Anda di halaman 1dari 30

BAB III

DATA UMUM DESA MARYOCONDRO


III. A. Keadaan Geografis
III. A. 1. Letak Wilayah
Desa Madyocondro terletak di wilayah Kecamatan Secang, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah. Desa Madyocondro terdiri dari 8 Dusun. Dusun tersebut
adalah Dusun Mertan, Dusun Kalikotes, Dusun Dawunan (Dawunan dan
Sandon), Dusun Harjosari, Dusun Mladen, Dusun Tanduran, Dusun Catak, Dusun
Sandangsari (Sandangsari dan Jomblang).
III. A. 2. Batas Wilayah
Wilayah Desa Madyocondro dibatasi oleh:
a. Sebelah Utara
: Desa Ngabean
b. Sebelah Timur
: Desa Madusari
c. Sebelah Selatan
: Desa Ngadirojo
d. Sebelah Barat
: Desa Bengkal

Gambar 1. Peta Wilayah Desa Madyocondro


III. A. 3. Luas Wilayah
Luas wilayah Desa Madyocondro berdasarkan data statistik bulan Agustus
tahun 2014 adalah 1125,26 Ha.
III. B. Keadaan Demografi
III. B. 1. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Desa Madyocondro pada bulan Agustus tahun 2014
berdasarkan data statistik kantor Desa Madyocondro adalah 5352 jiwa.
III. B. 2. Data Penduduk

Daftar tabel dibawah ini memberikan gambaran jumlah penduduk Desa


Madyocondro menurut jenis kelamin, usia, mata pencaharian, dan pendidikan.

Tabel 1. Jumlah penduduk Desa Madyocondro menurut Usua dan Jenis Kelamin
Umur
Laki - Laki
Perempuan
Jumlah
04
182
163
345
59
158
154
312
10 14
158
172
330
15 19
171
200
371
20 24
209
183
392
25 29
201
191
392
30 39
349
414
763
40 49
367
370
737
50 59
312
377
689
60 +
463
558
1021
Jumlah
2570
2782
5352
(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Madyocondro, Agustus 2014)

Tabel 2. Data Mata Pencaharian Penduduk Desa Madyocondro


Mata Pencaharian
Jumlah
Petani
175
Buruh tani
228
PNS
131
Pedagang Keliling
104
Montir
6
Dokter swasta
2
Bidan swasta
3
Perawat swasta
5
Pembantu rumah tangga
28
TNI/POLRI
36
Pensiunan
115
Arsitektur
1
Jasa pengobatan alternatif
1
Total
835
(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Madyocondro, Agustus 2014)
Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan
Pendidikan
Tidak sekolah
Belum tamat SD
Tidak tamat SD

Jumlah
179
978
351

Tamat SD/sederajat
677
Tamat SLTP/ sederajat
839
Tamat SLTA/ sederajat
881
Tidak tamat SLTP/SLTA
628
Tamat Perguruan Tinggi/ Akademi
426
Total
4959
(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Madyocondro, Agustus 2014)
Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Agama
Agama
Jumlah
Islam
5239
Kristen
25
Katolik
16
Hindu
Budha
(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Madyocondro, Agustus 2014)
III. C. Profil Dusun Mertan
Dusun Mertan berada di Desa Madyocondro, Kecamatan Secang, Kabupaten
Magelang dengan batas-batas wilayah:
Sebelah Utara
: Desa Ngabean
Sebelah Barat
: Dusun Tanduran
Sebelah Timur
: Dusun Kalikotes
Sebelah Selatan
: Dusun Catak
Pada Dusun Mertan terdapat 121 Kepala Keluarga, yang terdiri dari : 43
Kepala Keluarga pada RT 1, 39 Kepala Keluarga pada RT 2, 49 Kepala Keluarga pada
RT 3. Dan jumlah penduduk Dusun Mertan sebanyak 521 jiwa dengan jumlah laki-laki
267 jiwa dan perempuan 251 jiwa.

III. D. Data Khusus Balita yang di Deteksi Tumbuh Kembang di Dusun Mertan
Desa Madyocondro Periode Januari Februari 2015

Tabel 5. Hasil cangkupan balita yang di deteksi tumbuh kembang di Dusun Mertan
Desa Madyocondro Periode Januari Februari 2015
DDTK

di Januari

Februari

Cakupan

Pencapaian

Dususn Mertan

Jan

Feb

Jan

Feb

33,3%

45,4%

35%

47,7%

Jumlah anak 1-6


tahun

yang
10

mendapatkan

15

DDTK
Jumlah
balita

anak
dan 30

33

prasekolah

Dari tabel 5 didapatkan cakupan balita yang di deteksi tumbuh kembang di Dusun
Mertan Desa Madyocondro Bulan Januari 2015 cakupan sebesar 33,3% dan pencapaian
35%, sedangkan pada Bulan Februari 2015 didapatkan cakupan 35%% dan pencapaian
sebesar 47,7%

BAB IV
HASIL SURVEI

IV.1 Data Hasil Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Prasekolah Periode
Januari Februari 2015

IV.1.1 Cangkupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Prasekolah Periode
Januari Februari 2015

Cangkupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah merupakan
perbandingan antara jumlah anak balita dan prasekolah yang di DDTK dengan jumlah
sasaran seluruh anak balita dan prasekolah usia (1-6 tahun) per periode januari februari
2015 di Posyandu Dusun Mertan Desa Madyocondro dikalikan 100%.
Rumus :
Cakupan : Jumlah anak balita dan prasekolah yang di DDTK
Jumlah anak balita dan prasekolah (1-6 tahun)

Sasaran jumlah anak balita dan prasekolah usia (1-6 tahun) di Dusun Mertan Desa

Madyochondro pada bulan berjalan bulan Februari 2015 sebesar 33 anak


Jumlah anak balita dan prasekolah yang di DDTK di Dusun Mertan Desa

Madyochondro pada bulan Februari 2015 sebesar 15 anak


Persentase cangkupan deteksi dini tumbuh kembang di Dusun Mertan Desa

Madyochondro bulan Februari 2015 sebesar 45,4%


Target pencapaian deteksi dini tumbuh kembang selama 1 tahun (target DINKES

Magelang) sebesar 95%


Besar pencapaian bulan berjalan 47,7%, sehingga pencapaian deteksi dini tumbuh
kembang masih sangat rendah jauh dari targer sebesar 95%.

IV.2 Deskripsi Hasil Kuosioner


Kuosioner diberikan ibu yang memiliki anak balita dan prasekolah usia 1-6 tahun
pada bulan Februari 2015 serta masih menetap di Dusun Mertan Desa Madyochondro.
Penyebaran kuosioner ini dimaksudkan untuk melihat apakah semua ibu mengerti tentang
deteksi dini tumbuh kembang dan mengetahui apakah proses pemeriksaan deteksi dini
tumbuh kembang berjalan di posyandu tersebut.
A. Pendidikan ibu yang memiliki anak balita dan prasekolah usia 1-6 tahun
Tabel 6. Pendidikan ibu

SD

SMP

SMA

Pendidikan

Jumlah
Responden
20
100%

tinggi
0

40%

30%

30%

0%

Dari tabel diatas, tingkat pendidikan ibu di Dusun Mertan dengan pendidikan SD sebanyak 8
orang (40%), SMP sebanyak 6 orang (30%), dan SMA sebanyak 6 orang (30%).

B. Ibu yang memiliki usia balita dan prasekolah usia 1-6 tahun
Tabel 7. Jumlah ibu yang memiliki anak balita dan prasekolah
Ya
Tidak
Jumlah
20
0
20
100%
0%
100%
Dari tabel diatas sebanyak 20 ibu yang datang keposyandu memiliki balita dan anak
prasekolah

C. Apakah anak ibu dibawa ke posyandu setiap bulan


Tabel 8. Kedatangan ke posyandu
Ya
Tidak
Jumlah
20
0
20
100%
0%
100%
Berdasarkan tabel, menunjukkan kepatuhan ibu untuk ke posyandu baik.

D. Apakah di Posyandu anak ibu ditimbang berat badannya?


Tabel 9. Penimbangan di posyandu
Ya
20
100%

Tidak
0
0%

Jumlah
20
100%

Berdasarkan tabel, semua bayi yang datang keposyandu ditimbang

E. Apakah di posyandu anak ibu diukur tinggi badannya?


Tabel 10. Penggukuran tinggi badan di posyandu
Ya
Tidak
Jumlah
20
0
20
100%
0%
100%
Berdasarkan tabel, semua balita yang datang ke posyandu dilakukan penggukuran tinggi
badan

F. Apakah anak ibu di posyandu diukur lingkar kepalanya?


Tabel 11. Pengukuran lingkar kepala
Ya
Tidak
Jumlah
4
16
20
30%
70%
100%
Berdasarkan tabel, semua balita yang datang ke posyandu dilakukan penggukuran lingkar
kepalanya hanya 30%

G. Apakah di posyandu anak ibu diukur lingkar lengannya?


Tabel 12. Penggukuran lingkar lengan
Ya
Tidak
Jumlah
3
17
20
15%
85%
100%
Berdasarkan tabel, semua balita yang datang ke posyandu dilakukan penggukuran lingkar
lengan.hanya 15%

H. Apakah hasil pemeriksaan yang dilakukan di posyandu dicatat oleh bidan atau kader?
Tabel 13. Pencatatan hasil pemeriksaan
Bidan
20

Kader
0

Jumlah
20

100%
0%
Berdasarkan tabel, semua pencatatan di catat oleh bidan

100%

I. Apakah ibu menerima hasil pencatatan?


Tabel 14. Penerimaan catatan
Ya
Tidak
Jumlah
20
0
20
100%
0%
100%
Berdasarkan tabel, semua responden menerima hasil pencatatan
J. Hasil pencatatan dicatat pada?
Tabel 15. Pencatatan
KMS/KIA
Selain KMS/KIA
20
0
100%
0%
Berdasarkan tabel, hasil pencatatan dicatat di buku KMS

Jumlah
20
100%

K. DDTK adalah?
Tabel 16. Pengetahuan ibu tentang DDTK
Ya
Tidak
Jumlah
2
18
20
10%
80%
100%
Berdasarkan tabel, hanya 10% ibu yang mengerti tentang DDTK.

IV.3 Hasil Wawancara Tenaga Kesehatan


Hasil wawancara dengan tenaga kesehatan dalam hal ini dengan bidan di Posyandu
Mertan didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 17. Hasil wawancara tenaga kesehatan (Bidan Posyandu Mertan)
Input
Man

Pertanyaan
1. Siapa
membantu

saja

Jawaban
yang Bidan dan kader
proses

pemeriksaan DDTK di

Posyandu?
2. Apakah program DDTK
berjalan

di

posyandu?

Pemeriksaan

apa

yang dilakukan?
3. Apakah jumlah

Berjalan, dilakukan berupa

saja penimbangan,
bidan

penggukuran

TB

desa di dusun mertan Ya


memadai?
4. Apakah bidan
kader

dibantu

dalam

proses

posyandu?
Money

1. Dariana
untuk

sumber

Ya
dana Dari perserta posyandu

berlangsungnya

posyandu?
2. Apakah dana yang ada
sudah memadai?

Machine

Kurang memadai
1. Apakah peralatan yang Sudah memadai
ada

sudah

memadai?

Seperti timbangan dan


Material

meteran?
1. Sejauh
ini

apakah Belum Memadai

perlengkapan

sudah

memadai? (buku KIA,


pedoman

DDTK,

formulir

laporan

kesehatan,

formulir

rekapitulasi

laporan

kesehatan balita dan anak


Methode

prasekolah.
Metode apa

saja

yang Pemeriksaan

digunakan dalam pelayanan posyandu


Lingkungan

kesehatan program DDTK?


1. Menurut ibu tingkat Masih kurang
pengetahuan

dan

kesadaran warga tentang

DDTK

di

pertumbuhan

dan

perkembangan nak balita


dan

prasekolah

bagaimana
2. Menurut ibu
warga
Perencanaan (P1)

apakah

tahu

Tidak

tentang

DDTK?
1. Apakah

terdapat Ada

penjadwalan tentang hari


pelaksanaan posyandu?
2. Apakah terdapat jadwal Tidak
tentang
DDTK
Pelaksanaan (P2)

pemeriksaan
di

posyandu

ataupun di TK?
1. Untuk kegiatan
sudah

yang Belum

direncanakan

apakah sudah terlaksana


Pemgawan,

semua?
pengendalian, 1. Bagaimana

dan penilaian (P3)

sistem Dicatat dalam fomat yang

pencatatan dan pelaporan


pelayanan

diberikan

DINKES

kegiatan

DDTK?

Magelang dan dilaporkan ke


puskesmas pusat.

Berdasarkan pengisian kuosioner dan wawancara bidan dusun mertan mengakui tidak
berjalannya program DDTK di dusun mertan menurutnya karena terlalu banyak pemeriksaan
yang harus dilakukan, hal ini dirasa sedikit merepotkan, sehingga program DDTK
dipersingkat dengan langsung melihat ada atau tidaknya kelainan pada anak balita dan
prasekolah tanpa memalui tahap pemeriksaan yang seharusnya. Bidan hanya mencatat dan
melaporkan anak yang memiliki kelainan. Menurutnya, pengetahuan kader yang rendah
tentang DDTK sehingga peran kader dalam profram ini menjadi sangat sedikit. Dana untuk
kegiatan pun hanya bergantung dari peserta posyandu.

IV. 4 Hasil Wawancara dengan bidan koordinator Program DDTK


Berdarakan hasil wawancara dengan bidan koordinator program DDTK diketahui
tidak berjalannya program DDTK hampir diseluruh desa wilayah kerja puskesmas secang 1,
hal ini di karenakan bidan desa kerepotan dengan program tersebut sehingga pencatatan dan
hasil laporan tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Hampir seluruh bidan desa mencatat
anak yang memiliki kelainan saja, sehingga laporan yang dihasilkan tidak sesuai dengan
indikator yang seharusnya.

IV. 5 Hasil Wawancara dengan kader Posyandu Dusun Mertan


Dilakukan wawancara terhadap kader posyandu dusun mertan desa Madyochondro.
Total sebanyak 5 kader dan semuanya aktif mengikuti kegiatan posyandu. Karena terbatasnya
waktu, maka penulis hanya mewawancara 1 jader saja yang mewakili kader lainnya.
N

Pertanyaan

Jawaban

O
1
2

Apakah anda tahu tentang DDTK


Tidak
Apakah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahu Hanya penimbangan berat

perkembangan anak diposyandu?


badan saja
3
Apakah anda pernah mengikuti pelatihan DDTK?
Tidak
Berdasarkan hasil wawancara, dari tiga pertanyaan yang diajukan, tamapak pengetahuan
kader tentang DDTK sangat rendah. Hal ini bisa dikarenakan tidak pernah mengikuti
pelatihan DDTK atau bisan sendiri tidak memberikan pengetahuan tentang DDTK. Bahkan
kader juga meyatakan pemeriksaan untuk mengetahui DDTK ganya penimbangan berat
badan.

BAB V
ANALISIS MASALAH

V.1 Kerangka Pikir Pemecahan Masalah


Dalam pemecahan masalah, langkah pertama adalah mengidentifikasi masalah yang
ada, lalu menganalisis penyebab masalah dengan cara menggali berdasarkan data atau
kepustakaan. Untuk membantu menentukan kemungkinan penyebab masalah digunakan
diagram Fish Bone, kemudian mencari penyebab dilakukan dengan mengkonfirmasi
kemungkinan penyebab yang ditemukan pada bagian program tersebut. Setelah itu, dicari
penenaggulangan penyebab masalah dengan menyusun alternatif pemecahan masalah.
Selanjutnya, menetapkan pemecahan masalah terpilih dengan kriteria matriks. Setelah
menemukan urutan pripritasnya, disusunlah Plan Of Action (POA).

Gambar 6. Siklus Pemecahan Masalah

V.2 Identifikasi Masalah


Identifikasi masalah ini dilakukan menggunakan SPM Puskesmas Secang 1 dimana
jumlah cangkupan untuk program deteksi dini tumbuh kembang anak balita untuk bulan
Januari Desember 2014 sebesar 1267 dengan besar cakupan 44,49% dimana target yang
ditetapkan Dinkes Kabupaten Magelang sebesar 95%. Sehingga pencapaiannya adalah
46,83% dari target dinkes.
Sementara itu, di Dusun Mertan, Desa Madyochondro jumlah cangkupan balita bulan
Februari 2015 45,4% dengan pencapaian 47,7%. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan di
dusun Mertan desa Madyochondro masih rendah dari target yang diharapkan.
V.3 Analisis Penyebab Masalah
Dalam menganalisis masalah digunakan metode pendekatan sistem untuk mencari
kemungkinan penyebab dan menyusun pendekatan-pendekatan masalah. Dari pendekatan
sistem ini dapat ditelusuri hal-hal yang mungkin menyebabkan munculnya masalah di dusun
Mertan Desa madyochondro Kecamatan Secang Kabupaten Magelang. Adapun sistem yang
diutarakan disini adalah sisitem terbuka pelayanan kesehatan yang dijabarkan sebagai
berikut:

Gambar 7. Kerangka Pikir Pendekatan Sistem

Masalah yang timbul terdapat pada output dimana hasil kegiatan tidak sesuai standart
minimal.

V.4 Kemungkinan penyebab Masalah


Tabel 18. Analisis Kemungkinan Penyebab Masalah Ditinjau dari Faktor Input
Input
Man

Kelebihan
1. Terdapat bidan desa
untuk melaksanakan

melaksanakan

program DDTK di

pemeriksaan DDTK

posyandu
2. Terdapat kader yang

Money

seperti seharusnya
2. Rendahnya pengetahuan

dapat membantu proses

kader tentang program

pencatatan dan

DDTK

pemeriksaan DDTK
1. Warga masih mau

1. Terbatasnya dana

membayar sebesar 1000

dikarenakan puskesmas

rupiah tiap kali mengikuti

tidak memberikan dana

posyandu untuk dana


kegiatan
Method

Kekurangan
1. Bidan tidak

1. Melalui posyandu

rutin untuk kegiatan


2. Tidak adanya dana untuk
penyuluhan
1. Banyaknya poin

pemeriksaan tumbuh

pemeriksaan DDTK

kembang naka menjadi

sehingga dianggap

berkesinambungan

merepotkan dan kurang


sesuai dengan terbatasnya
waktu pelaksanaan
2. Masih kurangnya
penyuluhan tentang
pentingnya DDTK bagi

Material

1. Lokasi Posyandu
dirumah kepala dusun

balita
1. Belum optimalnya
kegiatan posyandu
terutama untuk
pemeriksaan DDTK

2. Tidak terdapatnya buku


pedoman DDTK,
formulir laporan
kesehatan dan formulir
rekapitulasi laporan
kesehatan balita dan anak
Machine

1. Terdapatnya alat-alat
untuk pemeriksaan
DDTK (timbangan
dan meteran)

prasekolah
1. Timbangan terbatas
hanya timbangan gantung
2. Meteran yang dimiliki
hanya 1

Tabel 19. Analisis Kemungkinan Penyebab Masalah ditinjau dari Faktor Proses dan
Lingkungan
Proses
P1

Kelebihan
Kekurangan
1. Posyandu sudah dijadwal
tiap bulannya
2. Dipersiapkan alat yang

P2

dibutuhkan
1. Anak ditimbang
1. Masih
kurangnya
2. Dilakukan
pencatatan
kegiatan
penyuluhan
KMS
untuk ibu-ibu mengenai
3. Pencatatan dibuku kader
4. Terdapat
pelayanan
pentingnya DDTK balita
kesehatan

secara rutin di posyandu


2. Pemeriksaan
tumbuh
kembang anak balita dan
prasekolah hanya sebatas
penimbangan berat badan
dan tinggi badan saja
3. Pemeriksaan
lingkar
kepala dan lingkar lengan
dilakukan

apabila

terdapat kelainan
4. Kelainan yang ditemukan
hanya

berdasarkan

P3

pengelihatan saja
1. Adanya laporan bulanan 1. Laporan rekapitulasi di
rekapitulasi

hasil

posyandu tentang DDTK

puskesmas

tidak

mencantumkan
cangkupan

masing-

masing desa, sehingga


sulit untuk menlakukan
pengawasan

terhadap

desa yang cangkupannya


lebih rendah.
2. Laporan mencapaian dan
cakupan sangat rendah
dikarenakan

proses

pencatatan yang salah.


(bidan

desa

hanya

mencatat dan melaporkan


anak

yang

memiliki

kelainan saja, seharunya


seluruh
sideteksi

anak

yang
sehingga

cakupan dan pencapaian


sangat rendah)
3. Kurangnya pengawasan
kinerja petugas lapangan
dan

kurangnya

pemantauan terhadap tata


cara pemeriksaan DDTK
Lingkungan

1. Terjangkaunya

yang benar.
sarana 1. Pengetahuan ibu tentang

pelayanan dan kesehatan

program DDTK rendah,

(posyandu) dari wilayah

sehingga

tenpat tinggal masyarakat


2. Lebih banyak ibu yang
memiliki sikap yang baik
terhadap

kegiatan

sebagian

ibu

cukup puas hanya dengan


pemeriksaan berat badan
dan tinggi badan untuk
memantau pertumbuhan

posyandu

dan perkembangan anak.

V.5 Daftar Penyebab Masalah


Seetelah dilakukan analisis penyebab masalah, didaptkan daftar penyebab masalah
sebagai berikut:
1. Bidan tidak melaksanakan pemeriksaan DDTK seperti seharusnya
2. Rendahnya pengetahuan kader tentang program DDTK
3. Terbatasnya dana dikarenakan puskesmas tidak memberikan dana secara rutin untuk
kegiatan
4. Tidak adanya dana untuk penyuluhan
5. Banyaknya poin pemeriksaan DDTK yang dianggap merepotkan dan kurang sesuai
dengan terbatasnya waktu pelaksanaan posyandu
6. Masih jurangnya penyuluhan tentang pentingnya DDTK bagi balita
7. Belum optimalnya kegiatan posyandu terutam pemeriksaan DDTK
8. Tidak terdapatnya buku pedoman DDTK, formulir laporan kesehatan dan formulir
rekapitulasi laporan kesehatan balita dan anak prasekolah
9. Masih kurangnya kegiatan penyuluhan untuk ibu-ibu mengenai pentingnya DDTK balita
secara rutin diposyandu
10. Pemeriksaan tumbuh kembang anak balita dan prasekolah hanya sebatas penimbangan
berat badan dan tinggi badan saja.
11. Pemeriksaan lingkar kepala dan lengan atas dilakukan jika anak tersebut memiliki
kelainan
12. Pencatatan dilakukan hanya jika terdapat anak yang kelainan
13. Kelainan yang ditemukan hanya bedasarkan pengelihatan
14. Laporan rekapitulasi dipuskesmas tidak mencantumkan cakupan masing-masing desa,
sehingga sulit untuk melakukan pengawasan
15. Laporan cakupan dan pencapaian sangat rendah dikarenakan proses pencatatan yang salah
(bidan hanya mencatat dan melaporkan yang hanya memiliki kelainan)
16. Kurangnya pengawasan kinerja petugas lapangan dan kurangnya pemantauan terhadap
tata cara pemeriksaan DDTK yang benar
17. Pengetahuna ibu tentang DDTK rendah, sehingga sebagaian besar ibu cukup puas dengan
hanya melakukan pemeriksaan berat badan dan tinggi badan untuk memantaiu
pertumbuhan dan perkembangan anak.

P2
P1
ya edukasi petugas kesehatan kepadaa ibu hamil mengenai pentingnya pemberian Fe pada ibu hamil dan dampak yang ditimbulkan dari kekurangan zat besi
Belum adanya penjadwalan yang rutin untuk kunjungan rumah bagi ibu hamil yang tidak memeriksa kehamilannya di Posyandu setempat ata
omosi yang disampaikan oleh
kurang menarik
P3 bidan dan kader
Belum efektifnya pendistribusiaan tablet Fe oleh bidam desa kepada ibu hamil
hamil yang mendapatkan 90 tablet Fe karena Kurang
memeriksakan
kehamilannya
di RS atau
praktek
dokter
adanya promosi
penyuluhan
manfaat
tablet
Fe bagi ibu hamil pada warga

Rendahnya cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe di Desa Madyocondro sebesa

Material
p bulan dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh petugas kesehatan untuk melakukan penyuluhan pentingnya pemberianMan
zat besi pada ibu hamil secara lebih dekat pada masyarakat
Bidan desa kurang berperan aktif dalam melakukan kunjungan rumah bagi ibu hamil yang tidak memeriksa kehamilannya di Posyandu sete
Kurang terlatihnya kader desa untuk mengenali gejala-gejala dini anemia pada ibu hamil yang harus diwaspadai

Money
urangnya pendanaan untuk penyuluhan-penyuluhan tentang pentingnya pemberian tablet Fe pada ibu hamil secara berkala

Lingkungan

Method
Masih rendahnya
pengetahuan
danpemberian
pemahaman
ibu
danhamil
keluarganya mengenai manfaat pemberian 90 tablet Fe pada saat ham
Belum adanya Standar Operasional
Prosedur yang
spesifik tentang
tablet
Fehamil
pada ibu
Belum adanya jadwal kunjungan
rumah kecil
oleh bidan
desa kepada
ibu hamil
Sebagian
ibu hamil
melakukan
pemeriksaan pada dokter ataupun bidan swasta lainnya dan tidak terdata oleh bidan desa

Efek samping mual dari tablet Fe menyebabkan beberapa ibu hamil menolak meminum tablet Fe

Machine
Fe di setiap posyandu tidak sesuai dengan kebutuhan (jumlah terbatas)
leaflet, dan poster yang berkaitan dengan pentingnya pemberian tablet Fe dan gejala-gejala anemia yang harus diwaspadai pada ibu hamil

INPUT

V.6 Penyebab masalah Ynag Paling Mungkin


Seetelah dilakukan konfirmasi kepada bagian KIA, bidan desa, kader, serta ibu yang
datang ke posyandu, maka didapatkan penyebab masalah yang paling mungkin yaitu:
1. Laporan cakupan dan pencapaian sangat rendah dikarenakan proses pencatatan yang
salah
2. Bidan tidak melaksanakan pemeriksaan DDTK seperti yang seharusnya
3. Rendahnya pengetahuan kader tentang program DDTK
4. Masih kurangnya kegiatan penyuluhan untuk ibu-ibu mengenai pentingnya DDTK
balita secara rutin di posyandu
5. Tidak terdapatnya buku pedoman DDTK, formulir laporan kesehatan dan formulir
rekapitulasi laporan kesehatan balita dan anak prasekolah
6. Kurangnya pengawasan kinerja petugas lapangan dan kurangnya pemantauan
terhadap tata cara pemeriksaan DDTK yang benar

BAB VI
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

VI.1. Analisis Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah diperoleh daftar masalah, dilakukan langkah selanjutnya yaitu dibuat alternatif
pemecahan masalah. Berikut ini laternatif pemecahan masalah :
Tabel 19. Alternatif Pemecahan Masalah
No
1

Penyebab Masalah
Laporan cakupan dan pencapaian sangat

Alternatif Pemecahan Masalah


Koordinasi antara bidan koordinator

rendah dikarenakan proses pencatatan yang

program DDTK dengan seluruh bidan

salah

desa, untuk menyamakan persepsi


tentang indikator program DDTK

sesuai dengan yang ada di SPM


Bidan tidak melaksanakan pemeriksaan Koordinasi antara bidan koordinator
DDTK seperti yang seharusnya

dengan bidan desa untuk mencari cara


yang mudah dalam pelaksanaannya,
dan bidan mau melakukan proses

Rendahnya

pengetahuan

kader

DDTK sebagaimana mestinya


tentang Penyuluhan kepada para kader

program DDTK

mengenai program DDTK dan peran


sertanya dalam membantu

Masih

kurangnya

kegiatan

pelaksanaan program tersebut


penyuluhan Pengadaan penyuluhan mengenai

untuk ibu-ibu mengenai pentingnya DDTK tumbuh kembang anak dan mengenai
5

balita secara rutin di posyandu


program DDTK
Tidak terdapatnya buku pedoman DDTK, Pengadaan buku pedoman DDTK,
formulir laporan kesehatan dan formulir formulir laporan kesehatan, formulir
rekapitulasi laporan kesehatan balita dan rekapiyulasi laporan kesehatan anak

anak prasekolah
balita dan prasekolah
Kurangnya pengawasan kinerja petugas Memberikan pengarahan dan
lapangan

dan

kurangnya

pemantauan pelatihan kepada bidan koordinator

terhadap tata cara pemeriksaan DDTK yang agar dapat melakukan pengawasan
benar

dan dapat memantau DDTK di


lapangan

VI. 2. Penggabungan Pemecahan Masalah


Tabel 20. Penggabungan alternatif pemecahan masalah

Laporan cakupan dan pencapaian


sangat rendah dikarenakan proses
pencatatan yang salah
Bidan tidak melaksanakan
pemeriksaan DDTK seperti yang
seharusnya

Rendahnya pengetahuan kader


tentang program DDTK

Masih kurangnya kegiatan


penyuluhan untuk ibu-ibu mengenai
pentingnya DDTK balita secara
rutin di posyandu

Tidak terdapatnya buku pedoman


DDTK, formulir laporan kesehatan
dan formulir rekapitulasi laporan
kesehatan balita dan anak prasekolah

Kurangnya pengawasan kinerja


petugas lapangan dan kurangnya
pemantauan terhadap tata cara
pemeriksaan DDTK yang benar

Koordinasi anatara bidan koordinator


program DDTK dengan seluruh bidan
desa, untuk menyamakan persepsi
tentang indikator program DDTK serta
membicarakan pelaksanaan DDTK

Penyuluhan kepada para kader dan


ibu-ibu yang mempunyai anak balita
dan prasekolah mengenai program
DDTK dan peran sertanya dalam
membantu pelaksanaan program
tersebut

Pengadaan buku pedoman DDTK, formulir


laporan kesehatan, formulir rekapiyulasi laporan
kesehatan anak balita dan prasekolah

Memberikan pengarahan dan pelatihan kepada bidan


koordinator agar dapat melakukan pengawasan dan
dapat memantau DDTK di lapangan

VI. 3. Penentuan Priorotas Pemecahan Masalah


Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, selanjutnya dilakukan penentuan
priorotas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan kriteria matriks. Berikut ini
proses penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan Kriteria
Matriks.
Menggunakan rumus : M. I. V
C
1. Efektivitas program
Pedoman untuk mengukur efektivitas program:
a

Magnitude ( m ) Besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan.


Semakin banyak penyebab masalah yang teratasi maka nilainya semakin efektif

Importancy ( I ) Pentingnya cara penyelesaian masalah


Semakin penting masalah diselesaikan maka nilainya semakin efektif

Vulnerability ( v ) Sensitifitas cara penyelesaian masalah


Kriteria m, I, dan v kita beri nilai 1-5
Bila makin magnitude maka nilai nya makin besar, mendekati 5.
Bila makin importancy maka nilai nya makin besar, mendekati 5.
Bila makin vulnerability maka nilai nya makin besar, mendekati 5.

2. Efisiensi pogram
Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah ( cost )
Kriteria cost ( c ) diberi nilai 1-5. Bila cost nya makin kecil, maka nilainya mendekati 1.

Berikut ini proses penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan


menggunakan kriteria matrix.
Tabel 21. Hasil Akhir Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah
Hasil

Nilai Kriteria

Penyelesaian Masalah

Akhir
M.I.V/C

Urutan

48

16

III

IV

22,5

II

1. Koordinasi antara bidan koordinator


program DDTK dengan seluruh bidan
desa,

untuk

menyamakan

persepsi

tentang indikator program DDTK serta


membicarakan pelaksanaan DDTK
2. Penyuluhan kepada para kader dan ibuibu yang mempunyai anak balita dan
prasekolah mengenai program DDTK
dan peran sertanya dalam membantu
pelaksanaan program tersebut
3. Pengadaan buku pedoman

DDTK,

formulir laporan kesehatan, formulir


rekapitulasi laporan kesehatan anak
balita dan prasekolah
4. Memberikan pengarahan dan pelatihan
kepada bidan koordinator agar dapat
melakukan

pengawasan

dan

dapat

memantau DDTK di lapangan

VI. 4 Plan Of Action


Dalam Plan of Action akan disajikan perencanaan kegiatan pemecahan masalah.

Tabel 22. Plan of Actions (POA)


N
O
1

Kegiatan

Tujuan

Sasaran

Waktu

Dana

Lokasi

Pelaksana

Meningkatkan
evaluasi data ibu
hamil yang
melakukan
pemeriksaan di
tenaga kesehatan
swasta di Desa
Madyocondro
Melakukan
evaluasi terhadap
kinerja kader,
bidan desa, dan
petugas gizi
dalam pelayanan
terhadap
pemberian 90
tablet Fe pada ibu
hamil di Desa
Madyocondro
Membuat rencana
kegiatan
penyuluhan
bulanan dan

Meningkatkan
jumlah
kunjungan ibu
hamil yang
datang
memeriksaka
n
kehamilannya
Meningkatnya
kinerja kader,
bidan desa
dan petugas
gizi

Ibu hamil

Menyesuaika
n dengan
jadwal
puskesmas

Dana
operasional
puskesmas

Puskesmas
Secang I

Koordinator diskusi
promkes,
KIA
dan
Gizi

Kader,
1 x/ tahun
Bidan
Desa, dan
Petugas
Gizi

Swadaya
Puskesmas
Secang 1

Balai Desa Bidan


Rapat
Puskesmas koordinator, evaluasi
Kepala
puskesmas

Meningkatkan
pendataan
yang lebih
lengkap di

Bidan
Desa,
Kader,
petugas

Dana
Puskesmas
Operasional Secang 1
Puskesmas
Secang I

Menyesuaika
n dengan
jadwal
kegiatan di

Metode

Koordinator Pendataan
KIA
kunjungan
(beserta
ibu hamil
bidan desa),

Tolak Ukur
Jadwal
promosi
kesehatan

Meningkatny
a
kinerja
kader, bidan
desa
dan
petugas gizi

Kunjungan
ibu hamil
yang sama

format laporannya
lalu dilaporkan
setiap bulannya

Meningkatkan
kerjasama antara
koordinator
Promkes dengan
Koordinator KIA
(mencakup bidan
desa)
Meningkatkan
pengetahuan dan
pemahaman ibu
hamil dan
keluarganya
Pembuatan
proposal
pengadaan media
promosi
sederhana dan
jelas

Desa
Madyocondro
mengenai
kunjungan ibu
hamil
Mengetahui
kunjungan ibu
hamik dan
sebagai
pelengkap
register ibu
hamil
Melengkapi
data
kunjungan ibu
hamil

KIA, Gizi
dan
Promkes

Posyandu

Petugas
KIA, Gizi
dan
Promkes

Menyesuaika
n dengan
jadwal
kegiatan di
Posyandu

Bidan
Desa

Minimal
sebulan sekali

Mengetahui
penyebab ibu
hamil tidak
melakukan
pemeriksaan

Bidan
Desa

Seminggu
sekali

serta dokter
puskesmas

Dana
Puskesmas
Operasional Secang 1
Puskesmas
Secang I

Puskesmas

Koordinator diskusi
KIA
(beserta
bidan desa),
serta dokter
puskesmas

Kunjungan
ibu hamil
yang sesuai
target

Koordinator Pertemuan
Promkes

Diperoleh
dana untk
pembuatan
media
promosi
Data
kunjungan ibu
hamil
dilaporkan
secara
lengkap

Dana
Rumah ibu Koordinator Pertemuan
Operasional hamil
gizi
dan
Puskesmas
promkes
Secang I

VI. 5. Gann Chart


Tabel 23. Gann Chart

2015
Kegiatan

Jan

Meningkatkan evaluasi data


ibu hamil yang melakukan
pemeriksaan
kesehatan

di

swasta

tenaga
di

Desa

Madyocondro
Melakukan evaluasi terhadap
kinerja kader, bidan desa, dan
petugas gizi dalam pelayanan
terhadap pemberian 90 tablet
Fe pada ibu hamil di Desa

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agust

Sept

Okt

Nov

Des

Madyocondro

Membuat

rencana

penyuluhan
format

kegiatan

bulanan

laporannya

dan
lalu

dilaporkan setiap bulannya


Meningkatkan
kerjasama
antara koordinator Promkes
dengan

koordinator

KIA

(mencakup bidan desa)


Meningkatkan
pengetahuan
dan pemahaman ibu hamil dan
keluarganya
Pembuatan proposal pengadan
media promosi sederhana dan
jelas

BAB VII
PENUTUP
7.1

Kesimpulan
Salah satu penyebab tersering kematian Ibu di Indonesia adalah anemia. Di Desa

Madyocondro, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang periode Januari Februari 2015


cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe sebesar 61%. Hal ini menunjukan cakupan,
pencapaian kurang dari 100%.
Berdasarkan pengamatan, wawancara dengan bidan desa yang dikonfirmasi kepada ibu
hamil terdapat sebanyak 20 kemungkinan penyebab masalah. Kemungkinan penyebab
masalah tersebut dikonfirmasikan kepada bidan Desa Madyocondro sehingga didapatkan 6
penyebab masalah yang paling mungkin menyebabkan rendahnya cakupan ibu hamil yang
mendapat 90 tablet Fe di Desa Madyocondro, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang
periode Januari Februari 2015. Berdasarkan 6 penyebab masalahtersebut dibuat 8 alternatif
pemecahan masalah yang sama didapatkan 6 alternatif pemecahan masalah. Dengan
menggunakan metode miv/c untuk menentukan prioritas alternatif pemecahan masalah yang
berkaitan dengan rendahnya cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe di Desa
Madyocondro, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang didapatkan urutan pertama adalah
meningkatkan evaluasi data ibu hamil yang melakukan pemeriksaan di tenaga kesehatan
swasta di Desa Madyocondro, meningkatkan kinerja bidan desa, kader dan petugas gizi
dalam pelayanan terhadap pemberian 90 tablet Fe kepada ibu hamil di Desa Madyocondro,
setiap koordinator membuat rencana kegiatan penyuluhan bulanan dan format laporannya lalu
dilaporkan setiap bulannya, meningkatkan kerjasama antara koordinator Promkes dengan
koordinator KIA (mencakup bidan desa) mengenai strategi promosi penyuluhan manfaat
tablet Fe pada ibu hamil pada warga, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu hamil

dan kelurganya mengenai manfaat tablet Fe pada ibu hamil dan mengenai akibat yang
ditimbulkan kekurangan Fe, dan pembuatan proposal pengadaan media promosi sederhana
seperti poster dan leaflet tentang penyuluhan manfaat tablet Fe pada ibu hamil yang menarik,
isi pesan menarik. Dengan memperbaiki input dan proses dari kegiatan ini diharapkan
cakupan bulan/tahun yang akan datang dapat lebih baik/ dapat ditingkatkan.
7.2

Saran

Terhadap Kepala Desa Madyocondro dan Bidan Desa :


1. Menggiatkan program penyuluhan kepada masyarakat melalui petugas kesehatan dan
tokoh masyarakat tentang kegunaan dan penggunaan tablet Fe pada ibu hamil.
2. Menggiatkab program penyuluhan berkesinambungan dengan posyandu sebagai
penggerak masyarakat akan program pemberian 90 tablet Fe pada ibu hamil.
3. Mengkoordinasikan pembuatan dan penyebaran brosur atau papan informasi mengenai
kegunaan, penggunaan, efek samping tablet Fe dan akibat yang ditimbulkan akibat
kekurangan zat besi terhadap ibu hamil.
Terhadap Masyarakat :
1. Melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur dan mengkonsumsi tablet Fe secara
teratur
2. Mendukung program penyuluhan kesehatan sebagai salah satu cara meningkatkan
kesadaran akan pentingnya masyarakat
3. Menggiatkan iuran dana sehat sebagai salah satu cara meningkatkan pelayanan

kesehatan.