Anda di halaman 1dari 21

BAB III

DASAR TEORI

3.1 Kegiatan Pertambangan


Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. (Gambar 3.1)

Penyelidikan Umum

Eksplorasi
Layak

Studi Kelayakan dan AMDAL

Arsip

Tidak Layak
STOP

Persiapan Penambangan

Penambangan

Pengelolaan
Lingkungan

Pengolahan - Pemurnian

Pemasaran

Mine Closure

Gambar 3.1 Tahapan kegiatan pertambangan

15

3.1.1 Penyelidikan Umum


Penyelidikan umum merupakan langkah awal usaha pertambangan. Pada tahap
penyelidikan umum ini kegiatan ditujukan untuk mendapatkan peta temuan dan
percontoh batuan dengan cara meninjau langsung ke lapangan (geologi, tracing float,
geofisika, geokimia).
3.1.2 Eksplorasi
Penyelidikan eksplorasi merupakan kegiatan lanjutan dari penyelidikan umum yang
bertujuan untuk mendapatkan kepastian tentang endapan bahan galian tersebut yaitu
mengenai:
Bentuk, ukuran serta letak atau kedudukan endapan bahan galian
Penentuan besarnya dan mutu (kadar) cadangan
Sifat fisik dan Kimia bahan galian
Sifat fisik dan kima batuan sekelilingnya

Untuk mencari suatu endapan bahan galian tertentu perlu diketahui terlebih dahulu
lingkungan pengendapan atau terbentuknya endapan tersebut, sehingga kegiatan
eksplorasi dapat berjalan.
A. Studi Kepustakaan
Dalam kegiatan eksplorasi membutuhkan studi kepustakaan seperti halnya adalah:
Peta dasar
Peta dasar adalah gambaran atau bagian suatu daerah yang merupakan dasar
membuat peta sesuai dengan kebutuhan
Peta Geologi atau topografi
Peta yang menggambarkan sebagai litosfer terutama yang tersingkap diatas
permukaan, memiliki skala dan padanya dapat dibaca jenis batuan, kedudukan
masing-masing bagiannya, kadang-kadang juga mencantumkan adanya bahan
galian, mata air, tambang tersebut.
16

Analisa Regional
Memastikan data daerah yang sesuai dengan peta dasar, peta geologi, dapat galian
atau tidak.
Lapangan Penyelidikan terdahulu
Adalah suatu laporan memperoleh informasi eksplorasi
Teori-teori dan metode lapangan yang ada.
Geografi yang diperoleh di bumi.
Sosial Budaya dan Adat
Mengetahui keadaan lingkungan penduduk yang kita tuju, juga mengetahui dan
memastikan sosial budaya, dan adat penduduk sekitar.
Hukum
B. Pemilihan Metode Eksplorasi
Dalam Pemilihan metode eksplorasi terdapat tiga cara yaitu:
1. Cara Langsung
Pemetaan langsung
Pemboran
2. Cara tidak Langsung
Geofisika
Geokimia
3. Gabungan antara keduanya.
C. Tahapan Eksplorasi
Tahapan-tahapan dalam kegiatan eksplorasi meliputi yaitu:
1. Survei tinjau (reconnaissance)
Survei tinjau merupakan tahap eksplorasi batubara yang paling awal dengan tujuan
mengidentifikasi daerah-daerah yang secara geologis mengandung endapan batubara
yang berpotensi untuk diselidiki lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang
17

kondisi geografi, tata guna lahan, dan kesampaian daerah. Kegiatannya, antara lain,
studi geologi regional, penafsiran penginderaan jauh, metode tidak langsung lainnya,
serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala
sekurang-kurangnya 1:100.000.
Pada tahap survei awal, pertama dilakukan survei formasi cool-bearing yang terbuka
secara alami dan beberapa pengeboran untuk mengetahui kedalaman dari lapisan
batubara kearah kemiringan dengan maksud memastikan deposit batubara yang
potensial. Kemudian akan berlanjut kepada teknik eksplorasi yang lebih tinggi
menggunakan mesin dan peralatan yang spesifik. Dalam bab ini akan dijelaskan secar
ringkas mengenai survei geologi permukaan yang merupakan dasar dari semua survei
geologi. Namun, lingkup penyelidikan perlu dikembangkan, tidak hanya pada batubara
itu sendiri, tetapi juga kepada penelitian lain seperti penelitian sedimentologi batubara
dan lingkungannya, penelitian palaentologi fosil mikro dan mega, penelitian geokimia,
penelitian struktur terhadap fracture dan lain-lain.
2. Prospeksi (prospecting)
Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk membatasi daerah sebaran endapan yang akan
menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, di
antaranya, pemetaan geologi dengan skala minimal 1:50.000, pengukuran penampang
stratigrafi, pembuatan paritan, pembuatan sumuran, pemboran uji (scout drilling),
pencontohan dan analisis. Metode tidak langsung, seperti penyelidikan geofisika, dapat
dilaksanakan apabila dianggap perlu.
Logging geofisika berkembang dalam ekplorasi minyak bumi untuk analisa kondisi
geologi dan reservior minyak. Logging geofisik untuk eksplorasi batubara dirancang
tidak hanya untuk mendapatkan informasi geologi, tetapi untuk memperoleh berbagai
data lain, seperti kedalaman, ketebalan dan kualitas lapisan batubara, dan sifat
geomekanik batuan yang menyertai penambahan batubara.
Dan juga mengkompensasi berbagai masalah yang tidak terhindar apabila hanya
dilakukan pengeboran, yaitu pengecekan kedalaman sesungguhnya dari lapisan penting,

18

terutama lapisan batubara atau sequence rinci dari lapisan batubara termasuk parting
dan lain lain.
3. Eksplorasi pendahuluan (preliminary exploration)
Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta
gambaran awal bentuk tiga-dimensi endapan batu bara. Kegiatan yang dilakukan antara
lain, pemetaan geologi dengan skala minimal 1:10.000, pemetaan topografi, pemboran
dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologinya, penarnpangan (logging) geofisika,
pembuatan sumuran/paritan uji, dan pencontohan yang andal. Pengkajian awal
geoteknik dan geohidrologi mulai dapat dilakukan.
4. Eksplorasi rinci (detailed exploration)
Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kuantitas clan kualitas serta bentuk
tiga-dimensi endapan batu bara. Kegiatan yang harus dilakukan adalah pemetaan
geologi dan topografi dengan skala minimal 1:2.000, pemboran, dan pencontohan yang
dilakukan dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologinya, penampangan (logging)
geofisika, pengkajian geohidrologi, dan geoteknik. Pada tahap ini perlu dilakukan
pencontohan batuan, batubara dan lainnya yang dipandang perlu sebagai bahan
pengkajian lingkungan yang berkaitan denqan rencana kegiatan penambangan
3.1.3 Studi Kelayakan
Tujuan studi kelayakan adalah menentukan apakah suatu cebakan mineral atau batubara
dapat diusahakan secara komersial.
A. Kelayakan Lingkungan
Perusahaan wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yaitu
kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/ atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), terdiri dari:
19

1. Kerangka Acuan Anasis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL) ini merupakan bagian


awal dari penyuysunan dokumen AMDAL.
2. Dokumen AMDAL terdiri dari:
a. ANDAL (dampak positif penting dan tidak penting serta dampak negatif penting
dan tidak penting)
b. RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan)
c. RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan)
B. Kelayakan Teknis dan Ekonomis
Tahapan atau Tingkatan Studi:
a. Tahap paling awal; biasanya disebut penelitian pendahuluan
i. Pada umumnya berdasarkan data sementara / tak lengkap dan yang
keabsahannya masih diragukan
ii. Hasilnya

biasanya

merupakan

suatu

dokumen

intern

dan

tidak

disebarluaskan di luar perusahaan yang bersangkutan


iii. Disamping untuk meninjau kemungkinan diteruskannya proyek ini, tujuan
lainnya adalah menentukan topik yang harus dievaluasi secara mendalam
pada studi yang lebih rinci, dimasa yang akan datang.
b. Tahap Pra-Kelayakan
i. Data yang digunakan lebih lengkap dan kualitasnya lebih baik
ii. Beberapa pekerjaan paling tidak telah dilakukan untuk semua aspek penting
dari proyek seperti pengujian metalurgi bijih, geoteknik, lingkungan, dsb.
c. Tahap Kelayakan Akhir
i. Sering pula disebut sebagai bankable feasibility study. Hasilnya merupakan
suatu bankable document yang pada umumnya ditujukan pada pencaran
modal untuk membiayai proyek tersebut. Inilah sebabnya dokumen yang
dihasilkan biasanya disebarkan di luar perusahaan ybs.
ii. Semua aspek utama harus dibahas dalam tahap ini. Hampir semua aspek
tambahan harus dibahas pula.
3.1.4 Persiapan Penambangan (Development)
20

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan development yaitu :
1. Faktor Lokasi
a. Kemudahan mengangkat mineral/batubara (produk) ke pasar dan juga
mengangkut kebutuhan tambang.
b. Kemudahan memperoleh tenaga kerja yang mampu dalam hal service peralatan
(termasuk penyediaan perumahan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dll).
2. Faktor Geologi dan Alam
a. Topografi dan terrain.
b. Spatial relation (size, shape, attitude, etc) of ore body, incluiding depth.
c. Pertimbangan geologi/mineral, petrografi, struktur, genesa, badan bijih,
temperatur, gradien batuan, air tanah, dll.
d. Sifat mekanika tanah (kekuatan, modulus elastisitas, kekerasan, abrasive, dll).
e. Sifat kimia dan metalurgi (pengaruh karena penyimpanan, pengolahan,
peleburan,dll).
3. Faktor Sosial, Ekonomi, Politik dan Lingkungan
a. Kependudukan dan tenaga kerja local yang berkeahlian (sedapat mungkin tenaga
local).
b. Pembiayaan dan pemasaran (skala operasi dan kesinambungan operasi).
c. Kestabilan politik pemerintah.
d. Peraturan pencemaran air, udara, limbah (buangan), dll.
e. Bantuan dan pembatasan oleh pemerintahan terhadap penambangan.
3.1.5 Penambangan
A. Pemilihan Metode Penambangan
Dasar pemilihan metode penambangan yaitu:
1. Keuntungan terbesar yang akan diperoleh
Pada awalnya metode penambangan didasarkan pada letak endapan terhadap
permukaan (dangkal atau dalam).
2. Perolehan tambang yang terbaik dengan memperhatikan karakteristik daerah
(alamiah, geologi, lingkungan, dll).
21

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode penambangan :


1. Karakteristik spasial dari endapan
Faktor terpenting yang akan mempengaruhi dalam pemilihan suatu daerah akan
ditambang dengan tambang terbuka atau bawah tanah, laju produksi, pemilihan
metode penambangan material dan layout tambang dari cebakan.
a. Ukuran (dimensi : tebal dan penyebaran)
b. Bentuk (tabular, lentikular, massiv atau irregular)
c. Attitude (inklinasi dan dip)
d. Kedalaman (nilai : rata-rata dan ekstrim, nisbah pengupasan-SR)
2. Kondisi geologi dan hidrogeologi
Karakteristik geologi dari mineral mempengaruhi kepada pemilihan metode
penambangannya (selektif atau tidak), mineral berpengaruh kepada cara pengolahan,
dan hidrologi mempengaruhi sistem drainase dan pompa yang diperlukan.
a. Mineralogi dan petrografi (sulfida dan oksida)
b. Komposisi kimia dan kualitas (bahan tambang primer dan produk sampingan
untuk batubara : CalorValue (CV), Total Moisture (TM), Ash, Sulfur
c. Struktur geologi (lipatan, patahan, diskontinu, intrusi) dan bidang lemah (kekar,
retakan, cleavage dalam endapan bijih/cleats dalam batubara)
d. Keseragaman, alterasi, oksidasi, erosi (zona dan batas)
f. Air tanah dan hidrologi
3. Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan batuan)
Sifat mekanik material endapan dan batuan sekelilingnya pada tambang terbuka
berpengaruh pada pemilihan peralatan dan kestabilan lereng, dan pada tambang
bawah pada kelas metode: supported, unsupported dan caving).
a. Sifat elastik (kekuatan, modulus elastis, nisbah poisson, dll)
b. Perilaku elastik atau viskoelastik (flow, creep)
c. Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
d. Konsolidasi, kompaksi dan kompetensi

22

e. Sifat-sifat fisik lainnya (bobot isiSG, voids, porositas, permeabilitas, kandungan


lengasmoisture content)
4. Konsiderasi Ekonomi
Faktor ini mempengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa pengembalian dan
keuntungan
a. Cadangan (tonase dan kadar/kualitas)
b. Laju produksi (produksi per satuan waktu)
c. Umur tambang
d. Produktivitas (produksi per satuan pekerja dan waktu, misal ton/karyawan-shift)
e. Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok
5. Faktor Teknologi
a. Perolehan tambang (mine recovery)
b. Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih/batubara)
c. Fleksibilitas metode dengan perubahan kondisi
d. Selektivitas metode untuk batubara dan waste
e. Konsentrasi atau dispersi dari pekerjaan
f. Modal, pekerja, dan intensitas mekanisasi
6. Faktor lingkungan
a. Kontrol bawah tanah
b. Penurunan permukaan tanah (subsidence)
c. Kontrol atmosfir (control kualitas, control panas dan kelembaban, serta untuk
tambang bawah tanah : ventilasi)
d. Kekuatan pekerja (pelatihan, recruitment, kondisi kesehatan, dan keselamatan
kerja, kehidupan, dan pemukiman)

3.2 Metode Penambangan


Metode penambangan dapat dibagi menjadi dua yaitu, tambang terbuka (Surface
mining) dan tambang bawah tanah (Underground Mining). Tetapi dengan bertambahnya
23

kebutuhan hidup akan mineral dan dengan didukung oleh kemajuan teknologi saat ini
telah berkembang metode baru yaitu penambangan bawah laut (Underwater Mining).
Faktor-faktor yang penting dalam pemilihan metode penambangan, yaitu :
a.

Karakteristik spasial dari endapan (ukuran, bentuk, posisi kedalaman/stripping


ratio). Faktor ini merupakan penentu terpenting karena akan menentukan tambang
apa yang cocok untuk digunakan, apakah tambang dalam atau tambang terbuka
sesuai dengan besarnya produksi, metode pengangkutan, dan tata letak tambang
dalam badan bijih.

b.

Kondisi geologi dan hidrologi (mineral dan petrologi, komposisi kimia, struktur
endapan, bidang lemah). Karakteristik geologi dari endapan mineral dan massa
batuan di sekelilingnya mempengaruhi metode penambangan, terutama dalam
memilih antara metode selektif dan kapasitas penyanggaan yang diperlukan untuk
lubang bukaan. Faktor hidrologi mempengaruhi cara penirisan dari pemompaan baik
tambang terbuka atau tambang bawah tanah. Sedangkan minerologi mempengaruhi
pada penentuan pemprosesan mineral.

c.

Perhitungan ekonomis, meliputi cadangan, tingkat produksi, umur tambang,


produktivitas, perbandingan biaya dari tiap metode, karena pengaruhnya pada output,
penanaman modal, aliran kas, periode pembayaran, pinjaman dan profit, atau
keuntungannya.

d.

Faktor-faktor teknologi, meliputi mining recovery, pemilihan metode yang


sesuai terhadap perubahan kondisi, selektifitas metode dalam membedakan bijih
dengan waste, serta penyebaran aktifitas modal dan tenaga kerja.

e.

Kendala

lingkungan,

meliputi

pemeliharan,

kesehatan,

keselamatan,

kesejahteraan, dan lain-lain. Kendala ini juga mencakup iklim, sosial, politik, dan
ekonomi.
f.

Sifat-sifat geoteknik dari endapan material dan batuan sekitar dengan sifat
elastis, perilaku plastis, pola tegangan dan kompaksi.

24

Tujuan utama dalam memilih suatu metode untuk recana penambangan atau suatu
endapan mineral ini adalah dalam rangka merancang suatu system eksploitasi yang
paling efektif dengan kondisi yang ada tidak melupakan segi ekonomis.

3.2.1 Metode Tambang Terbuka


Merupakan metode penambangan yang segala aktifitas penambangannya berhubungan
langsung dengan udara luar relatif dekat dengan permukaan bumi. Secara garis besar
tambang terbuka dapat dikelompokkan ke dalam empat metode, yaitu :
a.

Open Pit/Open Mine, merupakan tambang terbuka yang diterapkan untuk


menambang endapan-endapan bijih (ore deposite), misalnya batubara, endapan bijih,
tembaga, nikel dan lain sebagainya.

b.

Quarry adalah metode penambangan yang ditujukan terhadap bahan galian nonlogam seperti kapur, marmer, andesit, granit, gypsum, zeolit, bentonit, yarosit, slate,
dan lainnya.

c.

Strip Mine adalah metode penambangan yang diterapkan terhadap endapan


bahan galian yang letaknya dekat dari permukaan, dengan posisi datar (horizontal)
atau sedikit miring. Misalnya batubara, belerang, yodium, dan lain-lain.

d.

Alluvial Mine adalah metode penambangan yang diterapkan terhadap endapanendapan alluvial seperti, bijih emas, bijih besi, bijih timah putih, bijih tembaga,
pasir,dan lain-lain.

3.2.2

Keuntungan Tambang Terbuka dibandingkan Tambang Bawah


Tanah

Adapun keuntungan yang dimiliki oleh tambang terbuka adalah sebagai berikut :
a.

Kondisi kerja lebih baik karena berhubungan langsung dengan udara luar.
25

b.

Perolehan tambang (mining recovery) lebih besar karena batas-batas endapan


lebih mudah diliat, diketahui dan dapat dimanfaatkan secara keseluruhan.

c.

Ongkos operasi penambangan per m 3 atau per ton bijih, rata-rata lebih rendah
karena tidak perlu adanya penyanggaan, ventilasi dan penerangan.

d.

Pemakaian bahan peledak bisa efisien, leluasa dan hasilnya lebih baik, karena:

Adanya bidang bebas (free face) sekurang-kurangnya dua free face.

Gas-gas beracun yang ditimbulkan oleh peledakan dapat dihembus angin


dengan cepat.

e.

Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran besar dapat lebih leluasa, sehingga
produksi lebih besar.

f.

Relatif lebih aman, karena bahaya yang mungkin timbul terutama akibat
kelongsoran juga disebabkan oleh gas-gas beracun, kebakaran dan lain-lain.

g.

Pengawasan dan pengamatan mutu bijih (grade control) lebih mudah.

3.2.3 Kerugian Tambang Terbuka dibanding Tambang Bawah Tanah


1.

Relatif para pekerja langsung dipengaruhi oleh keadaan cuaca dimana curah
hujan yang lebat atau suhu yang tinggi mengakibatkan efisiensi kerja menurun,
sehingga hasil kerja menurun.

2.

Kedalaman penggalian terbatas, karena semakin dalam penggalian maka


semakin banyak tanah penutup (overburden) yang harus digali.

3.

Alat mekanis letaknya tersebar, sehingga menyulitkan pengaturan alat-alat


angkut maupun alat gali.

4.

Adanya kesukaran pembuangan overburden.

5.

Pencemaran lingkungan besar.

3.2.4 Tahapan Kegiatan Penambangan pada Tambang Terbuka


a.

Pembabatan (land clearing)

b.

Pengupasan tanah penutup (top soil removal)

Metode pengupasan tanah penutup antara lain :

26

Metode Penggalian Timbun-balik (back filling digging method) cocok untuk tanah
penutup yang tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan batubara atau endapan bijih
(satu lapis), material atau batuannya lunak, letaknya mendatar (horizontal).

Benching system pada pengupasan tanah penutup dengan sistem jenjang (benching
system) ini sekaligus sambil membuat jenjang. Sistem ini cocok untuk tanah
penutup yang lebih tebal, bahan galian atau lapisan batubara yang tebal.

Drag scrapper system, sistem ini cocok untuk tanah penutup yang materialnya
lunak dan lepas-lepas (loose).

Multi Bucket Excavator system, sistem ini cocok untuk tanah penutup yang
materialnya lunak, tidak ada bongkah-bongkah batuan dan tidak lengket.

Cara konvensional, kombinasi alat-alat pemindahan tanah (alat gali, alat muat dan
alat angkut) seperti kombinasi antara bulldozer, truck loader dan truk curah (dump
truck).
c. Aktivasi Penunjang Penambangan
Pembongkaran / pemberaian untuk melepaskan bijih dari badan endapan, sehingga
mudah diangkut untuk proses selanjutnya.
Pemuatan (Loading) adalah serangkaian pekerjaan yang dilakukan untuk mengambil
materi kedalam suatu alat angkut atau ke dalam satu tempat penampungan.
Pengangkutan (Hauling/Transporting) adalah serangkaian pekerjaan yang dilakukan
untuk mengangkut batuan, endapan bijih, buangan, bahan penyangga, karyawan,
ataupun keperluan sehari-hari dari suatu operasi penambangan.

3.2.5 Jenis-jenis Tambang Terbuka


1.

Counter Mining Method

Cocok diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap di lereng pegunungan atau
bukit. Cara penambangan diawali dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di
daerah singkapan di sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (contour), kemudian
diikuti dengan penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah
tebing sampai mencapai batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang. Karena
27

keterbatasan daerah yang bisa menjadi sempit tetapi panjang sehingga memerlukan alatalat yang mudah berpindah-pindah, umur tambang biasanya pendek.
Counter Mining Method dibagi menjadi beberapa metode, antara lain :
a. Convensional Counter Mining
Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah dimana
batubara tersingkap. Pembongkaran lapisan tanah penutup dilakukan dengan pemboran
dan peledakan atau menggunakan dozer atau ripper serta alat muat wheel loader,
kemudian langsung didorong dan ditimbun di daerah lereng yang lebih rendah.

Gambar 3.2 Conventional Contour Mining (Anon, 1979)


b. Block Cut Counter Mining
Pada cara ini di daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok penambangan bertujuan
untuk mengurangi tanah buangan pada saat pengupasan tanah penutup di sekitar lereng.

28

Gambar 3.3 Metode Block-Cut Contour Mining (Anon, 1979)


c. Haulback Counter Mining
Merupakan modifikasi dari konsep block cut yang memerlukan suatu jenis angkutan
overburden.

Gambar 3.4 Metode Haulback Menggunakan Scrapers (Chioronis, 1987)


d. Box-cut Counter Mining
Pada metode ini lapisan tanah penutup yang sudah digali, ditimbun pada daerah yang
rata di sepanjang garis singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang rendah
yang akan membantu menyangga porsi terbesar dari tanah timbunan.

29

Gambar 3.5 Metode Box-Cut Contour Mining (Chioronis, 1987)


2. Area Mining Method
Sistem ini diterapkan untuk endapan batubara yang letaknya kurang lebih horizontal
atau hampir mendatar. Ada tiga cara penambangan Area Mining Method, yaitu :
a. Conventional Area Mining Method
Pada cara ini, penggalian dimulai pada daerah penambangan awal sehingga penggalian
lapisan tanah penutup dan penimbunannya tidak terlalu mengganggu lingkungan.
Kemudian lapisan tanah penutup ini ditimbun di belakang daerah yang sudah
ditambang.

30

Gambar 3.6 Area Mining Method (Chioronis, 1987)

Gambar 3.7 Conventional Area Mining Method (Chioronis, 1987)


b. Area Mining with Stripping Shovel
Cara ini digunakan untuk batubara yang letaknya terletak 10-15 meter (40-50) di bawah
permukaan tanah. Penambangan dimulai dengan membuat bukaan berbentuk segi
empat. Lapisan tanah penutup ditimbun sejajar dengan arah penggalian, pada daerah
yang sedang ditambang. Penggalian sejajar ini dilakukan sampai seluruh endapan digali.

31

Gambar 3.8 Area Mining with Stripping Shovel (Chioronis, 1987)


c. Block Area Mining
Hampir sama dengan conventional area mining, cara ini terbatas untuk endapan
batubara dengan tebal lapisan tanah penutup maksimal 12 meter. Block penggalian awal
dibuat dengan bulldozer. Tanah hasil penelitian kemudian didorong pada daerah
berdekatan dengan arah penggalian.

Gambar 3.9 Block Area Mining Method (Chioronis, 1987)


3. Open Pit Method/Strip Mining
Metode ini diterapkan pada lapisan batubara yang memiliki kemiringan/dip yang besar
dan curam.

32

Gambar 3.10 Open Pit Method pada Lapisan Miring (Hartman, 1987)

Gambar 3.11 Open Pit Method pada Lapisan Tebal (Hartman, 1987)

3.2.

Pemindahan Tanah Mekanis

Pemindahan tanah mekanis intinya adalah kegiatan pada lokasi tambang (khususnya
tambang terbuka) dengan menggunakan alat-alat mekanis atau alat berat yang
berhubungan dengan pekerjaan, yaitu :
1.

Penggalian (digging, breaking, loosening)

2.

Pemuatan (loading)

3.

Pengangkutan (hauling, transporting)


33

4.

Penimbunan (dumping, filling)

5.

Perataan (spreading and leveling)

6.

Pemadatan tanah atau batuan (compacting)

3.3 Kegiatan Penambangan


Adapun hal-hal yang diamati dalam proses produksi di tambang adalah :
a. Pembabatan / clearing
Land clearing merupakan kegiatan pembersihan lahan, kegiatan ini dilakukan untuk
membersihkan daerah yang akan ditambang mulai dari semak belukar hingga
pepohonan yang berukuran besar.
b. Pengupasan tanah penutup / stripping
Metode pengupasan tanah penutup
Metode Penggalian Timbun-balik (back filling digging method) cocok untuk
tanah penutup yang tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan batubara atau
endapan bijih (satu lapis), material atau batuannya lunak, letaknya mendatar
(horizontal)
Benching system pada pengupasan tanah penutup dengan system jenjang
(benching system) ini sekaligus sambil membuat jenjang. Sistem ini cocok untuk
tanah penutup yang lebih tebal, bahan galian atau lapisan batubara yang tebal.
Drag scrapper system, sistem ini cocok untuk tanah penutup yang materialnya
lunak dan lepas-lepas (loose)
Multi Bucket Excavator system, sistem ini cocok untuk tanah penutup yang
materialnya lunak, tidak ada bongkah-bongkah batuan dan tidak lengket.
Cara konvesional, kombinasi alat-alat pemindahan tanah (alat gali, alat muat dan
alat angkut)seperti kombinasi antara bulldozer, truck loader dan dump truck.
c. Aktivasi Penunjang Penambangan
Pembongkaran/pemberaian

untuk melepaskan bijih dari badan endapan,

sehingga mudah diangkut untuk proses selanjutnya.

34

Pemuatan (loading) adalah serangkaian pekerjaan yang dilakukan untuk


mengambil materi kedalam suatu alat angkut atau kedalam satu tempat
penampungan.
Pengangkutan (Hauling/Transporting) adalah serangkaian pekerjaan yang
dilakukan untuk mengangkut batuan, endapan bijih, buangan, bahan penyangga,
karyawan, ataupun keperluan sehari-hari dari suatu operasi penambangan.

35