Anda di halaman 1dari 9

PENERAPAN KONSEP POLDER DARI NEGERI KINCIR ANGIN

UNTUK PENANGGULANGAN BANJIR


DI ITS

GIRANG SETYO MARINDA


4313100096
JURUSAN TEKNIK KELAUTAN
INSTITUT SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

RINGKASAN

Banjir merupakan fenomena yang kerap kali terjadi pada musim penghujan. Sistem
saluran air dan tidak adanya ruang resapan air selalu dijadikan alasan pemicu banjir.
Seperti halnya di kampus biru ITS bahwa pada saat terjadi hujan dengan intensitas yang
tinggi saluran air tidak dapat menampung jumlah air yang ada, sehingga air meluap dan
menggenangi jalan.
Salah satu alternatif untuk mengatasi banjir adalah dengan merubah sistem saluran
air yang menjadi kunci untuk mencegah banjir. Sistem polder merupakan sebidang tanah
rendah, dikelilingi oleh embankment atau timbunan. Atau juga dapat disebut tanggul yang
membentuk semacam satu-kesatuan hidrologis buatan. Cara kerja sistem ini adalah pada
daerah polder, air buangan (air kotor dan air hujan) dikumpulkan di suatu badan air (sungai
atau situ). Lalu dipompakan ke badan air lain pada polder yang lebih tinggi posisinya,
hingga akhirnya air dipompakan ke sungai atau badan air sehingga air tidak menggenang di
badan jalan.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bencana banjir merupakan bencana yang sering ditemukan di Indonesia baik di kota
kecil maupun kota besar, bahkan bencana tersebut selalu dijumpai disetiap tahunnya. Banjir
kini menjadi permasalahan yang selalu dihadapi oleh banyak kalangan.
Daerah hulu sungai yang seharusnya menjadi kawasan resapan air bagi sungai
tersebut Bencana banjir pada umumnya tidak terjadi hanya karena bencana alam, namun
karena perbuatan manusia yang kurang sadar akan lingkungan sekitar, seperti
pengalihfungsian. Tidak hanya pengalihfungsian pada daerah hulu sungai, permasalahan
sampah, drainase yang buruk, pendangkalan sungai, dan perubahan peruntukan bantaran
sungai, juga merupakan pemicu terjadinya banjir. Seperti halnya di kampus biru ITS bahwa
pada saat terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi saluran air tidak dapat menampung
jumlah air yang ada, sehingga air meluap dan menggenangi jalan. Fenomena yang terjadi
hampir disetiap musim penghujan ini meresahkan civitas akademika ITS selaku pengguna
jalan raya ITS sehari-hari. Maka dari itu perlu adanya solusi seperti konsep system pengairan
polder dari negeri Belanda.
Sistem polder adalah sistem penanganan drainase dengan cara mengisolasi daerah
yang dilayani ( catchment area) terhadap masuknya air dari luar sistem baik berupa limpasan
( overflow) maupun aliran di bawah permukaan tanah ( gorong- gorong dan rembesan ), serta
mengendalikan ketinggian muka air banjir di dalam sistem sesuai dengan kebutuhan.
(Al Falah,2008). Dengan sistem polder, maka lokasi rawan banjir akan dibatasi dengan jelas,
sehingga elevasi muka air, debit dan volume air yang harus dikeluarkan dari sistem dapat
dikendalikan. Oleh karena itu, sistem polder disebut juga sebagai sistem drainase yang
terkendali

Tujuan

Untuk mengurangi jumlah air yang mengalir guna mengurangi resiko terjadinya banjir
(genangan air dibadan jalan)

Penerapan system ini guna memperbaiki system pengairan di ITS sehingga tercipta
suasana belajar yang kondusif.

Manfaat
Secara garis besar manfaat dari penulisan ini adalah

Sebagai solusi mengatasi genangan air di badan jalan ITS

Dengan adanya perbaikan drainase dengan menggunakan sistem polder diharapkan


berkurangnya jumlah genangan air di beberapa badan jalan di ITS sehingga keadaan
ini akan berpengaruh positif bagi pemakai jalan khususnya pelajar dan civitas
akademika ITS. Kondisi seperti ini diharapkan akan mendukung kegiatan akademik
maupun non akademik di ITS.

B. GAGASAN
Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
Sistem pengairan yang buruk di ITS terbukti pada saat hujan lebat 13 Februari 2015
drainase di daerah depan kampus FTK tidak bisa menampung air hujan sehingga air meluber
ke jalan dan mengganggu pengguna jalan pada saat itu. Salah satu danau yang berfungsi
sebagai daerah resapan air disebelah kampus maritime FTK telah berubah menjadi gedung
dan pembangunan terus berlanjut hingga kini. Pembangunan-pembangunan gedung baru
tidak di barengi dengan pembukaan lahan untuk daerah resapan air. Apabila tidak dilakukan
pengawasan terhadap perkembangan penggunaan lahan di kawasan kampus ITS, maka
lambat laun fungsinya sebagai kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasa
yang berada disekitarnya menurun, sehingga semakin meningkat pula resiko banjir yang
akan terjadi.( anonim 2007)

Gambar 1 Genangan air di depan kampus FTK


Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2 Genangan air di depan kampus FTIF


Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 3 Genangan air di depan kampus FTK


Sumber : Dokumentasi pribadi

Solusi yang Pernah Ditawarkan


Upaya pernah dilakukan oleh pihak kampus ITS yaitu dengan meninggikan badan
jalan di titik banjir yaitu di jalan masuk kampus FTK. Namun, upaya tersebut tidak dibarengi
dengan rehabilitasi dan reboisasi di daerah gersang sekitarnya sehingga upaya tersebut tidak
berdampak terlalu besar.

Seberapa Jauh Gagasan yang Diajukan Dapat Memperbaiki Kondisi Kekinian

Tingginya curah hujan di wilayah Bandung dapat meningkatkan resiko banjir, apabila
air tersebut terbuang begitu saja tanpa ada peresapan dan pengelolaan/pemanfaatan yang
baik. Oleh karena itu, penerapan system polder perlu dilakukan didaerah kampus ITS,
khususnya pada titik titik rawan banjir seperti di daerah Fakultas Teknologi Kelautan (FTK).
Sistem polder merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki permasalahan banjir di
ITS. Sistem adalah suatu cara penanganan banjir dengan bangunan fisik meliputi kolam
retensi, tanggul yang mengelilingi kawasan, serta pompa/pintu air, sebagai satu kesatuan
pengolahan air tak terpisahkan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Gambar Komponen Sistem Polder


Sumber : Al Falah,2008
Dokumentasi pribad

Pintu Air
Tanggul
Kolam retensi
Jaringan drainase
Pompa
Sistem kolektor

Gambar Sistem Polder


Sumber : pu.go.id/konsep-polder-semarang
Dokumentasi pribad

Tanggul berfungsi untuk mengisolasi kawasan tersebut terhadap limpasan/bocoran


dari luar sistem, seperti banjir dan air laut pasang

Pintu air berfungsi untuk menahan air banjir/air laut pasang dari luar sistem agar tidak
masuk ke kolam retensi/saluran dan untuk menyalurkan debit banjir keluar sistem
pada saat terjadi kerusakan pompa dan muka air di luar sistem lebih rendah dari muka
air di dalam sistem

Pompa air berfungsi untuk menyalurkan debit banjir ke luar sistem pada saat terjadi
hujan

Kolam retensi berfungsi untuk menampung debit banjir pada saat terjadi hujan

Jaringan saluran drainase berfungsi untuk menyalurkan debit banjir dari seluruh
sistem ke kolam retensi/stasiun pompa.

KESIMPULAN
Gagasan
Gagasan yang diajukan dalam karya tulis ini yaitu penerapan system polder sebagai upaya
untuk mengatasi banjir. Cara kerja system ini dataran rendah yang membentuk daerah yang
dikelilingi oleh tanggul. Pada daerah ini air buangan seperti air kotor dan air hujan
dikumpulkan di suatu badan air (sungai, kanal) lalu dipompakan ke badan air yang lebih
tinggi posisinya, hingga pada akhirnya dipompakan ke sungai atau kanal yang bermuara ke laut.
Teknik Implementasi

Teknik implementasi yang pertama yaitu dengan melakukan melakukan observasi untuk
menempatkan system ini di daerah yang pas. Kedua dengan melakukan sosialisasi mengenai
penggunaan alat penampungan air hujan. Selanjutnya perlu dilakukan pengadaan
terhadap beberapa alat seperti pompa dan beberapa material pendukung.. Langkah yang
terakhir yaitu membuat kebijakan mengenai keharusan developer untuk membuat system
drainase sebagai penampung air hujan, serta pemberian insentif kepada developer yang
melaksanakan kebijakan tersebut.

Prediksi Hasil (Manfaat dan Dampak Gagasan)

Dengan adanya penampungan dan pemanfaatan air hujan, sekurangnya kita dapat
mengurangi debit air yang mengalir ke badan jalan daerah ITS. Begitu pula dengan daerah
yang lebih rendah, sekurang-kurangnya dapat mengurangi debit air hujan yang terbuang
begitu saja. Hal tersebut dapat mengurangi resiko terjadinya banjir.
Sedangkan kekurangan dari gagasan yaitu masalah finansial juga mempengaruhi berhasilnya
gagasan ini, karena untuk mendapatkan alat-alat tersebut membutuhkan dana.

DAFTAR PUSTAKA
Acefisch.

2009.

The

Harvest

of

Rain.

http://www.aboutmyplanet.com/daily-green-

tips/harvest-rain/ (tanggal akses 11 Februari 2015).


Asmoro, Djoko . 2002. Petunjuk desain drainase permukaan jalan. Jakarta : Direktorat
Jenderal Bina Marga.
pu.go.id/konsep-polder-semarang Dokumentasi pribadi.
Basuki, Winoto. 2009. Air Hujan dan Kita. Jakarta : Kompas.
http://www.academia.edu/9375437/DRAINASE_BELANDA
Nursetiawan. 2006. Kajian Kinerja Filter Drain di Jalan Raya sebagai Salah Satu Bentuk

Sistem Drainase Berkelanjutan. Seminar Nasional Teknik Sumberdaya Air, 23-24


Juni 2006