Anda di halaman 1dari 1

Ahmad Furqoni

2511100183

Perkembangan UKM di Indonesia sangat pesat. Hal ini diperkuat dari Laporan Dinas
Koperasi dan UKM tahun 2000-2010 yang menunjukkan peningkatan. Hasilnya sebanyak
57% dari PDB dari tahun 2006-2010. UMKM juga dapat dibilang tidak dapat mendapatkan
efek krisis ekonomi global.
Namun pengelolaan UKM di Indonesia belum berjalan dengan baik. Keterbatasan
dana kadang menjadi salah satu kendala dalam mengembangkan usahanya lebih lanjut. Selain
itu teknologi yang dimiliki juga masih belum maju untuk pasaran global. Salah satu solusi
dari permasalahan saat ini yaitu dengna menggunakan metode konsep praktis yang mudah
digunakan oleh pengusaha UKM.
Metode 5S merupakan salah satu metode yang praktis untuk diterapkan dalam usaha.
Tidak membutuhkan modal yang banyak untuk menerapkan metode ini.Metode ini
mengandung prinsip-prinsip metode kerja seperti seiri (sort)), seiton (set in order) , seiso
(shine) , seiketsu (standardize) , dan shitsuke (sustain). Metode ini juga banyak digunakan
dalam konsep lean manufacturing.
Salah satu contoh konsep yang mudah digunakan yaitu seiri (sort). Konsep ini
berfokus untuk menghilangkan item yang tidak bisa digunakan pada tempat kerja yang tidak
diperlukan dalam proses operasi. Metode pengidentifikasiian melalui visual banyak
digunakan dalam hal ini. Berikut ini merupakan langkah dalam melakkukan metode ini
secara mudah :
1. Mengelompokkan segala benda yang sering dipakai maupun jarang dipakai dalam
satu wadah atau kotak.
2. Perhatikan benda-benda yang sering dipakai pada saat bekerja.
3. Kategorikan benda yang sering dipakai pada rentang waktu seminggu, 3 bulan, dan 6
bulan.
4. Setelah itu kelompokkan benda dalam beberapa wadah sesuai waktu penggunaannya.
Seminggu, 3 bulan, atau 6 bulan.
Dalam penerapan 5S secara keselurahan dalam sebuah UKM, sepertinya tidak
membutuhkan biaya yang terlalu banyak. Hal yang utama dibutuhakan yaitu komitmen dari
setiap pegawai yang ada di perusahaan tersebut. Karena prinsip dari 5S itu lebih banyak
mengubah kebiasaan dari pegawai. Baik top level manajemen hingga operator harus memiliki
komitmen ini.