Anda di halaman 1dari 90

Fiqh Muamalah

OLeh. Hendra Saputra, M.Ag

ISLAM
Terdiri dari:

Aqidah
Syariah

Akhlaq

Syariah

Ibadah

(Ibadah Mahdhoh)

Catatan:
1)
Jadikan Muamalah menjadi Ibadah Aammah

Muamalah 1)

(Ibadah Aammah)

Muamalah

1)

(Ibadah Aammah)

Tsaqofah

Ijtimaiyyah

(Budaya)

(Sosial)

aghoyruha
(Etc.)

(Mutual Fund)
(Bagi Hasil)

Catatan:
1)
Jadikan Muamalah menjadi Ibadah Aammah

Siyasah Iqtishodiyya
(Politik)

Rahn
(Gadai)

(Ekonomi)

Tamin Mashrafiyyah

(Asuransi)

Perbankan

TUJUAN SYARIAH
(MAQASHID SYARIAH)
I. MEMELIHARA AGAMA (Hifzh al-din)
Dharuriat : memelihara dan melaksanakan kewajiban primer, seandainya tidak ada, maka terancamlah eksistensi
agama, exs, shalat, puasa dsb
Hajiat : melaksanakan ketentuan agama, dengan maksud menghindari kesulitan, exs. Kebolehan shalat fardhu di
qasar dsb.
Tahsiniyat: menjunjung tinggi martabat manusia, sekaligus melengkapi kewajiban terhadap Tuhan exs menutup
aurat, membersihkan badan, pakaian dan tempat.
II. MEMELIHARA JIIWA (Hifzh al-Nafs)
Dharuriat : memenuhi kebutuhan pokok, seandainya tidak ada maka akan terancam eksistensi jiwa manusia, exs.
Makan dsb.
Hajiat : seandainya tidak ada, tidak akan mengancam eksistensi manusia, melainkan hanya mempersulit exs.
Berburu binatang dsb.

Tahsiniyat : berhubungan dengan etika, sopan santun dsb.


III. MEMELIHARA AKAL (Hifzh Al-Aqal)
Dharuriat exs. Diharamkan minuman keras
Hajjiat exs. Menuntut ilmu
Tahsiniyat exs. Menghindarkan diri dari menghayal atau mendengarkan sesuatu yang tidak berfaedah.
IV. MEMELIHARA KETURUNAN (Hifzh al-Nasl)
Dharuriat : seandainya tidak ada, maka eksistensi keturunan manusia terancam exs. Disyariatkannya nikah dan
diharamkannya zina.
Hajiat : seandainya tidak ada, tidak akan mengancam eksistensi keturunan manusia, melainkan hanya mengalami
kesulitan exs. Ditetapkannya mahar pada waktu akad dsb.
Tahsiniyat : seandainya diabaikan tidak akan mengancam eksistensi keturunan dan tidak pula mempersulit. Exs.
Dianjurkannya walimah dsb.
V. MEMELIHARA HARTA
Dharuriat exs. Dilarang mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak baik exs. Mencuru, rampok dsb.
Hajjiat exs. Jual beli salam karena mempersulit orang yang memerlukan modal.
Tahsiniyat exs. Berhubungan dengan etika jual beli, seperti pesanan barang sesuai keinginan pemesan dsb.

Prinsip Dasar

IBADAH

MUAMALAH

Terlarang (haram),

Boleh,

kecuali ada keterangan


(dalil) perintahnya.

kecuali ada keterangan


(dalil) yang
mengharamkannya.

Kaidah Fiqh

Pada dasarnya setiap kegiatan Muamalah itu boleh,


kecuali ada dalil yang melarangnya.

Pengertian Fiqh Muamalah

Fiqh menurut bahasa al-Fahmu


Istilah ilmu yang mempelajari hukum-hukum Islam yg bersifat amaliyah yg diambil dari dalildalil yg terperinci.

Muamalah
Secara bahasa kata muamalah adalah masdar dari kata 'AMALA-YU'AMILIMU'AMALATAN yang berarti saling bertindak, saling berbuat dan saling beramal

Dalam arti luas


- Menghasilkan duniawi, supaya menjadi suksesnya masalah ukhrawi
- Peraturan-peraturan Allah yg harus diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat untuk
menjaga kepentingan manusia
- segala peraturan yg diciptakan Allah untuk mengatur hubungan menusia dalam hidup dan
kehidupan.

Dalam arti sempit


- Akad yg membolehkan manusia saling menukar manfaat
- Aturan-aturan Allah yg mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam usahanya
untuk mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya dgn cara yang paling baik.
- Tukar menukar barang atau sesuatu yg bermanfaat dgn cara-cara yg telah ditentukan

Prinsip Dasar Muamalah

HR. al Bazar dan at-Thabrani


Apa-apa yang dihalalkan Allah adalah halal dan apa-apa yang
diharamkan adalah haram dan apa-apa yang didiamkan
dimaafkan. Maka, terimalah dari Allah pemaafan-Nya. Sungguh
Allah itu tidak melupakan sesuatu pun. (Imam Musbikin. Qawaid
al-Fiqhiyah, cet. 1 (Jakarta: Grafindo Persada, 2001)
HR. Darutqutni, dihasankan oleh an-Nawawi
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban,
maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan
beberapa batas, maka janganlah kamu langgar dia; dan Allah
telah mengharamkan sesuatu, maka janganlah kamu
pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal
sebagai tanda kasihnya kepadamu, Dia tidak lupa, maka
janganlah kamu perbincangkan dia. (Imam Musbikin. Qawaid alFiqhiyah, cet. 1 (Jakarta: Grafindo Persada, 2001)

Kaidah Fiqh

Pada dasarnya setiap kegiatan Muamalah itu boleh,


kecuali ada dalil yang melarangnya.

Pembagian Muamalah

Muawadah Maliyah (Hukum Kebendaan)


Munakahat (Hukum Perkawinan)
Muhasanat ( Hukum Acara)
Amanah dan Ariyah (Pinjaman)
Tirkah (Harta Peninggalan)

Pendapat Lain tentang Pembagian Mumalah


Al Mumalah al Madiyah : muamalah yg mengkaji objeknya (benda)
2. Al Mumalah al adabiyah : muamalah ditinjau dari segi cara tukar
menukar benda yg bersumber dari panca indera manusia, yg unsur
penegaknya adalah hak-hak dan kewajiban, misalnya jujur, hasud, dsb
1.

Kedudukan dan Fungsi Harta


dalam Hukum Mumalah
Pengertian Harta
Bahasa
Harta : Al Mal atau Al Amwal yg berarti condong, cenderung dan miring

Istilah
Imam Hanafi : segala sesuatu yang naluri manusia cenderung kepadanya
dan dapat disimpan sampai batas waktu yang diperlukan
Imam Malik : sesuatu yang dapat digunakan secara khusus dan tidak dicampuri
penggunaannya oleh orang lain.
Ulama lainnya : segala zat yang berharga, bersifat materi yg berputar di antara
manusia

Lanjutan Pengertian Harta


Hasbi Ash shidieqy
1.

2.
3.
4.

5.

6.

Nama selain manusia yang diciptakan Allah untuk mencukupi kebutuhan


hidup manusia, dapat dipelihara pada suatu tempat, dan dikelola dengan
jalan ikhtiar
Sesuatu yang dapat dimiliki oleh setiap manusia, baik oleh seluruh
manusia maupun oleh sebagian manusia
Sesuatu yang sah untuk diperjual belikan
Sesuatu yang dapat dimiliki dan mempunyai nilai (harga) seperti sebiji
beras dapat dimiliki manusia, dapat diambil kegunaanya dan dapat
disimpan, tetapi sebiji beras menurut urf tidak bernilai (berharga), maka
sebiji beras tidak termasuk harta
Sesuatu yang berwujud, sesuatu yang tidak berwujud meskipun dapat
diambil manfaatnya tidak termasuk harta, misalnya manfaat, karena
manfaat tidak berwujud sehingga tidak termasuk harta
Sesuatu yang dapat disimpan dalam waktu yang lama atau sebentar dan
dapat diambil manfaatnya ketika disimpan

Unsur-unsur Harta

Fuqaha :
1. Aniyah : Harta itu mempunyai wajudnya dalam kenyataan (ayan)
2. Urf : segala sesuatu yang dipandang harta oleh seluruh manusia
atau sebagian manusia, tidaklah manusia memelihara
sesuatu kecuali menginginkan manfaatnya, baik manfaat
madiyah maupun manfaat manawiyah.
Pendapat lain yang diambil dari defenisi harta
1. bersifat materi (aniya) atau mempunyai wujud nyata.
2. Dapat disimpan untuk dimiliki (qabilan lit tamlik)
3. Dapat dimanfaatkan (qabilan lil intifa)
4. Urf (kebiasaan)

Pembagian Harta
1.Mal Mutaqawwim dan ghairu mutawawwim
a. Mal Mutaqawwim : Sesuatu yang boleh diambil manfaatnya menurut
syara. Misalnya kerbau halal dimakan jika disembelih sesuai dgn syariat.
Namun kerbau haram dimakan jika dipukul atau disembelih bukan
berdasarkan syariat.
b. Ghairu Mutaqawwin : Sesuatu yang tidak boleh diambil manfaatnya
menurut syara. Kebalikan dari mal Mutaqawim exs. Babi, memperoleh
harta dengan mencuri dsb.
2. Mal Mitsli dan Mal Qimi
a. Mal Mitsli ialah: Benda-benda yang ada persamaan dalam kesatuankesatuannya dalam arti dapat berdiri sebagiannya ditempat yang lain tanpa
ada perbedaan yang perlu dinilai. (harta yang jenisnya diperoleh dipasar
(secara persis)
b. Mal Qami: Benda-benda yang kurang dalam kesatuannya, karenanya
tidak dapat berdiri sebagian ditempat sebagian yang lainnya tanpa ada
perbedaan. (harta yang sulit didapatkan dipasar, bisa diperoleh dipasar,
tapi jenisnya berbeda, kecuali dalam nilai harganya)

Lanjutan Pembagian Harta


3. Harta Istihlak dan Harta IstiMal
a. Harta Istihlak ialah sesuatu yang tidak dapat diambil kegunaannya dan
manfaatnya seperti biasa, kecuali dengan menghabiskannya.
Harta Istihlak terbagi 2 :
1. Istihlak Hakiki : Suatu benda yang menjadi harta yang secara
jelas (nyata) zatnya habis sekali digunakan. Exs. Korek api, lilin dsb.
2. Istihlak Huquqi : suatu benda yang sudah habis nilainya, jika
sudah digunakan, tetapi zatnya masih tetap ada. Exs. Uang dipakai
untuk bayar hutang.
b. Harta Istimal : Sesuatu yang dapat digunakan berulang kali dan
materinya tetap terpelihara. Exs. Kebun. Tempat tidur, rumah dsb.

Lanjutan Pembagian Harta


4. Harta Manqul dan Harta Ghair Manqul
a. Harta manqul : segala harta yang dapat dipindahkan (bergerak) dari
satu tempat ke tempat lain. Exs. Emas, mobil dsb.
b. Harta Ghairu manqul: Sesuatu yang tidak dapat dipindahkan dan
dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain.
5. Harta Ain dan Harta Dayn
a. Harta Ain : harta yang berbentuk benda, seperti rumah, pakaian dsb.
Harta Ain terbagi dua:
1. Harta Ain dzati qimah: benda yang memiliki bentuk yang dipandang
sebagai harta karena memiliki nilai.
2. Harta Ain ghairu dzati qimah : Benda yang tidak dapat dipandang
sebagai harta karena tidak memiliki harga. Exs. Sebiji beras dsb.
b. Harta Dayn ialah Sesuatu yang berada dalam tanggungjawab exs.
Seperti hutang dsb.

Lanjutan Pembagian Harta


6. Mal al-Ain dan Mal al NafI (Manfaat)
a. Harta al Aini: benda yang memiliki nilai dan berbentuk (berwujud), exs.
Rumah, ternak dsb.
b. Harta Nafi : aradl yang berangsur-angsur tumbuh menurut
perkembangan masa, oleh karena itu mal al-nafI tidak berwujud dan tidak
mungkin disimpan.
7. Harta Mamluk, Mubah dan Mahjur
Mamluk : Sesuatu yang masuk ke bawah milik, milik perorangan maupun
milik badan hukum, exs. Pemerintah dan yayasan.
Mamluk terbagi kepada 2 : Harta perorangan dan perkongsian.
Mubah : Sesuatu yang pada asalnya bukan milik seseorang, seperti air
pada mata air, binatang buruan dsb.
Mahjur : Sesuatu yang tidak dibolehkan dimiliki sendiri dan memberikan
kepada orang lain yang menurut syariat, adakalanya benda itu wakaf atau
dikhususkan untuk kepentingan umum exs, jalan, kuburan dsb.

Lanjutan Pembagian Harta


8. Harta yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi
a. Harta yang dapat dibagi (Mal Qabil lil Al Qismah) : harta yang tidak menimbulkan
suatu kerugian atau kerusakan apabila harta itu dibagi-bagi exs. Tepung dsb.
b. Harta yang tidak dapat dibagi (Mal ghair qabil lil al-Qismah) : Harta yang
menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-bagi
exs. Gelas, kursi dsb.
9. Harta pokok dan harta hasil;
Harta pokok : Harta yang mungkin darinya terjadi harta lain. Exs. Modal usaha, uang,
emas dsb.
Harta hasil: Harta yang terjadi dari harta lain.
10. Harta khas dan Harta Am
Harta Khas : harta pribadi, tidak bersekutu dengan yang lain, tidak boleh diambil
manfaatnya, tanpa izin pemiliknya.
Harta Am : Harta milik umum (bersama) yang boleh diambil manfaatnya

Fungsi Harta
Menyempurnakan pelaksanaan ibadah yang khas (mahdah).
Meningkatkan keimanan (ketakwaan) kepada Allah
Meneruskan kehidupan dari satu periode ke periode berikutnya. (QS. An-Nisa: 9)

Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di
belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.

Menyelaraskan/menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat


Bukanlah orang yang baik, yang meninggalkan masalah dunia untuk masalah akhirat, dan
yang meninggalkan, masalah akhirat untuk urusan dunia, sehingga seimbang diantara
keduanya, karena masalah dunia adalah menyampaikan manusia kepada masalah akhirat
(Riwayat Bukhari)

Lanjutan Fungsi Harta

Mengembangkan dan menegakkan ilmu-ilmu.


Memutarkan/mentasharufkan peranan-peranan kehidupan.
Menumbuhkan silaturrahim

Kedudukan Harta dalam Islam


Beberapa ayat Quran mengenai Harta
1.

Al - Kahfi : 46

Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalanamalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu
serta lebih baik untuk menjadi harapan.

2. Ali Imran : 14

Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Lanjutan Kedudukan Harta dalam Islam


3. Ad - Dhuha : 6
Artinya : Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.
4. at-Taghabun : 15
Artinya : Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.
5. At-Taghabun : 14
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta
mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
6. al-Baqarah : 284
Artinya: Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang
ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu
tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang
dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
7. al-Maidah : 18
Artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa
Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia
(biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali
(segala sesuatu).
8. Al Baqarah : 120
Artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya
petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang
kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Konsekwensi kedudukan Harta dari ayat tersebut


(Berlaku untuk kepentingan Umum)

Manusia bukan pemilik mutlak, tetapi dibatasi oleh


hak-hak Allah sehingga wajib baginya untuk
mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk
berzakat dan ibadah lainnya.
Cara-cara pengambilan manfaat harta mengarah
kepada kemakmuran bersama, pelaksanaannya
dapat diatur oleh masyarakat melalui wakil-wakilnya.
Harta perorangan boleh digunakan untuk umum,
dengan syarat pemiliknya memperoleh imbalan
yang wajar

Konsekwensi kedudukan Harta dari ayat tersebut


(Berlaku untuk kepentingan Umum)

Masyarakat tidak boleh mengganggu dan melanggar


kepentingan pribadi selama tidak merugikan orang lain
dan masyarakat.
Karena pemilikan manfaat berhubungan serta dengan
hartanya, maka pemilik (manfaat) boleh memindahkan
hak miliknya kepada orang lain. Exs. Dengan cara
hibah, jual beli dsb.
Pemlikan manfaat itu kekal tidak terikat oleh waktu.

Hal-Hal yang dilarang dalam tasarruf Harta

Perkara yang merendahkan martabat dan akhlak manusia, exs.


1. Memakan harta dengan cara yg batal
2. Memakan harta dengan jalan penipuan
3. Dengan jalan melanggar janji dan sumpah
4. Dengan jalan pencurian
Perkara yang merugikan hak perorangan dan kepentingan sebagian atau
keseluruhan masyarakat, berupa perdagangan yang memakai bunga.
Penimbunan harta dengan jalan kikir
Aktivitas yang merupakan pemborosan (mubazir)
Memproduksi, memperdagangkan dan mengonsumsi barang-barang
yang terlarang, exs. Narkoba dsb.

Harta yang menyangkut kepentingan pribadi


Masyarakat tidak boleh mengganggu dan melanggar
kepetingan pribadi selama tidak merugikan orang lain
dan masyarakat.
2. Karena pemilikan manfaat berhubungan serta dengan
hartanya, maka pemilik manfaat boleh memindahkan
hak miliknya kepada orang lain, misalnya dengan cara
menjual dan sebagainya
3. Pada pokoknya, pemilikan manfaat itu kekal, tidak
terikat oleh waktu
1.

Al Haqq (hak milik).


Pengertian, pembagian dan Sumbernya
Pengertian Hak
Secara bahasa, berarti kepastian atau ketetapan, kebenaran

Pengertian lain
Suatu ketentuan yang digunakan oleh syara untuk menetapkan suatu kekuasaan
atau suatu beban hukum.
Istilah ialah himpunan kaidah dan nash-nash syariat yang harus dipatuhi untuk
menertibkan pergaulan manusia baik yang berkaitan perorangan maupun yang
berkaitan dengan harta benda.
Kekuasaan mengenai sesuatu atau sesuatu yang wajib dari seseorang kepada
lainnya.
Hak adakalanya merupakan sulthah dan adakalanya taklif
Sulthah (penguasaan), terbagi dua yaitu Sulthah ala al-Nafsi hak seseorang terhadap
jiwa, seperti pemeliharaan anak dsb.
Taklif adalah orang yang bertanggungjawab.

Pembagian Haq
Hak Mal
Sesuatu yang berpautan dengan harta exs. Pemilikan benda, utang dsb.
2. Ghair Mal
Ghair Mal terbagi dua:
a. Hak Syakhshi
Suatu tuntunan yang ditetapkan syara dari seseorang terhadap lain.
b. Hak Aini
1.

hak orang dewasa dengan bendanya tanpa dibutuhkan orang kedua.


Hak Aini dibagi dua: Ashli dan ThabI.
Ashli ialah adanya wujud benda tertentu dan adanya shahub al-haq exp.
Hak milkiyah dan irtifaq
ThabiI ialah jaminan yang ditetapkan untuk seseorang yang mengutangkan
uangnya atas yang berhutang, apabila yang berhutang tidak sanggub membayarnya,
maka murtahin berhak menahan barang itu.

Macam-Macam Hak Aini


Hak al-Milkiyah : hak yang memberikan pemiliknya hak wilayah.
2. Hak al-Intifaq : hak untuk memanfaatkan harta benda orang lain melalui sebabsebab yang dibenarkan. Exs. ariyah, ijarah, wakaf, wasit bil manfaat dan Ibahah.
3. Hak al-Irtifaq : hak yang berlaku atas suatu benda tidak bergerak untuk
kepentingan benda tidak bergerak milik pihak lain. Sawah yang diairi.
4. Hak al-Istihan : hak yang diperoleh dari harta yang digadaikan.
5. Hak al-Ihtibas : hak menahan sesuatu benda.
6. Hak Qarar menetapkan atas tanah wakaf.
7. Hak al-murur : Hak bagi pemilik tanah yang lebih jauh untuk melewati tanah orang
lain yang lebih dekat.
8. Hak taalli : Hak tentangga pada rumah susun dimana atap bangunan yang
dibawah menjadi lantai bagi bangunan di atasnya.
9. Hak al-Jiwar : hak yang timbul disebabkan oleh berdempetnya batas-batas tempat
tinggal, yaitu hak-hak untuk mencegah pemilik uqar dari menimbulkan kesulitan
terhadap tentangganya.
10. Hak Syafah atau Hak Syurb : Kebutuhan manusia terhadap air untuk diminum
sendiri dan untuk diminum binatangnya serta untuk kebutuhan rumah tangganya.
1.

Sebab-sebab pemilikan
Ikhraj al Mubahat : Harta yang mubah (belum dimiliki oleh seseorang)
terbagi dua :
1. Benda Mubahat belum diikhrazkan/diusahakan oleh orang lain.
2. Adanya niat (maksud) memiliki.
Khalafiyah : Bertempatnya seseorang atau sesuatu yang baru bertempat
di tempat yang lama, yang telah hilang berbagai macam haknya.
Terbagi dua :
1. Khalafiyah syakhsy an syakhsy yaitu harta warisan
2. Khalafiyah syaian syaiin yaitu apabila seseorang merugikan milik
orang lain atau menyerobot barang orang lain, maka wajib diganti
kerugian.
Tawallud min Mamluk : segala yang terjadi dari benda yang telah dimiliki,
menjadi hak bagi yang memiliki benda tersebut exp. Bulu domba menjadi
milik pemilik domba.

Macam-macam Milkiyah
Dari Segi Objek pemilikan:
1. Milk Ain (memiliki benda)
2. Milk al Manfaat exs. Ijarah dan Ariyah
3. Milk al-Dain (milik piutang)
Dari segi unsur harta (benda dan manfaat)
1. Milk Tam
Pemilikan terhadap benda sekaligus manfaatnya.
2. Milk Naqish (Pemilikan tidak sempurna), terbagi dua:
a. Pemilikan atas manfaat tanpa memiliki bendanya
b. pemilikan atas manfaat disertai dengan bendanya. (exs. Dalam wasiat)
Dari sisi bentuknya
1. Milk al-mutamayyaz (milik jelas) : pemilikan sesuatu benda yang mempunyai batasbatas yang jelas dan tertentu yang dapat dipisahkan dari yang lainnya.
2. Milk al-Masya (milik bercampur) : pemilikan atas sebagian, baik sedikit atau banyak
yang tidak tertentu dari sebuah harta benda.

AKAD
PENGERTIAN

Istilah dalam al-Quran yang berkaitan dengan perjanjian


al-aqdu (akad) dan al-ahdu (janji)
Akad menurut bahasa ikatan, mengikat. (menghimpun dua ujung tali hingga keduanya
bersambung dan menjadi seperti seutas tali yang satu.
kata akad dapat ditemui dalam QS. Al Maidah : 1
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan
dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan
haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

Ahdu : suatu pernyataan dari seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan
sesuatu yang tidak berkaitan dengan orang lain.
kata ahdu dapat ditemui dalam QS. Ali Imran : 76
(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Jumhur Ulama : akad ialah pertalian ijab dan qabul yang dibenarkan syara yang
menimbulkan akibat hukum terhadap objeknya.

TAHAPAN AKAD
1.

2.

3.

Al-ahdu (perjanjian), yaitu pernyataan dari seseorang untuk


melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dan tidak ada
sangkut pautnya dengan kemauan orang lain. Janji ini mengikat
orang yang menyatakannya untuk melaksanakan janjinya. (QS.
Ali Imran : 76)
Persetujuan, yaitu pernyataan setuju dari pihak kedua untuk
melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu sebagai reaksi
terhadap janji yang dinyatakan oleh pihak pertama. Persetujuan
tersebut harus sesuai dengan janji pihak pertama.
Apabila dua buah janji dilaksanakan maksudnya para pihak,
maka terjadilah apa yang dinamakan Aqdu. (QS. Al-Maidah : 1)

Unsur-unsur Akad
Pertalian

Ijab dan Qabul


Dibenarkan Syara
Mempunyai akibat hukum

RUKUN DAN SYARAT AKAD

Mazhab Hanafi
Rukun : sighat al-aqdu, yaitu ijab dan qabul
Syarat : al-Aqidain (subjek hukum) dan Mahalullul Aqad
(Objek Akad)
Imam SyafiI, Imam Ghazali dan Mazhab Maliki, Syihab alKharakhi : al-Aqidain dan Mahalullul Aqd termasuk dalam
rukun akad, karena keedua hal tersebut merupakan salah
satu utama tegaknya akad.
Jumhur Ulama: al-Aqidaian, Mahalullul Aqd, dan Sighat
al-Aqd.

Subjek Akad (Al-Aqidain)


1. Marhalah al-Janin (Embryonic Stage)
dimulai masa janin sampai lahir dalam keadaan hidup
(memperoleh hak, namun belum dibebankan hukum)
2. Marhalah al-Saba (Childhood Stage)
sejak lahir sampai usia 7 tahun.
(hak dan kewajiban yang menyangkut harta miliknya dilaksanakan melalui
walinya.
3. Marhalah al-Tamyiz (Discernment Stage)
Sejak usia 7 tahun sampai pubertas (aqil baligh).
(bisa membedakan baik dan buruk. Dapat memperoleh separuh kapasitas
sebagai subjek hukum.
4. Marhalah al-Bulugh (Stage of Puberty)
Aqil Baligh dan dalam keadaan normal menjadi mukallaf, kira2 usia 15 s/d
18 Tahun.

Macam-Macam Aqad
1.
2.

3.

Aqad Munjiz : Akad yang dilaksanakan langsung pada waktu


selesai akad.
Aqad Mualaq : akad yang didalam pelaksanaannya terdapat
syarat-syarat yang telah ditentukan dalam akad. Exs. Penyerahan
barang setelah terjadi setelah pembayaran
Aqad Mudhaf : akad yang dalam pelaksanaannya terdapat syaratsyarat mengenai penanggulangan pelaksanaan akad, pernyataan
yang pelaksanaannya ditangguhkan hingga waktu yang
ditentukan.

Akad ditinjau dari segi-segi


Ada dan tidaknya qismah, terbagi dua
a. Musammah : akad yg telah ditetapkan syara dan telah ada hukum-hukum
nya, exs. Jual beli, hibah dsb.
b. ghair musammah : akad yg belum ditetapkan syara.
2. Disyariatkan dan tidaknya aqad, terbagi dua:
a. Musyaraah : akad-akad yang dibenarkan syara. exs. Gadai dan jual beli.
b. Mamnuah : akad-akad yang dilarang syara.
3. Sah dan Batalnya akad
a. Akad Shahihah : akad-akad yang mencukupi persyaratannya.
b. Akad Fasihah : akad-akad yang cacat
4. Sifat Bendanya
a. Akad Ainiyah : akad yang disyaratkan dengan penyerahan barang-barang
exs. Jual beli
b. Akad Ghair aniyah : akad yang tidak disertai dengan penyerahan barang.
exs. Akad Amanah
1.

5. Cara melakukannya
a. Dilakukan harus dengan upacara, exs. Perkawinan
b. Dilakukan tanpa harus dengan upacara
6. Berlaku dan tidaknya aqad
a. Akad Nafizah : akad yang bebas atau terlepas dari penghalang akad
b. Akad Mauqufah : akad yang bertalian dengan persetujuan.
7. Luzum dan dapat dibatalkan
a. Akad lazim yang menjadi hak kedua belah pihak yang tidak dapat
dipindahkan exs. Akad kawin.
b. Akad lazim yang menjadi hak kedua belah pihak dan dapat dipindahkan
dan dirusakkan exs. Jual beli.
c. Akad Lazim yang menjadi hak salah satu pihak exs. Rahn.
d. Akad Lazimah yang menjadi hak kedua belah pihak tanpa menunggu
persetujuan salah satu pihak. Exs. Barang titipan yg boleh diminta sama
punya barang.

8. Tukar Menukar Hak


a. Muawadhah : akad yang berlaku atas dasar timbal balik
b. Akad Tabarruat : akad yang berlaku atas dasar pemberian dan pertolongan
c. Akad yg Tabarruat pada awalnya dan menjadi akad muawadhah pad akhirnya,
exs. Qaradh dan kafalah.
9. Harus diganti dan tidaknya
a. Akad dhaman : akad yang menjadi tanggungjawab pihak kedua benda-benda
itu diterima seperti qaradh.
b. Akad amanah : tanggungjawab kerusakan oleh pemilik benda, bukan oleh
yang memegang barang exs. Titipan.
10. Tujuan Akad.
a. Tamlik
b. Mengadakan usaha bersama
c. Tausiq (memperkokoh kepercayaan) exs. Rahn dan kafalah
d. bertujuan menyerahkan kekuasaan exs. Wakalah dan washiyah
e. bertujuan mengadakan pemeliharaan, exs. Ida atau titipan

11. Faur dan Istimrar


a. Fauriyah : akad-akad yang dalam pelaksanaannya tidak memerlkukan
waktu yang lama.
b. Istimrar : hukum akad terus berjalan, exs. arah (pinjaman)
12. Asliyah dan thabiiyah
a. Asliyah : akad yang berdiri sendiri tanpa memerlukan adanya sesuatu
dari yang lain, exs. Jual beli
b. Thabiiyah : akad yang membutuhkan adanya yang lain. Exs. Rahn
tidak dilakukan bila tidak ada hutang.

Tadlis (Penipuan)
Defenisi
Menyembunyikan Aib Barang dalam jual Beli
Pembagian
1. Tadlis dalam Kuantitas
2. Tadlis dalam Kualitas
3. Tadlis dalam harga

Mengapa

Riba?

Penolakan Sejarah
&
Agama-agama
terhadap

RIBA

PENOLAKAN SEJARAH & AGAMA-AGAMA


TERHADAP KONSEP RIBA

YUNANI KUNO

Plato (427-347 SM):


Bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas
dalam masyarakat.
Bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi
golongan miskin

Aristoteles (384-322 SM):


Fungsi uang adalah sebagai alat tukar (medium of exchange)
bukan alat menghasilkan tambahan melalui bunga

YAHUDI

Kitab Eksodus (Keluaran) 22: 25


Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang umatku,
orang yang miskin diantaramu, maka janganlah engkau berlaku
sebagai penagih hutang terhadap dia, janganlah engkau bebankan
bunga terhadapnya.
Kitab Deuteronomy (Ulangan) 23: 19
Janganlah engkau membungakan uang kepada saudaramu, baik
uang maupun bahan makanan, atau apapun yang dapat dibungakan.

YAHUDI

Kitab Levicitus (Imamat) 35: 7


Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba darinya,
melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu bisa
hidup diantaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya
dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kau berikan
dengan meminta riba.

KRISTEN

(PERJANJIAN LAMA)

Kitab Eksodus (Keluaran) 22: 25


Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang
umatku, orang yang miskin diantaramu,
maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih hutang
terhadap dia,
janganlah engkau bebankan bunga terhadapnya.
Kitab Deuteronomy (Ulangan) 23: 19
Janganlah engkau membungakan uang kepada saudaramu,
baik uang maupun bahan makanan,
atau apapun yang dapat dibungakan.

KRISTEN

(PERJANJIAN LAMA)

Kitab Levicitus (Imamat) 35: 7


Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba darinya,
melainkan engkau harus takut akan Allahmu,
supaya saudaramu bisa hidup diantaramu.
Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya
dengan meminta bunga,
juga makananmu janganlah kau berikan
dengan meminta riba.
Lukas 6: 35
Cintailah musuhmu dan janganlah meminjamkan kepada
mereka dengan berharap untuk mendapatkan sesuatu
(yang lebih)

KRISTEN

(PERJANJIAN BARU)

Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang,


karena kamu berharap akan menerima sesuatu daripadanya,
apakah jasamu?
Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang berdosa,
supaya mereka menerima kembali sama banyak.
Tetapi kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka
dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan,
maka upahmu akan besar dan
kamu akan menjadi anak-anak Tuhan Yang Maha Tinggi,
sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterimakasih
dan terhadap orang-orang jahat .(Lukas 6:34-35)

KRISTEN

Karena tidak disebutkan secara jelas,


timbul berbagai tanggapan & tafsiran tentang boleh tidaknya
melakukan praktek pembungaan.

Pandangan para sarjana Kristen terhadap praktek pembungaan


terbagi pada 3(tiga) periode, yaitu
Pandangan Pendeta Awal (Abad I-XII):
Pandangan Para Sarjana Kristen (Abad XII-XV):
Pandangan Para Reformis Kristen (Abad XVI- Tahun 1836):

KRISTEN

Pandangan Pendeta Awal (Abad I-XII):


Larangan mengambil bunga merujuk kepada
Old Testament yang juga diimani oleh orang Kristen: St. Basil (329379)
St. Gregory dari Nyssa (335-395)
St. John Chrysostom (344-407)
St. Ambrose
St. Augustine
St. Alsem dari Centerbury (1033-1109)

KRISTEN

Larangan yang dikeluarkan oleh gereja dalam bentuk undang-undang


(Canon):
Council of Elvira (Spanyol tahun 306)
Council of Arles (tahun 314)
First Council of Nicaea (tahun 325)
Council of Carthage (tahun 345) &
Council of Aix la Chapelle (789)
Council of Latern (1179)
Council of Lyons (1274)
Council of Vienne (1311)

KRISTEN

Kesimpulan Pandangan Para Pendeta Awal (abad I-XII)


Bunga adalah semua bentuk yang diminta sebagai imbalan
yang melebihi jumlah barang yang dipinjamkan di awal.
Mengambil bunga adalah suatu dosa yang dilarang baik
dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Keinginan atau niat untuk mendapat imbalan melebihi apa
yang dipinjamkan adalah suatu dosa.
Bunga harus dikembalikan kepada pemiliknya.
Harga barang yang tinggi untuk penjualan secara kredit juga
merupakan bunga yang terselubung.

KRISTEN

Pandangan Para Reformis Kristen


(Abad XVI- Tahun 1836):
John Calvin (1509-1564)
Charles du Moulin (1500-1566)
Claude Saumaise (1588-1653)
Martin Luther (1483-1546)
Melancthon (1497-1560) Zwingli (1484-1531)
Dosa apabila bunga memberatkan
Uang dapat membiak (kontra dengan Aristoteles)
Tidak menjadikan pengambil bunga sebagai profesi
Jangan mengambil bunga dari orang miskin

FATWA ULAMA & LEMBAGA FATWA INTERNASIONAL


TENTANG BUNGA

Dewan Studi Islam AlAzhar, Cairo

Rabithah Alam Islamy

BUNGA dalam segala bentuk pinjaman adalah RIBA yang diharamkan.


(Konferensi DSI AlAzhar, Muharram 1385 H/ Mei 1965 M)

BUNGA BANK yang berlaku dalam perbankan konvensional adalah riba


yang diharamkan. (Keputusan No. 6 Sidang ke 9, Mekkah 12-19 Rajab
1406 H)

Majma Fiqih Islamy, Organisasi Konferensi Islam

Seluruh tambahan dan BUNGA atas pinjaman yang jatuh tempo dan
nasabah tidak mampu membayarnya, demikian pula tambahan (atau
BUNGA) atas pinjaman dari permulaan perjanjian adalah dua gambaran
dari RIBA yang diharamkan secara syariah
(Keputusan No. 10 Majelis Majma Fiqih Islamy,
Koneferensi OKI ke II, 22-28 Desember 1985)

PANDANGAN ULAMA INDONESIA


TENTANG BUNGA BANK

Nahdhatul Ulama
Sebagian ulama mengatakan bunga sama dengan RIBA, sebagian lain
mengatakan tidak sama dan sebagian lain mengatakan syubhat.
Rekomendasi: Agar PB NU mendirikan bank Islam NU dengan sistem tanpa
BUNGA (Bahtsul Masail, Munas Bandar Lampung, 1992)
Muhammadiyah
BUNGA yang diberikan oleh bank-bank milik nagara kepada nasabahnya atau
sebaliknya yang selama ini berlaku, termasuk perkara mustasyabihat.
Menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan terwujudnya
konsepsi sistem perekonomian khususnya lembaga perbankan yang sesuai
dengan qaidah Islam (Lajnah Tarjih Sidoarjo, 1968)
Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Kelanjutan dari fatwa Lokakarya Alim Ulama, Cisarua 1991, pada lokakarya
MUI 2003 dihasilkan fatwa bulat tentang keharaman BUNGA

RIBA

R. Hutang-piutang

Riba
Qardh

Riba
Jahiliyyah

R. Jual-beli

Riba
Fadhl

Riba
Nasiah

Riba
Riba secara bahasa = ziyadah (tambahan)
= tumbuh, membesar
Men. istilah teknis,

= pengambilan tambahan dari harta


pokok atau modal secara bathil.

Riba
adalah pengambilan tambahan,
baik dalam transaksi jual-beli maupun
pinjam-meminjam secara bathil
atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.

(QS. An Nisa, 29)

Hai orang-orang yang beriman,


janganlah kamu memakan harta sesamamu
dengan jalan bathil

Pengertian Riba secara bahasa adalah tambahan,


namun yang dimaksud Riba dalam ayat al Quran ini yaitu
setiap penambahan yang diambil
tanpa adanya transaksi pengganti
atau penyeimbang
yang dibenarkan syariah.

RIBA
Riba

Riba

Utang-Piutang

Jual-Beli

Riba Qardh
(Kelebihan
atas
pinjaman)
Suatu manfaat atau
tingkat kelebihan
tertentu
yang disyaratkan
terhadap
yang berhutang
(muqtaridh).

Riba
Jahiliyah

Riba Fadhl

(Denda
telat bayar)

(Kelebihan
barter
barang ribawi)

Hutang dibayar
lebih dari pokoknya,
karena
si peminjam
tidak mampu
membayar
hutangnya pada
waktu yang
ditetapkan

Pertukaran antar
barang sejenis
dengan kadar atau
takaran yang
berbeda sedangkan
barang yang
dipertukarkan itu
termasuk dalam
jenis barang ribawi.

Riba
Nasiah
(Tambahan
penangguhan
pembayaran)
Penambahan
pembayaran
karena
adanya
penangguhan
pembayaran
kembali.

Barang Ribawi
meliputi:

1. Emas & perak


baik itu dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya.
2. Bahan makanan pokok
seperti beras, gandum, & jagung serta bahan makanan
tambahan seperti sayur-mayur & buah-buahan.

!
i
t
a
h
i
t
a
H

a
b
i
R a)
g
n
u
(B

RIBA
(BUNGA)

Mengapa Haram ?

Dosa Riba
Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya

satu dirham
yang diambil dari Riba itu

dosanya
lebih besar di sisi Allah daripada
(dosa)

36 kali zina
yang dilakukan oleh seseorang.
(HR. Ibnu Abi Dunya)

Dosa Riba
Rasulullah SAW bersabda:

Riba itu mempunyai 72 pintu,


dan yang paling rendah dosanya,
seperti seseorang

menyetubuhi ibunya ...

(H.R. Thabrani)

RIBA

(QS. 2 / 275)

Orang-orang yang
makan (mengambil) Riba
tidak dapat berdiri
melainkan
seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan
lantaran (tekanan) penyakit gila.

RIBA

(QS. 2 / 275)

Keadaan mereka yang demikian itu,


adalah disebabkan
mereka berkata (berpendapat),
sesungguhnya Jual

Beli itu
sama dengan Riba ,
padahal Allah

telah menghalalkan Jual

Beli
dan mengharamkan Riba ...

RIBA

(QS. 2 / 275)

Orang-orang yang
telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhan-nya,

lalu terus berhenti (dari mengambil Riba )


maka
baginya apa yang telah diambilnya
dahulu
(sebelum datang larangan)
dan urusannya (terserah) kepada Allah.

Sabda
Rasulullah saw.

Allah melaknat
orang yang memakan Riba,
yang mewakili transaksi Riba,
dua orang saksinya,
dan orang yang menuliskannya.

(Sabda Rasulullah saw., Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, Tahun 2006 hal. 552).

Identifikasi Transaksi yang Dilarang


Haram zatnya: li dzatihi

P
E
N
Y
E
B
A
B

Tadlis

Tidak didasarkan prinsip


kerelaan (ridha) /
asymetric information)

Melanggar prinsip:
An Taraddin Minkum
Haram
selain
zatnya

Melanggar prinsip:
La Tazhlimuna
wa la tuzhlamun

Tidak sah

Rukun tidak
terpenuhi
Taaluq (brg tdk jelas)
Two in One

Ihtikar

Rekayasa Pasar
(Supply)

Bai Najasy

Rekayasa Pasar
(demand)

Gharar

Uncomplete
Information;
uncertainty to both
party
Riba Fadl

Riba

Riba Nasiah
Riba Jahiliah

ASURANSI
Asuransi : Transaksi pernjanjian antara dua pihak, yang satu
berkewajiban membayar iuran dan pihak lain
berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada
pembayar iuran, jika terjadi sesuatu yang menimpa pihak
pertama sesuai dengan perjanjian dibuat.
Asuransi pertama kali muncul pada abad ke 13 dan ke 14 di Italia
dalam bentuk asuransi perjalanan laut.
Asuransi terbagi kepada dua bentuk:
1.
at-Tamin at-Taawun (asuransi tolong menolong). Exs.
Kebakaran, pensiun dsb. Tidak mencari keuntungan.
2.
At-Tamin bi qist sabit (Asuransi dengan pembagian tetap), exs.
Kecelakaaan dsb. Mencari keuntuangan

Perbedaan Pendapat Ulama tentang Tamin bi


qist sabit

Asuransi mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan, karena tidak


ada sebab syarI yang mengacu kepada kewajiban seseorang
membayar ganti rugi
Asuransi sulit dimasukkan dalam akad penipuan semata, karena
asuransi tidak bermaksud menipu pesertanya.
Asuransi bukan salah satu akad wadiah yang dapat dituntut ganti rugi
apabila pemegang titipan lalai dalam kewajibannya
Asuransi tidak dapat dikatagorikan dalam akad mudharabah, krn dua
sebab:
1. Setoran wajib yang dibayarkan peserta asuransi menjadi milik
perusahaan asuransi dan pihak perusahaan bebas menggunakan
uang tersebut, sedangkan peserta tidak mendapatkan apapun
jika tidak terjadi kecelakaan
2. Salah satu syarat dalam mudharabah ialah keuntungan yang diperoleh
dibagi antara pemilik modal dan pekerja sesuai dengan kesepakatan,
sedangkan asuransi tidak demikian.

Pandangan Ulama tentang Asuransi

Wahbah Zuhali : Asuransi masuk dalam katagori gharar yg dilarang Rasullah


SAW
Muhammad Abduh : Asuransi jiwa termasuk dalam akad Mudharabah
Syekh Muhammad Bahis al-Muti (Mufti besar mesir) : Asuransi berbeda dengan
kafalah
Seminar fikih Islam (1960) di Damaskus, Suriah, Mustafa Ahmad az-Zarqa (guru
besar Ushul fikih dan Fikih Universitas Damascus), ada dua pendapat :
1. Masalah asuransi masalah baru dan belum ada nasnya.
2. Asuransi tidak termasuk ke dlm jenis pertaruhan atau untungan
Dr. M. Umruddin (Dekan Fakultas Sastra Universitas Aligarh, India : Menganjurkan
umat Islam menghindarkan diri dari asuransi, karena bagaimana manapun
asuransi terkait dengan riba, sedangkan riba dilarang dalam Islam

Ariyah

1.
2.
3.
4.

Pinjam Meminjam
Ariyah pd mulanya bersifat amanah, namun dapat
menjadi akad yg dikenakan ganti rugi karena beberapa
hal:
Barang tersebut sengaja dirusak atau dimusnahkan
Barang tersebut disewakan atau tidak dipelihara sama
sekali
Pemanfaatan barang tidak sesuai dengan adat
kebiasaan yg berlaku atau syarat yg disepakati
Pihak peminjam melakukan sesuatu yang berbeda
dengan syarat yang ditentukan sejak semula dalam
akad

Akad Jual Beli


Defenisi
Saling Tukar Menukar Harta melalui cara tertentu
Rukun Jual Beli: Org yg berakad, sighat, barang, nilai tukar
pengganti barang
Jual Beli Mutah
- Jumhur Ulama
boleh apabila sudah menjadi kebiasaan
suatu masyarakat
- Mazhab SyafiI
harus dilakukan dengan sindiran/sindiran
Melalui Ijab dan Qabul
Jual Beli Mutah tidak sah
Beberapa Transaksi Jual Beli Lainnya : BaI Al Murabahah, BaI As Salam,
Bai Bi Tsamanil Ajil dsb
-

Akad Sosial/Tabarru

Bertujuan untuk menolong dan murni semata-mata


karena mengharap ridho dan pahala Allah. Sama
sekali tidak ada unsur mencari return.
Beberapa akad sosial ialah : Hibah, wakaf, Ibra,
wakalah, kafalah, hawalah, Rahn dan Qiradh

AQAD JASA/IJARAH
Ijarah/Ujrah = Upah, sewa, jasa, dan Imbalan
Beberapa hadits berkaitan dgn Ijarah
1.

2.
3.

Berikanlah upah/jasa kepada orang yang kamu pekerjakan


sebelum kering keringatnya (HR. Abu Yala. Ibnu Majah, atTabrani dan Tarmizi)
Siapa yang menyewa seseorang maka maka hendaklah ia
beritahu upahnya (HR. Abdrrazaq dan al Baihaqi)
Dalam riwayat Ibu Abbas dikatakan : Rasulullah SAW berbekam,
lalu membayar upahnya kepada orang yang membekamnya (HR.
al-Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal)

Rukun dan Syarat Ijarah


Rukun Ijarah
Orang yang berakad
Sewa/Imbalan Jasa
Manfaat
Sighat (Ijab dan Qabul)

Syarat Ijarah

Al Aqidain baligh dan berakal


Menyatakan kerelaannya untuk melakukan aqad Ijarah
Manfaat yang menjadi objek harus diketahui secara sempurna, sehingga
diharapkan tidak terjadi permasalahan dikemudian hari.
Objek Ijarah bisa diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak
cacat.
Objek Ijarah dihalalkan oleh Syara
Yang disewakan bukan suatu kewajiban bagi penyewa
Objek Ijarah merupakan sesuatu yang biasa disewakan
Upah/sewa dalam akad harus jelas, tertentu dan sesuatu yang bernilai harta
Mazhab Hanafi: Upah sewa tidak sejenis dengan manfaat yang disewa. Exs.
Sewa rumah dibayar dengan sewa kebun.

Pembagian Ijarah
Manfaat exs. Sewa rumah, kendaraan dsb
Pekerjaan exs. Menjahit, bangunan, guru dsb.
Berakhirnya Ijarah
Objek ijrah hilang atau musnah
Habis waktu kesepakatan
Wafatnya salah seorang yg berakad.
Hanafi: akad ijarah tidak bisa diwariskan.
Jumhur: akad berupa manfaat dapat diwariskan, sehingga
akadnya tidak berakhir

Terdapat Uzur disalah satu pihak

KHIYAR (MEMILIH)
Khiyar

Majlis (Masih dalam satu majelis)


Khiyar Tayin (Menentukan barang yang berbeda kualitas)
Khiyar Syarth (hak untuk meneruskan atau membatalkan)
Khiyar Aib (Bila terjadi cacat pada barang)
Khiyar Ruyah (Menentukan batal atau tidak terhadap barang
yang belum dilihat)

Khiyar

Naqad (pembayaran)

(Jual beli dengan


ketentuan pembayaran atau penyerahan, jika salah satunya tidak
dapat menyelesaikan maka pihak yang dirugikan berhak untuk
membatalkan aqad)

AKAD KERJA SAMA (SYIRKAH)


Syirkah, bahasa : pencampuran.
Istilah : ikatan kerja sama antara orang-orang yang berserikat
dalam modal dan keuntungan
Dasar Hukum :
Al Quran
2. Imam Daruqutni meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda :
Allah SWT berfirman : Aku adalah pihak ketiga bagi dua orang yang
melakukan syirkah, selama salah seorang diantara mereka tidak berkhianat
kepada perseronya. Apabila diantara mereka ada yang berkhianat, maka
aku keluar dari mereka.
3. HR. Abu Daud : Umat Islam bersekutu dalam tiga hal, air, padang rumput
dan api
4. HR. Nasai: dari Abdullah:.Aku, Ammar dan Saad bersyirkah dalam
perolehan perang badar. Lalu saad mendapatkan dua ekor kuda sedangkan
Aku dan amar tidak mendapatkan apapun
1.

RUKUN DAN SYARAT


Syarat Umum
Perserikatan itu merupakan transaksi yang boleh diwakilkan
2. Presentase pembagian keuntungan untuk masing-masing pihak berserikat
dijelaskan ketika berlangsung akad.
3. Keuntungan itu diambil dari hasil laba perserikatan bukan dari harta lain
1.

Syarat Khusus
Syirkah Anwal : Akad dinyatakan batal bila semua atau sebagian modal
perserikatan hilang, karena objek perserikatan ini adalah harta.
2. Syirkah Mufawwadah : perserikatan dinyatakan batal bila modal masingmasing pihak tidak sama kuantitasnya, karena mufawwadah berarti sama
1.

Bentuk Syirkah
Syirkah Ibahah : persekutuan hak semua orang untuk dibolehkan menikmati
manfaat sesuatu yang belum ada dibawah kekusaan orang
2. Syirkah Amlak : Persekutuan antara dua orang atau lebih untuk memiliki
suatu benda. Syirkah amlak terbagi dua
a. Milik Jabriyah : terjadi tanpa keinginan para pihak bersangkutan exs. Harta
warisan
b. Milik Ikhtiyariyah yang terjadi atas keinginan para pihak bersangkutan
3. Syirkah Akad : persekutuan antara dua orang atau lebih yang timbul dengan
adanya perjanjian. Syirkah ini terbagi menjadi 4 :
a. Syirkah Amwal : persekutuan antara dua orang atau lebih dalam modal
harta. Terbagi kepada dua Inan (harta tidak harus sama) dan Mufawwadah
(harta harus sama)
b. Syirkah Amal/Abdan : Menerima pekerjaan dari orang lain
c. Syirkah Wujuh : Modal dari orang lain, dikerjakan bersama-sama
d. Mudharabah.
1.

Al-Hajr
Pengertian
Larangan dan penyempitan/pembatasan untuk melakukan tindakan hukum
Dasar Hukum
QS. An.Nisa : 5
Dan jangan kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya,
harta (mereka yang belum ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah
sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian dari hasil harta itu
dan ucapkanlah kata-kata yang baik.
QS. An Nisa : 6
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika
menurut pendapatmu mereka telah cerdas , maka serahkanlah kepada mereka
harta-hartanya.
Al. Baqarah : 282
Jika orang yang berutang itu lemah akalnya atau dia sendiri tidak mampu
mengimlaka, maka hendaklah wali yang mengimlakan dengan jujur.

Lanjutan
Hadits
Rasulullah pernah menjadikan Muaz bin Jabal dibawah pengampuannya
karena terlilit utang. Rasulullah lalu menjual harta Muaz guna melunasi
utangnya. Demikian juga Rasulullah pernah menjadikan Usman bin Affan
dalam pengampuannya, karena sikap mubazir yang dilakukan Usman. (HR.
al Baihaki, Daruqutni dan Hakim dari kab bin Malik)
Macam-macam al-Hajr
1. Kemashlahatan orang yang berada dibawah pengampuan. Exs. Anak kecil,
orang gila, orang dungu, orang berhutang dan orang mubazir
2. Kemashlahatan orang lain, exs. Pailit dan orang yang sedang dalam
keadaan mard al-maut

Taflis/Pailit
Ulama Fiqh menyatakan orang yang pailit dan dibawah pengampuan
akibatnya ialah:
1. Dilarang melakukan tindakan hukum terhadap harta, kecuali untuk kebutuhan
hidupnya, karena dalam hartanya tersangkut hak orang lain.
2. Ia boleh dipenjara demi kemashalhatan dirinya dan sekaligus krediturnya.
syarat-syarat untuk dipenjara bagi orang pailit
a. utangnya bersifat mendesak untuk dibayar
b. ia mampu membayar hutang tetapi tidak mau membayarnya
c. para kreditur menuntut kepada hakim untuk memenjarakannya
3. Hartanya dijual untuk membayar hutangnya.
4. Harta orang lain yang masih utuh ditangannya harus dikembalikan kepada
pemiliknya
5. Apabila ia dipenjarakan, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan asy Syaibani mengatakan
ia harus diawasi terus menerus. Jumhur Ulama : ia tidak perlu diawasi karena
akan menghalangi haknya untuk membayar hutang

SEKIAN