklarasi tersebut adalah KH Abdurrahman Wahid dan Megawati
Soekarnoputri.

Millennium Development Summit (MDS)

Millennium Development Summit merupakan pertemuan global untuk mengembangkan


strategi pembangunan abad 21 diselenggarakan di New York, Amerika Serikat pada bulan
September 2000. Presiden Indonesia saat itu KH Abdurrahman Wahid merupakan salah
satu dari 178 Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang hadir dalam pertemuan
tersebut. MDS merupakan penyatuan konsep dari berbagai pertemuan yang telah
dilakukan oleh PBB pada kurun waktu tahun 90-an. Deklarasi yang dihasilkan oleh
pertemuan tersebut (MDGs) merupakan intisari dari berbagai kesepakatan sebelumnya.
Dengan demikian MDS termasuk juga MDGs tidak dapat dipisahkan dengan kesepakatankesepakatan pertemuan sebelumnya termasuk ICPD. Perbedaan MDGs dengan deklarasi
pertemuan sebelumnya seperti PoA ICPD adalah bahwa MDGs lebih memuat sasaran
target yang harus dicapai oleh negara pada tahun 2015 sedangkan deklarasi pada
konferensi sebelumnya termasuk ICPD lebih memuat bagaimana upaya untuk mencapai
target-target tersebut. Tujuan dan sasaran millennium development golas dapat dilihat
pada lampiran-1. MDGs hanya dapat dicapai jika sasaran deklarasi konferensi-konferensi

L-6

sebelumnya termasuk ICPD juga tercapai. Sekjen PBB mengemukakan The Millennium
Development Goals, particularly the eradication of extreme poverty and hunger, cannot be
achieved if questions of population and reproductive health are not squarely addressed.
And that means stronger efforts to promote womens rights, and greater investment in
education and health, including family planning.
Tujuan dan sasaran MDGs sangat komprehensif meliputi aspek pembangunan sosial
termasuk kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan; pembangunan ekonomi
terutama dikaitkan dengan pengentasan kemiskinan, pengelolaan lingkungan hidup
lingkungan hidup dan kemitraan. Namun demikian para ahli kependudukan, pelaksana
program dan mereka yang banyak terlibat dengan ICPD-94 di Cairo melihat bahwa MDGs
belum komprehensif sebagaimana yang diinginkan. Aspek yang dirasakan terlewatkan
dalam MDGs adalah mencantumkan secara eksplisit persoalan pertumbuhan penduduk
utamanya terkait dengan reproductive health and reproductive rights. Oleh karena itu
sebagaimana dikemukakan diatas maka pada dua tahun terakhir ini dan puncaknya
adalah pada peringatan ICPD +10 diupayakan untuk merevisi tujuan dan sasaran MDGs
agar memasukkan unsur kesehatan reproduksi termasuk keluarga berencana. Upaya
tersebut berhasil dengan dimasukkannya isu kesehatan reproduksi sebagai indikator
MDGs.

Kerangka Pembangunan Post 2015

Kerangka pembangunan MDGs akan segera berakhir. Saat ini di tingkat global tengah
dilakukan berbagai pembahasan bagaimana kerangka pembangunan paska 2015.
Indonesia berperan besar dalam penyusunan kerangka tersebut. Presiden SBY
merupakan salah satu chair yang ditunjuk oleh Sekjen PBB untuk memimpin
pembahasan tersebut. Kelompok tersebut dikenal sebagai High Level Panel.
Penduduk telah menjadi tema sentral pembahasan kerangka pembangunan post 2015.
Sejak pertemuan pertama yang dilakukan oleh High Level Panel (HLP) di New York
sampai dengan pertemuan keempat di Bali, tema pembangunan yang berpusat pada
penduduk people centered development memang semakin mengemukakan. Thema ini
mulai dibangun dalam konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development)
sejak pertemuan Rio+20 tahun lalu. Konsep people centered development sendiri telah
berkembang di Indonesia sejak awal tahun 90an dirintis oleh pakar-pakar kependudukan
dan pembangunan bersama dengan Kantor Menteri Negara Kependudukanan/BKKBN.
Konsep ini dibawa oleh Indonesia kedalam Konferensi Kependudukan dan Pembangunan
(ICPD), Cairo 1994 dan di adopsi oleh ICPD sebagai strategi program kependudukan dan
pembangunan global. Hanya dalam pelaksanaan memang tidak berjalan sebagaimana
diharapkan karena berbagai persoalan antara lain komitmen pemerintah dan pengaturan
kelembagaan.
Dinamika penduduk dalam berbagai aspek telah menjadi fokus perhatian HLP. Perhatian
tentang migrasi, urbanisasi, perempuan, orang muda, penduduk rentan, serta pentingnya
data untuk perencanaan pembangunan telah menjadi pokok bahasan dalam berbagai
segment. Dalam komunike maupun berbagai statement dari anggota HLP dikemukakan
pentingnya pembangunan yang inclusive, dinikmati oleh seluruh golongan penduduk dan
harus melibatkan semua kelompok penduduk. Karenanya pengentasan kemiskinan
menjadi isu pokok dalam pembangunan paska 2015. Pembangunan harus berkeadilan
dan transparan. Pembangunan harus melibatkan dan memberadayakan berbagai
kelompok penduduk utamanya kaum muda dan perempuan. Pembangunan harus
dilakukan dalam pemenuhan hak azasi manusia.
Disamping itu agar tidak terjadi kerusakan besar-besaran terhadap lingkungan dan
peradaban maka perlu pula dikelola pola produksi dan konsumsi penduduk.
Kecenderungan perubahan dinamika penduduk seperti makin banyaknya migrasi, makin

L-7

terkonsentrasinya penduduk di daerah perkotaan (urbanisasi) telah menjadi perhatian oleh


anggota HLP. Pentingnya data untuk perencanaan pembangunan juga diberi bobot
perhatian yang sangat tinggi oleh anggota HLP. Hal ini sangat tepat karena people
centered development memerlukan keakuratan data agar pembangunan tepat pada
sasaran. Berbagai dimensi kehidupan manusia yang begitu kompleks telah dibahas dan
dirangkum untuk menghasilkan kerangka pembangunan paska 2015.
Namun sejauh ini persoalan pengelolaan kuantitas penduduk kurang mendapat perhatian
dari HLP. Persoalan besarnya kuantitas penduduk dunia saat ini dan kedepan lebih dilihat
dalam pendekatan adaptif. Berapa penduduk bumi pada tahun 2050? 9 miliar? 10 miliar?.
Apa yang harus dilakukan dengan penduduk sebesar itu. Pendekatan tersebut nampak
tergambar dalam komunike Bali maupun dalam pertemuan sebelumnya. Jika pada
pertemuan sebelumnya jumlah 9 miliar yang dipakai sebagai acuan maka dalam
pertemuan Bali yang dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan kerangka
pembangunan adalah 9-10 miliar.
Padahal apakah bumi akan dihuni 9 miliar atau 10 miliar tergantung pada kebijakan kita
mulai saat ini (pendekatan mitigasi). Bumi yang pada tahun 2050 dihuni oleh 9 miliar akan
sangat berbeda dengan bumi yang dihuni oleh 10 miliar jika kita melihat bumi tersebut
pada tahun 2100 yaitu sekitar satu generasi setelah tahun 2050. Perbedaan jumlah umat
manusia sebesar 1 miliar yang menghuni bumi pada tahun 2050 akan memberikan
perbedaan lebih dari 5 miliar umat manusia di bumi ini pada tahun 2100.
Pemimpin dunia harus memberi arah dalam strategi pembangunan paska 2015, apakah
bumi akan dihuni oleh 9 miliar? atau 10 miliar? (pendekatan mitigasi). Apa yang harus
dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut?. Apa yang diputuskan pemimpin dunia saat
ini akan sangat berpengaruh pada umat manusia 1 atau 2 generasi mendatang.
Lebih lanjut, pembahasan dinamika kependudukan dalam kerangka pembangunan paska
2015 yang lebih menekankan pada pendekatan adaptif akan mengaburkan perhatian
setiap pemerintah terhadap persoalan dinamika kependudukan itu sendiri. Walaupun
sebagaimana dikemukakan di atas bahwa HLP sepakat bahwa penduduk merupakan
pusat dari pembangunan.
Jeffrey Sachs dalam pertemuan ahli kependudukan yang berlangsung tanggal 23-24
Maret di Bali (dalam rangkaian dengan pertemuan HLP) mengemukakan perlunya
dilakukan pembahasan mendalam agar ditemukan formulasi yang utuh, solid dan tegas
terkait dinamika kependudukan dalam kerangka pembangunan 2015 dalam kerangka
pendekatan mitigasi. Formulasi dinamika kependudukan tersebut harus terlepas dari
persoalan kesehatan reproduksi dan hak reproduksi, persoalan peningkatan sarana dan
prasarana perkotaan, persoalan perlindungan hak migran dan lain sebagainya, yang
selama ini telah dilakukan. Walaupun bukan berarti hal tersebut tidak perlu dilakukan.
Dari diskusi dua hari tersebut para pakar kependudukan memberikan apresiasi atas visi
pemimpin dunia saat ini yang lebih mengkedepankan pembangunan berkelanjutan bukan
pada pertumbuhan. Lebih mengkedepankan pembangunan yang berpusat pada manusia.
Para pakar juga berkesimpulan bahwa laju pertumbuhan penduduk global masih perlu
dikendalikan. Ini terkait dengan carrying capacity dan carrying capability bumi untuk
menyangga kehidupan umat manusia. Footprint skenario yang ada memperlihatkan
bahwa kemampuan bumi saat ini menyangga kebutuhan umat manusia sudah melebihi
kapasitasnya. Pengaturan pola konsumsi dan produksi yang ramah lingkungan mutlak
diperlukan. Namun stabilisasi pertumbuhan penduduk juga faktor yang tidak kalah penting.
Menurut ahli kependudukan, skenario medium dari 3 skenario proyeksi penduduk yang
dilakukan oleh UNPD (United Nations Population Division) merupakan kondisi ideal yang
perlu dicapai. Penurunan pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat (skenario cepat) dan
terlalu lambat (skenario lambat) akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup umat
manusia dan planet bumi dimasa mendatang.

L-8

Untuk mencapai skenario medium maka tingkat kelahiran secara global harus berada
pada kisaran 1.8-2.1. Angka saat ini adalah 2.3 2.4. Jika tingkat kelahiran secara global
masih pada angka saat ini atau mengalami peningkatan maka skenario cepat yang akan
terjadi dan ini harus dihindari.
Arahan dari pemimpin dunia
yang tertuang dalam kerangka
pembangunan paska 2015 harus
secara eksplisit menekankan
issue ini.
Para ahli kependudukan juga
sepakat
bahwa
persoalan
dinamika
kependudukan
berbeda antar negara dan antar
kawasan
walaupun
ada
persoalan yang sama yang
harus dikelola secara global.
Persoalan
pertumbuhan
penduduk masih menjadi issue
di suatu negara bukan di negara
lain. Demikian pula persoalan
penduduk lanjut usia. Karena itu
kebijakan kependudukan tidak
bisa one fit for all. Pemimpin
masing-masing negara harus
mampu
melihat
persoalan
dinamika kependudukan secara
utuh dan perlu melihat dinamika
kependudukan dalam kerangka mitigasi bukan semata adaptasi seperti yang selama ini
banyak dilakukan. Karena itu issue dinamika kependudukan dalam kerangka
pembangunan paska 2015 perlu dikedepankan secara utuh dan dalam kerangka
pendekatan mitigasi.
Ada tiga persoalan dinamika kependudukan global pada tahun 2050 yang perlu mendapat
perhatian dari pemimpin dunia yaitu (1) jumlah dan laju pertumbuhan penduduk (2)
mobilitas penduduk yang semakin meningkat dan cenderung menuju kota sehingga laju
urbanisasi akan terus meningkat, (3) makin meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut.
Persoalan kaum muda adalah persoalan kependudukan saat ini sampai dengan 2030,
namun setelah itu dunia akan lebih besar menghadapi persoalan penduduk lanjut usia.
Ketiga persoalan tersebut (disamping persoalan kependudukan lainnya) harus dilihat
dengan pendekatan mitigasi bukan adaptasi semata. Bagaimana mengelola pertumbuhan
penduduk sehingga mendukung pembangunan berkelanjutan. Bagaimana mengarahkan
mobilitas penduduk sehingga tidak terjadi penumpukan atau konsentrasi disuatu wilayah
atau kota, ataupun bagaimana memberdayakan penduduk lanjut usia sehingga mereka
tidak semata menjadi beban pembangunan.
Pentingnya data untuk perencanaan pembanguna juga banyak dibahas oleh para pakar.
Disamping itu perlu dikembangkan indikator people centered development yang
sederhana dan mudah dipahami oleh perencana pembangunan di tingkat lokal untuk
mengevaluasi keberhasilan pembangunan. Indikator ini harus merubah indikator
pembangunan yang ada sekarang ini, yang terlalu menekankan pada aspek pertumbuhan
ekonomi.

L-9

Kebijakan dan Program Kependudukan di Indonesia


Penempatan penduduk sebagai titik sentral pembangunan tidak saja merupakan program
nasional namun juga komitmen hampir seluruh bangsa di dunia yang tergabung dalam
Perserikatan Bangsa-Bangsa. Walaupun diakui bahwa komitmen tersebut akhir-akhir ini
mengalami penurunan terutama terkait dengan pengendalian kelahiran. Komitmen
pendanaan masyarakat internasional untuk program kependudukan 2 yang telah disepakati
dalam ICPD-94 di Cairo tidak pernah tercapai3. Akibatnya banyak pihak meragukan
apakah sasaran ICPD Cairo-94 akan dapat dicapai. Akibatnya sasaran MDGs pun akan
menjadi sulit untuk dicapai.
Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk terbesar ke empat di dunia
dengan penduduk saat ini berjumlah sekitar 246 juta jiwa saat ini, sangat mendukung
pada upaya internacional untuk melihat pembangunan secara komprehensif, dengan
menempatkan penduduk sebagai titik sentral perhatian. Oleh karena itu, Indonesia sangat
mendukung hasil ICPD-94 dan juga berperan aktif dalam menentukan arah kebijakan
kependudukan secara global. Dukungan Indonesia terhadap kebijakan global
kependudukan tidak saja demi kepentingan nasional yaitu meningkatkan kesejahteraan
penduduk dan masyarakat Indonesia namun juga demi kepentingan global, kepentingan
umat manusia untuk menyelamatkan planet bumi, karena kita hidup dalam satu planet
bumi.
Perbedaan yang sangat mendasar dari kebijakan dan program kependudukan di
Indonesia sebelum dan sesudah ICPD-94 adalah dalam hal pendekatan. Pasca ICPD-94
kebijakan kependudukan sebagaimana juga kebijakan pembangunan lainnya lebih
mengkedepankan masalah hak asasi. Program keluarga berencana saat ini tidak lagi
ditekankan pada pendekatan demografis dalam upaya penurunan kelahiran namun
dikaitkan dengan pemenuhan hak reproduksi individu/pasangan. Peningkatan kualitas
pelayanan kemudian menjadi fokus pengembangan program saat ini. Ini juga berlakukan
untuk program lainnya seperti kesehatan maupun upaya perpindahan penduduk melalui
program transmigrasi. Berbeda dengan pendekatan lama maka, program transmigrasi
saat ini difokuskan pada pembangunan wilayah yang akan menjadi penarik bagi penduduk
untuk datang ke wilayah tersebut.
Secara umum terdapat tiga area yang menjadi fokus kebijakan kependudukan di
Indonesia. Pertama adalah pengendalian kuantitas penduduk. Di dalam kebijakan ini
kebijakan yang paling menonjol adalah pengelolaan kuantitas penduduk melalui
pengaturan kehamilan dan kelahiran (program keluarga berencana) dan penurunan
kematian (program kesehatan). Kedua adalah peningkatan kualitas penduduk melalui
program kesehatan dan pendidikan. Ketiga adalah pengarahan mobilitas penduduk
utamanya melalui program transmigrasi dan pembangunan wilayah. Disamping itu
penyempurnaan sistem informasi kependudukan juga menjadi fokus kebijakan
kependudukan di Indonesia.
Namun jika diperhatikan secara lebih mendalam maka selama ini kebijakan dan program
kependudukan di Indonesia sangat menitik beratkan pada upaya untuk mengelola
pertumbuhan penduduk. Upaya tersebut dilakukan melalui program keluarga berencana.
Tidak seperti halnya program keluarga berencana di banyak negara lainnya, maka
program keluarga berencana di Indonesia tidak semata-mata berupa pelayanan

Dana untuk program kependudukan sangat luas sifatnya termasuk dana untuk kesehatan, pendidikan,
keluarga berencana, penanggulangan HIV/AIDS dsb.
Untuk klasifikasi dan kategori pendanaan
kependudukan ini, UNFPA bekerjasama dengan NIDI (the Netherlands International Development Institute)
melakukan analisis dan perhitungan secara periodic dengan mengambil data dari seluruh negara.
3
ICPD-94 Cairo menyepakati bahwa Negara maju menyediakan dana 0.7 % dari GNP mereka untuk program
kependudukan dan pembangunan global

L-10

kontrasepsi kepada pasangan yang membutuhkan. Program keluarga berencana dikaitkan


dengan upaya untuk memberdayakan keluarga agar dapat mandiri baik secara ekonomi
maupun non ekonomi. Pelaksanaan program keluarga berencana yang dilaksanakan oleh
pemerintah diarahkan untuk membantu keluarga miskin (pra sejahtera dan sejahteran I)
agar mereka dapat meningkatkan kesejahteraan disamping mampu mengatur kehidupan
reproduksinya.
Pembangunan kependudukan yang meliputi pengaturan kuantitas, pengembangan
kualitas dan pengarahan persebaran dan mobilitas merupakan pembangunan
sumberdaya manusia. Dengan pengertian ini maka penduduk merupakan titik sentral
pembangunan. Disatu sisi penduduk harus dibangun agar mampu menjadi pelaku atau
sumberdaya pembangunan. Dalam hal ini menjadi hak bagi penduduk untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan dan pendidikan dalam arti luas termasuk pendidikan keagamaan,
moral dan etika sehingga yang bersangkutan memiliki kesempatan untuk meningkatkan
kualitas hidupnya. Disisi lain maka penduduk memiliki persamaan hak untuk menikmati
hasil pembangunan. Untuk mencapai hal tersebut, maka strategi pembangunan harus
benar-benar memperhatikan kondisi kependudukan sehingga hasil pembangunan tersebut
dapat dirasakan oleh sebagian besar penduduk yang ada.
Dari ketiga aspek kependudukan maka dapat dikatakan Indonesia telah cukup berhasil
dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui keberhasilan program keluarga
berencana selama 4 dekade terkahir ini. Tingkat kelahiran turun dari rata-rata 5.6 pada
tahun 70-an menjadi 2.6 pada tahun 2012u. Dampaknya pertumbuhan penduduk (LPP)
turun dari 2.32 pada kurun waktu 1971-1980 menjadi 1.49 pada kurun waktu 2010.
Walaupun LPP menurun tapi sebagai dampak dari demographic momentum4, jumlah
penduduk terus meningkat.
Prof. Widjojo Nitisastro pada tahun 1970, melakukan proyeksi penduduk Indonesia sampai
dengan tahun 1991 dengan mempergunakan data Sensus Penduduk 1961. Hasil proyeksi
penduduk yang dilakukan oleh Prof. Nitisastro dengan skenario C. Skenario C didasarkan
pada asumsi bahwa program KB di Indonesia tidak akan berkembang karena tidak
mendapat dukungan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat menunjukkan bahwa
tanpa program KB maka pada tahun 1990 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan
mencapai jumlah sekitar 330 juta, sedangkan kenyataan yang ada berdasarkan Sensus
Penduduk (SP) tahun 2010 adalah 237 juta. Berarti laju pertumbuhan penduduk dapat
dihambat hingga menghasilkan selisih jumlah penduduk sekitar 100 juta juta. Banyak
implikasi yang dirasakan dari dari saving jumlah penduduk tersebut terutama jika dikaitkan
dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia dewasa ini.
Aspek lain dari kependudukan (kualitas dan persebaran/mobilitas penduduk) masih
menghadapi permasalahan yang serius dibandingkan dengan pengendalian
kuantitas dan pertumbuhan penduduk. Sampai sedemikian jauh, walaupun pada
tataran kebijaksanaan telah secara sungguh-sungguh mengembangkan konsep
pembangunan yang berwawasan kependudukan, pemerintah tampaknya belum
4

Demographic momentum adalah pertumbuhan yang disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk yang
berada pada usia reproduksi, sebagai akibat tingginya tingkat kelahiran pada masa lalu. Penduduk tidak
mengalami lagi pertambahan (zero population growth = ZPG) setelah dalam jangka waktu yang panjang telah
mencapai kondisi penduduk tumbuh seimbang (PTS). Yang dimaksud dengan penduduk tumbuh seimbang
(PTS) adalah kondisi dimana angka kelahiran dan kematian rendah (untuk angka kelahiran, seorang
perempuan memiliki jumlah anak rata-rata paling tinggi dua orang dalam jangka waktu lama, minimal satu
generasi). Dalam jangka panjang PTS akan menuju pada penduduk tanpa pertumbuhan, yaitu suatu kondisi
penduduk pada suatu wilayah atau daerah tertentu tidak mengalami pertambahan jumlah karena pertumbuhan
alami (ditentukan oleh angka kelahiran dan kematian tetapi tidak termasuk oleh akibat migrasi) yang sudah
mencapai nol.

L-11

dapat secara optimal mengimplementasikan dan mengintegrasikan kebijaksanaan


tersebut dalam berbagai program sektoral. Ada beberapa alasan mengapa hal itu
terjadi antara lain,
pertama, agar perhatian kita terfokus pada suatu masalah, dalam implementasi
program serikali membagi masalah dan pemecahannya secara sektoral. Tidak
hanya masalah kependudukan yang dipisahkan secara sendiri dari pembangunan,
tetapi juga masalah wanita cenderung disoroti terpisah. Pada hal dengan luasnya
masalah penduduk, lingkungan dan pembangunan pendekatan sektoral tersebut
akan menghabiskan waktu dan energi serta suberdana dan daya yang ada.
Kedua, masih banyak negara yang percaya bahwa jikalau masalah ekonomi dapat
dipecahkan maka fertilitas akan menurun secara otomatis. Mereka tidak menolak
keluarga berencana, tetapi mereka tidak melihat bahwa pelayanan keluarga
berencana adalah berkaitan dengan masalah lingkungan dan pembangunan secara
timbal balik. Pengendalian penduduk bukan dipandang sebagai kebijaksanaan
kependudukan secara makro, tetapi pemberiaan kontrasepsi sebagai upaya untuk
memenuhi kebutuhan individu dan keluarga saja. Ketiga, isu masalah kependudukan
masih menjadi sangat sensitif untuk beberapa negara termasuk Indonesia, terutama
yang menyangkut masalah pemakaian kontrasepsi (khususnya bagi mereka yang
belum menikah dan aborsi. Pada hal, masalah lingkungan juga bukan kalah
sensitifnya bagi beberapa negara yang ekonominya sangat tergantung pada
sumberdaya alam (Wilopo, 2004).Banyak sekali hambatan yang masih terjadi dalam mengimplementasikan pembangunan
kualitas dan persebaran penduduk. Kematian ibu hamil dan melahirkan (angka tahun 2007
adalah 228 per 100 ribu kelahiran hidup) masih merupakan persoalan kesehatan utama di
Indonesia saat ini. Malah diperkirakan sasaran MDGs sebesar 125 tahun 2015 sulit
dicapai. Upaya menurunkan kematian bayi (AKB) dapat dipandang berhasil. Menurut data
SDKI 2012, AKB adalah sekitar 32 per 1000 kelahiran. Pencapaian universal education
untuk sekolah dasar juga dapat dikatakan berhasil. Namun Indonesia mengalami banyak
kendala pada tingkat pendidikan selanjutnya, dengan tingginya angka drop-out setelah
sekolah dasar. Wajar 9 tahun memang merupakan kebijakan yang sangat mendukung
namun kebijakan ini masih baru dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir ini.
Amandemen UUD-45 yang memberikan perhatian lebih besar pada bidang kesehatan dan
pendidikan merupakan harapan besar pada percepatan peningkatan kualitas penduduk
tersebut.
Demikian pula pembangunan yang masih terpusat pada wilayah tertentu menyebabkan
persebaran penduduk antar daerah di Indonesia sangat tidak merata. Ini tentu saja sangat
tidak mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Desentralisasi diharapkan
lebih memeratakan pembangunan tersebut yang pada gilirannya akan berpengaruh pada
persebaran penduduk. Namun sampai tahap sekarang ini, desentralisasi juga masih
belum menemukan format yang ideal.
Salah satu penjelasan mengapa Indonesia sebelum reformasi kurang serius dalam
menangani pembangunan kependudukan adalah karena perhatian yang lebih diutamakan
pada pertumbuhan ekonomi. Seperti halnya di banyak negara berkembang, perhatian
utama pemerintah adalah memacu pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi,
kemudian, dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan nasional yang pokok. Walaupun
Indonesia memiliki wawasan trilogi pembangunan yaitu pertumbuhan, pemerataan, dan
stabilitas, namun pada kenyataannya pertumbuhan senantiasa mendominasi strategi
pembangunan nasional.
Strategi pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan tanpa melihat potensi
penduduk yang ada tidak berlangsung secara berkesinambungan (sustained). Jika
dikaitkan dengan krisis ekonomi pada akhir dekade 90-an, terjadinya krisis tersebut tidak
lepas dari kebijaksanaan ekonomi yang kurang mengindahkan dimensi kependudukan.

L-12

Strategi ekonomi makro yang tidak dilandasi pada situasi/kondisi ataupun potensi
kependudukan yang ada menyebabkan pembangunan ekonomi tersebut menjadi sangat
rentan terhadap perubahan. Belum terjadi strategi pembangunan yang berorientasi serius
pada aspek kependudukan selama ini.
Sejauh ini walaupun disebutkan dalam RPJP bahwa pembangunan nasional adalah
pembangunan sumberdaya manusia seiring dengan pembangunan ekonomi, namun
dalam kenyataannya pembangunan nasional masih terlalu terfokus pada pembangunan
ekonomi. Disamping itu, nampak jelas bahwa pemilihan sasaran pembangunan ekonomi,
khususnya pengembangan industri, dalam banyak kasus tidak memperhatikan dan
memperhitungkan kondisi kependudukan yang ada.
Dalam hal mengintegrasikan dimensi kependudukan dalam perencanaan pembangunan
terutama pembangunan daerah daerah maka manfaat paling mendasar yang diperoleh
adalah besarnya harapan bahwa penduduk yang ada di daerah tersebut menjadi pelaku
pembangunan dan penikmat hasil pembangunan. Itu berarti pembangunan berwawasan
kependudukan lebih berdampak besar pada peningkatan kesejahteraan penduduk secara
keseluruhan dibandingkan dengan orientasi pembangunan ekonomi yang berorientasi
pada pertumbuhan (growth). Dalam pembangunan berwawasan kependudukan ada suatu
jaminan akan keberlangsungan proses pembangunan itu sendiri.
Pembangunan berwawasan kependudukan menekankan pada pembangunan lokal,
perencanaan berasal dari bawah (bottom up planning), disesuaikan dengan kebutuhan
dan kondisi masyarakat lokal, dan yang lebih penting adalah melibatkan masyarakat
dalam proses perencanaan. Sebaliknya orientasi pembangunan pada pertumbuhan
ekonomi yang tinggi akan membawa pada peningkatan ketimpangan pendapatan.
Industrialisasi dan liberalisasi yang terlalu cepat memang akan meningkatkan efisiensi dan
produktivitas namun sekaligus juga meningkatkan pengangguran dan setengah
menganggur, sebagaimana yang terlihat selama ini di Indonesia.
Dengan demikian sebanarnya desentralisasi yang dilaksanakan sejak tahun 2000 memiliki
potensi yang sangat positif terhadap pemerataan pembangunan dan penciptaan
pembangunan dengan melihat pada potensi lokal. Pelayanan akan lebih dekat dengat
penduduk sehingga diharapkan penduduk dapat lebih menikmati hasil pembangunan.
Namun sebagaimana dikemukakan terdahulu pelaksanaan desentralisasi ini belum
menemukan format yang ideal untuk mencapai cita-cita terwujudnya pembangunan
berwawasan kependudukan atau terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Dalam
banyak observasi lapangan justru terlihat bahwa masing-masing daerah berlomba-lomba
memforkuskan pada pembangunan infrastruktur dan pembangunan ekonomi dan
mengkesampingkan pembangunan manusia dan pengelolaan lingkungan hidup.

Kondisi Dinamika Penduduk Indonesia Saat ini dan Kedepan


Diperkirakan, pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia akan terus menurun, walau
jumlahnya masih akan terus meningkat sampai sekitar 2050 baru setelah itu Indonesia
akan mengalami penduduk tumbuh seimbang. Besarnya penduduk akan meningkatkan
kebutuhan akan energi, makanan dan air, yang tanpa upaya teknologi akan berarti terjadi
pengurasan besar2an terhadap sumberdaya alam. Besarnya jumlah penduduk tersebut
sebenarnya merupakan modal untuk melakukan pembangunan. Tantangannya adalah
bagaimana meningkatkan kualitas.
Seperti halnya dengan megatren dunia, penduduk Indonesia pun sedang dalam proses
menua. Jumlah dan persentase penduduk lansia di Indonesia telah dan akan terus
meningkat. Bedanya, para lansia di negara maju hidup di tengah prasarana negara maju

L-13

dengan tunjangan pendapatan yang lebih baik daripada yang terjadi di negara
berkembang, yang hidup di tengah prasarana yang tidak ramah terhadap penduduk tua.
Di negara maju, proses penuaan penduduk ini terutama karena angka kelahiran yang
rendah. Di Indonesia, proses penuaan penduduk juga disebabkan karena adanya migrasi
keluar. Khususnya di daerah yang relatif miskin, penduduk mudanya meninggalkan
daerahnya. Dengan angka kelahiran yang rendah, migrasi keluar penduduk muda
menyebabkan ekonomi daerah tersebut makin sulit berkembang, bersamaan dengan
peningkatan biaya untuk mengurusi penduduk lansia di daerah itu. Usaha mengurangi
kemiskinan pun menjadi sulit.
Tantangannya adalah bagaimana menjadikan para lansia sebagai aset, dan bukan beban
perekonomian? Kemudian bagaimana menciptakan prasarana yang ramah penduduk
lansia, sehingga mereka menjadi tetap sehat, produktif, dan dapat tetap bergerak?
Prasarana yang ramah lansia tidak saja berguna untuk para lansia, tetapi juga penduduk
yang muda. Prasarana yang ramah lansia biasanya juga adalah prasarana yang
menciptakan kenikmatan untuk penduduk muda. Secara politik, peran penduduk lansia
dalam pemilihan umum juga akan meningkat. Peran politisi dan pengusaha lansia juga
akan makin menonjol.
Penduduk Indonesia telah dan akan terus makin mobil, makin sering berpindah tempat,
baik jarak jauh maupun pendek. Baik untuk waktu yang singkat mau pun waktu yang lebih
lama. Bahkan penggambaran bahwa orang Jawa lebih suka mangan ora mangan, pokoke
kumpul (berkumpul daripada makan) pun akan lenyap. Orang Jawa akan makin sering
ditemui di mana pun di Indonesia dan di negara lain. Buat mereka kumpul ora kumpul,
pokoke mangan (kumpul atau tidak, yang penting makan). Suku lain, terutama yang
terkenal sebagai perantau, seperti Bugis, akan makin mobil. Pasar kerja penduduk
Indonesia makin luas, bukan hanya di kebupaten mereka, tetapi ke seluruh Indonesia,
bahkan seluruh dunia.
Mobilitas yang meningkat di Indonesia juga berarti makin seringnya terjadi pertemuan latar
belakang budaya yang berbeda. Migran di suatu daerah dapat menjadi ancaman bagi
penduduk lokal. Konflik antara pendatang dan penduduk lokal perlu mendapat perhatian
yang meningkat. Penanganan yang baik terhadap potensi konflik ini akan memacu
pembangunan di daerah penerima.
Namun walaupun mobilitas meningkat persebaran penduduk masih terkonsentrasi di
wilayah2 tertentu. Persebaran penduduk masih tidak merata. Daerah atau pulau yang jauh
dari pusat pembangunan akan tetap tidak diminati untuk didimai. Dalam konteks ini maka
konsep negara kesatuan mesti terus dibina agar mereka yang tinggal di daerah
perbatasan dan pulau terpencil masih tetap merasa sebagai orang Indonesia.
Selain itu, arus tenaga kerja ke dunia internasional akan terus meningkat. Walau begitu,
tenaga kerja yang masuk ke pasar internasional juga akan berubah. Bukan lagi terdiri dari
mereka yang berpendidikan rendah dan bekerja, misalnya sebagai pekerja bangunan atau
pembantu rumah tangga. Pada 2020 pasar internasional akan mengalami kesulitan
mencari orang Jawa sebagai pembantu rumah tangga yang murah dan penurut. Pada
saat itu, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri akan makin terdiri dari mereka
yang berpendidikan lebih tinggi. Tenaga kerja Indonesia akan mengisi posisi yang makin
penting di dunia.
Bersamaan dengan meningkatnya arus tenaga kerja ke pasar internasional, arus tenaga
kerja asing ke Indonesia pun akan meningkat. Kalau dulu, tenaga kerja asing terpusat

L-14

pada mereka yang berpendidikan tinggi dan di posisi puncak, di masa yang akan datang,
tenaga kerja asing di Indonesia akan banyak terdiri dari mereka dengan pendidikan yang
lebih rendah. Bukan tidak mungkin, Indonesia akan kekurangan tenaga kerja
berpendidikan rendah dan kemudian mendatangkan pekerja bangunan atau pembantu
rumah tangga dari negara lain.
Peningkatan keberadaan tenaga kerja asing, dengan berbagai latar belakang budaya,
dapat juga menimbulkan berbagai ketegangan sosial. Apalagi ketika banyak dari mereka
mengisi pekerjaan yang membutuhkan pendidikan relatif rendah.
Seperti di tingkat dunia, perekonomian Indonesia pun akan makin ditandai dengan
perekonomian perkotaan. Jumlah dan persentase penduduk Indonesia yang tinggal di
perkotaan akan terus meningkat. Karena perkotaan sering berarti tiadanya atau sedikitnya
lahan pertanian, megatren urbanisasi ini juga memberikan tantangan pada penyediaan
pangan di Indonesia.
Mega trend lain adalah meningkatnya jumlah dan persentase penduduk usia produktif (1564). Peningkatan ini berdampak pada menurunnya dependency ratio yang secara
potensial berdampak positif pada pembangunan ekonomi dan sosial. Dalam bahasa
demografi disebut sebagai masa bonus demografi. Bonus demografi terbaik akan terjadi
pada sekitar tahun 2020-2030 dimana pada waktu itu Indonesia mengalami window of
opportunity. Tapi potensi tersebut tidak dapat terealisir jika kualitas yang dimiliki oleh
penduduk kelompok usia produktif tersebut tidak memadai. Potensi tersebut justru dapat
menjadi bencana. Setelah tahun 2030, Indonesia kemudian akan menghadapi
peningkatan pesat pada kelompok penduduk usia lanjut (65+).

Penutup
Indonesia sebelum ICPD-94 sudah menjadikan kependudukan dalam mainstream
pembangunan nasional. Paling tidak ini terjadi pada tataran kebijakan. Menarik untuk
melihat analisis Hal Hill (1996) bahwa pada awal orde baru, pemerintah cukup hati-hati
dalam mengembangkan kebijakan ekonomi. Pengembangan ekonomi makro disesuaikan
dengan kondisi sosial ekonomi penduduk. Namun sejak pertengahan tahun 80-an,
Indonesia menjadi sangat agresif dalam mengejar pertumbuhan ekonomi. Pembangunan
ekonomi kemudian kurang disesuaikan dengan kondisi kependudukan yang ada.
Pengembangan high tech menjadi pilihan utama walaupun dinamika kependudukan belum
menunjang. Alokasi dana pembangunan menjadi lebih berat untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur dan industri dibandingkan
dengan membangun manusia. Walaupun dalam GBHN selalu dikatakan bahwa kebijakan
pembangunan Indonesia adalah pembangunan ekonomi seiring dengan pembangunan
sumberdaya manusia.
Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 kemudian lebih membuktikan bahwa
pembangunan SDM, pembangunan yang berwawasan pada kependudukan, tidak dapat
ditawar-tawar lagi. Upaya kearah itu mulai ditata secara sistematis dengan memberikan
landasan hukum yang lebih pasti. Amandemen UUD-45, UU SJSN, kebijakan pro-poor
melalui subsidi dan lain sebagainya diharapkan akan lebih berdampak positif pada
pembangunan SDM. Namun perjalanan masih panjang, jumlah penduduk yang begitu
besar dengan kualitas yang relatif rendah ditambah dengan besarnya warisan hutang
mempersulit upaya peningkatan kesejahteraan yang berkesinambungan. Demikian pula,
desentralisasi yang belum menemukan bentuk ideal serta masih kentalnya nuansa KKN
memperparah keadaan.

L-15

Daftar Rujukan
Bappenas, 2010, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals,
Jakarta.
BKKBN, 2004, Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Berkelanjutan,
Jakarta.
BPS, Bappenas, and UNDP. 2001. Indonesia Human Development Report 2001, Towards
a New Consensus, Democracy and Human Development in Indonesia.
Dixon-Muller, Ruth, 1993, Population Policy and Womens Rights: Transforming
Reproductive Choice (Westport, Conn., Praeger).
Germain, Adrienne (1987), Reproductive Health and Dignity: Choices by Third World
Women, background paper prepared for the International Conference on Better Health for
Women and Children through Family Planning, Nairobi, 5-9 October (Population Council).
Hill, Hal, 1996, The Indonesian Economy Since 1966: Southeast Asias Emerging Giant,
Cambridge University Press, 1996.
Jones, Gavin.1998, The Bali Declaration and the Programme of Action of the International
Conference on Population and Development in the Context of the Population Dynamics of
the Asian and Pacific Region, United Nation UNFPA - ESCAP, Asian Population Studie
Series No.153, 1998.
Prijono Tjiptoheriyanto. 2001. Kependudukan dalam era reformasi dalam Agus Dwiyanto
dan Fathurochman. Reorientasi Kebijakan Kependudukan. Yogyakarta : Pusat Penelitian
Kependudukan UGM, hal 57-76.
Sen, Gita, Adrienne Germain & Lincoln C. Chen, eds. (1994), Population Policies
Reconsidered: Health, Empowerment, and Rights, (Harvard, Harvard University Press).
Sukamdi. 1992. Kebijakan Kependudukan, Suatu Pengantar. Tidak diterbitkan.
United Nations, 1994, Programme of Action of the International Conference on Population
and Development (ICPD), New York.
Wilopo, Siswanto.A,2004. Dimensi Kependudukan dalam Pembangunan Berkelanjutan.
Makalah disampaikan pada Bahan pembelajaran pada Diklat Perencanaan Pembangunan
Wilayah Berwawasan Kependudukan, diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan
Pelatihan, Departemen Dalam Negeri R.I., Jakarta 9 Maret 2004

L-16

Model Pembangunan Yang Menekankan


Pada Pertumbuhan Ekonomi

Memaksimalkan pemanfaatan
modal keuangan dan penggunaan
teknologi

Membutuhkan kemajuan
(penyempurnaan) teknologi untuk
j
kesinambungan
g
menjamin
pertumbuhan ekonomi namun
seringkali teknologi mengabaikan
lingkungan

Melupakan peranan sentral Sumber


Daya Manusia dan Lingkungan
sebagai sumber hayati yang
didayagunakan dalam proses
produksi untuk memperoleh
pertumbuhan ekonomi

Dampak Teknologi Tidak Ramah


Lingkungan

Pencemaran alam meningkat


Spesies hidup banyak yang punah
Perubahan Iklim

Kekurangan Air

Menurunkan Produktifitas Tanaman

Penghancuran Usaha
Perikanan

manusia
i
yang selalu
menuntut lebih
dari yang mampu
disediakan bumi

yg mampu disediakan 1 bumi

Todaysreality:GlobalResourceOvershoot

Tuntutan Terhadap Bio-Kapasitas Bumi Untuk


Kesejahteraan
j
Manusia: SaatIni
Saat Ini
2050

Pakaian dan Perumahan

Pertumbuhan akan
menimbulkan keinginan dan
keinginan akan menimbulkan
ketamakan

Energi (penyerapan karbon)

Pertumbuhan memiliki keterbatasan

Konservasi
Keanegaraman
g
Hayati
y

Bumi cukup menyediakan segala


sesuatu
t untuk
t k memuaskan
k kebutuhan
k b t h
semua orang, bukan semua ketamakan
(M h t
(Mahatma
G
Gandhi)
dhi)

Makanan

Pasokan Energi Bio-Massa)

180

200

Meadows D et.al (1972),


The Limits to Growth: A
Report for the Club of
Rome's Project on the
Predicament of

"

Mankind

Meadows D, et.al(2004),
Limits To Growth: the 30year update

Bardi (2011),
(2011) The
Limits to Growth
Revisited

1. Jumlah penduduk dunia


meledak;
2. Spesies liar menghilang;
3. Lingkungan Alam memburuk,
dan
4. Biaya sumber daya dari minyak
sampai air pun semakin mahal

Pertumbuhan ekonomi yang


berkelanjutan green
technology/green economy
Pertumbuhan ekonomi yang
berkeadilan pro job/pro manpower
Stabilisasi pertumbuhan penduduk
Peningkatan kkualitas
alitas SDM
Pengentasan
g
kemiskinan

Jadi, dunia macam apa yang kita wariskan


k
kepada
d anak
k cucu ki
kita?
?

Kelestarian lingkungan hidup

J
James
Robertson(2005),
R b t
(2005)
The New Economics of
Sustainable Development: a
briefing for policy akers
A Report for the European
Commission

Pola produksi dan konsumsi

Laporan terbaru oleh Panel Tingkat Tinggi


g Keberlanjutan
j
Global
SekJen PBB tentang
menegaskan kembali bahwa:
"G
"Gaya
hidup
hid buruk,
b
k pola
l produksi
d k i dan
d
konsumsi dan dampak buruk dari
pertumbuhan penduduk"
penduduk merupakan
pendorong utama tantangan terhadap
pembangunan berkelanjutan di planet ini
Laporan ini menyoroti perlunya memahami
perubahan demografi dan memperjelas
pentingnya mengintegrasikan dinamika
kependudukan ke dalam kebijakan
pemerintah yang efektif

16

Pertumbuhan Penduduk Yang Tinggi Bisa Menjadi Masalah Besar Dunia

On population factor, our success in tackling poverty depends on our success in


managing our population growth
growth. The global population has increased by 2
billion in less than three decades, surpassing 7 billion last year. Another 2 billion
is estimated to add to this mark by 2050. Such a scale of population growth will
impact on our ability to provide food, energy and other basic services

Tahun Yang
Diperlukan
Untuk
Menambah
Years
to Add Each
Billion
to
Setiap Milyar Penduduk
Dunia
W ld Population
World
P
l ti

Third

130 years (1930)


tinggi

30 years (1960)

Fourth

14 years (1974)

Fifth

13 years (1987)

Si th
Sixth

12 years (1999)

Seventh

12 years (2011)

Eighth

(1800)

All off Human


H
History
Hi t

menengah
rendah

13 years (2024)
Sources: UN Population Division and Population Reference Bureau.

Pertama: Penduduk sangat besar dan masih akan


bertambah sampai dengan tahun 2050

23

450,0

Medium

High

Low

Constant

421,7

400,0
350,0

338 5
338,5

380,6
,

328,8

TotalPop
pulation(millio
ons)

Fi t
First
Second

Proyeksi Penduduk Dunia Menurut Tiga Skenario

300,0
293 5
293,5

254,2

250,0
252,7

200,0
150,0

141,2

100,0
50,0
0,0

SM Adioetomo, calculated from UN Projection


2000 2005 2010 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050 2055 2060 2065 2070 2075 2080 2085 2090 2095 2100

24

Kedua: Jumlah dan proporsi penduduk usia produktif


(15-60 tahun) sampai dengan tahun 2030 sangat besar
d merupakan
dan
k potensi
t
i pembangunan
b
jik dikelola
jika
dik l l
dengan baik

POPULATION OF INDONESIA
1600 - 2000
225.00

205 8
205.8

200.00
175.00
150.00
125.00
100.00
75.00
50 00
50.00
25.00

10.8

14.2

40 2
40.2

18.3

0.00

1600

1700

1800

1900

2000

Sumber: Hugo, et.al (1987)


S
Sensus,
2000 (BPS)
Diolah oleh: SM Adioetomo, 2005
26

Ketiga: Meningkatnya penduduk lanjut usia (>60 tahun)


setelah tahun 2030

Keempat: Penduduk yang tinggal di perkotaan akan


semakin meningkat utamanya karena migrasi dari desa

Number of old population by age, 1950-2050,Indonesia


Total 79.8
90,000
80,000

World Population Projection, 2006

11.8

Number ('000)

70,000
,
60,000

32

50,000
40,000

21.4

80+

30,000
20 000
20,000

35.8

4.9

70-79
60 69
60-69

10,000
0

Year

Calculated by SM Adioetomo based on UN Population Proection rev 2002.

Keenam: Kualitas Penduduk yang


masih rendah (perhatian pada aspek
k
kesehatan
h t d
dan pendidikan)
didik )

Kelima: Ketidakseimbangan persebaran penduduk &


ekonomi
Ilustrasi Persebaran Penduduk

Target MDGs yang masih harus mendapat


perhatian (HIV/AIDS, Kesehatan
Ibu, kekurangan gizi)
Perilaku berisiko di kalangan anak muda
semakin mengkhawatirkan (rokok, junk
perilaku sexual))
food, p
Pengangguran di kalangan anak muda jauh
lebih tinggi daripada penduduk usia kerja
secara umum

Ilustrasi Persebaran Ekonomi

Salvado Dali, 1928

Tingkat drop out sekolah setelah pendidikan


dasar masih menjadi tantangan besar

Ketujuh: Masalah Kemiskinan

Kedelapan: Cakupan dan kualitas data kependudukan


untuk perencanaan pembangunan

Persentase penduduk dibawah


garis kemiskinan mengalami
penurunan namun secara
jumlah masih cukup besar
Mereka yang tergolong hampir
miskin (near poor) masih
banyak
Pola pengeluaran rumah
tangga keluarga miskin sangat
tidak baik ( persentase
pendapatan untuk rokok dan
pulsa tinggi)
p
gg )

Ketepatan data penduduk sangat diperlukan


agar kebijakan dan program pembangunan
tepat sasaran.
Data yang ada belum dimanfaatkan secara
maksimal.
Cakupan dan kualitas data dan informasi
kependudukan semakin memprihatinkan.
memprihatinkan

Kebijakan
j
dan perencanaan
p
p
pembangunan
g
ekonomi

harus memperhatikan aspek kependudukan pro


people, pro job bukan pro capital (financial)

Stabilisasi pertumbuhan penduduk melalui program KB


Pemerataan
P
t
pusat-pusat
t
t pembangunan
b
agar d
dapatt

menjadi daya tarik persebaran penduduk

Picasso, sister, 1902

36

Program Pendidikan, Kesehatan

dan Pelatihan yang berkualitas agar


penduduk menjadi sumberdaya
manusia yang mampu bersaing

Perbaikan pola konsumsi dan

pengeluaran rumahtangga

We do not inherit the


earth from our ancestors

We Borrow It From
Our Children

Perbaikan
P b ik d
dan pemanfaatan
f t d
data
t

kependudukan untuk perencanaan


pembangunan monografi
d
desa,
kkecamatan,
t
kkabupaten,
b
t
provin
i
si, neraca kependudukan

Pengembangan insentif kepada

daerah yang memiliki program


p
((kuantitas, kualitas
kependudukan
dan pengelolaan data) yang baik

Chi f Seattle,
Chief
S ttl 1854
an ancestral leader of the Suquamish
Tribe, Earth-keeper Hero

Advokasi Isu Kaum Muda Di Indonesia


Young People
Todays Resources, Tomorrows Assets

Young people are a source of creativity, energy and initiative, of dynamism and social renewal.
They learn quickly and adapt readily. Given the chance to go to school and find work, they will
contribute hugely to economic development and social progress. Were we to fail to give them
these opportunities, at best we would be complicit in an unforgivable waste of human potential.
At worst, we would be contributing to all the evils of youth without hope: loss of morale, and
lives that are socially unproductive and potentially destructive of the individuals themselves,
their communities and even fragile democracies.
(We the Peoples: The Role of the United Nations in the 21st Century)

L-24

1. Pendahuluan
Kaum Muda, diyakini sebagai kelompok masyarakat yang paling dinamis. Sejarah menunjukkan
bahwa Kaum Muda adalah agen perubahan mengenai banyak hal positif. Di abad ke duapuluh
saja, tercatat pergolakan dan perlawanan kaum muda di Eropa dan Amerika Serikat telah
mendorong peningkatan kesadaran tentang hak azasi manusia dan demokrasi. Di Indonesia
sendiri, Gerakan Boedi Oetomo di awal abad ke duapuluh menjadi cikal bakal kesadaran
berbangsa dan bertanah air yang berujung pada lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun demikian, kita sering kesulitan memberi batasan (difinisi) tentang Kaum Muda. Banyak
kelompok masyarakat mendifinisikan Kaum Muda sesuai dengan maksud dan tujuan masingmasing. Kejelasan difinisi diperlukan untuk memfokuskan pembahasan dan menghilangkan
berbagai kerancuan yang tidak perlu. Berikut ini beberapa sumber yang membahas tentang
Kaum Muda. Didalam Kamus Bahasa Indonesia1, anak muda (dengan kata dasar anak)
adalah orang yg masih muda; pemuda. Dengan kata dasar muda didapat kata pemuda
adalah orang yang masih muda; orang muda: harapan bangsa. Di Negara Bagian Queensland,
Australia, Kaum Muda adalah penduduk dengan rentang usia 1225 tahun2. Di Negara
Persemakmuran, Kaum Muda didifinisikan sebagai penduduk yang berusia antara 1529
tahun3. Sementara itu, UNICEF4 memberikan batasan usia penduduk remaja antara 1019
tahun5. UN-DESA6 memberikan batasan usia 1524 tahun untuk menyebutkan Kaum Muda.
Terakhir, BKKBN dalam Country Report, 20127 menggunakan batasan usia 1224 tahun
untuk menyebutkan Adolescent and Youth dalam laporannya. Namun, dengan pertimbangan
ketersediaan data, untuk selanjutnya makalah ini menggunakan batasan penduduk usia 1024
tahun untuk menyebut Kaum Muda.
Makalah ini bermaksud untuk membahas hal-hal pokok yang berkaitan dengan Kaum Muda dan
pengaruhnya kepada pembangunan bangsa ini. Diawali dengan memahami fakta dan
karakteristik Kaum Muda, kemudian dilanjutkan dengan berbagai aspek positif dan kesulitan
yang mereka hadapi. Makalah ini ditutup dengan kebijakan yang dapat diambil, atau dilakukan,
oleh pemerintah dalam rangka mengarahkan potensi Kaum Muda menjadi realitas.

2. Fakta dan Karakteristik


Bagian ini akan membahas besaran (magnitude) Kaum Muda, siapa
saja mereka, sebaran lokasi tempat tinggal dalam arti kota-desa dan
kelompok pulau besar di Indonesia serta proyeksi kedepannya.

Tabel 1. Proporsi Anak di Perkotaan


Tahun
%
1955
27
1965
30
1975
33
1985
36
1995
40
2005
43
UNICEF: State of Worlds Children, 2012

Umumnya, Kaum Muda adalah bagian masyarakat yang paling sehat


dan dinamis, tetapi tantangan dan persoalan senantiasa mengancam mereka. Memahami
dinamika Kaum Muda bukan hanya berorientasi ke masa kini, namun sekaligus memberikan

Edisi 2008
Young People are usually defined as being aged between 12 25 years of age.
The Commonwealths definition of Young People is 15 - 29
4
Badan PBB yang mengurusi hal-ikhwal anak-anak dunia
5
UNICEF segments adolescence can into three stages: early (10-13 years of age), middle (14-16), late (17-19) adolescents
6
United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN-DESA), Consultation preceding the UN World Youth Report 2013
United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN-DESA), World Youth Report 2011
7
Adolescent and Youth, Status, challenges and programmes, Country Report National Population and Family Planning, 2012
2
3

L-25

pemahaman terhadap masa depan, sekitar 30-40 tahun kedepan ketika Kaum Muda menjadi
tua.
Data demografi global menunjukkan bahwa Kaum Muda merupakan populasi yang besar dari
penduduk dunia. Menurut PBB, sekitar 1,2 milliar (18%) penduduk dunia di saat ini adalah
Kaum Muda yang berusia 15-24 tahun. Diantara mereka itu tadi 87% tinggal di Negara
Berkembang dengan rincian 62% tinggal di Asia dan sisanya di Afrika (UNPY, 2009)8. Menurut
UNICEF9, Kaum Muda yang tinggal di perkotaan telah meningkat untuk kurun waktu 1955
hIngga 2005 (Tabel 1). Di tahun 1955, mereka yang hidup di daerah perkotaan adalah sebesar
27 persen dan di tahun 2005 menjadi 43 persen. Suatu jumlah yang
Tabel 2. Proporsi Kaum Muda Menurut
Benua, 1950 - 2050
hampir duakali lipat. Penduduk Dunia yang setiap tahunnya
Benua
1950
2010
2050
Afika
5
12
20
diperkirakan
meningkat sekitar 60 juta jiwa itu, pada tahun 2050
Asia
31
50
54
Eropa
38
14
9
diproyeksikan 70 persennya tinggal di perkotaan10.Proporsi terbesar
ALatin
10
15
10
dari Kaum Muda ini nantinya akan tinggal di Afrika dan Asia. Angka
AUtara
15
8
6
Pacific
1
1
1
ini menggeser peranan Eropa dan Amerika (Utara dan Selatan)
UNICEF: State of Worlds Children 2012
secara signifikan (Tabel 2). Kaum Muda yang pada tahun 1950
hanya 5 persen proporsinya di Benua Afrika diproyeksikan menjadi 20 persen di tahun 2050. Di
Benua Asia, yang semula 31 persen diproyeksikan menjadi 54 persen. Di pihak lain, proporsi
Kaum Muda di Benua Eropa yang di tahun 1950 sebesar 38 persen akan menjadi 9 persen di
tahun 2050. Di Benua Amerika juga mengalami hal yang sama; Tabel 3. Pertumbuhan dan % Kaum Muda
Jmlh(Jt)
% Total
proporsinya menurun dari 25 persen menjadi 16 persen, dengan Thn
1990
47
27
51
24
penurunan terbesar terjadi di Amerika Utara. Bila dibaca lebih kritis, 2005
2010
53
23
artinya, pergeseran proporsi tersebut telah secara drastis 2012
54
22
56
22
menggeser tempat tinggal Kaum Muda di Dunia, porporsi mereka 2015
2020
59
22
2025
59
21
yang tinggal di Benua Afrika dan Asia akan lebih dari 4 (empat) kali Sumber:
Country Report, 2012
lipat dari yang tinggal di Eropa dan Amerika. Akan bisa
dibayangkan tekanan permintaan Kaum Muda yang harus disediakan oleh Benua Afrika dan
Asia tersebut di kemudian hari.
Sensus Penduduk 2010 mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa, 53,4
juta diantaranya adalah Kaum Muda yang terdiri dari laki-laki 51% dan wanita 49%. Bila dilihat
dari angka absolutnya maka telah terjadi Tabel 4. Kaum Muda Menurut Jender, 2000 2025 (Juta Jiwa)
Usia
Jender
2000
2005
2010
2015
2020
2025
peningkatan dari 47 juta di tahun 1990 (Tabel 3).
Laki-2
10,4
11,2
11,7
10,3
10,5
10,6
10-14
Wanita
10,0
10,6
11,0
9,9
10,1
10,2
Meskipun demikian, angka relatifnya justru
Laki-2
10,6
10,4
10,6
10,0
10,3
10,5
15-19
Wanita
10,5
10,0
10,3
9,7
9,9
10,1
mengalami penurunan dari 27 persen menjadi 23
Laki-2
9,2
9,8
9,9
11,0
10,0
10,2
20-24
persen. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010Wanita
10,0
10,1
10,0
10,7
9,7
9,9
10-24
60,7
62,7
63,5
61,6
60,5
61,5
2025 yang dasar perhitungan proyeksi Jumlah
Sumber: diolah dari Tabel I.1.1. Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025(2008)
menggunakan data SP2000 menghitung jumlah
Kaum Muda akan meningkat menjadi 59 juta di tahun 2025. Dan, sekali lagi, proporsinya
menurun menjadi 21 persen. Didalam teori dinamika kependudukan, data diatas menunjukkan
gejala yang sesuai dengan teori transisi kependudukan11.

Jumlah, Sebaran dan Proyeksinya


Kaum Muda yang diamati dari tahun 2000 hingga 2010 di Tabel 4, menunjukkan peningkatan
cukup bermakna. Berawal dari 60,7 juta jiwa di tahun 2000, di tahun 2005 meningkat menjadi
8

The United Nations Programme on Youth, 2009, A guide to International Year of Youth August 2010-2011 Our Year Our Voice.
UNICEF menggunakan kelompok usia 0 -19 tahun.
Perlu dicatat, separuh dari negara yang penduduknya tumbuh paling cepat berada di katagori negara miskin.
11
Umumnya, ada tiga tahap Transisi Kependudukan, yaitu,: pertama, terjadi peningkatan proporsi kaum muda. Tahap kedua, proporsi kaum muda
menurun karena lansia (usia 65+) meningkat disertai dengan peningkatan yang tajam penduduk usia 25-64 tahun. Tahap terakhir, proporsi orang
dewasa menurun tajam sedangkan proporsi lansia naik cukup tajam.
9

10

L-26

62,7 juta dan selanjutnya menjadi 63,5 juta jiwa. Dalam hal jenis kelamin, terlihat laki-laki
meningkat lebih cepat dibandingkan wanita. Juga, kelompok usia lebih muda, 10-14 tahun,
untuk periode 2000-2010 merupakan komponen Kaum Muda yang terbesar. Kaum Muda lakilaki usia 10-14 tahun meningkat dari 10,4 juta jiwa menjadi 11,7 juta jiwa. Sementara Kaum
Muda wanita kelompok usia 15-19 tahun jumlahnya menurun dari 10,5 juta jiwa di tahun 2000
menjadi 10,3 juta di tahun 2010.
Angka proyeksi12 Kaum Muda menunjukkan kelompok usia muda, 10-14 dan 15-19, masih
terjadi peningkatan. Kelompok usia 10-14 tahun meningkat dari 10,3 juta dan 9,9 juta di tahun
2015 menjadi 10,6 juta dan 10,2 juta di tahun 2025. Pada kelompok usia 15-19 tahun
Tabel 5. Kaum Muda Menurut Tempat Tinggal, 2000 2025(Juta Jiwa)
meningkat dari 10 juta dan 9,7 juta menjadi 10,5
Usia
Tempat
2000
2005
2010
2015
2020
2025
dan 10,1 juta. Sedangkan kelompok yang lebih
Kota
10, 4
11,2
11,7
10,3
10,5
10,6
10-14
Desa
10,0
10,6
11,0
9,9
10,1
10,2
dewasa, usia 20-24, laki-laki dan wanita
Kota
10,6
10,4
10,6
10,0
10,3
10,5
15-19
mengalami penurunan dari 11 juta dan 10,7 juta
Desa
10,5
10,0
10,3
9,7
9,9
10,1
Kota
9,2
9,8
9,9
11,0
10,0
10,2
20-24
di tahun 2015 menjadi 10,2 juta dan 9,9 juta di
Desa
10,0
10,1
10,0
10,7
9,7
9,9
Jumlah 10-24
60,7
62,7
63,5
61,6
60,5
61,5
tahun 2025.
*) Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000, 2010
Bappenas, RPJM dan RPJP 2025
Tempat tinggal Kaum Muda seperti yang
ditampilkan di Tabel 5 menunjukkan perkotaan menjadi semakin banyak dihuni dibandingkan
pedesaan. Untuk periode 2000 hingga 2010, Kaum Muda yang bertempat tinggal di perkotaan
terjadi peningkatan, kecuali pada kelompok umur 15-19 tahun yang bertahan pada angka 10,6
juta jiwa. Sedangkan di pedesaan, jumlah Kaum Muda yang tinggal disitu terjadi penurunan
atau konstan. Khusus untuk kelompok umur 10-14, mereka yang tinggal di pedesaan
mengalami peningkatan dari 10 juta menjadi 11 juta. Ini seperti yang telah diuraikan
sebelumnya bahwa kelompok umur 10-14 Tabel 6. Kaum Muda Menurut Pulau dan Jender, 2005 -2025 (Juta Jiwa)
Sum
Kalim
Sulaw
Bali
Mal
Pap
tahun ini secara umum memang
Tahun
Jender
Jawa
atra
antan
esi
Cs
uku
ua
Laki-2
18,1
7,4
1,9
2,4
1,8
0,38
0,4
mengalami peningkatan jumlah. Sehingga
Wanita
17,7
7,2
1,8
2,4
1,7
0,36
0,4
2005
yang tinggal di perkotaan maupun di
Penduduk
128,5
46,0
12,1
15,8
11,8
2,2
2,6
Persen 10-24
28
32
31
30
30
34
31
pedesaan sama-sama meningkat dengan
Laki-2
17,3
7,4
1,9
2,4
1,8
0,4
0,44
Wanita
16,8
7,3
1,8
2,4
1,8
0,4
0,40
pengaruh terbesar diperoleh dari Kaum
2010
Penduduk
136,6
50,6
13,3
17.0
12,8
2,3
2,9
Persen 10-24
25
29
28
28
28
35
29
Muda dari pedesaan.
Laki-2
16,9
7,5
1,9
2,4
1,8
Wanita
16,3
7,2
1,9
2,3
1,8
Penduduk
141,4
52,4
14,3
18,1
13,7
Persen 10-24
23
28
27
26
26
Laki-2
16,7
7,6
1,9
2,4
1,9
Wanita
16,1
7,3
1,9
2,3
1,8
2020
Penduduk
146,5
58,1
15,3
19,2
14,5
Persen 10-24
22
26
25
24
26
Laki-2
16,9
7,8
2,0
2,5
1,9
Wanita
16,3
7,5
1,9
2,4
1,9
2025
Penduduk
150,8
61,6
16,2
20,1
15,2
Persen 10-24
22
25
24
24
25
Diolah dari Lampiran 2.1. Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025(2008)
2015

0,4
0,4
2,5
32
0,4
0,4
2,7
30
0,4
0,4
2,8
29

0,44
0,42
3,2
27
0,44
0,42
3,4
25
0,48
0,46
3,7
25

Memperhatikan lokasi tempat tinggal


menurut kelompok pulau besar di
Indonesia, nampak bahwa proporsi Kaum
Muda cenderung menurun (Tabel 6).
Proporsi Kaum Muda yang berkisar
antara 28-34 persen di tahun 2005 itu
telah menurun menjadi 25-29 persen di
tahun 2010. Penurunan proporsi yang terjadi di Jawa, Sumatra dan Kalimantan adalah sebesar
3 angka. Sedangkan di Sulawesi, Bali-NTB-NTT, Maluku dan Papua hanya 2 angka. Yang
menarik di kepulauan Maluku, justru menunjukkan peningkatan dari 34 persen menjadi 35
persen.
Proyeksi angka proporsi tersebut sampai dengan tahun 2025 memperlihatkan
ketidakseragaman. Proporsi Kaum Muda di Sumatra, Kalimantan dan Maluku mengalami
penurunan terbesar dari 32-27 persen di tahun 2015 menjadi 29-24 persen di tahun 2025;
sebesar 3 angka. Penurunan proporsi terendah terjadi di Bali-NTB-NTT dan Jawa dari 26-23
persen di tahun 2015 menjadi 25-22 persen di tahun 2025; sebesar 1 angka.

12

Angka proyeksi ini mengunakan data dasar tahun 2000.

L-27

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa secara riil telah terjadi penurunan Kaum Muda di pulaupulau dengan proporsi penduduk besar Indonesia tetapi dalam proyeksi terjadi kebalikan.
Angka proyeksi lebih konservatif. Angka-angka yang disajikan cenderung lebih rendah daripada
yang secara riil terjadi di lapangan, dan bahkan cenderung menurun.
Besaran angka2 tersebut berkaitan erat dengan berbagai masalah sosial, dalam arti positif
maupun negatif. Kaum Muda berperan sebagai penerus pembangunan bangsa. Jumlah besar
Kaum Muda yang dibarengi dengan kualitas merupakan harta (asset) bagi Indonesia. Demikian
pula bila sebaliknya. Kaum Muda yang secara sembarangan dibiarkan berkembang dengan
sendirinya adalah petaka (problem) bagi Indonesia.
Pembangunan umumnya direfleksikan kedalam partisipasi kerja. Penduduk usia 15-65 tahun
diartikan sebagai penyumbang produksi bangsa. Merekalah yang menanggung beban untuk
menyediakan kebutuhan seluruh penduduk dari yang termuda hingga yang tertua, termasuk
dirinya sendiri.
Besarnya angka Kaum Muda Indonesia dewasa ini merupakan potensi bagi Indonesia kedepan.
Cohort Kaum Muda 10-19 tahun akan menjadi pelaku utama pembangunan di satu hingga dua
dasawarsa ke depan. Ahli kependudukan memperhitungkan bahwa sejak tahun 2020,
Indonesia akan memiliki peluang besar dari memiliki Kaum Muda yang jumlahnya besar itu.
Peluang itu akan terjadi selama 10 tahunan; sekitar 2020 hingga 2030. Selama periode tersebut
upaya pembangunan perlu dimaksimal karena jika terlewatkan maka peluang tersebut akan
sulit didapat lagi. Penduduk usia tua (aging population) akan mengikuti periode itu. Membaiknya
kualitas hidup mendorong peningkatan angka harapan hidup sehingga semakin banyak
penduduk bertahan hidup dengan usia yang lebih panjang.
Penting untuk dicatat, bahwa kondisi kependudukan saat ini merupakan hasil dan
perkembangan kebijakan kependudukan di tahun 1970an. Struktur penduduk menurut usia
yang dewasa ini ada di Indonesia merupakan perwujudan baby-boom tahun 1970an tersebut.
Dengan pendekatan perhitungan rasio ketergantungan (dependency ratio) terhadap komposisi
kependudukan Indonesia tersebut didapat kondisi peluang kependudukan seperti yang telah
disebutkan diatas. Kondisi seperti ini sulit diulang lagi terjadinya untuk masa-masa mendatang.
Menurut UNFPA, inilah waktunya bagi negara berkembang untuk menyongsong datangnya
bonus demografi dengan persiapan yang matang bagi Kaum Mudanya13.
Kaum Muda merupakan kelompok penduduk yang dipersiapkan menjadi pelaksana
pembangunan. Kepada mereka diperlengkapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mampu
melaksanakan fungsi dan perannya dengan baik. Disamping perlindungan dari kekerasan,
diskriminasi dan eksploitasi serta jaminan kesehatan mental dan fisiknya, pendidikan dan
pelatihan keterampilan menjadi aspek penting yang harus dimiliki oleh Kaum Muda. Pada
akhirnya, bentuk keterlibatan mereka di dunia kerja itu nanti akan tertampak melalui seberapa
banyak mereka terlibat dalam dunia kerja.

3. Peluang dan Tantangan


Kaum Muda, mempunyai prestasi dan peluang sekaligus tantangan dan hambatan. Ada dua hal
yang sering diasosiasikan dengan Kaum Muda; olah raga dan pendidikan. Makalah ini akan
13

UNFPA Special Youth Programme Report 2007

L-28

lebih fokus kepada aspek pendidikan. Ini karena melalui pendidikan diyakini sebagai jaminan
untuk memperbaiki masa depan Kaum Muda.
Kaum Muda Indonesia memiliki catatan luar biasa dalam olimpiade dunia ilmu pengetahuan.
Beberapa hasil yang berhasil dihimpun oleh Tim Muda Kompas, antara lain, meliputi: pertama,
Internasional Mathematics Olympiad (IMO). Kompetisi ini pertama kali diselenggarakan tahun
1959. Sampai tahun 2003, Indonesia telah 16 kali mengikuti IMO. Pertama kali di Australia
dengan hasil yang diperoleh selama lima tahun adalah satu medali perak, lima perunggu dan
lima honorable mention. Kedua, Internasional Physic Olimpiad (IPhO). Kompetisi ini pertama
kali diadakan di Warsawa, Polandia tahun 1967, dan selanjutnya diselenggarakan tiap tahun di
negara berbeda. Indonesia pertama kali mengikuti kompetisi ini pada tahun 1993 dengan
prestasi satu medali perunggu dan satu honourable mention. Sampai tahun 2003 Indonesia
sudah mengumpulkan lima medali emas, tujuh medali perak,17 medali perunggu dan 16
honourable mention. Ketiga, International Biology Olimpiad (IBO). Pada tahun 1999 Indonesia
baru pertama kali mengirimkan tim observer karena persyaratan untuk menjadi anggota tim IBO
harus menjadi anggota observer dulu. Baru Pada tahun 2000 Indonesia mengirimkan peserta
ke Antalya,Turki, dengan memperoleh satu medali perunggu atas nama Putri Dianita dari SMU
Negeri 8 Jakarta. Sampai tahun 2003, Indonesia sudah mengumpulkan satu medail perak,
enam medali perunggu dan tiga honorable mention. Keempat, International Olympiad in
Informatics (IOI). Kegiatan olimpiade komputer internasional ini diikuti pertama kali oleh
Indonesia di Eindhoven, Belanda. Waktu itu Wirawan, dari SMU St Albertus, Malang, Jawa
Timur memperoleh satu medali perak. Sampai tahun 2003 Indonesia sudah mengumpulkan
satu medali emas, empat medali perak, enam medali perunggu dan empat honorable mention.
Kelima, International Astronomy Olimpiad (IAO). Untuk pertama kalinya Indonesia berpartisipasi
pada IAO kedelapan di Stochlom, Swedia, Oktober 2003. Prestasi yang diraih adalah Second
prize, satu Third prize dan satu Special prize14. Selanjutnya, Kaum Muda Indonesia yang terdiri
sembilan pelajar SD, SMP, dan SMA mengukir prestasi internasional pada International
Exhibition for Young Inventors (IEYI) yang berlangsung pada 28-30 Juni 2012 di Bangkok,
Thailand. Enam karya yang diikutkan semua memperoleh penghargaan berupa 2 medali emas,
2 medali perunggu, dan 2 penghargaan spesial.

Pendidikan

Sebelum membahas hal-ikhwal Kaum Muda dalam hal pendidikan, akan diperlihatkan
gambaran sekilas kondisi pendidikan di Indonesia dewasa ini. Berdasarkan laporan Education
for All (EFA) yang dirilis tahun 201115, tingginya angka putus sekolah menyebabkan peringkat
indeks pembangunan Indonesia di urutan rendah diantara negara yang termasuk dalam
Education Development Index. Indonesia berada pada posisi ke-69 dari 127 negara, sedangkan
Malaysia (65) dan Brunei (34). Sementara, laporan Depdikbud setiap menit ada empat anak
yang putus sekolah. Data pendidikan tahun 2010 menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun
terancam putus sekolah. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka putus sekolah ini
namun yang paling umum adalah tingginya biaya pendidikan yang membuat siswa tidak dapat
melanjutkan pendidikan dasar.
Lebih dari 54% pengajar masuk katagori tidak memiliki kualifikasi. Sementara sekitar 50%
pengajar di seluruh Indonesia mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu
yang mereka miliki. Banyak, namun tidak diketahui jumlahnya, pengajar yang belum sarjana
tetapi tetap mengajar di SMU/SMK. Padahal pengajar merupakan ujung tombak meningkatkan
14
15

Mayoritas informasi diambil dari Tim Muda Kompas, Sabtu 16 Maret 2013.
UNESCO Education for All Global Monitoring Report 2011

L-29

kualitas pendidikan. Proses belajar-mengajar melalui pengajar yang dilaksanakan di kelas


menentukan kualitas pengajaran. Disamping itu, distribusi pengajar tidak merata. Di seluruh
Indonesia terdapat 34% sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pengajar. Di perkotaan
21% sekolah kekurangan pengajar dan di pedesaan 37% sekolah kekurangan pengajar.
Sementara di daerah terpencil terdapat 66% sekolah yang mengalami kekurangan tenaga
pengajar. Kondisi bangunan sekolah secara umum juga dalam kondisi memprihatinkan. Sejauh
ini terdapat 13,2% bangunan sekolah dalam kondisi memerlukan perbaikan sesegera
mungkin16. Demikian gambaran singkat suasana pendidikan dimana Kaum Muda Indonesia
akan dipersiapkan menuju kompetisi yang akan semakin ganas sejalan dengan akan
berlakunya Asin Free-Trade area di tahun 2016 ini.
Dewasa ini, hampir tidak ada Kaum Muda di Indonesia yang tidak bisa membaca+menulis huruf
latin (buta aksara latin). Namun demikian, di mata Prof. Yohanes Surya, Kaum Muda di
manapun juga memiliki potensi yang sama untuk berprestasi, asalkan mereka memperoleh
kesempatan17. Ini dibuktikan dengan berhasilnya siswa SMA di Papua untuk meraih medali
emas olimpiade matematika dunia. Yang perlu Tabel 7. Pendidikan Kaum Muda Menurut Jender,19712002(%)
Tdk
mendapat perhatian adalah apa kelanjutan dari
Tmt
Tdk
SD
SD
SMP
SMU
PT
Tahun
Jender
Sekolah
melek huruf Kaum Muda tersebut? Angka
Laki-2
14,1
32,1
35,8
12,6
5,1
0,3
1971
Wanita
26,8
32,9
29,7
7,6
2,7
0,1
kelulusan sekolah Kaum Muda menunjukkan
Laki-2
nd
22,7
36,7
32,1
7,9
0,6
1980
gambaran menarik (Tabel 7).
Wanita
nd
30,7
38,0
25,6
5,0
0,6
Laki-2
2,4
13,7
38,7
Wanita
4,7
17,0
40,3
Laki-2
0,9
5,1
32,9
2000
Wanita
1,2
5,9
34,9
Laki-2
0,9
5,1
31,0
2002
Wanita
1,0
5,5
33,0
Kaum Muda 15-24 tahun
Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 200
1990

27,3
22,9
36,5
34,2
38,0
35,8

17,3
5,0
23,4
22,2
23,9
22,8

0,6
0,6
1,1
1,5
1,0
2,0

Secara garis besar, di kalangan Kaum Muda telah


terjadi peningkatan jenjang pendidikan secara
bermakna. Ini terlihat dari menurunnya proporsi
Kaum Muda yang berstatus tidak sekolah, yaitu
dari 14% dan 27% di tahun 1971 menjadi hanya 0,9% dan 1,0% di tahun 2002. Penurunan
yang sangat bermakna terjadi di wanita, dari 27 persen menjadi 1 persen. Program wajib
belajar dari pemerintah yang diawali dari 6 tahun dan sekarang ini menjadi 12 tahun
menunjukkan hasilnya. Sesuai dengan kelompok usianya, dalam hal ini 15-24 tahun, proporsi
terbesar Kaum Muda berada pada jenjang sekolah dasar, menengah pertama dan menengah
atas. Wanita mendominasi proporsi jenjang sekolah dasar, dibandingkan laki-laki.
Jenjang sekolah menengah pertama dan menengah atas, keduanya menunjukkan peningkatan
proporsi yang bermakna; dengan proporsi terbesar berada pada jenjang sekolah dasar dan
sekolah menengah pertama. Proporsi ini agak menghawatirkan. Mengingat masih besarnya
proporsi Kaum Muda yang bersekolah di tingkat dasar maupun menengah, padahal dengan
rentang usia 15-24 tahun mereka seharusnya sudah berada di jenjang sekolah yang lebih
tinggi. Ini nanti akan kita lihat kembali ketika membicarakan partisipasi mereka dalam hal
sekolah.
Di titik ekstrem yang lain, Kaum Muda wanita yang berpendidikan Perguruan Tinggi (PT)
menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Bahkan melebih peningkatan yang terjadi di
jender laki-laki. Bila di tahun 1971 proporsinya 0,3 persen laki-laki dan 0,1 persen wanita
(wanita sepertiganya) maka di tahun 2002 proporsinya menjadi 1 persen laki-laki dan 2 persen
wanita. Dari segi kependudukan, perkembangan tersebut sangat positif dampaknya. Didalam
16
17

World Bank(2007), Teacher Employment and Deployment in Indonesia


Kalimat langsung Profesor dengan segudang prestasi ini adalah Tidak ada manusia yang bodoh di dunia ini, yang ada hanyalah tidak adanya
kesempatan untuk belajar dari guru yang baik dan metode yang tepat, sehingga membuat saya tidak putus asa dalam mengajar anak Papua ini.
Beliau pelopor TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) juga pendiri STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan) SURYA di Tangerang. Sejak
tahun 2009 Prof. Yohanes Surya bekerjasama dengan pemda daerah-2 tertinggal mengembangkan matematika GASING (Gampang Asyik dan
menyenangkan), dimana anak-anak daerah tertinggal itu dapat belajar matematika dengan mudah. Siswa yang dianggap "bodoh" ternyata mampu
menguasai matematika kelas 1-6 SD dalam waktu hanya 6 bulan. Program ini sekarang sedang diimplementasikan diberbagai daerah tertinggal
terutama di Papua.

L-30

banyak literatur kependudukan, telah lama difahami bahwa semakin meningkatnya proporsi
wanita yang bersekolah berpengaruh positif pada kelangsungan hidup18 anaknya (misalnya di
Cleland and van Ginneken, 198819; dan Caldwell and Caldwell 198520). Sebenarnya akan
sangat menarik jika dapat dilakukan analisis terhadap dorongan di masyarakat untuk
menyekolahkan anak wanitanya. Mengingat selama ini tata nilai anak yang umum dianut di
banyak tempat, akan lebih mendahulukan anak laki-laki daripada anak wanita.
Angka partisipasi pendidikan dasar Kaum Muda Indonesia sangat baik, melebihi angka rata-rata
ASEAN dan angka Dunia. Dalam Tabel 8. Angka Partisipasi Murni SD, SMP/MTs, SMA/MA, 1991-2008(%)
Tabel 8 terlihat dengan jelas bahwa
APM SD
APM SMP/MTs
APM SMA/MA
1991 2000 2005 2008 2000 2005 2007 2008 2000 2005 2007 2008
angka partisipasi murni Indonesia
Indonesia 95.1 94.3 95.6 95.7 49.7 59.2 69.7 68.4
- 17.5 18.2 21.3
berada di 94 persen atau lebih.
SE Asia 94.0 91.9 93.4 93.3 50.8 58.1 63.1 63.1 18.0 21.1 22.4 24.1
World 81.6 82.6 86.2 87.9 52.2 56.7 58.5 59.5 18.9 24.0 25.9 26.5
Sedangkan angka ASEAN yang Sumber:
Diolah dari Tabel I.27 UNESCO Statistical Yearbook for Asia and the Pacific 2011
tertinggi hanya mencapai 94 persen,
bahkan angka dunia yang tertinggi hanya mencapai 88 persen. Tentu prestasi ini erat kaitannya
dengan program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah, tahun 1984 untuk wajib belajar 6
tahun dan tahun 1994 untuk wajib belajar 9 tahun21. Angka partisipasi ini nampak kebalikan jika
diperhatikan pada jenjang sekolah yang .ebih tinggi; yaitu jenjang menengah pertama dan
menengah atas. Angka-angka Indonesia nampak tertingal dibandingkan ASEAN dan dunia.
Namun demikian perlu dicatat angka partisipasi Indonesia meningkat sangat cepat. Terutama
angka untuk jenjang sekolah menengah pertama,
Tabel 9. Partisipasi Pendidikan, 1995 - 2010
Partisipasi
1995
2000
2005
2010
untuk kurun waktu 8 tahun peningkatannya hampir
APK SD/MI
107,00
107,68
106,63
111,63
separuhnya, yaitu dari 49,7 persen di tahun 2000
APK SMP/MTs
65,65
77,62
82,09
80,35
APK SMA/MA
42,43
50,22
55,21
62,53
menjadi 68,4 persen di tahun 2008. Angka-angka
APK PT
9,55
10,26
11,06
16,35
ASEAN dan dunia tidak memiliki kecepatan seperti
APM SD/MI
91,45
92,284
93,25
94,72
APM SMP/MTs
50,96
60,27
65,37
67,62
yang dicapai oleh Indonesia. Sementara itu untuk
APM SMA/MA
32,60
39,33
43,50
45,48
angka jenjang sekolah menengah atas, selama 3
APM PT
7,15
7,95
8,71
11,01
Sumber: BPS Statistik Pendidikan
tahun angka partisipasi Indonesia meningkat dari 17,5
persen di tahun 2005 menjadi 21,3 persen di tahun 2008. Sekali lagi, kecepatan kenaikan
angka Indonesia masih berada diatas angka ASEAN dan dunia.
Angka partisipasi kasar (APK) dan partisipasi murni (APM) 22 nampak semakin menurun sejalan
dengan semakin meningkatnya usia Kaum Muda. APK yang umum dipakai sebagai indikator
pertama melihat proporsi penduduk yang bersekolah di setiap jenjang sekolah, dari tahun ke
tahun menunjukkan angka penurunan yang sangat drastis. Kaum Muda yang karena wajib
belajar itu berbondong-bondong mengikuti sekolah dasar sehingga proporsinya melebihinya
100 persen, pada jenjang-jenjang sekolah diatasnya mengalami penurunan yang sangat
bermakna hingga hanya sepersepuluhnya saja yang bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Meskipun perlu dicatat juga, bahwa proporsi angka partisipasi di masing-masing jenjang
pendidikan mengalami peningkatan selama periode 1995 hingga 2010. Misalnya, APK jenjang
sekolah dasar meningkat dari 107 persen di tahun 1995 menjadi 111,6 persen di tahun 2010.
18

Pada gilirannya, menurunnya mortalitas akan diikuti dengan menurunnya fertilitas; keduanya merupakan komponen utama transisi demografis.
Cleland, J. and J.K. van Ginneken. 1988. Maternal education and child survival in developing countries: the search for pathways of influence. Social
Science and Medicine 27,12:1357-1368.
20
Caldwell, J.C. and P. Caldwell. 1985. Education and literacy as factors in health. Pp. 181-185 in Good Health at Low Cost: Proceedings of a
Conference held at the Bellagio Conference Center, Bellagio, Italy, April 29-May 2, ed. S.B.Halstead, J.A.Walsh and K.S.Warren. New York:
Rockefeller Foundation.
21
Pemerijntah mencanangkan program Wajib Belajar 6 Tahun pada tahun 1984. Kemudian pada tahun 1994 ditingkatkan menjadi Program Wajib
Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Hal ini berarti bahwa setiap anak Indonesia yang berumur 7sampai 15 tahun diwajibkan untuk mengikuti
Pendidikan Dasar 9 Tahun.
22
Per difinisi, APK adalah Proporsi anak sekolah pada suatu jenjang tertentu dalam kelompok usia yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut.
Catatan: APK SD/MI, APK SMP/MTs, APK SM/MA, atau APK PT. Sedangkan APM adalah Proporsi anak sekolah pada satu kelompok usia tertentu
yang bersekolah pada jenjang yang sesuai dengan kelompok usianya. Catatan: Jenjang SD/MI usia 7-12 tahun, SMP/MTs: usia 13-15 tahun,
SM/MA: usia 16 -18 tahun, dan Perguruan Tinggi: usia 19-24 tahun
19

L-31

Demikian pula halnya dengan APK di jenjang perguruan tinggi yang meningkat dari 9,6 persen
menjadi 16,4 persen di tahun 2010.
Hal lain yang patut dicermati dari Tabel 9 adalah besaran selisih antara APK dan APM di setiap
jenjang pendidikan selama periode 1995-2010. Dari tabel tersebut nampak hanya selisih di
jenjang sekolah menengah pertama yang selisihnya menurun. Di jenjang sekolah yang lain (SD,
SMA dan PT) memperlihatkan terjadinya kenaikan selisih selama periode tersebut. Selisih APK
dengan APM ini merupakan in-efisiensi dalam penggunaan sumberdaya untuk pendidikan. Hal
ini karena dengan semakin lebih besarnya APK daripada APM menunjukkan banyaknya Kaum
Muda yang terpaksa masih bersekolah di setiap kelas dan jenjang pendidikan daripada
kelompok usia yang ditunjukkan oleh APMnya.
Tabel 10. APK dan APM menurut Kota+Desa, Jender,Jenjang Pendidikan, 2009-2010

Dengan
menggabungkan
angka
partisipasi dengan lokasi tempat tinggal
dan jender Kaum Muda menunjukkan
perbedaan yang mencolok. Kaum Muda
laki-laki maupun wanita di pedesaan
memiliki angka partisipasi (APK dan
APM) yang lebih rendah daripada Kaum
Muda di perkotaan. Sementara untuk
Kaum Muda di perkotaan, dari 2 tahun
yang diamati menunjukkan APK jenjang sekolah menengah pertama meningkat dengan tajam;
sedangkan APM relatif lebih konstan. Dalam hal jender, APK wanita lebih tinggi daripada lakilaki, tetapi APMnya justru kebalikannya. Jadi, untuk jenjang pendidikan sekolah menengah
pertama di perkotaan, laki-laki lebih efisien menempuh pendidikannya. Angka tersebut berbeda
arahnya untuk di pedesaan. APK laki-laki senantiasa lebih rendah daripada wanita; dan
demikian pula dengan
2000-2008
APMnya. Dalam hal selisih Tabel 11. Alokasi APBN Untuk %Pendidikan,
terhadap PDB
% terhadap APBN
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2003
2004
2005
2006
2007
2008
antara APK dengan APM,
APBN
di
perkotaan
dan Pendidikan 3.2 2.7 2.9 3.6 3.5 2.8 16.0 14.2 14.9 17.2 18.7 17.9
pedesaan
menunjukkan Sumber: Tabel I.27 UNESCO Statistical Yearbook for Asia and the Pacific 2011
kecenderungan yang sama. Pada kedua jender tersebut menunjukkan peningkatan selisih APK
dengan APM. Dengan APK dan APM di perkotaan yang lebih tinggi daripada di pedesaan
menunjukkan bahwa di pedesaan lebih efisien dalam menempuh pendidikan. Disamping itu,
dengan angka APM yang relatif konstan untuk tahun 2009 dan 2010, peningkatan APK
menunjukkan peningkatan in-efisiensi dalam belajar.
2009
2010
Kota/
SMP/MTs
SMA/MA
SMP/MTs
SMA/MA
Desa
APK
APM
APK
APM
APK
APM
APK
APM
Kota
Laki-2
82.68
69.35
75.33
54.97
89.58
70.00
64.20
54.66
Wanita
83.86
68.70
73.51
50.60
90.90
69.40
61.57
50.28
L+W
83.26
69.03
74.43
52.81
90.23
69.70
62.89
52.47
Desa
Laki-2
77.84
64.68
50.41
37.54
81.44
64.62
49.37
38.15
Wanita
81.44
67.61
51.81
37.84
84.19
67.54
47.88
38.33
L+W
79.55
66.07
51.08
37.68
82.73
66.00
48.66
38.24
Sumber: BPS (2011), Susenas 2010, (2010), Statistik Pendidikan 2009

Disisi lain, berbeda dengan jenjang sekolah menengah pertama, APK jenjang sekolah
menengah atas justru mengalami penurunan; dengan APM laki-laki dan wanita relatif konstan di
perkotaan maupun di pedesaan. Namun demikian, penurunan APK di perkotaan labih drastis
daripada di pedesaan. Hal ini bisa karena di perkotaan semakin efisien dalam belajar, atau
karena di pedesaan terjadi pengurangan jumlah Kaum Muda secara bermakna di sektor
pendidikan.
Menarik untuk diperhatikan lebih jauh mengapa APK di pedesaan jauh lebih rendah daripada di
perkotaan. Seandainya kejadian itu berarti bahwa Kaum Muda di pedesaan sudah tidak
bersekolah lagi, lalu kemanakah mereka? Apakah langsung bekerja ataukah menganggur
karena adanya berbagai hambatan untuk dapat melanjutkan sekolah mereka?
Memperhatikan hal ini mengingatkan kita pada kenyataan bahwa pembiayaan pendidikan
sudah semakin baik. Proporsi alokasi biaya pendidikan secara konsisten mendekati angka 20

L-32

persen dari APBN (Tabel 11). Meskipun demikian, masalah pengelolaan pendidikan di negara
ini memang sarat dengan masalah. Mulai dari kurangnya fasilitas fisik sekolah hingga
komersialisasi sekolah. Sehingga upaya wajib belajar juga belum mampu memberikan
keyakinan bahwa pendidikan dasar telah memberikan kontribusinya dengan cukup dalam
menyiapkan Kaum Muda untuk melanjutkan pendidikannya atau melanjutkan hidupnya secara
bermartabat.

Tenaga Kerja Muda

Secara umum, ada dua kelompok Kaum Muda di masyarakat, kelompok pertama, mereka yang
masih bersekolah. Ini sudah sesuai dengan usianya. Kelompok kedua, adalah mereka, yang
dengan segala latar belakang alasan dan masalahnya, terpaksa tidak bersekolah dan telah aktif
bekerja. Sesuai dengan klasifikasi yang berlaku di Indonesia, mereka yang berada pada
kelompok usia 15 tahun keatas memang sudah termasuk dalam angkatan kerja. Oleh karena
itu, Kaum Muda yang berusia kurang dari 15 tahun dan sudah Tabel 12. Kaum Muda Dalam Pekerjaan, 1971-2002
15-24 Tahun
> 24 Tahun
bekerja, seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama.
TPAK
TPT
TPAK
TPT
Tahun
(%)
(%)
(%)
(%)
Mereka ini bukan angkatan kerja. Mereka adalah pekerja1971
46,8
11,9
63,7
7,1
anak. Yang bahkan jauh lebih menyedihkan adalah mereka
1980
46,3
3,5
63,4
1,0
1990
49,9
8,6
69,0
1,2
yang tidak bersekolah dan tidak juga bekerja. Mereka
2000
51,8
19,9
73,7
2,5
2002
53,9
27,9
72,6
4,2
menganggur. Berbagai dampak negatif dari kondisi
Catatan:
15-24
Tahun
=
Angkatan
Kerja
Muda
menganggur sangat buruk bagi mereka, masyarakat dan
>24 Tahun = Angkatan Kerja Dewasa
negara. Di bagian ini akan dibahas mengenai Kaum Muda yang
TPAK = Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
TPT = Tingkat Pengangguran Terbuka
bekerja.
Sumber: Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000
Data Strategis 2012

Dalam lingkup global, perhatian terhadap Kaum Muda yang


bekerja senantiasa tetap penting. Pada tahun 2010, ILO23 mencatat bahwa tingkat partisipasi
angkatan kerja Kaum Muda global cenderung menurun selama periode 1998-2008. Tingkat
partisipasi tersebut menurun dari 54,7 persen menjadi 50,8 persen. Di tahun 2008 terdapat 540
juta Kaum Muda yang bekerja, meningkat 34 juta dari sepuluh tahun sebelumnya. Mengingat
pertumbuhan jumlah Kaum Muda pada periode tersebut lebih cepat daripada pertumbuhan
mereka yang bekerja, maka rasio mereka yang bekerja terhadap populasinya justru menurun
dari 47,9 persen menjadi 44,7 persen. Alasan utama menurunnya rasio ini karena mereka
belajar. Sementara itu, di sebagian besar negara berkembang, keterlibatan Kaum Muda dalam
bekerja diawali sebagai tenaga pembantu di usaha keluarga, sebelum akhirnya mereka
berusaha sendiri24.
Di Indonesia, dalam 40 tahun terakhir ini partisipasi angkatan kerja muda di pedesaan maupun
di perkotaan cenderung makin meningkat. Lebih dari 40 persen Kaum Muda di perkotaan dan di
pedesaan ternyata sudah berpartisipasi secara aktif dalam perekonomian. Hal ini merupakan
kenyataan yang sungguh memprihatinkan. Seharusnyamereka masih di bangku sekolah,
bukannya sudah bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Perbedaan tingkat partisipasi dalam
angkatan kerja antara Kaum Muda perkotaan dan perdesaan seharusnya terkait dengan
perbedaan rasio Kaum Muda yang terdaftar di sekolah di perkotaan dan perdesaan. Hal itu jika
dikaitkan dengan APK sekolah menengah atas di perkotaan seperti yang diuraikan diatas, akan
menjelaskan bahwa tingkat partisipasi Kaum Muda di perkotaan di dalam angkatan kerja lebih
rendah dibandingkan pedesaan karena status mereka yang masih duduk di bangku sekolah.
Dalam Table 12 ditunjukkan peningkatan pertisipasi Kaum Muda dalam bekerja selama periode
1971 hingga 2002. Disitu juga terlihat bahwa rasio pekerja muda dibawah dari rasio pekerja
23
24

ILO, Global Employment Trends For Youth, August 2010, special issue on the impact of the global economic crisis on youth
UN-DESA, World Youth Report 2011, Youth Employment: Youth Perspectives on the Pursuit of Decent Work in Changing Times

L-33

dewasa. Meskipun rasio pekerja muda bertumbuh namun dengan pertumbuhan yang lebih
rendah daripada pertumbuhan rasio pekerja dewasa. Secara umum, rasio pekerja muda
meningkat dari 47 persen di tahun 1971 menjadi 54 persen di tahun 2005. Pada periode 19711980 terjadi sedikit penurunan rasio. Namun untuk periode 1980-1900 terjadi peningkatan rasio
yang terbesar selama periode 1971-2005, dari 46 persen menjadi 50 persen. Setelah periode
tersebut, tetap terjadi kenaikan, namun dengan kecepatan yang lebih rendah. Pola yang mirip
ditunjukkan oleh rasio pekerja dewasa. Terjadi penurunan di periode 1971-1980, kenaikan
terbaik di periode 1980-1990 dan terus menaik pada periode selanjutnya. Sebagai akibatnya,
dengan mudah bisa difahami tingkat pengangguran di pekerja muda akan jauh lebih tinggi
daripada di pekerja dewasa. Akan diuraikan lebih lanjut ketika membahas tentang
pengangguran di bawah nanti.
Dalam bidang pekerjaan yang ditekuni pekerja muda, nampak memiliki pola yang sama dengan
pekerja dewasa (Tabel 13). Pada tabel
Tabel 13. Pekerja Muda dan Dewasa menurut Bidang Pekerjaan, 1985-2002 (%)
1985
1990
1995
2000
2002
tersebut nampak mayoritas pekerja muda
15>24
15>24
15>24
15>24
15>24
bekerja di sektor pertanian. Selanjutnya,
BP
24
thn
24
thn
24
thn
24
thn
24
thn
01
52.5
54,5
46.4
50,4
44.7
47,9
41.9
45,3
40.9
45,0
sejalan dengan terjadinya transformasi
02
13.4
8.1
18.8
10,0
17.5
8.9
20.3
13.0
21.1
11.7
03
3.5
3.4
3.9
3.6
4.9
4.4
4.3
3.9
4.8
4.6
ekonomi, jumlah pekerja muda yang
04
12.4
15.9
11.8
17,0
14.4
17.2
19.4
20.6
17.1
19.9
05
3.2
3.2
3.2
3.8
3.1
3.9
4.4
5.1
4.9
5.1
bekerja di bidang pertanian semakin
06
0.4
0.4
0.9
0.6
0.5
0.7
0.8
1.0
0.9
1.1
berkurang, dari 52 persen pada tahun
07
13.8
13.6
13.9
13.4
12.9
14.9
8.3
10.7
9.4
11.7
08
0.8
0.8
1.2
1.2
1.8
2,0
0.7
0.6
0.9
0.9
1985 menjadi 42 persen di tahun 2000.
Catatan: 15-24 tahun = Pekerja Muda; >24 tahun = Pekerja Dewasa
Bidang Pekerjaan (BP):
Sebaliknya, jumlah pekerja muda yang
01. Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan
02. Industri/KerajinanTangan
bekerja di sektor industri, sebagai
03. Konstruksi/Pembangunan
04. Perdagangan, Hotel, Restoran
penyerap tenaga kerja muda terbesar
05. Transportasi, Penyimpanan, dan Komunikasi
kedua, terus meningkat selama periode
06. Keuangan, Asuransi, Penyewaan, Pelayanan
07. Jasa Masyarakat, Sosial, Individu
1985-2000. Bidang perdagangan, serta
08. Lainnya (pertambangan, listrik, gas, dan air)
Sumber: Sensus Penduduk 1990, 2000, SUPAS 1985, 1995
jasa-jasa sosial dan individual, dengan
tingkat pertumbuhan yang berbeda, menjadi lahan lain bagi para pekerja muda.
Dengan sebaran bidang pekerjaan seperti itu, patut diduga bahwa sebenarnya pekerja muda
sangat terkait dengan sektor informal. Kaum Muda yang bekerja di sektor informal selama 40an
tahun terakhir jelas lebih dominan dibandingkan mereka yang bekerja di sektor formal25.
Meskipun jumlah kaum muda yang bekerja di sektor informal lebih besar ketimbang mereka
yang bekerja di sektor formal, jarak di antara mereka semakin berkurang seiring dengan
meningkatnya kesempatan bagi kaum muda bekerja di sektor formal. Pada tahun 1971, lebih
dari 80 persen pekerja muda berada di sektor informal, sedangkan pada tahun 2002 angka
tersebut tinggal 63 persen. Sementara itu, pada tahun 1971 terdapat 16 persen pekerja muda di
sektor formal, dan jumlahnya semakin meningkat menjadi 38 persen di tahun 2002.
Karakteristik umum lapangan pekerjaan sektor formal adalah adanya prasyarat pendidikan,
keterampilan, pelatihan dan pengalaman yang jauh lebih tinggi. Semua itu merupakan hal-hal
yang kurang dimiliki kaum muda dibandingkan dengan pekerja dewasa.
Pola yang sama juga terlihat pada pekerja dewasa. Mereka yang bekerja di sektor informal
lebih tinggi daripada yang bekerja di sektor formal. Seperti ang dicatat dalam Sakernas 2000
dan 2002, jumlah pekerja dewasa yang bekerja di sektor informal cenderung meningkat pada
periode 1971-1976, namun mulai menurun pada periode selanjutnya. Selama periode 19761995, jarak antara pekerja formal dan informal untuk pekerja dewasa juga semakin mengecil.
Pola ini kemudian berbalik setelah terjadinya krisis pada tahun 2000, di mana pekerja sektor
25

Menurut definisi BPS, tenaga kerja di sektor informal meliputi: bekerja untuk diri sendiri, bekerja untuk diri sendiri dengan dibantu anggota keluarga,
pekerja lepas (freelance) dan bekerja untuk keluarga. Sedangkan tenaga kerja di sektor formal terdiri dari pegawai dan pegawai honorer.

L-34

informal kembali meningkat dan sektor formal menurun. Sementara persentase pekerja muda di
tahun 2000 yang bekerja di sektor informal nampak terjadi penurunan; sebaliknya yang bekerja
di sektor formal justru meningkat. Sebaliknya, di tahun 2002, terjadi peningkatan persentase
pekerja muda yang bekerja di sektor informal. Pola tersebut sedikit berbeda dengan kondisi
pekerja dewasa (berusia >25 tahun). Untuk periode 1995-2000, pekerja dewasa yang bekerja di
sektor informal meningkat dan yang bekerja di sektor formal malah menurun. Nampaknya hal
Ini bisa dianggap sebagai suatu indikasi terjadinya pergeseran status tenaga kerja dewasa dari
sektor formal ke sektor informal akibat krisis ekonomi 1997-1998. Meskipun demikian, selama
periode tersebut pada pekerja muda tidak terjadi pergeseran yang sama seperti yang terjadi
pada pekerja dewasa. Seperti yang umum diketahui bahwa selama periode krisis tersebut,
terjadi pemutusan hubungan kerja besar-besaran. Namun pekerja dewasa yang diPHK bisa
dengan cepat bergeser ke sektor informal karena mereka memiliki kapasitas dan kemampuan
untuk melakukan hal tersebut. Kondisi berbeda dihadapi oleh pekerja muda yang di-PHK.
Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk bergeser ke sektor informal26.
Seperti telah disebutkan diatas bahwa tingkat partisipasi kerja pekerja muda senantiasa
dibawah dari tingkat partisipasi pekerja dewasa. Dengan demikian, artinya pekerja muda selalu
kalah bersaing dengan pekerja dewasa sehingga pengangguran terbuka di kalangan pekerja
muda akan lebih tinggi daripada pekerja dewasa. Pada tabel 12, jarak pengangguran terbuka
pekerja muda dengan pekerja dewasa semakin membesar. Jika pada tahun 1971 perbedaan
pengangguran di pekerja muda dengan pekerja dewasa 12 persen berbanding 7 persen, maka
pada tahun-tahun selanjutnya perbandingan tersebut semakin timpang. Pada tahun 1980,
perbandingan tersebut adalah 4 persen berbanding 1 persen (artinya, 4 kali lipat), menjadi 9
persen berbanding 1 persen di tahun 1990 (9 kali lipat), kemudian 20 persen berbanding 3
persen dan 28 persen berbanding 4 persen di tahun 2000 dan 2005 (8 dan 7 kali lipat).
Tabel 14. Pengangguran Kaum Muda Menurut Jender, 1995-2009

Perbandingan
antar
negara dan antar jender,
nampak pengangguran
pekerja
muda
di
Indonesia
cenderung
lebih tinggi daripada ASEAN dan dunia, untuk periode 1995-2009 (Tabel 14). Pengangguran
pekerja muda yang terendah sebesar 20 persen terjadi pada tahun 1995 dan yang tertinggi
terjadi pada tahun 2008. Selanjutnya pada tahun 2009, angkanya menurun menjadi 22 persen.
Sedangkan angka pengangguran di ASEAN dan dunia berada pada kisaran 10-14 persen dan
12-13 persen. Pengangguran pekerja muda di Indonesia hampir dua kali lipat daripada di
tingkat ASEAN dan dunia.
Total

% thd Ang Kerja Usia 15-24

Wanita

% thd Ang Kerja Wanita Usia 15-24

Laki-Laki

% thd Ang Kerja Laki-2 Usia 15-24

Wilayah
1995
2000
2008
2009
1995
2000
2008
2009
1995
Indonesia
na
19.9
23.3
22.2
na
20.1
25.5
23.0
na
SE Asia
10.4
13.0
14.3
14.0
10.8
12.6
15.0
14.2
10.1
World
12.1
12.8
11.9
12.8
12.2
12.9
12.2
12.9
12.1
Sumber: Diolah dari Tabel III.15 UNESCO Statistical Yearbook for Asia and the Pacific 2011

2000
19.7
13.2
12.7

2008
21.8
13.8
11.7

2009
21.6
13.9
12.7

Dalam hal jender, terlihat kelompok wanita lebih tinggi penganggurannya daripada laki-laki. Di
Indonesia, pada tahun 2000, angka pengangguran wanita relatif berdekatan dengan angka
pengangguran laki-laki; sekitar 20 persen. Namun setelah tahun tersebut angka untuk wanita
jauh diatas angka laki-laki; 26 persen berbanding 22 persen di tahun 2008 dan sedikit menurun
menjadi 23 persen berbanding 22 persen di tahun 2009. Pekerja muda laki-laki lebih banyak
yang bisa bekerja daripada yang wanita. Sementara itu, angka untuk ASEAN cenderung sama
polanya. Pada kurun waktu 1995-2009, penganguran pekerja muda wanita lebih tinggi daripada
laki-laki dengan nilai puncak terjadi pada tahun 2008. Angka untuk wanita sebesar 11 persen di
tahun 1995 meningkat menjadi 15 persen di tahun 2008, kemudian menurun menjadi 14 persen
di tahun 2009. Sementara itu, angka untuk laki-laki meningkat dari 10 persen di tahun 1995,
menjadi 13,8 persen di tahun 2008 dan masih meningkat lagi menjadi 13,9 persen di tahun
26

UN-DESA, Consultation preceeding the UN World Youth Report 2013.

L-35

2009. Untuk angka dunia, cenderung mirip antara wanita dan laki-laki pada periode tersebut,
keduanya berada pada kisaran 12 persen. Pada periode tersebut, angka wanita memang
sedikit lebih tinggi daripada angka untuk laki-laki.
Berdasarkan tingkat pendidikan, pengangguran pekerja muda yang terbanyak adalah yang
tamat SMA dan yang tamat perguruan tinggi (Tabel 15). Pada tahun 2002, tingkat
pengangguran kaum muda yang sudah menamatkan SMA sebesar 41,1 persen, sedangkan
tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi sekitar 39,4 persen.
Tingkat pengangguran pekerja muda dengan latar belakang pendidikan tinggi tetap tinggi dan
cenderung terus meningkat. Situasi ini menunjukkan semakin banyaknya pencari kerja yang
memiliki pendidikan lebih tinggi. Pengangguran pekerja muda dengan pendidikan tinggi dapat
dilihat dari jumlah lulusan baru yang mencari pekerjaan untuk pertama kali. Tingkat
pengangguran pekerja muda (15-24 tahun) di antara para lulusan SMP berada pada tingkat 9,8
persen pada tahun 1985 dan meningkat menjadi 18,2 persen pada tahun 2000. Penggangguran
lulusan SMA dan perguruan tinggi berfluktuasi, 31,9 sampai 33,9 persen dan 20,5 persen
sampai 35,8 persen. Angka-angka ini menunjukkan adanya tingkat pengangguran yang tinggi di
Kaum Muda terdidik. Meskipun terdapat tingkat pengangguran yang tinggi yang terkonsentrasi
Tabel 15. Pengangguran Muda dan Dewasa menurut Tingkat Pendidikan,1985-2002(%)
di kalangan orang muda terdidik, ada
1985
1990
1995
2000
2002
beberapa hal yang tetap konsisten,
Sekolah
1515151515>24
24
>24
24
>24
24
>24
24
>24
24
pertama,
tingkat partisipasi dalam
Tdk
sekolah
1.2
0.5
2.2
0.8
nd
nd
3.9
0.4
15.1
3.8
angkatan kerja (TPAK) cenderung
Tdk tmt
meningkat
seiring
meningkatnya
SD
1.9
0.9
2.5
0.8
7.6
2.3
7.4
1.8
18.7
4.0
SD
3.3
1.1
3.1
0.9
9.6
2.8
12.4
2.4
21.9
3.7
pendidikan
sehingga
persaingan
SMP
9.8
4.3
7.8
3.3
16.6
5.5
18.2
8.6
28.0
5.0
SMA
31.1
7,0
27.3
7.8
33.6
12.3
33.9
12.4
41.1
7.6
menjadi
semakin
ketat
di antara
PT
20.5
11.3
31.4
17.2
40.8
23.1
35.8
20.9
39.4
8.0
Catatan: 15-24 tahun = Pengangguran Muda
mereka yang memiliki pendidikan lebih
>24 tahun = Pengangguran Dewasa
Sumber : Sensus Penduduk 1990, 2000, SUPAS 1985, 1995
tinggi. Kedua, tidak dapat dipungkiri
bahwa tingkat pendidikan penduduk
Indonesia di perkotaan dan pedesaan mengalami peningkatan yang pesat selama 4 dasawarsa
terakhir ini. Ketiga, meskipun tingkat pengangguran terlihat lebih tinggi di antara Kaum Muda
dengan pendidikan tinggi, jumlah mereka sesungguhnya lebih sedikit dibandingkan dengan
pengangguran di kalangan mereka yang berpendidikan lebih rendah.
Penelitian yang dilakukan Kemenakertrans27 mengumpulkan data dari lulusan sekolah
menengah kejuruan dan umum. Hasilnya menunjukkan bahwa para lulusan ini menghadapi tiga
macam kesulitan ketika mencari pekerjaan, yaitu pertama, persaingan di antara para pencari
kerja sebesar 41,4 persen. Kedua. pendidikan yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang
dikehendaki sebesar 16,6 persen, dan, ketiga, keterampilan yang terbatas sebesar 12,8 persen.
Adanya halangan-halangan seperti ini menyebabkan banyak pekerja muda yang mencari jalan
pintas di luar sistem untuk mendapatkan pekerjaan. Hal itu dikuatkan dengan ditemukannya
sebagian lulusan sekolah menengah mendapatkan pekerjaan tanpa melalui tes (40 persen dari
jumlah pekerja). Studi pelacakan itu juga menunjukkan bahwa sumber-sumber informasi
mengenai adanya suatu kesempatan kerja berasal dari anggota keluarga (47 persen),
karyawan perusahaan (20 persen), dan perusahaan itu sendiri (14,9 persen). Surat lamaran
kerja diperoleh langsung dari perusahaan (67,7 persen) atau melalui anggota keluarga (16,6
persen).
Pola pengangguran pekerja muda ini mirip dengan yang terjadi di pekerja dewasa. Bila pada
pekerja muda, proporsi tertinggi penganguran di mereka yang berpendidikan menengah atas.
27

Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Republik Indonesia. 1999, Penelitian Penelusuran Lulusan SMU dan SMK di Pasar Kerja. Jakarta

L-36

Sedangkan pada pekerja dewasa yang tertinggi berpendidikan perguruan tinggi. Sementara itu
pula, pengangguran pekerja dewasa berpendidikan menengah keatas dan perguruan tinggi
mencapai puncaknya di tahun 1995 dan 2000 untuk kemudian menurun. Sedangkan
pengangguran pekerja muda mulai tahun 1995 mencapai angka sekitar 40 persen.
Untuk lokasi tempat tinggal, pengangguran pekerja muda relatif terhadap pekerja dewasa28
menunjukkan gambaran yang menarik (Gambar-1). Secara umum, proporsi pengangguran
pekerja muda mengalami peningkatan dari tahun 1971
ke tahun 2002, mulai kurang dari 40 persen sampai
mencapai 60-70 persen. Pada mulanya, di daerah
perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan. Proporsi di
perkotaan ini mencapai puncaknya di tahun 1976,
kemudian terus menurun meskipun tidak sampai
serendah posisi di tahun 1971. Sementara itu di
Gambar-1
gambaran pedesaan, pada awalnya lebih rendah
daripada di perkotaan. Kemudian mencapai titik tertinggi
di tahun 1985 dan selanjutnya menurun dan juga tidak
pernah mencapai titik seperti di tahun 1971 lagi. Namun
demikian, posisi pedesaan tidak pernah dibawah posisi perkotaan setelah tahun 1985.
Tingginya rasio pengangguran kaum muda dibandingkan jumlah pengangguran secara
keseluruhan mencerminkan betapa sulitnya para pencari kerja muda mendapatkan pekerjaan.
Tenaga kerja muda lebih mudah dipengaruhi oleh benturan-benturan yang terjadi di pasar
tenaga kerja dibandingkan pekerja dewasa. Orang muda dengan kualifikasi yang rendah
memiliki kesulitan yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang tetap. Selain itu, tidak
ada kontak yang bagus antara sekolah dengan dunia usaha, dan akibatnya persyaratan
(kualifikasi) dan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia industri tidak dipelajari
oleh kaum muda yang sedang duduk di bangku sekolah.

Dampak Sosial Drop-Out Sekolah dan Pengangguran Muda

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, idealnya Kaum Muda berada pada situasi belajar atau
bekerja yang baik (decent work)29. Namun demikian, karena berbagai sebab, Kaum Muda
ternyata tidak lagi bersekolah sekaligus juga tidak bekerja. Dalam hal ini, ternyata bersekolah
juga bukan pilihan yang nyaman. Buruknya lingkungan fisik sekolah menghambat Kaum Muda
untuk menyalurkan energi mudanya untuk mengurangi stres psikologis mereka. Sejalan dengan
hal itu, target-target nasional yang tidak sejalan dengan kondisi dan kebijakan lokal dipaksakan
wajib diselesaikan oleh mereka, dengan sangat sedikit bantuan yang menyertai mereka. Ujian
Nasional sebagai salah satu contoh yang masih hangat terjadi belakangan ini. Justru setiap tiga
tahun sekali selama perode sekolah menengah, mereka dihantui oleh ujian nasional. Padahal
perode sekolah menengah adalah periode kritis pembentukan kepribadian Kaum Muda.
Bagaikan ritual momok menakutkan, ujian nasional meluluhlantakkan kegembiraan Kaum Muda
dalam menikmati masa-masa bahagia di bangku sekolah. Motto sekolah jangan menganggu
main ternyata telah gagal total diwujudkan oleh masa kependidikan mereka. Motto itu
bermakna bahwa periode sekolah harus dilakukan dengan riang dan sukacita bak suasana
bermain yang penuh kegembiraan. Bersekolah berarti menuju suasana riang gembira.

28
29

Pengangguran pekerja muda usia 15-24 terhadap total pengangguran pekerja dewasa usia >24 tahun.
ILO - Global Employment Trends For Youth August 2010 special issue on the impact of the global economic crisis on youth.

L-37

Dalam istilah Kaum Muda jaman kini situasi yang mereka hadapi itu disebut galau. Kegalauan
berbeda dengan rasa takut, karena takut adalah kekhawatiran diri karena sesuatu yang
diketahui penyebabnya, sedangkan galau adalah depresi atau kekhawatiran diri karena sesuatu
yang kadang tidak diketahui penyebabnya karena hal tersebut merupakan kondisi psikologi
seseorang yang semrawut30.
Bersamaan dengan buruknya situasi-diri Kaum Muda dalam bersekolah, situasi-kondisi
lingkungan sosial memberikan beban ekstra kepada mereka. Itulah dunia-lain diluar dunia
sekolah mereka. Juga berarti dunia kerja yang terpaksa mereka hadapi karena tidak bisa
memilih untuk tetap berada di dunia sekolah. Dunia kerja di masyarakat era teknologi maju
seperti saat ini membutuhkan orang yang kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi tadi.
Artinya, Kaum Muda dihadapkan pada lingkungan yang segala sesuatunya berubah secara
cepat. Mereka dibanjiri oleh informasi yang begitu banyak dan terkadang terlalu cepat untuk
mereka serap dan fahami sehingga menimbulkan information overload. Ketidakmampuan Kaum
Muda mengikuti perkembangan teknologi yang sedemikian cepat bisa membuat mereka
merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan mengalami gangguan emosional. Akibat yang
timbul adalah perasaan terasing, keputusasaan, absurditas, problem identitas dan masalahmasalah yang berhubungan dengan benturan budaya. Ini adalah gejala umum di akhir abad
keduapuluh.
Beban tersebut semakin meruncing dengan berkembangnya keinginan untuk menyamakan
perlakuan dan harapan terhadap Kaum Muda dengan orang dewasa. Kaum Muda masa kini
mengalami banjir stres yang datang dari perubahan sosial yang cepat dan membingungkan
serta harapan masyarakat yang menginginkan mereka melakukan berbagai peran dewasa
sebelum mereka masak secara psikologis untuk menghadapinya. Tekanan-tekanan tersebut
menimbulkan akibat seperti kegagalan di sekolah, penyalahgunaan obat-obatan, depresi,
keluhan-keluhan somatik dan kesedihan yang kronis, dan bahkan sampai bunuh diri.
Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau rawan, dapat merupakan faktor yang
kondusif bagi Kaum Muda untuk berperilaku menyimpang. Ada 2 (dua) hal yang perlu
diperhatikan disini, yaitu, pertama, kerawanan masyarakat, dan kedua, daerah rawan
(gangguan kamtibmas).
Dalam hal kerawanan masyarakat (lingkungan) yang perlu dicermati antara lain: tempat hiburan
yang buka hingga larut malam bahkan sampai dini hari. Peredaran alkohol, narkotika, obatobatan terlarang lainnya. Pengangguran. Anak putus sekolah dan/atau anak jalanan. Lokalisasi
PSK. Beredarnya bacaan, tontonan, TV, Majalah, dan lain-lain yang megandung kekerasan dan
pornografis. Perumahan padat dan kumuh yang rawan tindak kekerasan dan kriminalitas.
Kesenjangan sosial. Daerah Rawan Gangguan Kantibmas perlu dengan teratur mencermati
persoalan Penyalahgunaan alkohol, narkotika dan zat aditif lainnya. Perkelahian perorangan
atau berkelompok. Balapan Liar dan Kebut-kebutan. Pencurian, perampasan, penodongan,
pengompasan, perampokan. Perkosaan, pembunuhan dan tindak kekerasan lainnya.
Pengrusakan, Coret-coret dan vandalisme lainnya. Kondisi psikososial tersebut merupakan
faktor yang kondusif bagi terjadinya kenakalan Kaum Muda dimanapun adanya.
Di bagian selanjutnya di bawah ini akan diperlihatkan dua tantangan yang dianggap paling
aktual bagi Kaum Muda, yaitu masalah kesehatan reproduksi dan kepungan persoalan
penyalahgunaan obat terlarang.

30

Arnet JJ(Ed), 2007, International Encyclopedia of Adolescence, London, Routledge Taylor and Francis Group.

L-38

Perkawinan dan Kehamilan

Perkawinan adalah peristiwa penting menuju ke fase kedewasaan seseorang. Di banyak


Negara, termasuk Indonesia, perkawinan adalah pintu masuk seseorang pada siklus kehidupan
reproduksi. Hubungan perkawinan, kehamilan, dan mengasuh anak akan diterima masyarakat
luas jika dilakukan dalam institusi perkawinan yang diakui oleh Negara.
Persoalan perkawinan, mengasuh anak dan fertilitas remaja merupakan urusan penting
kependudukan, kesehatan dan sosial. Remaja yang terlalu dini melahirkan beresiko buruk
secara demografi dan sosial. Anak yang dilahirkan oleh ibu yang terlalu muda mempertinggi
resiko sakit dan bahkan kematian. Remaja putri, terutama yang berusia kurang dari 18 tahun,
lebih terpapar kepada dampak buruk kehamilan dan kematian yang terkait dibanding dengan
yang lebih dewasa. Disamping itu, terlalu dini mengasuh anak akan membatasi kesempatan
belajar dan memperoleh pekerjaan.
Berdasarkan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan maka batas usia menikah
untuk laki-laki adalah 19 tahun dan untuk wanita adalah 16 tahun. Perbedaan penetapan usia
nikah pertama kali antara laki-laki dan wanita, serta kurang perlindungan bagi wanita
menghadapi tradisi pernikahan usia dini merupakan praktik yang merugikan dan
membahayakan kesehatan fisik dan psikis wanita. Peraturan ini juga tidak sesuai dengan
dengan ketentuan internasional, terutama ketentuan CEDAW dan Konvensi Hak-Hak Anak.
Dalam konteks kesetaraan jender, CEDAW menuntut setiap pemerintah agar melakukan upaya
menghapus diskriminasi terhadap wanita yang berkaitan dengan perkawinan dan perlakuan
antar sesama anggota keluarga, khususnya persamaan hak dalam memutuskan waktu
menikah. Konvensi Hak-Hak Anak menentukan 18 tahun sebagai usia minimum untuk menikah
bagi laki-laki maupun wanita. Disamping itu, jika diperhatikan secara kritis, Undang-Undang
Perkawinan juga bertentangan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA). Siapa
saja, menurut UUPA, yang berusia dibawah 18 tahun masuk dalam katagori sebagai anak.
UUPA pasal 26 menyebutkan bahwa para orang tua bertanggungjawab untuk mencegah
pernikahan di bawah umur. Saat ini tengah dilakukan pembahasan awal tentang inisiatif untuk
perubahan pasal undang undang perkawinan tentang batasan usia menikah pertama bagi
wanita di Indonesia.
Di Indonesia bahwa usia perkawinan pertama terus meningkat selama dua dekade terakhir.
Sejak tahun 1991, rata-rata usia menikah telah meningkat dari 17 tahun ke 19 tahun. Meskipun
demikian, pernikahan anak wanita yang berusia 15 tahun ke bawah, masih banyak terjadi di
Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Sedangkan jumlah kehamilan usia dini sangat
bervariasi antar propinsi.
Sejalan dengan kondisi tersebut, juga terjadi penurunan proporsi wanita yang melahirkan pada
usia 15 tahun atau lebih muda. Perkiraan saat ini menunjukkan kurang dari 1 persen wanita
melahirkan pada usia dini, dibandingkan dengan 7 persen yang terjadi 30 tahun yang lalu. Lebih
jauh data tahun 2007 juga memperlihatkan adanya peningkatan proporsi usia remaja yang
memiliki anak. Hanya terdapat 1 persen remaja berusia 15 tahun yang memiliki anak,
semengara 20 persen wanita yang berusia 19 tahun sedang hamil atau punya anak pertama.
Pada tahun 2002-2003, persentase wanita usia 18 tahun atau kurang yang mulai hamil berkisar
6,3 persen. Angka ini hampir tidak berubah pada tahun 2007, wanita yang mulai hamil
sebanyak 6,2 persen.
Berdasarkan tempat tinggal dan latar balakang sosial ekonomi, tingkat kesuburan antara remaja
menunjukkan perbedaan yang kontras. Proporsi remaja wanita yang tinggal di pedesaan dan

L-39

telah hamil jauh lebih tinggi daripada mereka yang tinggal di perkotaan. Juga, mereka yang
berpendidikan rendah cenderung lebih dulu hamil dibandingkan dengan yang berpendidikan
tinggi. Mereka yang berasal dari keluarga yang kurang mampu akan cenderung hamil lebih dini
daripada mereka yang berasal dari keluarga lebih mampu.
Program keluarga berencana yang dimulai sejak 1970-an mengembangkan program promosi
pendewasaan usia kawin. Promosi ini pada dasarnya adalah upaya edukasi kepada orang tua
dan generasi muda untuk menghindari perkawinan dini. Usia minimal perkawinan yang
dianjurkan bagi wanita adalah 20 tahun. Program promosi ini dilakukan baik melalu jalur
pendidikan formal, non formal, dan informal di dalam kerangka pendidikan kependudukan dan
kesehatan reproduksi remaja oleh pemerintah maupun NGOs.
Pada tahun 2000, pemerintah menjadikan program kesehatan reproduksi remaja sebagai
program nasional. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan remaja agar dapat
mempertanggungjawabkan perilakunya dalam hal kesehatan reproduksi termasuk
merencanakan usia menikah. Program ini terfokus pada pemberian informasi dan konseling
bagi remaja perihal kesehatan reproduksi. Di sektor pemerintah, program kesehatan reproduksi
remaja terutama dilaksanakan oleh BKKBN, Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan
Nasional, Departemen Agama dan Departemen Sosial. Sebagai contoh, Departemen
Kesehatan berfokus pada penyiapan puskesmas sebagai pusat rujukan, sedangkan BKKBN
berfokus pada pemberdayaan remaja melalui kelompok masyarakat.
Pelayanan kesehatan reproduksi remaja dilaksanakan melalui Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja di beberapa pusat kesehatan sebagai percobaan dan Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja atau PKPR yang diperkenalkan pada masyarakat di beberapa daerah. Sudah sejak
lama telah banyak NGOs baik yang berafiliasi dengan faith based organization maupun non
faith based organization sangat aktif untuk memberikan informasi dan pelayanan kesehatan
remaja kepada orang orang muda.

Keluarga Berencana

Hampir semua Kaum Muda yang menikah telah mengetahui jenis kontrasepsi yang ada. Lebih
dari 97 persen dari mereka mengetahui salah satu metode kontrasepsi maupun salah satu
metode kontrasepsi modern. Sumber informasi mereka yang terbanyak dari televisi yang
disebutkan oleh 26 persen wanita menikah berusia 15-24 tahun. Sumber informasi dari media
cetak juga dikenal luas. Mereka yang membaca poster sebanya 14 persen, yang membaca
koran atau maja;ah 11 persen. Dari sumber informasi radio disebutkan oleh 10 persen wanita.
Porsi sumber informasi yang berasal dari kamunikasi langsung antar manusia ternyata lebih
kecil dibandingkan dari sumber informasi umum tadi.
Penggunaan kontrasepsi sangat berperan untuk mengatur pola kelahiran Kaum Muda yang
terlanjur menikah. Penggunaan kontrasepsi dapat menunda kelahiran anak pertama mereka.
Karena itu promosi penundaan kehamilan anak pertama dan pemakaian alat kontrasepsi yang
rasional, efektif dan efisien untuk Kaum Muda akan berdampak positif pada pengaturan tingkat
kelahiran dan peningkatan kesehatan ibu dan kesejahteraan Kaum Muda.
Pada tahun 2007, wanita menikah berusia 15-19 tahun yang telah menggunakan kontrasepsi
sebanyak 46,8 persen, yang berusia 20-24 tahun adalah 61,5 persen. Angka-angka ini tidak
terlalu berbeda dengan kondisi tahun 2003 dan jauh lebih tinggi daripada kondisi tahun 1991.
Potensi tinggi penggunaan kontrasepsi di antara kelompok wanita usia 15-24 tahun masih
mungkin ditingkatkan. Sebenarnya, masih cukup banyak wanita pada kelompok ini yang ingin

L-40

berKB, namun, karena satu dan lain hal, saat ini belum berKB. Kondisi ini dikenal dengan istilah
unmet need.
Pola penggunaan kontrasepsi termasuk unmet need berkaitan erat dengan kehamilan yang
tidak diinginkan. Pada tahun 2007, pada kelompok wanita usia kurang dari 20 tahun diketahui
9,7 persen kehamilan atau kelahiran yang telah terjadi pada saat itu tidak dikehendaki. Pada
kelompok usia 20-24 tahun angkanya sedikit lebih tinggi yaitu 13,3 persen.

Hubungan Seksual Pra-Nikah

Sampai saat ini masih terjadi perdebatan besar di banyak kalangan terntang perkiraan proporsi
Kaum Muda yang belum menikah tapi telah aktif secara seksual. Banyak penelitian pada skala
kecil yang dilakukan pada kelompok masyarakat tertentu --misalnya siswa sekolah menengah
di daerah perkotaan atau remaja yang sering berkumpul di diskotik-- mendapatkan angka yang
sangat berbeda satu dengan yang lain dengan variasi antara 30-70 persen.
Indonesia telah dua kali melakukan survey secara nasional terkait dengan isu ini yaitu
Indonesia Young Adult Reproductive Health (IYARH) pada tahun 2003 dan 2007. Survey ini
diintegrasikan dengan Indonesia Demographic Health Survey. Kedua survey tersebut
mendapatkan angka hubungan seksual pra-nikah wanita usia 15-24 tahun sebesar 1,1 persen
dan untuk laki-laki sebesar 8,6 persen pada tahun 2007. Untuk tahun 2003, angkanya adalah 1
persen untuk wanita dan 5 persen untuk laki-laki. Angka ini dipandang oleh banyak pihak
kurang menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Masih tentang IYARH, survey

tersebut juga mengumpulkan informasi perilaku pacaran yang sudah menjurus kepada
hubungan seksual. Survey ini mendapatkan 9,1 persen wanita melakukan petting pada
masa pacaran dan 26,5 persen laki-laki.

Kesulitan mendapatkan data hubungan seksual pra-nikah yang akurat ini terkait erat dengan
kendala sensitif secara sosial dan metodologi (sampling and non sampling error). Suatu
penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia dengan membandingkan pertanyaan tentang
pengalaman melakukan hubungan sexual sebelum menikah dengan responden mereka yang
sudah menikah dan mereka yang belum menikah. Penelitian tersebut menemukan hasil yang
berbeda. Responden yang menikah cenderung menyatakan pernah melakukan hubungan
seksual pra-nikah dibandingkan responden yang belum menikah. Data dari 4 propoinsi di
Indonesia menunjukkan bahwa 12 persen laki-laki menikah dan 5 persen wanita menikah
pernah melakukan hubungan pra-nikah. Sementara 3 persen laki-laki dan 1 persen wanita yang
belum menikah yang menyatakan pernah melakukan hubungan seksual pra-nikah.
Berapapun sebenarnya angka yang ada di masyarakat, isu hubungan seksual pra-nikah saat ini
menarik perhatian banyak kalangan seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, pendidik, politisi,
maupun pengambil kebijakan. Prhatian terbesar mereka itu adalah melindungi Kaum Muda dari
perilaku hubungan seksual pra-nikah melalui peningkatan berpantang hubungan seksual. Hal
ini akan memperkuat pencegahan tingkah laku beresiko, terutama demi pencegahan HIV/AIDS.
IYARH memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan Kaum Muda seputar kesehatan reproduksi
masih relative rendah. Sebagai contoh hanya sekitar 25 persen Kaum Muda yang memiliki
pengetahuan yang benar tentang masa subur yang dapat menyebabkan kehamilan di dalam
siklus menstruasi wanita. Hanya sekitar 52 persen Kaum Muda yang memiliki pengetahuan
yang benar tentang risiko kehamilan. Sejalan dengan itu, program kesehatan reproduksi remaja
di Indonesia lebih banyak menggunakan pendekatan kelompok yang memberikan KIE
kesehatan reproduksi kepada Kaum Muda yang tergabung sebagai anggota kelompok yang

L-41

telah ada di dalam masyakat seperti misalnya pramuka, kelompok pengajian, karang taruna
dsb. Peraturan yang ada di UU No.52 tahun 2009 tentang kependukan dan keluarga sejahtera
menyebutkan bahwa Kamu Muda yang sudah aktif secara seksual sebelum menikah tidak
dimungkinkan untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi. Dalam kaitan ini maka pemerintah
juga tidak dimungkinkan untuk menyediakan akses pelayanan kontrasepsi bagi mereka.
Menyikapi keterbatasan peran pemerintah dalam mengayomi Kaum Muda yang beum menikah
tetapi telah aktif secara seksual itu beberapa faith based dan non faith based LSM
mengembangkan program yang innovative dan selektif. Program comprehensive sexuality
education pada kondisi-kondisi tertentu diikuti dengan penyediaan kontrasepsi bagi mereka
yang membutuhkan. Jika Kaum Muda yang beum neikah mengalami kehamilan maka beberapa
NGO memiliki program pendampingan kehamilan, kelahiran dan pasca kelahiran. Pada kondisi
tertentu, setelah melalui proses konseling yang ketat beberapa LSM memiliki program
pengaturan ulang menstruasi. Kedua program tersebut dikembangkan untuk menghindari para
remaja tersebut dari kondisi yang lebih buruk seperti melakukan aborsi yang tidak aman.
Kehamilan yang tidak diinginkan di Kaum Muda yang belum menikah merupakan masalah
kesahatan masyarakat, sosial, moral, keluarga dan pendidikan saat ini. Makin berkembangnya
teknologi komunikasi dan informasi serta era keterbukaan dan globalisasi menyebabkan
persoalan seksualitas Kaum Muda menjadi semakin kompleks. Ketiadaan win-win solution
antara dua kutub ekstreem moralis dan pragmatis dalam melihat persoalan seksualitas
dikalangan Kaum Muda yang belum neikah akan menyebabkan makin buruknya kondisi
kesehatan reproduksi di kalangan Kaum Muda yang pada akhirnya akan mempengaruhi
kualitas sumberdaya manusia Indonesia.

Rokok dan Narkoba

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai seluk-beluk narkoba di bagian ini akna didahului
dengan informasi mengenai perokok di Indonesia. Melalui rokok ini dianggap pintu masuk
paling mudah bagi seseorang untuk merambah menjadi pengguna narkoba.
Kenaikan prevalensi merokok tahun 2007 adalah 3 kali lipat pada Kaum Muda laki-laki dan 5
kali lipat pad Kaum Muda wanita dibandingkan tahun 1995. Beberapa hasil survey di Indonesia
--seperti Riskesdas, GYTS dan GATS31-- menunjukkan pengaruh konsumsi rokok bagi
kesehatan masyarakat. Menurut GATS 2011, prevalensi laki-laki merokok sebesar 67 persen
dan wanita 2.7 persen. Lebih lanjut data Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi laki-laki
perokok sebesar 65.6 persen (tertinggi di Sulawesi Tenggara 74.2%) dan wanita perokok
sebesar 5.2 persen (tertinggi di NTT 9.2%). Lebih lanjut, didalam Riskesdas 2010 ditemui 34,7
persen penduduk Indonesia menjadi perokok aktif yang kebanyakan berpendidikan rendah dan
mayoritas tinggal di pedesaan. Dengan penduduk Indonesia 237,56 juta (SP-2010) maka
proporsi tersebut setara dengan 82 juta penduduk yang menjadi perokok aktif.
Usia perokok di Indonesia kini semakin muda, bahkan telah menyentuh usia anak-anak.
Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa Kaum Muda laki-laki usia 1519 tahun yang merokok
sebesar 37.3 persen dan yang wanita sebesar 1.6 persen. Temuan GATYS 2009 menemukan
30.4 persen Kaum Muda sekolah berusia 13-15 tahun menyatakan pernah merokok; yang lakilaki sebesar 57.8 persen dan wanita 6.4 persen. Dari sejumlah tersebut, 20.3 persen adalah
perokok aktif dengan proporsi laki-laki sebesar 41 persen dan wanita 3.5 persen. Sementara,
31

Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar), merupakan survey nasional kesehatan berbasis populasi yang dilakukan secara rutin setiap tiga tahun di
Indonesia. GYTS (Global Youth Tobacco Survey), adalah survey berbasis sekolah untuk masalah merokok pada anak sekolah usia 1315 tahun dan
masyarakat sekolah yang telah dilakukan di beberapa Negara termasuk di Indonesia. GATS (Global Adult Tobacco Survey).

L-42

data Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi merokok pada Kaum Muda wanita sekolah usia
1315 tahun lebih tinggi dibandingkan prevalensi merokok pada wanita dewasa. GATYS 2009
menunjukkan bahwa 51 persen Kaum Muda usia 13-15 tahun dapat secara bebas membeli
rokok di toko/warung, dan 59 persen dari mereka menyebutkan bahwa mereka tidak mendapat
penolakan atau teguran dari penjual di toko/warung ketika membeli rokok tersebut.
Yang lebih mencemaskan, dalam analisis nasional Riskesdas 2007, menemukan adanya Kaum
Muda laki-laki usia 1014 tahun yang merokok sebesar 3.5 persen dan yang wanita sebesar 0.5
persen. Bila dibandingkan, data Riskesdas 1995 menunjukkan ada 71.126 perokok Kaum Muda
usia 10-14 tahun di Indonesia yang naik pesat menjadi 426.214 orang di tahun 2007. Artinya,
selama 12 tahun tersebut telah terjadi kenaikan 6 kali lipat perokok Kamu Muda usia kurang
dari 10 tahun.
Komnas Perlindungan Anak menunjukkan selama tahun 2008 hingga 2012 jumlah perokok
anak dibawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang. Sedangkan jumlah
perokok anak antara usia 10-14 tahun mencapai 1,2 juta orang. Menurut Arist Merdeka Sirait,
kondisi ini yang menyebabkan Indonesia disebut sebagai satu-satunya negara di dunia dengan
baby smoker karena rata-rata perokok anak di Indonesia menghabiskan 40 batang rokok
perhari. Menurut Kemenkes, berdasarkan usia, Kaum Muda yang mulai merokok pada usia 5
tahun tertinggi di Jawa Timur disusul Jawa Tengah.
Narkoba lebih jahat dari terorisme, karena korban ini berkelanjutan dan jarang diketahui.
Kepedulian masyarakat terhadap narkoba sangat rendah, sehingga peran pemerintah bersama
penegak hukum tidak sebanding dengan laju penyebaran narkoba yang melibatkan jaringan
internasional. Orang kaya, miskin, penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi sampai artis bisa
terkena narkoba.
Anak sekolah dan mahasiswa ternyata merupakan kelompok
pengguna terbanyak. Yang paling dikhawatirkan narkoba merambah
juga di kalangan masyarakat bawah seperti buruh, kuli, tukang ojek
dan para pengangguran. Bisa dibayangkan, bagaimana mereka
mendapatkan uang untuk memperoleh barang haram tsb. Sangat
mungkin, akhirnya mereka terjebak dalam perilaku kriminal. Ancaman
kematian akibat dampak kronis maupun over dosis narkoba, juga
akibat HIV AIDS yang banyak diidap para pemakai narkoba sudah di
depan mata kita semua, belum lagi ongkos sosial ekonomi yang
teramat besar. Generasi muda kita terancam karenanya,
memprihatinkan dan menyedihkan.
Pada tahun 2003 : narkoba diartikan sebagai narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya.
Pada tahun 2005 narkoba diartikan lebih luas lagi, yaitu sebagai narkotika dan obat/zat
berbahaya.
Narkoba terdiri atas 3 kelompok obat/zat, yaitu, kelompok pertama, Golongan Narkotika yang
terdiri dari (a) Opiat: opium, morfin, heroin, kodein dan petidin; (b) Cannabis (Ganja), dan (c)
Kokain. Kelompok kedua, Psikotropika yang terdiri dari (a) Obat penenang/obat tidur seperti
diazepam (valium), nitrazepam, bromazepam, pil BK dan lain sebagainya, (b) Obat halusigenik
seperti LSD, luminal (phenobarbital), dan (c) Zat/obat psikostimulans seperti amfetamin
(ekstasi), metamfetamin (sabu-sabu). Kelompok ketiga, Zat psikoaktif antara lain terdiri dari (a)
Minuman keras beralkohol, (b) Solvent, seperti tiner, acetone, lem, uap bensin dan sebagainya,

L-43

dan (c) Nikotin pada rokok dan kafein pada kopi dan teh. Pada pengertian sehari-hari, narkoba
lebih ditujukan pada kelompok pertama dan kedua, yaitu narkotika dan psikotropika.
Tahun 2008 berjuta-juta remaja di Asia telah menggunakan Narkoba. Di Indonesia sekitar 4,1
juta Kaum Muda yang terlibat penyalahgunaannya, mulai dari menghirup bahan kimia (ngelem),
ectasy sampai pada pecandu berat heroin (putauw).
Salah satu rumah sakit di kota Bandung menunjukkan bahwa hasil tes urine pengguna arkoba
positif di tahun 1998 sekitar 19 orang. Angka ini meningkat mejadi 53 orang di tahun 2003.
Dalam hal ini, pada laki-laki lebih banyak ditemukan daripada wanita. Dengan rentang usia
terbanyak adalah kelompok 18-25 tahun dan termuda 12 tahun. Umumnya usia pertama kali
menggunakan Narkoba adalah usia 12-17 tahun, sedangkan untuk tingkat pendidikan
terbanyak lulusan SLTP dan SLTA.
Mengapa banyak Kaum Muda sampai terlibat pada penyalahgunaan narkoba? Banyak hal yang
membuat banyak Kaum Muda yang terlibat disini, antara lain32, karena untuk gembira/hurahura, karena pengaruh teman, karena ingin tahu atau coba-coba untuk mencari sensasi
pengalaman baru, karena solidaritas kelompok, karena takut tekanan dari kelompoknya,
karena ingin menonjolkan keberaniannya, karena ingin menunjukkan sikap pemberontakan
kepada keluarga dan lingkungannya, karena ingin menghilangkan stress dan rasa bosan,
karena mudahnya mendapat narkoba mendorong mereka menyalahgunakan narkoba.
Badan Narkotika Nasional (BNN)33 mencatat bahwa data kasus penyalahgunaan narkotika di
Indonesia naik begitu tajam. Untuk periode 2006 hingga 2010, BNN berhasil mengungkap
126.841 kasus narkotika dan obat-obatan terlarang. Pada tahun 2006 secara nasional terdapat
sebanyak17.355 kasus narkoba yang terdiri dari 9.422 kasus narkotika dan 5.658 prikotropika.
Sementara di tahun 2007, tercatat ada sebanyak 22.630 kasus yakni 11.380 kasus narkotika
dan sebanyak 9.289 kasus prikotropika. Selanjutnya, di tahun 2008 ada 29.364 kasus narkoba
dimana sekitar 10.008 merupakan kasus narkotika dan sekitar 9.783 kasus psikotropika. Untuk
ditahun 2009, meningkat menjadi 30.878 kasus terdiri dari 11.135 kasus narkotika dan 8.779
kasus psikotropika. Untuk tahun 2010 ada 26.614 kasus dimana 17.834 merupakan kasus
narkotika dan 1.181 kasus psikotropika. Situasi produksi dan peredaran narkoba yang begitu
besar, berpengaruh terhadap kondisi penyalahgunaan barang haram itu. Menurut BNN,
sepanjang kurun lima tahun itu, ada sebanyak 356 kasus pemproduksian narkoba di dalam
negeri. Sementara untuk para pendistribusinya yang berhasil ditangkap ada sebanyak 107.069
orang.
Dewasa ini korbannya mencapai lebih dari 5 juta jiwa. Di kalangan pelajar (bagian dari Kaum
Muda) jumlah penggunanya mencapai sekitar 921.695 orang. Pengguna yang akhirnya
meninggal di tahun 2012 mencapai angka rata-rata 50 orang per hari. Sebenarnya data yang
dicatat oleh BNN itu bukan angka kasus riil di lapangan, karena masih banyak kasus yang tidak
diketahui. Pencatatan kasus narkoba memang tidak mudah. Deputi Pemberdayaan Masyarakat
BNN memperkirakan pengguna narkoba di Indonesia bakal mencapai 5,1 juta orang pada 2015.
(Bandingan dengan data ini Bank Dunia memperkirakan sekitar satu miliar orang tergolong
miskin ekstrim tahun 2015)
Pada tahun 2011, penelitian BNN dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia
menunjukkan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba sebesar 2,2 persen dari total
32
33

Arnet JJ(Ed), 2007, International Encyclopedia of Adolescence, London, Routledge Taylor and Francis Group.
BNN, Data kasus narkoba di indonesia tahun 1997-2008

L-44

penduduk, setara dengan 3,8-4,2 juta orang. Angka tersebut sebenarnya masih dibawah angka
prevalensi internasional sebesar 2,32 persen. Prevalensi penyalahgunaan narkoba
diproyeksikan meningkat tiap tahun. Di tahun 2008 sebesar 1,99 persen, tahun 2011 sebesar
2,32 persen, tahun 2013. Penelitian tersebut memproyeksikan tingkat prevalensi pada 2015
akan mencapai 2,8 persen. Itu artinya setara dengan 5,1 juta orang, bila tidak ada upaya
bersungguh-sungguh untuk memerangi narkoba. Peredaran narkoba kini semakin lihai,
melibatkan banyak uang, juga melibatkan jaringan lintas negara. Jaringan narkoba tersebut
bahkan terus secara intensif melakukan propaganda untuk memuluskan kejahatan mereka di
tengah masyarakat.
Penyalahguna narkoba tidak hanya berdomisili di kota besar yang terkonsentrasi di puau jawa
saja. Sebaran mereka merata di semua pelosok di tanah air. Dari data yang dimuat di berbagai
media masa, menunjukkan informasi-informasi penting yang disarikan sebagai berikut.
Di Balikpapan, Kanwil Ditjen Bea Cukai Kalbagtim Senin 14 Mei 2012 menangkap seorang kurir
berinisial TMJ, 17 tahun, di bandara Sepinggan dan seorang wanita berinisial DN 34 tahun di
Ciputat, Tangerang. Dugaan sementara TJM ini merupakan kurir DN untuk membawa heroin,
Seorang juru parkir DS 29 tahun, Jumat 3 February 2012 diciduk aparat Kantor Bea dan Cukai
Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, karena diduga menerima
shabu dengan berat 1,006 kg yang diselundupkan melalui jasa paket pengiriman barang. DS
yang sehari-hari sebagai tukang parkir di Kelapa Gading, Jakarta Utara, tertangkap menerima
shabu melalui jasa pengiriman. Narkotika jenis shabu tersebut berasal dari Uni Emirat Arab
yang sudah dikemas sebanyak 17 paket khusus. Paket tersebut sengaja disimpan dalam
tabung filter air yang sudah dilem dengan rapi, sehingga petugas kesulitan untuk membukanya
sehingga terpaksa menggergaji tutup filter air itu agar dapat dibuka dan ternyata isinya bubuk
putih. Petugas pun melakukan uji laboratorium kemudian diketahui bahwa kristal dalam tabung
itu positif Methampetamina (shabu). Shabu yang diselundupkan tersebut bila dijual dipasaran
bebas bisa mencapai harga Rp 2,012 miliar.
Menurut Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Karawang, yang juga Wabup Karawang, dr.
Cellica pada kegiatan Sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan
Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di SMPN 1 Jatisari, Karawang, mengatakan bahwa
peredaran narkoba di Kabupaten Karawang kian memprihatinkan. Sejak Januari s/d Agustus
2011 tercatat sebanyak 52 kasus dan 62 tersangka. Setiap bulan terdapat tujuh kasus dan
delapan tersangka, yang sebagaian besar terjadi di kalangan remaja.
Menurut Polda Sulselbar kasus narkotika pada Tahun 2012, sampai 23 Oktober 2012, telah
mencapai 627 kasus. Sementara, di tahun 2011 terdapat 651 kasus. Narkotika yang paling
banyak beredar adalah ganja, sabu-sabu dan ekstasi. Memang mayoritas (433 kasus) yang
terlibat tindak pidana pengedar dan penggunanya berusia di atas 30 tahun namun kasus
narkotika juga sudah masuk dunia pendidikan terutama di lingkup SMA, yang masih pelajar
maupun yang sudah lulus, dengan angka sudah mencapai 340 kasus dengan 13 pelajar aktif
SMA.
Menurut Kanit Reskoba Polres Gresik, kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan
terlarang berupa pil koplo dan sabu di wilayah Kabupaten Gresik mengalami peningkatan
hingga 200 persen yang terjadi antara Januari 2012 dengan Januari 2013.
Dewasa ini, dunia pendidikan seperti menjadi sasaran empuk jaringan narkoba. Sejak lama
kampus dan mahasiswa jadi bagian yang tak terpisahkan dari peredaran 'barang haram'
tersebut. Alasan utama para bandar narkoba merekrut mahasiswa untuk mengedarkan narkoba

L-45

adalah karena minimnya pengawasan dan pencegahan yang dilakukan kepolisian pada
lingkungan kampus itu sendiri. Dan yang lainnya karena segi ekonomis, tergiur keuntungan
yang besar. Di banyak kasus mahasiswa bahkan hanya bermodalkan kepercayaan dari si
bandar untuk mendapatkan narkoba seperti sabu, ganja, ataupun obat terlarang dalam jumlah
besar.
Menurut laporan investigasi suatu media masa menunjukkan bahwa volume penjualan di
kalangan mahasiswa bisa mencapai 2 kali lipat. Seperti ganja atau disebut haw, cimeng,
bakung dan baks, dari rinciannya satu kilo biasanya mencapai harga Rp 2,5 juta per kilogram,
dan sabu biasanya Rp 1,5 juta per gram. Kalau ganja dijual mulai dari paket terkecil Rp 25 ribu
hingga paling besar Rp 200 ribu. Tapi kalau putih (sabu maksudnya) bisa paket dua orang atau
paket hemat, Rp 300 ribu sebungkusnya.
BNN mensinyalir bahwa dewasa ini pil ekstasi produk Tiongkok marak beredar di Jakarta.
Konon, kualitasnya sama produk Belanda dengan harga yang bersaing dengan buatan lokal.
Satu butir ekstasi Tiongkok untuk pasaran di Ibukota mencapai Rp250.000. Mari kita tengok
bahasa yang digunakan oleh BNN: BNN mensinyalir pil ekstasi produk Tiongkok akhir-akhir ini
marak beredar di Jakarta, dan disebut-sebut kualitasnya sama produk Belanda dengan harga
yang bersaing dengan buatan lokal... Wow, kali ini ternyata produk Indonesia tidak kalah hebat
dibanding produk negara maju lain di dunia. Ironisnya, narkoba.
BNN menunjukkan nilai transaksi narkoba di Indonesia mencapai Rp42,8 triliun per tahun.
Artinya, sekitar Rp120 milliar per hari. Menurut penelitian yang dilakukan antara BNN-UI tahun
2011 menunjukkan bahwa peredaran ekstasi di Indonesia mencapai 140 juta butir per tahun.
Dari jumlah tersebut, kata dia, hanya sekitar 880.000 butir ekstasi yang berhasil disita aparat
berwenang.
Di sisi lain, petugas gencar menghentikan laju perdagangan dan peredaran narkoba dengan
melakukan razia. Hukuman berat pun dijatuhkan kepada pelakunya. Namun, tindakan itu seolah
sulit memberi efek jera. Satu lokasi yang kerap menjadi target razia polisi yaitu Kampung
Ambon di Cengkareng, Jakarta Barat. Sejak 1990, wilayah itu diduga sebagai pusat peredaran
narkoba di Jakarta. Bahkan, penikmat narkoba menganggap wilayah itu sebagai surga
mereka. Beragam jenis narkoba tersedia disini selama 24 jam, mulai sabu, ekstasi, hingga
putau. Perdagangannya pun ibaratnya warung makan atau kafe yang menjajakan dagangan
dengan terbuka. Beberapa kali digerebek, narkoba masih menjamur di Kampung Ambon,
Jakaarta Barat itu.
Narkoba menjerat siapapun, termasuk artis yang memiliki banyak penggemar. Beberapa artis
menjadi pemakai dan pengedar. Beberapa di antara mereka bahkan berkali-kali dibekuk meski
telah menjalani proses sidang dan masa tahanan. Celakanya, narkoba juga menjadi momok di
dalam penjara. Bisnis narkoba tetap berjalan disini. Narapidana bebas bertransaksi dan bahkan
melibatkan petugas/sipir penjara. Sehungga penjara sama sekali tidak memberikan efek jera
kepada para penjahat narkoba. Ditambah lagi, tak jarang penjahat narkoba divonis bebas di
tingkat kasasi. Bahkan, publik mencatat beberapa kali gembong narkoba mendapat grasi.
Sungguh ironis.
Perkembangan terakhir masalah Narkoba telah mencapai tingkat yang memprihatinkan.
Perdagangan narkoba telah menyusup ke masyarakat usia 7-8 tahun, pada mereka ditemukan
telah menggunakan ganja dan ngelem. Kondisi semakin buruk dengan banyaknya pecandu
yang meninggal karena over dosis narkoba suntik dengan penggunaan jarum suntik secara
bergantian, sehingga menjadi jalan untuk virus hepatitis dan HIV bersarang.

L-46

Dari uraian diatas, ada beberapa hal yang memprihatinkan kita tentang bahaya
penyalahgunaan narkoba, pertama, Indonesia belakangan bukan hanya sebagai negara
konsumen atau transit narkoba saja, tapi juga sebagai negara produsen atau pabrik narkoba.
Beberapa kali polisi menggrebek tempat yang menjadi pabrik narkoba seperti ekstasi atau
sabu-sabu, baik di Jakarta maupun di kota-kota lain di Indonesia. Kedua, kecenderungan
perkenalan dengan narkoba pada usia yang semakin muda (usia 10 tahun bahkan kurang)
dengan kelompok umur terbesar pengguna narkoba adalah pada kelompok usia 15-25 tahun.
Pengguna narkoba belakangan juga ditemukan pada masyarakat kelas ekonomi bawah seperti
buruh pabrik, tukang ojek, remaja di daerah kumuh dan padat penduduk. Ketiga, jumlah kasus
penyalahgunaan narkoba makin hari cenderung makin meningkat, kasus yang terungkap
adalah bagai fenomena puncak gunung es (iceberg phenomenon). Jumlah sesungguhnya
kasus penyalahgunaan narkoba jauh lebih besar dari yang terungkap. Keterbatasan personil
kepolisian dan kelihaian para pengedar dan pembuat narkoba membuat kasus yang dapat
diungkap hanya sedikit sekali. Keempat, penyalahgunaan narkoba dan HIV/AIDS bagaikan 2
sisi mata uang. Penggunaan narkoba dengan cara disuntik (IDU = Injection Drug User)
merupakan cara penularan terbesar dari kasus HIV/AIDS belakangan ini. HIV/AIDS pada
mulanya banyak mengenai kaum homo seksual, tapi sekarang para pengguna narkoba dengan
jarum suntik adalah kelompok terbesar mereka yang terkena HIV AIDS. Kelima, merokok dan
minuman keras diketahui sebagai pintu masuk untuk mencoba-coba narkoba. Sementara
perkenalan merokok sudah dimulai pada usia yang semakin dini (usia SD). Terakhir, sampai
sekarang belum ada satupun terapi penanggulangan kecanduan narkoba yang terbukti afektif
mengobati semua pecandu narkoba. Sementara metode pengobatan yang ada memakan waktu
lama, proses yang rumit dan membutuhkan biaya yang mahal.

4. Kebijakan
Kaum Muda merupakan modal bangsa saat ini dan harta kebanggan di masa depan. Dalam
kaitannya dengan pembangunan, Kaum Muda adalah pelaksana bonus demografi yang secara
perhitungan ilmiah segara datang. Untuk itu, kepada Kaum Muda perlu dipersiapkan dengan
bekal yang akan mereka butuhkan nanti. Mengingat pentingnya menangani Kaum Muda ini
dengan baik dan benar, maka kebijakan yang disusun perlu dilakukan secara cermat,
berorientasi kepada Kaum Muda dan berwawasan ke depan. Kebijakan termaksud adalah yang
mampu membantu dan/atau memfasilitasi masyarakat untuk meningkatkan kontribusinya
mendukung potensi Kaum Muda kedepan. Kebijakan yang disusun tersebut juga untuk
memfasilitasi kekuatan kelompok disamping kemandirian. Prinsip kerjasama dan kolegial harus
dapat ditingkatkan sebagai bagian integral dari kemampuan dan keterampilan individu yang
mumpuni dari Kaum Muda.
Kaum Muda adalah mereka yang masih terus berkembang fisik maupun kejiwaannya. Sejalan
dengan itu, maka persiapan yang perlu diberikan kepadanya harus sejalan dengan kondisi
tersebut. Dalam segi fisik, berbagai kendala yang menghambat kelancaran pasokan nutrisi dan
jaminan pelayanan kesehatan perlu dihindari atau sedikitnya diminimalisasikan. Namun
demikian, perlu diupayakan bahwa Kaum Muda ketika mengkonsumsinya, bukan berasal dari
usaha sendiri. Artinya, masyarakat luas perlu memfasilitasi dan mengadvokasi menurunnya
proporsi Kaum Muda yang sangat muda usia untuk bekerja. Berbagai skema pengoptimalan
pertumbuhan fisik Kaum Muda dapat disinergikan diantara institusi masyarakat dengan fokus
pemenuhan kebutuhan pertumbuhan fisik Kaum Muda. Dalam hal ini kesempatan berolahraga
bagi semua Kaum Muda perlu diberi prioritas. Disamping itu, berbagai kericuhan sosial dan
perilaku beresiko tinggi masyarakat luas dan Kaum Muda perlu mendapatkan perhatian untuk

L-47

dibatasi kejadiannya. Pelayanan kesehatan dengan segala kelengkapannya merupakan rujukan


Kaum Muda yang mengalami kondisi ketidakoptimalan perkembangan fisikalnya. Karena itu,
Kaum Muda harus mendapat akses seluas-luasnya terhadap informasi dan konseling
kesehatan, termasuk kesehatan remaja, yang ramah-remaja dalam menghindarkan dirinya dari
perilaku berisiko.
Dalam segi mental-psykologis, Kaum Muda perlu mendapat dukungan pengajaran dan
pendidikan dasar serta pelatihan yang berkualitas yang akan menjadikan mereka
berpengetahuan, terampil, mandiri, setia-kawan, visioner dan bermartabat sehingga mereka
mampu untuk melanjutkan upaya menggapai pendidikan yang lebih tinggi dan/atau bekerja
secara manusiawi. Sejalan dengan hal itu, karakter sistim pengajaran, pendidikan dan pelatihan
perlu diberi dukungan untuk selalu menyesuaikan diri menghadapi berbagai perubahan di
masyarakat sehingga mampu mewadahi kebutuhan Kaum Muda untuk meningkatkan potensi
diri dan kreatifitasnya. Ruang publik Kaum Muda sebagai wadah ekspresi diri mereka perlu
diperluas, mendapat dukungan dan difasilitasi serta sejauh mungkin terhindar dari pemanfaatan
buruk.

L-48

Kaum

Muda

Siapa Mereka ?

KAUM MUDA
INDONESIA Modal hari ini

Siapa Orang Muda Itu?

Harta hari depan

Mengapa Orang Muda Perlu Diperhatikan


UNFPA

10 19 tahun
10-19

Remaja

WHO

15-19
15
19 tahun

Dewasa
Muda
Orang Muda

Kesepakatan
UNFPA dan
WHO

10-24 tahun

1 dari 4 penduduk dunia kaum muda


Pemilik bangsa di masa depan
Menghadapi banyak tantangan kehidupan

Kaum Muda Disiapkan Mengantisipasi Ini

Bonus Demografi
Jendela Kesempatan

Perrsen

Kaum Muda

Penduduk Menua

Tahun

Kondisi Demografi
K
Kaum
M
Muda
d

Kaum Muda di Kota Dunia

desa

desa

1955

desa

desa

desa

Kaum Muda merupakan 18% dari


populasi dunia (hampir 1,2 miliar jiwa)

meskipun jumlahnya
meningkat namun
meningkat,
proporsinya menurun
sampai tahun 2025
2025,
diproyeksikan akan
terus meningkat
jumlahnya tetapi
jumlahnya,
makin menurun
proporsinya

desa

2005

1995

1985

1975

1965

kota

kota

kota

kota

kota

Jumlah Kaum Muda di Indoesia


kota

87% tinggal di Negara Berkembang


62% tinggal di Asia dan 15% di Afrika

semakin banyak Kaum Muda tinggal di perkotaan


dengan segala kesempatan dan tantangan yang
mereka hadapi, fisik hingga non-fisik
yang terpenting, menyiapkan kota untuk menjadi
wahana penggodokan Kaum Muda dalam
menyongsong masa depan

Lokasi Tempat Tinggal Kaum Muda


12

Kaum
au Muda
uda Us
Usia
a 10-14
0
tthn (Jt)
11,2

11
10,5

Kaum Muda Usia 10-19 tahun lebih


banyak yang tinggal di perkotaan
daripada di pedesaan

11,7

11,5

11

10,6

10,4

10,3

10

10

10,6

10,5

10,2

10,1

9,9

10,6
2015

2020

2025

Kaum Muda Usia 15-19 thn (Jt)


10,6
10,5

10,4
10,2

11,5
11

10
9,5

10,1
9,8

10
9,9

10
97
9,7

Kota
Desa

8,5
8
2010

2015

2020

Wanita
Penduduk

10,1
9,9

Kota
Desa

9,7

Wanita
Penduduk
Persen 10-24
Laki-2

10,3
10

2015

Wanita
Penduduk
Persen 10-24
Laki-2

9,2

9,9

9,2

2005

10,3

9,4

10,2

2000

2010

10,5

9,6

10,7
10

10,4

9,8

11

10,5

10,6

10

10

Kaum Muda Usia 20-24 thn (Jt)

Jender
Laki-2

Persen 10-24
Laki-2
10,8

2010

2005

Desa

9
2005

Tahun

Kota

9,5

2000

Kaum Muda Menurut Pulau & Jender, 2005-2025 (Jt)

2000

2005

2010

2015

2020

2020

2025

awalnya, Kaum Muda usia 20-24


tahun lebih banyak tinggal di
pedesaan,
d
sejak
j k 2015 di
diproyeksikan
k ik
lebih banyak di perkotaan

2025

Wanita
Penduduk
Persen 10-24
Laki-2

2025

W it
Wanita
Penduduk
Persen 10-24

Jawa

18,1
17,7
128,5
28
17,3
16,8
136,6
25
16,9
16,3
141,4
23
16,7
16,1
146 5
146,5
22
16,9
16 3
16,3
150,8
22

Kali
Sumatra mantan

7,4
7,2
46,0
32
7,4
7,3
50,6
29
7,5
7,2
52,4
28
7,6
7,3
58 1
58,1
26
7,8
75
7,5
61,6
25

1,9
1,8
12,1
31
1,9
1,8
13,3
28
1,9
1,9
14,3
27
1,9
1,9
15 3
15,3
25
2,0
19
1,9
16,2
24

Sulawesi

2,4
2,4
15,8
30
2,4
2,4
17.0
28
2,4
2,3
18,1
26
2,4
2,3
19 2
19,2
24
2,5
24
2,4
20,1
24

Bali Cs

1,8
1,7
11,8
30
1,8
1,8
12,8
28
1,8
1,8
13,7
26
1,9
1,8
14 5
14,5
26
1,9
19
1,9
15,2
25

Maluku

0,38
0,36
2,2
34
0,4
0,4
2,3
35
0,4
0,4
2,5
32
0,4
0,4
27
2,7
30
0,4
04
0,4
2,8
29

Kaum Muda Menurut Pulau, 2005-2025(Jt)


P
Proporsi
iK
Kaum M
Muda
d th
thn 2005
2005-2010
2010 di M
Maluku+Papua
l k +P
meningkat,
i k t
Yang lain menurun
Muda
(2025)
1,81%
Muda
(2010)
6,73%
M d
Muda
(2025)
5,66%

Muda
(2010)
1,69%

Muda
(2010)
Muda 2,20%
(2025)
,
1,44%

Muda
(2010)
0,75%

Muda
(2025)
0,64%

Muda
(2010)
1,65%
Muda(2010)
15,61%

Muda(2025)
12,28%

Proyeksi Kaum Muda di tahun 2025


2025, semuanya menurun

Muda
(2025)
1,41%

Mengembangkan
M
g b gk
KaumMuda
d

Papua

0,4
0,4
2,6
31
0,44
0,40
2,9
29
0,44
0,42
3,2
27
0,44
0,42
34
3,4
25
0,48
0 46
0,46
3,7
25

KERANGKA BERPIKIR
SEKOLAH
PELATIHAN

DEWASA TERAMPIL-DASAR
UNTUK
MELANJUTKAN BELAJAR
DAN HIDUP

BEKERJA
SESUAI DUNIA
KERJA
BANTUAN
MENCARI
KERJA
BANTUAN
UNTUK
WIRAUSAHA
DAN
BEKERJA
MANDIRI

Prestasi Kaum Muda Indonesia

tetap
p banyak
y p
prestasi
ditengah keterbatasan fasilitas dan beban-tanggungjawab

JIKA GAGAL
J
G G

DAMPAK

SOSIAL

Profil Sekolah Kaum Muda

selama 40 tahun terakhir, Kaum Muda, laki-laki dan wanita, di perkotaan


dan di pedesaan,
pedesaan meningkat pesat dalam bersekolah
namun, sesungguhnya banyak sekali kendala yang mereka hadapi

International Exhibition for Young


g
, 2012
Inventors ((IEYI)) di Bangkok,
6 karya yang diikutkan semua dapat
medali emas 2, perunggu 2, dan
penghargaan spesial 2

Internasional Physic Olimpiad (IPhO)


medali s/d 2003,
2003 emas 5,
5 perak 7,
7
perunggu 17 dan honourable mention
16

Profil Sekolah Kaum Muda


120

107 68
107,68

10
107

100

106,63

70

111 63
111,63

50

80

20

20

10
0

0
1995

2000

2005

APK SD

82,09

77,62
65,65

untuk
t k SMP,
SMP APK d
dan APM di pedesaan
d
llebih
bih
rendah daripada di perkotaan, SMP di
pedesaan lebih efisien daripada di perkotaan

18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

67,62

50,96

2000

2005

2005

APM SMA

2010

selisih APK dengan APM adalah


ukuran efisiensi, semakin besar
selisihnya semakin tidak efisien

80,35

65,37

60,27

2010

16,35

11,06

10,26
,

9 55
9,55

1995

11,01
8,71

7,95

7,15

APM SMP

2000

2005

APK Univ

2010

APM Univ

Profil Sekolah Kaum Muda


Wanita

45
40

Kaum Muda yang


tidak sekolah dan
tidak tamat SD
menurun drastis

35
30
25
20
15
10

penurunan APK SMA di perkotaan


l bih d
labih
drastis
ti d
daripada
i d di pedesaan
d

5
0
Tdk Sklh
45
40

mengapa APK jenjang SMA di pedesaan jauh lebih rendah


daripada di perkotaan? Apa mereka di pedesaan sudah tidak
bersekolah lagi? Kemana kah mereka? Langsung bekerja atau
menganggur karena berbagai hambatan untuk dapat
melanjutkan sekolah mereka?

2000

APK SMA

APM SD

APK SMP

Kaum Muda laki


laki-laki
laki maupun wanita di pedesaan memiliki APK
dan APM yang lebih rendah daripada yang di perkotaan

1995

2010

selisih APK dengan APM jenjang


sekolah terus meningkat, kecuali di
SMP yang menurun

1995

Profil Sekolah Kaum Muda

39,33

32,6
3
,6

45,48

43,5

30

40

90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

55,21

50,22
42,43

40

60

Kaum Muda
dikepung tantangan
saat sekolah

62 3
62,53

60

94,72

93,25

92,284

91,45

Laki-Laki

TdkTmt SD

1971

SD

1980

SMP

1990

2000

SMU

Univ

2002

35
30

Kaum Muda yang lulus


SD SMP d
SD,
dan SMA
meningkat tajam

25
20
15
10
5
0
Tdk Sklh

TdkTmt SD

1971

SD

1980

SMP

1990

2000

SMU

2002

Univ

Kaum Muda Yang Bekerja


80
70

63,7

63,4

60
50

46,8

73 7
73,7

69
49,9

46,3

51,8

72 6
72,6
53,9

40
30
20
10
0

1971

1980

1990

TPAK 15-24(%)

2000

2002

TPAK >24(%)

ternyata, dalam 40 tahun


terakhir ini partisipasi angkatan
kerja muda di pedesaan
maupun di perkotaan
cenderung makin meningkat

ttercatat
t t llebih
bih d
darii 40% yang
SUDAH BEKERJA

TPAK pekerja 15-24th


15 24th dibawah
TPAK pekerja >24th

TPT pekerja 15-24th diatas


TPT pekerja >24th
30

pekerja 15-24th kalah


b
bersaing
i dengan
d
pekerja
k j
>24th karena kalah
pengalaman kerja dan
keterampilan

50
40
30
20
10
0

1985
Tani Indus

1990
Konst Dagang

1995
Trans

2000
Jasa Lain

Uang

2002

Pekerja muda di sektor pertanian menurun dan berlih ke industri


Namun,, perdagangan
p
g g dan jasa
j
meningkat
g
secara bermakna
Diduga, banyak pekerja muda aktif di sektor informal
Jika di sektor formal, mereka kalah bersaing dengan pekerja dewasa
60

19,9

20

10

60

27,9

25

15

Kaum Muda Yang Bekerja

50
40

11,9

30

8,6

7,1
3,5

4,2

2,5

1,2

20
10
0

0
1971

1980

TPT 15-24(%)

1990

2000

1985

2002

TPT >24(%)

Kaum Muda Yang Bekerja


ban ak pekerja anak usia
banyak
sia kkurang
rang dari 15 th
2,3 Juta anak usia 7-14 tahun menjadi pekerja
lebih dari 2/3 memasuki dunia kerja hanya
berbekal pendidikan dasar atau kurang

UUD-45, Pasal 34
Fakir miskin dan
anak terlantar
dipelihara oleh
negara

Tani

1990
Indus

Konstr

1995
Dagang

2000
Transp

2002

Uang

Jasa

Kaum Muda Yang Bekerja


Tingkat pengangguran pekerja muda
dengan latar belakang pendidikan
SMA dan Perguruan Tinggi tetap
tinggi dan cenderung meningkat
1. Pendidikan Kaum Muda meningkat
2. Kaum Muda berpendidikan yang
menganggur sebenarnya
b
sedikit,
dikit ttapii
proporsinya tinggi

25

40
35
30
25
20
15
10
5
0

1985

TdkSD

1995

SD

2000

SMP

SMA

2002

Univ

Pekerja Dewasa

Tingginya tingkat pengangguran


pekerja dewasa berpendidikan
Perguruan
g
Tinggi
gg

10
5
0

1985

1990
TdkSklh

sektor informal banyak membantu Kaum Muda di perkotaan

1990

TdkSklh

15

P
Pengangguran
Kaum
K
Muda
M d di pedesaan
d
sebelum
b l
ttahun
h 1985
lebih rendah daripada di perkotaan
Setelah itu, pengangguran di pedesaan selalu diatas perkotaan

Pekerja Muda

45

20

mereka tidak dapat


p
menikmati hak dasar
anak atas pendidikan
keselamatan fisik
perlindungan, bermain
dan rekreasi

Lain

TdkSD

1995
SD

2000
SMP

SMA

2002
Univ

Tantanganyang
T
t g
g
dh d
dihadapiKaumMuda
d

Paradox Kaum Muda

Paradox Kaum Muda


TIDAK
BEKERJA

TIDAK
SEKOLAH

DAMPAK
SOSIAL

NARKOBA

Kaum Muda merupakan


kelompok resiko tinggi dan
sangat rentan terhadap masalah
seksualitas, HIV dan AIDS serta
yang
g tidak
Narkoba kehamilan y
dikehendaki serta penyakit yang
ditularkan melalui hubungan
seksual

KESEHATAN

Tidak bersekolah sekaligus menganggur berdampak-sosial


yang luar
l
biasa
bi
besar
b
dan
d multi
lti dimensi
di
i
Dinamisnya Kaum Muda justru dengan mudah
menjerumuskan mereka
mereka, misalnya
misalnya, kedalam jaring-jaring
jaring jaring
narkoba dan persoalan kesehatan

Paradox Kaum Muda


kebiasaan
k
bi
merokok
k k pintui t
masuk penyalahgunaan
narkoba

M
Masa
depan
d
Kaum Muda

Peraturan dan Kebijakan yang perlu


dikembangkan
g
1. Kaum muda memperoleh
p
universal akses untuk
pendidikan dasar dan remaja
2 Peningkatan kualitas pendidikan terutama terkait
2.
dengan life skill education, education livehood
dan character building
3. Kamu muda lebih mengakses pada pelatihan

HARUSNYA
BEGINI

Peraturan dan Kebijakan yang perlu


dikembangkan
g
4. Meningkatkan
g
equity
q y akan kesehatan dan
pendidikan
5. Kaum muda memperoleh universal akses untuk
informasi dan konseling kesehatan termasuk
KR yang ramah remaja
6. Membatasi kaum muda dari aksesibilitas
kepada perilaku berisiko

TERIMA KASIH YA...

Penduduk Usia Produktif dan Ketenagakerjaan1


1. Pendahuluan
Tulisan ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang keterkaitan antara
kependudukan, khususnya usia produktif
dengan isu-isu keternagakerjaan
Indonesia. Analisis dimulai dengan membahas konsepsi dasar angkatan kerja,
dilanjutkan dengan diskusi singkat tentang bagaimana kalau salah dalam
menentukan sikap terhadap penanganan dinamika kependudukan.Demikian juga
bagaya bilamana penduduk tidak dikendalikan, dalam kaitannya dengan penawaran
tenaga kerja dalam jangka panjang. Bagaimana pula bonus demografi dapat
dimanfaatkan sebagai sebuah peluang, serta kebutuhan penduduk usia produktif.
Analisis juga menjelaskan bagaimana fenomena ketenagakerjaan, baik dilihat
dari perspektif makro, fenomena mikro ketenagakerjaan, yang menjadi prioritas
dalam penanganan ketenagakerjaan.Tidak lupa juga membahas bagaimana
kontroversi upah minimum, dan implikasi analisis terhadap masadepan
ketenagakerjaan,serta gagasan kebijakan.Tulisan ini diakhiri dengan kesimpulan.

2. Penduduk Usia Produktif


2.1. Pengertian: Penduduk Usia Produktif dan Tenaga Kerja
Agar memudahkan, dapat dipahami bahwa rentang usia penduduk mulai lahir hingga
meninggal. Pada rentang daur hidup manusia terdapat penduduk usia produktif.
Dikatakan usia produktif, ketika penduduk berusia pada rentang 15-64 tahun 2 .
Sebelum 15 tahun, atau setelah 64 tahun tidak lagi masuk ke dalam usia produktif3.
Sementara pada rentang usia 15-64 tahun, penduduk akan memiliki beragam
aktifitas. Mulai dari menjalani pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, atau
mengurus rumah tangga.Per definisi, mereka yang mencari pekerjaan dan sedang
bekerja sebagai kegiatan utamanya selama seminggu yang lalu mereka termasuk ke
dalam penduduk sebagai angkatan kerja. Penduduk yang bekerja, setidaknya 1 jam
selama seminggu yang lalu, dalam terminologi adalah sebagai tenaga kerja.
Sementara angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan adalah mereka yang

Materi ini dikembangkan oleh Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan, BKKBN


dengan penulis utama adalah Elfindri, Dept of Economics, Universitas Andalas. Dapat dihubungi
elfindribana@gmail.com dan Jahen .F.Rezki, Dept of Economic Development and Emerging
Market, The York UK. Dapat dihubungi melalui jahenfare@yahoo.com
2

Ada 2 pandangan dalam melihat batasan usia penduduk usia produktif. Pandangan pertama adalah
15-59 tahun dan pandangan kedua adalah 15-64 tahun. Kesepakatan secara internasional sekarang ini
adalah untuk Negara berkembang dipakai 15-59 tahun dan untuk Negara maju dipakai 15-64 tahun.
Untuk Indonesia pada ahli seringkali memakai keduanya ada yang memakai ukuran 15-59 tahun dan
ada yang memakai 15-64 tahun
3
Jika penduduk pada usia di bawah 15 tahun kegiatan utamanya bekerja atau mencari pekerjaan,
maka tidak lagi masuk ke dalam angkatan kerja. Persoalan yang dilihat dalam konteks ini adalah
pekerja anak. Demikian juga pada usia dimana lewat dari 65 tahun, sekalipun mereka masih kelihatan
produktif. Lihat Elfindri dan Nasri Bachtiar (2003) Ekonomi Ketenagakerjaan, Andalas University
Press.

L-55

belum bekerja sama sekali, atau masa transisi pindah pekerjaan, atau baru saja
selesai sekolah dan sedang mencari pekerjaan merupakan penganggur.
Ketika sekalipun bekerja, maka ketika masa pekerjaannya di bawah jam
kerja, atau bekerja tetapi penghasilannya di bawah kebutuhan hidup. Maka
kelompok penganggur tambah dengan kelompok yang bekerja kurang menjadi
tantangan ketenagakerjaan. Mereka usia produktif mesti menjadi sasaran agar
disiapkan, agar mereka mendapatkan manfaat dari proses pembangunan. Ketika
tidak ada sentuhan, maka kelompok ini akan menjadi beban dalam proses
pembangunan.

2.2. Rezim Pro-Natalis


Ketika pertanyaan tentang dampak keabsahan dari teori Thomas Robert Malthus
tentang pertumbuhan penduduk menurut deret ukur, sementara pertumbuhan bahan
makanan menurut deret hitung diajukan, National Academic Sience of America
(NASA) membuat kelompok kerja untuk menjawab pertanyaan itu. Kajian pertama
kali dikoordinir oleh Ansley Coale dan Edgar M Hoover dan melihat India sebagai
daerah kajian. Kajian pada awal tahun 1960 an membuktikan bakwa pertumbuhan
penduduk menghalangi pembangunan. Berlawanan dengan itu, Julian Simon,
ekonom Amerika membantah bahwa hubungan antara pertumbuhan penduduk
terlihat tidak jelas negligible4.
Rekomendasi dari hasil kajian itu adalah negara berkembang disarankan
untuk masuk kepada rezim anti natalis.Rezim pembangunan dimana penduduk mesti
dikendalikan. Cara pengendalian adalah dengan mengurangi angka kelahiran,
melalui program keluarga berencana, memajukan pendidikan wanita dan ekonomi
keluarga.
Indonesia sangat jelas menggunakan cara pandang itu ketika profesor
Wojoyo Nitisastro, ekonom UI, menjabat menjadi ketua Bappenas semenjak Repelita
II, tahun 1974. Ketika itu persoalan kependudukan terintegrasi ke dalam
perencanaan pembangunan. Pada awal periode pertama, maka Jawa dan Bali
dijadikan sebagai prioritas program KB nasional, kemudian dilanjutkan Sumatra,
Kalimantan, Sulawesi dan Nusatenggara sebagai prioritas tahap berikutnya.
Intensifnya kebijakan keluarga berencana di Indonesia telah menyebabkan
transisi demografi begitu cepat di Indonesia.Jawa dan Bali tercatat sebagai daerah
dimana angka kelahiran telah turun lebih cepat dari perkiraan. Sementara Sumatra
dan daerah lain mengikutinya. Proses ini berlanjut dan berakhir menjelang kejatuhan
Soeharto. Setelah zaman reformasi, sepertinya aspek kependudukan kehilangan
petunjuk dan arah.Nampaknya berbalik kepada rezim dimana tidak mendapatkan
perhatian yang utama, atau setidaknya menganut berlawanan dengan anti-natalis,
alias pro-natalis.

2.2.

Bukti empiris:
Potensi dan Konsekwensi

Dikatakan tidak terarah, jelas ketika target angka kelahiran total (TFR) pada tahun
2015 sebesar 2,1 per wanita dipastikan tidak akan tercapai. Kenapa?.Mari kita simak
hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dua seri waktu terakhir.SDKI

Lihat Ansley Coale and Edgar M.Hoover (1960) Population Growth and Economic Development:
The Case of India, Oxford University Press.

L-56

2007 dan 2012 merupakan dua informasi terakhir dari data kependudukan di
Indonesia5.
Dari hasil yang paling mutakhir menunjukkan bahwa angka kelahiran, yang
dihitung dari rata-rata kelahiran wanita berusia 15-49 tahun telah mengalami
kenaikan dari 2,4 per wanita, menjadi 2,6. Sebuah pertanda terjadi kenaikan dari
angka kelahiran.Temuan demikian sejalan dengan hasil sensus penduduk 2010,
dimana jumlah penduduk Indonesia melebihi dari perkiraan yang ditetapkan
sebelumnya. Bagaimana menjelaskan fenomena itu?.
Sesuai dengan perkiraan jumlah penduduk, ketika tahun 2010 misalnya
akibat dari kelahiran dan kematian, maka jumlah penduduk diperkirakan sebesar 240
juta orang. Dari jumlah itu sebesar 106,8 jumlah penduduk pada usia di bawah 25
tahun, usia dimana transisi menuju produktif. Bayangkan saja, jumlah penduduk
yang masuk dalam rentang usia sekolah adalah sebanyak 66 juta orang (Lihat Tabel
1)
Penduduk bisa menjadi modal pembangunan, karena dapat menjamin
terciptanya permintaan agregatif.Ini terbukti dari cepatnya laju pertumbuhan ekonomi
beberapa negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi, misalnya China, India,
dan Indonesia.Namun sebaliknya menjadi penghalang kemajuan sosial ekonomi
bagi negara seperti Bangladesh, Pakistan, Burma, dan Afganistan.Bahkan untuk
sebagian besar negara-negara Afrika, pertambahan penduduk menjadi sebuah
ancaman.
Melihat dampak penduduk tidak bisa secara umum.Ketika Indonesia tumbuh
ekonominya
secara
stabil
telah
melahirkan
generasi
berpenghasilan
menengah.Sementara dampak dari pembangunan masih menyisakan kelompok
penduduk inklusif6. Penduduk yang tinggal pada daerah yang sulit dijangkau dalam
proses pembangunan.
Tabel 1: Jumlah Penduduk dan Siswa: Potensi dan Tantangan

Usia
(tahun)

Population
(juta)

Siswa
(juta)

0-6

28.85

15.49

7-12

26.59

26.16

13-15

12.94

11.26

16-18

13.09

8.57

Lihat Publikasi BPS (2012) Survey Demografi Kesehatan Indonesia 2012, Angka Sementara. BPS
Jakarta.
6
Kelompok penduduk inklusif adalah terminologi, dimana penduduk yang masuk ke dalam
disadvantage karena lokasi tempat tinggi, capaian kurang pendidikan, usaha kurang, dan tertinggal
dari berbagai aspek. Akhir-akhir ini muncul kesadaran akan perlunya dijangkau penduduk yang
tertinggal dalam porses pembanguna, dan pelayanan publik. Lihat Mudjito, Suharizal, dan Elfindri
(2012) Pendidikan Inkulsif, Baduose Media.

L-57

19-24

25.37

4.54

Total

106.84

66.03

Sumber: BPS (2012)


Dapat dipastikan pertambahan penduduk bagi keluarga inklusif dapat menuai
persoalan di kemudian hari. Anak-anak yang lahir pada keluarga inklusif demikian
akan mengalami kesulitan hidup dalam jangka panjang, sekaligus mereka
merupakan generasi yang akan lemah. Coba saja kita periksa, begitu di Korea
Selatan akses terhadap pendidikan tinggi sudah mencapai 70%, Indonesia hingga
saat ini baru mampu menacapai layanan pendidikan untuk jenjang pendidikan tinggi
pada kisaran 18%.
Intensitas persoalan lingkungan memang semakin tinggi, setidaknya selama
lima tahun terakhir. Seperti kejadian banjir, kebakaran hutan, kualitas lingkungan
seperti polusi.Dapat diyakini, memburuknya kualitas lingkungan sangat berkaitan
erat dengan pertambahan penduduk.
Masihkah kita membiarkan akumulasi
penduduk pada kelompok rumah tangga miskin?.

2.3. Potensi Bonus Demografi


Bonus demografi adalah masa dimana angka beban ketergantungan antara
penduduk usia produktif dengan penduduk usia tidak produktif paling rendah.
Dengan arti kata setiap penduduk usia kerja menanggung sedikit penduduk usia
tidak produktif.
Gambar 1 memperlihatkan Bonus Demografi Indonesia, dimana kondisi yang
paling ideal adalah pada rentang waktu tahun 2010-2020.Konsekwensi ikutan dari
kondisi ini adalah penduduk yang bekerja akan menghasilkan penghasilan,
kemudian sebagian dari pengasilan mereka akan dapat ditabungkan. Angka
tabungan yang semakin tinggi dapat mempermudah proses investasi, yang pada
akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Gambar 1: Bonus Demografi Indonesia

Sumber: Data Penduduk berbagai tahun BPS.

L-58

Dampak dari bonus demografi bisa menjadi bencana demografi, ketika


penduduk usia produktif tersebut tidak memiliki pendidikan yang memadai, tidak
memperoleh keterampilan yang cukup. Ketika hal ini yang terjadi maka penduduk
usia produktif bisa saja akan menjadi penganggur, dan kemudian akan ada
konsekwensi ikutannya.

2.4.

Kebutuhan Kebutuhan
Penduduk Usia Produktif

Untuk mengantisipasi bertambahnya penduduk usia produktif, maka berikut ini perlu
diperhatikan apa saja yang menjadi kebutuhan mereka.
Pertama adalah perlu disediakan pendidikan yang memadai agar mereka
yang masuk ke dalam usia produktif dapat meningkatkan ilmu serta keterampilan
mereka di pasar kerja.
Kedua adalah perlu penyediaan lembaga keterampilan kerja, serta informasi
lapangan kerja. Proses informasi lapangan kerja sehingga memudahkan mereka
untuk masuk ke pasar kerja adalah sangat memungkinkan untuk memberdayakan
mereka.
Ketiga adalah upaya-upaya untuk meningkatkan partisipasi dalam kegiatan
ekonomi produktif, dan sosial.Sehingga semakin banyak kelompok produktif yang
dapat menyumbangkan tenaganya dalam kegiatan produksi barang-barang dan jasa
jasa.

3. Persoalan Ketenagakerjaan
3.1. Fenomena Makro Ketenagakerjaan
Angka pengangguran terbuka semenjak tahun 2009 sampai tahun 2012 telah
menurun dari 7,9 % menjadi 6,3%. Diperkiraan akan terjadi penurunan hingga tahun
2015. Suatu pertanda adanya dampak positif dari stabilitas ekonomi makro,
termasuk dengan turunnya suku bunga dari 6,5 % tahun 2009 menjadi 5,75% tahun
2012. Sehingga jumlah penganggur dapat dikendalaikan setidaknya pada tahun
2011 (Agustus) tersisa sebanyak 7,7 juta orang.
Sebaliknya, sejak tahun 2009 jumlah penduduk yang bekerja paruh waktu
(part time worker) meningkat dari 16,2 juta orang angkatan kerja menjadi 21,1 juta
orang (Agustus 2011). Saat bersamaan mereka yang masuk ke dalam setengah
pengangguran juga masih tinggi pada kisaran 15,4 juta orang.
Penurunan pengangguran telah menambah jumlah angkatan kerja tidak
penuh underutilized dari 31,6 juta orang tahun 2009 (Agustus) menjadi 34,6 tahun
2011 (Agustus). Artinya jumlah angkatan kerja yang terserap pada lapangan kerja
tidak penuh bertambah setiap tahunnya sebesar 1,5 juta orang.Secara implisit,
kondisi pasar kerja persoalannya berubah dari persoalan pengangguran terbuka
menjadi persoalan setengah pengangguran.
Persoalan yang ditimbulkan oleh fenomena ini adalah semakin banyaknya
tenaga kerja yang memiliki produktivitas kerja yang rendah, atau curahan waktu

L-59

kerja di bawah jam kerja normal membengkak. Fenomena ini menghasilkan


produktivitas sebagian dari rumah tangga menjadi rendah. Kajian Bank Dunia,
memperlihatkan produktivitas tenaga kerja Indonesia tumbuh dengan laju yang
rendah semenjak periode 1970 an sampai tahun 2000-an, sementara laju
pertumbuhan produktivitas pada negara tetangga lain, seperti Malysia dan Thailand
menunjukkan pertumbuhan yang tinggi (Bank Dunia, 2009).
Sejalan dengan persoalan pengangguran, penurunan angka kemiskinan juga
terlihat. Dengan mempedomani penetapan garis kemiskinan regional, ditemukan
jumlah penduduk miskin pada tahun 2010 (Maret) sebanyak 31,02 juta turun menjadi
30,02 juta tahun 2011 (maret). Angka kemiskinan dari 13,33 persen menjadi 12,49
persen. Laju penurunan kemiskinan di daerah kota relatif sulit pada rentang waktu
yang sama (0,05 juta) dibandingkan dengan daerah desa (0,86 juta). Sekalipun
angka kemiskinan turun, jumlah mereka yang berada pada daerah dekat dengan
garis kemiskinan masih relatif tinggi (BPS, 2012).
Karakteristik ketenagakerjaan ditelusuri menjadi jelas. Dimana distribusi
kemiskinan menurut head count index disebabkan tidak bekerja ditemukan 6,18% di
daerah kota sementara di daerah desa 3,78%. Sebaliknya kemiskinan pada daerah
pertanian relatif tinggi dari total kemiskinan, yakni sebesar 71,26% adalah rumah
tangga pertanian (BPS, 2012). Oleh karenanya sangat diperlukan untuk mengetahui
rumah tangga mana yang mengalami persoalan produktivitas rendah, apa akar
masalah dan bagaimana strategi perluasan lapangan kerjanya.
Mengharapkan laju pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6-6,5 per tahun akan
tetap menempatkan persoalan tenagakerja menjadi masalah penting pembangunan.
Karena pertumbuhan ekonomi setinggi demikian, relatif hanya menguntungkan
berbagai kelompok tertentu, setidaknya tenaga kerja upahan. Sementara jumlah
tenaga kerja yang di luar sektor upahan jumlahnya masih pada kisaran 65% dari
total angkatan kerja.
Dengan demikian upaya mengisolasi persoalan tenaga kerja pada mereka
yang menganggur serta mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal yang tidak
formal, peningkatan akses dan produktivitas adalah salah satu jawaban yang mesti
segera dicarikan. Indonesia mesti melakukan terobosan khusus, bagaimana
mengatasi peningkatan produktivitas tenaga kerja, dan apa program utama yang
dapat diajukan agar semakin tertanganinya aspek ketenagakerjaan serta
kesejahteranannya.

3.2. Fenomena Mikro Tenaga Kerja


Fokus pada bagian ini adalah menelusuri bagaimana strategi kehidupan dan dimana
lapangan kerja yang banyak memiliki persoalan produktivitas rendah serta
kemiskinan? Dari kehidupan rumah tangga keluarga miskin dalam kaitannya dengan
pekerjaan, akan ditemukan strategi bertahan yang dapat dengan mudah kita
menentukan rencana aksi ketenagakerjaan.
Data makro memperlihatkan tahun 2009 sebanyak 41,4 juta bekerja di
lapangan kerja pertanian kemudian menjadi 39,2 juta tahun 2012, atau 35,7% dari
total angkatan kerja. Dari hasil Susenas menunjukkan dua per tiga angka kemiskinan
disumbangkan oleh rumah tangga pertanian.Sisanya adalah mereka yang masuk ke
dalam kelompok buruh perkotaan dengan upahan rendah.

L-60

Dari berbagai kegiatan penelitian yang telah dilakukan beberapa kelompok


rumah tangga yang paling marginal produktivitasnya adalah
(a) Rumah tangga nelayan;
(b) Rumah tangga petani berlahan sempit;
(c) Sektor informal perkotaan urban informal sector
(d) Buruh Kontrak, contractual worker
Keempat kelompok rumah tangga ini memiliki tingkah laku livelihood yang
berbeda satu dengan yang lain, dan perlu diperhatikan bagaimana strategi rumah
tangga bertahan. Memahami strategi bertahan menemukan bagaimana program
strategies dapat disusun untuk meningkatkan produktifitas mereka.
a. Rumah tangga Nelayan miskin. Pada rumah tangga nelayan merupakan
rumah tangga yang sangat rentan akan persoalan kemiskinan dan kurangnya
produktivitas kerja. Kajian Riset Unggulan Terpadu (RUT) tahun 2001 sampai 2003
yang penulis lakukan di pantai Barat Sumatra menemukan angka kemiskinan rumah
tangga nelayan relatif tinggi. Ditemukan sebanyak 82% rumah tangga menguasai
penghasilan 40% terendah, sementara hanya 6,4% rumah tangga yang menguasai
20% kelompok penghasilan tertinggi. Angka ketimpangan penghasilan sesama
rumah tangga nelayan ditemukan dengan indeks Gini setinggi 0,54; sementara untuk
kelompok rumah tangga Gini Indonesia pada rentang 0,3-0,4 (Elfindri, 2002)7.
Dari distribusi pendapatan antar rumah tangga pesisir, memberikan makna
bahwa hanya sebagian kecil (kurang dari 10%) rumah tangga yang menguasai
penghasilan 20% tertinggi, sementara sisanya masuk ke dalam kelompok rumah
tangga miskin.
Pertumbuhan jumlah rumah tangga kelompok nelayan diperkirakan 2,3% per
tahun, dan angka partisipasi kerja wanita istri nelayan relatif rendah, berkisar antara
14,9%, sementara angka partisipasi kerja wanita nasional berfluktuasi antara 3540%8.
Kehidupan sosial ekonomi rumah tangga nelayan sangat tergantung kepada
status apa yang dimiliki. Nelayan yang miskin pada umumnya adalah nelayan
tradisional, atau sebagai anak buah kapal, penangkap ikan.Sementara nelayan
pemilik kapal motor, atau juragan adalah kelompok yang kaya.
Konsep pengembangan produktivitas rumah tangga nelayan dapat diarahkan
untuk meningkatkan total alokasi curahan waktu kerja keluarga nelayan. Pada
umumnya meningkatkan jam kerja nelayan menjadi tidak relevan, kecuali
meningkatkan teknologi tangkapan. Mengingat partisipasi angkatan kerja wanita
nelayan masih rendah, maka strategi pengembangan alokasi tenaga kerja keluarga
nelayan dapat diarahkan pada kelompok suami dan istri keluarga nelayan.

Lihat Elfindri (2002) Ekonomi Patron-Client: Fenomena Mikro Rumah Tangga Nelayan dan
Kebijakan Makro, Andalas University Press, hal. 76-77). Ulasan detail tentang masyarakat pesisir
disajikan dalam Elfindri (2008) Manajemen Pesisir dan Kepulauan, Baduose Media.

Lihat kalkulasi Asep Suryahadi dkk. (2003) Minimum wage policy and its impact on employment
in the urban formal sector, Bulletin of The Indonesia Economic Studies, Vol. 39, No.1, April, hal.
29-50.

L-61

Apakah penanganan kelompok rumah tangga nelayan sama dengan


keluarga lain? Jawabannya sangat berbeda.Strategi utama yang sering disarankan
adalah melalui pendekatan peningkatan aktivitas rumah tangga, khususnya wanita
pada pekerjaan yang masih berkaitan dengan kebutuhan dan keterikatannya dengan
nelayan, dengan istilah off-fishing employment.Laju pertumbuhan rumah tangga
nelayan relatif tinggi dengan tingkat kemiskinan yang juga tinggi.Rumah tangga
nelayan ditandai dengan masa kerja yang tidak stabil, dan fenomena ini menyeluruh
ditemukan pada rumah tangga nelayan.Segregasi pekerjaan menyebabkan wanita
istri nelayan adalah yang paling potensial untuk ditingkatkan alokasi waktu kerja
mereka (elfindri, 2002).

b. Rumah Tangga Petani Berlahan Sempit.Persoalan utama dari rumah tangga


pertanian adalah pada tiga bagian utama. Pertama adalah berkaitan dengan skala
usaha pertanian yang tidak ekonomis. Sebagai akibat hasil pertanian tidak
sebanding dengan struktur biaya yang dikeluarkan. Kedua adalah proses
pengembangan nilai tambah. Ketiga adalah persoalan pemasaran produk pertanian.
Sehingga penanganan rumah tangga pertanian berlahan sempit tidak saja dapat
dilakukan melalui satu cara, melainkan disesuaikan dengan akar masalah utama
yang dihadapi.
Kelompok
rumah
tangga
ini
mendominasi
jumlah
angka
kemiskinan.Modernisasi pertanian telah menyebabkan masukan waktu kerja di
sektor pertanian semakin berkurang. Kelebihan jam kerja rumah tangga pertanian
dapat digunakan untuk melengkapi usaha pertanian (on-farm), misalnya berternak,
atau melakukan pekerjaan lain di luar pertanian, seperti pengolahan hasil pertanian
dan perdagangan (off-farm employment). Strategi ini sangat ampuh dalam
mengatasi persoalan kemiskinan yang dinyatakan oleh ekonom Harry T Oshima,
seperti di Taiwan dan Jepang, sebagai negara moon soon economy9.
Ciri-ciri pertanian skala kecil adalah bahwa alokasi tenaga kerja pria dan
wanita relatif rendah untuk masa-masa tertentu.Oleh karenannya orientasi perluasan
lapangan kerja lebih diarahkan untuk mencapai optimalisasi, pekerjaan tambahan
yang dapat meningkatkan penghasilan rumah tangga pertanian, baik oleh suami
atau istri dalam rumah tangga.
On farm employment dan off-farm eployment strategies adalah salah satu
yang dapat dikembangkan untuk rumah tangga pertanian ini. Adopsi multiplikasi
pekerjaan yang seiring dengan peningkatan produksi (on farm), atau nilai tambah
(off-farm) dapat dikembangkan dengan pengembangan skala usaha sejenis,
sehingga akan lahir spesialisasi dari produksi ikutan dan efisensi.
Persoalan kemiskinan dan produktivitas petani berlahan sempit jelas dapat
diatasi melalui apa yang menyebabkan begitu sulitnya melakukan intervensi
terhadap petani; agar produktivitasnya meningkat. Jika dilakukan perluasan jenis
pekerjaan, maka 3 hal utama yang perlu disentuh, selain peningkatan keterampilan
kerja (wirausaha), peningkatan akses modal yang murah dan diperlukan juga
penguatan kelembagaan keuangan mikro serta pendamping agar paket
pengembangan program untuk kelompok ini dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Lihat jugaElfindri (2007)Rahasia Sukses Membangun Daerah, Gorga Media.

L-62

c. Rumah Tangga Sektor Informal. Kelompok ketiga adalah rumah tangga sektor
informal perkotaan. Kelompok ini mendominasi status pekerjaan self employed dari
tenaga kerja, dan sekitar dua per tiga dari angkatan kerja masuk ke dalam status di
luar sistem upahan. Mereka masuk ke dalam kategori pekerja keluarga tanpa
dibayar, pekerja mandiri, self employed, pekerja dengan dibantu buruh tetap, dan
pekerja bukan dibantu buruh tetap. Kelompok rumah tangga ini sangat tahan akan
goncangan eksternal, namun masih terbatas memperoleh proteksi dan
pengembangan dari pemerintah.
Keluarga sektor informal ditandai dengan skala usaha yang relatif terbatas,
dengan akumulasi modal yang terbatas pula.Walaupun demikian, rumah tangga
sektor informal menjadi pilihan karena relatif lebih memperoleh penghasilan dalam
skala lebih jelas dibandingkan dengan rumah tangga petani.
Beragam kebutuhan utama yang diperlukan oleh keluarga sektor
informal.Kebutuhan mereka sangat tergantung kepada bentuk dan jenis pekerjaan
yang ada, bersamaan dengan potensi bagi rumah tangga untuk dapat dioptimalkan
lagi alokasi tenaga kerja.Bagi yang bekerja di sektor peningkatan nilai tambah, maka
usaha untuk mengembangkan keterampilan, kualitas produksi dan permodalan
adalah bagian yang penting.Demikian juga bagi yang bekerja pada sektor penjualan,
maka jaminan tempat berusaha, sekaligus beberapa kebutuhan permodalan dan
teknologi; agar skala kerja mereka masuk ke dalam skala ekonomi, dan mereka bisa
mengembangkan diri.
Kelompok yang juga perlu disentuh oleh kebijakan adalah bagaimana
menjamin iklim usaha bagi rumah tangga sektor informal perkotaan.Pada kelompok
ini penataan jenis usaha dan skala usaha adalah salah satu intervensi untuk
meningkatkan produktivitas kerjanya.
Sementara buruh perkotaan kelompok rumah tangga miskin menjadi
perhatian penting agar kelompok rumah tangga ini memperoleh akses meningkatkan
aktivitas kerja.Oleh karena pada kelompok ini perluasan lapangan kerja disesuaikan
dengan persoalan utama.Keterampilan, modal kerja serta institusi menjadi sasaran
dari paket kebijakan peningkatan produktivitas kerja.

d. Rumah Tangga Buruh Kontrak contractual worker Sementara kelompok terakhir


adalah buruh kontrak contractual worker. Jika kita jeli melihat tuntutan buruh akhirakhir ini adalah bagaimana upah minimum mereka ditingkatkan, pada saat
bersamaan adanya kepastian dari kelompok ini untuk bekerja. Kelompok pekerja ini
menginginkan tidak saja mereka nyaman dengan cara pembayaran harian,
mingguan atau bulanan, bahkan semakin besar keinginan untuk lebih stabil lagi
menjadi pekerja permanen. Kenyataan demikian juga terbukti ketika dihitung dampak
kenaikan upah minimum oleh Suryahadi dkk (2003:43), dimana peningkatan upah
minimum mengurangi jumlah pekerja kontrak, mengurangi jumlah pemakaian wanita
pada pasar kerja, dengan koefisien elastisitas 0,1. Dengan arti setiap kenaikan upah
minimum 10% mengurangi jumlah pemakaian tenaga kerja sebesar 1%.
Aksi buruh perkotaan untuk meminta agar tidak dilakukan proses outsourcing
secara implisit buruh meminta kepastian dalam status.Ini berarti tingkat
kesejahteraan buruh saat ini memerlukan peningkatan.Pemerintah menemui dilema
menghadapi persoalan ini, karena outsourcing adalah bagian dari fenomena sistem
pemanfaatan pekerja.

L-63

Yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan kompensasi kerja


bagi rumah tangga buruh kontrak contractual rorker.Pada kelompok ini program
kompensasi dapat diarahkan terhadap akses pekerjaan pada istri mereka.Tiga
sasaran kebijakan, meningkatkan akses dan keterampilan, akses modal kerja, dan
pengembangan institusi.

4.

Proyeksi Distribusi
Mutu Tenaga Kerja

Pada masa yang akan datang akan terjadi perubahan komposisi tenaga kerja, jika
dilihta dari latar belakang pendidikannya. Gambar 2 memperlihatkan kondisi tahun
2010 dan proyeksi 2025 sesuai dengan skenario yang dikembangkan oleh Mentri
Pendidikan Dan Kebudayaan.
Apa yang menarik adalah bahwa pada tahun 2010 sekitar 7,5% dari
angkatan kerja yang memiliki pendidikan tamat Pendidikan Diploma sampai
universitas. Diperkirakan sampai tahun 2025 penduduk yang menamatkan
pendidikan tinggi (baik pendidikan komunitas, kepoliteknikan dan universitas) akan
mencapai 16% dari distribusi keseluruhan tenaga kerja.
Demikian juga upaya untuk meningkatkan mutu tenaga kerja selain
meningkatkan proporsi mereka yang berpendidikan tinggi, juga memperkuat jumlah
penduduk yang mengecap pendidikan menengah. Jelas terlihat bahwa pendidikan
vokasional jenjang menengah akan mendominasi untuk menyediakan tenaga kerja
terdidik. Komposisinya akan ditingkatkan dari sekitar 14,7 per sen menjadi 20%,
pertambahan juga terjadi pada kelompok yang menamatkan pendidikan menengah
atas umum. Tetapi yang jelas, pendidikan yang hanya menamatkan pendidikan SD
diperkirakan hanya tersisa menjadi 30% dari sekitar 50,4 tahun 2010.
Gambar 2: Proyeksi Komposisi Pendidikan Tenaga Kerja Indonesia 2010-2025
60
50
40
2010

30

2015

20

2025

10
0
PT

Diploma 13

SMU

Vocational

SMP

SD<

L-64

5. Pengangguran Terselubung10
Pernah Dirjen Pendidikan Tinggi, Djoko Santoso, berseloroh sebelum beliau
memulai presentasi. Dinyatakan bahwa sebenarnya pengangguran tamatan
pendidikan tinggi itu tidak serius.Kenapa, karena para sarjana yang dianggap
menganggur bukanlah menganggur.Mereka yang masih berfikir untuk mencari
pekerjaan sebenarnya telah bekerja setidaknya memikirkan pekerjaan.
Pada kesempatan lain tahun 1990-an, Aris Ananta, Ekonom jebolan Duke
University juga pernah menyatakan bahwa menganggur itu merupakan jasa mewah,
alias masuk kategori waktu lux. Oleh karenanya para penganggur tidak perlu
dikasihani.Karena mereka menganggur masih menerima subsidi dari keluarga.
Sepanjang subsidi itu masih tersedia, maka menganggur masih akan jalan terus.
Kedua pandangan di atas tentunya hanyalah sebuah pandangan yang
skeptis.Dimana persoalan pengangguran terdidik sebenarnya sebuah fenomena
mirip gunung es. Di Eropa, krisis saat ini memang telah membuat angka
pengangguran tertinggi dalam abad ke 21. Katakan itu terjadi di Italia, Spanyol dan
Yunani. Angka pengangguran terdidik usia muda sudah di atas 55%.
Hingga kini belum ada tanda-tanda angka pengangguran di Eropa untuk
menurun. Penganguran di negara dimana pasarkerjanya formal, serta pemerintahan
menganut negara kesejahteraan, persoalan pengangguran jauh lebih berat
dibandingkan dengan persoalan pengangguran terbuka di negara berkembang.
Karena masyarakatnya sudah dimanjakan dengan sistem kompensasi
pengangguran. Pekerjaan non formal sulit ditumbuhkan, karena masyarakatnya tidak
terbiasa untuk masuk ke pasar kerja di luar sistem upahan, selain dari ketatnya
regulasi.
Sebaliknya pada masa dimana Indonesia tumbuh ekonominya pada rentang
6-6,5% persen, angka pengangguran terbuka telah menurun. Angka terakhir tahun
2012 mendekati 6% telah turun sekitar 3% point dibandingkan dengan lima tahun
sebelumnya 2007.
Namun, rendahnya angka pengangguran terbuka itu tidak sejalan dengan
angka pengangguran terdidik dan kalangan muda.Dimana variasinya sangat jelas,
dan besaran angka pengangguran tetap membahayakan.
Data pengangguran terdidik memang baru menampilkan persentase
penganggur berdasarkan jenjang pendidikan yang ditamatkan. Sehingga angka total
pengangguran terdidik tidak separah yang dibayangkan. Data dasar Susenas ketika
dilebih detail temuan justru mencengangkan.
Untuk jurusan-jurusan sains dasar dan ilmu pertanian, angka pengangguran
sarjananya setidaknya sudah di atas 30%.Angka pengangguran bidang sosial,
seperti hukum, keagamaan, ilmu sosial lainnya dan sastra, angka pengangguran
juga pada kisaran itu.Hanya untuk bidang-bidang tertentu seperti IT, akuntansi, dan
bisnis, angka pengangguran di bawah 10%.Angka pengangguran tamat SLTA masih
tinggi sekalipun tamat pendidikan kejuruan.
Persoalan pengangguran terbuka anak muda dan mereka terdidik lebih
diperparah lagi dengan kenyataan mereka yang bekerja, namun masih rendah jam
kerjanya. Jika digabung antara pengangguran dan bekerja di bawah jam kerja
10

Materi ini sudah dipublikasikan pada Koran SINDO, tanggal 22 Februari 2012.

L-65

normal (di bawah 15 jam per minggu), maka jelas fenomena pengangguran
terselubung bagi anak muda dan terdidik adalah fenomena sangat serius ke depan.

6. Pro Kontra Upah Minimum


Gubernur DKI Jakarta akhirnya menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) menjadi
Rp2.2 juta.Kebijakan ini tentunya menimbulkan pro kontra dari berbagai pihak.Pihak
yang merasa diuntungkan tentunya para pekerja dan serikat buruh yang terus
menuntut kenaikan upah. Di sisi yang lain, para pengusaha menilai kebijakan ini
sangat memberatkan mereka. Karena biaya (cost) yang harus mereka keluarkan
untuk gaji pegawai menjadi lebih besar.Para akademisi pun ikut terbelah dalam
menilai kebijakan ini, ada yang setuju, namun lebih banyak yang menyuarakan
kritikan terhadap kebijakan ini.
Pihak yang setuju dengan kenaikan upah minimum menganggap bahwa
dengan dilakukannya kebijakan ini akan berdampak pada peningkatan standar hidup
kelompok masyarakat miskin, serta meningkatkan standar hidup secara
keseluruhan. Di sisi yang lain, kenaikan upah diharapkan mampu meningkatkan
produktivitas pekerja dan juga menuntut mereka mengikuti pelatihan untuk
meningkatkan kemampuan.
Kelompok yang kontra dengan kebijakan ini juga memiliki alasan yang logis.
Dengan adanya kebijakan menaikkan upah minimum, pihak yang akan sangat
dirugikan adalah usaha kecil yang tidak mampu membayar pekerjanya lebih tinggi.
Kenaikan upah juga diperkirakan akan meningkatkan harga sebagai imbas dari
naiknya upah dan biaya produksi produsen.
Isu upah minimum sendiri telah menjadi perdebatan secara global.Sejak
diperkenalkan pertama kali pada tahun 1894 di Selandia Baru, pro-kontra tentang
perlunya menaikkan upah minimum terus bergejolak.Terakhir majalah The
Economist (24 November 2012) memuat satu artikel mengenai kebijakan
ini.Menariknya, dalam artikel tersebut diangkat beberapa temuan yang menunjukkan
bahwa ternyata pelaksanaan kebijakan upah minimum secara moderat bisa
memberikan manfaat.
Salah satu penelitian yang menemukan manfaat dari kebijakan upah
minimum adalah studi yang dilakukan oleh David Card dan Alan Krueger
(1994).Mereka mencoba melihat dampak kenaikan upah minimum terhadap restoran
fast-food di New Jersey dan Pennsylvania, Amerika Serikat.Hasilnya adalah setelah
dilakukannya kebijakan kenaikan upah minimum, ternyata terjadi kenaikan jumlah
pekerja, berbeda dengan teori ekonomi yang menyatakan sebaliknya.
Temuan ini dikritik oleh berbagai pihak, salah satunya oleh peraih Nobel
Ekonomi tahun 1992, Gary Becker. Studi terbaru yang dilakukan oleh Newmark et al.
(2012) juga senada dengan Becker .Dalam kajian ini, mereka menemukan bahwa
ternyata kenaikan terhadap upah minimum memberikan dampak yang sangat buruk
bagi tingkat pengangguran.Temuan ini membantah studi yang dilakukan oleh Card
dan Krueger sebelumnya.
Upah Minimum dalam Kerangka Ekonomi.Dari sisi ekonomi sendiri, temuan Card
dan Krueger sangat berbeda dengan teori ekonomi yang selama ini terjadi.Kenaikan

L-66

upah minimum menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah pekerja (supply of


labour).Kondisi ini dikarenakan naiknya upah minimum menjadi insentif bagi para
pekerja untuk masuk ke dalam pasar tenaga kerja (labour market).
Di sisi yang lain, kenaikan upah menyebabkan perusahaan mengalami
kenaikan biaya yang harus mereka keluarkan. Akibatnya, perusahaan harus
mengurangi jumlah pekerja (demand for labour) yang akan dipekerjakan untuk
menghindari kemungkinan rugi akibat biaya yang semakin membengkak.
Karena jumlah pekerja yang tersedia lebih besar daripada kemampuan
perusahaan untuk mempekerjakan pegawai, timbullah kelebihan jumlah pekerja
(excess supply of labour) dan mereka ini yang masuk kedalam kelompok
pengangguran (unemployment).Inilah yang melandasi kenapa banyak akademisi
menentang kebijakan kenaikan upah.
Tidak hanya itu, dari sisi pekerjanya sendiri, kebijakan kenaikan upah
minimum tentunya akan sangat merugikan pekerja yang memiliki kualifikasi yang
sangat rendah (unskilled labour) karena perusahaan hanya akan menerima pekerja
dengan kualifikasi yang tinggi (skilled labour) sesuai dengan biaya yang mereka
keluarkan.
Realita inilah yang menjadi ketakutan banyak pihak sebagai imbas dari kenaikan
upah minimum di DKI Jakarta. Keputusan yang dibuat oleh Gubernur tidak hanya
meningkatkan kemungkinan bertambahnya tingkat pengangguran, tapi disisi yang
lain kebijakan ini akan menjadi pintu masuk bagi masyarakat di daerah untuk
mencoba peruntungan datang ke Jakarta dan tentunya menambah jumlah penduduk
ibukota yang harus diurus oleh pemerintah.
Belajar dari Inggris.Kebijakan upah minimum yang dilakukan oleh Inggris bisa
menjadi contoh yang baik jika ingin tetap melakukan kebijakan upah minimum.
Kebijakan yang diterapkan melakukan pendekatan yang berbeda baik bagi pekerja
senior maupun pekerja usia muda. Pemuda mendapatkan upah minimum yang lebih
rendah dibandingkan yang diperoleh oleh pekerja senior. Perbedaan ini akan
berubah tiap tahunnya sehingga pada akhirnya para pekerja usia muda memiliki
upah minimum yang sama dengan pekerja senior. Pada saat ini, dampak dari
kebijakan upah minimum terhadap pengangguran tidak terlalu besar atau tidak ada.
Dampak yang paling mencolok dari kebijakan ini adalah penyebaran
upah.Kebijakan ini sepertinya mampu meningkatkan pendapatan secara menyeluruh
dan mengurangi kesenjangan pendapatan.Kesenjangan upah di Inggris telah
menurun drastis semenjak tahun 1990an. Pihak yang paling diuntungkan dari
kebijakan ini adalah perempuan yang pendapatannya tidak terlalu jauh jika
dibandingkan dengan pekerja laki-laki. Pihak lain yang diuntungkan melalui
kebijakan ini adalah para pekerja yang selama ini memperoleh pendapatan sangat
rendah.
Sekarang tugas dari pembuat kebijakan adalah memastikan kebijakan ini
tidak menimbulkan efek negatif bagi pasar tenaga kerja.Ini menjadi sangat penting
mengingat saat ini pasar tenaga kerja kita sangatlah besar dengan jumlah pemuda
yang semakin besar dan harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

L-67

7.Kebijakan Untuk Meningkatkan Akses dan Mutu Tenaga Kerja


7.1. Menyediakan Pasar Kerja Inklusif
Wakil presiden Boediono telah memberikan penekanan kepada kesejahteraan
tenaga kerja sebagai prioritas utama.Sebuah pendirian kebijakan yang disampaikan
dihadapan
seminar
Indonesia
Investment
Summit
(Jakarta
Post,
7/11/2012).Statement itu wajar saja, mengingat para undangan adalah lebih banyak
dihadiri oleh investor.Mereka pengguna pasar kerja formal.
Penekanan kebijakan ini sebagai konsekwensi logis tuntutan buruh.Secara
empiris buruh yang ikut anggota perserikatan relatif memiliki kesejahteraan lebih
tinggi dari yang bukan anggota. Namun yang disanksikan adalah kualitas dari
tuntutan buruh, yang mengarah kepada ketidakstabilan proses kerja pada industri.
Dari struktur pasar kerja Indonesia memperlihatkan 40% tenaga kerja terikat
dengan upah. Sisanya pekerja di luar sektor upahan, berupa self employed dan
unpaid family worker. Kelompok pekerja tersebut tentunya tidak masuk ke dalam
prioritas seperti ungkapan wapres di atas.
Akumulasi masalah lain juga terlihat, bahwa angka pengangguran terbuka
Agustus 2012 pada kisaran 6,2%. Dengan jumlah penganggur sebanyak 7,24 juta
orang. Sementara lima tahun sebelumnya angka itu masih pada kisaran 9%. Sebuah
dampak dari stabilnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Diperkirakan dalam dua
tahun ke depan pengangguran terbuka akan menurun.
Di balik indikator pasar kerja demikian membaik, masih banyak indikator
ikutannya. Jika angka pengangguran terbuka menurun, angka pekerja tidak tetap
menunjukan kenaika misalnya 16,7% tahun 2009 menjadi 21,1% tahun 2011. Jadi
secara implisit menurunnya angka pengangguran sebenarnya menaikkan jumlah
pekerja yang tidak tetap. Kelompok ini tidak sama dengan buruh, kelompok ini
masuk ke dalam pekerja inklusif.
Kenapa daya serap ekonomi menggeser pola pemanfaatan tenaga
kerja?Setidaknya beberapa argumentasi dapat dijelaskan.Pertama adalah tenaga
kerja yang ada sekarag adalah masuk dalam kategori tenaga kerja unskilled atau
semi skilled labor.Komposisi tenaga kerja tidak terampil ini, yang diperlihatkan oleh
struktur pendidikan angkatan kerja 49,3% hanya tamat sekolah dasar.
Sesuai dengan pandangan berbagai ahli ekonomi, karakter pasar kerja
berpendidikan rendah ditandai dengan upah yang rendah. Akan tetapi pada saat
serikat pekerja semakin meningkat intensitas perjuangannya, maka muncul
persoalan ikutan, dimana akan semakin banyak tuntutan akan kenaikan upah. Untuk
yang terakhir ini tidak saja tuntutan akan upah yang semakin marak, namun juga
semakin intensifnya tuntutan untuk menjadikan buruh kontrakan menjadi buruh
permanen. Tarik menarik dari situasi pasar kerja demikian mesti akan semakin
marak pada masa yang akan datang.
Kedua adalah tidak meratanya daya tarik investasi antar daerah. Diketahui
bahwa permintaan akan tenaga kerja murahan sangatlah tinggi setidaknya pada
daerah-daerah kawasan industri, misalnja di sekitar Jabodetabek atau
Gerbangkertasila Jawa Timur. Arah investasi selama ini masih tetap didominasi oleh
industri yang berkembang pada kawasan-kawasan tersebut.Ini menghasilkan
semakin tingginya mobilitas tenaga kerja.Daerah dimana tujuan tenaga kerja kasar,
maka ditandai dengan tingkat pengangguran impor terbuka yang relatif
tinggi.Kenyataan sebenarnya Indonesia membutuhkan pemerataan investasi supaya

L-68

perluasan lapangan kerja


pembangunan terwujud.

meluas,

dan

sekaligus

pemerataan

hasil-hasil

Ketiga, kemajuan teknologi, sebagian besar pertumbuhan ekonomi didorong


oleh pertumbuhan sektor-sektor yang memiliki pekerja terampil yang relatif
tinggi.Diantaranya adalah dalam memenuhi tambahan pekerjaan pada sektor jasa
dan manufaktur berteknologi tinggi. Permintaan akan tenaga kerja yang
berketerampilan tinggi, bahkan diisi oleh pekerja yang berasal dari tenaga kerja
asing.
Keempat dari sisi penawaran, dapat dipahami, sekalipun semakin tahun
semakin banyak pencari kerja muda yang berpendidikan menengah dan tinggi,
diperkirakan tamatan pendidikan tinggi juga tidak siap memasuki dunia kerja. Hasil
olahan data Susenas menjelang tahun 2010 menunjukkan bahwa angka
pengangguran pencari kerja terdidik bahkan telah mencapai 20 sampai 40%
tergantung dengan apa bidang dan jenis keilmuan yang dimiliki.

7.2. Memperbaiki Sisi Supply


Investasi sebenarnya adalah pendorong perluasan lapangan kerja.Makin tinggi
investasi semakin besar perluasan lapangan kerja.Namun yang dapat dilakukan oleh
pemerintah adalah bagaimana sisi penawaran semakin lama semakin
berkualitas.Ada setidaknya tiga pendekatan yang perlu dilakukan untuk memenuhi
target pekerja inklusif ini.Pertama adalah mengintensifkan upaya untuk membekali
tenaga kerja menjadi berketrampilan. Program pengembangan kelembagaan
keterampilan menjadi sangat perlu pada masa yang akan datang. Tugas yang
semestinya semakin banyak dilakukan oleh dinas tenaga kerja di daerah.
Kedua adalah pemerintah semestinya tidak saja fokus dalam mengelola
bagaimana upah minimum meningkat?. Kenapa setiap kenaikan upah minimum,
akan berdampak kepada alih daya semakin berkurang penggunaan tenaga kerja
yang tidak terampil, karena pengusaha berusaha untuk melakukan substitusi tenaga
kerja dengan teknologi. Elastisitas kenaikan upah ini dapat diperiksa dari hasil kajian
sebelumnya yang besarnya sekitar -0,1%.Setiap kenaikan 10% upah minimu dapat
menurunkan penggunaan tenaga kerja sebesar 1%.Oleh karenanya mesti dipelajari
bagaimana membangun sistem penggunaan tenaga kerja, diantara perumahan,
transportasi, dan asuransi.Dengan penataan komponen ini dapat menekan sisi
komponen pengeluaran tenaga kerja.
Ketiga adalah bagimana memastikan informasi pasar kerja dapat diketahui
secara luas oleh pencari kerja. Daron Acemoglu (Journal of Economic Literature,
2012) membuat simulasi bahwa semakin banyak peluang penawaran lapangan
kerja, maka akan dapat menurunkan pengangguran. Ini terjadi di negara dimana
pasar kerjanya pada umumnya formal.Hasil kajian demikian konsisten baik sebelum
atau sesudah terjadinya resesi ekonomi. Dalam kaitan ini, hal yang sama juga
semakin baik dikembangkan di Indonesia. Dimana pasar kerja formal, yang
menghiasi pasar kerja domestik pada kisaran 40%, sebaiknya menjadi target
pemerintah untuk meningkatkan. Kenapa?, karena semakin besar proporsi angkatan
kerja upahan, akan semakin stabil pasar kerja.
Keempat, justru yang lebih terfokus perlu dilakukan oleh pemerintah adalah
bagaimana meningkatkan mutu penawaran dari tenaga kerja yang berada di luar
sistem pasar kerja formal.Selama ini pekerja informal masih belum banyak
mendapatkan perhatian dan sentuhan.Dalam kasus seperti ini, maka setiap daerah

L-69

memerlukan peta jalan yang jelas bagaimana meningkatkan keberadaan dari pasar
kerja informal.Tanpa ini dilakukan, maka pengangguran terbuka sebenarnya
menunggu efek negatif ikutannya.

8. Kesimpulan
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang penduduk usia produktif,
dan kaitannya dengan kebijakan kependudukan dan ketenaga kerjaan. Dimulai
dengan menyajkan bagaimana pemikiran kebijakan kependudukan, dan bagaimana
kecendrungan yang terjadi.Hasil kajian menujukkan bahwa selain ada kecendrungan
peningkatan angka kelahiran, Indonesia juga menghadapi tahapan dimana
munculnya bonus demografi.
Analisis berikutnya mencoba meihat situasi ketenagakerjaan di
Indonesia.Dimulai dengan melihat fenomena makro ketenagakerjaan.Kemudian
dilanjutkan dengan membahas fokus pengembangan ketenagakerjaan.Dilanjutkan
dengan mengupas pengangguran dan masalah upah.Pada analisis ini jelas,
kesejahteraan tenaga kerja semestinya sejalan dengan peningkatan upah tenaga
kerja.Tekanan tenaga kerja berada pada penduduk berpendidikan dan berusia
muda.Terakhir, analisis singkat yang juga menjelaskan bagaimana potensi
kebutuhan yang lahir dengan bertambahnya penduduk usia produktif.

L-70

100tahun
kemerdekaan

Visi 2025

PENDUDUKUSIAPRODUKTIF
DANKETENAGAKERJAAN

Mengangkat Indonesia menjadi negara


maju dan merupakan kekuatan 12 besar
dunia di tahun 2025 dan 8 besar dunia
pada tahun 2045 melalui p
p
pertumbuhan
ekonomi tinggi yang inklusif dan
berkelanjutan

Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan


BKKBN

2045
2025

PDB: 3,8 4,5 Trilyun US$


Pendapatan/kap:
13.000 16.100 US$
Terbesar ke-12 dunia
Proyeksi KEN Pendapatan/kapita ~US$
14 900 (high income country)
14,900

2010
Sumber:MasterPlanPercepatandan
Sumber:
PerluasanPembangunanEkonomi
Indonesia (MP3EI)2011 2025

PDB ~US$ 16.6 Trilyun


Prediksi Pendapatan/kapita
~US$ 46,900
Diprediksi menjadi terbesar ke7 atau ke-8 dunia*)

PDB ~ US$ 700 Milyar


Pendapatan/kap US$ 3,000 (2010)
Terbesar ke-17 besar dunia

Pencapaian Visi 2025dan 2045memerlukan penyiapan generasi yangmampuberperan aktif


dalam kegiatan pembangunan

Kependudukan dan Tema Pengembangan 6 Koridor Ekonomi


Indonesia
Visi Nasional

"Sentraproduksidan
pengolahanhasil
bumi
bumi"

Ekonomi Indonesia direncanakan menjadi


j
1 diantara 7 negara
g
terbesar tahun
2045 (McKenskey, 2012)
Visi Kependudukan mendapatkan tantangan: Apakah Indonesia Anti Malthusian?

KoridorPantaiTimur
Sumatra JawaBag.
Barat

Persoalan dan Potensi Penduduk Usia produktif


Pergeseran masa depan Usia Penduduk
Bonus Demografi Potensi dan Bahaya
Kebutuhan Tenaga Kerja Produktif

K id K li
KoridorKalimantan

KoridorPantaiUtara
Jawa

Tenaga Kerja, Konsep, persoalan tenaga kerja, pengangguran,


Pro job, Kontroversi upah minimum, dan strategi perluasan lapangan kerja

"Pendorongindustri&
manufakturnasional"

"Lumbungpangan
nasional
nasional"

"Lumbungenergi
nasional"
i
l"

KoridorSulawesi

KoridorPapua

KoridorJawaTimur
KoridorJawaTimur
BaliNTB

"KawasandenganSDA
melimpahdanSDMyang
sejahtera"

"Pi t b
"Pintugerbang

pariwisatanasional"

Sumber:MenkoPerekonomian,2010

Pointpenting
Point
penting usia produktif dalam
konteks p
pembangunan
g
ke depan
p

Sebaran Kegiatan Ekonomi Utama


Berdasarkan 6Koridor Ekonomi

Indonesiadihadapkanpadatantanganangkakelahirandan

babbyboomkembali,
babbyboomkembali

S
Sumatera

Kelapa
Sawit

Karet

Batubara

Perkapalan

Besi Baja

KNS Selat
Sunda

Tekstil

Makanan &
Minuman

Peralatan
Transportasi
p

Telematika

Alutsista

Perkapalan

Kalimantan

Kelapa
Sawit

Perkayuan

Migas

Besi Baja

Bauksit

Batubara

Sulawesi

Pertanian

Kakao

Perikanan

Nikel

Migas

Bali NT

Pariwisata

Peternakan Perikanan

Pertanian

Perikanan

Nikel

Migas

Jawa

DampakKependudukanterhadapmasadepan
D
kK
d d k h d
d

pembangunan

Membangundenganmenyelamikebutuhanusiaproduktif

Papua Maluku
Islands
5

Tembaga

Jabodetabek
Area

Sumber:MasterPlanPercepatandan
Sumber:
PerluasanPembangunanEkonomi
Indonesia (MP3EI)2011 2025

IndonesiaEducation:ManagingaBigSizeand
BonusDemografi
Age
Population
Student
(year)

Population
240
million

(million)

Comparison of Population Pyramids by 2030


USA

(million)

06

28.85

15.49

712

26.59

26.16

1315

12.94

11.26

1618

13.09

8.57

1924

25.37

4.54

Total

106.84

66.03

J
Japan

complex
challenging
noble

Malaysia

G ld
Golden
opportunity!

Indonesia

TargetedCompositionofIndonesianWorkers
MODEL STRUKTUR TENAGA KERJA (J h
MODELSTRUKTURTENAGAKERJA(Johanson
,2004)
2004)
Education:

2010

(Targeted)
4,8%

TertiaryEducation :
DiplomaI/II/III:
p
/ /
Secondary(general):
Secondary(voc.) :
JuniorSecon.:
Elementary:

2,8%
2 8%
8,2
8,2
%
%

8,210%
%

Negara Berkembang

Level

2025

2015

(Targeted)

Management

6%

8%

Professionals

4%

8%

g y Skilled Semi-Professionals
Highly

14,7%

16%

8,2
18%
%
20%

19,1%

24%

22%

50,4%

40%

20%

Negara Industri

Highly Skilled Manpower

Unskilled Manpower

PENDIDIKAN
KEJURUANDAN
VOKASI

Skilled Manpower
Semi-Skilled Manpower

FOKUSPEMBANGUNANMUTUTENAGA
KERJA
Pembangunan pendidikan diarahkan untuk menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kompetitif
Tahun
2010
2014
melalui ppeningkatan
g
ketersediaan,
keterjangkauan,
j g2010
kualitas
dan relevansi, kesetaraan dan

PERPRESNo.102/2007

kepastian memperoleh layanan pendidikan

5PRIORITASPROGRAM

PT
PT

Pendidikan
AKADEMIK

PENINGKATANAKSESDANDAYASAING
PENDIDIKANTINGGI

PENINGKATAN AKSESDANRELEVANSI
PENDIDIKANMENENGAHDAN
PENDIDIKANVOKASI

PENINGKATANKUALITASDAN
KESEJAHTERAANPENDIDIKDAN
TENAGAKEPENDIDIKAN

PENUNTASANPENDIDIKANDASAR
SEMBILANTAHUN YANGBERMUTU

PM
PD
PAUD

Pendidikan
KARAKTER

PERATURANPRESIDENREPUBLIKINDONESIANO.102TAHUN2007
Tentang
PENGESAHANKONVENSIMENGENAIPENDIDIKANTEKNIKDAN
KEJURUAN
(CONVENTIONONTECHNICALANDVOCATIONALEDUCATION)

SEBAGAIBENTUKPERHATIANPEMERINTAHTERHADAP
PENGEMBANGANPENDIDIKANTEKNIKDANKEJURUAN
DIINDONESIA

PENINGKATAN AKSES & MUTU PAUD


PENINGKATANAKSES&MUTUPAUD

11

12

MATA ANGIN PERTUMBUHAN ILMU


S3

S3(T)

S2

S2(T)

S1

D IV/ S1(T)

SPESIALIST
PROFESSIO
NAL

D III
D II
DI
Middle
S h l
School

Vocational
Middle School

SCIENCE BASED
SCIENCE-BASED
EDUCATION

SKILLS-BASED
EDUCATION

PROFESSIONALISM
BASED EDUCATION

9
8
7
6
5
4
3
2
1

KebutuhanUsiaProduktif

EXPERT

Pendidikanyangsemakinbermutuuntukseluruh

kelompok,
kelompok

TECHNICIAN/
ANNALIST

Tersedianyalapangankerja
T
di
l
k j
Pemerataaninvestasiagarkesempatanbekerjaterbuka

OPERATOR

Penyediaanpendukung,modaldaninformasi

Career
Development
14

KonsepsiTenagaKerja
p
g
j
Penduduk
Penduduk usia produktif,15
produktif 1559atau
59atau 15
1564tahun
64tahun (tergantung

Mazhab yangdipakai)

Tantangan Ketenagakerjaan

Angkatan
g
Kerja
j
Mencari Pekerjaan (menganggur)
Bekerja

Kurang (115jam/minggu)
K
( j / i
)
Normal(1648jam/minggu)

Belajar/pendidikan
j /p
Kegiatan utama rumah tangga
lainnya

15

16

4Kelompok
4
Kelompok Fokus Permasalahan
Tenaga
g Kerja
j

PersoalanTenagaKerja
g
j
Pengangguranterdidikmengalamipeningkatan
Usiamuda
Ui d
PendidikanSMA/STM,danTamatanPT

TenagaKerjakeluargaNelayan
Perlumengadopsidanmeningkatkancurahanwaktuwanita
P l
d
id
i k tk
h kt
it
TenagaKerjaPetaniBerlahanSempit
Perlupengembangandiversifikasipekerjaandantraining
l
b
d
fk
k
d
TenagaKerjasektorInformal
Perlukepastianberusahadanpermodalan
TenagaKerjaBuruhKontrak
Perluperlindungandankepastianhakhakdasar

Persoalanproduktivitastenagakerja
Tersembunyi
ProduktivitasRendah
Kurangnyatenagakerjaterampildankemajuanteknologi

17

18

KontroversiUpahMinimum
p

Strategykedepan
gy
p

Upahditingkatkanmenyulitkanpengusaha

Menyediakanpelatihan

Upahditurunkanakansemakinbanyakstrike,

Mengembangkankerjasama

Cariyangpalingideal,denganbertemutigapartai,

Memperkuatusahaproduktifyangkreatif

pemerintah,pengusahadanperwakilanburuh

Menataketenagakerjaandaerah

19

20

21

Penduduk Usia Lanjut Di Indonesia Tahun 1950-2050


A.

Pendahuluan
Salah satu dinamika penduduk yang menuntut perhatian sangat serius

dari negara adalah perubahan komposisi penduduk, utamanya perubahan


penduduk lanjut usia, baik dari jumlah absolut, maupun relatif. Hal tersebut terkait
dengan implikasi baik ekonomi sosial maupun kesehatan lansia.
Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan
Lanjut Usia, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah penduduk yang telah
mencapai usia 60 tahun ke atas. Lansia termasuk dalam kategori penduduk
rentan dilihat dari kemunduran dari segi fisik, psikologis, sosial, eknomi dan
kesehatan sehingga mereka terlindung oleh jaminan sosial. Hal ini tertulis dalam
UU No. 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial yang diberikan dalam bentuk
asuransi kesejahteraan sosial dan bantuan langsung berkelanjutan.
Penduduk Lansia (usia 60 +) di seluruh dunia diproyeksi akan tumbuh
dengan sangat cepat bahkan tercepat dibanding kelompok usia lainnya.
Diperkirakan mulai tahun 2010 yang lalu telah terjadi ledakan jumlah penduduk
lanjut usia. Hasil prediksi menunjukkan bahwa persentase penduduk lanjut usia
akan mencapai 9,77 persen dari total penduduk pada tahun 2010 dan menjadi
11,34 persen pada tahun 2020.
Perubahan jumlah penduduk lansia perlu direspon secara tepat karena
jika tidak, maka akan menimbulkan persoalan yang sangat serius. Hal tersebut
didasarkan pada pemikiran bahwa penduduk lansia memiliki pengaruh besar
dalam permbangunan sosial ekonomi suatu Negara. Disamping itu lansia memilki
hak baik hak politik, social maupun ekonomi yang harus dipenuhi. Hal ini
nampaknya belum sepenuhnya direspon oleh pemerintah secara baik. Oleh
karenanya diperlukan suatu rumusan kebijakan mengenai lansia yang mampu
merespon kondisi yang ada. Dalam rangka itulah, pemerintah membentuk Komisi
Nasional Lanjut Usia yang disahkan berdasarkan Kepres No. 52 tahun 2004
yang memiliki tugas tuntuk mengkoordinasi segala upaya peningkatan
kesejahteraan sosial lanjut usia.
Bab I Pasal 1 UU Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut
Usia, juga menjelaskan bahwa pemberdayaan lansia perlu diupayakan lintas
sektor dan bersifat terpadu. Arah pemberdayaan tersebut diperlukan untuk
mengurangi kemiskinan, mendapatkan jaminan kesehatan yang lebih baik, dan

L-76

mendukung kehidupan sosial masyarakat agar lebih berpartisipasi dalam


pembangunan. Selain itu, salah satu indikator keberhasilan pembangunan
adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan semakin
meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk
lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dengan demikian, peningkatan jumlah penduduk lanjut usia menjadi
salah satu indikator keberhasilan pembangunan sekaligus sebagai tantangan
dalam

pembangunan.

Keberhasilan

karena

peningkatan

jumlah

lansia

merupakan dampak dari peningkatan usia harapan hidup, sementara sebagai


tantangan peningkatan jumlah lansia akan menimbulkan permasalahan penting.
Bila permasalahan tersebut tidak diantisipasi, maka tidak tertutup kemungkinan
bahwa proses pembangunan akan mengalami berbagai hambatan. Oleh sebab
itu, permasalahan lanjut usia harus menjadi perhatian kita semua, baik
pemerintah, lembaga masyarakat maupun masyarakat itu sendiri. Untuk menjadi
lanjut usia yang sehat, produktif dan mandiri, kita harus mulai dengan pola hidup
sehat dan mempersiapkan masa lanjut usia secara lebih baik. Dengan demikian,
sasaran dari permasalahan lansia tidak hanya lansia itu sendiri, tetapi juga
penduduk usia muda. Pola hidup sehat harus diterapkan sejak usia dini, bahkan
sejak dalam kandungan.

B.

Faktor Demografi Yang Menyebabkan Penuaan Penduduk


Peningkatan jumlah penduduk usia lanjut dari tahun ke tahun hampir di
setiap negara di dunia, termasuk di Indonesia, dikarenakan terjadinya transisi
demografi. Transisi demografi ini ditandai dengan penurunan angka kematian
yang kemudian disusul dengan penurunan angka kelahiran. Penurunan angka
kelahiran yang disertai dengan peningkatan usia harapan hidup telah merubah
komposisi penduduk berdasarkan umur dari kelompok penduduk muda bergeser
menjadi kelompok penduduk tua. Peranan migrasi internasional kurang
bermakna dalam mengubah distribusi umur bila dibandingkan dengan fertilitas
dan mortalitas (Lesthaeghe, 2000).

1.

Penurunan Angka Fertilitas


Penurunan angka fertilitas telah menjadi faktor yang menyebabkan

meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut. Angka fertilitas ini dilihat dari angka
fertilitas total (TFR). Rata-rata TFR negara maju sejak abad ke dua puluh telah
mengalami penurunan secara terus menerus. Pada tahun 1950-1955 angka TFR

L-77

mereka telah mencapai angka 2,8 anak per wanita. Angka yang sudah rendah ini
terus mengalami penurunan hingga pada tahun 2000-2005 mencapai angka
yang sangat rendah yaitu 1,5 anak per wanita. Kini, semua negara maju telah
mencapai TFR di bawah 2,1 (replacement level). Bahkan di beberapa negara
mencapai angka 1,3 anak per wanita. Angka fertilitas total (TFR) Indonesia
mengalami penurunan dari angka 5,5 tahun 1950-1955 menjadi 2,3 pada tahun
2000-2005. Pada tahun-tahun berikutnya diproyeksi angka TFR ini akan
mencapai 2,1 dan stagnan hingga 2050 (lihat Gambar 1).

TFR (Anak per Wanita)

Angka Harapan Hidup (Tahun)

TFR dan Angka Harapan Hidup


Indonesia Tahun 1950-2050

Tahun

TFR

AHH

Gambar 1. TFR dan Angka Harapan Hidup Indonesia Tahun 1950-2050

2.

Penurunan Angka Mortalitas


Sebagaimana angka fertilitas yang mengalami penurunan, penurunan

angka mortalitas khususnya pada kelompok usia tua, menyebabkan terjadinyan


penuaan penduduk atau peningkatan jumlah penduduk usia lanjut. Kondisi ini
sangat nampak terutama di negara-negara maju yang telah lebih dulu berhasil
menurunkan angka fertilitas.
Angka harapan hidup saat lahir semakin mengalami peningkatan seiring
dengan menurunnya angka kematian penduduk. Angka harapan hidup penduduk
Indonesia usia 60 tahun ke atas mengalami peningkatan pada kurun waktu 20002050. Pada tahun 2050, angka harapan hidup penduduk Indonesia usia 60 tahun
diproyeksi akan meningkat sebesar 3,8 tahun, sedangkan angka harapan hidup
penduduk usia 65 tahun meningkat sebesar 3,3 tahun. Dalam kurun waktu 50

L-78

tahun mendatang angka harapan hidup penduduk usia 80 diproyeksi meningkat


1,7 tahun.
Apabila dilihat menurut jenis kelamin, angka harapan hidup penduduk
perempuan lebih tinggi dari penduduk laki-laki. Pada tahun 1950-1955, angka
harapan hidup perempuan lebih tinggi 1,2 tahun dari laki-laki, kemudian
meningkat menjadi 2,5 tahun pada tahun 1975-1980. Angka ini disebut gender
gap, kesenjangan di antara laki-laki dan perempuan. Kesenjangan angka
harapan hidup laki-laki dan perempuan ini semakin besar menjadi 4,0 tahun
pada tahun 2000-2005. Kesenjangan angka harapan hidup laki-laki dan
perempuan pada tahun berikutnya diproyeksi semakin besar. Tahun 2025-2030
gender gap angka harapan hidup diproyeksi 4,5 dan menjadi 4,7 pada tahun
2045-2050.
Menurut data yang dilaporkan WHO, usia harapan hidup wanita di seluruh
dunia secara statistik lebih tinggi dari pada usia harapan hidup pria. Prof.
Barbara R. Migeon, MD, PhD dari John Hopkins School of Medicine dalam
www.voanews.com (2010), mengungkapkan bahwa pria mempunyai resiko
mortalitas (kematian) yang lebih tinggi daripada wanita pada setiap tahap
kehidupannya.
Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, diantaranya adalah faktor
sosial, ekonomi dan perilaku seperti aktivitas selama hidup, di mana secara
umum pria memiliki peran lebih banyak dalam tanggung jawab mencari nafkah,
sehingga rentan terhadap penyakit ataupun lebih riskan terhadap kecelakaan.
Selain itu faktor biologi dan genetika menjadi faktor dasar yang menyebabkan
rendahnya angka harapan hidup laki-laki. Secara biologis, kaum laki-laki memiliki
kromosom XY dan wanita memiliki kromosom XY. Kromosom X mengandung
1100 gen, yang selain berperan penting dalam pengaturan hormon, juga dalam
fungsi vital tubuh lainnya, mulai dari pembekuan darah, metabolisme dan
perkembangan janin. Sedangkan kromosom Y hanya mempunyai kurang dari
100

gen,

yang

fungsi

utamanya

hanyalah

untuk

pembentukan

dan

perkembangan testes dan hormonal. Secara biologis, wanita lebih diuntungkan


dengan 2 kromosom X ini karena mereka lebih tahan terhadap gejala-gejala
penurunan fungsi tubuh. Pada laki-laki yang hanya memiliki 1 kromosom X ini
menjadikan mereka rentan terhadap penurunan fungsi tubuh.

C.

Jumlah Dan Kecepatan Pertumbuhan Penduduk Usia Lanjut

L-79

Jumlah penduduk usia lanjut di dunia meningkat tiga kali lipat selama
kurang lebih 50 tahun ini. Pada tahun 1950, jumlah penduduk usia lanjut di dunia
sebesar 205 juta jiwa meningkat menjadi 606 juta jiwa pada tahun 2000. Pada
tahun 2050 diproyeksikan jumlah penduduk usia lanjut di dunia akan meningkat
kembali lebih dari tiga kali lipat hingga mencapai 2 miliar jiwa (lihat Gambar 2).
69,53
70
60
50
34,98

40
30
16,14

20
10

4,95

18,04

7,26

0
1950

1975

2000

2010

2025

2050

Gambar 2. Penduduk Indonesia Usia 60 Tahun Ke Atas Tahun 1950-2050


(dalam jutaan)
Berbeda dengan rata-rata dunia, penduduk usia lanjut di Indonesia meningkat
lebih dari 3 kali lipat selama 50 tahun belakangan ini. Pada tahun 1950,
penduduk usia 60 tahun ke atas berjumlah 4.952.800 jiwa meningkat menjadi
16.143.700 jiwa pada tahun 2000 meningkat lagi menjadi 18.043.712 jiwa pada
tahun 2010. Jumlah ini diproyeksikan akan meningkat lebih dari 4 kali lipat pada
tahun 2050 hingga mencapai angka 69.533.900 jiwa.
Pada tahun 1950 di Indonesia, dari 16 orang 1 diantaranya adalah
penduduk lanjut usia. Pada tahun 1975 rasio ini sempat mengalami penurunan,
dimana 1 dari 18 orang termasuk penduduk usia lanjut. Pada tahun 2000 rasio
tersebut kembali meningkat, 1 dari 13 orang termasuk penduduk usia lanjut.
Pada tahun 2050, diproyeksikan dari 4 orang 1 diantaranya adalah penduduk
usia lanjut.

D.
1.

Perubahan Keseimbangan Kelompok Umur


Rentang Kelompok Umur

L-80

Penduduk dibagi atas 3 kelompok umur yaitu kelompok penduduk usia


muda (0-14 tahun), kelompok umur 15-59 tahun, dan kelompok penduduk usia
lanjut (60 tahun ke atas). Peningkatan proporsi penduduk usia lanjut disertai
dengan penurunan proporsi penduduk usia muda. Proporsi penduduk usia 0-14
tahun di Indonesia menurun dari 39,2 persen tahun 1950 menjadi 30,8 persen
pada tahun 2000. Pada kurun waktu 50 tahun telah terjadi penurunan penduduk
usia muda sebesar 8,4 persen di Indonesia. Sebaliknya, proporsi penduduk usia
lanjut dari tahun 1950 hingga 2000 mengalami peningkatan dari 6,2 persen
menjadi 7,6 persen.
Proporsi penduduk usia muda sejak 1950 lebih besar dari proporsi
penduduk usia lanjut. Proporsi penduduk usia muda pada saat itu 6 kali lipat
proporsi penduduk usia lanjut. Proporsi penduduk muda hingga tahun 2000
masih 4 kali lipat penduduk usia lanjut. Kemudian pada 2010 diproyeksikan
proporsi penduduk usia lanjut menjadi lebih besar dari penduduk muda. Proporsi
penduduk usia lanjut meningkat 14,7 persen dari tahun 2000 menjadi 22,3
persen. Sedangkan proporsi penduduk muda diproyeksikan menurun 10,9
persen hingga mencapai 19,9 persen pada tahun 2010.

Perubahan distribusi

umur ini terjadi secara perlahan hingga tahun 2000. Namun 50 tahun berikutnya
diproyeksikan akan terjadi lebih cepat.

2.

Indeks Penuaan Penduduk


Indeks penuaan penduduk (Ageing Index) merupakan rasio atau

perbandingan penduduk usia lanjut dengan penduduk muda (usia 0-14 tahun).
Rasio penduduk usia lanjut di Indonesia mengalami peningkatan setengah dari
jumlah sebelumnya, yaitu 16 per 100 penduduk muda pada tahun 1950 menjadi
25 per 100 penduduk muda tahun 2000. Rasio ini diproyeksikan akan meningkat
lebih dari 4 kali lipat pada tahun 2050. Indeks penuaan penduduk Indonesia
menjadi 112,1, dimana terdapat 112 lansia per 100 penduduk muda. Pada waktu
yang sama, indeks penuaan penduduk di negara maju diproyeksikan meningkat
menjadi 215 per 100 penduduk muda.
Indeks penuaan negara-negara di Eropa merupakan yang tertinggi di
seluruh dunia. Pada tahun 2050, indeks penuaan di Eropa adalah 263 per 100
penduduk muda, sedangkan di Indonesia hanya 112 per 100 penduduk muda.
Hal ini menunjukkan pada tahun 2050 nanti, di Eropa setiap 1 orang penduduk
muda akan ada 3 lansia. Sedangkan di Indonesia setiap 1 penduduk muda akan
ada 1 lansia.

L-81

3.

Umur Pertengahan
Selama 50 tahun belakangan ini, usia pertengahan penduduk Indonesia

meningkat 4,6 tahun, dari 20 tahun pada 1950 menjadi 24,6 tahun pada 2000.
Peningkatan ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan peningkatan usia
pertengahan penduduk dunia yang hanya 3 tahun. Namun, peningkatan ini jauh
di bawah peningkatan usia pertengahan penduduk di negara-negara maju yang
mencapai 8 tahun. Lima puluh tahun ke depan, diproyeksikan usia pertengahan
penduduk Indonesia meningkat 13 tahun, sehingga pada 2050 setengah
penduduk Indonesia akan berusia 38 tahun.

E.

Profil Demografi Penduduk Usia Lanjut Di Indonesia

1.

Komposisi Umur
Hal yang utama dalam proses penuaan yang terjadi secara global ini

adalah semakin cepatnya proses penuaan pada kelompok penduduk usia lanjut
itu sendiri. Jumlah penduduk usia 80 tahun ke atas tumbuh lebih cepat
dibandingkan kelompok penduduk usia lanjut yang lebih muda (kelompok usia
60-79 tahun). Pada tahun 2000-2005, rata-rata pertumbuhan penduduk usia 80
tahun ke atas 1,5 kali lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk usia 60 tahun ke
atas (60-79 tahun).
Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa penduduk usia
80+ telah mencapai 1,856 ribu penduduk atau 10 persen dari jumlah penduduk
lansia (60+). Pada tahun 2025-2030, diproyeksikan rata-rata pertumbuhan
penduduk usia 80 tahun ke atas mengalami penurunan 1,2 persen, namun akan
meningkat kembali menjadi 4,8 persen pada tahun 2045-2050. Rata-rata
pertumbuhan penduduk usia 80 tahun ke atas pada tahun ini mencapai 2, 8 kali
lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk usia 60 tahun ke atas. Perubahan ini
sekaligus akan mempengaruhi komposisi penduduk menurut umur, dengan
semakin membesarnya penduduk lansia (lihat Gambar 3).

L-82

Persentase

Distribusi Penduduk Indonesia Berdasarkan Rentang


Kelompok Umur Tahun 1950-2050

Tahun
0-14

15-59

60+

Gambar 3. Penduduk Indonesia Berdasarkan Rentang Kelompok Umur


Tahun 1950-2050
Pada 1950, jumlah penduduk usia 80 tahun ke atas adalah 0,3 persen dari
jumlah penduduk keseluruhan meningkat 0,2 persen pada 2000. Jumlah ini
diproyeksikan akan meningkat lagi pada 2050 sebesar 2,7 persen. Jumlah
penduduk Indonesia usia 80 tahun ke atas pada tahun 1950 hanya 275,5 ribu
jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan pada tahun 2000 sebesar 814,2 ribu dan
1,86 juta pada 2010. Pada tahun 2050 diproyeksikan jumlah penduduk usia 80
tahun ke atas akan meningkat sebesar 9,01 juta.

2.

Rasio Jenis Kelamin


Seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya, angka

harapan hidup perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Hal ini menyebabkan
jumlah penduduk perempuan usia lanjut lebih banyak dibanding laki-laki. Pada
tahun 1950 rasio jenis kelamin penduduk usia 60 tahun ke atas adalah 94,2.
Angka ini menunjukkan bahwa terdapat 94 laki-laki per 100 perempuan. Rasio
jenis kelamin cenderung menurun dan pada tahun 2000 mencapai 84,5. Sensus
Penduduk tahun 2010 hampir tidak berubah, yaitu 84,9. Akan tetapi diperkirakan
rasio jenis kelamin penduduk lansia akan menurun hingga 2050 mencapai angka
83,4. Rasio jenis kelamin penduduk berusia 80 tahun ke atas pada tahun 1950
adalah 87. Rasio ini terus menurun hingga 69,4 pada tahun 2000 dan 69,9 pada

L-83

tahun 2010 (SP 2010). Rasio jenis kelamin penduduk usia 80 tahun ke atas ini
diproyeksikan menurun menjadi 55,9 pada tahun 2050.

3.

Rasio Ketergantungan
Rasio ketergantungan total umumnya digunakan untuk mengukur potensi

kebutuhan dukungan sosial. Penduduk usia 0-14 (penduduk belum produktif) dan
penduduk usia 65 tahun ke atas (penduduk usia lanjut yang sudah tidak
produktif) menjadi beban bagi penduduk usia produktif (penduduk usia kerja atau
usia 15-64 tahun). Penduduk produktif akan menanggung secara langsung
maupun tidak langsung penduduk yang belum dan sudah tidak produktif lagi
(Kinsella dan Gist, 1995). Namun, rasio ketergantungan hanya memberikan
perkiraan secara kasar mengenai beban ketergantungan suatu wilayah.
Rasio ketergantungan total di Indonesia pada tahun 1950-1975 mengalami
peningkatan dari 75,8 menjadi 80,6. Kondisi ini juga terjadi secara global, dimana
pada kurun waktu yang sama rasio ketergantungan penduduk dunia meningkat
dari 65 menjadi 74. Peningkatan ini terjadi disebabkan kombinasi masih tingginya
angka fertilitas dan angka kematian (mortalitas) bayi dan anak yang telah
menurun. Seiring dengan menurunnya angka fertilitas, pada tahun 2000 rasio
ketergantungan menurun menjadi 55,2.

Ketika terjadi penurunan rasio

ketergantungan pada periode ini, terjadi peningkatan proporsi beban penduduk


usia lanjut. Kecenderungan penurunan rasio ketergantungan diproyeksikan akan
terus terjadi di Indonesia 25 tahun mendatang sebelum akhirnya mengalami
peningkatan kembali 25 tahun berikutnya. Pada 2025 rasio ketergantungan akan
menurun menjadi 45,7 dan pada tahun 2050 akan meningkat menjadi 57,1.
Rasio ketergantungan pada tahun 2050 hampir sama besarnya dengan
rasio ketergantungan pada tahun 2000. Meskipun pada tingkatan yang sama,
komposisi rasio ketergantungan keduanya akan berbeda. Pada tahun 2000,
penduduk muda lebih banyak dalam kelompok penduduk yang ditanggung oleh
kelompok usia produktif. Pada beberapa tahun ke depan, komponen penduduk
muda dan tua dalam rasio ketergantungan akan sama. Pergeseran ini
merupakan akibat dari peningkatan harapan hidup dan penurunan fertilitas. Pada
tahun 2000, komposisi penduduk muda dalam rasio ketergantungan di Indonesia
adalah 47,7 persen. Penduduk tua hanya memberikan kontribusi sebesar 7,5
persen dalam rasio ketergantungan di Indonesia. Pada tahun 2050 komposisi ini
mengalami perubahan, diproyeksikan penduduk tua akan berkontribusi 3 kali
lipat dari tahun sebelumnya dalam rasio ketergantungan. Pada tahun ini,

L-84

penduduk tua memberikan kontribusi sebesar 25,8 persen dalam rasio


ketergantungan di Indonesia, sedangkan penduduk muda sebesar 31,3 persen.

F.

Karakteristik Sosio-Ekonomi Penduduk Usia Lanjut

1.

Partisipasi Angkatan Kerja


Tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk usia lanjut mengalami

penurunan beberapa tahun terakhir. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh negara
di dunia. Saat ini, jumlah penduduk usia lanjut yang berpartisipasi dalam
angkatan kerja lebih sedikit dibanding dengan beberapa tahun yang lalu. TPAK
penduduk usia lanjut di Indonesia menurun sebesar 23 persen selama 50 tahun
terakhir (1950-2000). Pada tahun 1950, 1 dari 2 penduduk usia lanjut merupakan
pekerja. Pada tahun 2000 rasio ini mengalami penurunan, dimana 1 diantara 3
penduduk usia lanjut merupakan pekerja, begitu pula di tahun 2010 (lihat
Gambar 4).

200
180

58,2

160
47

140
120
100
80

39,8

30,9
88

74,1

60

Total

35,2

24,1

30,8
25,2
56,6

40

24,1
48,5

23,1

Perempuan
Laki-Laki

40,4

20
0
1950

1970

1990

2000

2010

Gambar 4. TPAK Lansia Tahun 1950-2010


Pada tahun 1950, TPAK penduduk laki-laki yang berusia 65 tahun ke atas
sebesar 88 persen. Penurunan TPAK terjadi pada tahun-tahun berikutnya,
dimana pada tahun 2000 TPAK penduduk laki-laki usia 65 tahun ke atas ini turun
hampir setengah dari angka sebelumnya menjadi 48,5 persen. Berbeda dengan
laki-laki, TPAK perempuan mengalami penurunan yang yang lebih kecil dari 30,9
persen tahun 1950 menjadi 24,1 persen pada tahun 2000. Pada tahun 2010,

L-85

UNDESA memproyeksikan TPAK total penduduk usia lanjut ini mengalami


penurunan menjadi 30,8 persen, TPAK laki-laki menurun hingga angka 40,
persen dan TPAK perempuan relatif stabil pada angka 23,1 persen.
Bila dibandingkan dengan TPAK penduduk usia lanjut di negara maju,
partisipasi penduduk usia lanjut dalam angkatan kerja lebih tinggi. Jaminan masa
tua seperti pensiun tidak dimiliki secara merata oleh penduduk usia lanjut di
negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Oleh karena itu para penduduk
usia lanjut bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun
keluarga yang masih tersisa, misalnya istri. Tidak heran bila proporsi penduduk
usia lanjut yang berpartisipasi dalam angkatan kerja lebih banyak ditemukan di
negara berkembang dibanding di negara maju.
Secara umum, proporsi penduduk laki-laki usia lanjut yang aktif secara
ekonomi lebih tinggi dibanding perempuan. Namun, seiring dengan lebih
cepatnya penurunan TPAK laki-laki usia lanjut, kesempatan perempuan untuk
berpartisipasi dalam angkatan kerja mengalami peningkatan.

2. Angka Buta Huruf


Secara umum, partisipasi dalam pendidikan dasar yang telah merata di
negara maju terjadi bertahun-tahun yang lalu. Oleh karena itu, melek huruf di
negara-negara maju sekarang hampir menyeluruh bahkan pada kelompok
penduduk usia lanjut. Berbeda negara maju yang secara umum memiliki angka
melek huruf yang telah merata di hampir setiap kelompok umur, angka melek
huruf di negara berkembang masih mengalami peningkatan. Hal ini berarti masih
banyak penduduk di negara berkembang yang buta huruf.
Angka buta huruf penduduk usia lanjut di negara berkembang termasuk
Indonesia mengalami penurunan meskipun angkanya masih tetap tinggi.
Sebesar 76,9 persen penduduk usia lanjut di Indonesia masih buta huruf pada
tahun 1980. Angka buta huruf penduduk usia lanjut ini terus menurun hingga
mencapai 48,7 persen pada tahun 2000. Pada tahun 2010 angka buta huruf
penduduk usia lanjut akan menurun sekitar 16 persen menjadi 32,58 persen.
Penurunan angka buta huruf penduduk usia lanjut laki-laki di Indonesia
lebih besar dibanding perempuaan. Hal ini menyebabkan kesenjangan gender
dalam hal melek huruf meningkat lebih dari 20 tahun terakhir. Pada tahun 1980,
angka buta huruf perempuan usia lanjut (89,8 persen) 27,7 persen lebih tinggi
dari laki-laki (62,1 persen). Pada tahun 2000, perbedaan ini meningkat menjadi

L-86

31,8 persen dimana 63,3 persen perempuan usia lanjut masih buta huruf dan
hanya 31,5 persen laki-laki yang masih buta huruf. Gender gap dalam melek
huruf penduduk usia lanjut di Indonesia akan menurun sekitar menjadi 20 persen
pada tahun 2010, dimana angka buta huruf perempuan 41,73 persen dan
penduduk laki-laki 21,82 persen.
Secara umum, jenjang pendidikan telah mengalami peningkatan di setiap
generasi. Hal yang biasa apabila dalam kelompok penduduk usia lanjut sendiri
terdapat perbedaan tingkat partisipasi dalam pendidikan. Di Indonesia semakin
tua penduduk lanjut usia tersebut semakin rendah angka melek hurufnya.
Perbedaan tingkat buta huruf menurut kelompok umur penduduk usia lanjut di
Indonesia dapat dilihat pada gambar di bawah. Dari grafik tersebut tampak
bahwa penduduk usia 70 tahun ke atas memiliki tingkat buta huruf yang lebih
tinggi dibanding kelompok umur 60-64 dan 65-69 tahun. Demikian juga
penduduk usia 65-69 tahun memiliki tingkat buta huruf yang lebih tinggi dari
penduduk usia 60-64. Pada tahun-tahun berikutnya kondisi ini tetap sama, hanya
saja angkanya terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2010, masih 40,9
persen penduduk usia 70 tahun ke atas yang buta huruf di Indonesia. Sekitar
31,7 persen penduduk usia 65-69 dan 24 persen penduduk usia 60-64 masih
buta huruf pada tahun 2010 di Indonesia. Kondisi ini menjadikan penduudk usia
lanjut di Indonesia menjadi sumber daya manusia yang sudah tidak produktif dan
juga tidak berkualitas. Hal ini akan menjadikan beban bagi negara karena harus
memberikan jaminan bagi mereka yang rentan. Oleh karena itu program
kebijakan terkait pemberdayaan penduduk usia lanjut harus lebih bisa
dioptimalkan. Hal ini bertujuan untuk membantu mereka mandiiri dan mengurangi
beban negara untuk terus memberikan jaminan bagi mereka.

G.

Persoalan Yang Dihadapi Penduduk Lansia


Persoalan yang dihadapi lansia sangat kompleks terutama jika dikaitkan

dengan perubahan sosial, budaya dan ekonomi. Salah satu isu pokok terkait
dengan persoalan lansia adalah munculnya 3 jenis kesenjangan (gap). Pertama
adalah kesenjangan geografis. Sejalan dengan perubahan social, budaya dan
ekonomi, penduduk Indonesia akan semakin mobil bukan hanya dari sisi
intensitas tetapi juga jarak. Orang akan semakin pergi dalam jarak yang semakin

L-87

jauh, sering dan bahkan berjangka waktu lama. Hal ini akan menyebabkan anak
semakin cepat meninggalkan orang tua. Terdapat dua implikasi penting dari
fenomena tersebut. Pertama adalah orang tua cepat menjadi sendirian (lonely)
karena orang tua akan semakin cepat ditinggalkan oleh anak. Kedua, anak
mengalami kesulitan untuk menyantuni orang tua, karena berjauhan secara fisik
akibat kesenjangan geografis. Akibatnya, penyantunan terhadap orang tua yang
pada dasarnya adalah kewajiban social spikologis anak akan ditransfer menjadi
tanggung jawab ekonomi. Artinya ketidak hadiran anak secara fisik dan
psikologis, diganti dengan kehadiran orang lain yang dibayar untuk menyantuni
orang tua. Hal ini juga akan menimbukan persoalan tersendiri karena orang lain
bukanlah anaknya sendiri meskipun dapat berperilaku sebagai anak. Akibatnya,
pemenuhan kebutuhan psikologis tidak sepenuhnya dapat terpenuhi.
Kesenjangan kedua adalah kesenjangan sosial budaya. Pergeseran nilai
dan norma sosial akan menyebabkan kesenjangan cara memahami nilai dan
norma kehidupan antara orang tua dan anak. Hal ini akan menyebabkan
kesulitan untuk menyatukan orang tua dan anak dalam satu rumah,
sebagaimana pada masa lalu ketika keluarga ekstended masih menjadi pola
yang umum. Ditopang oleh kesenjangan geografis tersebut di atas, orang tua
akan memiliki kemungkinan yang besar untuk hidup sendirian bukan hanya
secara fisik, tetapi juga secara sosial. Kondisi ini akan diperparah dengan
semakin hilangnya peer group.
Kesenjangan ketiga adalah kondisi yang terkait dengan perubahan
pengelolaan ekonomi rumah tangga. Dalam masyarakat tradisional, biasanya
penduduk tinggal dalam suatu keluarga luas (extended). Dalam keluarga luas,
pengelolaan ekonomi bersifat tunggal, artinya bahwa pendapatan yang diperoleh
oleh siapapun yang tinggal di keluarga tersebut akan di bagi atau dimanfaatkan
oleh semua anggota kelauarga. Sejalan dengan modernisasi, keluarga pada
umunya adalah keluarga batih dan ekonomi keluarga terbagi-bagi berdasarkan
anggotanya. Ekonomi keluarga sudah terpolarisasi, dipisahkan antara ekonomi
ayah, ekonomi ibu dan ekonomi anak. Hal ini dalam skala tertentu akan
menyulitkan dalam penyantunan orang tua karena peruntukan ekonomi keluarga
sangat tergantung pada orang, bukan pada keluarga sebagai satu unit ekonomi.
Sementara itu menjadi lansia akan berhadapan dengan masalah yang
terkait dengan kesulitan fungsional lansia. Penuaan penduduk, sebuah proses
alamiah hilangnya fungsi tubuh secara optimal dari sebuah siklus hidup

L-88

seseorang dalam hidupnya. Penuaan tersebut dapat dilihat dari kemunduran dari
segi fisik, psikologis, sosial, ekonomi dan kesehatan. Pada pembahasan ini
kesulitan yang dihadapai oleh lansia meliputi kesulitatan fungsional dalam
kehidupan sehari-hari seperti kesulitan lansia dalam melihat, mendengar,
berjalan, mengingat/berkomunikasi, dan mengurus diri sendiri. Berdasarkan
persentasenya, jenis kesulitan yang dialami oleh lansia dari yang terbesar
sampai terkecil berturut-turut meliputi melihat (17,57 %), mendengar (12,77%),
berjalan (12,51 %), mengingat/berkomunikasi (9,30 %), dan mengurus diri sendiri
(7,27 %) dari seluruh responden lansia yang diwawancarai sebanyak 18.028.271
orang pada tahun 2010. Dari seluruh kesulitan yang dihadapi, persentase
perempuan biasanya lebih besar daripada laki-laki dalam mengalami tingkat
kesulitan fungsional ini baik

dalam hal melihat, mendengar, berjalan,

mengingat/berkomunikasi ataupun mengurus diri sendiri.


Beberapa persoalan tersebut pada akhirnya bermuara pada persoalan
pokok yang terkait dengan penyantunan orang tua. Secara umum, masalah
penyantunan lansia berujung pada tiga hal mendasar yakni siapa yang
bertanggung jawab, bagaimanakah prosedurnya, serta seberapa besaratau
bentuk penyantunan yang diberikan.
Secara garis besar persoalan penyantunan lansia mencakup tiga isu
pokok,

yaitu penyantunan sekonomi,

sosial dan kesehatan.

Persoalan

penyantunan tersebut muncul khususnya pada kelompok rentan, yaitu lansia


yang tidak sehat, tidak produktif, miskin dan kehilangan peer gropu.
Penyantunan ekonomi utamanya adalah pada lansia perempuan di perdesaan
yang biasanya akan kehilangan sumber ekonomi setelah suamiu meninggal. Jika
anak tinggal berjauhan, (kemungkinan) jika anggota keluarga dalam kondisi
ekonomi yang tidak menguntungkan dan sukungan ekonomi dari tetangga
berkurang, maka pertanyaan pokok adalah siapa yang bertanggung jawab untuk
menyantuni lansia.
Demikian halnya dengan pelayanan kesehatan dan penyantunan sosial,
pertanyaan yang sama juga muncul, siapa yang bertenggung jawab menjadi
penyantun (carer) ketika anggota keluarga tidak mampu memenuhi kewajiban
untuk menyantuninya. Persoalan-persoalan tersebut bukan hal yang mudah
untuk dipecahkan, sebab jika solusinya hanya dibebankan jkepada pemerintah,
maka akan sangta sulit untuk merumuskan terobosan kebijakan untuk
mengantisipasi jumlah lansia yang semakin meningkat.

L-89

H.

Migrasi Lansia
Seperti dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa lansia juga mengalami

migrasi. Berdasarkan migrasi seumur hidup, lansia yang melakukan migrasi pada
2010 sebanyak 7,56 persen atau sekitar 2,12 juta orang. Sedangkan
berdasarkan jenis kelaminnya, migran laki-laki lebih besar persentasenya dalam
melakukan migrasi sebesar 52,72 persen dibanding perempuan yang hanya
47,28 persen. Tetapi anomali ditunjukkan pada kelompok 75+ dimana migran
perempuan lebih besar presentasenya yang dikarenakan lansia ini mengikuti
anak atau famili untuk pindah karena status cerai mati. Sedangkan berdasarkan
migrasi risen, penduduk lansia yang melakukan migrasi ini pada 2010 sebesar
109,41 orang atau sebanyak 2,09 % dari total penduduk. Hal ini menunjukkan
bahwa sejalan dengan umur, lansia cenderung tidak mobil terkait dengan
penurunan fungsi tubuh.

I.

Kebutuhan Lansia
Kebutuhan lansia dapat diidentifikasi berdasarkan teori kebutuhan

manusia dari Maslow yang menyebutkan bahwa pada dasarnya kebutuhan


manusia dapat dibagi menjadi 5, yaitu kebutuhan fisik, keamanan, social,
penghragaan dan aktualisasi diri (http://en.wikipedia.org/wiki Maslow%27s_
hierarchy_of_needs). Secara lebih jelas kebutuhan tersebut dapat dilihat pada
gambar berikut.

Gambar 1. Teori Hirarki Kebutuhan Manusia Menurut Maslow

L-90

Lansia sebagaimana manusia pada kelompok umur yang lain membutuhkan


pemenuhan kebutuhan fisik atau kebutuhan dasar (basic need) yang berupa
makan, minum dan tempat tinggal. Kebutuhan ini diperlukan untuk bertahan
hidup dan sekaligus menjaga kesehatan.

Kebutuhan yang kedua adalah

keamanan dan perlindungan. Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan sosial


yaitu perasaan diterima sebagai anggota keolompok dan dicintai. Kebutuhan
selanjutnya adalah penghargaan yaitu pengakuan dan harga diri. Kebutuha
terakhir adalah aktualisasi diri yaitu kebutuhan untuk pemahaman dan
pengembangan diri.
Dengan segala persoalan yang dihadapi oleh lansia sesuai dengan
karakteristiknya, sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, maka
kebutuhan lansia dapat dibagi menjadi dua, yaitu kebutuhan fisik dan non fisik.
Kebutuhan fisik adalah kebutuhan yang terkait dengankebutuhan dasar yaitu
makan, minum, tempat tinggal serta kesehatan. Sementarai kebutuhan non fisik
merupakan akumulasi dari kebutuah social dan psikologis. Dengan idnetifikasi
kebutuhan lasnia tersebut maka semua kbijakan mengenai lansia harus ditujukan
untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut.

J.

Program Pemberdayaan Lansia

L-91

Berdasarkan UU No. 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, diatur


mengenai masyarakat rentan termasuk di dalamnya adalah lansia. Penduduk
lansia merupakan penduduk rentan yang dijamin kesejahteraannya oleh
pemerintah melalui kebijakan pemerintah kebupaten/kota. Bentuk kesejahteraan
sosial yang diberikan ke lansia adalah berupa asuransi kesejahteraan sosial dan
bantuan langsung berkelanjutan. Jika lansia tersebut sudah tidak produktif, maka
diberikan kepadanya santunan sebesar Rp. 300.000,00 per bulan yang
dibayarkan melalui PT. Pos sebagai mitra dan biaya tersebut diambilkan dari
APBD. Sedangkan bagi lansia yang masih produktif, maka diberikan padanya
bantuan modal dan pelatihan agar mendorong lansia tetap produktif. Bantaun ini
biasanya berwujud kredit lunak dan pelatihan kepada para lansia. Selain itu,
pemerintah juga membentuk Komisi Nasional Lanjut Usia yang disahkan
berdasarkan Kepres No.

52 tahun 2004 yang

memiliki tugas tuntuk

mengkoordinasi segala upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia yang


memiliki tanggungjawab langsung kepada presiden.
Persoalan kesehatan yang dialami lansia dapat berupa bentuk
pelayanan kesehatan yang optimal untuk mendukung keberlanjutan mereka
dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Program kesehatan lansia menjadi
tanggung jawab pemerintah daerah dengan melaksanakan program perawatan
dan pendampingan lansia, program posyandu lansia, puskesmas lansia, dan
program bina keluarga lansia yang bertujuan untuk mendorong lansia agar tetap
sehat dan memiliki peran dalam kehidupan sehari-harinya. Kegiatan ini biasanya
diakomodir oleh masing-masing pemerintah daerah yang disesuaikan dengan
agenda masing-masing dan dijalankan oleh dokter atau pegawai lokal yang
mengurusi masalah lansia. Selain itu, para lansia juga dibekali dengan jaminan
kesehatan lansia yang meringankan mereka ketika akan mengakses layanan
kesehatan.
Pemberdayaan

terhadap

penduduk

lansia

dilaksanakan

untuk

meningkatkan peran lansia utamanya untuk meningkatkan pembangunan.


Program pemberdayaan lansia dilakukan oleh program wilayah , swadaya
masyarakat, dinas atau instansi terkait untuk mengurusi masalah lansia seperti
Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Beberapa program dari Dinas Sosial dan
Dinas Kesehatan yang terkait dengan program pemberdayaan lansia di
Indonesia antara lain Program Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU), Usaha
Ekonomi Produktif (UEP), Program Pendampingan dan Perawatan Lansia di

L-92

Rumah (Home Care) dan Posyandu Lansia. Berikut adalah gambaran program
yang terkait dengan pemberdayaan lansia.

1.

Program Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU)


Merupakan program pemerintah yang dilakukan dengan program subsidi
langsung

tunai

kepada

lansia

tidak

produktif

untuk

meningkatkan

kesejahteraannya atau sekedar mencukupi kebutuhan hidupnya. Program ini


memberikan bantuan dana sebesar Rp. 300.000,00 per bulan yang berasal dari
dana APBN dan disalurkan melalui PT. Pos yang sifatnya mengantar bantuan ke
tempat tinggal lansia yang membutuhkan.
Tujuan dari program ini antara lain:
a.

Meringankan beban pengeluaran lansia dalam memenuhi kebutuhan


hidupnya

b.
2.

Memelihara taraf kesejahteraan lansia agar mampu hidup wajar


Usaha Ekonomi Produktif (UEP)

Merupakan program pemerintah yang dilakukan kepada lansia produktif yang


potensial dan mampu untuk bekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya
hidupnya. Program ini memberikan bantuan modal usaha berupa kredit lunak
untuk membentu lansia untuk terus bekerja dan bertujuan agar lansia tidak
menggantungkan pada anak atau familinya yang masih muda.
3.

Program Pendampingan dan Perawatan Lansia di Rumah (Home Care)


Merupakan

program

pemerintah

yang

dilakukan

dengan

basis

kekeluargaan untuk meningkatkan fungsi lansia. Program ini lebih menekankan


pada pendampingan, perawatan, dan pelayanan sosial kepada lansia di luar
panti sebagai wujud solidaritas sosial. Program pelayanan yang dilakukan
meliputi pemberian makanan tambahan, pemeriksaan kesehatan, pengobatan
ringan dan bimbingan kepada lansia.
Tujuan dari program ini antara lain:
a.

Meningkatkan

kemampuan

lansia

untuk

menyesuaikan

diri

dengan

perubahan diri secara fisik, mental dan sosial


b.

Terpenuhinya hak dan kebutuhan lansia agar tetap mampu berperan dalam
masyarakat

c.

Meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam perawatan dan


pendampingan lansia di rumah

d.
4.

Terciptanya rasa aman dan nyaman bagi lansia di lingkungan sekitarnya


Posyandu Lansia

L-93

Merupakan program pemerintah provinsi yang kegiatannya meliputi pemeriksaan


kesehatan

lansia,

penyuluhan

lansia

dan

penimbangan

berat

badan.

Pemeriksaannya dilakukan dengan memaksimalkan peran dokter dari puskermas


setempat.
5.

Puskesmas Lansia
Merupakan program pemerintah daerah yang dilakukan secara swadaya.
Program kegiatan yang dilakukan antara lain adalah senam bersama, arisan,
makan bersama, dan kegiatan lain yang menunjang perhatian terhadap lansia.
Kegiatan dilakukan oleh tenaga puskesmas, kader, atau sukarelawan yang
perduli dengan nasib lansia.

6.

Bina Keluarga Lansia


Merupakan program pemerintah daerah yang dilakukan secara swadaya sebagai
wujud perhatian mereka terhadap lansia. Beberapa kegiatan yang dilakukan
melalui program ini antara lain:
a.

Pemeriksaan kesehatan secara rutin

b.

Pembentukan kegiatan ekonomi produktif

c.

Memberikan pelatihan dengan melihat potensi wilayah

Disamping itu, perlu untuk dicatat bahwa pada dasarnya lansia akan terbagi
menjadi dua yaitu lansia yang produktif sehingga secara ekonomi masih
potensial dan lansia yang tidak produktif karena kondisi kesehatan dan
ekonomi yang kurang menguntungkan. Untuk kelompok pertama, penekanan
kebijakan diarahkan pada memberikan lingkungan yang kondusif untuk
memberikan kesempatan bagi lansia selalu produktif. Bentuknya dapat dilakukan
dengan memperluas kesempatan untuk kegiatan sub-contracting dalam hal-hal
yang lansia masih memiliki kompetensi. Bentuk nya adalah Usaha ekonomi
Produktif (UEP). Sementara itu untuk lansia yang tidak produktif focus
utamanya adalah pemberian santunan baik ekonomi maupun kesehatan,
utamanya adalah pemenuhan kebutuhan dasar dan kesehatan.
Hal penting lainnya yang perlu dicatat adalah bahwa pemerintah harus
mampu mewujudkan suatu lingkungan fisik maupun sosial yang memberikan
rasa aman dan nyaman bagi lansia, yaitu lingkungan yang ramah (layak) lansia.
Sebagai contoh semua sarana prasarana fisik untuk publik yang ada harus
mengakomodasi kebutuhan lansia, misalnya transportasi, perkantoran dan
tempat pelayanan umum lainnya. Sebagai contoh adalah penyediaan ruang

L-94

publik (public space) untuk lansia dan transportasi umum yang ramah terhadap
lansia. Sementara itu perlu diciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi
lansia

yang

memungkinkan

lansia

dapat

memenuhi

kebutuhan

sosial

psikologisnya. Pengembangan peer group lansia adalah salah satu contoh untuk
pengembangan lingkungan sosial yang ramah lansia.

L-95

Daftar Pustaka
Affandi, Moch. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penduduk Lanjut Usia
Memilih Pekerjaan. Journal of Indonesia Applied Economics Vol. 3 No. 2
October 2009, 99-110
Komisi Nasional Lanjut Usia. 2010. Profil Penduduk Lanjut Usia 2009. Komnas
Lansia
United Nation. 2002. World Population Ageing: 1950-2050. Department Of
Economic And Social Affairs Population Division: New York
Undang-Undang No. 4 Tahun 1965 Tentang Bantuan Orang Jompo
Undang-Undang No. 13 Tahun 1988 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia
Kepres No. 52 Tahun 2004 tentang Komisi Nasional Lanjut Usia
Peraturan Pemerintah Tahun No.43 Tahun 2004 Tentang Pelaksanaan Upaya
Peningkatan Penduduk Lanjut Usia
Undang-Undang No. 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial

L-96

BATASAN PENDUDUK LANSIA DI INDONESIA

K t Apa sih
Konten
IIsii Pembahasan
P b h

Menurutt ane lansia


M
l
i itu
it adalah
d l h
orang tua yang sudah tua
renta. Sedangkan menurut
UU No. 13 Tahun 1998
Lansia adalah penduduk
yang
y
g umurnya
y lebih dari 60
tahun lebih

Engkongnya Otong itu


boleh juga disebut
lansia..

lansia itu??

Penduduk
Lansia di
Indonesia

Ooo.. Gitu
ya..

Kenapa engkong
gua dibawa-bawa
bo?

Drs Sukamdi
Drs.
Sukamdi, M
M.Sc.
Sc

Ilustrasi g
gambar dari kartun Sukribo.

Penduduk lansia adalah penduduk


yang berumur 60 tahun ke atas

B
P
S

Terdapat perbedaan antar Negara dalam


mendefinisikan Lansia

Menurut UU No. 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lansia


Lanjut usia potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan
pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/ jasa.
Lanjut usia non potensial yaitu lanjut usia yang tidak berdaya untuk

mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada bantuan orang lain.

JUMLAH LANSIA DI INDONESIA


DARI MASA KE MASA

JUMLAH ABSOLUT PENDUDUK INDONESIA

PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA 1950-2050

APAKAH KALIAN
TAHU?
Jumlah penduduk di
Indonesia seakin
tinggi dari tahun . Ini
buktinya..

INDONESIA
K t IIsiJUMLAH
Konten
i Pembahasan
P bPENDUDUK
h
350
300

200

1950

100

Diprediksi
Indonesia menjadi
Negara maju

50

2050

Tahukan kalian piramida yang di ujung yang berwarna merah? Itulah


gambaran besar penduduk lansia.
PIRAMIDA PENDUDUK 2010

1960

1970

1980

1990

2000 2010

2025

11
2050

Diprediksi
terjadi bonus
demografi

Hasil sensus 2010 menunjukkan


j
bahwa Indonesia kini dihuni oleh 237 641 326 jiwa.
j
Jumlah penduduk laki-laki sebesar 119 juta dan perempuan sebesar 118 juta.

mili
ar

SANGGUPKAH??

69,53
70
60
50

TFR dan Angka Harapan Hidup

Penduduk usia lanjut di Indonesia


meningkat lebih dari 3 kali lipat
selama 50 tahun belakangan ini.
Jumlah ini diproyeksikan akan
meningkat lebih dari 4 kali lipat
pada tahun 2050 hingga mencapai
angka 69.533.900 jiwa.

30

4,95

10

K6 t IIsii Pembahasan
Konten
PIndonesia
b hTahun 1950-2050

80

60

40

20

0
1950-1955

1975-1980
AHH

Tahun

2025-2030

1975

Menurunnya TFR dan naiknya


AHH menjadi salah satu pemicu
naiknya lansia di Indonesia

2045-2050

AHH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN INDONESIA 1950-2050

2000

2025

2050

Tahun

miliar

2000-2005

7,26

0
1950

100

TFR

16,14

20

sekaligus sebagai tantangan dalam pembangunan.

FAKTOR DEMOGRAFI PENENTU


NAIKNYA LANSIA DI INDONESIA

34,98

40

salah
l h satu
t indikator
i dik t kkeberhasilan
b h il pembangunan
b

Lansia dan penduduk usia produktif di Indonesia menjadi isu


menarik dalam kaitannya dengan meraih the windows of
opportunities yang diprediksi akan terjadi
pada 2020-2030

penduduk Indonesia.

JUMLAH LANSIA 1950-2050

Jumlah Penduduk Indonesia usia 60 tahun ke atas


Konten
K
t IIsii Pembahasan
P Tahunb1950-2050
h

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia menjadi

Pertumbuhan penduduk di
Indonesia kini mencapai 1,49
persen. Ini berarti pada 2050
jumlah penduduk jumlahnya
menjadi 450 juta jiwa. Berarti
satu penduduk dari 20
penduduk dunia adalah
d l h

Angka Harapan Hidup


H
(Tahun)

1940 1950

TFR (Anak per Wan


T
nita)

1
1930

JUmlah Pendu
uduk (Juta)

2000

150

Pada tahun 1950 di Indonesia, dari 16 orang 1 diantaranya adalah penduduk lanjut usia. Pada tahun 1975
rasio ini sempat mengalami penurunan,
penurunan dimana 1 dari 18 orang termasuk penduduk usia lanjut.
lanjut Pada
tahun 2000 rasio tersebut kembali meningkat, 1 dari 13 orang termasuk penduduk usia lanjut. Pada tahun
2050, diproyeksikan dari 4 orang 1 diantaranya adalah penduduk usia lanjut.

AHH pe
perempuan
e pua
cenderung lebih tinggi
daripada laki-laki.

Ang
gka Harapan Hidup (Tahun)

Jiiwa (juta)

250

90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

69,3
65,3

76,2
71,7

79,8
75,1

54 51,5
38,1
38
136,9

Perempuan
Laki-Laki

1950-1955

1975-1980

2000-2005
Tahun

2025-2030

2045-2050

PROFIL DEMOGRAFI
PENDUDUK LANSIA DI INDONESIA

PROFIL DEMOGRAFI
PENDUDUK LANSIA DI INDONESIA
Rasio Ketergantungan 1950-2050: Dunia, Asia

Distribusi Penduduk Indonesia Berdasarkan Kelompok Rentang Usia


Tahun 1950-2050
1950 2050

Persentase

K t IIsii Pembahasan
Konten
P b h

Tenggara dan Indonesia


Tenggara,
K
Konten
t IIsii Pembahasan
P
b h
90

100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%

Pada tahun 2050 diproyeksikan


jumlah penduduk lansia usia 80
tahun ke atas akan meningkat
sebesar 9,01 juta.

Pada 2025 rasio ketergantungan


akan menurun menjadi 45,7 dan
pada tahun 2050 akan meningkat
menjadi 57,1

80
70
60
Indonesia

50

Asia Tenggara

40

Dunia

Indeks Penduduk Lanjut Usia (60+)


Indonesia 1950-2050

30

1950

1975
0
14
0-14

15
59
15-59

2000

2025

20

2050

10

Tahun

60
60+

120
100

0
1950

1975

2000

2025

2050

Tabel Rasio Jenis Kelamin Lansia Indonesia 1950-2050

Indonesia

1950
60+
80+
94,2
87

1975
60+
80+
87,4
71,9

2000
60+
80+
84,5
69,4

2025
60+

80+
63,2

87

Indeks penuaan penduduk (Ageing Index) merupakan rasio


atau perbandingan penduduk usia lanjut dengan penduduk
muda (usia 0-14 tahun).
tahun) Pada 2050 Indeks penuaan
penduduk Indonesia menjadi 112,1, dimana terdapat 112
lansia per 100 penduduk muda.

2050
60+
80+
83,4
55,9

Dunia

80

Asia
Tenggara

60

Indonesia

40
20
0
1950

PROFIL SOSIAL-EKONOMI
PENDUDUK LANSIA DI INDONESIA

1975

2000

2025

2050

MASALAH KEPENDUDUKAN
DI INDONESIA

TPAK Penduduk Usia 65 ke atas Indonesia 1950-2010

100 t
Konten
K
IIsii Pembahasan
P b h
88

TPAK Lansia semakin menurun


dari tahun ke tahun .

90
80

Persentase

70
60

58,2

56,6
39,8

30,9

30

24,1

25,2

35 2
35,2
24,1

Iya,
y , sudah tua masak masih harus
bekerja dan be..rsusah-susah ma..

Total

48,5

47

50
40

Pah, permasalahan lansia banyak sekali


yya.. Kita harus mempersiapkan
p
p
diri agar
g hal
buruk tidak terjadi pada kita nantinya..

74,1

Laki-laki
Perempuan

40,4

L ki l ki
Laki-laki
Perempuan

30,8

Beberapa persoalan yang dihadapi lansia di

23,1

20

Indonesia:

Angka Melek Huruf Penduduk Indonesia Usia 60 Tahun


Ke Atas Menurut Kelompok
p Umur 1980-2010

10
0
1970

1990

2000

2010
Persenttase

1950

Melek huruf laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.


Gender menjadi isu pembangunan bagi para lansia dari
segi pendidikan

90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

2. Masalah enyantunan ekonomi


3. Masalah jaminan kesehatan

1950

1970
60-64

1990
65-69

2000

2010

70+

PERMASALAHANPENDUDUKLANSIA

1 Ti
1.
Tingginya
i
angka
k ketergantungan
k t
t
pada
d
penduduk usia muda

1 Masalah
1.
M
l h penurunan fungsionall
f
i
ll

Guk..

2 M
2.
Menurunnya kkualitas
lit hid
hidup penduduk
d d k usia
i
lanjut

PERMASALAHANPENDUDUKLANSIA

MASALAH KESEHATAN PENDUDUK USIA LANJUT

PERMASALAHANPENDUDUKLANSIA

PERMASALAHANPENDUDUKLANSIA

ANGKA KESAKITAN LANSIA PER


PROPINSI DI INDONESIA
(SUPAS 2005)

PERMASALAHAN SOSIAL

Hanya 9,8 % Penduduk Lanjut Usia di Indonesia yang


memiliki dana Pensiun , selebihnya memiliki pendapatan
dari Bekerja (38,2%) dan lainnya ( Suami, Istri, Anak dan
sanak saudara)

KEBIJAKANPENDUDUKLANSIA
DI INDONESIA
DIINDONESIA

Masalah kesenjangan
j g (gaps)
(g p )
KESENJANGAN

GEOGRAFIS

SOSIAL BUDAYA

Populasi Lansia yang


tercatat sebanyak
16.522.311 jiwa, sekitar
3.092.910 ((20 p
persen))
diantaranya adalah lansia
terlantar. Jumlah lansia
terlantar yang mendapat
pelayanan kesejahteraan
sosial pada tahun 2005
adalah sebanyak 15.920
orang, sedangkan pada
tahun 2006 bantuan
kesejahteraan sosial kepada
l
lansia
i meningkat
i k t menjadi
j di
15.930 orang
(Depsos, 2006)

EKONOMI

KEBIJAKAN LANSIA DI INDONESIA


1 Undang-undang
1.
Undang undang No
No.10
10 Tahun 1990
2. Keputusan Presiden No. 52 tahun 2004 Tentang Komisi
Nasional Lanjut Usia
3 Permen
3.
P
No.60
N 60 T
Tahun
h 2008 ttentang
t
P
Pembentukan
b t k K
Komisi
i i
Daerah Lanjut Usia dan pemberdayaan Masyarakat dalam
Penanganan Lanjut Usia di Daerah

KONDISI LANSIA

PENYANTUNAN

Kebutuhan Lansia (Maslow)


Meskipun seluruh lansia
menuntut pemenuhan
semua kebutuhan
tersebut, tetapi prioritas
kebutuhan lansia akan
menyesuaikan dengan
kondisi lansia.

PROGRAMPENGEMBANGANLANSIA
DI INDONESIA
DIINDONESIA
PROGRAM PENGEMBANGAN LANSIA DI INDONESIA
1. Program Jaminan Sosial Lanjut Usia (JLSU)
2. Program Usaha Ekonomi Produktif
3. Program Pendampingan dan Perawatan Lansia di Rumah
4. Posyandu Lansia
5. Puskesmas Lansia
6. Bina Keluarga Lansia

Kebijakan penting
Penciptaan lingkungan serta sarana dan
prasarana fisik yang ramah lansia
Ruang
R
publik
blik untuk
k llansia
i
Transportasi umum yang ramah lansia
Tempat jalan kaki ramah lansia, dlsb

Penciptaan lingkungan serta sarana dan


prasarana sosial yang ramah lansia
Pengembangan peer group
Pusat p
pengembangan
g
g diri untuk lansia

SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Urbanisasi dan Perkembangan Perkotaan di Indonesia1


Riwanto Tirtosudarmo

Pengantar

Setelah Uni-Soviet mengalami dis-integrasi pada tahun 1989 Indonesia menjadi negara
terbesar ke-empat dilihat dari jumlah penduduknya, setelah Cina, India dan Amerika Serikat.
Berbeda dengan negara-negara besar lainnya yang berbentuk negara-daratan (continental)
Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago) (Peta 1).Di negara manapun, satu hal
yang tampaknya serupa adalah hampir selalu tidak meratanya persebaran penduduk secara
spasial-geografis.Konsentrasi penduduk secara bersamaan dengan perjalanan sejarahnya
selalu terkonsentrasi pada daerah atau wilayah tertentu. Dalam banyak hal proses
terkonsentrasinya penduduk berkaitan dengan konsentrasi aktivitas ekonomi masyarakat dari
negara yang bersangkutan.
Peta 1

Tulisan ini (draft 2, 17 April 2013) dibuat atas permintaan Kepala Bidang Pendidikan Kependudukan, BKKBN.

L-101

Sebagai negara kepulauan yang terbesar di dunia, persebaran pendududuk Indonesia secara
historis terkonsentrasi di Pulau Jawa yang luas wilayahnya hanya sekitar 7 persen dari
keseluruhan wilayah Indonesia. Meskipun pemerintah-pemerintah yang pernah berkuasa di
Indonesia, khususnya pemerintah kolonial Belanda dan pemerintahan Sukarno dan Suharto
setelah kemerdekaan, berusaha memindahkan penduduk dari Jawa ke pulau-pulau lain di luar
Jawa namun terbukti penduduk yang mendiami pulau Jawa tetap berkisar pada angka 60
persen dan hanya menurun secara insignifikan (Figure 1).
Figure 1

Salah satu perubahan dalam dimensi persebaran penduduk yang mencolok di Indonesia adalah
yang berkaitan dengan apa yang disebut sebagai urbanisasi. Urbanisasi secara demografis
diartikan sebagai semakin besarnya jumlah penduduk sebuah negara di wilayah yang disebut
sebagai daerah perkotaan (urban areas).Berdasarkan hasil Sensus Penduduk (selanjutnya
disingkat SP) 2010 separuh (50 persen) penduduk Indonesia telah tinggal di daerah perkotaan
(Figure 2).
Urbanisasi adalah sebuah gejala sosial yang sangat penting dari penduduk sebuah negara.
Sebagai sebuah proses, urbanisasi dapat menjadi indikator dari terjadinya transformasi sosial
yang dialami oleh sebuah bangsa, Transformasi atau perubahan yang terjadi meliputi berbagai
aspek, baik yang bersifat ekonomi, sosial, politik maupun kebudayaan. Dalam konteks dinamika
kependudukan (population dynamics) di Indonesia barangkali urbanisasi adalah sebuah proses
sosial yang penting kalau tidak yang terpenting selama 50 tahun terakhir perjalanan bangsa ini.
Mengapa urbanisasi merupakan sebuah proses social yang penting? Urbanisasi adalah sebuah
proses social yang melibatkan dua komponen utama yang penting, yaitu aspek spasialkeruangan, dan yang kedua aspek social-demografis. Selain dua komponen utama ini,

L-102

urbanisasi juga merupakan indikator tingkat pencapaian sekaligus dinamika yang sedang dilalui
oleh peradaban sebuah bangsa.
Figure 2

Tulisan ini adalah sebuah upaya untuk mencoba memahami bagaimana proses urbanisasi itu
berlangsung dan apayang menjadi ciri-ciri, pola serta kecenderungan dari urbanisasi yang
terjadi dan bagaimana implikasi ekonomi, sosial, politik maupun kebudayaan dari proses
urbanisasi yang berlangsung. Tahun 1970 diambil sebagai awal dari pembahasan tentang
proses urbanisasi karena pada tahun ini dimulai pembangunan ekonomi dan rekayasa social
secara nasional oleh rejim Orde Baru.
Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, tulisanini akan terbagi menjadi 5 bab. Bab pertama,
setelah pengantar sedikit diuraikan tentang sejarah perkotaan di nusantara, berdasarkan
tulisan-tulisan para sejarawan. Bab kedua akan berisi uraian tentang konsep dan pengertian
yang berkaitan dengan urbanisasi. Bab ketiga merupakan pemaparan tentang perkembangan,
persebaran dan proyeksi penduduk perkotaan sampai dengan tahun 2025. Bab keempat akan
mengupas tentang beberapa problem dan prospek perkembangan perkotaan di Indonesia.Bab
kelima merupakan kesimpulan dan implikasi kebijakan.

Bab 1: Sejarah Perkembangan Kota-Kota di Nusantara


Urbanisasi dan perkembangan perkotaan bukanlah sebuah gejala baru di kepulauan
nusantara.Munculnya kota-kota di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah interaksi
kekuatan-kekuatan negara dan kapital.Menurut Ong Hok Ham (2002) kejatuhan Malaka ke

L-103

tangan Portugis pada 1512 mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap menurunnya
peran pedagang-pedagang dari Jawa. Pedagang Jawa tidak lagi memegang peran dalam
perdagangan nusantara tetapi mulai berubah menjadi pedagang produsen, sementara
perdagangan samudra dikuasai oleh kapal-kapal asing. Di Banten, Demak dan Surabaya terjadi
peralihan pekerjaan pada pertengahan abad ke-17 karena di daerah ini mulai dikembangkan
persawahan. Penurunan peran kota-kota pesisir semakin cepat ketika politik ekonomi monopoli
dan autarki dilakukan oleh para raja dan sultan di nusantara.Di Jawa sendiri kekhawatiran
Mataram terhadap pengaruh para bupati pesisir belajar dari kekalahan Majapahit sebelumnya
mendorong perlu dikuasainya kota-kota pesisir di pantai utara Jawa.Menjelang abad ke 18
selain kedudukan VOC yang semakin kuat, politik Mataram ikut serta meruntuhkan peran kotakota pesisir sebagai Bandar perdagangan internasional.
Dalam konteks semakin menguatnya dominasi VOC di Jawa, pembangunan jalan aspal oleh
Daendels yang pada awalnya dimaksudkan sebagai bagian dari strategi mempertahankan
pulau Jawa terhadap serangan armada angkatan laut Inggris yang memang sangat terkenal
menjadi sebuah factor structural yang penting.2Jalan ini dikenal sebagai Jalan Raya Pos (De
Grote Postweg) yang secara dramatis memperpendek waktu tempuh dari Batavia ke Surabaya
dari sebulan di musim kemarau menjadi hanya 3-4 hari saja.Menurut catatan Kompas (2008),
antara Anyer-Batavia dibangun 14 stasiun pos (dimana kuda pos diganti); 8 pos ada di
Karesidenan Banten, yaitu Anyer, Serang, Ondar-andir, Cikandi, Tanggerang, menyusuri Kali
Mookkervaart menuju Batavia.Sementara dari Semarang Jalan Raya Pos terbagi dua, ke timur
dan keselatan menuju Jogya dan Solo. Yang ke timur, terdiri dari: Karang Tengah, Demak,
Kudus (ada 4 stasiun pos), Mayonglor, Jepara, Pati, Juwana, menyeberangi Sungai Juwana
dengan rakit, Rembang, Lasem dan Tuban (ada 10 stasiun pos).Inilah revolusi di bidang
transportasi yang menjadi awal dari perubahan-perubahan yang bersifat struktural lain di pulau
Jawa. Perlu dicatat bahwa pembangunan rel kereta api yang pertama di Jawa baru dilakukan
pada tahun 1867, yang menghubungkan antara Semarang dengan Surakarta (Solo) dan
Yogyakarta. Jadi pembangunan perkeretaapian baru dilakukan oleh Netherlands Indies Railway
Company (NIS) setengah abad setelah jalan raya aspal dibangun oleh Daendels.3 Karena jalan
Daendels dari Batavia bergerak ke Selatan menuju Bogor dan selanjutnya melalui jalur
pedalaman menuju Cirebon, jalan aspal antara Batavia dan Cirebon yang sejajar dengan garis
pantai, baru dibuat pada masa penjajahan Inggris (1811-1816).4
Seperti dikemukakan oleh Peter J. Nas dan Welmoet Boenders (2002), seorang pengamat
perkotaan, kehadiran jalan aspal ini telah berpengaruh terhadap perkembangan pola
pemukiman penduduk dari yang semula tersebar menjadi mengelompok di sepanjang jalan
aspal ini.Daendels juga dianggap sebagai gubernur yang telah meletakkan dasar pembangunan
infrastruktur kota-kota, khususnya di pantai utara Jawa.5Inilah awal dari pertumbuhan kota-kota
2

Selain diberi mandat untuk mempertahankan pulau Jawa dari Serangan Inggris, oleh Raja Belanda (adik
Napoleon Bonaparte), Daendels juga diberi tugas untuk membenahi administrasi pemerintahan di Jawa.
Lihat Kompas, 2009, Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas.

Lihat Jan de Bruin, 2003, Het Indische spoor in oorlogstijd, pp. 213.
Kompas (2008: 12).
5
Lihat Djoko Marihandono, Fungsi dan Manfaat Jalan Raya Pos Jalan raya Daendels, dalam Kompas (2008: 35).
4

L-104

di sepanjang pantai utara, yang sebagian merupakan respons dari penduduk terhadap
terbukanya kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja baru yang tidak lagi hanya bersifat
tradisional-agraris.Dalam perkembangan selanjutnya, didirikannya pabrik-pabrik gula di kotakota di pantai utara Jawa, juga merupakan pendorong dari perubahan pemukiman penduduk
yang semula hanya mengelompok di sekitar muara sungai.
Dalam sebuah tulisan tentang kota dalam sejarah Indonesia, Ong Hok Ham (2002) mengutip
hasil penelitian Anthony Reid, yang memperlihatkan bahwa pada abad 16-17 kepulauan
Indonesia untuk ukuran masa itu telah merupakan daerah urban, bahkan memiliki penduduk
kota yang terpadat didunia. Menurut Ong Hok Ham (2002), berbicara mengenai manusia pada
abad ke-16-17 maka yang dimaksud adalah orang kota, pedagang, pelaut, nelayan, tukang,
dan lain-lain. Kota-kota pelabuhan terbesar di nusantara telah berpenduduk antara 50.000
sampai 100.000 jiwa, Banten misalnya berpenduduk 70.000 jiwa, padahal di Eropa hanya ada
dua kota, yaitu Paris dan Napoli, yang berpenduduk lebih dari 100.000 jiwa, dan hanya
beberapa kota yang berpenduduk mencapai 40.000 jiwa (Ong Hok Ham, 2002: 71).
Estimasi tentang jumlah penduduk kota-kota di pesisir utara Jawa sebagaimana dikemukakan
oleh Ong Hok Ham yang didasarkan pada studi Reid sesungguhnya masih merupakan
perdebatan di kalangan para ahli.Perdebatan pendapat tentang estimasi jumlah penduduk pada
masa ini memang tidak mungkin dihindarkan karena sumber informasi yang akurat, seperti
sensus atau registrasi penduduk belum dilakukan secara sistimatis.Wisseman (1991) yang
meneliti pertumbuhan kota-kota di pantai utara Jawa pada masa itu, dengan mengutip
pengamatan Tome Pires, misalnya, mempunyai pendapat yang berbeda dengan Reid.
Berikut adalah kutipan pendapat Wisseman (1992) dari berdasarkan observasi Tome Pires, A.
Cortesao (ed. and trans.), The Suma Oriental of Tome Pires and the Book of Francisco
Rodrigues (London: The Hakluyt Society, 1944), vol. 1, pp. 175-200.
Figures for the population of settlements presented by Tome Pires fall into two
classes: those based upon hearsay (for Demak and the state in the interior) and
those based upon direct Portuguese observation (most of the Pasisir states). The
figures based upon hearsay tend to be large. According to the head of Tuban,
the lord of the interior state had some 200,000 fighting men at his disposal, and
the state was "thickly populated, with many cities, and very large ones"; Pires,
however, felt that this was clearly an exaggeration (pp. 175-76). Demak,
"according to what they say," was reported to be a town of some 8,000 to 10,000
dwellings and its lord had some 30,000 fighting men at his disposal from the
country as a whole (p. 185); yet direct observation appears to have indicated a
lower population for the town (p. 186). The figures based upon direct observation
reveal that the ports of the other Pasisir states of the time were quite small.
Tuban, for instance, had only some 1,000 inhabitants within its walls (p. 190), yet
its lord could apparently raise 6,000 to 7,000 fighting men from the town and its
limited hinterland (p. 192). The port of Gresik, "the great trading port, the best in
all Java," which had a seasonally large foreign and archipelago trading
population, appears to have had relatively few permanent residents. The
population of the smaller states resided mainly in villages which were themselves
apparently rather small.

L-105

Wiseman seperti terbaca dalam kutipan dibawah ini, juga berpendapat bahwa urbanisasi di
kota-kota pantai utara Jawa baru terlihat nyata ketika kebijakan-kebijakan kolonial Belanda
mulai dijalankan pada abad 18.
Although Reid's suggestion may be a valid one in the case of coastal trading
states whose port cities suffered under colonial rule, there is no evidence that
Java was significantly urbanized before the arrival of the Dutch. The port towns
of the north coast of Java described by Tome Pires early in the sixteenth century,
based upon actual observation rather than hearsay, were surprisingly small, most
having fewer than 2,000 inhabitants.3 The situation seems not to have changed
significantly before the middle of the eighteenth century, the size of towns
fluctuating wildly over periods of months or years depending upon the fortunes of
war and the movements of rural populations, but showing no overall tendency
towards long-term growth. In the period of peace following the signing of the
treaty of Giyanti in 1755, the rise in population in rural districts far out-stripped
that of the towns. Dutch colonial policies of the following century, far from
impeding urban growth, seem actually to have encouraged it.
Strategi pertahanan Gubernur Daendels, antara lain dengan membangun Jalan Raya Pos, di
sepanjang pantai utara Jawa, ternyata gagal dalam menghadapi serangan Inggris. Pada tahun
1811, Jawa jatuh ke tangan Inggris, dan mulai berada dibawah kekuasaan Gubernur Thomas
Raffless, dan memerintah sampai tahun 1815. Pada tahun 1815 menjelang akhir masa
pemerintahannya, Raffles melakukan sensus penduduk dan dari hasil sensusnya penduduk
Jawa saat itu 4,5 juta jiwa. Raffles juga seorang menulis buku tentang sejarah Jawa yang
terkenal, The History of Java.Pada tahun 1930, ketika Belanda melakukan sensus penduduk
yang pertama, penduduk pulau Jawa tercatat mendekati 30 juta jiwa. Lonjakan jumlah
penduduk Jawa yang sangat tinggi antara 1815 sampai 1930 menimbulkan banyak pertanyaan
bagi para pengamat perkembangan penduduk di Jawa.

Bab 2: Urbanisasi dan Urbanisme dalam Perspektif Kependudukan


Menurut Encyclpedia of Population yang disunting oleh Paul Demeny dan Geoffrey McNicoll
(2003)
Urbanization is the process by which an increasing proportion of the population
lives in urban areas. The level of urbanization is the proportion of population
living in urban areas. Urbanization must be distinguished from urbanism, a term
referring to the style of life usually found in large urban centers.
Dari perspektif kependudukan, sebagaimana dikemukakan oleh dua pakar kepenndudukan
diatas, adalah sebuah proses peningkatan proporsi penduduk yang hidup di perkotaan.
Dengan demikian yang dimaksud sebagai tingkat urbanisasi adalah proporsi penduduk, dari
keseluruhan jumlah penduduk di sebuah negara, yang tinggal di perkotaan.Sementara itu yang
dimaksud dengan urbanisme (urbanism) adalah gaya-hidup (the style of life) yang biasanya
ditemukan dalam di kota-kota besar.

L-106

Sebuah isu yang penting dalam mempelajari urbanisasi, menurut Paul Demeny dan Geoffrey
McNicoll (2003) menyangkut persoalan apa saja yang bisa dianggap penenentu (indicator)
sebuah kawasan bisa disebut sebagai daerah perkotaan.
In medieval Europe or China, it may have been easy to distinguish
betweentownsgenerally tight-knit settlements, oftenfortified by walls to enable
them to be protectedfrom attackand rural areas. This is no longer thecase,
either in the developed or the developingworld, largely because transportation
improvementshave made it possible for people to reside a considerabledistance
from their place of work.
Menurut Demeny and McNicoll (2003) diatas, pada abad pertengahan di Eropa dan Cina
relative mudah membedakab antara kota dan desa, karena di kota penduduknya memiliki pola
pemuliman yang teratur dan terintegrasi, seringkali dikelilingi oleh benteng yang didirikan untuk
mempertahankan diri dari serangan dari luar. Situasi seperti ditemukan di Eropa dan Cina abad
pertengahan ini tidak lagi terjadi pada saat sekarang, baik di negeri yang maju maupun negeri
yang masih berkembang. Perkembangan sarana transportasi adalah salah satu penyebab
mengapa penduduk tidak harus selalu tinggal di pusat kota dan mereka bisa tinggal di
pemukiman yang mungkin agak jauh dari tempat kerjanya. Di Indonesia, proses aglomerasi
wilayah perkotaan, seperti terjadi di sekitar Jakarta, Semarang dan Surabaya; memperlihatkan
semakin menyebarnya pemukiman penduduk di luar pusat kota, meskipun setiap harinya
mereka harus melakukan perjalanan ke tempat kerjanya yang umumnya masih berada di pusat
kota.
Pada saat ini setiap negara memiliki definisinya sendiri-sendiri tentang apa yang disebut
sebagai wilayah perkotaan atau perdesaan. Keadaan ini menyulitkan untuk melakukan
perbandingan perkembangan urbanisasi secara internasional, karena adanya perbedeaan
definisi antar negara.Selain menggunakan minimum jumlah penduduk per kilometer sebagai
indicator kepadatan penduduk, berbagai indicator yang bersifat social ekonomi, seperti jumlah
fasilitas umum dan sarana-sarana public lain, biasanya dipergunakan untuk membedakan
antara daerah perkotaan dan perdesaan. Kategorisasi tentang desa dan kota yang bersifat
arbriter ini seringkali tidak mampu memberikan gambaraan riil secara sosiologis keadaan
masyarakat, Fenomena peri-urban atau urban fringe yang biasanya merupakan daerah yang
berada diantara kota dan desa adalah contoh bagaimana definisi yang dipilih untuk
membedakan desa dan kota seringkali mengabaikan ada kategori ketiga yang berada diantara
desa dan kota.
Berbagai factor menjadi latarbelakang berlangsungnya proses urbanisasi dan pertumbuhan
kota. Ada semacam konsesnsus diantara para ahli perkotaan bahwa perubahan struktur
ekonomi akibat pengaruh industrialisasi dan pertumbuhan sector jasa menjadi pendorong
utama urbanisasi. Secara tidak langsung pertumbuhan sector industry dan jasa akan
berpengaruh terhadap sector pertanian yang umumnya berada di daerah perdesaan. Dalam
kasus Indonesia strategi pembangunan ekonomi yang mengejar pertumbuhan sejak tahun 1970
memiliki dampak yang besar terhadap perubahan struktur ekonomi dan pada gilirannya
mempengaruhi proses urbanisasi dan pertumbuhan wilaha perkotaan (uraian tentang hal ini
lihat babab 4).
Dalam perspektif kependudukan, proses urbanisasi, secara umum dipengaruhi oleh tiga aspek.
Pertama adalah akibat pertumbuhan alamiah akibat fertilitas dan mortalitas dari penduduk kota
itu sendiri. Kedua adalah akibat pertambahan net-migrasi, antara migrasi masuk dan keluar;
yang umumnya menunjukkan positive net-migration. Ketiga adalah akibat dari proses

L-107

reklasifikasi dari daerah-daerah per-urban di sekitar kota yang dianggap tidak lagi sebagai
daerah perdesaan, dan secara administrative diputuskan untuk menjadi bagian dari wilayah
perkotaan.
Figure 3

Figure 4

L-108

Figure 5

Bab 3: Perkembangan
Penduduk(2025)

Penduduk

Perkotaan

(1971-2010)

dan

Proyeksi

Proses urbanisasi dan perkembangan kependudukan di daerah perkotaan sebagaimana


terekan dari Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010, memperlihatkan adanya
peningkatan yang relative cepat dan stabil.
Figure 6 memperlihatkan bagaimana
perkembangan dan persebaran penduduk Indonesia berdasarkan provinsi serta daerah
perkotaan dan perdesaan. Secara mencolok terlihat bahwa provinsi-provinsi di Pulau Jawa
(Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur) secara keseluruhan mendominasi
perkembangan dan persebaran yang ada. Di luar Jawa, hanya Lampung, Sumatera Selatan,
Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan yang memperlihatkan tingginya konsentrasi penduduk,
khususnya di daerah perkotaan, sementara provinsi-provinsi lainnya, terutama di Indonesia
bagian timur, memiliki konsentrasi penduduk yang rendah. Ketimpangan perkembangan dan
persebaran penduduk antara Jawa-Luar Jawa, atau Indonesia Barat dan Indonesia Timur,
adalah sebuah realitas social yang ada di Indonesia, dan keadaan ini juga mengindikasikan
kecilnya pengaruh upaya menyeimbangkan persebaran penduduk antar daerah dan antar pulau
melalui program transmigrasi maupun pembangunan ekonomi pada umumnya.

L-109

Figure 6

Figure 7 sampai dengan figure 11 memperlihatkan perkembangan dan persebaran penduduk


menurut provinsi dan wilayah perkotaan dan perdesaan sejak tahun 1971 sampai dengan 2010.
Jika pada tahun 1971 penduduk yang menghuni didaerah perkotaan masih kurang dari 20
persen (Figure 7) pada tahun 2010 telah mencapai sekitar 50 persen (Figure 11). Jika dilihat
perkembangannya, seperti telah dapat diduga, provinsi-provinsi di Pulau Jawa, terutama DKI
Jakarta, memperlihatkan tingkat urbanisasi yang tinggi dalam setiap periode sensus (Figure 711).Pada Sensus Penduduk terakhir (Figure 11) terlihat tingkat urbanisasi tertinggi adalah
provinsi DKI Jakarta, dan terendah adalah provinsi Nusa Tenggara Timur.
Figure 7

L-110

Figure 8

Figure 9

L-111

Figure 10

Figure 11

L-112

Indonesia meskipun dianggap telah berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk melalui
program Keluarga Berencana nampun penduduknya akan tetap tumbuh secara signifikan,
sebagaimana terlihat dari Figure 12 dan 13 dibawah ini.

Figure 12

Figure 13

L-113

Bab 4: Problem dan ProspekPerkotaan di Indonesia


Studi urbanisasi di negara berkembang umumnya difokuskan terhadap perkembangan kotakota besar atau mega-cities, seperti Jakarta, Surabaya, Kuala Lumpur, Bangkok dan Ho Chi
Min City. Selain karena kota-kota besar itu memang memperlihatkan perkembangan spasial
yang sangat fenomenal, kota-kota itu juga merupakan pusat ekonomi dan politik yang imbasnya
sangat besar bagi perkembangan ekonomi, sosial maupun politik dari keseluruhan negara yang
bersangkutan. Dalam konteks studi perkotaan di Indonesia, menurut Nas and Boenders (2002),
pendekatan yang dianut oleh para pengamat perkembangan perkotaan secara umum dapat
dibedakan dalam dua kelompok besar.
Pendekatan yang pertama adalah yang dianut oleh mereka yang memfokuskan at the specific
characteristics of urban areas in Indonesia, sementara pendekatan yang kedua dianut oleh
mereka who have focused on its general characteristics. Pada kelompok pertama, they focus
largely on the exotic and try to locate and describe the typical Indonesian aspects of these
cities. Pada kelompok yang kedua, they tend to see Indonesian cities as part of a global
phenomenon and refer to the reality of rapidly growing urban concentrations and world-wide
urbanization.
Jika dilihat dari sudut spasial, menurut pengamatan Nas and Boenders (2002), studi-studi
tentang perkotaan di Indonesia bisa dibedakan antara mereka yang memfokuskan pada kotakota di Jawa, dan mereka yang tertarik untuk mempelajari kota-kota di seantero Nusantara
(archipelago).
Perkembangan kota-kota pascakolonial di Asia Tenggara, menurut Terry McGee (1967) tidak
terlepas dari ambisi para pemimpin nasionalis yang menginginkan dapat diciptakannya sebuah
negara-bangsa yang efisien dan stabil.Ambisi semacam ini telah menguras banyak energi dari
pemerintah-pemerintah di Asia Tenggara pasca-kolonial dalam merealisasikan gambaran
mereka tentang sebuah pola pembangunan ekonomi dan sosial tertentu yang pada gilirannya
menjadi dasar bagi penataan dan pengembangan daerah perkotaan.Itulah sebabnya, menurut
McGee (1967) perkembangan kota-kota di Asia Tenggara memiliki perbedaan dengan
perkembangan kota-kota di barat pada umumnya.
Terlalu dominannya ambisi para pemimpin negara-negara pascakolonial di Asia Tenggara
dalam pembangunan ekonomi tampaknya justru yang menjadi kendala bagi terwujudnya
penataan kota yang diharapkan.
Menurut McGee (1967) to built efficient and stable nation-states has dominated the energies
of the governments to such an extent that the kind of economic and social development which
might have been the basis for the growth of new patterns of urban development has not gone
off the ground. Consequently, the role of cities has been very different from that which they
played during a comparable period of city growth in Western Europe.
Terbentuknya sebuah ruang, atau the production of space, dalam kaitan ini adalah
terbentuknya sebuah ruang perkotaan (urban space), menurut Lefebvre adalah hasil dari
proses sosial dan interaksi antara yang terus menerus dari pihak-pihak yang menghuni ruang
itu. Pihak-pihak yang memiliki kekuasaan terbesar, bisa pemerintah kota atau kelas sosial
ekonomi yang dominan, merupakan kekuatan yang biasanya paling berpengaruh terhadap
perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam sebuah kota. Sebuah ruang perkotaan
(urban space), mengikuti pendapat Lefebvre, pada dasarnya adalah sebuah produk sosial
(social product), atau dalam arti yang lebih luas adalah sebuah kontruksi sosial yang bersifat

L-114

kompleks - didasari oleh nilai-nilai dan produksi sosial makna-makna (meanings) - yang
mempengaruhi praktek-praktek (practices) dan persepsi-persepsi (perceptions) yang bersifat
spasial dalam kurun sejarah tertentu.6
Nas and Boenders (2002) yang banyak melakukan penelitian tentang kota di Indonesia,
mendefinisikan kota sebagai sebuah totalitas fenomena sosial, meliputi keseluruhan aspekaspek, mencakup hal-hal yang bersifat material maupun yang bersifat sosial, kultural, linguistik,
politik, dan ekonomi, a total social phenomenon, and constitute all sorts of aspects,
encompassing the material as well as the social, cultural, linguistic, political, and the economy.
Dengan singkat bisa dikatakan bahwa setiap kota mengandung dalam dirinya dua dimensi:
dimensi fisik dan dimensi simbolik.
Tommy Firman (2004), seorang ahli geografi sosial, mengemukakan pengamatan yang menarik
tentang pertumbuhan kota-kota di Jawa, yang menurutnya memperlihatkan pola perkembangan
yang sangat tipikal. Perkembangan kota-kota di Jawa menurut Firman mengikuti sebuah pola
tertentu yang mengarah pada terbentuknya koridor wilayah perkotaan yang ditandai oleh
kaburnya perbedaan antara kota dan desa dan bercampurnya secara intensif aktivitas ekonomi
pedesaan dan perkotaan:shapes corridors of cities characterized by a blurring of the
differences between cities and villages and the intensive mixing of economic activities in the
rural and urban areas which basically indicates that economic development in the cities and
rural areas are interrelated to each other.
Apa yang diamati oleh Firman pada dekade 1990-an tentang pertumbuhan kota-kota di Jawa
sesungguhnya bukanlah sesuatu yang aneh, karenapada akhir dekade 1960an, Terry McGee,
telah meminjam konsep Geertz (1963) tentang involusi dalam praktik pertanian di Jawa, untuk
menjelaskan apa yang disebutnya sebagai urban involution di kota-kota di Asia Tenggara.
Involusi perkotaan yang dimaksud Terry McGee (bersama W.R. Armstrong, 1986) adalah as
an overdriving of an established form in such a way that it becomes rigid through an inward over
elaboration of detail.Menurut McGee dan Armstrong, telah terjadi pembenaman ekonomi bazar
oleh ekonomi kapitalis kolonial dan ekstraksi surplus ekonomi yang menyebabkan tidak
mungkin terjadinya akumulasi dan tertutupnya investasi dalam ekonomi bazar.
Involution was used by Armstrong and McGee (1986):
to compare urban situations in different countries on their revolutionary
potential, particularly Indonesia and Cuba. In this comparison they presumed that
in Cuba, because of the far-reaching penetration of the capitalist economy, no
urban involution was possible, so that revolution became inevitable. Indonesia
and particularly Java, in contrast, offered involutionary opportunities to the
bazaar economy, which was later labeled the urban informal sector, and no
revolution evolved.
Selain meminjam konsep involusi dari Geertz untuk menjelaskan perkembangan perkotaan di
Asia Tenggara, Terry McGee juga secara kreatif mengintrodusir sebuah konsep baru, yaitu
desakotasasi, yang jelas diinspirasi oleh apa yang diamatinya di Indonesia.Terry McGee and
I.M. Robinson (1995, cited from Nas and Boenders, 2002) berpendapat bahwa daerah megaurban di Asia Tenggara memperlihatkan gambaran pola-pola yang berbeda dengan apa yang
6

Lihat Lefebvre (1991) The Production of Space.

L-115

terjadi di barat. Pertumbuhan kota di Asia Tenggara ternyata mengambil pola region-based
urbanization as opposed to city-based urbanization.
Jadi, pola perkembangan kota di Asia Tenggara memiliki pola urbanisasi yang berbasis wilayah,
yang berbeda dengan pola urbanisasi yang berbasis kota. Nas and Boenders (2002)
sependapat dengan McGee bahwa mitos-mitos yang selama ini ada, misalnya tentang luasnya
wilayah, unsustainability, paratisism, kemiskinan yang parah dan rendahnya kualitas hidup,
tidak memberikan perspektif yang tepat dan realistis mengenai perkembangan kota-kota besar
di Jawa, Indonesia atau di Asia Tenggara, bahkan di dunia pada umumnya. Nas and Boenders
(2002) bahkan berpendapat bahwa beberapa konsep yang berasal dari daerah ini, termasuk
urban involution dan urban subsistence production, harus dievaluasi kembali, terutama
dalam hubungannya dengan situasi dan konteks perkembangan yang baru. Sebuah mindset
yang baru diperlukan untuk menganalisis perkembangan daerah mega-urban di Asia Tenggara
pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Armstrong dan McGee sendiri beranggapan
bahwa beberapa konsep lama yang mereka perkenalkan sebelumnya tidak lagi dapat dipakai
untuk menjelaskan kenyataan-kenyataan yang baru muncul setelah periode 1990an. Mindset
yang baru ini juga memerlukan gagasan-gagasan yang segar tentang perencanaan kota.
Gagasan yang muncul dari pengalaman riset di Indonesia tentang fenomena desakota dan
diilhami oleh pertautan antara desa dan kota, serta campur aduknya pemukiman penduduk dan
penggunaan lahan, perlu disegarkan kembali.
Dalam kawasan semacam ini, menurut McGee dan Armstrong:
Traditional agriculture is found side by side with modern factories, commercial
activities, and suburban development. These regions are part of the new megaurbanized areas such as the high-density extended metropolitan region of
Jakarta and deserve further empirical and conceptual exploration. Moreover, the
cultural and even more particularly the symbolic dimension of these megaurbanized regions should be paid more detailed attention. This is particularly
pertinent in the framework of urban planning as part of a new conceptualization
of these extensively regionalized city areas.
Menurut Nas and Boenders (2002) asal-muasal kota-kota di Indonesia bisa dilacak berdasarkan
fase-fase sejarah pertumbuhannya:
... in indigenous centers, ancient coastal trade centres, and colonial settlements.
Some of the old principles of architecture and the division of space are still visible
in present-day urban society. Roughly two types of early Indonesian towns can
be distinguished, namely inland or agrarian and coastal or trade cities.
Nas and Boenders (2002) juga menunjukkan bahwa:
Since Independence, the population of Indonesia has grown tremendously, and
so have the cities both in number and in number of inhabitants. In the wake of
economic development and increasing educational possibilities, major urban
problems have appeared. Examples are the absence of laws concerning the use
of the land, which had not belonged to a traditional Indonesian land-owning
class, uncontrolled expansion of kampung settlements, water and air pollution,
and traffic congestion. The earliest urban growth was concentrated around the
open spaces in the centre of the cities, which in colonial times were built on a
spacious scale. Nowadays, the city has taken the form of a mega-urban region,

L-116

which is constituted of configurations of traditional centre and old suburbs,


incorporated villages and rural areas, and urban sprawl development comprising
completely new towns.
Di Indonesia, urbanisasidalam arti meningkatnya proporsi penduduk yang menghuni di daerah
perkotaanterutama disebabkan oleh perpindahan penduduk dari desa ke kota. Dari studi
kepustakaan kita mengetahui bahwa sejak zaman kolonial sampai akhir tahun 70-an
perpindahan penduduk di Indonesia bisa dikelompokkan menjadi limaPertama adalah
perpindahan penduduk ke daerah perkebunan, ini terutama terjadi pada masa kolonial. Kedua
adalah perpindahan penduduk yang bersifat internasional, yang jumlahnya relatif terbatas.
Ketiga adalah perpindahan dari daerah pedesaan ke daerah pedesaan lainnya atas bantuan
pemerintah, pada masa kolonial disebut kolonisasi dan setelah kemerdekaan dinamakan
transmigrasi. Keempat adalah perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke perkotaan, baik
yang bersifat permanen maupun yang nonpermanen (sirkuler atau ulang-alik). Kelima adalah
perpindahan penduduk yang bersifat tradisional atau sering juga disebut sebagai merantau
yang dilakukan misalnya oleh Orang Minangkabau, Orang Bugis, Orang Banjar, dan Orang
Madura.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota, terutama di Jawa, berhubungan erat dengan
perubahan sosial yang terjadi di daerah pedesaan setelah diperkenalkannya berbagai bentuk
teknologi baru untuk mengintensifkan pola pertanian setelah awal tahun 70-an. Dari berbagai
penelitian yang dilakukan di daerah pertanian Jawa, misalnya oleh Benjamin White (1976) serta
Masri Singarimbun dan David Penny (1976) modernisasi teknologi pertanian, selain secara
positif telah meningkatkan produksi pertanian, ternyata juga berdampak negatif karena telah
meningkatkan pengangguran. Sebagai contoh, penggunaan huller dan traktor telah secara
drastis menurunkan jumlah tenaga kerja yang bisa terlibat di pertanian. Terjadi proses
penyingkiran pekerja pertanian ke nonpertanian, seperti pekerjaan industri rumah tangga dan
perdagangan kecil-kecilan.
Sebagian dari mantan pekerja pertanian yang tidak tertampung di off-farm employment
pedesaan inilah yang memilih untuk mengadu nasib dan mencari pekerjaan di daerah
perkotaan. Berdasarkan penelitian Anne Booth dan Sundrum (1981) yang dilakukan pada akhir
tahun 1970an, ditemukan adanya perbedaan yang besar antara pendapatan pekerja di
pedesaan dan perkotaan, terutama di Jawa. Perbedaan pendapatan antara kota dan desa jelas
berpengaruh besar terhadap membanjirnya penduduk dari desa ke kota, karena di kota, dalam
persepsi para migran ini, kehidupan ekonomi mereka akan menjadi lebih baik jika dibandingkan
kalau mereka tetap di desa.
Selain melakukan modernisasi pertanian, sejak awal tahun 1980-an, pemerintah pusat di
Indonesia memberikan perhatian besar pada perbaikan sarana-sarana publik, terutama jalan
raya, kereta api, pelabuhan, dan lapangan terbang. Dalam bidang sosial, perhatian pemerintah
pusat adalah pada perbaikan sarana pendidikan, dimana program wajib belajar merupakan
prioritas penting. Selain di bidang pendidikan, pemerintah juga melakukan peningkatan di
bidang pelayanan kesehatan masyarakat dan mengkampanyekan program keluarga
berencana. Masyarakat di daerah pedesaan di Jawa seolah-olah mengalami revolusi mental
karena banyaknya program-program pembangunan baru, yang mereka terima secara
langsung maupun melalui radio dan televisi yang merambah desa-desa bersamaan dengan
diperluasnya jaringan listrik ke berbagai pelosok Jawa.
Perbaikan jalan dan saluran
komunikasi, disatu sisi dan meningkatnya aspirasi masyarakat akibat pendidikan disisi lain; tak
pelak lagi telah mengakibatkan pasang naik aspirasi masyarakat akan pekerjaan yang lebih
baik dan kesejahteraan ekonomi yang lebih memadai.Tidak aneh jika banyak pengamat

L-117

Indonesia saat itu berpendapat: The combination of the increase in education, health services
and the availability of transportation and communication facilities have caused rising hopes and
aspirations of rural young people which resulted in the movement to urban centers.
Dalam kaitan ini, Tirtosudarmo (1985) berdasarkan studinya tentang migrasi desa-kota di Jawa
Timur menyimpulkan sebagai berikut:
... the various structural changes in East Java during the last 30 years, as well as
creating a dichotomy between the rural 'push' and the urban 'pull' at the societal
level, also affected the individual, either directly or indirectly, by changing the
costs and benefits of migration. For example, the young, educated and
unmarried population would be more likely to migrate than their older, less
educated, and married counterparts, primarily because the former were able to
adapt easily to the new situations that resulted from structural changes in the
society. In addition, it is likely that the personality characteristics of the migrants,
such as more adventurous behaviour, willingness to take risk, and ease of
adjusment, were also important factors in migration decision making. Finally, the
presence of relatives and friends in urban destinations played a critical role in the
migration decision, especially in mediating information about the urban
destination as well as providing assistance for migrants in the new place of
destinations.
Dalam literatur tentang migrasi desa-kota di Indonesia, daerah perkotaan sebagai tujuan
migrasi mendapatkan perhatian yang lebih besar daripada daerah pedesaan. Seperti juga yang
terjadi dengan studi perkembangan kota atau urbanisasi, Jakarta merupakan obyek yang paling
banyak diteliti, dan diperlihatkan disana bahwa migrasi desa-kota merupakan penyumbang
terbesar dari pertumbuhan kota Jakarta, tidak saja secara demografis, tetapi juga secara sosial
dan ekonomi. Sejarah membuktikan bahwa Jakarta telah dibangun oleh para migran.
Fenomena mudik setiap lebaran yang memperlihatkan kembalinya jutaan warga kota, terutama
Jakarta, ke kampung asalnya masing-masing untuk merayakan lebaran, menjadi bukti nyata
dari besarnya jumlah migran di kota-kota.
Seperti telah diperlihatkan oleh Tommy Firman (2004) urbanisasi ternyata tidak hanya dialami
oleh kota-kota besar saja, tetapi juga oleh kota-kota menengah dan kecil di Jawa. Berdasarkan
data Sensus Penduduk (SP) 2000 dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005, terlihat
terjadinya proses urbanisasi, dalam arti peningkatan jumlah penduduk di daerah perkotaan,
yang cukup cepat di beberapa kabupaten dan kota di Jawa. Seperti terlihat dari tabel dibawah
ini, beberapa wilayah, memiliiki tingkat urbanisasi yang cukup tinggi dimana lebih dari 50 persen
penduduk tinggal di wilayah yang tergolong perkotaan, seperti Sidoarjo (> 80 persen), Kudus (>
60 persen), Jepara (> 50 persen), Tegal (50 persen), Pekalongan (90 persen), dan Cirebon ( >
50 persen).
Tingginya tingkat urbanisasi di kota-kota ini hampir bisa dipastikan disebabkan oleh tingginya
migrasi masuk dari wilayah sekitarnya yang masih bersifat pedesaan. Migrasi penduduk dari
daerah pedesaan ke perkotaan secara sederhana bisa dikarenakan oleh dua sebab: pertama,
karena semakin sempitnya lapangan kerja di desa, dan kedua, karena kota menjanjikan adanya
lapangan pekerjaan. Mengalirnya penduduk dari desa ke kota oleh karena itu tidak secara
otomatis berarti meningkatnya kesejahteraan penduduk. Bahkan sebaliknya bisa terjadi, dimana
semakin banyaknya penduduk desa yang pindah ke kota berarti semakin menurunnya tingkat
kesejahteraan penduduk. Urbanisasi karena itu justru berarti peningkatan penduduk miskin di
kota. Kenyataan inilah yang menimbulkan dugaan bahwa urbanisasi ternyata tidak berjalan

L-118

seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan kata lain yang terjadi
adalah urbanisasi yang tanpa pertumbuhan.
Figure 14 : Tingkat Urbanisasi Beberapa Kota di Pulau Jawa

Tingkat
Urbanisasi

Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk


Total
SP 2000
Sidoarjo

Kota
SUPAS
2005

SP 2000

SUPAS
2005

1,563,015 1,697,435 1,339,311 1,453,608

SP
2000

SUPAS
2005

0.857

0.856

Mojokerto

908,004

969,299

379,984

402,026

0.418

0.415

Ngawi

813,228

827,728

72,624

77,412

0.089

0.094

Tuban

1,051,999 1,063,375

198,377

203,610

0.189

0.191

Gresik

1,005,445 1,118,841

500,960

573,847

0.498

0.513

Blora

812,717

827,587

171,099

185,117

0.211

0.224

Rembang

557,781

563,122

145,757

143,390

0.261

0.255

1,148,543 1,160,546

348,159

354,002

0.303

0.305

Pati
Kudus

703,721

754,183

477,509

513,338

0.679

0.681

Jepara

968,963 1,041,360

491,910

535,264

0.508

0.514

Demak

973,674 1,008,822

266,976

264,142

0.274

0.262

1,382,435 1,400,588

755,651

761,167

0.547

0.543

256,579

263,921

0.978

0.980

1,931,066 2,044,257 1,082,736 1,135,530

0.561

0.555

Tegal
Pekalongan
Cirebon

262,272

269,177

Sumber: Diolah oleh Ayu Sadi, Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, 2009.
Keterangan: Tingkat Urbanisasi = Persentase penduduk yang tinggal di kota/ jumlah penduduk
total di wilayah tersebut

L-119

Sudah sejak tahun 1970-an, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Montgomery (1975) persoalan
pengangguran di daerah perkotaan, terutama di Jakarta, sesungguhnya sudah mulai mencuat
terutama di kalangan penduduk usia mudanya. Para migran yang berdatangan ke kota,
meskipun sebagian menyadari bahwa semakin besar resiko untuk memperoleh pekerjaan yang
layak, terbukti dari penelitian Montgomery (1975) tetap memutuskan untuk pindah ke kota.
Dampak lain dari meningkatnya pendatang dan besarnya proporsi mereka yang tidak
memperoleh pekerjaan di daerah perkotaan adalah membengkaknya apa yang kemudian
dikenal sebagai sektor informal. Para migran itu bersedia bekerja apa saja di kota untuk
bertahan hidup. Apa yang kemudian dikenal sebagai pemukiman kumuh berkembang di daerah
perkotaan dan menjadi pemandangan yang biasa disana.
Ketegangan sosial dan politik akibat membesarnya jumlah orang miskin kota meskipun belum
dirasakan pada awal tahun 1980an, telah diamati oleh Gavin Jones (1983) yang mengatakan:
...that in the case of Jakarta and Surabaya a true urban proletariat divorced from
any rural roots, is likely to develop. The migrant poor will continue to compete for
jobs and services with the local-born poor and also with the urban middle
classes. It is possible that this situation can lead to social unrest and political
conflicts.
Meningkatnya ketegangan dan konflik sosial di daerah perkotaan tampaknya merupakan
fenomena kehidupan urban yang tidak terhindarkan. Urbanisasi tidak saja berjalan tanpa
peningkatan kesejahteraan, namun juga membawa persoalan-persoalan baru karena tidak
terakomodasinya berbagai kepentingan dan aspirasi warga kota. Dalam konflik kepentingan
yang terjadi wargakota yang memiliki tingkat sosial ekonomi bawah hampir selalu menjadi
korban yang pertama.
Peningkatan penduduk yang tergolong miskin di daerah perkotaan (Figure 15 dan 16) terlihat
dengan jelas melampaui daerah pedesaan, yang jika tidak diantisipasi akan menjadikan
perkiraan Gavin Jones diatas menjadi semakin mendekati kenyataan.
Figure 15

L-120

Figure 16

Pertumbuhan kota-kota di Indonesia, sebagaimana bisa dilihat dari Peta 3 dibawah, juga
dipengaruhi oleh migrasi penduduk yang diatur oleh pemerintah melalui program transmigrasi.
Tergambar dengan dengan jelas kota-kota yang tergolong sebagai kecil-menengah tumbuh
mulai dari Aceh di ujung barat sampai ke Manokwari di ujung timur kepulauan nusantara.

Peta 3

L-121

Meskipun kota-kota kecil-menengah tumbuh secara relative merata di pulau-pulau di luar Jawa
(Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua) namun pusat-pusat pertumbuhan secara
ekonomis terbukti masih berpusat terutama di Jawa, dan sedikit di Sumatera bagian selatan
(Peta 4). Keadaan ini memperlihatkan bahwa ketimpangan pembangunan masih terus terjadi
antara Jawa dan luar Jawa meskipun beberapa upaya untuk menyeimbangkan pertumbuhan
telah diciba dilakukan antara lain melalui program transmigrasi.

Peta 4

Source: Rustiadi, E. et.al., 2011

Bab 5: Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan


Seperti kita ketahui bersama, dalam lebih dari tiga dekadepemerintahan Orde Baru, sentralitas
posisi ekonomi daerah perkotaan, terutama di Jawa, dengan pusatnya di Jakarta, Semarang,
dan Surabaya, mengalami peningkatan secara signifikan yang imbasnya bagi perubahan
ekonomi dan pertumbuhan kota-kota lain di Indonesia secara keseluruhan sangat besar
(Firman, 1992). Pembangunan jalan tol dalam beberapa tahun terakhir semakin menyatukan
kota-kota di pantai utara Jawa sebagai sebuah wilayah yang terintegrasi (integrated space).
Selain itu, Jakarta, Semarang, dan Surabaya juga memiliki pelabuhan-pelabuhan yang
menghubungkan pulau Jawa dengan pulau-pulau lain di Nusantara, seperti Sumatra (Medan,
Padang), Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, Samarinda), Sulawesi (Menado, Pare-pare,
Buton, Kendari), Maluku (Halmahera, Ambon), dan Papua (Sorong, Biak, Jayapura,
Manokwari).
Sejak tahun 2009, jembatan Surabaya Madura (Suramadu) yang menghubungkan Surabaya
(Pulau Jawa) dengan Bangkalan (Pulau Madura) semakin meneguhkan keberadaan jaringan
kota Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan (Gerbangkertosusilo)

L-122

serta kota-kota di Pulau Jawa; yangsecara keseluruhan kini terkoneksi langsung dengan Pulau
Madura. Keberadaan koridor kota-kota di Jawa ini ke depan akan semakin signifikan dengan
adanya rencana pembangunan jalan tol Trans-Jawa yang diperkirakan akan siap dalam lima
tahun serta adanya rencana pembangunan jembatan penghubung Merak (Banten) dengan
Bakuheni (Lampung). Proses pengintegrasian wilayah Pantura bisa diduga memilili implikasi
yang besar terhadap dinamika sosial kota-kota dan warga masyarakat yang menghuninya.
Oleh karena itu, pemahaman yang tepat dan sistimatis tentang dinamika sosial yang terjadi
sejalan dengan proses urbanisasi dan pertumbuhan kota-kota di Indonesia merupakan sesuatu
yang sangat penting untuk dapat mengantisipasi berbagai implikasi sosial maupun politik di
masa yangakan datang.
Berikut ini adalah beberapa implikasi yang perlu mendapatkan perhatian yang serius dari para
perencana maupun pengambil kebijakan sehubungan dengan proses urbanisasi dan
perkembangan perkotaan di Indonesia:
1. Secara ekonomis semakin terkonsentrasinya penduduk di daerah perkotaan akan
mendorong kebutuhan akan kesempatan kerja di sektor industry dan jasa. Kebutuhan
akan kesempatan kerja di daerah perkotaan akan menjadi semakin mendesak karena
struktur umur penduduk yang didominasi oleh mereka yang berusia muda. Saat ini
secara demografis Indonesia dikatakan memiliki bonus demografi dan window of
opportunity yang perlu mendapatkan perhatian secara sungguh-sungguh, khususnya
dari para penyelenggara negara. Kegagalan dalam menyerap tenaga kerja di daerah
perkotaan akan memiliki dampak sosial dan politik yang serius.
2. Proses urbanisasi dan perkembangan kota-kota yang relative cepat dapat dipastikan
mendorong terjadinya perubahan dan transformasi struktur dan sistim social yang ada
beserta nilai-nilai kebudayaan (cultural values) yang ada. Urbanisme atau gaya hidup
urban (urban life style) yang sangat dipengaruhi oleh konsumerisme diduga akan
menjadi kecenderungan hidup penduduk di perkotaan. Persoalan yang harus
mendapatkan dalam kaitan ini adalah adanya perbedaan akses yang dimiliki oleh
kelompok-kelompok masyarakat bedasarkan kemampuan ekonomi yang dimiliki.
Berbagai indicator ekonomi memperlihatkan terjadinya income gap yang semakin tinggi
antara mereka yang kaya dan yang miskin. Jika ketimpangan social dan ekonomi antara
kelompok-kelompok masyarakat ini terus terjadi bisa diduga akan meningkatkan potensi
timbulnya ketegangan hubungan social yang serius, dan jika situasi politik memburuk,
bisa mengarah pada munculnya konflik di masa mendatang.

3. Daerah perkotaan yang semakin meningkat jumlahnya, terutama di Jawa, menjadi


tempat pemukiman dari mereka yang tergolong terdidik dan secara social bisa disebut
sebagai kelas menengah di Indonesia. Terkonsentrasinya penduduk yang tergolong
sebagai kelas menengah di daerah perkotaan bisa diduga akan berpengaruh terhadap
arah perkembangan politik dan demokrasi di negeri ini. Sistim politik yang semakin
terbuka secara teoretis akan memberikan ruang kebebasan mengekspresikan pendapat

L-123

yang semakin besar bagi warganegara. Penduduk kota-kota di Indonesia yang sebagian
tergolong sebagai kelas menengah yang terdidik secara teoretis akan menjadi agenagen perubahan social dan politik menuju tercapainya konsolidasi politik di masa yang
akan datang. Para pemimpin politik di negeri ini oleh karena itu dihadapkan pada
pilihan-pilihan politik untuk semakin memberikan ruang politik yang lebih demokratis di
masa depan. Jika ini tidak terjadi, agenda politik masa depan Indonesia bisa
diperkirakan akan dibayang-bayangi oleh instabilitas politik dan ini akan berakibat pada
gagalnya pencapaian konsolidasi demokrasi yang diharapkan.
4. Berbagai isu global yang berkaitan dengan lingkungan hidup diduga akan semakin kuat
imbasnya bagi Indonesia. Proses urbanisasi dan ekspansi wilayah perkotaan dipastikan
akan semakin berdampak pada berkurangnya lingkungan persawahan dan wilayah hijau
pada umumnya. Secara umum daya dukung lingkungan (environmental carrying
capacity) akan semakin memburuk. Selain itu, tanpa adanya perencanaan tata-ruang
yang baik disertai perencanaan social-ekonomi yang memadai persoalan pemukiman,
persoalan transportasi dan wilayah-wilayah kumuh akan semakin tidak terkendali
perkembangannya. Dampak perubahan iklim dan pemanasan global (climate change
and global warming) yang semakin luas disadari di negara-negara maju seringkali
terlambat disadari di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Advokasi akan
perlunya peningkatan kesadaran penduduk, khususnya di daerah perkotaan tentang
berbagai dampak negative dari menurunnya kondisi lingkungan haruslah menjadi
agenda politik yang perlu ditangani secara serius baik oleh pemerintah, pihak swasta
maupun kalangan masyarakat sendiri. Kegagalan dalam melakukan hal ini hampir bisa
dipastikan akan menjadi lingkungan hidup di perkotaan Indonesia menjadi unlivable dan
unsustainable di masa depan.
5. Perencanaan pembangunan jangka panjang, seperti MP3EI, sudah seharusnya
meperhatikan perkembangan makro-spasial Indonesia yang terlalu menekankan
pertumbuhan ekonomi di kawasan perkotaan di pantai utara Jawa, dengan spillovernya
kekota-kota di Sumatra dan Bali-Lombok. Rencana pembangunan jembatan Selat
Sunda dan pembangunan Tol-Trans Java menunjukkan kuatnya pembangunan ekonomi
yang bersifat Jawa-sentris, dengan Jakarta, semarang dan Surabaya sebagai the main
economic growth centers. Dampak dari kecenderungan pembangunan semacam ini
sudah terlihat dengan cepatnya proses aglomerasi di wilayah yang selama ini kita kenal
sebagai Jabodetabek, Kedungsepur dan Gerbangkertosusilo, yang menjadikan Jakarta,
Semarang dan Surabaya sebagai mega-cities. Dalam jangka panjang perkembangan ini
akan mengancam eksistensi Indonesia yang secara geografis sebagai negara
kepulauan (archipelagic state) karena ketimpangan pembangunan Jawa-Luar Jawa
secara geo-politik akan memperlemah Indonesia sebagai sebuah kesatuan bangsa, dan
jika hal ini dibiarkan akan mengancam ke-Indonesiaan yang adil dan sejahtera yang
dicita-citakan oleh para pendiri bangsa dan negara Indonesia.
Kompleksitas

permasalahan

yang

merupakan

implikasi

dari

proses

urbanisasi

dan

L-124

perkembangan perkotaan di Indonesia sebagaimana diutarakan diatas kita sadari bahwa


sebagian, kalau tidak dikatakan sebagian besar, merupakan akibat dari berbagai kebijakan di
masa lalu yang seringkali bersifat ad hock dan mengabaikan berbagai master plan yang
sesungguhnya telah dibuat. Jika mentalitasadhocracy ini tidak dirubah maka dapat
dibayangkan bahwa proses urbanisasi dan perkembangan perkotaan di Indonesia akan menuju
pada apa yang disebut sebagai unsustainable development. Untuk menghindari terjadinya
scenario masa depan yang buruk ini, beberapa langkah kongkrit dan praktis harus segera
dilakukan;
1. Perlu dilakukan integrasi dan sinkronisasi antara berbagai master plan pembangunan
yang berkaitan dengan tata-ruang yang telah ada, seperti MP3EI, dan rencana-rencana
pembangunan yang berbasis sector serta daerah, khususnya pada tingkat provinsi dan
kabupaten, agar dapat dirancang dan diestimasi scenario-skenario hubungan antara
perubahan tata-ruang, khususnya di daerah perkotaan, dengan proyeksi dinamika
kependudukan (population dynamics) yang dibayangkan. Idealnya pekerjaan ini
dilakukan oleh sebuah lembaga nasional di titingkat pusat, misalnya Bappenas.
2. Pada level provinsi dan kabupaten, sejalan dengan perkembangan kebijakan
desentralisasi dan otonomi daerah, sudah waktunya disadari oleh para pimpinan
pemerintah daerah bahwa perencanan pengembangan perkotaan tidak mungkin
dilakukan secara sendiri-sendiri karena arus barang, modal dan tenaga kerja akan
bersifat borderless dan tidak bisa diasumsikan bisa dikontrol secara sepihak oleh
masing-masing daerah. Untuk mencapai distribusi modal, barang dan tenaga kerja yang
dapat memberikan dampak positif bagi semua pihak, kerjasama antar daerah yang
sejauh ini telah berkembang, perlu ditingkatkan kinerjanya, khususnya dalam bentuk
kerjasama-kerjasama regional yang bersifat win-win solution. Upaya Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo untuk mengajak pimpinan daerah di wilayah Jabodetabek adalah
contoh yang baik dari upaya semacam ini.

3. Berkembangnya ekonomi pasar dan globalisasi informasi, telah menjadikan masyarakat,


terutama kelas menengah di daerah perkotaan semakin kritis terhadap berbagai isu
social, politik dan lingkungan yang jika tidak diatasi akan membahayakan bagi
kelangsungan hidup mereka dan generasi yang akan datang. Berbagai gerakan social
masyarakat telah tumbuh menjamur di berbagai kota di Indonesia. Sekedar sebagai
contoh, hampir disetiap kota besar selalu diberlakukan car free day yang
memperlihatkan mulai tumbuhnya tentang kesadaran dan tuntutan wargakota akan
lingkungan hidup perkotaan yang sehat. Komunikasi antara pemerintah kota, pihak
swasta dan berbagai forum wargakota sudah saatnya dibuka dan dicari mekanisme
yang paling efektif untuk mencari solusi-solusi alternatif secara bersama, dari berbagai
problem perkotaan sebagai dampak kebijakan masa lalu dan antisipasi kedepan
sebagai dampak dari berbagai perubahan yang akan terjadi.

L-125

Daftar Kepustakaan:
Booth, A., & Sundrum, R. M. (1981).Income distribution. In A. Booth & P. McCawley (Eds.),
The Indonesian economy during the Soeharto era (pp. 181217). Kuala Lumpur: Oxford
University Press.
Demeny, Paul and Geoffrey McNicoll (2003) Encyclopedia of Population. New York: Thompson
Gale.
Evers, H. D. (2005, August 13). The end of urban involution and the cultural construction of
urbanism in Indonesia. Paper presented at the Asian Horizons: Cities, States and Societies
conference. Department of Sociology, National University of Singapore.
Firman, T. (2003). The spatial pattern of population growth in Java, 19902000: Continuity and
changein extended metropolitan formation. International Development Planning Review, 25(1),
5366.
Firman, T. (2004).Demographic and spatial patterns of Indonesias recent
urbanization.Population,Space and Place, 10(6), 421434.
Hugo, G. (1978). Population mobility in West Java. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Jones, G. (1983). Structural change and prospects for urbanization in Asian countries (Eastwest
Population Institute Paper No. 88). Honolulu: East-west Center.
Jones, G., & Douglass, M. (Eds.). (2008). Mega-urban regions in Pacific Asia: Urban dynamics
ina global era. Singapore: NUS Press.
Kompas. (2008). Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan jurnalistik Kompas (The AnyerPanaroekan expedition: A Kompas journalistic report). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Leaf, M. (2008, December 911). New urban frontiers: Periurbanization and
(re)territorializationin Southeast Asia. Paper presented at the Trends in Urbanization and
Periurbanization inSoutheast Asia regional conference, organised by Center for Urban and
Development Sudies(CEFURDS) and IUMR 151 IRD-University of Provence, Ho Chi Minh City.
Mamas, S. G. M., & Komalasari, R. (2008).JakartaDynamics of change and livability. In
G. Jones & M. Douglass (Eds.), Mega-urban regions in Pacific Asia: Urban dynamics in a
global era (pp. 109149). Singapore: NUS Press.
Manning, C. (1998). Indonesian labor in transition: An East Asian success story? Cambridge:
Cambridge University Press.
McGee, T. G. (1967). The Southeast Asian city. London: G. Bell and Sons.
Montgomery, R. D. (1975). Migration, employment and underemployment in Java: Changes
from1961 to 1971 with particular reference to the green revolution. Asian Survey, 15(3), 222
234.
Nas, P. J., & Boenders, W. (2002).The Indonesian city in urban theories. In P. J. Nas (Ed.), The

L-126

Indonesian town revisited (pp. 316). Munster: Lit Verlag/Institute of Southeast Asian Studies.
Santoso, J. (2006). Kota tanpa warga (City without citizens). Jakarta: KPG and Centropolis.
Sinaga, R. (1978). Implications of agricultural mechanization for employment and income
distribution.Bulletin of Indonesian Economic Studies, 14(2), 102111.
Singarimbun, M., & Penny, D. H. (1976).Penduduk dan kemiskinan: Kasus Sriharjo di pedesaan
Jawa[Population and poverty: The case of Sriharjo in villages of Java]. Jakarta: Bhratara
Aksara.
Sulistiyono, S. T. (1998). Perkembangan Pelabuhan Cirebon dan Pengaruhnya Terhadap
Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Kota Cirebon [The development of Cirebon Port and
its impact on the socio-economic livelihood of Cirebon citizens]. Master thesis, Gajah Mada
University, Yogyakarta, Indonesia.
Tirtosudarmo, R. (1985). Migration decision making: The case of East Java. Jakarta: Leknas
LIPI.
Tirtosudarmo, R. (2010). Social transformation in the Northern coastal cities of Java: A
comparativestudy in Cirebon and Gresik. Journal of Indonesian Social Science and Humanities
161170.Jakarta: Kerjasama KITLV, LIPI, and YOI.
Tirtosudarmo, R., & Meyer, P. (1993).Migration. In H. Dick, J. J. Fox, & J. Mackie (Eds.),
Balanceddevelopment: East Java in the New Order (pp. 101119). Singapore: Oxford University
Press.
White, B. (1976). Population, involution and employment in rural Java.Development and
Change,7(3), 276290.

L-127

Urbanisasi menurut Encyclpedia ofPopulation


of Population
(Demeny andMcNicoll,2003)

Urbanisasi dan Perkembangan


Perkotaan diIndonesia
Riwanto Tirtosudarmo

Urbanization is the process by which an


increasing proportion of the population lives in
urban areas. The level of urbanization is the
proportion of population living in urban areas.
Urbanization must be distinguished from
urbanism, a term referring to the style of life
usually
ll found
f
d in
i large
l
urban
b centers.

Urbanisasi adalah sebuah gejala sosial yang sangat penting


dari penduduk sebuah negara.
Sebagai sebuah proses, urbanisasi dapat menjadi indikator
dari terjadinya
j
y transformasi sosial,, ekonomi,, p
politik dan
kebudayaan yang dialami oleh sebuah bangsa
Dalam konteks dinamika kependudukan (population
dynamics) di Indonesia urbanisasi adalah sebuah proses
sosial yang penting selama 50 tahun terakhir perjalanan
bangsa ini.

TingkatUrbanisasi perProvinsi

Dalam
l
perspektif
k if kependudukan,
k
d d k
dipengaruhi oleh tiga aspek yaitu :

proses

urbanisasi
b i i

(1) pertumbuhan alamiah, di daerah perkotaan itu sendiri,


p
g
g
(2) pertambahan
netmigrasi,
antara migrasi
masuk dan
keluar;
(3) reklasifikasi dari daerahdaerah perurban di sekitar
k
kota
yang dianggap
di
tidak
id k lagi
l i sebagai
b i daerah
d
h perdesaan,
d
dan secara administrative diputuskan untuk menjadi
bagian dari wilayah perkotaan.
perkotaan

Gambaran Urbanisasi di Indonesia

Angka
k Nasional
i
l adalah
d l h 50.4persen
0
Tertinggi di Jakarta(100persen)dan terendah dei
NTT(kurang dari 20persen)
Tingkaturbanisasi
g
di Jawa saat ini telah
mendekati 75persen dan diperkirakan terus
meningkat pulau Jawa telah menjadi pulau
kota
g urbanisasi tercepat
p antara 1971
Perkembangan
saatini berada provinsiprovinsi Jawa,Riau
p
y Batam),Lampung
p g
Kepulauan
(khususnya

Gambaran Urbanisasi di Indonesia

Pada dekade 70anpenyebab utama


p
g
peningkatan
urbanisasi di Indonesiaadalah
pertambahan penduduk alamiah dan
reklasifikasi
Pada tahun 90ansampai saat ini penyebab
utama urbanisasi
b
adalah
l h migrasi desa kota
k

KotaKotaTransmigrasi

Sejarah Perkembangan Perkotaan di Indonesia

Dimulai di daerah pesisir dan aliran sungai


(
p
)
(sarana
transportasi)
Mengikuti pola pembangunan infrastruktur
jalan (anyer panarukan)dan
panarukan) dan sentrasentra
sentra sentra
ekonomi (misal transmigrasi)

Problemdan Prospek Perkotaan

SStudi
di urbanisasi
b i i di negara berkembang
b k b
umumnya
difokuskan terhadap perkembangan kotakota
b
besar
atau
t megacities,seperti
iti
ti Jakarta,Surabaya,
J k t S b
KualaLumpur,Bangkokdan HoChiMinCity.
Kotakota besar itu memang memperlihatkan
perkembangan spasial yangsangat fenomenal,
Kotakota besar merupakan pusat ekonomi dan
politik yangimbasnya sangat besar bagi
perkembangan ekonomi,sosial maupun politik
dari keseluruhan negara yangbersangkutan.

Perkembangan kotakota
kota kota di Jawa (Indonesia)
(Indonesia)
mengikuti sebuah pola tertentu yang
mengarah pada terbentuknya koridor wilayah
perkotaan yangditandai oleh kaburnya
perbedaan antara kota dan desa dan
bercampurnya secara intensif aktivitas
ekonomi pedesaan dan perkotaan (desakota).

Implikasi Perkembangan Urbanisasi yangada


yang ada
Secara ekonomis semakin terkonsentrasinya
terkonsentrasin a penduduk
pend d k di daerah
perkotaan akan mendorong kebutuhan akan kesempatan kerja di
sektor industry dan jasa.
Kebutuhan akan kesempatan kerja di daerah perkotaan akan menjadi
semakin mendesak karena struktur umur penduduk yang didominasi
oleh
l h mereka
k yang berusia
b
i muda.
d
g
Saat ini secara demografis
Indonesia dikatakan memiliki bonus
demografi dan window of opportunity yang perlu mendapatkan
perhatian secara sungguhsungguh, khususnya dari para
penyelenggara negara.
Kegagalan dalam menyerap tenaga kerja di daerah perkotaan akan
memiliki dampak sosial dan politik yang serius.

Urbanisme atau gaya hidup urban (urban life style) yang sangat
di
dipengaruhi
hi oleh
l h konsumerisme
k
i
did
diduga
akan
k
menjadi
j di
kecenderungan hidup penduduk di perkotaan.
Persoalan yang harus mendapatkan dalam kaitan ini adalah
adanya perbedaan akses yang dimiliki oleh kelompok
kelompok
kelompok masyarakat bedasarkan kemampuan ekonomi yang
dimiliki Jika ketimpangan
p g social dan ekonomi antara kelompok
p
kelompok masyarakat ini terus terjadi bisa diduga akan
meningkatkan potensi timbulnya ketegangan hubungan social
yang serius, dan jika situasi politik memburuk, bisa mengarah
pada munculnya konflik di masa mendatang

Terkonsentrasinya
y p
penduduk yyangg tergolong
g
g sebagai
g kelas menengah
g
di daerah perkotaan akan berpengaruh terhadap arah perkembangan
politik dan demokrasi di negeri ini.
Sistim politik yang semakin terbuka secara teoretis akan memberikan
ruang kebebasan mengekspresikan pendapat yang semakin besar
bagi warganegara.
Penduduk kotakota di Indonesia yang sebagian tergolong sebagai
kelas menengah yang terdidik secara teoretis akan menjadi agen
agen
agen perubahan social dan politik menuju tercapainya konsolidasi
politik di masa yang akan datang.

Proses urbanisasi dan ekspansi wilayah perkotaan dipastikan


p
pada berkurangnya
p
g y lingkungan
g
g
akan semakin berdampak
persawahan dan wilayah hijau pada umumnya.

Perencanaan pembangunan jangka panjang, seperti MP3EI, sudah


seharusnya meperhatikan perkembangan makrospasial Indonesia yang
terlalu menekankan pertumbuhan ekonomi di kawasan perkotaan di
pantai utara Jawa, dengan spillovernya kekotakota di Sumatra dan Bali
Lombok.

Tanpa adanya perencanaan tataruang yang baik disertai


perencanaan socialekonomi yang memadai persoalan
pemukiman, persoalan transportasi dan wilayahwilayah
kumuh akan semakin tidak terkendali perkembangannya.

Dampak dari kecenderungan pembangunan semacam ini sudah terlihat


dengan cepatnya proses aglomerasi di wilayah yang selama ini kita kenal
sebagai Jabodetabek, Kedungsepur dan Gerbangkertosusilo, yang
menjadikan
j dik Jakarta,
J k t Semarang
S
d Surabaya
dan
S b
sebagai
b i megacities.
iti

Advokasi akan perlunya peningkatan kesadaran penduduk,


kh
khususnya
di daerah
d
h perkotaan
k
tentang berbagai
b b i dampak
d
k
negatif dari menurunnya kondisi lingkungan haruslah menjadi
agenda politik yang perlu ditangani secara serius.
serius

Dalam jangka panjang perkembangan ini akan mengancam eksistensi


Indonesia yang secara geografis sebagai negara kepulauan (archipelagic
state) karena ketimpangan pembangunan JawaLuar Jawa secara geo
politik akan memperlemah Indonesia sebagai sebuah kesatuan bangsa.

Implikasi Kebijakan
Perlu dilakukan integrasi dan sinkronisasi antara
berbagai master plan pembangunan yang berkaitan
d
dengan
t t
tataruang
yang telah
t l h ada,
d seperti
ti MP3EI,
MP3EI dan
d
rencanarencana pembangunan yang berbasis sector
serta daerah, khususnya pada tingkat provinsi dan
kabupaten, agar dapat dirancang dan diestimasi
scenarioskenario hubungan antara perubahan tata
ruang, khususnya
kh
di daerah
d
h perkotaan,
k t
d
dengan
proyeksi dinamika kependudukan (population
dynamics) yang dibayangkan. Idealnya pekerjaan ini
dilakukan oleh sebuah lembaga nasional di tingkat
pusat, misalnya Bappenas.

P d
Pada
l l provinsi
level
i i dan
d
k b
kabupaten,
t
sejalan
j l
d
dengan
perkembangan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah,
sudah waktunya disadari oleh para pimpinan pemerintah
d
daerah
h bahwa
b h
perencanan pengembangan
b
perkotaan
k t
tid k
tidak
mungkin dilakukan secara sendirisendiri karena arus barang,
modal dan tenaga kerja akan bersifat borderless.
Untuk mencapai distribusi modal, barang dan tenaga kerja yang
dapat memberikan dampak positif bagi semua pihak,
pihak
kerjasama antar daerah yang sejauh ini telah berkembang,
perlu ditingkatkan kinerjanya, khususnya dalam bentuk
kerjasamakerjasama regional yang bersifat winwin
winwin solution
solution.

Berkembangnya ekonomi pasar dan globalisasi informasi,


informasi telah
menjadikan masyarakat, terutama kelas menengah di daerah
p
p berbagai
g isu social,, p
perkotaan semakin kritis terhadap
politik
dan lingkungan. Berbagai gerakan social masyarakat telah
tumbuh menjamur di berbagai kota di Indonesia.
Komunikasi antara pemerintah kota, pihak swasta dan berbagai
forum wargakota sudah saatnya dibuka dan dicari mekanisme
yang paling efektif untuk mencari solusisolusi alternatif secara
bersama dari berbagai problem perkotaan sebagai dampak
bersama,
kebijakan masa lalu dan antisipasi kedepan sebagai dampak
dari berbagai
perubahan yyangg akan terjadi.
g p
j