Anda di halaman 1dari 16

BAB V.

PENGOLAHAN LIMBAH

Timbunan limbah dari aktivitas perusahaan diinventarisasikan dengan


identifikasi dan klasifikasi jenis limbah termasuk Limbah Berbahaya dan
Beracun (B3) untuk menentukan penanganan yang tepat dalam
pengelolaannya agar risiko lingkungan dapat diminimalkan. Inventarisasi
limbah B3 secara rutin dimutakhirkan dan dilaporkan kepada pihak internal
maupun eksternal. Dalam pengelolaan limbah, biaya yang dikeluarkan per
tahun meliputi biaya proses incinerator, landfill dan pengiriman limbah ke
perusahaan pengolah limbah berizin. PT LNG Nishiroku juga menerapkan
prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai upaya meminimalisasi limbah.
Prinsip Reduce diantaranya adalah menerapkan dokumentasi
elektronik (paperless system) untuk mengurangi pemakaian kertas,
membentuk Chemical Quality Control (CQC) Team yang bertugas mengkaji
penggunaan bahan-bahan kimia di Industri LNG, dan meningkatkan kinerja
penerapan prosedur standar operasi yang ketat untuk pencegahan tumpahan
bahan-bahan kimia. Prinsip Reduce diterapkan pada proses regenerasi larutan
Amine pada CO2 Removal Unit, proses regenerasi air untuk umpan boiler,
pemanfaatan kembali air laut untuk proses pendinginan serta pemanfaatan
kembali scrap material.
Prinsip Recycle diterapkan untuk mengelola minyak pelumas bekas.
Tahap awal dari proses daur ulang adalah proses pemisahan air dan pengotor
lain dari minyak pelumas bekas. Proses ini dilakukan oleh Environmental
Control Section. Tahap berikutnya yaitu proses daur ulang dilakukan bekerja
sama dengan perusahaan pengelola minyak pelumas bekas yang memiliki
lisensi dari Kementerian Lingkungan Hidup.
PENANGGULANGAN LIMBAH GAS ( Flare )
Pencegahan dan penangulangan gas flare yang nantinya di bakar di
cerobong yang bersifat statis. Gas flare biasanya merupakan gas yang
mengandung senyawa pengotor dan aditive namun biasanya kandungannya
dibawah ambang batas gas buang. Adapun utuk mengurangi emisi dapat
digunakan system Flare Gas Recovery.
Flare Gas Recovery adalah salah satu metode yang digunakan untuk
menurunkan flare loss dengan cara me-recover flare gas yang mempunyai
nilai potensial untuk dijadikan sebagai feedstock (feed Hydrogen Plant), fuel

ataupun product (seperti LPG). Flare Gas Recovery Unit ini juga dapat
menurunkan emisi kilang dari produk samping pembakaran seperti NOX, CO,
dan CO2.
Flare Gas Recovery Unit memberikan keuntungan bagi suatu unit
proses / kilang, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Menurunkan flare loss


Menurunkan fuel consumption suatu kilang
Menurunkan steam consumption suatu kilang
Meningkatkan flare tip life.
Menurunkan emisi dari operasi kilang.

Berikut metode yang digunakan untuk menurunkan flare loss :


1. Review kondisi peralatan proses untuk minimize bukaan
control valve yang ke flare.
2. Mengidentifikasi valve yang bocor ke flare secara terus
menerus dan lakukan perbaikan.
3. Pertimbangan pemasangan flare gas recovery.
4. Potensi
Penghematan
Flare
Gas
Recovery.
Potensi
penghematan yang diperoleh dari flare gas recovery adalah
cukup siqnifikan.
Sistem flare gas recovery dengan emisi lebih rendah dilakukan dengan
merecover flare gas sebelum dibakar di flare. Dalam praktek, system flare gas
recovery mengumpulkan gas dari flare header sebelum menuju ke flare,
menekan dan mendinginkannya untuk digunakan kembali dalam system
refinery fuel gas. Sebaliknya tergantung pada komposisi flare gas, vapor yang
direcover juga dikembalikan sebagai refinery feed stock. Sistem flare gas
recovery memberikan keuntungan lain yaitu dengan adanya penurunan biaya
fuel gas, nyala api, bau dan media pembantu flare untuk menghilangkan asap
seperti steam. Operator refinery mengakui bahwa implementasi system
recovery ini memerlukan evaluasi operasi flare existing dan rancangan unit
recovery.
Sistem recovery unit harus memproses flare gas secara aman dan
efisien. Oleh karena itu, refinery mengembangkan strategi total project yang
meliputi fasilitas analisa proses data, review peralatan flare existing, detail
fabrikasi design system dan instalasi, commissioning, training dan
performance test.

Refinery Arkansas mengoperasikan 2 macam flare, satu untuk service


tekanan rendah dan yang lain untuk service tekanan tinggi. Melalui
pembakaran, flare membuang gas buangan ke lingkungan secara aman.
Dalam operasi refinery / kilang, gas buangan yang mudah terbakar di
venting / dibuang dari unit proses selama unit upset ataupun unit normal
operasi. Buangan gas dikumpulkan dan dikirim ke flare system melalui pipa
header untuk pembuangan yang aman. Fungsi utama flare adalah untuk
melindungi fasilitas-fasilitas, pekerja dan lingkungan sekitar kilang, Flaring gas
menciptakan emisi-emisi seperti Nitrogen Oxides (NOx) Sulphur Oxides (SOx)
dan greenhouse gas (CO2, CO). Komponen-komponen ini berkombinasi
dengan hydrocarbon yang tidak terbakar mempunyai kontribusi terhadap total
emisi. Dalam koordinasi dengan departemen yang mempunyai wewenang
terhadap lingkungan, refinery ini melakukan investigasi potensi-potensi yang
ada untuk mengurangi total emisi. Berdasarkan hasil investigasi dari kedua
pihak, refinery dan departemen lingkungan sepakat untuk memulai suatu
rencana penurunan emisi yang lebih rendah dengan melakukan penurunan
flaring pada bagian ini. Flare gas recovery sudah terbukti sebagai solusi yang
lebih baik.
Diskripsi Proses
Flare Gas Recovery System yang diusulkan adalah paket skid-mounted
peralatan utamanya terdiri dari 2 compressor yang mengkompresi gas dari
flare gas header upstream liquid seal drum, dan mendinginkannya untuk
digunakan kembali di fuel gas system. Secara normal gelembung flare gas
melalui water seal dalam seal drum upstream flare stack. Level liquid dalam
seal drum menentukan positive back pressure dalam flare header dan
menjamin bahwa udara tidak masuk / tertarik ke dalam flare system. Untuk
penyediaan tekanan suction yang lebih baik sementara menghindari
masuknya udara ke suction flare gas compressor, modifikasi diperlukan untuk
menaikan level air dalam water seal drum. FGRS diletakan pada downstream
knockout drum flare gas dari berbagai unit dalam refinery. Flare gas masuk ke
compressor pada tekanan 1.1 kg/cm2 Abs dan 38 oC. Resirkulasi flow air
proses secara kontinyu masuk compressor untuk kompresi, sealing dan
pendinginan gas. Sesudah meninggalkan compressor , gas, air dan campuran
hydrocarbon masuk Gas/Liquid Separator dimana gas yang dikompresi
dipisahkan dari air dan kondensat hydrocarbon secara gravity karena
kecepatan gas yang lebih rendah. Flare gas yang terpisah melalui demister
sebelum meninggalkan Gas/Liquid Separator agar supaya kandungan air dan
kondensat hydrocarbon dalam gas sekecil mungkin. Dan gas keluar dari top
Gas/Liquid Separator pada tekanan 8.0 kg/cm2 Abs dan temperatur kira-kira

50 oC. Water proses meninggalkan Gas/Liquid Separator dari bottom dimana


ditekan kembali ke compressor akibat perbedaan tekanan antara Gas/Liquid
Separator dan inlet compressor (liquid ring). Operasi normal flow rate liquid
ring kira-kira 32 m3/hr. pada 38 oC. Shell dan tube cooler pada liquid ring line
menjamin pendinginan pada ring dan oleh karena itu kompresi gas isothermal.
Cooler didisain untuk duty 2 compressor. Flare gas dalam kondisi kering tetapi
proses kompresi, gas menjadi jenuh dengan air. Ini menyebabkan air secara
kontinyu menurun dalam system. Akibat kenyataan ini dan untuk
menghilangkan liquid ring water proses dari hydrocarbon, line make up water
ke line suction compressor disediakan. Hydrocarbon yang terkondensasi
meluap ke OWS dari tempat dimana kondensat dikeluarkan dengan
menggunakan Level Controll Valve. Water proses meluap melalui weir ke alat
pengumpul. Level di alat tersebut di jamin oleh control valve yang dikontrol
oleh level transmitter. Excess water dikirim ke OWS.Unit ini mempunyai bypass / spill back antara inlet dan outlet unit untuk mengontrol tekanan inlet.
Jika tekanan inlet turun dibawah nilai tertentu, valve mulai membuka sampai
tekanan inlet naik. Gas dari Gas/Liquid Separator dialirkan ke Flare Gas Amine
Absorber dimana gas ditreating di Amine unit untuk menghilangkan H2S yang
ada dalam gas. Gas treated dari Amine Absorber dialirkan ke Fuel Gas header.
Jika volume gas dilepas ke flare system melebihi kapasitas Flare Gas Recovery
System, kelebihan volume gas akan mengalir ke flare stack. Jika volume gas
yang dilepas ke flare system lebih kecil dari kapasitas penuh (disain) recovery
unit, valve spillback akan mengarahkan discharge gas kembali ke suction
header untuk mempertahankan kapasitas FGRS.
Pemilihan Compressor
Pemilihan compressor dan perancangan compressor adalah penting
untuk kapasitas dan kemampuan system. Pada tahap perancangan project,
John Zink memlih tipe dan jumlah compressor yang paling cocok untuk
aplikasi. Teknologi liquid compressor digunakan secara umum karena
kontruksinya yang kuat dan tahan terhadap hantaman liquid dan
penyumbatan gas yang kotor. Bagaimanapun aplikasi spesifikasi teknik
memungkinkan menggunakan tipe compressor lain seperti rotary screw,
reciprocating, sliding vane, atau rotary lobed. Liquid ring compressor lebih
disukai dan paling tepat dari type lain (seperti reciprocating, screw,
sentrifugal, dll) yang tersedia di pasar untuk servis ini, dimana liquid ring
compressor menjamin mendekati kompresi isothermal dan pada hakekatnya
beroperasi explosion proof.
Liquid Seal

Selama operasi, flare gas recovery unit melepaskan gas dari main flare
header. Dalam kondisi yang tidak terkendali, hal ini akan menciptakan kondisi
vakum yang tidak diinginkan dalam header dan memungkinkan udara tertarik
masuk ke system dari flare tip. Oleh karena itu kondisi positip pressure dalam
flare header harus dipertahankan dengan menggunalan liquid seal. Liquid seal
drum mempunyai peralatan internal yang menjamin flow gas yang ke flare tip
dalam kondisi steady hingga menaikkan kapasitas makimum smokeless flare
dengan jumlah tambahan energi yang minimum.
Keuntungan utama liquid seal yakni :
1. Mempunyai performance yang terbukti baik dalam banyak
flare.
2. Meminimize noise akibat tidak stabilnya pembakaran
3. Positif flame arrestor dalam kejadian flash back.
4. Meminimize entrainment.
FGRU (Flare Gas Recovery Unit) menarik gas dari upstream liquid seal
drum flare header dan me-recover gas yang normalnya dibakar di flare.
Recovery system beroperasi untuk mempertahankan sedikit positip pressure
pada flare header upstream liquid seal, hal ini untuk menjamin udara tidak
masuk ke flare gas recovery unit. Jika sejumlah gas dilepaskan ke flare system
melebihi kapasitas flare gas recovery unit, pressure dalam flare header akan
naik sampai melewati tekanan balik yang diciptakan oleh level liquid dalam
liquid seal drum. Pada titik ini, sejumlah gas lebih akan mengalir ke flare. Jika
sejumlah gas yang dilepas ke flare system lebih kecil dari kapasitas penuh
FGRU, maka system akan menurun secara otomatis dengan mengatur stage
compressor dan mengarahkan discharge gas kembali ke suction header. Dasar
operasi FGRU menggunakan teknologi liquid ring compressor sebagai berikut :
Flare gas yang direcover mengalir langsung ke FGRU skid dan menuju
liquid ring compressor. Gas yang direcover dan sebagian liquid sealing
bergabung didalam compressor dan dischargenya masuk ke vessel separator,
disini liquid dan gas akan dipisahkan. Selanjutnya sealing liquid compressor
didinginkan menggunakan heat exchanger dan dikembalikan lagi ke
compressor. Volumetric control dilengkapi dengan menggunakan sensor
tekanan suction yang mengawali signal ke Programmable Logic Controller
(PLC). PLC mengontrol peralatan yang penting untuk menjaga flow yang tepat
ke FGRU.
Preliminary Design

Refinery menghubungi team engineer flare gas recovery yang


mempunyai pengalaman dari segi teknologi flae dan aplikasi recovery untuk
melakukan penilaian engineering awal dan studi kelayakan. Team engineering
ini melakukan pengujian untuk mengumpulkan data operasi dan mereview
peralatan existing untuk menetapkan design system flare gas recovery yang
secara efisien mengontrol emisi pada modal dan biaya operasi yang efisien.
Untuk menentukan flow rate flare header secara tipical, engineer memasang
peralatan instrumentasi di upstream pada masing-masing flare. Flow ini diukur
dan direcord secara electronic untuk beberapa minggu untuk mengetahui pola
aliran dihubungkan dengan kondisi normal operasi harian.
Selama survey flare gas, Juru teknik laboratorium refinery
mengumpulkan sampel gas yang dianalisa dengan gas chromatography untuk
menentukan komposisi flare gas. Secara bersamaan, team mereview design
dan operasi kedua fasilitas flare untuk menentukan kemungkinan hubungan
hasil antara flare existing dengan flare gas recovery unit yang baru. Tahapan
penting ini memperkenalkan modifikasi ke peralatan flare existing dan control
yang diperlukan untuk integrasi dan menjaga performance flare gas recovery
unit yang optimum. Hasil test menunjukan bahwa liquid seal vessel flare
existing harus dimodifikasi untuk mendapatkan / memenuhi parameter
performance refinery yang ditentukan.
PENANGGULANGAN LIMBAH CAIR ( Liquid Waste System )
Pencegahan dan penanggulangan air buangan industri gas alam cair
dapat dilakukan baik di dalam proses maupun setelah proses produksi.
Penanggulangan di dalam proses misalnya dengan melakukan penigkatan
kebersihan pabrik, mengganti bahan kimia dengan bahan yang lebih rendah
tingkat pencemarannya. Pencemaran yang dilakukan setelah proses produksi
adalah dengan membangun instalasi pengolahan air limbah ( IPAL ). PT. LNG
Nishiroku membangun instalasi pengolah air limbah yang dikenal dengan
Liquid Waste System. Adapun unit-unit pengolahannya terdiri dari :
1. Bak ekualisasi ( diversion box ), sebagai penampung limbah cair
yang berasal dari proses produksi, yang disalurkan melalui suatu
saluran tertutup, dengan limbah air yang dihasilkan berupa limbah
air berminyak, air sanitari serta air pencuci dan pembilasan.
2. Bak aerasi ( aeration basin ), menampung air buangan dari bak
ekualisasi dan oil catcher yang telah dipisahkan minyalnya. Bak ini
dilengkapi dengan blower untuk mensuplai oksigen agar kebutuhan

3.

4.
5.

6.

mikroorganisme terhadap oksigen dapat dipenuhi dan sebagai


penyeragaman campuran air buangan.
Bak pemisah ( clarifer ) Dari proses aerasi, substrak diendapkan di
clarifer. Clarifer digunakan untuk memisahkan activated sludge
secara gravitasi dan mengumpulkan clarified water untuk kemudian
dibuang ke outfall canal.
Bak pemisah minyak ( oily CPI separator ), berfungsi memisahkan
air buangan yang mengandung minyak.
Bak penampung minyak ( oil desposat pit ) Minyak yang ditampung
di bak ini adalah minyak yang dihasilkan setelah pemisahan di oil
water diversion box yang dilakukan di CPI separator. Pada bak ini
dilakukan penyedotan berkala untuk membuang minyak yang
dihasilkan
dari
pengolahan
dengan
cara
menyedotnya
menggunakan vacuum truck yang kemudian dibawa ke incenerator
untuk dibakar.
Bak penampung sludge ( dried sludge pit ), digunakan untuk
menampung buangan lumpur yang berlebihan dari clarifer.

PENANGGULANGAN LIMBAH PADAT ( Incinerator System Handling )


Incinerator didefinisikan sebagai penghancuran limbah menggunakan
pembakaran nyala api dengan kondisi terkendali. Dengan menggunakan
incinerator, limbah diuraikan dari senyawa organik yang kompleks menjadi
senyawa sederhana seperti karbon dioksida dan air.
Pada proses incinerator, limbah dimasukkan ke ruang/tungku pembakaran
yang telah dipanaskan sebelumnya sampai dengan suhu minimum dengan
menggunakan bahan bakar tambahan seperti gas alam atau minyak bakar.
Tungku pembakaran ini umumnya terbuat dari baja yang dilapisi dengan
incinerator khusus atau re-fractory brick. Ditungku pertama, limbah
diberi/dibubuhi gas dan dibakar sebelum dipindahkan ke tungku kedua atau
after burner ditempat mana akan diberi bahan bakar tambahan untuk
menaikan suhu dan menyelesaikan proses pembakaran. Gas (hasil)
pembakaran dikeluarkan (dibuang) melalui cerobong ke atmosfer. Suhu, waktu
tinggal (residence time) dan pencampuran di tungku pembakaran dikendalikan
secara cermat guna memastikan bahwa penghancurannya sempurna dan
kontaminan-kontaminannya tidak terbuang melalui cerobong.
Incinerator dapat digunakan terhadap berbagai macam limbah organik,
termasuk minyak, pelarut, bahan farmasi, dan Pestisida. Proses ini tidak umum

digunakan terhadap limbah organik seperti lumpur logam berat (heavy metal
sludge) dan asam-asam anorganik.
Incinerator memilki beberapa kelebihan dibanding landfill. Proses ini jelas
mengurangi jumlah limbah yang memerlukan landfill sehingga bertujuan
untuk mengurangi keperluan lahan dalam pengelolaan limbah. Incinerator
menghasilkan penghancuran berbagai senyawa organik secara sempurna.
Kelemahannya adalah kebutuhan akan operator yang terlatih dan potensi
emisi ke atmosfer, apabila perencanaannya tidak sesuai dengan kebutuhan
operasionalnya.

Teknologi Incinerator

Ada beberapa teknologi incinerator yang telah digunakan di berbagai


tempat didunia bagi limbah B3. tiap teknologi memiliki kelebihan maupun
kelemahan, dan pemilihannya memerlukan pertimbangan cermat. Uraian
berikut ini menggambarkan sistem-sistem diatas sebagai bahan pertimbangan
bagi penggunaannya di Indonesia.
Tungku Statis (fixed hearth)
Incinerator tungku statis terdiri dari dua ruang pembakaran, yang pertama
berupa tungku statis ditempat dimana limbah ditempatkan di suatu alas batch
(burner) untuk memanaskan ruang, menggunakan bahan bakar tambahan
seperti LNG atau minyak bakar agar tungku tersebut mempunyai suhu
operasional sebelum limbah dimasukkan kedalamnya. Gas (buang) hasil
pembakaran tidak sempurna diruang ini dipindahkan ke ruang kedua,
ditempat mana suhunya telah dinaikkan oleh pembakar tambahan kedua guna
menyempurnakan proses ini. residu anorganik yang tidak terbakar atau abu
dipindahkan pada sebuah alas reguler (reguler basis) dari tungku statis.
Tungku statis merupakan salah satu incinerator yang tidak terlalu mahal.
Tungku ini sesuai untuk limbah dengan jumlah yang relatif sedikit pada suatu
alas batch (batch basis). Kelemahan utamanya adalah kompleksitas
pengoperasiannya sehingga memerlukan staff yang terlatih baik.
Tungku Putar (rotary kiln)
Incinerator tungku putar terdiri dari tabung silinder yang berputar pelahan,
yang dipasang miring pada suatu tempat. Limbah dimasukkan ke incinerator
dari salah satu ujung dan dibakar sampai menjadi abu setelah limbah tersebut
bergerak sampai ke ujung lain. bahan bakar tambahan digunakan untuk
menaikan suhu tungku dan mempertahankan suhu selama operasional.

Incinerator tungku putar dapat mengelola berbagai limbah padatan, cairan


dan gas yang dimasukkan secara terpisah atau bersama. Karena mahalnya
bahan bakar guna memanaskan tungku putar, maka tungku ini digunakan
terbatas bagi limbah dalam jumlah besar yang dimasukkan secara terus
menerus.

Fluidized bed
Reaktor fluidized bed terdiri dari bejana/tabung baja berbentuk silinder
vertikal yang dasarnya diisi pasir. Udara dialirkan melalui difuser yang terletak
dibawah lapisan pasir untuk mencampur dan mencairkan (fluidize) pasir.
Bahan bakar tambahan digunakan untuk memanaskan pasir sebelum
dimasukkan limbah. Limbah dimasukkan di atas atau ke dalam pasir dan
dibakar setelah terjadi kontak dengan pasir panas.
Fluidized bed incinerator dapat mengelola berbagai macam limbah sludge
dan limbah cair. Incinerator ini dapat di operasikan terhadap limbah yang
datang per-kumpulan, karena pasirnya dapat mempertahankan suhu diantara
masa operasionalnya.
Pengolahan Tambahan (Co-Treatment)
Ada sejumlah unit pembakaran yang digunakan industri guna membangkit
uap atau tujuan lain dan dapat digunakan dalam incinerator limbah B3. unit ini
mencakup boiler yang memilki tingkat efisiensi tinggi serta tungku semen.
Boiler berefisiensi tinggi menggunakan gas alam, batu bara, atau minyak
untuk membangkit uap pada industri. Suhu yang dicapai seringkali cukup
untuk menghancurkan limbah B3 dan telah diterapkan bagi tujuan ini.
berbagai pertimbangan termasuk korosi dari gas-gas yang bersifat asam,
pencampuran yang cukup guna memastikan pembakaran sempurna dan
sistem penanganan bagi limbah yang dimasukkan. Peralatan pengendalian
pencemaran udara harus ditambahkan untuk memisahkan kontaminankontaminan dari aliran gas buang.

Tungku semen, yang perancangannya mirip dengan rotary klin telah


digunakan untuk mengelola limbah B3 secara luas. Tungku ini mempunyai
suhu dan pencampuran yang cukup untuk tujuan ini. peralatan pengendalian

pencemaran udara harus diperbaiki agar sesuai dengan beban pencemar yang
bertambah.
Peralatan Pengendalian Pencemaran Udara
Sementara pembakaran efektif dalam mengurangi sedikit emisi senyawa
organik yang ada, pencemar lain seperti partikulat dan gas bersifat asam
memerlukan beberapa bentuk/sistem pengendalian pencemaran udara.
Khususnya, alat ini dapat meliputi suatu pemadam untuk mengurangi suhu
gas-gas incinerator, suatu penyaring (scrubber) seperti suatu pemisah
partikulat, diikuti suatu menara (packed tower) untuk menyerap gas-gas yang
bersifat asam.
Pada sistem pemadam (quench), gas-gas dicampur dengan air atau cairan
lain, dan penguapan air akan mendinginkan gas-gas. Setelah didinginkan, gasgas dilewatkan ke suatu saringan (venturi scrubber) dimana tetesan air
berukuran halus digunakan untuk memisahkan partikulat. Kemungkinan lain,
dapat digunakan suatu baghouse (filter dari tenunan yang kuat) atau suatu
electrostatic precipitator (satu sistem yang memberikan muatan listrik pada
partikulat dan menariknya ke satu elektroda yang digantung).
Sebagai langkah akhir, gas-gas seperti SO2, HCl dab HF dapat dipisahkan
dalam saringan penetralisasi (neutralizing scrubber). Saringan ini meliputi
menara (packed atau plate tower) atau suatu saringan yang menggunakan
larutan basa.
Pedoman Dasar Incinerator
Incinerator yang dirancang baik, mampu menghancurkan kandungan
organik yang berbahaya dari limbah B3. sebaliknya, perancangan dan
pengoperasian incinerator yang tidak sempurna akan membahayakan
kesehatan manusia dan lingkungan, melalui emisi gas beracun dan pencemar
lain ke atmosfer.
Berikut ini gamabaran pedoman dasar bagi perancangan dan
pengoperasian incinerator limbah B3. tidak dimaksudkan sebagai daftar
persoalan yang perlu dipertimbangkan pada instalasi dari suatu sistem baru.
Referensi yang harus diikuti adalah dari dokumen-dokumen yang
diperkenalkan pada pedoman ini.
1. Perancangan Incinerator

Incinerator perlu dirancang hati-hati guna memastikan bahwa limbah B3


dihancurkan sempurna dan bahwa emisi yang keluar memenuhi standar.
Pedoman 1.1
Incinerator harus dirancang untuk memenuhi keperluan sebagai berikut:
- suhu (minimum) incinerator dalam perancangan 1100 C*
- waktu penyimpanan (minimum) 2 detik
- kapasitas pembakar tambahan 100%dari kapasitas dasar
Sebagai tambahan, injeksi udara harus dirancang untuk memastikan
bahwa pencampuran dan penyebaran udara sempurna, agar ter jadi
pembakaran yang juga sempurna.
(* dalam hal limbah chlorinated akan di bakar, suhu minimumnya harus
1300 C)
Pedoman 1.2
Incinerator harus dirancang untuk memenuhi persyaratan pengendalian
pencemaran udara yang ditetapkan di tingkat pusat maupun daerah.
Peralatan pengendalian pencemaran udara diperlukan untuk pengolahan
terpusat, penyimpanan dan sarana pembuangan dalam menangani berbagai
limbah B3.
Pedoman 1.3
Perancangan dan Konstruksi Incinerator harus meyakinkan, bahwa tidak
ada kebocoran yang memungkinkan gas-gas lolos dari incinerator. Hal ini
dapat dicapai melalui pemeliharaan tekanan negatif didalam unit atau
mengamankan semua sambungan.
Pedoman 1.4
Bahan konstruksi incinerator harus dipilih agar tahan terhadap karat
(korosi) dan abrasi yang mungkin ditimbulkan oleh limbah yang dikelola.
Contohnya, bahan harus tahan terhadap korosi asam apabila HCl dihasilkan
dari limbah pelarut berchlorinated yang dibakar.
Pedoman 1.5
Incinerator harus dirancang oleh
berpengalaman dan memilki kualifikasi.

ahli

teknik

(engineer)

yang

2. Pedoman Pengoperasian
Incinerator yang dirancang baik, tidak akan berfungsi seperti yang
diharapkan apabila tidak diperhatikan secara cermat pada saat
penggunaannya.
Pedoman 2.1
Tidak boleh ada limbah yang dimasukkan ke incinerator, sebelum
incinerator tersebut mencapai keadaan yang siap untuk operasional. Kondisi
dimaksud adalah suhu opersional sesuai perancang, waktu penyimpanan dan
pencampuran.
Pedoman 2.2
Masukkan limbah ke incinerator harus dihentikan apabila suhu atau
parameter operasional lain berada diluar dari kisaran operasional yang aman
yang memungkinkan penghancuran sempurna bagi limbah tersebut. Masukan
juga harus dihentikan apabila peralatan pengendalian pencemaran udara
tidak berfungsi.
Pedoman 2.3
Penggunaan incinerator harus selalu dipantau guna memastikan
penghancuran limbah secara sempurna. Pemantauan ini harus mencakup
karbon monoksida atau hidrokarbon total, suhu dan oksigen. Perhatian harus
ditujukan untuk memantau karbon dioksida, nitrogen oksida dan sulfur
dioksida.
Pedoman 2.4
Sebelum memulai pengoperasian incinerator, pembakaran uji harus
dilakukan untuk mendemonstrasikan bahwa incinerator akan beropersi sesuai
dengan rancangan dan akan menghasilkan penghancuran limbah secara
sempurna dan emisi yang diperkenankan.

3. Pengolahan Residu

Incinerator menghasilkan beberapa residu yang memerlukan pengelolaan


yang cermat untuk melindungi lingkungan. Residu ini berupa abu dan air
limbah dari beberapa jenis peralatan pengendalian pencemaran.
Pedoman 3.1
Debu/abu dari incinerator limbah B3 harus dibuang di landfill limbah B3.
abu tersebut tidak boleh digunakan untuk konstruksi/pembangunan atau
penimbunan lain atau dikirim ke tempat pembuangan akhir sampah rumah
tangga.
Pedoman 3.2
Air limbah dari proses incinerator harus diperkecil seminimal mungkin.
apabila dihasilkan air limbah, harus dilakukan pengolahan awal (pretreatment) dilokasi tersebut agar memenuhi standar nasional/lokal sebelum
dibuang.
Flare Gas Recovery
Flare Gas Recovery adalah salah satu metode yang digunakan untuk menurunkan flare loss dengan cara
me-recover flare gas yang mempunyai nilai potensial untuk dijadikan sebagai feedstock (feed Hydrogen
Plant), fuel ataupun product (seperti LPG). Flare Gas Recovery Unit ini juga dapat menurunkan emisi
kilang dari produk samping pembakaran seperti NOX, CO, dan CO2.
Flare Gas Recovery Unit memberikan keuntungan bagi suatu unit proses / kilang, yaitu :

Menurunkan flare loss

Menurunkan fuel consumption suatu kilang

Menurunkan steam consumption suatu kilang

Meningkatkan flare tip life.

Menurunkan emisi dari operasi kilang.

Berikut metode yang digunakan untuk menurunkan flare loss :


1. Review kondisi peralatan proses untuk minimize bukaan control valve yang ke flare.
2. Mengidentifikasi valve yang bocor ke flare secara terus menerus dan lakukan perbaikan.
3. Pertimbangan pemasangan flare gas recovery.
Potensi Penghematan Flare Gas Recovery. Potensi penghematan yang diperoleh dari flare gas
recovery adalah cukup siqnifikan.
Tabel.1 merangkum penghematan kotor per tahun untuk 2 hipotesis kilang yang mengolah 100,000
barrel/day. Refinery A, yang mempunyai flaring sekitar 0.15 % dari intake / feed dapat memperoleh saving

sekitar $ 225,000 / tahun jika 90 % dari flare gas dimanfaatkan sebagai fuel gas. Untuk refinery yang
mempunyai flaring lebih tinggi seperti refinery B, potensial penghematannya meningkat sampai $ 735,000
/ tahun dengan asumsi bahwa 90 % gas dimanfaatkan kembali sebagai refinery fuel. Estimasi ini disusun
dari data perhitungan flare loss suatu refinery. Potensi penghematan rata-rata lebih besar, khususnya
untuk refinery dengan konversi tinggi. Penghematan yang ditunjukkan disini didasarkan pada
pemanfaatan kembali flare gas sebagai refinery fuel.Bahkan penghematan yang lebih besar mungkin
dapat diperoleh jika gas ini dapat dimanfaatkan kembali sebagai produk. Tabel 1. Potential Refinery
Saving Flare Gas Recovery Systems Typical 100,000 BBL/D Refinery, Average wt % of Refinery Total
Value ($/YR) If
Throughput Flared BBL/YR Flared 50 % Recovered 90 % Recovered Refinery A -Low Flaring (0.15 wt%)
54,000 BBL/YR 120,000 $/YR 225,000 $/YR Refinery B -High Flaring (0.15 wt%) 180,000 BBL/YR
400,000 $/YR 735,000 $/YR Sistem Pengontrol Emisi
Sistem flare gas recovery dengan emisi lebih rendah dilakukan dengan merecover flare gas sebelum
dibakar di flare. Dalam praktek, system flare gas recovery mengumpulkan gas dari flare header sebelum
menuju ke flare, menekan dan mendinginkannya untuk digunakan kembali dalam system refinery fuel gas
(Gambar.3). Sebaliknya tergantung pada komposisi flare gas, vapor yang direcover juga dikembalikan
sebagai refinery feed stock. Sistem flare gas recovery memberikan keuntungan lain yaitu dengan adanya
penurunan biaya fuel gas, nyala api, bau dan media pembantu flare untuk menghilangkan asap seperti
steam. Operator refinery mengakui bahwa implementasi system recovery ini memerlukan evaluasi
operasi flare existing dan rancangan unit recovery. Sistem recovery unit harus memproses flare gas
secara aman dan efisien. Oleh karena itu, refinery mengembangkan strategi total project yang meliputi
fasilitas analisa proses data, review peralatan flare existing, detail fabrikasi design system dan instalasi,
commissioning, training dan performance test. Refinery Arkansas mengoperasikan 2 macam flare, satu
untuk service tekanan rendah dan yang lain untuk service tekanan tinggi. Melalui pembakaran, flare
membuang gas buangan ke lingkungan secara aman. Dalam operasi refinery / kilang, gas buangan yang
mudah terbakar di venting / dibuang dari unit proses selama unit upset ataupun unit normal operasi.
Buangan gas dikumpulkan dan dikirim ke flare system melalui pipa header untuk pembuangan yang
aman. Fungsi utama flare adalah untuk melindungi fasilitas-fasilitas, pekerja dan lingkungan sekitar
kilang, Flaring gas menciptakan emisi-emisi seperti Nitrogen Oxides (NOx) Sulphur Oxides (SOx) dan
greenhouse gas (CO2, CO). Komponen-komponen ini berkombinasi dengan hydrocarbon yang tidak
terbakar mempunyai kontribusi terhadap total emisi. Dalam koordinasi dengan departemen yang
mempunyai wewenang terhadap lingkungan, refinery ini melakukan investigasi potensi-potensi yang ada
untuk mengurangi total emisi. Berdasarkan hasil investigasi dari kedua pihak, refinery dan departemen
lingkungan sepakat untuk memulai suatu rencana penurunan emisi yang lebih rendah dengan melakukan
penurunan flaring pada bagian ini. Flare gas recovery sudah terbukti sebagai solusi yang lebih baik.
Diskripsi Proses
Flare Gas Recovery System yang diusulkan adalah paket skid-mounted peralatan utamanya terdiri dari 2
compressor yang mengkompresi gas dari flare gas header upstream liquid seal drum, dan
mendinginkannya untuk digunakan kembali di fuel gas system. Secara normal gelembung flare gas
melalui water seal dalam seal drum upstream flare stack. Level liquid dalam seal drum menentukan
positive back pressure dalam flare header dan menjamin bahwa udara tidak masuk / tertarik ke dalam
flare system. Untuk penyediaan tekanan suction yang lebih baik sementara menghindari masuknya udara
ke suction flare gas compressor, modifikasi diperlukan untuk menaikan level air dalam water seal drum.
FGRS diletakan pada downstream knockout drum flare gas dari berbagai unit dalam refinery. Flare gas
masuk ke compressor pada tekanan 1.1 kg/cm2 Abs dan 38 oC. Resirkulasi flow air proses secara
kontinyu masuk compressor untuk kompresi, sealing dan pendinginan gas. Sesudah meninggalkan
compressor , gas, air dan campuran hydrocarbon masuk Gas/Liquid Separator dimana gas yang
dikompresi dipisahkan dari air dan kondensat hydrocarbon secara gravity karena kecepatan gas yang
lebih rendah. Flare gas yang terpisah melalui demister sebelum meninggalkan Gas/Liquid Separator agar
supaya kandungan air dan kondensat hydrocarbon dalam gas sekecil mungkin. Dan gas keluar dari top
Gas/Liquid Separator pada tekanan 8.0 kg/cm2 Abs dan temperatur kira-kira 50 oC. Water proses
meninggalkan Gas/Liquid Separator dari bottom dimana ditekan kembali ke compressor akibat
perbedaan tekanan antara Gas/Liquid Separator dan inlet compressor (liquid ring). Operasi normal flow
rate liquid ring kira-kira 32 m3/hr. pada 38 oC. Shell dan tube cooler pada liquid ring line menjamin

pendinginan pada ring dan oleh karena itu kompresi gas isothermal. Cooler didisain untuk duty 2
compressor. Flare gas dalam kondisi kering tetapi proses kompresi, gas menjadi jenuh dengan air. Ini
menyebabkan air secara kontinyu menurun dalam system. Akibat kenyataan ini dan untuk menghilangkan
liquid ring water proses dari hydrocarbon, line make up water ke line suction compressor disediakan.
Hydrocarbon yang terkondensasi meluap ke OWS dari tempat dimana kondensat dikeluarkan dengan
menggunakan Level Controll Valve. Water proses meluap melalui weir ke alat pengumpul. Level di alat
tersebut di jamin oleh control valve yang dikontrol oleh level transmitter. Excess water dikirim ke
OWS.Unit ini mempunyai by-pass / spill back antara inlet dan outlet unit untuk mengontrol tekanan inlet.
Jika tekanan inlet turun dibawah nilai tertentu, valve mulai membuka sampai tekanan inlet naik. Gas dari
Gas/Liquid Separator dialirkan ke Flare Gas Amine Absorber dimana gas ditreating di Amine unit untuk
menghilangkan H2S yang ada dalam gas. Gas treated dari Amine Absorber dialirkan ke Fuel Gas header.
Jika volume gas dilepas ke flare system melebihi kapasitas Flare Gas Recovery System, kelebihan
volume gas akan mengalir ke flare stack. Jika volume gas yang dilepas ke flare system lebih kecil dari
kapasitas penuh (disain) recovery unit, valve spillback akan mengarahkan discharge gas kembali ke
suction header untuk mempertahankan kapasitas FGRS.
Pemilihan Compressor
Pemilihan compressor dan perancangan compressor adalah penting untuk kapasitas dan kemampuan
system. Pada tahap perancangan project, John Zink memlih tipe dan jumlah compressor yang paling
cocok untuk aplikasi. Teknologi liquid compressor digunakan secara umum karena kontruksinya yang
kuat dan tahan terhadap hantaman liquid dan penyumbatan gas yang kotor. Bagaimanapun aplikasi
spesifikasi teknik memungkinkan menggunakan tipe compressor lain seperti rotary screw, reciprocating,
sliding vane, atau rotary lobed. Liquid ring compressor lebih disukai dan paling tepat dari type lain (seperti
reciprocating, screw, sentrifugal, dll) yang tersedia di pasar untuk servis ini, dimana liquid ring compressor
menjamin mendekati kompresi isothermal dan pada hakekatnya beroperasi explosion proof.
Liquid Seal
Selama operasi, flare gas recovery unit melepaskan gas dari main flare header. Dalam kondisi yang tidak
terkendali, hal ini akan menciptakan kondisi vakum yang tidak diinginkan dalam header dan
memungkinkan udara tertarik masuk ke system dari flare tip. Oleh karena itu kondisi positip pressure
dalam flare header harus dipertahankan dengan menggunalan liquid seal. Liquid seal drum mempunyai
peralatan internal yang menjamin flow gas yang ke flare tip dalam kondisi steady hingga menaikkan
kapasitas makimum smokeless flare dengan jumlah tambahan energi yang minimum.
Keuntungan utama liquid seal yakni :
1. Mempunyai performance yang terbukti baik dalam banyak flare.
2. Meminimize noise akibat tidak stabilnya pembakaran
3. Positif flame arrestor dalam kejadian flash back.
4. Meminimize entrainment.
FGRU (Flare Gas Recovery Unit) menarik gas dari upstream liquid seal drum flare header dan merecover gas yang normalnya dibakar di flare. Recovery system beroperasi untuk mempertahankan sedikit
positip pressure pada flare header upstream liquid seal, hal ini untuk menjamin udara tidak masuk ke
flare gas recovery unit. Jika sejumlah gas dilepaskan ke flare system melebihi kapasitas flare gas
recovery unit, pressure dalam flare header akan naik sampai melewati tekanan balik yang diciptakan oleh
level liquid dalam liquid seal drum. Pada titik ini, sejumlah gas lebih akan mengalir ke flare. Jika sejumlah
gas yang dilepas ke flare system lebih kecil dari kapasitas penuh FGRU, maka system akan menurun
secara otomatis dengan mengatur stage compressor dan mengarahkan discharge gas kembali ke suction
header. Dasar operasi FGRU menggunakan teknologi liquid ring compressor sebagai berikut :
Flare gas yang direcover mengalir langsung ke FGRU skid dan menuju liquid ring compressor. Gas yang
direcover dan sebagian liquid sealing bergabung didalam compressor dan dischargenya masuk ke vessel
separator, disini liquid dan gas akan dipisahkan. Selanjutnya sealing liquid compressor didinginkan
menggunakan heat exchanger dan dikembalikan lagi ke compressor. Volumetric control dilengkapi

dengan menggunakan sensor tekanan suction yang mengawali signal ke Programmable Logic Controller
(PLC). PLC mengontrol peralatan yang penting untuk menjaga flow yang tepat ke FGRU.
Preliminary Design
Refinery menghubungi team engineer flare gas recovery yang mempunyai pengalaman dari segi
teknologi flae dan aplikasi recovery untuk melakukan penilaian engineering awal dan studi kelayakan.
Team engineering ini melakukan pengujian untuk mengumpulkan data operasi dan mereview peralatan
existing untuk menetapkan design system flare gas recovery yang secara efisien mengontrol emisi pada
modal dan biaya operasi yang efisien. Untuk menentukan flow rate flare header secara tipical, engineer
memasang peralatan instrumentasi di upstream pada masing-masing flare. Flow ini diukur dan direcord
secara electronic untuk beberapa minggu untuk mengetahui pola aliran dihubungkan dengan kondisi
normal operasi harian. Selama survey flare gas, Juru teknik laboratorium refinery mengumpulkan sampel
gas yang dianalisa dengan gas chromatography untuk menentukan komposisi flare gas. Secara
bersamaan, team mereview design dan operasi kedua fasilitas flare untuk menentukan kemungkinan
hubungan hasil antara flare existing dengan flare gas recovery unit yang baru. Tahapan penting ini
memperkenalkan modifikasi ke peralatan flare existing dan control yang diperlukan untuk integrasi dan
menjaga performance flare gas recovery unit yang optimum. Hasil test menunjukan bahwa liquid seal
vessel flare existing harus dimodifikasi untuk mendapatkan / memenuhi parameter performance refinery
yang ditentukan.