Anda di halaman 1dari 290

LAPORAN

TAHUNAN 2000

BANK INDONESIA
LAPORAN
TAHUNAN
2000
BANK INDONESIA

ISSN 0522 – 2575


Keterangan Tanda-tanda, Periode Laporan, dan Sumber Data

r Angka diperbaiki
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
... Angka belum tersedia
- Angka tidak ada
x Angka sebelum dan sesudah tanda ini tidak dapat diperbandingkan satu sama lain
-- Nol atau lebih kecil daripada digit terakhir
$ (dolar) Dolar Amerika Serikat

Periode laporan adalah 1 Januari 2000 sampai dengan 31 Desember 2000.


Sumber data adalah Bank Indonesia, kecuali jika dinyatakan lain.

i
Dewan Gubernur
Bank Indonesia
Pada Tanggal 31 Desember 2000

Miranda S. Goeltom
Deputi Gubernur

Aulia Pohan
Deputi Gubernur

Syahril Sabirin
Gubernur

Achwan
Deputi Gubernur

Achjar Iljas
Deputi Gubernur
Anwar Nasution
Deputi Gubernur Senior

Burhanuddin Abdullah
Deputi Gubernur

xi
GUBERNUR
BANK INDONESIA

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, Laporan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2000 tersaji
ke hadapan pembaca. Sebagaimana dalam tiap tahun sebelumnya, Laporan Tahunan Bank Indone-
sia merupakan salah satu wujud akuntabilitas Bank Indonesia dalam pelaksanaan tugas-tugasnya.
Laporan ini juga menguraikan berbagai perkembangan penting dalam perekonomian Indonesia serta
berbagai faktor yang mempengaruhinya selama tahun laporan. Di samping itu, prospek dan arah
kebijakan ke depan merupakan bagian yang penting pula dari Laporan Tahunan Bank Indonesia ini.
Laporan Tahunan Bank Indonesia untuk periode laporan tahun 2000 ini memiliki nuansa khusus
karena tahun 2000 merupakan tahun-penuh bagi Bank Indonesia bekerja berdasarkan Undang-Undang
No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Sebagaimana diketahui, Undang-undang ini telah
memberikan landasan hukum yang kuat bagi pelaksanaan tugas Bank Indonesia yang terfokus ke arah
kestabilan nilai rupiah dengan diperkuat oleh elemen independensi dan akuntabilitas secara seimbang.
Sebagai wujud dari pelaksanaan tugasnya tersebut, pada awal tahun 2000 Bank Indonesia telah
mengumumkan sasaran inflasi yang hendak dicapai dalam tahun 2000, yakni antara 3,0% sampai 5,0%,
di luar dampak kebijakan Pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Hal ini dilakukan mengingat
karakteristik inflasi di Indonesia yang juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar moneter, seperti
halnya kebijakan Pemerintah mengenai administered prices – yaitu harga barang-barang dan jasa-jasa
yang ditentukan oleh Pemerintah – dan gaji pegawai negeri maupun perkembangan di sisi penawaran.
Untuk ini Bank Indonesia telah pula mengeluarkan prakiraan mengenai dampak dari rencana kebijakan
Pemerintah tersebut selama tahun laporan.
Dari sisi operasional pencapaian sasaran inflasi tersebut, Bank Indonesia telah mengumumkan
besaran pertumbuhan uang primer yang akan dijadikan acuan dalam tahun laporan. Rencana
pertumbuhan uang primer ini dibuat dengan memperhitungkan berbagai asumsi penting yang
mempengaruhinya seperti laju pertumbuhan ekonomi, perkembangan nilai tukar, maupun

xii
perkembangan keuangan Pemerintah. Di samping itu terdapat juga satu asumsi yang mensyaratkan
adanya kestabilan sosial politik yang sangat penting bagi pemulihan kepercayaan terhadap
perekonomian nasional. Di awal tahun berbagai asumsi ini dirasakan cukup realistis mengingat tingkat
perkembangan harga yang sangat rendah dalam tahun 1999, pertumbuhan ekonomi yang masih
memiliki ruang gerak yang lebih tinggi karena baru bertumpu pada sektor konsumsi serta tersiratnya
nuansa optimisme terhadap kondisi sosial politik sehubungan dengan terpilihnya Pemerintah yang baru.
Sementara itu laju pertumbuhan perekonomian dunia yang tinggi memberikan peluang akan
membaiknya kinerja sektor eksternal Indonesia.
Perkembangan selama tahun 2000 menunjukkan terjadinya beberapa perubahan asumsi yang
cukup signifikan. Terdapat perubahan asumsi yang menggembirakan seperti laju pertumbuhan ekonomi
yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan awal. Namun ada juga perubahan asumsi yang kurang
menggembirakan seperti tekanan inflasi yang meningkat, nilai tukar rupiah yang melemah dan kondisi
sosial politik yang kurang menguntungkan untuk perekonomian.
Dalam kondisi ini, Bank Indonesia dituntut untuk melakukan respon kebijakan moneter yang bersifat
memaksimalkan perkembangan yang positif sementara menekan seminimal mungkin risiko yang ada.
Kita patut bersyukur bahwa dalam tahun 2000 laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai cukup tinggi,
yang ditunjang pula oleh perbaikan kinerja ekspor dan investasi. Bagi Indonesia yang sedang berusaha
memulihkan diri dari krisis, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi ini menunjukkan percepatan
pemulihan yang sangat dibutuhkan dalam melangkah lebih jauh kedepan, dan oleh karenanya sangat
mahal bagi Indonesia kalau proses pemulihan ini berjalan mundur. Di samping itu tentunya merupakan
harapan kita bahwa pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi ini dapat disertai dengan "economic
cost" –dalam hal ini laju inflasi– yang minimal agar pemulihan ekonomi dapat berkesinambungan.
Pilihan yang ditempuh Bank Indonesia dalam tahun 2000 oleh karenanya merupakan pilihan
kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias). Ini berarti kebijakan moneter diarahkan guna
menyerap kelebihan likuiditas agar tidak menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah,
namun dengan menghindari kenaikan suku bunga yang drastis dan berlebihan. Kenaikan suku bunga
yang drastis dan berlebihan dikhawatirkan akan mengancam kelangsungan proses restrukturisasi utang
dan perbankan yang sedang berjalan serta kesinambungan keuangan Pemerintah, yang pada akhirnya
dapat mengancam pemulihan perekonomian yang telah dengan susah payah kita usahakan.
Untuk itu Bank Indonesia telah berupaya semaksimal mungkin melakukan kebijakan moneter yang
mendorong kearah itu. Namun harus diakui pula bahwa dalam pelaksanannya, upaya ini menghadapi
permasalahan yang menyebabkan Bank Indonesia selaku otoritas moneter dihadapkan pada dilema.

xiii
Tekanan inflasi dan gejolak nilai tukar yang telah terasa sejak pertengahan tahun, yang menjadi dasar
asumsi sasaran inflasi, membuat Bank Indonesia harus berupaya agar tekanan tersebut tidak menjadi
persisten dan dapat menimbulkan ekspektasi inflasi yang tinggi. Namun di sisi lain harus pula diakui
bahwa upaya ini tidaklah mudah. Upaya pengetatan yang berlebihan dapat menjadi kontra produktif
terhadap pemulihan perekonomian. Disamping itu kondisi perbankan yang masih mengalami konsolidasi
menyebabkan transmisi moneter menjadi terganggu dan mengharuskan kehati-hatian yang lebih tinggi
dalam pelaksanaan kebijakan moneter.
Dalam upaya pengendalian uang primer, permasalahan menjadi bertambah kompleks dengan
terjadinya penyimpangan yang diamati dalam perilaku masyarakat dalam memegang uang kartal.
Uang kartal merupakan komponen penting dari uang primer yang merupakan sasaran indikatif Bank
Indonesia yang selalu diamati dari waktu ke waktu. Selama tahun 2000, uang kartal mengalami
peningkatan yang menonjol yang menyebabkan uang primer sulit dikendalikan ke level sasaran indikatif.
Terdapat beberapa penyebab yang dapat menjelaskan tingginya uang kartal tersebut yakni kebutuhan
uang kartal yang meninggi karena pertumbuhan perekonomian yang lebih cepat, inflasi dan ekspektasi
inflasi yang tinggi, serta suku bunga riil yang rendah yang membuat daya tarik penyimpanan dana di
bank menjadi kurang menarik, dan berdekatannya beberapa hari besar menjelang akhir tahun.
Permasalahan yang dihadapi transmisi moneter sehubungan dengan belum pulihnya intermediasi
perbankan hanya merupakan salah satu saja dari permasalahan yang terkait dengan penyehatan
perbankan nasional. Terlebih dari itu, penyehatan perbankan merupakan kunci dari kebangkitan
kembali perekonomian nasional secara keseluruhan.
Dalam tahun laporan ini berbagai langkah dan upaya telah dilakukan yang pada intinya
meneruskan dan memantapkan berbagai upaya penyehatan perbankan yang dilakukan bersama-
sama dengan lembaga lainnya seperti BPPN. Perkembangan yang menggembirakan dalam
restrukturisasi kredit diharapkan dapat menjadi stimulus bagi pemulihan dunia usaha di samping
membantu penyehatan perbankan itu sendiri. Di samping itu, tuntasnya proses rekapitalisasi perbankan
nasional merupakan langkah penting dalam tahun laporan. Bank Indonesia juga telah melakukan
berbagai penyempurnaan ketentuan perbankan yang intinya diarahkan bagi peningkatan praktek
perbankan yang sehat. Langkah ini telah dibarengi pula dengan upaya pemantapan pengawasan
bank dan peningkatan mutu pengelolaan bank. Kesemuanya ini diarahkan kepada peningkatan daya
tahan bank, pada tiap skala usahanya, yang sehat sebagai modal penting bagi perekonomian yang
berkesinambungan (sustainable).

xiv
Di tengah berbagai upaya yang dilakukan Bank Indonesia di atas, masih terdapat beberapa
permasalahan yang mengganggu yang terkait dengan pelaksanaan tugas Bank Indonesia di masa lalu,
khususnya dalam upaya Bank Indonesia, dan Pemerintah pada waktu itu, merespon krisis yang dihadapi.
Permasalahan BLBI sempat berlarut-larut dan mengganggu konsentrasi manajemen Bank Indonesia.
Untuk ini, penyelesaian BLBI yang telah disepakati antara Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan
dapat menjadi modal dasar agar masalah BLBI ini tidak terus membebani. Permasalahan lainnya yang
menonjol adalah permasalahan sekitar pelaksanaan Undang-undang No. 23 Tahun 1999 yang masih
belum dapat berjalan mulus sebagaimana diharapkan, khususnya menyangkut aspek independensi.
Menjelang akhir tahun 2000, masalah bahkan mengkristal dengan mencuatnya gagasan untuk
melakukan amandemen terhadap undang-undang yang belum berumur dua tahun ini. Munculnya
permasalahan ini telah pula menyita perhatian dan sumber daya Bank Indonesia yang tidak sedikit
selama tahun 2000.
Memandang ke tahun 2001 harus diakui bahwa permasalahan yang akan diahadapi merupakan
permasalahan yang kompleks dan saling terkait. Namun berbagai pengalaman dan pelajaran yang
dapat ditarik selama pelaksanaan tugas Bank Indonesia dalam tahun 2000 akan merupakan dasar yang
sangat berharga dalam pelaksanaan tugas Bank Indonesia di masa yang akan datang. Kesemuanya
ini dilakukan untuk melaksanakan tugas-tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral yang tidak hanya
independen tetapi juga accountable. Untuk ini Bank Indonesia akan bekerja keras untuk mencapai
sasaran laju inflasi tahun 2001, yakni 4,0–6,0% di luar dampak kebijakan Pemerintah di bidang harga dan
pendapatan, yang diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur tanggal 9 Januari 2001. Dalam konteks
ke depan (forward looking), adalah sangat penting untuk mencapai sasaran inflasi tersebut untuk
menekan tingkat ekspektasi inflasi masyarakat.
Komitmen Bank Indonesia adalah bahwa berbagai upaya tersebut dilakukan semata-mata demi
kepentingan nasional. Dalam hal ini saya juga melihat bahwa akuntabilitas Bank Indonesia haruslah
dilihat terhadap suatu kerangka kerja yang ditempuh oleh Bank Indonesia. Ini juga berarti akuntabilitas
terhadap keseluruhan rangkaian mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan proses evaluasi.
Upaya ini telah dimulai dari penetapan sasaran inflasi yang diikuti dengan melakukan pemantauan
secara mendalam terhadap perkembangan besaran moneter, dalam hal ini uang primer, yang terkait
dengan perkembangan perekonomian. Bank Indonesia telah pula melaksanakan Rapat Dewan
Gubernur bulanan dan triwulanan yang hasilnya diumumkan kepada masyarakat. Laporan triwulanan
kami sampaikan secara periodik kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

xv
Besar harapan kami bahwa berbagai upaya yang dilakukan Bank Indonesia tersebut, termasuk
kendala dan permasalahan yang dihadapi, dapat diterima disebagai perwujudan akuntabilitas Bank
Indonesia. Tidak dapat dipungkiri masih terdapat kekurangan yang dimiliki Bank Indonesia dalam
pelaksanaan tugasnya. Sebagian kekurangan tersebut bersifat internal dan untuk ini telah dilakukan
evaluasi dan Bank Indonesia bertekad untuk terus memperbaiki diri. Namun disadari bahwa sebagian
kekurangan tersebut juga terkait dengan kondisi di luar Bank Indonesia. Oleh karena itu kami
mengharapkan dukungan dari berbagai pihak agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia dapat berjalan
baik. Terhadap kekurangan dan kemajuan yang diperoleh, Bank Indonesia tidak akan berhenti sampai
di situ saja dan akan berupaya terus memantapkannya. Untuk ini berbagai saran dan kritik yang
konstruktif sangatlah diharapkan agar kualitas pelaksanaan tugas Bank Indonesia dapat lebih
ditingkatkan di masa yang akan datang.
Akhir kata, saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia, mengucapkan terima kasih kepada
seluruh Pimpinan dan Staf Bank Indonesia yang selama tahun 2000 ini, ditengah berbagai badai dan
cobaan, telah tetap bersabar dan bekerja secara profesional dalam mengemban amanat Undang-
undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Kepada pembaca saya harapkan kiranya Laporan
Tahunan Bank Indonesia ini dapat menjadi referensi yang berguna. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah
selalu melimpahkan ridhaNya dan memberikan kemudahan kepada kita semua dalam upaya kita
melangkah kedepan.

Jakarta, Februari 2001

BANK INDONESIA
GUBERNUR

Syahril Sabirin

xvi
Bab 1 Tinjauan Umum
b ab
Bab 1 Tinjauan Umum

1 Tinjauan Umum

M emasuki awal tahun 2000, perekonomian Indone-


sia diwarnai oleh nuansa optimisme yang cukup tinggi.
Tanda-tanda awal dari proses pemulihan ekonomi telah mulai
meningkatkan kegiatan usaha mereka, baik untuk memenuhi
konsumsi domestik maupun ekspor. Beberapa kemajuan juga
dicapai dalam proses restrukturisasi perbankan, penjadwalan
nampak sejak triwulan III tahun 1999. Stabilitas moneter juga kembali utang luar negeri pemerintah, serta penyelesaian ma-
terkendali, sebagaimana tercermin dari pencapaian tingkat salah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) antara Bank In-
inflasi yang rendah dan nilai tukar yang menguat hingga akhir donesia dan Pemerintah.
tahun 1999. Kondisi sosial-politik dan keamanan pada waktu Namun demikian, sejumlah permasalahan mendasar dan
itu sudah membaik, dengan proses pelaksanaan pemilihan faktor ketidakpastian masih berlanjut dan menjadi kendala bagi
pimpinan nasional yang dinilai berjalan lancar dan demokratis. proses pemulihan ekonomi secara lebih cepat dan
Berbagai perkembangan yang menggembirakan tersebut berkelanjutan. Dibandingkan dengan negara-negara Asia
telah memungkinkan terjadinya penurunan suku bunga lebih lainnya yang mengalami krisis serupa, proses pemulihan ekonomi
lanjut hingga akhir tahun 1999 dan menggairahkan pasar di Indonesia juga relatif lebih lambat. Secara mikro, masih
modal sehingga proses pemulihan ekonomi mendapatkan banyaknya kendala yang membatasi percepatan investasi
momentumnya kembali. swasta menimbulkan kekhawatiran akan kesinambungan
Dengan sejumlah perkembangan yang positif tersebut pemulihan ekonomi dalam jangka menengah. Ekspansi kredit
dan memperhatikan kondisi fundamental ekonomi terutama perbankan masih relatif terbatas meskipun secara umum kondisi
tingkat penggunaan kapasitas produksi nasional yang masih perbankan telah membaik. Kemajuan dalam proses
rendah serta perekonomian dunia yang kondusif, Bank Indo- restrukturisasi utang perusahaan dan utang luar negeri swasta
nesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai juga belum secepat yang diharapkan. Besar nya beban
3,0%–4,0% pada tahun 2000. Sejalan dengan itu, Bank Indone- pengeluaran pemerintah, terutama untuk pembayaran bunga
sia menetapkan sasaran laju inflasi di luar dampak kebijakan utang dan subsidi, mengakibatkan terbatasnya stimulus fiskal
pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 3,0%– untuk mendorong pemulihan ekonomi dan kekhawatiran akan
5,0%. Kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan kesinambungan fiskal dalam jangka menengah panjang.
tersebut diprakirakan dapat menimbulkan kenaikan laju inflasi Nuansa optimisme yang tinggi di awal tahun mengenai akan
sekitar 2,0% diatas sasaran tersebut. Untuk mencapai sasaran terjadinya perbaikan di bidang politik, keamanan, dan hukum
inflasi tersebut, pertumbuhan uang primer ditetapkan sebesar di dalam negeri ternyata juga belum dapat terwujud.
8,3% dari posisi target akhir tahun 1999. Dengan berbagai permasalahan mendasar dan faktor
Dalam perkembangannya, pada tahun 2000 beberapa ketidakpastian tersebut, proses pemulihan ekonomi selama
indikator menunjukkan bahwa proses pemulihan ekonomi tahun 2000 telah dibarengi dengan meningkatnya tekanan
nampak semakin menguat. Pertumbuhan ekonomi meningkat terhadap nilai tukar rupiah dan laju inflasi. Nilai tukar rupiah
lebih tinggi dari yang diprakirakan semula menjadi 4,8%. cenderung melemah dan bergejolak sejak bulan Mei 2000
Beberapa faktor seperti membaiknya permintaan domestik, sejalan dengan memanasnya kondisi politik dan keamanan
masih kompetitifnya nilai tukar rupiah, serta situasi ekonomi dalam negeri, di samping tekanan yang muncul dari
dunia yang membaik, telah memungkinkan sejumlah sektor kesenjangan permintaan dan penawaran di pasar valuta
ekonomi, termasuk sektor usaha kecil dan menengah (UKM), asing. Sementara itu, tekanan terhadap laju inflasi semakin

2
Bab 1 Tinjauan Umum

meningkat sehubungan dengan relatif lambatnya sisi terus dilakukan untuk menciptakan sistem pembayaran nasional
penawaran dalam mengimbangi kenaikan sisi permintaan yang efisien, cepat, aman dan handal guna mendukung
akibat berbagai permasalahan struktural ekonomi yang masih efektifitas pelaksanaan kebijakan moneter serta mendorong
ada. Tekanan inflasi juga muncul sebagai dampak dari upaya penciptaan sistem perbankan yang sehat.
kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, serta Ke depan, Bank Indonesia berpendapat bahwa proses
melemahnya nilai tukar rupiah. Berbagai perkembangan pemulihan ekonomi tahun 2001 akan tetap berlangsung. Per-
tersebut menyebabkan inflasi melampaui sasaran yang tumbuhan ekonomi diprakirakan dapat mencapai 4,5%–5,5%
ditetapkan pada awal tahun. dengan sumber pertumbuhan berasal dari masih relatif
Kondisi ekonomi dan inflasi seperti yang digambarkan baiknya kinerja ekspor dan meningkatnya investasi. Optimisme
di atas telah menyebabkan perumusan dan pelaksanaan ini didasarkan kepada asumsi akan semakin cepatnya proses
kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dalam tahun 2000 reformasi dan restrukturisasi ekonomi Indonesia di berbagai
menjadi lebih sulit dan dilematis. Di satu sisi, meningkatnya bidang, khususnya restrukturisasi utang perusahaan dan
tekanan inflasi dan nilai tukar rupiah menuntut Bank Indonesia semakin pulihnya intermediasi perbankan. Di samping itu,
untuk melakukan pengetatan di bidang moneter. Akan tetapi, proses alokasi dan penggunaan sumber daya secara lebih
di sisi lain pengetatan moneter ini tidak dapat dilakukan secara efisien diperkirakan akan terus berlanjut dengan dukungan
drastis dan berlebihan karena akan mengancam kelang- daya saing rupiah yang kompetitif dan perkembangan
sungan proses penyehatan perbankan dan restrukturisasi ekonomi dunia yang diprakirakan tetap kondusif dalam tahun
perusahaan yang masih rentan. Kegagalan dalam bidang- 2001. Secara keseluruhan, apabila kondisi sosial-politik dan
bidang tersebut pada gilirannya dapat menyebabkan keamanan di dalam negeri semakin membaik, Bank Indone-
hilangnya kepercayaan publik terhadap prospek pemulihan sia memandang kecenderungan perbaikan ekonomi dalam
ekonomi secara keseluruhan. Hal ini dapat menjadi pemicu negeri akan mendapatkan momentum yang lebih kuat.
bagi kembalinya lingkaran depresiasi nilai tukar dan kenaikan Dengan memperhatikan perkembangan dan prospek
laju inflasi (depreciation–inflation spiral) seperti yang terjadi makroekonomi serta mempertimbangkan perkembangan
pada puncak krisis ekonomi yang lalu. harga yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, Bank
Dalam menyikapi perkembangan inflasi, nilai tukar dan Indonesia menetapkan sasaran laju inflasi tahun 2001 di luar
ekonomi seperti di atas, Bank Indonesia memilih untuk menempuh dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan
kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias), terutama pendapatan sebesar 4,0%–6,0%. Sementara itu, dampak
sejak Mei 2000. Artinya, kebijakan moneter tetap diarahkan untuk kebijakan Pemerintah Pusat di bidang harga dan pendapatan
menyerap kelebihan likuiditas dalam perekonomian agar tidak diprakirakan dapat menimbulkan tambahan kenaikan laju
menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah, inflasi sekitar 2,0%–2,5% di atas sasaran tersebut.
namun dengan menghindari kenaikan suku bunga yang drastis Untuk mencapai sasaran laju inflasi tersebut, Bank In-
dan berlebihan. Sasaran moneter yang ditetapkan pada awal donesia akan mengendalikan pertumbuhan uang primer
tahun perlu disesuaikan dengan perkembangan perekonomian agar sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian. Dalam
yang ternyata lebih cepat dari yang diasumsikan semula. Upaya hubungan ini, Bank Indonesia menetapkan sasaran per-
di bidang moneter ini telah dibarengi dengan kebijakan tumbuhan uang primer hingga akhir tahun 2001 sebesar
perbankan yang tetap difokuskan pada upaya memperlancar 11,0%–12,0%. Sasaran pertumbuhan ini dihitung berdasarkan
program penyehatan lembaga perbankan dan program perkembangan uang primer bulan Desember 2000, dengan
peningkatan ketahanan industri perbankan di masa depan. Di melakukan koreksi atas unsur musiman yang cukup signifikan
bidang sistem pembayaran, berbagai upaya penyempurnaan pada bulan tersebut.

3
Bab 1 Tinjauan Umum

Untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, Bank Indone- Berbeda dengan tahun 1999 yang hanya didorong oleh

sia memandang perlu untuk sementara waktu mem- pengeluaran konsumsi, sumber-sumber pertumbuhan ekonomi

pertahankan kebijakan moneter yang cenderung ketat pada tahun 2000 menjadi lebih seimbang. Dengan didukung

dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter. Bank oleh nilai tukar yang kompetitif, ekspor nonmigas menjadi

Indonesia akan terus memantau perkembangan harga-harga pendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kegiatan investasi

dan nilai tukar rupiah dengan tetap mengupayakan penca- mulai meningkat. Peningkatan ini antara lain didorong oleh

paian sasaran inflasi guna mendukung proses pemulihan mulai tersedianya pembiayaan dari sisi perbankan di samping

ekonomi yang berkesinambungan. Sementara itu, di bidang tetap besarnya penggunaan dana sendiri (self financing).

perbankan, kebijakan Bank Indonesia akan diarahkan pada Tingkat penggunaan kapasitas pada beberapa sektor produksi

upaya untuk memelihara hasil dari program restrukturisasi bahkan telah mencapai tingkat yang tinggi guna memenuhi

perbankan serta untuk memperbaiki fungsi intermediasi bank, konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Sementara itu,

dengan tetap mengacu kepada asas kehati-hatian dalam pengeluaran konsumsi juga tetap meningkat sejalan dengan

pengelolaan perbankan nasional. Untuk mendukung efektivitas perbaikan tingkat pendapatan pada sebagian lapisan

pelaksanaan kebijakan moneter dan mempercepat pemu- masyarakat, baik yang berasal dari upah/gaji maupun ekspor.

lihan sektor perbankan, kebijakan di bidang sistem pembaya- Sumbangan ekspor, investasi, dan konsumsi terhadap

ran akan diarahkan untuk mempercepat pengembangan dan pertumbuhan PDB pada tahun 2000 masing-masing mencapai

pelaksanaan sistem pembayaran nasional yang efisien, akurat, 3,9%, 3,6%, dan 3,1%. Kuatnya kinerja ekspor dan peran investasi

aman, dan handal melalui peningkatan mutu pelayanan jasa yang meningkat dalam pembentukan PDB mengindikasikan

sistem pembayaran. semakin mantapnya proses pemulihan ekonomi yang terjadi.


Di sisi penawaran, semua sektor dalam perekonomian

Evaluasi Perekonomian Indonesia tahun 2000 mencatat pertumbuhan positif. Dengan dorongan permintaan
Kondisi Makroekonomi baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, sektor industri
Secara keseluruhan, selama tahun 2000 perekonomian In- pengolahan, sektor perdagangan dan sektor pengangkutan
donesia menunjukkan pemulihan ekonomi yang semakin menjadi motor pertumbuhan dengan sumbangan terhadap
kuat dengan pola pertumbuhan ekonomi yang semakin pertumbuhan PDB masing masing sebesar 1,6%, 0,9%, dan 0,7%.
seimbang. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun Sektor industri pengolahan pada tahun 2000 mencatat
2000 mencapai 4,8%, lebih tinggi dari prakiraan awal tahun pertumbuhan sebesar 6,2%, sementara sektor perdagangan
Bank Indonesia sebesar 3,0%–4,0%. Sejumlah kemajuan juga serta sektor pengangkutan masing-masing meningkat sebesar
dicapai dalam proses penyelesaian utang luar negeri 5,7% dan 9,4% (Tabel 1.1).
pemerintah, telah selesainya program rekapitalisasi Di sektor eksternal, kinerja neraca pembayaran pada
perbankan, serta telah dicapainya kesepakatan dalam tahun 2000 tetap menunjukkan perkembangan yang
penyelesaian masalah BLBI antara Pemerintah dan Bank menggembirakan. Perkembangan transaksi berjalan
Indonesia. Namun demikian, kecepatan proses pemulihan sepanjang tahun 2000 bahkan mencatat surplus yang cukup
ekonomi tersebut dibatasi dengan masih berlanjutnya besar yakni mencapai $7,7 miliar (5,0% dari PDB), atau
beberapa permasalahan mendasar dalam perekonomian, meningkat $1,9 miliar dari tahun sebelumnya. Surplus dalam
terutama berkaitan dengan lambatnya restrukturisasi utang transaksi berjalan ini tidak hanya didorong oleh membaiknya
perusahaan, belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan, neraca perdagangan migas, namun juga didorong oleh
dan relatif terbatasnya stimulus fiskal bagi pertumbuhan membaiknya kinerja ekspor nonmigas, khususnya dari sektor
ekonomi. barang industri dengan komoditi utama barang elektronik

4
Bab 1 Tinjauan Umum

ekonomi Indonesia. Dengan perkembangan tersebut, neraca


Tabel 1.1
pembayaran Indonesia secara keseluruhan mengalami surplus
Beberapa Indikator Makroekonomi
sebesar $5,0 miliar. Posisi cadangan devisa bruto pada akhir
1998 1999 2000
Rincian Desember 2000 meningkat menjadi $29,3 miliar, atau setara
Pertumbuhan tahunan (%)
dengan 6,3 bulan nilai impor dan pembayaran cicilan
Produk Domestik Bruto Riil –13,1 0,8* 4,8**
(a.d. tahun dasar 1993)
pinjaman pemerintah.
Menurut pengeluaran Dalam rangka mengurangi beban pembayaran utang
Konsumsi –7,1 4,3 3,9
Pembentukan modal tetap luar negeri pemerintah, pada tahun laporan telah dilakukan
domestik bruto –33,0 –19,4 17,9
Ekspor barang dan jasa 11,2 –31,6 16,1 pertemuan Paris Club II pada tanggal 12 dan 13 April 2000.
Impor barang dan jasa –5,3 –40,7 18,2
Dalam pertemuan tersebut berhasil disetujui penjadwalan
Menurut lapangan usaha
Pertanian –1,3 2,7 1,7
kembali pembayaran utang pokok pemerintah sebesar $5,8
Pertambangan dan penggalian –2,8 –2,4 2,3 miliar, yaitu pinjaman yang jatuh tempo 1 April 2000 s.d. 31
Industri pengolahan –11,4 3,8 6,2
Listrik, gas, dan air bersih 3,0 8,3 8,8 Maret 2002. Di samping itu, sebagai kelanjutan dari hasil
Bangunan –36,4 –0,8 6,7
Perdagangan, hotel, dan restoran –18,2 0,1 5,7 perundingan dalam kerangka London Club, pada bulan Sep-
Pengangkutan dan komunikasi –15,1 –0,8 9,4
Keuangan, persewaan, tember 2000 telah berhasil dijadwalkan kembali pembayaran
dan jasa perusahaan –26,6 –7,5 4,7
Jasa-jasa –3,8 1,9 2,2
utang pokok pinjaman komersial yang diterima dari sindikasi
bank-bank di luar negeri sebesar $340 ,0 juta.
Moneter
Uang Primer 63,0 35,5 23,4 Dalam pada itu, langkah restrukturisasi utang luar negeri
M2 62,3 11,9 15,6
M1 29,2 23,2 30,1 swasta juga dilakukan. Restrukturisasi utang swasta bank yang
Uang Kuasi 71,7 9,5 12,1
berhasil dilakukan melalui program exchange offer (EO)
Suku Bunga (%)
SBI 1 bulan 38,4 12,5 14,5
mencapai $6,3 miliar. Sementara itu, restrukturisasi utang swasta
PUAB overnight 33,4 12,1 11,4 bukan bank yang berhasil dilakukan melalui Prakarsa Jakarta
Deposito 1bulan 41,4 12,2 12,0
Kredit modal kerja 34,7 20,7 17,7 (Jakarta Initiative Task Force/JITF) sampai dengan tahun 2000
Kredit Investasi 26,2 17,8 16,9
mencapai $9,4 miliar, atau 93,6% dari target sebesar $10 miliar.
Inflasi 77,6 2,01 9,35
Utang swasta bukan bank yang direstrukturisasi melalui JITF
Neraca Pembayaran
Transaksi berjalan/PDB (%) 4,2 4,1 5,0
terdiri dari utang luar negeri dan dalam negeri.
Debt service ratio (DSR) (%) 57,9 56,8 44,8 Di sektor fiskal, realisasi defisit operasi keuangan
Cadangan devisa setara impor
nonmigas dan cicilan pinjaman pemerintah dalam tahun 2000 diperkirakan sebesar 3,2% dari
pemerintah (bulan) 5,7 6,7 6,3
PDB, atau lebih rendah dari rencana defisit sebesar 4,8% dari
Nilai Tukar rata-rata (Rp/$) 10.088 7.850 8.400
PDB. Rasio realisasi penerimaan ter hadap anggaran
Sumber :
– Badan Pusat Statistik penerimaan mencapai 127,0%, lebih tinggi dari rasio realisasi
– Bank Indonesia
pengeluaran terhadap anggaran pengeluaran yang mencapai
113,6%. Defisit anggaran tahun 2000 dibiayai dari penjualan aset
serta sektor pertambangan dengan komoditi utama program restrukturisasi perbankan dan penarikan pinjaman luar
tembaga dan nikel. negeri. Relatif tingginya total penerimaan pemerintah
Di sisi lain, belum pulihnya arus modal swasta asing mengurangi kebutuhan pemerintah akan penarikan pinjaman
mengakibatkan lalu lintas modal masih mengalami defisit luar negeri untuk menutup kekurangan pembiayaan anggaran.
sebesar $4,6 miliar. Hal ini terutama berkaitan dengan belum Penarikan pinjaman luar negeri bersih hanya mencapai 62,0%
pulihnya kepercayaan internasional akan prospek pemulihan dari rencana semula. Perkembangan tersebut telah

5
Bab 1 Tinjauan Umum

memungkinkan Pemerintah memperbaiki struktur fiskal yang piah rata-rata mencapai Rp8.400 per dolar AS, lebih tinggi dari
mengarah lebih berkesinambungan dalam jangka menengah- asumsi yang dipergunakan dalam penetapan sasaran inflasi
panjang, meskipun dengan implikasi lebih terbatasnya stimulus yakni sebesar Rp7.000 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai
fiskal untuk pemulihan ekonomi dalam jangka pendek. tukar rupiah meningkat terutama sejak bulan April 2000 sebagai
Faktor utama yang menyebabkan terlampauinya akibat perkembangan politik dan keamanan menjelang
sasaran penerimaan adalah tingginya harga minyak mentah Sidang Tahunan MPR Agustus 2000, menguatnya mata uang
Indonesia di pasar internasional selama tahun anggaran 2000 dolar AS terhadap hampir semua mata uang utama dunia,
yang mencapai rata-rata $29,1 per barel, lebih tinggi dari dan besarnya permintaan valuta asing untuk pembayaran
asumsi semula sebesar $20,0 per barel. Kenaikan harga migas utang luar negeri. Berbagai tekanan terhadap rupiah tersebut
tersebut juga meningkatkan penerimaan pajak, khususnya telah mengakibatkan kurs rupiah menjadi terlalu rendah (un-
pajak penghasilan (PPh) migas yang disetorkan ke dervalued) dan tidak sesuai dengan perkembangan fun-
Pemerintah. Realisasi tax ratio tahun 2000 mencapai 11,8% damental perekonomian.
dari PDB nominal, lebih tinggi dari sasaran dalam APBN tahun Secara umum, kecenderungan melemahnya nilai tukar
2000 sebesar 11,1%. Sementara itu, realisasi tax ratio tanpa rupiah tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya
PPh migas hampir sama dengan sasarannya, yakni sekitar kepercayaan masyarakat terhadap prospek pemulihan
10,0% dari PDB. ekonomi akibat berbagai faktor internal maupun eksternal.
Dari sisi pengeluaran, hampir 75,0% dari realisasi Faktor internal yang menyebabkan depresiasi rupiah terkait
pengeluaran pemerintah dialokasikan untuk pengeluaran dengan masih terbatasnya pasokan valuta asing di pasar
yang bersifat wajib seperti belanja pegawai, pembayaran sebagai akibat dari masih rendahnya arus modal masuk swasta
bunga utang dan subsidi. Belanja pegawai mengalami dan tidak kembali sepenuhnya hasil devisa ekspor ke dalam
peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya negeri, sementara tekanan permintaan valuta asing dari sektor
sebagai akibat kebijakan pemerintah untuk menaikkan gaji swasta khususnya dalam rangka pelunasan utang luar negeri
pegawai negeri sebesar 15,0% masing-masing pada bulan yang jatuh tempo. Selain itu, sentimen negatif pasar terhadap
April dan Oktober 2000. Peningkatan pembayaran subsidi, gejolak politik dan keamanan dalam negeri juga memperburuk
khususnya subsidi BBM, merupakan akibat kenaikan harga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
minyak, depresiasi rupiah, kenaikan impor BBM, serta Dari sisi eksternal, kecenderungan meningkatnya suku
penundaan pelaksanaan pengurangan subsidi. Sementara bunga internasional dan gejala menguatnya dolar AS dalam
itu, peningkatan pembayaran beban utang selain skala global serta gejolak nilai tukar regional dalam tahun 2000
diperuntukkan bagi pembayaran bunga utang luar negeri, telah turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
juga ditujukan untuk pembayaran bunga obligasi dalam Disamping itu, tingginya gejolak rupiah juga dimungkinkan
rangka rekapitalisasi perbankan. karena pelaku pasar nonresiden semakin aktif dalam
perdagangan rupiah di pasar off-shore sejalan dengan
Nilai Tukar dan Inflasi meningkatnya internasionalisasi rupiah. Dengan likuiditas
Seperti telah disinggung sebelumnya, dengan masih ber- valuta asing yang sangat terbatas menyebabkan kondisi pasar
lanjutnya beberapa permasalahan struktural dalam valuta asing sangat tipis, sehingga adanya tekanan-tekanan
perekonomian dan meningkatnya faktor ketidakpastian di kecil di sisi permintaan telah menimbulkan lonjakan-lonjakan
dalam negeri, proses pemulihan ekonomi selama tahun 2000 yang tajam dalam nilai tukar. Dalam perkembangannya, reaksi
ternyata dibarengi oleh meningkatnya tekanan terhadap pasar cenderung bersifat asimetris, dengan kecenderungan
inflasi dan nilai tukar rupiah. Selama tahun 2000, nilai tukar ru- reaksi yang berlebihan terhadap berita negatif.

6
Bab 1 Tinjauan Umum

Akselerasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari yang di dalam negeri dengan tetap mengupayakan pencapaian
diprakirakan juga telah meningkatkan tekanan kenaikan harga sasaran laju inflasi yang menjadi tujuan Bank Indonesia guna
terutama sejak pertengahan tahun 2000. Tekanan inflasi muncul mendukung proses pemulihan ekonomi yang ber-
karena dorongan permintaan agregat yang tinggi tidak kesinambungan.
sepenuhnya dapat diimbangi dengan kenaikan sisi penawaran Dalam perkembangannya, laju inflasi IHK tahun 2000
agregat sebagai akibat masih adanya berbagai permasalahan mencapai 9,35% (y.o.y), lebih tinggi daripada laju inflasi pada
struktural dalam perekonomian. Tekanan inflasi menjadi lebih tahun 1999 sebesar 2,01%. Kebijakan pemerintah di bidang
tinggi lagi dengan adanya kebijakan pemerintah untuk harga dan pendapatan selama tahun 2000 diperkirakan telah
mengurangi berbagai subsidi guna mendorong pembentukan memberikan kontribusi terhadap inflasi sebesar 3,42%, lebih
harga berdasarkan mekanisme pasar, melemahnya nilai tukar besar dari 2,0% seperti yang diperkirakan semula. Hal ini
rupiah, serta tingginya ekspektasi inflasi di masyarakat. Berbagai disebabkan oleh belum teridentifikasikannya sejumlah
perkembangan tersebut mengakibatkan kecenderungan kebijakan di awal tahun, lebih besarnya sebagian kenaikan
kenaikan harga-harga menjadi sulit diredam dengan segera tarif daripada yang diperkirakan, dan adanya perubahan pola
karena sifatnya yang menetap (persistent). implementasi kebijakan. Dengan demikian, laju inflasi dalam
Adanya tekanan inflasi yang tinggi di tengah-tengah tahun laporan di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang
proses pemulihan ekonomi yang baru berjalan mengakibatkan harga dan pendapatan tersebut diperkirakan sebesar 5,93%.
kebijakan moneter Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi Angka laju inflasi ini masih melampaui sasaran inflasi Bank In-
menjadi dilematis. Di satu sisi, upaya menjaga kestabilan donesia tahun 2000 yang ditetapkan sebesar 3,0%–5,0%.
moneter membutuhkan langkah-langkah pengetatan
moneter agar pembentukan ekspektasi inflasi sedapat Kebijakan dan Perkembangan Moneter
mungkin dibendung sejak awal. Namun di sisi lain, upaya Meningkatnya tekanan terhadap inflasi dan melemahnya
pengetatan moneter yang seketika dan berlebihan dapat nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia menempuh
menumpulkan kembali insiatif-inisiatif dari dunia usaha dan kebijakan moneter yang cenderung ketat terutama sejak
masyarakat pada umumnya untuk melakukan kegiatan usaha. bulan Mei 2000. Kebijakan ini ditempuh guna mencapai laju
Implementasi kebijakan tersebut menjadi semakin sulit inflasi yang cukup rendah yang memiliki arti penting bagi
mengingat Bank Indonesia menghadapi keterbatasan dalam kelangsungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang
mengendalikan permintaan agregat perekonomian sehu- dengan tetap mempertimbangkan dampaknya secara mini-
bungan dengan belum normalnya transmisi kebijakan moneter mal terhadap proses pemulihan perbankan, penyelesaian
ke sektor riil. Belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan utang, dan pemulihan perekonomian yang sedang
mengakibatkan adanya ekses likuiditas di perbankan, berlangsung.
sehingga sinyal kebijakan moneter yang cenderung ketat tidak Pada tahun 2000, penetapan sasaran indikatif uang
direspons oleh perbankan dengan peningkatan suku bunga primer dilakukan dengan memperhitungkan beberapa asumsi
yang sepadan. Dalam kondisi demikian, pengendalian besaran perekonomian yaitu sasaran inflasi, pertumbuhan
permintaan agregat sebagaimana direncanakan semula perekonomian, dan nilai tukar. Berkaitan dengan asumsi-asumsi
memerlukan kenaikan suku bunga yang sangat besar. Namun tersebut, Bank Indonesia menetapkan target pertumbuhan
langkah tersebut dikhawatirkan dapat mengancam proses uang primer tahun 2000 sebesar 8,3%. Target ini menyiratkan
pemulihan ekonomi secara keseluruhan. adanya sikap optimis terhadap pulihnya kegiatan ekonomi
Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia selama tahun dengan tetap memperhatikan tekanan-tekanan inflasi yang
2000 terus menerus memantau perkembangan harga-harga dapat timbul.

7
Bab 1 Tinjauan Umum

Namun dalam pelaksanaannya, upaya Bank Indonesia mengembalikan posisi uang primer ke sasaran indikatif. Dilema
dalam menjaga uang primer selama tahun 2000 mengalami tersebut terkait dengan pertanyaan apakah kebijakan
beberapa kendala yang terutama berasal dari tidak sesuainya moneter akan tetap mengikuti arah seperti direncanakan di
asumsi-asumsi yang mendasari perhitungan target uang awal tahun, ataukah perlu disesuaikan kembali untuk
primer. Dalam realisasinya PDB tumbuh lebih cepat dari yang mendukung proses pemulihan ekonomi yang baru berjalan
diprakirakan, sementara nilai tukar mengalami tekanan dengan konsekuensi mengorbankan pencapaian sasaran laju
depresiasi yang lebih besar daripada prakiraan awal tahun. inflasi yang telah ditetapkan. Dalam kondisi seperti ini, Bank
Perkembangan uang primer cenderung terus meningkat dan Indonesia memilih menempuh kebijakan moneter yang
berada di atas target indikatif yang ditetapkan awal tahun, diarahkan untuk menyerap kelebihan likuiditas agar tidak
terutama sejak bulan Mei 2000. Peningkatan uang primer yang menambah tekanan terhadap inflasi dan melemahnya nilai
sangat besar terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar tukar. Namun demikian upaya menstabilkan kembali laju inflasi
Rp25,4 triliun dari posisi akhir November 2000 sebesar Rp100,2 dan nilai tukar dilakukan dengan tetap menjaga agar
triliun. Dengan perkembangan tersebut, posisi uang primer kenaikan suku bunga secara drastis dan berlebihan dapat
pada akhir Desember 2000 mencapai Rp125,6 triliun, atau dihindarkan.
23,4% lebih tinggi daripada posisi akhir tahun sebelumnya. Dalam menjalankan kebijakan moneter, Bank Indonesia
Dilihat dari komponennya, tingginya kenaikan uang terutama menggunakan piranti Operasi Pasar Terbuka (OPT)
primer disebabkan oleh kuatnya permintaan uang kartal. dalam bentuk penjualan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan
Tingginya permintaan uang kartal selain disebabkan oleh transaksi intervensi rupiah di pasar uang. Strategi pengendalian
tingginya kegiatan ekonomi dalam tahun 2000 juga dikarenakan moneter melalui OPT tersebut juga dibarengi dengan langkah-
kecenderungan menurunnya tingkat suku bunga riil deposito. langkah untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah yang
Hal ini mengingat belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan berlebihan. Langkah kebijakan yang telah ditempuh antara lain
sehingga sinyal kebijakan moneter tidak direspon secara adalah operasi sterilisasi di pasar valuta asing guna menyerap
sepadan oleh perbankan. Di samping itu, tingginya permintaan ekspansi pengeluaran rupiah pemerintah yang dibiayai dengan
uang kartal juga disebabkan oleh tindakan berjaga-jaga dana yang berasal dari luar negeri. Di samping itu, Bank Indone-
masyarakat seiring dengan tingginya faktor ketidakpastian sia juga melakukan pengawasan langsung pada sejumlah bank
selama tahun laporan serta pengaruh faktor musiman yang guna meningkatkan kepatuhan perbankan terhadap ketentuan
terutama terjadi pada Desember 2000 sehubungan dengan kehati-hatian yang terkait dengan transaksi valuta asing, serta
berlangsungnya sejumlah hari raya keagamaan secara monitoring terhadap rekening vostro sebagai langkah awal
bersamaan, berakhirnya tahun fiskal, serta lebih panjangnya hari menuju pembatasan transaksi rupiah oleh non-residen.
libur akhir tahun 2000. Berbagai faktor tersebut menyebabkan Kebijakan moneter yang cenderung ketat tercermin
posisi uang kartal mencapai Rp72,4 triliun atau tumbuh sebesar dari peningkatan suku bunga SBI secara bertahap untuk
24,0% pada akhir Desember 2000. Sementara itu posisi saldo memberikan sinyal kepada pasar akan perlunya mengurangi
positif bank pada Bank Indonesia selama tahun 2000 tidak tekanan laju inflasi dan melemahnya nilai tukar. Setelah
mengalami perubahan yang berarti. Dari faktor yang sempat menurun dari 11,48% pada akhir Januari menjadi
mempengaruhi uang primer, kenaikan uang primer ini 10,88% pada bulan Mei, suku bunga SBI 1 bulan kemudian
disebabkan oleh ekspansi tagihan bersih kepada Pemerintah berangsur-angsur meningkat sehingga pada akhir Desember
(NCG) dan operasi pasar terbuka (OPT) sepanjang tahun 2000. telah mencapai 14,53%. Namun demikian, peningkatan suku
Berkaitan dengan pengendalian uang primer, Bank bunga SBI tersebut tidak diikuti oleh peningkatan suku bunga
Indonesia menghadapi dilema khususnya dalam upaya untuk deposito secara sepadan sehubungan dengan tingginya

8
Bab 1 Tinjauan Umum

ekses likuiditas bank-bank sebagai akibat belum berjalannya Dengan telah selesainya program rekapitalisasi, maka
fungsi intermediasi perbankan secara normal. diharapkan permodalan bank sudah tidak lagi menjadi
Dengan perkembangan tersebut, suku bunga riil depo- kendala bagi penyehatan perbankan dan obligasi tersebut
sito perbankan di tahun 2000 cenderung menunjukkan dapat menjadi salah satu sumber pendanaan bank dengan
penurunan dan mencapai 2,56% pada akhir tahun 2000. cara menjual atau mengagunkannya. Untuk meningkatkan
Penurunan suku bunga deposito ini mencerminkan penurunan perdagangan obligasi pemerintah di pasar sekunder,
opportunity cost memegang uang kartal dan selanjutnya Pemerintah telah melakukan upaya untuk meningkatkan daya
mendorong terjadinya proses penyesuaian portofolio (portfo- tarik obligasi pemerintah, antara lain melalui program
lio adjustment) kearah aset-aset yang lebih likuid di masyarakat. pertukaran obligasi pemerintah (bond exchange offer). Pro-
Selama tahun 2000, deposito dan tabungan di perbankan gram ini dilakukan dengan menawarkan penukaran obligasi
mengalami pertumbuhan yang menurun, sementara uang giral rekap yang dimiliki bank (FR 001 dan 003) dengan stapled
dan uang kartal sebaliknya menunjukkan peningkatan bonds (FR 006, 007, 008 dan 009) dengan tujuan agar aktivitas
pertumbuhan. Perkembangan ini dengan sendirinya ber- perdagangan obligasi pemerintah dapat menjadi lebih
pengaruh kepada meningkatnya laju pertumbuhan uang menarik bagi investor dan membantu bank-bank rekap dalam
primer dan M1 terutama pada akhir periode, sementara laju pemenuhan kebutuhan likuiditasnya.1)
pertumbuhan M2 mengalami penurunan. Penyempurnaan ketentuan perbankan ditujukan untuk
meningkatkan praktek-praktek perbankan yang berdasarkan
Kebijakan dan Perkembangan Perbankan prinsip kehati-hatian sesuai dengan standar internasional.
Dalam tahun 2000, sebagai kelanjutan dari kebijakan tahun Penyempurnaan tersebut meliputi fit and proper test, exit
sebelumnya, kebijakan perbankan tetap difokuskan pada upaya policy, BMPK, restrukturisasi kredit, penilaian aktiva produktif,
memperlancar program penyehatan lembaga perbankan dan kelembagaan bank umum, pendanaan jangka pendek,
program peningkatan ketahanan industri perbankan di masa perdagangan portofolio obligasi dan bank syariah. Ketentuan
depan. Program penyehatan lembaga perbankan meliputi exit policy merupakan penyempurnaan kebijakan dalam
penjaminan pemerintah bagi bank umum dan BPR, rekapitalisasi penanganan bank bermasalah yang lebih transparan dengan
perbankan, restrukturisasi kredit perbankan dan pemulihan fungsi menetapkan kriteria bank yang dikategorikan dalam
intermediasi perbankan. Sementara itu, upaya meningkatkan pengawasan khusus dan tindakan-tindakan korektif yang harus
ketahanan sistem perbankan difokuskan pada pengembangan diselesaikan dalam periode tertentu dan kriteria bank untuk
infrastruktur perbankan, peningkatan mutu pengelolaan dialihkan menjadi Bank Dalam Penyehatan di bawah
perbankan (good governance) serta penyempurnaan sistem pengawasan BPPN.
pengaturan dan pengawasan bank. Dalam rangka pemantapan pengawasan bank, Bank
Berkaitan dengan program rekapitalisasi, Pemerintah Indonesia telah menyempurnakan sistem pengawasan yang
bersama Bank Indonesia telah menyelesaikan program reka- semula terfokus pada compliance based supervision diperluas
pitalisasi perbankan pada 31 Oktober 2000, seiring dengan menjadi pengawasan yang berbasis risiko (risk based supervi-
telah selesainya rekapitalisasi enam bank umum (BNI, BRI, BTN,
Bank Niaga, Bank Bali dan Bank Danamon). Jumlah obligasi
1) Stapled Bonds adalah suatu paket obligasi yang terdiri dari dua jenis
yang diterbitkan selama tahun 2000 mencapai Rp148,6 triliun, obligasi. Obligasi jenis pertama (FR 006 dan 008) memberikan kupon
sesuai dengan yield yang diharapkan pasar (market expected yield)
sehingga total obligasi pemerintah yang diterbitkan dalam yaitu sebesar 16,5%, sementara obligasi jenis kedua (FR 007 dan 009)
rangka program rekapitalisasi perbankan adalah sebesar memberikan kupon sebesar 10,0%. Meskipun demikian, rata-rata
tertimbang kupon dua jenis obligasi tersebut adalah sama dengan
Rp430,4 triliun. kupon obligasi rekap yang dipertukarkan yaitu sebesar 12,5%.

9
Bab 1 Tinjauan Umum

sion) dan berorientasi ke depan yang mengacu pada standar Meskipun mencatat perbaikan yang cukup berarti, per-
internasional. Dalam kaitan tersebut Bank Indonesia telah bankan masih menghadapi beberapa tantangan seperti be-
menempatkan tenaga pengawas dalam rangka On-site Su- lum pulihnya fungsi intermediasi perbankan secara normal. Hal
pervisory Presence pada beberapa bank. Sementara itu, untuk ini antara lain disebabkan oleh masih tingginya faktor risiko dan
lebih meningkatkan kemampuan tenaga pengawas bank ketidakpastian serta proses restrukturisasi kredit yang belum ber-
serta penanganan tugas pengawasan khusus (Special jalan sepenuhnya. Dengan masih terbatasnya penyaluran kre-
Surveilance) telah dilakukan pelatihan-pelatihan dan dit, ekses likuiditas yang dialami perbankan lebih banyak dita-
persiapan untuk pelaksanaan consolidated supervision. namkan pada SBI, antar bank aktiva serta surat-surat berharga
Sementara itu, upaya peningkatan mutu pengelolaan lainnya. Hal ini perlu diwaspadai karena tidak dapat menjamin
perbankan (good governance) dimaksudkan untuk mening- kesinambungan kinerja perbankan di masa mendatang.
katkan kompetensi dan integritas bankir melalui pelaksanaan Berkaitan dengan restrukturisasi kredit perbankan,
fit and proper test, wawancara terhadap calon pemilik dan berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan oleh Satgas
pengurus (new entry) serta penunjukan compliance director Restrukturisasi Kredit Bank Indonesia maupun oleh BPPN.
yang bertanggung jawab atas kepatuhan bank terhadap Langkah-langkah penyempurnaan oleh Satgas Restrukturisasi
ketentuan kehati-hatian yang berlaku. Kredit Bank Indonesia mencakup upaya untuk meningkatkan
Dalam tahun 2000, berbagai kebijakan pokok yang koordinasi kelembagaan dengan BPPN dan Prakarsa Jakarta,
telah ditempuh di atas telah menunjukkan hasil dengan koordinasi internal Bank Indonesia, serta kemampuan
adanya berbagai kemajuan dalam kinerja perbankan profesional satgas dalam proses mediasi restrukturisasi kredit.
nasional. Dengan selesainya program rekapitalisasi perbankan Penyempurnaan strategi untuk mempercepat restrukturisasi
pada akhir Oktober 2000, permodalan bank yang pada tahun kredit juga dilakukan oleh BPPN terutama dengan penge-
1999 masih negatif telah membaik hingga mencapai Rp53,5 lompokkan kredit berdasarkan prospek usaha dan potensi
triliun pada Desember 2000 sehingga meningkatkan capital pengembaliannya, itikad debitur, dan pemberian sanksi bagi
adequacy ratio (CAR) bank. Sementara itu penghimpunan debitur tidak kooperatif dan insentif bagi debitur kooperatif.
dana bank yang menunjukkan peningkatan sudah mulai diikuti Di samping itu, untuk mempercepat restrukturisasi kredit di ba-
pula dengan peningkatan penyaluran kredit. Hingga wah Rp5 miliar, BPPN memberikan insentif dalam bentuk diskon
Desember 2000, non-performing loans (NPLs) juga telah bunga (25,0%–50,0%), diskon denda (100,0%), dan penjualan
membaik hingga mencapai 18,8% secara gross atau 5,8% kredit.
secara netto,2) yang disebabkan oleh pengalihan kredit ber- Dalam perkembangannya, sampai dengan Desember
masalah ke BPPN, restrukturisasi kredit dan penyaluran kredit 2000, jumlah kredit yang telah direstrukturisasi baik oleh bank
baru. Dalam pada itu net interest margin (NIM) yang negatif sendiri atau melalui fasilitasi Satgas Restrukturisasi Kredit Bank
pada tahun 1999 telah membaik menjadi positif sebesar Rp22,8 Indonesia telah mencapai Rp59,9 triliun atau sekitar 71,0% dari
triliun sejalan dengan positive spread yang didukung juga total NPLs. Sementara itu, restrukturisasi kredit oleh BPPN yang
dengan relatif stabilnya suku bunga dana. Perbaikan CAR, mencapai tahap implementasi proposal dan penan-
peningkatan penghimpunan dana dan penyaluran kredit, datanganan Memorandum of Understanding (MoU) restruk-
perbaikan NPLs, dan NIM yang positif diharapkan akan terus turisasi baru sebesar 28,3% dari total kredit sebesar Rp286,3 triliun.
berlanjut pada tahun 2001. Sehubungan dengan itu, percepatan proses restrukturisasi kredit
khususnya yang dilakukan oleh BPPN akan menjadi salah satu
2) Dalam praktek internasional, NPL dihitung secara netto artinya dengan faktor pendorong pulihnya kondisi perbankan dan pesatnya
memperhitungkan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP)
yang dibentuk kegiatan investasi pada periode mendatang.

10
Bab 1 Tinjauan Umum

Sementara itu, dengan dialihkannya pengelolaan kredit masyarakat akan uang kartal dalam jumlah dan kualitas yang
likuiditas Bank Indonesia (KLBI) dalam rangka kredit program memadai. Kenaikan kebutuhan uang kartal tersebut, selain
kepada Pemerintah, kebijakan perkreditan Bank Indonesia disebabkan oleh peningkatan kegiatan ekonomi, juga untuk
dalam pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) kebutuhan berjaga-jaga khususnya menghadapi tanggal-
mengalami perubahan yang mendasar. Kebijakan Bank Indo- tanggal kritis di tahun 2000, dan kebutuhan untuk merayakan
nesia selanjutnya diarahkan pada peningkatan bantuan teknis hari-hari besar keagamaan.
kepada usaha kecil dan mikro, mendorong diversifikasi porto- Posisi UYD sepanjang tahun 2000 cenderung meningkat.
folio perbankan kearah peningkatan pangsa kredit untuk Posisi UYD akhir Desember 2000 mencapai Rp89,7triliun,
usaha kecil dan mikro, serta memfasilitasi pengembangan meningkat 23,6% dibandingkan dengan posisi UYD akhir
Sistem Informasi Baseline Economic Survey (SIB) dan Sistem Desember tahun 1999 yang hanya sebesar Rp72,6 triliun.
Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE). Besarnya kenaikan UYD terutama disebabkan adanya
Di kelompok lembaga keuangan lainnya, sebagai penarikan yang cukup besar dari masyarakat dalam rangka
dampak dari kondisi ekonomi yang semakin kondusif dalam menghadapi bulan Ramadhan, Hari Natal dan Hari Raya Idul
tahun laporan, kinerja perusahaan pembiayaan tampak Fitri yang waktunya hampir bersamaan pada bulan Novem-
membaik. Sejalan dengan meningkatnya konsumsi ber dan Desember 2000.
masyarakat, penyaluran dana perusahaan pembiayaan Dilihat dari jenis uangnya, perbandingan antara uang
menunjukkan perkembangan sedikit lebih baik daripada kertas dan uang logam sepanjang tahun 2000 tidak banyak
tahun sebelumnya. Sementara itu, masih lambatnya proses mengalami perubahan, dengan pangsa masing-masing jenis
penyaluran kredit perbankan, telah memberikan peluang uang sebesar 98,5% dan 1,5%. Sementara itu, dilihat dari
kepada pegadaian untuk memenuhi kebutuhan pecahannya, posisi UYD di tahun 2000 didominasi oleh
pembiayaan kepada masyarakat, khususnya untuk jangka pecahan Rp100.000,00 dan Rp50.000,00 yang pangsa
waktu pendek. keduanya mencapai 58,5% dari total UYD.
Selain menyediakan uang dalam jumlah yang cukup,
Kebijakan dan Perkembangan Sistem Pembayaran Bank Indonesia juga senantiasa menjaga agar kualitas uang
Sepanjang tahun 2000 Bank Indonesia masih terus melakukan yang beredar di masyarakat selalu baik dengan cara
berbagai upaya penyempurnaan untuk menciptakan sistem melakukan kebijakan pemusnahan uang yang sudah tidak
pembayaran nasional yang efisien, cepat, aman dan handal layak edar atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) serta
guna mendukung efektifitas pelaksanaan kebijakan moneter mengganti uang yang dimusnahkan tersebut.
serta mendorong upaya penciptaan sistem perbankan yang Sementara itu, dalam rangka menanggulangi
sehat. Secara garis besar, kebijakan sistem pembayaran terdiri peningkatan uang palsu yang cukup meningkat dalam tahun
dari kebijakan pengedaran uang dan peningkatan pelayanan 2000 ini, Bank Indonesia telah mengambil langkah preventif
jasa Bank Indonesia di bidang lalu lintas pembayaran. dan represif. Beberapa langkah preventif antara lain dengan
Di bidang pengedaran uang, dalam lingkup pemba- mencabut dan menarik dari peredaran uang kertas yang
yaran tunai Bank Indonesia berusaha mencukupi kebutuhan banyak dipalsukan yaitu pecahan Rp50.000,00 emisi 1993/95
masyarakat terhadap uang kertas dan uang logam untuk (seri Soeharto), pecahan Rp20.000,00 emisi 1992 (seri Cendra-
keperluan pembayaran serta menjaga agar uang yang wasih), dan pecahan Rp10.000,00 emisi 1992 (seri Hamengku-
diedarkan (UYD) oleh Bank Indonesia berada dalam kondisi buwono IX). Di samping itu, Bank Indonesia menyebarluaskan
layak edar. Pada tahun 2000, Bank Indonesia meningkatkan ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui media cetak, papan
penyediaan uang untuk memenuhi kenaikan kebutuhan pengumuman, serta kegiatan penataran. Hal lain dilakukan

11
Bab 1 Tinjauan Umum

dengan meningkatkan koordinasi bersama unsur-unsur terkait. indicator) yang dilakukan Bank Indonesia. Dari sisi eksternal,
Sementara itu, upaya represif dilakukan melalui koordinasi perekonomian global diprakirakan masih mengalami
dengan instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan perkembangan yang positif yaitu sebesar 4,2%, atau sedikit
pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat lebih rendah dibanding tahun 2000 sebesar 4,7%. Penurunan
dalam pemalsuan uang Rupiah. pertumbuhan terutama akan terjadi di negara-negara
Di bidang lalu lintas pembayaran, kebijakan dalam ling- Amerika Utara dan sebagian negara di kawasan Eropa.
kup pembayaran bukan tunai mencakup penerusan Namun berbagai negara terutama Jepang diprakirakan
langkah-langkah pengembangan sistem Real Time Gross mengalami pertumbuhan yang meningkat sehingga dapat
Settlement (RTGS), memantapkan tindakan dalam meng- memberikan dampak positif terhadap iklim investasi dan ekspor
hadapi masalah komputer tahun (MKT) 2000, penyem- Indonesia melalui berbagai anak perusahaan dan perusahaan
purnaan berbagai peraturan dan ketentuan lalu lintas patungan yang beroperasi di Indonesia.
pembayaran dan kliring, serta peningkatan keamanan Sejalan dengan kegiatan ekonomi dunia yang sedikit
semua komponen infrastruktur jaringan komputer Bank Indo- menurun dan harga minyak yang masih tinggi, volume
nesia (BI-Net) dalam rangka implementasi RTGS dengan perdagangan dunia akan tumbuh meskipun melambat. Inflasi
melakukan audit terhadap BI-Net. di negara-negara industri juga diprakirakan akan mengalami
Dalam tahun laporan, transaksi menggunakan alat penurunan di tahun 2001, sementara suku bunga internasional
pembayaran bukan tunai juga meningkat cukup tajam, baik diperkirakan relatif tetap sehingga mendorong adanya aliran
yang berbasis warkat maupun yang menggunakan kartu dana ke negara-negara berkembang (emerging markets)
elektronik. Sampai akhir tahun 2000, nominal kliring penyerahan termasuk negara-negara yang terkena krisis seiring dengan
secara nasional menunjukkan peningkatan sebesar 41,7% dari membaiknya credit rating.
tahun 1999, sedangkan volume warkat kliring penyerahan Dengan mempertimbangkan kondisi eksternal di atas
mengalami penurunan sebesar 7,9 %. Peningkatan nominal dan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8% di tahun 2000,
kliring penyerahan yang cukup besar terjadi pada triwulan IV/ pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2001 diprakirakan
2000, terutama berkaitan dengan adanya serangkaian dapat mencapai sekitar 4,5%–5,5%. Pertumbuhan moderat
perayaan hari besar keagamaan pada penghujung tahun tersebut sebagai kelanjutan dari proses pemulihan yang terus
2000. Sementara itu, penurunan volume warkat kliring berlangsung. Dari sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi
penyerahan yang terjadi pada triwulan IV/2000 dapat menjadi diprakirakan mencatat pertumbuhan positif di tahun 2001
indikasi awal bahwa implementasi BI-RTGS sangat diminati oleh dengan sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, dan
kalangan perbankan nasional. Hal tersebut ditunjukkan sektor bangunan akan tetap menjadi sumber pertumbuhan
dengan kecenderungan beralihnya aktivitas kliring nilai besar ekonomi. Dari sisi permintaan, pendorong utama pertumbuhan
pada wilayah kliring Jakarta, dari Otomasi Kliring Jakarta (OKJ) ekonomi diprakirakan masih akan bersumber dari kegiatan
dan Sistem Kliring Elektronis Jakarta (SKEJ) ke BI-RTGS. ekspor dan investasi. Dorongan untuk meningkatkan utilisasi
kapasitas produksi ataupun penambahan kapasitas yang telah
Prospek Ekonomi Dan Arah Kebijakan Tahun 2001 ada untuk kebutuhan domestik maupun ekspor diperkirakan
Kondisi Makroekonomi memperoleh momentum yang lebih kuat seperti adanya suku
Prospek perekonomian Indonesia tahun 2001 diprakirakan akan bunga riil yang masih relatif rendah dan fungsi intermediasi
membaik sejalan dengan berbagai perkembangan positif baik perbankan yang diperkirakan terus membaik.
dari sisi eksternal maupun internal. Hal ini diindikasikan dari Sementara itu, seiring dengan meningkatnya investasi dan
hasil survey maupun Indikator Dini Ekonomi (leading economic masih relatif baiknya pertumbuhan ekspor, impor juga

12
Bab 1 Tinjauan Umum

diprakirakan akan meningkat khususnya impor bahan baku dan meningkatnya penggunaan kapasitas produksi dan cukup
barang modal. Dengan perkembangan tersebut surplus transaksi kuatnya sisi permintaan. Di sisi lain, rencana Pemerintah untuk
berjalan diprakirakan akan sedikit menurun menjadi sekitar 2,0%– meningkatkan harga BBM, harga dasar gabah, cukai rokok,
4,0% dari PDB. Namun, secara keseluruhan kinerja neraca gaji PNS dan UMR diprakirakan juga akan memberikan dampak
pembayaran Indonesia diharapkan masih akan tetap pada inflasi. Selain itu, mulai diberlakukannya otonomi daerah
terpelihara. Sementara itu, beban pembayaran utang luar pada tahun 2001 dikhawatirkan akan dapat memacu laju
negeri diperkirakan akan mulai berkurang di tahun 2001 inflasi, terutama apabila daerah berlomba-lomba untuk
terutama utang luar negeri swasta sejalan dengan kemajuan meningkatkan pungutan, retribusi, ataupun pajak daerah. Oleh
yang dicapai dalam restrukturisasi utang luar negeri swasta. karena itu, upaya untuk meredam tekanan-tekanan inflasi
Dengan perkembangan tersebut, kondisi defisit neraca modal harus dapat dilakukan secara pre-emptive tanpa meng-
diperkirakan akan semakin mengecil dibandingkan periode ganggu proses pemulihan ekonomi nasional.
tahun sebelumnya.
Sasaran Inflasi
Nilai Tukar dan Inflasi Dengan memperhatikan perkembangan dan prospek
Faktor risiko dan ketidakpastian, khususnya akibat kondisi sosial- makroekonomi serta mempertimbangkan perkembangan
politik dan keamanan yang belum membaik, masih akan harga yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, Bank
mempengaruhi perkembangan nilai tukar. Tekanan-tekanan Indonesia menetapkan sasaran laju inflasi tahun 2001 diluar
melemahnya nilai tukar rupiah masih akan dirasakan, namun dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan penda-
secara keseluruhan nilai tukar rupiah diprakirakan dapat patan sebesar 4,0%–6,0%. Sementara itu, dampak kebijakan
menguat sehingga mencapai rata-rata sekitar Rp7.750 – Rp8.250 Pemerintah Pusat di bidang harga dan pendapatan yang
per dolar AS pada tahun 2001. Dari sisi domestik, membaiknya telah teridentifikasi seperti peningkatan gaji pegawai negeri
kondisi fundamental ekonomi Indonesia pada tahun 2001, baik sipil (PNS), TNI dan Polri, kenaikan UMR, pengurangan subsidi
dari segi kinerja ekonomi maupun komitmen untuk melakukan BBM, kenaikan harga dasar gabah, serta kenaikan cukai rokok,
perbaikan struktural, diperkirakan akan meningkatkan ke- diprakirakan dapat menimbulkan tambahan kenaikan laju
percayaan terhadap perekonomian nasional. Di sisi lain, kondisi inflasi sekitar 2,0%–2,5% diatas sasaran tersebut.
politik dan keamanan dalam negeri diharapkan semakin
kondusif. Sementara itu, dari sisi eksternal, kecenderungan Tantangan Ke depan
melambatnya ekspansi perekonomian Amerika Serikat pada Gambaran mengenai prospek ekonomi, nilai tukar dan
tahun 2001 diperkirakan akan mendorong penurunan suku sasaran inflasi tersebut akan sangat dipengaruhi oleh
bunga dolar AS, yang pada gilirannya akan menghambat laju kemajuan dalam penyelesaian berbagai permasalahan
apresiasi dolar AS secara global. Patut dikemukakan bahwa nilai mendasar dalam perekonomian dan perkembangan
tukar rupiah secara riil (real effective exchange rate/REER) berbagai faktor risiko dan ketidakpastian. Upaya mengatasi
diperkirakan akan tetap kompetitif sehingga tetap dapat berbagai faktor tersebut akan menjadi kunci keberhasilan
mendukung proses perbaikan struktur ekonomi dan alokasi dalam menjamin prospek pemulihan ekonomi yang lebih baik
sumber-sumber daya ke arah yang lebih efisien. pada tahun 2001 dan tahun-tahun mendatang. Berbagai
Dengan memperhatikan kecenderungan-kecen- faktor risiko dan ketidakpastian tersebut antara lain
derungan yang terjadi, tekanan-tekanan kenaikan harga mencakup:
pada tahun 2001 diprakirakan akan tetap besar. Hal ini – Pertama, kemungkinan berlanjutnya ketidakpastian kondisi
disebabkan masih tingginya ekspektasi inflasi seiring dengan politik dan keamanan dalam negeri. Berlanjutnya

13
Bab 1 Tinjauan Umum

ketidakpastian tersebut berpotensi meningkatnya coun- hukum, termasuk penegakan hukum, terutama melalui
try risk Indonesia, penanganan berbagai masalah ekonomi penerapan UU kepailitan maupun pembenahan secara
menjadi lambat dan tidak pasti, serta mendorong kegiatan menyeluruh institusi yudikatif di Indonesia.
spekulasi dalam pasar valuta asing. – Ketujuh, dari sisi eksternal, ketidakpastian dan risiko yang
– Kedua, masih lambannya proses restrukturisasi utang mungkin terjadi adalah melambatnya perekonomian
perusahaan. Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan Amerika Serikat sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi
kegiatan ekonomi dan penyaluran kredit perbankan tidak global secara tajam (hard landing). Melambatnya
dapat berjalan lebih cepat, karena sebagian besar ekonomi AS ini merupakan ancaman bagi optimisme
perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi terhadap kinerja ekspor sebagai salah satu motor
tersebut merupakan komponen terbesar dari penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2001.
perekonomian nasional.
– Ketiga, proses intermediasi perbankan yang belum berjalan Arah Kebijakan
normal. Ekspansi kredit perbankan masih terbatas karena Dengan memperhatikan prospek ekonomi di tahun 2001 dan
masih tingginya faktor risiko dan ketidakpastian, banyaknya sasaran inflasi yang ditetapkan serta berbagai tantangan yang
perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi, muncul, Bank Indonesia akan berupaya untuk secara konsisten
maupun kondisi internal perbankan. Kondisi ini sangat dan berhati-hati menempuh kebijakan-kebijakan di bidang
membatasi sumber pembiayaan kegiatan ekonomi, moneter, sistem pembayaran dan perbankan.
sehingga kegiatan ekonomi lebih banyak dibiayai oleh Sehubungan dengan hal tersebut, kebijakan Bank Indo-
dana sendiri (self-financing). Selain itu, dorongan bagi nesia di bidang moneter tetap diarahkan pada upaya
perbankan untuk mobilisasi dana relatif rendah, sehingga mengendalikan tekanan inflasi dan stabilisasi nilai tukar rupiah
menyebabkan suku bunga deposito rendah dan melalui pengendalian instrumen-instrumen moneter yang
mendorong masyarakat untuk memanfaatkan dananya mengacu pada sasaran uang primer. Guna mencapai sasaran
untuk konsumsi ataupun jenis investasi lain. laju inflasi di atas, Bank Indonesia berkeyakinan bahwa tingkat
– Keempat, beban keuangan pemerintah yang masih berat, pertumbuhan uang primer yang sesuai dengan sasaran inflasi
terutama ditengarai oleh pengeluaran subsidi dan utang serta tidak menimbulkan risiko yang berlebihan pada proses
pemerintah yang masih besar. Sementara kemajuan dalam pemulihan perbankan dan ekonomi secara keseluruhan,
asset recovery BPPN maupun privatisasi BUMN diperkirakan adalah berada pada kisaran 11,0%-12,0%. Sasaran
belum dapat menutupi beban keuangan pemerintah. pertumbuhan ini dihitung berdasarkan perkembangan uang
Dengan kondisi demikian, stimulus dari sisi fiskal untuk primer bulan Desember 2000, dengan melakukan koreksi atas
percepatan pemulihan ekonomi menjadi sangat terbatas. unsur musiman yang cukup signifikan pada bulan tersebut.
– Kelima, kelancaran pelaksanaan otonomi daerah mulai Pencapaian target instrumen-instrumen moneter
tahun 2001 menjadi kunci bagi keberhasilan proses dimaksud tetap akan mengacu pada pelaksanaan kegiatan
pemulihan ekonomi dan pemerataan pembangunan ke OPT melalui lelang SBI. Secara umum, strategi pengelolaan
depan. Ancaman terhadap pemulihan ekonomi dan inflasi moneter tahun 2001 untuk mendukung OPT tersebut mencakup
akan muncul apabila pengeluaran daerah menjadi tidak langkah-langkah sebagai berikut :
terkoordinasi maupun apabila daerah berlomba-lomba (i) OPT melalui intervensi rupiah untuk sementara waktu akan
untuk meningkatkan pungutan, retribusi dan pajak daerah. dioptimalkan untuk mendukung pencapaian sasaran uang
– Keenam, ketidakpastian hukum di Indonesia. Berbagai primer yang telah ditetapkan, tanpa harus menimbulkan
kasus hukum masih memerlukan pembenahan sistem dampak yang berlebihan pada kenaikan suku bunga SBI.

14
Bab 1 Tinjauan Umum

(ii) Sterilisasi valuta asing akan tetap menjadi opsi yang guna meningkatkan efisiensi perbankan dan mempercepat
terbuka khususnya untuk menyerap kelebihan likuiditas di proses kliring antar bank, pada tahun 2001 Bank Indoneisa
pasar sebagai akibat ekspansi pengeluaran pemerintah akan menerapkan Bulk Interbank Payment System (BIPS),
yang bersumber dari dana luar negeri. yaitu kliring khusus untuk transaksi-transaksi bulk sehingga
(iii) Surat berharga jangka pendek pemerintah (T–Bills) dan transaksi antar bank lainnya yang telah dilakukan melalui
obligasi pemerintah yang diperkirakan akan aktif diper- kliring menjadi lebih cepat. 3) Sementara itu, untuk
dagangkan di pasar sekunder akan digunakan sebagai mengefisienkan proses pembukuan dan switching pada
instrumen moneter yang pada waktunya akan bank-bank penyelenggara ATM di Indonesia, serta untuk
menggantikan SBI. memberikan tambahan kemudahan dan keamanan bagi
(iv) Kebijakan nilai tukar yang dapat secara langsung para para nasabah penggunanya, maka Bank Indonesia
mengurangi gejolak nilai tukar rupiah juga akan tetap akan memfasilitasi dan mendorong (dalam bentuk moral
menjadi opsi yang terbuka dengan tetap berdasar pada suassion) bank-bank penyelenggara ATM untuk dapat
sistem nilai tukar mengambang dan sistem devisa bebas. mengkoneksikan jaringannya satu sama lain.
Sementara di bidang perbankan, kebijakan Bank In-
donesia akan diarahkan pada upaya untuk memelihara hasil Penutup
dari program restrukturisasi perbankan serta untuk Berbagai langkah kebijakan yang telah dan akan ditempuh
memperbaiki fungsi intermediasi bank, dengan tetap Bank Indonesia tersebut merupakan perwujudan nyata dari
mengacu kepada asas kehati-hatian dalam pengelolaan komitmen Bank Indonesia untuk melaksanakan dengan
perbankan nasional. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank sungguh-sungguh amanat UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank
Indonesia akan mengupayakan agar perbankan Indonesia. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia juga telah
meningkatkan manajemen risiko dengan mengeluarkan risk menempuh berbagai langkah kebijakan di bidang mana-
management guideline bagi bank-bank. Sebagai syarat jemen intern untuk memberikan dukungan yang cepat, tepat
dapat dilaksanakannya manajemen risiko dan pengawaan dan handal bagi pelaksanaan tugas-tugas di bidang moneter,
berdasarkan risiko (risk-based supervision), perlu dilakukan perbankan, dan sistem pembayaran. Dukungan manajemen
pembenahan sistem informasi di bank-bank. Sementara itu, intern yang semakin berkualitas tersebut tercermin dari
berkaitan dengan pemisahan fungsi pengawasan bank dari berbagai kebijakan yang telah dilaksanakan dan dilaporkan
Bank Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UU, Bank dalam Laporan Triwulanan yang telah disampaikan kepada
Indonesia terus melakukan berbagai persiapan agar DPR dan dipublikasikan kepada masyarakat luas. Di samping
pengalihan fungsi pengawasan tersebut berjalan dengan penyempurnaan di bidang organisasi dan pengembangan
lancar sehingga tidak mengganggu sistem perbankan. sumber daya manusia, kebijakan yang diambil mencakup pula
Untuk mendukung efektivitas pelaksanaan kebijakan peningkatan manajemen keuangan intern, pengembangan
moneter dan mempercepat pemulihan sektor perbankan, sistem teknologi informasi, peningkatan kebijakan hukum,
kebijakan di bidang sistem pembayaran akan diarahkan peningkatan sistem pengawasan intern, pengembangan pro-
untuk mempercepat pengembangan dan pelaksanaan gram kehumasan, manajemen dokumen dan peningkatan
sistem pembayaran nasional yang efisien, akurat, aman, dan manajemen di bidang logistik.
handal melalui peningkatan mutu pelayanan jasa sistem
pembayaran. Salah satunya diwujudkan dengan mengem- 3) Transaksi bulk adalah transaksi antar bank yang bersifat rutin dengan
bangkan sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) yang pada volume tinggi dan bernilai nominal rendah seperti transaksi
pembayaran gaji/upah, kartu kredit, asuransi, angsuran kredit, tagihan
tahun 2000 telah mulai diimplementasikan. Disamping itu, telepon/listrik/air, dan lain-lain.

15
Bab 1 Tinjauan Umum

Suatu kemajuan berarti juga telah dicapai pada tahun dan keamanan dalam negeri. Salah satu perkembangan penting
2000 dalam penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang mempengaruhi pelaksanaan tugas Bank Indonesia adalah
(BLBI). Dalam Rapat Kerja tanggal 10 Oktober 2000, Komisi IX adanya usulan amandemen terhadap UU No. 23 tentang Bank
DPR RI telah meminta Pemerintah dan Bank Indonesia untuk Indonesia (UU BI) pada akhir tahun laporan. Sebagaimana
segera menyelesaikan masalah BLBI sebesar Rp144,5 triliun. diketahui, usulan amandemen UU BI tersebut berasal dari
Kesepakatan penyelesaian BLBI tersebut dicapai pada tanggal Pemerintah, sementara keterlibatan Bank Indonesia dalam proses
17 November 2000, antara lain diputuskan adanya pembagian amandemen tersebut terbatas sebagai nara sumber. Pada
beban (burden sharing) keuangan antara Bank Indonesia prinsipnya Bank Indonesia berpendapat bahwa amandemen
dengan Pemerintah. Dengan memperhitungkan kemampuan tersebut belum perlu dilakukan antara lain karena UU BI tersebut
keuangan Bank Indonesia, maka disepakati BLBI yang menjadi belum lama diundangkan. Berbagai komentar yang muncul atas
beban Bank Indonesia sebesar Rp24,5 triliun sehingga UU BI lebih banyak disebabkan belum tersosialisasinya UU BI
Pemerintah tidak perlu melakukan penambahan modal Bank dengan baik. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia berpendapat
Indonesia. Pembebanan tersebut dilakukan dengan penerbitan bahwa tujuan tunggal yaitu mencapai dan memelihara kestabilan
Surat Utang Bank Indonesia (SU–BI) pada tanggal 5 Desember nilai rupiah serta aspek-aspek independensi sebagaimana
2000 kepada Pemerintah dengan persyaratan yang sama tercantum dalam UU BI tersebut perlu tetap dipertahankan. UU BI
dengan Surat Utang Pemerintah (SUP) No. 1 dan No. 3. Dalam tersebut pada dasarnya juga telah memuat aspek akuntabilitas
kesepakatan tersebut, Pemerintah juga menegaskan tidak akan seperti kinerja, pelaksanaan tugas dan wewenang, keuangan,
menarik kembali SUP yang telah diterbitkan dalam rangka etika dan hukum pidana. Selain itu, masalah koordinasi antara
pengalihan BLBI kepada Bank Indonesia. Dengan tercapainya Bank Indonesia dengan Pemerintah juga telah secara tegas dan
penyelesaian BLBI tersebut, kredibilitas dan kepercayaan jelas diatur dalam UU BI tersebut (Boks : Amandemen Undang-
kepada Bank Indonesia diharapkan dapat ditingkatkan Undang No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia).
sehingga mampu mendukung peran strategisnya dalam Sebagai penutup, rangkaian kebijakan Bank Indonesia
pembangunan ekonomi nasional (Boks : Penyelesaian Bantuan di tahun 2001 yang ditempuh Bank Indonesia pada hakikatnya
Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)). merupakan salah satu langkah dari kerangka kebijakan eko-
Di samping itu, dalam tahun 2000 Bank Indonesia juga nomi makro secara keseluruhan. Gambaran prospek dan arah
melanjutkan langkah-langkah divestasi penyertaan Bank In- kebijakan yang akan ditempuh Bank Indonesia di atas sudah
donesia pada beberapa bank dan perusahaan sebagai tentu sangat tergantung pada perkembangan politik dan
implementasi UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. keamanan di dalam negeri serta langkah-langkah kebijakan
Langkah yang ditempuh antara lain dengan telah berhasilnya di bidang lain untuk mengatasi berbagai permasalahan dan
penjualan saham di dua bank yaitu PT. Bank Niaga dan PT. faktor risiko seperti yang telah dikemukakan di atas. Di samping
Bank Utama. Di samping itu, langkah divestasi lain yang masih itu, beberapa aspek penting seperti perlunya koordinasi yang
dilakukan adalah proses divestasi penyertaan Bank Indonesia lebih baik dalam pengambilan keputusan kebijakan,
pada beberapa bank seperti Indover Bank dan PT. Bank pentingnya pemupukan kesatuan pandang dan kemitraan
Danamon serta pada beberapa perusahaan seperti PT. yang lebih mendalam antara Pemerintah dan Bank Indone-
Askrindo, PT. Bahana dan PT. Bina Usaha Indonesia (Boks : sia, serta beberapa instansi terkait lainnya, juga sangat
Divestasi Penyertaan Bank Indonesia). diperlukan agar terdapat sinergi dalam berbagai langkah
Sebagaimana telah dikemukakan, pelaksanaan tugas- kebijakan yang ditempuh. Dengan demikian, kepercayaan
tugas Bank Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai para pelaku ekonomi diharapkan semakin tumbuh dan
perkembangan baik di bidang ekonomi maupun kondisi politik percepatan pemulihan ekonomi akan semakin terwujud.

16
Bab 1 Tinjauan Umum

Boks : Penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)

Dalam tahun 2000, penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank tersebut sebagai bagian dari usaha menegakkan transparansi
Indonesia (BLBI) merupakan permasalahan yang menuntut dan akuntabilitas. Namun demikian, Bank Indonesia meman-
perhatian dan langkah-langkah nyata dari berbagai pihak, dang bahwa dalam hasil audit investigasi tersebut BPK-RI
ter masuk Bank Indonesia. Hal ini tidak saja karena belum memberikan penilaian yang berimbang baik dari sudut
kompleksitas permasalahan yang ada, tetapi juga kebijakannya maupun pelaksanaan penyaluran BLBI di
mengingat implikasi keuangan terhadap APBN dan neraca lapangan. Padahal, sebagaimana diketahui, kebijakan
Bank Indonesia serta implikasi hukum yang mungkin terjadi penyaluran BLBI pada hakikatnya merupakan kebijakan untuk
baik dalam penyaluran maupun penggunaan dana BLBI mengatasi krisis perbankan dan perekonomian yang terjadi
tersebut. Bagi Bank Indonesia, penyelesaian BLBI tersebut yang ditempuh Pemerintah pada waktu itu. Oleh karena itu,
merupakan bagian tidak terpisahkan dari langkah-langkah dalam melihat masalah BLBI, sewajarnya latar belakang
untuk memulihkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah untuk memberikan BLBI juga diberikan
Bank Indonesia dalam menjalankan tugas-tugasnya bobot yang proporsional.
sebagai bank sentral yang sangat diperlukan bagi Bank Indonesia juga berpendapat bahwa audit BPK-RI
penyehatan perbankan dan pemulihan ekonomi secara tersebut terlalu menitikberatkan kepada compliance audit dan
keseluruhan. bukan kepada policy audit. Dalam pelaksanaannya, BPK-RI
Sebagaimana diketahui, dalam rangka memperoleh kurang mempertimbangkan bahwa Bank Indonesia pada
kejelasan dan langkah-langkah penyelesaian BLBI tersebut, dasarnya hanya melaksanakan kebijakan Pemerintah dengan
DPR telah membentuk Panitia Kerja (Panja) BLBI. Dalam pertimbangan dalam situasi krisis perbankan yang terjadi pada
laporannya tanggal 6 Maret 2000, Panja BLBI Komisi IX DPR-RI saat itu diperlukan suatu tindakan dalam upaya menjaga
menyebutkan bahwa BLBI merupakan kebijakan Pemerintah eksistensi perbankan Indonesia yang apabila tidak dilakukan
dan menjadi tanggung jawab Pemerintah. Bahkan dari akan menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang lebih
tanggung jawab finansial, Pemerintah bertanggung jawab parah. Banyak temuan yang diistilahkan penyimpangan oleh
dari kemungkinan terjadinya likuidasi, karena equity Bank In- BPK-RI hanya didasarkan kepada penerapan ketentuan/
donesia merupakan kekayaan negara. Dalam aspek hukum kebijakan Bank Indonesia pada situasi kondisi normal,
DPR merekomendasikan agar Jaksa Agung, Kapolri, sementara penyaluran BLBI adalah suatu konsekuensi yang
Mahkamah Agung, Menkumdang, secepatnya merumuskan harus ditempuh dalam situasi krisis. Sementara itu, berkaitan
formulasi kebijaksanaan hukum secara jelas dan transparan dengan penyelesaian di sisi hukum terhadap BLBI tersebut,
mengenai arah kebijaksanaan penyelesaian BLBI termasuk Bank Indonesia akan selalu mendukung proses hukum itu
pelanggaran BMPK. Pimpinan DPR juga menjanjikan untuk dengan bersikap terbuka dan kooperatif terhadap upaya
menjembatani perbedaan pendapat antar Bank Indonesia transparansi termasuk rangkaian penyidikan oleh pihak
dengan Menteri Keuangan mengenai status BLBI dalam Kejaksaaan Agung.
neraca Bank Indonesia. Selanjutnya, dalam rangka mempercepat proses
Sebagai tindak lanjut dari hasil Panja BLBI tersebut, DPR- penyelesaian BLBI tersebut, pada tanggal 10 Oktober 2000
RI telah meminta BPK-RI untuk melakukan audit investigasi DPR-RI telah mengadakan Rapat Kerja dengan Pemerintah
terhadap penyaluran BLBI di Bank Indonesia dan penggunaan dan Bank Indonesia. Dalam Rapat kerja tersebut, Komisi IX
BLBI di bank-bank penerima dana BLBI. Bank Indonesia DPR RI telah meminta Pemerintah dan Bank Indonesia untuk
menyambut baik audit investigasi yang dilakukan oleh BPK-RI segera menyelesaikan masalah BLBI sebesar Rp144,5 triliun

17
Bab 1 Tinjauan Umum

secara tuntas dalam waktu 30 hari. Dalam rangka yang mungkin terjadi apabila penyelesaian BLBI tersebut
penyelesaian masalah BLBI tersebut, telah dicapai dilakukan dengan cara lain.
kesepakatan antara Bank Indonesia dan Pemerintah yang Sebagai pelaksanaan dari Pokok-Pokok Kesepakatan
tertuang dalam Pokok-Pokok Kesepakatan Pemerintah dan tersebut, Bank Indonesia pada tanggal 5 Desember 2000
Bank Indonesia Mengenai Penyelesaian BLBI tanggal 17 No- telah menerbitkan SU-BI kepada Pemerintah sebesar Rp24,5
vember 2000. Dalam kesepakatan tersebut antara lain triliun dengan persyaratan yang sama dengan SUP yang
diputuskan adanya pembagian beban (burden sharing) telah dikeluarkan oleh Pemerintah (SUP 001/MK/1998 dan SU
keuangan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah. 003/MK/1999), dan telah disampaikan kepada Menteri
Dengan memperhitungkan kemampuan keuangan Bank In- Keuangan dengan surat No.2/2/DGS/DKI tanggal 5
donesia, maka yang menjadi beban Bank Indonesia adalah Desember 2000. Jangka waktu SU-BI tersebut adalah 18
sebesar Rp 24,5 triliun. Pembebanan tersebut dilakukan tahun 2 bulan, dan akan berakhir pada 7 Februari 2019
dengan cara penerbitan Surat Utang Bank Indonesia (SU-BI) (termasuk masa tenggang 3 tahun).
kepada Pemerintah yang persyaratannya sama dengan SU-BI sebesar Rp 24,5 triliun tersebut telah dibebankan
persyaratan Surat Utang Pemerintah (SUP) No.1 dan No.3. ke rekening Surplus/Defisit Bank Indonesia tahun 2000 sebagai
Dengan demikian, Pemerintah tidak perlu melakukan pos Luar Biasa dan disajikan di Neraca Bank Indonesia tahun
penambahan modal Bank Indonesia. Dalam kesepakatan 2000 sebagai Pinjaman dari Pemerintah dalam Rupiah. Perlu
tersebut di atas, Pemerintah juga menegaskan tidak akan diinformasikan bahwa walaupun pembebanan atas Surplus/
menarik kembali SUP yang telah diterbitkan dalam rangka Defisit tahun 2000 telah dilakukan namun posisi Surplus Bank
pengalihan BLBI kepada Bank Indonesia. Indonesia tampak masih positif. Konsekuensi lanjut dari
Penerbitan SU-BI dilakukan dengan pertimbangan penerbitan SU-BI tersebut adalah adanya kewajiban Bank In-
antara lain sebagai berikut: donesia untuk membayar bunga dan angsuran pokok, yang

1. Penerbitan SU-BI tidak akan mengubah perikatan- dibayarkan setiap 6 bulan sekali, masing-masing dimulai pada
1 Februari 2001 dan 1 Februari 2004.
perikatan hukum yang telah dilakukan oleh BPPN, dan
Akhirnya, dengan tercapainya penyelesaian BLBI
pada akhirnya, tidak mengurangi kepastian hukum bagi
tersebut, kredibilitas dan kepercayaan kepada Bank Indone-
upaya asset recovery di kemudian hari. sia diharapkan dapat ditingkatkan sehingga mampu
2. Penerbitan SU-BI telah mempertimbangkan dampak mendukung peran strategisnya dalam mempercepat
moneter, khususnya peningkatan jumlah uang beredar pemulihan ekonomi nasional.

18
Bab 1 Tinjauan Umum

Boks : Divestasi Penyertaan Bank Indonesia

Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Langkah divestasi lainnya yang saat ini dilakukan adalah
Indonesia pasal 64 ayat 2 dan pasal 77 disebutkan bahwa proses divestasi Bank Indonesia pada beberapa bank seperti
Bank Indonesia hanya dapat melakukan penyertaan modal Indover Bank, Bank Danamon dan beberapa Bank Beku
pada badan hukum atau badan lainnya yang sangat Kegiatan Usaha (BBKU) serta Bank Pacific (bank dalam
diperlukan dalam pelaksanaan tugas Bank Indonesia dan likuidasi). Dalam hal Indover Bank, proses penjualan saham
dengan persetujuan DPR. Penyertaan yang tidak memenuhi bank tersebut menunggu hasil kajian dari Tim Divestasi bersama
ketentuan dimaksud wajib dilepaskan dalam jangka waktu ABN Amro sebagai Financial Advisor-nya. Untuk Bank
paling lama 2 (dua) tahun sejak berlakunya Undang-undang Danamon, penjualan masih menunggu membaiknya harga
tersebut yaitu pada tanggal 17 Mei 2001. Sebagaimana saham yang saat ini diperkirakan masih sangat rendah.
diketahui, penyertaan Bank Indonesia pada awalnya Sementara itu, divestasi pada beberapa bank BBKU dan bank
dimaksudkan untuk membantu upaya penyelamatan bank, dalam likuidasi menunggu hasil dari Tim likuidasi.
sedangkan penyertaan pada lembaga keuangan bukan Selain itu, rencana divestasi pada 3 LKBB yang ada (PT.
bank (LKBB) dilakukan dalam rangka pengembangan pasar Askrindo, PT. Bahana, dan PT. Bina Usaha Indonesia) saat ini
finansial dan membantu program pemerintah dalam tengah diproses melalui Rapat Umum Pemegang Saham
pengembangan usaha kecil dan menengah. (RUPS) di masing-masing perusahaan untuk kemudian ditunjuk
Divestasi penyertaan Bank Indonesia dilakukan dengan jasa konsultan independen dalam melakukan due diligence
pertimbangan agar pengawasan perbankan dapat dilakukan pada masing-masing lembaga keuangan tersebut.
secara obyektif dan terhindar dari konflik kepentingan antara Sejalan dengan berbagai langkah dalam program
Bank Indonesia sebagai pembina dan pengawas bank divestasi di atas, maka posisi penyertaan Bank Indonesia pada
dengan Bank Indonesia sebagai pemegang saham. Proses bank dan LKBB per 31 Desember 2000 adalah sebagai berikut :
divestasi telah dilakukan secara bertahap sejak tahun 1994
melalui berbagai cara antara lain penjualan sebagian atau Posisi Penyertaan Bank Indonesia pada Bank-bank dan
LKBB Per 31 Desember 2000
seluruh saham, tidak melakukan penambahan modal, tidak
menggunakan hak right issue dan membatasi atau mengu-
Penyertaan
rangi pinjaman subordinasi bahkan tidak menyetujui usulan No. Bank/LKBB
Nominal (Rp) Persentase
untuk mengkonversinya menjadi penyertaan.
Berbagai langkah telah dilakukan Bank Indonesia da- 1. Indover Bank Amsterdam 53.905.437.110,00 100,00
2. PT Bank Danamon (d/h PT Bank PDFCI) 10.889.285.000,00 0,003
lam proses divestasi tersebut. Hal ini terlihat baik dari semakin
3. PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia 9.500.000.000,00 42,22
kecilnya prosentase penyertaan maupun keikutsertaan Bank 4. PT Asuransi Kredit Indonesia 175.568.800.000,00 55,00
Indonesia pada beberapa bank dan LKBB. Langkah yang 5. PT Bina Usaha Indonesia 2.872.000.000,00 57,44
ditempuh antara lain dengan telah berhasilnya penjualan 6. PT Bank Papan Sejahtera (BBKU) 4.462.474.000,00 5,76
7. PT Bank Ficorinvest (BBKU) 5.545.750.811,00 6,42
saham di 2 bank yaitu PT. Bank Niaga dan PT. Bank Utama
8. PT Bank Uppindo (BBKU) 14.238.000.000,00 23,20
sehingga penyertaan Bank Indonesia di 11 perusahaan telah 9. PT Bank Pacific (Bank Dalam Likuidasi) 30.600.000.000,00 51,00
menurun menjadi 9 perusahaan.

19
Bab 1 Tinjauan Umum

Boks : Amandemen Undang-Undang No. 23 Tahun 1999


Tentang Bank Indonesia

Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang- sebagai narasumber. Dalam perkembangannya, Bank Indo-
undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia nesia telah memberikan pandangan dan masukan kepada
(amandemen UU BI) diajukan oleh Pemerintah kepada DPR- Panitia Khusus DPR-RI tentang Amandemen UU BI pada
RI tanggal 20 November 2000. Alasan-alasan pengajuan tanggal 7 Desember 2000. Pada prinsipnya Bank Indonesia
amandemen UU BI adalah untuk melakukan penataan berpendapat bahwa amandemen terhadap UU BI tersebut
kembali lembaga-lembaga negara, termasuk Bank Indone- belum perlu dilakukan karena antara lain UU BI belum lama
sia, agar sejalan dan dapat mendukung program diundangkan, bahkan belum seluruh ketentuan dalam UU BI
pembangunan nasional yang diatur dalam Undang-Undang ditindaklanjuti dengan ketentuan pelaksanaan yang lebih
No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional, rendah, sehingga Bank Indonesia belum dapat menilai
perlunya pengaturan akuntabilitas yang lebih jelas dalam UU kelemahan-kelemahan dari UU BI yang menyebabkan perlu
BI sehingga memberi peluang kepada DPR-RI dan masyarakat dilakukan amandemen. Bank Indonesia juga berpandangan
luas untuk melakukan kontrol terhadap Bank Indonesia serta bahwa komentar-komentar yang muncul atas UU BI lebih
untuk menjamin terlaksananya supremasi hukum atas banyak disebabkan belum tersosialisasinya UU BI dengan baik.
kemungkinan terjadinya tanggung jawab pidana di antara Dalam perkembangannya, baik atas usulan dari DPR-
rangkaian kinerja Bank Indonesia secara lebih jelas.1) RI maupun tambahan usulan dari Pemerintah, materi
Materi amandemen UU BI yang diajukan oleh amandemen UU BI bertambah dalam mengevaluasi pasal-
Pemerintah pada awalnya mencakup 5 (lima) pasal, yaitu pasal UU BI. Namun demikian, ada satu hal penting untuk
Pasal 38 mengenai Tugas dan Wewenang Dewan Gubernur, dicatat yaitu seluruh pihak yang terkait dengan
Pasal 43 mengenai Rapat Dewan Gubernur, Pasal 48 amandemen UU BI senantiasa mengemukakan akan tetap
mengenai Pemberhentian Anggota Dewan Gubernur, Pasal menghormati independensi Bank Indonesia dalam
54 mengenai Hubungan dengan Pemerintah dan Pasal 75 melaksanakan tugas dan wewenangnya. Di samping itu,
yaitu Ketentuan Peralihan yang berkaitan dengan Dewan tujuan Bank Indonesia yang telah ditetapkan dalam UU BI
Gubernur . yaitu untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai ru-
Atas usulan Pemerintah tersebut, fraksi-fraksi di DPR-RI piah tidak akan diubah.
menanggapi bahwa apabila usulan Pemerintah tersebut Berkaitan dengan materi amandemen UU BI tersebut,
dimaksudkan untuk memperbaiki Bank Indonesia baik dari terdapat beberapa hal penting yang menurut Bank Indone-
kelembagaan, personil maupun akuntabilitasnya, maka sia perlu disikapi secara hati-hati, yaitu mengenai tujuan,
materi yang disampaikan oleh Pemerintah belum men- independensi, akuntabillitas, dan koordinasi dengan
cerminkan maksud tersebut. Berkenaan dengan itu, maka pemerintah. Seperti diketahui, dalam pasal 7 UU No.23/1999,
diperlukan amandemen lebih menyeluruh tidak terbatas pada Bank Indonesia mempunyai tujuan tunggal (single objective),
materi yang telah disampaikan oleh Pemerintah.2) yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan
Sebagaimana diketahui, usul amandemen UU BI tunggal ini perlu dipertahankan karena pertama tidak
tersebut berasal dari Pemerintah, sementara keterlibatan Bank terdapat ambiguity dalam penetapan dan pencapaian
Indonesia dalam proses amandemen UU BI tersebut terbatas tujuannya. Kedua, tujuan yang fokus akan lebih memperjelas
Bank Indonesia dalam mempertanggungjawabkan kinerjanya.
1) Keterangan pemerintah di hadapan Rapat Paripurna DPR-RI Walaupun dalam UU tersebut tujuan terfokus dalam mencapai
tanggal 27 November 2000
dan memelihara kestabilan nilai rupiah, dalam pelak-
2) Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPR-RI atas usulan amandemen
UUBI sanaannya Bank Indonesia juga sudah memperhitungkan

20
Bab 1 Tinjauan Umum

perkembangan makroekonomi. Bahkan, kestabilan nilai rupiah DPR secara triwulanan (pasal 58 ayat 3). Di samping itu, DPR
tersebut merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi diberikan kewenangan pula untuk meminta BPK melakukan
yang berkelanjutan. Dengan pertimbangan ini, tambahan pemeriksaan khusus kepada Bank Indonesia setiap saat
kalimat "dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap diperlukan (pasal 59).
sektor riil" juga tidak diperlukan dalam amandemen terhadap Sedangkan akuntabilitas aspek keuangan dibagi dalam
pasal 8 UU BI tersebut. aspek umum dan aspek anggaran. Aspek umum diwujudkan
Untuk menjamin efektifitas pelaksanaan tugas dan dalam bentuk penyampaian laporan keuangan tahunan Bank
wewenang Bank Indonesia, aspek-aspek independensi Indonesia kepada BPK (pasal 61), dan aspek anggaran
sebagaimana tercantum dalam pasal 4 dan 9 UU BI perlu diwujudkan dalam bentuk penyampaian anggaran tahunan
tetap dipertahankan. Dalam hubungan ini, keberadaan kepada DPR (pasal 60).
pasal 9 dimaksudkan untuk menegaskan status independensi Sementara itu, terkait dengan akuntabilitas moral dan
Bank Indonesia baik secara kelembagaan maupun secara etika, UU BI menggariskan salah satu persyaratan untuk
fungsional dengan melarang pihak lain melakukan campur diangkat sebagai anggota Dewan Gubernur adalah memiliki
tangan dalam pelaksanaan tugas-tugas Bank Indonesia. akhlak dan moral yang tinggi. Akuntabilitas moral dan etika
Untuk mengurangi kesan bahwa aturan dalam pasal ini ini diatur lebih lanjut dalam Peraturan Dewan Gubernur ten-
berlebihan dan kurang jelas, penyempurnaan dapat saja tang Tata Tertib dan Tata Cara Penyelenggaran Tugas Dewan
dilakukan terutama mengenai pengertian campur tangan Gubernur Bank Indonesia yang menyangkut prinsip-prinsip
dan kriterianya, mekanisme serta siapa yang lebih tepat dasar moral dan etika yang wajib ditaati Dewan Gubernur.
menilai ada tidaknya campur tangan tersebut. Apabila pasal Adapun akuntabilitas hukum anggota Dewan Gubernur
9 ini akhirnya disepakati untuk dihapus maka pasal 4 ayat Bank Indonesia tentu saja sebagai warga negara mereka tidak
(2) dan pengaturan sanksi sebagaimana tercantum dalam kebal hukum. Asas equality before law juga berlaku terhadap
pasal 67 dan pasal 68 perlu tetap dipertahankan. Kalau tidak, tindakan yang melanggar rambu-rambu hukum. Hanya saja,
independensi tersebut akan kehilangan makna. dalam konteks pelaksanaan tugas, dalam UU BI memang perlu
Independensi tanpa disertai kewajiban akuntabilitas melakukan penegasan mengenai perlindungan hukum
dan transparansi yang memadai dapat membawa bank tersebut. Dalam hal ini, setiap kebijakan atau keputusan yang
sentral menjadi tidak tersentuh oleh ketentuan hukum. Oleh diambil berdasarkan kewenangannya dalam rangka
karena itu, UU BI telah menyeimbangkan independensi yang melaksanakan tugas dan kewajiban menurut UU BI dan
dimilikinya dengan akuntabilitas yang mewajibkan Bank Indo- dilakukan dengan itikad baik merupakan tanggung jawab
nesia melakukan public accountability dan transparency. UU Bank Indonesia sebagai kelembagaan dan tidak dapat
BI sebagaimana tercermin di dalam beberapa pasalnya pada dibebankan sebagai tanggung jawab masing-masing
dasarnya telah memuat beberapa aspek akuntabilitas seperti anggota Dewan Gubernur atau pejabat Bank Indonesia
kinerja, pelaksanaan tugas dan wewenang, keuangan, etika, secara individu.
dan hukum pidana. Sejalan dengan pemahaman akan perlunya koordinasi
Akuntabilitas aspek kinerja (pasal 7) diwujudkan dalam antarkebijakan ekonomi di dalam negara khususnya antara
bentuk penyampaian informasi pada setiap awal tahun kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral dengan
kepada masyarakat mengenai hasil evaluasi pelaksanaan kebijakan fiskal dan kebijakan lainnya yang ditempuh oleh
kebijakan moneter setahun terakhir dan rencana kebijakan Pemerintah, masalah koordinasi dengan pemerintah secara
dan sasaran-sasaran moneter tahun yang akan datang (pasal tegas dan jelas telah diatur dalam UU BI. Hal ini secara khusus
58 ayat 1). Penyampaian informasi tersebut wajib disampaikan diatur dalam Bab VIII dan pasal-pasal lainnya seperti pasal 43
pula oleh Bank Indonesia kepada DPR dan Presiden secara mengenai Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang menetapkan
tertulis (pasal 58 ayat 2). Sementara itu, akuntabilitas aspek bahwa dalam RDG bulanan untuk menetapkan kebijakan
pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia kepada umum di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri

21
Bab 1 Tinjauan Umum

atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara ditempuh serta membahas permasalahan-permasalahan
tanpa hak suara. yang membutuhkan langkah penyelesaian bersama lebih
Dalam praktek yang telah dilakukan selama ini, lanjut. Dalam upaya lebih meningkatkan koordinasi antara
hubungan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah telah Bank Indonesia dengan pemerintah dapat lebih terjalin
berjalan dengan cukup baik. Secara khusus, Bank Indone- dengan baik dan agar masyarakat dapat mengetahui hasil-
sia telah menyelenggarakan rapat koordinasi dengan hasil yang telah dicapai dalam rangka koordinasi tersebut,
Pemerintah (Menteri-menteri bidang perekonomian) yang salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah
dilakukan secara reguler setiap bulan untuk pengaturan mekanisme kordinasi dan penyampaian hasil
mengkoordinasikan berbagai kebijakan yang telah rapat kordinasi tersebut kepada publik.

22
Bab 2 Kondisi Makroekonomi
b ab
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

2 Kondisi Makroekonomi

S elama tahun 2000, perekonomian Indonesia menunjukkan


proses pemulihan yang semakin mantap dengan sumber
pertumbuhan yang semakin seimbang. Seluruh sektor/
berkesinambungan. Selain itu, besarnya beban pengeluaran
pemerintah terutama untuk pembayaran utang dan subsidi
menyebabkan terbatasnya stimulus fiskal guna mempercepat
kegiatan memberikan sumbangan yang positif terhadap proses pemulihan.
pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). PDB pada tahun Dari sisi permintaan, telah terjadi pergeseran motor
laporan tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 4,8%, lebih tinggi pertumbuhan ekonomi, dari konsumsi menjadi ekspor dan
dari yang diprakirakan pada awal tahun yakni berkisar 3,0%– investasi yang telah memberikan kontribusi yang positif dan
4,0% (Tabel 2.1). signifikan. Dari sisi penawaran, semua sektor juga telah
Walaupun demikian, proses pemulihan ekonomi masih tumbuh positif, dengan sektor industri pengolahan menjadi
menghadapi beberapa permasalahan mendasar yang penyumbang terbesar terhadap nilai tambah per-
menahan percepatan pemulihan ekonomi seperti belum ekonomian.
selesainya restrukturisasi perbankan, kredit, dan perusahaan Perbaikan kondisi makroekonomi tersebut telah
yang disertai pula dengan tingginya ketidakpastian sosial, mengurangi jumlah pengangguran terbuka. Jumlah perkara
politik dan keamanan. Permasalahan ini pada gilirannya dan tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan
masih membatasi penanaman investasi baru yang sangat kerjapun turut berkurang. Meskipun masih ada tekanan
dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi yang inflasi, membaiknya pertumbuhan ekonomi dan adanya
kebijakan pemerintah untuk menaikkan gaji pegawai negeri
Tabel 2.1
sipil, TNI dan Polri serta peningkatan upah minimum regional,
Perkembangan PDB Riil
telah meningkatkan tingkat pendapatan riil yang diterima
1998 1999* 2000**
pekerja.
Rincian Pertum- Kontri- Pertum- Kontri- Pertum- Kontri-
buhan busi (%) buhan busi (%) buhan busi (%)
Permintaan Agregat
PDB (riil) –13,1 –13,1 0,8 0,8 4,8 4,8
Berbeda dengan pertumbuhan tahun sebelumnya, di mana
Menurut Pengeluaran
Konsumsi –7,1 –5,1 4,3 3,3 3,9 3,1
konsumsi menjadi satu-satunya kegiatan yang mencatat
-– Konsumsi Rumah
pertumbuhan positif, pertumbuhan ekonomi dari sisi
Tangga –6,2 –3,9 4,6 3,2 3,6 2,6
-– Konsumsi Pemerintah –15,4 –1,1 0,7 0,0 6,5 0,5
pengeluaran pada tahun 2000 disumbang oleh pertumbuhan
Investasi –33,0 –10,6 –19,4 –4,8 17,9 3,6
Ekspor 11,2 3,1 –31,6 –11,3 16,1 3,9 ekspor, diikuti oleh investasi dan konsumsi. Sumbangan ekspor,
Impor –5,3 –1,7 –40,7 –14,3 18,2 3,8

Menurut Lapangan Usaha


investasi, dan konsumsi terhadap pertumbuhan PDB masing-
Pertanian –1,3 –0,2 2,7 0,5 1,7 0,3
Pertambangan –2,8 –0,2 –2,4 –0,2 2,3 0,2
masing mencapai 3,9%, 3,6%, dan 3,1%. Kuatnya kinerja
Industri Pengolahan –11,4 –2,8 3,8 1,0 6,2 1,6
ekspor dan meningkatnya peran investasi mengindikasikan
Listrik 3,0 0,0 8,3 0,1 8,8 0,1
Bangunan –36,4 –3,0 –0,8 0,0 6,7 0,4 semakin mantapnya proses pemulihan perekonomian yang
Perdagangan –18,2 –3,1 0,1 0,0 5,7 0,9
Pengangkutan –15,1 –1,1 –0,8 –0,1 9,4 0,7 terjadi.
Lembaga Keuangan –26,6 –2,4 –7,5 –0,6 4,7 0,3
Jasa-jasa –3,8 –0,3 1,9 0,2 2,2 0,2 Ekspor barang dan jasa pada tahun laporan mencatat
pertumbuhan sebesar 16,1% dan memberi sumbangan pada
Sumber : Badan Pusat Statistik
pertumbuhan PDB sebesar 3,9%. Pertumbuhan ini merupakan

24
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

lonjakan yang besar dibandingkan dengan kontraksi yang


SBT*
terjadi pada tahun sebelumnya sebesar 31,6%. Pertumbuhan
60
ekspor ini didukung oleh peningkatan ekspor nonmigas Perkiraan Investasi 1 Triwulan Kedepan
Realisasi Investasi
khususnya ekspor sektor industri dan sektor pertambangan. 50

Kinerja ekspor yang tumbuh pesat tersebut terutama 40

disebabkan oleh tingginya permintaan dunia, masih 30

kompetitifnya produk ekspor Indonesia dan dukungan


20
kebijakan pemerintah dalam mendorong kegiatan ekspor.
10
Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan ketentuan
0
mengenai jaminan pembiayaan perdagangan internasional I III I III I III I III I III
1996 1997 1998 1999 2000
yang dilakukan oleh bank-bank umum.1) Seiring dengan
pertumbuhan kegiatan ekspor tersebut, pertumbuhan impor Grafik 2.1
Realisasi Investasi (SKDU)
barang dan jasa turut meningkat sebesar 18,2%. Peningkatan
* SBT (saldo tertimbang) adalah selisih anatara jawaban meningkat dan
menurun dikalikan dengan bobot
impor tersebut erat kaitannya dengan tingginya pertumbuhan
investasi dan pertumbuhan sektor industri berorientasi ekspor
yang memiliki kandungan impor tinggi terutama untuk bahan saldo bersih tertimbang yang positif ini menunjukkan lebih
baku dan barang modal. banyak pengusaha yang merealisasikan rencana investasinya
Penyumbang terbesar kedua dalam pembentukan PDB pada tahun laporan.
dari sisi permintaan adalah investasi, yang mencatat Sumber pembiayaan kegiatan investasi tersebut
pertumbuhan sebesar 17,9% dan memberikan sumbangan ditengarai sebagian besar bersumber dari modal sendiri (self-
sebesar 3,6% terhadap PDB. Pertumbuhan investasi ini cukup financing), mengingat sumber pembiayaan yang berasal dari
tinggi mengingat investasi masih mengalami kontraksi pada kredit perbankan masih relatif terbatas. Sumber pembiayaan
tahun sebelumnya. Meskipun mencatat pertumbuhan yang self- financing tersebut antara lain berasal dari akumulasi laba
tinggi, nilai nominal investasi yang terjadi selama periode devisa hasil ekspor yang lebih banyak disimpan di luar negeri.
laporan masih relatif terbatas dalam artian nilainya masih lebih Hal ini antara lain terkait dengan masih tingginya faktor risiko
kecil dibandingkan dengan investasi yang terjadi pada dan ketidakpastian di dalam negeri serta berbagai
periode sebelum krisis. Peningkatan kinerja investasi ini kemudahan yang ditawarkan perbankan luar negeri dalam
tercermin pada meningkatnya impor bahan baku dan barang pembiayaan ekspor.
modal selama tahun laporan. Pertumbuhan investasi yang Masih relatif terbatasnya pembiayaan kredit perbankan
tinggi ini memberikan sinyal proses pemulihan ekonomi telah dalam negeri antara lain disebabkan oleh masih adanya
berada pada jalur yang tepat dan berkesinambungan. Hasil beberapa permasalahan internal yang terkait dengan
Survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) juga menunjukkan masalah pemenuhan Capital Adequacy Ratio (CAR) dan
adanya peningkatan kegiatan investasi sebagaimana pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).
tercermin dari masih positifnya saldo bersih tertimbang dari Selain itu, beberapa permasalahan eksternal seperti
pengusaha yang melakukan investasi pada tahun 2000 terbatasnya debitur potensial sehubungan masih banyaknya
dengan kecenderungan yang meningkat (Grafik 2.1). Angka debitur besar dalam proses restrukturisasi di BPPN dan relatif
tingginya penilaian perbankan terhadap risiko usaha juga turut
membatasi penyaluran kredit perbankan. Meskipun demikian,
1) PBI No. 2/13/2000 tanggal 16 Mei 2000, tentang jaminan pembiayaan
perdagangan internasional. penyaluran kredit oleh perbankan khususnya pada paro

25
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Peningkatan tabungan swasta tersebut sejalan dengan


Nisbah terhadap PDB
peningkatan pendapatan yang masih lebih tinggi dari
30
Investasi konsumsi swasta. Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu dimana
28 Defisit konsumsi swasta tumbuh lebih tinggi dibandingkan

26
pertumbuhan pendapatan. Perkembangan ini meng-
gambarkan kondisi yang positif, terutama bila dibandingkan
Surplus
24 Tabungan tahun lalu dimana surplus yang terjadi disebabkan oleh
22 penurunan investasi yang lebih tajam daripada penurunan
tabungan.
20
1995 1996 1997 1998 1999 2000* Pada sektor pemerintah, peningkatan defisit berasal
dari penurunan tabungan pemerintah yang lebih besar dari
Grafik 2.2
Perkembangan Surplus/ penurunan investasi pemerintah. Penurunan tabungan
Defisit Kesenjangan Tabungan Investasi
pemerintah antara lain disebabkan oleh masih tingginya
Sumber: Departemen Keuangan, Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia (diolah)
pengeluaran pemerintah untuk subsidi bahan bakar minyak

kedua tahun 2000 meningkat relatif besar, dari Rp277.3 triliun


Tabel 2.2
pada akhir tahun 1999 menjadi Rp320.4 triliun pada akhir tahun Kesenjangan Tabungan Investasi

2000. Pemberian kredit terutama diberikan oleh bank-bank 1998 1999 2000
kelompok A --yaitu bank dengan CAR diatas 4%-- serta bank triliun rupiah

asing dan campuran, sementara penyaluran kredit oleh bank Pemerintah


Tabungan 48,0 62,9 36,1
persero dan bank-bank dalam rekapitalisasi masih sangat Investasi 49,8 74,2 64,4
Defisit (–), surplus (+) –1,8 –11,3 –28,3
terbatas.
Swasta
Berbagai permasalahan di atas menyebabkan potensi Tabungan 236,4 222,8 342,5
Investasi 193,2 166,1 249,5
sumber pembiayaan dari dalam negeri tidak dapat disalurkan
Defisit (–), surplus (+) 43,1 56,7 93,0
ke dalam bentuk investasi. Hal ini terefleksi dari masih besarnya Tabungan Domestik Bruto 284,4 285,7 378,6
(a)
Investasi 243,0 240,3 313,9
surplus kesenjangan tabungan-investasi (saving-investment
Kesenjangan Tabungan Investasi 41,3 45,4 64,7
gap) pada tahun laporan (Grafik 2.2). Nisbah surplus kesenja- PDB 955,8 1.110,0 1.290,7

ngan tabungan-investasi terhadap PDB meningkat dari 4,1% persentase terhadap PDB

Pemerintah
menjadi 5,0% (Tabel 2.2). Kenaikan surplus ini berasal dari
Tabungan 5,0 5,7 2,8
kenaikan nisbah surplus kesenjangan tabungan – investasi Investasi 5,2 6,7 5,0
Defisit (–), surplus (+) –0,2 –1,0 –2,2
pada sektor swasta dari 5,1% menjadi 7,2%. Di lain pihak, sektor
Swasta
pemerintah masih mencatat defisit pada nisbah kesenjangan- Tabungan 24,7 20,1 26,5
Investasi 20,2 12,0 19,3
tabungan investasi, yakni dari 1,0% menjadi 2,2%.2) Defisit (–), surplus (+) 4,5 5,1 7,2

Peningkatan surplus kesenjangan tabungan-investasi Tabungan Domestik Bruto


(a)
29,8 25,7 29,3
Investasi 25,4 21,6 24,3
swasta terutama bersumber dari peningkatan tabungan Kesenjangan Tabungan Investasi 4,3 4,1 5,0
Transaksi Berjalan (dalam miliar USD) 4,1 5,8 7,7
swasta yang lebih cepat dibandingkan peningkatan investasi.
Catatan :
Rata-rata nilai tukar Rp/USD 10.088 7.850 8.400
(a) Tidak termasuk perubahan stok
2) Perhitungan kesenjangan tabungan-investasi untuk sektor pemerintah Sumber : Departemen Keuangan, Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia (diolah)
menggunakan tahun kalender.

26
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

(BBM) akibat tertundanya pelaksanaan kenaikan harga Peningkatan konsumsi rumah tangga yang cukup tinggi
BBM, adanya kenaikan volume impor BBM serta mening- antara lain disebabkan oleh adanya perbaikan pendapatan
katnya pembayaran bunga obligasi pemerintah. Di sisi lain, masyarakat, mulai mengucurnya kredit konsumsi, dan
penurunan investasi disebabkan oleh besarnya jumlah dana tingginya ekspektasi kenaikan harga yang mendorong
yang harus dialokasikan pemerintah untuk pengeluaran sebagian pelaku ekonomi untuk melakukan konsumsinya
rutin yang bersifat wajib (non-discretionary) yaitu belanja sekarang. Rendahnya suku bunga tabungan/deposito
pegawai pusat dan daerah, pembayaran bunga utang, perbankan turut menyebabkan masih tingginya pengeluaran
dan subsidi. konsumsi dalam tahun laporan. Peningkatan konsumsi tersebut
Peningkatan surplus kesenjangan tabungan-investasi dicerminkan oleh sejumlah indikator konsumsi seperti
tersebut mengindikasikan bahwa potensi pembiayaan dari meningkatnya konsumsi semen dan penjualan kendaraan
dalam negeri mampu berperan lebih besar dalam bermotor. Konsumsi semen meningkat cukup tajam terutama
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun potensi pada paro kedua tahun 2000 (Grafik 2.3). Hal ini sejalan dengan
tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena mulai meningkatnya pertumbuhan sektor bangunan yang
adanya berbagai hambatan dalam penyalurannya. cukup pesat setelah sempat mengalami kontraksi pada tahun
Rendahnya penyaluran kredit perbankan ke sektor riil tidak sebelumnya. Gambaran serupa juga terjadi pada penjualan
terlepas dari belum berjalan sepenuhnya perkembangan kendaraan bermotor yang menunjukkan kecenderungan
restrukturisasi kredit serta masih terbatasnya sektor usaha yang meningkat (Grafik 2.4). Selain menunjukkan masih mening-
layak untuk dibiayai. Tentunya berbagai kendala di dalam katnya konsumsi masyarakat, kedua indikator tersebut
negeri harus segera diatasi agar proses pemulihan dapat menyiratkan masih terjadinya alokasi pengeluaran yang
semakin cepat. Sementara itu, sumber pembiayaan dari luar terkonsentrasi pada barang-barang tahan lama (durable
negeri untuk peningkatan kegiatan investasi juga masih relatif goods). Indikator konsumsi lainnya yaitu hasil Survey Penjualan
terbatas mengingat belum kondusifnya iklim usaha di dalam Eceran (SPE) juga menunjukkan peningkatan (Grafik 2.5).
negeri. Terbatasnya sumber pembiayaan luar negeri juga Indeks penjualan eceran menunjukkan peningkatan yang
tercermin dari neraca modal yang masih mengalami defisit cukup tinggi sejak triwulan II/2000 setelah sempat mengalami
terutama karena lebih rendahnya aliran modal masuk bersih
sektor pemerintah.
Ribu ton
Penyumbang terbesar ketiga dalam pembentukan PDB
2.500
adalah konsumsi yang pada tahun sebelumnya merupakan
2.000
satu-satunya kegiatan yang memberikan kontribusi positif bagi
pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan. Dalam periode 1.500

laporan konsumsi masih mengalami pertumbuhan yang cukup


1.000
tinggi sebesar 3,9%, dengan sumbangan sebesar 3,1%
terhadap PDB, walaupun lajunya sedikit melambat 500

dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi ini


0
didukung oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei. Jul. Sep. Nov.
1998 1999 2000
sebesar 3,6%, dengan sumbangan sebesar 2,6% terhadap PDB.
Grafik 2.3
Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami peningkatan Konsumsi Semen
yang cukup tinggi, yaitu 6,5% meskipun sumbangannya relatif Sumber: Asosiasi Semen Indonesia
rendah yakni sebesar 0,5%.

27
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

jumlah realisasi pengeluaran pemerintah yang mempengaruhi


Unit Unit
permintaan agregat tersebut, 62,0% dalam bentuk
30.000 5.000
Non Niaga (aksis kanan) pengeluaran konsumsi dan sisanya sebesar 38,0% dalam
Niaga (aksis kiri) 4.500
25.000
4.000 bentuk pengeluaran investasi. Sejalan dengan perkembangan
3.500
20.000 pengeluaran pemerintah tersebut, kondisi keuangan
3.000
15.000 2.500 pemerintah dalam tahun anggaran 2000 (April–Desember)
2.000
10.000
mengalami defisit sebesar 3,2% dari PDB, lebih rendah
1.500
1.000 dibandingkan prakiraan pada awal tahun sebesar 4,8% dari
5.000
500 PDB. Lebih rendahnya defisit tersebut terutama disebabkan
0 0
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. oleh lebih besarnya realisasi penerimaan migas dari yang
1998 1999 2000
direncanakan semula akibat membaiknya harga minyak
Grafik 2.4 dunia. Di sisi lain realisasi pengeluaran pemerintah hampir
Penjualan Kendaraan Bermotor
seluruhnya sesuai dengan rencana yang ditetapkan
Sumber: Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)
sebelumnya.

koreksi terhadap faktor musiman dengan berlalunya musim Penawaran Agregat


libur anak sekolah. Dari sisi penawaran, proses pemulihan ekonomi juga terlihat
Sementara itu, konsumsi pemerintah dalam tahun semakin menjanjikan. Semua sektor telah memberikan nilai
laporan mengalami pertumbuhan sebesar 6,5%. Realisasi tambah yang positif pada perekonomian, dengan sektor
pengeluaran pemerintah mencapai Rp223,9 triliun, dimana industri pengolahan tetap sebagai penyumbang pertum-
49,0% atau Rp109,3 triliun diantaranya mempengaruhi buhan terbesar. Namun demikian, peningkatan penawaran
permintaan agregat sebagai belanja konsumsi dan investasi ini tidak tumbuh secepat pertumbuhan permintaan
pemerintah, dan 42,2% atau Rp94,5 triliun sebagai mengingat investasi pada tahun-tahun sebelumnya sempat
pembayaran transfer ke sektor swasta dalam bentuk mengalami kontraksi. Sedangkan dalam tahun laporan,
pembayaran subsidi dan bunga utang dalam negeri. Dari penanaman investasi baru masih rendah dibanding masa
sebelum krisis. Di samping itu, berkurangnya tingkat
kapasitas terpasang sebagai dampak dari krisis serta
Indeks
250
berbagai hambatan lain khususnya dari sisi
pembiayaannya turut mempengaruhi lambatnya
200
pertumbuhan dari output potensial. Laju pertumbuhan out-
150 put potensial yang lebih lambat dari laju pertumbuhan
permintaan --yang dalam beberapa tahun terakhir
100
dimotori oleh pertumbuhan konsumsi-- pada gilirannya
50 akan memberikan tekanan pada peningkatan harga
umum.
0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

2000
Penawaran Jangka Pendek
Grafik 2.5
Dalam tahun 2000 semua sektor dalam perekonomian
Indeks Penjualan Eceran
mencatat pertumbuhan positif. Sektor industri pengolahan

28
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

tetap menjadi motor utama pertumbuhan, diikuti oleh sektor menunjukkan peningkatan kecuali kelompok industri kayu,
perdagangan dan sektor pengangkutan (Boks: Krisis dan rotan dan rumput-rumputan. Kelompok industri yang mencatat
Struktur Perekonomian Indonesia). Sektor keuangan yang pertumbuhan tertinggi secara berurutan adalah kelompok
pada tahun sebelumnya mengalami kontraksi terbesar juga industri barang dari logam, kelompok industri pengolahan
sudah mencatat pertumbuhan positif. lainnya, dan kelompok industri makanan, minuman dan
Sektor industri pengolahan pada tahun 2000 mencatat tembakau.
pertumbuhan sebesar 6,2%. Walaupun pertumbuhan sektor ini Sektor perdagangan, hotel dan restoran juga turut men-
lebih kecil dibandingkan sektor pengangkutan, sektor listrik, dan catat pertumbuhan yang tinggi, yakni sebesar 5,7%. Kontribusi
sektor bangunan, namun mengingat pangsa sektor industri terbesar pada pertumbuhan sektor ini berasal dari subsektor
pengolahan yang sangat besar dalam pembentukan PDB perdagangan sebagaimana tercermin dari Indeks Penjualan
maka dengan pertumbuhan tersebut menyebabkan kontribusi Eceran yang senantiasa meningkat (Grafik 2.5). Selain itu, tingkat
sektor ini menjadi yang terbesar. Pertumbuhan di sektor industri hunian hotel di Jakarta dan Bali juga cenderung meningkat,
pengolahan ini seiring dengan meningkatnya permintaan sehingga memberikan kontribusi positif bagi perkembangan
khususnya untuk subsektor industri nonmigas. Kegiatan yang subsektor hotel dan subsektor restoran (Grafik 2.7).
memberikan kontribusi terbesar adalah alat angkutan, mesin Sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun
dan peralatan serta pupuk, kimia dan barang dari karet. laporan mencatat pertumbuhan sebesar 9,4% dengan
Peningkatan kinerja sektor industri pengolahan ini sejalan sumbangan terbesar berasal dari subsektor angkutan jalan
dengan meningkatnya impor bahan baku untuk proses raya. Momentum kebangkitan sektor ini tidak terlepas dari
produksi. adanya Hari Raya Idul Fitri yang terjadi dua kali dalam tahun
Kinerja sektor industri pengolahan yang mencatat laporan serta mulai stabilnya harga suku cadang yang sempat
pertumbuhan cukup tinggi tersebut sejalan dengan hasil Sur- menjadi pemicu krisis pada sektor ini. Mulai stabilnya harga
vey Produksi yang dilakukan Bank Indonesia terhadap sejumlah suku cadang tercermin dari meningkatnya indeks penjualan
perusahaan manufaktur yang menunjukkan adanya untuk kendaraan dan suku cadang dalam survei penjualan
peningkatan indeks produksi (Grafik 2.6). Dari 9 kelompok eceran. Disamping itu, pertumbuhan sektor pengangkutan
industri yang disurvei, hampir seluruh kelompok industri juga didukung oleh peran kegiatan pariwisata yang terus

Indeks %

160 75
Indeks Produksi Manufaktur
Trend
140 65

120 55

100 45

80 35
Jakarta
Bali
60 25
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul.

1998 1999 2000 1998 1999 2000

Grafik 2.6 Grafik 2.7


Perkembangan Indeks Produksi Tingkat Hunian Hotel di Jakarta dan Bali

29
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

%
Ribu orang
100
110 Ritel Kantor

100 90

90
80
80

70 70

60
60
50
50
40 Sep. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul.
1999 2000
1998 1999 2000

Grafik 2.8 Grafik 2.9


Kedatangan Wisman melalui 4 Pintu Kedatangan Utama Tingkat Hunian Pusat Perbelanjaan dan Perkantoran

meningkat, yang tercermin pada peningkatan jumlah sebagian masih harus diimpor. Melimpahnya pasokan
wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia melalui 4 komoditi substitusi pertanian dari luar negeri turut
pintu kedatangan utama (Grafik 2.8). Beroperasinya beberapa menyebabkan melambatnya pertumbuhan pada subsektor
maskapai penerbangan baru juga turut memberikan kontribusi tanaman bahan makanan. Selain itu, rendahnya harga jual
bagi pertumbuhan sektor ini. produk tanaman bahan makanan, seperti beras, jagung, gula,
Sektor bangunan yang sempat mengalami kontraksi turut menurunkan motivasi petani untuk menggarap tanah
paling besar pada awal krisis, sudah mulai menunjukkan olahannya.
pertumbuhan yang positif, yakni sebesar 6,8%, jauh membaik
dibandingkan kontraksi sebesar 0,7% pada tahun lalu. Penawaran Jangka Panjang
Peningkatan sektor ini ditandai dengan maraknya Sisi penawaran jangka panjang atau output potensial3) selama
perkembangan properti terutama pada segmen properti tahun laporan sudah menunjukkan arah yang membaik.
komersial sejalan dengan meningkatnya kegiatan dunia Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, berbagai
usaha. Permintaan akan ruang pusat perbelanjaan di wilayah indikator menunjukkan adanya perkembangan positif seperti
Jabotabek dan areal perkantoran di wilayah Jakarta meningkatnya investasi walaupun relatif terbatas dan
sepanjang tahun laporan menunjukkan kecenderungan yang meningkatnya jumlah angkatan kerja yang menambah jumlah
meningkat seperti yang tercermin dari tingginya tingkat hunian input faktor produksi. Perkembangan ini pada gilirannya akan
properti komersial (Grafik 2.9). menyebabkan peningkatan output potensial.
Sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar Namun demikian, kenaikan output potensial ini masih
1,7%, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. lebih lambat dari kenaikan output aktual (permintaan). Masih
Beberapa faktor yang menyebabkan melambatnya
pertumbuhan pada sektor pertanian ini antara lain berlalunya 3) Output potensial dihitung dengan menggunakan metode Hodric-
Prescott filter. Metode ini sebenarnya mengandung kelemahan
masa bonanza tanaman perkebunan yang sempat terjadi terutama berkaitan dengan masalah end-point problem. Penggunaan
pada awal krisis, terbatasnya pendanaan untuk melakukan metode ini tetap populer terutama karena kepraktisannya. Upaya
untuk mengatasinya ialah dengan memasukkan proyeksi PDB sampai
ekspansi usaha, dan meningkatnya harga input produksi yang dengan tahun 2003.

30
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Rasio Triliun Rp.


18 115
Aktual
16 14,8 110 Potensial
14
105
12
100
10
95
8 6,9
90
6 5,4
5,0
4,3
85
4

2 80

0 75
I III I III I III I III I III I III I III I III
1986-1988 1989-1991 1992-1994 1995-1997 1998-2000
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000

Grafik 2.12
Grafik 2.10
Kesenjangan Output
Perkembangan ICOR periode 3 tahun
Sumber: Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia (diolah)

rendahnya minat investasi serta terbatasnya penyaluran kredit dihadapi dalam proses pemulihan perekonomian Indonesia.
investasi jangka panjang menyebabkan pertambahan Permasalahan pemulihan perekonomian juga terkait dengan
kapasitas terpasang menjadi relatif terbatas. Sementara itu, masih rendahnya produktivitas dan belum pulih sepenuhnya
sempat terbengkalainya mesin-mesin dan peralatan karena mata rantai proses produksi. Hal ini tercermin dari tingginya
tidak beroperasinya pabrik-pabrik, mahalnya suku cadang, angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) pada periode
menyebabkan penyusutan nilai kapasitas terpasang menjadi 1998–2000 (Grafik 2.10).4) Perlu dicermati bahwa lonjakan
lebih cepat. Masih belum pulihnya investasi jangka panjang angka ICOR ini merupakan konsekuensi yang wajar karena
secara penuh turut mempengaruhi percepatan pertumbuhan rendahnya pertumbuhan ekonomi pada periode krisis tersebut.
output potensial. Kondisi sosial politik dan keamanan yang Pada saat yang bersamaan, pertumbuhan permintaan
belum kondusif turut memperberat permasalahan yang semakin cepat. Peningkatan permintaan ini belum diantisipasi
sepenuhnya dengan melakukan investasi baru, melainkan
lebih memanfaatkan kapasitas menganggur yang tersedia
%

70
sebagaimana tercermin dari hasil Survei Produksi Bank Indo-
65 nesia yang memperlihatkan adanya peningkatan kapasitas
60
terpakai (Grafik 2.11). Tingginya permintaan aktual yang tidak
55
50 diikuti pertumbuhan output potensial dengan kecepatan
45
yang sama akan menyebabkan kesenjangan output
40
35 menjadi menyempit (narrowing output gap) dan pada
30 gilirannya akan memberikan tekanan pada peningkatan
25
20
harga-harga umum (Grafik 2.12).
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov.

2000
4) ICOR selama periode t2 sampai dengan t1, dihitung dengan rumus:
t1-1
Grafik 2.11 Σ PMTDB
Kapasitas Terpakai ICORt -t =
t=t2-1 t

2 1 PDBt – PDBt
1 2

31
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Ketenagakerjaan
Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian, kondisi Kasus Ribu orang
ketenagakerjaan juga turut membaik yang antara lain ter- 700 45
Perkara
cermin dari mulai terjadinya proses penyerapan tenaga kerja. Tenaga Kerja 40
600
35
Tingkat pengangguran terbuka --yang merupakan perban- 500
30
dingan antara jumlah pengangguran terbuka terhadap jumlah 400 25

angkatan kerja-- mengalami penurunan, mengingat 300 20

15
penambahan jumlah angkatan kerja dapat diimbangi oleh 200
10
peningkatan penyerapan tenaga kerja yang lebih cepat. 100
5
Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2000 adalah 0 0
I II III IV I II III IV
sebesar 6,1%, menurun dibandingkan dengan pengangguran 1999 2000

terbuka tahun lalu sebesar 6,4% (Tabel 2.3). Indikator penting


Grafik 2.13
lainnya yaitu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), yang Perkembangan PHK
mengukur nisbah antara jumlah angkatan kerja terhadap
penduduk usia kerja, menunjukkan peningkatan. Peningkatan
TPAK ini menggambarkan jumlah penduduk yang bersedia dasar (Grafik 2.14). Apabila digabungkan dengan kelompok
secara aktif melakukan kegiatan ekonomi terhadap total tenaga kerja yang tidak pernah sekolah/tidak tamat SD, maka
penduduk usia kerja meningkat. Selain itu, sejalan dengan pangsa mereka mencapai 62,0%. Sementara itu, tenaga kerja
menurunnya tingkat pengangguran terbuka, jumlah perkara dengan pendidikan akademi atau lebih tinggi hanya memiliki
yang masuk maupun tenaga kerja yang terkait dalam proses pangsa 4,0%.
PHK tersebut cenderung menurun (Grafik 2.13). Di samping menurunnya tingkat pengangguran, tingkat
Namun demikian, terdapat beberapa hal yang masih pendapatan masyarakat juga turut meningkat. Pada tahun
menjadi tantangan di bidang ketenagakerjaan. Meskipun 2000, upah minimum regional (UMR) meningkat sebesar 25,0%
angka pengangguran menunjukkan penurunan, jumlah orang dibandingkan tahun sebelumnya (Tabel 2.4). Perkembangan
menganggur masih mencatat angka yang cukup tinggi yaitu ini menunjukkan upaya pemerintah untuk meningkatkan
5,9 juta orang. Dari sisi tingkat pendidikan, proporsi tenaga kerja kesejahteraan masyarakat sebagaimana tercermin dari laju
dengan latar belakang pendidikan rendah masih sangat besar,
dimana sekitar 38,0% dari tenaga kerja hanya tamatan sekolah

Diploma Universitas
2% 2%
Tabel 2.3 SMA < SD
18%
Indikator Ketenagakerjaan 24%

1998 1999 2000 ∆1999–2000


Indikator
Juta penduduk

Penduduk usia kerja 138,5 141,1 141,3 0,15 SMP


Jumlah Angkatan Kerja 92,8 94,8 95,7 0,95 16%
SD
Bekerja 87,7 88,9 89,8 1,04 38%

Pengangguran terbuka 5,1 6,0 5,9 –1,64


Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 5,5 6,4 6,1 –2,60 Grafik 2.14
TPAK (%) 66,9 67,2 67,7 0,73 Latar Belakang Pendidikan Tenaga Kerja
Sumber : Badan Pusat Statistik Sumber : Badan Pusat Statistik

32
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Tabel 2.5
Tabel 2.4 Upah/Gaji Mingguan
Perkembangan UMR dan KHM
Upah Nominal Upah Riil
1)
UMR KHM UMR KHM UMR/KHM Ribu rupiah
Tahun
Rupiah per bulan Perubahan (%) Persen Tahun
Industri Hotel Pertam- Industri Hotel Pertam-
Pengolahan bangan Pengolahan bangan
1996 118.170 130.501 57,9 37,9 90,6
1997 125,65 134,384 6,3 3,0 93,5 I/99 67,8 74,1 200,1 32,9 35,9 97,1
II/99 75,4 77,7 246,8 36,8 38,0 120,6
1998 144.491 194,161 15,0 44,5 74,4
III/99 73,1 78,1 202,1 36,5 39,0 100,9
1999 166,917 243,667 15,5 25,5 68,5
IV/99 78,1 97,4 220,2 37,6 48,7 110,1
2000 207,752 251,634 24,5 3,3 82,6 I/00 78,7 95,8 231,1 38,4 46,8 112,8
II/00 88,0 98,0 235,7 42,5 47,3 113,9
1) UMR dihitung berdasarkan 30 hari kerja III/00 90,1 95,1 234,9 42,6 44,9 111,0
Sumber: Departemen Tenaga Kerja
Sumber: Badan Pusat Statistik

pertumbuhan UMR yang semakin tinggi (Grafik 2.15). Namun yang memiliki UMR paling tinggi adalah Batam, diikuti oleh
demikian, masih terdapat perbedaan upah yang sangat tajam Jakarta, Jabar dan Irian Jaya, sedangkan daerah dengan UMR
baik antar daerah/kota maupun antar sektor ekonomi. Daerah terendah adalah Maluku, Jambi dan Bengkulu. Peningkatan
UMR ini juga lebih cepat dari peningkatan Kebutuhan Hidup
Rupiah Minimum (KHM). Perkembangan tersebut mengakibatkan

2000 7.328
nisbah UMR/KHM juga membaik yang mengindikasikan
1999 5.782 adanya perbaikan dalam tingkat kesejahteraan masyarakat.
1998 5.009
1997 4.347 Di samping kenaikan UMR, pemerintah melalui kebijakan
1996 3.939
1995 3.441
pendapatan, juga menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS),
1994 2.888 TNI dan Polri. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi juga turut
1993 2.195
1992 1.835 memperbaiki pendapatan pekerja, sebagaimana tercermin
1991 1.621
1990
dari peningkatan upah/gaji nominal yang diterima oleh
1.340

pekerja di sektor industri pengolahan dan perhotelan


Grafik 2.15 menunjukkan peningkatan. Peningkatan pendapatan yang
Upah Minimum Harian Regional1)
lebih cepat dari laju inflasi pada akhirnya menyebabkan upah/
1)Tidak termasuk Batam
gaji riil meningkat (Tabel 2.5).

33
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Boks : Krisis dan Struktur Perekonomian Indonesia

Berdasarkan pendekatan strukturalis, pembangunan ekonomi yang berbeda. Lebih lanjut, pengalaman negara-negara
merupakan suatu proses transisi dan transformasi yang berkisar berkembang menunjukkan, laju percepatan dari suatu proses
pada perubahan struktural yang menyangkut perubahan- transformasi akan berbeda untuk masing-masing negara,
perubahan pada struktur dan komposisi produk nasional, tergantung dari karakteristik perekonomian negara yang
kesempatan kerja produktif, ketimpangan antarsektoral, bersangkutan. Untuk negara yang kaya sumber daya alam,
antardaerah, dan antar- golongan masyarakat, serta proses transformasinya cenderung lebih lambat dibandingkan
kemiskinan dan kesenjangan pendapatan.1) Lebih jauh, Simon dengan negara yang perekonomiannya relatif tidak
Kuznets –pemenang nobel bidang ekonomi pada tahun tergantung pada sumber daya alam. Perbedaan ini karena
1971— dalam penjelasannya mengenai modern economic untuk negara-negara yang kaya sumber daya alam cen-
growth menekankan bahwa negara berkembang pada derung masih membutuhkan pertumbuhan yang relatif tinggi
umumnya dicirikan dengan karakteristik-karakteristk yang pada sektor primer untuk mendukung percepatan per-
pada intinya mencakup pertumbuhan dari besaran makro tumbuhan pada sektor lainnya.
ekonomi (output perkapita, populasi, dan produktivitas), Dari grafik mengenai perubahan pangsa terhadap PDB
transformasi struktural dari besaran ekonomi agregat tersebut, terlihat bahwa sampai sebelum krisis, pangsa sektor primer
dan distribusi dari pertumbuhan itu sendiri. terlihat terus menurun, pada saat yang bersamaan sektor
Untuk kasus Indonesia, sejumlah indikator menunjukkan sekunder dan sektor tersier terus meningkat. Pada awal tahun
telah terjadinya perubahan struktur perekonomian dalam 1980, pangsa sektor primer masih mencapai sekitar 43% dari
periode sebelum krisis. Hal ini tidak terlepas dari rangkaian PDB, dan secara konsisten turun hingga sekitar 23% pada tahun
kebijakan liberalisasi di berbagai sektor ekonomi yang 1997. Sementara itu, pangsa sektor sekunder dan sektor tersier
ditempuh Pemerintah sejak awal dekade 1980-an. Setelah naik masing-masing dari sekitar 18% dan 37% menjadi sekitar
terjadinya krisis sejak pertengahan 1997, timbul pertanyaan 34% dan 42%. Memasuki periode krisis, terjadi perubahan arah
apakah struktur perekonomian Indonesia telah mengalami dengan meningkatnya kembali pangsa sektor primer sampai
perubahan secara signifikan. Dalam tulisan ini, pembahasan sekitar 26%. Dalam periode yang relatif singkat ini, perubahan
akan lebih difokuskan kepada permasalahan sekitar pola ini belum dapat ditengarai apakah bersifat permanen
transformasi dalam perekonomian. atau sementara.
Dari sisi penawaran, transformasi struktural dapat Proses transformasi struktural yang terjadi pada masa
dideteksi dengan karakteristik turunnya peranan/pangsa sebelum krisis disatu pihak sejalan dengan pola pembangunan
(share) sektor primer yang tradisional (sektor pertanian dan yang umum dialami oleh negara berkembang. Sejak
sektor pertambangan). Pada saat yang bersamaan sektor diterapkannya deregulasi perbankan pada tahun 1983 yang
sekunder (sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air mengawali berbagai deregulasi di bidang ekonomi dan
minum, dan sektor bangunan) meningkat dan selanjutnya keuangan, terlihat peningkatan yang pesat pada pangsa
diikuti oleh peningkatan sektor tersier (sektor perdagangan, sektor sekunder. Meningkatnya potensi sumber pembiayaan
hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan telekomunikasi, dimanfaatkan dengan melakukan investasi pada sektor
sektor bank dan lembaga keuangan, dan sektor jasa-jasa). industri pengolahan. Selanjutnya, dengan diberlakukannya
Dalam proses ini, pergeseran pangsa tetap harus diikuti oleh paket kebijakan Oktober 1988 (Pakto 1988) yang memberikan
pertumbuhan dari masing-masing sektor meskipun dengan laju ruang gerak lebih luas pada perbankan, pangsa sektor tersier
menunjukkan peningkatan yang pesat terutama disumbang
1) Sumitro Djojohadikusumo, “Dasar Teori Ekonomi Pertumuhan dan oleh lonjakan pangsa sektor bank dan lembaga keuangan.
Ekonomi Pembangunan”, Jakarta, Juni 1994, hal 126. Perkembangan yang amat pesat pada sektor sekunder

34
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

terutama untuk industri pengolahan dan (pada tahap proses transformasi itu terjadi, mulai dari masa pertumbuhan
berikutnya) sektor tersier yang dimotori oleh perbankan, jauh tinggi (booming) hingga periode pemulihan.
melebihi percepatan pertumbuhan sektor primer sehingga Seperti telah disinggung sebelumnya, proses
pangsa sektor primer menurun secara tajam. transformasi di Indonesia dipicu oleh perkembangan industri
Permasalahan yang muncul adalah mengenai manufaktur yang amat pesat. Namun, proses ini ternyata
percepatan tranformasi itu sendiri. Indonesia sebagai negara didukung oleh perkembangan industri manufaktur yang
yang kaya akan sumber daya alam --dengan mengacu pada kurang berbasis pada sumber daya alam dimana Indonesia
pengalaman negara-negara berkembang sebagaimana memiliki keunggulan komparatif. Ekspansi usaha yang pesat
telah disebutkan di muka-- seyogyanya mengalami proses pada sektor sekunder berpusat pada proyek-proyek berskala
penurunan pangsa sektor primer yang tidak terlalu drastis. mega maupun sektor yang relatif kurang kompetitif namun
Batasan mengenai kecepatan perubahan ini sendiri memang memberikan return tinggi. Pembiayaan kegiatan ini dilakukan
sumir, sehingga kajian singkat ini tidak akan membahas lebih dengan melakukan pinjaman luar negeri yang pada gilirannya
jauh mengenai “ketepatan” dari percepatan laju perubahan dapat memberikan tekanan pada neraca pembayaran dan
tersebut melainkan lebih menekankan pada bagaimana memiliki potensi permasalahan dalam pelunasannya.

% % % %
45,0 44,0 30,0 30,0
Pertanian
43,0
40,0 Pertambangan
25,0 25,0
42,0
35,0
41,0 20,0 20,0
30,0 40,0
15,0 15,0
25,0 39,0

38,0
10,0 10,0
20,0
37,0
Primer Sekunder Tersier (aksis kanan)
15,0 36,0 5,0 5,0
I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV
‘82 ‘83 ‘84 ‘85 ‘86 ‘87 ‘88 ‘89 ‘90 ‘91 ‘92 ‘93 ‘94 ‘95 ‘96 ‘97 ‘98 ‘99 ‘00 ‘82 ‘83 ‘84 ‘85 ‘86 ‘87 ‘88 ‘89 ‘90 ‘91 ‘92 ‘93 ‘94 ‘95 ‘96 ‘97 ‘98 ‘99 ‘00

% % % %
30,0 10,0 18,0 11,0
Perdagangan
Industri
Pengangkutan
Listrik (aksis kanan) Jasa-jasa
26,0 8,0 16,0 10,0
Bangunan (aksis kanan) Bank

22,0 6,0 14,0 9,0

18,0 4,0 12,0 8,0

14,0 2,0 10,0 7,0

10,0 0,0 8,0 6,0


I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV
‘82 ‘83 ‘84 ‘85 ‘86 ‘87 ‘88 ‘89 ‘90 ‘91 ‘92 ‘93 ‘94 ‘95 ‘96 ‘97 ‘98 ‘99 ‘00 ‘82 ‘83 ‘84 ‘85 ‘86 ‘87 ‘88 ‘89 ‘90 ‘91 ‘92 ‘93 ‘94 ‘95 ‘96 ‘97 ‘98 ‘99 ‘00

Grafik 1
Pangsa terhadap PDB

35
Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Perkembangan ini dimungkinkan karena adanya proteksi sektor primer pada periode awal krisis ekonomi bukanlah suatu
terhadap proyek-proyek tersebut, serta diperparah dengan fenomena distranformasi, tapi lebih merupakan dampak
adanya distorsi-distorsi seperti mark-up nilai proyek, praktik KKN penyesuaian pasar terhadap sektor sekunder dan tersier.
dan lain sebagainya yang menghasilkan ekonomi biaya tinggi Secara nominal, nilai tambah sektor primer relatif tidak
dan berdiri tidak dengan fondasi yang kuat (bubbles). bertambah semenjak krisis, sedangkan nilai tambah sektor
Berbagai ketidakseimbangan ini pada gilirannya akan sekunder dan tersier merosot drastis. Hal ini tidak sejalan dengan
mengalami penyesuaian. proses transformasi yang tidak hanya merupakan pergeseran
Krisis yang terjadi --diawali dengan tekanan pada nilai pangsa tetapi juga mensyaratkan pertambahan dari segi
tukar sejak paro kedua 1997-- telah mengubah arah pangsa produksinya.
masing-masing sektor terhadap PDB. Sektor primer yang Lebih jauh dapat dikatakan bahwa selama krisis
secara konsisten menunjukkan penurunan pangsa, sejak krisis terganggunya proses kelangsungan proses produksi pada
melonjak dengan pesat. Mengingat Indonesia sebagai suatu sektor sekunder, khususnya industri pengolahan, merupakan
negara yang kaya akan sumber daya alam dan mempunyai akibat dari merosotnya impor karena nilai tukar rupiah yang
latar belakang historis pertanian yang kental, sektor primer melorot tajam sejak pertengahan 1997. Di sisi lain, depresiasi
pada saat krisis menjadi bantalan (bumper) terhadap nilai tukar telah menyebabkan ekspor meningkat khususnya
anjloknya pertumbuhan. Hal ini terlihat dari meningkatnya untuk komoditi di sektor primer. Seiring dengan surplus transaksi
peran sektor pertanian dan pertambangan dalam berjalan yang semakin besar, kemampuan untuk melakukan
pembentukan PDB. impor khususnya bahan baku dan barang modal menjadi
Seiring dengan meningkatnya pangsa sektor primer, meningkat pula, sehingga mendorong kegiatan di sektor
sektor sekunder dan terutama sektor tersier menurun drastis, industri pengolahan, baik untuk memenuhi permintaan
sebagai koreksi terhadap bubbles yang terjadi sebelumnya. domestik maupun lular negeri. Mulai pulihnya konsumsi
Penurunan pangsa sektor sekunder memang tidak terlalu masyarakat serta sektor industri pengolahan menandai
drastis karena masih tertolong oleh peningkatan pangsa dimulainya periode pemulihan. Laju pertumbuhan sektor
industri makanan, minuman dan tembakau, industri pengila- sekunder meningkat relatif pesat, melampaui laju per-
ngan minyak bumi dan gas alam cair. Namun demikian, tumbuhan di sektor primer, sehingga pangsa sektor ini kembali
sebagian besar industri yang termasuk dalam sektor industri meningkat.
pengolahan mengalami penurunan, terutama pangsa dari Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akibat krisis
industri semen dan industri alat angkutan, mesin dan peralatan. yang terjadi sejak 1997 yang lalu, perekonomian Indonesia tidak
Sektor tersier bahkan mengalami penurunan pangsa yang mengalami perubahan struktur yang signifikan. Pergeseran
paling dalam. Sejalan dengan yang pernah dialami oleh pangsa yang terjadi hanyalah merupakan shock temporer
negara-negara lain dimana penyesuaian terhadap bubbles sebagai penyesuaian terhadap landasan perekonomian In-
pertama-tama akan menyebabkan koreksi pada sektor donesia. Sektor sekunder dan tersier akan tetap menjadi mo-
properti, sektor konstruksi di Indonesia juga mengalami kontraksi tor pertumbuhan dengan pangsa yang terus meningkat.
yang amat dalam sehingga menipiskan pangsanya dalam Pelajaran yang dapat ditarik yang terkait dengan perubahan
pembentukan PDB. struktur tersebut adalah perlunya strategi pembangunan,
Pergeseran pangsa ini berlangsung kurang lebih 1–2 khususnya sektor industri, yang lebih berbasis pada sumber
tahun dan secara perlahan arah pergerakan telah kembali daya alam sehingga proses peralihan dari sektor primer yang
ke pola transformasi struktural yang biasa dialami oleh negara tradisional ke sektor sekunder dan tersier berlangsung secara
berkembang. Patut dicermati bahwa peningkatan pangsa lebih "wajar".

2) Grafik mengenai ICOR dapat dilihat pada Grafik 2.10

36
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi
b ab
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

3 Nilai Tukar dan Inflasi


Bab 3 Moneter

P erkembangan nilai tukar dan inflasi sepanjang tahun 2000


sangat terkait dengan perkembangan di sisi makro-
ekonomi maupun kondisi politik dan keamanan di dalam
bersifat menetap (persistent). Secara keseluruhan, laju inflasi
tahun 2000 mencapai 9,35% (year-on-year), lebih tinggi
dibandingkan dengan inflasi tahun 1999 sebesar 2,01%.
negeri. Proses pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari yang Melemahnya nilai tukar rupiah yang lebih besar dari
diprakirakan ternyata diikuti oleh meningkatnya tekanan- yang diprakirakan juga mendorong tekanan kenaikan harga
tekanan kenaikan harga terutama sejak pertengahan tahun melalui kenaikan harga barang-barang impor. Selama tahun
2000. Akselerasi kegiatan ekonomi telah memberikan 2000, nilai tukar rupiah rata-rata mencapai Rp8.400 per dolar
dorongan kenaikan di sisi permintaan yang cukup kuat baik AS, lebih tinggi dari asumsi sebesar Rp7.000 per dolar AS yang
untuk konsumsi, impor maupun investasi walaupun belum digunakan dalam penetapan sasaran inflasi. Tekanan
dapat diimbangi kenaikan di sisi penawaran. Sisi penawaran terhadap nilai tukar rupiah meningkat terutama sejak bulan
masih rawan dengan berbagai permasalahan struktural April 2000 sebagai akibat perkembangan situasi politik dan
berkaitan dengan lambatnya proses restrukturisasi utang dan keamanan menjelang Sidang Tahunan MPR Agustus 2000,
perusahaan, belum pulihnya intermediasi perbankan, serta menguatnya mata uang dolar AS terhadap hampir semua
sangat terbatasnya sumber pembiayaan dari luar negeri. Iklim mata uang utama dunia, dan besarnya permintaan valuta
berusaha juga belum membaik akibat perkembangan politik asing untuk pembayaran utang luar negeri. Tekanan-tekanan
dan keamanan di dalam negeri. Tekanan kenaikan harga terhadap rupiah telah membuat kurs rupiah menjadi terlalu
yang muncul karena berbagai permasalahan dan faktor rendah terhadap nilai fundamentalnya.
ketidakpastian tersebut telah menyebabkan kenaikan sisi Perkembangan tersebut menggambarkan eratnya
penawaran kurang dapat mendukung peningkatan di sisi kaitan antara perkembangan sisi ekonomi maupun politik dan
permintaan. keamanan dengan perkembangan inflasi dan nilai tukar.
Tekanan kenaikan harga menjadi lebih besar dengan Dalam hal ini, Bank Indonesia berperan penting dalam
adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi berbagai memelihara kestabilan nilai rupiah dalam mendukung
subsidi guna mendorong pembentukan harga berdasarkan kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana
mekanisme pasar serta kebijakan untuk meningkatkan disebutkan dalam pasal 7 Undang-Undang No. 23 tahun 1999
kesejahteraan pegawai negeri sipil (PNS). Dalam tahun 2000, tentang Bank Indonesia, tujuan Bank Indonesia adalah
pemerintah telah mengeluarkan kebijakan penyesuaian di mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah baik
bidang harga dan pendapatan yang antara lain mencakup terhadap harga barang dan jasa di dalam negeri (laju inflasi)
pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM), kenaikan tarif maupun kestabilan nilai mata uang rupiah terhadap mata
dasar listrik (TDL), tarif angkutan, cukai rokok, serta kenaikan uang asing (nilai tukar rupiah). Dalam melaksanakan pengen-
gaji PNS, TNI, dan Polri, serta upah minimum regional (UMR). dalian moneter, Bank Indonesia menetapkan laju inflasi sebagai
Selain itu, tekanan inflasi juga muncul dengan semakin sasaran akhir kebijakan moneter dengan mempertimbangkan
tingginya ekspektasi peningkatan laju inflasi di kalangan berbagai asumsi penting seperti pertumbuhan ekonomi dan
konsumen dan produsen. Peningkatan ekspektasi ini nilai tukar, termasuk juga asumsi situasi politik yang berdampak
mengakibatkan kecenderungan kenaikan harga-harga bagi perekonomian. Dengan demikian, pelaksanaan
menjadi sulit diredam dengan segera karena cenderung kebijakan moneter oleh Bank Indonesia tersebut akan

38
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan keuangan terhadap rekening vostro (milik nonresiden), dan melakukan
secara keseluruhan. kajian yang mendalam terhadap kemungkinan pembatasan
Dalam tahun 2000, perkembangan ekonomi, nilai tukar transaksi rupiah oleh nonresiden.
dan inflasi seperti yang digambarkan di atas telah
menyebabkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan Nilai Tukar
moneter oleh Bank Indonesia menjadi lebih sulit dan dilematis. Selama tahun 2000, perkembangan nilai tukar rupiah
Di satu sisi, meningkatnya tekanan inflasi dan nilai tukar rupiah cenderung mengalami depresiasi disertai dengan volatilitas
menuntut Bank Indonesia untuk melakukan pengetatan di yang tinggi. Secara rata-rata nilai tukar rupiah mencapai
bidang moneter. Akan tetapi, di sisi lain pengetatan moneter Rp8.400 per dolar AS, melemah dibandingkan rata-rata tahun
ini tidak dapat dilakukan secara drastis dan berlebihan karena 1999 sebesar Rp7.850 per dolar AS. Nilai tukar rupiah mencapai
akan mengancam kelangsungan proses penyehatan titik terendah sebesar Rp9.675 per dolar AS pada akhir
perbankan dan restrukturisasi perusahaan yang masih rentan. Desember 2000. Dengan perkembangan ini, nilai tukar rupiah
Kegagalan dalam bidang-bidang tersebut pada gilirannya mengalami deviasi yang cukup besar terhadap nilai
dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan publik fundamentalnya. Tekanan depresiasi rupiah tersebut terutama
terhadap prospek pemulihan ekonomi secara keseluruhan. disebabkan oleh kesenjangan antara penawaran dan
Hal ini dapat menjadi pemicu bagi kembalinya lingkaran permintaan valuta asing (supply-demand imbalance), ekses
depresiasi nilai tukar dan kenaikan laju inflasi (depreciation - likuiditas rupiah di pasar uang, sentimen negatif terhadap
inflation spiral) seperti yang terjadi pada puncak krisis ekonomi ketidakstabilan situasi politik dan keamanan di dalam negeri,
yang lalu. dan semakin aktifnya perdagangan rupiah oleh nonresiden
Dalam menyikapi perkembangan inflasi, nilai tukar dan sejalan dengan meningkatnya internasionalisasi rupiah.
ekonomi seperti di atas, Bank Indonesia menempuh kebijakan Kesenjangan yang terjadi antara penawaran dan
moneter yang cenderung ketat (tight bias) terutama sejak Mei permintaan valuta asing tersebut tidak sejalan dengan
2000. Artinya, kebijakan moneter tetap diarahkan untuk membaiknya kinerja sektor perdagangan luar negeri. Surplus
menyerap kelebihan likuiditas dalam perekonomian agar tidak perdagangan yang cukup besar dalam tahun laporan belum
menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah, mampu meningkatkan pasokan valuta asing di pasar secara
namun dengan menghindari kenaikan suku bunga yang drastis berarti karena devisa hasil eskpor belum seluruhnya mengalir
dan berlebihan. ke dalam negeri. Demikian pula, aliran devisa masuk (capital
Langkah pengetatan moneter dilakukan melalui inflows) yang bersumber dari investasi asing belum dapat
mekanisme operasi pasar terbuka (OPT) untuk menyerap ekses diharapkan karena situasi di dalam negeri yang belum
likuiditas rupiah di pasar uang agar tidak digunakan untuk kondusif. Di pihak lain, tekanan permintaan terhadap valuta
spekulasi di pasar valuta asing. Langkah pengetatan ini juga asing masih besar, terutama permintaan murni dalam rangka
dibantu dengan sterilisasi valuta asing yang dilakukan Bank pelunasan utang luar negeri swasta. Ketidakseimbangan
Indonesia untuk menyerap kembali pengeluaran rupiah dari tersebut telah mengakibatkan kondisi pasar valuta asing
penerimaan luar negeri pemerintah sekaligus untuk sangat tipis sehingga sangat rentan terhadap ketidakstabilan
menambah pasokan valuta asing di pasar. Selain itu, Bank di dalam negeri. Dalam situasi seperti itu, gejolak nilai tukar
Indonesia juga melakukan langkah-langkah yang secara rupiah mudah terjadi yang mencerminkan rendahnya
langsung dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar ru- kepercayaan pelaku pasar untuk memegang rupiah. Dalam
piah, seperti pengawasan langsung terhadap sejumlah bank tahun laporan, konflik sosial politik yang terjadi secara
pelaku terbesar dalam transaksi valuta asing, monitoring berkelanjutan telah menimbulkan ketidakstabilan di dalam

39
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

negeri yang pada gilirannya telah membentuk sentimen pasar Perkembangan Nilai Tukar tahun 2000
yang asimetris terhadap rupiah. Dengan perilaku yang asimetris Dalam tahun 2000, nilai tukar rupiah mengalami tekanan
tersebut, pelaku pasar cenderung bereaksi secara berlebihan depresiasi yang sangat tajam dengan volatilitas yang tinggi.
terhadap berita negatif dibandingkan berita positif. Nilai tukar rupiah melemah dari rata-rata bulan Januari Rp7.274
Sementara itu, sebagai akibat belum pulihnya fungsi per dolar AS menjadi Rp9.435 per dolar AS pada bulan
intermediasi perbankan dan terbatasnya outlet investasi di Desember 2000 atau telah terdepresiasi sebesar 22,9%, dengan
pasar uang dalam negeri, kondisi likuiditas rupiah di pasar uang titik terendah pada level Rp9.675 per dolar AS yang dicapai
dalam negeri cenderung longgar. Di pihak lain, rambu-rambu pada akhir Desember 2000 (Grafik 3.1).
yang mengatur lalu lintas rupiah antar negara (cross-border Terpilihnya Pemerintahan baru secara demokratis pada
transaction) masih sangat longgar sehingga mengakibatkan akhir tahun 1999 pada awalnya telah menumbuhkan optimis-
ekses likuiditas rupiah di pasar uang dalam negeri (on-shore) me akan terciptanya stabilitas sosial politik di dalam negeri
banyak mengalir secara bebas ke pasar uang luar negeri (off- sehingga pemulihan ekonomi diharapkan berjalan lebih cepat.
shore) yang pada gilirannya meningkatkan internasionalisasi Hal ini diperlihatkan oleh sentimen positif pasar sehingga
rupiah. Dalam perkembangannya, pemanfaatan rupiah di mendorong penjualan valuta asing di pasar dan memperkuat
pasar luar negeri tersebut cenderung lebih banyak digunakan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp7.000 per dolar AS. Hal
untuk kegiatan transaksi di pasar uang yang tidak didasari oleh ini terus berlanjut sampai awal tahun 2000. Dengan harapan
kegiatan ekonomi riil, termasuk transaksi derivatif untuk tujuan kondisi sosial politik akan stabil sepanjang tahun 2000, nilai tukar
spekulasi. rupiah pada awalnya diprakirakan akan stabil pada level
Menghadapi nilai tukar rupiah yang cenderung Rp7.000 per dolar AS.
mengalami depresiasi tersebut, Bank Indonesia telah Namun harapan tersebut ternyata tidak sesuai dengan
melakukan berbagai upaya agar rupiah tidak mengalami kenyataan. Kondisi kondusif yang tercipta pada awal tahun
depresiasi yang lebih tajam. Pertama, langkah pengetatan tidak berlangsung lama, karena konflik sosial politik secara tidak
moneter dilakukan melalui mekanisme operasi pasar terbuka terduga mulai meningkat terutama sejak awal April 2000.
(OPT) untuk menyerap ekses likuiditas rupiah di pasar uang Pertentangan terbuka antar tokoh politik, kerusuhan sosial
agar tidak dipergunakan untuk spekulasi di pasar valuta asing. berlatar belakang etnis dan SARA di beberapa daerah, serta
Pengetatan ini juga dibantu dengan sterilisasi valuta asing yang
dilakukan Bank Indonesia untuk menyerap pengeluaran rupiah
Rp/$
pemerintah, sekaligus untuk menambah pasokan valuta asing
9.435
9.352
9.500
di pasar. Kedua, Bank Indonesia juga melakukan langkah- 9.153
8.915
9.000 8.605 8.631
langkah yang secara langsung dapat mengurangi tekanan 8.500
8.340
8.436

terhadap nilai tukar rupiah. Langkah ini antara lain mencakup 8.000 7.785

7.438 7.463
7.274
7.500
pengawasan langsung terhadap sejumlah bank pelaku
7.000
terbesar dalam transaksi valuta asing, monitoring terhadap 6.500

rekening vostro (milik nonresiden), dan melakukan kajian yang 6.000

5.500
mendalam terhadap kemungkinan pembatasan transaksi ru-
5.000
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
piah oleh nonresiden. Namun disadari bahwa upaya meredam
2000
gejolak nilai tukar tersebut belum memberikan hasil yang opti-
Grafik 3.1
mal mengingat besarnya pengaruh faktor non-ekonomi yang
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
kurang kondusif.

40
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

ancaman disintegrasi, kembali memperburuk sentimen pasar melalui operasi pasar terbuka (OPT) untuk menyerap
yang pada gilirannya mendorong terjadinya aksi beli valuta kelebihan likuiditas rupiah di pasar. Suku bunga SBI mulai
asing. Kepercayaan pasar untuk memegang rupiah semakin meningkat untuk memberikan sinyal kepada pasar mengenai
menurun setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor's langkah pengetatan Bank Indonesia dalam meredam
menurunkan sovereign credit rating Indonesia untuk utang melemahnya nilai tukar rupiah. Selain itu, untuk membantu
jangka panjang dan jangka pendek berdenominasi valuta OPT, Bank Indonesia juga melakukan sterilisasi valuta asing
asing masing-masing dari CCC+ dan C menjadi SD (selective guna memberikan tambahan pasokan valuta asing di pasar.
default). Pada saat yang bersamaan Standard & Poor's juga Namun, langkah-langkah yang diambil Bank Indonesia
menurunkan peringkat utang luar negeri Indonesia terhadap tersebut belum memberikan hasil yang optimal karena eskalasi
bank-bank asing dari CCC+ menjadi D (default). konflik politik semakin meningkat. Di samping itu, secara glo-
Di pihak lain, kekhawatiran terhadap melemahnya bal mata uang dolar AS semakin menguat akibat antisipasi
nilai tukar rupiah lebih lanjut telah mendorong pembelian pasar terhadap berlanjutnya peningkatan suku bunga di
valuta asing oleh dunia usaha, guna mengantisipasi Amerika Serikat. Akibatnya, tekanan depresiasi terhadap ru-
pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo pada piah terus berlanjut dan mencapai titik tertinggi pada level
bulan Juni dan Juli. Hal ini pada gilirannya semakin mem- Rp8.650 per dolar AS pada bulan Mei 2000 (Grafik 3.2).
perberat tekanan depresiasi terhadap rupiah sehingga nilai Selanjutnya, menjelang sidang tahunan MPR 2000 konflik
tukar menembus level psikologis Rp8.000 per dolar AS pada politik semakin tajam sehingga meningkatkan kekha watiran
akhir bulan April 2000, yang merupakan titik terendah sejak terhadap stabilitas keamanan di dalam negeri. Ketidakpastian
15 Oktober 1999. akibat ketidakstabilan kondisi sosial politik tercermin dari
Rendahnya kepercayaan pasar terhadap rupiah akibat perkembangan premi swap dan premi risiko yang terus
kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang kurang meningkat tajam (Grafik 3.3 dan 3.4). Seiring dengan
kondusif terus berlanjut memasuki bulan Mei 2000 sehingga perkembangan tersebut, volatilitas nilai tukar meningkat tajam
terus memberi tekanan depresiasi terhadap rupiah. dan nilai tukar menembus level psikologis Rp9.000 per dolar AS
Menghadapi nilai tukar rupiah yang depresiatif tersebut, Bank dalam bulan Juli 2000 dan mencapai titik terendah pada level
Indonesia mulai melakukan langkah pengetatan moneter Rp9.600 per dolar AS (Grafik 3.5).

Kurs (Rp/$) Premi Kurs

750 10.000
9.500 Premi Risiko
700 IDR/USD 9.500
Trend
9.000 650 Trend 9.000
8.500 600
8.500
550
8.000
8.000
500
7.500 7.500
IDR 450
10 per. Mov. Avg. (IDR)
7.000 400 7.000
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov.
I II III IV 2000
2000

Grafik 3.2 Grafik 3.3


Trend Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Premi Risiko dan Nilai Tukar Tahun 2000

41
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

% %

8,0 5,0
O/N
7,0 1 Bulan 3,0
3 Bulan
6,0 6 Bulan
12 Bulan 1,0

5,0
–1,0
4,0

–3,0
3,0

2,0 –5,0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. IV I II III IV

2000 1999 2000

Grafik 3.4 Grafik 3.5


Perkembangan Premi Swap Tahun 2000 Volatilitas Nilai Tukar Tahun 2000

Kekhawatiran tersebut memudar setelah sidang tahunan oleh Standard & Poor's dan terus membaiknya kegiatan
MPR berjalan lancar tanpa gangguan berarti, sehingga ekonomi yang didukung oleh ekspor, konsumsi dan investasi.
mendorong penjualan kembali valuta asing di pasar. Di pihak Respon pelaku pasar yang asimetris tersebut pada gilirannya
lain, melalui operasi pasar terbuka dan sterilisasi valuta asing, menyebabkan nilai tukar rupiah bergerak dalam trend yang
Bank Indonesia secara konsisten terus menyerap kelebihan melemah secara persisten sampai akhir Desember 2000.
likuiditas rupiah dan meningkatkan pasokan valuta asing di Secara rata-rata, nilai tukar rupiah pada bulan Desember
pasar. Kedua faktor tersebut mendorong nilai tukar rupiah mencapai Rp9.435 per dolar AS.
menguat hingga mendekati level Rp8.000 per dolar AS pada Melemahnya nilai tukar rupiah secara cukup tajam
bulan Agustus 2000. dalam tahun 2000, telah mengakibatkan rupiah mengalami
Namun demikian, penguatan nilai rupiah tersebut tidak deviasi yang cukup besar terhadap nilai fundamentalnya.
berlangsung lama karena permintaan valuta asing oleh Dengan mengunakan pendekatan Real Effective Exchange
korporasi kembali meningkat guna mengantisipasi pelunasan Rate (REER) dan memperhatikan perkembangan nilai tukar
utang luar negeri yang jatuh waktu sampai Desember 2000. Di negara-negara pesaing, maka rata-rata nilai tukar sepanjang
pihak lain, kekhawatiran terhadap ketidakstabilan situasi sosial tahun 2000 yang sesuai dengan keseimbangan internal dan
politik dan terganggunya stabilitas perekonomian kembali eksternal diprakirakan hanya mencapai Rp7.500 per dolar AS.
meningkat. Silang pendapat antar tokoh politik, ancaman Dengan demikian, apabila dibandingkan dengan rata-rata
disintegrasi, ketidakpastian terhadap amandemen UU Bank nilai tukar pasar sepanjang tahun 2000 sebesar Rp8.400 per
Indonesia, dan aksi teror terhadap sejumlah tempat ibadah di dolar AS, maka nilai tukar rupiah mengalami deviasi dari nilai
beberapa daerah kembali memperburuk sentimen pelaku fundamentalnya sekitar 12,0% (Grafik 3.6).
pasar terhadap rupiah. Sementara itu, bila memperhitungkan posisi per
Memburuknya sentimen pasar akibat gejolak faktor non- Desember 2000, maka nilai tukar yang sesuai dengan
ekonomi yang disertai dengan meningkatnya permintaan keseimbangan internal dan eksternal diprakirakan hanya
murni valuta asing oleh dunia usaha tersebut telah membuat mencapai Rp7.600 per dolar AS. Dengan demikian, dengan
pelaku pasar tidak banyak bereaksi terhadap beberapa faktor rata-rata nilai tukar pasar pada bulan Desember sebesar
positif seperti upgrading peringkat sovereign credit Indonesia Rp9.435 per dolar AS, maka nilai tukar rupiah telah mengalami

42
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Penawaran Valuta asing


Rp/$ Dari sisi penawaran, sumber utama pasokan valuta asing di
9.500
pasar adalah devisa hasil ekspor, sterilisasi valuta asing oleh
9.000
Kurs Pasar bank sentral, dan aliran modal masuk asing baik berupa
8.500 penanaman modal langsung (FDI), investasi portofolio, mau-
Devisasi
8.000 pun pinjaman luar negeri. Namun, beberapa kendala telah

7.500
menghambat terciptanya peningkatan pasokan valuta asing

Nilai Tukar Keseimbangan


tersebut sehingga kondisi pasar valuta asing domestik masih
7.000 Fundamental
tetap tipis.
6.500
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Sepanjang tahun 2000 kinerja ekspor Indonesia
2000
mengalami peningkatan dengan neraca perdagangan

Grafik 3.6 nonmigas mencatat surplus sebesar $14,9 miliar. Sementara


Deviasi Kurs Pasar dari Nilai Fundamental itu, lalu lintas modal swasta masih mengalami defisit sebesar
$8,5 miliar karena arus modal keluar terutama untuk
pembayaran utang luar negeri swasta belum diimbangi
deviasi dari nilai fundamentalnya sekitar 24,0%. Sementara itu, dengan masuknya arus modal masuk secara berarti.
apabila menggunakan pendekatan Bilateral Real Exchange Namun surplus perdagangan sektor nonmigas yang
Rate (BRER) , sepanjang tahun 2000 nilai tukar rupiah underva- cukup besar tersebut belum memberikan dampak apresiasi
lued sekitar 45,0% --lebih tinggi dibandingkan Singapura, Thai- terhadap rupiah karena tidak seluruh devisa hasil ekspor
land, Malaysia, Korea, dan Republik Rakyat Cina--, sehingga mengalir ke dalam negeri. Eksportir masih cenderung menyim-
sangat kompetitif bagi produk ekspor Indonesia (Grafik 3.7). pan devisa hasil ekspor (DHE) di bank luar negeri karena
Terjadinya deviasi nilai tukar rupiah terhadap nilai beberapa alasan. Pertama, kepercayaan pihak luar negeri
ekuilibrium fundamental ekonomi juga dapat dijelaskan mela- terhadap stabilitas sosial politik masih sangat rendah. Sebagai
lui fenomena speculative bubble yang terjadi di pasar valuta akibatnya, eksportir hanya memperoleh kontrak-kontrak
asing (Boks : "Speculative Bubble" Dalam Pasar Valuta Asing). perdagangan jangka pendek dan sebagai tindakan berjaga-
jaga hal ini mendorong eksportir menyimpan devisanya di luar

Indek BRER negeri. Selain itu, masih rendahnya kepercayaan luar negeri
95 terhadap kondisi perbankan di dalam negeri mendorong
90
85
eksportir membuka L/C di bank luar negeri. Kedua, dengan
80 menyimpan DHE di bank luar negeri, eksportir dengan mudah
75
dapat memperoleh fasilitas kredit valuta asing dalam rangka
70
65 pembiayaan ekspor dengan biaya yang lebih rendah, yang
60 pada dasarnya kemudahan ini sulit diperoleh dari bank di
55
50 Indonesia Singapura Thailand dalam negeri. Hal ini mengakibatkan sebagian besar hasil
Malaysia Korea RRC
45 devisa ekspor dimasukkan kembali dalam rekening escrow di
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
2000 bank-bank luar negeri. Di pihak lain, ongkos perolehan valuta
asing yang harus dipikul eksportir di bank-bank domestik dinilai
Grafik 3.7
Bilateral Real Exchange Rate masih kurang kompetitif dan tidak efisien. Ketiga, kegiatan
ekspor banyak diantaranya merupakan ekspor yang dilakukan

43
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

nonresiden yang melakukan kegiatan produksi di Indonesia


yang hasil produksinya kemudian diekspor ke luar negeri % IDR/$
6,0 10.000
sehingga cukup beralasan bagi mereka untuk menyimpan
4,0 9.500
devisa hasil eskpornya di bank luar negeri.
9.000
2,0
Arus modal asing (capital inflows) baik dalam bentuk 8.500
0,0
investasi langsung maupun portofolio belum menunjukkan 8.000
-2,0
perkembangan positif. Penanaman modal berjangka panjang 7.500
-4,0
masih belum dapat diharapkan karena rendahnya 7.000
-6,0 6.500
kepercayaan investor asing terhadap kepastian berinvestasi CIP IDR/$
-8,0 6.000
di Indonesia, khususnya yang terkait dengan jaminan Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

1999 2000
keamanan, kepastian hukum, restrukturisasi sektor dunia usaha
yang lamban, serta fluktuasi nilai tukar (risiko nilai tukar) yang Grafik 3.8
Kurs Rupiah dan Covered Interest Rate Parity
sangat tinggi. Dalam pada itu, kelengkapan instrumen dan
kedalaman pasar derivatif guna melakukan lindung nilai
(hedging) mata uang rupiah yang sangat fluktuatif masih
sangat terbatas. Dalam pada itu, pasokan valuta asing yang berasal dari
Sementara itu, investasi portofolio yang pada umumnya Bank Indonesia melalui sterilisasi valuta asing hanya dapat
bersifat jangka pendek sangat sensitif terhadap ekspektasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini terkait dengan
perubahan situasi sosial politik di dalam negeri sehingga belum fungsi utama sterilisasi valuta asing sebagai bagian dari
dapat menjadi sumber pasokan valuta asing yang permanen. pengendalian moneter Bank Indonesia dalam rangka
Di pasar modal, situasi sosial politik yang belum kondusif men- menyerap kelebihan likuiditas rupiah untuk mencapai target
dorong investor asing cenderung melakukan strategi perdaga- uang primer yang ditetapkan, khususnya untuk menyerap
ngan yang hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan kembali pengeluaran rupiah dari penerimaan luar negeri
sesaat (hit and run). Sedangkan di pasar uang, situasi yang sama pemerintah.
menyebabkan investor asing kurang sensitif terhadap arah
perubahan suku bunga di dalam negeri. Dalam kondisi di mana Permintaan Valuta Asing
country risk sangat tinggi, perbedaan suku bunga dalam dan Dari sisi permintaan, tekanan depresiasi terhadap rupiah
luar negeri (meskipun masih positif) bukan merupakan diakibatkan oleh masih tingginya permintaan valuta asing
pertimbangan utama investor (Grafik 3.8). Di pihak lain, yang berasal dari permintaan murni untuk transaksi ekonomi,
pengalihan portofolio investor internasional dari pasar keuangan permintaan yang bermotif spekulasi, serta yang bermotif
Eropa, Jepang, dan negara-negara emerging market ke pasar penyelamatan portofolio. Permintaan murni terutama untuk
keuangan Amerika Serikat sepanjang tahun laporan semakin memenuhi kebutuhan impor dan pelunasan utang luar negeri
meningkat, terutama dipicu oleh dua faktor. Pertama, ber- swasta. Kebutuhan valuta asing untuk impor semakin
lanjutnya peningkatan suku bunga di Amerika Serikat (profit meningkat seiring dengan meningkatnya kegiatan produksi
motive). Kedua, merupakan upaya penyelamatan portofolio berorientasi ekspor. Selain itu, valuta asing juga banyak
karena memburuknya sentimen investor internasional terhadap diperlukan beberapa badan usaha milik pemerintah khususnya
negara-negara emerging market (flight to quality motive). Kedua dalam rangka impor migas dan bahan pangan.
faktor ini, secara tidak langsung telah menghambat aliran Dalam pada itu, tekanan permintaan valuta asing untuk
investasi portofolio ke pasar keuangan Indonesia. pelunasan utang luar negeri masih besar. Permintaan valuta

44
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

asing untuk pelunasan utang luar negeri ini telah menimbulkan


Indeks
tekanan depresiasi yang besar terhadap nilai rupiah karena
135
belum dapat diimbangi dengan pasokan valuta asing yang IDR
130 PHP
memadai (Grafik 3.9). JPY
125 THB
Permintaan valuta asing yang bermotif spekulasi dan 120
KRW
Euro
penyelamatan portofolio masih tetap tinggi hampir sepanjang 115

tahun sehingga cenderung melemahkan nilai tukar rupiah 110

secara persistent. Tingginya permintaan valuta asing akibat 105

100
kedua motif tersebut masih lebih banyak dilatarbelakangi
95
sentimen pasar yang negatif terhadap mata uang rupiah I II III IV
2000
sehubungan dengan ketidakstabilan situasi sosial politik yang
Grafik 3.10
tak kunjung reda dan lambannya implementasi agenda
Apresiasi dolar AS Secara Global
restrukturisasi sektor dunia usaha yang dikhawatirkan akan
menghambat proses pemulihan ekonomi.
Tekanan depresiasi terhadap rupiah akibat motif ini rentan terhadap shock eksternal. Hal ini telah turut
transaksi penyelamatan portofolio juga dipicu oleh menimbulkan tekanan depresiasi terhadap sejumlah mata
meningkatnya ketidakpastian dalam skala regional dan glo- uang Asia.
bal. Hal ini mendorong investor internasional melakukan Sementara itu, dalam skala global, mata uang dolar
pengalihan portofolio ke mata uang dolar AS yang dianggap AS cenderung menguat khususnya terhadap beberapa
sebagai mata uang yang paling aman (safe haven currency). mata uang utama dunia seperti yen dan euro (Grafik 3.10).
Dalam skala regional, country risk beberapa negara Asia mulai Menguatnya sentimen positif secara global terhadap mata
meningkat terutama sebagai akibat ketidakstabilan situasi uang dolar AS dalam tahun laporan antara lain sehubungan
politik dan lambannya proses restrukturisasi sektor swasta yang dengan menguatnya perekonomian Amerika Serikat secara
dikhawatirkan akan menjadikan negara-negara di kawasan relatif terhadap perekonomian Eropa dan Jepang yang
berjalan sangat lamban. Selain itu, kebijakan moneter ketat
di Amerika Serikat sejak pertengahan tahun 1999 sampai
Juta $ pertengahan tahun 2000, semakin memperlebar per-
3.000
Bank bedaan suku bunga antara tiga kekuatan ekonomi dunia
2.500 Non Bank tersebut yang pada gilirannya mendorong aliran modal ke
2.000 pasar keuangan Amerika Serikat.
1.500

1.000
Likuiditas dan Internasionalisasi Rupiah
Selain dilatarbelakangi oleh permintaan murni dan spekulasi,
500
meningkatnya permintaan valuta asing juga merupakan
0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
akibat dari kondisi likuiditas rupiah di pasar uang yang sangat
2000 longgar. Belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan
Grafik 3.9
terbatasnya kelengkapan instrumen investasi di pasar uang
Realisasi Pelunasan Utang Luar Negeri Swasta1)
dan pasar modal dalam negeri mengakibatkan kondisi
1) Angka bulan November dan Desember adalah merupakan perkiraan
keuangan perbankan domestik mengalami kelebihan likuiditas

45
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

rupiah. Di pihak lain, rambu-rambu yang membatasi lalu lintas negeri, sering diiringi dengan peningkatan tekanan depresiasi
rupiah antar negara masih sangat longgar. Kedua hal ini terhadap rupiah. Kedua, mutasi rekening vostro (milik
mengakibatkan ekses likuiditas rupiah di pasar uang dalam nonresiden) sangat aktif dan untuk rekening vostro dengan
negeri banyak mengalir secara bebas ke pasar uang luar klasifikasi pasar valuta asing selalu menunjukkan kecen-
negeri khususnya melalui transaksi pinjaman antar bank. derungan net outflow (Grafik 3.11). Ketiga, pangsa volume
Dalam perkembangannya, pemanfaatan rupiah di transaksi cabang bank asing di pasar domestik sangat
pasar uang luar negeri oleh nonresiden cenderung lebih dominan di mana sepanjang tahun laporan selalu berada di
banyak digunakan untuk transaksi yang tidak didasari oleh atas 50,0% dari total volume transaksi.
kegiatan ekonomi riil seperti ekspor/impor dan investasi,
melainkan lebih banyak digunakan untuk kegiatan spekulasi Transaksi Devisa Antar Bank
di pasar rupiah (without underlying transaction) sehingga sering Sejalan dengan melemahnya nilai tukar rupiah sepanjang ta-
mempengaruhi trend dan gejolak nilai tukar. Selain itu, kema- hun laporan, volume transaksi devisa antar bank meningkat
juan dalam rekayasa instrumen derivatif semakin mening- sekitar 21,6% dibanding tahun sebelumnya menjadi $349,0
katkan intensitas spekulasi oleh nonresiden yang pada dasar- miliar. Sedangkan secara rata-rata harian, volume transaksi
nya kurang dapat tertangkap secara penuh oleh beberapa devisa antara bank tercatat sebesar $1,4 miliar per hari atau
ketentuan kehati-hatian (prudential regulation) yang di- telah meningkat sebesar 25,6% dibandingkan tahun
tetapkan Bank Indonesia (Boks : Internasionalisasi Rupiah). sebelumnya.
Pada umumnya, nonresiden melakukan transaksi Berdasarkan jenis transaksi, transaksi swap memiliki
melalui perantaraan sejumlah bank asing yang sebagian besar pangsa terbesar dari total volume transaksi, disusul oleh
merupakan market makers, sehingga mereka berperan besar transaksi spot dan forward (Grafik 3.12). Apabila dibandingkan
dalam proses pembentukan harga di pasar. Peran aktif dengan kondisi tahun lalu, pangsa transaksi swap tahun ini
nonresiden dalam perdagangan rupiah antara lain tercermin meningkat 2,5 %, transaksi spot turun 2,5 %, sedangkan pangsa
dari beberapa indikator. Pertama, meningkatnya permintaan transaksi forward relatif tidak berubah. Menurunnya pangsa
terhadap likuiditas rupiah oleh nonresiden, yang tercermin dari transaksi spot dan meningkatnya pangsa transaksi swap pada
peningkatan suku bunga rupiah di pasar uang antar bank luar tahun 2000 menunjukkan bahwa meskipun secara total vo-

Miliar Rp.

5.500
Swap Forward Spot
3.500
62,0% 0,9% 37,1%
1.500

-500

-2.500

-4.500

-6.500 Trans. Pasar Valas Trans. Pasar Modal


Transaksi Lainnya Poly. (Trans. Pasar Valas)
-8.500
7 10 15 21 24 29 1 6 11 14 19 22 27 2 5 10 13 18 24 30 2 7 10 15 20 23 28
Agustus September Oktober November
2000
Grafik 3.12
Grafik 3.11 Komposisi Volume Transaksi
Rekening Vostro

46
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

lume transaksi telah meningkat namun pelaku pasar lebih


bersikap hati-hati dalam mengantisipasi fluktuasi kurs. Juta $
1.500
Transaksi spot devisa antar bank dalam rupiah valuta
1.300
asing (Rp/$) mencapai 85,4% dari total transaksi devisa
1.100
sepanjang tahun 20001), dengan kecenderungan minat beli 900

valuta asing yang lebih besar dibandingkan minat jual. Hal 700

500
ini tercermin dari posisi transaksi spot perbankan dengan
300
counterpart-nya yang mengalami net-oversold sebesar 100
$135,3 juta. Dari total posisi transksi spot tersebut, posisi –100
Volume Transaksi Harian Posisi Bank, Overbought (+) / Oversold (–)
transaksi spot dengan counterpart nasabah dalam negeri –300
I II III IV

mengalami oversold sebesar $567,4 juta atau dengan kata 2000

lain nasabah dalam negeri cenderung memelihara long Grafik 3.13


dolar AS. Di pihak lain, posisi transaksi spot perbankan Rata-rata Volume Transaksi Harian dan
Posisi Transaksi Bank
mengalami overbought dengan counterpart luar negeri
sebesar $432,0 juta yang menunjukkan bahwa pihak luar
negeri cenderung memiliki posisi short dolar AS. asing oleh masyarakat, seiring dengan meningkatnya
Dari perkembangan secara triwulanan, posisi dan vo- kebutuhan valuta asing menjelang akhir tahun, yang disertai
lume transaksi valuta asing perbankan berfluktuasi seiring dengan munculnya kembali beberapa berita negatif sehingga
dengan perkembangan nilai tukar rupiah (Grafik 3.13). Pada turut membentuk sentimen pasar yang negatif.
Triwulan I 2000 volume transaksi harian tercatat sebesar $1.080,9
juta dengan posisi net overbought. Memasuki Triwulan II vol- Inflasi
ume transaksi harian meningkat 28,8% dengan posisi Perkembangan harga-harga selama tahun 2000 mendapat
perbankan mengalami net oversold, yang mencerminkan tekanan yang berat sejalan dengan meningkatnya kegiatan
meningkatnya kecenderungan minat beli valuta asing akibat ekonomi, adanya kebijakan pemerintah di bidang harga dan
meningkatnya suhu politik menjelang sidang tahunan MPR pendapatan, melemahnya nilai tukar rupiah, dan mening-
pada bulan Agustus. Dalam periode tersebut nilai tukar rupiah katnya ekspektasi inflasi. Berbagai faktor tersebut telah menye-
melemah cukup tajam. Volume harian transaksi kembali babkan laju inflasi IHK tahun 2000 mencapai 9,35% (y-o-y) jauh
menurun 5,7% pada triwulan III dengan posisi transaksi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya
perbankan mengalami net overbought. Hal ini menunjukkan sebesar 2,01%. Dampak kebijakan pemerintah di bidang harga
adanya aksi jual valuta asing oleh masyarakat ke perbankan dan pendapatan secara kumulatif bulanan diprakirakan
setelah dalam triwulan III diwarnai aksi beli. Perkembangan memberikan sumbangan inflasi sebesar 3,19%. Sementara itu,
tersebut sejalan dengan terjadinya penguatan nilai tukar ru- secara tahunan (y-o-y), dampak kebijakan pemerintah
piah dalam periode tersebut. Selanjutnya, rata-rata harian tersebut diprakirakan memberikan sumbangan terhadap inflasi
volume transaksi valuta asing pada triwulan IV turun 3,2% sebesar 3,42%. Angka ini lebih tinggi dari yang semula
dengan posisi transaksi perbankan mengalami net-oversold. diprakirakan yakni sebesar 2,0%. Dengan perkembangan
Hal ini menunjukkan terjadinya akumulasi posisi long valuta tersebut, laju inflasi di luar dampak kebijakan pemerintah di
bidang harga dan pendapatan diprakirakan sebesar 5,93%,
lebih tinggi dari sasaran inflasi yang ditetapkan Bank Indone-
1) 14,6% merupakan transaksi spot devisa antara bank selain transaksi
dalam Rp/$ sia pada awal tahun sebesar 3,0%–5,0%.

47
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Sejalan dengan upaya menstabilkan nilai tukar rupiah,


%
Bank Indonesia telah menempuh berbagai upaya untuk
10,0
mengendalikan inflasi agar sesuai dengan sasaran yang telah 9,0 (m-t-m) Bulanan
8,0 (y-o-y) Tahunan
ditetapkan pada awal tahun. Namun demikian, dalam 7,0
pelaksanaannya Bank Indonesia menghadapi situasi dilematis 6,0
5,0
seperti disinggung pada awal bab ini. Di satu sisi, Bank Indone- 4,0
3,0
sia ingin melakukan kebijakan moneter yang ketat untuk 2,0
1,0
mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, dengan
0,0
konsekuensi suku bunga meningkat tajam dan proses -1,0
-2,0
pemulihan ekonomi yang masih rentan dapat terhambat. Di Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
2000
sisi lain, Bank Indonesia dapat menerapkan kebijakan moneter
Grafik 3.14
yang kondusif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun
Inflasi IHK
sasaran inflasi akan terlampaui. Dalam kondisi demikian, Bank
Indonesia menempuh kebijakan yang cenderung ketat melalui
kenaikan suku bunga secara bertahap, guna memberikan inflasi tertinggi yakni sebesar 2,66%. Kecenderungan ini telah
sinyal kepada masyarakat bahwa Bank Indonesia tetap terjadi sejak tahun lalu dengan peningkatan yang lebih tajam
konsisten untuk menekan laju inflasi tanpa mengganggu proses dalam tahun laporan. Peningkatan sumbangan inflasi
pemulihan ekonomi secara berarti. Kebijakan ini dilakukan perumahan ini terutama disebabkan oleh kenaikan pada sub-
dengan pertimbangan bahwa terhambatnya proses pemu- kelompok biaya tempat tinggal dan sub kelompok bahan
lihan ekonomi dapat menurunkan tingkat kepercayaan bakar, penerangan, dan air. Kelompok lainnya yang
masyarakat terhadap kelanjutan pemulihan ekonomi, yang memberikan sumbangan cukup besar terhadap inflasi tahun
pada gilirannya akan dapat meningkatkan tekanan inflasi dan 2000 adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan
depresiasi nilai tukar rupiah yang lebih tinggi lagi. tembakau, dan kelompok transpor dan komunikasi dengan
sumbangan inflasi masing-masing sebesar 1,78% dan 1,50%.
Perkembangan Inflasi IHK
Dalam tahun laporan, inflasi IHK tercatat sebesar 9,35% (y-o-y)
jauh lebih tinggi dibandingkan 2,01% pada tahun 1999. (%)

Perkembangan inflasi bulanan menunjukkan bahwa tekanan 3,0


Bahan Makanan
2,5 Makanan Jadi
inflasi terjadi pada 10 bulan, kecuali Maret dan September Perumahan
2,0
Sandang
yang mencatat deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada bulan 1,5
1,0
Desember sebesar 1,94% (m-t-m). Peningkatan tekanan harga
0,5
tertinggi terjadi pada tiga bulan terakhir tahun laporan antara 0,0

lain terkait dengan serangkaian kebijakan pemerintah seperti –0,5


–1,0 Pendidikan
pengurangan subsidi BBM, cukai rokok, dan toeslag angkutan –1,5 Kesehatan
Transpor
lebaran, serta adanya peningkatan permintaan masyarakat –2,0
1999 2000
dalam rangka menyambut hari raya keagamaan dan tahun
baru (Grafik 3.14). Grafik 3.15
Berdasarkan sumbangan kelompok barang, dalam Sumbangan Inflasi Kelompok Barang

tahun 2000 kelompok perumahan merupakan penyumbang

48
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

mengendalikan inflasi menjadi dilematis karena dikhawatirkan


m-t-m (%) akan menghambat proses pemulihan ekonomi yang masih
10
Food & energy rentan.
8 IHK bulanan
6
Pengaruh Meningkatnya Kegiatan Ekonomi
4

2
Tingginya tekanan inflasi yang terjadi terutama didorong oleh
0 masih kuatnya peningkatan permintaan agregat sejalan
-2 dengan meningkatnya kegiatan perekonomian domestik.
-4 Dalam kaitan ini, tekanan inflasi muncul karena peningkatan
-6
Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. permintaan tersebut tidak dapat diimbangi oleh
1999 2000
peningkatan penawaran agregat dalam jangka pendek
Grafik 3.16
Inflasi Food & Energy sehubungan dengan permasalahan struktural perekonomian
seperti masih terganggunya fungsi intermediasi perbankan
dan rendahnya minat investasi karena masih tingginya faktor
Sementara itu, kelompok yang memberikan sumbangan di risiko.
bawah 1,0% adalah masing-masing bahan makanan (0,95%), Tingginya tekanan inflasi tersebut antara lain tercermin
sandang (0,78%), pendidikan, rekreasi dan olah raga (0,80%) pada perkembangan output gap yang cenderung menyem-
dan kesehatan (0,86%) (Grafik 3.15). pit seperti ditunjukkan oleh peningkatan kapasitas terpakai
Laju inflasi food & energy dalam tahun laporan (Grafik 3.17). Sementara itu, output potensial belum mem-
mencapai 7,95% (y-o-y), dengan sumbangan terhadap inflasi perlihatkan peningkatan secara berarti antara lain terkait
sebesar 3,84%. Inflasi food & energy tersebut jauh meningkat dengan iklim investasi yang belum kondusif dan masih
dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat deflasi terbatasnya sumber pembiayaan untuk kegiatan investasi
sebesar 1,58% (y-o-y) dan memberikan sumbangan deflasi khususnya yang berasal dari sektor perbankan. Beberapa
sebesar 0,72%. Kenaikan laju inflasi food & energy ini antara subsektor sektor industri pengolahan yang tingkat utilisasinya
lain juga terkait dengan serangkaian kebijakan pemerintah di
bidang harga dan pendapatan, dan peningkatan permintaan
terutama menjelang akhir tahun bersamaan dengan Output Gap (%) IHK (y-o-y), %
15 90
perayaan hari keagamaan (Grafik 3.16).
Output Gap1) 80
10
IHK 70

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi 5


60
50
Tingginya tekanan kenaikan harga-harga pada tahun
0 40
laporan disebabkan oleh akselerasi kegiatan perekonomian 30
-5
20
yang tidak dapat diimbangi dengan peningkatan di sisi
10
-10
penawaran karena masih adanya berbagai permasalahan 0

struktural. Selain itu, tekanan inflasi juga disebabkan oleh -15 -10
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
adanya kebijakan pemerintah di bidang harga dan 1997 1998 1999 2000
1) rasio terhadap output potensial
pendapatan, melemahnya nilai tukar rupiah, serta tingginya
ekspektasi inflasi masyarakat yang telah terjadi sejak awal Grafik 3.17
Output Gap dan Inflasi IHK
tahun laporan. Kebijakan moneter yang dilakukan untuk

49
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Sementara itu, perkembangan aset ekuitas yang tahun lalu


%, (y-o-y) menunjukkan perkembangan positif, dalam tahun laporan
120
Komposit mencatat deflasi sebesar 38,49% (y-o-y) (Grafik 3.18). Hal ini
100 IHSG
Komersial terutama akibat kecenderungan melemahnya pasar modal
80 Residensial
60 secara regional dan adanya sentimen negatif pelaku pasar
40 sehubungan dengan ketidakstabilan politik di dalam negeri
20
(Boks : Inflasi Harga Aset).
0

–20

–40 Pengaruh Kebijakan pemerintah di Bidang Harga dan


–60 Pendapatan
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

1 9 9 7 1 9 9 8 1 9 9 9 2 0 0 0 Dalam tahun 2000, pemerintah mengeluarkan berbagai kebi-


jakan di bidang harga dan pendapatan yang antara lain men-
Grafik 3.18
Inflasi Harga Aset cakup kenaikan harga BBM, tarif angkutan, tarif listrik, cukai
rokok dan bea masuk impor. Kebijakan di bidang pendapatan
terutama mencakup kenaikan gaji PNS, TNI dan Pollri, serta
sudah sangat tinggi adalah subsektor industri yang berorientasi UMR. Beberapa dari kebijakan pemerintah di bidang harga
ekspor seperti subsektor barang galian bukan logam, diikuti dan pendapatan tersebut telah dapat diidentifikasikan pada
oleh subsektor tekstil, pakaian jadi dan kulit serta subsektor awal penetapan APBN 2000 sehingga dapat diprakirakan
kimia, minyak bumi, karet dan plastik. Sementara itu, beberapa dampaknya terhadap kenaikan inflasi. Namun sebagian kebi-
subsektor yang tingkat utilisasinya masih rendah adalah jakan lainnya belum dapat diidentifikasi pada saat penyusunan
subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau. sasaran inflasi di awal tahun sehingga realisasi dampaknya
Indikator lainnya yang menunjukkan tekanan harga terhadap inflasi belum diperhitungkan. Di samping itu, pola
yang berasal dari pesatnya peningkatan kegiatan implementasi kebijakan tersebut berbeda dengan implemen-
perekonomian tercermin pada perkembangan laju inflasi tasi kebijakan serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
harga aset. Inflasi harga aset menunjukkan peningkatan yang Pengaruh kebijakan pemerintah di bidang harga dan
cukup tinggi sebagaimana ditunjukkan oleh komposit inflasi pendapatan terhadap inflasi IHK terdiri dari dampak langsung,
harga aset yang mencapai 13,0% (y-o-y). Peningkatan inflasi dampak tidak langsung, dan announcement effect dari kebi-
harga aset ini terutama terjadi pada kelompok inflasi aset jakan pemerintah tersebut. Dampak langsung dihitung dengan
properti. Minat masyarakat untuk membeli properti sebagai mengeluarkan sumbangan inflasi dari komoditas yang
alternatif untuk menyimpan kekayaan (store of wealth) mengalami kenaikan harga dari hasil perhitungan dalam
kembali meningkat. Pendorong utama peningkatan inflasi keranjang IHK. Dampak tidak langsung dihitung dengan me-
harga aset properti terjadi pada kelompok inflasi aset properti ngeluarkan sebagian sumbangan inflasi dari komoditas sub-
komersial yang meningkat sebesar 19,9% (y-o-y), setelah kelompok yang memiliki keterkaitan langsung dengan komo-
tumbuh negatif pada tahun sebelumnya. Inflasi aset properti ditas yang mengalami kenaikan harga, seperti subkelompok
residensial juga mencatat pertumbuhan yang tinggi, yakni biaya tempat tinggal dan subkelompok barang pribadi dan
mencapai 12,2% (y-o-y). Peningkatan inflasi harga aset antara sandang lainnya. Perhitungan dampak tidak langsung tersebut
lain disebabkan oleh peningkatan harga bahan bangunan menggunakan pola dampak kenaikan TDL dan BBM terhadap
dan terbatasnya pasokan properti yang tidak mengalami industri-industri penghasil komoditas terkait yang terjadi pada
penambahan sementara permintaannya cukup besar. tahun 1996. Sementara itu, announcement effect dari

50
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Tabel 3.1
Perkiraan Dampak Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan Tahun 2000

Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Total
persen

Dampak langsung Kebijkan harga 0,36 0,32 0,09 0,38 0,36 1,51
Harga BBM/Gas Elpiji 0,08 0,38 0,13 0,59
Tarif Angkutan 0,17 0,09 0,26
Tarif Dasar Listrik/PAM 0,20 0,03 0,23
Cukai Rokok 0,27 –0,04 0,20 0,43

Dampak tindak langsung kebijakan harga 0,16 0,25 0,29 0,15 0,84

Announcement Effect 0,56 0,27 0,83


Gaji PNS 0,27 0,27 0,54
UMR 0,29 0,29

Total dampak kebijakan(kumulatif bulanan) 1,07 0,57 0,09 0,94 0,51 3,19
Total dampak kebijakan (year on year) 3,42

kebijakan pemerintah terhadap inflasi diprakirakan dengan sebesar 0,83% yang terutama terjadi pada saat pengumuman
mengalikan persentase kenaikan gaji dan UMR terhadap pertama kenaikan gaji PNS, TNI, dan Polri serta UMR pada bulan
tingkat sensitivitas kenaikan gaji dan UMR terhadap IHK. April. Kenaikan gaji yang terjadi dua tahap yakni April dan
Dengan perhitungan seperti di atas, dampak kebijakan Oktober memberikan dampak sebesar 0,54% (Tabel 3.1).
pemerintah di bidang harga dan pendapatan terhadap inflasi Lebih tingginya realisasi dampak kebijakan pemerintah
IHK selama tahun 2000 secara kumulatif bulanan diprakirakan di bidang harga dan pendapatan tersebut antara lain
mencapai 3,19%. 2) Angka realisasi dampak kebijakan disebabkan oleh beberapa faktor.
pemerintah ini lebih tinggi dari perkiraan semula yang hanya Pertama, adanya kebijakan pemerintah yang belum
sekitar 2,0%. Secara kumulatif bulanan, dampak langsung diidentifikasi pada saat penyusunan perhitungan inflasi,
kebijakan harga memberikan dampak sebesar 1,51% yang sehingga dampaknya tidak diperhitungkan dalam perkiraan
terutama didorong oleh kenaikan harga BBM dan Gas Elpiji awal. Kebijakan tersebut antara lain kebijakan cukai rokok yang
sebesar 0,59% dan cukai rokok sebesar 0,43%. Sementara itu, meskipun pelaksanaannya sempat ditunda dari April menjadi
kenaikan tarif angkutan dan tarif dasar listrik memberikan November 2000, telah menimbulkan dampak kenaikan inflasi
dampak langsung masing-masing sebesar 0,26% dan 0,23%. yang cukup besar. Selain itu, pada September terjadi kenaikan
Pengaruh dampak tidak langsung yang menyertai pelaksanaan harga gas elpiji dan tarif jasa pos.
kebijakan harga dalam tahun 2000 adalah sebesar 0,84% Kedua, besarnya kenaikan yang terjadi tidak seluruhnya
dimana dampak terbesar terjadi pada Mei dan Oktober masing- sama dengan asumsi yang digunakan dalam perkiraan awal,
masing sebesar 0,25% dan 0,29% yang terkait dengan kenaikan seperti kenaikan UMR yang diprakirakan sebesar 25,0% ternyata
tarif angkutan dan TDL serta kenaikan BBM. Sementara itu, an- dalam realisasinya bervariasi antara 15,0% s.d. 55,0%. Di
nouncement effect kebijakan pemerintah memberikan dampak samping itu, persentase realisasi kenaikan gaji pegawai negeri
sipil, TNI dan Polri lebih tinggi dari 30,0% karena disertai dengan
2) Secara year on year (angka indeks Desember 2000 dibandingkan indeks kenaikan tunjangan struktural dan kenaikan gaji guru di luar
1999) kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan
diperkirakan memberikan dampak sekitar 3,42% kenaikan gaji secara umum.

51
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Ketiga, adanya perubahan pola pemberlakuan


kenaikan harga dibandingkan pola kenaikan harga yang Traded y-o-y(%) IHPB Ekspor (%)

terjadi pada periode sebelumnya. Penundaan kenaikan harga 90 80


Traded
80
IHPB Ekspor
BBM selain jenis Premix dan Super TT dari April menjadi Oktober 70 Poly. (Traded)
60
Poly. (IHPB Ekspor)
2000, misalnya, tidak diperhitungkan dalam penyusunan 60 40
50
perkiraan awal dampak kebijakan. Meskipun pelaksanaan 40 20

kenaikannya sempat mengalami penundaan, harga-harga 30 0


20
telah sempat mengalami kenaikan pada April 2000. Selain itu, 10 –20
0
kenaikan tarif angkutan tidak terjadi sekaligus untuk seluruh –40
-10
moda angkutan. Kenaikan tarif angkutan dalam kota, -20 –60
Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov.
khususnya di Jakarta pada Mei mendahului kenaikan tarif 1999 2000

angkutan darat antarkota, kereta api, dan kapal pada Sep-


Grafik 3.19
tember 2000. Secara keseluruhan, kenaikan tarif angkutan
Inflasi Traded dan IHPB Ekspor
mendahului kenaikan BBM. Pola kenaikan seperti ini berbeda
dengan pola pada tahun sebelumnya dimana kenaikan tarif
angkutan umumnya berlangsung serentak untuk seluruh moda kecenderungan melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi
transportasi segera setelah kenaikan harga BBM. Dengan sejak triwulan II tahun 2000. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian
demikian kenaikan tarif angkutan dianggap lebih merupakan terhadap kelompok barang traded. Dampak depresiasi nilai
dampak tidak langsung kenaikan harga BBM dan dampak tukar rupiah terhadap inflasi tercatat sangat besar pada tahun
lanjutannya terhadap kenaikan harga barang lain menjadi 1998, di mana inflasi kelompok traded mencapai 95,24%. Di
berkurang. Perubahan pola ini menyebabkan dalam tahun lain pihak, menguatnya nilai tukar rupiah pada tahun 1999
ini kenaikan tarif angkutan dan harga BBM berdampak lebih mendorong deflasi pada kelompok traded sebesar 0,56%,
besar pada harga barang-barang lainnya. sehingga merupakan salah satu penyumbang rendahnya inflasi
pada tahun tersebut. Gambaran perilaku indeks kelompok
Pengaruh Melemahnya Nilai Tukar Rupiah traded ini menunjukkan pentingnya stabilisasi nilai tukar rupiah
Faktor penting lainnya yang juga berpengaruh terhadap sebagai salah satu faktor kunci dalam pengendalian inflasi di
tingginya tekanan inflasi dalam tahun laporan adalah nilai Indonesia. (Boks: Dampak Nilai Tukar Terhadap Inflasi).
tukar rupiah. Selama tahun 2000, nilai tukar rupiah rata-
rata mencapai Rp8.400 per dolar AS atau lebih tinggi dari Pengaruh Ekspektasi Inflasi
asumsi nilai tukar pada awal tahun sebesar Rp7.000 per Ekspektasi harga selama tahun 2000 menunjukkan
dolar AS. kecenderungan yang meningkat sebagaimana dicerminkan
Dampak nilai tukar rupiah terhadap laju inflasi antara oleh hasil survei ekspektasi konsumen (SEK) dan survei kegiatan
lain tercermin pada perkembangan inflasi kelompok traded dunia usaha (SKDU). Survei tersebut menggambarkan
yang terus mengalami peningkatan sejak triwulan II/2000. pendapat konsumen terhadap kecenderungan harga-harga
Secara tahunan, indeks harga traded mencapai 7,43% (y-o- dan ekspektasi produsen terhadap perkembangan harga jual,
y). Sementara itu, laju inflasi yang diukur menggunakan indeks sewa, suku bunga dan tarif. Faktor utama yang menyebabkan
harga perdagangan besar (IHPB) juga menunjukkan kenaikan tingginya ekspektasi harga adalah adanya kebijakan
harga tertinggi terjadi pada sektor ekspor yakni sebesar 34,49% pemerintah di bidang harga (tarif dasar listrik dan peng-
(y-o-y) (Grafik 3.19). Perkembangan tersebut sejalan dengan hapusan BBM), belum stabilnya kondisi keamanan, sosial dan

52
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

PDB, dan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,4%.


Harapan akan pulihnya kondisi politik dan keamanan dalam
Net balance

90 negeri seiring dengan terbentuknya Pemerintahan baru


Ekspektasi Konsumen
80
Ekspektasi Produsen secara demokratis akan mendorong perkembangan nilai
70
tukar ke arah nilai keseimbangan, sehingga nilai tukar ru-
60

50
piah rata-rata pada tahun 2000 diasumsikan sebesar Rp7.000
40 per dollar AS.
30
Dalam perkembangannya, realisasi inflasi melampaui
20
sasaran inflasi yang telah ditetapkan untuk tahun 2000. Setelah
10

0 mengeluarkan dampak kebijakan pemerintah di bidang harga


Des. Mar. Jun. Sep. Des.

1999 2000
dan pendapatan sebesar 3,42% (y-o-y) dari perhitungan laju
inflasi IHK sebesar 9,35% (y-o-y), diperoleh laju inflasi di luar
Grafik 3.20
Ekspektasi inflasi Konsumen dan Produsen dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan
pendapatan adalah sebesar 5,93%. Angka laju inflasi ini
melampaui sasaran inflasi Bank Indonesia tahun 2000 yang
politik, dan melemahnya nilai tukar rupiah. Berbagai faktor ditetapkan sebesar 3,0%–5,0% (y-o-y). (Grafik 3.21)
tersebut menimbulkan efek psikologis terhadap aktivitas Beberapa permasalahan dihadapi Bank Indonesia
konsumen dalam permintaan dan aktivitas produsen dalam dalam mencapai sasaran inflasi dalam tahun 2000. Pertama,
penyesuaian harga (Grafik 3.20). perkembangan beberapa asumsi yang digunakan sebagai
dasar penetapan sasaran inflasi tidak seperti yang diprakirakan
Permasalahan Pengendalian Inflasi pada awal tahun seperti perkembangan ekonomi yang
Pada awal tahun 2000, Bank Indonesia menetapkan sasaran tumbuh lebih cepat dari yang diprakirakan semula. Kedua, nilai
inflasi yang sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi dan tukar rupiah tidak menguat seperti yang diasumsikan semula
dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter yakni sebesar 3,0%- tetapi terus melemah terutama karena faktor nonekonomi.
5,0%. Sasaran ini belum termasuk dampak kenaikan harga- Ketiga, meningkatnya tekanan inflasi mendorong ekspektasi
harga yang bersumber dari kebijakan pemerintah di bidang
harga dan pendapatan (administered prices and income
y–t–d (%)
policy). Bersamaan dengan penetapan sasaran tersebut, Bank 10,0
Inflasi IHK
Indonesia memperkirakan bahwa dampak kebijakan 9,0
Inflasi IHK tanpa memperhitungkan
8,0 dampak kebijakan pemerintah di bidang
pemerintah adalah sebesar 2,0%. harga dan pendapatan
7,0
Sasaran inflasi Bank Indonesia untuk tahun 2000 6,0
5,0
tersebut ditetapkan dengan memperhatikan prospek
4,0
ekonomi dan moneter secara keseluruhan yang dapat 3,0

diprakirakan berdasarkan data dan informasi pada awal 2,0


1,0
tahun. Nuansa optimisme mempengaruhi beberapa asumsi 0,0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
yang digunakan dalam menetapkan inflasi pada waktu itu. 2000

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diasumsikan akan Grafik 3.21


mencapai sekitar 3,0%-4,0%, surplus transaksi berjalan sebesar Sasaran Inflasi
2,3% dari PDB, defisit anggaran pemerintah sebesar 4,8% dari

53
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

inflasi yang lebih tinggi di kalangan konsumen dan produsen ekonomi dan pengendalian laju inflasi, sebagaimana yang
sehinga menambah tekanan terhadap inflasi yang lebih besar telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, fungsi intermediasi
(gejala self-fulfilling inflation expectation). Keempat, proses perbankan yang belum pulih sepenuhnya telah menyebabkan
pemulihan ekonomi yang masih rentan dan adanya kendala pengetatan kebijakan moneter untuk meredam tekanan inflasi
(bottleneck) di sisi penawaran dalam jangka pendek sehingga melalui sinyal kenaikan suku bunga SBI kurang ditanggapi
tidak dapat memenuhi kenaikan sisi permintaan. secara proporsional oleh perbankan. Demikian juga, proses
Dengan permasalahan seperti di atas, serta dengan restrukturisasi perbankan yang belum selesai, pemulihan
mempertimbangkan proses pemulihan ekonomi yang masih ekonomi yang masih rentan, dan belum berkembangnya
rentan, pelaksanaan kebijakan moneter untuk mengendalikan pasar obligasi dalam negeri telah mempersempit atau mem-
inflasi perlu di lakukan secara hati-hati. Dalam kaitan ini, Bank batasi secara langsung maupun tidak langsung ruang gerak
Indonesia telah menempuh berbagai langkah kebijakan kebijakan moneter untuk mencapai sasaran inflasi yang telah
moneter untuk mengendalikan laju inflasi agar sesuai dengan ditetapkan. Dalam kondisi seperti ini, pengetatan secara
sasaran yang telah ditetapkan pada awal tahun. Namun drastis dan berlebihan untuk mencapai sasaran inflasi akan
demikian, dalam pelaksanaannya Bank Indonesia mengha- meningkatkan risiko bagi kelangsungan pemulihan perbankan
dapi sejumlah permasalahan terutama terkait dengan kondisi dan perekonomian yang pada gilirannya dapat mengancam
kebijakan moneter yang dilematis antara pertumbuhan pencapaian stabilisasi nilai tukar dan sasaran inflasi itu sendiri.

54
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Boks : Inflasi Harga Aset

Perkembangan luar biasa yang terjadi pada siklus kegiatan memiliki elatisitas penawaran yang tinggi, dan volatilitas
usaha pada akhir dekade 1980-an, telah menyulitkan otoritas harganya rendah.
moneter di beberapa negara industri untuk mengidentifikasi Secara umum, jenis aset yang diperhitungkan dalam
tekanan inflasi. Hal ini karena tekanan inflasi tidak saja datang pengukuran inflasi harga aset terdiri dari: aset ekuiti, aset
dari harga barang-barang pada umumnya tetapi juga properti komersial, dan aset properti residensial. Aset ekuiti yaitu
terjadi pada harga-harga aset. Kebijakan moneter kelompok aset yang menggambarkan aset perusahaan.
konvensional yang hanya memperhatikan indikator Namun mengingat cukup sulit untuk menghitung secara tepat
perkembangan harga seperti IHK terbukti terlambat jumlah kekayaan perusahaan, aset ekuiti ini seringkali diukur
mengantisipasi gejolak inflasi yang muncul. Hal ini karena dengan indeks harga saham gabungan. Properti komersial
cakupan inflasi yang dihitung berdasarkan kenaikan harga yaitu properti yang dimiliki dengan tujuan untuk investasi
barang-barang dalam basket IHK belum memperhitungkan (kecuali perumahan dan apartemen) atau kegiatan produksi,
kenaikan harga yang terjadi di pasar aset. Keterbatasan ini contohnya adalah ruang kantor (office space), pertokoan
menyebabkan gejolak yang terjadi di pasar aset tidak secara (mall, retail), hotel, kawasan industri, pergudangan dan fasilitas
langsung dicerminkan oleh peningkatan pada indikator inflasi rekreasi yang berkaitan dengan batasan definisi tersebut.
IHK. Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa Properti residensial adalah properti yang digunakan untuk
meskipun IHK tidak menunjukkan peningkatan yang berarti, perumahan atau tempat tinggal, seperti misalnya real estate,
namun ternyata tekanan harga di pasar properti cukup kuat, apartemen atau tanah yang belum dibangun tetapi
seperti yang ditunjukkan oleh kenaikan harga tanah, rumah, direncanakan sebagai tempat hunian.
sewa ruang perkantoran maupun harga saham. Perhatian Dalam perhitungan indeks inflasi harga aset, faktor
terhadap masalah inflasi harga aset semakin meluas dan penting lainnya adalah pembobotan untuk menyusun suatu
serius semenjak munculnya fenomena bubble 1 yang dialami indeks gabungan (composite index). Pembobotan dihitung
oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat, Eropa dan berdasarkan pangsa ketiga jenis aset tersebut dalam portfo-
Jepang. lio kekayaan masyarakat. Negara yang telah memiliki data
Untuk menghitung inflasi harga aset perlu disusun Standardized National Account (SNA) akan lebih mudah
terlebih dahulu indeks harga aset yang merupakan indeks menentukan berapa share dari masing-masing aset.
komposit dari beberapa jenis aset. Secara teori yang dimaksud Pembobotan untuk suatu negara dapat berbeda dengan
dengan aset masyarakat untuk menyusun indeks inflasi harga negara lainnya sesuai dengan kharakteristik perekonomian
aset adalah seluruh jenis aset yang secara dominan dimiliki negara tersebut.
oleh masyarakat. Sementara itu, jenis aset yang tidak Secara umum rumus penghitungan indeks inflasi harga
diperhitungkan pada umumnya antara lain yang berupa: ru- aset dinotasikan sebagai berikut:
ral asset, household durable goods, notes and coin in circula- n
tion, net assets held abroad dan non-financial holdings of gov- AP (t) = Σ w (i,s)p(i,t)
i =1
ernment fixed income securities. Di sejumlah negara, kelompok
keterangan :
aset tersebut dikeluarkan dari perhitungan karena porsinya
AP(t): adalah indeks harga aset pada waktu tertentu
yang relatif kecil terhadap total kekayaan masyarakat,
w(i,s): adalah bobot penimbang untuk aset (i) yakni ekuiti,
properti komersial dan properti residensial untuk masa
1) Bubble dapat didefinisikan sebagai setiap penyimpangan harga validitas (s) tertentu.
aset dari nilai fundamental aset tersebut. P(i,t): adalah indeks harga aset (i) pada saat (t).

55
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Pengalaman di sejumlah negara menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap sumber pembiayaan atau pasar
inflasi harga aset dipicu oleh adanya peralihan kepemimpinan uang menjadi semakin mudah dan murah. Perkembangan
negara (regime switching), deregulasi di sektor keuangan dan ini selanjutnya menyebabkan ekspansi kredit perbankan
perbankan, perubahan sistem perpajakan dan keuangan dengan cepat tumbuh dan mendorong pertumbuhan
negara, serta perubahan sistem nilai tukar yang berdampak jumlah uang beredar di atas rata-rata sebelumnya.
secara struktural terhadap perekonomian. Secara sederhana Sementara itu, deregulasi perpajakan turut memberi peluang
proses terjadinya inflasi harga aset dapat digambarkan pada sektor swasta untuk terus mengakumulasi hutangnya dan
diagram berikut. sebaliknya mengurangi komponen ekuiti dalam struktur
usahanya. Terhadap utang tersebut banyak yang
Diagram : Proses Terjadinya Inflasi Harga Aset dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan merger dan
akuisisi, maupun pembangunan proyek-proyek real estate
yang baru.
Deregulasi keuangan
Ekses likuiditas di masyarakat akibat deregulasi sektor
keuangan dan perbankan tersebut memberi insentif kepada
Persaingan diantara lembaga keuangan
masyarakat untuk mengubah pola konsumsi ke arah
pembelanjaan yang sebagian besar dibiayai dengan kredit
Peningkatan kredit kepada dunia usaha dan
seperti pembelian barang mewah, rumah maupun jenis
masyarakat/rumah tangga
barang tahan lama lainnya. Sejalan dengan meningkatnya
secara signifikan porsi pengeluaran masyarakat untuk
Inflasi harga aset pembayaran bunga kredit, pola konsumsi masyarakat
berubah menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan suku
bunga. Di samping itu, ekses likuiditas juga mengakibatkan
Deregulasi sektor keuangan ditujukan untuk mengurangi apresiasi terhadap nilai aset sehingga terjadi kenaikan capi-
campur tangan pemerintah pada sektor keuangan dan tal gain dalam jumlah yang cukup besar yang dinikmati oleh
perbankan serta menyerahkan pengelolaan usaha pada para pemilik aset terutama rumah tinggal dan aset komersial
perbankan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. lainnya. Keuntungan serupa juga terjadi pada pasar aset
Penyerahan pada kekuatan pasar tersebut antara lain finansial yang mengalami apresiasi nilai mengikuti kenaikan
menyebabkan meningkatnya persaingan antara lembaga nilai aset perusahaan. Wealth effect yang meningkat tersebut
keuangan dalam meningkatkan pelayanannya kepada para terus mendorong tingkat konsumsi dan memperkuat ekspektasi
nasabah, seperti ditunjukkan oleh munculnya lembaga kenaikan harga aset. Kondisi terus terjadi sampai bubble di
keuangan baru, inovasi produk keuangan, dan meningkatnya pasar aset hilang dan perekonomian menuju pada
penawaran kredit oleh perbankan. Kondisi ini menyebabkan keseimbangannya yang baru.

56
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Boks : Dampak Nilai Tukar Terhadap Inflasi

Dalam buku teks standar ekonomi internasional, nilai tukar Bagan : Mekanisme Transmisi Nilai Tukar Dalam Small Scale
diyakini sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi inflasi Economic Model 1)
di samping variabel ekonomi lainnya. Perhatian terhadap nilai
tukar di Indonesia saat ini semakin meningkat mengingat
perkembangannya selama tahun 2000 menunjukkan volatilitas OIL PRICE*
OUTPUT RMB SBI
tinggi dan disertai depresiasi yang cukup besar. Pada periode
yang hampir bersamaan dengan melemahnya nilai tukar ru- OUTPUT
GAP UIP
FED FUND*

piah tersebut, tekanan inflasi mulai meningkat sehingga Direct


US INFL
Pass Through
INFLASI Effect
mencapai 9,35% (y-o-y) di tahun 2000, jauh lebih tinggi
WPI IMP KURS
dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 2,01%. REG INFL*

Secara umum, inflasi didefinisikan sebagai proses Indirect


Pass Through EXPT. INFL TARGET INFL*
Effect

kenaikan harga-harga secara umum dan berkelanjutan


sebagai akibat adanya ketidakseimbangan dalam
perekonomian. Berdasarkan faktor penyebabnya, inflasi Keterangan:
* = variabel endogen
dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari internal dan eksternal Reg.Infl = Regional Country Inflation
perekonomian. Faktor internal antara lain bencana alam, US Infl = US inflation
perubahan kebijakan harga pemerintah, faktor musiman RMB = Real Money Balance
WPI IMP = Whole Price Index Import
seperti perayaan hari besar keagamaan,dan tindakan UIP = Uncovered Interest Rate Parity
spekulatif menimbun barang yang dapat mengganggu
ketersediaan barang. Sementara itu, faktor eksternal dalam second direct pass through, karena pembentukan
dicerminkan oleh pengaruh kenaikan harga barang-barang harganya melalui proses produksi terlebih dahulu. Kelompok
di luar negeri baik akibat harga komoditi tersebut meningkat barang ini memiliki elastisitas yang lebih rendah terhadap
atau karena terjadinya depresiasi nilai tukar. perubahan nilai tukar dibandingkan kelompok barang
Jalur transmisi inflasi yang berasal dari dampak nilai tukar konsumsi. Saat ini, komposisi terbesar dari barang impor
secara umum dapat dikelompokkan sebagai dampak nonmigas Indonesia adalah impor bahan baku yakni sekitar
langsung (exchange rate pass through) dan dampak tidak 73%. Hal ini menyebabkan tekanan inflasi yang berasal dari
langsung (indirect pass through effect) (Bagan: mekanisme dampak langsung perubahan nilai tukar sebagian besar
transmisi nilai tukar) disumbang oleh perubahan harga impor bahan baku tersebut.
Jalur transmisi dampak langsung nilai tukar terhadap Sementara itu, jalur transmisi tidak langsung terjadi
inflasi adalah melalui barang-barang impor (imported infla- melalui dorongan permintaan (demand pull), dimana
tion). Barang-barang tersebut dapat berupa barang konsumsi, kenaikan harga luar negeri ataupun kenaikan mata uang
bahan baku, dan barang modal. Dampak perubahan nilai asing terhadap rupiah mengakibatkan peningkatan
tukar terhadap inflasi melalui impor barang konsumsi tergolong penghasilan produsen eksportir dalam negeri sehingga dapat
ke dalam first direct pass through, karena harga impornya meningkatkan permintaan mereka akan barang dan jasa di
dapat langsung mempengaruhi harga jual produk tersebut di dalam negeri. Dampak kenaikan permintaan ini pada akhirnya
dalam negeri. Kelompok barang ini memiliki elastisitas yang akan menaikkan harga.
tinggi terhadap perubahan nilai tukar. Sedangkan dampak
melalui impor bahan baku dan barang modal tergolong ke 1) Model makro dinamis untuk melakukan proyeksi inflasi Indonesia

57
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Di sejumlah negara maju, dampak depresiasi nilai tukar adaptif (backward looking)4) memiliki pengaruh yang paling
terhadap permintaan dalam negeri adalah peningkatan besar terhadap inflasi dibandingkan bila menggunakan
permintaan seperti diuraikan di atas. Untuk kasus Indonesia, variabel ekspektasi yang lain. Berdasarkan pengalaman
penelitian yang telah dilakukan 2) menunjukkan bahwa sebelumnya melemahnya nilai tukar rupiah menyebabkan
depresiasi nilai rupiah menyebabkan penurunan permintaan. kenaikan harga-harga sehingga apabila saat ini nilai tukar
Hal ini antara lain karena struktur industri di Indonesia baik yang melemah kembali maka para pelaku ekonomi (misalnya
berbasis ekspor maupun berbasis pasar dalam negeri memiliki pedagang) akan berupaya menaikkan harga untuk
import content yang tinggi. Selain itu, struktur kredit di Indone- mempertahankan tingkat pendapatan riilnya, meskipun
sia pada periode sebelum krisis ekonomi 1997 yang memiliki barang yang dinaikan harganya tersebut tidak memiliki
kontribusi pinjaman luar negeri sekitar 20%3) menyebabkan cost keterkaitan langsung dengan nilai tukar. Sedangkan dari sisi
of capital sektor industri di Indonesia sangat elastis terhadap konsumen, melemahnya nilai tukar rupiah diantisipasi dengan
perubahan nilai tukar. Hal ini menyebabkan apabila terjadi melakukan pembelian barang dan jasa yang mendorong
depresiasi, biaya produksi akan meningkat sehingga permintaan dan pada akhirnya menaikan harga.
penghasilan yang diterima berkurang dan pada akhirnya Analisa mengenai ekspektasi ini semakin kompleks
menurunkan permintaan. apabila dikaitkan dengan kebutuhan pasar mengenai
Selain melalui jalur transmisi tersebut di atas, tekanan informasi perkembangan variabel ekonomi di masa datang
inflasi dipengaruhi pula oleh adanya ekspektasi inflasi yang sebagai bahan pengambilan keputusan saat ini. Kondisi ini
antara lain terkait dengan perkembangan nilai tukar. dapat digambarkan sebagai pasar yang bereaksi terhadap
Ekspektasi berkaitan erat dengan pola perilaku pelaku kejadian dimasa datang (forward looking expectation).
ekonomi berdasarkan informasi yang dimilikinya. Jenis informasi Sebagai contoh harga-harga mengalami kenaikan seiring
yang diterima akan bervariasi (asymmetric information) dan dengan perkiraan meningkatnya ketegangan politik pada
pola perilaku merekapun berbeda-beda dalam menyikapi periode mendatang yang diperkirakan dapat melemahkan
mengenai suatu jenis informasi yang sama. Ekspektasi ini nilai tukar rupiah. Ekspektasi masyarakat terhadap
terdapat di pasar barang, pasar uang, dan pasar tenaga kerja perkembangan harga-harga di Indonesia diyakini terbentuk
dimana masing-masing memiliki keterkaitan dan mem- dari kombinasi antara backward dan forward looking expec-
pengaruhi perkembangan harga. tation. Oleh karena itu, penyediaan informasi secara lengkap
Berdasarkan model inflasi yang pernah dikembangkan, dan akurat sangat penting dilakukan dalam mengarahkan
variabel ekspektasi yang menggunakan model ekspektasi ekspektasi inflasi masyarakat pada tujuan yang diinginkan.

2) lihat Fadjar Majardi, "Dampak Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Laju Inflasi 4) Backward looking expectation mengasumsikan bahwa inflasi yang terjadi pada periode
Indonesia," Bank Indonesia, 2000. sebelumnya akan terjadi kembali pada periode saat ini dan mendatang. Sedangkan
3) Angka rata-rata perbandingan outstanding kredit non-rupiah terhadap total kredit sejak forward looking expectation menggunakan informasi mengenai kejadian yang akan terjadi
03:1993 s.d. 06:1997 pada periode mendatang sebagai variabel yang berpengaruh pada saat ini.

58
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Boks : Internasionalisasi Rupiah

Indonesia secara bertahap telah melakukan liberalisasi sistem Indeks

devisa mulai tahun 1970 dan sejak tahun 1982 Indonesia 0,77
0,8
menganut sistem devisa bebas sebagaimana ditetapkan
0,7 0,60 0,61
dalam PP No.1/1982 yang selanjutnya dipertegas dengan UU
0,6
No.24/1999 mengenai Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. 0,5
0,45

Kebijakan ini diikuti dengan liberalisasi sektor keuangan, 0,4


0,35
0,30
khususnya perbankan di tahun 1983 dan 1988. Sejalan dengan 0,3

proses liberalisasi arus modal dan perbankan serta cepatnya 0,2

proses integrasi keuangan dunia, transaksi devisa berkembang 0,1

0
dengan pesat dan arus modal antar negara makin meningkat
Singapura Indonesia Thailand Philipina Korea Malaysia
dengan peranan swasta yang makin dominan. Pembatasan-
pembatasan terhadap transaksi devisa dalam bentuk capital Grafik 1
control dihindari karena dikhawatirkan akan mengurangi Indeks Capital Control
kepercayaan investor dan akan menghambat aliran modal
masuk ke Indonesia, serta menghambat pengembangan pasar dalam mata uang kuat dunia seperti dolar AS dan yen Jepang.
keuangan domestik. Terlebih Indonesia masih tergantung pada Dengan demikian, proses internasionalisasi rupiah lebih
aliran modal luar negeri dimana hingga tahun 1997 Indonesia mengarah pada penggunaan rupiah secara internasional
merupakan net importer modal untuk memenuhi saving-invest- dalam transaksi di pasar keuangan. Salah satu indikator dari
ment gap yang masih besar. telah terjadinya proses internasionalisasi mata uang domestik
Proses liberalisasi arus modal dan pasar keuangan tercermin dari besarnya pangsa transaksi nonresiden dan
Indonesia, telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang pangsa lembaga keuangan asing di pasar keuangan domestik.
liberal dalam transaksi yang melibatkan pergerakan dana lintas Pada awal gencarnya liberalisasi sektor keuangan,
batas (cross border transactions) baik dalam valuta asing terdapat kecenderungan untuk meningkatkan proses inter-
maupun dalam mata uang domestik, khususnya di Asia nasionalisasi rupiah. Pada masa itu, internasionalisasi rupiah
Tenggara. Hal ini tercermin dari rendahnya indeks capital con- dipandang bermanfaat untuk mendorong pendalaman pasar
trol Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Asia keuangan domestik serta mendorong arus modal masuk yang
lainnya (Grafik 1). Relatif bebasnya transaksi cross-border telah berasal dari investasi asing. Namun dalam perkembangannya,
mendorong aktifnya pasar rupiah di luar negeri (rupiah off-shore proses internasionalisasi rupiah memberikan peluang bagi
market). Rupiah telah menjadi komoditas yang dapat diperjual- nonresiden melakukan kegiatan spekulasi di pasar rupiah luar
belikan di pasar internasional yang mengindikasikan telah negeri, didukung dengan kemajuan rekayasa keuangan yang
terjadinya proses internasionalisasi rupiah. berkembang pesat.
Internasionalisasi rupiah secara umum dapat diartikan Kegiatan spekulasi rupiah-valuta asing semakin
sebagai penggunaan rupiah secara internasional baik dalam meningkat intensitasnya di tengah kondisi sosial politik yang
transaksi yang terkait dengan perdagangan internasional kurang stabil di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan gejolak nilai
(ekspor-impor barang/jasa), investasi dan/atau dalam transaksi tukar rupiah yang berlebihan sehingga sangat mengganggu
pasar keuangan. Penggunaan rupiah secara internasional efektivitas kebijakan moneter dalam rangka memelihara
untuk kebutuhan pembayaran ekspor dan impor tercatat tidak kestabilan nilai rupiah, yang selanjutnya berdampak buruk
signifikan. Invoice ekspor dan impor lebih banyak dinyatakan pada perekonomian secara makro.

59
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Vostro (Triliun Rp) Kurs Rp/$


Dalam hal ini nonresiden berperan besar dalam
16 8.000
menentukan arah perkembangan nilai tukar rupiah karena
14 7.000
perilaku transaksinya diikuti oleh pelaku pasar lokal (herding Kurs Rp/$ Rekening Vostro
12 6.000
behavior). Opini negatif nonresiden terhadap stabilitas sosial
10 5.000
politik di dalam negeri seringkali menimbulkan dampak
8 4.000
psikologis di pasar domestik sehingga menimbulkan sentimen
6 3.000
negatif terhadap rupiah. Di samping itu, bank-bank asing di
4 2.000
dalam negeri yang digunakan nonresiden sebagai perantara
2 1.000
dalam bertransaksi rupiah adalah pemain besar yang sangat
0 0
berpengaruh di pasar. Dalam perdagangan valuta asing di I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III

pasar domestik, bank asing menguasai lebih dari 50,0% dari 1996 1997 1998 1999 2000

keseluruhan transaksi derivatif antar bank.


Grafik 2
Sulit untuk mengetahui dengan pasti jumlah rupiah yang Arah Perkembangan Kurs Rp/$
beredar di pasar rupiah luar negeri karena berada di luar dan Rekening Vostro
wilayah pengawasan Bank Indonesia. Namun aktivitas transaksi
rupiah nonresiden dapat diikuti dari perkembangan rekening dengan membatasi akses perolehan rupiah. Apalagi penggu-
giro rupiah milik nonresiden (rekening vostro) yang ada di bank- naan rupiah di luar negeri cenderung tidak berkaitan dengan
bank dalam negeri (onshore banks) yang menjadi bank-bank kegiatan perdagangan dan investasi, sehingga kurang memiliki
koresponden nonresiden tersebut. Hal ini dimungkinkan karena dasar yang kuat dalam mendorong kegiatan ekonomi riil.
transaksi yang menimbulkan klaim rupiah yang dilakukan oleh Dalam hal ini, kebijakan untuk membatasi transaksi rupiah anta-
nonresiden di luar negeri, penyelesaian (settlement) transak- ra bank dengan nonresiden semakin mendesak untuk diimple-
sinya sebagian besar dilakukan antar bank di Indonesia dengan mentasikan. Hal ini didukung dengan hasil penelitian di Bank
menggunakan rekening vostro. Dengan demikian, besarnya Indonesia yang menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan arus
peran nonresiden dalam mempengaruhi arah perkembangan modal yang dapat meningkatkan prudential management dari
nilai tukar dapat tercermin dari mutasi rekening vostro tersebut sistem keuangan seperti kebijakan pembatasan internasio-
yang ditujukan untuk keperluan transaksi valuta asing di be- nalisasi rupiah dapat digunakan untuk meredam volatilitas nilai
berapa bank domestik. Pengamatan terhadap perkembangan tukar rupiah.
transaksi melalui rekening vostro menunjukkan bahwa mutasi Penelitian ini merekomendasikan perlunya (i)
pada vostro account cenderung aktif dan volumenya mening- memperluas cakupan ketentuan larangan pemberian kredit
kat dalam periode nilai tukar mengalami tekanan (Grafik 2). kepada nonresiden, tidak hanya mencakup larangan
Kegiatan spekulasi rupiah oleh nonresiden dimungkinkan pemberian kredit tunai tetapi juga mencakup larangan
karena mudahnya akses perolehan dana rupiah dari bank- terhadap setiap transaksi yang menimbulkan tagihan rupiah
bank di dalam negeri yang belum diatur secara khusus. Terlebih, kepada nonresiden antara lain seperti penempatan dana ru-
adanya kecenderungan longgarnya likuiditas di pasar uang, piah kepada nonresiden, pembelian surat-surat berharga
sementara fungsi intermediasi perbankan belum sepenuhnya dalam rupiah yang diterbitkan oleh nonresiden, serta
pulih, mengakibatkan likuditas rupiah banyak berputar di pasar penyempurnaan terhadap ketentuan pembatasan transaksi
uang. Dengan sarana investasi yang masih terbatas, bermain derivatif yang tidak didasari underlying transactions ; (ii)
di pasar valuta asing merupakan salah satu alternatif yang pembatasan penggunaan rekening vostro. Kebijakan non-
menarik bagi bank yang mengalami kelebihan likuiditas. internasionalisasi rupiah diperlukan untuk mempersempit
Dengan adanya beberapa permasalahan di atas, peluang perolehan dan pemanfaatan rupiah oleh nonresiden
diperlukan kebijakan yang dapat meminimumkan kesempatan yang dapat digunakan untuk spekulasi sehingga dapat
berspekulasi mata uang rupiah oleh nonresiden antara lain meredam gejolak nilai tukar.

60
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Boks : "Speculative Bubble" di Pasar Valuta Asing

Fluktuasi nilai tukar di pasar valuta asing sering terjadi secara terjadinya depresiasi dalam periode 3 apabila depresiasi
berlebihan yang tidak sejalan dengan perkembangan funda- diperkirakan akan terjadi dalam periode 4, dan selanjutnya.
mental ekonomi. Tekanan deperesiasi terhadap mata uang Tanpa adanya suatu periode yang diketahui dapat
suatu negara dapat terjadi meskipun kondisi fundamental menghentikan proses penggelembungan ekspektasi tersebut,
ekonomi negara tersebut semakin membaik. Hal ini dapat maka nilai tukar rupiah akan terus bergerak menjauhi nilai
terjadi karena dalam sistem nilai tukar mengambang bebas, ekulibrium fundamental ekonomi. Pada umumnya, seorang
faktor ekspektasi memegang peranan yang sangat penting spekulator akan merasa terikat untuk mengikuti prilaku "herd-
dalam keputusan yang diambil pelaku pasar --spekulator atau ing" tersebut, karena dengan mayoritas spekulator di pasar
investor-- yakni ekspektasi mengenai arah atau trend nilai tukar berusaha menekan nilai tukar rupiah dalam trend yang
ke depan. Fluktuasi nilai tukar yang dipengaruhi oleh ekspektasi meningkat (up-trend), seorang spekulator akan mengalami
ini terutama terjadi ketika nilai tukar begerak dalam pola kerugian apabila mencoba melawan trend dengan arah yang
"speculative bubble". Fluktuasi tersebut merupakan "noise" berlawanan (against the market trend).
yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel ekonomi makro. Dalam prakteknya, nilai tukar di pasar tidak menyim-
Ketika bergerak dalam pola "speculative bubble", nilai pang terhadap nilai ekuilibrium fundametal ekonomi dalam
tukar di pasar berfluktuasi menjauh dari nilai ekuilibrium fun- rentang waktu yang tidak terbatas (infinity). Kondisi yang sering
damental ekonomi karena terjadinya penggelembungan terjadi adalah bahwa nilai tukar menyimpang dari nilai
ekspektasi secara berkelanjutan yang terkait dengan proses ekuilibrium fundamental untuk jangka waktu pendek sebelum
yang dinamakan "self-confirming expectation" di pasar valuta gelembung ekspektasi pecah. Namun sangat mungkin bahwa
asing. Proses penggelembungan ekspektasi tersebut dapat gelembung ekspektasi tersebut terbentuk dan pecah secara
dijelaskan sebagai berikut. Pada periode 0, karena beberapa bergantian, yang pada gilirannya meningkatkan variabilitas
alasan --misalnya karena kemungkinan terjadinya pergerakan nilai tukar. Kalangan ekonom yang sangat
ketidakstabilan politik di masa depan-- spekulator percaya bahwa fenomena seperti ini penting untuk dikenali
berekspektasi bahwa rupiah akan terdepresiasi dalam periode oleh otoritas moneter berpendapat bahwa kebijakan
1. Untuk melindungi portfolionya dari kerugian nilai tukar (ex- intervensi oleh bank sentral di pasar valuta asing dapat
change rate risk) atau didasari oleh keinginan untuk meraih mengurangi volatilitas yang berlebihan (unnecessary volatil-
keuntungan (exchange rate gain), spekulator tersebut menjual ity) dalam suatu perekonomian meskipun tanpa adanya suatu
rupiah (membeli valuta asing) sehingga mengakibatkan nilai perubahan dalam kebijakan moneter.1)
tukar rupiah melemah. Pada periode 1, rupiah mungkin benar- Dalam sistem free float, pelaku pasar secara bebas
benar terdepresiasi sehingga menjastifikasi ekspektasi dapat membeli atau menjual suatu mata uang, yang didasari
spekulator tersebut. Hal ini akan terbukti apabila terjadi aksi atas ekspektasinya mengenai arah perkembangan nilai tukar
jual terhadap rupiah dalam periode 1 karena adanya mata uang tersebut untuk meraih keuntungan. Apabila
ekpektasi depresiasi rupiah yang akan terjadi dalam periode spekulator berprilaku atas dasar ekspektasi mengenai arah
2. Apakah tidak masuk akal untuk berekspektasi bahwa akan
terjadi depresiasi dalam periode 2? Tidak, apabila terjadi aksi
jual terhadap rupiah sebagai akibat adanya ekspektasi bahwa 1) John Williamson and Marcus Miller, Targets and Indicators : A Blue-
print for the International Coordination of Economic Policy, Policy
rupiah akan terdepresiasi dalam periode 3. Demikian pula akan Analyses in International Economic, No. 22 (Washington : Institute
menjadi rasional bagi spekulator tersebut untuk berekspektasi for International Economics, September 1987)

61
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

perkembangan nilai tukar, maka untuk meraih keuntungan berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) karena adanya
mereka akan membeli suatu mata uang pada saat nilai tukar peningkatan dalam jumlah uang beredar maka spekulator
mata uang tersebut tinggi dan menjualnya pada saat nilai tukar atau investor akan berekspektasi bahwa mata uang
mata uang tersebut rendah (buy low sell high). Kalau demikian domestik pada akhirnya akan kembali terapresiasi.
halnya, apakah jenis spekulasi seperti ini dapat mengakibatkan Bagaimana ekspektasi tersebut terbentuk, dapat dijelaskan
variabilitas nilai tukar meningkat? Belum tentu, karena dengan model Dornbusch seperti dapat dilihat dalam grafik
meningkatnya pembelian terhadap suatu mata uang akan di bawah ini (Grafik 1).
mengakibatkan nilai tukar mata uang tersebut menguat, Dengan asumsi bahwa harga barang tidak banyak
sebaliknya meningkatnya penjualan terhadap mata uang berubah (sticky) dalam jangka pendek, maka peningkatan
tersebut akan mengakibatkan nilai tukar mata uang tersebut uang beredar sebesar 10,0% akan mengakibatkan uang
melemah. Jenis spekulasi seperti ini membuat tekanan dari sisi beredar secara riil meningkat 10,0%. Proses penyesuaian di
permintaan dan penawaran pada akhirnya menuju arah yang pasar uang akan mengakibatkan suku bunga bergerak turun,
convergence sampai pada suatu titik dimana nilai tukar yang pada gilirannya akan mendorong arus modal ke luar
bergerak relatif stabil. (capital outflow) sehingga menyebabkan nilai tukar mata
Dalam kenyataanya, spekulator tidak berperilaku seperti uang domestik terdepresiasi. Dengan demikian, nilai tukar
dijelaskan di atas. Spekulator pada umumnya membentuk ekuilibrium, S, juga akan mengalami depresiasi sebesar 10,0%.
ekspektasinya dengan cara melakukan ekstrapolasi terhadap Namun dalam realitasnya mungkin saja nilai tukar di pasar
trend di masa lalu, yang sering disebut sebagai fenomena "the mengalami overshooting atau terdepresiasi lebih dari 10,0%
bandwagon expectation". Apabila spekulator berperilaku atas sehingga mencapai s.
dasar fenomena tersebut maka mereka akan bergerak Dalam jangka panjang, harga menjadi lebih fleksibel.
mengikuti trend (jump on the bandwagon) ketika nilai tukar Ketika perekonomian berada dalam ekuilibrium jangka
mulai bergerak dalam suatu arah tertentu baik arah meningkat pendek, C, nilai tukar sangat lemah (kompetitif) sehingga akan
(up trend) ataupun arah menurun (down-trend). Dalam kondisi mendorong permintaan terhadap produk dalam negeri. Di
demikian, mereka dapat menciptakan situasi "speculative pihak lain, pada titik C, tingkat suku bunga riil sangat rendah
bubble" seperti yang telah diuraikan di atas. Spekulator sehingga dapat menstimulasi investasi dan konsumsi. Kedua
melakukan "buy high sell low" di mana mereka menjual suatu faktor tersebut akan memberi tekanan terhadap harga, yang
mata uang pada saat nilai tukar mata uang tersebut sedang
melemah oleh karena itu akan semakin mempertajam tekanan
P
depresiasi terhadap mata uang tersebut (sampai gelembung
ekspektasi pecah). Sebaliknya, akan membeli mata uang
tersebut pada saat nilai tukar mata uang tersebut sedang PPP : S = P/P*
menguat sehingga akan semakin mempertajam tekanan
apresiasi mata uang tersebut. Jenis spekulasi seperti ini pada B
P’
dasarnya akan membuat ketidakstabilan nilai tukar yang
sangat tinggi dan menciptakan gejolak di pasar valuta asing Proportional to ∆ M

(destabilizing). P p=P
A A’ C
Dalam kondisi di mana mekanisme pasar berfungsi Proportional to ∆ M Overshooting
sebagaimana mestinya dan ekspektasi yang terbentuk didasari
oleh perkembangan fundamental ekonomi, sejumlah ekonom 0 S1 S2 s
berpandangan bahwa ekspektasi tersebut akan banyak
berperan menstabilkan nilai tukar. Misalnya, apabila mata uang Grafik 1
domestik mengalami deviasi (overshooting) dari nilai ekuilibrium Dornbusch Overshooting Model

62
Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

pada gilirannya mengakibatkan jumlah uang beredar secara mengambang bebas di mana analisa teknis (technical analy-
riil menurun. Sebagai akibatnya suku bunga secara perlahan sis) sebagai perangkat untuk melakukan peramalan nilai tukar
akan bergerak naik sehingga mengundang arus modal masuk telah digunakan dalam perdagangan rupiah. Penggunaan
dan menyebabkan nilai tukar terapresiasi menuju kembali ke analisa teknis tersebut semakin intensif digunakan seiring
nilai ekuilibrium berdasarkan PPP dan perekonomian berada dengan meningkatnya internasionalisasi rupiah. Spekulator
pada titik B. Setiap spekulator atau investor yang berprilaku di pasar off-shore dan on-shore menggunakan analisa trend
atas dasar ekspektasi demikian akan segera membeli mata dengan memperhatikan sentimen asimetris yang terbentuk
uang domestik sehingga nilai tukarnya akan kembali akibat ketidakstabilan kondisi sosial politik di dalam negeri.
menguat.2) Hal ini mengakibatkan nilai tukar rupiah telah bergerak naik
Namun demikian, sangat sulit untuk menerima realitas (up-trend) secara persisten sepanjang tahun 2000. Tembusnya
bahwa ekspektasi yang terbentuk di pasar seluruhnya beberapa level psikologis seperti Rp8.000 dan Rp9.000
merupakan hasil dari suatu pemahaman spekulator terhadap semakin mengundang spekulator untuk melakukan aksi jual
fenomena ekonomi seperti dijelaskan di atas. Seringkali pelaku terhadap rupiah (jump on the bandwagon) dengan harapan
pasar (secara umum) mengabaikan perkembangan funda- bahwa trend nilai tukar akan terus bergerak dalam trend
mental ekonomi dan lebih banyak melakukan ekstrapolasi yang meningkat (self-confirming expectation).
terhadap trend. Dengan menggunakan analisa teknis (tech- Realitas tersebut di atas dapat menjelaskan mengapa
nical analysis )3) spekulator yang sering dinamakan "noise trad- nilai tukar rupiah terdepresiasi tajam dan sulit untuk kembali
ers" dapat menggerakkan nilai tukar menyimpang jauh dari ke nilai ekuilibrium fundamentalnya. Di samping itu, meskipun
nilai ekuilibrium fundamentalnya, dan tidak berekspektasi nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sangat besar dan turut
bahwa nilai tukar harus kembali ke nilai ekuilibrium fundamen- menyumbang dalam menciptakan surplus neraca
tal semula seperti yang dijelaskan berdasarkan pendekatan perdagangan namun proses penyesuaian otomatis yang
overshooting di atas. Dalam satu dekade terakhir, jumlah seharusnya ditimbulkan oleh surplus tersebut tidak berjalan
spekulator di pasar valuta asing dunia yang berperan sebagai sebagaimana mestinya sehingga tidak mendorong terjadinya
"noise traders" 4) relatif lebih besar dibandingkan investor yang apresiasi rupiah. Proses penyesuaian tersebut tidak berjalan
berperan sebagai fundamentalists. Hal ini semakin mem- karena devisa hasil ekspor tidak seluruhnya mengalir ke dalam
perjelas bahwa fenomena bandwagon expectation lebih negeri untuk dapat memperkuat sisi supply di pasar. Di pihak
banyak menjelaskan pergerakan nilai tukar yang pada lain, ketidakstabilan kondisi sosial politik sepanjang tahun 2000
dasarnya tidak dapat dijelaskan secara penuh melalui secara persisten telah menciptakan sentimen yang negatif
pendekatan fundamental ekonomi. terhadap rupiah sehingga semakin membuka ruang bagi
Fenomena "the bandwagon expectation" seperti yang terciptanya proses speculative bubble yang pada dasarnya
dikemukakan di atas telah terjadi dalam pasar rupiah tidak dapat dijelaskan berdasarkan pendekatan fundamen-
terutama setelah Indonesia menganut sistem nilai tukar tal ekonomi.

2) Richard E. Caves, Jeffrey A. Frankel, and Ronald W. Jones, World


Trade and Payments (1996)
3) Technical analysis adalah studi mengenai trend pergerakan harga
dengan filosofi bahwa "history repeat its'self, price move in trend,
and price discount everything"
4) Noise traders adalah spekulator yang melakukan pembelian atau
penjualan suatu mata uang atau asset, atas dasar sentimen (be-
liefs) yang tidak sepenuhnya konsisten dengan fundamental
ekonomi

63
Bab 4 Moneter
bab Bab 4 Moneter

4 Moneter

D i tengah nuansa optimisme yang cukup kuat mengenai


prospek ekonomi Indonesia tahun 2000, sebagaimana ter-
cermin dari proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 3,0%–4,0%,
menghambat momentum pemulihan ekonomi yang sedang
berlangsung.
Di dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia memilih
nilai tukar rata-rata sebesar Rp7.000 per dolar AS, dan sasaran menerapkan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight
inflasi (di luar dampak kenaikan harga yang disebabkan oleh bias) yang terutama diarahkan untuk menyerap kelebihan
kebijakan Pemerintah di bidang harga dan pendapatan) likuiditas di luar kebutuhan transaksi riil, tanpa harus
sebesar 3,0%–5,0%, Bank Indonesia pada awal tahun laporan mengorbankan proses pemulihan ekonomi yang baru berjalan.
menetapkan sasaran pertumbuhan uang primer sebesar 8,3%. Dalam kaitan ini, kebijakan moneter yang cenderung ketat
Namun dalam perjalanan waktu, upaya mencapai dilakukan dengan tetap menjaga agar kenaikan suku bunga
sasaran uang primer tersebut menghadapi banyak tantangan. tidak terjadi secara drastis dan berlebihan.
Tantangan terbesar bersumber dari lebih kuatnya aktivitas Dalam upaya mengendalikan uang primer,
perekonomian dari yang diperkirakan semula, memburuknya pengendalian moneter terutama ditempuh melalui operasi
ekspektasi inflasi, dan kuatnya tekanan terhadap rupiah. Di pasar terbuka (OPT) dalam bentuk lelang SBI dan intervensi
samping itu, pengendalian moneter juga menghadapi langsung di pasar uang rupiah (Intervensi Rupiah). Selain itu,
kendala yang bersumber dari sisi operasional sehubungan untuk mendukung pelaksanaan OPT, Bank Indonesia dalam
dengan belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan beberapa kali kesempatan melakukan sterilisasi di pasar valuta
meningkatnya ketidakpastian sosial politik dalam negeri. asing untuk mengurangi dampak ekspansi uang primer yang
Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, ekspektasi inflasi berasal dari pengeluaran pemerintah dalam rupiah yang
yang memburuk, dan rupiah yang melemah tersebut dibiayai dari penerimaan luar negeri.
menyebabkan permintaan uang primer meningkat tajam. Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat
Sementara itu, masih belum pulihnya fungsi intermediasi tercermin dari meningkatnya suku bunga SBI, baik 1 bulan dan
perbankan menyebabkan sinyal kebijakan moneter Bank In- 3 bulan, secara bertahap. Peningkatan suku bunga SBI tersebut
donesia tidak direspon secara proporsional oleh perbankan, ternyata tidak diikuti oleh peningkatan yang seimbang pada
sehingga tidak mendukung upaya penarikan uang kartal yang suku bunga deposito perbankan, meskipun telah didukung oleh
beredar di masyarakat yang merupakan komponen terbesar kebijakan Bank Indonesia untuk meningkatkan marjin suku bunga
uang primer. Kondisi ini menjadi semakin berat seiring dengan penjaminan terhadap suku bunga rata-rata deposito rupiah
meningkatnya ketidakpastian sosial politik di dalam negeri peserta JIBOR—dari 100 basis point menjadi 200 basis point.1)
yang mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan Dengan tingginya laju inflasi, suku bunga deposito riil mengalami
berjaga-jaga dengan lebih banyak memegang uang kartal. penurunan, sehingga mengurangi minat masyarakat untuk
Berbagai permasalahan tersebut menghadapkan menyimpan kembali uang kartal mereka di perbankan.
Bank Indonesia pada posisi yang dilematis. Di satu sisi, upaya Dalam perkembangannya, sebagai akibat berbagai
untuk meredam permintaan uang primer membutuhkan faktor tersebut di atas, tingginya posisi uang kartal telah
respon kebijakan moneter yang ketat dengan konsekuensi
1) Surat Edaran Bank Indonesia, No.2/17/DPNP/2000 tanggal 28 Juni 2000
suku bunga meningkat tajam. Namun di sisi lain, kenaikan
tentang Perubahan atas Marjin Suku Bunga Simpanan Pihak Ketiga
suku bunga yang terlalu tinggi dikhawatirkan dapat yang dijamin Pemerintah.

65
Bab 4 Moneter

menyebabkan uang primer meningkat tajam sebesar 23,4%


Tabel 4.1
pada akhir tahun laporan.2) Tingginya pertumbuhan uang Uang Primer dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
primer, khususnya yang terjadi pada bulan terakhir tahun
2000
1999
2000, terkait erat dengan kuatnya pengaruh faktor musiman Rincian I II III IV
di bulan tersebut sehubungan dengan perayaan hari-hari Triliun rupiah

besar keagamaan yang berlangsung secara hampir Uang Primer 101,8 88,9 94,6 97,1 125,6
Uang kertas dan logam
bersamaan, berakhirnya tahun fiskal, serta lebih panjangnya yang diedarkan 72,6 59,8 64,4 65,6 89,7
– di masyarakat 58,4 51,2 55,9 56,9 72,4
hari libur pada akhir tahun laporan. Dalam hubungan ini pula,
– di perbankan 14,2 8,6 8,5 8,7 17,3
peningkatan uang kartal telah mendorong kenaikan Giro bank pada Bank Indonesia 28,1 27,7 28,4 29,7 33,9
Giro Sektor Swasta 1,1 1,4 1,8 1,9 2,0
pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Sementara itu, rendahnya suku bunga deposito riil selama Uang Primer 101,8 88,9 94,6 97,1 125,6
Cadangan Devisa Bersih (NIR) 114,5 129,6 113,6 116,8 124,5
tahun 2000 berdampak pada melambatnya pertumbuhan Aktiva Domestik Bersih (NDA) –12,7 –40,6 –19,1 –19,7 1,1
uang beredar dalam arti luas (M2). Tagihan Bersih pada Pemerintah 149,6 165,3 156,3 148,7 133,7
Bantuan likuiditas 37,2 36,9 37,3 37,3 37,3
Kredit Likuiditas 23,7 18,6 17,7 16,7 15,9
Tagihan lainnya 1,1 1,1 1,3 1,4 1,5
Uang Beredar Operasi Pasar Uang –86,9 –107,4 –98,5 –86,8 –78,9
Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, peningkatan Lainnya Bersih (NOI) –137,4 –155,2 –133,2 –137,0 –108,4

uang primer, yang terlihat secara jelas sejak Mei 2000, ber-
sumber dari peningkatan uang kartal sehubungan dengan
meningkatnya aktivitas perekonomian, rendahnya suku bunga laporan mencapai Rp125,6 triliun, atau tumbuh sebesar 23,4%
deposito riil, tindakan berjaga-jaga oleh masyarakat, dan dari tahun sebelumnya (Grafik 4.1). Selama Desember 2000,
sejumlah faktor musiman yang lebih tinggi dari biasanya. uang primer meningkat sebesar Rp25,4 triliun.
Tindakan berjaga-jaga masyarakat terjadi seiring dengan Sementara itu, saldo giro positif bank di Bank Indonesia
meningkatnya faktor ketidakpastian selama periode laporan. dan kas di bank (cash in vaults) yang merupakan komponen
Peningkatan uang kartal terbesar, yang berasal dari pengaruh lain dari uang primer secara umum menunjukkan
faktor musiman terutama terjadi selama Desember 2000, yang perkembangan yang relatif stabil, kecuali pada triwulan
tercatat sebesar Rp13,9 triliun. Peningkatan tersebut terkait
dengan berlangsungnya perayaan sejumlah hari raya
Triliun Rp
keagamaan yang hampir bersamaan, berakhirnya tahun fiskal,
120
serta lebih panjangnya hari libur akhir tahun 2000. Secara
110
keseluruhan, faktor-faktor, tersebut di atas mengakibatkan
uang kartal tumbuh sebesar 24,0% hingga mencapai posisi 100
Aktual
Rp72,4 triliun pada akhir tahun laporan (Tabel 4.1). Peningkatan
90
uang kartal yang tajam inilah yang menjadi faktor utama Target Indikatif

peningkatan uang primer hingga posisinya pada akhir tahun 80

70
Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des.

1999 2000
2) Dengan menggunakan angka test date--rata-rata uang primer selama
10 hari kerja (5 hari kerja terakhir di bulan tersebut dan 5 hari kerja
pertama bulan berikutnya)--sesuai dengan yang tercantum dalam Grafik 4.1
Letter of Intent (LOI) dengan IMF, pertumbuhan uang primer dalam Uang primer : Aktual dan Target
tahun 2000 tercatat sedikit lebih rendah, yakni sebesar 21,4%.

66
Bab 4 Moneter

terakhir tahun 2000. Peningkatan kedua komponen pada yang ditetapkan, kecuali pada Desember 2000. Peningkatan
triwulan tersebut merupakan cerminan dari langkah antisipasi NDA pada bulan terakhir tahun laporan lebih banyak
perbankan dalam menghadapi kenaikan permintaan uang disebabkan oleh cenderung ekspansifnya sektor keuangan
kartal di bulan Desember. Secara keseluruhan cash in vaults pemerintah (net claims on government atau NCG) pada
dan giro positif bank di Bank Indonesia meningkat masing- akhir tahun fiskal (Grafik 4.3). Di samping itu, kenaikan NDA
masing sebesar Rp3,1 triliun dan Rp5,8 triliun dari tahun juga terkait dengan peningkatan kebutuhan masyarakat
sebelumnya, hingga mencapai posisi Rp17,3 triliun dan Rp33,9 terhadap uang kartal menjelang perayaan sejumlah hari raya
triliun pada akhir tahun. keagamaan, seperti tercermin dari turunnya posisi operasi
Berdasarkan faktor yang mempengaruhi uang primer, pasar terbuka (OPT). Kondisi tersebut mengakibatkan NDA
cadangan devisa bersih (net international reserves atau NIR) berada pada posisi Rp1,1 triliun pada akhir Desember 2000—
terus berada di atas batas bawah (floor) yang ditetapkan. posisi positif NDA tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Posisi NIR meningkat sebesar $1,4 miliar hingga mencapai Pada Desember 2000, posisi NDA lebih tinggi Rp5,0 triliun
posisi $17,8 miliar pada akhir tahun 2000. Pada Desember dibandingkan dengan targetnya.
2000, posisi NIR lebih tinggi $3,1 miliar dibandingkan Pada periode laporan, posisi M1 mengalami pening-
targetnya (Grafik 4.2). Posisi NIR tersebut telah mengalami katan sebesar 30,1% hingga mencapai posisi Rp162,2 triliun
penyesuaian ke bawah (downward adjustment) sebesar pada Desember 2000. Peningkatan tersebut selain disebabkan
$2,0 miliar sejak Mei 2000, sehubungan dengan mulai oleh peningkatan uang kartal seperti telah dijelaskan
diterapkannya konsep Special Data Dissemination Standard sebelumnya, juga disebabkan oleh peningkatan uang giral
(SDDS) dalam penghitungan NIR. Konsep baru ini hanya sebesar Rp23,5 triliun (35,5%). Peningkatan uang giral ini sejalan
memperhitungkan faktor-faktor cadangan devisa yang dengan meningkatnya aktivitas perekonomian dan rendahnya
bersifat siap untuk digunakan sewaktu-waktu (readily avail- suku bunga deposito riil.
able) dan sepenuhnya dapat dikuasai oleh otoritas Sementara itu, uang kuasi dalam tahun laporan
moneter. mengalami peningkatan sebesar 12,1% dari tahun sebe-
Sementara itu, posisi aktiva domestik bersih (net domes- lumnya. Berdasarkan komponennya, tabungan mengalami
tic assets atau NDA) cenderung berada di bawah target pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 24,4%, sedangkan

Miliar $ Triliun Rp
19 10
18 Aktual 0 Target Indikatif

17 -10

16 -20
-30
15
-40
14
-50 Aktual
13
Target indikatif -60
12 -70
11 -80
10 -90
Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des.
1999 2000 1999 2000

Grafik 4.2 Grafik 4.3


Cadangan Devisa Bersih (NIR): Aktual dan Target Aktiva Domestik Bersih (NDA): Aktual dan Target

67
Bab 4 Moneter

% Tabel 4.2
160 Uang Beredar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
140 Deposito
1998 1999 2000 2000
120
Rincian Perubahan Posisi
100
Tabungan
Triliun rupiah
80

60 M1 22,9 23,4 37,6 162,2


40 Uang kartal 13,0 17,0 14,0 72,4
Giro Uang giral 9,9 6,5 23,5 89,8
20
Uang Kuasi 198,9 45,4 63,3 584,8
0
Deposito dan Tabungan dalam rupiah 172,3 49,9 36,1 444,7
-20
Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des. Simpanan dalam valuta asing 26,5 –4,5 27,2 140,2
1998 1999 2000

M2 221,7 68,8 100,8 747,0


Grafik 4.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi M2
Pertumbuhan Giro, Tabungan dan Deposito Masyarakat Aktiva luar negeri (bersih) 73,7 –12,6 81,6 210,7
Bank Indonesia 32,3 –14,6 92,0 201,2
Bank-bank umum 41,4 2,0 –10,3 9,5
Tagihan kepada pemerintah (bersih) 17,5 425.3 123,1 520,3
simpanan berjangka (deposito) dan simpanan valuta asing Tagihan bersih pada BPPN 29,7 –29,7 0,0 0,0

masing-masing meningkat sebesar 2,1% dan 24,1% (Grafik 4.4). Tagihan kepada sektor usaha 99,4 –299,7 42,3 294,9
Kredit dalam rupiah 51,6 –172,6 12,0 152,5
Tingginya pertumbuhan tabungan dan rendahnya Kredit dalam valuta asing 57,7 –89,7 31,9 116,5
pertumbuhan simpanan berjangka didorong oleh adanya Tagihan lainnya –9,9 –37,4 –1,5 25,9
Lainnya (bersih) 1,4 –14,5 –146,2 –278,9
perpindahan dana dari deposito ke tabungan. Perpindahan
tersebut diduga terjadi karena masyarakat cenderung
menempatkan dananya pada jenis simpanan yang relatif Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi M2, aktiva
mudah ditarik di tengah-tengah kondisi peningkatan aktivitas luar negeri bersih (net foreign assets atau NFA) meningkat
perekonomian dan ketidakpastian sosial politik dalam negeri. sebesar Rp81,6 triliun, atau tumbuh sebesar 63,2%, terutama
Sementara itu, peningkatan simpanan valuta asing lebih sebagai akibat kenaikan penerimaan minyak. Namun apabila
disebabkan oleh kenaikan nilai rupiah dari simpanan valuta pengaruh depresiasi nilai tukar rupiah diabaikan, NFA hanya
asing seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Dalam
denominasi dolar, simpanan valuta asing sebaliknya menun-
APU1 APU2
jukkan penurunan sebesar 8,2%. 1,55 8,50

Dengan perkembangan M1 dan uang kuasi seperti 1,50


8,00
tersebut di atas, M2 mengalami pertumbuhan sebesar 15,6%, 1,45

7,50
menjadi Rp747,0 triliun pada akhir tahun 2000. Pertumbuhan 1,40

APU 1
M2 tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada 1,35 7,00

tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 11,9% (Tabel 4.2). 1,30


6,50
Namun apabila dampak depresiasi nilai tukar dihilangkan, 1,25 APU 2

pertumbuhan M2 selama tahun laporan hanya mencapai 1,20 6,00


Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt.
10,0%, lebih rendah daripada pertumbuhan tahun 1999 yang 1998 1999 2000

tercatat sebesar 14,5%. Sementara itu, lebih rendahnya


Grafik 4.5
pertumbuhan M2 daripada uang primer berdampak pada Angka Pengganda Uang M1 dan M2
turunnya angka pengganda uang (APU) M2 (Grafik 4.5).

68
Bab 4 Moneter

meningkat sebesar 20,8%. Tagihan kepada Pemerintah (bersih)


%
atau net claims on government (NCG) mengalami ekspansi
15
sebesar 31,0% yang sebagian besar terkait dengan penerbitan
14 SBI 1 bulan
obligasi pemerintah untuk rekapitalisasi perbankan. Sementara
SBI 3 bulan
itu, tagihan pada sektor usaha yang mencakup pemberian 13

kredit rupiah, kredit valuta asing, dan tagihan lainnya 12

memberikan pengaruh ekspansif sebesar Rp42,3 triliun (16,8%). 11

Namun demikian, peningkatan tagihan pada sektor usaha di


10 Intervensi rupiah
atas lebih dipengaruhi oleh peningkatan nilai rupiah dari kredit
9
Des. Feb. Apr. Jun. Ags. Okt. Des.
valuta asing sebesar 37,7% seiring dengan melemahnya ru-
1999 2000
piah. Dalam denominasi dolar, pemberian kredit valuta asing
hanya tumbuh sebesar 1,9%. Kondisi ini dan kenyataan bahwa Grafik 4.6
pemberian kredit rupiah hanya tumbuh sebesar 8,5%, Perkembangan Suku Bunga Instrumen OPT

sementara dana masyarakat di perbankan tumbuh cukup


tinggi, memberi indikasi kuat bahwa fungsi intermediasi Penggunaan piranti SBI dan Intervensi Rupiah di tengah-tengah
perbankan belum sepenuhnya pulih. keterbatasan ruang gerak kenaikan suku bunga tersebut
menjadi semakin kurang efektif sehubungan dengan tidak
Operasi Pasar Terbuka diresponnya sinyal kebijakan moneter oleh perbankan secara
Selama tahun laporan, strategi Operasi Pasar terbuka (OPT) di proporsional. Hal ini terkait erat dengan masih belum pulihnya
bawah kerangka kebijakan moneter yang cenderung ketat fungsi intermediasi perbankan. Sebagai akibatnya, posisi OPT
ditujukan pada pengendalian uang primer terutama guna pada akhir tahun tercatat sebesar Rp78,9 triliun, atau Rp7,9
mengurangi tekanan inflasi dan juga melemahnya nilai tukar triliun lebih rendah dari tahun sebelumnya. Penurunan tersebut
rupiah, dengan tetap memperhatikan agar suku bunga tidak berasal dari penurunan SBI dan Intervensi Rupiah masing-
mengalami kenaikan secara drastis dan berlebihan. Strategi masing sebesar Rp3,0 triliun dan Rp4,9 triliun (Grafik 4.7).
ini tercermin dari peningkatan suku bunga SBI secara bertahap. Sementara itu, guna mendukung pelaksanaan OPT, Bank
Setelah mencapai posisi terendahnya sebesar 10,53% pada
pertengahan Mei 2000, suku bunga rata-rata tertimbang SBI 1
Triliun Rp. %
bulan meningkat hingga mencapai posisi 14,3% pada akhir
120 15
Desember 2000. Dalam periode yang sama, suku bunga rata- Posisi Suku Bunga SBI 1 bulan 14,5
100
14
rata SBI 3 bulan dan Intervensi Rupiah juga mengalami
13,5
80
peningkatan, hingga masing-masing mencapai 14,31% dan 13

10,88% pada akhir tahun laporan (Grafik 4.6). 60 12,5


12
Pengendalian moneter melalui instrumen SBI dan 40
11,5

Intervensi Rupiah dalam tahun 2000 mengalami kesulitan untuk 20


11
10,5
menyerap uang primer, khususnya komponen uang kartal,
0 10
Desember Maret Juni September Desember
meskipun suku bunga kedua instrumen tersebut telah
1999 2000
mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya
Grafik 4.7
ruang gerak bagi peningkatan suku bunga sebagai
Perkembangan SBI
konsekuensi dari kebijakan moneter yang cenderung ketat.

69
Bab 4 Moneter

Indonesia dalam berbagai kesempatan melakukan sterilisasi


di pasar valuta asing untuk mengurangi dampak ekspansi uang
primer yang berasal dari pengeluaran pemerintah dalam ru-
piah yang dibiayai dengan penerimaan luar negeri. Bank Asing & Bank Pemerintah Masyarakat
Campuran 3,5% 9%
Melemahnya nilai tukar rupiah, tingginya laju inflasi, dan 38,7%

meningkatnya suku bunga luar negeri telah menimbulkan


ekspektasi kenaikan suku bunga dalam negeri di kalangan per-
bankan, yang pada gilirannya mendorong mereka untuk cen-
derung meningkatkan penawaran suku bunga pada setiap
lelang SBI sejak Mei 2000. Pada waktu yang bersamaan, BPD Bank Swasta
2,3% 46,4%
tekanan permintaan uang kartal oleh masyarakat telah
meningkatkan kebutuhan likuiditas perbankan. Kondisi ini
Grafik 4.9
mendorong perbankan untuk memindahkan dana mereka ke
Posisi Kepemilikan SBI
jenis penanaman dengan jangka waktu yang lebih pendek,
seperti dari SBI 3 bulan ke SBI 1 bulan maupun ke Intervensi
Rupiah (Grafik 4.8). Sementara itu, guna menjaga kestabilan moneter,
Berdasarkan kepemilikannya, mayoritas SBI dimiliki oleh khususnya di pasar uang, Bank Indonesia dalam fungsinya

kelompok bank swasta nasional (46,4%), disusul oleh kelom- sebagai lender of the last resort pada September 2000
pok bank asing campuran (38,7%), bank pemerintah (3,5%), mengeluarkan kebijakan pemberian Fasilitas Pendanaan
dan BPD (2,3%) (Grafik 4.9). Dibandingkan dengan tahun se- Jangka Pendek (FPJP) sebagai penyempurnaan dari kebijakan
belumnya, kepemilikan SBI oleh bank pemerintah menun- sebelumnya. Berkaitan dengan mulai dilaksanakannya sistim
jukkan penurunan, sementara sebaliknya kepemilikan bank Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Bank In-
swasta nasional meningkat. Hal ini mengindikasikan relatif donesia menyediakan Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI) bagi bank
lebih tingginya kondisi likuiditas kelompok bank swasta umum peserta RTGS. Selain itu, kedua fasilitas ini juga ditujukan
nasional dibandingkan kelompok-kelompok bank lainnya. untuk memperlancar sistem pembayaran serta menjaga
kelangsungan usaha bank (Boks : Fasilitas Pinjaman Jangka
Pendek dan Fasilitas Likuiditas Intrahari).
Triliun Rp.
80 Dalam rangka mendorong perkembangan pasar uang
70 dan pengendalian moneter pada kelompok bank syariah,
60 Bank Indonesia telah mengeluarkan ketentuan mengenai
50
pasar uang antar bank ,3) ketetapan GWM rupiah dan valuta
40
asing sebesar 5% dan 3% , 4) dan instrumen OPT, 5) yang
30

20
seluruhnya berlaku bagi bank berdasarkan prinsip syariah .
10

0
3) Peraturan Bank Indonesia, No. 2/8/PBI/2000 tanggal 23 Februari 2000
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. tentang Ketentuan Pasar Uang Antar Bank bagi Bank berdasarkan
SBI 1 bulan SBI 3 bulan Intervensi Rp.
Prinsip Syariah.
4) Peraturan Bank Indonesia, No. 2/7/PBI/2000 tanggal 23 Februari 2000
tentang Ketentuan GWM dalam Rupiah dan Valas bagi Bank Umum
Grafik 4.8 berdasarkan Prinsip Syariah.
Posisi Intervensi Rupiah, SBI 1 dan 3 bulan 5) Peraturan Bank Indonesia, No. 2/9/PBI/2000 tentang Ketentuan
mengenai Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.

70
Bab 4 Moneter

Pasar Uang Antar Bank


Baik volume transaksi harian maupun suku bunga di pasar uang %

antar bank (PUAB) menunjukkan kecenderungan peningkatan 15

selama tahun 2000, terutama sejak triwulan II (Tabel 4.3).


13
Tertinggi
Kecenderungan ini menunjukkan adanya peningkatan
11
kebutuhan likuiditas jangka pendek bagi perbankan,
khususnya yang terkait dengan pelunasan pembayaran repo 9
Terendah
obligasi yang jatuh tempo oleh sejumlah bank, serta
7
pemenuhan kebutuhan uang kartal masyarakat menjelang
5
Sidang Tahunan MPR Agustus 2000 dan pada akhir tahun. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

1999 2000
Sekalipun cenderung meningkat, volume transaksi harian
PUAB secara keseluruhan masih lebih kecil daripada tahun
Grafik 4.10
sebelumnya. Kondisi ini terutama terkait dengan menurunnya Suku Bunga Tertinggi dan Terendah di PUAB
kebutuhan dana bank-bank yang mengikuti program
rekapitalisasi, selain telah berkurangnya peserta PUAB sebagai
akibat proses merger dan dibeku-operasikannya sejumlah tersebut, suku bunga tertinggi sempat meningkat sehubungan
bank pada tahun laporan. Sementara itu, kendati juga dengan pertambahan kebutuhan dana sejumlah bank yang
cenderung meningkat sejak triwulan II tahun laporan, suku mengalami kesulitan memperoleh credit line di PUAB
bunga PUAB pada akhir tahun 2000 masih lebih rendah menjelang diberlakukannya sistim BI-RTGS. Hal-hal tersebut di
daripada akhir tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan relatif atas merupakan cerminan dari masih adanya segmentasi di
lebih likuid dan stabilnya kondisi pasar di tahun laporan. pasar uang, meski dengan skala yang lebih kecil daripada
Perbedaan suku bunga tertinggi dan terendah di PUAB tahun-tahun sebelumnya.
selama tahun 2000 masih cukup besar, meskipun cenderung Dilihat dari pelakunya, kelompok bank swasta nasional
stabil kecuali pada bulan November (Grafik 4.10). Pada bulan devisa merupakan kelompok bank dengan kecenderungan

Miliar Rp.
Tabel 4.3 2.000
Suku Bunga dan Volume Transaksi Harian PUAB
1.500

Bank Pemberi
Suku Bunga (%) Volume (Miliar Rp/Hari) 1.000

Rincian Pagi Sore Keselu- Pagi Sore Keselu- 500

ruhan ruhan 0

-500
Trw I /1999 39,56 37,83 38,97 3.074 2.075 5.149
-1.000 Bank Penerima
Trw II /1999 29,13 28,21 28,67 2.627 2.624 5.252
-1.500
Trw III /1999 13,28 13,10 13,21 1.964 1.420 3.384
-2.000
Trw IV /1999 12,46 12,34 12,39 2.040 1.731 3.771 I II III IV I II III IV
1999 2000
Trw I /2000 9,74 9,37 9,59 1.003 708 1.712
Bank Pemerintah Bank Devisa
Trw II /2000 10,18 9,86 10,02 961 945 1,907 Bank Non Devisa Bank Campuran Bank Asing
Trw III/ 2000 11,18 10,64 10,89 1.197 1.289 2.486
Trw IV /2000 11,64 11,21 11,43 1.340 1.470 2.810 Grafik 4.11
Kelompok Bank dalam PUAB

71
Bab 4 Moneter

sebagai pemberi pinjaman (Grafik 4.11). Kelompok bank


%
pemerintah yang pada awalnya banyak berlaku sebagai
15,0
peminjam di pasar PUAB, sejak September 2000 beralih menjadi
14,0 SBI 1 bulan
pemberi pinjaman. Hal ini berkaitan dengan membaiknya
13,0
kondisi likuiditas kelompok bank tersebut sehubungan dengan
telah diselesaikannya pelaksanaan program rekapitalisasi 12,0 Deposito 1 bulan

perbankan. Seperti diketahui, bank-bank peserta rekap 11,0

dimungkinkan untuk menjual obligasinya di pasar sekunder 10,0


PUAB O/N
sebesar maksimum 25% dari seluruh obligasi yang mereka miliki.
9,0
Sebaliknya, kelompok bank asing sejak triwulan III cenderung Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

1999 2000
beralih dari pemberi pinjaman menjadi peminjam di PUAB.
Grafik 4.12
Perkembangan Berbagai Suku Bunga
Suku Bunga
Walaupun tingkat suku bunga PUAB dan deposito 1 bulan pada
akhir tahun 2000 lebih rendah dibandingkan tahun sebe- sumber dari ekspansi keuangan pemerintah di tengah-tengah
lumnya, seiring dengan peningkatan suku bunga SBI sejak Mei belum normalnya fungsi intermediasi perbankan. Kondisi
2000, kedua jenis suku bunga tersebut meningkat secara likuiditas tersebut juga didorong oleh upaya perbankan untuk
bertahap meski dengan besaran yang berbeda (Grafik 4.12). memaksimalkan keuntungan bunga sehubungan dengan
Suku bunga PUAB dan deposito 1 bulan meningkat masing- masih tingginya spread antara suku bunga simpanan dan SBI.
masing sebesar 1,84% dan 1,63% hingga mencapai posisi Rendahnya peningkatan suku bunga simpanan, di
11,41% dan 12,0% pada akhir Desember 2000 (Tabel 4.4). Relatif tengah-tengah peningkatan laju inflasi, mengakibatkan
rendahnya peningkatan kedua jenis suku bunga tersebut turunnya suku bunga riil hingga posisinya mencapai 2,56%
dibandingkan dengan peningkatan suku bunga SBI terkait de- pada akhir Desember 2000 (Grafik 4.13). Kondisi ini menye-
ngan tingginya kondisi likuiditas perbankan, yang terutama ber- babkan masyarakat tidak tertarik untuk menyimpan kembali

Tabel 4.4
Perkembangan Suku Bunga1) Deposito Nominal (%) Deposito Riil (%)
12,5 14
1998 1999 2000
Rincian
12
Persen 12,0
Deposito Riil
SBI 10
1 bulan 38,4 12,5 14,5 11,5

PUAB 8
O/N 33,4 12,1 11,4 11,0
Keseluruhan 39,5 12,4 12,3 6

Deposito 10,5
4
1 Bulan 41,4 12,2 12,0
Deposito Nominal
3 Bulan 49,2 12,9 13,2
6 Bulan 36,8 14,3 13,3 10,0 2
12 Bulan 28,3 22,4 12,2 Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
24 Bulan 16,6 18,4 14,3 2000
Kredit
Modal Kerja 34,7 20,7 17,7
Investasi 26,2 17,9 16,9
Grafik 4.13
Suku Bunga Nominal dan Riil
1) Rata-rata tertimbang dalam bulan Desember.

72
Bab 4 Moneter

% IHSG Nilai (Triliun Rp)


50
800 Nilai 3.500
IHSG
40 700 3.000
600
2.500
30
500
2.000
400
20 Kredit Investasi Kredit Modal Kerja 1.500
300

10 1.000
200
Deposito 3 bulan
100 500
0
0 0
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. 4 17 5 22 5 16 2 14
Jan. Feb. Apr. Mei Jul. Ags. Okt. Nov.
2000
2000

Grafik 4.14 Grafik 4.15


Perkembangan Suku Bunga Jangka Panjang IHSG dan Nilai Perdagangan Saham

uang kartal mereka di perbankan. Sementara itu, suku bunga termasuk pemberlakuan ketentuan fraksi harga saham yang
jangka panjang, khususnya suku bunga kredit baik untuk modal lebih rendah. Namun demikian, kebijakan ini tampaknya
kerja maupun investasi, cenderung relatif stabil (Grafik 4.14). belum memberikan kontribusi yang optimal dalam
Relatif stabilnya suku bunga kredit ini sekali lagi terkait erat meningkatkan kinerja pasar modal di tengah-tengah kuatnya
dengan masih belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan. sentimen negatif pasar terhadap kondisi sosial politik dalam
negeri.
Pasar Modal Aktivitas perdagangan saham di tahun 2000 ditandai
Masih tingginya ketidakstabilan sosial dan politik dalam negeri, pula dengan mulai berlakunya prinsip syariah sejak Juli 2000.
melemahnya nilai tukar rupiah, dan meningkatnya suku bunga Penentuan indeks saham berprinsip syariah mengacu kepada
SBI mendorong penurunan kinerja pasar modal di tahun 2000. 30 saham yang kegiatan usahanya tidak bertentangan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun dengan syariah Islam. Sejalan dengan pergerakan IHSG, indeks
laporan tercatat sebesar 416,3, terkoreksi sebesar 260,6 poin saham dengan prinsip syariah (Jakarta Islamic Index) juga
(62,6%) dari posisi tahun sebelumnya (Grafik 4.15). Sejalan de- menurun, dari 78,5 pada awal peluncuran menjadi 57,9 pada
ngan itu, nilai kapitalisasi pasar juga mengalami penurunan akhir tahun 2000.
sebesar 42,5%, dari Rp451,8 triliun pada akhir tahun 1999 menjadi Berbeda dengan aktivitas perdagangan di pasar saham,
Rp259,6 triliun. Menurunnya IHSG dalam tahun laporan juga tidak perdagangan di pasar obligasi korporasi mencatat sejumlah
terlepas dari semakin kecilnya kontribusi investor asing di pasar kemajuan. Jumlah emiten meningkat dari 76 emiten dengan
modal Indonesia. Posisi nilai transaksi investor asing terhadap nilai Rp15,9 triliun menjadi 91 emiten dengan nilai Rp22,4 triliun.
total perdagangan menurun, dari Rp51,7 triliun (35,0%) di tahun Indeks perdagangan obligasi meningkat sebesar 64,6%, dari
1999 menjadi Rp24,8 triliun (20,2%). Meskipun mengalami 252,2 pada akhir tahun lalu menjadi 415,0. Meningkatnya
penurunan kinerja, jumlah emiten di bursa saham di tahun indeks perdagangan obligasi dibarengi dengan meningkatnya
laporan mencatat peningkatan, dari 321 emiten dengan nilai aktivitas perdagangan harian, dari Rp4,9 miliar menjadi Rp10,7
Rp206,7 triliun menjadi 346 emiten dengan nilai Rp225,6 triliun. miliar dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp18,9 miliar.
Guna meningkatkan kinerja pasar modal dalam tahun Adanya peningkatan aktivitas perdagangan harian ini
laporan, pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan, mencerminkan bertambah aktifnya sejumlah perusahaan

73
Bab 4 Moneter

dalam mencari alternatif sumber dana di tengah-tengah masih pemerintah di pasar sekunder sejak Februari 2000 telah
belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan cenderung mencatat volume sebesar Rp27,9 triliun, terdiri dari transaksi
meningkatnya suku bunga di pasar uang. obligasi variable rate sebesar Rp16,2 triliun dan obligasi fixed
Sementara itu, perdagangan obligasi pemerintah di rate sebesar Rp11,7 triliun (Lihat Boks: Pengembangan Pasar
pasar sekunder juga menunjukkan peningkatan, baik yang Sekunder Obligasi Pemerintah).
bersifat outright (penjualan sebagian obligasi pemerintah yang Selain itu, guna meningkatkan perdagangan obligasi
dimiliki bank) maupun repo (penjualan dengan perjanjian pemerintah di pasar sekunder, Pemerintah juga telah melun-
untuk membeli kembali dalam jangka waktu tertentu). Hal ini curkan program pertukaran obligasi (bonds exchange offer).
sejalan dengan telah diberlakukannya ketentuan yang me- Program tersebut dilakukan dalam bentuk penukaran obli-
mungkinkan peningkatan jumlah maksimum obligasi gasi yang dimiliki bank peserta rekap yang memiliki jangka
pemerintah yang dapat diperdagangkan, berturut-turut dari waktu 5 tahun dan dengan kupon 12,0%, dengan dua jenis
10% pada Februari, 15% pada September, dan 25% pada obligasi (stapled bond) masing-masing dengan kupon 16,5%
Desember 2000. 6, 7, 8) Transaksi perdagangan obligasi dan 10,0%.

6) Peraturan Bank Indonesia, No. 1/10/PBI/1999 tanggal 3 Desember 1999


tentang Portofolio Obligasi Pemerintah bagi Bank Umum Peserta Pro-
gram Rekapitalisasi.
7) Surat Edaran Bank Indonesia, No.2/18/DPM/200o tanggal 19 Septem-
ber 2000 tentang Peningkatan Persentase Portofolio Obligasi
Pemerintah yang dapat diperdagangkan bagi Bank Umum Peserta
Program Rekapitalisasi .
8) Surat Edaran Bank Indonesia, No.2/26/DPM/2000 tanggal 8 Desember
2000 tentang Penetapan Obligasi Pemerintah Seri FR0006, FR0007,
FR0008, dan FR0009 untuk diperdagangkan di Pasar Sekunder serta
Peningkatan Persentase Portofolio Obligasi Pemerintah yang dapat
diperdagangkan bagi Bank Umum peserta Rekapitalisasi .

74
Bab 4 Moneter

Boks : Pengembangan Pasar Sekunder Obligasi Pemerintah

Invesstasi, triliun rupiah Perdagangan, triliun rupiah


Perkembangan obligasi pemerintah di pasar sekunder masih
450 35
sangat terbatas walaupun Pemerintah telah meningkatkan
400
porsi obligasi rekapitalisasi yang dapat diperdagangkan. Investasi 30
350
Upaya untuk mendorong pasar sekunder obligasi pemerintah 300
25

melalui penerbitan stapled bonds juga belum menunjukkan 250 20

hasil yang menggembirakan. Oleh karena itu, Pemerintah dan 20 15


Perdagangan
Bank Indonesia terus berupaya mengambil langkah-langkah 150
10
yang diperlukan agar pasar sekunder obligasi pemerintah 100
5
tersebut menjadi aktif dan berkembang. 50
0 0
Posisi obligasi yang telah diterbitkan oleh Pemerintah Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

dalam rangka program rekapitalisasi perbankan (obligasi rekap) 1999 2000

hingga akhir Desember 2000 adalah sebesar Rp431,8 triliun, yang Grafik 2
terdiri dari fixed rate bond (FR) sebesar Rp179,4 triliun (41,6%), Perkembangan Portofolio Obligasi Pemerintah
variable rate bond (VR) sebesar Rp219,5 triliun (50,8%), dan
hedge bond sebesar Rp32,9 triliun (7,6%) (Grafik 1).
Berdasarkan komposisinya, obligasi pemerintah yang Pada awal penerbitannya, obligasi rekap lebih
masuk dalam portofolio perdagangan sampai dengan akhir didominasi oleh seri VR daripada seri FR. Hal ini didasarkan oleh
tahun 2000 baru mencapai Rp31,6 triliun (7,3%) –termasuk yang adanya prakiraan bahwa arah suku bunga mendatang akan
diagunkan sebesar Rp12,1 triliun–, sedangkan sisanya sebesar mengalami penurunan, sehingga penerbitan obligasi rekap
Rp400,2 triliun tercatat dalam portofolio investasi (Grafik 2). VR akan mengurangi beban pemerintah untuk membayar
Posisi portofolio perdagangan tersebut jauh lebih kecil bunga. Namun demikian, seiring dengan kecenderungan
dibandingkan dengan portofolio obligasi rekap pemerintah kenaikan suku bunga sejak Mei 2000, Pemerintah menerbitkan
yang dapat diperdagangkan, yakni sebesar 25% dari total obligasi rekap seri FR yang jauh lebih besar dari seri VR dalam
obligasi rekap jenis FR dan VR. rangka menyeimbangkan komposisi jenis obligasi rekap di
pasar dan mengurangi beban pembayaran kupon.
Volume perdagangan obligasi rekap yang terjadi
triliun rupiah
sebagian besar dilakukan atas dasar jual beli bersyarat Re-
500
450
purchase Agreement (repo) daripada penjualan lepas (out-
400 right) seperti tampak pada Tabel 1. Lebih menariknya transaksi
Total Obligasi
350 repo tersebut terkait dengan faktor risiko transaksi yang relatif
300 Variable Rate
rendah dan berjangka pendek. Dilihat dari jenisnya, obligasi
250
200
VR mencatat volume transaksi sebesar Rp16,2 triliun,
150 Fixed Rate sedangkan obligasi FR mencapai Rp11,7 triliun. Lebih aktifnya
100 Hedge Bond transaksi perdagangan obligasi VR disebabkan oleh ekspektasi
50
pasar terhadap kecenderungan kenaikan suku bunga. hal ini
0
Mei. Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan.Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. terkait dengan dijadikannya suku bunga SBI 3 bulan sebagai
1999 2000
acuan kupon obligasi VR. Adapun obligasi rekap yang paling
Grafik 1 aktif diperdagangkan adalah obligasi yang memiliki jangka
Perkembangan Posisi Obligasi Pemerintah waktu yang relatif pendek (3-4 tahun), yaitu VR0001 yang jatuh

75
Bab 4 Moneter

FR VR Total stapled bonds, namun rata-rata tertimbang kuponnya


Bulan tetap sama dengan kupon obligasi rekap yang
Miliar rupiah
dipertukarkan, sehingga beban fiskal pemerintah tidak
Februari - 6 6
Maret - - - berubah. Sampai dengan akhir tahun laporan tercatat 14
April - - - bank telah menukarkan obligasi rekapnya senilai Rp58,5
Mei 26 62 87
Juni 7.000 1.587 8.587 triliun atau 90,1% dari total nilai obligasi seri FR0001 dan
Juli - 86 86 FR0003. Namun demikian, sampai dengan akhir tahun
Agustus 1.053 2,788 3.842
September 419 2.284 2.703 belum terdapat transaksi perdagangan stapled bonds.
Oktober - 798 798 2. Pemerintah saat ini sedang menyusun Rancangan
November 2.277 5.372 7.649
Desember 922 3.227 4.149 Undang-Undang (RUU) obligasi pemerintah untuk
memberikan dasar hukum bagi penerbitan obligasi
Total Transaksi 11.696 16.210 27.906
pemerintah dan meningkatkan kepercayaan investor. RUU
Jenis Transaksi tersebut antara lain memuat jaminan pemerintah untuk
– Repo 13.999
50,2% membayar kupon dan pokok obligasi yang jatuh tempo
– Outright 13.906 (standing appropriation).
49,8%
3. Pemerintah juga mempersiapkan penerbitan surat hutang
tempo pada 25 Juni 2002 dan VR0002 yang jatuh tempo pada jangka pendek pemerintah (Treasury Bills) dan diharapkan
25 Februari 2003. sudah dapat direalisasikan pada kuartal kedua tahun
Sementara itu, untuk meningkatkan aktivitas 2001.
perdagangan pasar sekunder dan membantu bank-bank 4. Bank Indonesia bersama-sama dengan pelaku pasar2) se-
rekap dalam memenuhi kebutuhan likuiditasnya, Pemerintah dang menyusun acuan aturan main perdagangan obli-
dan Bank Indonesia mengambil berbagai langkah kebijakan gasi secara repo, baik repo di antara pelaku pasar mau-
sebagai berikut: pun antara Bank Indonesia dengan para pelaku pasar.
1. Pada tanggal 30 November 2000, Pemerintah telah Perdagangan obligasi pemerintah ini diperkirakan akan
menawarkan kepada bank pemilik obligasi rekap untuk meningkat pada tahun 2001 seiring dengan mulai
melakukan program pertukaran obligasi pemerintah atau diberlakukannya sistem BI-RTGS. Hal ini berkaitan dengan
Bonds Exchange Offer (BEO)1) . Obligasi rekap yang dapat meningkatnya kebutuhan perbankan terhadap obligasi
ditukarkan ialah seri FR0001 jatuh tempo 15 September pemerintah selain SBI, sebagai agunan untuk mendapatkan
2004 dan FR0003 jatuh tempo 15 Mei 2005, dengan kupon FLI dan FPJP.
12,0%. FR0001 ditukar dengan obligasi seri FR0006 kupon Dengan berbagai langkah dan fasilitas yang telah dan
16,5% dan seri FR0007 kupon 10,0%. FR0003 ditukar dengan sedang dipersiapkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia
obligasi seri FR0008 kupon 16,5% dan seri FR0009 kupon tersebut, diharapkan pasar sekunder obligasi pemerintah
10,0%. Walaupun terdapat perbedaan tingkat kupon menjadi lebih aktif.

1) Bonds Exchange Offer adalah suatu program yang menawarkan


Stapled Bonds untuk ditukarkan dengan obligasi rekap. Stapled
Bonds adalah suatu paket obligasi yang terdiri dari dua jenis
obligasi, dimana obligasi jenis pertama memberikan kupon yang
lebih tinggi dari obligasi jenis kedua, namun rata-rata tertimbang 2) Pelaku pasar meliputi beberapa pihak dari kalangan bank
kupon dua jenis obligasi tersebut adalah sama dengan kupon domestik yang besar, bank asing, perusahaan sekuritas asing,
obligasi rekap yang akan dipertukarkan. Asosiasi Fixed Income Dealer, perusahaan efek nasional.

76
Bab 4 Moneter

Boks : Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek dan Fasilitas Likuiditas Intrahari

Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas, Bank Indonesia, khususnya dalam rangka mendukung sistem
Bank Indonesia memberlakukan dua ketentuan yang pembayaran.3 ) Pemberian FLI terutama dimaksudkan untuk
berkaitan dengan pemberian fasilitas pendanaan kepada membantu bank dalam menghadapi kesulitan pendanaan
bank, yakni Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan jangka waktu sangat pendek (short term liquidity mismatch)
Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI). yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan terjadinya
Sebagai lender of the last resort, Bank Indonesia dapat kemacetan (gridlock) pada Sistem Bank Indonesia-Real Time
memberikan kredit kepada perbankan untuk mengatasi Gross Settlement (BI-RTGS). Kemacetan tersebut pada
kesulitan pendanaan jangka pendek.1) Pemberlakuan Pera- gilirannya dapat mengganggu kelancaran sistem
turan Bank Indonesia tentang FPJP merupakan penyem- pembayaran nasional serta menimbulkan ketidakstabilan
purnaan dari ketentuan yang telah dikeluarkan sebelumnya.2) sistem keuangan dan moneter secara keseluruhan. Kesulitan
Dalam skim FPJP, kesulitan jangka pendek didefinisikan sebagai pendanaan jangka waktu sangat pendek dimaksud dapat
suatu keadaan yang dialami oleh bank umum yang timbul sebagai akibat transaksi keluar (outgoing transaction)
disebabkan oleh terjadinya arus dana masuk yang lebih kecil melalui sistem BI-RTGS pada saat tertentu lebih besar
dibandingkan dengan arus dana keluar (mismatch) sehingga dibandingkan dengan saldo giro rupiah bank peserta di Bank
diperkirakan dapat mengakibatkan terjadinya saldo negatif Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidaktepatan
rekening giro rupiah di Bank Indonesia. waktu transaksi masuk (incoming transaction) atau nilai
Untuk lebih menjamin berjalannya fungsi lender of the transaksi masuk tersebut pada saat tertentu lebih kecil
last resort dalam pemberian FPJP, Bank Indonesia daripada nilai transaksi keluar.
mengupayakan agar suku bunga FPJP di atas suku bunga Penggunaan dan pelunasan FLI bank yang telah
pasar. Oleh karena itu, suku bunga FPJP ditetapkan sebesar disetujui oleh Bank Indonesia pada 1 hari sebelum transaksi (T-
suku bunga tertinggi di antara dua suku bunga berikut: 1) dilakukan secara otomatis oleh sistem BI-RTGS. Pada hari
a. Rata-rata tertimbang suku bunga PUAB keseluruhan penggunaan FLI (T+0), bank dapat menggunakan FLI dari pukul
jangka waktu overnight pada 1 hari kerja sebelumnya 08.30 WIB sampai dengan 18.00 WIB dalam hal rekening giro
ditambah 200 basis point; atau rupiah di Bank Indonesia tidak mencukupi untuk melaksanakan
b. Rata-rata tertimbang tingkat diskonto SBI jangka outgoing transaction. Sementara itu, pelunasan FLI dilakukan
waktu 1 bulan pada lelang terakhir ditambah 200 basis pada pukul 08.30 WIB sampai dengan 19.00 WIB setiap adanya
point. incoming transaction. Dalam hal bank tidak melunasi FLI
Bank Indonesia memberikan FPJP dengan jangka waktu sampai dengan pukul 19.00 WIB pada T+0, maka nilai FLI
1 hari kerja atau overnight, sementara itu bank dapat tersebut beralih menjadi FPJP.
menggunakan FPJP sebanyak-banyaknya 90 hari secara Untuk menghindari terjadinya moral hazard oleh
berturut-turut. perbankan, pemberian FPJP maupun FLI harus dijamin oleh
Sementara itu, pemberlakuan ketentuan mengenai FLI bank penerima kredit dengan agunan yang berkualitas tinggi
merupakan salah satu perwujudan dari pelaksanaan tugas dan mudah dicairkan serta bernilai minimal sebesar jumlah
kredit yang diterima. Agunan yang dapat diterima Bank Indo-
1) Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, nesia dalam rangka permohonan fasilitas tersebut adalah:
Pasal 11.
2) Peraturan Bank Indonesia No. 1/1/PBI/1999 tanggal 18 Mei 1999
tentang Fasilitas Pendanaan dalam Rangka Mengatasi Kesulitan 3) Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia,
Jangka Pendek. Pasal 15.

77
Bab 4 Moneter

a. SBI dengan sisa jangka waktu 3 hari s.d. 30 hari dengan memperoleh fasilitas tersebut dilarang untuk memper-
nilai jual sekurang-kurangnya 100% dari fasilitas kredit jualbelikan dan atau menjaminkan kembali surat berharga
yang ditarik oleh bank; yang dijaminkan tersebut.
b. Obligasi pemerintah dengan sisa jangka waktu 15 hari Terhadap bank pengguna FLI maupun FPJP, Bank Indo-
dengan nilai pasar sekurang-kurangnya 115% dari fasilitas nesia berwenang melakukan pengawasan baik sebelum
kredit yang ditarik oleh bank; maupun sesudah periode penggunaan fasilitas dimaksud.
c. Surat berharga lain yang akan ditentukan kemudian oleh Selain itu, kepada bank yang akan memanfaatkan kedua
Bank Indonesia. fasilitas tersebut disyaratkan memenuhi ketentuan Kecukupan
Agunan tersebut harus bebas dari segala bentuk Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang berlaku dan harus
perikatan, sengketa, dan tidak sedang dijaminkan kepada memenuhi tingkat kesehatan bank di mana dalam waktu 3
pihak lain dan atau Bank Indonesia. Selain itu, bank yang telah bulan terakhir sekurang-kurangnya cukup sehat.

78
Bab 5 Neraca Pembayaran
b ab
Bab 5 Neraca Pembayaran

5 Neraca Pembayaran

D alam tahun 2000, secara keseluruhan Neraca


Pembayaran Indonesia (NPI) menunjukkan perkemba-
ngan yang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan
dalam tahun laporan. Dalam rangka mendorong per-
tumbuhan ekspor nonmigas, Pemerintah telah mengambil
berbagai langkah kebijakan antara lain melalui penurunan tarif
semakin membaiknya kinerja ekspor nonmigas dan me- pajak ekspor secara bertahap1), pengeluaran keputusan
ningkatnya penerimaan ekspor migas sehubungan dengan tentang ketentuan kuota ekspor tekstil dan produk tekstil2),
tingginya harga minyak di pasar internasional. Di sisi lain,
mengingat kandungan impor untuk menghasilkan barang
Tabel 5.1
ekspor masih cukup tinggi, meningkatnya kinerja ekspor non- Neraca Pembayaran Indonesia
migas telah pula memberikan dorongan terhadap mening- 1998 1999 2000*
Rincian
katnya impor nonmigas terutama dalam bentuk bahan baku Miliar $

dan penolong. Peningkatan impor tersebut juga sejalan


A. Transaksi Berjalan 4,1 5,8 7,7
dengan meningkatnya kegiatan ekonomi di dalam negeri. 1. Barang 18,4 20,6 25,1
a. Ekspor f.o.b 50,4 51,2 62,5
Sementara itu, defisit transaksi jasa-jasa juga mengalami Nonmigas 43,0 41,0 47,0
Migas 7,4 10,3 15,5
peningkatan yang disebabkan oleh tingginya pembayaran Minyak 4,1 5,7 8,6
LNG 3,0 4,2 6,4
bunga utang luar negeri, meningkatnya pembayaran bagi LPG 0,2 0,4 0,4
b. Impor f.o.b –31,9 –30,6 –37,4
hasil minyak untuk kontraktor asing, serta meningkatnya biaya Nonmigas –29,1 –26,6 –32,1
Migas –2,9 –4,0 –5,3
transportasi yang terkait dengan kegiatan impor. Minyak –2,6 –3,7 –5,0
LNG –0,2 –0,3 –0,3
Secara keseluruhan transaksi berjalan dalam tahun 2. Jasa –14,3 –14,9 –17,4
a. Nonmigas –11,4 –11,7 –12,7
laporan tetap menunjukkan surplus bahkan lebih tinggi dari b. Migas –2,9 –3,2 –4,7
tahun sebelumnya. Dari sisi transaksi modal, berkurangnya Minyak –1,4 –1,5 –2,3
LNG –1,5 –1,7 –2,4
pemasukan modal Pemerintah dan masih tingginya defisit
B. Modal di Luar Sektor Moneter –3,9 –4,6 –4,6
dalam lalu lintas modal swasta, telah menyebabkan transaksi 1. Lalu lintas modal
pemerintah (bersih) 10,0 5,4 3,8
modal dalam tahun laporan masih mengalami defisit. Dengan a. Penerimaan pinjaman
dan bantuan 13,7 9,4 8,3
perkembangan tersebut, secara keseluruhan NPI dalam tahun b. Pelunasan pinjaman –3,8 –4,11) –4,51)
2. Lalu lintas modal swasta (bersih) –13,8 –9,9 –8,5
2000 mengalami surplus sebesar $5,0 miliar sehingga posisi a. Penanaman modal langsung –0,4 –2,7 –4,1
b. Lainnya –13,5 –7,2 –4,4
cadangan devisa pada akhir tahun 2000 mencapai $29,3 miliar
C. Jumlah (A+B) 0,2 1,2 3,1
atau setara dengan 6,3 bulan kebutuhan impor dan
D. Selisih Perhitungan antara C dan E 2,1 2,1 1,9
pembayaran utang luar negeri Pemerintah (Tabel 5.1).
Perkembangan NPI tersebut di atas tidak terlepas dari E. Lalu-lintas Moneter –2,3 –3,3 –5,0

langkah-langkah kebijakan yang telah diambil Pemerintah Catatan:


1. Cadangan Devisa Bersih (NIR) 14,1 16,4 17,8
2. Aktiva Luar Negeri (GFA)2) 23,8 27,1 29,3
Setara impor nonmigas dan pembayaran
1) Termasuk Keputusan Menteri Keuangan No.387/KMK.017/2000 tanggal utang luar negeri Pemerintah (bulan) 5,7 6,7 6,3
12 September 2000 tentang Penetapan Besarnya Tarif Pajak Ekspor 3. Transaksi Berjalan/PDB (%) 4,2 4,1 5,0
Kelapa Sawit, CPO, dan Produk Turunannya.
2) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.174/MPP/Kep/ 1) Termasuk rescheduling
2) Sejak tahun 2000 menggunakan konsep IRFCL, menggantikan konsep
5/2000 tangal 25 Mei 2000 tentang Ketentuan Kuota Ekspor Tekstil dan cadangan devisa bruto (GFA)
Produk Tekstil.

80
Bab 5 Neraca Pembayaran

penyediaan pembiayaan dan penjaminan yang termasuk telah mengeluarkan kebijakan persyaratan impor kendaraan
pula pemberian jasa konsultasi, serta usaha lainnya dalam Complete Built Up (CBU).4)
rangka mendorong dan memperlancar kegiatan ekspor. Di Di bidang lalu lintas modal, dalam rangka mengurangi
samping itu, Pemerintah juga mendorong perluasan pasar beban pembayaran utang luar negeri Pemerintah, pada
tujuan ekspor, antara lain melalui penataan pengorganisasian tahun laporan telah dilakukan pertemuan Paris Club II yang
misi dagang dan melalui peningkatan diplomasi perdagangan berlangsung tanggal 12 dan 13 April 2000 di Paris. Dalam
baik dalam rangka kerjasama bilateral, regional maupun mul- pertemuan ini berhasil disetujui penjadwalan kembali pem-
tilateral melalui pemberdayaan perwakilan RI di luar negeri bayaran cicilan utang pokok pemerintah untuk pinjaman
terutama yang menangani bidang ekonomi. Adapun sasaran yang jatuh tempo 1 April 2000 sampai dengan 31 Maret
perluasan pasar tujuan ekspor antara lain adalah Timur Tengah, 2002, baik pinjaman lunak (Official Development Assistance
Eropa Timur, Amerika Latin dan Asia Timur. atau ODA) maupun yang tidak lunak. Di samping itu, pada
Sementara itu, tingginya pertumbuhan impor tidak September 2000 telah berhasil dijadwalkan kembali
terlepas dari berbagai kebijakan yang telah ditempuh pembayaran utang pokok pinjaman komersial yang
Pemerintah untuk melakukan upaya restrukturisasi per- diterima dari sindikasi bank-bank di luar negeri sebagai
dagangan luar negeri. Dalam upaya meningkatkan kegiatan kelanjutan dari hasil perundingan dalam kerangka London
industri di dalam negeri yang membutuhkan bahan baku Club dan sebagai pelaksanaan azas Comparable Treat-
impor, Pemerintah telah menyempurnakan berbagai skim ment yang dituntut oleh negara donor utang luar negeri
pembiayaan dan penjaminan, serta membuka kembali akses Pemerintah. Sementara itu, upaya restrukturisasi utang luar
ke sumber-sumber perdagangan internasional. Penyem- negeri swasta baik melalui Jakarta Initiative Task Force (JITF)
purnaan tersebut dilakukan dengan memberikan kesempatan dan program Exchange Offer, dalam tahun laporan juga
yang sama baik kepada eksportir yang termasuk dalam terus dilakukan.
kelompok perusahaan eksportir tertentu (PET) maupun bukan Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan sistem
(non-PET) antara lain dalam menggunakan fasilitas skim pemantauan kegiatan lalu-lintas devisa (LLD), dalam tahun
pembiayaan dan penjaminan, menghapuskan batasan jenis laporan Bank Indonesia mengeluarkan peraturan yang
komoditas impor yang dapat dibiayai atau dijamin, dan mewajibkan lembaga keuangan non bank (LKNB) untuk
menambah jumlah bank pembuka L/C impor. Di samping itu, melaporkan kegiatan LLD yang dilakukannya sebagaimana
dalam tahun laporan Pemerintah tetap melanjutkan telah diterapkan kepada bank-bank umum. 5) Dengan
pemberian jaminan melalui Bank Indonesia atas seluruh L/C berlakunya ketentuan ini, pelaksanaan pemantauan kegiatan
yang dibuka oleh seluruh perbankan Indonesia dalam rangka LLD diharapkan sudah mencakup sebagian besar kegiatan LLD
membuka kembali akses ke bank-bank internasional. Guna yang dilakukan oleh penduduk (Boks : Pemantauan Kegiatan
menjamin tersedianya bahan baku/penolong bagi industri- Lalu Lintas Devisa melalui Bank dan Lembaga Keuangan Non
industri di dalam negeri, Pemerintah juga melanjutkan Bank).
pemberian fasilitas pembebasan bea masuk atas impor bahan
baku komoditas tertentu.3) Dalam tahun 2000 Pemerintah juga
4) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 49/MPP/Kep/
2/2000 tanggal 25 Februari 2000 dan Keputusan Menteri Perindustrian
3) Keputusan Menteri Keuangan No.98/KMK.05/2000 tanggal 31 Maret dan Perdagangan No. 192/MPP/Kep/6/2000 tanggal 2 Juni 2000
2000 tentang Keringanan Bea masuk Bahan Baku/Sub Komponen/ tentang peraturan mengenai persyaratan impor kendaraan bermotor
Bahan Penolong untuk Pembuatan Elektronika, dan Keputusan Menteri dalam keadaan utuh (CBU).
Keuangan No.135/KMK.05/2000 tanggal 1 Mei 2000 tentang Keringan 5) Surat Edaran Bank Indonesia No. 2/23/DSM tanggal 10 November 2000
Bea Masuk atas Impor Mesin/Barang dan Bahan dalam Pembangunan/ tentang Pelaporan Kegiatan Lalu-Lintas Devisa oleh Lembaga
Pengembangan Industri. Keuangan Non Bank (LKNB).

81
Bab 5 Neraca Pembayaran

Transaksi Berjalan
Dalam periode laporan, transaksi berjalan mencatat surplus Miliar $

sebesar $7,7 miliar, meningkat 33,0% dibandingkan dengan sur- 16

14
plus dalam tahun sebelumnya sebesar $5,8 miliar. Surplus
12
transaksi berjalan tersebut terutama berasal dari surplus neraca
10
perdagangan yang mencapai $25,1 miliar (Grafik 5.1).
8
Kenaikan surplus neraca perdagangan yang tajam terutama
6
disebabkan oleh meningkatnya penerimaan dari sektor migas 4
sebagai akibat tingginya harga minyak di pasar internasional. 2

Di sisi lain, surplus neraca perdagangan di sektor nonmigas 0


1997 1998 1999 2000
mencapai $14,9 miliar, relatif tetap dibandingkan dengan Nilai Ekspor Bersih Non Migas Nilai Ekspor Bersih Migas

tahun sebelumnya (Grafik 5.2). Sementara itu, neraca jasa


Grafik 5.2
mencatat defisit sebesar $17,4 miliar, lebih besar dari tahun Nilai Ekspor Bersih Nonmigas dan Migas
sebelumnya yang mencatat defisit sebesar $14,9 miliar.

Ekspor sedangkan ekspor migas meningkat 50,5% dari tahun


Sebagaimana telah dikemukakan kegiatan ekspor baik migas sebelumnya sehingga mencapai $15,5 miliar (Grafik 5.3).
maupun nonmigas dalam tahun laporan mengalami Peningkatan kinerja ekspor nonmigas, selain didorong oleh
pertumbuhan yang sangat pesat. Total nilai ekspor mencapai meningkatnya permintaan dunia terutama dari negara-
$62,5 miliar, meningkat 22,0% dibandingkan ekspor pada tahun negara di kawasan Amerika dan Asia, juga disebabkan oleh
sebelumnya. Perkembangan ekspor yang cukup tinggi tersebut adanya kebijakan-kebijakan Pemerintah yang mendorong
telah meningkatkan peran ekspor sebagai penggerak pertum- kegiatan ekspor.
buhan ekonomi. Peningkatan ekspor nonmigas terutama disumbang oleh
Dalam tahun laporan, ekspor nonmigas meningkat 15,0% ekspor sektor industri dan sektor pertambangan. Sektor industri
dari tahun sebelumnya sehingga mencapai $47 miliar, masih memberikan kontribusi terbesar dalam struktur ekspor

Miliar $
Miliar $
30
Transaksi Berjalan
Neraca Jasa Ekspor Non migas Ekspor Migas
50
20 Neraca Perdagangan

40
10
30
0
20

–10
10

–20
0
1997 1998 1999 2000
1997 1998 1999 2000

Grafik 5.1
Transaksi Berjalan, Neraca Perdagangan, Grafik 5.3
dan Neraca Jasa Nilai Ekspor Nonmigas dan Migas

82
Bab 5 Neraca Pembayaran

nonmigas Indonesia dengan pangsa yang mencapai 80,0%


dari total nilai ekspor nonmigas Indonesia, diikuti oleh sektor Tabel 5.2
Ekspor Barang Industri
pertambangan dan sektor pertanian masing-masing sebesar
1999 2000 2000*
11,0% dan 9,0% (Grafik 5.4).
Rincian Perubahan Nilai Pangsa
Dalam tahun 2000, total nilai ekspor barang industri (%) (juta $) (%)
meningkat sebesar 15,0% dari tahun sebelumnya sehingga
Tekstil & Produk Tekstil -10.6 6,4 6.693 17,8
mencapai $37,6 miliar (Tabel 5.2). Tajamnya peningkatan - Pakaian jadi -8,5 7,3 3.702 9,8
Kerajinan tangan -72,8 -9,4 515 1,4
ekspor barang industri tersebut terjadi pada peningkatan nilai Produk kayu 6,6 -6,3 4.239 11,3
- Kayu lapis -3,0 -14,3 1.936 5,1
ekspor mesin & pesawat mekanik (77,4%), barang-barang listrik Produk Rotan 559,6 11,8 285 0,8
Minyak Sawit 54,2 -12,4 1.199 3,2
(70,8%), kertas (14,1%) dan tekstil & produk tekstil (6,4%).
Bungkil kopra -9,1 6,5 50 0,1
Peningkatan nilai ekspor barang industri tersebut di samping Produk kimia -12,5 15,5 2.065 5,5
Produk logam -22,3 3,0 1.111 3,0
disebabkan oleh naiknya harga kertas di pasar dunia, juga Barang-barang listrik 19,6 70,8 5.746 15,3
Semen 64,1 -3,5 138 0,4
didorong kuatnya permintaan akan barang-barang tekstil & Kertas 7,0 14,1 3.017 8,0
Produk karet -9,8 8,1 405 1,1
produk tekstil, barang-barang listrik, dan mesin & pesawat Gelas dan alat dari gelas 3,9 20,7 337 0,9
mekanik di pasar internasional. Alas kaki -4,0 3,7 1.575 4,2
Produk plastik -8,0 27,8 1.099 2,9
Sementara itu, total nilai ekspor sektor pertambangan Mesin & pesawat mekanik 25,3 77,4 3.287 8,7
Lainnya 7,5 3,6 5.874 15,6
mencapai $5,2 miliar atau meningkat 25,3% dibanding pada Total 37.634 100
tahun sebelumnya. Di sektor ini, tembaga memberikan
sumbangan yang cukup besar dengan nilai ekspor yang
mencapai $2,1 miliar atau meningkat sebesar 47,3% dari Ekspor sektor pertanian pada tahun laporan mengalami
tahun sebelumnya. Peningkatan nilai ekspor tembaga peningkatan sebesar $58 juta sehingga menjadi $4,2 miliar.
tersebut selain disebabkan oleh meningkatnya volume Beberapa komoditas utama yang memberikan kontribusi
ekspor, juga sebagai akibat dari meningkatnya harga tem- terhadap peningkatan tersebut antara lain komoditas getah
baga di pasar internasional sejalan dengan kuatnya permin- karet dan udang yang masing-masing meningkat sebesar 5,2%
taan dunia. dan 5,9% dibanding tahun sebelumnya.
Ditinjau dari negara tujuan, ekspor nonmigas Indonesia
% sebagian besar ditujukan ke negara-negara di kawasan Asia
dengan pangsa mencapai 57%, diikuti kawasan Amerika dan
100
Eropa masing-masing mencapai 20,0% dan 19,0%. Negara
80 tujuan ekspor nonmigas terbesar di kawasan Asia adalah
negara ASEAN, diikuti oleh Jepang dan RRC (Grafik 5.5).
60
Sementara itu, pertumbuhan nilai ekspor migas yang
40
tinggi dalam tahun laporan, terutama disebabkan oleh me-
20
ningkatnya harga minyak bumi maupun gas di pasar
0 internasional. Dalam tahun 2000 rata-rata harga minyak bumi
1996 1997 1998 1999 2000*
Industri Pertanian Pertambangan Indonesia mencapai $28,6 per barrel, jauh lebih tinggi dari rata-
rata harga minyak bumi tahun sebelumnya yang tercatat $17,4
Grafik 5.4
per barrel dan juga lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar $20
Pangsa Ekspor Non Migas
per barrel. Kenaikan harga minyak bumi tersebut antara lain

83
Bab 5 Neraca Pembayaran

Tabel 5.3
Lain-lain
Jepang Amerika Impor Nonmigas Menurut Kelompok Barang
4%
15% 20%
Nilai Pertumbuhan Pangsa
(juta $) (%) (%)

1999 2000 1999 2000 1999 2000

Eropa Barang konsumsi 1.343 2.198 –18,2 63,3 5,0 6,8


19% Bahan baku penolong 19.398 23.392 –0,6 20,6 72,8 72,9
ASEAN Asia kecuali Jepang
Barang modal 5.891 6.514 –25,7 10,6 22,1 20,3
19% dan ASEAN
23%

Grafik 5.5
Pangsa Ekspor Non Migas Menurut maupun migas yang masing-masing naik sebesar 20,7% dan
Negara Tujuan Tahun 2000
32,5%. Peningkatan impor nonmigas tersebut sejalan dengan
mulai meningkatnya permintaan domestik. Sementara itu,
peningkatan impor migas disebabkan oleh kurang cukupnya
disebabkan oleh kepatuhan dari negara-negara anggota produksi minyak dalam negeri untuk memenuhi peningkatan
OPEC terhadap kuota yang ditetapkan dan berkurangnya permintaan dalam negeri.
pasokan minyak di pasar internasional sebagai akibat Berdasarkan kelompok barang, peningkatan nilai impor
ketidakstabilan kondisi politik di kawasan Timur Tengah. nonmigas berasal dari semua kelompok barang, yaitu kelom-
Sementara itu, harga rata-rata ekspor baik liquefied natural pok barang konsumsi sebesar 63,3%, bahan baku 20,6% dan
gas (LNG) maupun liquefied petroleum gas (LPG) juga bahan modal 10,6% (Tabel 5.3). Meskipun demikian, kelompok
meningkat masing-masing menjadi sebesar $4,58 per MMBTU bahan baku masih merupakan penyumbang terbesar terha-
dan $295,2 per Mton dari tahun sebelumnya yang hanya dap nilai impor nonmigas secara keseluruhan, dengan pang-
sebesar $2,76 per MMBTU dan $197,4 per Mton.
Tabel 5.4
Ditinjau dari komponennya, ekspor minyak bumi naik
Impor Bahan Baku
sebesar 50,9%, ekspor gas alam cair (LNG) naik sebesar 54,8%,
1999* 2000* 2000
sementara itu ekspor gas minyak cair (LPG) relatif tetap.
Rincian Pertumbuhan Nilai Pangsa
Meskipun nilai ekspor migas mencatat adanya pening- (%) (juta $) (%)

katan, namun volumenya mengalami penurunan. Volume Makanan & minuman


ekspor minyak bumi, LNG, dan LPG turun masing-masing sebesar (industri) 4,5 11,8 770,6 3,3
Makanan & minuman
8,5%, 6,9% dan 26,9%. Penurunan volume ekspor minyak tersebut (industri 1/2 jadi) 38,6 -8,2 605,9 2,6
Bahan baku mentah
disebabkan oleh turunnya volume produksi minyak mentah. untuk industri 10,8 -24,8 2.061,3 8,8
Bahan baku 1/2 jadi
Sementara itu, penurunan volume ekspor gas antara lain untuk industri -13,5 25,4 9.360,3 40,0
disebabkan oleh berakhirnya beberapa kontrak penjualan gas Bahan bakar & pelumas
(mentah) 63,2 -36,5 7,5 0,0
(LNG) jangka pendek dengan negara pembeli Korea. Bahan bakar & pelumas
(1/2 jadi) –30,6 47,5 86,0 0,4
Suku cadang & perleng-
kapan barang modal –51,2 2,3 1.041,6 4,5
Impor Suku cadang & perleng-
Dalam tahun laporan, nilai impor meningkat sebesar 22,2% kapan alat angkutan –36,9 119,6 1.402,5 6,0
Lainnya 49,6 31,8 8.056,1 34,4
setelah pada tahun sebelumnya turun sebesar 4,1%. Pening-
Total -0,6 20,6 23.391,8 100,0
katan impor tersebut terjadi baik pada sektor nonmigas

84
Bab 5 Neraca Pembayaran

Serikat. Pangsa impor dari negara-negara Asia, terutama


Tabel 5.5
Impor Barang Modal
Jepang meningkat dari 9,5% menjadi 18,5% dengan nilai impor
mencapai $5,9 miliar. Pangsa impor dari RRC meningkat dari
1999* 2000 2000*
Rincian 3,9% menjadi 6,4% sehingga mencapai $2,1 miliar, dan pangsa
Perubahan Nilai Pangsa
(%) (juta $) (%) Amerika Serikat sedikit meningkat dari 9,5% menjadi 12,0% atau

Traktor & alat pertanian –75,4 125,0 27,4 0,4 mencapai $3,8 miliar (Grafik 5.6).
Alat kerajinan / perhiasan –60,4 –97,5 0,0 0,0
Kontainer & kotak
penyimpanan –41,3 –37,7 25,1 0,4 Jasa-jasa
Reaktor nuklir & mesin
mekanik –45,0 10,0 2.346,0 36,0 Dalam tahun laporan, defisit neraca jasa meningkat sebesar
Generator & alat elektronika –61,8 12,1 380,7 5,8
$2,5 miliar menjadi defisit $17,4 miliar. Semakin besarnya defisit
Lokomotif, kapal, pesawat 2,2 36,6 1.000,3 15,4
Alat pertukangan –47,1 27,5 26,0 0,4 tersebut berasal dari meningkatnya defisit jasa-jasa migas
Alat optik & ukur –32,4 59,5 400,6 6,2
Mobil penumpang –69,2 601,2 64,7 1,0 sebesar 46,9% dan nonmigas sebesar 8,5%. Meningkatnya
Lainnya 24,9 –4,7 2.243,2 34,4
defisit jasa-jasa migas terutama terjadi pada jasa-jasa non
Total –25,7 10,6 6,514 100,0
freight yang meningkat 49,0% menjadi $4,2 miliar.
Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh naiknya
sa mencapai 72,9%. Peningkatan impor bahan baku terutama pembayaran bagi hasil minyak dan gas bumi untuk kontraktor,
terjadi pada komoditas bahan baku setengah jadi untuk in- dan meningkatnya harga komoditas tersebut di pasaran
dustri dan impor suku cadang & perlengkapan alat angkutan, internasional. Di sisi sektor jasa-jasa nonmigas, defisit jasa non
yang masing-masing meningkat sebesar 25,4% dan 119,6% dari freight meningkat sebesar 8,7% sehingga mencapai $10,1
tahun sebelumnya (Tabel 5.4). Kondisi ini mengindikasikan mulai miliar, antara lain berasal dari meningkatnya pembayaran
meningkatnya kegiatan produksi di dalam negeri. Di samping bunga utang Pemerintah dan jasa transportasi. Sementara
itu, indikasi mulai meningkatnya kegiatan perekonomian juga itu, sejalan dengan meningkatnya impor nonmigas, defisit
tercermin dari impor barang modal yang meningkat (Tabel 5.5). jasa-jasa freight pada sektor jasa nonmigas meningkat
Dilihat dari negara asal, impor Indonesia terutama sebesar 9,4% menjadi $2,6 miliar.
berasal dari negara-negara di kawasan Asia dan Amerika Dari sisi penerimaan jasa-jasa nonmigas, penerimaan
devisa terbesar berasal dari sektor pariwisata yang dalam
tahun laporan meningkat sebesar $0,4 miliar sehingga menjadi
Amerika kecuali
Amerika Serikat
$4,8 miliar. Dalam tahun 2000, jumlah wisatawan asing yang
Amerika Serikat 5% Asia kecuali Jepang berkunjung ke Indonesia meningkat dari 4,5 juta orang menjadi
12% dan ASEAN
Lain-lain 24% 5,1 juta orang. Sebagian besar wisatawan asing yang
8%
berkunjung ke Indonesia tersebut masuk melalui 3 pintu utama
yaitu Denpasar, Medan, Batam, dan Jakarta. Peningkatan

Jepang
jumlah wisatawan tersebut menunjukkan membaiknya posisi
18% ASEAN Indonesia sebagai negara tujuan wisata.
14%
Eropa
19%
Lalu lintas Modal
Grafik 5.6
Dalam tahun laporan, lalu lintas modal bersih masih mengalami
Pangsa Impor Non Migas Menurut
Negara Asal Tahun 2000 defisit yaitu sebesar $4,6 miliar, relatif tidak mengalami
perubahan dari tahun sebelumnya. Defisit tersebut bersumber

85
Bab 5 Neraca Pembayaran

dari penurunan surplus lalu lintas modal Pemerintah dan defisit


Tabel 5.6
lalu lintas modal swasta.
Posisi Utang Luar Negeri
Surplus lalu lintas modal bersih Pemerintah dalam
2000
tahun 2000 mencapai $3,8 miliar, lebih rendah dari tahun 1998 1999 1)
Mar. Jun. Sep. Okt.
sebelumnya yang mencapai surplus $5,4 miliar. Turunnya Juta $

surplus tersebut terutama disebabkan oleh penurunan Pemerintah 67.315 75.862 75.292 76.487 75.405 74.800

bantuan program baik dari ADB, IBRD maupun Jepang Swasta : 83.572 72.235 68.991 67.678 65.396 65.197
Bank 10.769 10.836 10.379 10.314 9.385 7.975
(JBIC), yang dalam tahun laporan turun sebesar 59,0%
Non Bank 67.515 58.243 55.309 54.917 53.714 55.027
sehingga menjadi $1,6 miliar. Di samping itu, penurunan Surat Berharga 5.288 3.156 3.303 2.447 2.297 2.195
jumlah bantuan pangan pada tahun laporan sebesar Total 150.887 148.097 144.283 144.165 140.803 139.997

73,0% sehingga hanya menjadi $73 juta, juga memberikan 1) Angka utang luar negeri tidak termasuk dana pihak III
(berdasarkan SE No.2/20/DLN/2001)
kontribusi terhadap turunnya surplus lalu lintas modal bersih
Pemerintah. Sementara itu, pada tahun laporan pinjaman
proyek baik dari CGI maupun non–CGI meningkat sebesar luar negeri pemerintah dalam mata uang Yen juga cukup
$0,3 miliar sehingga menjadi sebesar $2,7 miliar. signifikan.
Peningkatan tersebut terutama berasal dari pinjaman mul- Dilihat dari komposisi penerimaan pinjaman, posisi utang
tilateral ODA yang naik sebesar $0,5 miliar sehingga luar negeri Pemerintah masih tetap mendominasi utang luar
menjadi $1,5 miliar. Sementara itu pinjaman non–ODA negeri Indonesia, yaitu sebesar $74,8 miliar atau 53,4% dari to-
pada tahun laporan turun sebesar $0,3 miliar sehingga tal utang yang berjumlah $140,0 miliar. Sementara itu, jika dilihat
menjadi $0,4 miliar. dari jangka waktu utang, utang luar negeri Indonesia
Sebagaimana tahun sebelumnya, lalu lintas modal berjangka waktu pendek yang jatuh waktu sampai dengan
swasta pada tahun laporan masih mengalami defisit sebesar akhir Oktober 2001 diperkirakan sebesar $29,0 miliar (terdiri dari
$8,5 miliar, meskipun turun $1,4 miliar dari tahun sebelumnya. utang Pemerintah sebesar $3,4 miliar dan utang swasta sebesar
Turunnya defisit tersebut terutama berkaitan dengan $25,6 miliar). Dari jumlah tersebut, sebesar $22,4 miliar
meningkatnya arus masuk modal swasta khususnya dalam merupakan utang jangka pendek yang berasal dari utang
rangka penanaman modal asing (PMA) dan menurunnya jangka panjang yang akan jatuh tempo sampai dengan
pembayaran hutang luar negeri swasta (outflows) terutama Oktober 2001 (remaining maturity) dan sisanya sebesar $6,7
dari sektor perbankan. miliar merupakan utang jangka pendek sesuai loan agree-
Sementara itu, dalam tahun laporan posisi utang luar ment yang berjangka waktu sampai dengan 1 tahun (original
negeri sampai dengan akhir Oktober 2000 tercatat sebesar maturity). Dari jumlah utang jangka pendek swasta sebesar
$140,0 miliar atau menurun 5,5% dari posisi utang akhir tahun $25,6 miliar, sebesar $23,7 miliar (92,7%) merupakan utang
1999 sebesar $148,1 miliar (Tabel 5.6). jangka pendek swasta non bank dan sisanya sebesar $1,9
Penurunan tersebut bersumber dari penurunan posisi miliar (7,3%) merupakan utang jangka pendek swasta bank
utang luar negeri swasta maupun Pemerintah. Penurunan (Tabel 5.7).
posisi utang swasta terjadi karena adanya pelunasan utang, Dilihat dari sektor ekonomi yang dibiayai, sektor jasa
terutama oleh swasta nonbank. Sementara itu, penurunan keuangan dan leasing merupakan sektor yang paling besar
posisi utang Pemerintah adalah akibat dari pelunasan utang menyerap utang, yaitu sebesar $31,6 miliar atau 22,9% dari total
serta dampak dari melemahnya Yen terhadap USD. Seba- utang luar negeri Indonesia. Selanjutnya adalah industri
gaimana diketahui, selain dalam valuta USD peranan utang pengolahan sebesar $31,3 miliar (22,7%) dan sektor gabungan,

86
Bab 5 Neraca Pembayaran

persetujuan untuk menjadwalkan kembali pembayaran


Tabel 5.7
cicilan utang pokok pemerintah sebesar $5,8 miliar untuk
Pinjaman Luar Negeri Menurut Jangka Waktu
Posisi Oktober 20001) pinjaman yang jatuh tempo 1 April 2000 sampai dengan 31
Swasta Maret 2002. Berdasarkan persetujuan tersebut, pembayaran
Non Bank
No. Jangka Waktu Pemerintah Bank Jumlah untuk pinjaman lunak (ODA) dijadwalkan kembali dengan
PMA Non PMA
masa 20 tahun termasuk 7 tahun masa tenggang dengan
Juta $
tingkat bunga yang berlaku bagi pinjaman lunak. Untuk
1 Jangka Pendek2) 3.420 1.877 12.068 11.636 29.001
– Original Maturity 56 25 1.786 4.781 6.648 pinjaman bila teral non-ODA, pembayarannya dijadwalkan
– Remaining Maturity 3.364 1.852 10.282 6.855 22.353
2. Jangka Menengah & kembali dengan masa 15 tahun termasuk 3 tahun masa
Panjang 3) 71.380 6.107 16.117 17.392 110.996
Total 74.800 7.982 28.185 tenggang dengan bunga pasar. Di samping itu, jumlah
1) Termasuk domestic securities pinjaman komersial yang berhasil dijadwalkan kembali melalui
2) Sampai dengan 1 tahun
3) Lebih dari 1 tahun kerangka London Club adalah sebesar $340 juta dengan
jangka waktu penjadwalan 12 tahun 6 bulan dengan masa
yaitu sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar $14,5 miliar (10,5%). tenggang 3 tahun.
Apabila dibandingkan dengan posisi akhir 1999, terjadi perge- Sementara itu, upaya restrukturisasi utang luar negeri
seran dominasi sektor ekonomi, yaitu dari industri pengolahan swasta dalam tahun laporan juga terus dilakukan. Utang
ke sektor jasa keuangan dan leasing. sektor swasta bank yang berhasil direstrukturisasi melalui pro-
Dilihat berdasarkan negara pemberi utang, Jepang gram Exchange Offer (EO) adalah sebesar $6,3 miliar, terdiri
merupakan negara kreditor terbesar yang memberikan utang dari Exchange Offer I (EO I) sebesar $ 3,0 miliar dan Ex-
luar negeri kepada Indonesia, yaitu sebesar $46,7 miliar atau change Offer II (EO II) $3,3 miliar. Sementara itu, restrukturisasi
33,3% dari total utang luar negeri Indonesia, diikuti oleh utang swasta bukan bank yang berhasil dilakukan melalui
Amerika, Belanda, dan Jerman, masing-masing sebesar $13,0 Jakarta Initiative Task Force (JITF) dari tahun 1998 sampai
miliar (9,3%), $8,1 miliar (5,8%), dan $8,0 miliar (5,7%). Sementara dengan 2000 adalah sebesar $9,4 miliar, atau 93,6% dari tar-
itu, IBRD, IMF, dan ADB merupakan organisasi internasional get sebesar $10 miliar, yang terdiri dari utang luar negeri dan
pemberi utang terbesar dengan masing-masing utang sebesar dalam negeri.
$11,8 miliar (8,4%), $ 10,7 miliar (7,6%), dan $7,5 miliar (5,3%). Nisbah DSR, nisbah total utang terhadap ekspor, dan
Meskipun demikian, jika dilihat dari mata uang yang total utang terhadap PDB pada tahun 2000 masing-masing
digunakan, utang luar negeri Indonesia masih didominasi oleh mencapai 44,8%, 198,2%, dan 84,3%, dibandingkan 56,8%,
utang dalam valuta USD, yaitu sebesar $89,2 miliar atau 63,7%, 252,1,0% dan 103,3% pada tahun 1999 (Tabel 5.8). Meskipun
diikuti utang dalam valuta JPY, SDR dan DEM masing-masing relatif membaik dari tahun sebelumnya, tingginya nisbah
tercatat sebesar $30,6 miliar (21,8%), $10,8 miliar (7,7%) dan
$2,5 miliar (1,8%). Tabel 5.8
Dalam tahun laporan, jumlah utang luar negeri Indikator Beban Utang Luar Negeri Indonesia

pemerintah yang jatuh tempo mencapai $4,5 miliar. Dari 1997 1998 1999 2000*
Indikator
jumlah tersebut, yang merupakan pelunasan sebesar $2 miliar, Persen

sedangkan sisanya sebesar $2,5 miliar telah berhasil di– DSR 44,5 57,9 56,8 44,8
restrukturisasi melalui pertemuan Paris Club I dan II. Dapat Posisi Utang/Ekspor 207,3 261,8 252,1 198,2
Posisi Utang/PDB 62,2 146,3 103,3 84,3
ditambahkan bahwa pada tanggal 12–13 April 2000, telah
dilakukan pertemuan Paris Club II yang berhasil mencapai

87
Bab 5 Neraca Pembayaran

tersebut mencerminkan masih cukup tingginya beban utang


Miliar $ sekaligus ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap
utang luar negeri.
30

25
Cadangan Devisa
20 Dengan surplus neraca pembayaran yang mencapai $5 miliar,
15
pada akhir tahun laporan cadangan devisa mencapai $29,3
10
miliar atau setara dengan 6 bulan impor dan pembayaran
5 utang luar negeri pemerintah. Dapat ditambahkan bahwa
0 sejak Mei 2000, pencatatan angka cadangan devisa Indone-
1997 1998 1998 20001)
sia menggunakan konsep International Reserves and Foreign
Grafik 5.7
Currency Liquidity /IRFCL (Boks : Konsep Baru Cadangan
Cadangan Devisa
1) Sejak tahun 2000 menggunakan konsep IRFCL, menggantikan konsep cadangan devisa Devisa) menggantikan konsep aktiva luar negeri bruto (Gross
bruto (GFA)
Foreign Assets/GFA).

88
Bab 5 Neraca Pembayaran

Boks : Konsep Baru Cadangan Devisa

Pada akhir Mei 2000, sesuai dengan kesepakatan dalam Let-


Tabel 1 : Net International Reserves
ter of Intent (Lol) tanggal 20 Januari 2000, Bank Indonesia mulai
mengumumkan angka cadangan devisa dengan 30 April 2000 (juta $)
Rincian
menggunakan konsep International Reserves and Foreign Cur- Konsep Baru Konsep Lama

rency Liquidity (IRFCL) yang memiliki kesamaan standar I. International Reserves 26.941,2 29.477,8
pelaporan secara internasional. Konsep baru tersebut a. Official Reserve Assets 26.941,2 28.443,8
b. Other Foreign Currency Assets 0,0 1.034,0
menggantikan konsep lama yang dikenal dengan istilah aktiva
II. Gross Foreign Liabilities (IMF) 10.451,9 10.451,9
luar negeri bruto atau Gross Foreign Assets (GFA) yang III. Reserve against FCD’s 755,2 755,2
diperkenalkan pada Januari 1998. Konsep IRFCL, seperti halnya IV. Net International Reserves 15.734,1 18.270,7

GFA, dibuat dengan berdasarkan Balance of Payment Manual


ke-5 (BPM5) dan program Special Data Dissemination Stan-
dard (SDDS) IMF. Aktiva-aktiva yang tidak lagi diperhitungkan tersebut antara
Menurut BPM5, yang dijadikan referensi utama untuk lain adalah wesel ekspor dan sebagian simpanan emas dalam
SDDS, cadangan devisa atau international reserves (disebut bentuk koin-koin (commemorative coins). Dengan adanya
pula reserve assets atau official reserve assets) harus memenuhi perubahan tersebut maka posisi NIR berubah sebagaimana
empat prinsip utama. Pertama, cadangan devisa harus dapat dilihat dalam Tabel 1.
bersifat likuid atau tersedia setiap waktu (readily available) Perlu dikemukakan bahwa meskipun mempunyai
dalam jangka waktu pendek (setahun) dan dapat dikuasai komponen yang sama dengan international reserves, gross
(controllable) oleh otoritas moneter yang dalam hal ini adalah reserves dengan konsep NIR menggunakan kurs yang berbeda
Bank Indonesia. Kedua, cadangan devisa hanya dengan international reserves dengan konsep IRFCL. Untuk
memperhitungkan aktiva luar negeri bruto, bukan aktiva luar menghitung gross reserves dengan konsep NIR digunakan kurs
negeri neto. Dengan kata lain, kewajiban luar negeri otoritas tetap antar-valuta asing, sedangkan untuk international re-
moneter tidak menjadi faktor pengurang cadangan devisa. serves dengan konsep IRFCL dipakai kurs berlaku antar-valuta
Ketiga, aktiva luar negeri adalah tagihan otoritas moneter asing yang berlaku saat tanggal pelaporan.
kepada bukan-penduduk (non-residents). Keempat, jenis Posisi NIR tersebut, yang telah dikonversi ke dalam Ru-
aktiva luar negeri tidak hanya mencakup aktiva dengan piah dengan menggunakan kurs tetap Rp/$ sesuai dengan
valuta asing, namun juga emas, special drawing rights (SDRs), Lol, dipublikasikan melalui siaran pers yang dibuat oleh Bank
simpanan pokok di IMF, dan tagihan lainnya. Indonesia setiap minggu. Selain NIR, siaran pers tersebut juga
Sejalan dengan perubahan konsep cadangan devisa, memuat posisi international reserves (official reserve assets)
konsep gross reserves pada Net International Reserves (NIR) secara mingguan. Sementara itu publikasi IRFCL yang
yang pertama kali diperkenalkan pada Januari 1998 lengkap (international reserves dan FCL lainnya) akan
mengalami perubahan. Seperti halnya pada international re- dilakukan secara rutin setiap akhir bulan untuk data akhir
serves perubahan tersebut mencakup pengelompokan bulan sebelumnya. Publikasi tersebut dapat dilihat dalam
kembali jenis aktiva yang sesuai dengan konsep IRFCL yang website dengan alamat http://www.imf.org/country/idn dan
hanya memperhitungkan aktiva yang "readily available". http://www.sdds.or.id.

89
Bab 5 Neraca Pembayaran

Boks : Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Melalui Bank dan


Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB)

Dalam rangka mewujudkan sistem pemantauan kegiatan lalu permasalahan pelaporan LLD secara bersama, membentuk
lintas devisa (LLD) sebagaimana diamanatkan oleh Undang- Help Desk, dan memberikan umpan balik (feed back) kepada
undang No. 24 tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan bank pelapor. Di samping itu, ketentuan pelaporan LLD juga
Sistem Nilai Tukar, pada tahun 1999 Bank Indonesia telah telah disempurnakan yaitu dengan dikeluarkannya Surat
mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No.1/9/DSM/PBI/1999 Edaran Bank Indonesia No.2/28/DSM tanggal 21 Desember
tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Bank dan 2000 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Oleh Bank.
Lembaga Keuangan Non Bank. Ketentuan ini mulai berlaku untuk kegiatan LLD periode
Sebagai pelaksaan dari peraturan tersebut di atas, Bank Februari 2001 yang laporannya disampaikan dalam bulan
Indonesia melalui Surat Edaran Bank Indonesia No.1/9/DSM Maret 2001. Dengan berbagai upaya tersebut, sistem peman-
tanggal 28 Desember 1999 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu tauan kegiatan LLD bank diharapkan akan semakin baik.
Lintas Devisa oleh Bank, mewajibkan semua bank umum yang Di samping menyempurnakan ketentuan pelaporan LLD
melakukan kegiatan lalu lintas devisa untuk menyampaikan bank, dalam tahun laporan Bank Indonesia juga
laporan kegiatan devisanya kepada Bank Indonesia secara mengeluarkan Surat Edaran No.2/23/DSM tanggal 10 Novem-
bulanan. Ketentuan ini mulai berlaku untuk kegiatan LLD yang ber 2000 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa oleh
dilakukan pada bulan Maret 2000 yang laporannya Lembaga Keuangan Non Bank yang merupakan kelanjutan
disampaikan kepada Bank Indonesia dalam bulan April 2000. pelaksanaan dari PBI Keuangan Non Bank yang merupakan
Adapun pertimbangan utama ditetapkannya bank sebagai kelanjutan pelaksanaan dari PBI No.1/9/PBI/1999 tersebut di
prioritas pertama dalam pelaporan LLD adalah karena atas. Berdasarkan surat edaran ini, Lembaga Keuangan Non
sebagian besar kegiatan lalu lintas devisa dilakukan melalui Bank (LKNB) yang melakukan kegiatan LLD diwajibkan untuk
bank. Hingga saat ini seluruh bank yang melakukan kegiatan menyampaikan laporan kepada Bank Indonesia yang
lalu lintas devisa telah melaporkan kegiatan lalu-lintas mencakup :
devisanya kepada Bank Indonesia. 1. Kegiatan LLD yang dilakukan tidak melalui bank di dalam
Mengingat sistem pemantauan kegiatan LLD negeri yaitu kegiatan LLD yang dilakukan melalui rekening
merupakan hal baru, dalam pelaksanaannya masih giro LKNB pada bank di luar negeri (Overseas Curent Ac-
menghadapi beberapa kendala seperti penyiapan sistem count), rekening antar perusahaan/kantor (Inter Com-
onlline internal bank, kurangnya pemahaman atas ketentuan pany/Office Account), dan sarana-sarana lainnya secara
pelaporan, adanya kesulitan dalam memperoleh data dari bulanan; dan atau
nasabah khususnya untuk transfer masuk (incoming transfer) 2. Posisi tagihan (Claims) dan kewajiban LKNB kepada bukan
dan ketentuan pelaporan yang belum sempurna. Kendala- penduduk akhir semester.
kendala tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi akurasi Kewajiban pelaporan kegiatan LLD oleh LKNB tersebut
pelaporannya, sehingga untuk sementara data yang mulai berlaku untuk kegiatan LLD bulan Januari tahun 2001
diperoleh dari laporan LLD bank tersebut masih belum dapat yang penyampaian laporannya kepada Bank Indonesia
dipublikasikan. Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, dilakukan dalam bulan Februari tahun 2001. Dengan telah
Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya antara lain diberlakukannya pelaporan LLD baik kepada bank maupun
dengan membentuk Working Group yang dimaksudkan LKNB, sistem pelaporan LLD diharapkan telah mencakup
sebagai sarana bagi bank untuk membahas permasalahan- sebagian besar kegiatan LLD yang dilakukan oleh penduduk.

90
Bab 5 Neraca Pembayaran

Ikhtisar Ketentuan Pelaporan Kegiatan LLD oleh LKNB

No. Keterangan Ketentuan

1. LKNB pelapor Seluruh perusahaan LKNB yang berbadan


hukum Indonesia termasuk kantor cabang
LKNB asing yang berkedudukan di Indonesia.
2. Cakupan Laporan :
– Laporan Transaksi Transaksi (penerimaan dan atau
pembayaran) yang dilakukan tidak melalui
bank dalam negeri.
– Laporan Posisi Posisi awal, mutasi, dan posisi akhir
– Laporan Koreksi Laporan pengganti dari laporan kegiatan
LLD yang telah disampaikan sebelumnya
karena adanya ketidaklengkapan dan atau
kesalahan.
3. Periode Laporan :
– Laporan Transaksi Bulanan
– Laporan Posisi Semesteran

4. Masa penyampaian laporan Paling lambat pada tanggal 15 bulan


berikutnya setelah berakhirnya periode
laporan.

5. Cara penyampaian laporan Surat atau faksimili

6. Sanksi :
- Terlambat melapor Denda Rp. 1.000.000 per hari
keterlambatan.
- Tidak menyampaikan laporan Denda Rp. 20.000.000 + denda
keterlambatan.
- Laporan tidak lengkap dan atau Denda Rp. 50.000 per data yang tidak
tidak benar lengkap dan atau tidak benar dengan
maksimum denda Rp. 20.000.000.
- Tidak menyampaikan laporan Dapat direkomendaikan kepada instansi
selama 6 periode berturut-turut yang berwenang untuk mencabut ijin
atau paling lama 6 bulan usahanya.

91
Bab 6 Keuangan Pemerintah
bab
Bab 6 Keuangan Pemerintah

6 Keuangan Pemerintah

T ahun anggaran 2000 merupakan tahun konsolidasi dan


transisi bagi pemerintah guna menuju kondisi fiskal yang
lebih sehat dan berkesinambungan (sustainable). Beberapa
daerah dan desentralisasi fiskal. Beberapa program lainnya
dihadapkan pada beberapa masalah dalam implemen-
tasinya, sehingga harus ditunda pelaksanaannya seperti
kemajuan mulai terlihat dalam tahun ini, seperti mulai pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak
meningkatnya kemampuan Pemerintah dalam menggali penjualan barang mewah (PPnBM) pada kawasan otorita
sumber-sumber penerimaan dalam negeri, lebih tajamnya pulau Batam dan privatisasi beberapa BUMN. Meskipun
prioritas pengeluaran, dan mulai berkurangnya keter- demikian, secara umum pelaksanaan APBN tahun 2000
gantungan Pemerintah terhadap sumber-sumber pem- menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan
biayaan luar negeri. dengan sasaran yang ditetapkan dalam APBN.
Secara umum, sasaran strategis kebijakan fiskal dalam Realisasi anggaran secara total —baik penerimaan
tahun anggaran 2000 –yang berlangsung selama sembilan maupun pengeluaran— melampaui sasaran yang ditetapkan,
bulan sejak 1 April 2000 sampai dengan 31 Desember 2000– dengan pencapaian yang lebih tinggi dari sisi penerimaan.
meliputi 6 hal yaitu : Faktor utama yang menyebabkan terlampauinya sasaran
i. Mewujudkan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) penerimaan adalah tingginya harga minyak mentah Indone-
melalui penurunan nisbah defisit APBN terhadap PDB dan sia di pasar internasional yang mencapai rata-rata $29,1 per
pengurangan nisbah utang luar negeri terhadap PDB barel selama tahun anggaran 2000 (Tabel 6.1), dan diikuti pula
dengan memperbesar pembiayaan yang berasal dari oleh tingginya harga gas di pasar internasional. Di sisi lain, faktor
dalam negeri; tingginya harga minyak telah meningkatkan jumlah
ii. Menciptakan stimulus fiskal melalui penajaman prioritas pengeluaran pemerintah melalui peningkatan beban subsidi
alokasi anggaran pembangunan bagi program-program BBM, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil dari peningkatan
pemberdayaan masyarakat golongan ekonomi lemah; penerimaan migas. Kenaikan harga migas juga cukup
iii. Mendukung program penyehatan sektor perbankan signifikan dalam menaikkan penerimaan pajak khususnya
dengan penyediaan alokasi anggaran untuk pemenuhan pajak penghasilan (PPh) migas yang disetorkan ke Pemerintah
kewajiban pembayaran bunga utang dalam negeri dalam sehingga realisasi tax ratio tahun 2000 mencapai 11,8% dari
rangka rekapitalisasi perbankan;
iv. Mengurangi subsidi secara bertahap yang dilakukan Tabel 6.1
secara selektif baik sasaran maupun komoditasnya; Asumsi Dasar Penyusunan APBN 2000

v. Memperbaiki kesejahteraan aparat sektor publik; APBN-P1)


Asumsi APBN
vi. Memperkuat persiapan pelaksanaan desentralisasi dan 2000

PDB a.d. harga berlaku (triliun rupiah) 910,4 937,4


perwujudan otonomi daerah.
Pertumbuhan ekonomi (%) 3,8 4,5
Beberapa sasaran strategis tersebut telah dilaksanakan, Laju inflasi (%) 4,8 7,0

seperti program rekapitalisasi perbankan, pengurangan subsidi Harga minyak mentah ($ per barel) 20,0 29,1
Produksi minyak (juta barel per hari) 1,46 1,41
BBM –meskipun sempat tertunda menjadi bulan Oktober 2000, Nilai tukar (Rp/$) 7.000 8.292
peningkatan kesejahteraan pegawai negeri sipil/TNI/Polri, dan 1) APBN–Perubahan (Perkiraan Realisasi)
Sumber: Departemen Keuangan
peraturan perundangan dalam rangka implementasi otonomi

93
Bab 6 Keuangan Pemerintah

PDB nominal, lebih tinggi dari sasaran dalam APBN tahun 2000 dan Rp65.000 untuk setiap pegawai per April dan Oktober
sebesar 11,1% (Tabel 6.2). 2000. Pembayaran bunga utang juga meningkat
Di sisi pengeluaran, sesuai rencana anggaran, sebagian dibandingkan tahun lalu karena peningkatan posisi utang
besar dari realisasi pengeluaran pemerintah dialokasikan dalam negeri (obligasi) dan melemahnya nilai tukar rupiah.
untuk pengeluaran yang bersifat wajib (non-discretionary), Sementara itu, tingginya alokasi dana untuk pembayaran
yaitu belanja pegawai pusat dan daerah, pembayaran subsidi, selain karena faktor harga minyak dan nilai tukar, juga
bunga utang, dan subsidi. Belanja pegawai mengalami disebabkan oleh tertundanya kenaikan harga BBM dari
peningkatan dibandingkan tahun lalu karena kebijakan rencana pada April menjadi Oktober 2000, serta adanya
kenaikan gaji PNS dan TNI/Polri melalui pemberian tunjangan kenaikan impor BBM akibat gangguan produksi kilang minyak
perbaikan penghasilan (TPP) masing-masing sebesar Rp64.750 di dalam negeri.

Tabel 6.2
Perkiraan Realisasi Operasi Keuangan Pemerintah Tahun 2000

2000
1999/001)
Rincian APBN2) Realisasi3)
Triliun Rp % thd. PDB Triliun Rp % thd. PDB Triliun Rp % thd. PDB % thd. APBN

A. Total Penerimaan 188,5 16,5 152,9 16,8 194,1 20,7 127,0


Migas dan Non Migas 188,5 16,5 152,9 16,8 194,1 20,7 127,0
Migas 42,7 3,7 33,2 3,6 59,6 6,4 179,4
Pajak 128,6 11,3 101,4 11,1 111,1 11,8 109,5
Bukan Pajak 17,2 1,5 18,2 2,0 23,5 2,5 128,7

B. Total Pengeluaran 206,4 18,1 197,0 21,6 223,9 23,9 113,6


Pengeluaran Operasional 155,1 13,6 156,1 17,2 182,4 19,5 116,8
Belanja Pegawai 32,1 2,8 30,7 3,4 30,0 3,2 97,7
Belanja Barang 10,0 0,9 9,4 1,0 9,0 1,0 95,8
Belanja Rutin Daerah 17,3 1,5 18,1 2,0 17,6 1,9 97,1
Pembayaran Bunga Utang 42,8 3,8 54,6 6,0 53,3 5,7 97,6
– Utang Dalam Negeri 22,2 1,9 38,0 4,2 34,8 3,7 91,5
– Utang Luar Negeri 20,6 1,8 16,6 1,8 18,6 2,0
Subsidi 47,0 4,1 30,8 3,4 59,7 6,4 193,7
– Subsidi BBM 35,8 3,1 22,5 2,5 51,1 5,5 227,7
– Subsidi Non BBM 11,2 1,0 8,4 0,9 8,6 0,9 102,7
Pengeluaran Rutin Lainnya 5,8 0,5 12,5 1,4 12,7 1,4 102,0
Pengeluaran Pembangunan 51,3 4,5 40,9 4,5 41,5 4,4 101,5
– Pembiayaan Pembangunan Rupiah 28,1 2,5 24,9 2,7 24,9 2,7 100,2
– Pembiayaan Proyek 23,2 2,0 16,0 1,8 16,6 1,8 103,6

C. Perbedaan Statistik 0,2 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 –


D. Surplus/Defisit Di luar Pembayaran Bunga 25,1 2,2 10,5 1,2 23,6 2,5 224,7
E. Surplus/Defisit Anggaran (17,7) (1,6) (44,1) (4,8) (29,8) (3,2) 67,4

Pembiayaan bersih 17,7 1,6 44,1 4,8 29,8 3,2 67,4


A. Perbankan Dalam Negeri (14,8) (1,3) – – (0,8) (0,1) –
B. Non Perbankan Dalam Negeri 16,6 1,5 25,4 2,8 18,9 2,0 74,4
– Privatisasi 3,7 0,3 6,5 0,7 – – –
– Penjualan Aset Prog. Restrukt. Perbankan 12,9 1,1 18,9 2,1 18,9 2,0 100,0
– Penjualan Obligasi – – – – – – –
C. Pembiayaan Luar Negeri Bersih 15,9 1,4 18,7 2,1 11,6 1,2 62,0
– Penarikan Pinjaman Luar Negeri 36,2 3,2 27,3 3,0 19,7 2,1 72,0
– Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN (20,3) (1,8) (8,6) (0,9) (8,1) (0,9) 93,8

1 ) Realisasi s.d. 31 Maret 2000


2 ) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000
3 ) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi)
Sumber : Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

94
Bab 6 Keuangan Pemerintah

Dalam kaitannya dengan moneter, operasi keuangan


pemerintah dalam 8 bulan pertama tahun anggaran terus
mengalami kontraksi neto terhadap jumlah uang beredar. Pendapatan Bukan
Sisa
Pajak
5,9% Penerimaan Migas
Kontraksi tersebut disebabkan oleh lebih besarnya jumlah 12%
30,7%

penerimaan rupiah terutama dari pajak dan penjualan aset Cukai


5,5%
program restrukturisasi perbankan dibandingkan berbagai
pengeluaran rupiah pemerintah. Ekspansi neto dalam
PPN
16,2%
jumlah besar baru terjadi pada bulan terakhir tahun PPh Migas
PPh Non Migas 9%
anggaran, setelah direalisasikannya secara penuh 20,7%
Total PPh
29,7%
pengeluaran subsidi dan pengeluaran pembangunan.
Di sisi neraca pembayaran, operasi keuangan pemerin- Grafik 6.1
Komposisi Penerimaan Pemerintah
tah menciptakan aliran modal masuk bersih (net-inflows) yang
cukup signifikan, karena tingginya penerimaan migas pemerin-
tah. Tingginya penerimaan migas tersebut telah mengurangi ke-
perluan pemerintah untuk melakukan penarikan pinjaman luar ra individual, maka penerimaan terbesar berasal dari
negeri untuk menutup kekurangan pembiayaan. Penarikan penerimaan migas yang menyumbang 30,7% dari total pene-
pinjaman luar negeri mencapai 72,0% dari rencana semula. rimaan negara dan hibah, diikuti oleh PPh 29,7%, dan PPN 16,2
%. Kontribusi PPh tersebut terdiri dari PPh migas (9,0%) dan PPh
Penerimaan1) nonmigas (20,7 %) (Grafik 6.1). Dilihat dari pencapaian target
Total penerimaan negara dan hibah selama tahun anggaran anggaran penerimaan, pencapaian tertinggi berasal dari
2000 diperkirakan mencapai Rp194,1 triliun, atau 27,0% di atas penerimaan migas yaitu 179,4%, diikuti oleh pajak
sasaran yang ditetapkan. Sumber terbesar penerimaan pertambahan nilai (116,7 %) dan pajak penghasilan (106,3%)
tersebut berasal dari kelompok penerimaan perpajakan yang (Grafik 6.2).
menyumbang 57,2% dari total penerimaan negara dan hibah Khusus untuk PPh, realisasi PPh nonmigas hanya
dengan angka pencapaian 109,5% dari sasaran. Terlam- mencapai 90,8% dari sasarannya, sedangkan PPh migas
pauinya sasaran penerimaan perpajakan tersebut terjadi pada
hampir seluruh komponen perpajakan, kecuali PPh nonmigas,
pajak lainnya, dan pajak ekspor. Sumber terbesar kedua
Sisa 115,7% Realisasi APBN 2000

adalah kelompok penerimaan migas yang menyumbang APBN 2000


Penerimaan Bukan Pajak 127,5%

30,7% dari total penerimaan negara dan hibah dengan angka


Cukai 103,5%

pencapaian 179,4% dari sasaran, sedangkan sisanya berasal


PPN 116,7%

dari kelompok penerimaan negara bukan pajak dengan


PPh Non Migas 90,8%

angka pencapaian 128,7% dari sasaran. PPh Migas 174,1%

Jika komponen-komponen penting pada ketiga kelom- Penerimaan Migas 179,4%

pok besar penerimaan negara dan hibah tersebut dilihat seca-


- 10 20 30 40 50 60 70

Triliun Rp

1) Perkiraan realisasi, untuk periode April s.d. Desember 2000, sesuai Nota
Grafik 6.2
Keuangan dan Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia
Pencapaian Target Anggaran Penerimaan
tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 2 Tahun 2000 tentang
APBN Tahun Anggaran 2000.

95
Bab 6 Keuangan Pemerintah

mencapai 174,1%, yang mencerminkan signifikannya kontribusi


PPh migas dalam pencapaian sasaran PPh secara keseluruhan.
Pengeluaran
Tidak tercapainya sasaran PPh nonmigas antara lain Pembangunan Sisa
18,0% 10,2% Belanja
disebabkan oleh lebih rendahnya suku bunga deposito Pegawai
21,3%
dibandingkan tahun sebelumnya dan diberlakukannya
kebijakan pemberian fasilitas pembebasan pajak (tax exemp-
tion) di kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET).
Dua komponen lainnya yang diperkirakan tidak Pembayaran
Bunga Subsidi
mencapai sasaran, adalah komponen penerimaan yang 23,8% 26,7%

relatif kecil pangsanya terhadap total penerimaan, yaitu


pajak lainnya dan pajak ekspor. Penerimaan pajak lainnya Grafik 6.3
Komposisi Pengeluaran Pemerintah
sebagian besar berasal dari pungutan bea meterai. Jenis
penerimaan ini meskipun meningkat menjadi hampir dua kali
lipat dari tahun sebelumnya, namun masih lebih rendah dari menjadi lebih dari dua kali rencana semula. Peningkatan
sasaran yang ditetapkan karena masih relatif rendahnya subsidi BBM ini terjadi karena adanya kenaikan harga minyak,
transaksi usaha/bisnis yang menggunakan meterai. 2) depresiasi rupiah, kenaikan impor BBM akibat gangguan
Sementara itu, tidak tercapainya pajak ekspor antara lain produksi kilang minyak di dalam negeri, dan diundurkannya
karena adanya penurunan tarif pajak ekspor guna kenaikan harga BBM di dalam negeri yang semula
mendorong ekspor komoditas tertentu, terutama CPO dan direncanakan mulai awal April 2000.
produk turunannya.3) Pengeluaran terbesar adalah untuk pembayaran subsidi
sebesar 26,7% dari total pengeluaran, diikuti oleh bunga utang
Pengeluaran dalam dan luar negeri (23,8%), dan belanja pegawai pusat
Total pengeluaran pemerintah selama tahun anggaran 2000 dan daerah (21,3%) (Grafik 6.3). Dilihat dari pencapaian
diperkirakan mencapai Rp223,9 triliun, atau 13,6% di atas sasaran, seluruh pos-pos penting pengeluaran berada pada
sasaran yang ditetapkan. Sesuai dengan rencana anggaran, angka pencapaian antara 97,0% – 103,0 %, kecuali subsidi yang
sebagian besar, atau lebih kurang 81,5% dari realisasi
pengeluaran, didominasi oleh pengeluaran operasional
dengan angka pencapaian terhadap sasaran sebesar Realisasi APBN 2000
Sisa
97,1% APBN 2000
116,8%, sedangkan sisanya (18,5%) untuk pengeluaran
pembangunan dengan angka pencapaian terhadap Pengeluaran Pembangunan 103,0%

sasaran sebesar 101,5%. Pelampauan realisasi pengeluaran Pembayaran Bunga Utang 97,6%

operasional dari sasaran hampir sepenuhnya berasal dari


Subsidi 193,7%
pembayaran subsidi khususnya subsidi BBM yang meningkat
Belanja Pegawai 97,5%

2) Upaya untuk mencapai sasaran yang ditetapkan telah dilakukan oleh


pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 24 - 10 20 30 40 50 60 70

tanggal 20 April 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dan Triliun Rp
Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal yang Dikenakan Bea
Meterai Grafik 6.4
3) Keputusan Menteri Keuangan No. 387 tanggal 12 September 2000 Pencapaian Target Anggaran Pengeluaran
tentang Penetapan Besarnya Tarif Pajak Ekspor Kelapa Sawit, CPO, dan
Produk Turunannya

96
Bab 6 Keuangan Pemerintah

mencapai 193,7% dari sasaran (Grafik 6.4). Tingginya alokasi dengan realisasi defisit yang terjadi, maka terdapat sisa lebih
dana untuk subsidi menyebabkan jumlah pengeluaran yang pembiayaan anggaran (SILPA) sebesar Rp0,8 triliun atau 0,1%
bersifat wajib (non-discretionary) meningkat menjadi 17,1% dari dari PDB yang akan menambah rekening bersih pemerintah
PDB, dibandingkan 12,2% pada tahun lalu. di sistem moneter.
Dilihat dari pencapaian sasaran, penjualan aset pro-
Pembiayaan gram restrukturisasi perbankan mencapai 100,0%,
Dengan lebih tingginya angka pencapaian sasaran sedangkan penarikan pinjaman luar negeri bersih hanya
penerimaan pemerintah dari angka pencapaian sasaran 62,0%. Nihilnya hasil privatisasi BUMN antara lain disebabkan
pengeluaran, maka operasi keuangan pemerintah pada oleh beberapa hal yaitu (i) kondisi pasar modal domestik
tahun 2000 diperkirakan mengalami defisit Rp29,8 triliun atau dan internasional yang kurang kondusif untuk melakukan
3,2% dari PDB, lebih rendah dari rencana defisit sebesar Rp44,1 IPO (Initial Public Offering), (ii) faktor country risk yang masih
triliun atau 4,8% dari PDB (Tabel 6.2). Defisit tersebut ditutup tinggi, dan (iii) masih belum selesainya restrukturisasi BUMN
dengan dua sumber pembiayaan, yaitu penjualan aset pro- yang akan diprivatisasi.
gram restrukturisasi perbankan (61,9%) dan penarikan pinjaman Dengan perkembangan pembiayaan di atas, maka
luar negeri bersih (38,1%), sedangkan hasil privatisasi masih nihil. rasio pembiayaan dalam negeri terhadap PDB meningkat
Dengan lebih besarnya sumber pembiayaan dibandingkan menjadi 2,0%, sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya

Tabel 6.3
Nisbah-nisbah Penting

2000
1998/99a) 1999/00b)
Rincian APBNc) Realisasid)
Persen

1. Tax Ratio 10,7 11,3 11,1 11,8


2. Tax Ratio Di Luar PPh Migas 9,7 9,9 10,0 10,0
3. Penerimaan Pajak Domestik1)/ Penerimaan Pajak 84,3 83,8 84,3 78,5
Penerimaan Pajak Domestik1)/ PDB 9,1 9,5 9,4 9,3
4. Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional2)/ Penerimaan Pajak 15,7 16,2 15,7 21,5
Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional2)/ PDB 1,7 1,8 1,8 2,6
5. Buoyancy3) 0,8 1,64 n.a. 1,58
6. Penerimaan Migas/ Total Penerimaan 19,5 22,7 21,7 30,7
Penerimaan Migas/PDB 2,9 3,7 3,6 6,4
7. Konsumsi Pemerintah/PDB 4,6 5,6 7,6 7,2
8. Pembentukan Modal Domestik Bruto /PDB 5,1 4,5 4,5 4,4
9. Transfer Payment4)/PDB 3,4 6,1 7,6 10,1
10. Pengeluaran Non–discretionary5)/PDB 10,0 12,2 14,7 17,1
11. Pengeluaran Non–discretionary5)/Penerimaan Pajak 92,7 108,3 132,3 144,6
12. Surplus (+)/Defisit (–) Terhadap PDB –1,5 –1,6 –4,8 –3,2
13. Surplus (+)/Defisit (–) Di Luar Pembayaran Bunga Terhadap PDB 1,6 2,2 1,2 2,5
14. Outstanding Utang Publik6)/PDB 93,4 100,5 - 106,9
15. Outstanding Utang Pemerintah/PDB 85,0 94,2 - 100,7
16. Outstanding Utang Luar Negeri Pemerintah/PDB 64,0 49,9 - 49,9
17. Outstanding Utang Domestik Pemerintah7)/PDB 20,9 44,3 - 50,8
18. Pembiayaan Dalam Negeri8)/PDB 0,2 1,5 2,8 2,0

Catatan : 7) Terdiri dari obligasi pemerintah yang dikeluarkan untuk rekapitalisasi perbankan,
BLBI dan dalam rangka penjaminan
1) Terdiri dari seluruh penerimaan pajak minus penerimaan Pajak Perdagangan Internasional 8) Terdiri dari Privatisasi BUMN dan Asset Recovery
2) Terdiri dari penerimaan PPh Migas, Bea masuk dan Pajak Ekspor
3) Dihitung dengan formula pertumbuhan seluruh penerimaan pajak dibagi pertumbuhan PDB a) APBN setelah diaudit (PAN)
4) Terdiri dari pengeluaran untuk Subsidi dan Pembayaran Bunga Utang Dalam Negeri b) Realisasi s.d. 31 Maret 2000
5) Terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Rutin Daerah, Bunga Utang dan pengeluaran untuk c) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000
Subsidi d) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi)
6) Termasuk di dalamnya adalah Utang Luar Negeri Pemerintah, BUMN dan Bank Milik
Pemerintah dan Utang Dalam Negeri Pemerintah Sumber: Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

97
Bab 6 Keuangan Pemerintah

yang tercatat 1,5% dari PDB (Tabel 6.3). Sementara itu,


Tabel. 6.5
meskipun dalam tahun 2000 terjadi penarikan pinjaman luar Perkiraan Dampak Rupiah Keuangan Pemerintah
negeri bersih, namun tidak mengubah rasio posisi utang luar April s.d. Desember 2000

negeri terhadap PDB yaitu 49,9%. Secara keseluruhan, utang 2000


Rincian 1999/001)
APBN2) Realisasi3)
pemerintah meningkat menjadi 100,7% dari PDB yang
Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB
disebabkan oleh peningkatan utang domestik sehubungan
A.Penerimaan Rupiah
dengan penerbitan obligasi pemerintah dalam rangka pro- Pajak Migas 15,8 1,4 10,0 1,1 17,5 1,9
Pajak Nonmigas dan
gram rekapitalisasi perbankan. Bukan Pajak 129,9 11,4 109,6 12,0 116,8 12,5
Privatisasi 3,7 0,3 6,5 0,7 0,0 0,0
Penjualan Aset Program
Restrukturisasi Perbankan 12,9 1,1 18,9 2,1 18,9 2,0
Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap
Jumlah Penerimaan 162,3 14,2 145,1 15,9 153,2 16,3
Permintaan Agregat dan Moneter B. Pengeluaran Rupiah
Operasional –133,7 –11,7 –138,0 –15,2 –162,3 –17,3
Dalam tahun 2000, Pemerintah telah melakukan pengeluaran Belanja Pegawai dan
Rutin Daerah –48,8 –4,3 –48,0 –5,3 –46,8 –5,0
sebesar Rp223,9 triliun, dimana 48,8% atau Rp109,3 triliun
Subsidi –47,0 –4,1 –30,8 –3,4 –59,7 –6,4
diantaranya secara langsung mempengaruhi permintaan Bunga Utang DN –22,2 –1,9 –38,0 –4,2 –34,8 –3,7
Pengeluaran Rutin Lainnya –15,6 –1,4 –21,1 –2,3 –21,0 –2,2
agregat sebagai belanja konsumsi dan investasi pemerintah, Investasi –36,2 –3,2 –30,5 –3,3 –30,7 –3,3
Jumlah Pengeluaran –169,9 –14,9 –168,4 –18,5 –193,0 –20,6
dan 42,2% atau Rp94,5 triliun sebagai pembayaran transfer ke C.Perbedaan Statistik 0,2 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
sektor swasta dalam bentuk pembayaran subsidi dan D. Dampak Rupiah (A-B+C)4) –7,3 –0,6 –23,4 –2,6 –39,8 –4,2
pembayaran bunga utang dalam negeri. Dari jumlah yang 1) Realisasi s.d. 31 Maret 2000
2) APBN yang disahkan pada tanggal 2 Maret 2000
secara langsung mempengaruhi permintaan agregat tersebut, 3) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi)
4) Tanda negatif (-) berarti ekspansi, positif (+) berarti kontraksi
sebesar Rp67,8 triliun atau 62,0% dalam bentuk pengeluaran Sumber: Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

konsumsi dan sisanya Rp41,5 triliun atau 38,0% dalam bentuk


pengeluaran investasi (Tabel 6.4). (Tabel 6.5). Ekspansi terbesar adalah untuk pembayaran subsidi,
Dari sisi moneter, transaksi keuangan pemerintah selama belanja pegawai, dan bunga obligasi. Sementara itu, aliran
tahun 2000 memberikan net ekspansi rupiah sebesar Rp39,8 triliun kontraksi rupiah ke sistem moneter sebagian besar berasal dari

Tabel. 6.4
Perkiraan Dampak Keuangan Pemerintah Terhadap Sektor Riil Juta $
April s.d. Desember 2000 350
Pinjaman Proyek
2000 300 Pinjaman Program
Rincian 1999/001)
APBN2) Realisasi3)
250
Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB
200
A. Konsumsi Pemerintah 64,4 5,6 69,1 7,6 67,8 7,2
Belanja Pegawai DN 31,5 2,8 29,9 3,3 29,2 3,1 150
Belanja Barang DN 9,8 0,9 8,7 1,0 8,3 0,9
Belanja Rutin Daerah 17,3 1,5 18,1 2,0 17,6 1,9 100
Pengeluaran Rutin Lainnya 5,8 0,5 12,5 1,4 12,7 1,4
B. Pembentukan modal 50
domestik bruto 51,3 4,5 40,9 4,5 41,5 4,4
0
Pembiayaan Dalam Rupiah 28,1 2,5 24,9 2,7 24,9 2,7 Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt.* Nov.* Des.*
Bantuan Proyek 23,2 2,0 16,0 1,8 16,6 1,8 2000
C. Jumlah (A + B) 115,7 10,1 110,0 12,1 109,3 11,7 Sumber : Bank Indonersia

1) Realisasi s.d. 31 Maret 2000 Grafik 6.5


2) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000
3) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi) Penarikan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah
Sumber: Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

98
Bab 6 Keuangan Pemerintah

Pembangunan Nasional (PROPENAS), juga merupakan tahun


Tabel. 6.6
Perkiraan Dampak Valas Keuangan Pemerintah pertama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal
April s.d. Desember 2000
(Tabel 6.7).
2000 Strategi umum kebijakan fiskal yang akan ditempuh
1999/001)
Rincian APBN2) Realisasi3)
pada tahun anggaran 2001 adalah :
Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB
A. Transaksi Berjalan 6,2 0,5 4,6 0,5 28,8 3,1
i. Mengoptimalkan penerimaan dalam negeri baik
Neraca Barang 27,4 2,4 22,0 2,4 48,1 5,1 penerimaan pajak maupun bukan pajak;
Ekspor Migas 42,7 3,7 33,2 3,6 59,6 6,4
Impor Bantuan Proyek -15,1 -1,3 -10,4 -1,1 -10,8 -1,2 ii. Mengendalikan dan meningkatkan efisiensi pengeluaran
Belanja Barang LN -0,2 0,0 -0,8 -0,1 -0,7 -0,1
negara;
Neraca Jasa -21,3 -1,9 -17,4 -1,9 -19,4 -2,1
iii. Mengurangi subsidi;
Pembayaran Bunga
Utang Luar Negeri -20,6 -1,8 -16,6 -1,8 -18,6 -2,0 iv. Menerapkan pembagian dana perimbangan;
Belanja Pegawai LN -0,6 -0,1 -0,8 -0,1 -0,8 -0,1
v. Mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber
B. Pemasukan Modal Neto
Pemerintah 16,0 1,4 18,7 2,1 11,8 1,3 pembiayaan luar negeri.
Penarikan Utang
Operasi keuangan pemerintah pada tahun 2001
Luar Negeri dan Hibah 36,3 3,2 27,3 3,0 19,9 2,1
Pembayaran Cicilan Pokok tersebut direncanakan akan mengalami defisit sebesar
Utang Luar Negeri
Pemerintah -20,3 -1,8 -8,6 -0,9 -8,1 -0,9 Rp52,5 triliun atau 3,7% dari PDB, yang secara persentase
C. Dampak Valas (A+B)4) 22,2 1,9 23,4 2,6 40,6 4,3 menurun dibandingkan rencana defisit pada APBN tahun
sebelumnya yang tercatat Rp44,1 triliun atau 4,8% dari PDB
1) Realisasi s.d. 31 Maret 2000
2) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000
3) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi)
(Tabel 6.8). Penurunan defisit tersebut akan dicapai dengan
4) Tanda negatif (-) berarti outflows, positif (+) berarti inflows
Sumber: Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia meningkatkan penerimaan negara dan hibah terutama
melalui upaya penghimpunan penerimaan perpajakan
penerimaan pajak dan sisanya dari penjualan aset program yang lebih besar dari tahun sebelumnya —yang tercermin
restrukturisasi perbankan. dari peningkatan tax ratio dari 11,1% menjadi 12,6% dari PDB
Dari sisi neraca pembayaran, tingginya penerimaan — dan dengan lebih mengefisienkan pengeluaran. Di sisi
migas dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah yang pembiayaan, sumber dana untuk menutup defisit terutama
lebih besar baik dari pembayaran kewajiban luar negeri (debt akan berasal dari dalam negeri, yaitu dari hasil privatisasi
service payments) maupun impor bantuan proyek telah dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan (2,4%
menciptakan aliran modal masuk bersih (net capital inflows) dari PDB), sedangkan kekurangannya masih akan ditutup
yang menambah cadangan devisa di sistem moneter setara
dengan Rp40,6 triliun (Tabel 6.6). Dilihat dari kontribusinya, Tabel. 6.7
aliran terbesar bersumber dari penerimaan migas, sedangkan Asumsi Dasar Penyusunan APBN 2001

peranan utang luar negeri terlihat berkurang. Penarikan APBN APBN


Asumsi
20001) 2001
pinjaman lebih banyak dalam bentuk pinjaman proyek,
PDB a.d. harga berlaku (trilliun rupiah) 910,4 1.425,0
sedangkan pinjaman program relatif sangat kecil (Grafik 6.5).
Pertumbuhan ekonomi (%) 3,8 5,0
Laju inflasi (%) 4,8 7,2
APBN 2001 Harga minyak mentah ($ per barel) 20,0 24,0
Produksi minyak (juta barel per hari) 1,46 1,46
APBN 2001 memiliki arti strategis dalam pengelolaan keuangan Nilai tukar(Rp/$) 7.000 7.800
negara, karena disamping merupakan Rencana Pemba- 1) Periode April s.d. Desember
Sumber : Departemen Keuangan
ngunan Tahunan (Repeta) pertama dari pelaksanaan Program

99
Bab 6 Keuangan Pemerintah

Tabel. 6.8 Tabel 6.9


Operasi Keuangan Pemerintah APBN 2000 dan 2001 Dampak Rupiah APBN 2000 dan 2001
APBN 20001) APBN 20012) APBN 20001) APBN 20012)
Rincian Rincian
Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd. PDB Triliun Rp % thd. PDB
A.Pendapatan Negara dan Hibah 152,9 16,8 263,2 18,5
A. Penerimaan rupiah
I. Penerimaan Dalam Negeri 152,9 16,8 263,2 18,5
Migas 10,0 1,1 20,8 1,5
1. Penerimaan Pajak 101,4 11,1 179,9 12,6
Non Migas 109,6 12,0 182,7 12,8
a. Pajak Dalam Negeri 95,5 10,5 169,5 11,9
Privatisasi 6,5 0,7 6,5 0,5
i. Pajak penghasilan 54,2 6,0 96,3 6,8
Penjualan Aset Program
1. Migas 10,0 1,1 20,8 1,5
Restruktrukturisasi Perbankan 18,9 2,1 27,0 1,9
2. Non Migas 44,2 4,9 75,5 5,3
Jumlah Penerimaan 145,1 15,9 237,0 16,6
ii. Pajak pertambahan nilai 27,0 3,0 48,9 3,4
iii. Cukai 10,3 1,1 17,1 1,2 B. Pengeluaran rupiah
iv. Pajak lainnya 4,0 0,4 7,3 0,5 Operasional -119,8 -13,2 -164,8 -11,6
b. Pajak Perdagangan Internasional 5,9 0,6 10,4 0,7 Belanja Pegawai -29,9 -3,3 -38,7 -2,7
2. Penerimaan Bukan Pajak Subsidi -30,8 -3,4 -54,0 -3,8
(SDA Migas) 51,5 5,7 83,3 5,8 Bunga Utang DN -38,0 -4,2 -53,5 -3,8
a. Penerimaan SDA 40,1 4,4 64,5 4,5 Pengeluaran Rutin Lainnya -20,4 -2,2 -18,7 -1,3
i. Migas 33,2 3,6 59,7 4,2 Investasi -15,8 -1,7 -29,5 -2,1
ii. Non Migas 6,9 0,8 4,7 0,3 Dana Perimbangan -33,5 -3,7 -81,7 -5,7
b. Bagian Laba BUMN 5,3 0,6 10,5 0,7 Jumlah Pengeluaran -168,4 -18,5 -276,0 -19,4
c. PNBP Lainnya 6,1 0,7 8,4 0,6
II. Hibah 0,0 0,0 0,0 0,0 C. Perbedaan Statistik 0,0 0,0 0,0 0,0

B. Belanja Negara 197,0 21,6 315,8 22,2 D. Dampak Rupiah -23,4 -2,6 -39,0 -2,7
I. Belanja Pemerintah Pusat 163,5 18,0 234,1 16,4
1. Pengeluaran Rutin 137,3 15,1 190,1 13,3 1) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000
a. Belanja Pegawai 30,7 3,4 40,0 2,8 2) APBN yang disahkan pada Desember 2000
b. Belanja Barang 9,4 1,0 9,7 0,7 Sumber: Departemen Keuangan (diolah)
c. Pembayaran Bunga Utang 54,6 6,0 76,5 5,4
i. Utang Dalam Negeri 38,0 4,2 53,5 3,8
ii. Utang Luar Negeri 16,6 1,8 23,1 1,6
d. Subsidi 30,8 3,4 54,0 3,8 dengan penarikan pinjaman luar negeri bersih sebesar 1,3%
i. Subsidi BBM 22,5 2,5 41,3 2,9
ii. Subsidi non BBM 8,4 0,9 12,6 0,9 dari PDB.
e. Pengeluaran Rutin Lainnya 11,7 1,3 9,9 0,7
2. Pengeluaran Pembangunan 26,2 2,9 44,0 3,1 Upaya untuk meningkatkan penerimaan baik dari pajak
a. Pembiayaan pembangunan
rupiah 10,2 1,1 21,7 1,5 maupun bukan pajak akan memberikan kontraksi rupiah yang
b. Pembiayaan proyek 16,0 1,8 22,3 1,6
cukup besar. Meskipun demikian, operasi keuangan peme-
II. Dana Perimbangan 33,5 3,7 81,7 5,7

C. Perbedaan Statistik 0,0 0,0 0,0 0,0 rintah tetap akan berdampak ekspansif terhadap uang bere-
D. Surplus/Defisit di luar Pembayaran Bunga 10,5 1,2 24,0 1,7 dar (Tabel 6.9). Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah
E. Surplus/Defisit (44,1) (4,8) (52,5) (3,7) pengeluaran rupiah dari 18,5% dari PDB menjadi 19,4% dari
F. Pembiayaan 44,1 4,8 52,5 3,7 PDB. Sebagian besar (82,6%) dari pengeluaran tersebut meru-
I. Pembiayaan Dalam Negeri 25,4 2,8 33,5 2,4
1. Perbankan dalam negeri 0,0 0,0 0,0 0,0 pakan jenis-jenis pengeluaran yang tidak dapat dihindarkan,
a. Sisa Lebih Pembiayaan
Anggaran (SILPA) 0,0 0,0 0,0 0,0 yaitu gaji pegawai pemerintah pusat, subsidi, bunga obligasi,
b. Kredit/Pinjaman Sektor Perbankan 0,0 0,0 0,0 0,0
2. Non-Perbankan dalam negeri 25.4 2,8 33,5 2,4 dan dana perimbangan untuk daerah. Secara keseluruhan,
a. Privatisasi 6,5 0,7 6,5 0,5
b. Penjualan aset program
APBN tahun 2001 diperkirakan akan memberikan dampak
restrukturisasi perbankan 18,9 2,1 27,0 1,9
ekspansi neto terhadap uang beredar sebesar 2,7% dari PDB.
II. Pembiayaan Luar Negeri (Netto) 18,7 2,1 19,0 1,3
1. Penarikan Pinjaman Luar Dampak ekspansi neto transaksi rupiah pemerintah
Negeri (bruto) 27,3 3,0 36,0 2,5
a. Pinjaman Program 11,3 1,2 13,7 1,0 tersebut akan mempunyai implikasi pada pelaksanaan
b. Pinjaman Proyek 16,0 1,8 22,3 1,6
2. Pembayaran Cicilan Pokok kebijakan moneter Bank Indonesia. Pada prinsipnya ekspansi
Utang Luar Negeri (8,6) (0,9) (17,0) (1,2)
fiskal tersebut harus diserap kembali dalam rangka mencapai
1) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000
2) APBN yang disahkan pada 5 Desember 2000 sasaran uang primer dan menekan laju inflasi. Penyerapan ini
Sumber: Departemen Keuangan (diolah)
dilakukan dengan mekanisme Operasi Pasar Terbuka (OPT)

100
Bab 6 Keuangan Pemerintah

Tabel. 6.10 Tabel. 6.11


Dampak Valas APBN 2000 dan 2001 Dampak APBN 2000 dan 2001 Terhadap Sektor Riil
APBN 20001) APBN 20011) APBN 20001) APBN 20012)
Rincian Rincian
Triliun Rp % thd. PDB Triliun Rp % thd. PDB Triliun Rp % thd. PDB Triliun Rp % thd. PDB

A. Transaksi Berjalan 4,6 0,5 20,0 1,4 I. Konsumsi Pemerintah 69,1 7,6 96,3 6,8
Neraca Barang 22,0 2,4 44,3 3,1
Ekspor Migas 33,2 3,6 59,7 4,2 Belanja pegawai DN 29,9 3,3 38,7 2,7
Impor Bantuan Proyek –10,4 –1,1 –14,5 –1,0 Belanja barang DN 8,7 1,0 8,7 0,6
Lainnya –0,8 –0,1 –1,0 –0,1 Belanja rutin daerah 18,1 2,0 38,9 2,7
Neraca Jasa –17,4 –1,9 –24,3 –1,7
Pengeluaran rutin lainnya 12,5 1,4 9,9 0,7
Pembayaran Bunga
Pinjaman Luar Negeri –16,6 –1,8 –23,1 –1,6
II. Pembentukan modal
Lainnya –0,8 –0,1 –1,2 –0,1
domestik bruto 40,9 4,5 86,8 6,1
B. Pemasukan Modal Neto Pemerintah 18,7 2,1 19,0 1,3
Penarikan Pinjaman Luar Negeri 27,3 3,0 36,0 2,5 Pembiayaan dalam rupiah 24,9 2,7 64,5 4,5
Pembayaran Cicilan Pokok Bantuan proyek 16,0 1,8 22,3 1,6
Utang Luar Negeri Pemerintah –8,6 –0,9 –17,0 –1,2
C. Dampak Valas 23,4 2,6 39,0 2,7 III. Jumlah I + II 110,0 12,1 183,1 12,8

1) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 1) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000
2) APBN yang disahkan pada 5 Desember 2000 2) APBN yang disahkan pada 5 Desember 2000
Sumber: Departemen Keuangan (diolah) Sumber: Departemen Keuangan (diolah)

sebagai instrumen utama dalam pengendalian moneter di agregat diperkirakan sebesar 12,8% dari PDB nominal, sedikit
Bank Indonesia. Selain itu, ekspansi fiskal tersebut dapat pula meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 12,1%
diserap kembali melalui sterilisasi valuta asing (valas) oleh Bank (Tabel 6.11). Alokasi anggaran untuk beberapa pos di sisi
Indonesia yang dilakukan sesuai kebutuhan. Hal ini pengeluaran konsumsi –dalam persentase terhadap PDB--
dimungkinkan dengan adanya potensi aliran modal masuk terlihat mengalami penurunan, terutama karena pengalihan
neto transaksi valas pemerintah ke Bank Indonesia, terutama anggaran dan wewenang dari yang semula berada pada
dari penerimaan migas dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah pusat menjadi berada pada pemerintah daerah.
bersih masing-masing sebesar 4,2% dan 1,3% dari PDB (Tabel Khusus untuk dana perimbangan, hampir seluruhnya (99,0%)
6.10). Penarikan pinjaman itu sendiri akan lebih rendah dari bersifat umum (block grant), dimana kewenangan peman-
tahun lalu, yang menunjukkan upaya konkrit pemerintah untuk faatannya sepenuhnya berada pada pemerintah daerah.
menurunkan rasio utang luar negeri dalam beberapa tahun Sementara itu, sektor pemerintah juga akan berperan dalam
ke depan. meningkatkan konsumsi sektor swasta melalui transfer payment
Dalam kaitannya dengan sektor riil, kontribusi operasi subsidi dan pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar
keuangan pemerintah terhadap pembentukan permintaan 7,6% dari PDB.

101
Bab 6 Keuangan Pemerintah

Boks : Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Pengendalian Moneter

Sebagaimana diamanatkan dalam TAP MPR No IV tahun memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk
2000, otonomi daerah diimplementasikan pada awal Januari memungut sendiri pajak potensial yang dimilikinya. Meskipun
2001. Implementasi otonomi daerah tersebut didasarkan demikian, pengaruh revisi undang-undang ini terhadap PAD
pada UU No 22/1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No – dalam jangka pendek – diperkirakan belum akan signifikan.
25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat Hal ini disebabkan karena jenis pajak dan retribusi yang dapat
dan Daerah serta berbagai peraturan pendukungnya yang dipungut dan dimiliki sendiri oleh daerah hanyalah pajak yang
mengatur pelimpahan kewenangan pemerintah pusat nilainya kecil, dan diperlukan waktu yang cukup panjang untuk
kepada pemerintah daerah (Dati II) serta penyerahan sumber melakukan studi dan evaluasi tentang jenis retribusi dan pajak
keuangan yang menyertainya. Sejalan dengan pelaksanaan yang layak untuk dipungut. Dengan demikian, Dana
kedua UU tersebut, pemerintah daerah diharapkan akan Perimbangan akan mempunyai peran yang sangat vital bagi
dapat lebih mengembangkan segenap potensi ekonomi daerah sebagai sumber utama penerimaan daerah, paling
yang ada di daerahnya yang pada gilirannya akan dapat tidak dalam jangka pendek.
memicu peningkatan aktivitas perekonomian di daerah. Dari sisi pemerintah pusat, ketergantungan daerah
Namun, keinginan tersebut dihadapkan pada adanya terhadap Dana Perimbangan – Dana Bagi Hasil (DBH), Dana
keanekaragaman potensi perekonomian (fiscal capacity) Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK)–
dan jenis kebutuhan (fiscal needs) di daerah yang berpotensi dihadapkan pada masalah pendistribusian dana tersebut
untuk menghambat kesuksesan pelaksanaan otonomi yang minimal harus dapat mendukung operasional
daerah. pelaksanaan fungsi pelayanan kepada masyarakat. DBH yang
Pelimpahan wewenang serta fungsi kepada merupakan bagian dari daerah atas penerimaan dari Pajak
pemerintah daerah, mempunyai dampak yang signifikan Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
terhadap struktur dan besarnya pengeluaran pemerintah Bangunan (BPHTB), dan penerimaan dari sumber daya alam
daerah dan penerimaan daerah. Studi yang dilakukan oleh hanya akan cenderung menguntungkan segelintir daerah
World Bank (2000) memperkirakan bahwa pengeluaran yang “beruntung” memiliki potensi sumber daya alam yang
daerah akan meningkat lebih dari 50% dibandingkan kondisi besar yang berpotensi untuk meningkatkan ketimpangan
sekarang. Peningkatan tersebut akan mendorong pening- pendapatan antar daerah. Distribusi yang tidak merata
katan pangsa pengeluaran pemerintah daerah terhadap tersebut juga akan dapat menyebabkan daerah mengalami
keseluruhan pengeluaran pemerintah menjadi sekitar 40%. Hal kekurangan dana untuk membiayai pelimpahan fungsi dan
tersebut tentu saja menimbulkan konsekuensi pada adanya tugas yang diterimanya (fiscal gap). Untuk meminimalkan
peningkatan kebutuhan penerimaan daerah dalam jumlah dampak negatif tersebut, UU No.25/1999 telah
yang memadai. mengamanatkan adanya alokasi dana yang cukup besar
Guna mengantisipasi hal tersebut, UU No.25/1999 telah (minimal 25% dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan
menetapkan berbagai sumber penerimaan daerah yang dalam APBN) dalam bentuk DAU. Permasalahan yang
terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, kemudian muncul adalah bagaimana menciptakan formula
Pinjaman Daerah dan Lain-lain Penerimaan yang sah. pembagian DAU yang adil bagi daerah-daerah di tengah
Kebijakan lain yang dikeluarkan dalam rangka mendorong realitas kemajemukan potensi perekonomian dan jenis
peningkatan PAD adalah revisi dari UU No. 18/1997 yang kebutuhan yang sangat besar.
mengatur jenis-jenis pajak dan retribusi yang dapat dipungut Dari berbagai mekanisme pembagian DBH dan DAU
oleh pemerintah daerah. Revisi undang-undang tersebut telah tersebut, tidak terdapat jaminan bagi tidak terjadinya fiscal

102
Bab 6 Keuangan Pemerintah

gap di daerah serta tidak meningkatnya kesenjangan fiskal nilai tukar — jika dana perimbangan yang disalurkan oleh
antar daerah. Untuk menutupi fiscal gap, pemerintah daerah pemerintah pusat tidak segera digunakan oleh Pemerintah
dapat melakukan pinjaman daerah sebagaimana diatur Daerah untuk membiayai pengeluarannya. Lebih lanjut,
dalam UU No. 25/1999 yang antara lain berupa pinjaman kemungkinan adanya perubahan pola pengeluaran fiskal (fis-
kepada pemerintah pusat. Pinjaman daerah kepada cal spending behavior) juga akan menambah kompleksitas
Pemerintah pusat berpotensi untuk meningkatkan defisit APBN dari operasi pengendalian moneter (OPT) karena pola
yang pada gilirannya akan membahayakan kesinambungan pengeluaran pemerintah yang selama ini digunakan sebagai
fiskal (fiscal sustainability). Guna menghindari hal tersebut, baik salah satu komponen perhitungan perkiraan kebutuhan
Pemerintah pusat maupun daerah harus melaksanakan likuiditas di pasar akan menjadi tidak akurat lagi.
kebijakan fiskal yang berhati-hati sehingga fungsi stimulus fiskal Hal lain yang perlu diwaspadai adalah dimungkin-
dari pengeluaran pemerintah tetap dapat dilakukan namun kannya daerah yang mengalami defisit untuk melakukan pinja-
dengan cara yang seefisien mungkin. man daerah sebagai tambahan sumber pembiayaan. Jika
Berbagai dinamika pelaksanaan otonomi daerah pinjaman tersebut berasal dari dalam negeri dan tidak diken-
tersebut diperkirakan akan menimbulkan beberapa implikasi dalikan secara baik, maka pinjaman daerah juga dapat
moneter. Implikasi tersebut dapat dilihat dari dua hal, pertama, menciptakan crowding out karena dapat menyebabkan ber-
berkaitan dengan pengaruh otonomi daerah terhadap laju kurangnya alokasi dana (kredit) untuk sektor swasta, yang
inflasi. Kedua, berkaitan dengan dampak dari pelimpahan pada gilirannya akan menaikkan suku bunga dan menurunkan
dana dan kewenangan pengelolaannya kepada daerah investasi. Jika pinjaman tersebut berasal dari luar negeri, maka
terhadap teknis pengelolaan kebijakan moneter. pada saat pembayarannya kembali dapat menimbulkan te-
Dilihat dari aspek pertama, upaya fiscal adjustment baik kanan terhadap neraca pembayaran, sehingga pada
di sisi penerimaan maupun pengeluaran yang dilakukan gilirannya memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Kedua
Pemerintah Daerah dalam menyikapi kondisi keuangannya, permasalahan ini pada gilirannya akan memberikan tekanan
akan sangat berpengaruh pada perkembangan laju inflasi. pada inflasi.
Komposisi dari fiscal adjustment yang terdiri dari peningkatan Guna mengurangi berbagai kemungkinan dampak
pajak daerah – sebagai upaya peningkatan PAD – dengan negatif pelaksanaan otonomi daerah terhadap pelaksanaan
komposisi pengeluaran yang terutama didominasi oleh operasi pengendalian moneter, diperlukan adanya koordinasi
pengeluaran yang bersifat wajib (non-discretionary spending) yang erat antara Bank Indonesia dengan Pemerintah, baik
– sebagian besar terdiri dari pengeluaran noninvestasi – akan Pusat maupun Daerah. Koordinasi tersebut terutama berupa
menambah tekanan pada laju inflasi. Di sisi lain, fiscal adjust- penyampaian data penerimaan dan pengeluaran aktual
ment yang dilakukan dengan mengefisienkan pengeluaran secara akurat dan tepat waktu, serta data perkiraan realisasi
rutin Pemerintah Daerah dengan tanpa harus mengurangi mingguan, bulanan hingga tahunan (fiscal programming).
pengeluaran investasi dan tanpa meningkatkan pajak secara Ketersediaan data-data yang akurat tersebut akan sangat
berlebihan akan mengurangi tekanan pada laju inflasi. Oleh membantu kegiatan evaluasi dan akurasi perkiraan kebutuhan
karena itu, perlu dihindarkan adanya upaya pengenaan pajak likuiditas pasar oleh Bank Indonesia, sehingga diharapkan akan
daerah secara berlebihan serta alokasi pengeluaran dapat pula meningkatkan kinerja operasi pengendalian
pemerintah daerah yang terpusat pada kegiatan-kegiatan moneter. Lebih lanjut, perlu dipertimbangkan pula adanya
yang dapat memicu laju inflasi. ketentuan bagi Pemerintah Daerah untuk membuka rekening
Dilihat dari aspek kedua, aspek moneter dari di Kantor Bank Indonesia (KBI) yang difungsikan sebagai kas
implementasi otonomi daerah menjadi sangat relevan daerah. Dengan digunakannya KBI sebagai kas daerah
mengingat besarnya jumlah dana yang dialokasikan bagi dampak moneter yang bersifat negatif dari implementasi
daerah. Penyaluran dana perimbangan akan mengandung otonomi daerah akan dapat diminimalkan dan dideteksi
potensi over liquidity – yang dapat memicu ketidakstabilan secara dini.

103
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain
bab
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

K inerja perbankan dan lembaga keuangan lainnya selama


tahun 2000 telah menunjukkan perbaikan seiring dengan
membaiknya perekonomian nasional serta sebagai hasil dari
menyebabkan penyaluran kredit perbankan belum optimal,
meskipun telah mulai mengalami peningkatan khususnya
dalam paro kedua tahun 2000. Perbankan pada umumnya
berbagai langkah restrukturisasi menyeluruh yang dilakukan mengalami kelebihan likuiditas sehingga mobilisasi dana dari
Pemerintah dan Bank Indonesia. Perbaikan kinerja perbankan masyarakat lebih banyak ditanamkan dalam bentuk pinjaman
antara lain tercermin dari meningkatnya penghimpunan dana, antarbank dan SBI.
pemberian kredit baru walaupun masih relatif kecil,
permodalan, profitabilitas bank, serta menurunnya kredit Perbankan
bermasalah. Sejalan dengan membaiknya kinerja perbankan Kebijakan perbankan pada tahun 2000 tetap difokuskan pada
kinerja perusahaan pembiayaan juga mengalami perbaikan berbagai upaya untuk mempercepat penyelesaian
seperti tercermin pada peningkatan sumber dana dan restrukturisasi perbankan. Disamping memperpanjang program
kegiatan usahanya dalam tahun laporan. Sementara itu, penjaminan pemerintah, upaya mempercepat restrukturisasi
peluang perusahaan pegadaian untuk meningkatkan perbankan dilakukan dengan menyelesaikan program
penyaluran dananya seperti tercermin dari peningkatan rekapitalisasi bank umum dan mempercepat restrukturisasi
omzet usahanya juga menjadi lebih besar dengan masih kredit bermasalah. Berbagai langkah ini diharapkan dapat
belum besarnya penyaluran kredit perbankan. mendorong perbankan untuk segera keluar dari krisis dan
Namun demikian, secara umum fungsi intermediasi dapat berfungsi normal kembali sebagai lembaga intermediasi
keuangan dari industri perbankan dan lembaga keuangan keuangan bagi sektor riil. Untuk mendukung pengembangan
lainnya belum sepenuhnya berjalan normal dalam mendukung industri yang lebih tangguh di masa depan, berbagai upaya
pemulihan ekonomi nasional. Hal ini tidak terlepas dari tersebut disertai pula dengan langkah-langkah peningkatan
permasalahan yang masih dihadapi baik oleh sektor riil ketahanan sistem perbankan dengan perbaikan infrastruktur
maupun oleh perbankan itu sendiri, disamping masih besarnya perbankan, penyempurnaan ketentuan dan pemantapan
faktor risiko dan ketidakpastian berkaitan dengan kondisi politik pengawasan, dan peningkatan mutu pengelolaan perbankan
dan keamanan dalam negeri. Di sektor riil, proses restrukturisasi (good corporate governance).
kredit, utang luar negeri dan perusahaan secara keseluruhan Berbagai langkah kebijakan yang ditempuh telah
masih berjalan lambat. Kondisi ini telah menyebabkan memberikan hasil positif terhadap kinerja perbankan. Hal ini
peningkatan kegiatan sektor riil tidak dapat berjalan lebih tercermin dari peningkatan total aset, dana pihak ketiga,
cepat, karena sebagian besar perusahaan yang masih dalam penyaluran kredit baru, kualitas kredit, permodalan, serta
proses restrukturisasi tersebut merupakan komponen terbesar profitabilitas perbankan. Proses rekapitalisasi bank telah dapat
dari perekonomian nasional. Dari sisi perbankan, belum diselesaikan dalam tahun laporan melalui penerbitan obligasi
pulihnya fungsi intermediasi tidak terlepas dari masih tingginya pemerintah sehingga telah ikut meningkatkan total aset dan
ketidakpastian di tengah situasi sosial politik yang belum stabil modal perbankan. Seiring dengan telah selesainya proses
dan masih berlangsungnya proses konsolidasi internal rekapitalisasi dan masih berjalannya program penjaminan
perbankan dalam rangka memenuhi berbagai ketentuan pemerintah, kepercayaan masyarakat terhadap perbankan
prudensial Bank Indonesia. Perkembangan tersebut telah tetap terpelihara sehingga memungkinkan perbankan untuk

105
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

meningkatkan dana pihak ketiga yang dapat dimobilisasi dari laporan, Bank Indonesia juga tetap mempertimbangkan dan
masyarakat. Perbankan juga telah mulai menyalurkan kredit memenuhi berbagai kesepakatan yang telah dibuat dengan
baru kepada dunia usaha, meskipun dengan pertumbuhan lembaga keuangan internasional antara lain International Mon-
yang masih relatif rendah. Peningkatan kredit tersebut, yang etary Fund (IMF) yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI), World
disertai pula dengan kemajuan yang dicapai dalam Bank dan Asian Development Bank.
restrukturisasi kredit bermasalah, pada gilirannya menjadi salah
satu faktor penyebab membaiknya kualitas kredit perbankan. Program Penyehatan Perbankan
Hasil akhir kinerja perbankan yang membaik ditunjukkan oleh Dalam rangka penyehatan perbankan, kebijakan yang
meningkatnya profitabilitas, seperti tercermin dari peningkatan ditempuh pada tahun laporan diarahkan untuk mem-
Net Interest Margin (NIM). perpanjang program penjaminan pemerintah dan
Meskipun secara keseluruhan kinerja industri perbankan melakukan pengkajian dalam rangka pembentukan lem-
membaik, sejumlah bank tercatat masih menghadapi baga penjamin simpanan, menyelesaikan program reka-
permasalahan dalam hal Capital Adequacy Ratio (CAR) dan pitalisasi perbankan, melanjutkan proses restrukturisasi kredit,
Non Performing Loans (NPLs). Sebagai akibat memburuknya serta memulihkan fungsi intermediasi.
kualitas aktiva produktif, masih terdapat beberapa bank yang
mempunyai CAR di bawah batas minimum sebesar 4,0%. Di Program Penjaminan
samping itu, meskipun NPLs secara keseluruhan menurun Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap
menjadi 23,9%, sejumlah bank tercatat masih mempunyai NPLs sistem perbankan, Pemerintah telah memperpanjang periode
di atas batas 35,0%. Kondisi yang dialami oleh beberapa bank program penjaminan sampai dengan 31 Januari 2001 dan
ini akan merupakan tantangan bagi upaya restrukturisasi dapat diperpanjang dengan sendirinya untuk jangka waktu
perbankan lebih lanjut, mengingat pada akhir tahun 2001 enam bulan berikutnya apabila sebelumnya tidak dinyatakan
bank-bank dipersyaratkan untuk mencapai CAR sekurang- berakhir.1) Keputusan Menteri Keuangan ini juga sekaligus
kurangnya 8,0% dan tingkat NPLs maksimal sebesar 5,0%. mengalihkan proses administratif penjaminan yang
sebelumnya dilakukan oleh Bank Indonesia kepada
Kebijakan Perbankan Departemen Keuangan dan Badan Penyehatan Perbankan
Seperti disinggung di atas, sebagai bagian dari upaya untuk Nasional (BPPN).
mendukung program pemulihan perekonomian nasional, Sebagaimana diketahui, program penjaminan
kebijakan perbankan pada tahun laporan tetap difokuskan pemerintah yang bersifat menyeluruh (blanket guarantee)
pada kesinambungan upaya untuk mempercepat pelak- tersebut hanya diberlakukan sampai dengan terbentuknya
sanaan program restrukturisasi perbankan. Hal ini dilakukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kajian tentang ke-
melalui (i) program penyehatan lembaga perbankan, dengan mungkinan dihapuskannya program blanket guarantee
memperpanjang program penjaminan pemerintah, secara bertahap telah mulai dilakukan pada tahun laporan
menyelesaikan program rekapitalisasi bank umum, melanjutkan agar perbankan dapat menyesuaikan diri dengan rencana
restrukturisasi kredit, dan memulihkan fungsi intermediasi; serta pembentukan LPS yang baru.
(ii) upaya meningkatkan ketahanan sistem perbankan, dengan Sementara itu, sesuai Memorandum of Understanding
perbaikan infrastruktur perbankan, penyempurnaan ketentuan (MoU) antara Gubernur Bank Indonesia dan Menteri
dan pemantapan pengawasan, dan peningkatan mutu
1) Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No. 179/KMK.017/2000 Tanggal
pengelolaan perbankan (good corporate governance). Dalam
26 Mei 2000 tentang Syarat, Tatacara dan Ketentuan Pelaksanaan
memutuskan kebijakan perbankan yang ditempuh pada tahun Jaminan Pemerintah Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum

106
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Keuangan tanggal 3 Mei 2000, pelaksanaan program


Tabel 7.1
penjaminan yang terkait dengan trade finance dan interbank
Rincian Nominal Penerbitan Obligasi Pemerintah Untuk
debt exchange offer masih dilaksanakan oleh Bank Indone- Program Rekapitalisasi (Posisi 31 Desember 2000)

sia. Sehubungan dengan pelaksanaan penjaminan tersebut,


Jumlah Nominal Obligasi Total
selama tahun laporan telah dilakukan pembayaran pokok Kelompok Bank Bank (Triliun Rp) (Triliun Rp)
Fixed Rate Variable Rate Hedge Bond
dan bunga atas interbank debt exchange offer sebesar $495,9
Bank BUMN 4 114,9 131,2 36,8 282,9
juta yang merupakan bagian dari penerbitan obligasi BTO 14 33,9 75,4 - 109,3
pemerintah kepada Bank Indonesia dalam rangka program Bank Rekap 7 18,0 18,9 - 36,9
BPD 12 0,4 0,8 - 1,2
penjaminan sebesar Rp53,8 triliun yang telah diterbitkan tahun
Total 37 167,2 226,4 36,8 430,4
1999.
Selain itu, sebagai kelanjutan pelaksanaan penjaminan
Bank Perkreditan Rakyat (BPR), pada tahun laporan sedang Pemerintah akibat penambahan modal bank rekap hasil right
disusun MoU antara Departemen Keuangan dan Bank Indo- issue atau Initial Public Offering yang melebihi prakiraan; (ii)
nesia. Hal ini dimaksudkan untuk mempertegas pihak mana konversi hedge bond menjadi fixed rate bond dan; (iii)
yang melaksanakan penjaminan BPR, sehubungan dengan penyesuaian nilai hedge bond berdasarkan nilai tukar rupiah
telah dialihkannya pelaksanaan penjaminan bank umum ke terhadap dolar AS.
BPPN. Sehubungan dengan hal tersebut, telah diusulkan pula Dengan telah selesainya program rekapitalisasi tersebut,
penyempurnaan Peraturan Pemerintah No.25 tahun 1999, permodalan bank diharapkan tidak lagi menjadi kendala bagi
tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi penyehatan perbankan. Di samping itu, obligasi rekap tersebut
Bank. Dengan penyempurnaan peraturan ini, BPR di waktu dapat menjadi salah satu sumber pendanaan bank baik
mendatang diharapkan tidak perlu menanggung biaya dengan cara menjual maupun mengagunkan obligasi yang
likuidasi, yaitu pembayaran seluruh kewajiban BPR. dimiliki.
Namun demikian, penjualan dan pengagunan obligasi
Program Rekapitalisasi Bank Umum tersebut masih menghadapi kendala terutama sehubungan
Pada tahun laporan Pemerintah bersama Bank Indonesia telah dengan belum likuidnya pasar sekunder obligasi. Dalam
menyelesaikan program rekapitalisasi perbankan pada 31 kondisi demikian, harga obligasi menjadi di bawah nilai
Oktober 2000. Sebagai kelanjutan dari program rekapitalisasi nominalnya. Kurang menariknya obligasi pemerintah juga
sebelumnya, selama tahun 2000 telah dilaksanakan disebabkan oleh suku bunga domestik yang fluktuatif
rekapitalisasi terhadap enam bank umum yaitu Bank Niaga, mengingat sebagian obligasi dalam bentuk fixed rate. Untuk
Bank Bali, Bank Danamon (merger dengan 8 Bank Take Over) meningkatkan daya tarik obligasi, bank harus memberikan
dan penerbitan obligasi tahap II bagi BNI, BRI dan BTN. Obligasi diskonto yang tinggi yang pada gilirannya dapat
yang diterbitkan selama tahun laporan berjumlah Rp148,6 mempengaruhi permodalan bank. Untuk mengatasi hal ini,
triliun, sehingga jumlah obligasi pemerintah yang diterbitkan BI dan Pemerintah mengupayakan terciptanya iklim yang
dalam program rekapitalisasi bank-bank umum nasional kondusif bagi pengembangan pasar sekunder. Dilihat dari
menjadi sebesar Rp430,4 triliun (Tabel 7.1). komposisi portofolio, pada akhir tahun laporan, jumlah obligasi
Setelah memperhitungkan beberapa penyesuaian, dalam portofolio perdagangan tercatat Rp19,5 triliun atau
posisi obligasi pemerintah pada akhir tahun laporan menjadi 4,5% dari total obligasi rekapitalisasi meskipun sebenarnya
sebesar Rp431,8 triliun. Penyesuaian itu terkait dengan (i) buy bank dimungkinkan untuk memperdagangkan sampai
back sebesar Rp6,9 triliun karena kelebihan Penyertaan Modal dengan 25,0% dari total posisi obligasi Pemerintah yang

107
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

dimilikinya . 2) Sementara itu, jumlah portofolio obligasi menerapkan hair cut pokok pinjaman pada kredit sindikasi yang
Pemerintah yang diagunkan adalah Rp12,1 triliun atau 2,8% dari melibatkan bank asing, bank BUMN dan Bank Umum Swasta
total posisi obligasi. Usaha meningkatkan likuiditas pasar Nasional (BUSN). Kendala lain yang masih muncul dalam
sekunder obligasi rekapitalisasi masih harus dilakukan untuk pelaksanaan program restrukturisasi kredit adalah masih belum
meningkatkan likuiditas bank rekapitalisasi yang pada akhirnya stabilnya nilai tukar rupiah dan pengenaan pajak terhadap
akan mempercepat pemulihan intermediasi perbankan. debitur yang memperoleh hair cut pokok pinjaman.
Dalam rangka optimalisasi proses restrukturisasi kredit
Program Restrukturisasi Kredit dan Pemulihan Fungsi pada perbankan, langkah-langkah penyempurnaan telah
Intermediasi dilakukan Satgas dengan upaya baik yang bersifat eksternal
Program restrukturisasi kredit bermasalah yang berada dalam maupun internal. Upaya eksternal dilakukan dengan
portofolio bank dilakukan baik oleh bank sendiri maupun meningkatkan koordinasi dengan BPPN dan Prakarsa
melalui mediasi dari Satuan Tugas Restrukturisasi Kredit (Satgas) Jakarta. Sementara itu, upaya internal difokuskan pada
yang dibentuk Bank Indonesia. Sementara itu, BPPN melakukan peningkatan kemampuan profesional Satgas dalam proses
restrukturisasi atas kredit bermasalah yang ditransfer dari bank- mediasi restrukturisasi dalam bentuk penyiapan manual due
bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan bank-bank diligence, proyeksi finansial serta penggunaan model yang
peserta program rekapitalisasi. Di sisi lain, restrukturisasi ter- diperlukan.
hadap utang luar negeri perusahaan swasta nonbank Sementara itu, strategi restrukturisasi yang dilakukan BPPN
dilakukan melalui mediasi Prakarsa Jakarta. untuk melanjutkan restrukturisasi kredit antara lain berupa:3)
Restrukturisasi kredit tersebut pada prinsipnya bertujuan a) pengelompokan utang perusahaan berdasarkan besaran
membantu pemulihan usaha debitur sehingga mampu kembali utang, prospek usaha dan potensi pengembalian, itikad
menjalankan aktivitas usahanya. Untuk kredit yang masih debitur dan bagian kepemilikan BPPN terhadap kreditur lain;
berada pada portofolio bank, keberhasilan restrukturisasi kredit b) pengelompokan proses restrukturisasi utang per grup
tersebut diharapkan mendorong debitur dapat kembali peminjam (one obligor); c) restrukturisasi utang berskala besar
memenuhi kewajibannya kepada bank, yang pada gilirannya dengan menggunakan konsultan keuangan dan hukum; d)
akan memperbaiki kualitas portofolio kredit bank. Sementara pengalihan restrukturisasi kredit berskala menengah, kecil dan
untuk kredit yang berhasil direstukturisasi oleh BPPN akan ritel kepada beberapa bank (outsourcing); e) penyelesaian
ditransfer kembali kepada perbankan, yang selanjutnya akan secara hukum (litigasi) bagi debitur yang tidak beritikad baik;
mendorong kembali penyaluran kredit oleh perbankan. Kunci dan f) peningkatan kerja sama dengan lembaga yang terkait
keberhasilan dari proses restrukturisasi kredit tersebut terletak dengan restrukturisasi kredit. Di samping itu, untuk
pada negosiasi antara kreditur dan debitur. Dalam kaitan ini, mempercepat restrukturisasi kredit di bawah Rp5 miliar BPPN
walaupun berbagai langkah strategis dan penyempurnaan melakukan penjualan kredit dan pemberian insentif berupa
telah dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait di atas, namun diskon bunga (25,0% s.d. 50,0%) dan diskon denda (100,0%) 4).
masih terdapat permasalahan teknis dalam upaya mem- Sampai dengan akhir tahun 2000, kredit bermasalah di
pertemukan kepentingan debitur dan kreditur, terutama dalam luar BPPN yang sudah direstrukturisasi baik oleh bank sendiri
maupun melalui mediasi Satgas dan telah memasuki tahap

2) Surat Edaran No. 2/26/DPM Tanggal 8 Desember 2000 tentang


Penetapan Obligasi Pemerintah Seri FR0006, FR0007, FR0008, FR0009 3) Rencana Strategis BPPN Periode 1999 – 2004
Untuk Diperdagangkan di Pasar Sekunder Serta Peningkatan 4) Untuk debitur dengan pokok pinjaman di bawah Rp5 miliar yang
Persentase Portofolio Obligasi Pemerintah Yang Dapat mempunyai kemauan dan kemampuan menyelesaikan kewajibannya
Diperdagangkan. (sumber : Laporan Bulanan BPPN).

108
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

implementasi tercatat sebanyak 20.430 debitur dengan jumlah meningkatkan sistem pengawasan dan sumber daya manusia
Rp59,9 triliun atau 71,4% dari total NPLs. Sementara itu, BPPN (SDM) BPR.
telah berhasil merestrukturisasi kredit sehingga mencapai tahap Dalam rangka pengembangan infrastruktur BPR, Bank
penandatanganan MoU dan implementasi proposal re- Indonesia bekerjasama dengan konsultan Gesellschaft fur
strukturisasi sebesar Rp80,9 triliun atau 28,3% dari total kredit Technische Zusammenarbeit GmbH (GTZ) melakukan peng-
perbankan yang dikelolanya sebesar Rp286,3 triliun. kajian terhadap : (i) pembentukan LPS BPR; (ii) pemberdayaan
asosiasi BPR untuk dapat bertindak sebagai pengawas, kon-
Peningkatan Ketahanan Sistem Perbankan sultan dan penyelenggara pelatihan bagi BPR anggotanya,
Dalam tahun laporan, terdapat beberapa kemajuan yang dan (iii) pembentukan Lembaga Penyangga Dana yang
berarti dalam upaya untuk meningkatkan ketahanan sistem dapat berfungsi untuk mengatasi permasalahan likuiditas BPR,
perbankan. Hal ini ditandai dengan adanya (i) perbaikan (iv) Baseline Survey mengenai pandangan masyarakat ter-
infrastruktur perbankan yang antara lain tercermin dari hadap BPR, permasalahan yang dihadapi BPR dan kebutuhan
pengembangan BPR dan perbankan syariah, serta telah pelatihan BPR. Untuk mendukung tercapainya proyek tersebut
dimulainya pengkajian pembentukan LPS sebagai pengganti telah dibentuk working group yang beranggotakan Bank In-
program penjaminan pemerintah; (ii) penyempurnaan donesia, Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri,
berbagai ketentuan dan sistem pengawasan bank yang telah Departemen Koperasi dan konsultan GTZ.
mempertimbangkan standar Bank for International Settlements Sementara itu, untuk lebih memberdayakan dan
(BIS) dan komitmen dalam LoI; serta (iii) peningkatan mutu meningkatkan sistem pengawasan BPR, Bank Indonesia telah
pengelolaan bank (good corporate governance) dengan berupaya untuk meningkatkan law enforcement, mening-
telah dilakukannya fit and proper test, proses seleksi yang lebih katkan kualitas pengawas melalui studi banding, kursus, semi-
ketat terhadap calon pengurus baru di bidang perbankan, nar, serta mengintensifkan pemeriksaan BPR dengan
penunjukan direktur kepatuhan, dan penyerahan kasus hasil menggunakan tenaga Kantor Akuntan Publik. Bank Indonesia
investigasi tindak pidana di bidang perbankan kepada juga mendapat bantuan teknis dalam bentuk kerja sama
lembaga penegak hukum. dengan GTZ, United States Agency for International Develop-
ment (USAID) dan Institut Bankir Indonesia (IBI) untuk: (i)
Perbaikan Infrastruktur Perbankan pendidikan dan pelatihan BPR dengan sertifikasi; (ii)
Pengembangan infrastruktur perbankan selama tahun laporan penyempurnaan sistem dan prosedur operasional BPR yang
tetap difokuskan pada pengembangan BPR dan bank syariah terintegrasi dalam sistem pengawasan Bank Indonesia, (iii) studi
serta persiapan awal pembentukan LPS. Kebijakan ini tidak banding pada BPR yang berhasil, dan (iv) penyusunan konsep
terlepas dari fakta bahwa selama periode krisis, BPR dan bank rekapitalisasi BPR di Jawa Barat.
syariah relatif lebih tahan dari fluktuasi nilai tukar dan suku bunga,
sehingga pengembangan BPR dan perbankan syariah dilakukan Pengembangan Perbankan Syariah
untuk menjaga ketahanan sistem perbankan. Upaya ini Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Bank Indonesia
dilakukan melalui perlindungan dana nasabah kecil sekaligus mempunyai komitmen yang tinggi dalam mengembangkan
menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. bank syariah di Indonesia. Dalam tahun laporan, kebijakan
pengembangan bank syariah dilaksanakan melalui
Pengembangan BPR penyempurnaan ketentuan, pengembangan piranti
Beberapa upaya telah dan terus dilakukan oleh Pemerintah moneter dan pasar keuangan syariah serta sosialisasi dan
dan Bank Indonesia untuk mengembangkan infrastruktur BPR, pengembangan SDM perbankan syariah.

109
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Penyempurnaan ketentuan perbankan syariah untuk pada waktunya nanti diberlakukan sebagai pengganti
mencakup penyusunan Pernyataan Standar Akuntansi program penjaminan Pemerintah. Sebagaimana diketahui,
Perbankan Syariah (PSAKS) dan pedoman teknis dalam pada tahun 1999 pemerintah telah membentuk suatu work-
bentuk Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia ing group, dimana Bank Indonesia sebagai salah satu
(PAPSI). PSAKS telah selesai dibahas oleh Tim yang anggota- anggotanya, untuk mengkaji dan mempersiapkan pendirian
nya berasal dari Bank Indonesia, Bank Muamalat Indonesia LPS tersebut sebagaimana diatur dalam UU Perbankan. Kajian
dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Dalam rangka penyu- ini mencakup prasyarat pendirian LPS, jenis simpanan yang
sunan ketentuan CAR dan Kualitas Aktiva Produktif (KAP) bank dijamin, batas maksimum yang dijamin, keanggotaan, premi
syariah, pada Oktober 2000 telah dilakukan survei dan simulasi penjaminan, kelembagaan, dan kepemilikan. Dalam
penerapan konsep CAR dan KAP yang hasilnya diharapkan hubungan ini, Bank Indonesia telah menyampaikan masukan-
dapat dijadikan masukan bagi Bank Indonesia. masukan kepada working group tersebut. Untuk itu, Bank In-
Dalam pengembangan piranti moneter, telah dilakukan donesia membuat proyek penelitian bersama dengan
pengkajian terhadap keikutsertaan bank syariah dalam perguruan tinggi mengenai berbagai aspek dalam pendirian
Reksadana Syariah dengan tujuan menjajaki kemungkinan LPS bank umum termasuk dengan mengamati praktek yang
penanaman dana bank syariah dalam bentuk Reksadana terjadi di beberapa negara lain. Bank Indonesia bekerjasama
Syariah dan sekaligus sebagai surat berharga yang dapat dengan konsultan GTZ juga melakukan pengkajian tentang
dijadikan agunan dalam mendapatkan fasilitas jangka pendek LPS untuk BPR. Dengan memperhatikan perkembangan
dari Bank Indonesia apabila bank mengalami kesulitan likuiditas. perbankan nasional, LPS diharapkan dapat direalisasikan
Untuk lebih memperkenalkan kegiatan usaha perbankan selambat-lambatnya tahun 2004.
syariah, Bank Indonesia terus melakukan sosialisasi perbankan
syariah secara intensif di berbagai daerah melalui kerja sama Penyempurnaan Ketentuan dan Pemantapan Penga-
dengan Majelis Ulama setempat. Di samping itu, Bank Indone- wasan Bank
sia telah melakukan penelitian tentang potensi, preferensi dan Sebagai upaya memantapkan ketahanan industri perbankan,
perilaku konsumen terhadap bank syariah di Pulau Jawa, untuk pada tahun laporan Bank Indonesia telah menyempurnakan
mendapatkan data mengenai peta pengembangan bank beberapa ketentuan perbankan dan lebih memantapkan
syariah yang potensial. sistem pengawasan bank. Penyempurnaan ketentuan
Dalam rangka pengembangan SDM, Bank Indonesia te- perbankan antara lain mencakup ketentuan mengenai fit and
lah melaksanakan pelatihan dasar perbankan syariah dengan proper test, penetapan status bank, exit policy, Batas
peserta pelatihan berasal dari perbankan, universitas, pesantren Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), restrukturisasi kredit,
dan intern Bank Indonesia. Pelatihan tersebut bertujuan untuk penilaian aktiva produktif, pendanaan jangka pendek,
meningkatkan pemahaman dan ketrampilan para bankir, para perdagangan portofolio obligasi pemerintah, bank syariah,
akademisi dan pengurus pesantren serta jajaran pengawas bank laporan bulanan bank, fasilitas likuiditas intrahari dan
di Bank Indonesia serta untuk meningkatkan pengetahuan kelembagaan bank umum. Sementara itu, sesuai dengan LoI,
tentang bank syariah, sehingga diharapkan peserta pelatihan pemantapan sistem pengawasan bank dilakukan dengan
dapat mensosialisasikan bank syariah kepada masyarakat luas. perubahan paradigma pengawasan menjadi berorientasi ke
depan (forward looking), dengan berdasarkan pada penga-
Lembaga Penjamin Simpanan wasan berbasis risiko (risk based supervision) yang mengacu
Dalam tahun laporan, kajian dalam rangka pembentukan LPS pada standar internasional dengan 25 Basel Core Principles
yang paling sesuai dengan kondisi Indonesia telah dimulai for Effective Banking Supervision.

110
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Penyempurnaan Ketentuan Perbankan restrukturisasi kredit12) dan exit policy.13 ) Ketentuan exit
Selama tahun laporan Bank Indonesia telah mengeluarkan policy merupakan penyempurnaan kebijakan dalam
beberapa ketentuan yang ruang lingkupnya meliputi: (i) sistem penanganan bank bermasalah yang lebih transparan
pengawasan; (ii) peningkatan mutu pengelolaan perbankan dengan menetapkan kriteria bank yang dikategorikan
(good corporate governance); (iii) prinsip kehati-hatian (pru- dalam pengawasan khusus (special surveillance) dan
dential banking); (iv) likuiditas perbankan; serta, (v) penjaminan tindakan-tindakan korektif yang harus diselesaikan dalam
pemerintah. periode tertentu dan kriteria bank untuk ditransfer menjadi
(i) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup sistem Bank Dalam Penyehatan di bawah pengawasan BPPN.
pengawasan mencakup persyaratan dan tata cara Penyempurnaan terhadap ketentuan restrukturisasi kredit
pemeriksaan bank , 5) laporan bulanan bank umum dan BMPK serta penilaian aktiva produktif juga dilakukan
(LBU) ,6) dan bank umum .7) Ketentuan LBU merupakan untuk memperlancar restrukturisasi kredit. Penyempurnaan
penyempurnaan pelaporan bank umum kepada Bank ini pada dasarnya memberikan kelonggaran per-
Indonesia sehubungan dengan diberlakukannya panjangan batas waktu penyelesaian pelampauan BMPK
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 31 dan kepada perusahaan yang mengikuti program restruk-
penyesuaian dengan kemajuan teknologi informasi. Hal- turisasi kredit melalui lembaga resmi. Di samping itu, dalam
hal yang diatur antara lain jenis laporan yang disam- perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR)
paikan; periode dan prosedur, untuk penyampaian dan aktiva produktif kualitas Lancar dinilai berdasarkan nilai
koreksi laporan; serta, sanksi. buku, sedangkan aktiva produktif dengan kualitas
(ii) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup peningkatan nonlancar dinilai berdasarkan nilai buku setelah dikurangi
mutu pengelolaan perbankan mencakup rincian Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Selain
penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper itu, menyangkut rahasia bank telah dipertegas batasan
test) ,8) dan penyempurnaan tata cara penentuan hasil kerahasiaan bank yang tidak berlaku untuk keperluan
penilaian kemampuan dan kepatutan.9) Penyempurnaan perpajakan; penyelesaian piutang bank yang sudah
ketentuan fit and proper test berkaitan dengan hal-hal: diserahkan kepada Badan Urusan Piutang dan Lelang
(i) transparansi proses penilaian; (ii) jangka waktu Negara (BPULN) atau Panitia Urusan Piutang Negara; dan,
pengenaan sanksi, (iii) kriteria penentuan faktor kepentingan peradilan dalam perkara pidana; sepanjang
materialitas kerugian yang dialami bank; serta (iv) terlebih dahulu memperoleh perintah atau izin tertulis dari
penilaian setelah masa pengenaan sanksi terlampaui.
(iii) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup prinsip kehati-
10) Peraturan Bank Indonesia No.2/5/PBI/2000 tanggal 21 Februari 2000
hatian mencakup penyediaan dana bank,10 ) rahasia
tentang Penyediaan Dana Bank Yang Dijamin Oleh Bank Lain.
bank, 11) beberapa ketentuan untuk memperlancar 11) Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tanggal 7 September 2000
tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis
Membuka Rahasia Bank.
12) Peraturan Bank Indonesia No.2/15/PBI/2000 tanggal 12 Juni 2000
5) Peraturan Bank Indonesia No.2/6/PBI/2000 tanggal 21 Februari 2000 tentang Perubahan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.31/
tentang Persyaratan dan Tatacara Pemeriksaan Bank. 150/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Restrukturisasi Kredit;
6) Peraturan Bank Indonesia No.2/21/PBI/2000 tanggal 19 September 2000 Peraturan Bank Indonesia No.2/16/PBI/2000 tanggal 12 Juni 2000
tentang Laporan Bulanan Bank Umum. tentang Perubahan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.31/177/
7) Peraturan Bank Indonesia No.2/27/PBI/2000 tanggal 15 Desember 2000 KEP/DIR tanggal 31 Desember 1998 tentang Batas Maksimum
tentang Bank Umum. Pemberian Kredit Bank Umum; dan, Surat Edaran Bank Indonesia No.2/
8) Peraturan Bank Indonesia No.2/1/PBI/2000 tanggal 14 Januari 2000 12/DPNP tanggal 12 Juni 2000 tentang Penilaian Aktiva Produktif Dalam
tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test). Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko.
9) Peraturan Bank Indonesia No.2/23/PBI/2000 tanggal 6 November 2000 13) Peraturan Bank Indonesia No.2/11/PBI/2000 tanggal 31 Maret 2000
tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test). tentang Penetapan Status Bank dan Penyerahan Bank Kepada BPPN.

111
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Pimpinan Bank Indonesia. Namun, perintah atau izin tertulis Bank Indonesia telah menyusun rencana induk (Master Plan)
tersebut tidak diperlukan dalam rangka kepentingan perbankan yang berisi program pokok pemantapan efektivitas
peradilan dalam perkara perdata antara bank dengan pengawasan langsung (pemeriksaan bank) maupun tidak
nasabahnya; tukar menukar informasi antarbank; langsung. Program pokok tersebut antara lain mencakup pro-
permintaan, persetujuan atau kuasa dari nasabah gram pengawasan intensif (special surveillance) dan On-Site
penyimpan yang dibuat secara tertulis; dan, permintaan Supervisory Presence (OSP) di beberapa bank yang secara
ahli waris yang sah dari nasabah penyimpan yang telah sistemik memiliki pengaruh yang cukup besar bagi per-
meninggal dunia. ekonomian. Sebagian besar dari pokok program rencana
(iv) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup likuiditas bank induk tersebut telah dilaksanakan dalam tahun laporan.
mencakup penetapan obligasi pemerintah untuk Sesuai kesepakatan di atas, Bank Indonesia perlu segera
diperdagangkan di pasar sekunder dan persentase menyesuaikan standar pengawasan bank sesuai dengan
obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan serta standar internasional pengawasan bank sebagaimana dimuat
penatausahaannya, 14) fasilitas pendanaan jangka dalam 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervi-
pendek (FPJP) dan fasilitas likuiditas intrahari (FLI). sion. Untuk itu, Bank Indonesia telah menyusun suatu Detailed
Ketentuan FPJP memungkinkan Bank Indonesia untuk Action Plan (DAP) yang memuat langkah-langkah pokok
memberikan fasilitas pendanaan kepada bank yang dalam kerangka pengaturan dan pengawasan bank untuk
mengalami kesulitan likuiditas pendanaan jangka pendek memastikan pemenuhan Bank Indonesia terhadap standar
dan tidak mengalami kesulitan struktural. Sementara internasional di bidang pengawasan bank dalam 2 tahun ke
ketentuan FLI bertujuan meminimalkan kemungkinan depan yakni sampai tahun 2002.
terjadinya kemacetan dalam sistem pembayaran Beberapa kegiatan pokok dalam DAP tersebut, antara
(gridlock) karena bank mengalami kesulitan pendanaan lain meliputi implementasi (i) persyaratan/ketentuan dalam
dalam waktu yang sangat pendek. pemberian izin untuk pendirian bank, pemilik dan pengurus
(v) Dalam kaitan dengan penjaminan pemerintah, ketentuan bank; (ii) koordinasi antar otoritas pengawas di sektor
yang dikeluarkan mencakup penjaminan interbank debt keuangan; (iii) perluasan cakupan pemeriksaan yang bukan
exchange offer dan trade finance.15) hanya pada segi operasional bank tetapi juga meliputi
kebijakan, prosedur dan pengawasan intern; (iv) pengawasan
Pemantapan Sistem Pengawasan Bank yang berdasarkan risiko; (v) pengawasan bank secara
Sebagai bagian dan dalam rangka memenuhi kesepakatan konsolidasi dengan perusahaan afiliasi; dan (vi) perhitungan
Pemerintah Indonesia dengan IMF yang tertuang dalam LoI, CAR dengan memasukkan unsur market risk.
Bank Indonesia telah menyelesaikan dokumen DAP
tersebut sesuai batas waktu yang ditetapkan. Lebih jauh, Bank
14 Surat Edaran Bank Indonesia No.2/14/DPNP tanggal 27 Juni 2000 tentang
Penetapan Obligasi Pemerintah seri FR0002 Untuk Diperdagangkan di Indonesia telah mensinergikan antara kegiatan-kegiatan
Pasar Sekunder; Surat Edaran Bank Indonesia No.2/16/DPNP tanggal dalam rencana induk (Master Plan) pengawasan dengan
25 Juli 2000 tentang Penetapan Obligasi Pemerintah Seri FR0003, FR0004
dan FR0005 Untuk Diperdagangkan di Pasar Sekunder; Surat Edaran kegiatan serupa yang dimuat dalam DAP untuk menghasilkan
Bank Indonesia No.2/18/DPM tanggal 19 September 2000 tentang
produk berupa Master Dokumen Pengawasan Bank (MDPB) –
Peningkatan Prosentase Portofolio Obligasi Pemerintah Yang Dapat
Diperdagangkan Bagi Bank Umum Peserta Program Rekapitalisasi Bank Indonesia. MDPB tersebut selanjutnya akan menjadi
Perbankan
15 Peraturan Bank Indonesia No.2/12/PBI/2000 tanggal 16 Mei 2000 tentang acuan bagi Bank Indonesia. Untuk memastikan efektivitasnya,
Jaminan Pinjaman Luar Negeri Antarbank; dan, Peraturan Bank Indo- maka penyusunan MDPB mendapatkan prioritas dan
nesia No.2/13/PBI/2000 tanggal 16 Mei 2000 tentang Jaminan
Pembiayaan Perdagangan Internasional. komitmen khusus.

112
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Selanjutnya, dalam rangka lebih memantapkan fungsi (84 orang), 74 bank kategori A (700 orang), 2 bank swasta
pengawasan bank, pelaksanaan pengawasan bank tidak peserta program rekapitalisasi (27 orang), 1 BTO (6 orang) dan
hanya difokuskan pada pengawasan berdasarkan kepatuhan 25 BPD (260 orang). Dari penilaian tersebut sebanyak 631
terhadap ketentuan kehati-hatian (compliance supervision) orang pengurus dinyatakan Lulus, 76 orang pemilik dan 243
tetapi juga diarahkan pada pengawasan berdasarkan risiko orang pengurus Lulus Bersyarat dan sebanyak 17 orang pemilik
yang dihadapi (risk based supervision). Dalam kaitan tersebut, dan 110 orang pengurus dinyatakan Tidak Lulus.
Bank Indonesia telah menempatkan tenaga OSP pada
beberapa bank yang dinilai penting bagi perekonomian. Wawancara Terhadap Calon Pemilik dan Pengurus Bank
Hingga saat ini telah ditempatkan beberapa tenaga OSP pada Wawancara dilakukan untuk mengetahui integritas dan
4 bank BUMN dan 5 bank swasta nasional. Untuk lebih kompetensi calon pengurus baru dan integritas calon pemilik
memantapkan kemampuan tenaga OSP, telah dilakukan pula bank. Sampai dengan akhir periode laporan, Bank Indonesia
pelatihan dengan Technical Assistance (TA) dari IMF. Selain itu, telah melakukan wawancara terhadap 562 calon pengurus
telah ditempatkan dua orang TA IMF dalam rangka dan pemilik yang diajukan oleh 153 bank. Dari wawancara
meningkatkan fungsi pengawasan bank termasuk membantu tersebut, 507 calon dinyatakan lulus fit and proper test.
penanganan tugas Special Surveillance, yaitu pengawasan
secara intensif terhadap bank yang memiliki CAR di bawah Direktur Kepatuhan (Compliance Director)
4,0% dan atau NPLs di atas 35,0%. Penunjukan Direktur Kepatuhan merupakan bagian penting
Dengan telah dan mulai diterapkannya master plan, OSP dari sistem pencegahan internal oleh manajemen bank. Fungsi
dan DAP yang juga meliputi 25 BIS Core Principles, maka Direktur Kepatuhan adalah untuk secara aktif mengambil
komitmen Bank Indonesia dalam LoI pada tahun 2000 telah berbagai langkah guna mencegah manajemen bank
terpenuhi. menetapkan kebijakan dan/atau mengambil keputusan yang
di dalamnya mengandung unsur-unsur ketidakpatuhan,
Peningkatan Mutu Pengelolaan Perbankan (good cor- penyimpangan atau bahkan pelanggaran terhadap
porate governance) ketentuan kehati-hatian (prudential regulation). Sampai
Peningkatan mutu pengelolaan perbankan merupakan salah dengan Desember 2000, 161 bank telah mengajukan 216
satu upaya dalam rangka memantapkan ketahanan sistem orang calon Direktur Kepatuhan. Hasil penilaian atas
perbankan, yaitu melalui pelaksanaan fit and proper test pada pencalonan tersebut, sebanyak 156 orang calon telah disetujui,
pemilik dan pengurus bank, wawancara bagi calon pemilik 30 orang calon ditolak, 14 orang calon sedang dalam proses
dan pengurus bank, penunjukkan direktur kepatuhan, dan penilaian, sedangkan 16 orang calon mengundurkan diri atau
investigasi tindak pidana di bidang perbankan. membatalkan pencalonannya.

Pelaksanaan Penilaian Fit and Proper Investigasi Tindak Pidana di Bidang Perbankan
Penilaian fit and proper dilakukan terhadap pemilik dan Dalam melakukan investigasi tindak pidana di bidang
pengurus bank secara berkala dan berkesinambungan melalui perbankan, Bank Indonesia, dalam hal ini Unit Khusus Investigasi
penelitian administrasi yang berkaitan dengan penilaian kinerja Perbankan (UKIP) terus meningkatkan koordinasi dengan
masa lalu (track record). Sejak tahun 1999 sampai dengan Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung dalam
periode laporan telah dilakukan penilaian fit and proper membahas kasus-kasus tindak pidana di perbankan. Dalam
terhadap 1.077 orang yang terdiri dari 93 orang pemilik dan pembahasan bersama tersebut, BPPN juga diikutsertakan
984 orang pengurus. Jumlah tersebut berasal dari 3 bank BUMN sebagai nara sumber. Sampai dengan Desember 2000, UKIP

113
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

telah menyerahkan kasus dugaan tindak pidana di bidang


Tabel 7.3
perbankan yang terjadi pada 19 bank termasuk 3 BPR kepada
Daftar Bank Merger, Bank Beku Kegiatan Usaha Tahun 2000
lembaga penegak hukum.
Bank Merger Bank Beku Kegiatan Usaha
30 Juni 2000 ke Danamon 20 Oktober 2000

Kelembagaan 1. Bank Tiara Asia 1. Bank Prasida Utama


2. Bank Nusa Nasional 2. Bank Ratu
Perkembangan Bank Umum 3. Bank Tamara
Pada akhir tahun laporan jumlah bank yang beroperasi 4. Bank Rama 28 Januari 2000
5. Bank Pos Nusantara
menjadi 151 bank, turun sebanyak 13 bank dari 164 bank pada 6. Bank Duta 1. Bank Putera Multikarsa
7. Bank Risjad Salim Internasional
tahun laporan sebelumnya (Tabel 7.2). Penurunan ini 8. Bank Jaya Internasional

disebabkan adanya merger 9 bank take over (BTO) menjadi 20 Desember 19991)

Bank Danamon, pembekuan kegiatan usaha 3 BUSN dan 1. Bank PDFCI

merger 2 bank campuran (Tabel 7.3) 24 Desember 19991)

1. Hanvit 2)
Sejalan dengan penggabungan dan pembekuan
1) Merger tahun 1999, pelaksanaan tahun 2000
kegiatan usaha tersebut, jumlah kantor bank umum yang 2) Merger 2 bank campuran :
– Korea Commercial Surya
beroperasi menurun dari 7.113 kantor menjadi 6.509 kantor. – Hanil Tamara Bank

Dengan penggabungan tersebut maka jumlah kantor


kelompok BTO atau BUSN Devisa mengalami penurunan laporan sebelumnya. Penurunan tersebut juga sejalan dengan
menjadi 3.302 kantor dibandingkan 3.798 kantor pada tahun pelaksanaan program restrukturisasi perbankan.

Tabel 7.2 Perkembangan BPR


Perkembangan Jumlah Bank dan Kantor Bank Dalam tahun laporan, jumlah BPR menurun sebanyak 8 BPR
Posisi Pertumbuhan Pangsa 1) sehingga menjadi 7.764 BPR sebagai akibat pencabutan izin
(%) (%)
Kelompok Bank usaha 10 BPR dan pendirian 2 BPR baru. Selain itu, dalam tahun
1998 1999 2000 1999 2000 2000 laporan juga dilakukan pembekuan kegiatan usaha tertentu
I. Bank Umum terhadap 96 BPR. Adapun BPR yang beroperasi dengan prinsip
Jumlah Bank 208 164 151 –21,2 –7,9 100,0
Jumlah Kantor 2) 7.661 7.113 6.509 –7,2 –8,5 100,0 syariah tercatat sejumlah 79 BPR. Sementara itu, kegiatan
Bank BUMN
Jumlah Bank 7 5 5 –28,6 0,0 3,3 usaha BPR menunjukkan peningkatan yang tercermin dari
Jumlah Kantor 1.875 1.853 1.736 –1,2 –6,3 26,7
BPD perkembangan total aset, penyaluran kredit dan pendanaan
Jumlah Bank 27 27 26 0,0 –3,7 17,2
Jumlah Kantor 822 825 826 0,4 0,1 12,7 (Tabel 7.4). Sejalan dengan perkembangan tersebut, dalam
BUSN Devisa
Jumlah Bank 71 47 38 –33,8 –19,1 25,2
Jumlah Kantor 4.157 3.798 3.302 –8,6 –13,1 50,7 Tabel 7.4
BUSN Nondevisa Perkembangan Usaha BPR
Jumlah Bank 59 45 43 –23,7 –4,4 28,5
Jumlah Kantor 701 533 535 –24.0 0,4 8,2 1997 1998 1999 20001)
Bank Campuran Uraian
Jumlah Bank 34 30 29 –11,8 –3,3 19,2 Miliar rupiah
Jumlah Kantor 65 57 57 –12,3 0,0 0,9
Bank Asing
Volume Usaha 2.994 2.981 3.702 4.018
Jumlah Bank 10 10 10 0,0 0,0 6,6
Jumlah Kantor 41 47 53 14,6 12,8 0,8 Dana Pihak Ketiga 1.601 1.527 2.054 2.332
Kredit 2.288 1.986 2.593 2.875
II. BPR 7.607 7.772 7.764 2,17 –0,10
BKD 5.345 5.345 5.345 0,00 0,0 Modal Disetor 623 706 778 812
NonBKD 2.262 2.427 2.419 7,29 –0,33 Laba (Rugi) Tahun Berjalan 30 (42) (16) (11)
1) Pangsa terhadap seluruh bank umum
2) Tidak termasuk BRI Unit Desa 1) Angka proyeksi

114
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

tahun laporan BPR dapat memperkecil rugi usaha dari Rp16,0


miliar menjadi Rp11,0 miliar. Walaupun kinerja BPR telah Tabel 7.5
Indikator Perbankan
membaik namun BPR belum dapat menyaingi bank umum
yang melakukan penetrasi pasar pada segmen yang sama. Indikator Perbankan 1998 1999 2000

Triliun rupiah
Dalam upaya mengurangi persaingan antara bank umum dan
Total Aset 895,5 1.006,7 1.030,5
BPR di pasar yang sebenarnya diarahkan untuk BPR tersebut, Dana Pihak Ketiga 625,4 617,6 699,1
perbaikan infrastruktur bagi BPR masih memerlukan ketegasan Kredit 545,5 277,3 320,4
Kualitas Aktiva Produktif :
sikap Pemerintah Lancar 408,2 607,2 591,2
Dalam Perhatian Khusus 48,2 25,2 21,3
Kurang Lancar 57,5 28,1 32,3
Perkembangan Bank Syariah Diragukan 83,7 35,4 16,9
Macet 135,5 28,5 29,3
Sejalan dengan kebijakan pengembangan bank syariah,
NPLs - gross (%) 48,6 32,8 18,8
jumlah kantor cabang bank umum yang beroperasi dengan NPLs - net (%) 34,7 7,3 5,8
Modal -129,8 -41,2 53,5
prinsip syariah meningkat sebanyak 37 sehingga menjadi 119
Laba (Rugi) -178,6 -91,7 10,5
kantor bank. Kantor cabang tersebut terdiri dari 27 kantor Net Interest Margin -73,0 -38,6 22,8

cabang Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri,


10 Kantor Cabang Syariah (KCS) dari 3 bank umum
konvensional yaitu Bank IFI, Bank BNI dan Bank Jabar, serta 79 yang memberikan dampak negatif pada kinerja perbankan
BPR syariah. nasional. Terbatasnya alternatif penempatan dana
Pada akhir tahun 2000, pangsa pasar bank syariah masih menyebabkan perbankan cenderung untuk memilih alternatif
sangat kecil yaitu hanya sebesar Rp1,71 triliun atau 0,2% dari penanaman berjangka waktu pendek dengan risiko rendah
total aset perbankan, sehingga kemampuan melakukan seperti SBI dan antarbank. Fenomena ini menyebabkan
penetrasi pasar sangat terbatas. Hal tersebut antara lain perbankan cenderung terus mempertahankan marjin
disebabkan adanya keterbatasan jumlah bank dan jaringan, keuntungannya melalui penetapan suku bunga simpanannya
SDM yang memahami prinsip syariah maupun pemahaman di bawah suku bunga SBI. Kondisi ini yang menyebabkan
masyarakat terhadap bank syariah. peningkatan suku bunga SBI tidak diikuti oleh kenaikan suku
bunga simpanan secara proporsional (Boks : Sensitivitas Suku
Kegiatan Usaha Bank Umum Bunga Deposito).
Secara umum, beberapa indikator kinerja perbankan pada
tahun 2000 menunjukkan perbaikan, seperti tercermin dari Total Aset
meningkatnya total aset, penghimpunan dana, pemberian Dalam tahun laporan, total aset perbankan meningkat sebesar
kredit, kualitas aktiva produktif, permodalan, dan profitabilitas 2,4% dibanding Desember 1999 sehingga menjadi Rp1.030,5
bank (Tabel 7.5). Perbaikan kinerja perbankan tersebut tidak triliun. Sebagian besar aset perbankan berupa obligasi
terlepas dari berbagai langkah kebijakan yang telah ditempuh pemerintah yang dimiliki oleh bank-bank peserta program
dalam rangka restrukturisasi perbankan nasional, serta rekapitalisasi. Pada akhir tahun 2000, portofolio obligasi
didukung pula oleh perbaikan kondisi makroekonomi secara pemerintah di bank-bank mencapai Rp431,8 triliun atau 41,9%
keseluruhan. dari total aset dan SBI sebesar Rp59,8 triliun atau 5,8% dari to-
Walaupun demikian, dalam hal penyaluran kredit, tal aset. Sementara itu, portofolio kredit sebesar Rp320,4 triliun
perbankan masih melihat tingginya risiko dunia usaha akibat atau 31,1% dari total aset (Grafik 7.1). Hal ini menunjukkan
pengalaman terpuruknya sektor korporasi selama masa krisis bahwa bank-bank mempunyai kelebihan dana yang sebagian

115
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 7.6
(%)
120,0
Perkembangan Dana Pihak Ketiga

100,0 Posisi Pertumbuhan Pangsa


(triliun rupiah) (%) (%)
80,0 27. Jenis Simpanan
1998 19991) 2000 1999 2000 2000
60,0 48. 48.

Giro 99,8 111,8 161,5 12,1 44,4 23,10


40,0
Rupiah 57,4 68,5 103,6 19,3 51,3 14,82
60.
20,0 Valuta Asing 42,4 43,4 57,9 2,3 33,4 8,28
27. 31.

0,0 Deposito Berjangka 456,9 382,8 384,7 (16,2) 0,5 55,03


Des-98 Des-99 Des-00
Rupiah 300,4 301,4 296,7 0,3 (1,6) 42,44
Kredit SBI Surat-surat Berharga Valuta Asing 156,5 81,4 88,0 (48,0) 8,1 12,59
Obligasi Antarbank aktiva Penyertaan

Tabungan 68,7 123,0 152,9 79,0 24,4 21,88


Grafik 7.1 Rupiah 68,7 123,0 152,9 79,0 24,4 21,88
Komposisi Aset Perbankan Valuta Asing – – – – – –
Total 625,4 617,6 699,1 (1,2) 13,2 100,00
Rupiah 426,5 492,9 553 15,6 12,2 79,13
dapat disalurkan dalam bentuk kredit. Selain itu persentase Valuta Asing 198,9 124,8 145,9 (37,3) 16,9 20,87

total kredit perbankan sebesar 31,1% masih jauh di bawah posisi 1) Tidak termasuk simpanan antarbank

sebelum krisis yang mencapai di atas 70,0%. Hal ini


menunjukkan masih belum pulihnya fungsi intermediasi rintah dan proses rekapitalisasi. Dana pihak ketiga dalam valuta
perbankan yang bertumpu pada penyaluran kredit. Di asing meningkat 16,9%, namun apabila pengaruh nilai tukar
samping itu, masih besarnya porsi obligasi pemerintah diabaikan dana pihak ketiga dalam valuta asing tersebut justru
menunjukkan bahwa upaya untuk melakukan penjualan turun sebesar 12,9%.
sebagian obligasi pemerintah yang dimiliki dan peng- Dilihat dari komposisinya, deposito masih mendominasi
ambilalihan (refinancing) kredit yang telah direstrukturisasi BPPN dana pihak ketiga dengan pangsa sebesar 55,0%. Sementara
oleh perbankan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. itu, giro dan tabungan masing-masing memiliki pangsa sebesar
23,1% dan 21,9%. Dibandingkan tahun sebelumnya giro dan
Penghimpunan Dana tabungan mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar
Selama tahun 2000, dana pihak ketiga16) yang berhasil 44,3% dan 24,3%. Sementara deposito hanya mengalami
dihimpun perbankan mengalami peningkatan sebesar 13,2% kenaikan sebesar 0,5% dengan memperhitungkan depresiasi
sehingga menjadi Rp699,1 triliun (Tabel 7.6) . Peningkatan ini nilai tukar rupiah. Apabila dihilangkan pengaruh depresiasi
meliputi seluruh jenis simpanan rupiah dan valuta asing, tersebut, deposito justru mengalami penurunan sebesar 5,4%
terkecuali deposito rupiah yang menurun 1,6%. Faktor utama dibanding tahun sebelumnya. Penurunan deposito tersebut
penyebab meningkatnya dana pihak ketiga antara lain menunjukkan terjadinya perubahan minat penanaman dana
adalah karena masih terjaganya kepercayaan masyarakat masyarakat dari deposito ke dalam bentuk giro dan tabungan.
seiring dengan dilanjutkannya program penjaminan peme- Hal ini antara lain disebabkan oleh relatif kecilnya perbedaan
antara suku bunga deposito dan tabungan yang ditawarkan
oleh bank, sementara di sisi lain giro dan tabungan
16) Dana pihak ketiga perbankan berbeda dengan konsep yang ada di menawarkan fleksibilitas yang diperlukan dalam kondisi
bab moneter. Dalam konsep perbankan, dana pihak ketiga
mencakup dana milik non residen dan pemerintah. tingginya ketidakpastian sosial politik.

116
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Kredit Perbankan
Tabel 7.7
Selama periode laporan, posisi kredit perbankan meningkat Perkembangan Kredit Perbankan
sebesar 15,5% sehingga menjadi Rp320,4 triliun dibanding tahun
Posisi Pertumbuhan Pangsa
sebelumnya (Tabel 7.7). Peningkatan tersebut berasal dari
(triliun rupiah) (%) (%)
Jenis Kredit
kredit rupiah dan kredit valuta asing yang masing-masing naik
1998 1999 2000 1999 2000 2000
sebesar Rp18,9 triliun (11,9%) dan Rp24,2 triliun (20,5%). Apabila
pengaruh nilai tukar dihilangkan, kredit dalam valuta asing Menurut Sektor Ekonomi 545,4 277,3 320,4 (49,2) 15,5 100,0
Pertanian 34,9 26,1 19,9 (25,2) (23,8) 6,2
menjadi turun sebesar 10,8%, sehingga posisi kredit dalam Pertambangan 7,9 5,4 5,3 (31,6) (1,9) 1,7
Perindustrian 195,8 97,9 109,7 (50,0) 12,1 34,2
tahun laporan hanya meningkat sebesar 2,2%. Listrik 23,6 20,0 5,1 (15,3) (74,5) 1,6
Konstruksi 41,5 13,3 7,2 (68,0) (45,9) 2,2
Peningkatan kredit rupiah antara lain disebabkan Perdagangan 96,1 45,2 46,0 (53,0) 1,8 14,4
Pengangkutan 17,6 12,4 7,3 (29,5) (41,1) 2,3
adanya penyaluran kredit baru dan penjualan kembali kredit
Jenis Dunia Usaha 88,6 26,4 26,4 (70,2) -- 8,2
yang telah direstrukturisasi oleh BPPN ke sektor perbankan. Jasa Sosial 8,3 3,3 2,9 (60,2) (12,1) 0,9
Lain-lain 31,0 27,3 90,6 (11,9) 231,9 28,3
Selama paro kedua tahun laporan, kredit baru yang telah Menurut Kelompok Bank 545,4 277,3 320,4 (49,2) 15,6 100,0
disalurkan sebesar Rp26,5 triliun17) . Sementara itu, jumlah kredit Bank BUMN 279,4 152,1 142,8 (45,6) (6,1) 44,6
BUSN Devisa 179,5 56,5 79,4 (68,5) 40,5 24,8
yang telah direstrukturisasi, baik oleh bank sendiri atau melalui BUSN Non Devisa 7,0 5,0 10,6 (28,6) 112,0 3,3
BPD 12,8 13,6 11,5 6,4 (15,3) 3,6
fasilitasi Satgas sampai dengan Desember 2000 tercatat Bank Campuran 37,5 22,5 29,3 (40,0) 30,0 9,1
Bank Asing 29,3 27,6 46,8 (5,9) 69,6 14,6
sebesar Rp59,9 triliun atau 71,0% dari total NPLs yang terdiri atas
Menurut Denominasi 545,4 277,3 320,4 (49,2) 15,5 100,0
20.430 debitur. Berdasarkan Laporan Bulanan BPPN tanggal 2 Rupiah 315,3 159,1 178,0 (49,5 11,9 55,6
Valuta asing 230,2 118,2 142,4 (48,7) 20,5 44,4
Januari 2001, dari Rp286,3 triliun kredit perbankan yang telah
dialihkan dan dikelola BPPN, tercatat sejumlah Rp80,9 triliun
telah berhasil direstrukturisasi. Dapat diinformasikan bahwa menghadapi kesulitan untuk menjual obligasi yang dimilikinya
selama tahun laporan masih terdapat pengalihan kredit ke karena belum berkembangnya pasar sekunder obligasi
BPPN sehubungan program rekapitalisasi, khususnya untuk pemerintah. Kelima, beberapa bank masih menghadapi
bank BUMN. masalah yang terkait dengan pemenuhan CAR dan pelang-
Masih rendahnya pertumbuhan kredit selama tahun garan BMPK.
2000 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, debitur
potensial masih terbatas sehubungan masih banyaknya Kualitas Aktiva Produktif
debitur berskala besar dalam proses restrukturisasi di BPPN. Dalam tahun laporan, kualitas aktiva produktif perbankan
Sebagian dari penyaluran kredit baru hanya diberikan dalam yang terdiri dari kredit, surat berharga, obligasi pemerintah,
bentuk kredit menengah dan kredit kecil dengan tujuan penanaman antarbank, dan penyertaan mengalami sedikit
konsumsi. Kedua, perbankan menilai bahwa risiko usaha masih perbaikan. Pada akhir tahun 2000, besarnya aktiva produktif
tinggi, meskipun terdapat permohonan kredit oleh nasabah bermasalah yang dimiliki perbankan tercatat sebesar 11,3%
baru. Ketiga, para debitur belum melakukan penarikan atas dari total aktiva, menurun dari 12,7% pada periode
komitmen kredit secara optimal karena belum didukung oleh sebelumnya (Tabel 7.8). Hal ini berkaitan dengan kemajuan
iklim usaha yang kondusif. Keempat, beberapa bank proses restrukturisasi kredit dan tambahan penerbitan obligasi
rekapitalisasi yang masih mengalami masalah likuiditas pemerintah dalam tahap akhir proses rekapitalisasi
perbankan.
Sejalan dengan kemajuan proses restrukturisasi kredit,
17) Berdasarkan data Sistem Informasi Debitur (SID) yang didukung hasil
survei terhadap sejumlah bank. rasio NPLs tanpa memperhitungkan PPAP yang dibentuk (Gross

117
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

pemberian kredit baru dan pengalihan kredit yang telah


Tabel 7.8
Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif direstrukturisasi dari BPPN ke perbankan.

Posisi Pangsa
Kategori Kualitas (triliun rupiah) (%) Pembiayaan Usaha Kecil

1998 1999 2000 1999 2000 Sejak diberlakukannya pasal 74 UU No. 23 tahun 1999, kebijakan
perkreditan Bank Indonesia dalam pengembangan usaha kecil
Lancar 408,2 607,2 591,2 83,8 85,5
Dalam Perhatian Khusus 48,2 25,2 21,3 3,5 3,1 dan menengah (UKM) mengalami perubahan yang mendasar.
Kurang Lancar 57,5 28,1 32,3 3,9 4,7
Diragukan 83,7 35,4 16,9 4,9 2,4 Bank Indonesia tidak lagi memberikan bantuan keuangan
Macet 135,5 28,5 29,3 3,9 4,2
Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) kepada dunia usaha
Total 733,1 724,5 691,1 100,0 100,0 termasuk UKM dan sumber pembiayaan untuk usaha kecil
selanjutnya berasal dari Pemerintah dan perbankan. Adapun
kebijakan pengembangan usaha kecil Bank Indonesia
NPLs), turun dari 32,8% pada posisi Desember 1999 menjadi selanjutnya meliputi :
18,8% pada akhir tahun laporan (Grafik 7.2). Sementara itu, (i) peningkatan bantuan teknis kepada usaha kecil dan
apabila NPLs memperhitungkan PPAP yang dibentuk (Net NPLs) mikro melalui kegiatan penelitian, pelatihan dan sosialisasi;
nilainya menjadi sebesar 5,8% pada akhir tahun laporan. (ii) kebijakan di bidang perbankan dengan : a) mendorong
Secara nominal perkembangan NPLs juga turun dari Rp91,1 perbankan untuk menyalurkan kredit ke usaha kecil, b)
triliun pada Desember 1999 menjadi Rp83,9 triliun pada akhir mendorong perbankan untuk melakukan diversifikasi
tahun laporan. Perbaikan tersebut antara lain dipengaruhi portofolio kredit melalui peningkatan pangsa kredit
adanya ekspansi kredit baru yang menambah jumlah kredit kepada usaha kecil dan mikro, c) mendorong perbankan
yang tergolong Lancar dan adanya pengalihan kredit macet untuk melakukan pemberian kredit dengan bunga pasar,
ke BPPN. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk dan d) pengembangan kelembagaan perbankan antara
mencapai target 5,0% NPLs pada tahun 2001, di antaranya lain pengembangan BPR dan bank yang beroperasi
adalah percepatan restrukturisasi kredit, peningkatan dengan prinsip syariah.
(iii) memfasilitasi sistem informasi usaha kecil melalui Sistem
Informasi Baseline Economic Survey (SIB) dan Sistem
% dari total kredit Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE) (Boks : SIB
60
dan SIABE).
50 Untuk kesinambungan pembiayaan kredit program,
40 Bank Indonesia telah melaksanakan kebijakan-kebijakan

30
melalui mekanisme:
(i) Pembelian Surat Utang Pemerintah (SUP) sesuai dengan
20
Keppres No. 176 tahun 1999 tanggal 28 Desember 2000.
10
SUP tersebut dibeli oleh Bank Indonesia dengan nilai
0
maksimum Rp10,0 triliun dan dapat dicairkan secara
Des Mar Juni Sep Des Mar Jun Sep Des
1998 1999 2000 bertahap berdasarkan jumlah KLBI yang akan jatuh tempo
pada tahun 2000-2001. Sampai dengan periode
Grafik 7.2
Perkembangan NPLs Desember 2000, SUP yang dapat dicairkan adalah sebesar
Rp2,4 triliun dan sudah dicairkan oleh Pemerintah adalah

118
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Rp850 miliar, sehingga dana yang masih dapat dicairkan Pengembangan Hubungan Bank dan Kelompok Swadaya
sejumlah Rp1,5 triliun. Masyarakat (PHBK) serta penelitian mengenai pelaksanaan
(ii) Mekanisme relending, yakni pengelolaan dana angsuran peraturan kredit usaha kecil. Penelitian evaluasi efektivitas KKPA
KLBI oleh BUMN koordinator sampai dengan KLBI dimaksud yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan
jatuh tempo dengan menyalurkan kembali angsuran KLBI KKPA kelapa sawit, memberikan kesimpulan bahwa program
tersebut kepada perbankan melalui skim-skim kredit pro- KKPA mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan petani
gram yang ada. Sampai dengan periode Desember 2000, dan penyerapan tenaga kerja meskipun masih perlu untuk
dana angsuran yang siap disalurkan kembali oleh 3 BUMN ditingkatkan lagi. Dari hasil penelitian, bank responden yang
koordinator yaitu PT Permodalan Nasional Madani (PNM), terlibat dalam penyaluran KKPA telah melaksanakan tugas dan
BRI dan BTN sebesar Rp1,5 triliun kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(iii) Penyediaan KLBI untuk proyek-proyek yang sudah Sementara itu, penelitian mengenai pengalihan bantuan
memperoleh komitmen pembiayaan dari Bank Indone- teknis bertujuan untuk mengetahui kemungkinan lembaga yang
sia sebelum adanya pengalihan KLBI. dapat menggantikan fungsi Bank Indonesia dalam bantuan
Dari hal-hal di atas tercermin bahwa Bank Indonesia teknis. Hasil penelitian tersebut merekomendasikan : (i) bantuan
masih tetap memiliki komitmen yang tinggi dalam mendukung teknis tetap dilaksanakan oleh Bank Indonesia, (ii) penggabungan
pengembangan usaha kecil baik melalui SUP dan relending aktivitas dari lembaga yang memungkinkan seperti BPD dan PT
maupun melalui pemberian bantuan teknis. Namun demikian, PNM, (iii) bantuan teknis selanjutnya dilakukan oleh lembaga baru.
dalam beberapa hal pelaksanaannya masih mengalami Selanjutnya, penelitian mengenai studi tunggakan kredit
berbagai kendala, khususnya pemanfaatan dana tersebut PHBK ditujukan untuk mengetahui hal-hal yang menyebabkan
oleh perbankan yang belum optimal. Dana yang belum peningkatan tunggakan kredit PHBK, yakni proses
dimanfaatkan dari SUP dan relending masing-masing sebesar pembentukan kelompok yang kurang baik, persepsi anggota
Rp1,5 triliun sehingga jumlah totalnya menjadi sebesar Rp3,0 kelompok yang salah, seleksi anggota kurang ketat, rendahnya
triliun. Dalam upaya untuk mengatasi kendala tersebut , Bank partisipasi kelompok, menurunnya kegiatan ekonomi dan
Indonesia telah melakukan koordinasi dengan BUMN musibah/bencana alam. Faktor-faktor yang mempengaruhi
koordinator dan instansi terkait. Koordinasi tersebut akan terus tunggakan kredit PHBK secara uji statistik meliputi jumlah
dilanjutkan pada tahun mendatang. Selain itu, dalam rangka tenaga kerja yang menerima pelatihan, jumlah kelompok yang
mendukung pengembangan usaha kecil tersebut, Bank Indo- dilayani, motivasi bank dalam kegiatan PHBK, dan kegiatan
nesia akan melakukan kajian dan evaluasi terhadap penelitian (investigasi) kepada kelompok sebelum menerima
pelaksanaan relending oleh BUMN koordinator. Dalam pada kredit. Variabel tabungan beku18) dan kondisi moneter secara
itu, sebagai pengganti skim Kredit Usaha Tani (KUT) , Pemerintah relatif tidak mempengaruhi tunggakan PHBK.
telah menerbitkan skim Kredit Ketahanan Pangan (KKP) yang Selain melakukan penelitian di atas, Bank Indonesia juga
pendanaan dan risiko kreditnya ada pada bank, sedangkan aktif mensosialisasikan pentingnya pemberian kredit usaha
Pemerintah memberikan subsidi bunga. mikro, kecil dan menengah yang bertujuan untuk mendorong
Dalam rangka mendorong pengembangan usaha kecil peningkatan pemberian kredit Usaha Kecil dan Menengah
Bank Indonesia melaksanakan beberapa kegiatan penelitian. (UKM). Dalam bidang bantuan teknis, dilaksanakan kegiatan
Kegiatan tersebut antara lain melakukan penelitian mengenai pelatihan Pengembangan Usaha Kecil dan Mikro (PUKM) dan
Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) khusus
pembiayaan kelapa sawit, penelitian mengenai pengalihan
18) Tabungan beku adalah tabungan yang diblokir untuk digunakan
bantuan teknis, dan penelitian mengenai studi tunggakan sebagai agunan kredit.

119
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

sosialisasi lending model dari berbagai komoditi unggulan yang pemberian KUK, luas jaringan kantor dan pendelegasian
dapat dikembangkan oleh usaha kecil. wewenang memutus kredit. Sementara itu dari sisi
Selanjutnya untuk mengkaji pelaksanaan peraturan eksternal antara lain : kebijakan pemerintah dalam
kredit usaha kecil (KUK), telah dilakukan penelitian kepada pengembangan UKM, jumlah usaha kecil dan ketentuan
bank-bank responden dengan hasil sebagai berikut : KUK dari Bank Indonesia. Dalam pada itu, faktor-faktor
(i) penyaluran KUK dinilai menguntungkan karena tingkat yang menghambat dalam pemberian KUK adalah
kemacetan relatif kecil, penyebaran risiko, marjin persyaratan izin usaha/ NPWP dan adanya agunan
keuntungan lebih besar, tidak rentan terhadap tambahan.
perubahan suku bunga dan ketaatan dalam pemba- Dari hasil penelitian KUK tersebut, dilakukan penyem-
yaran kewajiban, purnaan KUK dimana pemberian KUK tidak lagi merupakan
(ii) ketentuan KUK dianggap masih relevan namun perlu kewajiban bagi perbankan namun lebih bersifat anjuran.
penyesuaian-penyesuaian antara lain keringanan denda Sementara itu, pemberian KUK oleh perbankan pada
penalti dan persentase KUK disesuaikan dengan tahun laporan telah mengalami peningkatan, yaitu tumbuh
kemampuan atau karakteristik bank masing-masing, serta sebesar 52,8% sehingga menjadi Rp56,9 triliun (Tabel 7.9).
plafon KUK diusulkan untuk dinaikkan sampai dengan Dengan perkembangan tersebut, sampai akhir tahun 2000
Rp500 juta, rasio penyaluran KUK meningkat dari 7,1% menjadi 7,7% dari
(iii) faktor-faktor internal yang mempengaruhi dalam total kredit yang disalurkan.
pemberian KUK meliputi : penyederhanaan prosedur
Permodalan
Sejalan dengan telah diselesaikannya program rekapitalisasi,
Tabel 7.9
Perkembangan Kredit Usaha Kecil permodalan bank meningkat sangat signifikan, dari negatif
Rp41,2 triliun pada Desember 1999 menjadi positif Rp53,5 triliun
Posisi Pertumbuhan Pangsa
(Triliun rupiah) (%) (%) di akhir tahun laporan, dengan kepemilikan mayoritas modal
Penyebaran KUK
perbankan oleh pemerintah (Grafik 7.3. dan Boks : Kepemilikan
1998 1999 2000 1999 2000 2000

Menurut Jenis Penggunaan 45,6 37,2 56,9 (18,4) 52,8 100,0


Modal Kerja 17,6 15,7 22,5 (10,8) 43,4 39,6
Investasi 8,3 5,4 7,5 (34,9) 39,4 13,2 Triliun Rp

Konsumsi 19,7 16,1 26,8 (18,3) 66,6 47,2 80


40
Menurut Sektor Ekonomi 45,6 37,2 56,9 (18,4) 52,8 100,0 0
Pertanian 7,6 7,7 9,3 1,3 20,5 16,3 –40
Perindustrian 1,8 1,1 1,7 (38,9) 55,2 3,0 –80
Perdagangan, Restoran & Bank Kategori A
–120 Bank Rekapitalisasi
Hotel 10,7 8,8 10,3 (17,8) 17,3 18,2 BTO
–160
Jasa–jasa 5,6 3,4 4,7 (39,3) 37,9 8,2 Bank BUMN
–200 BPD
Lain–lain 19,9 16,2 30,9 (18,6) 90,5 54,3
–240 Bank Campuran
Bank Asing
–280
Menurut Kelompok Bank 45,6 37,2 56,9 (18,4) 52,8 100,0 Seluruh Bank
–320
Bank BUMN 27,3 25,4 30,8 (7,0) 21,1 54,1 IV I II III IV I II III IV

BUSN Devisa 12,9 5,9 12,3 (54,3) 108,9 21,7 1998 1999 2000
BUSN Non Devisa 1,9 1,8 5,1 (5,3) 180,8 8,9
BPD 3,4 4,1 8,7 20,6 111,0 15,2
Bank Campuran dan Asing 0,1 0,07 0,1 (30,0) 0,4 0,1 Grafik 7.3
Perkembangan Permodalan Bank

120
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Pemerintah di Perbankan Nasional). Selain faktor rekapitalisasi


perbankan, peningkatan modal bank juga disebabkan oleh Triliun Rp
40
peningkatan laba.
Dilihat dari kelompok bank, sejak akhir triwulan kedua 20

tahun laporan modal semua kelompok bank tercatat sudah 0

positif. Modal terbesar dimiliki oleh kelompok bank BUMN -20

sebesar Rp21,3 triliun, sedangkan modal terkecil dimiliki oleh


-40
bank asing yaitu sebesar Rp0,7 triliun. Namun demikian, dalam
-60
tahun laporan masih terdapat beberapa bank yang
-80
mempunyai CAR di bawah 4%, yang terdiri dari sebuah bank Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des
1999 2000
besar dan beberapa bank kecil serta BPD. Hal ini sebagai akibat
masih rendahnya pemberian kredit sehingga tidak dapat Grafik 7.5
menutup biaya operasi bank-bank tersebut. Usaha peningkatan Perkembangan Net Interest Margin

permodalan bank, terutama yang masih di bawah ketentuan


minimum terus dilakukan di antaranya dengan meminta para laba usaha. Laba yang berhasil diperoleh perbankan
pemilik bank untuk menambah modal disetor maupun dengan mencapai Rp10,5 triliun. Hal ini merupakan suatu kemajuan
melakukan merger. Selanjutnya, dalam rangka pemantauan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun 1999 yang
CAR terhadap beberapa faktor yang mempengaruhinya, Bank mengalami kerugian kumulatif sebelum pajak sebesar Rp91,7
Indonesia melakukan kajian stress test (Boks : Stress Test CAR triliun (Grafik 7.4). Laba tersebut terutama berasal dari laba
Perbankan terhadap Perubahan Suku Bunga dan Nilai Tukar). nonoperasional sebesar Rp11,2 triliun, sementara laba
operasional masih tercatat negatif Rp0,7 triliun. Laba
Profitabilitas nonoperasional terutama berasal dari keuntungan selisih kurs
Dalam tahun laporan, kegiatan perbankan sudah akibat melemahnya nilai tukar dan adanya koreksi PPAP
menunjukkan perbaikan yang tercermin pada peningkatan berkaitan dengan pendapatan yang diperoleh dari kredit
yang telah dihapusbukukan.
Meskipun laba operasional negatif, namun pendapatan
Triliun Rp bunga perbankan yang tercermin dari NIM masih mengalami
50
peningkatan yang cukup berarti dari negatif Rp38,6 triliun
25
0 menjadi positif Rp22,8 triliun (Grafik 7.5). Sejak triwulan II tahun
–25
laporan, seluruh kelompok bank telah berhasil mencapai NIM
–50
–75 yang positif. Positifnya NIM perbankan sejalan dengan posi-
–100 tive spread yang sudah dicapai bank sejak pertengahan tahun
–125
Laba/Rugi Operasional 1999 dan adanya tambahan pendapatan dari bunga obligasi
–150
Laba/Rugi Nonoperasional
–175 Laba Rugi Sebelum Pajak pemerintah. NIM ini diharapkan akan terus meningkat sejalan
–200
IV I II III IV I II III IV
dengan peningkatan fungsi intermediasi perbankan.
1998 1999 2000

Lembaga Keuangan Lainnya


Grafik 7.4
Perkembangan Laba/Rugi Perbankan Membaiknya kondisi ekonomi dalam tahun laporan telah
memberikan pengaruh positif terhadap kinerja lembaga

121
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

keuangan lainnya. Sejalan dengan membaiknya kinerja negeri. Seiring dengan membaiknya kondisi perbankan dan
perbankan, sumber dana perusahaan pembiayaan yang mulai meningkatnya konsumsi masyarakat khususnya untuk
berasal dari perbankan meningkat sehingga memberikan pembelian kendaraan bermotor, pinjaman yang diperoleh
kemampuan untuk meningkatkan nilai kegiatan usahanya. perusahaan pembiayaan dari bank dalam negeri meningkat
Sementara itu, proses penyaluran kredit perbankan yang sebesar 4,2% sehingga menjadi Rp11,2 triliun.
belum sepenuhnya pulih sebagaimana sebelum krisis, telah Dalam tahun 2000 sebagian besar dana perusahaan
memberikan peluang kepada perusahaan pegadaian untuk pembiayaan disalurkan dalam bentuk pembiayaan, yaitu
memenuhi kebutuhan pembiayaan kepada masyarakat sebesar 76,4% dari seluruh total dana atau sebesar Rp26,1 triliun
menengah kebawah, khususnya kredit yang berjangka waktu (Tabel 7.10). Sejalan dengan membaiknya ekonomi nasional,
pendek. kegiatan pembiayaan yang dilakukan perusahaan ini
meningkat sebesar 17,5% dibandingkan tahun sebelumnya
Perusahaan Pembiayaan sehingga menjadi Rp26,1 triliun. Beberapa bentuk usaha
Secara umum, kinerja perusahaan pembiayaan dalam tahun pembiayaan yang ditengarai mulai berkembang dalam tahun
2000 mengalami perbaikan dibanding dengan periode 2000 antara lain adalah sewa guna usaha (bidang
sebelumnya. Hal ini tercermin dari meningkatnya total nilai pertambangan, kehutanan, pertanian), dan pembiayaan
kegiatan usaha yang sampai dengan Oktober 2000 naik konsumen seperti untuk pembelian kendaraan yang disalurkan
sebesar 17,5% dibanding tahun sebelumnya. Dalam tahun bank melalu sistem chanelling kepada perusahaan
laporan jumlah perusahaan yang masih memiliki izin usaha pembiayaan. Sementara itu, simpanan pada bank yang
masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 245 dimiliki perusahaan pembiayaan mengalami penurunan
perusahaan. Sementara itu, dalam upaya mengembangkan sebesar 16,0%. Terjadinya shifting penyaluran dana dari
perusahaan pembiayaan, pemerintah telah mengeluarkan simpanan di bank mengindikasikan mulai menariknya aktivitas
surat keputusan mengenai perusahaan pembiayaan kegiatan usaha dibanding penanaman di bank.
(multifinance) yang mengatur mengenai pemberian izin bagi
pendirian perusahaan pembiayaan baru.19)
Tabel 7.10
Dalam periode laporan, seluruh jenis kegiatan usaha Sumber dan Penggunaan Dana Perusahaan Pembiayaan
perusahaan pembiayaan mengalami peningkatan kecuali
Posisi Pertumbuhan
pembiayaan anjak piutang yang menurun sebesar 16,8%.
Rincian (Triliun rupiah) (%)
Peningkatan terbesar terjadi pada pembiayaan konsumen yaitu
1998 1999 20001) 1999 2000
naik sebesar 64,5%. Dilihat dari komposisinya, kegiatan usaha
Sumber dana 43,6 30,2 34,1 0,0 12,9
perusahaan pembiayaan masih didominasi oleh sewa guna Pinjaman bank dalam negeri 14,4 10,7 11,2 –25,2 4,2
usaha, yaitu mencapai 50,1% dari total pembiayaan. Pangsa Pinjaman bank luar negeri 16,4 8,6 7,9 –47,7 –7,3
Pinjaman diterima lainnya d.n. 3,0 3,7 4,2 25,3 11,9
kegiatan usaha lainnya adalah pembiayaan konsumen sebesar Pinjaman diterima lainnya l.n. 2,7 2,3 4,0 –17,6 76,7
Modal 2) 1,3 (1,3) (0,8) –202,7 37,5
27,3%, anjak piutang 20,5%, dan kartu kredit sebesar 1,5%.
Lain-lain 5,9 6,3 7,7 7,7 22,5
Dilihat dari sumber dana, dalam tahun 2000 dana yang
Penggunaan dana 43,6 30,2 34,1 –30,7 12,9
dihimpun perusahaan pembiayaan meningkat sebesar Rp3,9
Pembiayaan 29,5 22,2 26,1 –24,9 17,5
triliun atau naik 12,9% (Tabel 7.11). Sumber utama pendanaan Simpanan pada bank 6,0 5,1 4,3 –15,1 –16,0
Penyertaan 0,3 0,1 0,9 –63,3 822,7
perusahaan pembiayaan berasal dari pinjaman bank dalam Lain-lain 7,8 2,8 2,9 –63,9 2,1

1) Oktober
19) Keputusan Menteri Keuangan No. 448/KMK.017/2000 tanggal 27
2) Modal bersih setelah ditambah/dikurangi laba/rugi tahun berjalan
Oktober 2000, tentang Perusahaan Pembiayaan.

122
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 7.11 Tabel 7.12


Perkembangan Perusahaan Pembiayaan Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif

1998 1999 2000


Posisi Pertumbuhan
Rincian (Triliun rupiah) (%) L D M L D M L D M

1998 1999 20001) 1999 2000


Pembiayaan
Jumlah perusahaan2) 245 245 245 Sewa Guna
Usaha 72,8 15,2 12,0 70,3 10,3 19,4 69,2 11,9 18,9

Nilai kegiatan usaha 29,5 22,2 26,1 –24,8 17,5 Anjak Piutang 67,1 5,6 27,2 36,3 5,2 58,5 28,5 4,2 67,3
Kartu Kredit 59,5 37,9 2,6 31,4 3,8 64,7 52,9 1,6 45,4
Sewa guna usaha 15,6 10,9 13,1 –29,9 19,5
Pembiayaan
Pembiayaan anjak piutang 8,0 6,4 5,3 –19,9 –16,8
Konsumen 92,6 2,9 4,6 90,9 2,4 6,7 93,7 1,9 4,5
Pembiayaan kartu kredit 0,4 0,3 0,4 –15,9 14,2
Pembiayaan konsumen 5,2 4,3 7,1 –16,9 64,5
Surat Berharga
Lainnya 0,3 0,2 0,2 –33,3 –9,0
yang dimilki 85,2 5,6 9,2 88,5 2,4 9,0 87,3 0,2 12,5
Penyertaan 61,4 0,0 38,6 97,8 0,0 2,2 97,5 0,0 2,5
Posisi pinjaman 36,4 25,2 27,2 –30,7 7,9
L = Lancar
Dalam negeri 17,3 14,4 15,3 –16,9 6,2 D = Diragukan
M = Macet
– Bank 14,4 10,7 11,2 –25,5 4,2
– Bukan Bank 3,0 3,7 4,2 25,2 11,9
Luar Negeri 19,1 10,8 11,9 –43,4 10,2
pangsa aktiva produktif yang bermasalah, yaitu kategori dira-
1) Oktober gukan dan macet, menurun sebesar 1,6% dari tahun sebelum-
2) Satuan
nya sehingga menjadi 32,2% (Grafik 7.6). Dilihat dari jenis
Dalam tahun laporan, kualitas aktiva produktif yang pembiayaan yang diberikan dalam tahun laporan, kualitas
terdiri dari sewa guna usaha, anjak piutang, kartu kredit, pem- aktiva terburuk terjadi pada pembiayaan anjak piutang yaitu
biayaan konsumen, surat berharga, dan penyertaan menun- dengan pangsa kategori macet mencapai 67,3%. Sedangkan
jukkan sedikit perbaikan. Sampai dengan Oktober 2000, aktiva produktif yang terbaik adalah pembiayaan konsumen
dengan porsi hanya sebesar 4,5% (Tabel 7.12).

80 Pegadaian
Dalam tahun 2000 kinerja perusahaaan umum pegadaian
60 menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibanding
tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari peningkatan
40
jangkauan pelayanan yang didorong pula oleh belum pulih
sepenuhnya kondisi perbankan nasional. Dalam konteks
20
peningkatan pelayanan, perusahaan pegadaian mampu

0
menambah cabang dari 650 unit menjadi 700 unit yang
1998 1999 2000
tersebar di seluruh Indonesia. Kondisi perbankan nasional yang
Lancar Diragukan Macet
masih menjalani proses penyehatan dan sangat berhati-hati
dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat, membuat
Grafik 7.6
Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif pegadaian masih menjadi alternatif untuk mendapatkan
pinjaman dengan cepat dan mudah, khususnya bagi

123
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

masyarakat kecil dan menengah. Secara umum, pinjaman


Tabel 7.13
yang dimanfaatkan dari pegadaian adalah pinjaman
Perkembangan Kinerja Pegadaian
dengan jangka waktu pendek.
1998 1999 2000*)
Rincian
Peningkatan aktivitas usaha pegadaian tercermin dari
Juta rupiah
omzet kegiatan usaha atau pinjaman yang diberikan, jumlah Omset 2.008.187 3.229.280 4.230.778
nasabah, dan penurunan kredit yang tidak dilunasi. Sampai Pendapatan Usaha : 341.040 426.338 370.100
Sewa Modal 319.520 401.030 341.933
dengan Desember 2000, omzet usaha pegadaian meningkat Jasa Taksiran 27 18 13
Jasa Titipan 43 7 9
sebesar 31,0% dibandingkan posisi yang sama pada tahun Pendapatan Penyimpanan dan
Asuransi 21.450 25.283 28.145
sebelumnya sehingga menjadi Rp4,2 triliun (Tabel 7.13). Namun
Posisi Pasiva
demikian, pendapatan utama usaha pegadaian mengalami Kewajiban Jangka Pendek 401.552 197.424 342.850
Utang Bank 387.487 180.340 312.083
penurunan sebesar 13,2% sehingga menjadi Rp370,1 miliar. Lainnya 14.065 17.084 30.767
Jasa sewa modal mengalami penurunan sebesar 14,7% Utang Obligasi 264.600 399.600 549.600
Utang Jangka Panjang 100.000 100.000 100.000
dibanding tahun sebelumnya. Penurunan sewa modal terjadi Ekuitas 371.273 407.666 450.397

karena adanya penurunan tarif sewa modal yang berlaku Nilai Barang Lelang 21.869 91.712 38.943
Jumlah Nasabah 2) 10.277.584 12.427.554 12.982.306
mengikuti penurunan bunga bank. Walaupun demikian, jasa
1) Data Desember 2000 sebelum audit
sewa modal memberikan kontribusi terbesar pada 2) Orang
pendapatan usaha yang mencapai 92,4%.
Dari jumlah nasabah, dalam tahun laporan terjadi per- Dari sisi sumber dana, sebagian besar pendanaan
tumbuhan sebesar 4,5% sehingga mencapai 12,9 juta pegadaian dibiayai dari penerbitan obligasi dan modal,
nasabah. Dominasi terbesar nasabah pegadaian adalah masing-masing sebesar 38,1% dan 31,2% dari total dana. Pada
nasabah dengan kategori A (nasabah kredit dengan plafon Maret 2000, pegadaian mengalihkan pinjaman obligasi
Rp5.000–Rp40.000) yaitu sekitar 37,1%. Sebagian besar kredit sebesar Rp99 miliar menjadi pinjaman jangka pendek, dan
pegadaian disalurkan kepada masyarakat menengah ke melunasi pinjaman kepada Bank Indonesia sebesar Rp90 miliar.
bawah dengan profesi karyawan industri, nelayan, petani, Pengalihan ini dilakukan karena obligasi III dengan nominal
dan pedagang. Rp100 miliar akan jatuh tempo pada tahun 2001. Sedangkan
Sementara itu, kredit yang tidak dilunasi oleh nasabah pelunasan utang kepada Bank Indonesia dilakukan
pegadaian sebagaimana tercermin dari nilai barang sehubungan dengan dikeluarkannya UU No. 23 tahun 1999
lelang, turun sebesar 57,6 % menjadi Rp38,9 miliar pada akhir yang melarang Bank Indonesia menyalurkan kredit program.
tahun (Tabel 7.13). Hal ini disebabkan sebagian besar Selanjutnya pada tanggal 27 Juni 2000, pegadaian melakukan
barang yang dijadikan jaminan kembali ditebus oleh para Emisi Obligasi ke-VII sebesar Rp150 miliar guna menambah
debitur. modal kerja.

124
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Boks : Sensitivitas Suku Bunga Deposito

Belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan menyebabkan bunga SBI dan suku bunga penjaminan terhadap suku bunga
suku bunga SBI dan penjaminan deposito menjadi kurang deposito secara grafis.
efektif dalam mempengaruhi suku bunga perbankan. Pada periode I, perubahan suku bunga SBI atau suku
Kenaikan suku bunga SBI dan kenaikan suku bunga bunga penjaminan berpengaruh cukup signifikan terhadap
penjaminan deposito tidak diikuti secara proporsional oleh suku bunga deposito. Sedangkan pada periode II, perubahan
kenaikan suku bunga deposito. Respon suku bunga deposito suku bunga SBI atau suku bunga penjaminan deposito tidak
terhadap kenaikan suku bunga tersebut bersifat asimetri. terlalu banyak berpengaruh terhadap suku bunga deposito.
Artinya, walaupun terjadi kenaikan suku bunga SBI dan suku Hasil simulasi perhitungan elastisitas pada dua periode
bunga penjaminan deposito, namun suku bunga deposito pengamatan menghasilkan elastisitas yang berbeda
perbankan relatif tidak berubah. Sebaliknya, ketika suku bunga (Tabel 1).
SBI turun, suku bunga SBI baru digunakan sebagai patokan Elastisitas suku bunga deposito terhadap suku bunga
dalam penentuan suku bunga deposito (Grafik 1). SBI berbeda ketika bunga SBI turun dan ketika bunga SBI naik.
Untuk mengetahui pengaruh perubahan suku bunga Pada saat suku bunga SBI turun (periode I), respon suku bunga
SBI dan penjaminan deposito terhadap suku bunga deposito deposito sangat tinggi yang ditunjukkan oleh nilai elastisitasnya
dilakukan analisis sensitivitas dengan pendekatan elastisitas. sebesar 0,88. Hal ini berarti setiap penurunan suku bunga SBI
Analisis sensitivitas suku bunga deposito 1 bulan dilakukan sebesar 1% akan diikuti oleh penurunan suku bunga deposito
masing-masing terhadap perubahan suku bunga SBI 1 bulan sebesar 0,88%. Sebaliknya, pada saat suku bunga SBI naik
dan terhadap suku bunga penjaminan deposito 1 bulan. Data (periode II), respon perubahan suku bunga deposito menjadi
yang digunakan adalah data series mingguan, minggu IV Mei sangat kecil yang tercermin dari nilai elastisitas 0,09. Hal ini
1999 sampai dengan minggu IV Desember 2000. Data series berarti setiap kenaikan suku bunga SBI sebesar 1% hanya akan
tersebut dibagi dalam 2 periode pengamatan: periode I yaitu diikuti oleh kenaikan suku bunga deposito sebesar 0,09%.
minggu IV Mei 1999 – minggu II Juni 2000; dan periode II yaitu Tingkat elastisitas yang rendah ini menyebabkan spread antara
minggu III Juni 2000 - minggu IV Desember 2000). Pembagian suku bunga SBI dan suku bunga deposito semakin besar,
periode didasarkan besarnya pengaruh perubahan suku apabila suku bunga SBI terus naik.
Elastisitas suku bunga deposito terhadap perubahan
Suku Bunga (%) pada suku bunga penjaminan deposito hampir sama dengan
32,0 elastisitasnya terhadap suku bunga SBI di atas. Pada saat suku
Penjaminan 1 Bulan
28,0
bunga penjaminan deposito turun (periode I) suku bunga
SBI 1 Bulan
Rata-Rata Deposito 1Bulan
24,0

20,0
Tabel 1.
16,0 Elastisitas Suku Bunga Deposito

12,0 Periode I Periode II


Mei 1999 – Juni 2000 Juni 2000 – Oktober 2000
8,0
Mei Jul. Sep. Okt. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov.
1999 2000
SBI 1 bulan turun 1% naik 1%

Deposito 1 bulan
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
turun 0,88%
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
naik 0,09%
○ ○ ○ ○ ○ ○

Grafik 1. Penjaminan Depo 1 bulan turun 1% naik 1%


Deposito 1 bulan turun 0,67% naik 0,48%
Suku Bunga Penjaminan Deposito, SBI dan Deposito

125
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Suku Bunga (%) Suku Bunga (%)


30,0 15,0
Penjaminan 1 Bulan
27,0
SBI 1 Bulan 14,0
24,0 Rata-Rata Depo 1 Bulan
13,0
21,0
12,0
18,0
11,0
15,0

12,0 10,0

9,0 9,0
Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Juni Juli Agustus September Oktober November
1999 2000 2000
SBI 1 Bulan Penjaminan 1 Bulan Rata-Rata Depo 1 Bulan

Grafik 2. Suku Bunga pada Periode I Grafik 3. Suku Bunga pada Periode II

deposito memiliki elastisitas sebesar 0,67. Hal ini berarti, setiap di bawah suku bunga penjaminan (Grafik 2). Namun sejak suku
1% penurunan suku bunga penjaminan deposito akan diikuti bunga SBI terus mengalami kenaikan, kondisi yang terjadi
oleh penurunan suku bunga deposito sebesar 0,67%. adalah sebaliknya yaitu suku bunga SBI menjadi lebih besar
Sebaliknya, pada saat suku bunga penjaminan deposito dari suku bunga penjaminan (Grafik 3). Hal ini antara lain
meningkat (periode II), elastisitas suku bunga deposito 0,48. Hal disebabkan penentuan suku bunga penjaminan didasarkan
ini berarti, setiap 1% kenaikan suku bunga penjaminan deposito, pada pergerakan suku bunga deposito anggota JIBOR + 200
maka perbankan akan menaikkan suku bunga deposito bps. Sedangkan suku bunga SBI ditentukan atas dasar
sebesar 0,48%. keputusan lelang dari bidding yang dilakukan perbankan
Pada periode suku bunga SBI turun, perbankan benar- secara keseluruhan.
benar menggunakan SBI sebagai patokan dalam pembentukan Sementara itu, penentuan suku bunga deposito
suku bunga dananya, mengingat bunga SBI merupakan salah ditentukan berdasarkan kebutuhan likuiditas dan pendanaan
satu sumber utama penerimaan perbankan dalam kondisi belum perbankan. Suku bunga penjaminan hanya dijadikan batas
normalnya fungsi intermediasi perbankan, sedangkan suku atas bagi perbankan apabila diperlukan. Oleh karena itu,
bunga penjaminan dijadikan sebagai batas atas. pada saat suku bunga SBI naik, suku bunga deposito (termasuk
Perubahan perilaku perbankan dalam penentuan suku suku bunga deposito anggota JIBOR) cenderung tetap. Hal
bunga depositonya dapat dilihat dari perbedaan Grafik 2 dan ini mengakibatkan kenaikan suku bunga SBI lebih cepat dari
3. Sebelum minggu ke II Juni 2000, suku bunga SBI selalu berada kenaikan suku bunga penjaminan.

126
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Boks : Sistem Informasi Baseline Economic Survey (SIB) dan Sistem Informasi
Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE)

Dengan telah diberlakukannya UU No.23 tahun 1999, Bank In- pihak yang memerlukannya. SIB dapat diakses melalui website
donesia tidak dapat memberikan kredit likuiditas dalam rangka Bank Indonesia http://www.bi.go.id atau ke http :// sib.bi.go.id.
kredit program untuk mengembangkan usaha kecil dan Secara garis besar, informasi yang disajikan dalam SIB
menengah (UKM). Namun Bank Indonesia tetap meliputi : (i) Daftar Skala Prioritas, yakni daftar komoditi/ sektor
memperhatikan perkembangan UKM mengingat peranan usaha pada tingkat Kecamatan di suatu Kabupaten/ Propinsi
sektor ini sangat penting dalam perekonomian khususnya berdasarkan potensi pengembangannya yang meliputi 7
dalam penyerapan tenaga kerja. Disamping itu pengalaman aspek yakni pemasaran, wirausaha, teknik produksi,
Bank Indonesia dalam mengembangkan UKM serta pertumbuhan/ keterkaitan sektoral, prasarana darah dan
pengembangan yang telah dilakukan merupakan modal kebijakan pemerintah yang mendukung, (ii) Daftar Komoditi
yang sangat berharga dalam melanjutkan komitmen Bank Prioritas Kemitraan Terpadu, yakni daftar komoditi/ sektor usaha
Indonesia. yang berada dalam kategori Sangat Potensial dan Potensial
Salah satu perwujudan dari pelaksanaan kebijakan pada tingkat Kecamatan di suatu Kabupaten/Propinsi beserta
pengembangan UKM Bank Indonesia adalah dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
pemberian informasi berkenaan dengan kondisi dan potensi Selain SIB, Bank Indonesia juga mengembangkan SIABE
usaha kecil pada semua sektor ekonomi di wilayah Indonesia. yakni sistem informasi yang dirancang untuk membantu
Hal ini antara lain dilakukan dengan memasyarakatkan hasil pengguna dalam mendapatkan informasi yang lengkap
Baseline Economic Survey (BLS) yang selama ini telah dilakukan tentang produk-produk agroindustri yang telah diekspor ke
bersama beberapa Lembaga Penelitian Perguruan Tinggi, di berbagai negara tujuan. Informasi yang dapat diperoleh dari
hampir seluruh propinsi di Indonesia. Hasil BLS tersebut SIABE adalah daerah asal komoditi, teknologi pengolahan,
disosialisasikan melalui SIB. daftar eksportir, pasar ekspor dan standar mutu produk.
SIB adalah sistem informasi yang dirancang berdasarkan Dengan adanya SIABE ini diharapkan iklim investasi di bidang
hasil studi BLS dan dikembangkan untuk memasyarakatkan pertanian dan agroindustri semakin membaik dan proses
informasi hasil studi tersebut. SIB menyajikan informasi yang pengambilan keputusan baik di perbankan maupun instansi
mencakup identifikasi usaha kecil yang potensial pada semua yang terkait untuk menentukan kebijakan investasi di bidang
sektor ekonomi di suatu daerah beserta infor masi pen- agroindustri menjadi semakin mudah, cepat dan akurat.
dukungnya. SIB juga memberikan manfaat bagi pemerintah Untuk tahap awal SIABE baru mencakup 11 komoditi
maupun swasta khususnya kalangan perbankan dalam rangka agroindustri yaitu teh, coklat, jambu mete, kelapa sawit, kopi,
pengembangan dan pembinaan usaha kecil, pembinaan pro- ikan, udang, kulit hewan, ubi kayu, ukiran kayu dan kayu manis
gram kemitraan terpadu serta promosi investasi pada berbagai (cassiavera). SIABE baru meliputi 3 propinsi yakni Sumatera
sektor usaha di suatu daerah. Sebagai upaya lebih memberikan Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan yang selanjutnya
nilai tambah dan manfaat yang lebih besar, laporan hasil akan dikembangkan untuk seluruh propinsi di Indonesia. SIABE
penelitian BLS tersebut dimasukkan dalam sistem informasi dapat diakses melalui website Bank Indonesia http://
elektronik internet yang dapat diakses secara mudah oleh pihak- www.bi.go.id atau ke http ://siabe.bi.go.id.

127
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Boks : Stress Test CAR Perbankan terhadap Perubahan Suku Bunga


dan Nilai Tukar

Dalam upaya memonitor sensitivitas Capital Adequacy Ratio


Hasil Stress Test Sensitivitas Nilai Tukar & Suku Bunga
(CAR) terhadap faktor-faktor yang mengakibatkan kerugian terhadap CAR
bank, Bank Indonesia telah melakukan stress test1) terhadap
Nilai Tukar Rupiah CAR CAR CAR CAR CAR
beberapa bank yang secara sistemik sangat penting bagi Turun & Suku Turun Turun Turun Turun Naik
perekonomian Indonesia. Faktor-faktor yang dianggap sangat Bunga Naik 0 s.d.1% 1 s.d. 2% 2 s.d. 5% > 5%

berpengaruh terhadap kerugian bank meliputi perubahan Rp 1.000 & 1% 4 3 0 1 19


Rp 2.000 & 2% 1 3 3 1 19
suku bunga dan nilai tukar. Stress test ini juga menjadi salah
Rp 3.000 & 1% 0 3 3 1 20
satu rekomendasi dari komite pengawasan bank di BIS dalam Rp 4.000 & 4% 0 3 2 3 19
menerapkan manajemen risiko di perbankan. Rp 5.000 & 5% 0 1 4 3 19
Stress test atas pengaruh fluktuasi nilai tukar terhadap *) Kurs awal sebesar Rp9.530 (November 2000) dan suku bunga awal sebesar
11,25% (rata-rata suku bunga deposito 1 bulan pada November 2000)
CAR bank dilakukan dengan mempertimbangkan Net Open
Position (NOP) untuk setiap posisi mata uang dan beberapa berdasarkan waktu perubahan suku bunga (repricing date)
skenario depresiasi nilai tukar rupiah terhadap setiap mata uang apabila tingkat bunganya mengambang (floating). Dengan
dimaksud. Dalam praktek biasanya digunakan kondisi paling demikian akan diperoleh posisi long2) dan short3) untuk setiap
buruk (worst case scenario) dan penurunan nilai tukar time band. Kenaikan suku bunga akan menyebabkan
didasarkan pada skenario tertentu (hypothetical scenario). Dari keuntungan bagi bank yang mempunyai posisi long, dan
hasil stress test nilai tukar ini akan diperoleh informasi tentang kerugian bagi bank yang mempunyai posisi short. Berkaitan
sensitivitas CAR bank terhadap berbagai kemungkinan dengan pengaruh nilai tukar, bank yang memiliki posisi long,
penurunan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing sebagai akan memperoleh keuntungan. Sebaliknya pada bank yang
bahan informasi bagi Bank Indonesia sebagai regulator dalam keadaan short akan mengalami kerugian.
maupun bank itu sendiri. Informasi ini dapat digunakan dalam Stress test yang dilakukan mengasumsikan bahwa ru-
pengambilan kebijakan moneter yang berkaitan dengan piah akan terdepresiasi terhadap dolar AS dan suku bunga naik
kondisi perbankan di Indonesia. Apabila berbagai skenario pada waktu yang bersamaan, sementara variabel-variabel lain
dimaksud berpengaruh cukup signifikan terhadap penurunan diasumsikan tidak mengalami perubahan. Pengujian sensitivitas
CAR, maka diharapkan bank akan menurunkan posisi NOP-nya. ini menggunakan sampel 27 bank yang mewakili bank BUMN,
Berbeda dengan stress test penurunan nilai tukar, stress BTO, bank rekapitalisasi dan bank umum lainnya. Hasil
test kenaikan suku bunga menggunakan informasi sumber dan pengujian dapat dilihat dalam Tabel.
penempatan dana yang sensitif terhadap perubahan suku Dari hasil pengujian tersebut terlihat bahwa dampak
bunga. Ketidaksesuaian jangka waktu (maturity) dan tingkat depresiasi rupiah dan kenaikan suku bunga yang terjadi secara
suku bunga dari sumber dan penempatan dana apabila terjadi bersamaan akan berbeda antara satu bank dengan bank lain
perubahan suku bunga, akan menimbulkan risiko kerugian bagi karena tergantung pada beberapa faktor, antara lain posisi
bank. Setiap posisi sumber dan penempatan dana tersebut long atau short. Sebagai akibatnya CAR bank dapat naik atau
dikelompokkan menjadi beberapa time band yakni turun. Oleh karenanya informasi dari stress test ini sangat
berdasarkan jatuh temponya apabila bunga tetap, dan membantu pengelolaan likuiditas bank.

2) Posisi penempatan dana (sisi aktiva) lebih besar dari posisi sumber
1) Stress test adalah pengujian pengaruh volatilitas faktor-faktor suku dana (sisi pasiva) pada neraca bank.
bunga dan nilai tukar terhadap CAR perbankan dengan 3) Posisi sumber dana (sisi pasiva) lebih besar dari posisi penempatan
menggunakan skenario tertentu. dana (sisi aktiva) pada neraca bank.

128
Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Boks : Kepemilikan Pemerintah di Perbankan Nasional

Nov.’00 2004
Sebagai tindak lanjut dari program restrukturisasi perbankan, 12%
Sep.’00 Sep.’97
2001
seluruh proses rekapitalisasi perbankan melalui penerbitan Jun.’97
Des.‘97
8%
obligasi pemerintah yang dimulai sejak Mei 1999 akhirnya telah Des.’00 Jun.’98 4%

4% Sep.’98
berhasil diselesaikan pada Oktober 2000. Khusus sepanjang tahun Jun.’00 Kepemilikan Pemerintah

100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20%


laporan, telah dilaksanakan rekapitalisasi 6 bank umum, yaitu –4%

Des.
Bank Niaga, Bank Bali, Bank Danamon (merger dengan 8 Bank ‘99
Mar.’00
Nov.’99
Take Over) serta penerbitan obligasi tahap 2 bagi BNI, BRI dan –12%
Ags.’99
BTN. Obligasi yang telah diterbitkan selama tahun laporan Des.’98

Capital Adequacy Ratio


berjumlah Rp148,6 triliun, sehingga sampai dengan akhir tahun –20%

2000, total obligasi yang telah diterbitkan dalam rangka program Jul.’99

rekapitalisasi bank-bank umum nasional sebesar Rp430,4 triliun. –28%

Sebagai konsekuensi dari hasil rekapitalisasi, kepemilikan


pemerintah di perbankan nasional pada posisi akhir tahun 2000 –36%

mencapai 95,1% dari total permodalan perbankan nasional


dengan CAR perbankan setelah direkapitalisasi mencapai 12,7% –44%

(lihat grafik). Kepemilikan pemerintah di bank-bank rekapitalisasi


hanya bersifat sementara dan akan dilakukan divestasi secara Mar.’99 –52%

berkala. Kepemilikan pemerintah dalam proses rekapitalisasi


Jun.’99
perbankan ini mempunyai dampak positif terhadap arah –60%

penyebaran kepemilikan perbankan di masa mendatang. Rencana Aktual

Melalui rencana divestasi, diharapkan akan tercipta kepemilikan Evolusi CAR dan Kepemilikan Pemerintah di Perbankan
yang lebih merata. Pada gilirannya, hal ini akan memperkuat
independensi pengurus bank, suatu elemen yang sangat tahun 2001. Rencana divestasi tersebut akan dapat dilakukan
penting dalam pengelolaan bank yang sehat. Pengalaman sesuai dengan target apabila situasi perekonomian sudah
masa lalu menunjukkan konsentrasi kepemilikan bank oleh grup sepenuhnya pulih kembali. Pulihnya perekonomian akan
akan menganggu independensi pengelolaan bank. mendorong perbaikan kondisi bank yang pada akhirnya akan
Secara umum divestasi direncanakan paling lambat lima meningkatkan harga saham bank. Selama ini pemerintah
tahun setelah dilakukan rekapitalisasi perbankan, sehingga melihat bahwa penawaran harga dari calon investor tidak sesuai
diharapkan akan selesai dilakukan pada akhir tahun 2004. dengan harapan pemerintah, sehingga rencana divestasi
Divestasi kepemilikan pemerintah terhadap BCA dan Bank dimaksud belum dapat terlaksana sesuai dengan yang
Niaga direncanakan akan dilakukan pada kuartal pertama direncanakan semula.

129
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional
bab
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

8 Sistem Pembayaran Nasional

S eperti telah diamanatkan dalam Undang-Undang


No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Bank Indone-
sia diberi wewenang untuk mengatur dan menjaga sistem
pemantapan tindakan dalam menghadapi kemungkinan
terjadinya Masalah Komputer Tahun 2000 (MKT2000)
sehubungan dengan pergantian tahun 1999 ke tahun 2000. Di
pembayaran guna menciptakan sistem pembayaran nasional samping itu, penyempurnaan berbagai peraturan dan
yang efisien, cepat, aman dan handal. Sehubungan dengan ketentuan lalu lintas pembayaran dan kliring, serta audit
hal tersebut, Bank Indonesia terus menempuh berbagai terhadap jaringan komputer Bank Indonesia (BI-Net) untuk
kebijakan di bidang sistem pembayaran, baik yang berkaitan mengantisipasi keamanan jaringan/sistem diseluruh kantor
dengan alat pembayaran tunai (kartal) maupun lalu lintas Bank Indonesia dalam rangka implementasi sistem RTGS juga
pembayaran bukan tunai (giral). dilakukan.
Dalam tahun 2000, kebijakan Bank Indonesia di bidang Pada tahun 2000, Bank Indonesia meningkatkan
pembayaran tunai mencakup langkah untuk mencabut dan penyediaan uang untuk memenuhi kenaikan kebutuhan
menarik uang kertas yang banyak dipalsukan, serta masyarakat akan uang kartal. Kenaikan kebutuhan uang kartal
mengeluarkan uang kertas emisi baru dengan desain dan tersebut, selain disebabkan oleh peningkatan kegiatan
ukuran yang sesuai dengan standar Bank Indonesia. ekonomi, juga diakibatkan oleh adanya kekhawatiran
Sementara itu, dalam bidang lalu lintas pembayaran bukan masyarakat dalam menghadapi tanggal-tanggal kritis di awal
tunai, Bank Indonesia telah mengeluarkan beberapa tahun 2000 yang berkaitan dengan MKT2000. Di samping itu,
ketentuan penyempurnaan mengenai kliring antara lain dalam rangka standardisasi ukuran uang kertas rupiah dan
mengenai pemberian wewenang yang lebih besar terhadap peningkatan pengamanannya, Bank Indonesia telah
penyelenggara kliring. Langkah besar yang telah diambil Bank menerbitkan emisi baru uang kertas pecahan Rp1.000,00
Indonesia dalam bidang lalu lintas pembayaran bukan tunai dengan desain yang baru serta ukuran lebar yang sama
dalam tahun 2000 adalah implementasi sistem Real Time Gross dengan uang kertas pecahan Rp100.000,00. Selain itu, dalam
Settlement (RTGS). rangka memperlancar pendistribusian uang kertas baru
tersebut, telah diaktifkan kembali kegiatan kas keliling untuk
Kebijakan Sistem Pembayaran dalam tahun 2000 memenuhi kebutuhan masyarakat yang akan merayakan hari-
Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap hari besar keagamaan dan tahun baru.
sistem pembayaran nasional, berbagai kebijakan telah Sementara itu, dalam rangka menanggulangi
dikeluarkan baik dalam lingkup pembayaran tunai maupun keberadaan uang palsu yang cukup meningkat dalam tahun
bukan tunai. Kebijakan dalam lingkup pembayaran tunai 2000 ini, Bank Indonesia telah mengambil langkah preventif
antara lain menyediakan dan mengeluarkan uang kertas baru dan represif. Langkah preventif yang dilakukan antara lain
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, serta penang- dengan mencabut dan menarik dari peredaran uang kertas
gulangan uang palsu yang ditemukan pada beberapa yang banyak dipalsukan, yaitu pecahan Rp50.000,00 emisi
daerah. (Boks : Proses Pembuatan Uang Rupiah dan Boks : 1993/95 (seri Soeharto), pecahan Rp20.000,00 emisi 1992 (seri
Uang Palsu "Permasalahan dan Penanggulangannya"). Cendrawasih), dan pecahan Rp10.000,00 emisi 1992 (seri
Kebijakan dalam lingkup pembayaran bukan tunai mencakup Hamengkubuwono IX). Langkah preventif lainnya adalah
penerusan langkah-langkah pengembangan sistem RTGS dan dengan menyempurnakan desain serta meningkatkan

131
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

penggunaan unsur-unsur pengamanan pada pencetakan Uang Antar Bank (PUAB), transaksi rupiah dalam rangka jual
uang rupiah yang baru. Di samping itu, Bank Indonesia juga beli mata uang asing (foreign exchange), transaksi yang
menyebarluaskan ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui media berkaitan dengan rekening pemerintah dan transaksi setoran/
cetak, papan pengumuman, serta kegiatan penataran. Hal penarikan tunai di Bank Indonesia, serta transaksi-transaksi
lain dilakukan dengan meningkatkan koordinasi bersama antarnasabah. Dengan diterapkannya sistem tersebut, Bank
unsur-unsur terkait yang tergabung dalam Badan Koordinasi Indonesia menjadi bank sentral keempat di kawasan ASEAN
Pemberantasan Uang Palsu (BOTASUPAL) yaitu Kepolisian, yang mengoperasikan sistem RTGS, setelah Singapura, Ma-
Kejaksaan Agung, Peruri, Ditjen Bea Cukai, dan Ditjen Imigrasi. laysia, dan Thailand.
Sementara itu, upaya represif dilakukan melalui koordinasi Ada beberapa manfaat yang diperoleh masyarakat dan
dengan instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan sistem perekonomian dalam menggunakan sistem BI-RTGS ini.
pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang Bagi masyarakat sistem ini di samping memberikan kecepatan
terlibat dalam pemalsuan uang Rupiah. dan ketepatan waktu, juga dapat memberikan kepastian dari
Berkenaan dengan sistem pembayaran bukan tunai, pengiriman maupun penerimaan dana sehingga
khususnya yang menyangkut kliring, telah pula dilakukan sejum- memudahkan perencanaan kegiatan ekonomi. Bagi Bank In-
lah penyempurnaan. Bagi penyelenggara kliring bukan-Bank donesia sistem ini bermanfaat dalam menurunkan risiko sistem
Indonesia diberikan wewenang yang lebih besar untuk memu- pembayaran, dan mengurangi tindakan spekulasi bank-bank.
tuskan suatu permasalahan yang terjadi dalam kegiatan kliring Di samping itu sistem RTGS juga menjadi sumber informasi yang
di wilayahnya seperti pemberian persetujuan kepada calon akurat dalam pengawasan bank-bank dan pengendalian
peserta dan penyelesaian dispute antar peserta kliring. Di- moneter.
samping itu, dalam rangka mengurangi pemberian subsidi ke- Dalam rangka penerapan sistem BI-RTGS tersebut, Bank
pada perbankan, khusus untuk penyelenggara kliring lokal non- Indonesia telah mengambil langkah-langkah persiapan baik
Bank Indonesia yang jumlah perputaran warkat per hari di wila- intern maupun ekstern sehingga implementasinya dapat
yah kliring tersebut telah mencapai 1.000 warkat atau lebih da- berjalan lancar. Dari sisi intern, Bank Indonesia melakukan
lam waktu 6 bulan berturut-turut, penyelenggara kliring tersebut persiapan organisasi dan personil, peralatan dan infrastruktur
dapat mengenakan biaya kepada setiap peserta kliring yang sistem BI-RTGS baik di main site maupun di Disaster Recovery
besarnya sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Centre (DRC), dan seluruh perangkat aturannya. Di sisi ekstern,
Satu kemajuan penting dan mendasar dalam per- Bank Indonesia secara terus menerus mengadakan pertemuan
kembangan sistem pembayaran bukan tunai di Indonesia dengan seluruh bank, baik untuk keperluan pelatihan teknis,
adalah mulai diterapkannya sistem RTGS pada November diskusi atas solusi teknis dan non teknis, serta sosialisasi berbagai
2000 oleh Bank Indonesia untuk semua bank yang beroperasi ketentuan terkait termasuk ketentuan antarbank dalam rangka
di Jakarta. Sebagaimana diketahui, sistem RTGS merupakan RTGS (Interbank Bye-Laws). Bank Indonesia juga secara kontinyu
sistem yang memproses penyelesaian akhir transaksi (settle- memonitor persiapan manajemen bank pelaksana serta komite
ment) pembayaran antarbank yang dilakukan per transaksi internal bank untuk mengimplementasikan sistem RTGS. Di
dan bersifat real time (electronically processed) di mana samping itu, untuk memantau kesiapan dan keamanan semua
rekening bank peserta dapat didebit/dikredit berkali-kali komponen infrastruktur jaringan komputer Bank Indonesia (BI-
dalam sehari sesuai dengan perintah dan penerimaan Net) dalam rangka implementasi sistem RTGS, telah dilakukan
pembayaran. Berbagai jenis transaksi pembayaran yang audit terhadap keseluruhan infrastruktur BI-Net yang dilakukan
dilakukan bank dapat dijalankan melalui Sistem BI-RTGS, oleh auditor internasional yang telah memiliki pengalaman
seperti transaksi-transaksi antar bank dalam rangka Pasar dalam bidang tersebut.

132
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Perkembangan Alat-alat Pembayaran


Sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dalam tahun Triliun rupiah

2000, perkembangan alat-alat pembayaran tunai maupun 9 1999


bukan tunai juga menunjukkan peningkatan dibanding tahun 8 2000

7
sebelumnya. Di samping itu, berdekatannya hari-hari keaga-
6
maan dan tahun baru juga menjadi faktor penyebab mening-
5
katnya penggunaan kedua alat pembayaran tersebut di atas. 4

Alat Pembayaran Tunai 2

1
Posisi UYD (Uang Kartal Yang Diedarkan) sepanjang tahun 2000
0
cenderung meningkat. Posisi UYD akhir Desember 2000 Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

2000
mencapai Rp89,7 triliun atau meningkat 23,6% dibandingkan
dengan posisi UYD akhir Desember tahun 1999 yang hanya Grafik 8.1
Perkembangan Jumlah Uang yang Dimusnahkan (PTTB)
sebesar Rp72,6 triliun (Tabel 8.1). Sementara itu, rata-rata posisi
UYD akhir bulan pada tahun 2000 mencapai Rp65,0 triliun atau
naik 21,1% dibandingkan rata-rata posisi UYD akhir bulan pada
tahun 1999 sebesar Rp53,6 triliun. terjadi dari bulan November ke Desember 2000 yaitu sebesar
Kenaikan UYD ini secara umum dipengaruhi oleh 32,3%. Hal ini disebabkan adanya penarikan yang cukup besar
tingginya permintaan masyarakat terhadap uang kartal untuk dari masyarakat dalam rangka menghadapi bulan
memenuhi kebutuhan yang terus meningkat seiring dengan Ramadhan, Hari Natal dan Hari Raya Idul Fitri yang waktunya
perkembangan berbagai indikator ekonomi nasional. Ditinjau hampir bersamaan.
dari besarnya kenaikan UYD, kenaikan yang cukup drastis Dilihat dari jenis uangnya, perbandingan antara uang
kertas dan uang logam sepanjang tahun 2000 tidak banyak
mengalami perubahan, dengan pangsa masing-masing jenis
Tabel 8.1
Perkembangan Uang Kartal yang Diedarkan Per Pecahan uang sebesar 98,5% untuk uang kertas dan 1,5% untuk uang
logam.
1998 1999 2000 2)
Rincian
Miliar Rupiah Selain menyediakan uang dalam jumlah yang cukup,

UYD1) 48.329 72.560 89.705 Bank Indonesia juga senantiasa menjaga agar kualitas uang
Uang Kertas 47.435 71.480 88.370
100.000 – 5.526 6.832
yang beredar di masyarakat tetap baik. Hal ini dilakukan
50.000 18.941 36.909 45.630
dengan cara menarik dan memusnahkan uang yang tidak
20.000 13.643 16.560 20.472
10.000 9.566 7.389 9.135 layak edar, atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB),
5.000 3.311 2.757 3.408
1.000 1.232 1.620 2.003 serta mengganti uang yang ditarik/dimusnahkan tersebut.
<1.000 742 720 890
Jumlah rata–rata PTTB periode Januari s.d. Desember 2000
Uang Logam 894 1.080 1.335
1.000 101 130 161 sebesar Rp5,6 trilliun atau naik 38,5% dibandingkan rata-rata
500 99 153 189
100 497 587 725 PTTB pada tahun 1999 yang mencapai Rp4,0 triliun (Grafik
50 143 151 187
25 42 43 53 8.1). Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya
<25 12 16 20
kegiatan PTTB karena adanya jenis uang kertas yang dicabut
1) Uang kartal di luar BI dari peredaran yaitu pecahan Rp50.000,00 emisi 1993/1995
2) Estimasi UYD per pecahan tanggal 30 Desember 2000
(seri Soeharto), pecahan Rp20.000,00 emisi 1992 (seri

133
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Cendrawasih) dan pecahan Rp10.000,00 emisi 1992 (seri


Hamengkubuwono IX).
Triliun rupiah

90
Perkembangan Aliran Uang Masuk/Keluar dan Posisi Kas 80 2000

Aliran uang masuk (inflow) dari masyarakat kembali ke Bank 70


60
Indonesia secara nasional cenderung berfluktuasi. Rata-rata
50
1999
inflow bulanan pada tahun 2000 adalah sebesar Rp12,3 triliun 40

atau naik 22,8% dibandingkan dengan rata-rata bulanan in- 30


20 1998
flow pada tahun 1999 yang mencapai Rp10,0 triliun (Grafik
10
8.2). Sementara itu, rata-rata bulanan aliran uang keluar 0
(outflow) dari Bank Indonesia ke masyarakat pada periode Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

Januari s.d. Desember 2000 mencapai Rp13,7 triliun atau


meningkat 12,7% dibandingkan rata-rata bulanan outflow Grafik 8.3
Perkembangan Posisi Kas
tahun 1999 yang mencapai Rp12,1 triliun.
Berdasarkan perkembangan inflow – outflow di atas,
secara nasional pada tahun 2000 terjadi net outflow sebesar
Rp17,0 triliun. Jumlah ini merupakan tambahan uang yang Posisi kas Bank Indonesia pada akhir tahun 2000 sebesar
diedarkan oleh Bank Indonesia selama tahun 2000 untuk Rp27,7 triliun atau turun 51,3% dibandingkan dengan posisi
memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara itu, bila dilihat kas pada akhir tahun 1999 yang tercatat Rp56,9 triliun (Grafik
dari karakteristik Kantor Bank Indonesia (KBI), hampir seluruh 8.3). Penurunan posisi kas ini terutama disebabkan oleh
KBI di luar Jawa mengalami net outflow, sedangkan KBI di Jawa meningkatnya jumlah uang yang dimusnahkan (PTTB)
kecuali Jakarta mengalami net inflow. Hal ini terutama sebagai akibat dari kebijakan pencabutan beberapa jenis
disebabkan aktivitas pengeluaran/belanja masyarakat Indo- pecahan serta dipengaruhi oleh meningkatnya penarikan
nesia sebagian besar terjadi di Jawa. uang kartal oleh masyarakat terutama menjelang akhir tahun.

Perkembangan Jumlah Temuan Uang Palsu


Triliun rupiah
Dari data statistik penemuan uang palsu yang berasal dari
30
Aliran Uang Masuk
laporan bank-bank, POLRI dan BI, dari tahun 1994 s.d. Novem-
Aliran Uang Keluar
25
ber 2000, jumlah uang palsu yang ditemukan sebesar 989.621
20 bilyet atau senilai Rp32,6 miliar (Tabel 8.2). Dari jumlah tersebut,

15
penemuan terbesar adalah untuk pecahan Rp50.000,00 yaitu
495.330 bilyet (50%), diikuti pecahan Rp20.000,00 sebanyak
10
287.891 bilyet (29,1%). Untuk periode Januari s.d November 2000
5
jumlah temuan uang palsu meningkat 48,8% dibandingkan
0 dengan jumlah temuan uang palsu dalam tahun 1999 yaitu
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

2000 dari 215.950 bilyet menjadi 317.124 bilyet (88,0% diantaranya

Grafik 8.2 adalah pecahan Rp50.000,00).


Perkembangan Aliran Uang Masuk/Keluar Dari jumlah uang palsu yang ditemukan menunjukkan
bahwa sebagian besar adalah uang palsu yang belum sempat

134
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Tabel 8.2
Perkembangan Penemuan Uang Palsu Per Pecahan Tabel 8.4
Tahun 1994 – 2000 Nisbah Uang Palsu Terhadap UYD

Jenis Pecahan Pecahan


Periode Bilyet Bilyet
Rincian
50.000 20.000 10.000 5.000 Jumlah 50.000 20.000 10.000 5.000

1994 14 2.340 1.925 624 4.903


1994 0,000000 0,000007 0,000003 0,000002
1995 74 5.349 7.224 403 13.050
1995 0,000001 0,000014 0,000009 0,000001
1996 128 5.379 9.904 2.537 17.948
1996 0,000001 0,000011 0,000014 0,000008
1997 16.392 139.938 82.274 234 238.838
1998 107.520 9.758 59.633 754 177.665 1997 0,000097 0,000250 0,000092 0,000000

1999 89.137 100.536 26.053 224 215.950 1998 0,000284 0,000014 0,000062 0,000001
20001) 282.065 24.591 12.766 1.845 321.267 1999 0,000124 0,000123 0,000035 0,000000

20001) 0,000641 0,000041 0,000025 0,000004


Jumlah 495.330 287.891 199.779 6.621 989.621

1) Data sampai dengan November 2000 1) Data sampai dengan November 2000

beredar di masyarakat, yang merupakan hasil penangkapan (BOTASUPAL). Bank Indonesia juga senantiasa meningkatkan
petugas POLRI. Data dari Januari s.d. November 2000 security features (tanda pengaman) pada setiap uang kertas
menunjukkan bahwa 83,7% uang palsu yang ditemukan yang akan diterbitkan dan meningkatkan sosialisasi mengenai
adalah berasal dari Kepolisian sedangkan sisanya (16,3%) keaslian uang rupiah kepada masyarakat. Selama tahun 2000
berasal dari laporan bank-bank (Tabel 8.3). telah dilakukan 55 kali penyuluhan, yang diikuti oleh siswa
Secara umum jumlah uang palsu yang ditemukan sekolah, guru-guru dan tokoh masyarakat. Selain upaya yang
cenderung meningkat. Apabila dibandingkan dengan uang bersifat preventif tersebut, Bank Indonesia menerapkan upaya
kartal yang diedarkan (UYD), berkisar antara 0 – 641 lembar represif dengan melakukan koordinasi dan kerja sama dengan
per satu juta lembar UYD (Tabel 8.4). Untuk itu, Bank Indonesia instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan
tetap meningkatkan kerja sama dengan instansi terkait dalam pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat
upaya memberantas peredaran uang palsu tersebut, antara dalam pemalsuan uang rupiah.
lain dengan Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu

Alat Pembayaran Bukan Tunai


Seperti alat pembayaran tunai, dalam tahun laporan transaksi
Tabel 8.3 menggunakan alat pembayaran bukan tunai juga meningkat
Pangsa Penemuan Uang Palsu Menurut Sumber Laporan
cukup tajam baik yang berbasis warkat maupun yang

POLRI Bank-Bank menggunakan kartu elektronik. Perkembangan tersebut


Periode
Persen sejalan dengan semakin maraknya kegiatan ekonomi selama
tahun laporan.
1998 84,4 15,6
1999 80,4 19,6
20001) 83,7 16,3 Alat Pembayaran Bukan Tunai Berbasis Warkat
1) Data sampai dengan November 2000 Sampai akhir tahun 2000, nominal kliring penyerahan secara
nasional menunjukkan peningkatan sebesar 41,7% dibanding

135
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Triliun Rp
Tabel 8.5
200
Perkembangan Perputaran dan Penolakan Kliring
Secara Nasional
Aktivitas Kliring Nilai Besar sebelum BI-RTGS
RTGS 2000
150 Aktivitas Kliring Nilai Besar setelah BI-RTGS Warkat Kliring 1997 1998 1999
I II III IV2)

100
Penyerahan
Nominal (Triliun Rp) 6.760 5.755 5.156 1.711 1.939 2.007 1.648
Lembar (ribu) 111.270 87.324 78.090 18.425 18.950 18.378 17.954
50
Penolakan1)
Nominal (Triliun Rp) 20,3 24,9 12,3 3,1 2,9 3,8 4,2
- Lembar (ribu) 1.944 1.247 852 203 225 227 237
17 21 23 27 29 01 06 07 11 13 15 19 21
November 2000 Desember 2000
1) Terdiri atas : Cek kosong, BG Kosong dan Alasan Lain
2) s.d. akhir bulan Desember 2000 (minggu ke-4 libur Natal, Idul Fitri dan tahun baru)

Transaksi

6.000
Aktivitas Kliring Nilai Besar sebelum BI-RTGS
ber 2000) yang memiliki risiko kegagalan bayar kecil, sangat
5.000 RTGS
Aktivitas Kliring Nilai Besar setelah BI-RTGS
diminati oleh kalangan perbankan nasional. Hal tersebut
4.000
ditunjukkan dengan kecenderungan beralihnya aktivitas kliring
3.000
nilai besar pada wilayah kliring Jakarta dari Otomasi Kliring
2.000 Jakarta (OKJ) dan Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ) ke
1.000 Sistem BI-RTGS (Grafik 8.4). Namun mengingat implementasi

-
Sistem BI-RTGS masih sangat baru, kelanjutan dari kecen-
17 20 21 22 23 24 27 28 29 30 01 04 05 06 07 08 11 12 13 14 15 18 19 20 21 22

November 2000 Desember 2000 derungan ini masih harus terus dicermati.
Apabila dilihat berdasarkan wilayah kliring, Jakarta
Grafik 8.4
masih merupakan penyumbang terbesar dalam nominal
Perkembangan Transaksi BI-RTGS
kliring penyerahan secara nasional (Tabel 8.6). Hal tersebut

tahun 1999, dari Rp5.156 triliun menjadi Rp 7.304 triliun. Secara Tabel 8.6
Perkembangan Perputaran dan Penolakan Kliring
umum hal ini didorong oleh meningkatnya kegiatan ekonomi
Menurut Wilayah
dalam tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1999. 1997 1998 1999 20003)
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, rangkaian Warkat Kliring Jakarta Luar Jakarta Luar Jakarta Luar Jakarta Luar
Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta
perayaan hari-hari besar keagamaan pada triwulan IV/2000,
Penyerahan
yang biasanya mendorong peningkatan volume warkat dan Nominal (triliun Rp) 6.120 640 4.659 1.095 4.144 1.012 6.222 1.082
Lembar (ribu) 55.273 55.997 41.531 45.793 38.805 41.285 35.650 38.057
nominal kliring penyerahan, tahun ini tidak menunjukkan
Penolakan1)
perilaku yang sama. Pada triwulan tersebut nominal perpu- Nominal (triliun Rp) 43 5 21 2 8 5 9 5
Lembar (ribu) 1.548 396 803 245 458 394 496 395
taran kliring penyerahan justru menurun dibandingkan dengan
PUAB2)
triwulan sebelumnya. Hal tersebut menyebabkan volume Nominal (triliun Rp) 6.244 6.641 2.250
Lembar (ribu) 492 442 177
warkat kliring penyerahan pada tahun 2000 turun 7,9 % dari
78.090 ribu lembar pada tahun 1999 menjadi 73.707 ribu lembar 1) Terdiri atas : Cek kosong, BG Kosong dan Alasan Lain
2) Sejak tanggal 19 Agustus 1999 pencatatan PUAB kliring dimasukkan dalam Nilai
Kliring Nominal Besar
(Tabel 8.5). Hal ini merupakan indikasi bahwa setelmen melalui 3) Sampai dengan akhir Desember 2000 (minggu ke-4 libur Natal, Idul Fitri
dan Tahun Baru)
sistem BI-RTGS (diimplementasikan pada tanggal 17 Novem-

136
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

pada tahun 2000 menunjukkan perbandingan yang relatif


Unit
tetap, yaitu 48,0% bagi wilayah Jakarta dan 52,0% untuk
1.600 Jakarta Luar Jakarta
wilayah luar Jakarta.
1.400
Dalam pada itu, kliring retur yang dipresentasikan oleh cek
1.200
dan bilyet giro kosong, menunjukkan kecenderungan pergerakan
1.000
yang searah dengan kliring penyerahan. Volume cek dan bilyet
800

600
giro kosong naik dari 852 ribu lembar pada awal periode laporan

400 menjadi 891 ribu lembar pada akhir Desember 2000, sedangkan

200 nominal cek dan bilyet giro kosong naik dari Rp 12,3 triliun menjadi
- Rp. 14,0 triliun.
Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
1999 2000 Dalam tahun 2000, jumlah bank peserta kliring turun
dari 2.178 kantor bank pada akhir 1999 menjadi hanya 1.973
Grafik 8.5
Perkembangan Kantor Bank Peserta Kliring kantor bank pada akhir tahun laporan (Grafik 8.5).
(Peserta Langsung) Penurunan terbesar terjadi di Jakarta yaitu sebesar 12,5 %
atau dari 681 kantor bank menjadi 596 kantor bank,
terlihat dari pangsa nominal kliring Jakarta terhadap kliring sedangkan luar Jakarta dari 1.497 kantor bank menjadi
secara nasional yang mencapai 85,2%. Wilayah kliring di luar 1.377 kantor bank.
Jakarta cenderung mengalami penurunan nominal kliring Sementara itu, bila dilihat dari penggunaan jenis warkat
yang ditunjukkan dengan terjadinya penurunan pangsa dari dalam kliring, sampai akhir periode laporan warkat berjenis
19,6% pada 1999 menjadi hanya 14,8%. Sementara itu, debet (cek, bilyet giro, nota debet, dan warkat debet lainnya)
pangsa volume warkat kliring berdasarkan wilayah kliring masih mendominasi dengan pangsa 54,6% (Grafik 8.6),
sedangkan warkat kredit hanya memiliki pangsa 45,4%. Dari
persentase warkat debit tersebut, bilyet giro masih merupakan
Warkat Debet Warkat Kredit
54,55% 45,45% warkat kliring yang paling banyak digunakan (48,2%), diikuti
oleh cek (6,1%). Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa

Tabel 8.7
Pertumbuhan Nominal Transaksi Alat Pembayaran
Bukan Tunai Elektronis

Jumlah 1) % Pertumbuhan dibanding


Lainnya Piranti
0,01%
Nota Debet Cek 2000 1999 1998
0,23% 6,10%

Kartu Kredit 13.639 31.65 176.16

Kartu Debet 4.663 45.17 80.75

Kartu Smart 0.001 (99.65) (99.97)


Bilyet Giro
48,21%
ATM 153.590 79.86 650.62

EFT/POS 0.898 7.99 95.28


Grafik 8.6
Pangsa Penggunaan Warkat dalam Kliring
(Wilayah Kliring Jakarta) 1) Jumlah dalam triliun rupiah

137
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Tabel 8.8
Perkembangan Alat Pembayaran Bukan Tunai Elektronis

2000
1998 1999
I II III IV

I. Kartu Kredit
Jumlah Pemegang (orang) 2.028.442 2.043 2.070.147 2.171.667 2.368.370 2.622.604
Jumlah Transaksi (ribu) 15.395 29.578 8.081 8.665 9.784 10.770
Volume Transaksi (triliun Rp) 4,9 10,4 3,0 3,2 3,6 3,9

II. Kartu Debet


Jumlah Pemegang (orang) 5.374.376 12.110.970 12.327.766 12.448.780 12.824.485 13.103.676
Jumlah Transaksi (ribu) 11.935 16.002 3.819 4.393 5.321 5.850
Volume Transaksi (triliun Rp) 2,6 3,2 0,8 1,1 1,3 1,5

III. Kartu Smart


Jumlah Pemegang (orang) 83.190 29.918 25.750 25.396 25.279 25.075
Jumlah Transaksi (ribu) 4.171 62 0,4 0,2 0,1 0,2
Volume Transaksi (triliun Rp) 2,6 0,2 0,0 0,0 0,0 0,0

IV. ATM
Jumlah Mesin (unit) 5.985 6.012 6.119 6.227 6.433 6.767
Jumlah Pemegang (orang) 13.169.663 16.195.251 13.989.452 17.278.118 17.859.821 18.786.094
Jumlah Transaksi (ribu) 171.802 408.766 100.087 113.601 126.751 130.732
Volume Transaksi (triliun Rp) 20,5 85,4 29,6 34,9 41,6 47,4

V. EFT/POS
Jumlah Mesin (unit) 4.213 5.089 5.523 5.793 6.599 7.005
Jumlah Pemegang (orang) 46.652 53.322 51.564 54.527 57.701 61.934
Jumlah Transaksi (ribu) 1.936 2.952 634 671 664 715
Volume Transaksi (triliun Rp) 0,5 0,8 0,2 0,2 0,2 0,2

penggunaan jenis warkat kliring yang lain (seperti Nota Debet, sia akan memindahkan Bagian Pengedaran, Kas Kota dan Kas
WBUT, SBPT) sangat jarang digunakan. Thamrin ke Gedung C, Bank Indonesia Thamrin. Untuk
mendukung pelaksanaan operasional perkasan di Kantor
Alat Pembayaran Bukan Tunai Elektronis / Berbasis Kartu Pusat, pemindahan tersebut sekaligus dilakukan bersamaan
Perkembangan alat pembayaran bukan tunai elektronis/ber– dengan implementasi Otomasi Administrasi Perkasan (OAP)
basis kartu pada tahun laporan tumbuh sejalan dengan aktivitas Kantor Pusat. Dengan adanya implementasi tersebut, maka
perekonomian yang direfleksikan oleh perkembangan uang seluruh transaksi perkasan di Kantor Pusat akan dilaksanakan
beredar dan aktivitas kliring. Hampir seluruh alat pembayaran secara on-line.
bukan tunai elektronis berbasis kartu ini memiliki kecenderungan
peningkatan pada akhir periode laporan, kecuali kartu Smart Penyempurnaan Surat Edaran Penyetoran dan
(Tabel 8.7 dan Tabel 8.8). Nilai transaksi alat pembayaran bukan Pembayaran
tunai elektronis (diluar kartu Smart) tahun 2000 meningkat sebesar Sehubungan dengan semakin meningkatnya aktivitas bank
41,2% dibanding tahun 1999. Perkembangan ini juga me– umum yang berdampak pada semakin meningkatnya tugas-
nunjukkan makin meningkatnya penerimaan masyarakat ter– tugas pengelolaan uang kartal, maka dipandang perlu untuk
hadap keberadaan alat pembayaran bukan tunai elektronis ini. menyempurnakan ketentuan tentang pengambilan dan
penyetoran uang kartal oleh bank umum di Bank Indonesia
Rencana pengembangan sistem pembayaran nasional dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI). Dengan penyem-
Peningkatan Pelayanan Kas di Kantor Pusat purnaan ketentuan tersebut, kegiatan pengambilan dan
Dalam rangka efisiensi dan meningkatkan pelayanan kepada penyetoran uang kartal di Bank Indonesia yang selama ini
perbankan serta memudahkan koordinasinya, Bank Indone- dilakukan oleh bank umum, nantinya dimungkinkan dapat

138
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

diserahkan kepada perusahaan jasa pihak ketiga yang tasikan di 12 Kantor Bank Indonesia. Pengintegrasian
melakukan kegiatan pengambilan, penyetoran dan sistem BI-RTGS di kantor pusat dan kantor cabang Bank
penukaran uang sepanjang perusahaan jasa pihak ketiga Indonesia ini akan menghapus rekening giro bank yang
tersebut mendapatkan kuasa dari bank pemegang rekening ada di kantor-kantor Bank Indonesia sehingga hanya ada
di Bank Indonesia. satu rekening giro bank di kantor pusat Bank Indonesia
(centralized settlement account).
Pengembangan Sistem Informasi Pengedaran Uang Penggabungan rekening ini menguntungkan bagi Bank
Untuk mendukung kegiatan-kegiatan di bidang pengedaran Indonesia maupun bank peserta. Penggabungan rekening
uang, seperti penyusunan rencana cetak, penyediaan stok tersebut memudahkan Bank Indonesia dalam memantau
uang dan kertas uang, sistem distribusi uang kertas/uang ketaatan bank dalam memenuhi kebutuhan Giro Wajib Mini-
logam dan lain sebagainya, pada pertengahan tahun 2001 mum (GWM). Selain itu, Bank Indonesia dapat memantau
akan diterapkan Sistem Informasi Pengedaran Uang (SIPU). likuiditas bank, sehingga dapat dipakai sebagai early warn-
Sistem ini merupakan database khusus yang terpisah dari ing system bagi bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas.
sistem OAP yang selama ini diterapkan di Satuan Kerja Kas Bagi bank peserta, penggabungan rekening ini memudahkan
Bank Indonesia. Dengan penerapan SIPU tersebut, maka mereka untuk melakukan pengawasan terhadap posisi
penyediaan informasi yang berkaitan dengan bidang likuiditasnya sehingga bank dapat mengelola dananya secara
perkasan menjadi semakin cepat dan up to date. efektif dan efisien.
Selanjutnya, untuk terus menurunkan risiko yang
Standardisasi Uang Kertas terkandung dalam sistem kliring, maka ketentuan "Cap"
Salah satu aspek yang menjadi pertimbangan dalam (pembatasan nilai transaksi) maksimum atas warkat transfer
pencetakan uang adalah agar uang tersebut mudah dan melalui kliring akan segera diberlakukan pada awal tahun
nyaman digunakan. Dalam arti yang lebih luas, secara fisik 2001. Dengan diberlakukannya "Cap" tersebut, maka transaksi
uang yang dicetak tidak akan menimbulkan kesulitan bagi mulai Rp1 miliar ke atas harus melalui sistem BI-RTGS,
pengguna baik masyarakat umum maupun perbankan. Oleh sedangkan transaksi dengan nilai dibawah Rp 1 miliar akan
karena itu, untuk memudahkan masyarakat pengguna uang diselesaikan melalui sistem kliring.
rupiah, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan Di samping itu, untuk menurunkan risiko setelmen di
menyeragamkan ukuran lebar dari setiap pecahan uang pasar uang dan pasar modal, akan dilakukan pengem-
kertas yang akan diterbitkan disertai peningkatan security fea- bangan Delivery Versus Payment (DVP) tahap pertama. Dari
tures sebagaimana yang sudah dilakukan terhadap beberapa pengembangan ini akan tercipta suatu integrasi sistem
pecahan uang kertas emisi baru. Dengan demikian di masa setelmen antara sisi pembayaran (payment leg) melalui
yang akan datang, untuk mengetahui perbedaan pecahan sistem BI-RTGS dengan sisi penyerahan sekuritas (delivery leg)
uang kertas secara sepintas dapat dilihat dari ukuran melalui sistem setelmen sekuritas
panjangnya saja.
Penyempurnaan aktivitas kliring
Pengembangan RTGS Dalam rangka mengurangi risiko pembayaran antarbank,
Sebagai kelanjutan dari program RTGS tahap pertama serta untuk meningkatkan efisiensi dan pengawasan dalam
yang telah diimplementasikan pada November 2000, pelaksanaan kliring maka sejumlah penyempur naan
penerapan Sistem BI-RTGS sebagai suatu mekanisme direncanakan akan diberlakukan pada tahun 2001.
setelmen transaksi nilai besar/urgent akan diimplemen- Penyempurnaan tersebut meliputi :

139
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Upgrade sistem Otomasi Kliring Medan (OKM) Pengembangan Bulk Interbank Payment System (BIPS)
Upgrade akan dilakukan terhadap mesin reader/sorter (R/S) pada Pembayaran bulk adalah pembayaran-pembayaran antar
KBI Medan yang belum berbasis image menjadi berbasis image bank yang bersifat rutin dengan volume tinggi dan bernilai
pada akhir 2001. Penyempurnaan ini dilakukan untuk meng- nominal rendah seperti transaksi pembayaran gaji/upah, kartu
antisipasi peningkatan volume kliring di wilayah kliring Medan. kredit, asuransi, angsuran kredit, tagihan telepon/listrik/air, dan
lain-lain. Pada saat ini sudah banyak bank yang memiliki produk
Penerapan Otomasi Kliring Bandung (OKB) pembayaran bulk yang memungkinkan masyarakat atau
Sampai saat ini volume warkat pada wilayah kliring Bandung perusahaan untuk melakukan pembayaran telepon/listrik/air,
sudah sedemikian tingginya untuk tetap dilayani dengan sistem gaji/upah, kartu kredit, dan lain-lain secara autodebet.
kliring Semi Otomasi Kliring Lokal (SOKL). Sehubungan dengan Perkembangan ini dapat mengurangi efisiensi perbankan
hal tersebut, perlu dilakukan otomasi kliring guna mengatasi karena mereka harus menyediakan SDM, investasi mesin dan
permasalahan yang timbul bila terjadi peningkatan volume biaya pencetakan warkat.
klring di kemudian hari. Selain itu penerapan OKB juga ditujukan Di sisi Bank Indonesia melonjaknya volume warkat-warkat
agar pemrosesan warkat dapat menjadi lebih cepat dan kliring pada hari pembayaran transaksi bulk menyebabkan
efisien serta merupakan antisipasi terhadap pengembangan tekanan yang cukup berat pada proses warkat kliring di mesin
sistem pembayaran di masa mendatang. reader sorter yang pada akhirnya dapat memperlambat
setelmen hasil kliring perbankan. Pada tahun 2001, Bank Indo-
Pengembangan sarana back up data image warkat nesia diharapkan dapat mengimplementasikan kliring khusus
kliring (CD Burner) di Jakarta, Bandung dan Surabaya untuk transaksi-transaksi bulk sehingga transaksi antar bank
Untuk mengatasi keterbatasan sistem (baik hardware maupun lainnya yang telah dilakukan melalui kliring saat ini menjadi
software) guna menyimpan data image dalam jangka waktu lebih efisien.
yang panjang (saat ini jangka waktu maksimum 30 hari), serta
untuk mengantisipasi kemungkinan permintaan data dan Implementasi Back End Switch.
informasi kliring yang terjadi setelah melampaui 30 hari, Untuk mengefisienkan proses pembukuan dan switching pada
diperlukan suatu media penyimpan yang mampu bank-bank penyelenggara ATM di Indonesia, serta untuk
mengoptimalkan penggunaan teknologi image yang sekaligus memberikan tambahan kemudahan dan keamanan bagi
meningkatkan kualitas informasi yang dihasilkan, tanpa para nasabah penggunanya, maka Bank Indonesia akan
meninggalkan aspek efisiensi biaya. Untuk maksud tersebut, memfasilitasi dan mendorong (dalam bentuk moral suassion)
CD Burner diharapkan dapat diimplementasikan pada KBI bank-bank penyelenggara ATM untuk dapat menghubungkan
penyelenggara kliring yang menggunakan basis image. jaringannya satu sama lain.

140
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Boks : Proses Pembuatan Uang Rupiah

Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999, Bank Indonesia merupakan satu- sedangkan untuk logam uang tidak mudah luntur dan
satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan uang ru- rusak dalam peredaran.
piah. Sejalan dengan tugas dimaksud, Bank Indonesia harus dapat (b) Proses cetak uang dapat menghasilkan hasil cetak yang
menjamin tersedianya uang yang cukup dalam berbagai pecahan, baik sesuai dengan standar yang diinginkan.
kapan dan dimanapun diperlukan dengan kualitas baik serta kondisi (3) Mudah dikenali (easily recognizable)
layak edar. Untuk dapat mencapai hal tersebut, dalam setiap Agar masing-masing jenis dan pecahan mudah dikenali
penerbitan uang baru diupayakan agar uang yang diterbitkan dengan cepat oleh masyarakat termasuk penyandang tuna
harus dapat mempermudah kelancaran transaksi pembayaran netra, maka warna, gambar desain dan ukuran untuk masing-
tunai serta dapat diterima dan dipercaya oleh masyarakat. masing pecahan dibuat dengan perbedaan yang jelas,
Dasar pertimbangan yang digunakan dalam penerbitan khususnya uang logam.
uang baru antara lain : (4) Sulit dipalsukan (secure against counterfeiting)
(1) Menyederhanakan satuan hitung dan untuk memperlancar Untuk menghindari pemalsuan, maka dalam menerbitkan
transaksi pembayaran tunai dengan melakukan uang baru diperlukan suatu perpaduan gambar desain uang,
penyederhanaan atau menata kembali pecahan-pecahan unsur pengaman (security features) dan proses cetak dengan
yang ada. menggunakan teknologi yang canggih.
(2) Melakukan penyesuaian terhadap perkembangan ekonomi Agar dapat menerbitkan uang baru dalam jumlah yang
seperti tingkat inflasi dan perubahan nilai tukar. cukup, maka dalam memperhitungkan jumlah uang yang dicetak
(3) Melakukan perubahan-perubahan pada uang untuk harus memperhatikan faktor-faktor pertumbuhan UYD yang
meningkatkan kualitas dan efisiensi pengadaan, seperti mempertimbangkan variabel-variabel ekonomi seperti pertumbuhan
penggantian unsur pengaman (security features) dan ekonomi, laju inflasi, suku bunga dan kurs; serta penggantian uang
antisipasi terhadap kemungkinan pemalsuan terhadap uang lusuh yang telah dimusnahkan dan persediaan uang tunai di seluruh
yang sudah beredar cukup lama. satuan kerja kas. Penerbitan uang (emisi) baru tersebut harus
(4) Memperingati suatu kejadian tertentu yang bersifat monumen- didasarkan pada suatu penelitian yang komprehensif dan
tal dalam bentuk uang peringatan. perencanaan yang matang agar uang yang diterbitkan tersebut
Dalam menerbitkan uang baru diupayakan agar fisik uang memiliki kualitas yang baik dan memenuhi karakteristik di atas dengan
tersebut memiliki karakteristik : biaya yang dikeluarkan wajar dibandingkan mutu dan jumlah yang
(1) Mudah dan nyaman digunakan (user friendly) dicetak. Untuk dapat mencapai hal tersebut, maka keputusan
Bertujuan agar uang tersebut tidak akan menimbulkan menerbitkan uang biasanya dikeluarkan jauh sebelum penerbitan
kesulitan bagi pengguna baik masyarakat umum maupun dilakukan, yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
para kasir dan pengguna uang lainnya serta memiliki aspek (1) Tahap Persiapan
kepraktisan dan kemudahan. (a) Penetapan desain uang
(2) Tahan lama (durable) – Pemilihan gambar desain uang yaitu gambar
Diupayakan agar uang baru tersebut memiliki kualitas baik utama dan gambar lain sebagai pendukung yang
dan memungkinkan masa edar relatif lama sesuai dengan umumnya bersifat nasionalistik seperti flora, fauna,
jenis dan besarnya pecahan, dengan memperhatikan : kesenian, pemandangan alam, kebudayaan dan
(a) Bahan uang yang digunakan berkualitas, sehingga kertas pahlawan nasional. Dalam tahap ini, ditetapkan
uang tidak mudah lusuh, relatif tahan terhadap iklim juga pemilihan terhadap gambar tanda air (water-
panas dan kelembaban, unsur pengaman tetap terjaga, mark).

141
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

– Pemilihan warna berupa warna dominan untuk (d) Persiapan untuk pencetakan
memudahkan masyarakat membedakan suatu – Setelah rencana gambar desain uang dan unsur
pecahan. Warna uang merupakan salah satu unsur pengaman telah ditetapkan, Bank Indonesia
pengaman uang, sehingga dalam pewarnaan uang meminta perusahaan pencetak uang membuat
di beberapa bagian dibuat gradasi warna tertentu usulan gambar uang yang sebenarnya dan apabila
agar sulit dipalsukan. sesuai akan disampaikan kepada Dewan Gubernur
– Ukuran uang yang mempertimbangkan masalah untuk mendapat persetujuan.
kepraktisan dan kemudahan bagi pengguna; – Berdasarkan persetujuan Dewan Gubernur
memungkinkan dioperasikan dalam mesin/alat kas tersebut, dibuat master dies dan plat cetak oleh
(mesin sortasi uang, mesin hitung uang dan kemasan perusahaan pencetak uang serta dilakukan
uang) dan ATM serta digunakan dalam vending ma- pengadaan bahan uang sesuai dengan spesifikasi
chines; dan membantu masyarakat membedakan yang ditetapkan.
pecahan uang berdasarkan ukuran uang yang – Perusahaan pencetak uang membuat contoh uang
berbeda. dalam bentuk beberapa lembar besar dan single
– Teks pada uang dalam bentuk huruf dan angka note pada bahan uang baru yang apabila sesuai
dibuat kasat mata dan tidak kasat mata. disampaikan kepada Dewan Gubernur untuk
(b) Pemilihan unsur pengaman (security features) mendapat persetujuan. Berdasarkan persetujuan
Merupakan salah satu aspek yang penting untuk tersebut, perusahaan pencetak uang melakukan
mencegah upaya pemalsuan, dengan memper- pencetakan yang baru sesuai dengan
timbangkan : penempatan cetak yang ditetapkan oleh Bank In-
– Diperlukan unsur pengaman yang lebih baik dan donesia.
semakin kompleks untuk pecahan besar. (2) Tahap Produksi (Pencetakan) Uang
– Didasarkan pada hasil observasi atau penelitian, (a) Sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia No.34 Tahun
khusus pecahan besar diterapkan satu atau 2000 pencetakan uang rupiah dilakukan oleh Perum
beberapa unsur pengaman yang canggih agar Peruri, kecuali apabila Perum Peruri menyatakan
upaya pemalsuan tidak sempurna. ketidaksanggupan untuk melaksanakan pencetakan
– Perkembangan ciri-ciri uang palsu dan teknologi cetak uang dimaksud, maka pencetakan uang dilakukan di
yang digunakan seperti electronic scanners, color tempat lain.
management software dan sophisticated printers. (b) Persyaratan yang menetapkan hasil cetak harus memiliki
(c) Rencana penempatan unsur pengaman kualitas yang baik dan memenuhi spesifikasi yang
Perlu dilakukan pembahasan terlebih dahulu dengan ditetapkan.
pihak pencetak uang dan pabrikan mesin sortasi untuk Pada tahap ini, hasil cetak yang diterima dari Perum Peruri
menetapkan letak : harus sesuai dengan jadwal penyerahan Hasil Cetak Sem-
– Overt security features yang mudah diketahui purna (HCS) yang telah disepakati antara Bank Indonesia dan
maupun dideteksi oleh masyarakat awam, kasir Perum Peruri. Namun tidak tertutup kemungkinan adanya Hasil
perbankan dan pengguna lainnya. Cetak Tidak Sempurna (HCTS) yang selanjutnya akan
– Covert security features agar dapat dideteksi oleh sen- dimusnahkan oleh Bank Indonesia.
sor yang terletak pada posisi-posisi tertentu dalam sortasi (3) Tahap Kampanye dan Penerbitan Uang (Emisi) Baru
uang. Apabila unsur pengaman yang dipilih Kampanye dilakukan secara efektif beberapa waktu sebelum
mengakibatkan penambahan sensor maupun penerbitan uang agar masyarakat memahami dan akan
penyesuaian, diusahakan dengan biaya seminimal mengenali ciri-ciri uang baru melalui press release, brosur, leaf-
mungkin. let, media cetak, radio, TV, dll.

142
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Proses Penerbitan Uang Baru Secara garis Besar


Bank Indonesia
Peruri Keterangan
Satuan Kerja Pimpinan

Masukan
A = Arsip

Catatan Usulan Catatan Usulan Asumsi : Usulan langsung


Penerbitan Uang Baru Penerbitan Uang Baru disetujui

A
Surat permintaan Surat permintaan
untuk membuat untuk membuat
desain uang desain uang

Asumsi : Desain yang diajukan


Desain uang dan Desain uang dan oleh Peruri layak untuk diajukan
tanda terima tanda terima kepada pimpinan Bank Indonesia
Catatan
Asumsi : Pimpinan langsung
Desain setuju terhadap desain yang
Tanda terima
diajukan
Catatan Permintaan
persetujuan desain

Catatan
Desain Desain

A
Asumsi proof cetak yang
Proof cetak 2 set Proof cetak 2 set diajukan oleh Peruri layak
dan tanda terima dan tanda terima untuk diajukan kepada
Catatan pimpinan Bank Indonesia
Proof cetak
Tanda terima 2 set Asumsi : Pimpinan langsung
Catatan Persetujuan setuju terhadap proof cetak yang
proof cetak 2 set diajukan

Proof cetak Catatan


1 set proof cetak diserahkan
Proof cetak kepada Peruri disertai tanda
2 set terima dan 1 set proof cetak
lainnya disimpan oleh Satuan
Kerja
CETAK MASSAL A

143
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Boks : Uang Palsu "Permasalahan dan Penanggulangannya"

Uang palsu merupakan suatu permasalahan yang dihadapi a. Memasyarakatkan ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui
oleh hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. media elektronik, penataran kepada kasir, guru,
Dalam segala kegiatan transaksi ekonomi di suatu negara, penyebaran pengumuman, brosur dan leaflet.
keberadaan uang palsu adalah hal yang sulit dihindari b. Meningkatkan unsur pengaman (security features) pada
karena uang memiliki fungsi yang sangat strategis dalam uang baru yang meliputi bahan uang, disain, warna dan
kelangsungan hidup manusia, pemerintahan dan/atau teknik cetak uang.
negara. Unsur strategis tersebut karena selain digunakan c. Meningkatkan kerja sama dengan instansi terkait yaitu
sebagai alat transaksi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, BOTASUPAL (Badan Koordinasi Pemberantasan Uang
uang juga dapat dijadikan sebagai alat politik untuk Palsu).
menjatuhkan perekonomian suatu negara. Agar keber- d. Meningkatkan kerjasama internasional.
adaan uang di suatu negara sesuai dengan fungsi dan e. Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai
tujuannya, maka upaya pencegahan terhadap keber- pihak-pihak yang harus dihubungi (Bank Indonesia/
adaan uang palsu dilakukan baik secara preventif maupun Perbankan/Kepolisian) apabila menemukan uang palsu.
represif. Selain upaya preventif sebagaimana tersebut di atas,
Beberapa tahun terakhir, terutama sejak Indonesia maka tindakan represif yang dilakukan lebih banyak terkait
mengalami krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 dengan instansi lain yang berwenang untuk memberikan
yang berlanjut menjadi krisis ekonomi, tindak pemalsuan sanksi, antara lain pihak Kepolisian Republik Indonesia.
uang rupiah menjadi topik yang menarik dalam Berdasarkan laporan dari bank-bank dan kepolisian,
pemberitaan di berbagai media massa. Salah satu faktor penemuan uang palsu pada dua tahun terakhir mengalami
yang menyebabkan masih beredarnya uang palsu saat ini, peningkatan, yaitu tahun 1999 meningkat 21,6% dibandingkan
antara lain : tahun 1998 dan pada tahun 2000 (periode Januari s.d. No-
a. Sebagian besar masyarakat masih belum mengetahui vember) meningkat 48,8% dibandingkan tahun 1999. Selama
secara jelas mengenai ciri-ciri keaslian uang rupiah, periode Januari s.d. November 2000, jumlah uang palsu yang
sehingga masyarakat sulit membedakan antara uang beredar di masyarakat sebanyak 321.267 lembar atau sebesar
asli dan uang palsu. 0,0004% dibandingkan dengan jumlah uang yang diedarkan.
b. Jumlah setoran nasabah yang besar, mengakibatkan Dari jumlah tersebut sebesar 16,3% merupakan uang palsu
bank-bank mangalami kesulitan dalam melakukan sortir yang berasal dari temuan bank-bank (sudah beredar di
terhadap uang yang masuk, sehingga memungkinkan masyarakat) dan 83,7% merupakan hasil temuan pihak
masuknya uang palsu ke dalam sistem perbankan. Kepolisian (belum beredar di masyarakat).
c. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pemalsuan Pemalsuan uang yang ada saat ini dapat dideteksi dari
uang karena keterbatasan informasi, keengganan untuk teknik pencetakan dan bahan yang digunakan. Teknik
melaporkan uang palsu sehingga uang palsu tersebut pencetakan uang palsu yang banyak digunakan atau 64,2%
beredar kembali di masyarakat. menggunakan offset, sedangkan sisanya sebesar 35,8%
Dalam rangka mengantisipasi tindak pidana menggunakan color printer. Bahan baku yang digunakan dalam
pemalsuan uang rupiah, Bank Indonesia sebagai lembaga pembuatan uang kertas palsu akhir-akhir ini adalah kertas sekuritas
yang memiliki kewenangan dalam mengeluarkan dan berserat kapas yang umumnya digunakan untuk pembuatan
mengedarkan uang rupiah senantiasa melakukan upaya- surat berharga seperti ijasah dan piagam. Perbedaan kertas
upaya penanggulangan yang bersifat preventif sebagai tersebut dengan bahan kertas uang asli yaitu tidak memendar di
berikut : bawah lampu ultra violet.

144
Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Tindakan pemalsuan uang merupakan tindak Berdasarkan tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh
pidana dan pihak yang berwenang menindak sesuai masing-masing pihak tersebut, maka dalam pengertian yang
ketentuan hukum pidana adalah Kepolisian Republik lebih luas upaya penanggulangan uang palsu tidak semata-
Indonesia. Dalam hal ini sesuai dengan cakupan tugas, mata menjadi tanggung jawab Bank Indonesia maupun
wewenang dan tanggung jawab, Bank Indonesia lebih Kepolisian, melainkan menjadi tanggung jawab semua pihak
banyak berperan mengambil langkah-langkah preventif termasuk pihak-pihak yang berkepentingan baik perbankan
yang sifatnya lebih banyak membantu pihak berwenang. maupun masyarakat pada umumnya.

145
Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional
bab
Bab 9 Perekonomian Dunia da