Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laju pertumbuhan penduduk perlu mendapat perhatian khusus, karena pada akhir ini
angka peningkatannya sangat tinggi. Oleh karena itu,pemerintah berencana menekan laju
pertumbuhan penduduk hingga 1,14 persen pada tahun 2009 dengan menggalakkan program
keluarga

berencana

untuk

mewujutkan

norma

keluarga

kecil

bahagia

sejahtera

(http://www/Kompas.com.online diakses tanggal 6 november 2009).


Proyeksi PBB tentang ledakan penduduk dunia selama 45tahun mendatang perlu
mendapat perhatian serius berdasarkan analisis.program internasional di biro sensus Amerika
serikat mengatakan bahwa jumlah penduduk dunia terus bertambah hingga mencapai 6,5
milyar jiwa pada tahun 2006 dan menjadi 7 milyar jiwa pada tahun 2012. Sedangkan
menurut kent dan haub, sebagian besar negara akan menghadapi pertumbuhan penduduk
sekitar 3 milyar hingga pada akhir 2050 jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai 9,1
milyar jiwa. Adanya peningkatan populasi penduduk dunia yang terus berlipat ganda akan
membawa komplikasi terhadap masalah penyediaan pangan ,sandang,papan,dan kebutuhan
kesehatan.(http://www/Live Science.com. online di akses tanggal 7 november 2009).
Menurut data dari PBB, penduduk indonesia berjumlah 231.627.000 jiwa pada tahun
2007. Pengaturan pertumbuhan penduduk memang sangat penting karna bila tidak di tangani
jumlah terrsebut akan bertanbah menjadi 251.567.000 jiwa. menurut mantan menteri
kependudukan dan lingkungan hidup, Emil Salim mengemukakan bahwa pengendalian
penduduk dilakukan dengan menggalakkan kembali program keluarga berencana yang
sempat tenggelam pada era reformasi. Badan koordinasi keluarga berencana nasional
(BKKBN) menargetkan peningkatan partisipasi keluarga berencana menjadi 1% atau
sebanyak 6,6juta peseta mulai tahun 2008, program KB kali ini tidak hanya ditujukan untuk
menekan jumlah penduduk, tetapi juga terkait dengan peningkatan kesejahteraan dan
pembangunan kualitas sumberdaya indonesia (http://www/BKKBN.com.online di akses 7
november 2009).
Berdasarkan hasil rekapitulasi pencatatan dan pelaporan badan kordinasi keluarga
berencana nasional (BKKBN) sulawesi selatan pada tahun2007 jumlah akseptor KB

mencapai 221.995 peserta, untuk pemakaian kontrasepsi yang penggunaannya paling banyak
adalah metode suntikan sebesar 100.610 peserta atau 45,3% dari jumlah akseptor KB.
Sedangkan penggunaan pil sebanyak 88.774 peserta atau 39,99%, penguna implan sebanyak
13.920 peserta atau 6,3%,dengan alat kontrasepsi kondom sebanyak 14.049 peserta atau
6,33%, pengguna IUD sebanyak 3.412 peserta atau 1,54% serta akseptor dengan metode
mantap dimana masing-masing metode operasi wanita MOW sebanyak 1.138 peserta atau
0,5% dan metode operasi pria MOP sebanyak 92 peserta atau 0,04%.
Data yang diperoleh dari medikal record rumah sakit ibu dan anak sitti fatimah makassar
tahun 2009 terdapat 147 peserta,dimana pengguna suntik KB sebanyak 36 peserta atau
24,5%, pil sebanyak 17 peserta atau 11,6%, dengan implant sebanyak 10 peserta atau 6,8%,
IUD sebanyak 35 peserta atau 23,8%, kondom sebanyak 1 peserta atau 0,7% dan metode
operasi wanita MOW sebanyak 48 orang atau 32,6% dari jumlah keseluruhan peserta KB.
Metode operasi wanita MOW atau tubektomi merupakan metode yang paling efektif,
murah, aman dan permanen. Sebagai dasar dalam melaksanakan MOW yaitu dengan
menggunakan formula 100 dengan memperhatikan faktor umur dan paritas. Adanya kedua
faktor tersebut, maka penulis merasa tertarik melakukan suatu penelitian untuk mengetahui
gambaran penggunaan MOW untuk pada pasangan usia subur dengan dibatasi pada faktor
umur ibu dan paritas.
Tubektomi merupakan tindakan operasi dengan memotong atau mengikat bagian saluran
yang dilalui sel telur, untuk mencegah agar tidak terjadi pembuahan (kebuntingan),
(Anonimus 2001). Ada beberapa macam operasi pada organ kelamin wanita yang dapat
mempengaruhi fungsi fisologis hewan yaitu : tubektomi, ovario histerektomi (OH), dan
histerektomi (Archibald, 1974).
Operasi tubektomi (begitu juga vasektomi) tidak ada hubungannya dengan naik atau
turunnya gairah seksual pada wanita, prosedur tubektomi dilakukan melalui laparotomi
dengan anestesi umum dan laparotomi juga memerlukan fasilitas ruang operasi dan peralatan
medis yang lengkap (Anonimus, 2001).
Alat kelamin Wanita terdiri atas sepasang ovarium atau penghasil sel telur, ovarium
mempunyai 2 fungsi yaitu sebagai organ eksokrin yang menghasilkan gamet (oosit) dan
organ endokrin yang menghasilkan hormone (estrogen dan progesterone). Sebagai organ
eksokrin, ovarium bertanggung jawab untuk diferensiasi dan pelepasan oosit matang untuk

fertilisasi dan kesuksesan perkembang biakan spesies (Siregar, 2006). Saluran reproduksi
yang terdiri atas tuba fallopii yang merupakan tempat fertilisasi dan memberikan nutrisi dan
faktorfaktor pertumbuhan untuk mendukung atau menstimulasi perkembangan awal embrio.
Oviduct menerima oosit yang diovulasikan dan mentransfernya menuju uterus (Toelihere,
1985).
1.2 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami MOW (Metode Operasi Wanita/Tubektomi) sebelum
mengikuti studi.
1.3 Tujuan Khusus
Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang istilah-istilah dalam ilmu
kebidanan.
1.4 Manfaat Penulisan
Untuk memberikan informasi ilmiah kepada sesama mahasiswa Akademi Kebidanan
khususnya dan masyarakat secara umum tentang MOW (Metode Operasi Wanita/Tubektomi).

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Definisi MOW (Metode Operasi Wanita/Tubektomi)
Tubektomi/MOW adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita atau saluran bibit
pria yang mengakibatkan orang atau pasangan yang bersangkutan tidak akan mendapat
keturunan lagi.
Kontrasepsi mantap pada wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita) atau tubektomi,
yaitu tindakan pengikatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh
sperma.
2.2 Keuntungan MOW (Metode Operasi Wanita/Tubektomi)
Keuntungan dari Tubektomi adalah sebagai berikut :
a. Motivasi hanya dilakukan 1 kali saja, sehingga tidak diperlukan motivasi yang berulangulang.
b. Efektivitas hampir 100%.
c. Tidak mempengaruhi libido seksual.
d. Kegagalan dari pihak pasien tidak ada
2.3 Indikasi
Seminar kuldoskopi Indonesia pertama (1972) telah mengambil keputusan tentang indikasi
tubektomi sebagai berikut :
a. Umur termuda 25 tahun dengan 4 anak hidup
b. Umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup
c. Umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup
Keputusan ini dikenal denga keputusan 100 (umur ibu x banyaknya anak = 100)
Pada konferensi khusus perkumpulan untuk sterilisasi sukarela indonesia di medan (3-5 juni
1976) dianjurkan pada umur antara 25-40 tahun, dengan jumlah anak sebagai berikut :
a. Umur antara 25-30 tahun dengan 3 anak atau lebih
b. Umur antara 30-35 tahun dengan 2 anak atau lebih
c. Umur antara 35-40 tahun dengan 1 anak atau lebih
2.4 Cara tubektomi

Cara tubektomi dapat dibagi berdasarkan atas :


a. Saat operasi
Tubektomi dapat dilakukan pasca keguguran, pasca persalinan atau masa interval
sesudah keguguran tubektomi dapat langsung dilakukan. Dianjurkan agar tubektomi
pasca persalinan sebaiknya dilakukan dalam 24 jam, atau selambat-lambatnya dalam 48
jam setelah bersalin.
Tubektomi pada persalinan lewat 48 jam akan dipersulit oleh edema tuba, infeksi dan kegagalan.
Edema tuba akan berkurang setelah hari ke 7-10 pasca persalinan. Tubektomi setelah hari itu
akan lebih sulit dilakukan karena alat-alat genital telah menciut dan mudah berdarah.
2.4.2. Cara mencapai Tuba
Cara-cara yang dilakukan di indonesia saat ini ialah dengan laparotomi, laparotomi mini, dan
laparoskopi.
Laparotomi
Cara mencapai tuba melalui laparotomi biasa, terutama pada masa pasca persalinan, merupakan
cara yang banyak dilakukan di Indonesia sebelum tahun 70an. Tubektomi juga dilakukan
bersamaan dengan seksio sesarea, dimana kehamilan selanjutnya tidak diinginkan lagi, sebaiknya
setiap laparotomi harus dijadikan kesempatan untuk menawarkan tubektomi.
Laparotomi mini
Laparotomi khusus tubektomi ini paling mudah dilakukan 1-2 hari pasca persalinan. Uterus yang
masih besar, tuba yang masih panjang, dan dinding perut yang masih longgar memudahkan
mencapai tuba dengan sayatan kecil sepanjang 1-2 cm dibawah pusat.
Kalau tubektomi dilakukan pada 3-5 hari postpartum, maka dapat dilakukan insisi mediana
karena uterus dan tuba telah berinvolusi. Dilakukan insisi mediana setinggi 2 jari dibawah fundus
uteri sepanjang 1-2 cm.
Laparoskopi
Laparoskop dimasukkan ke dalam selubung dan alat panggul diperiksa. Tuba dicari dengan
menggunakan manipulasi uterus dari kanula rubin, lalu sterilisasi dilakukan dengan
menaggunakan cincin folope yang dipasang pada pars ampularis tuba. Setelah yakin tidak
terdapat perdarahan, pnemoperitonium dikelurkan dengan menekan dinding perut. Luka ditutup
dengan 2 jahitan subkutikuler, lalu dipasang band aid. Pasien dapat dipulang 6-8 jam.
2.4.3. Cara penutupan Tuba

Cara tubektomi yang dapat dilakukan adalah cara Pomeroy, Kroener, Irving, pemasangan cincin
folope, klip filshie, dan elektro-koagulasi disertai pemutusan tuba.
Cara Pomeroy
Tuba dijepit kira-kira pada pertengahan, kemudian diangkat sampai melipat. Dasar lipatan diikat
dengan sehelai Catgut biasa no.0 atau no.1. lipatan tuba kemudian dipotong di atas ikatan catgut
tadi. Tujuan pemakaian catgut biasa ini ialah lekas diabsorpsi, sehingga kedua ujung tuba yang di
potong lekas menjauhkan diri, dengan demikian rekanalisasi tidak dimungkinkan.
Cara Kroener
Fimbria dijepit dengan sebuah klem. Bagian tuba proksimal dari jepitan diikat dengan sehelai
benang sutera, atau dengan catgut yang tidak udah diabsorpsi.
Cara Irving
Tuba dipotong pada pertengahan panjangya setelah kedua ujung potongan diikat dengan catgut
kronik no.0 atau no.00. ujung potongan proksimal ditanamkan di dalam miometrium dinding
depan uterus. Ujung potogan ditanamkan di dalam ligamentum latum. Dengan cara ini
rekanalisasi spontan tidak mungkin terjadi. Cara tubektomi ini hanya dapat dilakukan pada
laparotomi besar seperti seksio sesarea.
Pemasangan Cincin Falope
Cincin falope (yoon ring) terbuat dari silikon, dewasa ini banyak digunakan. Dengan aplikator
bagian ismus uba ditarik dan cincin dipasang pada bagian tuba tersebut. Sesuah terpasang lipatan
tuba tampak keputih-putihan oleh karena tidak mendapat suplai darah lagi dan akan menjadi
jibrotik. Cincin falope dapat dipasang pada laparotomi mini, laparoskopi atau dengan laprokator.
Pemasangan Klip
Berbagai jenis klip telah dikembangkan untuk memperoleh kerusakan minimal agar dapat
dilakukan rekanalisasi bila diperlukan kelak. Klip filshie mempunyai keuntungan dapat
digunakan pada tua yang edema. Klip Hulka-clemens digunakan dengan cara menjepit tuba.
Oleh karena klip tidak memperpendek panjang tuba, maka rekanalisasi lebih mungkin
dikerjakan.
Elektro-koagulasi dan Penutupan tuba
Cara ni dahulu banyak dikerjakan pada tubektomi laparoskopik. Dengan memasukkan grasping
forceps melalui laparoskop tuba dijepit kurang lebih 2 cm dari kornua, diangkat menjauhi uterus
dan alat-alat panggul lanilla, kemudian dilakukan kauterisasi. Tuba terbakar kurang lebih 1 cm

ke proksimal, dan distal serta mesosalping terbakar sejauh 2 cm. Pada waktu kauterisasi tuba
tamapak menjadi putih, menggembung, lalu putus. Cara ini sekarang banyak ditinggalkan.
2.5. Tindak lanjut
1 Minggu pasca operasi, pemeiksaan adanya keluhan nyeri perut, tekanan darah, nadi, suhu dan
pemeriksaan perut dengan palpasi, tidak dilakukan pemeriksaan dalam.
1 bulan pasca operasi, diperlukan pemeriksaan tentang haid, periksa dalam dan bila perlu
dilakukan patensi tuba.
3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun pasca operasi dalah untuk mengetahui keadaan haid,
kemungkinan komplikasi, kemungkinan hamil, keehatan badan, hubungan seks dan perkawinan.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan

Tubektomi merupakan tindakan operasi kecil untuk mencegah kehamilan yang dilakukan pada
wanita dengan memotong atau mengikat bagian saluran yang dilalui sel telur atau menghambat
pertumbuhan ovum dan spermatozoa.
Dahulu Tubektomi dilakukan dengan jalan laparotomi atau pembedahan vaginal. Sekarang,
dengan alat-alat dan tekhnik baru, tindakan ini diselenggarakan secara lebih ringan dan tidak
memerlukan perawatan di rumah sakit.
Dalam tahun-tahun terakhir ini tubektomi telah merupakan bagian yang penting dalam program
keluarga berencana di banyak negara di dunia. Di indonesia sejak tahun 1974 telah berdiri
Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI), yang membina perkembangan metode
dengan operasi (M.O) atau kontrasepsi mantap secara sukarela, tetapi secara resmi tubektomi
tidak termasuk ke dalam program nasional keluarga berencana indonesia.
3.2.

Saran

a. Harus lebih sering disosialisasikan manfaatnya atau keuntungannya jika di banding dengan
metode kontrasepsi lainnya.
b. Sebaiknya ada konpensasi atau penghargaan dari pemerintah kepada akseptor KB yang
menggunakan kontrasepsi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. Ilmu kandungan, edisi kedua cetakan ketiga.
Jakarta, 1999
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Ilmu kebidanan, edisi ketiga cetakan keenam.
Jakarta, 2002
Anonimus, 2001. Penuntun Praktikum Ilmu Bedah Khusus dan Radiologi.
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh.
Archibald, J. 1974. Canine Surgery. American Veterinary Publication Inc. Santa Barbara,
California.

Toelihere, M.R. 1985. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Universitas Indonesia
Press, Jakarta.