Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN
I.1.

Latar Belakang
Penyakit TBC merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di
Indonesia. Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT 1995 )
penyakit TBC merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok umur.
Pada tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000
kasus baru TBC dengan kematian sekitar 140.000. Secara kasar diperkirakan
setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TBC paru
dengan BTA positif.
Dengan meningkatnya kejadian TBC pada orang dewasa, maka jumlah
anak yang terinfeksi TBC akan meningkat dan jumlah anak dengan penyakit
TBC juga meningkat. Seorang anak dapat terkena infeksi TBC tanpa menjadi
sakit TBC dimana terdapat uji tuberkulin positif tanpa ada kelainan klinis,
radiologis dan laboratoris.
Tuberkulosis primer pada anak kurang membahayakan masyarakat karena
kebanyakan tidak menular, tetapi bagi anak itu sendiri cukup berbahaya oleh
karena dapat timbul TBC ekstra thorakal yang sering kali menjadi sebab
kematian atau menimbulkan cacat, Misal pada TBC Meningitis.
Diagnosis yang paling tepat untuk TBC adalah bila ditemukan basil TBC
dari bahan bahan seperti sputum, bilasan lambung, biopsy dan lain lain,
tetapi hal ini pada anak sulit didapat. Oleh karena itu, sebagian besar diagnosis
TBC anak didasarkan atas gambaran klinik, gambaran radiologis dan uji
tuberkulosis.
TB merupakan salah satu penyakit menular yang penularannya mudah
sekali terjadi di dalam keluarga sehingga pengobatan TB sangat penting untuk
1

dilakukan secara holistik. Pendekatan kedokteran keluarga memungkinkan


terapi secara holistik untuk dilakukan dan menghasilkan hasil akhir yang
memuaskan.
I.2.

Tujuan
I.2.1. Tujuan Umum
Memahami permasalahan kesehatan secara menyeluruh,
berkelanjutan dengan pendekatan kedokteran keluarga.
I.2.2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan kualitas kesehatan seluruh anggota keluarga.
b. Membantu seluruh anggota keluarga untuk mengenali masalah
yang ada di dalam keluarga tersebut yang akan mempengaruhi
derajat kesehatan anggota keluarga.
c. Membantu keluarga untuk memahami fungsi-fungsi anggota
keluarga (biologis, psikologis, sosial, ekonomi dan pemenuhan
kebutuhan,

serta

penguasaan

masalah

dan

kemampuan

beradaptasi).
d. Membantu keluarga untuk dapat memecahkan permasalahan
kesehatannya secara mandiri.
e. Membentuk perilaku hidup sehat di dalam keluarga.
I.3.

Manfaat
I.3.1. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan penulis tentang kedokteran
keluarga, serta penatalaksanaan kasus TB pada anak dengan
pendekatan kedokteran keluarga.
I.3.2. Bagi Pasien dan Keluarga
a. Keluarga menjadi lebih memahami mengenai masalah
kesehatan yang ada dalam lingkungan keluarga.

b. Keluarga mampu untuk mengatasi permasalahan kesehatan


keluarga secara mandiri.
I.3.3. Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai bahan masukan kepada tenaga kesehatan agar
setiap memberikan penatalaksanaan kepada pasien anak
dengan TB dilakukan secara holistik dan komprehensif serta
mempertimbangkan aspek keluarga dalam proses kesembuhan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1.

Kedokteran Keluarga
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang
menyeluruh yang memusatkan pelayanan kepada keluarga sebagai suatu unit,
dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi
oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien juga tidak boleh organ tubuh
atau jenis penyakit tertentu. Dokter keluarga adalah dokter yang dapat
memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik
berat kepada keluarga, ia tidak hanya memandang penderita sebagai individu
yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti
secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya.3
Kriteria pelayanan kesehatan yang harus terpenuhi untuk mewujudkan
keadaan

sehat

diantaranya

adalah

tersedianya

pelayanan

kesehatan

(available), tercapai (accesible), terjangkau (afordable), berkesinambungan


(continue), menyeluruh (comprehensive), terpadu (integrated), dan bermutu
(quality).Pengertian pelayanan kesehatan disini mencakup bidang yang sangat
luas.Secara umum dapat diartikan sebagai setiap upaya yang diselenggarakan
secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk meningkatkan
dan memelihara kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan ataupun
masyarakat.
Kedokteran keluarga merupakan disiplin akademik profesional, yaitu
pengetahuan klinik yang diimplementasikan pada komunitas keluarga.Dalam

memberikan pelayanan, idealnya setiap dokter dan khususnya dokter


keluarga, menerapkan ilmu ini.
Kedokteran keluarga memiliki kekhususan yaitu :
1. Komprehensif dalam ilmu kedokteran, dalam arti tidak membatasi
disiplin ilmu kedokteran tertentu.
2. Komprehensif dalam pelayanan kesehatan.
3. Sasarannya adalah individu yang bermasalah atau yang sakit,
namun di samping menganalisis fungsi organ tubuh secara
menyeluruh, juga fungsi keluarga.
4. Disusun secara komunal, sehingga

setiap

dokter

dapat

memanfaatkan sesuai kebutuhan.


5. Bersifat universal terhadap manusia dan lingkungan.
Karakteristik Kedokteran Keluarga :
1. Melayani penderita tidak hanya sebagai orang perorang melainkan
sebagai anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota
masyarakat sekitarnya.
2. Memberikan pelayanan

kesehatan

secara

menyeluruh

dan

memberikan perhatian kepada penderita secara lengkap dan


sempurna, jauh melebihi jumlah keseluruhan keluhan yang
disampaikan.
3. Mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat
kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya penyakit dan
mengenal serta mengobati.
4. Mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan
berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.
5. Menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat
pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan.

Tujuan umum pelayanan dokter keluarga ialah terwujudnya keadaan


sehat bagi setiap anggota keluarga, sedangkan tujuan khusus :
1. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang
lebih efektif.
2. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang
lebih efisien.
Manfaat Kedokteran Keluarga :
1. Dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai
manusia seutuhnya, bukan hanya terhadap keluhan yang
disampaikan.
2. Dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan
dijamin kesinambungan pelayanan kesehatan.
3. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, pengaturannya akan lebih
baik dan terarah, terutama ditengah-tengah kompleksitas pelayanan
kesehatan saat ini.
4. Dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga
penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai
masalah lainnya.
5. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan maka
segala keterangan tentang keluarga tersebut baik keterangan
kesehatan ataupun keterangan keadaan sosial dapat dimanfaatkan
dalam menangani masalah kesehatan yang sedang dihadapi.
6. Dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi
timbulnya penyakit, termasuk faktor sosial dan psikologis.
7. Dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tatacara
yang lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan
meringankan biaya kesehatan.

8. Dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih


yang memberatkan biaya kesehatan.
Ruang lingkup pelayanan dokter keluarga mencakup bidang amat
luas sekali. Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas
dua macam :
1. Kegiatan yang dilaksanakan
Pelayanan yang diselenggarakan oleh dokter keluarga harus
memenuhi syarat pokok yaitu pelayanan kedokteran menyeluruh
cmc (comprehensive medical services). Karakteristik cmc :
a. Jenis pelayanan yang diselenggarakan mencakup semua jenis
pelayanan kedokteran yang dikenal di masyarakat.
b. Tata cara pelayanan tidak diselenggarakan secara terkotakkotak ataupun terputus-putus melainkan diselenggarakan
secara terpadu (integrated) dan berkesinambungan (continu).
c. Pusat perhatian pada waktu menyelenggarakan pelayanan
kedokteran tidak memusatkan perhatiannya hanya pada
keluhan dan masalah kesehatan yang disampaikan penderita
saja, melainkan pada penderita sebagai manusia seutuhnya.
d. Pendekatan pada penyelenggaraan pelayanan tidak didekati
hanya dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi yang terkait
(comprehensive approach) yaitu sisi fisik, mental dan sosial
(secara holistik).
2. Sasaran Pelayanan
Sasaran pelayanan dokter keluarga adalah kelurga sebagai suatu
unit.Pelayanan dokter keluarga harus memperhatikan kebutuhan
dan tuntutan kesehatan keluarga sebagai satu kesatuan, harus
memperhatikan

pengaruhmasalah

kesehatan

yang

dihadapi
7

terhadap keluarga dan harus memperhatikan pengaruh keluarga


terhadap masalah kesehatan yang dihadapi oleh setiap anggota
keluarga.
Batasan pelayanan kedokteran keluarga ada banyak macamnya.
Dua diantaranya yang dipandang cukup penting adalah:
1. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang
menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga
sebagai satu unit, dimana tanggung jawab dokter terhadap
pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis
kelamin, tidak juga oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu
saja.
2. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas
yang bertitik tolak dari suatu pokok ilmu yang dikembangkan dari
berbagai disiplin ilmu lainnya terutama ilmu penyakit dalam, ilmu
kesehatan anak, ilmu kebidanan dan kendungan, ilmu bedah serta
ilmu kedokteran jiwa yang secara keseluruhan membentuk satu
kesatuan yang terpadu, diperkaya dengan ilmu perilaku, biologi
dan ilmu-ilmu klinik, dan karenanya mampu mempersiapkan
setiap

dokter

agar

mempunyai

peranan

unik

dalam

menyelenggarakan penatalaksanaan pasien, penyelesaian masalah,


pelayanan konseling serta dapat bertindak sebagai dokter pribadi
yang mengkoordinasikan seluruh pelayanan kesehatan.
Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
banyak macamnya.Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam :
1. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan

Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek


dokter keluarga hanya pelayanan rawat jalan saja.Dokter yang
menyelenggarakan

praktek

dokter

keluarga

tersebut

tidak

melakukan pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah


atau pelayanan rawat inap di rumah sakit.Semua pasien yang
membutuhkan pertolongan diharuskan datang ke tempat praktek
dokter keluarga.Jika kebetulan pasien tersebut memerlukan
pelayanan rawat inap, pasien tersebutdirujuk ke rumah sakit.
2. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan

dan

perawatan pasien dirumah.


Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek
dokter keluarga mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan
kunjungan dan perawatan pasien di rumah.Pelayanan bentuk ini
lazimnya

dilaksanakan

oleh

dokter

mempunyai akses dengan rumah sakit.


3. Menyelenggarakan pelayanan rawat

keluarga
jalan,

yang

kunjungan

tidak
dan

perawatan pasien di rumah, serta pelayanan rawat inap di rumah


sakit.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek
dokter keluarga telah mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan
dan perawatan pasien di rumah, serta perawatan rawat inap di
rumah sakit. Pelayanan bentuk ini lazimnya diselenggarakan oleh
dokter keluarga yang telah berhasil menjalin kerja sama dengan
rumah sakit terdekat dan rumah sakit tersebut memberi

kesempatan kepada dokter keluarga untuk merawat sendiri


pasiennya di rumah sakit.

10

II.2.

Tuberkulosis Anak

II.2.1. Mycobacterium tuberculosis


Mycobacterium tuberculosis (mikobakterium) adalah bakteri berbentukbatang
aerob yang tidak membentuk spora. Pada jaringan, basil tuberkulosisadalah bakteri
batang tipis lurus berukuran sekitar 0,4x3 m. Mikobakteriumtidak dapat
diklasifikasikan menjadi gram-positif atau gram-negatif. Basiltuberkulosis ditandai
dengan tahan asam. Sifat tahan asam ini tergantung padaintegritas selubung yang
terbuat dari lilin (Jawetz, 2008).
Mikobakterium kaya akan lipid yang terdiri dari asam mikolat (asamlemak
rantai panjang C78-C90), lilin, dan fosfat. Di dalam sel, lipid banyak terikatdengan
protein dan polisakarida. Muramil dipeptida (dari peptidoglikan) yang membuat
kompleks dengan asam mikolat dapat menyebabkan pembentukangranuloma
fosfolipid penginduksi nekrosis kaseosa. Penghilangan lipid denganmenggunakan
asam yang panas menghancurkan sifat tahan asam bakteri ini, yangtergantung dari
integritas dinding sel dan adanya lipid-lipid tertentu (Jawetz,2008).
Polisakarida dapat menginduksi hipersensitivitas tipe cepat dan dapatberperan
sebagai antigen dalam reaksi dengan serum pasien yang terinfeksi(Jawetz, 2008).
II.2.1.1 Sifat Pertumbuhan
Mikobakterium bersifat aerob obligat dan mendapatakan energi
darioksidasi banyak komponen karbon sederhana. Peningkatan CO2
mendukungpertumbuhan. Waktu replikasi basilus tuberkulosis sekitar 18 jam.
Bentuksaprofitik cenderung untuk tumbuh lebih cepat, untuk berproliferasi
dengan baikpada suhu 22-23 oC, untuk memproduksi pigmen, dan tidak
11

terlalu bersifat tahanasam bila dibandingkan dengan bentuk patogennya


(Jawetz, 2008).
II.2.1.2 Reaksi terhadap Bahan Fisik dan Kimia
Mikobakterium cenderung lebih resisten terhadap bahan-bahan
kimiadaripada bakteri lainnya karena sifat hidrofobik permukaan
selnya

danpertumbuhannya

yang

berkelompok.

Bahan

celup

(misalnya, malakit hijau) atauzat antibakteri (misalnya, penisilin) yang


bersifat bakteriostatik terhadap bakterilain dapat dimasukkan ke dalam
medium tanpa menghambat pertumbuhan basiltuberkulosis. Basil
tuberkel tahan pengeringan dan dapat hidup untuk waktu yanglama
pada sputum yang dikeringkan (Jawetz, 2008).

II.2.2. Patogenesis Kuman TB


Karena ukurannya yang sangat kecil (<5 m), kuman dalam percik
renik(droplet nuclei) yang terhirup, dapat mencapai alveolus. Makrofag
alveolus akanmemfagosit kuman TB, namun sebagian kecil kasus, makrofag
tidak mampumenghancurkan kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam
makrofag.Akhirnya menyebabkan makrofag mengalami lisis dan kuman TB
membentuk koloni. Lokasi petama koloni kuman TB di jaringan paru disebut
fokus primerGhon (Kelompok Kerja TB Anak Depkes-IDAI, 2008).
Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya
kumanhingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB biasanya
berlangsung dalamwaktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12
12

minggu. Dalam masainkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai


jumlah 103-104, yaitu jumlahyang cukup untuk merangsang respon imunitas
seluler.
Kuman

TB

dapat

ditularkan

dengan

berbagai

cara,

yaitu:

(KeputusanMenteri Kesehatan, 2009)


Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.
Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara
dalambentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat
menghasilkansekitar 3.000 percikan dahak
. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak
beradadalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi
jumlah percikan,sementara sinar matahari langsung dapat
membunuh kuman.
Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang
gelapdan lembab.
Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman
yangdikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan
hasilpemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB
ditentukan olehkonsentrasi percikan dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut.
II.2.3. TB Paru Anak

13

Menurut Kartasasmita (2009), sulitnya konfirmasi diagnosis TB pada


anakmengakibatkan penanganan TB anak terabaikan, sehingga sampai
beberapa tahunTB anak tidak termasuk prioritas kesehatan masyarakat di
banyak negara,termasuk Indonesia. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir
dengan penelitian yangdilakukan di negara berkembang, penanggulangan TB
anak mendapat cukupperhatian.
II.2.3.1 Faktor Risiko
II.2.3.1.1. Risiko Infeksi TB
Anak yang terpajan dengan orang dewasa dengan TB aktif
(kontak TBpositif)
Daerah endemis
Kemiskinan
Lingkungan yang tidak sehat (higiene dan sanitasi tidak baik)
Tempat penampungan umum (panti asuhan, penjara, atau
panti perawatanlain)
Yang banyak terdapat pasien TB dewasa aktifSumber infeksi
pada anak yang terpenting adalah pajanan terhadaporang dewasa yang
infeksius, tutama dengan BTA positif. Berarti, bayi dari seorang ibu
dengan sputum BTA positif memiliki risiko tinggi terinfeksi TB.
Semakin erat bati tersebut dengan ibunya, semakin besarpula
kemungkinan

bayi

terpajan

renik

(droplet

nuclei)

yang

infeksius.Pasien TB anak jarang menularkan kuman pada anak lain


atau orangdewasa di sekitarnya.
14

Hal ini dikarenakan kuman TB sangat jarangditemukan di


dalam sekret endobronkial pasien anak. Ada beberapapenjelasan:
Jumlah kuman TB anak biasanya sedikit (paucibacillary),
tetapi karenaimunitas anak masih lemah, jumlah yang sedikit itu
mampu menyebabkansakit
Lokasi infeksi primer berkembang menjadi sakit TB primer
viasanyaterjadi di daerah parenkim yang jauh dari bronkus, swhingga
tidak terjadiproduksi sputum
Tidak ada/ sedikitnya produksi sputum dan tidak terdapatnya
reseptorbatuk di daerah parenkim menyebabkan jarangnya terdapat
gejala batukpada TB anak (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010).
II.2.3.1.2. Risiko Sakit TB
Usia.
Anak usia mulai 5 tahun kebawah mempunyI risiko
lebih besarmengalami progresi infeksi menjadi sakit TB karena
imunitas selularnyabelum berkembang sempurna (immature).
Akan retapi risiko sakit TB iniakan berkurang seiring
bertambahnya usia. Risiko tertinggi terjadinyaprogresivitas
dari infeksi menjadi sakit TB adalah selama 1 tahun
pertamasetelah infeksi, terutama selama 6 bulan singkat
(kurang dari 1 tahun) danbiasanya timbul gejala yang akut.
Infeksi baru yang ditandai dengan adanya konversi uji
tuberkulin (darinegatif menjadi positif) dalam satu tahun terakhir
15

Malnutrisi
Keadaan imunokompromais (infeksi HIV, keganasan,
transplantasi organ,dan pengobatan imunosupresi)
Epidemiologi TB
Status sosioekonomi yang rendah
Penghasilan yang kurang
Kepadatan hunian
Pengangguran
Pendidikan yang rendah
Kurangnya dana untuk pelayanan masyarakat
Virulensi dari M. tuberculosis dan dosis infeksinya (Ikatan
Dokter AnakIndonesia, 2010).

16

Umur saat infeksi Primer

Tidak Sakit

(Tahun)

<1
1-2
2-5
5-10
>10

50%
75-80%
95%
98%
80-90%

Risiko Sakit
TB Paru

TB Diseminata

30-40%
10-20%
5%
2%
10-20%

(milier, meningitis)
10-20%
2-5%
0,5%
<0,5%
<0,5%

Tabel 2.1. Risiko sakit TB pada anak yang terinfeksi TB

(Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010)

II.2.3.2. Penegakan Diagnosa


Diagnosa pasti TB ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB
padapemeriksaan sputum atau bilasan lambung cairan serebrospinal, cairan
pleura,atau pada biopsi jaringan. Pada anak, kesulitan menegakkan diagnosa
pastidisebabkan oleh 2 hal, yaitu sedikitnya jumlah kuman dan sulitnya
pengambilanspesimen, dalam hal ini adalah sputum. Jumlah kuman TB di
sekret bronkuspasien anak lebih sedikit daripada dewasa karena lokasi
kerusakan jaringan TBparu primer terletak di kelenjar limfe hilus dan
parenkim paru bagian perifer.Kuman TB baru dapat dilihat dengan mikroskop
bila jumlahnya paling sedikit 5.000 kuman dalam 1 ml sputum (Kelompok
Kerja TB Anak Depkes-IDAI,2008).

17

Kesulitan kedua, pengambilan spesimen berupa sputum sulit


dilakukan.Pada anak, walaupun batuknya berdahak, biasanya dahak akan
ditelan sehinggadiperlukan bilasan lambung yang diambil melalui nasogastric
tube (NGT) danharus dilakukan oleh petugas berpengalaman. Cara ini tidak
menyenangkan bagipasien dan sputum yang representatif untuk dilakukan
pemeriksaan mikroskopisadalah sputum yang kental dan purulen, berwarna
hijau kekuningan denganvolume 3-5 ml (Kelompok Kerja TB Anak DepkesIDAI, 2008).
II.2.3.2.1. Sistem Penilaian TB Anak
Dibuat suatu kesepakatan oleh beberapa pakar. Kesepakatan ini
untukmemudahkan penanganan anak secara luas, terutama di daerah
perifer atau padafasilitas kesehatan yang kurang memadai. Unit Kerja
Koordinasi Respirologi PPIDAI telah membuat Pedoman Nasional
Tuberkulosis Anak (PNTA) yang telahtersebar luas dan telah diadopsi
oleh Departemen Kesehatan sebagai programPemberantasan TB
Nasional.

Namun,

dalam

pelaksanaannya

terdapat

beberapakekurangan sehingga memerlukan revisi. Revisi yang


diajukan menggunakansistem penilaian (scoring system), yaitu
pembobotan

terhadap

gejala

atau

tandaklinis

yang

dijumpai

(Kelompok Kerja TB Anak Depkes-IDAI, 2008).

Tabel 2.2. Bentuk klinis TB pada anak


InfeksiTB

18

Ujituberkulinpositiftanpakelainanklinis,
radiologis,danlaboraorium
PenyakitTB

TBparuprimer(pembesarankelenjar

Paru

hilusdenganatautanpakelainan
parenkim)
TBparuprogresif(pneumonia,TB
endobronkial)
TBparukronik(kavitas,fibrosis,
tuberkuloma)
TBmilier

Diluarparu

EfusipleuraTB
Kelenjarlimfe
Otakdanselaputotak
Tulangdansendi
Salurancernatermasukhati,kantungempedu,pankreas.
Salurankemihtermasukginjal
Kulit
Mata
Telingadanmastoid
Jantung
Membran
serous
(peritonium,perikardium)
Kelenjarendokrin(adrenal)
Salurannapasbagianatas(tonsil,laring)
kelenjarendokrin

(Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010)


Tabel 2.3. Sistem penilaian (scoring system) gejala dan pemeriksaanpenunjang
TBParameter

19

Parameter

Kontak TB

Tidak jelas

Laporan

BTA(+)

keluarga

(BTA

negatif atau tidak


jelas)

Uji Tuberkulin

Negatif

Positif ( 10 mm atau
5 mm pada keadaan
imunosupresi)

Berat badan / Status

Gizi

BB/TB < 90%

Klinis gizi buruk

atau
atau BB/TB <
BB/U < 80%

70%
atau

BB/U

<

60%

Demam tanpa sebab

2 minggu

3 minggu

1 cm, jumlah

yang jelas

Batuk

Pembesaran

kelenjar

koli, aksila, inguinal


> 1, tidak nyeri

Pembengkakan

tulang / sendi panggul,

Ada
pembengkakan

lutut, falang

Foto Thorak

Normal/kelainan

Gambaran

tidak jelas

sugestif TB

20

Sumber: Kelompok Kerja TB Anak Depkes-IDAI, 2008


Catatan :
-

Diagnosis dengan sistem skor ditegakkan oleh dokter.

Jika dijumpai skrofuloderma, langsung didiagnosis tuberkulosis.

Berat badan dinilai saat datang.

Demam dan batuk tidak ada respon terhadap terapi sesuai baku.

Gambaran sugestif TB, berupa; pembesaran kelenjar hilus atau


paratrakeal dengan/tanpa infiltrat; konsolidasi segmental/lobar;
kalsifikasi dengan infiltrat; atelektasis; tuberkuloma. Gambaran milier
tidak dihitung dalam skor karena diperlakukan secara khusus.

Mengingat pentingnya peran uji tuberkulin dalam mendiagnosis TB


anak, maka sebaiknya disediakan tuberkulin di tempat pelayanan
kesehatan.

Pada anak yang diberi imunisasi BCG, bila terjadi reaksi cepat BCG
( 7 hari) harus dievaluasi dengan sistim skoring TB anak, BCG
bukan merupakan alat diagnostik.

Didiagnosis TB Anak ditegakkan bila jumlah skor 6, (skor


maksimal 13).

Jika ditemukan gambaran milier, kavitas atau efusi pleura pada foto toraks,
dan/atau terdapat tanda-tanda bahaya, seperti kejang, kaku kuduk dan penurunan
kesadaran serta tanda kegawatan lain seperti sesak napas, pasien harus di rawat inap
di RS.
21

II.2.3.2.2. Uji Tuberkulin Mantoux Test


Menurut WHO, mantoux tuberculin skin test (TST), atau
disebut juga ujituberkulin Mantoux test merupakan pemeriksaan untuk
menentukan apakahseseorang terinfeksi kuman TB ataukah tidak.
Tenaga kesehatan yang terpercayadalam membaca hasil uji tuberkulin
Mantoux test adalah seseorang yang telahmengikuti standarisasi dan
pelatihan (CDC, 2011).
Tes tuberkulin berguna dalam menentukan diagnosis penderita
(terutamapada anak-anak yang mempunyai kontak dengan penderita
TB yang menular),namun penderita tersebut harus diperiksa oleh
dokter yang berpengalaman. Padaanak, uji tuberkulin merupakan
pemeriksaan paling bermanfaat untukmenunjukkan sedang/ pernah
terinfeksi kuman TB dan sering digunakan dalamscreening TBC.
Efektifitas dalam menemukan infeksi kuman TB dengan ujituberkulin
adalah lebih dari 90% (Sidhi, 2010).
Terdapat dua jenis tuberkulin yang dipakai, yaitu: Old
Tuberculin (OT)dan tuberkulin Purified Protein Derivative (PPD). Ada
dua jenis tuberkulin PPDyang dipakai, yaitu PPD-S 5 TU dan PPD RT23 2TU. Tuberkulin yang tersediadi Indonesia saat ini adalah PPD RT23 2TU buatan Statens Serum InstituteDenmark dan PPD dari
Biofarma (Sidhi, 2010).

22

Alat-alat yang dibutuhkan dalam melakukan uji tuberkulin


Mantoux Testantara lain sebagai berikut: (Sidhi, 2010)
Semprit tuberkulin (spuit 1 CC)
Jarum suntik no. 26 atau 27
Tuberkulin Universitas Sumatera Utara
Mantoux test dilakukan dengan menyuntikkan 0,1 ml
tuberculin purifiedprotein derivative (PPD) secara intrakutan dibagian
lengan bawah. Penyuntikandilakukan menggunakan tuberculin syringe
dengan posisi bevel jarum menghadapke atas. Jika lokasi penyuntikan
telah benar, maka akan terbentuk indurasi padakulit. Dalam
pembacaan hasil uji tuberkulin Mantoux test dilakukan dalamrentang
waktu 48-72 jam setelah dilakukan penyuntikan (CDC, 2011).
Indurasi tersebut terjadi karena vasodilatasi lokal, edema,
endapan fibrin,dan meningkatnya sel radang lain di daerah suntikan.
Ukuran dan bentuk reaksituberkulin tidak dapat menentukan tingkat
aktifitas dan beratnya proses penyakit.Uji ini dilakukan berdasarkan
adanya hipersensitivitas tubuh akibat adanya infeksikuman TB
terutama pada anak dengan sensitivitas dan spesifisitas di atas 90%
(Sidhi, 2010).

23

Tabel 2.4. Klasifikasi reaksi positif uji tuberkulin Mantoux test


UkuranIndurasi

DenganPertimbangan

5 mm

DenganriwayatkontakeratdenganpenderitaTB
AnakdengangejalaklinisataudengangambarannodulerataufibrotikpadaX
fototorax
Anakdenganimunyanglemah(imunosupresi)termasukinfeksiHIV,giziburuk,
pernahmelakukantransplantasiorgan
Menggunakanprednison>15mg/hariselamasatubulanataulebih,menggunakan

10mm

TNFantagonist
InfeksiTBalamiah(imunisasiBCGatauM.atipic)
Seorangimigran<5tahundariNegaraprevalenstinggiTB
Seoranganak<4tahunyangterpaparorangdewasadengankategoriresikoinggi
Anakdengankondisiresikotinggi(diabetes,terapikortikosteroidjangkapanjang,
leukimia,penyakitginjalstadiumakhir,sindromamalabsorbsikronik,beratbadan
rendah,penggunaobatobatsuntik,dll)

24

15mm

Anak>4tahuntanpafaktorresikoapapun
SeseorangyangtanpadiketahuimemilikifaktorresikoTB

Sumber : Sidhi, 2010; CDC 2011

Tabel 2.5. Sebab-sebab hasil positif palsu dan negatif palsu uji Tuberkulin
Positifpalsu

Negatifpalsu

Penyuntikansalah

Masainkubasi

Interpretasitidakbetul

Interpretasitidakbenar

ReaksisilangdenganMycobacterium

Penyimpanantidakbaikdan

atipik

penyuntikansalah
MenderitaTBluasdanberat
Dsertaiinfeksivirus(campak,rubella,
cacarair,influenza,HIV)
Immunokompetensiselular,termasuk
pemakaiankortikosteroid
Kekurangankomplemen
Demam

25

Leukositosis
Malnutrisi
Sarkoidosis
Psoriasis
TerkenasinarUV(matahari,solaria)
Defisiensipernisiosa
Uremia
(Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010)

II.2.3.3. Penatalaksanaan
Beberapa hal penting dalam tatalaksana TB anak adalah: (Kelompok KerjaTB
Anak Depkes-IDAI, 2008)
Obat TB yang diberikan dalam paduan obat tidak boleh diberikansebagai
monoterapi Pemberian gizi yang adekuat
Mencari penyakit penyerta dan jika ada ditatalaksana secara simultan

II.2.3.3.1.Pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Prinsip dasar terapi TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan
dalamwaktu relatif lama (6-12 bulan). Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase,
yaitu faseintensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai fase lanjutan. Hal ini
dilakukanuntuk mencegah terjadinya resistensi obat dan untuk membunuh
kuman jugauntuk mengurangi kemungkinan terjadinya kekambuhan. OAT
26

pada anakdiberikan setiap hari. Hal ini bertujuan mengurangi ketidakteraturan


minum obatyang lebih sering terjadi jika obat tidak diminum setiap hari. Pada
fase intensifdiberikan rifampisin, INH, dan pirazinamid, sedangkan fase
lanjutan diberikanrifampisin dan INH (Kelompok Kerja TB Anak DepkesIDAI, 2008).
Untuk mempermudah pemberian OAT sehingga meningkatkan
keteraturanminum obat, paduan OAT disediakan dalam bentuk kombipak
berisi obat faseintensif, yaitu rifampisin (R) 75 mg, INH (H) 50 mg, dan
pirazinamid (Z) 150 mg,serta obat fase lanjutan yaitu R 75 mg dan H 50 mg
dalam satu paket (KelompokKerja TB Anak Depkes-IDAI, 2008).
Di

tempat

dengan

sarana

yang

lebih

memadai,

untuk

meningkatkankepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang relatif lama


dengan jumlahobat yang banyak, dalam program penanggulangan TB anak
telah dibuat TB dalam bentuk kombinasi dosis tetap (Fixed Dose
Combination=FDC). FDC inidibuat dengan komposisi rifampisin, INH, dan
pirazinamid, masing-masing 75mg/ 50 mg/ 150 mg untuk 2 bulan pertama,
sedangkan untuk fase 4 bulanberikutnya terdiri dari rifampisin dan INH
masing-masing 7 mg dan 50 mg. Dosisyang dianjurkan dapat dilihat pada
tabel 2.3.
Tabel 2.6. Dosis kombinasi pada TB anak
Beratbadan

(kg)

2bulan

RHZ(75/50/150)
59
1014

4bulan
1tablet
2tablet

RH(75/50)
1tablet
2tablet
27

1519
2032

3tablet
4tablet

3tablet
4tablet

Sumber: Kelompok Kerja TB Anak Depkes-IDAI, 2008


*Keterangan:
Bayi dengan berat badan <5 kg, pemberian OAT secara terpisah.Sebaiknya dirujuk
ke RS tipe C atau lebih tinggi
Anak dengan berat badan 15-19 kg dapat diberkan 3 tablet Anak dengan berat
badan 33 kg dosisnya sama dengan dosis dewasa
Tablet obat harus diberikan dalam keadaan utuh (tdak boleh digerus dantidak boleh
dibelah)
Obat dapat diberikan dengan cara ditelan utuh, dikunyah/ dikulum(chewable), atau
dimasukkan air dalam sendok (disperable).

Setelah pemberian OAT selama 2 bulan, respon pasien dievaluasi.


Responpengobatan baik apabila gejala klinis berkurang, nafsu makan
meningkat, beratbadan meningkat, demam menghilang, dan batuk berkurang.
Apabila responpengobatan baik maka pemberian OAT dilanjutkan sampai
dengan 6 bulan.Sedangkan bila respon pengobatan kurang atau tidak baik,
maka pengobatan tetapdilanjutkan tetapi pasien harus dirujuk ke sarana yang
lebih lengkap (KelompokKerja TB Anak Depkes-IDAI, 2008).
Setelah pemberian obat selama 6 bulan, OAT dapat dihentikan
denganmelakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang lain
seperti fotorontgen dada. Apabila dijumpai perbaikan klinis yang nyata, maka
pengobatandapat dihentikan (Kelompok Kerja TB Anak Depkes-IDAI, 2008).

II.2.3.3.2. Profilaksis
Profilaksis merupakan tindakan pencegahan. Terapi profilaksis
TBdiberikan pada anak yang memiliki kontak dengan pasien TB dewasa

28

denganBTA sputum positif (+), namun pada evaluasi dengan sistem


penilaiandidapatkan nilai 5 (profilaksis primer) atau anak yang terinfeksi TB
tanpa sakitTB (profilaksis sekunder). Obat yang diberikan adalah INH dengan
dosis 5-10mg/ kg BB/ hari selama 6 bulan, bila anak belum pernah mendapat
terapi BCGperlu diberikan BCG setelah pengobatan profilaksis dengan INH
sampai selesai(Kelompok Kerja TB Anak Depkes-IDAI, 2008).

II.2.4. Program Pengendalian TB


KeputusanMenteriKesehatanRepublikIndonesiaNo.364/MENKES/SK/V/2009
tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis(TB) memiliki tujuan untuk
menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB,memutuskan rantai penularan,
serta mencegah terjadinya Multidrug Resistance(MDR).
Sebagai

salah

satu

upaya

meningkatkan

kualitas

manajemen

TB

Anak,Kementerian Kesehatan berencana menyediakan logistik larutan tuberkulin


yangdidahului

dengan

Operational

trial

penggunaan

tuberkulin

dalam

mendukungdiagnosis TB anak dengan sistem penilaian di 5 provinsi yaitu Sumatera


Utara,Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan
Timur.Operational trial direncanakan dilaksanakan selama 6 bulan (Warta
TuberkulosisIndonesia volume 21, 2012).
TB pada anak mencerminkan transmisi TB yang terus berlangsung dipopulasi.
Masalah ini masih memerlukan perhatian yang lebih baik dalamprogram
pengendalian TB. Secara umum, tantangan utama dalam program pengendalian TB
29

anak adalah kecenderungan diagnosis yang berlebihan(overdiagnosis), disamping


juga masih adanya underdiagnosis, penatalaksanaankasus yang kurang tepat, dan
pelacakan kasus yang belum secara rutindilaksanakan serta kurangnya pelaporan
pasien TB anak. Tantangan tersebutjuga dihadapi oleh rumah sakit atau FPK yang
telah menerapkan strategi DirectlyObserved Treatment Shortcourse (DOTS)
(Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan PenyehatanLingkungan, 2011).
Strategi nasional program pengendalian TB nasional terdiri dari 7
strategi,terdiri dari 4 strategi umum dan didukung oleh 3 strategi fungsional.
Ketujuhstrategi ini berkesinambungan dengan strategi nasional sebelumnya,
denganrumusan strategi yang mempertajam respon terhadap tantangan pada saat
ini.Strategi nasional program pengendalian TB nasional sebagai berikut:(Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal PengendalianPenyakit dan
Penyehatan Lingkungan, 2011)
1. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu.
2.

Menghadapi

tantangan

TB/HIV,

MDR-TB,

TB

anak

dan

kebutuhanmasyarakat miskin serta rentan lainnya.


3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat(sukarela),
perusahaan, dan swasta melalui pendekatan Public-PrivateMix dan menjamin
kepatuhan terhadap International Standards for TBCare.
4. Memberdayakan masyarakat dan pasien TB.
5. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan danmanajemen
program pengendalian TB.
30

6. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap programTB.


7. Mendorong penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan informasistrategis.
Strategi 1 sampai dengan strategi 4 merupakan strategi umum, dimanastrategi
ini harus didukung oleh strategi fungsional yang terdapat pada strategi 5 sampai
dengan strategi 7 untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalamprogram
pengendalian TB. (Kementerian Kesehatan Republik IndonesiaDirektorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2011).
Intervensi

untuk

denganmeningkatkan

meningkatkan
kapasitas

melaksanakanpenatalaksanaan

pengendalian

diagnosis

kasus

sesuai

yang
standar

TB

anak

dimulai

berkualitas
nasional

dan

berdasarkan

InternationalStandard for TB Care (ISTC). Demikian pula diseminasi dari sistem


penilaianyang terstandardisasi pada TB anak, pelatihan berjenjang untuk tenaga
kesehatanserta monitoring dan validasi sistem scoring TB anak. Peningkatan
kapasitasdiagnosis

membutuhkan

ketersediaan

suplai

untuk

tes

tuberkulin

(KementerianKesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian


Penyakit danPenyehatan Lingkungan, 2011).

31

BAB III
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH
III.1. IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA
1.
Identitas Pasien
1) Nama
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Status perkawinan
5) Agama
6) Suku bangsa
7) Pendidikan
8) Pekerjaan
9) Alamat lengkap

: An. MN
: 5 Tahun
: Laki-laki
: Tidak Kawin
: Islam
: Jawa
: TK
:: Perumahan Sandangsari Gg Kapas Tengah no 44
RT/RW 001/008 Desa Madyocondro Kecamatan
Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

2.

Identitas Kepala Keluarga


1) Nama
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Status perkawinan
5) Agama
6) Suku bangsa
7) Pendidikan
8) Pekerjaan
9) Alamat lengkap

: Tn. M.S
: 30 Tahun
: Laki-laki
: Menikah
: Islam
: Jawa
: SLTA
: Wiraswasta
: Perumahan Sandangsari Gg Kapas Tengah no 44
RT/RW 001/008 Desa Madyocondro Kecamatan
Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

III.2. Karakteristik Kedatangan Pasien ke Puskesmas Secang I

32

Pasien datang ke Puskesmas Secang I pertama kali bulan Januari 2014.


Pasien datang dengan keluhan sering batuk-batuk. Pasien datang diantar oleh
ibu yang melakukan kunjungan kontrol rutinnya untuk pengobatan TB paru.
III.3. Karakteristik Demografis Keluarga
Pasien tinggal bersama kedua orangtua dan adik perempuan yang
berusia 3 tahun di Perumahan Sandangsari Gg Kapas Tengah no 44 RT/RW
001/008 Desa Madyocondro Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa
Tengah. Daerah tempat tinggal pasien merupakan daerah pemukiman
penduduk yang baik dan dengan keadaan lingkungan yang bersih.

III.4. Profil Keluarga


Tabel 3. Daftar Anggota Keluarga Serumah
N
o

Nam
a

Umur
Pendidika
(Tahun
)

Pekerjaan

Hubunga

Status

Keteteranga

Perkawina

Keluarga

Kesehatan

Suami

Kawin

Sehat

n
Wiraswast

1.

MS

30

SLTA
a

Post
2.

RM

29

SLTA

Pedagang

Istri

Kawin

Pengobatan
TB paru

Tidak
3

MN

TK

Pelajar

Anak I

TB anak
Kawin
Tidak

Anak II

Sehat

Kawin
Sumber : Data Primer Hasil Wawancara dengan Pasien
33

Genogram 3 Generasi

ST
(60)

SK
(65)

RM
(29)

MS
(30)

M
N

K
(3)

TB
PARU

TB

PARU
Gambar 1. Genogram
Keluarga Pasien
ANAK
LAKI-LAKI MENINGGAL

LAKI-LAKI

PASIEN

PEREMPUAN MENINGGAL

Kamar Mandi

Keterangan :
PEREMPUAN
1. Kakek pasien
: keluhan batuk lama (+)
2. Nenek pasien
: sehat
3. Ayah pasien
: sehat
4. Ibu pasien
: post pengobatan TB paru
Dapur
5. Pasien
: sakit, TB paru anak
6. Anak kedua
: sehat
Jemuran
Bentuk Keluarga : keluarga inti (nuclear family).
Siklus Keluarga : tahap keluarga dengan anakusia prasekolah
Ruang Keluarga
Kamar Tidur
III.5.Denah Rumah

Kamar Tidur

Kamar Tidur

Ruang tamu
Pintu samping

Toko

34
Teras

Gambar 2. Denah Rumah


III.6. Resume Penyakit Dan Penatalaksanaan Yang Sudah Dilakukan
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis pada tanggal 08 Maret 2014
pukul 19.00 WIB di rumah pasien.
1. Keluhan Utama :
Batuk tidak berdahak sudah 1 bulan
2. Keluhan Tambahan:
Panas, berat badan tetap dan tidak naik
3. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke balai pengobatan umum Puskesmas Secang 1 dengan
keluhan utama batuk yang sudah lama, kurang lebih sudah 1 bulan. Batuk
tidak berdahak. Keluhan disertai panas yang hilang timbul. Pasien belum
pernah mengalami keluhan batuk yang lama hingga 1 bulan. Ibu pasien
baru saja menyelesaikan pengobatan TB parunya.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat sakit yang serupa : disangkal
- Riwayat alergi
: disangkal
- Riwayat asma
: disangkal
- Riwayat mondok
: diakui saat usia 6 bulan dengan diare
5. Riwayat Penyakit Keluarga
- Ada anggota keluarga pasien yang memiliki keluhan yang sama (ibu

pasien)
- Tidak ada anggota keluarga yang menderita alergi
- Tidak ada anggota keluarga yang menderita asma
6. Pemeriksaan Fisik:
Keadaan umum : Sakit ringan
Kesadaran
: Kompos mentis
Tanda Vital
RR
: 24x/menit
Nadi : 100 x/menit
35

Suhu
BB
TB
BMI

: 36,2 C
: 18 kg
: 110cm
: 95% berdasarkan CDC BMI BB/U

Kepala
Mata

: Normocephal
: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, Mata cekung

-/Telinga: Normotia, serumen -/-, sekret -/Hidung


: Sekret (-)
Mulut
: Bibir kering (-), mukosa lembab (+), sianosis (-)
Tenggorok
: Faring hiperemis (-)
Leher
: Pembesaran KGB (-)
Thoraks
:
1) Cor
a) Inspeksi
: Iktus cordis tak tampak
b) Palpasi
: Iktus cordis teraba tidak kuat angkat
c) Perkusi
: Dalam batas normal
d) Auskultasi
: BJ I-II Normal, murmur (-), gallop (-),
2) Pulmo
:Normochest, Gerak dinding dada simetris saat
statis

a) Inspeksi
dandinamis
b) Palpasi
c) Perkusi
d) Auskultasi

: Fremitus kanan = kiri


: Sonor di seluruh lapangan paru
: Suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing
(-/-)
Abdomen
a) Inspeksi
b) Palpasi

: Datar, venektasi (-)


: Supel, hepar / lien tidak teraba membesar,

nyeri tekanabdomen (-), turgor baik


c) Perkusi
: Timpani
d) Auskultasi
: Bising usus (+) normal
7. Pemeriksaan Penunjang
a) Rontgen : sugestif TB
b) Mantoux Test : (+)

36

8.
13. Diagnosis Kerja
Skoring TB anak = 9 (>6) DIAGNOSIS TB ANAK
PARAMETER
Kontak dengan pasien TB
Uji Tuberkulin
Keadaan Gizi
Demam tanpa sebab jelas
Batuk
Pembesaran KGB
Pembengkakan tulang
Foto TB

KEADAAN PASIEN
Kontak dengan pasien BTA (+)
+
>2 minggu
>3 minggu
Sugestif TB

SKOR
3
3
1
1
1

9. Penatalaksanaan
1 Non Medikamentosa
a Menjaga pola makan bergizi tinggi
b Menjaga daya tahan tubuh
2 Medikamentosa
a.
Tablet FDC yang berisi (Pirazinamid 150 mg, Rifampicin 75
mg, Isoniazid 50 mg)
b.
Vitamin Curcuma
10. Hasil Penatalaksanaan Medis
a. Pemeriksaan dilakukan saat kunjungan ke rumah pasien pada
tanggal 10 dan 12 Maret 2015, pasienmasih sesekali batuk-batuk
namun sudah tidak demam, berat badan belum ada peningkatan
b. Faktor pendukung : Kesadaran orang tua pasien untuk minum obat
teratur agar anak dapat pulih, perhatian orangtua mengenai obatobatan apa saja yang harus diminum anak, pemeriksaan rutin untuk
anak. Orangtua juga menyadari untuk memeriksakan anggota
keluarga yang lain (anak kedua) untuk deteksi TB
c. Faktor penghambat : orangtua pasien belum paham mengenai
pentingnya asupan gizi bagi anak dengan TB, perawatan rumah

37

d. Indikator keberhasilan : Mantoux test di akhir pengobatan (-), anak


mengalami peningkatan berat badan

III.7. Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga


a. Fungsi Biologis dan Reproduksi
Pasien batuk-batuk sudah 1 bulan belum berhenti. Pasien sering batukbatuk namun tidak pernah sesak dan belum pernah lebih dari 3 minggu.
Selama dua bulan terakhir pasien tidak pernah sakit yang lain atau
menjalani perawatan di RS namun keluhan batuk disertai uga dengan
demam yang hilang timbul tanpa penyebab yang jelas. Pasien memiliki
riwayat kontak dengan pasien BTA positif yaitu sang ibu pasien sendiri.
Pasien saat ini berusia 5 tahun, tidak pernah mengalami kelaianan sejak
lahir. Penolong persalinan oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan.
b. Fungsi Psikologis
Pasien tinggal bersama kedua orangtua dan satu adik perempuan dengan
selisih usia 2 tahun. Sehari-hari pasien aktif bermain dengan adik dan
kedua orangtuanya. Orangtua tidak memiliki masalah dalam mendidik
anak-anaknya.
c. Fungsi Ekonomi
Sumber penghasilan dari keluarga pasien didapatkan dari hasil kerjaayah
sebagai wiraswasta dengan penghasilan rata-rata sebulan4.000.000 per
bulan dan hasil berdagang ibu. Penghasilan tersebut dipakai untuk
membayar listrik, telepon seluler, dan untuk belanja harian. Untuk

38

kebutuhan primer (makan, minum, sandang, papan) serta kebutuhan


sekunder (ibadah, alat elektronik) sudah tercukupi dengan baik.
d. Fungsi Pendidikan
Pendidikan terkhir pasien saat ini adalah Taman Kanak-Kanak, sedangkan
pendidikan terakhir orangtua pasien adalah SLTA.
e. Fungsi Religius
Pasien dan keluarga memeluk agama islam yang menjalankan ibadah sholat
lima waktu dan sering sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya.
f.

Fungsi Sosial Budaya


Pasien diberikan pembekalan agama sejak kecil dan mengikutsertakan
anaknya untuk kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada di sekolah. Pasien
sebagai seorag anak memiliki waktu untuk bermain dengan teman-teman
sebaya yang biasa dilakukan sore hari.
III.8. Pola Konsumsi Makan Pasien
Frekuensi makan ratarata pasien setiap harinya 3x sehari dengan
mengolah makanan sendiri di rumah. Variasi makanan sebagai berikut: nasi,
lauk (ayam, telur, ikan, tempe, tahu), sayur (bayam, kangkung,sop). Pasien
kadang mengkonsumsi buah-buahan. Buah favorit pasien yang biasa diberikan
oleh orangtua adalah pepaya dan mangga.
Diet recall selama 3 hari sebelum dilakukan intervensi yaitu pada hari
sabtu pasien mengkonsumsi nasi, tumis kangkung, dan ayam. Pada hari jumat
mengkonsumsi nasi, sayur sop, dan tempe. Pada hari kamis mengkonsumsi
nasi, sayur capcay, dan telur serta tempe goreng.

39

III.9. Identifikasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keluarga


1.
Faktor Perilaku
Pasien tidur rata-rata pada pukul 22.00 WIB. Pasien tidur bersama adik
dan kedua orangtuaya. Kegiatan sehari-hari pasien sekolah dari pukul
07.00 hingga 10.00 WIB diantar jemput oleh ibu. Pasien dibiasakan
makan di rumah sehingga tidak terlalu sering jajan di luar. Pasien
memeilki waktu istirahat siang dan bermain di sore hari. Saat maam hari
sehabis makan malam pasien biasa bermain dengan adik perempuan dan
2.

orangtuanya.
Faktor Non Perilaku
Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup dekat seperti
puskesmas. Hal ini cukup berpengaruh terhadap kemudahan mendapatkan
pelayanan kesehatan jika ada anggota keluarga yang sakit. Jarak rumah ke
Puskesmas Secang Ikurang dari 1 km.Keluarga pasien memiliki kendaraan
pribadi untuk bepergian ke pelayanan kesehatan.
III.10.Identifikasi Lingkungan Rumah
Pasien tinggal di rumah milik sendiri yang berasal dari warisan
kedua orangtua ayah pasien. Terletak di daerah pemukiman perumahan
yang asri, cukup bersih dan teratur. Bentuk bangunan 1 lantai.Secara
umum gambaran rumah terdiri dari 3kamar tidur, 1 dapur,1 kamar
mandi+WC, dan 1 ruang tamu.Lantai rumah hanya di bagian ruang tamu
keramik dan di bagian dapurplester,dinding tembok dari bata, atap dari
genteng dengan langit-langit.Ventilasi dan penerangan disetiap ruangan
kurang,terdapat jendela di ruang tamu dan ruang tidur namun tidak pernah
40

dibuka.Kebersihan dalam rumah dan luar rumah cukup baik, danuntuk tata
letak barang cukup rapi.Listrik 900 watt, sumber air bersih untuk
keperluan sehari-hari dari PAM. Fasilitas MCK dengan jamban jongkok,
bak mandi dikuras sesuai kebutuhan. Jarak antara septic tank dengan
sumber air minum kurang dari 10 meter. Kebersihan dapur cukup baik,
pembuangan air limbah ke selokan dan aliran lancar. Di dalam rumah
terdapat tempat sampah yang tidak tertutup. Jalan di depan rumah terbuat
dari plester semen. Kebersihan lingkungan pemukiman sudah baik.
III.11.Peta Rumah Dicapai Dari Puskesmas

Rumah Pasien

Gambar 3. Peta Denah Rumah Pasien


III.12. Diagnosis Fungsi Keluarga
1. Fungsi Biologis

Pasar Secang

Puskesmas
I
Pasien baru pertama kali mengalami
batuk Secang
> 3 minggu
Keluhan lain berupa demam tanpa sebab yang jelas
Ibu pasien riwayat TB paru (baru saja selesai pengobatan bulan

Januari 2015)
2. Fungsi Psikologis
- Hubungan dengan tiap anggota keluarga baik.
- Hubungan dengan tetangga dan teman sebaya baik.
3. Fungsi Religius dan Sosial Budaya
41

Dapat bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar dengan baik


4. Fungsi Ekonomi
Perekonomian keluarga cukup sehingga kebutuhan juga dapat
terpenuhi.
5. Fungsi penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi
-

Orangtua pasien tidak mengalami maslah dalam mendidik pasien


Pasien menuruti orangtua untuk minum obat

6. Faktor Perilaku
- Pasien tidurtidak larut malam
- Pasien bersekolah di pagi hari
- Makan teratur
- Memiliki waktu untuk bermain
- Orangtua pasien kadang membuka jendela dan pintunya
7. Faktor Non Perilaku
Sarana pelayanan kesehatan dekat dengan rumah.

III.13. Diagram Realita yang Ada Pada Keluarga


Lingkungan
Kebersihan cukup
Ventilasi kadang di buka
Pencahayaan kurang
Rumah lembab

Genetik
(-)

Derajat kesehatan
An. MN
PasienTB

Perilaku
Pasien jarang berolah
raga
Pasien tidur larut
malam

Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan terjangkau

Gambar 4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Dalam Keluarga


Analisis Masalah :

42

Pasien seorang Ibu rumah tangga. Biaya kehidupan sehari-hari


didapat dari suami yang bekerja sebagai satpam pabrik. Pasien tinggal di
daerah perkampungan, tetapi lingkungan sekitar rumah cukup bersih.
Pasien baru memriksakan diirinya ke puskesmas Salaman 1 pada bulan
Juni tahun 2014 ini dan di ketahui bahwa diagnosa dari penyakitnya
adalah hiperemesis graviarum, Pasien juga pernah menderita penyakit
serupa pada kehamilan anak pertama. Hal yang memungkinkan pasien
menderita penyakit Hiperemesis Gravidarum adalahfaktor biologis
pasien.Untuk menanggulangi agar keluhannya tidak terus menerus
diperlukan suatu kedisiplinan dari pasien dan keluarganya.
1. Pasien
a. Pasien disarankan agar selalu kontrol rutin ke Puskesmas minimal
4 kali selama masa kehamilan.
b. Menyempatkan untuk ikut kelas ibu hamil
c. Selain pasien anggota keluarga lain juga harus dapat mendukung
dalam penanggulangan keluhan yang diderita oleh Ny. EF yaitu
dengan mengingatkan pasien untuk kontrol dan minum obat
d. Menyajikan makanan dengan menu seimbang

III.14. Diagnosis Holistik dan Pengelolaan Secara Komprehensif


Diagnosis Holistik
Aspek I :
Kekhawatiran :
o pasien mengalami batuk lama sudah > 3 minggu

43

o ibu pasien memiliki riwayat TB paru dan dalam masa akhir


pengobatan (selesai Januari 2015) sehingga orangtua khawatir si anak
tertular oleh ibu
o harapan: dengan berobat ke Puskesmas Secang I, orangtua pasien
berharap

anaknya

dapat

sembuh

total

tanpa

memperngaruhi

pertumbuhan dan perkembangannya.


Aspek II (Diagnosis Klinis) :
Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
didapatkan diagnosis klinis berupa TB paru anak
Aspek III (Internal Pasien) :
Kebiasaan keluarga yang diajarkan orangtua membuat anak memiliki perilaku
yang cukup baik dan mengikuti pengobatan dengan baik. Namun disisi lain,
orangtua belum banyak memahami mengapa anaknya dapat tertular TB,
belum mengetahui sumber penularan dan bagaimana pencegahannya.
Aspek IV (Eksternal Pasien) :
Secara psikologis psien tidak mengalami tekanan dari orang-orang di
sekitarnya karena hubungan pasien dengan orangtua, adik dan tetangga serta
teman sebaya sangat baik.
Aspek V (Derajat Fungsional) :
Derajat Fungsional : derajat 1
Secara aspek fungsional pasien tidak ada kesulitan dan masih merasa mampu
dalam fisik dan mental untuk beraktifitas sehari-hari.
Pengelolaan secara Komprehensif
Promotif: mengedukasi orangtua pasien untuk megobati anak rutin sesuai
petunjuk dokter, menjaga pola makan mengkonsumsi makanan bergizi tinggi,
menjaga daya tahan tubuh anak dengan istirahat cukup dan vitamin
Preventif: mengedukasi orangtua pasien mengenai deteksi dini TB paru pada
anak yang memerlukan penanganan segera, edukasi untuk memeriksakan

44

seluruh anggota keluarga agar dapat dicari sumber penularan dan mendapat
penanganan segera
Kuratif: melakukan pengobatan jangka panjang TB hingga Mantoux Test di
akhir pengobatan (-) dengan tablet FDC Pirazinamid 150 mg, Rifampicin 75
mg, Isoniazid 50 mg) dan Vitamin Curcuma
Rehabilitatif:meningkatkan berat badan anak
III.15. Risiko, Permasalahan, dan Rencana Pembinaan Kesehatan Keluarga
Tabel 4. Masalah Kesehatan Dan Rencana Pembinaan
No

Risiko dan Masalah

.
1.

Rencana pembinaan
Kesehatan
Penyakit Tuberkulosis Memberikan edukasi mengenai

Orangtua

pada Anak

pasien

penyakit Tuberkulosis yang

Sasaran

meliputi:faktor risiko,rencana
2.

3.
4.

Kebiasaan

pengobatan,komplikasi dan pencegahan


Edukasi dan motivasi pasien tentang
Orangtua

mengkonsumsi

manfaat mengkonsumsi makanan

makanan dengan

dengan menu seimbang

menu seimbang
Membuka Jendela

Edukasi tentang pentingnyamembuka

Orangtua

Melakukan

jendela agar sirkulasi udra lancar


Memberikan edukasi kepada orangtua

pasien
Orangtua

pemeriksaan untuk

pasien mengenai pentingnya

pasien

keluarga yang tinggal

memeriksakan seluruh anggota

satu rumah dengan

keluarga untuk mencari sumber

pasien

45

penderita

penularan dan segara dilakukan


pengobatan.

III.15. Pembinaan Dan Hasil Kegiatan


Tabel 5. Pembinaan dan Hasil Kegiatan
Tanggal
10-03-2015

Kegiatan yang
dilakukan
Edukasi mengenai

Keluarga yang
terlibat
Orangtua pasien.

Hasil kegiatan
Oragtua pasien

penyakit TB anak yang

memahami

meliputi,faktor

penjelasan yang

risiko,rencana

diberikan.

pengobatan komplikasi
12-03-2015

dan pencegahan.
Edukasi mengenai pola

Orangtuapasien

Orangtua pasien

makan dengan menu

memahami

seimbang diantaranya

penjelasan yang

karbohidrat tinggi,

diberikan.

lemak rendah, protein


sedang, dengan porsi
kecil tapi banyak.
Edukasi mengenai

Orangtua pasien

Orangtua pasien

perilaku hidup sehat

memahami

diantaranya adalah

penjelasan yang

membuka jendela, tidak

diberikan.

membuang dahak

46

Tanggal

Kegiatan yang
dilakukan
ditempat terbuka,

Keluarga yang

Hasil kegiatan

terlibat

barang yang digunakan


penderita dipisahkan,
pentingnya untuk
melakukan pemeriksaan
terhadap seluruh
anggota keluarga yang
tinggal satu rumah
dengan penderita
III.16. Kesimpulan Pembinaan Keluarga
Hasil pembinaan keluarga dilakukan pada tanggal 10 Maret 2015 dan 12
Maret 2015 pada pukul 19.00 WIB. Dari pembinaan keluarga tersebut
didapatkan hasil sebagai berikut
1. Tingkat pemahaman :Pemahaman terhadap penyuluhan yang dilakukan
sudah baik. Oragtua pasien memiliki pengetahuan tambahan mengenai
alur pengobatan anak dan terapi penujang lain selain dari obat-obatan
2. Hasil Pemeriksaan:
Keadaan Umum : Baik
Keluhan
: Tidak ada
TTV
: dalam batas normal
3. Faktor pendukung :
1. Orangtua pasiendapat memahami dan menangkap penjelasan yang
diberikan

47

2. Kesadaran orangtua pasien untuk dapat merawat anaknya dan


memeriksakan seluruh anggota keluarga
3. Makan menu bergizi.
4. Faktor penyulit : tidak ada
5. Indikator keberhasilan
:
a. Pengetahuan meningkat mengenai penyakit
b. Kesadaran orangtua pasien untuk mulai memberikan pengobatan yang
tepat dan memeriksakan seluruh keluarga
c. Kesadaran orangtua pasien untuk mengatur pola makan bergizi tinggi.
d. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan seluruh anggota keluarga.

48

BAB IV
PENUTUP
IV.1.

Kesimpulan
Diagnosis pasien: TB paru pada anak
Penatalaksaan secara komprehensif dengan pendekatan kedokteran keluarga
yang telah dilaksanakan menhasilkan hasil pembinaan keluarga seperti
berikut:
1. Tingkat pemahaman :sudah baik meliputi alur pengobatan anak dan
terapi penujang lain selain dari obat-obatan
2. Hasil Pemeriksaan : keadaan klinis masih sama, belum ada
perkembangan signifikan sejak pengobatan yang sudah dijalani kurang
lebih 2 bulan
3. Faktor pendukung : Orangtua pasienkooperatif dalam menerima
pembinaan yang dberikan, kesadaran orangtua pasien baik untuk dapat
merawat anaknya dan memeriksakan seluruh anggota keluarga,
oragtua mau belajar untuk menyediakan makanan menu bergizi.
4. Faktor penyulit : tidak ada
5. Indikator keberhasilan: Pengetahuan dan kesadaran sudah meningkat

IV.2.

Saran
Dalam rangka mengurangi angka kesakitan anak terutama akibat TB
diperlukan pendekatan keluarga dalam penatalaksanaan secara komprehensif
DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2014. Kedokteran Keluarga, Pelayanan Kedokteran yang berprinsip


Pencegahan.Badan Penerbit UNDIP: Semarang
Rahajoe NN, Basir D, MS Makmuri, Kartasasmita CB (eds). 2008. Pedoman
49

Nasional Tuberkulosis Anak. Edisi II. Jakarta: UKK Respirologi PP IDAI.


Sari, D. 2010. Indonesia Masih Peringkat Tiga Tuberculosis. Tempo, 19 Maret.
Diunduh dari:
http://www.tempo.co/read/news/2010/03/23/058234806/Puluhan-RibuPenderita-TBC-di-Jawa-Tengah-Tak-Terdekteksi.
Brooks, G. F., Janet, S. B., Stephen, A. M. 2008. Jawetz, Melnick, & Adelbergs
medical microbiology. Jakarta: EGC.
Centers for Disease Control (CDC), 2011. TB Elimination Tuberculin
SkinTesting. Available from: http://www.cdc.gov/tb [Diakses9 Maret 2015]
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2010. Buku Ajar Respoirologi Anak. Jakarta: Badn
Penerbit IDAI.Kartasasmita, C. B. 2009. Epidemiologi Tuberkulosis.
Available from: http://www.idai.or.id/saripediatri/11-2-9.pdf [Diakses9 Maret
2015]
Kelompok Kerja TB Anak Depkes-IDAI. 2008. Diagnosis & Tatalaksana
Tuberkulosis Anak, Jakarta: Departemen Kesehatan RI.Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2011. Stop TB
Terobosan Menuju Akses Universal Strategi Nasional Pengendalian TB di
Indonesia 2010-2014. NOMOR 565/MENKES/PER/III/2011. Available from:
http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/STRANAS_TB.pdf [Diakses9 Maret
2015]
NOMOR 364/MENKES/SK/V/2009 Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia tentang Pedoman Penangglangan Tuberkulosis (TB). Menteri
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Available from:
http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.
%20364%20ttg%20Pedoman%20Penanggulangan%20Tuberkulosis
%20(TB).pdf [Diakses9 Maret 2015]
Warta Tuberkulosis Indonesia volume 21. 2012. Operational Trial Penggunaan
Tuberkulin dalam Mendukung Diagnosis Tuberkulosis Anak dengan Sistem
Skoring. Available from: http://www.tbindonesia.or.id/pdf/wartatb/wti_2012_ed21.pdf [Diakses9 Maret 2015]
Widiastuti, W., Dini, D., Dhami, J. D. 2012. Aplikasi Sistem Pakar Deteksi Dini pada
Penyakit Tuberkulosis. Jurnal Algoritma Sekolah Tinggi TeknologiGarut.
Available from: http://jurnl.sttgarut.ac.id/index.php/algoritma/article/view/7/7
[Diakses9 Maret 2015]
50

World Health Organization (WHO). 2013. Combating Tuberculosis in Children.


Available from: http://who.int/tb/challenges/childhood_tb_information
[Diakses9 Maret 2015]

51