Anda di halaman 1dari 6

KONSEP DASAR STATUS GIZI BALITA

Dr. Suparyanto, M.Kes

Konsep Dasar Status Gizi

1. Pengertian Status Gizi


Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentukvariabel tertentu atau
perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu(Supariasa, dkk, 2007).
Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir darikeseimbangan antara zat
gizi yang masuk ke dalam tubuh dan utilisasinya(Sediaoetama, 2010).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan danpenggunaan zat-zat
gizi (Almatsier, 2005).
2. Metode Penilaian Status Gizi
Secara umum peniliaan status gizi dapat dilihat dengan metode langsung dantidak langsung
(Proverawati, 2010).
a. Secara langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu:
1. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau
darisudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan denganberbagai
macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dariberbagai tingkat
umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untukmelihat ketidakseimbangan
asupan protein dan energi.
Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan jaringantubuh seperti lemak,
otot, dan jumlah air dalam tubuh.
2. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilaistatus gizi masyarakat.
Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahanyang terjadi yang dihubungkan dengan
ketidakcukupan gizi. Hal inidapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan
mukosaoral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh sepertikelenjar tiroid.
Metode ini umumnya digunakan untuk survei klinissecara tepat (rapid clinical surveys). Survei ini
dirancang untukmendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salahsatu atau
lebih zat gizi. Disamping itu, digunakan untuk mengetahuitingkat gizi seseorang dengan melakukan
pemeriksaan fisik yaitu tanda(sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.
3. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yangdiuji secara
laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringantubuh. Jaringan tubuh yang digunakan
antara lain darah, urine, tinja danjuga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Metode ini
digunakanuntuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih
parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurangspesifik, maka penentuan kimia faali dapat banyak
menolong untukmenentukan kekurangan gizi yang spesifik.
4. Biofisik

Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizidengan melihat
kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihatperubahan struktur. Umumnya dapat digunakan
dalam situasi tertentuseperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Carayang
digunakan adalah tes adaptasi gelap
b. Secara Tidak Langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga (Proverawati,2010) yaitu :
1. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secaratidak langsung dengan
melihat jumlah dan jenis zat gizi yangdikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat
memberikangambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluargadan individu.
Survei ini dapat mengindentifikasikan kelebihan dankekurangan gizi.
2. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisisdata beberapa
statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkanumur, angka kesakitan, dan kematian akibat
penyebab tertentu dan datalainnya yang berhubungan dengan gizi. Penggunaannya
dipertimbangkansebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
3. Faktor Ekologi
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologisebagai hasil interaksi
beberapa faktor fisik, biologis, dan lingkunganbudaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat
tergantung dari keadaanekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi
dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi.
3. Pengukuran Status Gizi Anak
Penilaian antropometri merupakan metode penilaian status nutrisi melaluiukuran tubuh
tertentu.Penggunaan dan intrepretasi pengukuran pertumbuhan kemungkinan sangatberbeda menurut
tujuan klinis (individual) atau tujuan kesehatan masyarakat (populasi secara keseluruhan). Pemilihan
indeks antropometri ditentukan oleh tujuan kegiatan penilaian status gizi, sifat-sifat dan gambaran
status gizi yang ditujukan berbagai indkes, serta kemungkinan memperoleh data
antropometrimengingat kesediaan alat ukur (Departemen Gizi dan Kesehatan MasyarakatFKUI,
2011).
Penilaian status gizi anak secara antropometri dapat dilakukan (Departemen Gizi dan Kesehatan
Masyarakat FKUI, 2011) sebagai berikut:
a. Indek BB/U
Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang membergambaran tentang
massa tubuh, yaitu otot dan lemak (Riyadi, 2005). Menurut Gibson (2007) berat badan
menggambarkan jumlah protein, lemak, air dan mineral tulang didalam tubuh, tetapi tidak dapat
menggambarkan perubahan yang terjadi pada keempat komponen tersebut. Indeks ini dapat
digunakan untuk mengetahui terjadinya malnutrisi akut dan digunakan secara luas untuk menilai
Kekurangan Energi Protein (KEP) dan gizi lebih. Indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi
pada masa kini. Pengukuran berat badan menurut umur pada umumnya untuk anak merupakan cara
standar yang digunakan untuk pertumbuhan. Indeks ini biasanya digunakan untuk pemantauan status
gizi anak jangka waktu singkat atau individual. Indeks berat badan menurut umur ini memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan indeks BB/U ini sebagai berikut:
1.
Lebih mudah dan lebih cepat dimengerti
2.
Sensitive untuk melihat perubahan status gizi jangka pendek
3.
Dapat mendeteksi kelebihan berat badan

4. Pengukuran lebih objektif


5.
5. Peralatan mudah dibawa dan relatif murah
6.
6. Pengukuran mudah dilaksanakan dan teliti
7.
7. Tidak banyak memakan waktu
Kekurangan indeks BB/U ini sebagai berikut:
1.
Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi bila terjadi oedema
2.
Memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk kelompok umur dibawah lima tahun
3.
3Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran
Pengukuran dengan menggunakan Z skor diperoleh dengan cara mencari
selisih nilai individual subjek dengan nilai median referensi
menggunakan rumus sebagai berikut:
Nilais dardeviasireferensi
Z skor Nilaiindividualsubjek Nilaimedianreferensi
. tan . .
. . . .

Setelah itu nilai dibandingkan dengan nilai standar deviasi referensi


sebagai berikut:
1.
Gizi lebih, bila Z_score terletak > + 2 SD
2.
Gizi baik, bila Z_score terletak dari > -2 SD s/d + 2 SD
3.
Kurang gizi, bila Z_score terletak dari < -2 SD sampai > -3 SD
4.
Gizi buruk, bila Z_score terletak < -3 SD
b. Indeks TB/BB
Indeks tunggal TB/BB atau BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status
gizi masa kini, dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Karena indeks ini
dapat menggambarkan proporsi BB relatif terhadap TB, maka indek ini merupakan indikator
kekurusan atau yang lebih dikenal dengan wasting. Indeks ini digunakan untuk mengevaluasi
dampak gizi dan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek. Kelebihan
indeks ini) sebagai berikut:
1.
Bebas terhadap pengaruh umur dan ras
2.
Dapat membedakan keadaan anak dalam penilaian berat badan relatif terhadap tinggi badan.
Kekurangan indeks ini sebagai berikut:
1.
Tidak dapat mengagmbarkan apakah anak tersebut pendek, cukup tinggi atau kelebihan
tinggi badan karena faktor umur sering tidak diperhatikan.
2.
Sering terjadi kesalahan membaca angka hasil pengukuran, terutama bila pembacaan
dilakukan oleh tenaga yang kurang professional.
3.
Kesulitan dalam mengukur panjang badan anak baduta atau tinggi badan balita.
Cara menilai Z skor indeks BB/TB sebagai berikut:
1.
Normal, bila Z_score terletak > -2 SD s/d + 2 SD
2.
Pendek, bila Z_score terletak dari < -2 SD
c. Indeks PB/U
Indeks PB/U lebih menggambarkan status gizi masa lalu. Indeks ini erat kaitannya dengan
masalah social ekonomi, oleh karena itu indeks ini dapat digunakan sebagai indikator perkembangan
4.

keadaan social ekonomi masyarakat. Indeks ini kuga digunakan dalam pemantauan status gizi jangka
panjang, karena indeks ini lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh fluktuasi perubahan status gizi
yang sifatnya musiman. Kelebihan yang dimiliki indeks PB/U sebagai berikut:
1.
Indikator yang baik untuk mengetahui kurang gizi pada masa lampau
2.
Peralatan mudah dipindahkan dan dapat dibuat secara lokal
3.
Pengukuran lebih objektif
4.
Jarang orangtua yang keberatan anaknya diukur
Kekurangan indeks ini sebagai berikut:
1.
Diperlukan indeks lain dalam menilai intervensi karena perubahan TB tidak banyak terjad I
dalam waktu yang singkat
2.
Membutuhkan beberapa teknik pengukuran seperti: alat ukur panjang badan untuk anak umur
kurang dari 2 tahun, dan alat ukur tinggi badan untuk anak lebih dari 2 tahun
3.
Memerlukan tenaga terlatih untuk melakukan pengukuran
4.
Memerlukan 2 orang untuk mengukur panjang badan anak
5.
Umur yang kadang-kadang sulit diperoleh
Cara menilai Z skor indeks PB/U sebagai berikut
1.
Gemuk, bila Z_score terletak dari > + 2 SD
2.
Normal, bila Z_score terletak dari>-2 SD sampai + 2 SD
3.
Kurus (Wasted), bila Z_score terletak dari <-2 SD sampai > - 3 SD
4.
Kurus sekali, bila Z_score terletak < -3 SD
d. Ambang Batas (Cut of Points)
Dalam antropemteri gizi, median = persentil 50 dan nilai median ini dinyatakan = 100%
(untuk standar). Setelah itu dihitung persentase terhadap nilai median untuk mendapatkan ambang
batas (Proverawati, 2010).
Tabel 2.3 Status Gizi Berdasarkan Indeks Antropometri
Status gizi
Median
BB/U TB/U BB/TB
Gizi Baik
Gizi Sedang
Gizi Kurang
Gizi Buruk
> 80%
71%-80%
61%-70%
< 60%
>90%
81%-90%
71%-80%
<70%
> 90%
81%-90%
71%-80%
< 70%

Sumber: Proverawati, 2010

e. Penilaian status gizi Berdasarkan KMS


Menurut Departemen Kesehatan Republik Indoensia (2005) kurva pertumbuhan pada KMS
dapat mengikuti tiga arah sebagai berikut:
1. Petumbuhan baik
Bila berat badan anak hasil penimbangan berturut-turut berada pada jalur pertumbuhan
normalnya yaitu: jika kurva pertumbuhan bergerak secara horizontal pada jalur pita hijau (Gambar
2.5)
Gambar 2.1 Pertumbuhan Balita Baik (Departemen Kesehatan Republik Indoensia,
2005)

2. Pertumbuhan membaik
Bila berat badan anak hasil penimbangan berturut-turut menunjukkan adanya pengejaran
(cath-up) terdapat pada jalur pertumbuhan normal yaitu jika kurva pertumbuhan menunjuk ke arah
jalur pertumbuhan normalnya atau bergerak ke arah pita hijau (Gambar 2.6).
Gambar 2.2 Pertumbuhan Balita Membaik (Departemen Kesehatan Republik
Indoensia, 2005)

3. Pertumbuhan bayi memburuk


Bila berat badan anak hasil penimbangan berturut-turut menunjukkan adanya penyimpangan
dari jalur pertumbuhan normalnya yaitu : jika kurva pertumbuhan menunjuk keluar dari jalur
pertumbuhan normalnya baik ke arah atas (gizi lebih) atau ke arah bawah (BGM) (Gambar 2.7).
Gambar 2.3 Pertumbuhan Balita Memburuk (Departemen Kesehatan Republik Indoensia, 2005)

4. Status Gizi Kurang


Rendahnya status gizi berpengaruh terhadap kondisi kesehatan Balita, dampak gizi kurang
(Supariasa, 2007) sebagai berikut:
1. Perkembangan motorik terganggu
Fungsi zat gizi pada masa Balita adalah untuk perkembangan dan pertumbuhan. Gizi pada
Balita juga digunakan untuk pemeliharaan tubuh. Kondisi kurang gizi berpengaruh terhadap
perkembangan dan pertumbuhan khususnya perkembangan motorik anak.
2. Penyakit gizi
Kondisi status gizi kurang apa bila terus berlanjut dapat mengakibatkan penyakit gizi seperti
marasmus, kwashiokor dan marasmus kwashiorkor.
3. Tingkat kecerdasan
Tingkat kecerdasan dipengaruhi oleh asupan zat-zat gizi dari pra konsepsi sampai dengan
masa Balita, karena pertumbuhan otak paling cepat pada usia Balita. Oleh karena itu perkembangan
otak optimla diperlukan kondisi status gizi yang baik.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi
Ada beberapa faktor yang sering merupakan penyebab gangguan gizi, baik langsung maupun
tidka langsung. Sebagai penyebab langsung gangguan gizi khususnya gangguan gizi pada bayi dan
balita adalah tidak sesuai jumlah giziyang mereka peroleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh
mereka. Beberapa faktor yang yang secara tidak langsung mendorong terjadinya gangguan gizi
terutama pada anak balita anatar lain (Proverawati, 2010):

a. Pengetahuan
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sering terlihat keluarga yang sungguhpun
berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan seadanya. Dengan demikian kejadian
gangguan gizi tidak hanya ditemukan pada keluarga yang berpenghasilan kurang akan tetapi juga
pada keluarga yang berpenghasilan cukup. Keadaan ini menunjujkkan bahwa ketidaktahuan akan
faedah makanan bagi kesehatan tubuh menjadi penyebab buruknya mutu gizi makanan keluarga,
khususnya makanan balita. Masalah gizi karena kurangnya pengetahuan dan ketrampilan dibidang
memasak akan menurunkan konsumsi makan anak., keragaman bahan dan keragaman jenis makanan
yang mempengaruhi kejiwaan misalnya kebebasan.
b. Persepsi
Banyak bahan makanan yang sesungguhnya bernilai gizi tinggi tetapi tidak digunakan atau
hanyak digunakan secara terbatas akibat adanya prasangka yang tidak baik terhadap bahan makanan
itu. Penggunaan bahan makanan itu dianggap dapat menurunkan harkat keluarga. jenis sayuran
seperti genjer, daun turi, bahkan daun ubi kayu yang kaya akan zat besi, vitamin A dan protein,
dibeberapa daerah masih dianggap sebagai makanan yang dapat menurunkan harkat keluarga.
c. Kebiasaan atau pantangan
Berbagai kebiasaan yang bertalian dengan pantang makanan tertentu masih sering kita
jumpai terutama di daerah pedesaan. Larangan terhadap anak untuk makan telur, ikan atau daging
hanya berdasarkan kebiasaan yang tidak ada datanya dan hanya diwarisi secara dogmatis turun
temurun, padahal anak itu sendiri sangat memerlukan bahan makanan seperti guna keperluan
pertumbuhan tubuhnya.
d. Kesukaan jenis makanan tertentu
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan tertentu atau disebut
sebagai faddisme makanan akan mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang
diperlukan.
e. Jarak kelahiran yang terlalu rapat
Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa banyak anak yang menderita gangguan
gizi oleh karena ibunya sedang hamil lagi atau adik yang baru telah lahir, sehingga ibunya tidak
dapat merawat secara baik. Anak Dibawah usia 2 tahun masih sangat memerlukan perawatan ibunya,
baik perawatan makanan maupun perawatan kesehatan dan kasih sayang.
f. Sosial ekonomi
Keterbatasan penghasilan keluarga turut menentukan mutu makanan yang disajikan. Tidak
dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga turut menentukan hidangan yang disajikan untuk
keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan.
g. Penyakit infeksi
Infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa lapar dan tidak mau makan. Penyakit ini juga
menghabiskan sejumlah protein dan kalori yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan.

Anda mungkin juga menyukai