Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mata adalah organ penglihatan. Suatu struktur yang sanggat kompleks, menerima dan
mengirimkan data ke korteks serebal. Seluruh lobus otak, lobus okpital, di tunjukan khusus
untuk menterjemahkan citra visual. Selain itu, ada tujuh saraf cranial yang memiliki
hubungan dengan mata dan hubungan batang otak memungkinkan koordinasi gerakan mata.
Konjungtiva merupakan membrane mucus yang tipis dan tranparan. Permukaan dalam
kelopak mata di sebut konjungtiva palpebra, merupakan lapisan mukosa. Bagian yang
membelok dan kemudian melekat pad bola mata di sebut konjungtiva bulbi. Pada
konjungtiva ini banyak sekali kelenjar kelenjar limfe dan pembuluh darah. Peradangan
konjungtiva di sebut konjungtivitis.
2.2 Rumusan Masalah
1.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Konjungtivitis
Konjungtivitis adalah membrane mukosa ( selaput lender ) yang melapisi kelopak dan
melipat ke bola mata untuk melapisi bagian depan bola mata sampai limbus, di mana
konjungtiva berbatasan dengan lapisan superficial kornea.

Konjungvitis yang melapisi kelopak, yaitu konjuntiva palpebrae, sangat vaskuler


( banyak mengandung pembulu darah). Dan lewat konjungtiva ini dapat di lihat kelenjar sebasca
pada tepi kelopak. konjungtiva palpebrae lebih tebal dari pada konjungtiva bulbi yang menutupi
bagian depan bola mata sampai tepi kornea. Selera dapat di lihat lewat konjungtiva bulbi.
Di lihat kelenjar sebascea pada tepi kelopak. Konjungtiva bulbi yang menutupi bagian depan
bola mata sampai tepi kornea. Selera dapat dilihat lewat konjungtiva bulbi

Konjungtivitis merupakan peradangan konjungtiva atau di sebut sebagai meta merah


atau pink eye sangat sering terjadi (vera & Margaret,1996)
Konjungtivitis adalah inflamasi konjutiva dan di tandai dengan pembekakan dan eksudat.
Pada konjungtivitis mata Nampak merah sehingga sering di sebut mata merah ( Brunner &
Suddart,2001 )
Konjungtivitis lebih di kenal sebagai pink eye, yaitu adnya inflamasi pada konjungtiva
atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada
mata dan permukaan bagian kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapt di tandai dengan mata
berwarna merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa
jenis konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tetapi ada juga yang memerlukan pengobatan
( Effendi, 2008)
Konjungtivitis, atau inflamasi konjungtiva, di sebabkan oleh infeksi bakteri atau virus,
alergi, atau reaksi zat kimiawi.konjungtivitis bacterial atau viral sanggat menular tetapi menjadi
self-limiting ( bisa sembuh tanpa banyak intervensi ) setelah 2 minggu. Konjungtivitis kronis
bias mengakibatkan perubahan degenerative pada kelopak mata. Di belahan bumi barat,
konjungtivitis mungkin merupakan gangguan mata yang paling umum.

2.2 Etilogi
2.2.1 Konjungtivitis Bakteri
Terutama di sebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia,
Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis bakteri sangat
menular, menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan sekresinya atau
dengan objek yang terkontaminasi.
2.2.2 Konjungtivitis Viral
Jenis konjungtivitis ini adalah akibat dari infeksi adenovirus ( yang paling sering
adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus sistemik seperti
muraps dan mononucleosis. Biasanya di sertai dengan pembentukan folikel sehingga
di sebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang lain biasanya tertular dalam 24 -28
jam
2.2.3 Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis Alergi biasanya timbul pada musim semi dan panas dan di
sebabkan oleh pajanan dengan allergen misalnya polen ( serbuk sari ). Pasien akan
mengeluh rasa tidak enak dan iritasi yang berlebihan. Terbentuk papilla yang dapat
konjungtivitis alergi dapat terjadi bersama dengan reaksi alergi yang lain. Misalnya
astma dan hay fever
2.2.4 konjungtivitis gonore
Konjungtivitis hiper akut dengan secret purulen yang di sebabkan oleh Neisseria
gonorhhea. Sedangkan infeksi gonokokus pada mata pada neonates (bayi baru lahir )
di sebabkan oleh infeksi tidak langsung selama keluar melewati jalan lahir pada ibu
yang menderita gonore. Konjungtivitis yang berat di sebut oftalmia neonatorum.
2.2.5 Trachoma
Trachoma merupakan konjungtivitis folikular kronik yang di sebabkan Chlamydia
trachomatis. Masa inkubasi dari trachoma adalah 7 hari ( 5 - 4 hari ). Trachoma dapat
mengenai segala umur terutama dewasa muda dan anak anak, yang akut atau sub akut.
Cara penularanya melalui kontak langsung dengan secret atau alat alat pribadi.
2.3 Manifetasi Klinis
2.3.1 Tanda
Tanda tanda konjungtivitis, yakni :
Konjungtiva berwarna merah ( hiperemi ) dan membengkak
Produksi air mata berlebihan ( epofora )
Kelopak mata bagian atas Nampak menggelantung ( pseudotopsis ) seolah
akan menutup akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan sel sel
konjungtiva bagian atas.

Pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi

nonspesifik peradangan
Pembengkakkan kelenjar ( folikel ) di konjungtiva dan sekitar nya.
Terbentuknya membrane oleh proses koagulasi fibrin ( komponen protein ).
Di jumpai secret dengan berbagai bentuk ( kental hingga bernanah ).

2.3.2 Gejala
Konjungtivita yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan
kotoran. Konjungtiva karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna
putih. Konjungtiva karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih. Kelopak
mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi.
Gejala lainya adalah :
Mata berair
Mata terasa nyeri
Mata terasa gatal
Pandngan kabur
Peka terhadap cahaya
Terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari
2.4 Patofisiologi
Mikroorganisme ( virus, bakteri, jamur ) bahan allergen, iritasi menyebabkan kelopak
mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka sempurna, karena
mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan konjungtivitis.pelebaran pembulu
darah di sebabkan karena adanya peradangan di tandai dengan konjungtivita dan selera yang
merah, edema, rasa nyeri dan adanya secret mukopurelent. Akibat jangka panjang dari
konjungtivitis yang dapat bersifat kronis yaitu mikroorganisme, bahan allergen dan iritatif
menginfeksi kelenjar air mata sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi.
Pada konjungtivitis di temukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan
meningkatkan tekanan intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air mata atau
kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan menyebabkan iskemia syaraf
optic dan terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan kebutaan, kelainan lapang padang yang
di sebabkan kurangnya aliran air mata sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing.
2.4.1 Pathway

2.5 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan fisik memperlihatkan injeksi pembelah konjungtiva bulbar pada anak

anak, tanda dan gejala sistemik bisa meliputi sakit tenggorokan dan demam.
Monosit merupakan yang utama dalam uji pulasan berwarna pada kerikan konjungtival

jika konjungtivitis di sebabkan virus


Sek polimorfonuklear ( neutrofil ) adalah hal utama jika konjungtivitis di sebabakan

oleh bakteri
Uji kultur dan sensitivities membanntu mengidentifikassi terapi antibiotic yang tepat.
2.6 Penatalaksanaan
Bila konjungtivitis di sebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus di ajri bagaimna cara
menghidari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan
instruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata