Anda di halaman 1dari 6

I.

TINJAUAN PUSTAKA SEDIAAN


Emulsi (emulsion) adalah suatu sistem koloid yang fase terdispersi dan medium
pendispersinya berupa cairan yang tidak dapat bercampur. Misalnya benzena dalam air,
minyak dalam air, dan air susu. Mengingat kedua fase tidak dapat bercampur, keduanya
akan segera memisah. Untuk menjaga agar emulsi tersebut mantap atau stabil, perlu
ditambahkan zat ketiga yang disebut emulgator atau zat pengemulsi (emulsifying agent)
(Sumardjo, 2009).
Emulsi dibuat untuk mendapatkan preparat atau sediaan yang stabil dan merata atau
homogen dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian
emulsi adalah:
1. Untuk dipergunakan sebagai obat dalam atau per oral. Umumnya tipe emulsi tipe O/W.
2. Untuk dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O, tergantung pada
banyak faktor, misalnya sifat atau efek terapi yang dikehendaki
(Syamsuni, 2007).
Semua emulgator bekerja dengan membentuk film (lapisan) di sekeliling butir-butir
tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan
terpisahnya cairan dispers sebagai fase terpisah.(Anief, 2010).Syarat emulgator adalah
molekul-molekulnya mempunyai afinitas terhadap kedua cairan yang membentuk emulsi.
Daya afinitasnya harus parsial atau tidak sama terhadap kedua cairan tersebut. Salah satu
ujung emulgator larut dalam cairan yang satu, sedangkan ujung yang lain hanya
membentuk lapisan tipis (selapis molekul) di sekeliling atau di atas permukaan cairan
yang lain. (Sumardjo, 2009). Beberapa zat pengemulsi yang sering digunakan adalah
gelatin, gom akasia, tragakan, sabun, senyawa amonium kwartener, senyawa kolesterol,
surfaktan, atau emulgator lain yang cocok. Untuk mempertinggi kestabilan dapat
ditambahkan zat pengental, misalnya tragakan, tilosa, natrium karboksimetilselulosa.
(Depkes RI, 1979)
Tipe emulsi ada dua, yaitu oil in water (O/W) atau minyak dalam air (M/A), dan
water in oil (W/O). Emulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (minyak dalam air) adalah
emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam
air.Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.Emulsi tipe W/O (Water in
Oil) atau M/A (air dalam minyak), adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang

tersebar atau terdispersi ke dalam minyak.Air sebagai fase internal dan minyak sebagai
fase eksternal. Terdapat dua macam komponen emulsi:
1. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi,
terdiri atas:
a. Fase dispers/ fase internal/ fase diskontinu/ fase terdispersi/ fase dalam, yaitu zat
cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lain.
b. Fase eksternal/ fase kontinu/ fase pendispersi/ fase luar, yaitu zat cair dalam
emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (bahan pendukung) emulsi tersebut.
c. Emulgator, adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen tambahan, adalah bahan tambahan yang sering ditambahakan ke dalam
emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris,
colouris, pengawet (preservative), dan antioksidan.
(Syamsuni, 2007).
Dari emulsi yang paling baik, dapat diperoleh campuran surfaktan mana yang
paling baik (ideal). Ketidakstabilan emulsi dapat digolongkan:
1. Flokulasi dan creaming
Creaming merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan,
dimana masing-masing lapis mengandung fase dispers yang berbeda. Nama cream
berasal dari peristiwa pemisahan sari susu dari susu (milk). Sari susu tersebut dapat
dibuat Casein, keju, dan sebagainya.
2. Koalesen dan pecahnya emulsi (cracking atau breaking)
Creaming adalah proses yang bersifat dapat kembali, berbeda dengan proses
cracking (pecahnya emulsi) yang bersifat tidak dapat kembali. Pada creaming, flokul
fase dispers mudah didispersi kembali dan terjadi campuran homogen bila digojok
perlahan-lahan. Sedangkan pada cracking, penggojokan sederhana akan gagal untuk
mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil.
3. Inversi
Adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi M/A ke tipe A/M
atau sebaliknya.
(Anief, 2010).
I.

SPESIFIKASI PRODUK
a. Nama produk

Nama produk yang dipasarkan adalah Parafinina.


b. Kandungan zat aktif
Kandungan zat aktif yang digunakan adalah Parafin 1200 mg/5 ml.
c. Bentuk sediaan
Bentuk sediaan yang digunakan adalah emulsi.
d. Kekuatan sediaan
Kekuatan sediaan yang digunakan adalah 1200 mg/5 ml.
e. Bahan pengemas primer
Bahan pengemas primer yang digunakan adalah botol kaca coklat 60 ml tutup putih.
II.

FARMAKOLOGI BAHAN AKTIF


a. Dosis
Dosis yang digunakan adalah 15-30 ml, diberikan malam hari sebelum tidur ((Tjay &
Rahardja, 2006).
b. Khasiat
Parafin berkhasiat untuk melunakkan tinja (Tjay & Rahardja, 2006).

III.

FORMULA STANDAR DAN FORMULA MODIFIKASI


V.1 Formula Standar
Parafin
Tiap 100 ml mengandung :
R/ Paraffinum Liquidum

50 mL

Gummi Arabicum

12,5 mg

Sirupus Simplex

10 mL

Vanillinum

4 mg

Aethanolum 90%

6 mL

Aqua Destilata ad

100 mL

(Fornas, 1998).
V.2 Formula Modifikasi
R/

Parafin

1200 mg/5 ml

Tween 80

3%

Span 80

3%

IV.

CMC-Na

0,5 %

Nipagin

0,2 %

Asam sitrat

1%

Natrium sitrat

1%

Essen strawberry

1,5 %

Aquades

60 ml

ALASAN PEMILIHAN BAHAN


a. Parafin
Parafin cair digunakan sebagai zat aktif karena parafin merupakan zat aktif yang
digunakan untuk melunakkan tinja (Tjay & Rahardja, 2006).
b. Aquades
Aquadest digunakan sebagai pelarut bahan sediaan suspense karena sediaannya ini untuk
di minum sehingga harus digunakan pelarut yang aman diminum (Depkes RI, 1979).
c. Tween 80
Tween 80 banyak digunakan dalam kosmetik, produk makanan, dan oral, parenteral, dan
formulasi farmasi topikal dan umumnya dianggap sebagai bahan yang tidak toksik dan
tidak iritasi (Rowe et al., 2009).
d. Span 80
Span 80 banyak digunakan dalam kosmetik, produk makanan,dan formulasi farmasi
sebagai surfaktan nonionik lipofilik. Span 80 digunakan dalam formulasi farmasi sebagai
pengemulsi agen dalam penyusunan krim, emulsi, dan salep untuk aplikasi topikal. Span
80 stabil untuk air dalam minyak emulsi dan mikroemulsi tetapi sering digunakan dalam
kombinasi dengan berbagai proporsi untuk menghasilkan air dalam minyak atau minyak
dalam air, emulsi atau krim dari berbagai konsistensi ((Rowe et al., 2009).)
e. Na-CMC
Na-CMC digunakan sebagai suspending agent karena Na-CMC dapat memperlambat
pengendapan dan mencegah penurunan partikel untuk sediaan suspensi. Na-CMC juga
dapat mencegah penurunan partikel dan bahan berlemak.Selain itu, Na-CMC dapat larut

dengan mudah dalam air panas atu dingin membentuk larutan yang kental yang bertindak
sebagai suspending agent (Rowe et al., 2009).
f. Nipagin
Nipagin digunakan sebagai pengawet dikarenakan mempunyai sifat yang baik untuk
dijadikan pengawet pada suspensi. Nipagin tidak toksik, inert, stabil, tidak berbau dan
dapat dicampurkan dengan formula lain serta dapat bertindak sebagai antimikroba yang
berpotensi dalam spektrum luas (Rowe et al., 2009).
g. Asam sitrat
Suatu suspensi harus mengandung acidifier, antioksidan dan zat penstabil. Ketiga fungsi
ini telah di miliki oleh asam sitrat. Asam sitrat merupakan zat yang biasa digunakan dan
paling baik digunakan sebagai zat acidifier karena dapat dengan baik mengatur pH,
meningkatkan kestabilan suspense, memperbesar potensial pengawet dan dapat
meningkatkan kelarutan. Sehingga, di pilihlah asam sitrat (Rowe et all, 2009).
h. Natrium sitrat
Natrium sitrat digunakan untuk menyeimbangkan pH dari asam sitrat. Sehingga pH
kloramfenikol yang adalah 4,5 dan 7,5, tidak terlalu turun (Depkes RI, 1979).
i. Essen strawberry
Essen strawberry digunakan sebagai flavoring agent dan sebagai pewarna suspensi.
Bahan ini digunakan agar membuat suspensi yang diolah semakin menarik dari segi
estetikanya, suspensi tidak pucat sehingga pengguna suspensi kloramfenikol khususnya
anak-anak suka dan tidak ada masalah untuk meminum. Dan terkait pemilihan strawberry
di karenakan rasa ini yang umumnya disukai anak-anak. Anak-anak lebih menyukai rasa
manis atau buah-buahan sedangkan orang dewasa lebih menyukai rasa asam (Rowe et all,
2009).

Daftar Pustaka
Anief, Moh. 2010. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Depkes RI. 1979. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia Edisi
III. Jakarta.
Depkes RI. 1979. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia Edisi
III. Jakarta.
Rowe, Raymond, et all. 2009. Handbook of Pharmaceutical Exipien Sixth Edition. London:
Pharmaceutical Press
Sumardjo, D. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa. Jakarta: EGC
Syamsuni .2007.Ilmu Resep. Jakarta: EGC