Anda di halaman 1dari 2

KECERDASAN EMOSIONAL (EQ)

Selama bertahun-tahun Kecerdasan Intelegensi (IQ) telah diyakini menjadi ukuran standar
kecerdasan, namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba
kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di
kalangan akademisi, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila
dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang.
Daniel Goleman (1999), adalah salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia
lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi
seseorang, yakni kecerdasan emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan
Emotional Quotient (EQ).
Kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh Peter Salovey dan John
Mayer, beberapa devinisi kecerdasan emosional menurut para ahli sebagai mana dicatat oleh
Achmad Pathoni sebagai berikut:
1. Dalam buku karya Shapiro, Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan
emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan yang melibatkan kemampuan
memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilahmilah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan
tindakan.
2. Menurut Jeane Segal, kecerdasan emosional adalah hubungan pribadi antar pribadi
yang bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan kemampuan
adaptasi sosial.
3. Menurut Robert K Cooper dalam bukunya menjelaskan bahwa kecerdasan
emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menetapkan
daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang
manusiawi.
4. Menurut Usman Najati mengartikan EQ (Emosional Quotient) sebagai sebuah
kecerdasan yang bisa memotivasi kondisi psikologis menjadi pribadi-pribadi yang
matang.
5. Sedangkan menurut Danies Goleman mengartikan kecerdasan emosional itu sebagai
kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri, mampu mengelola emosi, mampu
memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain.
Sedangkan kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan setiap
kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaaan, nafsu, setiap keadaan mental yang meluap-luap
yang di dasarkan pada pikiran yang sehat.
Kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaaan
orang lain , kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi, dengan baik
pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Kecerdasan emosi adalah kekuatan di balik singgasana intelektual. Ia merupakan dasar-dasar


pembentukan emosi yang mencangkup ketrampilan anda untuk:
Menunda kepuasan dan mengendalikan implus
Tetap optimis jika berhadapan dengan kemalangan

Menyalurkan emosi-emosi yang kuat secara efektif.

Mampu memotivasi dan menjaga semangat disiplin diri dalam usaha mencapai tujuan.

Menangani kelemahan-kelemahan pribadi.

Menunjukkan rasa empati pada orang lain.

Membangun kecerdasan diri dan pemahaman pribadi.

Secara konvensional kecerdasan emosi diartikan sebagai kemapuan individu untuk berpikir dan
bertindak secara terarah, serta mengelola dan menguasai lingkungan secara efektif.
IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dan diasosiasikan
dengan otak kiri. Sementara, EQ lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak
kanan). Kalau ingin mendapatkan tingkah laku yang cerdas maka kemampuan emosi juga harus
diasah. Karena untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara baik kita memerlukan
kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri dan orang lain secara baik. Di sinilah
fungsi dari kecerdasan emosi.
Dari beberapa pengertian tersebut ada kecenderungan arti bahwa kecerdasan emosional adalah
kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri
sendiri, kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan orang lain.