Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

2. 1 LATAR BELAKANG
Kota kota di Indonesia pada umumnya berkembang tanpa dilandasi perencanaan
kota yang menyeluruh dan terpadu. Kota-kota kita tidak betul-betul dipersiapkan atau
direncanakan untuk dapat menampung pertumbuhan penduduk yang besar dalam waktu yang
relatif pendek.
Oleh karena itu, bukanlah suatu pemandangan yang aneh bila kota kota besar di
Indonesia menampilkan wajah ganda. Di suatu sisi terlihat perkembangan pembangunan yang
serba mengesankan dalam wujud arsitektur modern dan pasca moderen di sepanjang tepi
jalan utama kota. Di balik semua keanggunan itu, Nampak menjamurnya lingkungan kumuh
dengan sarana dan prasarana yang sangat tidak memadai untuk mendukung keberlangsungan
kehidupan manusia yang berbudaya. Taman dan ruang terbuka yang semula cukup banyak
tersedia, beralih rupa menjadi bangunan yang semakin memperpadat lingkungan binaan.
Tugas ini akan mengulas dan memberikan tanggapan terhadap permasalahan pengembangan
wilayah yang sedang berkembang dewasa ini dari media massa, penulis mengambil
permasalahan dari media massa online yang berjudul 40% kawasan kumuh yang ada di
depok ini penyebabnya (Harian Jogja : 13 Maret 2015).

2. 2 MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud
Menganalisa dan memberikan tanggapan tentang permasalahan pengembangan
wilayah yang sedang berkembang dewasa ini dengan aspek aspek pengembangan
wilayah
b. Tujuan
Memberikan saran atau solusi terhadap permasalahan tersebut

BAB II
ISI

2. 1ISI BERITA

PENATAAN SLEMAN

40% Kawasan Kumuh Ada di Depok, Ini


Penyebabnya

Ilustrasi hunian bantaran sungai (Dok/JIBI/Solopos)


Sabtu, 28 Februari 2015 03:20 WIB | Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja |

Penataan Sleman terkhusus di Wilayah Depok perlu dilakukan lantaran 18 titik di


area tersebut merupakan kawasan kumuh.

Harianjogja.com, SLEMAN-Kasi Perumahan Swadaya Bidang Perumahan Dinas Pekerjaan


Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman, Achmad Subhan mengungkapkan terdapat
45 kawasan kumuh yang tersebar di enam kecamatan. Sebanyak 40 persen di antaranya berada
di wilayah Kecamatan Depok lantaran memiliki 18 kawasan kumuh.
Enam kecamatan yang memilki kawasan kumuh adalah Depok, Mlati, Gamping, Ngemplak,
Ngaglik, dan Godean. Depok paling banyak kawasan kumuhnya karena di sana memang padat
penduduknya, ujar Subhan saat dihubungi pada Kamis (26/2/2015).
Tahun ini, pemerintah berencana melakukan penataan terhadap 10 kawasan kumuh terlebih
dahulu. Kecamatan Depok mendapatkan prioritas sehingga sebanyak enam kawasan kumuh di
antaranya berada di wilayah tersebut.

Dana yang dibutuhkan akan digelontorkan baik dari pemerintah pusat, propinsi, maupun
kabupaten. Misalnya untuk membenahi jalannya yang jelek, kondisi drainasenya kurang bagus,
atau bagaimana instalasi pengelolaan air limbahnya, kata Subhan menerangkan. Subhan
menambahkan baru empat wilayah kecamatan yang kawasan kumuhnya akan ditata pada tahun
2015. Di antaranya adalah Kecamatan Depok, Mlati, Gamping, dan Ngaglik.
Ini kami masih menunggu bagaimana kelanjutannya dari pemerintah pusat, ucapnya.
Sementara itu, Camat Depok Budiharjo mengaku wilayahnya memang bisa dibilang paling padat
dibanding kecamatan lain.
Kepadatan penduduk di Depok memang sangat tinggi sehingga kebutuhan akan pemukiman
juga lebih besar. Hal ini yang memicu adanya beberapa kawasan kumuh, ungkap Budi kepada
Harianjogja.com, Kamis pagi.
Budi mengatakan masalah penataan kawasan kumuh telah ditangani DPUP Sleman dan pihak
terkait lain. Konsultan juga sudah mulai sosialisasi kepada masyarakat untuk pemetaan dan
perencanaan pelaksanaan program ini, kata mantan Camat Gamping itu Budi berharap,
masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam proses sosialisasi tersebut
Supaya tepat sasaran dan sesuai kebutuhan, masyarakat bisa membantu dengan menyebutkan
apa kebutuhannya kepada tim di lapangan, ucapnya menambahkan.

2. 2

ANALISA BERITA
Enam kecamatan yang memilki kawasan kumuh adalah Depok, Mlati,
Gamping, Ngemplak, Ngaglik, dan Godean akar permasalahan dari kawasan kumuh
tersebut yaitu disebabkan oleh kepadatan penduduk serta pertumbuhan penduduk
yang relatif tinggi.
Dalam hal ini seharusnya pemerintah daerah lebih tegas lagi dalam
memberikan perijinan untuk mendirikan pemukiman sehingga kawasan pemukiman
padat penduduk tersebut tidak menjamur serta pemerataan penduduk akan terjadi.
Dalam tataruang wilayah ini, kecenderungan yang terlihat pada prosedur
perencanaan kota kita adalah, partisipasi warga kota diwujudkan alakadarnya.
Saat ini permasalahan tersebut telah ditangani oleh DPUP sleman dan pihak
terkait lain, konsultan sudah mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk
pemetaan dalam proyek penataan kawasan kumuh ini, sehingga akan tercipta kawasan
hunian yang segar, sehat dan indah.
BAB III

SOLUSI PERMASALAHAN

3. 1SOLUSI PERMASALAHAN
Kesimpulan dari permasalan tersebut adalah :
1. Kawasan kumuh tersebut disebabkan oleh kepadatan penduduk serta penataan
permukiman yang kurang tepat
2. Dalam konsep wilayah, wilayah tersebut harus dikembangkan dan termasuk
kedalam jalur binaan atau jalur pembangunan yang harus dilakukan secara intensif
agar permasalahan tersebut dapat di selesaikan, karena penanganan permukiman
kumuh merupakan permasalahan yang cukup kompleks
3. Pemerintah sleman seharusnya melakukan kebijakan pemerataan permukiman
penduduk sehingga tidak akan terjadi kepadatan di daerah tertentu sementara
daerah lain kepadatan penduduk realtif rendah, serta harus meninjau pula aspek
tata guna lahan sehingga perencanaan yang telah dirancang oleh pemerintah
daerah dapat berjalan dengan semestinya serta tercapainya tujuan dari
perencanaan wilayah itu sendiri
4. Menerapkan prosedur perencanaan kota dengan sebaik mungkin, serta dengan
perencanaan yang matang sesuai dengan konsep-konsep wilayah
5. Dalam aspek pengembangan wilayah menurut sistem perkotaan, konsep
agropolitan harus dikembangkan dan diterapkan sebaik mungkin yang memiliki
prinsip desentralisasi dan mengikt sertakan sebagian besar penduduk wilayah
misalnya menciptakan industri kecil untuk menumbuhkan perekonomian
masyarakat sehingga kawasan kumuh dapat teratasi, serta masyarakat harus ikut
serta dalam penataan yang diterapkan oleh pemerintah daerah
6. Perencanaan wilayah dengan pengaturan industri di wilayah tersebut dengan
bantuan pemerintah yaitu dengan insentif pembiayaan, rangsangan prasarana
industri sehingga akan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat
7. Lebih memperhatikan perencanaan wilayah pada daerah pedesaan, misalnya
dengan pengembangan tanah sebagai sektor pertanian sehingga kesenjangan sosial
antara desa dan kota akan diminimalisir hal ini akan menurunkan urbanisasi