Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan (KUP). Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Perpajakan 1.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan
tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam
kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh
dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis
telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat
selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan
terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Dan semoga
dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca dan teman-teman

Bandung, 23 Februari 2014

DAFTAR ISI
Kata pengantar.i
Daftar Isi .ii

BAB 1 Pendahuluan
A. Latar belakang.....1
B. Rumusan Masalah.......1

C. Tujuan Penulisan Makalah...2


D. Manfaat Penulisan Makalah.2
BAB 2 Pembahasan

A. Hak dan Kewajiban Pajak3


B. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)........5
C. Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak(NPPKP)...13
BAB 3 Penutup
A. Simpulan.........17
B. Saran...17

Daftar Pustaka..18

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pajak adalah istilah yang tidak asing lagi bagi kita, peranannyapun dalam
pengembangan suatu negara juga sangat besar. Karena itu, di Indonesia banyak
Undang-Undang maupun peraturan perundang-undangan yang menjelaskan
tentang pajak. Dari periode ke periode peraturan tentang pajak selalu mengalami
perubahan, begitupun di Indonesia. Sehingga muncullah istilah-istilah baru
tentang perpajakan yang harus diketahui oleh orang banyak. Selain itu perlu
disadari juga bahwa sebagian besar penduduk indonesia yang belum mempunyai
NPWP, padahal NPWP tersebut sangat penting bagi pembangunan Negara. Maka
dari itu kami membuat makalah ini guna memberi tahu pembaca tentang NPWP
dan menumbuhkan kesadaran pembaca untuk membayar pajak.
Dalam makalah ini kita akan mempelajari sebagian hal yang berkaitan dengan
ketentuan umum dan tata cara perpajakan, mulai dari hak dan kewajiban wajib
pajak, pengertian dan fungsi NPWP, perolehan dan penghapusan NPWP,
pengertian NPPKP, fungsi dan pencabutan NPPKP . Semua ini akan kita pelajari
dalam mata kuliah ini, karena materi yang lebih lanjut akan dipelajari dalam babbab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan
masalah sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Apa hak dan kewajiban wajib pajak?


Apa pengertian npwp?
Apa fungsi npwp?
Bagaimana pendaftaran npwp?
Dimana tempat pendaftaran npwp?
Bagaimana tata cara pendaftaran npwp?
Bagaimana penghapusan npwp?
Bagaimana format npwp?
Apa pengertian nppkp?
1

10. Apa fungsi pkp?


11. Dimana tempat pengukuhan pkp?
12. Bagaimana pencabutan pengukuhan pkp?
13. Apa sanksi pkp?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Hak dan kewajiban wajib pajak
2. Fungsi npwp
3. Manfaat npwp
4. Pendaftaran npwp
5. Tempat pendaftran npwp
6. Tata cara pendaftaran npwp
7. Penghapusan npwp
8. Sanksi npwp
9. Format npwp
10. Pengertian nppkp
11. Fungsi pkp
12. Pencabutan pengukuhan pkp
13. Sanksi pkp
D. Manfaat Penuisan Makalah
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan kami dan
pembaca tentang masalah Perpajakan. Selain itu supaya ada kesadaran pada diri
kami dan pembaca untuk tertib membayar pajak.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak
Hak Wajib Pajak
Hak-hak Wajib Pajak yang diatur dalam undang-undang perpajakan adalah sebagai berikut.
1. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pengarahan dari fiskus
Hak ini merupakan konsekuensi logis daru sistem self assessment yang
mewajibkan Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, dan membayar
pajaknya sendiri. Untuk dapat melaksanakan sistem tersebut tentu hal dimaksud
merupakan prioritas dari seluruh hak Wajib Pajak yang ada.
2

2. Hak untuk membetulkan Surat Pemberitahuan (SPT)


Wajib Pajak dapat melakukan pembetulan SPT apabila terdapat kesalahan atau
kekeliruan, dengan syarat belum melampaui jangka waktu 2 (dua) tahun sesudah
berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak, atau tahun pajak dan fiskus belum
melakukan tindakan pemeriksaan.
3. Hak untuk memperpanjang waktu penyampaian SPT
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan penundaan penyampaian SPT ke
Dirjen Pajak dengan menyampaikan alasan-alasan secara tertulis sebelum tanggal jatuh
tempo.
4. Hak untuk menunda atau mengangsur pembayaran pajak
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran
pembayaran pajak kepada Dirjen Pajak secara tertulis disertai alasan-alasannya.
Penundaan ini tidak menghilangkan sanksi bunga.
5. Hak memperoleh kembali kelebihan pembayaran pajak
Wajib Pajak yang mempunyai kelebihan pembayaran pajak dapat mengajukan
permohonan pengembalian atau restitusi. Setelah melalui proses pemeriksaan akan
diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB).

6. Hak mengajukan keberatan dan banding


Wajib Pajak yang merasa tidak puas atas ketetapan pajak yang telah diterbitkan
dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di mana
WP terdaftar. Jika Wajib Pajak tidak puas dengan keputusan keberatan Wajib Pajak
dapat mengajukan banding ke Pengadilan Pajak.

Kewajiban Wajib Pajak


Kewajiban Wajib Pajak yang diatur dalam undang-undang perpajakan adalah sebagai berikut.
1. Kewajiban untuk mendaftarkan diri

Pasal 2 Undang-Undang KUP menegaskan bahwa setiap Wajib Pajak wajib


mendaftarkan diri pada Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP). Khusus terhadap pengusaha yang dikenakan pajak
berdasarkan undang-undang PPN, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).
2. Kewajiban mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan
Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang KUP menegaskan bahwa setiap Wajib Pajak
wajib mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) dalam bahasa Indonesia serta menyampaikan
ke kantor pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.
3. Kewajiban membayar atau menyetor pajak
Kewajiban membayar atau menyetor pajak dilakukan di kas negara melalui
kantor pos atau bank BUMN/BUMD atau tempat pembayaran lainnya yang
ditetapkan Menteri Keuangan.
4. Kewajiban membuat pembukuan atau pencatatan
Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas dan Wajib Pajak badan di Indonesia diwajibkan membuat pembukuan
(Pasal 28 ayat (1)). Sedangkan pencatatan dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi
yang melakukan kegiatan usahanya atau pekerjaan bebas yang diperbolehkan
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Neto dan
Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
5. Kewajiban menaati pemeriksaan pajak
Terhadap Wajib Pajak yang diperiksa, harus menaati ketentuan dalam rangka
pemeriksaan pajak, misalnya Wajib Pajak memperlihatkan dan/atau meminjamkan
buku atau catatan dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang
diperoleh; memberi kesempatan atau memasuki tempat ruangan yang dipandang perlu
dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan; serta memberikan keterangan
yang diperlukan oleh pemeriksa pajak.

6. Kewajiban melakukan pemotongan atau pemungutan pajak

Wajib Pajak yang bertindak sebagai pemberi kerja atau penyelenggara


kegiatan wajib memungut pajak atas pembayaran yang dilakukan dan menyetorkan ke
kas negara. Hal ini sesuai dengan prinsip withholding system.
7. Kewajiban membuat faktur pajak
Setiap Pengusaha Kena Pajak wajib membuat faktur pajak untuk setiap
penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. Faktur Kena Pajak yang dibuat
merupakan bukti adanya pemungutan pajak yang dilakukan oleh PKP.
(Sumber: Disadur dari Hukum Pajak, Edisi 5, Erly Suandy, Salemba Empat, 2011, hlm. 119)

B. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)


1. Pengertian NPWP
Nomor Pokok Wajib Pajak biasa disingkat dengan NPWP adalah nomor yang
diberikan kepada wajib pajak (WP) sebagai sarana dalam administrasi perpajakan
yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam
melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
NPWP sebelum tahun 2001 berjumlah 12 digit
Contoh NPWP :
Sebelum tahun 2001
: 1.444.555.6-428
Setelah tahun 2001
: 01.444.555.6-428.000
2. Fungsi NPWP
1. Sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda
pengenal diri atau identitas WP, oleh karena itu kepada setiap WP hanya diberikan
satu NPWP.
2. Dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam
pengawasan administrasi perpajakan.
3. Untuk keperluan yang berhubungan dengan dokumen perpajakan, sehingga semua
yang berhubungan dengan dokumen perpajakan harus mencantumkan NPWP.
4. Untuk memenuhi kewajiban-kewajiban perpajakan, misalnya dalam Surat Setoran
Pajak (SSP) dan Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
(SSB).
5. Untuk mendapatkan pelayanan dari instansi-instansi tertentu yang mewajibkan
mencantumkan NPWP dalam dokumen-dokumen yang diwajibkan.
Misalnya: Dokumen Impor (pemberitahuan Impor barang/PIB) dan Dokumen
Ekspor (pemberitahuan Ekspor Barang/PEB)

6. Untuk keperluan pelaporan SPT Masa dan SPT Tahunan. WP diwajibkan


mencantumkan NPWP yang dimilikinya apabila berhubungan dengan dokumen
perpajakan. Terhadap WP yang tidak mendaftarkan diri dikenakan sanksi sesuai
peraturan perundang-undangan perpajakan. Sanksi yang timbul karena tidak
mempunyai NPWP adalah diberikan NPWP terlebih dahulu secara jabatan
kemudian berdasarkan NPWP tersebut dilakukan pemeriksaan. Terhadap NPWP
atau Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang tidak memenuhi kewajiban untuk
mendaftarkan diri dan atau melaporkan usahanya dapat diterbitkan NPWP dan atau
surat pengukuhan
3. Manfaat NPWP
Berikut ini adalah manfaat memiliki NPWP:
1. Kemudahan Pengurusan Administrasi:
- Pengajuan kredit bank.
- Pembuatan Rekening koran di bank.
- Pengajuan SIUP/TDP.
- Pembayaran pajak final (PPh Final, PPN, BPHTB, dll).
- Pembuatan paspor.
- Keikutsertaan dalam lelang di instansi pemerintah, BUMN dan BUMD.
2. Kemudahan pelayanan perpajakan :
- Pengambilan pajak.
- Pengurangan pembayaran pajak.
- Penyetoran dan pelaporan pajak.
4. Pendaftaran NPWP
a. Semua wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan berdasarkan
system self assessment, wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal
Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan
Wajib Pajak untuk dicatat sebagai Wajib Pajak sekaligus untuk mendapatkan
nomor pokok Wajib Pajak. KUP: Pasal 2 ayat (2)
b. Kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula untuk wanita kawin yang
dikenai pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan
hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan
penghasilan dan harta. KUP: Pasal 2 ayat (1)
c. Direktur jenderal pajak menerbitkan Nomor Wajib Pajak dan/atau mengukuhkan
pengusaha kena pajak secara jabatan apabila wajib pajak atau pengusahakena
pajak tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/
atau ayat (2). KUP: Pasal 2 ayat (3)

d. Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dibatasi jangka


waktunya, karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban
mengenai pajak terutang. Jangka waktu pendaftaran NPWP tersebut adalah:
Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau
pekerjaan bebas dan Wajib Pajak badan, paling lambat 1 (satu)
bulan setelah usaha mulai dijalankan.
Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha
atau pekerjaan bebas apabila sampai dengan satu bulan yang
jumlahnya melebihi PTKP setahun, wajib mendaftarkan diri
paling lambat pada akhir bulan berikutnya.
5. Tempat Pendaftaran NPWP dan Pengukuhan PKP
Tempat pendaftaran NPWP adalah sebagai berikut :
1

Bagi Wajib Pajak orang pribadi, adalah pada Direktorat Jenderal Pajak yang

wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak.
Bagi Wajib Pajak badan, adalah tempat kedudukan/kegiatan usaha Wajib Pajak.
Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan UU

Pajak Pertambahan Nilai Tahun 1984 dan perubahannya, wajib melaporkan usahanya
untuk dikukuhkan menjadi pengusaha kena pajak (PKP). Tempat pelaporan dan
pengukuhannya adalah sebagai berikut :

Bagi Pengusaha orang pribadi.


Pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan.

Bagi Badan Usaha.


Pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan.

Bagi Pengusaha Orang pribadi atau Badan yang mempunyai tempat kegiatan
usaha di beberapa wilayah kantor Direktorat Jenderal Pajak.

Pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi


tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha maupun pada kantor Direktorat
Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliput tempat kegiatan usaha dilakukan.
4

Bagi Wajib Pajak Orang pribadi pengusaha tertentu.


Selain pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya
meliputi tempat tinggal WP juga pada Pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang
wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha WP dilakukan.

Bagi Pengusaha Kena Pajak Tertentu.


Direktorat Jenderal Pajak dapat menentukan kantor Direktorat Jenderal
Pajak sebagai tempat pendaftaran pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagai
berikut :

Wajib Pajak Tertentu dan Pengusaha Kena Pajak

Tempat

Tertentu
BUMD yang berkedudukan di wilayah DKI

Pelaporan Usaha
KPP Perusahaan Negara

Jakarta
Wajib Pajak BUMN, termasuk anak perusahaan

yang penyertaan modal induknya lebih dari 50%


Wajib Pajak penanaman modal asing yang tidak

KPP Penanaman Modal


Asing I

KPP Penanaman Modal


Asing II

KPP Penanaman Modal


Asing III

KPP Badan dan Orang

masuk bursa dan melakukan kegiatan usaha di

bidang industri logam dan mesin


Wajib Pajak penanaman modal asing yang tidak

dan

dan
Daerah

masuk bursa dan melakukan kegiatan usaha di


bidang industri nonlogam
Wajib Pajak penanaman modal asing yang tidak

Pendaftaran

masuk bursa dan melakukan kegiatan usaha di

bidang nonindustri
Wajib Pajak bentuk usaha tetap
Orang Asing yang berkedudukan/bertempat

tinggal di Wilayah DKI Jakarta


Wajib Pajak yang pernyataan pendaftaran emisi

sahamnya telah dinyatakan efektif oleh Bapepam


Wajib Pajak BUMD dan bentuk usaha tetap

Asing
KPP Perusahaan Masuk
Bursa
KPP yang wilayah
8

kerjanya meliputi tempat


kedudukan Wajib Pajak
BUMD dan bentuk usaha

Wajib Pajak orang asing yang berkedudukan atau

tetap
KPP yang wilayah

bertempat tinggal di luar DKI Jakarta

kerjanya meliputi tempat

Wajib Pajak BUMN, BUMD, penanaman modal

tinggal WP orang asing


KPP yang wilayah

asing, badan dan orang asing, dan perusahaan

kerjanya meliputi tempat

masuk bursa, terbatas pada Pajak Penghasilan

cabang
perwakilan, atau kegiatan
usaha dilakukan

Pemotongan, Pajak Penghasilan Pemungutan,


Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah
*KPP : Kantor Pelayanan Pajak
6. Tata Cara Pendaftaran NPWP

Untuk mendapatkan NPWP Wajib Pajak (WP) mengisi formulir pendaftaran


dan menyampaikan secara langsung atau melalui pos ke Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) atau Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4) setempat
dengan melampirkan:
1. Untuk

WP

Orang

Pribadi

Non-Usahawan:

Fotokopi Kartu

Tanda

Penduduk bagi penduduk Indonesia atau foto kopi paspor ditambah surat
keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau
Kepala Desa bagi orang asing.
2. Untuk WP Orang Pribadi Usahawan :
1. Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah
surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal
Lurah atau Kepala Desa bagi orang asing;
2. Surat Keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari
instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala Desa.
3. Untuk WP Badan :

1. Fotokopi akte pendirian dan perubahan terakhir atau surat keterangan


penunjukkan dari kantor pusat bagi BUT;
2. Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah
surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal
Lurah atau Kepala Desa bagi orang asing, dari salah seorang pengurus
aktif;
3. Surat Keterangan tempat kegiatan usaha dari instansi yang berwenang
minimal kabupaten Lurah atau Kepala Desa.
4. Untuk Bendaharawan sebagai Pemungut/ Pemotong:
1. Fotokopi KTP bendaharawan;
2. Fotokopi surat penunjukkan sebagai bendaharawan.
5. Untuk Joint Operation sebagai wajib pajak Pemotong/pemungut:
1. Fotokopi perjanjian kerja sama sebagai joint operation;
2. Fotokopi NPWP masing-masing anggota joint operation;
3. Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah
surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal
Lurah atau Kepala Desa bagi orang asing, dari salah seorang pengurus
joint operation.
6. Wajib Pajak dengan status cabang, orang pribadi pengusaha tertentu atau
wanita kawin tidak pisah harta harus melampirkan foto kopi surat keterangan
terdaftar.
7. Apabila permohonan ditandatangani orang lain harus dilengkapi dengan surat
kuasa khusus
7. Penghapusan NPWP
1

WP meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan, disyaratkan adanya


fotokopi akte kematian atau laporan kematian dari instansi yang berwenang;

10

Wanita kawin tidak dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan,


disyaratkan adanya surat nikah/akte perkawinan dari catatan sipil;

Warisan yang belum terbagi dalam kedudukan sebagai Subjek Pajak. Apabila
sudah selesai dibagi, disyaratkan adanya keterangan tentang selesainya warisan
tersebut dibagi oleh para ahli waris;

WP Badan yang telah dibubarkan secara resmi, disyaratkan adanya akte


pembubaran yang dikukuhkan dengan surat keterangan dari instansi yang
berwenang;

Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya sebagai
BUT, disyaratkan adanya permohonan WP yang dilampiri dokumen yang
mendukung bahwa BUT tersebut tidak memenuhi syarat lagi untuk dapat
digolongkan sebagai WP;

WP Orang Pribadi lainnya yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai WP sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

8.Sanksi
Setiap orang yang dengan sengaja:

Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP atau menyalahgunakan tanpa hak
NPWP, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara, dipidana
penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun dan denda paling sedikit 2
kali pajak terutaang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 kali
jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. KUP: Pasal 39 ayat (1)
huruf a.

Pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditambahkan 1 kali menjadi 2 kali
sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana dibidang
perpajakan sebelum lewat 1 tahun, terhitung sejakselesainya menjalani pidana
penjara yang dijatuhkan. KUP: Pasal 39 ayat (2).

Setiap

orang

melakukan

percobaan

untuk

melakukan

tindak

pidana

menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1) huruf b, dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau
11

melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana dengan pidana


penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 2 tahun dan denda paling sedikit 2
kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan
yang dilakukan dan paling banyak 4 kali jumlah restitusi tersebut.

Setiap

orang

melakukan

percobaan

untuk

melakukan

tindak

pidana

menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak pengukuhan Pengusaha Kena


Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, dalam rangka mengajukan
permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 2 tahun
dan denda paling sedikit 2 kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau
kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 kali dari
jumlah restitusi tersebut.
9.Format NPWP
NPWP terdiri atas 15 digit, meliputi 9 digit pertama merupakan Kode Wajib Pajak dan
6 digit berikutnya merupakan Kode Administrasi Perpajakan. Format tersebut adalah sebagai
berikut:
X

Kode kelompok WP

X
Kode pengecekan

Kode KPP

Kantor Cabang/Pusat

Nomor
pokok

C. Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP)


1

Pengertian NPPKP
Pengusaha
Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam
kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang,
mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak
berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa
dari luar Daerah Pabean.
Pengusaha Kena Pajak
12

Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan


Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak
berdasarkan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) 1984 dan
perubahannya, tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
NPPKP (Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak) adalah setiap wajib
pajak sebagai pengusaha yang dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN)
berdasarkan undang-undang PPN wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
pengusaha kena pajak (PKP) dan atau pengusaha yang dikukuhkan sebagai
pengusaha kena pajak memiliki surat pengukuhan kena pajak yang berisi identitas
dan kewajban perpajakan Pengusaha kena pajak.
2

Fungsi Pengukuhan PKP


a. Untuk mengetahui identitas pengusaha kena pajak yang sebenarnya.
b. Untuk melaksanakan hak dan kewajiban di pajak pertambahan nilai dan pajak
c.

penjualan atas barang mewah.


Untuk pengawasan terhadap administrasi perpajakan.

3. Tempat Pengukuhan PKP


Tempat bagi Wajib Pajak di atas untuk melaporkan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai PKP adalah di :
1. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan
Konsultasi Perpajakan (KP2KP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggal atau tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak;
atau
2. Kantor Pelayanan Pajak tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perpajakan.
Tempat pelaporan usaha di KPP tertentu ini adalah untuk Wajib Pajak tertentu
yang pengadministrasian nya tidak didasarkan pada wilayah, tapi misalnya pada jenis
Wajib Pajaknya atau memang ditentukan seperti Wajib Pajak yang terdaftar di KPP
LTO, KPP Madya, atau KPP di lingkungan Kanwil Khusus.

13

Wajib Pajak yang melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP


dilakukan melalui permohonan tertulis. Berdasarkan permohonan tersebut, Kepala
Kantor Pelayanan Pajak melakukan pengukuhan PKP paling lambat 5 hari kerja
terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap. Proses pengukuhan PKP ini
dilakukan melalui kegiatan verifikasi.
4. Pencabutan Pengukuhan PKP
Verifikasi dalam rangka mencabut pengukuhan PKP secara jabatan atau berdasarkan
permohonan PKP terhadap:
a. PKP orang pribadi yang telah meninggal dunia;
b. PKP telah dipusatkan tempat terutangnya PPN di tempat lain;
c. PKP yang pindah alamat tempat tinggal, tempat kedudukan dan/atau
tempat kegiatan usaha ke wilayah kerja KPP lainnya;
d. PKP yang jumlah peredaran usaha dan/atau penerimaan brutonya
untuk 1 (satu) tahun buku tidak melebihi batas jumlah peredaran usaha
dan/atau penerimaan bruto untuk pengusaha kecil dan tidak memilih
untuk menjadi PKP;
e. PKP selain perseroan terbatas dengan status tidak aktif (non efektif)
dan secara nyata tidak menunjukkan adanya kegiatan usaha;
f. Pengusaha Kena Pajak yang tidak menyampaikan SPT Masa PPN
untuk Masa Pajak Januari sampai dengan Desember;
g. PKP yang menyampaikan SPT Masa PPN yang pajak keluaran dan
pajak masukannya nihil untuk Masa Pajak Januari sampai dengan
Desember; atau
h. PKP bentuk usaha tetap (BUT) yang telah menghentikan kegiatan
usahanya di Indonesia.
Pencabutan pengukuhan PKP secara jabatan juga dapat dilaksanakan setelah
Dirjen Pajak melakukan Verifikasi atas hasil sensus pajak nasional, hasil konfirmasi
lapangan setelah pengukuhan PKP, atau hasil kegiatan lain yang dilaksanakan oleh Dirjen
Pajak.
5.Sanksi
Setiap orang yang dengan sengaja :

14

Tidak mendaftarkan diri untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak atau
menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam)
tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak
atau kurang dibayar. KUP : Pasal 39 ayat (1) huruf a.
Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) ditambahkan 1 (satu) kali
menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana
dibidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya
menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. KUP: pasal 39 ayat (2)
Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana atau
menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dalam rangka mengajukan
restitusi atau merlakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun
dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau
kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali
jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang
dilakukan. KUP :Pasal 39 ayat (3)

15

BAB 3
PENUTUP

A. Simpulan
Dari penjelasan materi di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP) diberikan kepada wajib pajak yang digunakan untuk tanda
pengenal diri dan si wajib pajak harus mendaftarkan dulu dirinya ke kantor pemerintah
yang bertugas. Dan bagi wajib pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk di berikan
Nomor Pokok Wajib Pajak atau menyalagunakan sehingga menimbulkan kerugian
pada pendapatan Negara akan kenai sanksi sesuai UUD yang berlaku.

B. Saran
Setelah mempelajari materi ini hendaklah kita sadar akan kewajiban kita untuk
membayar pajak, agar pembangunan dapat terus berjalan.

16

DAFTAR PUSTAKA
Mardiasmo. 2011. Perpajakan Edisi Revisi 2011. Yogyakarta: Andi.
Suandy, Erly. (2011). Hukum Pajak. [Online] Edisi 5 (5) halaman 119. Tersedia;
http://penerbitsalemba.com/v2/news/view/58. [23 Februari 2014].
Raharjo, Kurniawan Budi. (2013). Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
[Online]. Tersedia; http://kurniawanbudi04.wordpress.com/. [23 Februari 2014].
Wikipedia.
(2014).
Nomor
Pokok
Wajib
Pajak.
[Online]. Tersedia;
http://id.wikipedia.org/. [23 Februari 2014].
Direktoral Jendral Pajak. (2012, 12, November). Seri KUP - Verifikasi Dalam Rangka
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. [Online]. Tersedia; http://www.pajak.go.id/. [23
Februari 2014].

17