Anda di halaman 1dari 3

Upaya pemerintah dalam Menegakan HAM

Upaya penegakkan HAM akan berhasil jika putusan peradilan tidak memihak dan merdeka dalam
memperjuangkan penegakan HaM di Indonesia. Dibandingkan dengan masa sebelumnya, pada masa
reformasi, perkembangan HAM di Indonesia memiliki landasan operasional yang lebih jelas. Sebenarnya
istilah hak dasar atau hak asasi manusia sudah banyak tercantum dalam peraturan perundang-undangan
Indonesia, seperti dalam UUD 1945, Konstitusi RIS 1949, UUD Sementara 1950, dan Tap MPRS No.
XIV/MPRS/1966. Walaupun begitu, ketetapan MPR tentang HAM baru dihasilkan pada masa reformasi,
misalnya dalam Tap MPR No. XVII/MPR/1998.
Sebagai upaya untuk tetap menegakkan hak-hak asasi manusia di Indonesia, melalui keputusan
Presiden No. 50 Tahun 1993 pemerintah membentuk lembaga independen Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM) yang berkedudukan di Jakarta. Komnas HAM hanya berfungsi sebagai
penyelidik dengan mengumpulkan berbagai data dan fakta dari kasus yang diduga melanggar HAM. Hasil
penyelidikan diserahkan kepada pihak kejaksaan. Selanjutnya proses hukuman diserahkan kepada
pengadilan.
Penegakan HAM secara yuridis formal ini diperkuat dengan dikeluarkannya UU No. 39 Tahun 1999
tentang pelaksanaan HAM di Indonesia serta UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Tap MPR
No. XVII/MPR/1998 memuat Piagam Hak Asasi Manusia yang mencakup hak untuk hidup, hak untuk
berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak untuk mengembangkan diri, hak atas keadilan, hak
kemerdekaan, hak atas kebebasan informasi, hak atas keamanan, hak atas kesejahteraan, serta hak atas
perlindungan dan pemajuan oleh pemerintah.
Meskipun dari sisi perundang-undangan sudah menunjukan kemajuan yang positif, namun penegakan
HAM dan dan keadilan masih jauh dari harapan. Banyak pelanggaran HAM yang terjadi tidak
diselesaikan secara adil atau memenuhi keadilan masyarakat.

Instrumen atau Dasar Hukum HAM


Pada tahun 1948, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mencetuskan pernyataan tentang perlindungan
terhadap HAM. Pernyataan tersebut dikenal dengan nama Universal Declaration of Human Rights
(Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia = DUHAM PBB), yaitu pernyataan sedunia tentang hak-hak asasi

manusia yang terdiri atas 30 pasal. Piagam tersebut menyerukan kepada semua anggota dan bangsa di
dunia untuk menjamin dan mengakui hak-hak asasi manusia yang dimuat di dalam konstitusi negara
masing-masing.
Ketika DUHAM PBB tercetus, sesungguhnya deklarasi ini merupakan reaksi terhadap perbuatan
dehumanisasi (bertentangan dengan rasa dan nilai-nilai kemanusiaan) serta mengajak negara anggota
PBB untuk melindungi dan mencegah terjadinya pelanggaran HAM terhadap warganya.

Perkembangan Masyarakat dalam Menegakan HAM


Dalam usaha penegak HAM di sebuah negara, khususnya di Indonesia, partisipasi pemerintah
dan masyarakat sangatlah dibutuhkan. Pihak masyarakat yang dapat dan berhak berpartisipasi dalam
usaha perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak asasi manusia meliputi individu, kelompok, organisasi
politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, ataupun lembaga kemsyarakatan lainnya.
Pelanggaran HAM bisa terjadi kapan dan dimana saja. Setiap individu berhak untuk berpartisipasi
dalam usaha penegakan HAM apabila ia mendapat perlakuan atau melihat tindakan yang melanggar
HAM. Bentuk partisipasi yang dapat dilakukan adalah melaporkan apabila terjadi pelanggaran HAM
kepada Komnas HAM atau lembaga lainnya yang berwenang. Setiap individu juga berhak mengajukan
usulan mengenai kebijakan yang berkaitan dengan HAM kepada Komnas HAM atau lembaga lainnya.
Seiring dengan perkembangan masyarakat dewasa ini, perubahan yang terjadi di tengah masyarakat juga
semakin pesat dan dinamis sehingga sangatlah sulit bagi pemerintah untuk mengamati kebutuhan hak
asasi masyarakat setiap waktu. Untuk mengatasi kendala tersebut, masyarakat dapat membantu dengan
melakukan penelitian, pendidikan, dan penyebarluasan informasi mengenai HAM, baik dilakukan secara
sendiri-sendiri maupun bekerjasama dengan Komnas HAM.
Pelanggaran HAM menurut pasal 1 ayat (6) UU No.Pelanggaran HAM menurut pasal 1 ayat (6) UU No.
39 Tahun 1999 tentang HAM adalah setiap perbuatan seorang atau kelompok orang, termasuk aparat
negara, baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi,
menghalangi, membatasi, dan atau mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh
undang-undang, dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum
yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran HAM yang berat. Pelanggaran HAM
berat yang diperiksa dan diputuskan oleh Pengadilan HAM meliputi hal-hal sebagai berikut.
a.

Kejahatan genosida (genocide crime)


Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau
memusnahkan seluruh atau sebagian bangsa, ras, kelompok etnis, atau kelompok agama.

b.

Kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity)


Kejahatan ini merupakan serangan secara luar atau sistematis yang ditujukan secara langsung terhadap
penduduk sipil. Kejahatan ini dapat berupa pembunuhan, pemusnahan, pembudakan, pengusiran, atau
pemindahan penduduk secara paksa, dll.
Terhadap pelanggaran hak asasi manusia dalam kategori berat seperti genosida dan kejahatan
terhadap kemanusiaan yang berdasarkan hukum internasional, dapat digunakan asas retroaktif, dengan
pemberlakuan pasal mengenai kewajiban untuk tunduk pada pembatasan yang ditetapkan undang-undang,
sebagaimana tercantum dalam pasal 28J ayat (2) Undang-undang Dasar 1945.