Anda di halaman 1dari 8

BRIEF SUMMARY

PT. Aseli Dagadu Djogja berdiri tanggal 9 Januari 1994 di mana pertama kali berjualan di
Mall Malioboro Yogyakarta setelah sebelumnya diawali dari beberapa kegiatan komunitas.
Didirikan atau dimotori oleh mahasiswa dan alumni mahasiswa teknik arsitektur UGM yang
mempunyai minat yang sama tentang kepariwisataan dan perkotaan. Dua puluh lima orang
yang sering berkumpul dalam suatu kegiatan waktu itu bersama-sama mendirikan PT. Aseli
Dagadu Djogja. Minat terhadap bidang kepariwisataan dan perkotaan, kesukaan desain grafis
khususnya kaos, diskusi tentang teori dan realitas yang kerap dilakukan merupakan faktor
internal pendorong didirikannya PT. Aseli Dagadu Djogja. Dari sisi eksternal, adanya
penawaran untuk berjualan di mall malioboro menjadi sebuah kesempatan menjual kaos.
Kaos menjadi pilihan karena produk inilah yang paling familiar dengan mereka saat itu.
Pada perkembangannya, produk kaos yang telah melekat pada brand Dagadu Djogdja
dikembangkan menjadi beberapa produk lainnya, misalnya produk distro khas Yogyakarta
(yang sekarang bernama Omus), juga souvenir-souvenir khas Yogyakarta lainnya kaos seperti
tas kain, gantungan kunci, gambar temple atau stiker, topi,yang pada akhirnya diberi nama
HirukPikuk. Namun, perkembangan PT. ADD ini pula diiringi oleh pesaingnya yang samasama mengangkat tema Oleh-oleh Khas Yogyakarta. Hal ini menjadikan sebuah persaingan
dalam bisnisnya. Dalam produk yang sama, yaitu kaos oblong, terdapat brand atau merek
Djoker (Djogja Keren) serta beberapa brand lainnya yang skalanya lebih kecil. Beberapa
hambatan lainnya dapat pula berupa pembajakan produk. Keberadaan dari Dagadu telah
banyak diserupai oleh para pembajak. Pembajak ini menggunakan logo yang hamper mirip
dengan Dagadu, namun secara garis besar logo ini adalah sama. Sehingga konsumen yang
tidak teliti dapat pula salah membeli produk illegal ini. Selain itu, harga yang ditetapkan oleh
para pembajak tersebut cenderung lebih murah. Untuk konsumen yang membeli dalam
jumlah yang banyak, produk dagadu illegal ini dapat pula menjadi alternatif untuk
mendapatkan harga yang lebih murah.
ANALISIS PASAR
Dagadu Djokdja adalah sebuah ikon pariwisata Jogja setelah gudeg, batik, perak, dan bakpia.
Namun keberadaannya telah banyak diserupai oleh para pembajak. Namun demikian, PT.
Aseli Dagadu Djokdja tiada henti berinovasi. Meskipun banyak pihak lain menjual

produknya dengan iming-iming komisi tinggi tanpa peduli pada quality, PT ADD tetap
konsisten pada posisi sebagai branded product & exclusive distribution.
Komitmen PT ADD adalah Nice Design-Good Quality-Excellent Services. Semua itu demi
memberikan kenangan tersendiri kepada para pembeli, dan menjadikan oleh-olehnya sebagai
sesuatu yang lebih bernilai dan memberikan kebanggaan. PT ADD menjual semuanya dengan
harga standar, tidak bermaksud membebani pembeli hanya karena desakan komisi tinggi.
Dalam batasan-batasan tertentu PT ADD tetap mengutamakan kemitraan dengan stakeholder
wisata (Tour Agent, Hotel,Restaurant, Armada/Taksi, dan sebagainya).
Cinderamata alternatif dari Djokdja dipilih sebagai product positioning berkait dengan
peluang pasar, karakter produk, dan realitas kemampuan perusahaan (terutama dalam hal
distribusi) pada saat itu. Ketika terbukti memberikan kontribusi finansial yang sahih,
positioning ini terus ditaati bahkan hingga hari ini. product positioning sebagai cinderamata
memang didahului oleh segmentasi pasar yang membedakan kelompok wisatawan dan bukan
wisatawan. Konsekuensinya terhadap strategi produk adalah tuntutan akan selalu hadirnya
cerita atau informasi mengenai lokasi tempat cinderamata itu berasal. Cerita itu
dipresentasikan dalam ungkapan verbal maupun visual pada produk dan sejumlah gimmick
yang menyertainya seperti hangtag (LABEL BAJU yang terbuat dari kertas), kemasan, visual
merchandising, hingga buletin. Cerita yang dikemas dalam bentuk grafis dan diterakan pada
tiap produknya menjadi alat utama untuk membedakan cinderamata dengan oleh-oleh biasa.
Cerita itu tetap bertahan walaupun lini produk direntang ke berbagai arah sebagai upaya
diversifikasi untuk menjawab permintaan pasar.
Terhadap distribusi, positioning ini mengharuskan penguatan saluran di Yogyakarta.
Mandulnya regulasi dan penegakan hukum dalam perlindangan hak cipta, yang membuat
pemberantasan pembajakan merek dan produk menjadi demikian sulit dan mahal,
menghambat penguatan basis distribusi dalam skala kota sehingga yangdapat dilakukan
kemudian hanyalah bombardir komunikasi untuk memperkuat basis distribusi dalam skala
gerai.
Komunikasi memang menjadi titik penting sekaligus genting dalam perjalanan produk
Dagadu Djokdja. Pada masa awalnya, komunikasi dilakukan semata-mata melalui produk dan
kemasannya, selanjutnya mengandalkan liputan media. Sejak 1996, promosi di media
dilakukan secara terencana melalui iklan citra, produk, dan event. Periode 2000-2003 ditandai
dengan media relationship yang makin erat, berkait dengan banyaknya event off-air yang

diselenggarakan untuk pembentukan komunitas, contohnya kampanye Kapan Ke Jogja


Lagi?.
Pemasaran yang sukses mensyaratkan perusahaan untuk mempunyai kemampuan memahami,
menciptakan, menangkap, dan memelihara nilai konsumen. Untuk memahami marketing
manajemen, kita harus mengerti perencanaan strategis. Kebanyakan perusahaan besar terdiri
dari empat level organisasi: level korporasi, level divisi, level unit bisnis, dan level produk.
Dalam hal ini, PT. ADD bertanggung jawab merancang rencana strategis korporasi untuk
memandu keseluruhan perusahan. PT. ADD membuat keputusan mengenai jumlah dukungan
sumber daya yang harus dialokasikan ke masing-masing divisi, dan bisnis apa yang akan
dimulai atau yang dihapuskan. Masing-masing divisi menetapkan rencana divisi yang
mencakup pengalokasian dana ke masing-masing unit bisnis di dalam divisi tersebut. Masingmasing unit bisnis membuat rencana strategis unit bisnis untuk membuat unit bisnis itu
menguntungkan di masa depan. Misalnya dalam hal ini adalah srategi unit bisnis Omus dan
HirukPikuk. Akhirnya, masing-masing level produk (lini produk, merek) di dalam unit bisnis
tertentu membuat rencana pemasaran untuk mencapai tujuannya di pasar produk tersebut.
Rencana pemasaran dilaksanakan pada dua level:
Strategis : Rencana pemasaran strategis membentangkan pasar sasaran dan proposisi nilai
yang akan ditawarkan, berdasarkan pada analisis tentang peluang pasar yang terbaik.
Taktis : Rencana pemasaran taktis merinci taktik pemasaran, yang mencakup fitur produk,
promosi, perdagangan, penetapan harga, saluran distribusi,dan pelayanan.
TRANSFORMASI
Rencana pemasaran merupakan alat utama untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan usaha
pemasaran saat ini, departemen pemasaran tidak menetapkan rencana pemasaran sendiri.
Rencana itu dibuat oleh tim, dengan masukan dan rambu-rambu dari setiap fungsi yang
penting. Rencana itu kemudian diterapkan pada level organisasi yang tepat. Hasil yang
dicapai dimonitor, dan tindakan perbaikan dilakukan pada saat diperlukan.
Proses pengantaran nilai kepada konsumen memandang pandangan tradisional dari
pemasaran adalah perusahaan membuat sesuatu lalu menjualnya. Di sini pemasaran berperan
pada tahap kedua dari proses ini. Pandangan kedua adalah urutan penciptaan dan pengantaran
nilai. Terdiri dari tiga fase yaitu :
Fase pertama: memilih nilai, merupakan tugas besar yang harus dikerjakan pemasaran
sebelum produk muncul. Staf pemasaran harus mensegmentasi pasar, memilih pasar sasaran

yang sesuai, dan menyusun penentuan posisi nilai tawaran. Rumusan 'segmentasi
(segmentation), penentuan sasaran (targeting), dan penentuan posisi (positioning)-STP
adalah esensi dari pemasaran strategis.
Fase kedua: memberikan nilai. Pemasaran harus menentukan fitur, harga, dan distribusi
produk secara spesifik sebagai bagian dari pemasaran taktis.
Fase ketiga: mengkomunikasikan nilai. Di sini berlangsung pemasaran taktis selanjutnya
yang meliputi penggunaan tenaga penjual, promosi penjualan, periklanan, dan alat promosi
lainnya untuk menginformasikan dan mempromosikan produk tersebut.
Michael Porter dari Harvard telah mengajukan rantai nilai sebagai alat untuk
mengidentifikasi cara menciptakan lebih banyak nilai konsumen. Menurut model ini, setiap
perusahaan

adalah

suatu

penyatuan

aktivitas-aktivitas

merancang,

memproduksi,

memasarkan, mengantarkan, dan mendukung produknya. Rantai nilai mengidentifikasi


sembilan aktivitas strategis yang menciptakan nilai dan biaya dalam suatu bisnis tertentu.
Sembilan aktivitas ini terdiri dari lima aktivitas pokok (primary activities) dan empat aktivitas
pendukung (support activities).
Aktivitas pokok meliputi urutan dari mendatangkan material ke inbound logistic perusahaan
lalu diolah menjadi produk akhir, mengapalkan atau mengantarkan produk akhir (outbound
logistic), memasarkannya, dan melayaninya. Sedangkan aktivitas pendukung meliputi
procurement, pengembangan teknologi, manajemen sumber daya manusia, dan infrastruktur
perusahaan.
Tiga karakteristik Core Competence:
1. Merupakan keuntungan kompetitif yang dapat memberikan kontribusi yang signifikan
terhadap manfaat yang dipersepsikan konsumen.
2. Dapat diaplikasikan.
3. Sulit ditiru oleh pesaing.
Pemasaran yang sukses mensyaratkan perusahaan untuk mempunyai kemampuan memahami,
menciptakan, menangkap, dan memelihara nilai konsumen. Untuk memahami marketing
manajemen, kita harus mengerti perencanaan strategis. Kebanyakan perusahaan besar terdiri
dari empat level organisasi: level korporasi, level divisi, level unit bisnis, dan level produk.
Kantor pusat korporasi bertanggung jawab merancang rencana strategis korporasi untuk
memandu keseluruhan perusahan. Kantor pusat tersebut membuat keputusan mengenai

jumlah dukungan sumber daya yang harus dialokasikan ke masing-masing divisi, dan bisnis
apa yang akan dimulai atau yang dihapuskan. Masing-masing divisi menetapkan rencana
divisi yang mencakup pengalokasian dana ke masing-masing unit bisnis di dalam divisi
tersebut.Masing-masing unit bisnis membuat rencana strategis unit bisnis untuk membuat
unit bisnis itu menguntungkan di masa depan. Akhirnya, masing-masing level produk (lini
produk, merek) di dalam unit bisnis tertentu membuat rencana pemasaran untuk mencapai
tujuannya di pasar produk tersebut. Rencana pemasaran dilaksanakan pada dua level:
strategis dan taktis. Rencana pemasaran strategis membentangkan pasar sasaran dan proposisi
nilai yang akan ditawarkan,berdasarkan pada analisis tentang peluang pasar yang terbaik.
Rencana pemasaran taktis merinci taktik pemasaran, yang mencakup fitur produk, promosi,
perdagangan, penetapan harga, saluran distribusi,dan pelayanan.
Rencana pemasaran merupakan alat utama untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan usaha
pemasaran saat ini, departemen pemasaran tidak menetapkan rencana pemasaran sendiri.
Rencana itu dibuat oleh tim, dengan masukan dan rambu-rambu dari setiap fungsi yang
penting. Rencana itu kemudian diterapkan pada level organisasi yang tepat. Hasil yang
dicapai dimonitor, dan tindakan perbaikan dilakukan pada saat diperlukan.
SUMBER DAYA MANUSIA
a. Aspek Organisasi
Merupakan gambaran dan harapan Dagadu Djogja saat 25 mahasiswa, yang sebagian besar
adalah mahasiswa Teknik Arsitektur UGM, mulai menyewa lapak di Mall pertama di
Yogyakarta, Malioboro Mall. Tak dapat dipungkiri, bahwa sejak awal kelahirannya, Dagadu
Djogja lahir, tumbuh dan berkembang dilingkungan pendidikan tinggi komunitas ini lahir
dari sekumpulan Mahasiswa yang memiliki kesamaan visi dalam menyalurkan kreativitas dan
kewirausahaan. Dagadu memiliki organisasi yang unik karena perkumpulan dari temanteman kuliah dan para alumni yang menginginkan adanya kreatifitas dari mereka untuk
mereka, yang mempunyai bidang bidang seni. Mereka ingin memberikan gambaran dan
certia tentang yogyakarta melalui kreatifitas seni yang disajikan. Dari pekumpulan itu anakanak muda Mahasiswa UGM ini membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing untuk
mencapai tujuan tersebut. Semangat dan perjuangan menuai keberhasilan yaitu memberikan
cerita baru tentang yogyakarta yang dibangun atas dasar kepercayaan, kemampuan dan
integrita yang tinggi dan inovativ.
Sebagai komitmen awal para penggagasnya, salah satunya dengan mewadahi Mahasiswamahasiswa terpilih dari seluruh Universitas dan perguruan tinggi di Yogyakarta dalam

program magang sebagai Garda Depan Dagadu Djogja. Program ini merupakan salah satu
bentuk Corporate Social Resposiblity (CSRR)
Beberapa macam nama yang pada umumnya dikenal tapi diartikan dalam bahasa dagadu
seperti.
- UGD ( Unit Gawat Dagadu ) Gerai utama dagadu djogjakarta
- Posyandu ( Pos Pelayanan Dagadu )
- DPRD ( Djawatan Pelajanan Resmi Dagadu )
b. Aspek Manajemen
Manajemen sebagai upaya untuk mencapai tujuan perusahaan maka perlu dikelola dengan
sebaik-baiknya agar sumber daya yang ada dapat diberdayakan dengan seefektif dan seefisien
mumngkin dalam rangka mencapai pelayanan yang bermutu terhadap pelanggan dan
memenuhi kepuasan pelanggan yang dilayani di setiap gerai atau toko-toko penjualannya.
Pada akhirnya PT. Aseli Dagadu Djogdja akan dapat memetik benefit secara finansial.
Pengurus perusahaan terdiri dari direktur dan komisioner. Sedangkan untuk manajemen
membawahi 3 (tiga) bidang, yaitu bidang marketing, unit bisnis, dan desain kreatif.
Bidang merketing membawahi Brand Manager Dagadu Djokdja, Sales Head Dagadu
Djokdja, Promotion Events Dagadu Djokdja, Finance & General Affair Manager, Finance,
Purchasing, Accounting & Taxes, Product Coordinator. Unit bisnis membawahi Manager
Daya Gagas Dunia, Account Executive Daya Gagas Dunia, Brand Manager AfterHour, Brand
Manager Hiruk-Pikuk. Bidang Desain kreatif membawahi Coordinator Desainer, Desainer,
Copywriter, Computer.
KESIMPULAN
Salah satu penyebab munculnya sebuah peluang usaha adalah melalui kreatifitas atau yang
biasa disebut peluang usaha kreatif. Individu yang memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi
memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melihat peluang usaha. Begitu pula dengan
Dagadu dengan bermodalkan kreatifitas yang tinggi, Dagadu dapat menciptakan peluang
bisnis berupa kaos kata-kata yang banyak diminati. Bahkan produk-produk Dagadu kini
menjadi cinderamata asli jogja yang digemari masyarakan lokal, luar jawa maupun turis
mancanegara. Namun persaingan usaha yang makin ketat dan pembajakan yang semakin
merajalela, PT ADD melakukan beberapa trik untuk memasarkan produknya, misalnya
berjualan dengan mendatangi langsung konsumennya dan berjualan secara online. Selain itu,
PT ADD juga berinovasi pada produk-produk baru seperti mug, gantungan kunci, buletin,
HirukPikuk, Omus, dan lain sebagainya.

PT. Aseli Dagadu Djogja yang telah berdiri selama 17 tahun. PT ADD ini telah menjadi ikon
dalam bisnis oleh-oleh non-makanan di Yogyakarta dengan indikator pengetahuan wisatawan
yang datang dari luar Yogyakarta terhadap Dagadu cukup tinggi. Selama ini kita tahu bahwa
dagadu telah mampu menjadi produk yang memiliki brand image yang melekat di kalangan
masyarakat Indonesia. Selain itu, Dagadu memiliki segmentasi pasar yang beragam dari
kalangan anak-anak sampai orang dewasa.
Dagadu menerapkan strategi pemasaran diversifikasi, karena ia memiliki produk-produk yang
unik,yang tidak umum dijumpai di pasaran. Pengemasan yang ia lakukan pun menarik. Hal
ini menunjukkan bahwa Dagadu ingin memberikan yang terbaik untuk konsumen. Akan
tetapi ia memiliki kelemahan dalam hal pemasaran, sehingga walaupun ia sudah memiliki
image yang baik di mata masyarakat, penjualan produknya bisa berkurang karena persepsi
masyarakat akan teralihkan ke produk-produk pesaing.
Dagadu Djokdja ini juga adalah sebuah ikon pariwisata Jogja setelah gudeg, batik, perak, dan
bakpia. Namun keberadaannya telah banyak diserupai oleh para pembajak. Sehingga
konsumen yang tidak teliti dapat pula salah membeli produk illegal ini. Harga yang
ditetapkan oleh para pembajak tersebut juga cenderung lebih murah. Untuk konsumen yang
membeli dalam jumlah yang banyak, produk dagadu illegal ini dapat pula menjadi alternatif
untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Namun demikian, PT. Aseli Dagadu Djokdja
tiada henti berinovasi tanpa terganggu hal tersebut. PT ADD tetap konsisten pada posisi
sebagai branded product & exclusive distribution.

Referensi
http://diyandewi.blogspot.com/2012/12/analisis-marketing-plan-produk-dagadu.html

http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&frm=1&source=web&cd=2&ved=0CCIQFjAB&url=http%3A%2F
%2Felearning.amikom.ac.id%2Findex.php%2Fdownload%2Fmateri%2F88897-MT0409%2F2014%2F03%2F20140323_Analisa%2520PT.%2520Aseli%2520Dagadu
%2520Djokdja
%2520.doc&ei=bc2iU4asJ4_GuASEwILoDQ&usg=AFQjCNHPaKbEyf3Cba26Wlc5_3qBF9C
Vqg&sig2=E3z4j2IiVSBd8IVOIijHrQ

http://watanlamahala.blogspot.com/2010_09_01_archive.html