Anda di halaman 1dari 23

Konsep Teknologi

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

Nama Anggota:
Dewi Sari Kencana (080403017)
Hendra Suantio(080403030)
Clara Theresia(080403035)
Heryanto Handoko (080403042)
Grace Aloina (080403043)

Departemen Teknik Industri


Fakultas Teknik USU
Medan
2009
BAB I PENDAHULUAN
• Latar Belakang Masalah

KRISIS ENERGI Sumber Energi Baru

Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi di ikuti dengan meningkatnya


konsumsi energi(mengakibatkan krisis energi). Meningkatnya konsumsi energi ini
diikuti oleh persediaan suplai energi yang besar dan mengakibatkan eksploitasi
sumber-sumber energi secara maksimal yang lama-kelamaan akan menyebabkan
kerusakan ekologi.Di Indonesia, meningkatnya konsumsi energi menyebabkan krisis
energi yang salah satunya seperti krisis energi lisitrik. Krisis ini terjadi karena
kurangnya pasokan energi listrik untuk masyarakat Indonesia khususnya di pulau
Jawa dan Sumatra yang terjadi pada bulan-bulan terakhir ini. Akibatnya, berbagai
wilayah di Indonesia akan mengalami pemadaman listrik bergilir hingga tahun 2010
mendatang. Karena hal itulah, perlu suatu pengembangan sumber energi baru.
• Masalah yang di timbulkan akibat sampah
Dengan berkembangnya teknologi maka berkembang pula sampah
sebagai sisa dari proses produksi dari teknologi tersebut dimana volume
sampah yang dihasilkan tiap harinya berjumlah cukup besar. Selain itu,
model penanganan sampah yang selama ini diterapkan dianggap tidak
layak karena biasanya hanya ditangani dengan penimbunan sampah di
tanah lapang terbuka (open dumping) sehingga mengakibatkan polusi
udara(produksi gas methan yang membahayakan), mengakibatkan
penyebaran penyakit bagi masyarakat spt: diare,kolera,demam berdarah, dll

• Alternatif : Pembangunan PLTSa Gedebage di Bandung


BAB II TINJAUAN TEORITIS

SAMPAH
Karakteristik sampah:
Jenis-jenis sampah: • Garbage
Berdasarkan asalnya • Rubbish atau Trash
• Sampah Organik
• Ashes
• Sampah Anorganik
Sumber sampah:
Berdasarkan bentuknya • Pemukiman penduduk
• Sampah padat • Pertanian atau perkebunan
• Sampah cair • Sisa bangunan
• Sampah gas • Perdagangan atau perkantoran
• Industri
BAB III PEMBAHASAN
• Latar belakang pendirian PLTsa di Bandung
Volume sampah yang cukup besar yang mencapai 2.785 m3 per hari atau
700 ton/hari,lalu keterbatasan kapasitas lahan untuk pembuangan akhir
(TPA) membuat pemerintah akhirnya memilih proyek pembangunan PLTSa
dimana pemerintah mengharapkan PLTSa ini untuk bisa menangani
persoalan sampah dalam jangka panjang.
Sampah sangat memungkinkan untuk dijadikan bahan bakar pembangkit
listrik karena kalori yang dihasilkan berkisar 3000-4000 kalori per kilogram
PLTSa yang akan dibangun di Indonesia khususnya di Bandung adalah
PLTSa Gedebage merupakan sebuah fasilitas pembangkitan listrik
berkapasitas 7 MW yang menggunakan sampah sebagai bahan bakarnya.
PLTSa ini akan dibangun oleh PT Bandung Raya Indah Lestari (BRIL)
diatas lahan seluas 10 hektar , 3 hektar akan digunakan untuk fasilitas
Pembangkit listrik , sedangkan 7 hektar akan digunakan sebagai sabuk
hijau mengelilingi fasilitas pembangkit
• Jenis sampah yang dipakai pada PLTSa
Jenis sampah yang ada di kota Bandung terdiri atas 25,22% bahan yang
bisa didaur ulang dan 74,78%(tidak dapat didaur ulang)bahan yang dapat
menjadi sumber energi.
Dari bahan yang bisa menjadi sumber energi tersebut, persentase beratnya:
• 42% sampah organik
• 27% sisa makanan
• 9% plastik yang tidak dapat didaur ulang
• 5% tekstil
• 3% karet
• 14% bahan lain.
• Jenis sampah yg digunakan dalam PLTSa Gedebage ini adalah Sampah
Organik. Selain itu, terdapat beberapa sampah yang tidak boleh masuk
dalam PLTSa antara lain seperti: limbah kimia, potongan beton, bahan yang
dapat meledak, tepung halus, cairan yang mudah terbakar, limbah medis,
dan sisa pengolahan limbah cair.
• Proses pengolahan sampah di PLTsa
Pada dasarnya ada dua alternatif proses pengolahan sampah menjadi
energi, yaitu proses biologis yang menghasilkan gas-bio dan proses
thermal yang menghasilkan panas. Pada kedua proses tersebut, hasil
proses dapat langsung dimanfaatkan untuk menggerakkan generator
listrik.
Perbedaan mendasar di antara keduanya ialah
1. Proses biologis menghasilkan gas-bio yang kemudian dibakar untuk
menghasilkan tenaga yang akan menggerakkan motor yang dihubungkan
dengan generator listrik.
2. Proses thermal menghasilkan panas yang dapat digunakan untuk
membangkitkan steam yang kemudian digunakan untuk menggerakkan
turbin uap yang dihubungkan dengan generator listrik.
1. Proses Konversi Termal
Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu:
• Insinerasi
Proses oksidasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik.
Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organik
dengan oksigen. Apabila berlangsung secara sempurna, kandungan
bahan organik (H dan C) dalam sampah akan dikonversi menjadi gas
karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Unsur-unsur penyusun sampah
lainnya seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasi menjadi
oksida-oksida dalam fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di gas produk.
Beberapa contoh insinerator ialah open burning, single chamber, open
pit, multiple chamber, starved air unit, rotary kiln, dan fluidized,bed
incenerator
CxHy + O2 CO2 + H20
Gambar bagian-bagian Incinerator
• Pirolisa

Proses konversi bahan organik padat melalui pemanasan tanpa kehadiran


oksigen. Dengan adanya proses pemanasan dengan temperatur tinggi,
molekul-molekul organik yang berukuran besar akan terurai menjadi
molekul organik yang kecil dan lebih sederhana. Hasil pirolisa dapat berupa
tar, larutan asam asetat, methanol, padatan char, dan produk gas.

• Gasifikasi

Proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas.


Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak
sempurna pada temperatur yang relatif tinggi (sekitar 900-1100 C).
Seperti halnya pirolisa, proses gasifikasi menghasilkan gas yang
dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000 kJ/Nm3.
2. Proses Konversi Biologis

Proses konversi biologis dapat dilakukan secara anaerobik (biogas) atau


tanah urug (landfill). Biogas adalah teknologi konversi biomassa
(sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. Proses biogas
menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry.

Konsep landfill ialah sebuah konsep landfill modern yang di dalamnya


terdapat suatu sistem pengolahan produk buangan yang baik.
dengan cara menimbunnya di dalam tanah. Di dalam lahan landfill,
limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam tanah menjadi
senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa-senyawa ini berinteraksi
dengan air yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk ke
dalam tanah dan membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate).
Jika landfill tidak didesain dengan baik, leachate akan mencemari
tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Karena
itu, tanah di landfill harus mempunya permeabilitas yang rendah.
Aktifias mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2
(pada tahap awal – proses aerobik) dan menghasilkan gas methane
(pada proses anaerobiknya).
Sistem pengambilan gas hasil biasanya terdiri dari sejumlah sumur-
sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan
dengan pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga sistem
pengambilan gas dengan pompa desentralisasi.
Gambar Modern Landfill
• Proses Kerja PLTsa Gedebage
PLTSa Gedebage menggunakan proses konversi Thermal dalam
mengolah sampah menjadi energy. Proses kerja tersebut dilakukan
dalam beberapa tahap yaitu:
1. Pemilahan dan penyimpanan sampah
 Limbah sampah kota Bandung yang berjumlah ± 500-700 ton akan
dikumpulkan pada suatu tempat yang dinamakan Tempat Pengolahan
Akhir (TPA).
 Pemilahan sampah sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan PLTSa
 Sampah ini kemudian disimpan didalam bunker yang
menggunakan teknologi RDF (Refused Derived Fuel).Teknologi
RDF ini berguna dalam mengubah limbah sampah kota menjadi
limbah padatan sehingga mempunyai nilai kalor yang tinggi.
 Penyimpanan dilakukan selama lima hari hingga kadar air tinggal
45 % yang kemudian dilanjutkan dengan pembakaran.
2. Pembakaran sampah

 PLTSa Gedebage memiliki dua tungku yang dapat digilir dimana pada
awal pengoperasiannya akan digunakan bahan bakar minyak.
 Setelah suhu mencapai 850oC – 900oC, sampah akan dimasukkan
dalam tungku pembakaran (Insenerator) yang berjalan 7800 jam.
 Hasil pembakaran limbah sampah akan menghasilkan gas buangan yang
mengandung CO, CO2, O2, NOx, dan Sox. Hanya saja, dalam proses
tersebut juga terjadi penurunan kadar O2. Penurunan kadar O2 pada
keluaran tungku bakar menyebabkan panas yang terbawa keluar menjadi
berkurang dan hal tersebut sangat berpengaruh pada efisiensi
pembangkit listrik.

3. Pemanasan boiler

Panas yang dipakai dalam memanaskan boiler berasal dari pembakaran


sampah. Panas ini akan memanaskan boiler dan mengubah air didalam
boiler menjadi uap.
4. Penggerakan turbin dan generator serta hasil.

Uap yang tercipta akan disalurkan ke turbin uap sehingga turbin akan
berputar. Karena turbin dihubungkan dengan generator maka ketika turbin
berputar generator juga akan berputar. Generator yang berputar akan
mengahsilkan tenaga listrik yang kan disalurkan ke jaringan listrik milik
PLN. Dari proses diatas dengan jumlah sampah yang berkisar 500-700 ton
tiap harinya dapat diolah menjadi sumber energi berupa listrik sebesar 7
Megawatt
• Bahaya PLTsa
Dari hasil oksidasi yang terjadi, terdapat abu terbangnya (fly ash)
yang mudah dihempas angin, bertebaran ke segala arah: vertikal,
horisontal, dan horisontal frontal. Kepulannya sarat uap logam
berat, dioksin, furan dan jelaganya kaya asam klorida dan fluorida.
Semua itu bermuara pada degradasi kesehatan kita: neurological
atau nervous system (syaraf), hepatic system (hati), renal system
(ginjal), hematopoietic atau blood-forming system (darah). Abu
terbangnya juga berefek terhadap pernapasan, ginjal, hipertensi,
tulang, sistem syaraf pusat, reduksi penglihatan, sensori,
pendengaran dan koordinasi tubuh. Timbal pun dapat mendisfungsi
sistem hematologik dan syaraf pusat, merusak fungsi
gastrointestinal, reproductive, endocrine, cardiovascular,
immunologic, menurunkan taraf kecerdasan dan menyebabkan
perilaku abnormal pada anak. Polycyclic aromatic compound,
dioksin dan furan dapat merusak paru, perut, ginjal, dan liver.
• Pengolahan Limbah
PLTSa Gedebage melakukan beberapa upaya dalam pengolahan limbahnya
sehingga tidak membahayakan masyarakat ataupun merusak lingkungan
sekitarnya.Upaya tersebut antara lain :
a. Limbah padat
Sisa pembakaran abu dan debu terbang sebesar 20% dari berat semula akan diuji
kandungannya apakah mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) atau
tidak, di laboratorium.Untuk menampung abu tersebut, di lokasi PLTSa dibuat
penampungan abu dengan kapasitas 1.400 M3, yang mampu menampung abu
selama 14 hari beroperasi.
b. Limbah gas
Sisa gas buang akan diproses melalui pengolahan dimana terdiri:
• Gas buang hasil pembakaran akan dilakukan pada squenching chamber. Dari sini
gas buang disemprot dengan air untuk menurunkan temperatur gas dengan cepat
guna mencegah dioxin terbentuk kembali dan menangkap zat pencemar udara
yang larut dalam air seperti NOx, Sox, HCL, abu, debu, dan partikulat.
• Kemudian gas yang akan dilakukan pada reaktor akan ditambahkan CaO
sebanyak 12 kg/ton sampah. Tujuannya menghilangkan gas-gas asam, Sox<
HCL, H2S, VOC, HAP, debu dan partikulat.
• Pada saat gas keluar dari reaktor, pada gas akan disemburkan karbon aktif
sebanyak 1 kg/ton sampah, bertujuan menyerap uap merkuri, dioksin, CO.
• Kemudian gas akan dialirkan ke Bag Filler dengan tujuan menyaring partikel
PM10 dan PM 2,5.
c. Limbah cair
Pada kegiatan penirisan sampah akan menghasilkan lindi dan bau. Lindi
akan ditampung kemudian diolah sampai pada tingkat tertentu. Lalu
disalurkan ke Bojongsoang untuk diolah lebih lanjut. Rencana pembuangan
hasil olahan lindi ke pengolahan air kotor Bojongsoang sesuai perjanjian
kerja sama antara PT BRIL dengan PDAM Kota Bandung.
Sedangkan bau yang ditimbulkan berada dalam bunker bertekanan negatif
sehingga tidak akan keluar tetapi tersedot dalam tungku pembakaran
sehingga tidak menimbulkan bau sampah di luar bangunan.
• Kontroversi PLTsa yang timbul
Protes terhadap adanya PLTSa Gedebage dilakukan oleh masyarakat
sekitar , terutama penghuni Perumahan Griya Cempaka Arum Gedebage
yang letaknya tak jauh dari lokasi PLTSa. 100% warga GCA menolak
PLTSa. Penolakan mereka didukung para ahli lingkungan, termasuk Walhi
Jabar. Mereka mengkhawatirkan polusi suara dan bau yang mungkin akan
mengganggu mereka. Seperti PLTU berbahan bakar fosil pada umumnya ,
PLTSa juga menghasilkan polusi udara , zat dioksin yg dihasilkan PLTU
fosil juga dihasilkan oleh PLTSa. Yang mereka maksudkan adalah
cerobong asap PLTSa hanya 35m sedangkan di Singapura 70m.
Masalahnya juga pada bagian keluarnya asap. Yang berada di Singapura
menghadap laut sedangkan yang berada di Gedebage menghadap
pemukiman warga. Jika suatu saat zat dioksin meledak dapat
menyebabkan kerusakan 1kota. Bom dioksin pernah diujicobakan dan
dapat merusak satu kota sehingga tidak dapat dikunjungi lagi karena sudah
tercemar. Dan karena masalah-masalah tersebut PLTSa Gedebage ini
masih menjadi kontroversi.
BAB IV PENUTUP
• Kesimpulan
 Sampah yang digunakan sebagai sumber bahan bakar pada
Pembangkit Tenaga Listrik sangat efisien dan efektif karena
menghasilkan kalori sebesar 3000-4000 kalori/kg jumlah sampah
yang dibakar .
 PLTSa merupakan salah satu alternatif sumber energi bagi
pemerintah kota Bandung dalam menyelesaikan masalah krisis
energi dan sampah karena dengan jumlah sampah yang berkisar
500-700 ton tiap harinya dapat diolah menjadi sumber energi
berupa listrik sebesar 7 Megawatt.
 Pemanfaatan sampah untuk PLTSa ini mempunyai dampak
negatif terhadap lingkungan hidup karena proses pengolahan
sampah menjadi sumber energi melalui proses pembakaran yang
akan meningkatkan kadar emisi CO2 dan metan yang berbahaya
bagi tubuh dan berakibat pemanasan global
• Saran

1. Pemerintah sebaiknya memberikan kebijakan atau izin dalam pengembangan PLTSa di seluruh Indonesia
karena sebagaimana telah diketahui PLTSa ini sangat berpotensi dalam mengatasi masalah kekurangan
sumber energi listrik.
2. Pengembangan dan penelitian terhadap pembangkit listrik tenaga sampah harus dilakukan agar pembangkit
tenaga listrik menjadi ramah lingkungan, efisien dan efektif.
3. Memberi penyuluhan kepada masyarakat cara-cara memisahkan sampah sehingga mempermudah dalam
pemrosesan.
4. Membuat pengolahan limbah yang memenuhi kesehatan masyarakat sekitar PLTsa.
Don’t forget!!!

TERIMA KASIH