Anda di halaman 1dari 13

Lansia sangat rentan terhadap konsekuensi fisiologis dan psikologis dari imobilitas,

perubahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi
predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini imobilitas
mempengaruhi tubuh yang telah terpengaruh sebelumnya.
Kompetensi fisik seseorang lansia mungkin berada atau dekat dengan tingkat ambang
batas untuk aktivitas mobilitas tertentu. Perubahan lebih lanjut atau kehilangan dari imobilitas
dapat membuat seseorang menjadi tergantung. Keuntungan latihan secara teratur untuk lansia
termasuk memperlambat proses penuaan, memperpanjang usia. Fungsi kardiovaskular yang
lebih baik dan peningkatan perasaan sejahtera.
Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic.
Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas
tergantung pada fungsi system musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonal
a. Pengembangan program latihan
Program latihan yang sukses sangat individual, diseimbangkan, dan mengalami peningkatan.
Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan
suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat
memberikan efek latihan.
b. Keamanan
Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien, instruksi
tentang latihan yang aman harus dilakukan.
2. Pencegahan sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dikurangi atau
dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal diri suatu pengertian
tentang berbagai faktor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan
penuaan.
3. Pencegahan tersier
Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya
multidisiplin yang terdiri dari perawat, dokter, ahli fisioterapi, dan terapi okupasi, seorang
ahli gizi, aktivitas sosial, dan keluarga serta teman-teman
jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang melihat
kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai / tempat yang lebih
rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka ( Reuben, 1996 ).
Jatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut. Banyak faktor berperan di dalamnya,
baik faktor intrinsic dalam diri lansia tersebut seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot
ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope dan dizzines, serta faktor ekstrinsik seperti lantai
yang licin dan tidak rata, tersandung benda benda, penglihatan kurang karena cahaya
kurang terang, dan sebagainya.

Untuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa stabilitas badan
ditentukan atau dibentuk oleh:
a. Sistem sensori
Yang berperan di dalamnya adalah: visus ( penglihatan ), pendengaran, fungsi vestibuler,
dan proprioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menimbulkan gangguan
penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran. Vertigo tipe
perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karpena adanya perubahan fungsi vestibuler
akibat proses manua. Neuropati perifer dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu
fungsi proprioseptif (Tinetti, 1992). Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hampir
sepertiga penderita lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.
b. Sistem saraf pusat ( SSP )
SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik. Penyakit
SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan normal, sering diderita oleh lansia dan
menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik
( Tinetti, 1992).
c. Kognitif
Pada beberapa penelitian, dementia diasosiasikan dengan meningkatkan risiko jatuh.
d. Muskuloskeletal ( Reuben, 1996; Tinetti, 1992; Kane, 1994; Campbell, 1987; Brocklehurs,
1987 ).
Faktor ini disebutkan oleh beberapa peneliti merupakan faktor yang benar benar murni
milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan muskuloskeletal.
Menyebabkan gangguan gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan dengan proses menua yang
fisiologis. Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan
oleh:
1. Kekakuan jaringan penghubung
2. Berkurangnya massa otot
3. Perlambatan konduksi saraf
4. Penurunan visus / lapang pandang
Yang kesemuanya menyebabkan:
1. Penurunan range of motion ( ROM ) sendi
2. Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah
3. Perpanjangan waktu reaksi
4. Kerusakan persepsi dalam
5. Peningkatan postural sway ( goyangan badan )
Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek,
penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan
lebih cenderung gampang goyah. Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah /
terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpleset, tersandung, kejadian tiba
tiba, sehingga memudahkan jatuh.

FAKTORFAKTOR LINGKUNGAN YANG SERING DIHUBUNGKAN DENGAN


RESIKO JATUH PADA LANSIA
1. Alat alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di
bawah
2. tempat tidur atau WC yang rendah / jongkok
3. tempat berpegangan yang tidak kuat / tidak mudah dipegang
4. Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun
5. Karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal / menekuk pinggirnya, dan bendabenda alas lantai yang licin atau mudah tergeser
6. Lantai yang licin atau basah
7. Penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan)
8. Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.

AKTOR FAKTOR SITUASIONAL YANG MUNGKIN MEMPRESIPITASI JATUH ANTARA


LAIN : ( Reuben, 1996; Campbell, 1987 )
1. Aktivitas
Sebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas biasa seperti
berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi. Hanya sedikit sekali ( 5% ),
jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berbahaya seperti mendaki
gunung atau olahraga berat. Jatuh juga sering terjadi pada lansia dengan banyak
kegiatan dan olahraga, mungkin disebabkan oleh kelelahan atau terpapar bahaya
yang lebih banyak. Jatuh juga sering terjadi pada lansia yang imobil ( jarang
bergerak ) ketika tiba tiba dia ingin pindah tempat atau mengambil sesuatu tanpa
pertolongan.
2. Lingkungan
Sekitar 70% jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10% terjadi di tangga, dengan
kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik, yang lainnya
terjadi karena tersandung / menabrak benda perlengkapan rumah tangga, lantai
yang licin atau tak rata, penerangan ruang yang kurang
3. Penyakit Akut
Dizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut dari penyakit
kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan jatuh, misalnya sesak nafas
akut pada penderita penyakit paru obstruktif menahun, nyeri dada tiba tiba pada
penderita penyakit jantung iskenmik, dan lain lain.
H. KOMPLIKASI

Jatuh pada lansia menimbulkan komplikasi komplikasi seperti : ( Kane, 1994; Van
der Cammen, 1991 )
1. Perlukaan ( injury )
a. Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya
jaringan otot, robeknya arteri / vena
b. Patah tulang ( fraktur ) : Pelvis, Femur ( terutama kollum ), humerus, lengan
bawah, tungkai bawah, kista
c. Hematom subdural
2. Perawatan rumah sakit
a. Komplikasi akibat tidak dapat bergerak ( imobilisasi )
b. Risiko penyakit penyakit iatrogenik
3. Disabilitas
a. Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik
b. Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri, dan pembatasan
gerak
4. Resiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan ( nursing home )
5. Mati
I. PENCEGAHAN
Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila sudah
terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan.
Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan, antara lain : ( Tinetti, 1992; Van der
Cammen, 1991; Reuben, 1996 )
1. Identifikasi faktor resiko
Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor
intrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologik,
muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari / menyebabkan jatuh.
Keadaan leingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus
dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan. Lantai rumah
datar, tidak licin, bersih dari benda benda kecil yang susah dilihat. Peralatan

rumah tangga yangsudah tidak aman ( lapuk, dapat bergeser sendiri ) sebaiknya
diganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu jalan / tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin,
sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC
sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.
Obat obatan yang menyebabkanhipotensi postural, hipoglikemik atau penurunan
kewaspadaan harus diberikan sangat selektif dan dengan penjelasan yang
komprehensif pada lansia dan keluargannya tentang risiko terjadinya jatuh akibat
minum obat tertentu.
Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod, kruk atau walker
harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman tidak mudah bergeser serta
sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.
2. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan ( gait )
Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam melakukan
gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural sway sangat diperlukan
untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Bila goyangan badan pada saat
berjalan sangat berisiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi
medik. Penilaian gaya berjalan ( gait ) juga harus dilakukan dengan cermat apakah
penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot
ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu
harus dikoreksi bila terdapat kelainan / penurunan.
3. Mengatur / mengatasi fraktur situasional
Faktor situasional yang bersifat serangan akut / eksaserbasi akut, penyakit yang
dideriata lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lansia secara
periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan
perbaikan lingkungan seperti tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa
aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu
diberitahukan pada penderita aktifitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita,
aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai
hasil pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik,
maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik sangat melelahkan atau
beresiko tinggi untuk terjadinya jatuh.

Jatuh
Jatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut. Banyak faktor berperan di
dalamnya, baik faktor intrinsic dalam diri lansia tersebut seperti gangguan gaya
berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope dan dizzines,

serta faktor ekstrinsik seperti lantai yang licin dan tidak rata, tersandung benda
benda, penglihatan kurang karena cahaya kurang terang, dan sebagainya.
The International Classification of Disease (ICD 9) mendefinisikan jatuh
sebagai kejadian yag diharapka dimana seseorang terjatuh dari tempat yang lebih
tinggi ke tempat yang lebih rendah dengan atau tempat yang sama tingginya( Masud,
Morris, 2006).
King, mendefinisikan jatuh sebagai kejadian yang tidak disadari oleh
seseorang yang terduduk di lantai/tanah atau tampat yang lebih rendah tanpa
disebabkan oleh hilangnya kesadaran, stroke, atau kekuatan yang berlebihan(King,
2004).
B. FAKTOR RESIKO
Untuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa
stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh:
1.

Sistem sensorik
Yang berperan di dalamnya adalah: visus ( penglihatan ), pendengaran, fungsi

vestibuler, dan proprioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan
menimbulkan gangguan penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan
gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga
karpena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat proses manua. Neuropati perifer
dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi proprioseptif ( Tinetti,
1992 ). Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hampir sepertiga penderita lansia
mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.
2. Sistem saraf pusat ( SSP )
SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik.
Penyakit SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan normal, sering diderita
oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik
terhadap input sensorik ( Tinetti, 1992 ).
3. Kognitif
Pada beberapa penelitian, dementia diasosiasikan dengan meningkatkan
risiko jatuh.
4. Muskuloskeletal ( Reuben, 1996; Tinetti, 1992; Kane, 1994; Campbell, 1987;
Brocklehurs, 1987 ).

Faktor ini disebutkan oleh beberapa peneliti merupakan faktor yang benar
benar murni milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan
muskuloskeletal. Menyebabkan gangguan gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan
dengan proses menua yang fisiologis.
Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain
disebabkan oleh:
a.

Kekakuan jaringan penghubung.

b. Berkurangnya massa otot.


c.

Perlambatan konduksi saraf.

d. Penurunan visus / lapang pandang.


e.

Kerusakan proprioseptif
Yang kesemuanya menyebabkan:

a.

Penurunan range of motion ( ROM ) sendi.

b. Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah.


c.

Perpanjangan waktu reaksi.

d. Kerusakan persepsi dalam.


e.

Peningkatan postural sway ( goyangan badan )


Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang
pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak dapat menapak
dengan

kuat

dan

lebih

cenderung

gampang

goyah.

Perlambatan

reaksi

mengakibatkan seorang lansia susah / terlambat mengantisipasi bila terjadi


gangguan seperti terpleset, tersandung, kejadian tiba tiba, sehingga memudahkan
jatuh.

C. PENYEBAB PENYEBAB JATUH PADA LANSIA


Penyebab jatuh pada lansia biasanya merupakan gabungan beberapa faktor,
antara lain: ( Kane, 1994; Reuben , 1996; Tinetti, 1992; campbell, 1987; Brocklehurs,
1987 ).
a.

Kecelakaan :
Merupakan penyebab jatuh yang utama ( 30 50% kasus jatuh lansia ),
Murni kecelakaan misalnya terpeleset, tersandung.
Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan kelainan akibat
proses menua misalnya karena mata kurang awas, benda benda yang ada di rumah

tertabrak, lalu jatuh, nyeri kepala dan atau vertigo, hipotensi orthostatic, hipovilemia
/ curah jantung rendah, disfungsi otonom, penurunan kembalinya darah vena ke
jantung, terlalu lama berbaring, pengaruh obat-obat hipotensi, hipotensi sesudah
makan
b. Obat obatan
1. Diuretik / antihipertensi.Antidepresen trisiklik.
2. Sedativa.
3. Antipsikotik.
4. Obat obat hipoglikemia.
5. Alkohol
c. Proses penyakit yang spesifik
Penyakit penyakit akut seperti :
1. Kardiovaskuler : aritmia.
2. Stenosis aorta.
3. Sinkope sinus carotis.
4. Neurologi : TIA.
5. Stroke.
6. Serangan kejang.
7. Parkinson.
8. Kompresi saraf spinal karena spondilosis.
9. Penyakit serebelum
d. Idiopatik ( tak jelas sebabnya)
e. Sinkope : kehilangan kesadaransecara tiba-tiba.
1. Drop attack ( serangan roboh )Penurunan darah ke otak secara tiba tiba.
2. Terbakar matahari.
D. FAKTOR-FAKTOR RESIKO JATUH PADA LANSIA DIBAGI DALAM 2
GOLONGAN BESAR, yaitu (Kane, 1994)
Faktor faktor resiko jatuh pada lansia dibagi dalam 2 golonga besar, yaitu:
1.

Faktor Intrinsik
Faktor instrinsik dapat disebabkan oleh proses penuaan dan berbagai
penyakit sepertiStroke dan TIA yang mengakibatkan kelemahan tubuh sesisi ,
Parkinson yang mengakibatkan kekakuan alat gerak, maupun Depresi yang
menyebabkan lansia tidak terlalu perhatian saat berjalan . Gangguan penglihatan
pun seperti misalnya katarak meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Gangguan
sistem kardiovaskuler akan menyebabkan syncope, syncope lah yang sering

menyebabkan jatuh pada lansia.Jatuh dapat juga disebabkan oleh dehidrasi.


Dehidrasi bisa disebabkan oleh diare, demam, asupan cairan yang kurang atau
penggunaan diuretik yang berlebihan.
2. Ekstrinsik
Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua atau tergeletak di
bawah,tempat tidur tidak stabil atau kamar mandi yang rendah dan tempat
berpegangan yang tidak kuat atau tidak mudah dipegang, lantai tidak datar, licin
atau menurun, karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal/menekuk
pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser,lantai licin
atau basah, penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan), alat bantu jalan
yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.
E. FAKTOR FAKTOR LINGKUNGAN YANG SERING DIHUBUNGKAN
DENGAN KECELAKAAN PADA LANSIA.
1. Alat alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau
tergeletak di bawah.
2. Tempat tidur atau WC yang rendah / jongkok.
3. Tempat berpegangan yang tidak kuat / tidak mudah dipegang.
4. Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun.
5. Karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal / menekuk pinggirnya, dan
benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser.
6. Lantai yang licin atau basah.
7. Penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan).
8. Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.
F. FAKTOR

FAKTOR

SITUASIONAL

YANG

MUNGKIN

MEMPRESIPITASIJATUH ANTARA LAIN : ( Reuben, 1996; Campbell,


1987 )
1. Aktivitas
Sebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas biasa seperti
berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi. Hanya sedikit sekali ( 5% ), jatuh
terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berbahaya seperti mendaki gunung atau
olahraga berat. Jatuh juga sering terjadi pada lansia dengan banyak kegiatan dan
olahraga, mungkin disebabkan oleh kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih

banyak. Jatuh juga sering terjadi pada lansia yang imobil ( jarang bergerak ) ketika
tiba tiba dia ingin pindah tempat atau mengambil sesuatu tanpa pertolongan.
2. Lingkungan
Sekitar 70% jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10% terjadi di tangga, dengan
kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik, yang lainnya
terjadi karena tersandung / menabrak benda perlengkapan rumah tangga, lantai
yang licin atau tak rata, penerangan ruang yang kurang
3. Penyakit Akut
Dizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut dari
penyakit kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan jatuh, misalnya sesak
nafas akut pada penderita penyakit paru obstruktif menahun, nyeri dada tiba tiba
pada penderita penyakit jantung iskenmik, dan lain lain.
G. KOMPLIKASI
Jatuh pada lansia menimbulkan komplikasi komplikasi seperti : ( Kane,
1994; Van der Cammen, 1991 ).
1. Perlukaan ( injury ).
a.

Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya
jaringan otot, robeknya arteri / vena.

b. Patah tulang ( fraktur ) : Pelvis, Femur ( terutama kollum ), humerus, lengan bawah,
tungkai bawah, kista.
c.

Hematom subdural

2. Perawatan rumah sakit.


a.

Komplikasi akibat tidak dapat bergerak ( imobilisasi ).

b. Risiko penyakit penyakit iatrogenik


3. Disabilitas
a. Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik.
b. Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri, dan pembatasan
gerak
4. Resiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan ( nursing home )
5. Mati
H. PENCEGAHAN

Pencegahan dilakukan berdasar atas faktor resiko apa yang dapat


menyebabkan jatuh seperti faktor neuromuskular, muskuloskeletal, penyakit yang
sedang diderita, pengobatan yang sedang dijalani, gangguan keseimbangan dan gaya
berjalan, gangguan visual, ataupun faktor lingkungan.dibawah ini akan di uraikan
beberapa metode pencegahan jatuh pada orang tua :
1. Latihan fisik
Latihan fisik diharapkan mengurangi resiko jatuh dengan meningkatkan
kekuatan tungkai dan tangan, memperbaiki keseimbangan, koordinasi, dan
meningkatkan reaksi terhadap bahaya lingkungan, latihan fisik juga bisa mengurangi
kebutuhan obat-obatan sedatif. Latihan fisik yang dianjurkan yang melatih kekuatan
tungkai, tidak terlalu berat dan semampunya, salah satunya adalah berjalan kaki.
(1,4,5,6)
2. Managemen obat-obatan
Gunakan dosis terkecil yang efektif dan spesifik di antara:
1.

Perhatikan terhadap efek samping dan interaksi obat

2.

Gunakan alat bantu berjalan jika memang di perlukan selama pengobatan

3.

Kurangi pemberian obat-obatan yang sifatnya untuk waktu lama terutama

sedatif dan tranquilisers


4.

Hindari pemberian obat multiple (lebih dari empat macam) kecuali atas

indikasi klinis kuat


5.

Menghentikan obat yang tidak terlalu diperlukan

3. Modifikasi lingkungan
Atur suhu ruangan supaya tidak terlalu panas atau dingin untuk menghindari
pusing akibat suhu di antara:
1.

Taruhlah barang-barang yang memang seringkali diperlukan berada dalam

jangkauan tanpa harus berjalan dulu


2.

Gunakan karpet antislip di kamar mandi.

3.

Perhatikan kualitas penerangan di rumah.

4.

Jangan sampai ada kabel listrik pada lantai yang biasa untuk melintas.

5.

Pasang pegangan tangan pada tangga, bila perlu pasang lampu tambahan

untuk daerah tangga.


6.

Singkirkan barang-barang yang bisa membuat terpeleset dari jalan yang biasa

untuk melintas.
7.

Gunakan lantai yang tidak licin.

8.

Atur letak furnitur supaya jalan untuk melintas mudah, menghindari

tersandung.
9.

Pasang pegangan tangan ditempat yang di perlukan seperti misalnya di kamar

mandi.
4. Memperbaiki kebiasaan pasien lansia misalnya :
1.

Berdiri dari posisi duduk atau jangkok jangan terlalu cepat.

2.

Jangan mengangkat barang yang berat sekaligus.

3.

Mengambil barang dengan cara yang benar dari lantai.

4.

Hindari olahraga berlebihan.

5. Alas kaki
Perhatikan pada saat orang tua memakai alas kaki:
1.

Hindari sepatu berhak tinggi, pakai sepatu berhak lebar

2.

Jangan berjalan hanya dengan kaus kaki karena sulit untuk menjaga

keseimbangan
3.

Pakai sepatu yang antislip

6. Alat bantu jalan


Terapi untuk pasien dengan gangguan berjalan dan keseimbangan difokuskan
untuk mengatasi atau mengeliminasi penyebabnya atau faktor yang mendasarinya.
1.

Penggunaannya

alat

bantu

jalan

memang

membantu

meingkatkan

keseimbangan, namun di sisi lain menyebabkan langkah yang terputus dan


kecenderungan tubuh untuk membungkuk, terlebih jika alat bantu tidak
menggunakan

roda.,

karena

itu

penggunaan

alat

bantu

ini

haruslah

direkomendasikan secara individual.


2.

Apabila pada lansia yang kasus gangguan berjalannya tidak dapat ditangani

dengan obat-obatan maupun pembedahan. Oleh karena itu, penanganannya adalah


dengan alat bantu jalan seperti cane (tongkat), crutch (tongkat ketiak) dan walker.
(Jika hanya 1 ekstremitas atas yang digunakan, pasien dianjurkan pakai cane.
Pemilihan cane type apa yang digunakan, ditentukan oleh kebutuhan dan frekuensi
menunjang

berat

badan.

Jika

ke-2

ekstremitas

atas

diperlukan

untuk

mempertahankan keseimbangan dan tidak perlu menunjang berat badan, alat yang
paling cocok adalah four-wheeled walker. Jika kedua ekstremitas atas diperlukan
untuk mempertahankan keseimbangan dan menunjang berat badan, maka
pemilihan alat ditentukan oleh frekuensi yang diperlukan dalam menunjang berat
badan.
7. Periksa fungsi penglihatan dan pendengaran.

8. Hip protektor : terbukti mengurangi resiko fraktur pelvis.


9. Memelihara kekuatan tulang
1.

Suplemen nutrisi terutama kalsium dan vitamin D terbukti meningkatkan

densitas tulang dan mengurangi resiko fraktur akibat terjatuh pada orang tua
2.

Berhenti merokok

3.

Hindari konsumsi alkohol

4.

Latihan fisik

5.

Anti-resorbsi seperti biophosphonates dan modulator reseptor estrogen

6.

Suplementasi hormon estrogen / terapi hormon pengganti.