Anda di halaman 1dari 54

KONSELING PRA KONSEPSI

I. Pendahuluan
Konseling pra konsepsi atau pra kehamilan adalah konseling yang dilakukan terhadap
pasangan usia subur sebelum terjadinya kehamilan. Konseling ini termasuk salah satu tindakan
preventif dalam ilmu kedokteran obstetri.. Resiko cacat mayor (dengan atau tanpa kelainan
kromosom) pada populasi umum kira-kira 3 %. Seorang wanita baru menyadari bahwa dirinya
hamil setelah terlambat haid sekitar 1 atau 2 minggu. Sedangkan organogenesis janin mulai
terjadi 17 hari setelah fertilisasi. Oleh karena itu, konseling pra kehamilan ini sangat bermanfaat
untuk memberikan informasi dan nasehat kepada pasangan usia subur untuk menyiapkan
lingkungan yang optimal bagi perkembangan konseptus, memperhatikan faktor – faktor yang
berpotensi mempengaruhi hasil akhir kehamilan, wanita yang bersangkutan diberi nasihat tentang
resiko yang ada pada dirinya dan diberikan suatu strategi untuk mengurangi / mengeliminasi
pengaruh patologis yang diketahui berdasarkan riwayat keluarga, medis atau obstetri.

II. Tujuan Konseling pra kehamilan


Konseling pra kehamilan memiliki peranan yang penting karena dapat mengetahui wanita
mana yang diuntungkan dari intervensi dini, seperti mereka yang menderita diabetes melitus atau
hipertensi dan dapat membantu mengurangi cacat janin. Organogenesis dimulai 17 hari setelah
fertilisasi, maka sebaiknya diperhatikan lingkungan yang baik untuk perkembangan hasil
konsepsi. Hasil akhir maternal dan perinatal juga bergantung pada interaksi antara faktor ibu,
janin, dan lingkungannya, dan sulit untuk menerangkan hasil akhir kehamilan hanya berdasarkan
satu intervensi spesifik. Tujuan akhir adalah konseling prakehamilan dapat memperbaiki hasil
akhir kehamilan.

III. Bentuk Pemeriksaan


Konseling pra kehamilan dapat digabung ke dalam setiap kunjungan dari wanita dalam
masa reproduksi.

1
III. 1. Anamnesis Lengkap
Hal-hal berikut yang perlu ditanyakan :
1. Identitas pasien dan suami termasuk nama, umur, pekerjaan, nama suami, agama alamat
2. Riwayat menstruasi , menarche, teratur / tidak, lamanya, banyaknya darah, nyeri +/- →
menilai faal alat kandungan
3. Riwayat perkawinan → kawin / tidak, berapa kali, berapa lama (anak mahalkah?)
4. Riwayat kehamilan sebelumnya → perdarahan +/- , hiperemesis gravidarum +/- → prognosa
5. Riwayat persalinan sebelumnya → spontan / buatan, aterm +/-, perdarahan +/-, siapa yang
menolong → prognosa
6. Riwayat nifas sebelumnya → demam +/-, perdarahan +/-, laktasi ? → prognosa
7. Riwayat anak yang lahir → jenis kelamin, hidup +/-, berat lahir
8. Riwayat penyakit keluarga → penyakit keturunan +/- (DM, kelainan genetik), riwayat
kembar, penyakit menular +/- (TBC)
9. Riwayat kontrasepsi → pakai +/-, metodenya ?, jenisnya, berapa lama, efek samping

III. 2. Pemeriksaan - pemeriksaan untuk skrining


- Pemeriksaan darah lengkap termasuk rata – rata volume sel darah merah dapat
menyingkirkan adanya kemungkinan anemia yang diturunkan
- Pemeriksaan glukosa puasa pada wanita dengan DM gestasional penting untuk memprediksi
insiden anomali fetal → pada hiperglikemia (puasa) ada peningkatan insiden anomali fetal
(Sheffield dkk, 2002)
- Konseling dan pemeriksaan HIV sebaiknya dilakukan juga secara rahasia dan atas kesadaran
pasien
- Pemeriksaan rutin Toxoplasmosis dipertimbangkan pada wanita yang memelihara kucing dan
sering memakan daging setengah matang. Tujuannya untuk memeriksa status antibodi
sebelum konsepsi
- Beberapa pemeriksaan yang dilakukan, contoh : rubella, varicella, dan hepatitis B, sebaiknya
dilakukan untuk menentukan vaksinasi yang akan diberikan sebagai bagian dari
penatalaksanaan prakehamilan
- Khususnya untuk varicella sebaiknya dilakukan pada pasien yang belum pernah sakit cacar.
Pemberian vaksin varisella zoster terhadap pasien yang belum pernah dapat vaksinasi
direkomendasikan

2
- Pemeriksaan elektroforesis terhadap hemoglobin dilakukan pada pasien dengan resiko anemia
sickle sel seperti pada ras Afrika-amerika dan wanita dari mediterania / asia untuk thalasemia
 Sedangkan pada wanita yahudi adalah calon untuk pemeriksaan karier untuk penyakit tay sachs
 Begitu pula dengan pasangan yang ditemukan sebagai karier penyakit autosomal resesif,
dilakukan pemeriksaan untuk menentukan resiko di masa yang akan dating
 Pada wanita dengan penyakit ginjal dapat diperiksa kadar serum kreatininnya, agar dapat
memprediksi beberapa keadaan hasil akhir kehamilan seperti kelahiran preterm, kematian
perinatal, IUGR, abortus
 Sedangkan pada wanita dengan penyakit jantung sianotik dapat dilakukan pemeriksaan beberapa
faktor seperti hemoglobin, saturasi oksigen arteri
 Pemeriksaan – pemeriksaan spesifik lain dapat dilakukan untuk menilai wanita dengan beberapa
penyakit kronik, seperti pada penyakit ginjal, penyakit kardiovaskular, dan DM.

IV. Masalah – masalah Yang Dihadapi Sebelum Konsepsi


D. Penyakit genetik
Pada pencegahan primer dihindari faktor penyebab, karena saat ini sudah semakin banyak
penyakit kongenital yang telah diketahui etiologinya. Cacat saat lahir merupakan penyebab utama
mortalitas bayi dan 20% penyebab kematian bayi. Dapat dikurangi dengan strategi pencegahan
primer, atau sekunder (Czeizel, 1995).
Sedangkan pada pencegahan sekunder dilakukan identifikasi dan penghentian kehamilan
yang terkena penyakit. Manfaat konseling diukur dengan membandingkan insiden kasus baru
sebelum dan sesudah dimulainya konseling. Berikut beberapa contoh penyakit yang dapat
dicegah dengan konseling.

1. Talasemia
 Sebagian sindroma ini dapat dicegah dengan pencegahan primer dan sekunder (Fucharoen dkk,
1991)
 Daerah endemik → negara – negara mediterania, konseling telah mengurangi insiden kasus baru
sekitar 80%

2. Anemia sikle cell


 Umumnya >> diderita orang Afrika, Mediterania, karibia, Amerika latin, dan indian
3
3.Defek tabung saraf / neural tube defect (NTD)
 Insiden 1 – 2 per 1000 kelahiran hidup
 Menduduki urutan kedua setelah anomali jantung sebagai malformasi struktural janin yang
tersering
 Beberapa defek neural tube berhubungan dengan mutasi spesifik di gen metilen
tetrahidrofolat reduktase, maka secara umum dapat diatasi dengan suplementasi asam folat
prakehamilan (Ou dkk, 1996 ; van der put dkk, 1995)

4.Fenilketonuria / PKU
 Kelainan herediter metabolisme fenil alanin
 Pencegahan primer → mengurangi morbiditas janin
 Asam amino ini mudah melewati plasenta → merusak organ – organ janin yang sedang
berkembang dan yang paling rentan adalah jaringan saraf
 Konseling → kepatuhan pasien terhadap diet terbatas / tanpa fenilalanin sebelum kehamilan,
insiden malformasi janin secara drastic berkurang (Guttler dkk, 1990; Koch dkk, 1990)

5.Penyakit tay sachs


 Penyakit neurodegeneratif resesif autosomal berat → kematian anak
 Awal 1970 → 60 kasus terutama kaum yahudi di usa
 Konseling → pencegahan sekunder dengan identifikasi pembawa sifat genetic melalui uji
genetik, lakukan uji prenatal pada pasangan dengan resiko tinggi ; bahkan sampai pemilihan
pasangan yang bukan pembawa sebagai pencegahan primer
 Saat ini sebagian kasus baru tay sachs berasal dari populasi non yahudi

6. Fibrosis kistik
 Skrinning sebaiknya dilakukan jika ada riwayat keluarga dengan fibrosis kistik
 >> diderita kulit putih dan yahudi

E. Kehamilan yang tidak diinginkan


 Adam dkk, 1993 → survey populasi terhadap 12.500 wanita di usa dan mendapatkan bahwa
wanita dengan kehamilan yang tidak direncanakan lebih besar memiliki indikasi untuk mendapat
konseling prakehamilan dibandingkan yang direncanakan.
4
 Moos dkk, 1996 → program asuhan prakehamilan untuk wanita usia subur dan didapatkan
50% wanita yang datang yang pernah mendapatkan konseling menyatakan kehamilannya
direncanakan
 Konseling mengenai resiko kehamilan yang potensial dan strategis untuk pencegahan harus
diberikan sebelum konsepsi terjadi → supaya efektif
 Kebanyakan wanita menyadari dirinya hamil 1 – 2minggu setelah terlambat haid dimana
korda spinalis telah terbentuk dan jantung sudah berdetak (Moore, 1983)
 Hellerstedt dkk, 1998 → survey via telepon terhadap 7200 wanita hamil yang
memperlihatkan bahwa wanita dengan kehamilan yang tidak direncanakan lebih besar
kemungkinannya memiliki prilaku resiko tinggi seperti merokok, dan tidak minum vitamin setiap
hari.
 Salah satu ukuran penting dari efektivitas konseling → pengaruhnya dalam menurunkan
jumlah kehamilan yang tidak diinginkan

F. Penyakit kronik
1. Diabetes Mellitus (DM)
 Hiperglikemia → patologi ibu dan janin → perlu konseling prakehamilan untuk menghindari
penyulit
 Konseling → pengendalian kadar glukosa darah jangka panjang
 Pada konseling diberikan penjelasan mengenai resiko dan mencari strategi untuk mengurangi
resiko sebelum kehamil

2. Epilepsi
 Keturunan wanita dengan epilepsi → 2 – 3 X mengalami anomali struktural → lebih parah
pada anak yang terpajan obat – obatan anti konvulsi
 Konseling → mencakup rekomendasi untuk mengganti obat ke regimen yang paling tidak
teratogenik / jika mungkin hentikan obat sebelum kehamilan
 American academy of nerurology, 1998 → wanita dengan epilepsy usia subur menjalani
konseling dan selama kehamilan mengkonsumsi asam folat dan obat antikejang monoterapi yang
paling tidak teratogenik
 Biale dan Lewenthal, 1984 → studi terhadap efek pemberian asam folat prakehamilan pada
wanita dengan epilepsi yang minum obat anti konvulsi → hasil : 15% yang tidak mengkonsumsi
5
asam folat anaknya mengalami malformasi congenital, sedangkan selebihnya yang
mengkonsumsi asam folat tidak satupun yang mengidap anomaly

3. Penyakit kronik lainnya


 Cox dkk, 1992 → membahas hasil akhir pada pasangan yang mendapat konseling
prakehamilan. Hasil akhir pada 240 wanita dengan hipertensi, penyakit ginjal, penyakit tiroid,
asma dan penyakit jantung secara bermakna membaik apabila mendapat konseling.
 80% yang mendapatkan konseling → melahirkan bayi normal pada kehamilan tersebut
dibandingkan pada kehamilan sebelumnya yang tidak mendapat konseling

V. Penilaian-penilaian Penting Untuk Menyelesaikan Masalah


Hal-hal yang perlu didiskusikan diantaranya :
A. Riwayat reproduksi
 Catatan riwayat menstruasi akan memberikan kesempatan untuk menilai tingkat pengetahuan
si ibu tentang fisiologi menstruasi dan memberikan konseling tentang bagaimana dia
menggunakan pengetahuan tersebut untuk merencanakan kehamilan
 Diagnosa dan penatalaksanaan kelainan-kelainan seperti malformasi uterus, penyakit
autoimmune ibu, dan infeksi genital dapat mengurangi resiko terjadinya abortus berulang.
 Menelaah riwayat obstetrik saat wanita tidak hamil akan membuat calon orang tua
mengungkapkan kekhawatirannya, perhatian dan pertanyaan-pertanyaan seputar kehamilan dan
reproduksi.

B. Riwayat keluarga
1. Skrining karier
Konseling riwayat keluarga dapat mengungkap resiko penyakit-penyakit seperti muscular
dystrophy, sindrom fragile X atau Down sindrom, dan penyakit lainnya yang dapat diturunkan
secara genetik harus dilakukan. Informasi tentang tes diagnostik yang tepat seperti sampling vili
khorionik atau amniosintesis perlu disampaikan. Pada beberapa kasus, konseling genetik dapat
mengarah pada keputusan untuk tidak meneruskan kehamilan atau menggunakan teknologi
bantuan reproduksi yang dapat meniadakan resiko
Skrining karier berdasarkan riwayat keluarga atau latar belakang etnis dari pasangan sangat
penting dalam konseling sebelum terjadinya kelainan pada kehamilannya. Pengenalan pra
6
konsepsi dari status karier membuat wanita dan pasangannya dapat diberitahukan tentang resiko
penyakit resesif autosom diluar konteks emosional dari kehamilan. Pengetahuan tentang status
karier juga membuat keduanya dapat mengambil keputusan tentang kehamilan serta
merencanakan pemeriksaan yang diperlukan bila terjadinya kehamilan. Beberapa penyakit yang
sering terjadi pada penduduk daerah tertentu, diantaranya :
a. Penyakit Taysach : terutama mengenai keluarga Jahudi Ashkenazi dan nenek moyang perancis -
Kanada
b. Penyakit Canavan : terutama mengenai Yahudi Ashkenazi
c. Thalasemia beta : mengenai keluarga di Mediterania, Asia tenggara, India, Pakistan dan negara-
negara afrika
d. Thalasemia alpha : terutama mengenai keluarga di Asia tenggara dan Afrika
e. Sickle sel anemia : terutama mengenai keluarga Afrika, Mediterania, timur tengah, Karibia,
Amerika latin, dan keturunan india
f. Skrining kista fibrosis harus ditawarkan kepada pasien dengan riwayat keluarga menderita
penyakit ini. Rekomendasi terbaru menyarankan agar semua wanita yahudi dan kulit putih
dilakukan skrining karier penyakit ini

2. Penilaian medis
Perawatan pra konsepsi untuk wanita dengan problem medis yang berarti harus mencakup
penilaian faktor resiko bukan hanya bagi janin tapi juga bagi si ibu. Perawatan yang tepat
mungkin memerlukan kerjasama dengan spesialis lain.

C. Skrining Faktor Resiko resiko

1. Skrining penyakit infeksi


a. Wanita tanpa imunitas terhadap rubella dapat dikenali melalui skrining pra konsepsi, dan sindrom
rubella kongenital dapat dicegah dengan vaksinasi. Tidak ada laporan kasus rubella kongenital
setelah imunisasi rubella dalam 3 bulan sebelum atau setelah konsepsi.
b. Skrining universal bagi wanita hamil untuk hepatitis B virus (HBV) telah direkomendasikan oleh
CDC and Prevention sejak tahun 1988. Wanita dengan resiko sosial atau pekerjaan terpapar
dengan hepatitis B virus harus diberi penyuluhan serta diberikan vaksinasi.
c. Pasien yang beresiko terhadap tuberkulosis harus diperiksa bila riwayat vaksinasi BCG-nya tidak
sesuai dengan pedoman untuk skrining atau pengobatan pencegahan.
7
d. Skrining CMV (cytomegalo virus) harus ditawarkan sebelum konsepsi untuk wanita yang bekerja
di ICU, fasilitas perawatan anak, atau unit dialisa darah.
e. Ig-G Parvovirus dapat ditawarkan sebelum konsepsi kepada guru-guru dan pekerja pengasuh
anak.
f. Toksoplasmosis sering berhubungan dengan pemilik kucing dan mereka yang makan daging
mentah. Skrining toksoplasmosis rutin untuk menentukan status antibodi sebelum konsepsi
terutama memberikan jaminan kepada mereka yang sudah imun. Pemeriksaan rutin terhadap
wanita hamil yang tidak diketahui adanya faktor resiko tidak dianjurkan
g. Skrining untuk antibodi varisela dilakukan untuk mengetahui adanya riwayat menderita varisela.
Vaksin virus varisela zoster sekarang dianjurkan untuk semua orang dewasa non imun.
h. Skrining dan pemeriksaan HIV harus ditawarkan secara rahasia dan sukarela kepada semua
wanita.
i. Pemeriksaan untuk Neiesseia Gonorea, Chlamidia trachomatis dan Troponema pallidum sering
dilakukan secara rutin untuk pasien yang aktif secara seksual.

2. Penilaian pemaparan obat


Penilaian terhadap pemaparan dengan obat baik yang dibeli bebas maupun yang melalui resep.
Penggunaan obat harus dipastikan dan diberikan keterangan tentang pilihan obat yang paling
aman.
a. Isotretinoin (accutane), regimen oral telah disetujui oleh FDA untuk akne sistika berat, harus
dihindari sebelum konsepsi. Isotretinoin sangat teratogenik menyebabkan defek kraniofacial
(mikrotia, anotia).
b. Sodium warfarin (coumadin), suatu anti koagulan dan derivatnya telah dikaitkan dengan
embriopati. Karena sodium warfarin tidak melintasi plasenta, wanita yang memerlukan
antikoagulan harus mengganti terapi antikoagulannya dengan heparin sebelum konsepsi.

c. Keturunan dari wanita yang mendapat terapi anti kejang untuk epilepsi sangat beresiko terhadap
malformasi kongenital. Perbedaan pendapat masih terus terjadi apakah karena proses penyakit,
obat-obatan, atau kombinasi keduanya yang menyebabkan malformasi. Ahli saraf merasa adalah
tepat untuk mencoba menunda terapi anti konvulsan bagi wanita yang sudah bebas kejang selama
2 tahun. Bagi wanita yang bukan calon pasien yang akan dihentikan terapinya, maka dipilih obat
yang paling sedikit efek teratogeniknya

8
d. Tidak ada bukti adanya efek teratogenisitas dari kontrasepsi oral atau implant. Spermisida vagina
tidak teratogenik bagi wanita yang hamil sementara mereka sedang menggunakan kontrasepsi ini
atau hamil sesudah menghentikan pemakaiannya.

D. Penilaian kandungan zat gizi


1. Indeks massa tubuh, didefinisikan sebagai [BB(kg)/TB(m2)] adalah indikator yang sering dipakai
untuk menilai status gizi. Wanita dengan riwayat anoreksia atau bulimia akan mendapatkan
keuntungan dengan konseling nutrisi dan psikologi sebelum konsepsi.
2. Kebiasaan makan seperti pika, suatu gangguan makan, dan pemakaian suplementasi megavitamin
harus dibicarakan. Penggunaan suplemen multivitamin yang berlebihan yang mengandung
vitamin A harus dihindari karena diperkirakan diet intake vitamin A bagi banyak wanita di
Amerika sudah cukup. Vitamin bersifat teratogenik pada manusia pada dosis 20.000 – 50.000 IU
per hari, menimbulkan malformasi janin seperti yang terlihat dengan pemakain isotretinoin, suatu
derivate sintetis vitamin A.
3. Konsumsi asam folat peri konsepsi mengurangi resiko defek tabung saraf (NTDs). Badan
pelayanan kesehatan masyarakat Amerika serikat merekomendasikan pemakaian suplementasi
0,4 mg asam folat perhari bagi semua wanita yang akan hamil. Kecuali adanya kontra indikasi
karena anemia pernisiosa, wanita yang sebelumnya melahirkan anak dengan neural tube defek
harus mengkonsumsi 4 mg asam folat per hari

VI. Faktor-faktor Lain Yang Mempegaruhi Penilaian Pra Konsepsi

1. Riwayat Reproduksi
 Informasi dapat melalui kuesioner pada kunjungan rutin prakehamilan
 Mencakup : usaha – usaha sebelum kehamilan, adanya infertilitas, hasil kehamilan abnormal
termasuk abortus, kehamilan ektopik, kematian janin berulang
 Perlu juga riwayat keluarga terdekat, contohnya : pada abortus berulang, atau adanya
kelainan susunan kromosom
 Perlu dicatat pemakaian teknologi reproduksi untuk menjadi hamil, contohnya penyuntikkan
sperma intrasitoplasma (intra cytoplasmic sperm injection / ICSI) berkaitan dengan adanya
penyulit tertentu (Bowen dkk, 1998)
 Demikian pula dengan faktor resiko persalinan prematur rekuren, preeklampsia, dan seksio
sesarea berulang.
9
2. Riwayat pemakaian alkohol, dan merokok
 Retardasi mental yang berhubungan dengan alkohol saat ini merupakan satu – satunya
sindroma retardasi mental yang diatasi dengan pencegahan primer
 Pecandu alkohol dapat diidentifikasi dengan kuesioner berupa rangkaian dari empat
pertanyaan mengenai : adanya toleransi terhadap alkohol, rasa terganggu mengenai kebiasaan
minum, usaha untuk mengurangi, dan riwayat minum di pagi hari
 Merokok meningkatkan resiko persalinan premature, restriksi pertumbuhan janin, berat bayi
lahir rendah serta attention deficit hyperactivity disorder / ADHD serta masalah prilaku dan
belajar saat anak mencapai usia sekolah (American College of Obstetricians and Gynecologists,
1999)

3. Riwayat Sosial
 Usia ibu mempengaruhi hasil akhir kehamilan
 Kehamilan usia 15 – 19 tahun → resiko anemia dan janin dengan pertumbuhan terhambat,
persalinan premature, dan angka kematian bayi lebih tinggi → sering tidak direncanakan
sehingga tidak ada konseling
 Remaja → masih tumbuh dan berkembang sehingga butuh kalori yang lebih besar daripada
wanita yang lebih tua → berat badan sering kurang
 Kehamilan usia > 35 tahun → saat ini 10% dengan penyulit obstetri dan meningkatkan
morbiditas dan mortilitas perinatal
 Merokok juga meningkatkan resiko penyulit kehamilan yang berkaitan dengan insufisiensi
vascular, seperti insufisiensi uteroplasenta dan solusio plasenta
 Konseling → kurangi / bahkan hentikan merokok prakehamilan

4. Riwayat pemakaian obat –obatan terlarang


 Mariyuana dan opium tidak ada bukti mempunyai efek teratogenik terhadap manusia.
 Opium mempunyai efek neonatus withdrawal : tangisan bayi high piched, tidak mau
menyusui, tremor, bayi iritabel, mengantuk, muntah, diare dan kadang – kadang kejang. Resiko
penularan HIV dan hepatitis pada penggunaan jarum bersama
 Penggunaan kokain mempunyai efek pada ibu termasuk vasokonstriksi, disamping efek
kardiotoksik. Komplikasi terhadap kehamilan : abortus spontan, IUFD, PROM, kelahiran

10
preterm, IUGR, dan solusio plasenta. Bersifat teratogenik : mikrosefal, defek batang tubuh,
malformasi traktus genitourinari. Resiko abnormalitas neurobehavior dan orientasi.
 Penggunaan amfetamin berhubungan dengan berkurangnya lingkar kepala janin dan
meningkatnya resiko solusio plasenta, IUGR dan IUFD, namun tidak ada bukti berefek teratogen.

5. Riwayat mengalami kekerasan dalam rumah tangga


Riwayat kekerasan dalam RT berhubungan dengan pasangan pecandu alkohol / obat,
menganggur, dan memiliki latar belakang pendidikan atau pendapatan yang rendah serta riwayat
pernah dipenjara (Grisso dkk, 1999; Kyriacou dkk, 1999)

6. Imunitas
 Konseling prakehamilan → penilaian atas imunitas terhadap rubella dan hepatitis B
 Vaksin : tetanus toksoid, bakteri atau virus mati (influenza, pneumokokus, hepatitis B,
meningokokus, rabies), atau virus hidup yang sudah dilemahkan (campak, gondongan, polio,
rubela, cacar air, demam kuning)
 Pemberian vaksin hidup selama kehamilan tidak dianjurkan dan idealnya diberikan paling
sedikit 3 bulan sebelum kehamilan

7. Riwayat pajanan lingkungan


 Pajanan lingkungan mencakup organisme infeksius, seperti : perawat NICU, perawat unit
dialisis mungkin terpajan sitomegalovirus atau virus sintitial traktus respiratorius dan petugas
penitipan anak dan guru di sekolah mungkin terpajan parvovirus dan rubella
 Pekerja industri yang hamil mungkin terpajan zat – zat kimia seperti logam berat atau pelarut
organik
 Konseling pajanan lingkungan → hindari pajanan tersebut sebelum dan selama kehamilan

8. Riwayat makanan dan gizi


 Kebiasaan makan seperti Pika : untuk es, tepung kanji, atau lumpur dan kotoran; sering
dikaitkan dengan anemia
 Kebiasaan makan seperti diet vegetarian memperlihatkan defisiensi protein, tetapi dapat
dikoreksi dengan meningkatkan konsumsi telur dan keju
11
 Konsumsi vitamin A tidak dianjurkan karena mempunyai efek teratogenik terhadap manusia
pada dosis 20.000 – 50.000 IU per hari, diantaranya malformasi janin
 Obesitas berhubungan dengan penyulit seperti hipertensi, preeklampsia, DM gestasional,
tromboflebitis, kelainan persalinan, kehamilan post matur, seksio sesarea dan penyulit operasi
(Wolfe, 1998)
 Defisiensi gizi seperti anoreksia dan bullimia meningkatkan resiko timbulnya masalah terkait
misalnya gangguan elektrolit, aritmia jantung, dan kelainan saluran cerna (Becker dkk, 1999)

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham GF, Gant FN, Leveno JK dkk, Williams Obstetrics, Twenty-second Edition, 2005

2. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi ke-1, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo, Jakarta, 2001

3. Duenhoelter HJ, Greenhill's Office Ginecology, Tenth Edition, Obstetrics and Gynaecology of
Washington, EGC 2000

4. Hacker FN, Moore GJ, Essential of Obstetrics and Gynecology. Second Edition, Hipocrates, 2006

5. Llewellyn D, Jones. Fundamental of Obstetrics and Gynaecology, Third Edition, Faber and Faber,
London 1982

6. Prawirohardjo S, Wiknjosastro H, Ilmu Kandungan, Edisi Kedua, Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia, Bina Pustaka Jakarta, 1999

7.Brandon J., Md. Bankowski Amy E., MD Hearne , Nicholas C., MD Lambrou. The Johns Hopkins
Manual of Gynecology and Obstetrics 2nd edition. The Johns Hopkins University Department
(Producer) By Lippincott Williams & Wilkins Publishers,May 2002

8.Gabbe. Obstetrics - Normal and Problem Pregnancies, 4th ed., Copyright Churchill Livingstone, Inc,
2002

9. James R, Md. Scott, Ronald S., Md. Gibbs, Beth Y., Md. Karlan, Arthur F., Md. Haney. Danforth's
Obstetrics and Gynecology, 9th Ed: N. Danforth By Lippincott Williams & Wilkins Publishers
,August ,2003

10. Obstetri Fisiologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
Bandung

11. Wayne R. Cohen Sheldon H. Cherry Irwin R. Merkatz. Cherry & Merkatz's Complications of
Pregnancy 5th edition: by) By Lippincott, Williams & Wilkins January, 2000

12. Pritchard AJ, MacDonald CP, Gant FN. Williams Obstetrics. Seventeenth Edition. Appleton Century
Crofts, 1984. 243-254

13. Alan H. DeCherney and Lauren Nathan. Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment,
Ninth Editionby The McGraw-Hill Companies, Inc, 2003

13
PEMERIKSAAN ANTENATAL

I. Pendahuluan

Pemeriksaan antenatal merupakan tugas klinis yang dirancang untuk memastikan


keselamatan dan kesehatan kehamilan, baik ibu maupun bayi. Umumnya, wanita hamil itu sehat
dan pada kebanyakan kasus akan melahirkan bayi yang sehat pula. Meskipun demikian, resiko
terhadap ibu, bayi, atau keduanya dapat terjadi selama kehamilan dan persalinan, dengan
ketepatan yang tidak terduga serta konsekuensi berbahaya.
Tujuan utama tindakan ini adalah :
1. Menentukan status kesehatan ibu dan janin.
2. Menentukan usia gestasi janin.
3. Memulai rencana untuk melanjutkan perawatan obstetrik
Oleh karena itu, para ahli kebidanan telah berusaha merumuskan daftar faktor resiko, dan
wanita hamil yang memenuhi satu atau lebih kriteria dapat digolongkan ke dalam kehamilan
beresiko tinggi. Bila terdapat suatu resiko atau banyak resiko yang teridentifikasi (misal,
kehamilan dengan diabetes melitus, preeklamsia, atau penyakit ginjal), ibu didaftarkan ke dalam
program pemantauan intensif untuk memperkecil efek kondisi tersebut. Namun, tantangan utama
bagi semua ahli kebidanan masih terletak pada kenyataan bahwa tidak ada cara untuk menghitung
suatu resiko tertentu pada seorang pasien sehingga muncul angka inklusi positif palsu yang tinggi
dalam setiap cara yang dipilih. Atas alasan yang sama, tidak ada satupun pengujian yang cukup
akurat untuk menyingkirkan semua kasus negatif palsu.
Sementara faktor lingkungan dan nutrisi yang buruk tidak lagi menjadi masalah umum
dalam perawatan antenatal di dunia Barat dewasa ini, timbul masalah lain: variasi morfologi
panggul (misal, setelah fraktur tulang panggul) dapat mengubah kapasitas panggul dan
menimbulkan penyulit yang analog dengan yang disebabkan oleh rakitis; juga masih ditemukan
anemia yang menyebabkan kelelahan ibu; kemungkinan penurunan kemampuan ibu untuk
mengatasi kehilangan darah pascapartum; dan bahkan retardasi pertumbuhan janin.
Untuk beberapa kasus, dibutuhkan tingkat keahlian khusus dalam perawatan antenatal,
misalnya kehamilan pada ibu penderita diabetes bergantung-insulin, atau kehamilan pada ibu
yang telah menjalani bedah perbaikan cacat jantung mayor atau menerima transplantasi organ.
Dengan adanya kemajuan pesat dalam penatalaksanaan medis dan bedah, hampir semua pasien
14
seperti di atas, kini dapat hidup lebih lama sehingga dapat bereproduksi dan memelihara
progeninya walaupun beban fisiologis kehamilan dapat memperberat kondisi mereka yang di luar
kondisi tersebut stabil.

II. Komponen Perawatan Antenatal


Perawatan antenatal meliputi :
1. Perawatan antenatal awal atau kunjungan pertama
Anamnesis lengkap, pemeriksaan rutin dan penilaian faktor resiko.. Jika ditemukan faktor resiko
dari anamnesis dan pemeriksaan rutin, maka dilakukan evaluasi pada kunjungan berikutnya.
2. Perawatan antenatal berikutnya.
Terutama untuk mengendalikan faktor resiko.

II.1. Anamnesis
10. Identitas pasien dan suami termasuk nama, umur, pekerjaan, nama suami, agama alamat →
identifikasi / mengenal pasien dan mengetahui status sosial ekonomi untuk menentukan anjuran /
pengobatan yang akan diberikan serta penentuan prognosa kehamilan setelah mengetahui umur
pasien
11. Keluhan – keluhan yang muncul pada pemeriksaan
12. Riwayat menstruasi
 menarche, teratur / tidak, lamanya, banyaknya darah, nyeri +/- → menilai faal alat
kandungan
 HPHT / hari pertama haid terakhir → penentuan taksiran partus dengan hukum NAEGELE :
(tanggal + 7) (bulan - 3) (tahun + 1)
13. Riwayat perkawinan → kawin / tidak, berapa kali, berapa lama (anak mahalkah?)
14. Riwayat kehamilan sebelumnya → perdarahan +/- , hiperemesis gravidarum +/- → prognosa
15. Riwayat persalinan sebelumnya → spontan / buatan, aterm +/-, perdarahan +/-, siapa yang
menolong → prognosa
16. Riwayat nifas sebelumnya → demam +/-, perdarahan +/-, laktasi ? → prognosa
17. Riwayat anak yang lahir → jenis kelamin, hidup +/-, berat lahir
18. Riwayat kehamilan sekarang → kapan merasakan gerak anak, hamil muda (mual, muntah, sakit
kepala, perdarahan +/-), hamil tua (edema kaki / muka, sakit kepala, perdarahan, sakit pinggang)
19. Riwayat penyakit keluarga → penyakit keturunan +/- (DM, kelainan genetik), riwayat kembar,
penyakit menular +/- (TBC)
15
20. Riwayat kontrasepsi → pakai +/-, metodenya ?, jenisnya, berapa lama, efek samping

II.2. Pemeriksaan Rutin Pada Kunjungan Pertama


II.2.1. Pemeriksaan Fisik Umum
Tanda vital, yaitu tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu.
Pemeriksaan fisik lengkap dari kepala sampai ujung kaki untuk menemukan apakah ada
kelainan, termasuk status gizi, tinggi dan berat badan
Pemeriksaan tanda – tanda kehamilan meliputi wajah, dada, abdomen dan genetalia eksterna
dan interna serta pemeriksaan panggul.

Pemeriksaan panggul secara klinis (Gambar 1), yang dinilai :


 Conjugata diagonalis → karena diameter transversa tidak dapat diukur langsung maka dicari
diameter anteroposterior / conjugata diagonalis
 Cara : dengan jari tengah coba dicapai promontorium, kemudian tekan jaringan antara jari
pemeriksa dengan ibu jari dan tandai. Jarak antara ujung jari yang masuk dengan tanda tadi itulah
conjugata diagonalis.
Gb.1.Pelvimetri klinis
(Sumber: Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment, Ninth Edition)
 Linea innominata teraba seluruhnya +/-
 Sacrum konkaf dari arah atas bawah dan dari kiri ke kanan
 Dinding samping panggul lurus / konvergen
 Spina ischiadica menonjol +/-
 Os pubis : exostose +/-
 Arcus pubis, menilai sudut. Normal > 90º
 Os. Coxigeus, menilai pergerakan

II.2.2. Pemeriksaan Inspekulo dan pemeriksaan dalam


 Serviks dilihat dengan menggunakan speculum yang dilumasi oleh air hangat.
 Gambaran khas adalah hyperemia pasif berwarna merah-kebiruan pada serviks, tetapi
gambaran ini saja tidak diagnostic untuk kehamilan. Mungkin tampak jelas kelenjer-kelenjar
serviks yang berdilatasi, tersumbat, dan menonjol (disebut juga kista nabothian) di bawah
mukosa eksoserviks.

16
 Apabila serviks mengalami dilatasi yang bermakna, dapat terlihat membrane janin melalui
kanalis servikalis, yang paling tidak mengisyaratkan bahwa kemungkinan akan terjadi ekspulsi
produk konsepsi. Kemudian, untuk mengidentifikasi kelainan sitologis dilakukan Pap smear dan
dilakukan pengambilan specimen untuk identifikasi Neisseria gonorrhoeae dan mungkin
Chlamydia trachomatis.
 Adanya duh mukoid putih dalam jumlah sedang merupakan hal yang normal. Adanya cairan
kuning berbusa di vagina merupakan isyarat kuat adanya Trichomonas, sedangkan adanya duh
seperti kepala susu sesuai dengan infeksi kandida.
 Speculum dikeluarkan dan dilakukan pemeriksaan dalam panggul (vaginal touché) dengan
palpasi, dengan perhatian khusus pada konsistensi, panjang, dan pembukaan serviks; bagian
terbawah janin, terutama menjelang akhir kehamilan; pada arsitektur tulang-tulang panggul; dan
pada semua anomaly vagina dan perineum, termasuk sistokel, rektokel, dan perineum yang telah
mengalami relaksasi atau robek. Vulva dan struktur-struktur di sekitarnya juga diinspeksi secara
cermat.
 Semua lesi di serviks, vagina, dan vulva dievaluasi lebih lanjut dengan kolposkopi, biopsy,
biakan, atau pemeriksaan lapangan gelap. Region perianal harus diinspeksi dan dilakukan
pemeriksaan rectal touché untuk mengidentifikasi hemoroid dan lesi lain.
II.2.3. Hitung Darah Lengkap
Pemeriksaan hematologik dapat untuk semua tujuan praktis, terbatas pada penentuan
konsentrasi hemoglobin atau hematokrit. Hitung sel darah putih dan diferensial dapat mengenali
kasus jarang leukemia yang terjadi selama kehamilan jika terdapat kecurigaan klinik.

II.2.4. Urinalisis
Ditampung urin midstream dan dilakukan pemeriksaan berikut :
1. Analisis adanya glukosa, keton, protein
2. pemeriksaan mikroskopik atas sedimen
3. Biakan kuantitatif atau penyaringan biokimia untuk adanya basiluria

II.2.5. Golongan Darah, Faktor Rhesus dan Penyaringan Antibodi


Setiap wanita hamil harus menjalani pemeriksaan golongan darah, faktor rhesus dan
penyaringan antibodi yang dilakukan pada kunjungan prenatal yang pertama. Kalau ditemukan
pada suatu penyaringan positif, antibodi yang ada dapat dikenali dan pasien ditangani dengan
tepat.
17
II.2.6. Penyaringan Glukosa
Penyaringan glukosa untuk diabetes gestasional terbaik dilakukan antara 24 dan 28
minggu kehamilan, bila kebutuhan insulin maksimal. Setiap pasaien dengan satu faktor resiko
atau lebih (tabel 1) harus menjalani penyaringan pada kunjungan pertama kalau kunjungannya
sebelum 24 minggu.

Tabel 1
Faktor resiko untuk Diabetes Melitus
 Umur 25 tahun atau lebih
 Obesitas
 Riwayat keluarga DM
 Bayi yang sebelumnya berbobot >4000 mg
 Bayi lahir mati yang sebelumnya
 Bayi cacat bawaan yang sebelumnya
 Polihidramnion
 Riwayat aborsi berulang
(Sumber: William Obstetrics 21nd edition)

II.2.7. Uji alfa-fetoprotein serum


Tiap wanita hamil harus diberitahu mengenai ketersediaan uji alfa-fetoprotein serum ibu.
Pemeriksaan ini, yang dapat meramalkan cacat tabung saraf terbuka, terbaik dilakukan dilakukan
antara 16 dan 20 minggu.

II.2.8. Pemeriksaan HIV-AIDS dan antigen permukaan Hepatitis B (HbsAg)


Sebagaimana diketahui bahwa HIV sangat mematikan bagi ibu dan janin, bahkan bisa
membahayakan pemeriksa. Ibu yang mempunya antigen (HbsAg +), bayi mempunyai 70-90
persen resiko terkena hepatitis B dan 85-90 persen risiko untuk menjadi pembawa HBV yang
kronis.

II.2.9. Ultrasonografi

18
Ultrasonografi merupakan bagian terintegrasi dari perawatan antenatal di dunia Barat dan
di banyak negara berkembang. Metode ini telah mengubah perawatan antenatal yang semula
hanya bersifat menerka-nerka usia gestasi menjadi pengetahuan yang akurat tentang usia
kehamilan sejak usia 7 hari, serta mampu mencatat perkembangan janin, khususnya bila
dicurigai terdapat retardasi pertumbuhan janin. Selain itu, ultrasonografi juga merupakan alat
penting dalam mendiagnosis abnormalitas janin.

Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang dapat mengancam nyawanya.
Oleh karena itu setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode
antenatal :
 Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)
 Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 – 28)
 Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 – 36 dan sesudah minggu ke-
36)
Kunjungan antenatal yang terpenting adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya

III. Pemeriksaan Obstetrik


III. 1. Inspeksi Umum
 Muka → chloasma gravidarum, edema +/-
 Mata → conjungtiva anemis +/-, sklera ikterik +/-
 Mulut → gusi dan gigi
 Leher → JVP, pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe +/-,
 Mammae → bentuk, simetris, pembesaran, puting susu melebar, areola hiperpigmentasi,
vaskular ↑, hiperplasia jaringan kelenjar
 Abdomen → membesar, pigmentasi linea alba dan striae, sikatriks +/-, terlihat gerak anak +/-
 Vulva → perineum, varices +/-, flour albus +/-
 Anus → hemoroid +/-,
 Tungkai → varices +/-, edema +/- (pretibial, ankle, punggung kaki), sikatriks +/-

III.2. Pemeriksaan Abdomen (Leopold)

19
 Leopold I : pemeriksa berdiri menghadap ke pasien, kemudian dengan kedua tangan meraba
dengan jari-jari untuk menentukan tinggi fundus uteri dan bagian apa dari anak yang terdapat
dalam fundus

 Leopold II : posisi masih sama, pindahkan tangan ke samping. Tentukan dimana punggung
anak terdapat pihak yang memberi rintangan terbesar kemudian carilah bagian – bagian kecil
yang terletak bertentangan

( Sumber : Atlas teknik kebidanan, edisi 2)

 Leopold III : memakai 1 tangan saja, rabalah bagian terbawahnya dan tentukan apakah
masih bisa digoyangkan untuk menentukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah
sudah / belum terpegang oleh pintu atas panggul

 Leopold IV : posisi pemeriksa menghadap kaki pasien, dengan kedua tangan tentukan apa
yang menjadi bagian bawah dan apakah bagian ini sudah masuk kedalam PAP dan berapa
masuknya
( Sumber : Atlas teknik kebidanan, edisi 2)

III.3. Bunyi Jantung Janin (Auskultasi)


 Semua kehamilan bunyi jantung janin dapat didengar pertama kali antara minggu ke-16 dan
19 apabila dilakukan dengan cermat menggunakan sebuah stetoskop janin DeLee.
 Herbert dkk. (1987) melaporkan bahwa bunyi jantung janin sudah dapat didengar pada
minggu ke-20 pada 80 persen wanita. Pada minggu ke-21, bunyi jantung janin sudah terdengar
pada 95 persen, dan pada minggu ke-22 pada semua wanita hamil.

III.4. Pengukuran Tinggi Fundus


 minggu ke-20 sampai 31 tinggi fundus dalam sentimeter setara dengan usia gestasi dalam
minggu. (Jimenez dan rekan (1983))

20
 Quaranta dan rekan (1981) serta Calvert dan rekan (1982) melaporkan pengamatan yang
pada dasarnya serupa sampai gestasi 34 minggu.
 Sebelum melakukan pengukuran, kandung kemih harus dikosongkan.

( Sumber : Atlas teknik kebidanan, edisi 2)

IV. Pemeriksaan Khusus

IV.1. Pencitraan Resonansi Magnetik


 MRI bekerja berdasarkan prinsip bahwa atom yang ditempatkan di dalam suatu medan
magnet kuat, akan bereaksi terhadap gelombang frekuensi radio tertentu dengan memancarkan
kembali sebagian energi yang diserapnya.
 Efisiensi MRI pada uji tapis janin dalam trimester pertama dan kedua juga berkurang akibat
adanya gerakan janin, tetapi saat ini tengah diupayakan untuk mempersingkat waktu pemajanan
dan memperkecil sudut defleksi agar dapat diperoleh rincian struktur janin.
 MRI dapat digunakan untuk menghasilkan pencitraan panggul wanita yang sangat baik pada
trimester ketiga kehamilan dan memiliki nilai sangat tinggi dalam mempelajari rincian panggul,
yang hanya sedikit terpengaruh oleh gerak pernapasan.

IV.2. Amniosentesis
 Amniosentesis adalah tindakan pengambilan sampel cairan ketuban (likuor amnii) untuk
diagnosis antenatal abnormalitas kromosom dan abnormalitas biokimia lewat pemeriksaan sel-sel
janin yang terlepas serta cairan ketuban yang biasanya dikerjakan setelah kehamilan 16 minggu
sehingga kehilangan cairan yang diaspirasi tidak akan mengubah volume rongga uterus secara
bermakna, yang dapat menimbulkan kontraksi uterus.
 Pelaksanaan amniosentesis pada trimester kedua kehamilan akan memperkecil kemungkinan
pencederaan janin karena banyaknya cairan ketuban pada stadium ini.

Gb.7.Amniosentesis
( Sumber : Atlas teknik kebidanan, edisi 2)
21
IV.3. Pengambilan Sampel Vilus Korion
 Yaitu upaya memperoleh jaringan yang berasal dari janin pada tahap kehamilan lebih dini
dibandingkan pelaksanaan amniosentesis (kehamilan 16 minggu),
 Teknik ini memungkinkan pembiakan sel yang sedang membelah secara aktif, berbeda dari
sel lepasan pada amniosentesis, dan seandainya didapatkan abnormalitas, pengakhiran kehamilan
dapat dilakukan pada tahap yang relatif dini.
 Potensi pertumbuhan vili korion memfasilitasi penentuan kariotipe secara relatif cepat, yaitu
dalam 3-4 hari.
 Resiko CVS jika dilakukan pada kehamilan kurang dari 10 minggu adalah insiden defek
ekstremitas yang lebih besar, tetapi mekanisme pasti untuk hal ini tidak diketahui.

IV.4. Fetoskopi
Digunakan untuk mendiagnosis malformasi-malformasi kecil pada janin, seperti sumbing
wajah atau cacat jari pada keluarga yang memiliki resiko menderita sindrom genetik spesifik dan
sebagai penuntun visual pada pengambilan contoh darah janin, biopsy hati, dan kulit.

Gb.8. Fetoskopi
( Sumber : Atlas teknik kebidanan, edisi 2)

IV.5. Kardosentesis
Teknik ini kini telah mengungguli fetoskopi dalam pengambilan sampel darah janin dan
transfuse darah janin. Selain digunakan untuk diagnosis prenatal gangguan darah herediter seperti
hemofilia, kordosentesis juga digunakan untuk diagnosis infeksi janin.

Gb.9. Kardosintesis ( Sumber : Atlas teknik kebidanan, edisi 2)

22
V. Pemeriksaan Antenatal Tambahan Sesuai Indikasi
V.1. Chalmydia Trachomatis
Pemeriksaan universal untuk mendeteksi infeksi klamidia terhadap semua wanita hamil
tidak dianjurkan (American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians and
Gynecologists, 1997). Pada wanita beresiko tinggi dari status sosioekonomi lemah, infeksi pada
usia gestasi 24 minggu berkaitan dengan peningkatan insiden persalinan prematur sebanyak dua
sampai tiga kali lipat (Andrews dkk., 2000).

V.2. Vaginosis Bakterialis


Pemeriksaan penapis rutin untuk vaginosis bakterialis tidak dianjurkan (American College
of Obstetricians and Gynecologists, 1998). Carey dkk. (2000), dalam sebuah studi yang
disponsori oleh National Institute of Child Health and Human Development, mengambil 1953
wanita secara acak dari populasi obstetric umum dengan vaginosis bakterialis asimtomatik untuk
mendapat metronidazol dosis 2 g atau placebo pada gestasi 16 sampai 24 minggu. Terapi tidak
mengurangi persalinan prematur. Pada uji klinis yang sama, terapi metronidazol meningkatkan
resiko persalinan prematur pada wanita dengan infeksi trikomonas asimtomatik (Carey dkk.,
2000). penapisan untuk vaginosis bakterialis dapat dipertimbangkan pada wanita yang beresiko
tinggi mengalami persalinan prematur.

V.3. Fibronektin Janin


Pengukuran protein ini dalam cairan vagina pernah digunakan untuk memperkirakan
persalinan prematur pada wanita dengan kontraksi. Committee on Obstetric Practice dari
American College of Obstetricians and Gynecologists (1997a) tidak merekomendasikan
penipisan rutin pada populasi obstetrik umum.

V.4. Streptokokus Grup B


Eradikasi organisme ini selama persalinan secara substansial mengurangi sepsis
neonotorum awitan dini. Namun, saat ini belum ada konsensus yang jelas mengenai penapisan
biakan untuk kolonisasi streptokokus..

V.5. Penyaringan antibody rubella

23
Penyaringan antibody rubella harus dilakukan pada tiap pasien prenatal yang rentan atau
yang statusnya tak dikenal

VI. Asupan Makanan Yang Dianjurkan


VI.1. Nutrisi
Pertambahan berat ibu selama kehamilan memang mempengaruhi berat lahir bayi.
Abrams dan Laros (1986) mempelajari efek pertambahan berat ibu terhadap berat lahir pada 2946
kehamilan dengan persalinan aterm. Hanya delapan wanita tidak mengalami pertambahan berat.
Dilakukan analisis regresi multiple untuk mengendalikan faktor usia ibu, ras, paritas, status
sosioekonomi, konsumsi rokok, dan usia gestasi. Pertambahan berat ibu mempengaruhi berat
lahir; wanita yang beratnya kurang melahirkan bayi yang lebih kecil sedangkan yang sebaliknya
berlaku pada wanita yang berat badannya berlebih. Rerata pertambahan berat ibu selama
kehamilan adalah 33 lb (15 kg). Temuan penting dalam studi ini adalah bahwa pertambahan berat
tampaknya tidak merupakan syarat bagi pertumbuhan janin pada wanita kegemukan.
Beberapa kerugian yang mungkin ditimbulkan oleh pertambahan berat badan berlebihan
yang disebabkan oleh beratnya janin-bayi harus dipertimbangkan. Parker dan Abrams (1992)
meneliti keterkaitan antara pertambahan berat ibu di luar rekomendasi Institute of Medicine pada
6690 kelahiran tungga. Berat rata-rata prahamil adalah 57 kg (125 lg), dan pertambahan rata-rata
berat ibu adalah 15,2 ± 5,2 kg (33,4 ± 11,4 lb) pada wanita yang terutama dari golongan
Kaukasus dan Asia ini. Kurang dari separuh yang memperlihatkan pertambahan berat dalam
rentang yang direkomendasikan oleh Institute berdasarkan BMI mereka. Pertambahan berat
dalam rentang rekomendasi menurunkan resiko gangguan pada hasil akhir kehamilan.
Sebaliknya, kurangnya pertambahan berat untuk habitus tertentu berkaitan dengan bayi kecil
untuk usia kehamilannya. Terdapat beberapa studi lain yang menunjukkan pertambahan berat
yang lebih rendah daripada yang dianjurkan berkaitan dengan persalinan prematur atau bayi berat
lahir rendah (Abrams dan Selvin, 1995; Hickey dkk., 1995; Siega-Riz dkk., 1994). Parker dan
Abrams (1992) memperlihatkan bahwa pertambahan berat yang berlebihan berkaitan dengan bayi
besar untuk usia kehamilannya sehingga meningkatkan angka seksio sesarea (16 versus 22
persen). Witter dkk. (1995) melaporkan bahwa resiko seksio sesarea meningkat secara linier
seiring dengan pertambahan berat selama kehamilan, tanpa bergantung pada berat lahir. Jihnson
dan Yancey (1996) menekankan bahwa efek dari rekomendasi Institute of Medicine untuk
meningkatkan pertambahan berat selama hamil belum diteliti secara tuntas.

24
VI. 2. Suplementasi Vitamin dan Mineral Prenatal
Sebelum munculnya rekomendasi untuk suplementasi folat untuk mencegah defek tabung
saraf (neural tube), satu-satunya nutrient yang kebutuhannya selama kehamilan tidak dapat
terpenuhi hanya oleh diet adalah besi (Institute of Medicine, 1990).
Asupan makanan harian yang dianjurkan National Research Council untuk Wanita
Sebelum dan Selama Hamil dan Menyusui
Zat Gizi Tidak Hamil Hamil Menyusui
Kilokalori 2200 2500 2600
Protein (g) 55 60 65
Vitamin larut-lemak
A (g RE)b 800 800 1300
D (g) 10 10 12
E (mg TE)c 8 10 12
K (g) 55 65 65
Vitamin larut-air
C (mg) 60 70 95
Folat (g) 180 400 280
Niasin (mg) 15 17 20
Riboflavin (mg) 1,3 1,6 1,8
Tiamin (mg) 1,1 1,5 1,6
Piridoksin B6 (mg) 1,6 2,2 2,1
Kobalamin B12 (g) 2,0 2,2 2,6
Mineral
Kalsium (mg) 1200 1200 1200
Fosfor (mg) 1200 1200 1200
Iodium () 150 172 200
Besi (g besi fero) 15 30 15
Magnesium (mg) 280 320 355
Seng (mg) 12 15 19
Kalori
Kehamilan memerlukan tambahan 80.000 kkal, yang terutama terakumulasi pada 20
minggu terakhir. Nasional Research Council (1989) menganjurkan peningkatan asupan kalori 300
kkal sepanjang kehamilan. Kalori diperlukan untuk energi, dan apabila asupan kalori tidak

25
adekuat, maka protein akan dimetabolisasi untuk menghasilkan energi dan tidak digunakan untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin. Kebutuhan fisiologis total selama kehamilan tidak harus
merupakan penjumlahan dari kebutuhan biasa saat tidak hamil ditambah kebutuhan yang spesifik
untuk kehamilan. Sebagai contoh, tambahan energi yang diperlukan selama kehamilan mungkin
dikompensasi secara sebagian atau seluruhnya oleh berkurangnya aktivitas fisik (Hytten, 1991).

Protein
Terhadap kebutuhan dasar protein pada wanita tidak hamil ditambahkan kebutuhan untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin, plasenta, uterus, dan payudara serta peningkatan volume
darah ibu. Selama 6 bulan terakhir kehamilan, terjadi pengendapan sekitar 1 kg protein, yang
setara dengan 5 sampai 6 g/hari (Hytten dan Leitch, 1971). Asam amino dalam plasma ibu belum
diteliti secara menyeluruh di luar pengamatan terjadinya penurunan mencolok konsentrasi ornitin,
glisin, taurin, dan prolin (Hytten, 1991). Pengecualian selama kehamilan adalah asam glutamate
dan alanin, yang konsentrasinya meningkat.
Sebagian besar protein dianjurkan berasal dari sumber hewani, misanya daging, susu,
teur, keju, produk ayam, dan ikan, karena makanan-makanan ini engandung kombinasi asam
amino yang optimal. Susu dan produk susu telah dianggap sebagai sumber nutrient, terutama
protein dan kalsium, yang ideal bagi wanita hamil dan menyusui.

Mineral
Hampir semua makanan yang menghasilkan cukup kalori untuk menghasilkan
pertambahan berat yang memadai mengandung cukup mineral untuk mencegah defisiensi apabila
yang digunakan adalah garam beriodium.

Besi
Dari sekitar 300 mg besi yang dipindahkan ke janin dan plasenta dan 500 mg yang
diserap, apabila tersedia, hampir semua digunakan setelah pertengahan kehamilan. Selama waktu
itu, kebutuhan besi yang ditimbulkan oleh kehamilan dan ekstresi ibu berjumlah total 7 mg per
hari (Pritchard dan Scott, 1970). Sangat sedikit wanita yang memiliki simpanan besi yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan ini, dan makanan jarang mengandung besi yang dapat memenuhi
kebutuhan ini.
Scott dkk.menetapkan bahwa diperlukan paling kurang 30 mg besi elemental dalam
bentuk garam besi sederhana misalnya fero glukonat, sulfat, atau fumarat yang diminum setiap
26
hari sepanjang separuh terakhir kehamilan untuk menghasilkan besi yang memadai untuk
kebutuhan selama hamil dan melindungi simpanan besi yang sudah ada. Jumlah ini diperkirakan
memadai untuk memenuhi kebutuhan besi selama menyusui. Wanita hamil mungkin memperoleh
manfaat dari pemberian 60 sampai 100 mg besi per hari apabila ia bertubuh besar, memiliki janin
kembar, berada dalam tahap akhir kehamilan, mengkonsumsi besi secara tidak teratur, atau kadar
hemoglobinnya agak rendah. Wanita yang jelas anemic akibat defisiensi besi berespons baik
terhadap pemberian 200 mg besi per hari dalam dosis terbagi.

Kalsium
Wanita hamil meretensi sekitar 30 g kalsium, yang sebagian besar mengendap di janin
pada akhir kehamilan (Pitkin, 1985). Jumlah kalsium ini mencerminkan hanya sekitar 2,5 persen
dari total kalsium ibu, yang sebagian besar terdapat di tulang, dan mudah dimobilisasi untuk
pertumbuhan janin. Selain itu, Heaney dan Skillman (1971) membuktikan adanya peningkatan
penyerapan kalsium oleh usus dan retensi progresif sepanjang kehamilan. Menurut Pitkin (1985),
kadar kalsium terikat, dan bukan kadar kalsium terionisasi, sedikit menurun di dalam plasma ibu
seiring dengan berkurangnya konsentrasi albumin.

Fosfor
Distribusi fosfor yang meluas memastikan bahwa asupan mineral ini adekuat sepanjang
kehamilan. Kadar fosfor inorganic dalam plasma tidak banyak berbeda dari kadar nonhamil.

Seng
Defisiensi seng yang parah dapat menyebabkan penurunan nafsu makan, pertumbuhan
sub-optimal, dan gangguan penyembuhan luka. Defisiensi seng yang berat dapat menyebabkan
kecebolan dan hipogonadisme. Hal ini juga dapat menyebabkan gangguan kulit spesifik,
akrodermatitis enteropatik, yang disebabkan oleh defisiensi seng congenital parah yang jarang
dijumpai. Walaupun janin hewan yang mengalami defisiensi seng memperlihatkan peningkatan
insiden malformasi susunan saraf pusat, namun peran seng dalam menentukan hasil akhir
kehamilan pada manusia masih belum jelas. (Goldenberg dkk., 1995).

Yodium
Semua wanita hamil dianjurkan memakai garam beryodium untuk memenuhi kebutuhan
bayi dan mengatasi meningkatnya pengeluaran yodium melalui urin ibu. Perhatian terhadap
27
peningkatan yodium dalam makanan selama kehamilan diperkuat oleh laporan terakhir yang
mengaitkan hipotiroidisme ibu dengan retardasi mental pada anak mereka (Haddow dkk., 1999).
Defisiensi yodium yang parah pada ibu hamil menimbulkan predisposisi kretinisme
endemic pada janin, yang ditandai oleh defek neurologist berat dan multiple.

Magnesium
Defisiensi magnesium akibat kehamilan belum pernah dilaporkan. Tidak diragukan lagi
bahwa selama sakit berkepanjangan disertai tidak adanya asupan magnesium, kadar plasma dapat
sangat rendah, seperti yang akan terjadi pada keadaan tidak hamil.

Tembaga
Enzim-enzim yang mengandung tembaga, misalnya sitokrom oksidase, berperan penting
dalam banyak proses oksidatif dan oleh karenanya penting dalam produksi sebagian besar energi
yang dibutuhkan oleh metabolise tembaga ibu, disertai peningkatan mencolok kadar
seruloplasmin serum dan tembaga plasma. Defisiensi tembaga selama kehamilan pada manusia
belum pernah dilaporkan. Belum ada dilaporkan adanya studi mengenai suplementasi tembaga
pada wanita hamil, namun saat ini beberapa suplemen prenatal mengandung 2 mg tembaga per
tabletnya.

Selenium
Ini adalah komponen essensial pada enzim glutation peroksidase, yang mengkatalisis
perubahan hidrogen peroksida menjadi air. Selenium adalah komponen pertahanan yang penting
terhadap kerusakan akibat radikal bebas. Defisiensi selenium bermanifestasi sebagai
kardiomiopati yang sering fatal pada anak dan wanita usia subur. Sebaliknya, juga pernah
dijumpai toksisitas selenium akibat suplementasi berlebihan.

Kromium
Kromium diperkirakan memiliki peran fisiologik sebagai kofaktor untuk insulin,
mempermudah perlekatan awal hormon ke reseptornya di perifer. Seberapa penting kromium
dalam nutrisi manusia masih bellum diketahui, dan belum ada data yang mengisyaratkan bahwa
wanita hamil perlu diberi suplemen kromium.

Mangan
28
Logam ini berfungsi sebagai kofaktor untuk enzim-enzim seperti glikosiltransferase, yang
penting untuk sintesis polisakarida dan glikoprotein. Defisiensi mangan belum pernah dijumpai
pada orang dewasa, dan suplemen tidak diindikasikan selama kehamilan.

Kalium
Konsentrasi kalim dalam plasma ibu menurun sekitar 0,5 mEq/l pada pertengahan
kehamilan (Brown dkk., 1986). Defisiensi kalium terjadi pada keadaan-keadaan yang sama
seperti apabila wanita tidak sedang hamil. Mual dan muntah yang berkepanjangan dapat
menyebabkan hipokalemia dan alkalosis metabolic. Kausa yang dulu sering dijumpai, yaitu
pemakaian diuretik, sekarang sudah hampir tidak pernah ditemukan.

Natrium
Defisiensi selama kehamilan kecil kemungkinannya terjadi kecuali apabila pasien
mengkonsumsi diuretic atau asupan natrium dalam makanan menurun secara drastis. Secara
umum, mengasinkan makanan agar terasa lezat akan memberikan natrium dalam jumlah besar.
Konsentrasi natrium plasma dalam keadaan normal menurun beberapa mEq selama kehamilan;
namun, eksresi natrium tidak berubah, dan berkisar antara 100 sampai 110 mEq/hari (Brown
dkk., 1986).

Fluorida
Manfaat suplementasi fluoride selama kehamilan telah dipertanyakan. Horowitz dan
Heifetz (1967) meneliti prevalensi karies pada gigi susu dan gigi tetap pada anak-anak yang
setelah lahir mendapat pajanan yang sama terhadap air terfluorinisasi optimal tetapi sebelum lahir
mengalami pola pemajanan yang berbeda-beda. Mereka menyimpulkan bahwa tidak terdapat
manfaat tambahan dari ingesti air berfluor oleh ibu hamil apabila anak mengkonsumsi air yang
sama setelah lahir.

Vitamin
Sebagian besar bukti mengenai pentingnya vitamin untuk keberhasilan reproduksi
diperoleh dari hewan percobaan. Biasanya, defisiensi yang parah pada hewan ditimbulkan dengan
penghentian sama sekali asupan vitamin, di mulai jauh sebelum saat kehamilan; atau dengan
memberikan antagonis vitamin yang sangat poten. Pemberian sebagian vitamin dalam jumlah
29
berlebihan kepada hewan hamil dibuktikan menimbulkan efek yang merugikan pada janin dan
neonatus.

Asam Folat
Di Amerika Serikat, setiap tahun sekitar 400 kehamilan mengalami penyulit defek tabung
saraf (neural-tube) dan lebih dari separuhnya dapat dicegah dengan asupan harian 400 g asam
folat sepanjang periode perikonsepsi (Centers for Disease Control and Preventeion, 1999). Sejak
tahun 1992, Public Health Service telah merekomendasikan agar semua wanita yang mungkin
hamil mengkonsumsi 400 g asam folat setiap hari selama usia subur. Food and Drug
Administration (1996) kemudian menetapkan standar untuk memperkaya produk sereal dan biji-
bijian misalnya sereal, roti, nasi, dan pasta dengan asam folat. Dengan menambahkan 140 g
asam folat ke dalam setiap 100 g produk biji-bijian, diperkirakan bahwa asupan asam folat wanita
Amerika usia subur akan meningkat 100 g per hari.
Daly dkk. (1997) berpendapat bahwa pemberian 200 g per hari melalui fortifikasi
pangan efektif untuk mengatasi defek neural-tube dan lebih aman bagi populasi umum.

Vitamin A
Asupan harian vitamin A di Amerika Serikat tampaknya memadai untuk memenuhi
kebutuhan sebagian besar wanita hamil (American College of Obstetrician and Gynecologists,
1998d). Karena itu, suplementasi rutin selama kehamilan tidak dianjurkan. Beberapa laporan
kasus mengisyaratkan adanya keterkaitan antara cacat lahir dan asupan vitamin A dosis tinggi
(10.000 sampai 50.000 IU) setiap hari selama kehamilan. Cacat-cacat lahir ini serupa dengan
yang ditimbulkan oleh turunan vitamin A isotretinoin (Accutane), yang terbukti merupakan
teratogen bagi manusia. Beta-karoten, precursor vitamin A yang terdapat dalam buah dan
sayuran, belum terbukti menimbulkan toksisitas vitamin A.

Vitamin B12
Kadar vitamin B12 dalam plasma ibu menurun secara bervariasi selama kehamilan normal.
Hal ini terutama terjadi karena menurunnya transkobalamin plasma dan dapat dicegah sebagian
oleh suplementasi. Vitamin B12 terdapat secara alami hanya di dalam makanan yang berasal dari
30
hewan. Sekarang sudah dipastikan bahwa vegetarian total dapat menyebabkan lahirnya bayi yang
simpanan vitamin B12 nya rendah.
Selain itu, karena ASI dari ibu vegetarian kemungkinan besar hanya mengandung sedikit
vitamin B12, maka defisiensi dapat semakin mencolok pada bayi yang mendapat ASI ini.
(Higginbotton dkk., 1978). Ingesti berlebihan vitamin C juga dapat menyebabkan defisiensi
fungsional vitamin B12.

Vitamin B6
Sebagian besar uji klinis pada wanita hamil gagal membuktikan adanya manfaat
suplementasi vitamin B6 (Institute of Medicine, 1990). Bagi wanita yang beresiko mengalami
kurang gizi-mis: penyalahgunaan obat, remaja, dan mereka dengan gestasi multiple dianjurkan
supleentasi 2 mg vitamin B6 harian.

Vitamin C
Asupan harian yang dianjurkan untuk vitamin C selama kehamilan adalah 70 mg/hari,
atau sekitar 20 persen lebih banyak daripada wanita tidak hamil. Makanan yang wajar umumnya
mengandung sejumlah ini. Kadar dalam plasma ibu berkurang selama kehamilan sedangkan
kadar di tali pusat lebih tinggi, suatu fenomena yang dijumpai pada sebagian besar vitamin larut-
air.

VII. Perhatian Khusus Selama Kehamilan


Olah Raga
Secara umum, wanita hamil tidak harus membatasi olah raga, asalkan ia tidak mengalami
kelelahan atau beresiko cidera bagi diri atau janinnya. Saat ini, antusiasme terhadap jogging juga
menulari sejumlah wanita hamil. Bahkan, beberapa wanita, pernah ikut marathon dengan aman,
meski saat itu sedang hamil tua.
Pada beberapa penyulit kehamilan, ibu dan janin mungkin memperoleh manfaat apabila
ibu tidak banyak beraktivitas. Sebagai contoh, wanita dengan hipertensi dalam kehamilan
sebaiknya tidak banyak beraktivitas , demikian juga wanita dengan dua atau lebih janin, wanita
yang pertumbuhan janinnya diperkirakan terganggu, dan mereka yang mengidap penyakit jantung
berat

31
Mandi
Tidak ada larangan untuk mandi selama hamil atau masa nifas. Selama trimester terakhir,
uterus yang berat biasanya mengganggu keseimbangan wanita hamil dan meningkatkan
kemungkinan wanita hamil terpeleset dan jatuh di bathtub kamar mandi. Karena itu, menjelang
akhir kehamilan wanita dianjurkan menggunakan shower.

Busana
Secara umum direkomendasikan bahwa busana yang digunakan selama hamil seyogyanya
nyaman dan tidak ketat. Meningkatnya massa payudara dapat menyebabkan payudara
menggantung dan terasa nyeri, dan untuk menjaga kenyamanan diindikasikan penggunaan bra
yang menopang secara pas. Stocking yang ketat sebaiknya dihindari.

Kebiasaan Buang Air Besar


Konstipasi sering terjadi, mungkin karena memanjangnya waktu transit dan tertekannya
usus bagian bawah oleh uterus atau oleh bagian presentasi janin. Selain rasa tidak nyaman yang
disebabkan oleh lewatnya bahan feses yang keras, dapat terjadi perdarahan dan fisura yang nyeri
di mukosa rectum dan edematosa dan hiperemik. Frekuensi hemoroid juga meningkat dan dapat
terjadi prolaps mukosa rectum, walaupun lebih jarang.
Wanita yang kebiasaan buang air besarnya normal selama tidak hamil dapat mencegah
konstipasi selama hamil dengan memperhatikan lebih seksama kebiasaan buang air besar,
mengkonsumsi cairan dalam jumlah memadai, dan cukup berolahraga setiap hari serta apabila
diperlukan, penggunaan laksatif ringan, misalnya jus prem, larutan pencahar yang mengandung
magnesium, zat penambah massa atau pelunak tinja.

Koitus
Apabila ada ancaman abortus atau partus prematurus, koitus harus dihindari. Di luar itu,
hubungan seks pada wanita hamil yang sehat umumnya dianggap tidak berbahaya sebelum
sekitar 4 minggu terakhir kehamilan.
Resiko akibat hubungan kelamin menjelang akhir kehamilan belum sepenuhnya
diketahui. Grudzinkas dkk. (1979) tidak menemukan keterkaitan antara usia gestasi saat
persalinan dengan frekuensi koitus selama 4 minggu terakhir kehamilan. Naeye (1979), dengan
menggunakan data dari Collaborative Perinatal Project, melaporkan bahwa infeksi cairan
ketuban dan mortalitas perinatal secara bermakna meningkat apabila ibu berhubungan seks sekali
32
atau lebih setiap minggu selama bulan terakhir. Terdapat peningkatan dua kali lipat insiden
pecahnya selaput ketuban pada posisi pria di atas.

Perawatan Gigi
Pemeriksaan gigi harus tercakup dalam pemeriksaan fisik umum prenatal. Kehamilan
jarang menjadi kontraindikasi terapi gigi. Konsep bahwa karies gigi diperparah oleh kehamilan
tidak terbukti.

Alkohol
Etanol adalah teratogen yang kuat. Karena pemakaian alkohol selama kehamilan dapat
menyebabkan sindrom alkohol janin (fetal alcohol syndrome), maka Surgeon General
merekomendasikan agar wanita hamil atau ingin hamil berhenti mengkonsumsi segala minuman
beralkohol. Sindrom alkohol janin ditandai dengan adanya gangguan pertumbuhan, kelainan
wajah, dan disfungsi susunan saraf pusat. Dari bukti yang ada, nasehat terbaik bagi wanita hamil
atau akan hamil adalah tidak mengkonsumsi alkohol. Diharapkan bahwa efek samping alkohol
kehamilan akan hilang setelah wanita yang bersangkutan berhenti minum.

Kafein
Pada tahun 1980, Food and Drug Administration menasehati wanita hamil untuk
membatasi asupan kafein. Segera sesudahnya, Fourth International Caffeine Workshop
menyimpulkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa kafein meningkatkan resiko reproduktif atau
teratogenik (Dews dkk., 1984). Pada hwan percobaan kecil, kafein bukan teratogen, tetapi zat ini
memang memperkuat efek mutagenic dari radiasi dan beberapa zat kimia apabila diberikan dalam
jumlah massif. Apabila diinfuskan secara intravena ke domba, kafein menurunkan aliran darah
uterus sebesar 5 sampai 10 persen (Conover dkk., 1983).
Apakah konsumsi kafein selama hamil meningkatkan resiko abortus spontan masih
diperdebatkan. Klebanoff dkk. (1999) menggunakan suatu penanda serum biologis konsumsi
kafein (paraxantin) untuk memperkirakan dosis kafein pada 487 wanita dengan abortus spontan
dan pada 2087 kontrol. Hanya konsentrasi paraxantin serum yang sangat tinggi yang berkaitan
dengan abortus. Kadar setinggi itu ekivalen dengan minum lebih dari 5 cangkir kopi per hari.

Obat Terlarang

33
Pemakaian kronik obat-obat terlarang, termasuk turunan opium, barbiturate, dan
amfetamin dalam dosis besar selama hamil membahayakan janin. Gawat janin, erat lahir rendah,
dan gangguan serius akibat putus obat segera setelah lahir sudah banyak dilaporkan. Para ibu
yang menggunakan obat-obat keras ini sering tidak mengikuti asuhan prenatal, dan kalaupun ya,
ia mungkin tidak mengaku menggunakan obat-obat tersebut. Deteksi jaringan parut bekas pungsi
vena mungkin merupakan petunjuk awal. Penatalaksanaan kehamilan dan persalinan serta
perawatan neonatus selanjutnya mungkin sangat sulit.

Obat
Hampir semua obat yang menimbulkan efek sistemik pada ibu akan menembus plasenta
untuk mencapai mudigah dan janin. Semua dokter harus mengembangkan kebiasaan memastikan
kemungkinan kehamilan sebelum meresepkan obat kepada semua wanita, karena sejumlah obat
yang sering digunakan dapat mencederai mudigah dan janin.
Penyebab mual dan muntah pada kehamilan belum jelas, Walaupun kadar gonadotropin
korionik yang tinggi diduga menjadi penyebabnya, namun mual mungkin sebenarnya dipicu oleh
kadar estrogen yang mengimbangi kadar gonadotropin. Flaxman dan Sherman (2000)
berpendapat bahwa mual dan muntah pada awal kehamilan muncul sebagai mekanisme untuk
melindungi janin yang sedang tumbuh dengan mendorong ibunya menghindari makanan-
makanan yang berbahaya. Belum ada bukti ilmiah yang mendukung pandangan ini.
Jarang ada terapi untuk mual dan muntah pada kehamilan yang dapat menyebabkan calon
ibu benar-benar terbebas dari keluhan ini. Untungnya, rasa tidak nyaman biasanya dapat
diminimalisasi. Makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering dan berhenti sebelum kenyang
mungkin bermanfaat. Karena aroma makanan tertentu sering memicu atau memperparah gejala,
maka makanan-makanan tersebut harus dijauhi sedapat mungkin. Muntah, walaupun sangat
jarang, dapat sedemikian parah sehingga timbul masalah serius berupa dehidrasi, gangguan
keseimbangan asam-basa, dan kelaparan. Hal ini disebut hiperemesis gravidarum.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham GF, Gant FN, Leveno JK dkk, Williams Obstetrics, Twenty-second Edition, 2005

2. Bickly SL, Szilagyi GP. Guide to Physical Examination and History Taking, Bate's, Ninth Edition.
Lippincott Williams & Wilkins, 2007

3. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi ke-1, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo, Jakarta, 2001

4. Clayton SG, Lewis LT, Pinker G. Obstetrics and Gynaecology, Fourteenth Edition. English Language
Book Society, 1988

5. Duenhoelter HJ, Greenhill's Office Ginecology, Tenth Edition, Obstetrics and Gynaecology of
Washington, EGC 2000

6. Hacker FN, Moore GJ, Essential of Obstetrics and Gynecology. Second Edition, Hipocrates, 2006

7. Llewellyn D, Jones. Fundamental of Obstetrics and Gynaecology, Third Edition, Faber and Faber,
London 1982

9. Prawirohardjo S, Wiknjosastro H, Ilmu Kandungan, Edisi Kedua, Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia, Bina Pustaka Jakarta, 1999

10.Brandon J., Md. Bankowski Amy E., MD Hearne , Nicholas C., MD Lambrou. The Johns Hopkins
Manual of Gynecology and Obstetrics 2nd edition. The Johns Hopkins University Department
(Producer) By Lippincott Williams & Wilkins Publishers,May 2002

35
11.Gabbe. Obstetrics - Normal and Problem Pregnancies, 4th ed., Copyright Churchill Livingstone, Inc,
2002

12. James R, Md. Scott, Ronald S., Md. Gibbs, Beth Y., Md. Karlan, Arthur F., Md. Haney. Danforth's
Obstetrics and Gynecology, 9th Ed: N. Danforth By Lippincott Williams & Wilkins
Publishers ,August ,2003

13. Alan H. DeCherney and Lauren Nathan. Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment,
Ninth Editionby The McGraw-Hill Companies, Inc, 2003

14. Wayne R. Cohen Sheldon H. Cherry Irwin R. Merkatz. Cherry & Merkatz's Complications of
Pregnancy 5th edition: by) By Lippincott, Williams & Wilkins January, 2000

15. Pritchard AJ, MacDonald CP, Gant FN. Williams Obstetrics. Seventeenth Edition. Appleton Century
Crofts, 1984. 243-254

16. Atlas Teknik Kebidanan, Edisi Kedua. Penerbit Buku Kedokteran, EGC. 2001

36
KONSULTASI PASKA PERSALINAN DI BANGSAL,
LAKTASI DAN MASALAHNYA SERTA
KONSELING KONTRASEPSI

I. Pendahuluan
Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan
paska persalinan terjadi empat jam pertama setelah kelahiran bayi. Karena itulah penting sekali
untuk memantau ibu secara ketat, segera setelah setiap tahapan atau kala persalinan diselesaikan,
khususnya pada saat setelah persalinan. Pemantauan ini berupa konsultasi paska persalinan di
ruangan maupun pemeriksaan-pemeriksaan yang diperlukan. Jika tanda-tanda vital dan tonus
uterus masih dalam batas normal selama dua jam pertama pasca persalinan, mungkin ibu tidak
akan mengalami perdarahan paska persalinan. Penting sekali untuk tetap berada di samping ibu
dan bayinya selama dua jam pertama pasca persalinan.
Tekanan darah dan denyut nadi harus diukur tiap 15 menit sekali, selama beberapa jam
pertama setelah pelahiran, atau lebih sering bila ada indikasi tertentu. Pemijatan uterus untuk
memastikan uterus menjadi keras juga diperlukan. Pemantauan suhu tubuh, perdarahan harus
diawasi. Tidak dianjurkan menggunakan kain pembebat perut selama dua jam pertama pasca
persalinan atau hingga ibu sudah stabil.

II. Definisi
Masa nifas atau puerperium dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira
6 minggu.
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologis, yaitu :
· Perubahan fisik
· Involusi uterus dan pengeluaran lokia
· Laktasi / pengeluaran air susu ibu
· Perubahan sistem tubuh lainnya
37
· Perubahan psikis
Tujuan konsultasi / perawatan masa nifas ini adalah :
o Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik
o Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila
terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
o Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga
berencana, menyusui, pemberian imunisasi, kepada bayinya dan perwatan bayi sehat.
o Memberikan pelayanan keluarga berencana.

III. Nasehat-nasehat penting yang harus disampaikan pada masa Nifas

1. Kebersihan Diri
Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan
bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke
belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan kepada ibu untuk
membersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain
dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau
diseterika.
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan
daerah kelaminnya.
Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari
menyentuh daerah luka.

2. Istirahat
Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
Sarankan ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, serta
tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
o Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi.
38
o Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
o Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.

3. Latihan
Diskusikan pentingnya otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih
kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada
punggung.
Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti :
Dengan tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik napas,
tahan napas ke dalam dan angkat dagu ke dada: tahan satu hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi
sebanyak 10 kali.
Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul (latihan Kegel) :
- Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan pinggul dan tahan sampai 5
hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
- Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah
latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap
gerakan sebanyak 30 kali.

4. Gizi
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.
Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup.
Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui).
Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya
melalui ASI-nya.

5. Menyusui / laktasi
ASI adalah suspensi lemak dan protein dalam suatu larutan karbohidrat mineral. Seorang
ibu yang menyusui dapat dengan mudah memproduksi 600 ml ASI perhari. ASI isotonic dengan
plasma, dan laktosa membentuk setengah tekanan osmotiknya. Protein-protein terutama yang
terdapat dalam asi termasuk alpha laktalbumin, beta laktoglobulin dan kasein. Asam amino

39
esensial berasal dari darah, dan asam-asam amino non esensial sebagian berasal dari darah dan
sebagian disintesis didalam kelenjar mammae.
ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi, mudah dicerna, memberi
perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih, dan siap untuk diminum. Dibanding dengan
asi matur, kolustrum mengandung lebih banyak mineral dan protein yang sebgaian besar terdiri
atas globulin,tetapi lebih sedikit lemak dan gula. Sekresi kolustrum berlangsung lima hari, dan
mengalami perubahan bertahap menjadi asi matur 4 minggu setelahnya. Antibodi terdapat dalam
kolustrum, dan kandungan immunoglobulin A-nya dapat memberikan perlindungan kepada
neonatus untuk melawan pathogen enterik.
Terjadi beberapa perubahan besar dalam komposisi ASI pada 30 sampai 40 jam
postpartum, termasuk peningkatan mendadak konsentrasi laktosa.Faktor-faktor kekebalan hospes
lainnya serta sejumlah immunoglobulin dapat ditemukan dalam kolustrum dan asi manusia..
Sintesis laktosa dari glukosa di sel-sel sekretorik alveoli dikatalisis oleh laktose sintetase.
Sejumlah laktosa memasuki sirkulasi ibu dan di ekskresi oleh ginjal. Semua vitamin kecuali
vitamin K terkandung dalam ASI dalam jumlah yang bervariasi, dan pemberian makanan
tambahan pada ibu akan meningkatkan sekresinya (American Academy Paediatric, 1981).
Pemberian vitamin K kepada bayi segera setelah lahir diperlukan untuk mencegah kelainan
perdarahan pada neonatus. ASI manusia mengandung besi dalam konsentrasi rendah dan
tampaknya tidak mempengaruhi kadar besi dalam asi.
Progesterone, estrogen dan laktogen plasenta, serta prolaktin, kortisol dan insulin
tampaknya bekerja secara selaras untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan apparatus
penghasil ASI pada kelenjar mammae. Mekanisme humoral dan neural yang sesungguhnya
terlibat dalam laktasi sangat kompleks. Dengan terjadinya pelahiran, terdapat penurunan kadar
progesterone dan estrogendalam jumlah besar dan mendadak, yang menggantikan pengaruh inbisi
laktalbumin oleh retikulum endoplasma kasar. Peningkatan alpha laktalbumin berfungsi untuk
merangsang sintetase laktosa dan pada akhirnya meningkatkan jumlah laktosa ASI. Penurunan
progesterone juga menyebabkanprolaktin bekerja tanpa hambatan dalam merangsang produksi
alpha laktalbumin.
Perangsangan berulang proses menyusui menetukan Intensitas dan durasi laktasi selanjut
nya. Prolaktin penting untuk laktasi, wanita dengan nekrosis hipofisis luas, seperti pada sindroma
Sheehan tidak dapat menyusui. Meskipun kadar prolaktin plasma turun setelah pelahiran hingga
mencapai kadar yang jauh lebih rendah dibanding waktu hamil, setiap tindakan mengisap puting
mencetuskan kadar prolaktin (McNeilly dkk, 1893). Agaknya suatu rangsang dari payudara
40
mengurangi pelepasan faktor penghambat-prolaktin dari hipotalamus, yang pada akhirnya
menginduksi peningkatan sekresi prolaktin sementara oleh hipofisis.
Wanita yang terus menyusi tetapi telah mengalami ovulasi lagi, terdapat perubahan akut
komposisi ASI pada 5 sampai 6 hari sebelum dan 6 sampai 7 hari sesduah ovulasi. Perubahan ini
mendadak dan ditandai oleh peningkatan konsentrasi natrium dan klorida, bersamaan dengan
menurunnya konsentrasi kalium, laktosa dan glukosa. Pada wanita yang hamil kembali tapi terus
menyusui, komposisi asi mengalami perubahan progresif yang mengesankan hilangnya aktivitas
sekretorik dan metabolik payudara secara perlahan
Antibodi terdapat dalam kolustrum dan ASI manusia, tetapi di absorpsi dengan buruk oleh
usus bayi, bahkan hampir tidak di absorpsi sama sekali. Tetapi keadaan ini tidak mengurangi
pentingnya kehadiran setidaknya sejumlah antibodi dalam ASI. Imunoglobulin dominan dalam
ASI adalah immunoglobulin A sekretorik, sebuah makromolekul yang penting dalam proses
antimikroba pada membrane mukosa. ASI mengandung antibody Ig A sekterotik terhadap
Escherichia coli, dan telah diketahui bahwa bayi yang disusui dengan ASI lebih tahan terhadap
infeksi enterik dibanding bayi yang diberikan susu formula.

Tanda ASI cukup


Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning muda.
Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan "berbiji".
Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup. Bayi yang selalu
tidur bukan pertanda baik.
Bayi setidaknya menyusu 10-12 kali dalam 24 jam.
Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui.
Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI, setiap kali bayi mulai menyusu.
Bayi bertambah berat badannya.

ASI tidak cukup


Bayi harus diberi ASI setiap kali ia merasa lapar (atau setidaknya 10-12 kali dalam 24 jam)
dalam 2 minggu pascapersalinan. Jika bayi dibiarkan tidur lebih dari 3-4 jam, atau bayi diberi
jenis makanan lain, atau payudara tidak dikosongkan dengan baik tiap kali menyusui, maka
"pesan hormonal" yang diterima otak ibu adalah untuk "menghasilkan susu lebih sedikit".

Meningkatkan suplay ASI


41
¨ Untuk Bayi
o Menyusui bayi setiap 2 jam, siang dan malam hari dengan lama menyusui 10-15 menit di
setiap payudara.
o Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerah dan duduklah selama menyusui.
o Pastikan bayi menyusu dengan posisi menempel yang baik dan dengarkan suara menelan yang
aktif.
o Susui bayi di tempat yang tenang dan nyaman dan minumlah setiap kali menyusui.
o Tidurlah bersebelahan dengan bayi.

Untuk Ibu
o Ibu harus meningkatkan istirahat dan minum.
o Petugas kesehatan harus mengamati ibu yang menyusui bayinya dan mengoreksi setiap kali
terdapat masalah pada posisi penempelan.
o Yakinkan bahwa ia dapat memproduksi lebih banyak dengan melakukan hal-hal tersebut di
atas.

ASI merupakan makanan ideal bagi neonatus. ASI menyediakan nutrien-nutrien spesifik.
Selain memberikan keseimbangan nutrienyang sempurna, faktor-faktor imunologis dan zat-zat
antibakteri, ASI mengandung faktor-faktor yang bekerja sebagai sinyal biologis untuk memicu
pertumbuhan dan diferensiasi selular.
Wanita yang pernah menjalani mammoplasti augmentasi ternyata mengalami insufisiensi
laktasi. Menyusui juga mempercepat involusi uterus, karena rangsangan berulang pada putting
akan melepaskan oksitosin yang menyebabkan kontraski otot uterus. Latihan aerobik yang
dilakukan empat sampai lima kali seminggu dan dimulai sejak 6 sampai 8 minggu postpartum
tidak memiliki efek simpang terhadap laktasi bahkan mampu menyebabkan peningkatan
kebugaran kardiovaskular ibu secara signifikan. Penurunan berat badan sekitar 0,5 kg perminggu
dalam 3 bulan pertama postpartum tidak mempengaruhi pertumbuhan bayi pada wanita yang
menyusui eksklusif yang kelebihan berat badan.

Penghambatan laktasi
Banyak diantara ibu menyusui mengalami nyeri dan pembengkakan payudara yang cukup
nyata. Perembesan ASI, pembengkakan dan nyeri payudara mencapai puncaknya 3 sampai 5 hari
postpartum. Sebanyak 10% wanita mungkin melaporkan nyeri berat hingga 14 hari postpartum
42
dan seperempat sampai setengah wanita tersebut mengkonsumsi analgesik untuk meredakan
nyeri payudara pada masa nifas.
FDA merekomendasikan bahwa sebaiknya tidak lagi digunakan obat-obatan untuk supresi
laktasi. Bromokriptin, obat yang biasa digunakan untuk inhibisi laktasi, telah lama dihubungkan
dengan stroke, infark miokard, epilepsy dan gangguan psikiatrik pada wanita nifas meski bukti
yang digunakan untuk menyokong pendapat ini bersifat lemah.Wanita yang tidak ingin menyusui
sebaiknya diyakinkan bahwa, menghentikan produksi asi bukanlah suatu masalah besar. Selama
tahap pembengkakan payudara menjadi nyeri dan harus disangga dengan bra yang pas. Kompres
es dan analgesik oral untuk 12 sampai 24 jam dapat meredakan rasa tidak nyaman. Di Parkland
hospital supresi laktasi lebih dikerjakan dengan bebat payudara daripada pemberian hormonal,
rutin diberikan pada wanita yang tidak ingin menyusui anaknya.
Kontrasepsi tidak diperlukan selama 3 minggu pertama postpartum karena terdapat
penggunaan kembalinya ovulasi pada semua wanita (American College of Obstetricians and
Gynecologists, 2000). Terdapat berbagai pertimbangan yang mendasari rekomendasi penggunaan
metode kontrasepsi hormonal selama masa nifas dan laktasi, yang terutama bersifat teoritis.
Setelah itu, tergantung dari variasi biologis individual dan intensitas menyusui, ovulasi dapat
terjadi kembali pada wanita menyusui dalam waktu yang tidak dapat diperkirakan. Kontrasepsi
berisi progestin saja antara lain mini-pil, depot medroksiprogesteron dan implant levonergestrel
tidak mempengaruhi kualitas asi dan hanya sedikit meningkatkan volume asi sehingga menjadi
kontrasepsi pilihan untuk wanita menyusui.

6. Perawatan Payudara
o Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama puting susu.
o Menggunakan BH yang menyokong payudara.
o Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar puting susu
setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dimulai dari puting susu yang tidak lecet.
o Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan
diminumkan dengan menggunakan sendok.
o Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6 jam.
o Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
- Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.
- Urut payudara dari arah pangkal menuju puting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara
dengan arah "Z" menuju puting.
43
- Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak.
- Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila tidak dapat mengisap seluruh ASI sisanya keluarkan
dengan tangan.
- Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.

7. Senggama
¨ Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu
dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah
berhenti dan ibu tidak merasa nyeri, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan
saja ibu siap.
¨ Banyak budaya, yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu
tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan bergantung pada
pasangan yang bersangkutan.

8. Infeksi pada masa nifas


Hal penting yang juga harus diberitahukan kepada ibu setelah melahirkan adalah infeksi
pada nifas. Yaitu infeksi pada dan melalui traktus genitalia setelah persalinan, dimana suhu 38 ºC
atau lebih, terjadi antara hari ke 2-10 posr partum dan diukur per oral sedikitnya 4 kali sehari.
Beberapa faktor predisposisi adalah :
o Kurang gizi/malnutrisi
o Anemia
o Higiene
o Kelelahan
o Proses persalinan bermasalah :
- Partus lama / macet
- korioamnionitis
- persalinan traumatik
- kurang baiknya proses pencegahan infeksi
- manipulasi yang berlebihan

Beberapa penyakit yang sering menyebabkan angka kesakitan dan kematin yang tinggi
pada ibu paska nifas adalah :
44
1. Metritis
Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan dan merupakan salah satu penyebab terbesar
kematian ibu. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi abses pelvis,
peritonitis, syok septik, thrombosis vena yang dalam, infeksi pelvik menahun, dispareunia,
penyumbatan tuba dan infertilitas.

2. Bendungan payudara
Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka
mempersiapkan diri untuk laktasi. Hal ini bukan disebabkan overdistensi dari saluran sistem
laktasi.
Bila ibu menyusui bayinya :
o Susukan sesering mungkin
o Kedua payudara disusukan
o Kompres hangat payudara sebelum disusukan
o Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui
o Sangga payudara
o Kompres dingin diantara payudara untuk permulaan menyusui

3. Infeksi payudara
o Mastitis
yaitu Infeksi parenkimal kelenjar mammae pada masa nifas dan menyusui. Insidennya
sekitar 2 %. Gejala-gejala mastitis supuratif jarang muncul sebelum akhir sampai minggu ketiga
atau keempat. Infeksi hampir selalu unilateral dan pembengkakan bermakna biasanya mendahului
inflamasi, yang tanda pertamanya adalah mengigil dan rasa kaku segera diikuti demam dan
takikardia. Payudara menjadi keras dan memerah, dan sang ibu mengeluhkan nyeri. Sekitar 10 %
wanita dengan mastitis mengalami abses dan gejala-gejala konstitusional yang mendahului abses
mammae biasanya parah. Biasanya disebabkan oleh Staphilokokus aureus. Pengobatan dengan
antibiotik.

o Abses payudara
Ditandai dengan keadaan menetapnya demam dalam waktu 48 sampai 72 jam atau
pertumbuhan massa yang teraba. Sonografi dapat membantu menegakkan diagnosis. Drainase
45
secara bedah penting dilakukan dan mungkin diperlukan anestesi umum.Pada kasus awal, insisi
tunggal dibagian atas bagian paling lunak pada area fluktuasi biasanya sudah cukup namun abses
multiple memerlukan beberapa insisi dan satu jari harus dimasukkan untuk memecahkan dinding-
dinding lokul. Kavitas yang terbentuk akibat insisi ditutup secara longgar dengan perban, yang
harus diganti setiap 24 jam.

4. Tromboflebitis
Yaitu perluasan atau invasi mikroorganisme pathogen yang mengikuti aliran darah di
sepanjang vena dan cabang – cabangnya. Diklasifikasikan atas pelvio tromboflebitis dan
tromboflebitis femoralis., Pelvio tromboflebitis yaitu mengenai vena-vena dinding uterus dan
ligamentum latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipogastrika. Tromboflebitis
femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena femoralis, vena poplitea dan vena
sapena.

9. Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali.
Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan
tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya
dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya
selama meneteki (amenore laktasi). Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai
sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini ialah
2% kehamilan.
Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman,
terutama apabila ibu sudah haid lagi.
Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu :
- Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektivitasnya.
- Kelebihan/keuntungannya.
- Kekurangannya
- Efek samping
46
- Bagaimana menggunakan metode itu
- Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pascapersalinan yang menyusui.

Metode-metode dengan efektifitas bervariasi yang saat ini digunakan adalah:


1. Kontrasepsi steroid oral
2. Kontrasepsi steroid suntik atau implan
3. Alat kontrasepsi dalam rahim
4. Teknik fisik, kimia atau sawar
5. Koitus Interuptus
6. Pantang berkala
7. Laktasi
8. Sterilisasi permanen

Jika seorang ibu/pasangan telah memilih KB tertentu ada baiknya untuk bertemu dengannya
lagi dalam dua minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu/pasangan
itu dan untuk mengetahui apakah metode tersebut bekerja dengan baik.

IV. Perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi setelah persalinan

1. Perubahan pada genetalia interna


Pada genetalia interna terjadi perubahan-perubahan pada :
a. Sistem vaskuler
Didalam uterus nifas, pembuluh darah mengalami obliterasi akibat perubahan hialin, dan
pembuluh-pembuluh yang kecil menggantikannya.. Resorpsi residu hialin dilakukan melalui
suatu proses yang menyerupai proses pada ovarium setelah ovulasi dan pembentukan korpus
luteum.
Kehamilan yang normal membutuhkan peningkatan aliran darah uterus yang besar. Untuk
menyuplainya , arteri dan vena didalam uterus-terutama di plasenta menjadi luar biasa
membesar, begitu juga pembuluh darah ke dan dari uterus. Di dalam uterus pembentukan
pembuluh-pembuluh darah baru juga menyebabkan peningkatan aliran darah yang bermakna.

47
Setelah pelahiran, diameter pembuluh darah ekstrauterin berkurang sampai mencapai atau paling
tidak mendekati keadaan sebelum hamil.

b. Involusi korpus uteri


Setelah pengeluaran plasenta, fundus korpus uteri yang berkontraksi terletak kira-kira
sedikit di bawah umbilikus. Korpus uteri kini sebagian besar terdiri atas miometrium yang
dibungkus lapisan serosa dan dilapisi desisua basalis. Dinding anterior dan posteriornya saling
menempel erat (beraposisi), dan masing-masing tebalnya 4 sampai 5 cm. Karena pembuluh darah
tertekan oleh miometrium yang mengalami kontraksi, uterus nifas pada pemotongan tampak
iskemik bila dibandingkan dengan uterus hamil yang hiperemis dan berwarna ungu kemerah-
merahan.
Setelah 2 hari pertama, uterus mulai menyusut, sehingga dalam 2 minggu organ ini telah
turun kerongga panggul. Organ ini mencapai ukuran semula sebelum hamil dalam waktu sekitar
4 minggu. Segera setelah melahirkan uterus mempunyai berat sekitar 1000 gram. Akibat involusi,
1 minggu kemudian beratnya sekitar 500 gram, dan pada akhir minggu kedua turun menjadi
sekitar 300 gram dan segera setelah itu menjadi 100 gram atau kurang.
Jumlah sel otot tidak berkurang banyak, namun sel-selnya sendiri jelas sekali berkurang
ukurannya. Involusi rangka jaringan ikat terjadi sama cepatnya. Karena pelepasan plasenta dan
membrane-membran terutama terjadi di stratum spongiosum, desidua basalis tetap berada dalam
uterus. Desidua yang tersisa mempunyai variasi ketebalan yang menyolok bentuk bergerigi tak
beraturan, terinfiltrasi oleh darah, khususnya ditempat melekatnya plasenta

c. Serviks dan segmen bawah rahim


Pada saat persalinan, seringkal terjadi laserasi terutama di bagian lateral tepi luar serviks.
Ostium serviks yang semula melebar pada saat persalinan mulai berkontraksi perlahan, dan
beberapa hari setelah bersalin ostium hanya dapat ditembus oleh dua jari. Pada akhir minggu
pertama, ostium tersebut telah menyempit. Karena ostium menyempit, serviks menebal dan kanal
kembali terbentuk. Meskipun involusi telah selesai namun ostium tidak dapat kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Os ini tetap agak melebar, dan depresi bilateral pada lokasi laserasi
menetap sebagai perubahan yang permanen dan menjadi ciri khas serviks multipara. Epitel servik
terbentuk kembali dalam jumlah yang cukup banyak sebagai akibat pelahiran bayi
Segmen bawah uterus yang mengalami penipisan cukup bermakna akan berkontraksi dan
tertarik kembali, tetapi tidak sekuat pada korpus uteri. Dalam waktu beberapa minggu, segmen
48
bawah telah mengalami perubahan dari sebuah struktur yang tampak jelas dan cukup besar untuk
menampung hampir seluruh kepala janin, menjadi isthmus uteri yang hampir tidak terlihat dan
terletak diantara korpus uteri diatasnya dan ostium internum serviks dibawahnya.

d. Regenerasi endometrium
Proses regenerasi endometrium berlangsung cepat, kecuali pada beberapa tempat
melekatnya plasenta. Dalam waktu 2 atau 3 hari setelah pelahiran, sisa desidua berdiferensiasi
menjadi dua lapisan. Stratum superficial menjadi nekrotik dan terkelupas bersama lokhia.
Stratum basal yang bersebelahan dengan miometrium tetap utuh dan merupakan sumber
pembentukan endometrium baru. Endometrium terbentuk dari proliferasi sisa-sisa endometrium
dan stroma jaringan ikat antar kelenjar tersebut.
Dalam satu minggu atau lebih, permukaan bebas menjadi tertutup oleh epitel dan seluruh
endometrium pulih kembali dalam minggu ketiga
Gambar Potongan melintang uterus yang dibuat setinggi tempat melekatnya palsenta yang
berinvolusi pada saat yang berbeda-beda setelah bersalin
(Sumber : Williams Obstetry 21st edition)

Sharman (1953) menemukan proliferasi endometrium lengkap pada specimen biopsi yang
diambil pada hari ke enam belas atau lebih. Demikian pula pada hampir separuh wanita
postpartum, tuba fallopi antara hari ke-5 dan ke-15 menunjukkan perubahan peradangan
mikroskopik yang merupakan khas salpingitis akut. Namun hal ini bukan disebabkan oleh
infeksi, melainkan hanya merupakan bagian proses involusi.

e. Involusi tempat melekatnya plasenta


Involusi tempat melekatnya plasenta perlu waktu sampai 6 minggu. Dalam waktu
beberapa jam setelah pelahiran, tempat melekatnya palsenta biasanya terdiri atas banyak
pembuluh darah yang mengalami trombosis yang selanjutnya mengalami organisasi thrombus
secara khusus.Proses ini mempunyai kepentingan klinis yang besar, karena bila proses ini
terganggu dapat menyebabkan perdarahan paska nifas tipe lambat. Segera setelah pelahiran,
tempat melekatnya plasenta kira-kira berukuran sebesar telapak tangan, tetapi dengan cepat
ukurannya mengecil. Pada akhir minggu kedua, diameternya hanya 3 sampai 4 cm.

2. Perubahan pada traktus urinarius


49
Setelah persalinan, kecepatan pengisian kandung kemih sangat bervariasi.. Hal ini kuga
dipengaruhi oleh penberian cairan intra vena. Lebih lanjut baik sensasi maupun kapasitas
kandung kemih untuk melakukan pengosongan spontan dapat sangat berkurang akibat anestesi,
khususnya anestesi regional, juga episiotomi, laserasi atau hematom. Karena itu tidaklah
mengherankan bahwa retensi urin dengan overdistensi kandung kemih merupakan komplikasi
yang umum pada awal masa nifas.
Untuk mencegah overdistensi diperlukan pengamatan yang ketat setelah pelahiran untuk
menjamin kandung kemih tidak terisi berlebihan dan setiap berkemih mengosongkan diri secara
adekuat. Bila wanita tersebut belum berkemih selama 4 jam setelah pelahiran, ada kemungkinan
ia tidak dapat melakukannnya. Kadang-kadang diperlukan kateter yang terfiksasi untuk
mencegah overdistensi. Kemungkinan adanya hematom traktus genitalia harus dipikirkan jika
wanita tersebut tidak dapat berkemih. Wanita yang pada awalnya sudah mengalami gangguan
berkemih kemungkinan akan mengalami masalah lebih lanjut
Apabila terjadi overdistensi kandung kemih, sebaiknya dibiarkan kateter terfiksasi selama
setidaknya 24 jam, untuk mengosongkan kandung kemih seluruhnya dan mencegah terjadinya
rekurensi, selain juga memungkinkan pemulihan tonus dan sensasi kandung kemih normal. Bila
kateter dicabut, wanita tersebut harus mampu menunjukkan kemampuan berkemih normalnya
secara berkala. Bila ia tidak mampu berkemih setelah 4 jam, ia harus dikateter kembali dan
volume urinnya diukur. Bila terdapat lebih dari 200 ml urin, tampaknya kandung kemih belum
berfungsi normal, sehingga perlu evaluasi lebih lanjut.

3. Perubahan pada gastrointestinal


Hilangnya gerakan usus merupakan suatu konsekuensi yang tidak diharapkan setelah
pemberian enema untuk membersihkan saluran cerna dengan efisien beberapa jam setelah
melahirkan. Sehingga akan timbul konstipasi. Konstipasi menjadi jauh berkurang dengan
ambulasi dan pemberian makanan secara dini.

4. Lokhia
Lokhia adalah discharge/duh vagina dalam jumlah bervariasi akibat peluruhan jaringan
desidua. Secara mikroskopis lokhia terdiri atas eritrosit, serpihan desidua, sel-sel epitel dan
bakteri. Mikroorganisme ditemukan pada lokhia yang menumpuk di vagina dan pada sebagian
besar kasus juga ditemukan bahkan bila discharge di ambil dari rongga uterus.

50
o Lokhia rubra
Selama beberapa hari pertama setelah melahirkan, kandungan darah dalam lokhia cukup
banyak sehingga warnanya merah.
o Lokhia serosa
Lokhia menjadi sangat memucat setelah 3 hari atau 4 hari
o Lokhia alba.
Lokhia menjadi berwarna putih atau putih kekuning-kuningan setelah sekitar 10 hari, akibat
campuran lekosit dan berkurangnya kandungan cairan.
lokhia biasanya berlangsung selama kurang lebih 2 minggu setelah bersalin. Usia ibu,
paritas, berat bayi dan pemberian asi tidak mempengaruhi durasi lokhia. Penelitian terbaru
mengindikasikan bahwa lokhia menetap hingga 4 minggu dan dapat berhenti atau berlanjut
hingga 56 hari setelah bersalin (Oppenheimer dkk)

5. Nyeri paska melahirkan


Pada primipara, pada masa nifas, uterus cenderung tetap berkontraksi secara tonis. Uterus
sering berkontraksi hebat dalam interval-interval tertentu, terutama pada multipara, sehingga
sering menyebabkan nyeri paska melahirkan. Kadang-kadang nyeri ini cukup parah sehingga
memerlukan analgesik. Nyeri paska melahirkan terutama terasa ketika bayi menyusui, tampaknya
akibat pelepasan oksitosin. Biasanya nyeri ini berkurang intensitasnya dan melemah pada hari
ketiga post partum.

V. Kebiasaan yang tidak bermanfaat, bahkan dapat membahayakan

Menghindari makanan berprotein seperti ikan atau telur, karena ibu menyusui perlu tambahan
kalori sebesar 500 per harinya.
Penggunaan bebat perut segera pada masa nifas (2-4 jam pertama), karena selama 1 jam
pertama, petugas perlu memeriksa fundus setiap 15 menit dan melakukan masase jika kontraksi
tidak kuat; selama 1 jam kedua masa nifas petugas perlu memeriksa fundus setiap 30 menit dan
melakukan masase jika kontraksi tidak kuat. Penggunaan pembebat perut selama masa kritis
membuat sulit bagi petugas kesehatan untuk menilai tonus dan posisi uterus, untuk melakukan
masase uterus jika diperlukan dan memperkirakan banyaknya darah yang keluar.
51
Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus berkontraksi, karena merupakan
perawatan yang tidak efektif untuk atonia uteri.
Memisahkan bayi dari ibunya untuk masa yang lama pada 1 jam pertama setelah kelahiran,
karena masa transisi adalah masa kritis untuk ikatan ibu dan bayi dan untuk memulai menyusu.
Bayi baru lahir pada 2 jam pertama setelah kelahiran merupakan masa paling siaga; setelah masa
ini, ia biasanya tidur.

52
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham GF, Gant FN, Leveno JK dkk, Williams Obstetrics, Twenty-second Edition, 2005

2. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi ke-1, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo, Jakarta, 2001

3. Duenhoelter HJ, Greenhill's Office Ginecology, Tenth Edition, Obstetrics and Gynaecology of
Washington, EGC 2000

4. Hacker FN, Moore GJ, Essential of Obstetrics and Gynecology. Second Edition, Hipocrates, 2006

5. Llewellyn D, Jones. Fundamental of Obstetrics and Gynaecology, Third Edition, Faber and Faber,
London 1982

6. Prawirohardjo S, Wiknjosastro H, Ilmu Kandungan, Edisi Kedua, Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia, Bina Pustaka Jakarta, 1999

7.Brandon J., Md. Bankowski Amy E., MD Hearne , Nicholas C., MD Lambrou. The Johns Hopkins
Manual of Gynecology and Obstetrics 2nd edition. The Johns Hopkins University Department
(Producer) By Lippincott Williams & Wilkins Publishers,May 2002

8.Gabbe. Obstetrics - Normal and Problem Pregnancies, 4th ed., Copyright Churchill Livingstone, Inc,
2002

9.Alan H. DeCherney and Lauren Nathan. Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment,
Ninth Editionby The McGraw-Hill Companies, Inc, 2003

53
10.Wayne R. Cohen Sheldon H. Cherry Irwin R. Merkatz. Cherry & Merkatz's Complications of
Pregnancy 5th edition: by) By Lippincott, Williams & Wilkins January, 2000

11.Pritchard AJ, MacDonald CP, Gant FN. Williams Obstetrics. Seventeenth Edition. Appleton Century
Crofts, 1984. 243-254

12.James R, Md. Scott, Ronald S., Md. Gibbs, Beth Y., Md. Karlan, Arthur F., Md. Haney. Danforth's
Obstetrics and Gynecology, 9th Ed: N. Danforth By Lippincott Williams & Wilkins
Publishers ,August ,2003

54